Journal Information
ISSN / EISSN : 0215-1324 / 2549-8908
Current Publisher: Balai Arkeologi Yogyakarta (10.24832)
Total articles ≅ 108
Filter:

Latest articles in this journal

Wishnu A. Gemilang, Nia Naelul Hasanah Ridwan, Ulung Jantama Wisha, Guntur Adhi Rahmawan, Ilham Ilham, Zainab Tahir
Published: 30 June 2020
AMERTA, Volume 38, pp 49-62; doi:10.24832/amt.v38i1.49-62

Abstract:
The Vulnerability of Underwater Cultural Heritages in Karang Bui Site, Northern Coast of West Java. Underwater remains which found in Karang Bui site, Karawang-Subang waters are originated from the colonial period of Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC) and occupation period of the Kingdom of the Netherlands in Indonesia. Research on the vulnerability of the Karang Bui site has been conducted by the Ministry of Marine Affairs and Fisheries in 2017-2018. Research methods including observation of sea area; diving activities for site documentation, seabed profiles mapping, and the use of Side Scan Sonar. Besides looting activities that occurred in the past, the threats toward Karang Bui site preservation nowadays are from human and natural factors. Karang Bui site is located in shallow water with a depth of 5-12 m, so during the maximum elevation, the waves height and current velocity which forms at that location is increasing. Sedimentation level in Karang Bui site is also high caused by many rivers estuary around the site. The site is located within the area of P.T. Pertamina petroleum refineries which is likely the spill oil will threaten the archaeological remains. Furthermore, Karang Bui site is located near Patimban, Subang port development area which also the shipping line. Planning and protection measurement needs to be carried out immediately by related institutions and local governments. Thus, due those various vulnerability factors, the lifting of Karang Bui underwater artifacts is important to be done. Abstrak. Tinggalan bawah air yang ditemukan di Karang Bui, perairan Karawang-Subang, berasal dari masa Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC) dan masa penjajahan Kerajaan Belanda di Indonesia. Penelitian terhadap kerentanan Situs Karang Bui telah dilakukan oleh Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) pada tahun 2017-2018. Metode penelitian meliputi observasi kawasan laut, penyelaman bawah air untuk dokumentasi situs, pemetaan profil dasar laut, penggunaan side scan sonar. Selain aktivitas penjarahan pada masa lalu, ancaman terhadap kelestarian Situs Karang Bui saat ini berasal dari alam dan ulah manusia. Situs Karang Bui berada di perairan dangkal dengan kedalaman 5-12 m sehingga saat elevasi maksimal, tinggi gelombang dan kecepatan arus yang terbentuk di lokasi tersebut semakin meningkat. Tingkat sedimentasi di Situs Karang Bui juga tinggi karena banyak muara sungai di sekitar situs. Lokasi situs berada di area kilang-kilang pengeboran minyak bumi milik P.T. Pertamina, yang kemungkinan tumpahan minyak akan mengancam tinggalan arkeologis. Selain itu, lokasi situs berada di dekat area pembangunan Pelabuhan Patimban, Subang, juga merupakan alur pelayaran. Perencanaan dan tindakan pelindungan Situs Karang Bui perlu segera dilakukan oleh institusi terkait dan pemerintah daerah. Oleh karena berbagai faktor kerentanan tersebut, pengangkatan artefak bawah air Karang Bui sangat penting untuk dilakukan.
Irsyad Leihitu
Published: 30 June 2020
AMERTA, Volume 38, pp 31-48; doi:10.24832/amt.v38i1.31-48

Abstract:
The Similarity of Traditions and Symbols: Comparative Study of Recent Rock Art in Indo-Malaysia. As an ancient art, rock art, in general, is always associated with the prehistoric hunter-gatherer communities in the upper Paleolithic period or about 40,000 years ago. However, it was later discovered that the tradition of drawing/painting inside the cave was still practiced by modern hunter-gatherer communities in the 19th century, especially in the Indo-Malaysian region. This article seeks to conduct a comparative study of "recent" rock art in Lenggong Region, Perak, Peninsular Malaysia with the new findings of "recent" rock art from Bukit Bulan Region, Sarolangun, Jambi, Sumatera Island, Indonesia. The method used is a comparative analysis that seeks similarities from attributes such as techniques, motifs, sizes, and characters. The results show that both recent “young” rock art in the two regions are somehow alike. Also, contextual studies show the existence of similar traditions and behavior between modern hunter-gatherer communities in both regions. Abstrak. Gambar cadas sebagai kesenian purba pada umumnya selalu dikaitkan dengan manusia prasejarah, yakni pemburu-peramu pada masa paleolitik atas atau sekitar 40.000 tahun yang lalu. Setelah itu, belakangan telah diketahui bahwa tradisi menggambar di dalam gua masih dilakukan oleh masyarakat pemburu-peramu modern pada abad ke-19, khususnya di wilayah Indo-Malaysia. Artikel ini dimaksudkan untuk melakukan studi perbandingan terhadap gambar cadas “muda” di Kawasan Lenggong, Perak, Semenanjung Malaysia, dengan temuan baru berupa gambar cadas “muda” di Kawasan Bukit Bulan, Sarolangun, Jambi, Pulau Sumatra, Indonesia. Metode yang digunakan adalah analisis komparatif untuk mencari kesamaan dari atribut, seperti teknik, motif, ukuran, dan karakter. Hasilnya menunjukkan bahwa banyak kesamaan atribut pada gambar cadas “muda” pada kedua situs. Selain itu, kajian kontekstual juga menunjukkan adanya tradisi dan pola perilaku yang serupa antara masyarakat pemburu-peramu modern di kedua wilayah tersebut.
Ulung Jantama Wisha, Nia Naelul Hasanah Ridwan, Ruzana Dhiauddin, Guntur Adhi Rahmawan, Gunardi Kusumah
Published: 30 June 2020
AMERTA, Volume 38, pp 63-76; doi:10.24832/amt.v38i1.63-76

Abstract:
Conservation Efforts of Gosong Nambi Shipwreck as an Evidence of the Past Maritime Trading Routes in Pesisir Selatan Regency, West Sumatra. The coastal region of West Sumatra has become one of the main trading routes in the 15th-19th centuries so there is no doubt that this area has many archaeological remains both underwater, coastal area, and buried underground. One of the underwater archaeological remains in this region is the discovery of a shipwreck at the Gosong Nambi coral site which is administratively located in Pesisir Selatan Regency, West Sumatra Province in 2015. This study aims to provide an overview of the current condition of the Gosong Nambi Shipwreck site. Research activities include collecting information, searching the shipwreck’s location, recording data, measuring the visible dimensions, and sketching the shipwreck, has been done. Visually, it is a small size vessel which was predicted as a cargo ship from the 1900s that might sail from Bengkulu to West Sumatra and crashed into Gosong Nambi coral (Atoll) and then sank. The shipwreck is partially buried in the sand and piles of the dead coral in the stern and most of the ship’s hull had been looted by scarp metal hunters. Natural factors also trigger site vulnerability so it is advisable to excavate. Conservation efforts are necessary to be done with a CRM approach which can have a positive impact on society on socio-economic aspects without harming any related parties. Abstrak. Wilayah pesisir Sumatra Barat menjadi salah satu jalur perdagangan utama pada abad ke-15-19 sehingga tidak diragukan lagi wilayah ini memiliki banyak tinggalan arkeologis baik yang di bawah air, wilayah pantai, maupun terkubur di bawah tanah. Salah satu tinggalan arkeologi bawah air di wilayah ini adalah temuan kapal karam di situs gugusan karang Gosong Nambi yang secara administratif terletak di Kabupaten Pesisir Selatan, Provinsi Sumatra Barat pada tahun 2015.Tujuan dari penelitian ini adalah untuk memberikan gambaran kondisi terkini situs kapal karam Gosong Nambi. Aktivitas penelitian berupa pengumpulan informasi, pencarian lokasi situs, perekaman data, pengukuran dimensi kapal yang terlihat, dan membuat sketsa kapal, telah dilakukan. Secara visual, kapal tersebut termasuk kapal kecil yang diprediksi sebagai kapal barang dari tahun 1900-an yang mungkin berlayar dari Bengkulu menuju ke Sumatra Barat dan menabrak gugusan karang (atol) Gosong Nambi dan akhirnya tenggelam. Kondisi kapal karam tersebut sebagian terkubur dalam pasir dan tumpukan karang mati pada bagian buritan dan sebagian besar lambung kapal telah dijarah oleh para pemburu besi tua. Faktor alam juga menjadi pemicu kerentanan situs sehingga disarankan untuk melakukan ekskavasi. Upaya konservasi perlu dilakukan dengan pendekatan CRM yang dapat terdampak positif terhadap masyarakat pada aspek sosial ekonomi tanpa merugikan berbagai pihak yang terkait.
Ashwin Prayudi, Rusyad Adi Suriyanto, Neni Trilusiana Rahmawati, Janatin Hastuti
Published: 30 June 2020
AMERTA, Volume 38, pp 17-30; doi:10.24832/amt.v38i1.17-30

Abstract:
Reconstruction of An Individual’s Life from Terjan, Central Java: A Hypotheses. This article discusses an individual from Terjan megalithic site in Central Java, Indonesia. The purpose of this research is to reconstruct the life of the individual in the past based on their bones. The skeleton is in a quite complete condition with eighty percent preservation level and curated in The Laboratory of Bioanthropology and Paleoanthropology, Gadjah Mada University. The methods that will be used for this research is macroscopical analysis without using any destructive methods. The results from this research show a male individual with age at death between 40 - 45 years old. This individual has osteophytes in some vertebrae. His right radius was fractured midshaft. Possibly caused by withholding his body when he fell. His dental condition showed heavy loss of teeth either maxilla and mandible. He had heavy attrition on the only 6 teeth which present, linear hypoplasia on right canine, and a sign of dental modification (pangur) on the right canine. Based on his burial goods and dental condition, there are possibilities that this individual had low-class status. Abstrak. Artikel ini membahas tentang seorang individu dari Situs Megalitik Terjan, Jawa Tengah. Tujuan penelitian ini adalah untuk merekonstruksi kehidupan individu tersebut pada masa lampau berdasarkan tinggalan tulang-belulangnya. Pada saat ini rangka tersebut berada dalam keadaan cukup lengkap dengan tingkat preservasi mencapai delapan puluh persen dan disimpan di Laboratorium Bioantropologi dan Paleoantropologi, Universitas Gadjah Mada. Metode yang dipergunakan dalam penelitian ini adalah analisis makroskopis tanpa menggunakan proses destruktif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa individu ini adalah seorang laki-laki berumur sekitar 40-45 tahun ketika mati. Individu tersebut memiliki osteopit pada beberapa ruas tulang belakangnya. Radius kanannya patah pada bagian tengah yang kemungkinan terjadi ketika menahan beban tubuhnya saat jatuh. Kondisi gigi-geliginya menunjukkan bahwa dia telah kehilangan banyak gigi, baik di maksila maupun mandibula. Terdapat atrisi tingkat lanjut pada keenam giginya yang tersisa dan juga linear hypoplasia dan modifikasi gigi (pangur) pada gigi kaninus kanannya. Berdasarkan bekal kubur yang sederhana dan kondisi gigi-geliginya, ada kemungkinan bahwa individu ini berada pada tingkat sosial yang rendah.
Yosua Adrian Pasaribu, Muhamad Oksy Rahim, Feri Latief
Published: 30 June 2020
AMERTA, Volume 38, pp 1-16; doi:10.24832/amt.v38i1.1-16

Abstract:
Cultural Context of Animals Motif in Misool Prehistoric Rock Art, Raja Ampat, Papua Barat. The Misool Islands Region in Raja Ampat, West Papua has a variety of prehistoric rock art finding consisting of hand stencil motifs, animals, dots, anthropomorphic, stone adzes, boomerang stencils, unidentified stencils, and non-figurative. Animal motifs include dolphins, marine fishes, birds, and lizards are depicted in 22 of 40 sites in rock art body. The study of the cultural context of rock art motifs in the Misool area is interesting to do because of the diversity of animal motifs. Other motifs such as hand stencils, dots, anthropomorphic, stone adzes, and boomerang stencils which may have another cultural meaning require a separate discussion. This study uses quantitative methods with 87 animal paintings data which consist of 10 motifs in 22 sites in East Misool and South Misool Region, Raja Ampat, West Papua. The result study places the depiction of animal motifs in prehistoric rock art in Misool in the secular cultural context or daily life. Abstrak. Kawasan Kepulauan Misool di Raja Ampat, Papua Barat, memiliki berbagai macam temuan seni cadas prasejarah yang terdiri atas motif cap tangan, binatang, bulatan, antropomorfis, beliung persegi, stensil bumerang, stensil tidak teridentifikasi, dan nonfiguratif. Seni cadas motif binatang, antara lain lumba-lumba, ikan-ikan laut, burung, dan kadal digambarkan pada 22 dari total 40 situs seni cadas di kawasan tersebut. Kajian terhadap konteks budaya seni cadas motif binatang di Kawasan Misool menarik untuk dilakukan karena beragamnya motif binatang tersebut. Motif lain, seperti motif gambar tangan, bulatan, antropomorfis, beliung persegi, dan stensil bumerang, yang mungkin memiliki makna berbeda dalam konteks budaya memerlukan kajian tersendiri. Kajian ini menggunakan metode kuantitatif terhadap data berupa 87 gambar binatang yang terdiri atas 10 motif pada 22 situs di Kawasan Misool Timur dan Misool Selatan, Raja Ampat, Papua Barat. Hasil kajian menempatkan penggambaran motif binatang di kawasan seni cadas prasejarah Misool pada konteks budaya sekuler atau kehidupan sehari-hari.
Sudiono Sudiono
Published: 13 March 2020
AMERTA, Volume 22, pp 30-64; doi:10.24832/amt.v22i0.30-64

Abstract:
Journal of Archaeological Research and Development
Fadhila Arifin Aziz
Published: 13 March 2020
AMERTA, Volume 23, pp 1-26; doi:10.24832/amt.v23i0.1-26

Abstract:
Journal of Archaeological Research and Development
Amelia Amelia
Published: 13 March 2020
AMERTA, Volume 22, pp 1-13; doi:10.24832/amt.v22i0.1-13

Abstract:
Journal of Archaeological Research and Development
Libra Hari Inagurasi
Published: 13 March 2020
AMERTA, Volume 21, pp 73-81; doi:10.24832/amt.v21i0.73-81

Abstract:
Journal of Archaeological Research and Development
Dubel Driwantoro, Francois Semah, Andri Purnomo
Published: 13 March 2020
AMERTA, Volume 21; doi:10.24832/amt.v21i0.1-18

Back to Top Top