Jurnal Biomedika dan Kesehatan

Journal Information
ISSN / EISSN : 2621-539X / 2621-5470
Published by: Universa Medicina (10.18051)
Total articles ≅ 95
Filter:

Latest articles in this journal

Nur Najmi Raina, Kartini Kartini
Published: 30 September 2021
Jurnal Biomedika dan Kesehatan, Volume 4, pp 90-98; https://doi.org/10.18051/jbiomedkes.2021.v4.90-98

Abstract:
LATAR BELAKANGPandemi COVID-19 merupakan masalah kesehatan dunia. Di masa pandemi dengan kasus yang semakin bertambah membuat media sosial menjadi salah satu sumber informasi mengenai COVID-19. Penggunaan media sosial yang bijak sangat efektif untuk menyebarkan informasi dan pengetahuan mengenai pandemi COVID-19, sehingga membantu masyarakat untuk melakukan pencegahan COVID-19. Penelitian ini bertujuan menilai hubungan penggunaan media sosial dan pengetahuan COVID-19 pada dewasa muda. METODEMetode penelitian ini adalah analitik observasional dengan pendekatan cross-sectional, sampel penelitian sebanyak 240 responden, memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi. Pengumpulan data dilakukan dengan wawancara menggunakan kuesioner online pada bulan Mei-Juli 2021 di Kelurahan Rorotan Jakarta Utara. Analisis data dilakukan dengan uji Chi-square dan Fisher's exact dengan tingkat kemaknaan p<0.05. HASILRerata usia responden 26.8 ± 6.4 tahun didominasi oleh perempuan (65.4%). Responden berpendidikan tinggi sebanyak 95.8%, berpengetahuan baik mengenai COVID-19 sebanyak 54.2%, tingkat penggunaan media sosial tinggi sebanyak 57.9%. Responden dengan tingkat penggunaan media sosial tinggi dan berpengetahuan baik mengenai COVID-19 sebanyak 56.8%. Tidak terdapat hubungan antara penggunaan media sosial, umur, dan pendidikan dengan pengetahuan COVID-19. Terdapat hubungan antara jenis kelamin dengan pengetahuan COVID-19. KESIMPULANPenggunaan media sosial tidak berhubungan dengan tingkat pengetahuan COVID-19 pada masyarakat dewasa muda. Dibutuhkan media komunikasi lainnya untuk mengedukasi masyarakat dalam upaya pencegahan COVID-19.
Rita Khairani
Published: 30 September 2021
Jurnal Biomedika dan Kesehatan, Volume 4, pp 87-89; https://doi.org/10.18051/jbiomedkes.2021.v4.87-89

Abstract:
Dibandingkan dengan perkembangan vaksin COVID-19, kemunculan banyak varian baru menyebabkan peningkatan mortalitas dan morbiditas, distribusi vaksin secara global, ketersediaan suplai vaksin yang terbatas dan kejadian ikutan pasca imunisasi. Hal ini memunculkan kekhawatiran penurunan efektivitas vaksin yang telah ada. Setelah laporan kejadian tromboemboli akibat penggunaan ChAdOx1-nCoV-19 dari AstraZeneca, beberapa negara Eropa mulai meneliti tentang penggunaan vaksin yang berbeda dengan dosis pertama atau yang disebut strategi mix-and-match atau vaksin heterolog.(1) Vaksin heterolog melibatkan pemberian antigen penyakit yang sama atau serupa melalui dua tipe vaksin berbeda, dosis pertama untuk membentuk sistem imun dan dosis berikutnya dengan tipe berbeda untuk meningkatkan respon imun.(2) Beberapa jenis vaksin yang banyak diteliti dalam konsep vaksin heterolog ini diantaranya kombinasi vaksin chimpanzee adenovirus-vectored vaccine (ChAdOx 1 nCoV-19) atau AstraZeneca dengan vaksin mRNA-1273 atau vaksin Moderna, dan vaksin BNT162b2 atau vaksin Pfizer.(3,4)
Ml Edy Parwanto
Jurnal Biomedika dan Kesehatan, Volume 4, pp 47-49; https://doi.org/10.18051/jbiomedkes.2021.v4.47-49

Abstract:
Telah dikemukakan bahwa virus corona menjadi penyebab COVID-19.(1) Virus corona yang dimaksud yaitu SARS-CoV-2, sedangkan COVID-19 kependekan dari corona virus disease-19. COVID-19 adalah penyakit yang disebabkan oleh SARS-CoV2 yang muncul awal Desember tahun 2019 di Wuhan, China. Sifat virus corona tersebut mudah menginfeksi manusia dan mudah menyebar hampir keseluruh penjuru dunia. Oleh karena itu terjadilah wabah (pandemi) COVID-19. Seiring berjalannya waktu, virus corona mengalami mutasi gen. Mutasi gen merupakan perubahan gen secara spontan dan bersifat turun menurun dari partikel virus induk ke partikel virus anakannya. Kita mengetahui bahwa gen virus corona terusun atas rangkaian ribo nucleic acid (RNA), oleh karena itu virus corona digolongkan sebagai virus RNA. Rangkaian gen pada virus corona tersebut menyusun genom virus corona. Genom virus corona mengandung 29 903 nukleotida (nt). Komponen genom virus corona yaitu 5’ untranslated region (5‘ UTR), rangkaian gen virus corona pengkode protein dan 3’ untranslated region (3’ UTR). Bagian 5’ UTR terdapat pada up stream (pangkal) sedangkan 3’ UTR terdapat di bagian down stream (ujung), keduanya tidak mengkode protein. Secara berurutan dari arah up stream ke down stream, rangkaian gen virus corona terdiri atas gen ORF 1ab, gen S, gen ORF 3a, gen E, gen M, gen ORF 6, gen ORF 7a, gen ORF 7b, gen ORF 8, gen N, gen ORF 10.(2)
Teulis Sumiartini, Dian Ratih Laksmitawati, Hesti Utami Ramadaniati, Ronald Irwanto Natadidjaja, Rudi Asmajaya
Jurnal Biomedika dan Kesehatan, Volume 4, pp 5-11; https://doi.org/10.18051/jbiomedkes.2021.v4.5-11

Abstract:
LATAR BELAKANG Standar Nasional Akreditasi Rumah Sakit (SNARS) edisi 1 / 2018 menjadikan kejadian Infeksi Daerah Operasi (IDO) sebagai salah satu indikator mutu untuk menilai kinerja pengendalian infeksi di rumah sakit. Pemberian antibiotik lanjutan paska operasi sectio caesaria (SC) menjadi isu yang penting untuk dikaji, mengingat operasi ini pada dasarnya tidak membutuhkan pemberian antibiotik lanjut paska operasinya. Pemberian antibiotik lanjutan paska operasi SC merupakan penggunaan antibiotik tidak bijak. METODE Pasien dibagi menjadi 2 kelompok dengan jumlah masing-masing sebesar 49 subjek. Kelompok pertama adalah kelompok subjek yang diberikan antibiotik lanjut paska SC dan kelompok kedua adalah kelompok subjek dengan pemberian antibiotik tidak lanjut paska SC kemudian dari masing-masing kelompok dikaji kemungkinan munculnya tanda IDO dan LOS pasien. Desain penelitian ini adalah kohort retrospektif dengan data sekunder dari rekam medis pasien Januari 2019 - Desember 2019. Uji analisa dengan chi square. Data dianalisa dengan SPSS Statistics. HASIL Setelah mengontrol variabel perancu, pemberian antibiotik lanjut paska SC tidak signifikan berpengaruh menurunkan kemungkinan munculnya tanda IDO (OR = 0.157; p=0.098; 0.02-1.41 IK95%), juga tidak memiliki pengaruh terhadap LOS pasien (OR=1.73; p=0.562; 0.27-10.85 IK 95%). KESIMPULAN Tidak terdapat pengaruh dari pemberian antibiotika lanjutan terhadap tanda kejadian IDO dan LOS pada pasien post SC sebelum dan setelah mengontrol variabel perancu. Pemberian antibiotik lanjutan paska SC merupakan pemberian antibiotik yang tidak bijak.
Conny Riana Tjampakasari
Jurnal Biomedika dan Kesehatan, Volume 4, pp 27-36; https://doi.org/10.18051/jbiomedkes.2021.v4.27-36

Abstract:
Diantara genus Burkholderia terdapat dua spesies yang menjadi perhatian dalam bidang kesehatan, yaitu B. pseudomallei dan B. cepacia. Kedua bakteri ini menyebabkan masalah klinis yang berbeda. Penyakit melioidosis kerap disebabkan oleh B.pseudomallei, sedangkan B. cepacia complex (Bcc) seringkali ditemukan pada pasien cystic fibrosis (CF). Burkholderia pseudomallei merupakan kelompok bakteri patogen intracellular Gram negatif, memiliki bentuk seperti peniti. Demikian pula B. cepacia merupakan kelompok bakteri Gram negatif basil, tidak dapat membentuk spora, bersifat aerobik, katalase dan oksidase positif, serta mempunyai flagel polar multitrik. Meskipun jalur patogenesis kedua bakteri ini sedikit berbeda, faktor virulensi yang dimiliki oleh kedua spesies ini hampir sama. B. pseudomallei memiliki kemampuan untuk menginfeksi berbagai jenis sel dan menghindari respon imun manusia. Bakteri ini masuk melalui kulit atau selaput lendir dan bereplikasi di sel epitel. Di dalam sel inang, bakteri bergerak dengan menginduksi polimerisasi aktin inang, mendesak dinding membran membentuk tonjolan yang meluas ke sel lain. Tonjolan ini menyebabkan sel tersebut bergabung, membentuk sel raksasa berinti (multinucleated giant cell /MNGC). MNGC akan membentuk plak sebagai tempat bagi bakteri untuk bereplikasi. Setelah memasuki saluran pernafasan pasien penderita CF, B. cepacia menempel pada permukaan sel mukosa ataupun sel epitel inang. Lapisan mukus yang menebal pada paru mendukung efikasi antimikrobia dan meningkatkan respon inflamasi. Kemampuan untuk melewati barier epitelial dan menemukan akses ke aliran darah hanya dimiliki oleh strain kelompok ini karena patogen lain yang ditemukan pada pasien CF tidak menyebabkan bakteremia. Faktor virulensi bertugas membantu proses invasi sel inang oleh bakteri patogen. Secara umum, kedua spesies ini memiliki jenis faktor virulensi yang sama, diantaranya adalah intracellular survival, quorum sensing, adherence factor, sistem sekresi, LPS dan EPS, biofilm, toksin dan resistensi antimikrobia.
Fitriani Rahmawati, Nuryani Sidarta
Jurnal Biomedika dan Kesehatan, Volume 4, pp 19-26; https://doi.org/10.18051/jbiomedkes.2021.v4.19-26

Abstract:
LATAR BELAKANG : Masalah kesehatan yang berhubungan dengan berat badan seperti obesitas telah berkembang semakin luas. Obesitas sendiri akan berdampak pada berbagai komplikasi kesehatan seperti gangguan sistem muskuloskeletal, kardiovaskular, gangguan kemampuan fisik dan lain-lain. Gangguan muskuloskeletal dikarenakan obesitas akan menjadi beban yang berlebih pada sendi lumbosacral sehingga akan menyebabkan pembentukan kurva lumbal yang abnormal (hiperlordosis). TUJUAN : Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara obesitas dengan peningkatan kurva lumbal pada mahasiswa dan melihat ada tidaknya hubungan antara lingkar pinggang dan peningkatan kurva lumbal. METODE : Penelitian menggunakan studi observasional dengan desain cross-sectional yang mengikutsertakan 88 mahasiswa yang melakukan pemeriksaan kurva lumbal. Selama dilakukannya pengukuran kurva lumbal, para responden diposisikan berdiri tegak dalam posisi yang rileks tanpa menggunakan alas kaki. Kurva lumbal setiap responden diukur dengan alat ukur flexible ruler dan hasilnya disalin kedalam kertas putih polos. Dihitung derajatnya menggunakan rumus yang telah ditetapkan dan baku. Berat badan, tinggi badan dan lingkar pinggang juga dilakukan pengukuran. HASIL : Terdapat hubungan antara obesitas dengan peningkatan kurva lumbal pada mahasiswa dan adanya hubungan antara lingkar pinggang dengan peningkatan kurva lumbal. Dibuktikan pada hasil uji chi square didapatkan p = 0,000 pada obesitas dengan peningkatan kurva lumbal dan p = 0,000 pada lingkar pinggang dengan peningkatan kurva lumbal. Tidak terdapat hubungan antara jenis kelamin dengan peningkatan kurva lumbal. KESIMPULAN : Pada penelitian ini menunjukkan bahwa berat badan obesitas dan lingkar pinggang yang berlebih memiliki hubungan dengan peningkatan kurva lumbal pada mahasiswa.
Endrico Xavierees, Ninik Mudjihartini
Jurnal Biomedika dan Kesehatan, Volume 4, pp 37-46; https://doi.org/10.18051/jbiomedkes.2021.v4.37-46

Abstract:
Syarat penting untuk terjadinya kehamilan, yaitu blastokista pada fase tertentu siap melakukan implantasi dan proliferasi endometrium, sehingga menjadi reseptif terhadap embrio untuk melakukan implantasi. Pada tahap selanjutnya, masih terdapat proses molekular yang berkesinambungan sampai pada akhirnya terjadi hubungan langsung antara blastokista dan dinding endometrium dengan membentuk plasenta. Implantasi yang tidak efisien tentunya akan menyebabkan kegagalan implantasi, sehingga muncul masalah infertilitas. Sebanyak 30% kasus kegagalan kehamilan disebabkan oleh masalah kesehatan embrio. Pemahaman yang lebih mendalam mengenai sinyal-sinyal yang berperan pada kedua proses berkesinambungan tersebut diharapkan dapat memberikan metode terapi yang baru pada kasus infertilitas, sehingga meningkatkan jumlah kehamilan.
Hiromi Hiromi, Yunisa Astiarani, Robi Irawan, Mariani Santosa
Jurnal Biomedika dan Kesehatan, Volume 4, pp 12-18; https://doi.org/10.18051/jbiomedkes.2021.v4.12-18

Abstract:
BACKGROUND In Indonesia, primary school begins at 6 years old and continues until 12, where most of their growth is experienced at that age. Non-ergonomic school furniture can harm the musculoskeletal system. This study evaluates the suitability of chair dimensions to elementary school student’s anthropometry in North Jakarta. METHODSA cross-sectional study of 98 students in North Jakarta. Chair dimension data and student anthropometry were measured using a tape measure, which was then analyzed using the Chi-Square Goodness of Fit Test to evaluate their suitability. RESULTSThe ages of the students ranged from 5 to 11 years. Anthropometric measurements of students show that the mean Sitting Shoulder Height is 41.81±4.36 cm, Popliteal Height 36.83±3.77 cm, Hip Breadth 25.88±3.47 cm, and Buttock-Popliteal Length 36.56±4.33 cm. While the average size assessed from the seat dimensions is Seat Height 41.71±0.22 cm, Seat Width 37.2±1.26 cm, Seat Depth 37.2±1.42 cm, and Backrest Height Above Seat 35.54±3.19 cm. The results of Goodness of Fit with Kendall's Tau-b critical value for the suitability of chair dimensions to student anthropometry were 0.37, and vice versa 0.672, which stated a discrepancy. CONCLUSIONThere is a mismatch between chair dimension and anthropometry of elementary school students in North Jakarta. Adjustment of chair dimensions needs to be done using a student's average size approach to prevent musculoskeletal disorders.
Tjam Diana Samara, Meylan Fitriyani, Paluvi Safitri, Puti Shahnaz, Isra Sabrina, Syadza Maisarah
Published: 29 December 2020
Jurnal Biomedika dan Kesehatan, Volume 3, pp 193-200; https://doi.org/10.18051/jbiomedkes.2020.v3.193-200

Abstract:
Mesothelioma adalah kanker yang berkembang mengenai lapisan paru-paru, adomen, atau jantung. Risiko mesothelioma tidak turun dari waktu kewaktu setelah paparan asbes berhenti. Sebanyak 80% mesothelioma disebabkan oleh inhalasi debu asbes. Masa laten mesothelioma dapat terjadi 10 sampai 50 tahun. Mesothelioma pleura adalah mesothelioma yang paling sering ditemukan dengan gejala sesak nafas, batuk kering, nyeri dada, hemoptoe, mudah lelah, demam disertai keringat terutama malam hari, berat badan menurun, dan efusi pleura. Standar penegakan diagnosis mesothelioma pleura dapat dilakukan dengan beberapa pilihan pemeriksaan antara lain rontgen thoraks, Computed Tomography (CT) Scan, Positron-Emission Tomography (PET) Scan, atau Magnetic Resonance Imaging (MRI). Terapi mesothelioma terutama pada mesothelioma pleural dapat dilakukan pembedahan, kemoterapi, radioterapi atau kombinasi dari keduanya atau lebih atau yang disebut sebagai terapi multimodal. Prognosis untuk kanker mesothelioma umumnya buruk dan banyak pasien yang hidup kurang dari satu tahun.
Reqgi First Trasia, Ika Puspa Sari
Published: 29 December 2020
Jurnal Biomedika dan Kesehatan, Volume 3, pp 183-192; https://doi.org/10.18051/jbiomedkes.2020.v3.183-192

Abstract:
Skabies, penyakit kulit yang disebabkan oleh infestasi dan sensitisasi terhadap tungau Sarcoptes scabiei var. hominis dan produknya, masih menjadi masalah kesehatan di dunia, termasuk Indonesia. World Health Organization (WHO) atau Organisasi Kesehatan Dunia pada tahun 2017 menyatakan bahwa skabies termasuk dalam Neglected Tropical Disease (NTD) yang memerlukan pengontrolan skala besar. S. scabiei spesifik terhadap hospes dan hal tersebut akibat perbedaan fisiologis tungau dan variabel hospes seperti diet, bau, respon imun, dan faktor-faktor fisik. Manifestasi klinis pada manusia berupa inflamasi kulit akan timbul lebih dari 4 minggu setelah terinfestasi. Lambatnya respon imun itu adalah efek dari kemampuan S.scabiei dalam memodulasi berbagai aspek respon imun dan inflamasi hospes. Telur, feses, ekskreta, saliva, dan tubuh S.scabiei yang mati juga menstimulasi respon imun. S.scabiei mendorong keluarnya anti-inflammatory cytokine interleukin-1 receptor antagonist (IL-1ra) dari sel fibroblas manusia. IL-1ra menginhibisi sitokin proinflamasi IL-1 dengan mengikat reseptor IL-1 yang ada dalam sel limfosit T, sel limfosit B, natural killer cell, makrofag dan neutrofil. Berdasarkan patogenesis skabies, antigen tungau merangsang respon imun adaptif pada manusia agar muncul produksi imunoglobulin. Pengetahuan mengenai respon imun hospes terhadap Sarcoptes scabiei ini dapat dijadikan dasar untuk pengembangan metode serodiagnostik dalam rangka menegakkan diagnosis skabies, sehingga membantu eliminasi skabies di Indonesia.
Back to Top Top