LANGKAU BETANG: JURNAL ARSITEKTUR

Journal Information
ISSN / EISSN : 23552484 / 25501194
Current Publisher: Tanjungpura University (10.26418)
Total articles ≅ 64
Current Coverage
DOAJ
Archived in
SHERPA/ROMEO
Filter:

Latest articles in this journal

Ayu Setyoningrum, Anisa Anisa
LANGKAU BETANG: JURNAL ARSITEKTUR, Volume 6, pp 26-41; doi:10.26418/lantang.v6i1.32905

Abstract:Arsitektur organik merupakan sebuah konsep arsitektur yang awal mulanya dicetuskan oleh Frank Lloyd Wright.Sejak zaman kecil, Frank Lloyd Wright sering mengamati hubungan yang terjadi antara manusia dengan lingkungannya.Hal tersebut yang menjadi dasar pemikirannya tentang arsitektur organik.Arsitektur organik ini pada dasarnya masih diperdebatkan mengenai panduan maupun batasan untuk desainnya.Namun beberapa peneliti sebelumnya telah mencoba mengamati dan merangkum konsep dari Arsitektur Organik. Arsitektur organik lebih mengacu pada keselarasan dengan alam sekitarnya, menciptakan satu kesatuan yang harmonis, dapat bertahan sepanjang waktu dengan bentuknya yang dinamis dengan alam, serta fungsional terhadap fungsi bangunannya.Fungsi bangunan pendidikan yakni sebagai fasilitas dalam pembelajaran untuk menambah ilmu pada penggunanya. Proses pembelajaran tersebut akan terasa lebih nyaman apabila ruang maupun kegiatanya menjadi satu kesatuan terhadap lingkungannya. Penerapan arsitektur organik pada bangunan pendidikan memungkinkan terciptanya suasana yang segar dalam kegiatan pendidikan. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan gambaran mengenai penerapan arsitektur organik pada bangunan pendidikan. Metode yang digunakan adalah kualitatif deskriptif yang menganalisis bangunan pendidikan berdasarkan konsep arsitektur organik.Kata-kata Kunci: Arsitektur Organik, Bangunan Pendidikan, konsep arsitektur APPLICATION CONCEPT OF ORGANIC ARCHITECTURE IN EDUCATIONAL BUILDINGS Organic architecture is an architectural concept which was originally coined by Frank Lloyd Wright. Since childhood, Frank Lloyd Wright has often observed the relationships that occur between humans and their environment. This is the basis of his thinking about organic architecture. This organic architecture is still debated about the guidelines and limits for the design. But some researchers have previously tried to observe and summarize the concepts of Organic Architecture. Organic architecture refers more to harmony with the surrounding environment, creates a harmonious whole, can survive all the time with its dynamic form with nature, and functional to the function of the building. The function of educational buildings is as a facility in learning to add knowledge to its users. The learning process will feel more comfortable if space and activities become a unity to the environment. The application of organic architecture to educational buildings enables the creation of a fresh atmosphere in educational activities. This study aims to get an overview of the application of organic architecture to educational buildings. The method used is a descriptive qualitative analysis of educational buildings based on the concept of organic architectureKeywords: Organic Architecture, Educational Building, Architectural ConceptREFERENCESBadan Standar Nasional Pendidikan (2011).Rancangan Standar Sarana dan Prasarana Pendidikan Tinggi Program Pascasarjana dan Profesi.Broto, C (2011). Educational...
Hana Rosilawati
LANGKAU BETANG: JURNAL ARSITEKTUR, Volume 6, pp 42-52; doi:10.26418/lantang.v6i1.33138

Abstract:Rumah tradisional Bali memiliki penataan massa yang berbeda dengan rumah tradisional lainnya. Ketika merancang penataan massa rumah tradisional Bali, diperlukan proses yang erat kaitannya dengan budaya Bali yang merupakan wujud pengaturan tingkah laku agama Hindu dalam mengharmonisasikan alam semesta dan segala isinya/ makrokosmos (Bhuana Agung) dengan mikrokosmos (Bhuana Alit). Penataan massa tersebut dibedakan menjadi utama, madya, dan nista, dimana dalam penataannya dapat mengalami perkembangan dan perubahan yang dapat dipengaruhi dari latar belakang, kepercayaan, dan etnis, serta kebutuhan dan keinginan pemilik rumah. Seperti halnya pada Rumah milik pensiunan angkatan laut yang beretnis Jawa-Manado di Jalan Semolowaru, Surabaya, yang menjadi studi kasus penelitian. Penelitian ini bertujuan untuk mendiskripsikan penerapan tatanan massa rumah tradisional Bali pada obyek studi yang pemiliknya beretnis Jawa-Manado. Prinsip-prinsip tata aturan penataan massa rumah tradisional Bali tidak sepenuhnya diikuti pada obyek studi. Pengadopsian tatanan massa dilakukan pada beberapa massa bangunan tanpa memikirkan makna sesungguhnya pada rumah tradisional Bali.Kata-kata Kunci: Rumah Tradisional Bali, Tatanan Massa, BudayaAPPLICATION OF TRADITIONAL BALINESE HOUSES MASS ORDER ON DESIGNING OF JAVANESE-MANADO ETHNIC HOUSES IN SURABAYA Traditional Balinese houses have a different mass arrangement from other traditional houses. When designing the mass arrangement of traditional Balinese houses, a process that is closely related to Balinese culture is a form of regulation of Hindu behavior in harmonizing the universe and all its contents/ macrocosm (Bhuana Agung) with microcosm (Bhuana Alit). The structuring of the masses can be divided into main (utama, intermediate (Madya), and contemptible (nista), whare in its arrangement can experience developments and changes that can be influenced from background, beliefs, and ethnicity, as well as the needs and desires of the homeowner. As is the case with the Javanese-Manado ethnic retired house on Semolowaru street, Surabaya, which is a research case study. This study aims to describe the application of the mass order of traditional Balinese houses to the study objects whose owners are Javanese-Manado ethnic. The Principles of the regulation of the mass of traditional Balinese houses are not fully followed in the object of study. Adoption of mass order is carried out on several building masses without thinking about the real meaning of traditional Balinese houses.Keywords: Traditional Balinese Houses, Mass Order, CultureREFERENCESAdhika, I Made. (1994). Peran Banjar dalam Penataan Komunitas, Studi Kasus Kota Denpasar. Tesis Program S2 Jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota ITB. BandungBagus, Ida, dkk. (1985). Bangunan Tradisional Bali serta Fungsinya. Depatemen Pendidikan dan Kebudayaan Proyek Pengembangan Kesenian Bali. BaliBappeda Tingkat I Bali dan Universitas Udayana. (1982). Pengembangan Arsitektur Tradisional...
Said Mahathir
LANGKAU BETANG: JURNAL ARSITEKTUR, Volume 6, pp 13-25; doi:10.26418/lantang.v6i1.32724

Abstract:Dalam studi yang dilakukan sebelumnya, Mashrabiya (kisi-kisi kayu) dianggap mampu memisahkan zona gender (santriwan-santriwati) pada sebuah perpustakaan pesantren di Kota Langsa, Aceh.Karena penelitian tersebut terbatas pada ekperimen skalatis (1:10) maka hasil yang didapatkan berpotensi bias jika diaplikasikan pada skala sebenarnya (1:1).Oleh karena itu, perlu dilakukan penelitian lanjutan untuk meminimalisir bias dan membuktikan keefektifan Mashrabiya sebagai panel segregasi pada skala manusia. Penggunaan metode eksperimen yang sama seperti pada penelitiansebelumnya terhadap objek skala 1:1 ini akan membutuhkan banyak biaya dan tenaga dalam membangun ruang uji dan pola Mashrabiya-nya. Maka dari itu, penggunakan model 3D merupakan preliminary eksperimen dan analisis yang bertujuan untuk mendapatkan data serta memperkecil jumlah variabel bebas seperti, jumlah lubang, ukuran lubang, luasan baluster, dan, ketebalan panel Mashrabiyassebagai data teknis utama untuk melubangi panel secara manual (handmade) pada penelitian berikutnya.Untuk mempermudah kontrol variabel dan mendapatkan data kuantitif yang presisi dari setiap transformasi modelnya maka eksperimen ini menggunakan perangkat lunak Rhinoceros dengan plug-in Grasshopper untuk membuat algoritma panel Mashrabiya.Hasilnya, dari 20 model 3D Mashrabiyayang disimulasikan hanya empat panel memenuhi syarat (Perforation Ratio) PR, (hole area) HA dan (baluster area) BA sehingga efektif bekerja sebagai pemabatas visual zona gender dan juga sangat adaptif terhadap akses keluar masuk cahaya dan udara. Dari sisi konstruksi pun panel–panel mahsrabiya yang terpilih ini masih sangat mungkin diproduksi secara manual (handmade).Kata-kata Kunci: Hijab (Pembatas Visual), Mashrabiya (kisi-kisi kayu), Eksperimen model3D, Algoritma.EFFCTIVENESS OF MASHRABIYA AS A VISUAL INTERFERENCE (HIJAB) BETWEEN GENDERS: A 3D MODEL EKSPERIMENTIn previous research, Mashrabiya (wooden lattice) have been concluded for being able to separate gender zone (male and female student) in a library of an Islamic boarding school (Pesantren) in Kota Langsa, Aceh. Since the experiment was limited on a scale model (1:10), the obtained result potentially lead to some biases if it is applied on a human scale model (1:1). Therefore, further research to minimize the biases and prove the effectiveness of Mashrabiya as gender segregator panel is needed. Applying the same experimental method as in the previous research on human scale model will cost a significant amount of experiment materials and labors in order to build a sample room and the patterns of Mashrabiya. Therefore, 3 dimensional (3D) model eksperimental method and analysis is a solution aimed at obtaining data, separating and minimizing the number of independent variable such as, number of holes, size of holes, width of baluster area, and thickness of the panel; those technical data will be used in hollowing out the panel (manually) in the next research. To ease the control of...
Gun Faisal
LANGKAU BETANG: JURNAL ARSITEKTUR, Volume 6, pp 1-12; doi:10.26418/lantang.v6i1.31007

Abstract:Arsitektur melayu memiliki tipologi yang sangat banyak, diantaranya rumah melayu Limas, rumah Lontiak, rumah Begonjong, rumah beratap Layar dan Bersayap, rumah Melayu Peranakan (campuran etnis China), serta beberapa tipikal rumah melayu lainnya. Selain memiliki 4 (empat) ruangan yaitu selasar, rumah induk, telo dan penanggah, rumah melayu juga memiliki ornamen yang terdapat pada atap lisplank dan dinding serta tiang rumah. Salah satu rumah tradisional yang ada di kabupaten Kampar yaitu Rumah Lontiok (Lentik) Melayu Majo. Tulisan ini mengidentifikasi dan mendokumentasikan rumah ini sebagai salah satu bangunan melayu yang perlu dijaga dan dilestarikan. Metode penelitian kualitatif dengan pendekatan studi kasus digunakan dalam penelitian ini dikarenakan objek penelitian yang sudah hilang dimakan usia. Teori tentang arsitektur Melayu dan ornamen bangunan Melayu sebagai background knowledge dengan didukung informasi yang diperoleh dari literatur dan data dilapangan serta pelaku kegiatan dalam lingkup penelitian. Pengolahan dan analisis data dilanjutkan dengan mengevaluasi dan membuat sketsa dan penggambaran ulang, kemudian diakhiri dengan penyusunan hasil temuan lapangan. Secara umum rumah ini dibagi kedalam 2 (dua) masa bangunan, bagian pertama yaitu rumah induk, dan yang kedua yaitu dapur, terdapat penghubung antara rumah induk dan dapur. Rumah melayu Majo merupakan bangunan bertipologi panggung dengan ciri khas atap Lontiak. Ornamen yang pertama kali terlihat pada rumah ini adalah Selembayung atau Tanduk Buang, terdapat pula ornamen seperti tombak terhunus yang disebut tombak-tombak begitu juga dengan sayap layang-layang yang terletak pada keempat sudut atap. Bermacam jenis ukiran juga terdapat pada setiap sudut bangunan ini.Kata-kata Kunci: Arsitektur Melayu, Kampar, Riau, Rumah Lontiak, UkiranMALAY ARCHITECTURE: IDENTIFICATION MALAY LONTIAK HOUSE OF KAMPAR MAJO TRIBEMalay architecture has a lot of typologies in roof forms, such as Limas, Lontiak, Begonjong, Layar and Sayap, Peranakan (a mixture of ethnic Chinese), and several other typical Malay houses. One of the traditional houses in Kampar regency is the Lontiok (Lentik) Melayu Majo house which was built involving the wider community and traditional ceremonies. This paper identifies and documents this house as one of the Malay buildings that need to be preserved. The research method used is a qualitative research method with a case study approach. The theory of Malay architecture and ornaments as background knowledge is supported by information obtained from the literature, field data, and activity actors within the scope of research. Processing and analysis data is continued by evaluating, sketching, and re-drawing, then ending with the preparation of field findings. In general, this house is divided into 2 (two) building part, the first line is the main house, and the second building mass is the kitchen, there is a connection between the main house and the kitchen. Majo Melayu House is...
Tri Wibowo Caesariadi
LANGKAU BETANG: JURNAL ARSITEKTUR, Volume 6, pp 53-71; doi:10.26418/lantang.v6i1.33160

Abstract:Arsitektur vernakular adalah arsitektur yang memiliki respon yang baik terhadap iklim setempat. Hal ini juga berpengaruh terhadap kenyamanan termal dalam bangunan. Sebagai kota yang memiliki iklim tropis lembab, kenyamanan termal bangunan di Kota Pontianak banyak ditentukan oleh pergerakan angin yang terjadi di dalam bangunan. Adaptasi terhadap iklim pada rumah vernakular melayu Pontianak tidak hanya pada penggunaan elemen bangunan seperti bukaan dan bahan bangunan, juga pada tata ruang yang khas, di antaranya terdapat teras, ruang tengah serta pelataran belakang yang memisahkan rumah induk dengan rumah anak. Tujuan penelitian adalah melihat apakah tata ruang ini berpengaruh terhadap penghawaan alami di ruang dalam. Penelitian dilakukan dengan pengukuran di lapangan terhadap variabel kenyamanan termal, terutama temperatur dan kelajuan angin. Kemudian hasil pengukuran dianalisis secara deskriptif kuantitatif dan dilihat hubungan antara variabel dengan tata ruang, yaitu bagaimana temperatur dan kelajuan angin yang berbeda terjadi di setiap ruang, sehingga dapat ditarik kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tata ruang di rumah vernakular melayu Pontianak, yaitu hadirnya teras dan pelataran belakang turut berperan dalam penghawaan alami yang terjadi di ruang dalam. Teras berperan dalam menurunkan temperatur luar yang masuk ke dalam bangunan (30,74 °C di ruang luar, lalu 29,84 °C di teras depan, dan 29,09 °C di ruang dalam). Pelataran belakang serta tata ruang dalam memberikan pergerakan angin yang lebih baik, ditunjukkan dengan selisih yang kecil antara kelajuan angin di ruang dalam dengan ruang luar pada rumah dengan pelataran belakang (0,51 m/s) dibandingkan dengan rumah tanpa pelataran belakang (0,77 m/s).Kata-kata Kunci: penghawaan alami, vernakular, tata ruangEFFECT OF SPACE LAYOUT TO NATURAL VENTILATION IN MELAYU PONTIANAK VERNACULAR HOUSEVernacular architecture is architecture that has good response to local climate. This also affects the thermal comfort in the building. As a city that has a humid tropical climate, the thermal comfort of buildings in Kota Pontianak is largely determined by the movement of the wind that occurs inside the building. Adaptation to climate in Pontianak's melayu vernacular house is not only on the use of building elements such as openings and building materials, but also on the typical spatial layout, including a terrace, a central room and a back veranda that separates the main house from the secondary house. The aim of the study was to see whether this spatial arrangement has an effect on natural ventilation in the indoor space. The study was conducted with measurements of thermal comfort variables, especially temperature and wind speed. Then the measurement results were analyzed descriptively quantitatively and viewed the relationship between variables and spatial arrangement – i.e. how the temperatures and wind speed differ in each rooms – so that conclusions could be drawn. The results...
Adrian Widisono, Yusfan Adeputera Yusran, Antariksa Antariksa
LANGKAU BETANG: JURNAL ARSITEKTUR, Volume 5, pp 109-121; doi:10.26418/lantang.v5i2.30134

Abstract:Zaman Kerajaan Majapahit merupakan cikal bakal munculnya Gapura. Pada zaman tersebut gapura memiliki fungsi sebagai pintu masuk menuju kerajaan. Pergeseran masa menunjukkan pergeseran fungsi terhadap gapura yang saat ini menjadi penanda menuju masuknya suatu kota termasuk Kota Malang. Gapura perbatasan pintu masuk di Kota Malang teridentifikasi memiliki karakter yang mirip dengan salah satu candi peninggalan Majapahit yaitu Gapura Wringin Lawang yang terletak di Mojokerto, Jawa Timur. Studi ini bertujuan untuk memvisualisasikan kesesuaian karakter visual gapura perbatasan di Kota Malang dengan Gapura Wringin Lawang. Penyandingan empat gapura perbatasan dengan Gapura Wringin Lawang dianalisis dengan mengidentifikasi elemen desain, prinsip desain, dan ciri fisik gapura. Hasil penelitian ini menunjukkan kesesuaian secara visual pada gapura pintu masuk di Kota Malang dengan Gapura Wringin Lawang. Kesesuaian elemen desain meliputi: garis, bentuk, massa, ruang, dan tekstur. Pada prinsip desain persamaan terdapat pada keseimbangan, kontras dan penekanan, bentuk, koneksi, makna, simbol, dan citra, pola, skala dan proporsi, ritme dan variasi. Pada bagian ciri fisik terdapat pula kesamaan yaitu bagian kepala, badan, dan kaki gapura.Kata-Kata Kunci: karakteristik, visual, gapura, penanda, batas kota VISUAL CHARACTERISTIC OF GAPURA WRINGIN LAWANG ON THE GATES OF MALANG CITY’S BOUNDARY AbstractThe era of the Majapahit Kingdom was the forerunner to the appearance of the Gapura (gate). At that time, the Gapura was built as the entrance to the kingdom. Over time, the function has shifted as a signifier of a city boundary, as found in Malang City. The boundary gate of Malang City identified has a character similar to the Majapahit heritage temples, namely the Wringin Lawang Gate located in Mojokerto, East Java. This study aims to visualize the suitability of the visual characteristics of the border gate in the northern, eastern, western and southern of Malang City with the Wringin Lawang Gate. The comparison of the four gates with Wringin Lawang Gate was analyzed by identifying its elements, principles, and physical characteristics. The results of this study indicate the visual suitability. The suitability of elements found in lines, shapes, mass, space, and textures. On the principle of design, equality identified in balance, contrast and emphasis, form, connection, meaning, symbol, and image, pattern, scale and proportion, rhythm and variation. While in the physical characteristics, there are also similarities in the part of the head, body, and leg of the gate.Keywords: characteristics, visual, gate, signifier, city’s boundary REFERENCESAlston, W. (1964). Psychoanalytic Theory and Theistic Belief’ in J. Hick (ed.) Faith and the Philosophers. New York: St. Martin’s Press.Adenan, K., Budi, B. S., & Wibowo, A. S. (2012). Karakter Visual Arsitektur Karya A.F. Aalbers di Bandung ( 1930-1946 )-Studi Kasus : Kompleks Villa’s dan Woonhuizen. Jurnal...
Dedi Hantono, Yuanita F D Sidabutar, Ully I M Hanafiah
LANGKAU BETANG: JURNAL ARSITEKTUR, Volume 5, pp 80-86; doi:10.26418/lantang.v5i2.29387

Abstract:Ruang esensinya adalah tempat manusia hidup dan beraktivitas. Namun tidak semua aktivitas dapat terakomodir karena setiap ruang dibatasi dengan fungsinya masing-masing. Bagi ruang pribadi keterbatasan ruang tersebut merupakan karakteristik utama bagi ruang itu sendiri sedangkan pada ruang publik yang memiliki berbagai macam aktivitas harus dapat menampung berbagai aktivitas di dalamnya. Untuk itulah perlu dilakukan kajian mengenai ruang publik terhadap permasalahan keterbatasan ruang yang sering ditemui. Tulisan ini menggunakan metode kualitatif dengan melakukan pendekatan kajian literatur. Ada beberapa literatur yang diambil dari beberapa ahli serta beberapa hasil penelitian dalam artikel jurnal untuk mendukung teori dan melihat kenyataan di lapangan. Pada akhir tulisan diambil suatu kesimpulan bahwa keterbatasan ruang publik terhadap berbagai macam aktivitas yang berlangsung di dalamnya dengan terbentuknya ruang bersama baik secara permanen maupun bergantian (waktu tertentu).Kata-kata Kunci: arsitektur, ruang publik, aktivitas, ruang bersamaURBAN PUBLIC SPACE STUDIES BETWEEN ACTIVITIES AND LIMITATIONSThe essence of space is a place where humans live and doing their activities. But not all activities can be accommodated because space is limited by their functions. For private space, space limitations are the main characteristics for space itself, while in public spaces that have various kinds of activities must be able to accommodate multiple activities in it. For this reason, a study of public space needs to be done on the problems of space limitations that are often encountered. This paper uses qualitative methods by conducting a literature review approach. There is some literature taken from several experts and several research results in the journal for support the theory and see the reality in the field. At the end of the writing, it was concluded that the limitations of the public space for various kinds of activities take place in it with the formation of shared spaces both permanently and alternately (certain times).Keywords: architecture, public space, activity, share spaceREFERENCESAgustapraja, H. R. (2018). Studi Pemetaan Perilaku (Behavioral Mapping) Pejalan Kaki Pada Pedesterian Alun-Alun Kota Lamongan. Civilla, 3(1), 134–139. https://doi.org/https://doi.org/10.30736/cvl.v3i1.220Athanassiou, E. (2017). The Hybrid Landscape Of Public Space In Thessaloniki In The Context Of Crisis. Landscape Research, 42(7), 782–794. https://doi.org/10.1080/01426397.2017.1372399Carr, J., & Dionisio, M. R. (2017). Flexible Spaces as a Third Way Forward for Planning Urban Shared Spaces. In Cities (pp. 73–82). Elsevier. https://doi.org/10.1016/j.cities.2017.06.009Carr, S., Francis, M., Rivlin, L. G., & Stone, A. M. (1992). Public Space. New York: Cambridge University Press.Farida, N. (2013). Effect of Outdoor Shared Spaces on Social Interraction in a Housing Estate in Algeria. Frontiers of Architectural Research, 2, 457–467....
Bontor Jumaylinda Br. Gultom, Tri Wibowo Caesariadi
LANGKAU BETANG: JURNAL ARSITEKTUR, Volume 5, pp 97-108; doi:10.26418/lantang.v5i2.29889

Abstract:Sintang merupakan salah satu kota di Kalimantan Barat yang berada di pertemuan dua sungai, yaitu sungai Kapuas dan Sungai Melawi. Kelurahan Kapuas Kiri Hilir, Kelurahan Menyumbung Tengah dan Kelurahan Ulak Jaya merupakan kawasan permukiman padat yang sudah ada sejak lama di Sintang, dekat dengan pusat historis Kota Sintang yaitu Keraton Sintang dan tetap eksis sampai sekarang. Sedangkan kondisi dunia yang sedang mengalami pemanasan global mengakibatkan kawasan-kawasan yang berhubungan langsung dengan air rentan mengalami kenaikan permukaan air sungai (pasang air). Mengingat mahalnya harga nyawa manusia maka diperlukan penelitian pada pemanfaatan ruang sirkulasi dan ruang terbuka untuk mitigasi bencana berbasis bencana air ketiga kelurahan tersebut.Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi dan mengilustrasikan model mitigasi bencana berbasis bencana air (hydrometeorological disaster), dilihat dari persepsi masyarakat dan pemanfaatan ruang sirkulasi dan ruang terbuka.Penelitian ini dilakukan menggunakan pola pikir induktif yaitu berpikir berlandaskan pandangan khusus ke umum. Teknik pengumpulan data, pengolahan data, dan analisis dilakukan dengan membandingkan metode kuantitatif dan kualitatif. Kuantitatif digunakan untuk mengukur persepsi masyarakat akan bencana berbasis bencana air. Sedangkan metode kualitatif mendeskripsikan dalam bentuk ilustrasi pemanfaatan ruang terbuka dan sirkulasi.Hasil penelitian persepsi masyarakat disimpulkan bahwa bencana yang sering terjadi adalah bencana kenaikan permukaan air (banjir/pasang). Masyarakat juga berpendapat walaupun mereka menghadapi kemarau, namun dampaknya tidak terlalu terasa karena mereka sudah mengantisipasi dengan menyediakan tempat penampungan air. Dan berdasarkan kondisi fisik lapangan, model mitigasi bencana berupa jalur sirkulasi berupa titian (papan kayu).Kata-kata Kunci: mitigasi, bencana, persepsi, ruang, sirkulasiTHE PERCEPTION OF RIVERBANK COMMUNITY ON UTILIZATION OF CIRCULATION AND OPEN SPACE AS DISASTER MITIGATION RESPONSE BASED ON WATER DISASTER IN SINTANGSintang is one of the cities in West Kalimantan which lies in the confluence of two rivers, i.e. Kapuas River and Melawi River. Kapuas Kiri Hilir Village, Menyumbung Tengah Village and Ulak Jaya Village have been densely populated residential areas in Sintang for a long time, located close to the historical centre of Sintang i.e. Sintang Palace and still exists today. While the condition of the world that is experiencing global warming has resulted in areas that are directly related to water susceptible to rising water levels (tidal water). Given the value of human life, research is needed on the use of the circulation space and open space for disaster mitigation based on water in the three villages.This study aims to identify and illustrate a model of water disaster-based mitigation (hydrometeorological disaster), seen from the public perception and utilization of circulation and open space.This research was conducted using an...
Mauldy Ahmad Fadhillah, Pingkan Nuryanti
LANGKAU BETANG: JURNAL ARSITEKTUR, Volume 5, pp 87-96; doi:10.26418/lantang.v5i2.27117

Abstract:Green Street is a very important innovation in managing water run-off from paving or pavement. Green street is basically one that can clean and absorb the results of rainwater runoff or its own through a balanced combination of the same technique. Landscape design for Yasmin area aims to provide innovative K.H. Abdullah Bin Nuh street design as Green Street-based green path with existing problems on tread such as drainage channel obstruction and by applying green street system, including green infrastructure, complete street and placemaking tools. Complete street is a comfortable and safe road design with clear division of motor vehicle and bicycle circulation paths. The placemaking principle is the principle where by the resulting design should provide an identity to the area.The result of the research is the design of road landscape consisting of service space, identity, vehicle, pedestrian, buffer and conservation. The research site located at K.H. Abdullah Bin Nuh street is divided into five segments with various kinds of concepts and designs applied in accordance with green street concept. The main green street concept applied to this site is a rain garden that serves to absorb rainwater runoff. This research produces site plan, planting plan, detail construction and illustration design.Kata-kata Kunci: desain jalan, green street, green infrastructure, lanskap jalan LANDSCAPE DESIGN IN K.H. ABDULLAH BIN NUH STREET BASED ON GREEN STREETGreen Street is a critical innovation in managing water run-off from paving or pavement. Green street is one that can clean and absorb the results of rainwater runoff or its own through a balanced combination of the same technique. Landscape design for Yasmin area aims to provide innovative K.H. Abdullah Bin Nuh street design as Green Street-based green path with existing problems on tread such as drainage channel obstruction and by applying green street system, including green infrastructure, complete street, and placemaking tools. A complete street is a comfortable and safe road design with clear division of motor vehicle and bicycle circulation paths. The placemaking principle is the principle where the resulting design should provide an identity to the area. The result of the research is the design of the road landscape consisting of service space, character, vehicle, pedestrian, buffer, and conservation. The research site located at K.H. Abdullah Bin Nuh street is divided into five segments with various kinds of concepts and designs applied following green street concept. The main green street concept applied to this site is a rain garden that serves to absorb rainwater runoff. This research produces site plan, planting plan, detail construction, and illustration design.Keywords: design street, green street, green infrastructure, landscape street REFERENCES[BAPPEDA] Badan Perencanaan dan Pembangunan Daerah. 2014. Rencana Pembangunan Jangka Menengah Kota Bogor Tahun 2015-2019. Bogor (ID): Badan...
Atthaillah Atthaillah, Eri Saputra
LANGKAU BETANG: JURNAL ARSITEKTUR, Volume 5, pp 68-79; doi:10.26418/lantang.v5i2.26720

Abstract:Penelitian ini merupakan pengembangan dari studi oleh penulis sendiri untuk menciptakan alur kerja yang efektif dan efisien untuk perhitungan kebutuhan material konstruksi pada kasus paska bencana di Aceh. Pada artikel ini penulis fokus pada perhitungan kebutuhan material pondasi. Tujuannya adalah untuk memberikan gambaran yang lebih baik tentang bagaimana sistem yang menjadi proposal kami bekerja. Selain itu, pengembangan kemampuan dari framework sebelumnya juga salah satu hal yang ingin kami dapatkan pada studi ini. Penelitian ini menggunakan metode parametrik dengan Rhinoceros Educational versi 6, Grasshopper3D versi 1 serta GHPython. Rhinoceros digunakan untuk membuat desain. Grasshopper3D digunakan untuk membuat algoritma serta GHPyhton untuk membuat komponen-komponen Grasshopper yang lebih efisien sesuai dengan studi kasus. Pada artikel ini kami juga menggunakan spreadsheet yaitu Microsoft Excel untuk tabulasi data perhitungan. Hasil penelitian ini menunjukkan kemampuan framework berhasil dikembangkan untuk perbandingan alternatif komponen bangunan. Pada kasus ini perbandingan harga material kota Lhokseumawe antara pondasi menerus dan pondasi tapak pada tiga luas bangunan yaitu 55 m2, 16 m2 dan 36 m2. Perbandingan tersebut menunjukkan pondasi tapak lebih murah dalam hal material dibandingkan dengan pondasi menerus. Kemampuan ini dinilai penting untuk efektifitas pengambilan keputusan yang relevan dengan konteks paska bencana di daerah tertentu. Kemampuan membandingkan ini juga memberikan peluang untuk peningkatan kondisi psikologis dari penerima atau masyarakat yang terdampak oleh bencana. Hal ini disebabkan oleh adaptabilitas yang tinggi dari framework sehingga bisa disesuaikan dengan kondisi yang diinginkan. Selain itu, kami telah berhasil mengintegrasikan secara efisien pengembangan pada tahap ini ke framework yang sudah dikembangkan sebelumnya.Kata-kata Kunci: parametrik, beton, pasca-bencana, pondasi PARAMETRIC ESTIMATION FOR REINFORCED CONCRETE CONSTRUCTION MATERIAL IN ACEH POST DISASTER RELIEF (CASE STUDY: ESTIMATION OF FOUNDATION MATERIAL)This research was the development of authors’ previous work to invent a framework that capable of performing estimation for construction materials effectively and efficiently in Aceh post-disaster cases. In this paper, the writers focus on estimating substructure construction materials. It was aimed at giving a better overview of the proposed framework system. Besides, the improvement of the ability of the previous framework was something that we opted to within this study. This paper employed a parametric method using Rhinoceros Educational version 6, Grasshopper3D version 1 and GHPython. Rhinoceros was used for design making. Grasshopper3D was used to construct algorithms and GHPython was utilized for optimized Grasshopper3D components for efficient workflow. Further, this work utilized spreadsheet, which was Microsoft Excel, for estimation data tabulation. The result showed the abilities...