Jurnal Biomedika dan Kesehatan

Journal Information
ISSN / EISSN : 2621-539X / 2621-5470
Published by: Universa Medicina (10.18051)
Total articles ≅ 114
Filter:

Latest articles in this journal

Derry Arkan Prabowo, Fransisca Chondro
Published: 31 December 2021
Jurnal Biomedika dan Kesehatan, Volume 4, pp 148-156; https://doi.org/10.18051/jbiomedkes.2021.v4.148-156

Abstract:

LATAR BELAKANG
Pada lansia, fungsi kognitif adalah salah satu faktor penting yang mempengaruhi kemampuannya dalam menjalankan aktivitas sehari-hari. Adanya gangguan pada fungsi kognitif akan menimbulkan disfungsi sehingga dapat menurunkan kualitas hidup lansia. Beberapa faktor yang dapat mempengaruhi fungsi kognitif pada lansia adalah penuaan, penyakit metabolik dan nutrisi. Banyak sekali asupan nutrisi yang berpengaruh terhadap fungsi kongitif, salah satunya adalah susu. Sampai saat ini telah dilakukan beberapa penelitian terkait hubungan antara konsumsi susu dengan fungsi kognitif pada lansia namun didapatkan hasil yang kontradiktif. Oleh karena itu, peneliti tertarik untuk mengetahui lebih lanjut hubungan antara konsumsi susu dan fungsi kognitif pada lansia. METODE
Penelitian cross-sectional dengan desain observasional analitik ini dilakukan di Posyandu Kelurahan Krendang, Jakarta Barat pada Bulan Agustus–Desember 2019 dengan melibatkan 135 responden. Kriteria inklusi pada penelitian ini adalah berusia minimal 60 tahun, tidak memiliki gangguan dalam membaca dan menulis, tidak mengalami gangguan pendengaran serta bersedia menjadi responden, sedangkan kriteria eksklusinya adalah lansia yang telah didiagnosis menderita hipertensi dan diabetes mellitus. Dalam wawancara terpimpin dengan setiap responden didapatkan karakteristik sosiodemografis (usia, jenis jelamin, dan pendidikan), tingkat konsumsi susu diukur dengan kuesioner susu yang diadaptasi dari Naruki Kitano, dan penilaian fungsi kognitif dengan kuesioner Montreal Cognitive Assesment Indonesia. Analisis data menggunakan uji statistik dengan tingkat kemaknaan α=0.05. HASIL
Didapatkan responden yang memiliki kebiasaan mengonsumsi susu adalah sebesar 51.9%, yang mengalami gangguan fungsi kognitif adalah sebanyak 87.4%, dan pada uji bivariat kedua variabel didapatkan p=0.660. KESIMPULAN
Pada penelitian ini dapat disimpulkan tidak terdapat hubungan yang bermakna antara konsumsi susu dan fungsi kognitif.
Kadek Bayu Suryawan, Lie Tanu Merijanti
Published: 31 December 2021
Jurnal Biomedika dan Kesehatan, Volume 4, pp 157-163; https://doi.org/10.18051/jbiomedkes.2021.v4.157-163

Abstract:
LATAR BELAKANG
Gadget merupakan salah satu media informasi dan teknologi yang berkembang pesat dan telah membuat penggunanya menjadi ketergantungan, bahkan balita. Penggunaan gadget secara berlebihan dan tidak tepat dapat menimbulkan dampak berupa keterlambatan bicara atau bahasa. Di Indonesia jumlah keterlambatan bicara dan bahasa pada balita mencapai 10%. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui hubungan intensitas penggunaan gadget dengan keterlambatan perkembangan aspek bicara dan bahasa pada balita. METODE
Penelitian ini menggunakan metode analitik observasional dengan pendekatan cross-sectional terhadap 100 responden yang memenuhi kriteria inkulsi maupun eksklusi. Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara menggunakan kuesioner intensitas penggunaan gadget dan kuesioner pra skrining perkembangan pada bulan Oktober–Desember 2019 di TK Kelurahan Tomang, Jakarta Barat. Analisis data dilakukan dengan uji Chi-square dengan tingkat kemaknaan yang digunakan p<0.05. HASIL
Dengan total 100 responden, didapatkan 18 orang (18%) intensitas penggunaan gadget rendah, 29 orang (29%) intensitas penggunaan gadget sedang dan 53 orang (53%) dengan intensitas penggunaan gadget tinggi. Responden dengan keterlambatan perkembangan aspek bicara dan bahasa sebanyak 39 orang (39%) dan 61 orang (61%) lainnya tidak mengalami keterlambatan perkembangan aspek bicara dan bahasa. Hasil analisis Chi-square menunjukkan hubungan intensitas penggunaan gadget dengan keterlambatan perkembangan aspek bicara dan bahasa pada balita memiliki nilai signifikansi (p=0.002). KESIMPULAN
Intensitas penggunaan gadget berhubungan dengan keterlambatan perkembangan aspek bicara dan bahasa pada balita.
Tania Callista Maheswari Pangestu, Erlani Kartadinata
Published: 31 December 2021
Jurnal Biomedika dan Kesehatan, Volume 4, pp 170-177; https://doi.org/10.18051/jbiomedkes.2021.v4.170-177

Abstract:
Diperkirakan sebanyak 42% kasus kebutaan di dunia yang disebabkan oleh katarak berasal dari Asia Tenggara. Katarak ditandai dengan kekeruhan pada lensa mata dan penglihatan menjadi buram. Salah satu faktor yang dapat memengaruhi terjadinya katarak adalah indeks massa tubuh (IMT). Indeks massa tubuh yang tinggi dapat menyebabkan peningkatan stress oksidatif yang dipicu oleh kadar leptin yang tinggi. Prevalensi katarak yang ditemukan pada kategori overweight adalah 23% dan pada kategori obesitas didapatkan sekitar 34%. Pada indeks massa tubuh yang rendah dikaitkan dengan penurunan glutathione khususnya pada nukleus lensa. Terdapat penelitian yang menunjukan indeks massa tubuh memiliki hubungan dengan terjadinya katarak. Penelitian lainnya menyatakan indeks massa tubuh tinggi khususnya obesitas memiliki hubungan terjadinya katarak dengan prevalensi (RR 1.50, 95% CI 1.24–1.81), (RR 1.52, 95% CI 1.31–177) dan (OR 4.64, 95% CI 2.8889–7.440). Sedangkan terdapat penelitian lain yang menyatakan tidak ada hubungan antara indeks massa tubuh tinggi dengan terjadinya katarak dengan prevalensi (OR 1.06, 95% CI 0.80—1.40) dan (OR1.45, 95%CI 1.26–1.66) dibandingkan dengan kelompok underweight. Kesimpulan yang didapat adalah terdapat hubungan antara indeks massa tubuh, khususnya pada kategori obesitas terhadap terjadinya katarak. Pencegahan yang dapat dilakukan agar terhindar terjadinya katarak adalah dengan mengontrol berat badan.
Muhammad Alkadri Anugrah, Dian Mediana
Published: 31 December 2021
Jurnal Biomedika dan Kesehatan, Volume 4, pp 142-147; https://doi.org/10.18051/jbiomedkes.2021.v4.142-147

Abstract:

LATAR BELAKANG
Proses pendidikan dipengaruhi oleh tiga unsur dasar, yaitu input, proses, dan luaran (output). Yang termasuk input adalah siswa dengan latar belakangnya. Proses adalah kegiatan pembelajaran yang berupa bentuk interaksi edukatif guru dengan siswa, mencakup pemberian dan pemahaman materi pelajaran. Luaran adalah hasil yang telah dicapai oleh siswa, meliputi kognitif, afektif dan psikomotorik. Setiap siswa mempunyai keunikan dan karakter masing-masing. Keunikan ini termasuk tipe kepribadian yang membuat siswa memiliki respon yang berbeda dalam memahami suatu pelajaran, baik dari segi sikap maupun gaya belajar yang menunjang keberhasilan belajarnya. Penelitian ini bertujuan mengetahui hubungan tipe kepribadian dengan prestasi akademik siswa. METODE
Penelitian ini dilakukan menggunakan metode analitik observasional dengan pendekatan cross-sectional pada 378 siswa kelas XI dan XII IPA Sekolah Menengah Atas Negeri X. Data dikumpulkan dengan wawancara dan pengisian kuesioner Eysenck Personality Inventory (EPI) pada bulan September–November 2018. Analisis data menggunakan uji Chi-square dengan batas kemaknaan p<0.05. HASIL
Tipe kepribadian introvert 49.2%, ekstrovert 50.8%. Nilai eksakta tinggi 55.6%, rendah 44.4%. Nilai non-eksakta tinggi 63.8%, rendah 36.2%. Nilai rata-rata tinggi 52.9%, rendah 47.1%. Hubungan bermakna antara tipe kepribadian dengan nilai eksakta (p=0.000); dengan nilai non-eksakta (p=0.000); dan dengan nilai rata-rata (p=0.000). KESIMPULAN
Terdapat hubungan bermakna antara tipe kepribadian dengan prestasi akademik pada siswa SMA X.
Husnun Amalia
Published: 31 December 2021
Jurnal Biomedika dan Kesehatan, Volume 4, pp 139-141; https://doi.org/10.18051/jbiomedkes.2021.v4.139-141

Abstract:
Virus penyebab COVID-19, SARS-CoV-2 terus mengalami mutasi membentuk varian baru. Varian terbaru yang telah terdeteksi, yaitu varian Omicron yang dikenal sebagai varian B.1.1.529.(1) Varian ini pertama kali dilaporkan di Afrika Selatan pada tanggal 24 November 2021 dan saat ini telah menyebar ke seluruh dunia.(1,2)
Raisha Ochi Melinda, Magdalena Wartono
Published: 31 December 2021
Jurnal Biomedika dan Kesehatan, Volume 4, pp 164-169; https://doi.org/10.18051/jbiomedkes.2021.v4.164-169

Abstract:
LATAR BELAKANG Salah satu penyebab kematian bayi baru lahir adalah kadar gula darah rendah (hipoglikemia) karena dapat menyebabkan kerusakan pada berbagai organ seperti otak. Neonatus dengan berat badan lahir (BBL) ≥3800g atau <2500 g sering mengalami hipoglikemia. Tujuan penelitian ini adalah untuk menentukan hubungan antara berat badan lahir dengan hipoglikemia pada bayi baru lahir. METODE Penelitian menggunakan desain cross sectional. Sampel pada penelitian ini adalah seluruh kelahiran di RSAL dr. Mintohardjo periode Januari-Juli 2019 sebanyak 71 bayi. Sampel dipilih secara consecutive non-random sampling. Data kadar gula darah dan berat badan lahir bayi diambil dari rekam medis. Hubungan kedua variabel diuji dengan uji Chi-square dengan tingkat kemaknaan p<0.005. HASIL Penelitian menunjukkan sebanyak 16 bayi (22.5%) memiliki BBL rendah, 41 bayi (57.7%) memiliki BBL normal dan 14 bayi (19.7%) memiliki BBL lebih. Pada penelitian ini bayi yang mengalami hipoglikemia sebanyak 32 bayi (45.1%). Responden dengan berat badan lahir rendah dan mengalami hipoglikemia sebanyak 14 bayi (87.5%). Sedangkan responden dengan berat badan lahir normal dan mengalami hipoglikemia sebanyak 8 bayi (19.5%). Responden dengan berat badan lahir lebih dan mengalami hipoglikemia sebanyak 10 bayi (71.4). Hasil uji statistik menunjukkan nilai p=0.000. KESIMPULAN Terdapat hubungan antara berat badan lahir bayi dan kejadian hipoglikemia pada bayi baru lahir.
Sonia Martilova, Tjam Diana Samara
Published: 31 December 2021
Jurnal Biomedika dan Kesehatan, Volume 4, pp 178-184; https://doi.org/10.18051/jbiomedkes.2021.v4.178-184

Abstract:
Preeklamsia menjadi penyulit 2-8% kehamilan yang berkaitan dengan peningkatan mortalitas dan morbiditas maternal di seluruh dunia. Preeklamsia ditandai dengan timbulnya hipertensi yang disertai proteinuria setelah usia kehamilan 20 minggu. Hipertensi dan gejala lain dari preeklamsia mungkin terjadi tanpa adanya proteinuria. Preeklamsia memiliki patofisiologi yang kompleks, disfungsi endotel vaskular yang ditemukan pada preeklamsia diasumsikan terkait dengan kondisi dislipidemia, terutama hipertrigliseridemia. Pada awal kehamilan terjadi peningkatan kadar trigliserida ibu yang diikuti oleh peningkatan low-density protein (LDL) dan kemudian akan diimbangi dengan peningkatan high-density protein (HDL) yang berfungsi sebagai antiinflamasi pada pembuluh darah. Namun, pada kehamilan dengan preeklamsia, hal tersebut tidak terjadi. Kajian pustaka ini mencoba menelusuri beberapa studi terkait perubahan kadar kolesterol darah pada awal kehamilan sebagai risiko terjadinya preeklamsia. Berdasarkan studi yang ditinjau, seluruh studi menunjukkan trigliserida meningkat signifikan pada awal kehamilan yang kemudian menjadi preeklamsia. Seperti yang terjadi pada kondisi normal, peningkatan trigliserida dalam darah yang diimbangi dengan peningkatan HDL ternyata tidak ditemukan pada kehamilan yang mengalami preeklamsia. Kajian pustaka ini menyimpulkan, adanya perubahan kolesterol pada awal kehamilan berkaitan dengan risiko terjadinya preeklamsia. Melakukan pengukuran kadar kolesterol darah pada awal kehamilan (≤20 minggu) dapat menjadi petunjuk awal preeklamsia.
Laras Sheila Andini, Kurniasari Kurniasari
Published: 30 September 2021
Jurnal Biomedika dan Kesehatan, Volume 4, pp 99-105; https://doi.org/10.18051/jbiomedkes.2021.v4.99-105

Abstract:
LATAR BELAKANGGangguan cemas di Indonesia menurut data Riskesdas 2018 untuk usia lebih dari 15 tahun sekitar 6.2%. Perempuan lebih cenderung mengalami gangguan cemas, salah satu faktor yang memengaruhi kecemasan pada remaja, yaitu bullying. Prevalensi bullying pada remaja yang cenderung meningkat setiap tahunnya menyebabkan bullying masih menjadi salah satu masalah kesehatan mental global. METODEStudi penelitian analitik observasional menggunakan desain cross-sectional untuk menilai hubungan kejadian bullying dengan gangguan cemas pada pelajar SMA. Pengambilan data melalui Google form dengan jumlah responden 252. Variabel yang akan diteliti, yaitu jenis kelamin, gangguan cemas, dan bullying. Analisis data menggunakan uji Chi-square dengan tingkat kemaknaan <0.05. HASILResponden perempuan sebanyak 160 responden (63%) dan laki-laki 92 responden (37%). Perempuan lebih banyak mengalami gangguan kecemasan, yaitu kecemasan ringan sebanyak 35 responden (22%), terdapat hubungan antara jenis kelamin dengan gangguan cemas (p=0.002). Terdapat 97 responden menjadi korban bullying (38%) dengan kecemasan yang paling sering, yaitu kecemasan ringan. Sebanyak 30 responden (31%) terdapat hubungan antara kejadian bullying dengan gangguan cemas (p=0.000). KESIMPULANKejadian bullying dan jenis kelamin merupakan faktor yang berperan terhadap gangguan kecemasan yang terjadi pada remaja.
Tiara Permatasari, Nuryani Sidarta
Published: 30 September 2021
Jurnal Biomedika dan Kesehatan, Volume 4, pp 106-112; https://doi.org/10.18051/jbiomedkes.2021.v4.106-112

Abstract:
LATAR BELAKANGAcute mountain sickness (AMS) merupakan kelainan yang sering dialami oleh pendaki pemula di ketinggian lebih dari 2.500m. Menurut jurnal yang dikeluarkan oleh Military Medical Research pada tahun 2019, Murdoch mengemukakan bahwa prevalensi AMS sebesar 88.6%. Di Indonesia, masih sangat sedikit studi dan penelitian yang membahas AMS di kalangan pendaki gunung. Pada pendaki memiliki tingkat aktivitas fisik yang baik dapat mempermudah mereka dalam melakukan suatu perjalanan pendakian gunung. Tujuan penelitian ini adalah menilai hubungan tingkat aktivitas fisik dengan acute mountain sickness pada pendaki gunung. METODEPenelitian dilakukan pada bulan Februari-Juni 2021 di komunitas Mapala (mahasiswa pencinta alam), dan responden yang pernah mendaki gunung dengan menggunakan desain studi cross-sectional. Tingkat aktivitas fisik diukur menggunakan kuesioner GPAQ (Global Physical Activity Questionnaire) dan derajat kejadian acute mountain sickness diukur menggunakan kuesioner LLS (Lake Louise Acute Mountain Sickness Score). Analisis menggunakan uji Chi-square dengan tingkat kemaknaan p<0.05. HASILResponden pada penelitian ini didominasi oleh kelompok usia dari 19 sampai 39 tahun dengan variasi tingkat aktivitas fisik dari kategori sedang (50%) ke berat (40.7%). Seluruh responden mengalami kejadian AMS dari kategori ringan (73.7%) ke sedang (23.7%). Pada kelompok responden yang memiliki tingkat aktivitas fisik kategori tinggi maka sebagian besar (73.3%) diantaranya hanya mengalami AMS ringan. Sebaliknya, pada kelompok responden yang memiliki tingkat aktivitas fisik rendah maka mayoritas (62.5%) dari mereka mengalami AMS sedang. Hasil uji Chi-square menunjukkan terdapat hubungan bermakna antara tingkat aktivitas fisik dengan AMS pada pendaki gunung (p=0.034). KESIMPULANTerdapat hubungan antara tingkat aktivitas fisik dengan acute mountain sickness pada pendaki gunung.
Nur Najmi Raina, Kartini Kartini
Published: 30 September 2021
Jurnal Biomedika dan Kesehatan, Volume 4, pp 90-98; https://doi.org/10.18051/jbiomedkes.2021.v4.90-98

Abstract:
LATAR BELAKANGPandemi COVID-19 merupakan masalah kesehatan dunia. Di masa pandemi dengan kasus yang semakin bertambah membuat media sosial menjadi salah satu sumber informasi mengenai COVID-19. Penggunaan media sosial yang bijak sangat efektif untuk menyebarkan informasi dan pengetahuan mengenai pandemi COVID-19, sehingga membantu masyarakat untuk melakukan pencegahan COVID-19. Penelitian ini bertujuan menilai hubungan penggunaan media sosial dan pengetahuan COVID-19 pada dewasa muda. METODEMetode penelitian ini adalah analitik observasional dengan pendekatan cross-sectional, sampel penelitian sebanyak 240 responden, memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi. Pengumpulan data dilakukan dengan wawancara menggunakan kuesioner online pada bulan Mei-Juli 2021 di Kelurahan Rorotan Jakarta Utara. Analisis data dilakukan dengan uji Chi-square dan Fisher's exact dengan tingkat kemaknaan p<0.05. HASILRerata usia responden 26.8 ± 6.4 tahun didominasi oleh perempuan (65.4%). Responden berpendidikan tinggi sebanyak 95.8%, berpengetahuan baik mengenai COVID-19 sebanyak 54.2%, tingkat penggunaan media sosial tinggi sebanyak 57.9%. Responden dengan tingkat penggunaan media sosial tinggi dan berpengetahuan baik mengenai COVID-19 sebanyak 56.8%. Tidak terdapat hubungan antara penggunaan media sosial, umur, dan pendidikan dengan pengetahuan COVID-19. Terdapat hubungan antara jenis kelamin dengan pengetahuan COVID-19. KESIMPULANPenggunaan media sosial tidak berhubungan dengan tingkat pengetahuan COVID-19 pada masyarakat dewasa muda. Dibutuhkan media komunikasi lainnya untuk mengedukasi masyarakat dalam upaya pencegahan COVID-19.
Back to Top Top