Buletin Plasma Nutfah

Journal Information
ISSN / EISSN : 1410-4377 / 2549-1393
Total articles ≅ 233
Filter:

Latest articles in this journal

Yusi Nurmalita Andarini, Andari Risliawati
Buletin Plasma Nutfah, Volume 27, pp 43-50; https://doi.org/10.21082/blpn.v27n1.2021.p43-50

Abstract:
Padi merupakan komoditas pertanian utama di Indonesia yang dapat tumbuh di berbagai ekosistem seperti lahan sawah, lahan rawa, dan lahan kering. Pemanfaatan lahan marjinal seperti lahan kering di bawah tegakan berpotensi untuk meningkatkanroduksi padi nasional, tetapi memerlukan genotipe padi yang adaptif pada kondisi tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi beberapa akskesi plasma nutfah padi gogo terhadap cekaman naungan. Sebanyak 19 aksesi padi gogo dievaluasi dalam rancangan tersarang faktorial tiga ulangan dengan taraf cekaman naungan 25%, 50%, dan tanpa naungan (kontrol). Plasma nutfah padi gogo yang dievaluasi toleransinya pada cekaman naungan menunjukkan keragaman fenotipe pada beberapa karakter yang diamati. Analisis klaster menghasilkan tiga klaster berdasarkan peubah dua komponen utama yang mampu menerangkan keragaman sebesar 76,2%. Klaster satu yang merupakan klaster dengan performa karakter tinggi tanaman, panjang malai, jumlah biji per malai, dan jumlah anakan produktif terbaik, terdiri atas tujuh aksesi yaitu aksesi Ndabulu, Sahang, Taun Suar, Ketan Tomang B, Umbang Putih, Umbang Hitam, dan Limar. Ketujuh aksesi ini performa tanamannya tidak berbeda nyata baik pada cekaman naungan 25 maupun 50%
Rafika Yuniawati, Alina Akhdiya
Buletin Plasma Nutfah, Volume 27, pp 21-28; https://doi.org/10.21082/blpn.v27n1.2021.p21-28

Abstract:
Simbiosis bakteri endofit pada tanaman nilam telah diketahui berpotensi untuk menstimulasi pertumbuhan tanaman. Penelitian ini bertujuan untuk menyeleksi dan mengarakterisasi kemampuan bakteri endofit nilam (Pogostemon cablin B.) dalam menstimulasi pertumbuhan tanaman nilam. Bakteri endofit diisolasi dari beberapa sumber tanaman nilam, yaitu koleksi klon B6 (koleksi BB Biogen), varietas Sidikalang dan Patchoulina. Isolat bakteri endofit yang diisolasi dan diseleksi berdasarkan beberapa pengujian selanjutnya dikarakterisasi secara fisiologi, biokimia, dan genetik. Karakterisasi fisiologi dan biokimia meliputi uji aktivitas penghambatan bakteri fitopatogen, uji potensi fiksasi N dan pelarut fosfat, serta uji penghasil IAA-like compound, sedangkan karakterisasi genetik dilakukan berdasarkan analisis sekuensing 16srRNA. Hasil penelitian yang diperoleh menunjukkan empat belas isolat terdeteksi menghasilkan IAA like compounds. Empat dari 29 isolat tidak berpotensi patogenik, yaitu isolat B63.8,B63.10, NSD 20, dan P 35. Isolat-isolat ini mampu memfiksasi nitrogen dan melarutkan fosfat. NSD 20 merupakan isolat yang paling potensial untuk dikembangkan sebagai kandidat biostimulan. Berdasarkan hasil karakterisasi genetik, isolat NSD 20 ini menunjukkan kemiripan tertinggi dengan Bacillus sp. Y14 (93,95%). Uji lanjut in planta di rumah kaca dan lapang diperlukanuntuk mengetahui kemampuan stimulasi pertumbuhan tanaman nilam oleh Bacillus sp. NSD 20.
Arrohmatus Syafaqoh Li'Aini, I Putu Agus Hendra Wibawa, I Nyoman Lugrayasa
Buletin Plasma Nutfah, Volume 27, pp 51-56; https://doi.org/10.21082/blpn.v27n1.2021.p51-56

Abstract:
Mimba merupakan tumbuhan daerah tropis dan subtropis yang telah banyak digunakan sebagai bahan obat tradisional sejak jaman prasejarah. Ekstrak mimba terbukti memiliki spektrum aktivitas biologi yang luas, antara lain antimikroba, antiinflamasi, dan antioksidan. Antioksidan merupakan senyawa kimia yang berfungsi untuk menghambat pembentukan radikal bebas. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui aktivitas antioksidan daun mimba yang diperoleh dari Desa Jagaraga, Kecamatan Sawan, Kabupaten Buleleng, Bali. Pada penelitian ini, aktivitas antioksidan daun mimba diuji melalui metode 1,1-Diphenyl-2-picrylhydrazyl radical (DPPH) dengan mengukur daya serap larutan menggunakan spektrofotometer pada panjang gelombang 516 nm. Konsentrasiekstrak daun mimba yang digunakan adalah 100, 200, 300, 400, 500, 600, dan 700 ppm. Hasil pengamatan menunjukkan bahwa konsentrasi ekstrak berbanding terbalik dengan nilai daya serap larutan. Rendahnya nilai daya serap larutan menunjukkan tingginya aktivitas antioksidan ekstrak daun mimba. Larutan DPPH yang ditambahkan dalam ekstrak daun mimba juga menyebabkanperubahan warna larutan. Hal tersebut menunjukkan bahwa semakin tinggi konsentrasi ekstrak, semakin tinggi pula aktivitas antioksidannya. Hasil analisis menunjukkan rerata nilai IC50 ekstrak daun mimba sebesar 51,74, sehingga dikategorikan memiliki aktivitas antioksidan kuat. Hasil karakterisasi ini merupakan informasi awal mendukung program sumber daya genetik lokal,khususnya di daerah Kabupaten Buleleng, Bali.
Elga Renjana, Muhamad Nikmatullah, Elok Rifqi Firdiana, Linda Wige Ningrum, Melisnawati H. Angio
Buletin Plasma Nutfah, Volume 27, pp 1-10; https://doi.org/10.21082/blpn.v27n1.2021.p1-10

Abstract:
Tumbuhan telah dikenal sebagai sumber obat alami yang dapat menyembuhkan berbagai macam penyakit karena mengandung senyawa metabolit sekunder dengan aktivitas biomedik. Tumbuhan paku merupakan kelompok tumbuhan tertua di bumi yang memiliki lebih dari 12.000 jenis. Tumbuhan paku mengandung senyawa metabolit sekunder yang berpotensi obat berdasarkanstudi etnobotani dan farmakologi. Sebanyak 20 suku dan 38 marga tumbuhan paku dikoleksi dan dikonservasi secara ex situ oleh Kebun Raya (KR) Purwodadi. Nephrolepis merupakan salah satu marga dari koleksi tumbuhan paku KR Purwodadi dengan jumlah spesimen paling banyak. Nephrolepis termasuk kelompok tumbuhan paku epifit atau setengah epifit yang daunnya tersusunmenyirip tunggal seperti pedang. Selama ini Nephrolepis hanya dikenal sebagai bahan sayuran dan tanaman hias oleh masyarakat. Namun belum ada informasi mengenai potensi obat dari koleksi Nephrolepis tersebut. Oleh karena itu, penelitian ini dilakukan untuk menginventarisasi dan mengarakterisasi potensi koleksi Nephrolepis di KR Purwodadi sebagai tanaman obat. Metode yangdigunakan pada penelitian ini adalah inventarisasi data dari Sistem Informasi Katalog Koleksi Tanaman (SIKATAN), pengamatan langsung di rumah kaca, dan studi etnomedisin dan fitokimia berdasarkan literatur. Berdasarkan hasil inventarisasi, telah diperoleh 36 spesimen yang termasuk dalam 6 jenis Nephrolepis. Spesimen tersebut memiliki potensi mengobati berbagai macam penyakit, baik yang telah dikenal dalam pengobatan tradisional maupun dari hasil penelitian. Koleksi Nephrolepis tersebut mengandung berbagai senyawa, seperti alkaloid, flavonoid, dan terpenoid yang memiliki aktivitas farmakologi, di antaranya antioksidan, antiinflamasi, antimikroba, antivirus, dan antikanker. Di samping itu, jenis N. cordifolia merupakan koleksi yang paling potensialsebagai obat karena bagian daun, rimpang, hingga umbinya memiliki aktivitas antiinflamasi, antimikroba, antikanker, antimalaria, dan antioksidan.
Muhamad Sabda, Rizki Dyah Astuti, Higa Afza
Buletin Plasma Nutfah, Volume 27, pp 29-42; https://doi.org/10.21082/blpn.v27n1.2021.p29-42

Abstract:
Sumber daya genetik (SDG) yang dapat teridentifikasi dengan baik berperan penting sebagai cadangan sumber genetik untuk perakitan varietas. Karakter morfologi ubi jalar dapat mendeskripsikan suatu aksesi dan tingkat kemiripannya terhadap aksesi lain, baik yang berasal dari suatu lokasi yang sama ataupun dari lokasi lain. Identifikasi kemiripan morfologi SDG dilakukan untuk meningkatkan efisiensi pengelolaan SDG. Penelitian ini bertujuan untuk memberikan informasi mengenai identifikasi tingkat kemiripan berdasarkankarakter morfologi plasma nutfah ubi jalar yang dikoleksi dan dikonservasi oleh Bank Gen Pertanian Balitbangtan. Penelitian ini dilaksanakan dengan melakukan karakterisasi dan analisis kemiripan menggunakan program NTSYSpc versi 2.02i dengan metode UPGMA fungsi SimQual terhadap 122 aksesi ubi jalar yang berasal dari enam wilayah daerah asal, yaitu Sumatra, Jawa Barat, JawaTimur, Nusa Tenggara Timur (NTT), Sulawesi, dan Papua. Hasil analisis menunjukkan terdapat kemiripan tertinggi (89%) aksesi ubi jalar asal NTT, di antaranya akesi Helung (IB00182) dengan Dimpong (IB00187), yang besar kemungkinan aksesi tersebut adalah duplikat yang berbeda nama. Tingkat kemiripan 83% ditemukan pada aksesi asal Papua, yang juga merupakan duplikat yaitu aksesi Sengkerengke (IB00335) dengan Koboak (IB00410); Wortel B (IB00459) dengan Helalekue (IB00448); dan Kulim (IB00442) dengan Boneng Karison (IB00444). Koleksi asal Jawa Barat, terindikasi duplikat dengan kemiripan 83% yaitu pada aksesi Unknown (IB01510), Unknown (IB01509), dan Unknown (IB01521). Tingkat kemiripan 78% terlihat pada aksesi ubi jalar asal Sulawesi, yaitu aksesi Ima-19 (IB01186) dengan Unknown (IB01388) dan Ubi Maraya-10 (IB01201) dengan Lambuya-3 (IB01272). Kemiripan 67% teridentifikasi pada aksesi asal Sumatra, yaitu Gowilada-4 (IB00679) dengan Unknown (IB00677). Sedangkan kemiripan 56% teridentifikasi pada koleksi Jawa Timur, yaitu aksesi Lokal Jatim (IB01409) dengan Lokal Jatim (IB01410). Hasil ini dapat mendukung sistem pengaturan yang lebih efektif, menghindari duplikasi koleksi ubi jalar di Bank Gen Pertanian Balitbangtan.
Baiq Farhatul Wahidah, , Sri Mulyani
Buletin Plasma Nutfah, Volume 27, pp 57-70; https://doi.org/10.21082/blpn.v27n1.2021.p57-70

Abstract:
The efforts of Bamboo conservation have been conducted by botanical gardens in Indonesia, including the Indrokilo Botanical Garden, Central Java. Scientific information regarding the bamboo collection of the Indrokilo Botanical Garden, however, is not yet available. This study aimed to determine the diversity of the species, as well as, to provide a synopsis and the similarity analysis of the bamboo species in the Indrokilo Botanical Garden. Exploration and collection of bamboo specimens have been carried out by the Indrokilo Botanical Garden. Processing and identification of the specimens were carried out at Herbarium Bogoriense. A total of 27 morphological characters were used for similarity analysis using the UPGMA method with Nei & Li similarity coefficients. The data were analyzed descriptively. There are seven species of bamboo in the Indrokilo Botanical Garden: Bambusa glaucophylla, B. lako, B. multiplex, B. vulgaris, Dendrocalamus sp., Guadua cf. angustifolia, and Schizostachyum sp. A synopsis of the bamboo species and their identification keys to the species were provided. Based on the similarity analysis, bamboo in the Indrokilo Botanical Garden consists of five groups at a similarity index of 70%. The diversity of bamboo species in the Indrokilo Botanical Garden is relatively low compared to some botanical gardens in Indonesia.
Endang Gati Lestari, Media Fitri Isma Nugraha, Rossa Yunita, Alfia Annur Aini Azizi
Buletin Plasma Nutfah, Volume 27, pp 11-20; https://doi.org/10.21082/blpn.v27n1.2021.p11-20

Abstract:
Tanaman Bacopa australis dan Alternanthera reineckii mempunyai nilai ekonomi cukup tinggi sebagai tanaman hias akuatik, sehingga berpotensi untuk dikembangkan. Pertumbuhan minimal merupakan teknik penyimpanan in vitro yang banyak digunakan dengan menggunakan senyawa penghambat tumbuh seperti paklobutrazol (PBZ), sisosel (CCC), ansimidol, serta komponen osmotik seperti sorbitol dan manitol. Teknik kultur in vitro mempunyai peran penting untuk penyimpanan biakan, karena biakan dapat disimpan sampai beberapa bulan tanpa harus dilakukan subkultur. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh zat penghambat paklobutrazol dan interaksinya dengan zat pengatur tumbuh benzil adenin (BA) untuk menghambat pertumbuhan biakan serta visual biakan selama penyimpanan. Bahan yang digunakan adalah tunas in vitro B. australis dan A. reineckii umur 4 bulan, media yang diuji adalah media dasar Murashige dan Skoog (MS) + PBZ (0,1, 0,3, 0,5, dan 0,7 mg/l) + BA (0 dan 0,1 mg/l). Penelitian dilaksanakan di Laboratorium Kultur Jaringan BB Biogen pada bulan Januari sampai Juli 2019. Hasil penelitian menunjukkan bahwa PBZ 0,1−0,7 mg/l dapat menghambat pertumbuhan tinggi tunas, jumlah tunas, jumlah akar, panjang akar, dan jumlah daun dari biakan in vitro B. australis dan A. reineckii demikian pula interaksinya dengan sitokinin BA 0,1 mg/l, yang membuat visual biakan tetap tegar sampai 6 bulan setelah tanam. Formula media yang diperoleh diharapkan dapat diaplikasikan untuk penyimpanan plasma nutfah tanaman akuatik yang sejenis.
Muhammad Azli Ritonga, Zidni Ilman Navia, Zulfan Arico, I Putu Gede P. Damayanto
Buletin Plasma Nutfah, Volume 26, pp 109-122; https://doi.org/10.21082/blpn.v26n2.2020.p109-122

Abstract:
Informasi keragaman jenis bambu di Kawasan Ekosistem Leuser, terutama di wilayah Kecamatan Tenggulun, Kabupaten Aceh Tamiang, Aceh belum terdokumentasi dengan baik. Tujuan penelitian ini adalah menyediakan informasi keragaman jenis bambu di Kecamatan Tenggulun, Kabupaten Aceh Tamiang, Aceh. Penelitian dilakukan menggunakan metode pengumpulan data taksonomi melalui kegiatan eksplorasi dengan menjelajahi lokasi penelitian di Kecamatan Tenggulun pada bulan Januari–Maret 2019. Selama eksplorasi, sampel material bambu dikoleksi untuk dibuatkan spesimen herbarium dan disimpan di Herbarium Bogoriense (BO). Data pendukung seperti titik koordinat, ketinggian, nama lokal, kegunaan, dan foto bambu yang masih segar juga didokumentasikan. Material bambu diidentifikasi berdasarkan literatur dan koleksi spesimen herbarium yang telah tersimpandi BO. Data dianalisis secara deskriptif dengan menjabarkan pertelaan dari setiap jenis bambu. Kunci identifikasi serta analisis hubungan kemiripan antarjenis bambu juga dilakukan. Sebanyak 29 karakter morfologi (vegetatif) dipilih untuk membentuk dendogram menggunakan metode UPGMA dengan bantuan program PAUP*. Terdapat delapan jenis bambu ditemukan di Kecamatan Tenggulun, yakni Bambusa heterostachya, B. multiplex, B. spinosa, B. vulgaris, Dendrocalamus asper, Gigantochloaapus, G. atter, dan Schizostachyum zollingeri). Dendogram menunjukkan bahwa semua anggota jenis Bambusa dan satu jenis Schizostachyum mengumpul dalam satu kelompok yang sama. Sementara itu, jenis Dendrocalamus dan Gigantochloa mengumpul dalam kelompok lainnya. Hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai data dasar penentuan kegiatan pengelolaan bambu di Kawasan Ekosistem Leuser.
Nur Rahmawati Wijaya, Tyas Friska Dewi
Buletin Plasma Nutfah, Volume 26, pp 145-156; https://doi.org/10.21082/blpn.v26n2.2020.p145-156

Abstract:
Penggunaan bahan alam sebagai obat tradisional telah lama digunakan oleh bangsa Indonesia dan diwariskan secara turun temurun, termasuk penggunaan pada perawatan sebelum dan setelah persalinan. Masyarakat Maluku masih memilih obat tradisional sebagai pilihan alternatif bahkan sebagai pilihan utama dalam penyembuhan saat nifas. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi spesies tanaman obat dan bagian spesifik tanaman yang paling banyak dimanfaatkan untuk perawatan sebelum dan setelah persalinan di Maluku Utara. Penelitian dilakukan bertahap dari tahun 2012 sampai 2017 dengan jumlah total titik pengamatan sebanyak 16 suku di Maluku Utara. Pengambilan data dan sampel dilakukan melalui wawancara kepada penyehattradisional (hattra), dengan mengikuti prosedur ethical clearance sebelumnya. Data tumbuhan yang diperoleh selanjutnya dilakukan identifikasi dan literatur review sedangkan variabel yang dianalisis meliputi: komposisi ramuan, nama penyakit, nama lokal, nama ilmiah tumbuhan obat, bagian yang digunakan, cara penyiapan ramuan, asal tumbuhan, dan kearifan lokal. Hasil penelitian diperoleh 68 tumbuhan obat, dari 31 famili yang berasal dari 12 suku di Maluku. Dari seluruh tanaman obat yang diperoleh, diidentifikasi 8 spesies yang digunakan untuk perawatan sebelum persalinan dan 59 spesies untuk perawatan setelahpersalinan. Tujuh spesies tumbuhan yang banyak digunakan masyarakat dalam ramuan perawatan sebelum dan setelah persalinan, yaitu Hibiscus rosa-sinensis L., Ipomoea pes-caprae (L.) R. Br., Morinda citrifolia L., Musa × paradisiaca L., Premna serratifolia L., Sesbania grandiflora (L.) Pers., dan Terminalia catappa L.
Puji Syara Anggia, Haris Maulana, Nono Carsono, Reginawanti Hindersah, Agung Karuniawan
Buletin Plasma Nutfah, Volume 26, pp 123-134; https://doi.org/10.21082/blpn.v26n2.2020.p123-134

Abstract:
Kacang hijau merupakan komoditas pangan legum yang penting di Indonesia dilihat dari segi agronomi, ekonomi, maupun gizi dan kesehatan, namun produktivitasnya masih rendah. Salah satu masalah pada komoditas ini adalah masih terbatasnya ketersediaan genotipe unggul sebagai tetua yang stabil pada dua musim tanam. Provinsi Maluku dan Nusa Tenggara Timur (NTT) memiliki berbagai macam keragaman aksesi kacang hijau lokal. Tujuan penelitian ini ialah mengetahui interaksi antara genotipe (aksesi lokal) dengan musim tanam serta memperoleh aksesi kacang hijau lokal asal Maluku dan NTT yang memiliki daya hasil tinggi pada dua musim tanam. Penelitian dilaksanakan pada musim hujan bulan Januari–Maret 2019 dan musim kemarau bulan Juli sampai Agustus 2019 di Kebun Percobaan Ciparanje, Fakultas Pertanian, Universitas Padjadjaran, Kabupaten Sumedang. Bahan uji yang digunakan dalam penelitian ini meliputi 26 aksesi kacang hijau lokal. Penelitian menggunakan rancangan acak kelompok dengan dua ulangan. Karakter yang diamati meliputi karakter panjang biji, diameter biji, jumlah biji per polong, dan bobot biji per plot. Interaksi genotipe dengan lingkungan (G×E) diestimasi menggunakan varians gabungan dari dua musim tanam. Stabilitas hasil pada dua musim tanam diestimasi menggunakan model stabilitas parametrik dan nonparametrik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa karakter panjang biji, diameter biji, jumlah biji per polong, dan bobot biji per plot dipengaruhi oleh G×E dengan kontribusi masing-masing sebesar 23,77, 21,3, 25,75, dan 31,57%. Delapan aksesi teridentifikasi memiliki hasil yang stabil dan berdaya hasil tinggi pada dua musim tanam, yaitu MB 1, MB 2, MB 6, MB 7, MB 9, MB 10, MB 12, dan MB 14. Aksesi-aksesi tersebut dapat direkomendasikan sebagai kacang hijau lokal yang berdaya hasil tinggi.
Back to Top Top