LANGKAU BETANG: JURNAL ARSITEKTUR

Journal Information
ISSN / EISSN : 2355-2484 / 2550-1194
Current Publisher: Tanjungpura University (10.26418)
Total articles ≅ 89
Current Coverage
DOAJ
Archived in
SHERPA/ROMEO
Filter:

Latest articles in this journal

Tri Susetyo Andadari, Lmf Purwanto, Prasasto Satwiko, Ridwan Sanjaya
LANGKAU BETANG: JURNAL ARSITEKTUR, Volume 8, pp 16-26; doi:10.26418/lantang.v8i1.43746

Abstract:
Sistem perhitungan pencahayaan penting untuk mengetahui jumlah dan tipe armatur, tingkat efektifitas kuat penerangan pada bidang kerja, serta untuk mengetahui besarnya pemakaian energi listrik pada suatu ruangan. Sistem perhitungan pencahayaan bisa dilakukan secara manual atau dengan simulasi menggunakan software pencahayaan. Kedua metode tersebut, menjadi alternatif pilihan bagi arsitek dalam mendapatkan formula pencahayaan buatan untuk desainnya. Namun permasalahannya adalah bagaimanakah perbandingan ketepatan kedua metode tersebut? Bagaimanakah hasil kedua metode tersebut terhadap standar yang berlaku? Dan bagaimanakah kualitas hasil perhitungan kedua metode tersebut? Untuk itulah, penelitian ini berusaha membandingkan metode perhitungan pencahayaan secara manual dan secara simulasi agar hasilnya bisa digunakan sebagai acuan arsitek dalam menentukan sistem perhitungan pencahayaan yang tepat pada desainnya. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental, dengan metode komparatif dan menggunakan booth sebagai media uji. Software simulasi yang dipilih adalah Relux Desktop versi 2020.2.3.0, dengan pertimbangan sudah lama release, mudah pengoperasionalannya dan banyak digunakan oleh praktisi. Hasil akhir menunjukkan bahwa luaran perhitungan sistem pencahayaan secara simulasi (1) lebih akurat dengan deviasi maximal 4%, (2) rerata besar kuat penerangan pada bidang kerja dan pemakaian energi listrik lebih rendah terhadap standar yang berlaku dan (3) kualitas luaran lebih lengkap berupa kalkulasi, gambar perspektif sebaran cahaya dan gambar kontur sebaran pencahayaan sesuai titik lampu. BOOTH LIGHTING COMPARISON WITH MANUAL AND RELUX DESKTOP 2020.2.3.0 SIMULATION CALCULATION METHODS The lighting calculation system is essential to determine the number and type of armature, light strength effectiveness, and electrical energy consumption. The lighting calculation system can be done manually or with simulation software. Both methods are alternative architects to obtain artificial lighting formulas. The problem is how to compare the accuracy of the two methods? How do the results of the two methods against the prevailing standards? And how is the quality of the results of the two methods? This study seeks to compare manual and simulation lighting calculation methods so that the results can be used as a reference for architects in determining the appropriate lighting calculation system. This research is an experimental study, with a comparative method and using a booth as a medium. The simulation software uses Relux Desktop version 2020.2.3.0, because it has been released for a long time, is easy to operate, and is widely used by architects. The final results show that the simulation output of the lighting system is (1) more accurate with a maximum deviation of 4%, (2) the average light strength in the work area, and the use of electrical energy is lower than the prevailing standards and (3) the quality of the output is more complete in the form of calculations, perspective drawing of light distribution and contour drawing of lighting distribution according to the position of the light points.
Yudithya Ratih, Estar Putra Akbar, Caesar Destria
LANGKAU BETANG: JURNAL ARSITEKTUR, Volume 8, pp 43-54; doi:10.26418/lantang.v8i1.42594

Abstract:
Pontianak waterfront city merupakan salah satu program yang terus dilakukan oleh pemerintah Kota Pontianak. Salah satu kawasan waterfront yang menarik untuk dikunjungi adalah kawasan Waterfront Seng Hie. Keberadaan waterfront Seng Hie memberikan dampak yang positif membantu meningkatkan citra Kota Pontianak sebagai Kota Tepian air, disisi lain ternyata memberikan dampak negatif, yaitu menjadi magnet kegiatan PKL yang tidak terencana sebelumnya. Kondisi ini jika tidak mendapat perhatian khusus, maka berpotensi munculnya konflik penggunaan ruang antara pengunjung dan para PKL. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor Setting ruang yang mempengaruhi pola sebaran teritori PKL di Waterfront Kota Pontianak. Secara umum, hasil penelitian ini akan menjadi masukan Pemerintah Kota Pontianak dalam upaya memperbaiki kualitas ruang terbuka di tepian air dan akan bersinergi dengan keberadaan PKL. Metode digunakan dalam penelitian ini adalah pemetaan perilaku, yang akan terkait dengan variabel Setting ruang. Hasil penelitian ini ditemukan faktor utama yang mempengaruhi pola distribusi PKL di Waterfront Kota Pontianak yaitu keberadaan seting Fix di waterfront seperti Pagar, Bangku Taman, Perkerasan Beton yang menjadi media PKL untuk berjualan, yang dibedakan atas lima pola teritori sebaran PKL (1) disekitar bangku taman, 2) di sekitar plaza, 3) di sekitar pagar, 4) di sekitar reling tangga, 5) di sekitar anak tangga. THE EFFECT OF SETTING OPEN SPACE ON THE SPREAD OF PKL TERRITORY IN THE WATERFRONT OF PONTIANAK CITY Pontianak waterfront city is one of the programs that the Pontianak City government continues to carry out. One of the interesting waterfront areas to visit is the Seng Hie Waterfront area. The existence of Seng Hie's waterfront has a positive impact helping to improve the image of Pontianak City as a waterfront city; on the other hand, it has a negative effect, namely becoming a magnet for previously unplanned street vendors activities. If this condition does not get special attention, then the potential for conflict in the use of space between visitors and street vendors. This study aims to determine the spatial setting factors that affect the distribution patterns of street vendors at the Waterfront of Pontianak City. In general, the results of this research will be used as input for the Pontianak City Government to improve the quality of open spaces on the water's edge. They will synergize with the existence of street vendors. The method used in this research is behavior mapping, which will be related to the variable space setting. The results of this study found that the main factors that influence the distribution pattern of street vendors at the Waterfront of Pontianak City are the presence of Fix settings on the waterfront such as fences, park benches, concrete pavers which become the media for street vendors to sell, which are divided into five territorial patterns of street vendors (1) around park benches, 2) around the plaza, 3) around the fence, 4) around the stair rail, 5) around the steps.
Zairin Zain, Petrus Piju
LANGKAU BETANG: JURNAL ARSITEKTUR, Volume 8, pp 55-72; doi:10.26418/lantang.v8i1.41687

Abstract:
Model partisipatif melibatkan masyarakat sebagai pelaku sentral bagi pembangunan pariwisata yang terus berlangsung diperlukan dalam aktivititas perbaikan dan pengembangan lokasi wisata. Pengembangan Kawasan Wisata Alam dapat dilakukan dengan memanfaatkan potensi seni budaya masyarakat di sekitar kawasan untuk terlibat dalam mendongkrak minat wisatawan akibat fenomena berkurangnya kunjungan. Studi menggunakan pendekatan kualitatif dengan in-depth purposive interviews dengan metode the open-ended (unstructured) interview untuk memahami fenomena mengenai kejadian yang dialami subyek penelitian ini. Lokasi penelitian adalah Kawasan Wisata Alam Bukit Kelam yang meliputi empat desa yang berada disekitarnya. Model Pengembangan Kawasan Wisata ini dengan diperkuat melalui kesepakatan menjadi destinasi wisata dengan produk pertanian dan seni budaya lokal yang menarik. Perlunya penguatan citra sebagai destinasi wisata dengan kondisi alami dan masyarakat lokal yang masih terjaga dan produk seni budaya menarik. Pemberdayaan berdasarkan potensi dimiliki dapat dilaksanakan dengan memberi kepercayaan kepada individu masyarakat terhadap suatu kegiatan yang ada pada kawasan wisata. Pemberdayaan secara berkelompok atau organisasi perlu dilakukan agar masyarakat desa di sekitar kawasan Wisata Alam Bukit Kelam dapat membentuk kelompok baru atau pelatihan bagi kelompok seni budaya yang telah berkembang. Masyarakat membutuhkan pengembangan keahlian individu untuk meningkatkan jumlah, kualitas dan nilai produksi. Oleh karena itu, masyarakat membutuhkan fasilitas yang memadai berupa workshop dan showroom produk hasil seni budaya setempat.THE POTENTIAL OF TRADITIONAL CULTURAL ARTS AS A LOCAL COMMUNITY EMPOWERMENT IN THE NATURE PARK OF BUKIT KELAM SINTANG The participatory model involves the community as the central actors for the improvement of sustainable tourism. The potential of the community's arts and culture around the area in the development of the Natural Tourism Area can be done by utilizing and being involved of locals in boosting tourist interest due to decreased visits. The study used a qualitative approach with in-depth purposive interviews with the open-ended (unstructured) interview method to understand the phenomenon of the events experienced by this investigation. The location is in the Nature Park of Bukit Kelam, covering four villages in the surrounding area. The Revitalization model extends the deal as a tourist destination with agricultural, cultural, and local art products. The image as a tourist destination needs to be strengthened by offering natural and local art products. Empowerment is based on community potency can be implemented by giving locals trust to create activities in tourist areas. The implementation of empowerment by encouraging the community to establish new groups or conducting a ToT for the subject of art and cultural products. The community needs to develop individual skills to increase the number, quality, and value of the products. Therefore, the community needs adequate workshops and showroom facilities for the local arts and culture outcomes.
Vijar Galax Putra Jagat Paryoko
LANGKAU BETANG: JURNAL ARSITEKTUR, Volume 8, pp 27-42; doi:10.26418/lantang.v8i1.43486

Abstract:
Lingkup pembangunan berkelanjutan (sustainable development) mencakup segala bidang perancangan, termasuk desain perkotaan, arsitektur, hingga interior. Tingginya lahan dan minat terhadap usaha bidang interior di perkotaan menjadi salah satu latar belakang perlunya meningkatkan pertimbangan isu berkelanjutan dalam bidang tersebut. Integrated Design Process (IDP) berpotensi diadaptasi untuk proyek interior karena kompatibel dengan sistem design-build yang banyak diminati untuk menyelesaikan proyek interior. Studi ini bertujuan untuk menemukan gambaran adaptasi IDP pada bidang interior, serta potensi dan kendala penerapannya pada proyek nyata. Strategi studi kasus digunakan untuk mencapai tujuan tersebut, penekanan studi pada kajian literatur dan proyek nyata sebuah pekerjaan interior menggunakan teknik observasi dan arsip. Disimpulkan bahwa estimasi anggaran dan pengelolaan keuangan proyek lebih efektif, mengurangi resiko kendala konstruksi, manfaat jangka panjang produk, serta meningkatkan keharmonisan hubungan antara perusahaan dan pemilik proyek, merupakan keuntungan yang diperoleh. Kendala yang ditemui adalah kenaikan biaya proyek yang dapat ditekan dengan efisiensi material dan akomodasi, serta kebutuhan lebih atas waktu dan usaha untuk mencapai mufakat pada tahap perancangan yang dapat ditekan melalui peran perancang. Hasil studi ini diharapkan mampu meningkatkan kesadaran masyarakat akan kebutuhan perencanaan dan pengelolaan yang terintegrasi untuk menghasilkan produk yang mampu berkontribusi pada pembangunan berkelanjutan. ADAPTATION OF INTEGRATED DESIGN PROCESS AND ITS IMPLEMENTATION FOR INTERIOR PROJECT “Sustainable development" encompasses design fields as a whole, including urban, architecture, and interior design. Increasing demand and interest for interior business in cities is one reason for the need to increase sustainable development issues in this field. Integrated Design Process (IDP) potential to be adapted from building to interior projects is high because it is compatible with the design-build system commonly used for interior project completion. This study aims to find an overview of IDP adaptation for the interior field and the benefits and obstacles to a real project. A case study strategy is used in this study to achieve these aims, where the emphasis is on literature searching and real project analysis using observation and archive tactics. This study concludes that the benefits are practical project budgeting and financing, reducing construction risks, and long-term benefits of product. The obstacles are the increased project cost which can be pressed by efficiency of materials and accommodation, and the time and effort to reach consensus at the design phase, which designer’s role in the project team can press. Results of this study are expected to increase public awareness of the need for integrated planning and management of interior production so it can contribute to "sustainable development".
, Rifat Y. Y. Maromon, Debri Andries Amabi
LANGKAU BETANG: JURNAL ARSITEKTUR, Volume 8, pp 1-15; doi:10.26418/lantang.v8i1.43062

Abstract:
Rumah subsidi merupakan program pemerintah yang ditujukan kepada Masyarakat Berpenghasilan Rendah (MBR) untuk mendorong kepemilikan rumah dengan skema pembiayaan secara kredit yang disubsidi pemerintah. Program ini telah dimulai sejak tahun 2010 secara nasional termasuk di Kota Kupang NTT, yang bertujuan untuk mengatasi backlog perumahan dan mendorong tercapainya target satu juta rumah yang dicanangkan pemerintah. Fasilitas yang terdapat pada rumah subsidi di Kota Kupang, umumnya sudah layak dan memadai. Dalam perkembangannya, penghuni rumah subsidi di Kota Kupang mengembangkan rumahnya di lahan yang masih tersisa. Hal ini memunculkan fenomena pengembangan rumah subsidi oleh penghuni. Fenomena ini menarik untuk diteliti, untuk memperoleh pemahaman mengenai keragaman tipe pengembangan rumah subsidi dan pelbagai pertimbangan yang melatarbelakanginya. Penelitian ini menggunakan pendekatan metode penelitian kualitatif dengan paradigma rasionalistik untuk mengkaji tipologi pengembangan rumah subsidi berdasarkan teori dan kondisi empiris di lapangan. Berdasarkan hasil penelitian, dapat dirumuskan tiga tipe pengembangan rumah subsidi yang dirumuskan menurut kategorisasi dan kombinasi aspek pembentuk elemen pengembangan rumah pada ruang dalam, ruang luar dan fasad rumah. Keragaman tipe pengembangan rumah tersebut dilatarbelakangi oleh pertimbangan tertentu dengan tujuan untuk mengoptimalkan fungsi rumah dalam memenuhi kebutuhan penghuni. TYPOLOGY OF SUBSIDIZED HOUSE DEVELOPMENT BY THE RESIDENT IN KUPANG CITY NUSA TENGGARA TIMUR (NTT) The subsidized house is a government programming aimed at the Low-Income Communities (MBR) to encourage homeownership with a subsidized credit financing scheme by the government. Since 2010 the program has been started nationally, including in Kupang City-NTT, to overcome the backlog of housing and encourage the achievement of the one million house target set by the government. The facilities in Kupang City subsidized houses generally are proper and adequate. During its development, the residents of Kupang City subsidized houses are developed their houses on the remaining land, and it’s caused the phenomenon of subsidized housing development by its residents. This phenomenon is interesting to research and for understanding various types of developments subsidized houses and the various considerations behind it. This research used the qualitative research method approach with a rationalistic paradigm to examine the typology of the development of subsidized houses based on the theory and empirical conditions in the locations. Based on the research results, there are three types of developments of the subsidized houses that can be formulated according to the categorization and combination of forming aspects of home development elements in the interior, outer space, and house facades. The diverse types of house development are motivated by specific considerations to optimize the function of the house in meeting the needs of residents.
Azkia Avenzoar, , Heru Prasetiyo Utomo
LANGKAU BETANG: JURNAL ARSITEKTUR, Volume 7, pp 121-133; doi:10.26418/lantang.v7i2.39676

Abstract:
Taman kota merupakan ruang publik yang senantiasa menarik minat warga kota untuk berkunjung. Kehadiran taman kota ini harus mengindahkan upaya-upaya penataan jalur sirkulasi yang menunjang walkability pengunjung mengingat umumnya taman kota terletak di pusat kota dan dengan rentang usia pengunjung yang tidak terbatas. Oleh karena itu, penataan jalur sirkulasi dengan penekanan walkability perlu diperhatikan. Objek studi adalah taman kota di Surabaya yang terletak di pulau jalan dan dikelilingi oleh jalan arteri. Metode pengumpulan data menggunakan walk-through analysis yang hasilnya dituangkan dalam foto dan sketsa. Variabel yang digunakan adalah 5C’s walkability audit yakni connected, comfortable, convenient, convivial, dan conspicuous. Hasilnya adalah arahan penataan jalur sirkulasi berupa jalur penyeberangan yang sebidang dan dilengkapi pengamanan yang sesuai, peletakan jalur penyeberangan di setiap sisi taman, jalur masuk taman yang berdekatan dengan jalur penyeberangan, dan pemanfaatan taman sebagai pusat informasi kota.PLANNING DIRECTION OF CIRCULATION PATH TO SUPPORT VISITORS WALKABILITY IN CITY GARDEN IN SURABAYACity-parks are public spaces that always attract to be visited. City-park has to the concern of the circulation path to support the visitor’s accessibility. Most parks are located in the center of the city and visited by various age of visitors. Therefore, the arrangement of the circulation path that is concerned with walkability has to be considered. The study object is a city park in Surabaya, which is located on a road island and is surrounded by arterial roads. The data collection method is a walk-through analysis completed with photos and sketches. This research uses 5C’s walkability audit as variables: connected, comfortable, convenient, convivial, and conspicuous. The result is a direction for arrangement circulation path; there are crosswalks in the same level area and combined with appropriate street furniture, crosswalks on each side of the park, park entrance adjacent with crosswalks, and city-park as central information of the city.
LANGKAU BETANG: JURNAL ARSITEKTUR, Volume 7, pp 100-108; doi:10.26418/lantang.v7i2.40745

Abstract:
Upaya membantu masyarakat dalam memiliki ruang terbuka untuk berinteraksi dan berkegiatan di ruang kota seringkali mengarah pada pembangunan fisik dalam bentuk infrastruktur yang hanya mengakomodasi agenda pemerintah. Akibatnya, pengembangan ini lebih cenderung kepada bentukan fisik dan melupakan siapa penggunanya. Meskipun fasilitas dan infrastruktur ini dibuat untuk memenuhi kebutuhan masyarakat, seringkali setelah bangunan fisik terbangun, keberkelanjutan kegiatan tidak terjadi disana. Tidak adanya partisipasi masyarakat dalam proses desain adalah salah satu penyebab kurangnya rasa memiliki terhadap fasilitas yang ada. Penelitian ini mengevaluasi keberlanjutan sosial Ruang Publik Terpadu Ramah Anak-RPTRA Bahari, Gandaria Selatan, Jakarta, melalui pengukuran terhadap rasa memiliki masyarakat sekitar. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif untuk mengetahui seberapa besar rasa memiliki masyarakat terhadap fasilitas publik di lingkungan mereka. Hasilnya menunjukkan variasi tingkat rasa memiliki atas fasilitas tersebut namun sebagian besar masyarakat merasakan kemanfaatannya. Dapat disimpulkan bahwa secara sosial, RPTRA Gandaria dinilai “sustainable” karena masyarakat tidak hanya mengenal RPTRA, tetapi memanfaatkan sekaligus turut terlibat dalam menjaga kelangsungannya di masa depan. EVALUATING SOCIAL SUSTAINABILITY IN PUBLIC FACILITIES CASE STUDY: RPTRA BAHARI, GANDARIA SELATANEfforts to help people have open spaces for interaction and activities in urban area often lead to physical development in infrastructure that only accommodates the government agenda. As a result, this development prefers physical form and forgets who the user will be. Although these facilities and infrastructure are made to meet the needs of the community, often after the physical building is built, there is no sustainable activity taking place there. The exclusion of community participation in the design process is one of the causes of the lack of sense of belonging to the facilities built. This paper evaluates the social sustainability of the Bahari Child-Friendly Public Space (Ruang Publik Terpadu Ramah Anak-RPTRA) in South Gandaria, Jakarta, through measuring the sense of belonging of the surrounding community. This study uses quantitative methods to determine how much the community sense of belonging to public facilities in their environment. The results show a variety of sense of belonging level, and most of the community feel the benefits of the RPTRA facility. It can be concluded that the RPTRA Gandaria is socially “sustainable” because the community is not only familiar with the building but also utilizes and is involved in maintain its sustainability in the future.
Ferry Kurniadi, , Taufik Wibowo
LANGKAU BETANG: JURNAL ARSITEKTUR, Volume 7, pp 134-150; doi:10.26418/lantang.v7i2.40699

Abstract:
Gedung Direktorat merupakan wajah depan kampus yang memberikan citra bagi kampus tersebut. Gedung Direktorat Politeknik Negeri Pontianak adalah bangunan yang pada perkembangannya mengalami penurunan kualitas fisik bangunan. Penurunan performa bangunan tersebut dilihat terutama terlihat dari aspek perilaku (behavior), sehingga diperlukanlah sebuah evaluasi purna huni (EPH) untuk menilai performasi aspek tersebut. Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi performansi dari aspek perilaku yang dibentuk oleh tata layout ruang pada Gedung Direktorat Politeknik Negeri Pontianak yang kemudian dianalisa untuk mendapatkan temuan yang dapat digunakan untuk perencanaan dan redesain pembangunan gedung ini di masa yang akan datang. Metode yang akan digunakan adalah metode penelitian kualitatitif yang dilakukan secara investigatif dengan menggunakan analisa metode pemetaan perilaku berupa person centered mapping, place centered mapping, physical trace. Hasil dari penelitian ini berupa penilaian terhadap performansi ruang yang ditimbulkan akibat setting perilaku yang dilihat dari pemetaan perilaku berupa teritori, ruang personal dan privasi. Setting perilaku pada bangunan dipengaruhi oleh pergerakan pengguna dan aksesbilitas di dalam bangunan BEHAVIOR SETTING IN POST OCCUPANCY EVALUATION (POE) OF DIRECTORATE OF PONTIANAK STATE POLYTECHNIC BUILDINGThe Directorate Building is the front facade of the campus, which gives an image for the whole campus. Pontianak State Polytechnic Directorate Building in its development experienced a decreasing quality. One of the declines in building performance could see from the behavior aspect, so it needs a post-occupancy evaluation (POE) to assess this aspect's performance. This study aims to identify the performance of behavioral factors forming by the spatial layout in the Pontianak State Polytechnic Directorate Building, then analyzed to obtain findings that could use to plan and redesign this building in the future. The research method is a qualitative research method, carried out investigative using analysis of behavioral mapping methods such as person-centered mapping, place centered mapping, and physic trace. The result of this study is an assessment of the spatial performance that results from the behavior setting that seeing from the behavior mapping like territory, personal space, and privacy. Behavior settings influenced by the user movement and accessibility within the building.
Ma'rifatun Khasanah, Dyah Widi Astuti
LANGKAU BETANG: JURNAL ARSITEKTUR, Volume 7, pp 151-162; doi:10.26418/lantang.v7i2.41869

Abstract:
Pembangunan infrastruktur di Salatiga semakin meningkat, tidak hanya untuk keperluan aksesibilitas tapi juga karena semakin bertambahnya jumlah penduduk kota, baik penduduk asli maupun pendatang. Pembangunan tersebut juga dilakukan untuk memeratakan kegiatan ekonomi agar tidak tersentral di pusat kota. Contohnya adalah dibangunnya Jalan Lingkar Selatan (JLS) Salatiga yang memberikan dampak ekonomi, sosial, dan aksesibilitas terhadap perkembangan di daerah selatan kota karena melewati tiga kecamatan. Untuk mencegah perkembangan tidak terkendali yang akan timbul maka diperlukanlah kontrol perencanaan pembangunan di kawasan pinggiran tersebut. Penelitian ini mengambil satu contoh perumahan di setiap kecamatan yang berada di perbatasan Salatiga, yaitu Kecamatan Sidorejo (P1), Kecamatan Sidomukti (P2), Kecamatan Argomulyo (P3), dan Kecamatan Tingkir (P4). Metode yang digunakan adalah digitasi menggunakan software ArcGIS, sebagai alat bantu untuk memetakan kawasan perumahan sehingga bisa terlihat titik mana yang mengalami perkembangan paling pesat yang berpotensi menyebabkan terjadinya urban sprawl. Dari hasil digitasi tersebut terlihat titik yang mengalami perkembangan paling pesat adalah P3, dengan faktor preferensi bermukim paling banyak dikarenakan perumahan memiliki harga murah. Hal ini memungkinkan terjadinya urban sprawl di masa datang dengan berkembangnya infrastruktur yang semakin baik, dekat dengan fasilitas pelayanan umum seperti sekolah, kesehatan, keamanan, hiburan dan kemudahan aksesibilitas berupa jalur angkutan umum di titik tersebut.UNDERSTANDING THE URBAN SPRAWL: ANALYSIS RESIDENTAL DEVELOPMENT IN SALATIGA CITY WITH ARCGIS Infrastructure development at Salatiga is increasing, not only for needing accessibility but also for the growing urban population, both the natives and settlers. Such development is also being used to flatten economic activities not centralized in the urban core. An example is the development of Jalan Lingkar Selatan (JLS) Salatiga that has impact in economy, social, and accessibility for growth in the southern city of the city through three subdistricts. To prevent these uncontrolled developments requires control in building planning in the suburban. The study takes one sample housing in every district located on the Salatiga suburban, and those are Sidorejo district (P1), Sidomukti district (P2), Argomulyo district (P3), and Tingkir district (P4). The method used is digitized using ArcGIS software to map the region, so it can see which point is experiencing the most rapid growth that potentially causes urban sprawl. From that digitization, the most developed node is P3, with the most preference factor of settling because housing is cheap. It allows urban sprawl in the future with better infrastructure increase, near a public service facility like school, health, security, entertainment, and easiness accessibility such as public transport routes in this node.
, , Rini Hidayati, Wisnu Setiawan
LANGKAU BETANG: JURNAL ARSITEKTUR, Volume 7, pp 175-184; doi:10.26418/lantang.v7i2.40840

Abstract:
Masjid kerajaan di Surakarta yaitu Masjid Agung dan Masjid Al Wustho memiliki karakter kawasan yang berbeda. Kawasan Masjid Agung merupakan kawasan fungsi perdagangan yang ramai, sementara kawasan Masjid Al Wustho adalah kawasan fungsi pendidikan yang cenderung lebih tenang. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui karakteristik lingkungan sonik di kedua masjid, apakah fungsi kawasan berpengaruh terhadap lingkungan sonik yang terbentuk sesuai dengan karakter aktifitasnya. Penelitian dilakukan dengan pendekatan objektif melalui perekaman kondisi eksisting lingkungan sonik menggunakan H6Zoom dan analisis simulasi melalui program Audacity dan Surfer Mapping. Pendekatan subjektif dengan pengamatan aktivitas dan perilaku on-site survey serta wawancara. Hasil penelitian mengindikasikan karakter lingkungan sonik berbeda antara kedua masjid. Tingkat tekanan bunyi atau SPL rata-rata Masjid Agung adalah 60.8 dB, lebih rendah dari Masjid Al Wustho yang memiliki nilai SPL 63.8 dB. Fungsi kawasan tidak berpengaruh terhadap nilai SPL, melainkan komponen lanskap yang memiliki pengaruh. Penelitian ini dapat memberikan kontribusi terhadap perencanaan kawasan atau public space dengan pengurangan kebisingan lingkungan melalui pemilihan jenis material lanskap seperti pasir laut pantai selatan, vegetasi dan air serta perencanaan jalur sirkulasi yang terarah.SONIC ENVIRONMENTAL CHARACTERISTICS IN THE ROYAL MOSQUE IN SURAKARTA The royal mosque in Surakarta, namely the Grand Mosque and the Al Wustho Mosque, has a distinctly urban character. The Grand Mosque area is a busy trade function area, while the Al Wustho Mosque area is an educational function area that tends to be quieter. This study aims to determine the characteristics of the sonic environment in the two mosques, whether the area's function affects the sonic environment which is formed according to the character of its activities. The research was conducted with an objective approach by recording the existing sonic environment conditions using H6Zoom and simulation analysis through the Audacity and Surfer Mapping programs., A subjective approach by observing activities and behavior on-site surveys and interviews. The results indicated that the sonic environment character was different between the two mosques. The sound pressure level or SPL of the Great Mosque average is 60.8 dB, lower than the Al Wustho Mosque, which has an SPL value of 63.8 dB. The area's function does not affect the SPL value, but rather the landscape component that does. This research can contribute to area planning or public space be better by reducing environmental noise by selecting landscape material types such as south coast sea sand, vegetation, water, and directed circulation path planning.
Back to Top Top