Jurnal Agro Ekonomi

Journal Information
ISSN / EISSN : 0216-9053 / 2541-1527
Total articles ≅ 292
Filter:

Latest articles in this journal

Eka Rastiyanto Amrullah, Ani Pullaila, Ismatul Hidayah, Aris Rusyiana
Jurnal Agro Ekonomi, Volume 38, pp 91-104; https://doi.org/10.21082/jae.v38n2.2020.91-104

Abstract:
EnglishDirect cash transfer is widely used to strengthen food security and reduce household vulnerability to poverty. In Indonesia, direct cash transfer (BLT) has lasted several decades. However, there are still problems in its implementation. This study aims to analyze the effect of BLT on the food security of household-recipients. The data source used was Susenas March 2015, with a total sample of 285,908 households, comprising 55,238 BLT recipients and 230,670 non-recipients. PSM and IPWRA estimators were used to estimate the ATET indicator of food security. The analysis results showed that BLT positively impacted recipient households in terms of calorie and protein intake per capita/day. BLT also has a positive effect on per capita food expenditure and the share of food expenditure. Besides, BLT impacts a change in the percentage of food expenditure; there is a shift in food consumption from the root crops, animal food, fruit, and vegetables to grains, processed food and beverages, and cigarettes. There has been a change in food consumption patterns in recipient households to become more consumptive. However, providing BLT alone is not enough. It should be combined with other social safety net programs to increase the food security of poor households. IndonesianBantuan langsung semakin banyak digunakan untuk memperkuat ketahanan pangan dan mengurangi kerentanan kemiskinan. Di Indonesia, Bantuan Langsung Tunai (BLT) telah berlangsung beberapa dekade. Akan tetapi, dalam pelaksanaannya terdapat beberapa permasalahan, di antaranya ketidaktepatan sasaran. Penelitian ini bertujuan menganalisis dampak program BLT terhadap ketahanan pangan penerima. Sumber data adalah Susenas Maret 2015, dengan sampel 285.908 rumah tangga, terdiri dari 55.238 penerima BLT dan 230.670 bukan penerima. Metode PSM dan IPWRA digunakan untuk menduga ATET indikator ketahanan pangan. Hasil analisis menunjukkan bahwa pemberian BLT memberikan dampak positif bagi rumah tangga penerima dalam aspek asupan kalori dan protein per kapita/hari. BLT juga berdampak positif terhadap pengeluaran pangan per kapita dan pangsa pengeluaran pangan. Selain itu, BLT berdampak pada perubahan pangsa pengeluaran pangan yang ditunjukkan oleh terjadinya pergeseran konsumsi pangan dari kelompok pangan umbi-umbian, pangan hewani, buah dan sayur menuju kelompok padi-padian, makanan dan minuman jadi, serta rokok. Terjadi perubahan pola konsumsi pangan pada rumah tangga penerima menjadi lebih konsumtif. Secara keseluruhan, BLT mampu memberikan dampak positif terhadap beberapa indikator ketahanan pangan. Pemberian BLT saja tidak cukup untuk memberikan makanan yang cukup dan bergizi bagi rumah tangga penerima. Perlu ada kombinasi antara bantuan langsung tunai dengan program jaring pengaman sosial lainnya yang bertujuan untuk meningkatkan ketahanan pangan rumah tangga miskin.
Rizka Amalia Nugrahapsari, Apri Laila Sayekti, Muhammad Prama Yufdy, Idha Widi Arsanti
Jurnal Agro Ekonomi, Volume 38, pp 143-153; https://doi.org/10.21082/jae.v38n2.2020.143-153

Abstract:
EnglishNursery technology is the key determinant of seedling quality for supporting high chilli yield potential. The adoption rates of nursery technology vary by the chilli varieties and are determined by the appropriateness of the dissemination. The main objective of the study is to identify the determinants of farmers’ decisions in adopting chilli seedling nursery technology. The data was obtained by interviewing 231 farmers using the GeoODK Collect application in Ciamis, Tasikmalaya, and Garut in May-June 2016. The determinants of farmers' decisions in adopting chilli seedling nursery technology were analyzed with the logit regression. Results showed that most farmers produce their own seedlings using commercial seeds. The determinants of farmers’ decisions on chilli seedling nursery technology are non-farm income, travel time to seed suppliers, seed credit, seed sources, and main occupation. Dissemination of chilli seeding nursery should be consistent with the chilli variety types. The open-pollinated variety may be introduced to farmers who save seeds for seedlings and need a long travel time to seed suppliers. The hybrid seedling nursery technology can be introduced to farmers who have access to hybrid seed suppliers and sufficient working capital. The government should facilitate farmers to access the necessary supporting infrastructures and inputs to increase the adoption rates.IndonesianTeknologi persemaian adalah penentu mutu benih penunjang potensi tinggi produktivitas cabai. Tingkat adopsi teknologi persemaian bervariasi menurut varietas cabai yang diintroduksikan dan ditentukan oleh metode diseminasi yang sesuai dengan karakteristik petani. Tujuan utama penelitian adalah untuk mengidentifikasi faktor-faktor yang memengaruhi keputusan petani dalam mengadopsi teknologi persemaian benih cabai. Data diperoleh dengan mewawancarai 231 petani melalui aplikasi GeoODK Collect di Ciamis, Tasikmalaya, dan Garut pada bulan Mei – Juni 2016. Determinan keputusan petani dalam penyemaian benih cabai dianalisis dengan regresi logistik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar petani menyemai sendiri benih yang dipergunakannya pada usaha tani cabai dengan menggunakan benih komersial. Determinan keputusan dalam adopsi teknologi penyemaian benih adalah pendapatan dari nonusaha tani, waktu tempuh dari lahan usaha ke penjual benih, kredit benih, sumber benih, dan pekerjaan utama. Diseminasi metode persemaian benih cabai perlu disesuaikan dengan jenis varietas cabai. Introduksi teknologi persemaian benih varietas cabai open-pollinated dapat diperkenalkan kepada petani yang menyimpan hasil panen sebagai benih dan lokasinya jauh dari penjual benih. Introduksi teknologi persemaian benih cabai hibrida dapat diperkenalkan kepada petani yang memiliki akses bibit dari kios pemasok terdekat dan modal kerja memadai. Pemerintah perlu memfasilitasi petani dalam mengakses sarana dan prasarana yang diperlukan serta input untuk meningkatkan tingkat adopsi.
Raditia Eka Kurniawan, Reynaldi Elmir Arisurya
Jurnal Agro Ekonomi, Volume 38, pp 127-141; https://doi.org/10.21082/jae.v38n2.2020.127-141

Abstract:
EnglishFarmer households are considered vulnerable to climate change because they depend on uncertain natural conditions. Regional economy and majority of people in the Gunungkidul Regency rely on their livelihoods from food crops. This study aims to identify adaptation strategies of farmer households and to analyze their vulnerability due to climate change in three villages in Gunungkidul Regency. This study uses an explanatory sequential mixed method design (quantitative-qualitative). Livelihood vulnerability analysis uses quantitative analysis with the Livelihood Vulnerability Index (LVI), while adaptation analysis is carried out qualitatively using the Sustainable Livelihoods Approach (SLA). The results showed that Pucanganom Village (south zone) was the most vulnerable to climate change with a value of LVI 0.352, while Bendung Village (north zone) 0.333 and Gedangrejo Village (middle zone) 0.346. The adaptation strategies of farmer households in each village consist of: (1) agricultural intensification and extensification, i.e. by applying climate adaptation technology, five agricultural farms systems, and integrated farming systems; (2) diversification strategy by carrying out food stocks, processing agricultural products, trade and service sectors, liquidating assets, loans or debt, and remittances; and (3) migration strategy by doing non-permanent migration, i.e. looking for side jobs outside the region, becoming seasonal laborers, and also permanent migration.IndonesianRumah tangga petani dianggap rentan terhadap perubahan iklim, karena sangat bergantung pada kondisi alam yang tidak menentu. Perekonomian wilayah dan sebagian besar masyarakat di Kabupaten Gunungkidul menggantungkan sumber penghidupannya pada sektor pertanian tanaman pangan. Tulisan ini bertujuan untuk menganalisis kerentanan dan mengidentifikasi strategi adaptasi rumah tangga petani akibat perubahan iklim di tiga desa di Kabupaten Gunungkidul. Rancangan metode yang digunakan adalah campuran sekuensial eksplanatori (kuantitatif-kualitatif). Analisis kerentanan penghidupan menggunakan analisis kuantitatif dengan penghitungan Livelihood Vulnerability Index (LVI), sedangkan untuk menganalisis adaptasi dilakukan secara kualitatif menggunakan pendekatan Sustainable Livelihood Approach (SLA). Hasil penelitian menunjukkan bahwa Desa Pucanganom (zona selatan) paling rentan terhadap perubahan iklim dengan nilai LVI 0,352 sedangkan nilai untuk Desa Bendung (zona utara) 0,333 dan Desa Gedangrejo (zona tengah) 0,346. Strategi adaptasi rumah tangga petani pada masing-masing desa adalah (1) intensifikasi dan ekstensifikasi pertanian, yaitu dengan penerapan teknologi adaptasi iklim, panca usaha tani dan sistem pertanian terpadu, (2) diversifikasi dengan melakukan stok pangan, pengolahan hasil pertanian, sektor perdagangan dan jasa, pencairan aset, pinjaman atau utang dan kiriman uang, dan (3) migrasi dengan melakukan migrasi nonpermanen, yaitu mencari pekerjaan sampingan di luar daerah dan menjadi buruh musiman, maupun migrasi permanen dengan merantau.
Yosua Umbu Osa Sabaora, Sony Heru Priyanto, Tinjung Mary Mary Prihtanti
Jurnal Agro Ekonomi, Volume 38, pp 105-125; https://doi.org/10.21082/jae.v38n2.2020.105-125

Abstract:
EnglishThe Food Resilient Village is a major program of the Ministry of Agriculture to ensure food security of rural households which effectiveness should be evaluated. This study aims to determine status, determinants, and food coping strategies of the household participants of the Food Resilient Village Program in Sumba Tengah Regency. The data was collected through a survey with 85 randomly selected household samples in 2019. The food security status was determined through a cross tabulation of food expenditure share and the level of energy consumption. The determinants of food security were identified using the logistic regression analysis. Food fulfillment strategy was evaluated with a food coping index. Results show that 25.58% sample households were food insecure, 40.00% were vulnerable food insecure, 14.12% were food insufficient, and 20.00% were food insecure. The food security was positively affected by the age of the family head, house hold income, rice prices, dummy balanced areas of paddy fields and dry land. The negative determinants were the number of household members, land size controlled and meat prices chicken. In general the coping strategy was at moderate level with a categorial composition of low 14.12%, medium 51.76%, and high 34.12%.IndonesianProgram Desa Mandiri Pangan adalah salah satu program utama Kementerian Pertanian untuk mewujudkan ketahanan pangan rumah tangga perdesaan yang perlu diteliti efektivitasnya. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan status, mengindentifikasi determinan, dan mengevaluasi strategi penyesuaian pangan rumah tangga penerima program Desa Mandiri Pangan di Kabupaten Sumba Tengah. Data dikumpulkan melalui survei dengan responden sebanyak 85 rumah tangga contoh yang dipilih secara acak sederhana pada tahun 2019. Status ketahanan pangan ditetapkan berdasarkan kombinasi silang antara pangsa pengeluaran pangan dan kecukupan konsumsi energi rumah tangga. Determinan ketahanan pangan dianalisis dengan regresi logit. Strategi penyesuaian pangan diukur dengan food coping index. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ketahanan pangan rumah tangga yang dalam kategori tahan pangan sebesar 25,88%, rentan pangan 40,00%, kurang pangan 14,12%, dan rawan pangan 20,00%. Faktor-faktor yang berpengaruh positif terhadap ketahanan pangan adalah umur kepala keluarga, pendapatan rumah tangga, harga beras, dan agroekosistem berimbang lahan sawah dan lahan kering, sedangkan yang berpengaruh negatif adalah jumlah anggota rumah tangga, luas penguasaan lahan, dan harga daging ayam. Secara umum, strategi penyesuaian pangan yang dilakukan responden berada pada tingkatan sedang dengan komposisi kategori rendah sebanyak 14,12%, sedang 51,76%, dan tinggi 34,12% dari total rumah tangga contoh.
Ismatullah Salim, Suci Paramitasari Syahlani, Ahmad Romadhoni Surya Putra
Jurnal Agro Ekonomi, Volume 38, pp 77-90; https://doi.org/10.21082/jae.v38n2.2020.77-90

Abstract:
EnglishThe broiler chicken industry has become an agribusiness industry that has supply chain components from upstream to downstream. However, in its implementation, several obstacles were found, such as price fluctuations and the availability of inputs and outputs. This study aimed to identify the government policy implementation strategy in managing the supply chain of the broiler chicken industry. The Analysis Hierarchy Process was used to get the priority issues. The data was obtained by interviewing 25 respondents which were selected purposively consisting of policy makers and business actors in September 2021. Dimensions of criteria hierarchy are prepared based on the Minister of Agriculture Regulation No 32/2017. Dimensions of the alternative strategy hierarchy are based on in-depth interviews with broiler chicken stakeholders. The results showed the priority in the criteria hierarchy was supervision management by 0.4342 and for the alternative strategy hierarchy was a competitiveness support strategy policy of 0.184. The government as the policy maker must ensure that supervision management in the broiler chicken supply chain can be well conducted. Competitiveness policy support strategies in the business of broiler chickens are needed by every business actor to provide added value in every business activity and ready to compete globally.IndonesianIndustri ayam broiler telah menjadi industri agribisnis yang memiliki rantai pasok terpadu dari sektor hulu hingga hilir. Namun, dalam realitas masih ditemukan beberapa masalah seperti fluktuasi harga dan ketersediaan input maupun output. Penelitian ini bertujuan untuk merumuskan dan mengidentifikasi strategi implementasi intervensi kebijakan pemerintah dalam manajemen rantai pasokan industri ayam broiler. Analysis Hierarchy Process (AHP) digunakan untuk mendapatkan isu-isu prioritas dalam intervensi kebijakan pemerintah dalam industri ayam broiler. Data diperoleh dengan mewawancarai sebanyak 25 orang responden terdiri dari pengambil kebijakan dan pelaku usaha yang dipilih secara purposif pada September 2019. Dimensi hierarki kriteria disusun berdasarkan Peraturan Menteri Pertanian Nomor 32 Tahun 2017. Dimensi hierarki alternatif strategi disusun berdasarkan wawancara mendalam dengan para stakeholder ayam broiler. Hasil penelitian menunjukkan bahwa prioritas pada hierarki kriteria adalah manajemen pengawasan sebesar 0,4342 dan untuk hierarki alternatif strategi adalah kebijakan strategi dukungan daya saing sebesar 0,184. Pemerintah selaku pemangku kebijakan harus memastikan bahwa manajemen pengawasan pada rantai pasokan ayam broiler dapat berjalan dengan baik. Strategi kebijakan dukungan daya saing pada usaha ayam broiler sangat dibutuhkan oleh setiap pelaku usaha agar memberikan nilai tambah di setiap aktivitas usahanya agar siap bersaing secara global.
Ninuk Purnaningsih, Endah Lestari
Jurnal Agro Ekonomi, Volume 39, pp 69-80; https://doi.org/10.21082/jae.v39n1.2021.69-80

Abstract:
English Research on sustainability program is important for evaluation practice on the success of a program and for scientific knowledge accumulation. Kawasan Rumah Pangan Lestari (KRPL) Program is a major program that has long been implemented by the Ministry of Agriculture to enhance farmers’ households food security. The objective of this study is to evaluate the ecological, social, and economic sustainability of the KRPL program. This research was conducted on one of the female farmer groups (KWT) participant of a KRPL program, using a survey method of 60 respondents who were selected by simple random sampling. Data processing techniques used are frequency tables and Partial Least Square test. The results showed that the level of participation of KWT members was in high category and was in the category of citizen power or community power. In regard to sustainability of the KRPL Program, ecological aspect has improved the environment to be cooler and more beautiful, and the management of household and agricultural waste. Socially, a network has been established in business management, especially for marketing. Economically, it has increased people's income. It is recommended to develop homegrown organic agriculture by developing collaborative network between some KWTs or farmer groups across villages and sub-districts. Indonesian Penelitian keberlanjutan program penting dilaksanakan karena secara praktis berkaitan dengan evaluasi keberhasilan suatu program, dan secara teoritis berkaitan dengan tujuan memperkaya keilmuan. Program Kawasan Rumah Pangan Lestari (KRPL) adalah salah satu program utama Kementerian Pertanian untuk meningkatkan ketahanan pangan rumah tangga petani yang sudah cukup lama dilaksanakan. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji keberlanjutan Program KRPL dilihat dari aspek ekologi, sosial, dan ekonomi. Penelitian dilakukan pada salah satu Kelompok Wanita Tani (KWT) partisipan dari satu KRPL dengan menggunakan metode survei terhadap 60 orang responden yang dipilih dengan simple random sampling pada Oktober 2018–Februari 2019. Teknik pengolahan data yang digunakan adalah tabel frekuensi dan uji Partial Least Square. Penelitian menunjukkan bahwa tingkat partisipasi anggota KWT tergolong tinggi dan mayoritas termasuk kategori citizen power atau kekuasaan masyarakat. Terkait keberlanjutan Program KRPL, secara ekologis telah terjadi perbaikan lingkungan menjadi lebih sejuk dan indah, dan pengelolaan limbah rumah tangga serta limbah pertanian. Secara sosial, telah terjalin jejaring dalam pengelolaan usaha, terutama untuk pemasaran. Secara ekonomi telah meningkatkan pendapatan masyarakat. Disarankan untuk mengembangkan pertanian organik berbasis pekarangan melalui pengembangan jejaring kerja sama antar-KWT atau kelompok tani lintas desa dan kecamatan.
Rizqi Haryastuti, Sahat M. Pasaribu, Muhammad N Aidi, I Made Sumertajaya, Valantino A Sutomo, Dian Kusumaningrum, Rahma Anisa
Jurnal Agro Ekonomi, Volume 39, pp 1-13; https://doi.org/10.21082/jae.v39n1.2021.1-13

Abstract:
Indonesian Kesenjangan tingkat produktivitas padi di Indonesia cukup besar yang di antaranya dipengaruhi oleh luasnya wilayah pertanaman. Hal ini berdampak pada desain dan penerapan model Asuransi Usaha Tani Padi (AUTP) berbasis produktivitas. Perluasan klaster pada tingkat provinsi diperkirakan dapat mengurangi keragaman produktivitas di tingkat wilayah kota/kabupaten sebagai risiko dasar pemanfaatan skema AUTP berbasis klaster. Klaster, sebagai wilayah atau zona, diperlukan untuk menentukan indeks kritis produktivitas yang akurat dalam rangka penghitungan tingkat premi yang tepat. Kajian ini bertujuan untuk menentukan tingkat produktivitas kritis pada lahan padi yang menerapkan skema AUTP. Kajian ini menggunakan analisis statistik dengan pendekatan batas bawah Two Sigma yang dapat dianggap sebagai batas produktivitas kritis untuk setiap klaster. Teknik ini memberikan persentase yang rendah atas klaim yang terjadi, serta ekspektasi dan simpangan baku dari risiko dasar kerugian. Tarif premi murni yang diperoleh adalah Rp85.191,18, hampir 2,5 kali lipat lebih kecil dibandingkan dengan menggunakan teknik lain sebagai batas poduktivitas. Hasil kajian ini mengungkapkan bahwa penggunaan skema berbasis klaster lebih baik dari skema berbasis provinsi, sebagaimana ditunjukkan oleh nilai TVaR. Kajian ini menyarankan agar Kementerian Pertanian dapat merancang model AUTP berbasis produktivitas berdasarkan klaster dengan setiap klaster memiliki nilai indeks produktivitas kritis yang berbeda untuk menetapkan tingkat premi yang dikenakan. English There is a large gap in productivity of paddy in Indonesia which is, among others affected by the area size of crop planting. This condition should influence the design and application model of the rice crop insurance scheme. Developing clusters under the province level is recommended to reduce the heterogeneous productivity as basis risk within regencies/municipalities in improving the area yield index of crop insurance policy in Indonesia. Clusters, as the zone, are necessary to determine accurate critical yield index leading to a more precise premium rate making. This study aims to determine critical productivity level on rice crop insurance area. This study applied statistical analysis using the lower bound of Two Sigma as a critical yield for each cluster. This technique provides a small percentage of claim, and the expectation and standard deviation of basis risk loss. The pure premium rate obtained from the analysis is IDR85,191.18, that is almost 2.5 times less than using other methods as trigger productivity. The analysis result emphasized that the use of the cluster-based scheme is better than the province-based as shown by TVaR value. The study suggests that the Ministry of Agriculture could design the area yield index based on clusters as each cluster will have a different critical productivity index with adjusted premium rate value.
Susanti Evie Sulistiowati, Ratya Anindita, Rosihan Asmara
Jurnal Agro Ekonomi, Volume 39, pp 15-27; https://doi.org/10.21082/jae.v39n1.2021.15-27

Abstract:
English Shallot is an agricultural strategic commodity. Understanding the market dynamics is necessary in formulating the market management policy. This study aims to analyze the volatility magnitude and spillover of shallot production, import, and consumption. This study was conducted in Probolinggo Regency, a major shallot production center, using monthly time series data of 2013-2019 period. Volatility was analyzed using the ARCH/GARCH method, spillover was analyzed using the EGARCH method. The results showed low volatility in production quantity and producers price. High volatility was found for quantity of consumption, import price and consumer price. Volatility spillover was found between producer’s price and production quantity as well as between consumer’s price and consumption quantity. There was no volatility spillover between producer’s price and consumer’s price or between quantity of production and consumption. The findings indicate the existence of asymmetrical information between producers’ market and consumers’ market. Therefore, market stabilization intervention should be focused in the consumers’ market. Price reference may be used as a benchmark in market intervention which includes market operations and import controls. Government should develop market information system to prevent asymmetrical information between the producers’ market and the consumers’ market. Indonesian Bawang merah adalah salah satu komoditas pertanian strategis. Pemahaman tentang dinamika pasar sangat penting dalam perumusan kebijakan pengelolaan pasar. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis besaran dan spillover volatilitas produksi, impor dan konsumsi bawang merah. Penelitian dilakukan di Kabupaten Probolinggo, salah satu sentra produksi bawang merah dengan menggunakan data bulanan deret waktu selama tahun 2013–2019. Untuk menganalisis volatilitas harga, produksi, dan konsumsi digunakan metode ARCH/GARCH, sedangkan untuk menganalisis volatilitas spillover digunakan metode EGARCH. Hasil analisis menujukkan volatilitas rendah untuk kuantitas produksi dan harga konsumen. Volatilitas tinggi ditemukan untuk kuantitas konsumsi, harga impor, dan harga konsumen. Volatilitas spillover terjadi antara harga produsen dan kuantitas produksi serta antara harga konsumen dan kuantitas konsumsi. Volatilitas spillover tidak terjadi antara harga produsen dan konsumen maupun antara kuantitas produksi dan konsumsi. Temuan inimengindikasikan adanya asimetri informasi antara pasar produsen dan pasar konsumen. Karena itu, upaya stabilisasi harga bawang merah sebaiknya difokuskan di pasar konsumen. Kebijakan referensi harga dapat dijadikan sebagai acuan dalam melaksanakan intervensi pasar yang mencakup operasi pasar dan pengendalian impor. Pemerintah perlu pula membangun sistem informasi pasar untuk menghilangkan masalah asimetri informasi antara pasar produsen dan pasar konsumen.
Esra Frandika Karo-Karo, Dominicus Savio Priyarsono, Sri Hartoyo
Jurnal Agro Ekonomi, Volume 39, pp 51-68; https://doi.org/10.21082/jae.v39n1.2021.51-68

Abstract:
English Karo Regency is the center of cabbage production in North Sumatra Province. The cabbage farming productivity in North Sumatra Province is low compared to other provinces on the island of Sumatra. This study aims to evaluate the cabbage farmings economic feasibility and technical efficiency. Farming feasibility was evaluated financially whereas technical eficiency was measured using the stochastic Cobb-Douglas production function in two categories, marginal and non-marginal farmings. The data was collected through a survey in February-June 2020 with respondents of 58 farmers for each categories. The results showed that the marginal farmings were technically efficient but were not profitable if land rent and labor cost were inputed. In contrary, the non-marginal farmings were technically inefficient but were profitable. This indicates that the poor but efficient hypothesis is true. The significant determinants of of the marginal farmings technical inefficiency were farmer’s age, labor ratio, land ownership, and farmer group membership. The study failed to find any significant determinant of technical inefficiency of the non-marginal farmers. The techical efficiency and profitablity of the cabbage farmings could possibly increased by increasing farmers’ participation in farmers group, building irrigation, developing agricultural institutions and trainings on good seedling practices. Indonesian Kabupaten Karo adalah sentra utama produksi kubis di Provinsi Sumatera Utara. Tingkat produktivitas usaha tani kubis di Provinsi Sumatera Utara relatif rendah dibandingkan provinsi lainnya di Pulau Sumatera. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi kelayakan ekonomi dan efisiensi teknis usaha tani kubis. Kelayakan usaha dianalisis secara finansial, sedangkan efisiensi teknis diukur dengan fungsi produksi Cobb-Douglas stokastik dalam dua kategori usaha tani, yaitu petani gurem dan bukan gurem. Data dikumpulkan melalui survei pada Februari–Juni 2020 dengan responden 58 petani untuk setiap kategori yang dipilih purposif. Penelitian menunjukkan bahwa usaha tani kubis skala gurem efisien secara teknis namun tidak menguntungkan jika biaya tenaga kerja keluarga dan sewa lahan diperhitungkan. Sebaliknya, usaha tani kubis berskala bukan gurem tidak efisien secara teknis namun menguntungkan secara finansial. Artinya, hipotesis ‘poor but efficient’ berlaku. Faktor-faktor yang berpengaruh terhadap inefisiensi teknis usaha tani gurem hingga tingkat nyata 10% adalah usia petani, rasio tenaga kerja, status lahan, anggota kelompok tani, sedangkan untuk usaha tani bukan gurem tidak ditemukan faktor-faktor sosial ekonomi yang memengaruhi efisiensi teknis hingga tingkat nyata 10%. Efisiensi teknis dan pendapatan usaha tani kubis masih dapat ditingkatkan dengan meningkatkan partisipasi petani dalam kelompok tani, membangun saluran irigasi, memfasilitasi tumbuh kembangnya lembaga pertanian dan memberikan pelatihan menyemai bibit yang baik.
Maryance Vivi Murnia Bana, Netti Tinaprilla, Rachmad Pambudy
Jurnal Agro Ekonomi, Volume 39, pp 29-49; https://doi.org/10.21082/jae.v39n1.2021.29-49

Abstract:
English Technical efficiency and profitability are the key for business enterprise development. Kupang regency is a center of smallholder broiler farms in East Nusa Tenggara Province that evolve with partnership and non-partnership types of enterprises. The study aims to analyze technical efficiency and profitability of the two types enterprises that may be useful in formulating broiler farming development in policy in Kupang Regency. Data was collected from purposively selected of 30 partnership farmers and 30 non partnership farmers in July 2019-August 2020. Technical efficiency was measured using the stochastic frontier production function. Profitability was measured using the R/C ratio. Results showed that both partnership and non-partnership enterprises are technically efficient, but technical efficiency of the non-partnership group is higher than the partnership group. Determinants of technical inefficiency of the partnership group are farmers’ education and family size. Determinants of technical inefficiency of the non-partnership group are farmers’ education, length of farming experience and family size. The non-partnership enterprises are more profitable than the partnership enterprises with average R/C ratio 1.19 and 1.06, respectively. Appropriate use of inputs, technology innovation and good farm management practices should be facilitated by the government in order to further increase farm technical efficiency and profitability. Indonesian Efisiensi teknis dan profitabilitas adalah kunci utama perkembangan suatu usaha. Kabupaten Kupang merupakan salah satu daerah sentra peternakan rakyat ayam broiler di Provinsi Nusa Tenggara Timur, yang sedang berkembang dengan pola usaha sistem mitra dan nonmitra. Penelitian bertujuan untuk menganalisis efisiensi teknis dan profitabilitas kedua pola usaha ternak ayam broiler yang diharapkan berguna dalam perumusan kebijakan pengembangan peternakan ayam broiler di Kabupaten Kupang. Data dikumpulkan dari 30 peternak mitra dan 30 peternak nonmitra yang dipilih secara purposif pada Juli 2019–Agustus 2020. Efisiensi teknis diukur dengan mempergunakan fungsi produksi stochastic frontier.  Profitabilitas diukur dengan R/C rasio. Penelitian menunjukan bahwa peternakan ayam broiler pola kemitraan maupun nonmitra adalah efisien secara teknis namun efisiensi teknis kelompok nonkemitraan lebih tinggi dari kelompok kemitraan. Inefisiensi teknis usaha ternak mitra dipengaruhi oleh tingkat pendidikan peternak dan jumlah tanggungan keluarga. Sedangkan inefisiensi teknis usaha ternak nonmitra dipengaruhi oleh tingkat pendidikan peternak, pengalaman beternak, dan jumlah tanggungan keluarga. Usaha ternak nonmitra lebih menguntungkan dibandingkan sistem mitra dengan nilai R/C rasio berturut-turut 1,19 dan 1,06. Penggunaan input yang sesuai, inovasi teknologi dan penerapan manajemen usaha ternak yang baik perlu difasilitasi pemerintah guna meningkatkan efisiensi teknis usaha dan profitabilitas usaha ternak.
Back to Top Top