Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan

Journal Information
ISSN / EISSN : 2460-8300 / 2528-4339
Current Publisher: Balai Arkeologi Yogyakarta (10.24832)
Total articles ≅ 393
Current Coverage
DOAJ
Archived in
SHERPA/ROMEO
Filter:

Latest articles in this journal

Gelar Dwirahayu
Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan, Volume 5, pp 59-72; doi:10.24832/jpnk.v5i1.1551

Abstract:
Tulisan ini merupakan hasil penelitian tentang kompetensi pedagogis guru matematika MTs dalam hal mengembangkan desain pembelajaran. Dua hal yang dikaji yaitu: 1) bagaimana guru mengembangkan pembelajaran menggunakan pendekatan saintifik; 2) bagaimana kompetensi guru dalam proses pembelajaran yang mendukung kemampuan berpikir tingkat tinggi siswa (KBTTM). Populasi dalam penelitian ini adalah guru MTs yang berasal dari Banten, Sumatra Selatan, Jakarta, Jawa Barat, Jawa Timur, dan Sulawesi Selatan. Guru yang terlibat dalam penelitian ini sebanyak 61 orang. Instrumen yang digunakan yaitu lembar observasi yang meliputi 11 keterampilan dasar dalam penyusunan RPP dan angket yang terdiri dari 24 butir pernyataan dan 5 pertanyaan terbuka. Instrumen diuji validitasnya dengan uji pakar yang melibatkan 6 orang dosen. Temuan penelitian: 1) berdasarkan hasil observasi diketahui bahwa guru dapat merancang pembelajaran matematika menggunakan pendekatan saintifik cukup baik, namun penjabaran indikator yang menunjukkan KBTTM belum terlihat; 2) berdasarkan hasil angket disimpulkan bahwa keterlibatan guru dalam pengembangan KBTTM siswa di MTs masih belum maksimal yang ditunjukkan dengan intensitas keterlibatannya dalam mengikuti pelatihan atau seminar. This paper is the result of study about mathematics teachers’ pedagogical competencies in Madrasah Tsanawiyah (MTs) in developing scientific-based lesson plan. Two things that were examined in this study are: 1) how teachers develop learning using scientific approach; 2) how the teacher’s competence in the learning process that supports students’ high-level thinking skills (KBTTM). The population in this study is MTs teachers in Banten, South Sumatra, Jakarta, West Java, East Java, and South Sulawesi. There were 61 teachers involved in this study. The instrument used was an observation sheet which included 11 basic skills in the preparation of lesson plan, and a questionnaire consisting of 24 statements, and 5 open questions. The instrument was tested for validity with an expert test involving 6 lecturers. Research findings: 1) based on observations, teachers are able to design mathematics learning using scientific approaches quite well, however, the elaboration of indicators that show KBTTM has not been seen. 2) based on the results of the questionnaire, teacher involvement in the development of KBTTM students in MTs was still not maximal, as indicated by the intensity of their involvement in attending training or seminars.
Fransisca Nur'Aini Krisna
Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan, Volume 5, pp 43-58; doi:10.24832/jpnk.v5i1.1513

Abstract:
Kajian ini bertujuan untuk mengelaborasi pengaruh politik dan ekonomi terhadap kebijakan pembelajaran bermuatan HOTS di Kota Bandung dan Yogyakarta. Kajian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan teknik pengumpulan data melalui wawancara mendalam, diskusi kelompok terpumpun, observasi kelas, dan studi dokumen. Kota Bandung dan Yogyakarta dipilih karena kedua kota tersebut telah melaksanakan kurikulum 2013 revisi 2016. Analisis yang digunakan dalam kajian ini adalah analisis politik ekonomi, tingkat sektor yang dikembangkan oleh European Commission. Hasil analisis menunjukkan bahwa kota Bandung dan Yogyakarta belum memiliki kebijakan khusus terkait pembelajaran bermuatan HOTS dalam implementasi Kurikulum 2013. Namun, Dinas Pendidikan Kota Yogyakarta telah menyelenggarakan pelatihan penyusunan soal HOTS sedangkan Dinas Pendidikan Kota Bandung belum melaksanakan. Meskipun demikian, kedua kota telah merencanakan anggaran untuk pelatihan guru melakukan pembelajaran HOTS di tahun 2018. This research aims to elaborate on how politics and economy affecting the policy of Higher Order Thinking Skills (HOTS) Learning as well as to provide recommendations to support this policy in Bandung and Yogyakarta districts. This study uses a qualitative approach with in-depth interviews, focus-group discussion, classroom observations, and desk study as data collection techniques. Bandung and Yogyakarta were selected as cases because they already implemented 2013 Curriculum (version 2016). This study uses the sector analysis for politics and economy developed by the European Commission. The results of this study show that both districts have not yet implemented certain policies in regard to HOTS learning, however, Yogyakarta has trained several teachers in constructing HOTS assessment. Nevertheless, both districts already made financial planning for the training of teachers in HOTS learning in 2018.
Eni Susilawati, Samsul Fahrozi
Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan, Volume 5, pp 99-114; doi:10.24832/jpnk.v5i1.1504

Abstract:
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui penerapan dan kendala pemanfaatan Rumah Belajar di sekolah terdampak bencana. Penelitian menggunakan pendekatan deskriptif kuantitatif. Sampel adalah guru-guru sekolah di NTB peserta Program Pembelajaran Berbasis TIK (Pembatik) level 2 dan Level 3 yang telah dilaksanakan oleh Pustekkom pada tahun 2019. Pengumpulan data menggunakan kuesioner, observasi dan wawancara terbatas. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: 1) kesiapan sekolah dalam pemulihan sarana prasarana TIK, kompetensi guru dan literasi TIK siswa dalam kategori siap, 2) bentuk pemanfaatan Rumah Belajar di sekolah terdampak bencana meliputi: pemanfaatan rumah belajar secara daring (online); sumber belajar adalah fitur yang paling sering dimanfaatkan guru; jenis konten video dan BBI (Bahan Belajar Interaktif) yang banyak disukai siswa; serta dalam memanfaatkan rumah belajar masih dominan menggunakan metode ceramah; 3) Beberapa rekomendasi upaya peningkatan pemanfaatan rumah belajar di sekolah terdampak bencana, perlunya meningkatkan: dukungan kesiapan sekolah, guru, dan siswa dalam memanfaatkan rumah belajar, ketersediaan konten game untuk healing therapy, jumlah dan variasi konten-konten mitigasi bencana serta meningkatkan sinergi kolaborasi antarsekolah, pemerintah, masyarakat serta stakeholder dalam pemanfaatan rumah belajar di sekolah-sekolah yang terdampak bencana. Rumah Belajar dapat menjadi solusi pembelajaran di daerah bencana. Belajar dapat dilakukan di rumah seperti saat darurat pandemi Covid-19. This study aims to determine the application and constraints of the use of learning application (Rumah Belajar) in schools affected by disasters. The research uses a quantitative descriptive approach. The sample is school teachers in NTB participating in Level 2 and Level 3 ICT-Based Learning Programs (PembaTIK) that have been implemented by Pustekkom in 2019. Data collection uses questionnaires, observation and limited interviews. The results show that: 1) school readiness in the restoration of ICT infrastructure, teacher competence and ICT literacy of students are in the ready category, 2) forms of utilization of Rumah Belajar in schools affected by disasters include: utilization of online of Rumah Belajar; learning resources are the features most often used by teachers; the type of video content and interactive learning content (BBI) that many students like; as well as in utilizing the Rumah Belajar is still dominant using the lecture method; 3) Some recommendations for efforts to increase the use of Rumah Belajar in schools affected by disasters, the need to improve: support the readiness of schools, teachers, and students in utilizing of Rumah Belajar, the availability of game content for healing therapies, the number and variety of disaster mitigation content and increase the synergy of collaboration between schools, government, communities and stakeholders in the use of learning houses in schools affected by disasters. To conclude, the Rumah Belajar can be a learning solution in disaster areas. Learning can be done at home such as during the Covid-19 pandemic emergency.
Vit Ardhyantama
Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan, Volume 5, pp 73-86; doi:10.24832/jpnk.v5i1.1502

Abstract:
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengembangan kreativitas dengan menggunakan gagasan Ki Hajar Dewantara yaitu niteni, nirokke dan nambahi yang dikenal dengan istilah Tri-N. Metode yang dipilih adalah deskriptif kualitatif dengan studi literatur. Data dihimpun dengan menggunakan literasi yang sudah ada, baik dari sumber primer maupun sekunder, kemudian dianalisis dan disajikan secara deskiptif. Hasil kajian menunjukkan bahwa Konsep niteni, nirokke dan nambahi merupakan sebuah proses yang di dalamnya terkandung pembentukan kreativitas. Niteni adalah awal dari munculnya gagasan atau ide yang kemudian disusul dengan aktivitas nirokke atau menirukan sebagai wahana mengasah keterampilan dengan menambahkan makna pada contoh-contoh yang sudah tersedia, dan nambahi merupakan muara proses yang padanya terlihat jelas bagaimana sebuah produk dari kreativitas mampu menjawab permasalahan dengan menggunakan berbagai macam cara. Menumbuhkan kreativitas, dengan demikian dapat dilakukan dengan menggunakan gagasan niteni, nirokke dan nambahi yang dilakukan secara prosedural. Ki Hajar Dewantara has many ideas and have been applied in the Indonesian education. One of his most well-known ideas is the concept of niteni, nirokke and nambahi as known as Tri-N. Translated into Indonesian the three words mean pay attention, imitate, and add. These three elements have characteristics that are very compatible with the development of creativity. Referring to this, this study was conducted with the aim to find out the development of creativity by using the idea of ​​Ki Hajar Dewantara namely niteni, nirokke and nambahi. Using descriptive qualitative study of literature, data was collected by using existing literacy from both primary and secondary sources and then analyzed and presented descriptively. The results of the study showed that the concept of niteni, nirokke and nambahi is a process which contains the formation of creativity. Niteni is the beginning of the emergence of ideas, followed by nirokke, activities or imitating as an effort to improve skills by adding meaning to the existing examples, and adding is the ultimate process that show clearly how a product of creativity is able to answer problems by using various ways. Thus, growing creativity can done by using the idea of ​​niteni, nirokke and nambahi as a procedure.
Kristoforus Ramlino, Maria Dominika Niron
Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan, Volume 5, pp 87-98; doi:10.24832/jpnk.v5i1.1562

Abstract:
Program pendidikan di Seminari Menengah St. Yohanes Paulus II menekankan pada aspek sanctitas (kekudusan), Scientia (pengetahuan), Sapientia (kebijaksanaan), sanitas (kesehatan) dan Solidaritas. Untuk mencapai semua aspek tersebut, correctio fraterna menjadi salah satu program pendidikan di seminari yang khas. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana kegiatan correctio fraterna di Seminari Menengah St. Yohanes Paulus II Labuan Bajo dapat menunjang pendidikan karakter seminaris. Metode penelitian ini adalah deskriptif kualitatif, dengan pendekatan studi kasus tunggal. Teknik yang digunakan dalam mengumpulkan data adalah wawancara, observasi dan studi dokumen. Hasil penelitian menunjukkan bahwa correctio fraterna menjadi kegiatan wajib dalam program pendidikan di Seminari Menengah St. Yohanes Paulus II. Kegiatan ini dilakukan dalam kelompok kecil yang beranggotakan 5-6 orang. Setiap anggota di dalam kelompok saling memberikan koreksi satu dengan yang lainnya, berkaitan dengan beberapa aspek pembinaan di seminari, seperti kerohanian, intelektual, kesehatan, kedisiplinan, kerja dan olahraga, relasi sosial, dan pelayanan. Nilai-nilai karakter peserta didik yang dapat dibangun dari kegiatan ini adalah kejujuran, tanggung jawab, kerendahan hati, keterbukaan, dan tanggung jawab. Kegiatan ini juga merupakan faktor penunjang bagi formator dalam mengukur keberhasilan peserta didik. Kajian ini menyimpulkan bahwa correctio fraterna dapat menunjang pembentukan karakter seminaris, sesuai dengan semangat kurikulum seminari dan Kurikulum 2013. The educational program in the Minor Seminary St. Yohanes Paul II emphasizes the aspects of sanctitas (holiness), scienta (knowledge), sapientia (wisdom), sanitas (health) and solidarity. In achieving all these aspects, correctio fraterna becomes one of the typical seminary education programs. This study aims to determine how the activities related to correctio fraterna in Middle Seminary of St. Yohanes Paulus II Labuan Bajo, can support seminarian character education. The research method is descriptive qualitative, with a single case study approach. The techniques used in collecting data are interviews, observation and document study. The results showed that correctio fraterna became a mandatory activity in the educational program in the St. Yohanes Paul II Middle Seminary. This activity is carried out in a small group of 5-6 people. Each member in the group provides correction (criticism) with one another, relating to several aspects of coaching in the seminary, such as spirituality, intellectual, health, discipline, work and sports, social relations, and service. The character values of students that can be built from this activity are honesty, responsibility, humility, openness, and responsibility. This activity is also a supporting factor for the formator in measuring student success. This study concludes that correctio fraterna can support the formation of seminarian characters, in accordance with the spirit of the seminary curriculum and the 2013 Curriculum.
Heri Purwanto, Coleta Palupi Titasari
Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan, Volume 5, pp 13-42; doi:10.24832/jpnk.v5i1.1505

Abstract:
Penelitian ini bertujuan untuk menelusuri bukti-bukti yang dapat dijadikan sebagai penanda bangunan suci yang digunakan untuk tempat pendidikan agama (mandala kadewaguruan) dan menjelaskan berbagai kegiatan yang dilakukan oleh masyarakat pendukungnya. Untuk mencapai tujuan tersebut digunakan langkah-langkah penelitian yang berupa observasi langsung ke situs penelitian, lalu diikuti dengan deskripsi, dan terakhir eksplanasi yang menggunakan analisis komparatif dan kontekstual. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa memang benar situs penelitian merupakan bangunan suci berstatus sebagai mandala kadewaguruan. Hal ini dibuktikan dengan terpenuhinya syarat-syarat sebuah mandala kadewaguruan. Syarat tersebut adalah tempat yang jauh dari keramaian, memiliki ruang yang luas, ditemukan lingga-pranala, terdapat temuan gerabah yang mengindikasikan adanya aktivitas dalam waktu yang lama, ditemukan berbagai tingggalan arkeologi yang berkaitan dengan keagamaan, dan terekam dalam prasasti. Aktivitas yang dilakukan nampaknya begitu kompleks yakni belajar-mengajar, bertapa, upacara agama, menulis sastra, dan kegiatan yang berkaitan dengan pemenuhan hidupan (makanan dan minuman). The study aimed at looking for the evidences that can be used as a mark of the sacred building used for the religious education (mandala kadewaguruan) and to explain the various activities that were done by the community supporters. To achieve these goals, this study used measure of research in the form of direct observation to the site, followed by describing the obesevation, and lastly the explanation using contextual and comparative analysis. The result of this study showed that the site is sacred building in the form mandala kadewaguruan. This has been proven with such a criterion as being a mandala kadewaguruan. The criteria among others are quiet place that far away, have a broad space, founded a lingga pranala, the findings of pottery that indicate the presence of activities in along time, founded a variety archaeological remains related with the religious, and recorded in the inscription. Activites that were done were quite complex, such as, learning and teaching, practicing as an ascetic, religious ceremony, writing literature, as well as meeting the needs of life related to foods and drinks.
Nanang Martono, Elis Puspitasari, Fx Wardiyono Wardiyono
Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan, Volume 5, pp 1-12; doi:10.24832/jpnk.v5i1.1509

Abstract:
Kompetisi dalam pendidikan menuntut sekolah swasta harus mampu bersaing dengan sekolah negeri karena mereka menjadi pilihan kedua. Sebagai pilihan kedua maka kebanyakan sekolah swasta tidak mampu menarik siswa-siswa unggulan dan berprestasi. Tujuan studi ini adalah mendeskripsikan usaha yang ditempuh SMA swasta sebagai pilihan kedua untuk berkompetisi dengan sekolah negeri agar dapat bertahan. Penelitian menggunakan metode kualitatif grounded theory di 10 SMA swasta pilihan kedua di Kabupaten Banyumas. Kabupaten ini dipilih karena peningkatan jumlah sekolah swasta yang cukup tinggi. Data dikumpulkan melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi. Hasil studi menunjukkan strategi yang dilakukan sekolah swasta pilihan kedua di antaranya, adalah melakukan promosi secara strategis ke SMP yang menjadi target potensial, memilih siswa tidak mampu, dan memiliki kemampuan akademik rendah sebagai sasaran utama, dan menawarkan biaya sekolah murah bahkan menawarkan sekolah gratis bagi siswa tidak mampu. Competition in education requires the private schools to compete with public schools since they have been as the second choice. As the second choice, most private schools have been in failure to recruit talented and intelligent intake students. This article describes the efforts of private schools as the second choice, to face the competition with other public schools for its survival. This study used grounded theory method by taking 10 private high schools and located in Banyumas district. This district is chosen because the number of private schools is increased almost significantly. Data was collected using observation, interview, and documentation. The result of the study showed that strategies used by this type of school include among others, strategically promote themself to a potential junior high school, choose a low economic and low academic students as their main targets, and offering low-cost education, if possible, offering free cost education for low economic students.
Bayu Adi Laksono, Supriyono Supriyono, Sri Wahyuni
Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan, Volume 4; doi:10.24832/jpnk.v4i2.1291

Abstract:
The purpose of this study was to determine the level of financial and digital literacy of migrant workers’ families in terms of educational background. This study used a quantitative approach with analysis in the form of analysis of variants and kruskal-wallis. The study was conducted in one village in Lamongan Regency, East Java with a total sample of 95 persons. The results showed that there was no significant difference in the level of financial literacy in terms of the educational background of the families of migrant workers. There is significant differences in the level of digital literacy in terms of the educational background of migrant workers’ families. Families of migrant workers who have significant differences in the level of digital literacy are groups of primary school graduates to college graduates and junior secondary school graduates to college graduates. The conclusion of this study is that migrant worker families that tend to have low levels of financial literacy and digital literacy are families of migrant workers with a background in primary school (elementary) and junior secondary school. This is even more convincing that the educational background has an influence on one’s ability level. This becomes the identification of migrant worker families with educational background who has priority to get intervention in increasing knowledge and skills in the non-formal education programs that are useful for preparing migrant worker families in the industrial revolution era 4.0. Abstrak Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui tingkat literasi finansial dan digital keluarga pekerja migran ditinjau dari latar belakang pendidikan. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan analysis of varian dan kruskal-wallis. Penelitian dilakukan di salah satu desa di Kabupaten Lamongan, Jawa Timur dengan total sampel sebanyak 95 orang. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tidak terdapat perbedaan yang signifikan tingkat literasi finansial yang ditinjau dari latar belakang pendidikan keluarga pekerja migran. Terdapat perbedaan yang signifikan tingkat literasi digital yang ditinjau dari latar belakang pendidikan keluarga pekerja migran. Keluarga pekerja migran yang memiliki perbedaan tingkat literasi digital yang signifikan adalah kelompok lulusan SD dengan lulusan perguruan tinggi serta lulusan SMP dengan lulusan perguruan tinggi. Kesimpulan penelitian ini adalah keluarga pekerja migran yang cenderung memiliki tingkat literasi finansial maupun literasi digital yang rendah adalah keluarga pekerja migran dengan latar belakang lulusan SD dan SMP. Hal tersebut semakin meguatkan bahwa latar belakang pendidikan memberikan pengaruh terhadap tingkat kemampuan seseorang. Identifikasi keluarga pekerja migran dengan latar pendidikan yang memiliki prioritas mendapatkan intervensi peningkatan pengetahuan dan keterampilan berupa program pendidikan nonformal yang berguna untuk mempersiapkan keluarga pekerja migran dalam era...
Aditya Ramadhan, Budi Susetyo, Indahwati Indahwati
Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan, Volume 4; doi:10.24832/jpnk.v4i2.1327

Abstract:
National Education Standards serves as the basis of education development strategy based on the result of evaluation the implementation of education. The evaluation is implemented through accreditation and national exam. The objective of this study is to analyze the score of computer-based national exam based on accreditation scores per items of instrument by applying multiclass random forest classification modeling. The research used Computer-Based National Exam data in 2018 and accreditation data from the year of 2017 and 2018. This study employed random forest for multiclass classification. The results showed that, based on the evaluation model, classification accuration value in multiclass random forest was 83.49%. In addition, this model produces important variables in classifying the average value of computer-based national examination, i.e., items laboratory conditions (x71, x68, x69, x67), electrical installation (x62), infrastructure (x64), canteen (x83), laboratory (x55), special service officers (x56), certified teachers (x39), library staff (x54), head of administration (x51), literacy activities for students (x33), use of textbooks (x14), and community/partner collaboration in education management (x96). Based on the indicators of important variables, National Education Standards that have important role are facility and infrastructure standards, educator and educational staff standards, and graduate competence standards. Therefore, improving the quality of education can be done by improving school facilities, the competency of teacher and education staff, and graduate competency.Abstak Standar Nasional Pendidikan (SNP) berfungsi sebagai dasar strategi pengembangan pendidikan berdasarkan hasil evaluasi pelaksanaan pendidikan. Evaluasi pelaksanaan pendidikan dilaksanakan melalui akreditasi dan ujian nasional (UN). Tujuan penelitian ini untuk menganalisis nilai ujian nasional berbasis komputer (UNBK) berdasarkan skor akreditasi per butir instrumen dengan menerapkan pemodelan klasifikasi random forest multikelas. Penelitian ini menggunakan data UNBK tahun 2018 dan data hasil akreditasi tahun 2017 dan 2018. Metode penelitian yang digunakan adalah pemodelan klasifikasi random forest multikelas. Hasil penelitian menunjukkan bahwa, pertama, berdasarkan evaluasi model, nilai akurasi klasifikasi dalam pemodelan klasifikasi random forest multikelas sebesar 83.49%. Kedua, model ini menghasilkan tingkat kepentingan variabel prediktor (butir-butir instrumen akreditasi) dalam mengklasifikasikan nilai rataan UNBK yakni kondisi laboratorium (x71, x68, x69, x67), instalansi listrik (x62), prasarana (x64), kantin (x83), kondisi laboran (x55), petugas layanan khusus (x56), guru tersertifikat (x39), tenaga perpustakaan (x54), kepala administrasi (x51), kegiatan literasi S/M bagi peserta didik (x33), penggunaan buku teks (x14), dan kerja sama masyarakat/mitra dalam pengelolaan pendidikan (x96). Berdasarkan indikator variabel penting tersebut, SNP...
Rohmat Sulistya
Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan, Volume 4; doi:10.24832/jpnk.v4i2.1222

Abstract:
The role of teachers in the era of the industrial revolution 4.0 is not only as a giver of knowledge, but also as a life-long learners, learning leaders, instructors of learning resources, network former, and communication opener. These roles are inseparable from the demands of rapid change in all areas. Therefore, to adjust with the rapid changes, teachers must learn all the time throughout life. To achieve these roles, it is important to design about such updating teacher competencies’ training approaches that fit to the challenges of the 21st century. This study aims (1) to reveal the challenges of the industrial revolution 4.0 for teachers; and (2) offers the heutagogical approach to teacher training along with the outline its implementation steps. The study was carried out by analysing literatures comprehensively, referring to books, journals, and conference articles to answer the objectives of the study. The results of the study revealed that: (1) teachers faced major challenges to present interesting learning that fit with the conditions of millennial students and the challenge of responding to learning issues related to behavior, methods, and learning processes; (2) training programs with heutagogical approach need to be considered because it is a self-determined learning and and its implementation steps is by strengthening HOTS (Higher Order Thinking Skills) learning, strengthening digital literacy, developing a complete and reliable learning management system platform, and implementing teacher training with a heutagogy approach. To conlude, it is hoped that heutagogy can be an alternative approach of teachers training to produce teachers who are prepared for industrial revolution 4.0 learning challenges.AbstrakPeran guru di era revolusi industri 4.0 tidak hanya sebagai pemberi ilmu, tetapi juga sebagai pembelajar sepanjang hayat, pemimpin pembelajaran, pengarah sumber belajar, pembentuk jaringan, dan pembuka komunikasi. Peran-peran tersebut ini tidak terlepas dari tuntutan perubahan yang sangat cepat di segala ranah. Oleh karena itu, guru harus belajar sepanjang hayat untuk menyesuaikan dengan perubahan. Untuk mencapai peran ini, pemutakhiran kompetensi guru melalui pendekatan pelatihan yang sesuai tantangan abad 21 perlu diwujudkan. Kajian ini bertujuan untuk (1) mengungkapkan tantangan revolusi 4.0 bagi guru; dan (2) menawarkan pendekatan heutagogi dalam pelatihan guru beserta garis besar langkah implementasinya. Kajian dilakukan dengan studi literatur dan menganalisnya secara komprehensif, merujuk pada buku, jurnal, dan artikel konferensi untuk menjawab tujuan kajian. Hasil kajian mengungkapkan: (1) guru menghadapi tantangan besar untuk menghadirkan pembelajaran yang menarik dan selaras dengan kondisi peserta didik milenial dan tantangan untuk merespon isu-isu pembelajaran yang berkaitan dengan perilaku, metode, dan proses pembelajaran; (2) program pelatihan dengan pendekatan heutagogi perlu dipertimbangkan karena bersifat...
Back to Top Top