Jurnal Gizi dan Dietetik Indonesia (Indonesian Journal of Nutrition and Dietetics)

Journal Information
ISSN / EISSN : 2303-3045 / 2503-183X
Current Publisher: Alma Ata University Press (10.21927)
Total articles ≅ 128
Current Coverage
DOAJ
Archived in
SHERPA/ROMEO
Filter:

Latest articles in this journal

Muhammad Nur Hasan Syah, Rani Dian Miranti, Noerfitri Noerfitri, Andi Imam Arundhana Thahir
Jurnal Gizi dan Dietetik Indonesia (Indonesian Journal of Nutrition and Dietetics), Volume 8, pp 39-44; doi:10.21927/ijnd.2020.8(1).39-44

Abstract:
ABSTRAKLatar belakang: Prevalensi kelebihan berat badan dan obesitas pada remaja (13 - 15 tahun) meningkat secara signifi kan dari 7,3% pada 2013 menjadi 13,5% pada 2018. Ketersediaan restoran cepat saji yang semakin banyak, baik lokal maupun komersial, di sekitar sekolah semakin meningkatkan jumlah anak remaja usia sekolah yang terpapar makanan tidak sehat, terlebih bagi mereka yang tinggal di daerah perkotaan. Tujuan: Penelitian ini menguji dampak camilan lokal yang tersedia di sekolah terhadap kejadian obesitas pada remaja. Metode: Penelitian Ini menggunakan disain cross-sectional yang dilakukan di lima Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) di Bekasi, Indonesia. Sebanyak 225 siswa berusia 16-18 tahun diamati status gizi dan konsumsi makanan ringan mereka. Indeks massa tubuh menurut usia (IMT/U) digunakan untuk menentukan status obesitas remaja. Diklasifi kasikan sebagai obesitas apabila nilai z score > 2SD sesuai dengan usia dan jenis kelamin mereka, menggunakan grafi k referensi WHO 2007. Siswa ditanya tentang konsumsi makanan mereka menggunakan kuesioner frekuensi makan (FFQ) semi kuantitatif. Odds ratio (OR) dihitung untuk setiap jenis makanan ringan dan nilai p<0,05 sebagai nilai signifi kan secara statistik. Hasil: Temuan penelitian ini menunjukkan bahwa 32,4% siswa mengalami obesitas. Konsumsi makanan ringan lokal yang terkait dengan obesitas termasuk makanan berlemak (OR, 2.18; 95% CI, 0.68 - 7.01; p = 0.19), makanan manis (1OR, 1.28; 95% CI, 0.70 – 2.35)), dan makanan asin (OR, 1,04; 95% CI, 0,40 - 2,71; p = 0,92). Tiga makanan dan minuman lokal teratas yang dikonsumsi oleh para siswa adalah Cireng (makanan goreng lokal yang terbuat dari tepung), teh, dan pizza (masing-masing dengan frekuensi 0,561, 0,429, 0,245 /hari). Kesimpulan: Konsumsi makanan ringan lokal yang dijual di SMK di Kota Bekasi tidak memiliki hubungan yang signifi kan terhadapt kejadian obesitas.KATA KUNCI: kebiasaan mengemil; obesitas pada remaja; konsumsi makananABSTRACT Background: Prevalence of overweight and obesity in adolescents (13 – 15 years) significantly increased from 7.3% in 2013 to 13.5% in 2018. The availability of many fast-food restaurants, both local and commercial, nearby the school increases the number of young people exposed to unhealthy food, especially those living in urban areas. Objectives: This study examined the impact of local unhealthy snacks available in the school on adolescent obesity. Methods: This was a cross-sectional study conducted in the fi ve Secondary Vocational School in Bekasi, Indonesia. A total of 225 students aged 16-18 years were observed for their nutritional status and snack consumption. Body mass index for age indices was used to determine the obesity status of adolescents, classifi ed as obese (>2SD) with respect to their age and sex using 2007 WHO reference charts. Students were asked about their food consumption using a semi-quantitative questionnaire. Odds ratios (ORs) was calculated for each type of snacks and p<0.05 was considered statistically signifi cant. Results: Finding of this study shows that 32.4% of students were obese. The consumption of local snacks associated with obesity included fatty food (OR, 2.18; 95% CI, 0.68–7.01; p=0.19), sweet food (OR, 6.98; 95% CI, 3.00 – 16.25; p<0.001), and salty food (OR, 1.04; 95% CI, 0.40 – 2.71; p=0.92). The top three of local foods and beverages consumed by the students were Cireng (a local fried food made from starch), tea, and pizza (with frequency/day 0.561, 0.429, 0.245, respectively). Conclusion: Local snacks on sale in the vocational schools in Bekasi City was not signifi cant associated with obesity.KEYWORDS: snacking behavior; obesity in adolescence; food consumption
Niken Widyastuti Hariati, Rijanti Abdurrachim
Jurnal Gizi dan Dietetik Indonesia (Indonesian Journal of Nutrition and Dietetics), Volume 8, pp 45-53; doi:10.21927/ijnd.2020.8(1).45-53

Abstract:
ABSTRAKLatar belakang: Lansia merupakan kelompok usia yang sangat rentan menderita hipertensi atau tekanan darah tinggi. Selain dengan obat, tekanan darah bisa dikontrol dengan pengelolaan pola makan. Beberapa buah dan sayuran yang dipercaya dapat membantu menurunkan tekanan darah seperti semangka, mentimun, tomat, sawi hijau, papaya dan pisang Ambon. Kandungan yang berperan antara lain kandungan air, serat, kalsium, kalium dan magnesium. Tujuan: Penelitian ini bertujuan melihat efektifi tas formulasi jus sayur dan buah terhadap pengendalian tekanan darah pada lansia hipertensi. Metode: Metode penelitian secara Quasi Experiment dengan rancangan penelitian analisis varians satu arah berdasarkan Kruskal-Wallis dengan taraf signifi kan 5% (α = 0.05) dan tingkat kepercayaan 95%. Kelompok perlakuan diberikan intervensi berupa pemberian jus sayur dan buah dengan pengendalian standar makanan untuk menghasilkan standarisasi jus sayur dan buah yang efektif dalam pengendalian tekanan darah. Penelitian dilakukan di Panti Sosial Tresna Werdha Budi Sejahtera. Populasi penelitian adalah seluruh lansia hipertensi di Panti Tresna Werdha Budi Sejahtera sebanyak 108 orang dengan sampel penelitian menggunakan teknik purposive sampling sebanyak 81 orang dimana terdapat 27 kombinasi formula jus (9 kombinasi formula A, 9 kombinasi formula B, 9 kombinasi formula C). Pemberian tiap kombinasi diberi jeda satu hari dengan melihat perubahan tekanan darah 6 jam sebelum dan sesudah intervensi. Hasil: Hasil penelitian didapatkan formula jus sayur dan buah yang paling efektif dalam pengendalian tekanan darah sistolik lansia yaitu kelompok formula B31 (tomat, sawi dan semangka) dan B32 (tomat, sawi dan pisang ambon) dengan p= 0.046 atau tingkat kepercayaan >95%. Kesimpulan: Perlu dilakukan uji lebih lanjut dengan jumlah sampel yang lebih besar terhadap kedua formula jus sayur dan buah ini untuk melihat seberapa jauh efektifi tas penurunan tekanan darah yang dihasilkan. Hasil penelitian ini bisa menjadi bahan pertimbangan dalam pengaturan menu diet pada lansia dengan hipertensi.KATA KUNCI: hipertensi, jus buah, lansia, sayuranABSTRACTBackgrounds: The elderly is an age group that is very vulnerable to suffer from hypertension. In addition to drugs, blood pressure can also be controlled by managing diet. Some fruits and vegetables that are believed to reduce blood pressure are watermelons, cucumbers, tomatoes, mustard greens, papaya and Ambonese bananas. Ingredients that play a role include mineral potassium, calcium and magnesium. Objectives: This study aims to look at the effectiveness of vegetable and fruit juice formulations on controlling blood pressure in elderly hypertension. Methods: The research method is a Quasi Experiment with a one-way analysis of variance analysis design based on Kruskal-Wallis with a signifi cance level of 5% (α = 0.05) and a confidence level of 95%. The treatment group was given intervention in the form of giving vegetable and fruit juices by controlling food standards to produce an effective standardization of vegetable and fruit juices in controlling blood pressure. The study was conducted at Tresna Werdha Budi Sejahtera Social Home. The study population was all elderly hypertension at Tresna Werdha Budi Sejahtera Orphanage as many as 108 people with the study sample using purposive sampling techniques as many as 81 people where there were 27 juice formula combinations (9 combinations of formula A, 9 combinations of formula B, 9 combinations of formula C). Giving each combination given a pause one day to see changes in blood pressure 6 hours before and after the intervention. Results: The results showed that the most effective formulas of vegetable and fruit juices in controlling systolic blood pressure in the elderly were the formula group B31 (tomatoes, mustard greens and watermelons) and B32 (tomatoes, mustards and ambon bananas) with p = 0.046 or a confi dence level>95% (α=0,05). Conclusion: Further tests need to be carried out with a larger number of samples of these two vegetable and fruit juice formulas to see how far the effectiveness of blood pressure reduction is produced and the results of this study can be taken into consideration in the regulation of diet menus in the elderly with hypertension.KEYWORDS: elderly, fruit juices, hypertension, vegetable
Nor Eka Noviani, Bj Istiti Kandarina, Fatma Zuhrotun Nisa
Jurnal Gizi dan Dietetik Indonesia (Indonesian Journal of Nutrition and Dietetics), Volume 8, pp 22-29; doi:10.21927/ijnd.2020.8(1).22-29

Abstract:
ABSTRAKLatar Belakang: Ketahanan pangan adalah kondisi terpenuhinya pangan bagi negara sampai dengan perseorangan, yang tercermin dari tersedianya pangan yang cukup, baik jumlah maupun mutunya, aman, beragam, bergizi, merata, dan terjangkau serta tidak bertentangan dengan agama, keyakinan, dan budaya masyarakat, untuk dapat hidup sehat, aktif, dan produktif secara berkelanjutan. Ketika kondisi pangan bagi negara sampai dengan perorangan tidak terpenuhi, maka kondisi yang terjadi adalah tidak tahan pangan. Tidak tahan pangan berhubungan dengan penyakit kronis diabetes melitus tipe 2. Tujuan: Tujuan penelitian ini adalah untuk mengidentifi kasi ketahanan pangan dan faktor lain yang berhubungan dengan DM2 di Kulon Progo, Yogyakarta, Indonesia. Metode: Penelitian ini adalah penelitian obeservasi dengan desain case control, dimana kasus adalah pasien diabetes melitus tipe 2 yang terdaftar di 4 kecamatan di Kabupaten Kulon Progo. Sedangkan kontrol adalah subyek bukan penyandang DM2. Penentuan sampel menggunakan metode purposive yang kemudian dilakukan penyetaraan terhadap umur dan tempat tinggal. Uji statistik chi-square, Mc. Nemar dan regresi logistik dilakukan untuk mengidentifi kasi variabel yang merupakan faktor risiko. Hasil: Uji chi square menunjukkan bahwa riwayat keluarga memiliki hubungan yang bermakna dengan DM2 (p<0,05). Status tidak tahan pangan lebih banyak terjadi pada kelompok kontrol (79,36%). Banyak responden memiliki skor kualitas diet yang kurang yakni 60,32% di kedua kelompok. Banyak responden tidak mengalami obesitas (>50%). Obesitas sentral terjadi pada 65,08% kasus dan 52,38% kontrol. Uji Mc. Nemar menunjukkan tidak ada variabel yang signifi kan (p>0,05; OR >1). Obesitas sentral berisiko terjadinya DM2 sebesar 61%. Uji regresi logistik menyimpulkan bahwa riwayat keluarga memberikan kontribusi besar berkembangnya DM2. Kesimpulan: Ketahanan pangan rumah tangga bukan faktor risiko terjadinya DM2 di Kulon Progo. Obesitas sentral berpeluang terjadinya DM2. Faktor genetik sebagai faktor dominan terjadinya DM2 di Kulon Progo.KATA KUNCI: diabetes melitus tipe 2, ketahanan pangan; kualitas diet; obesitas; obesitas sentral; faktor risikoABSTRACTBackground: Food security refl ects a situation when individual at all times has physical, social, and economic access to suffi cient, diversifi ed, safe and nutrious food that meets their dietary needs, food preference and religious believes for an active and healthy life. When the condition of individual is not adequate, it will contribute to food insecurity. Food insecurity has association with chronic diseases like type 2 diabetic mellitus (DM2). Objectives: To identify whether food security and other cofactors being the risk of DM2 in Kulon Progo Regency, Yogyakarta, Indonesia.Methods: This is an observational study with case control design. The case group was diabetic patients registered in Community Health Center in 4 subdistrics in Kulon Progo Regency whereas the control group was non diabetic patients. Respondents were selected purposively in accordance with inclusive and exclusive criterion, equivalently matching with age, gender and neighborhood. Chi square test, Mc. Nemar and logistic regression were used to identify risk factor. Results: The characteristic of two group revealed that family history had signifi cant association in development of DM2 (p<0.05). Food insecurity more commonly occured in control group (79.36%). Low quality diet was faced by the two group. Half of them had no obesity. Based on Mc. Nemar no variables statistically became risk factor of diabetic mellitus type 2 (p>0.05). But central obesity can be risk for DM. Genetic factor contributed to be DM2. Conclusion: Food security was not risk factor of developing DM2. Central obesity might be the risk of DM2. Parent history was the dominant factor of DM2.KEYWORDS: diabetic mellitus, food security; quality diet; obesity; risk factor
Tri Siswati, Trynke Hookstra, Hari Kusnanto
Jurnal Gizi dan Dietetik Indonesia (Indonesian Journal of Nutrition and Dietetics), Volume 8, pp 1-8; doi:10.21927/ijnd.2020.8(1).1-8

Abstract:
ABSTRAKLatar Belakang: Stunting adalah malnutrisi kronis yang dapat terjadi pada semua balita termasuk balita di daerah perkotaan. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor risiko stunting pada anak-anak 0-59 bulan di perkotaan di Indonesia.Metode: Penelitian ini merupakan penelitian cross sectional dengan menggunakan data sekunder berdasarkan Riskesdas tahun 2013. Sampel berjumlah 13.248 anak usia 0-59 bulan dari 33 provinsi, yang tinggal di daerah perkotaan, lahir tunggal (37 minggu), usia ≥37 minggu kehamilan, skor TB/U -5,99 hingga TB/U 5,99 SD, dan data yang diobservasi lengkap. Variabel bebas adalah karakteristik anak (usia, jenis kelamin, berat dan panjang lahir); dan karakteristik rumah tangga (usia orang tua, tinggi badan orang tua, pendidikan, pekerjaan, tingkat ekonomi), sedangkan variabel terikat adalah stunting. Analisis dilakukan dengan regresi logistik multivariat menggunakan Stata13.Hasil: Faktor yang berhubungan dengan terjadinya stunting balita di perkotaan adalah BBLR (AOR 1,2 CI 95% 1,09-1,32); dan bayi lahir pendek (AOR 1,16 CI95%: 1,99-1,23) dan karakteristik rumah tangga seperti ayah pendek (AOR 1,24, CI95% 1,18-1,31); ibu pendek (AOR 1,23, CI95% 1,17-1,29); ibu berpendidikan rendah (AOR 1,14, CI 95% 1,02-1,23); ayah berpendidikan rendah (AOR 1,13, CI95% 1,02-1,23), dan tingkat ekonomi menengah dan rendah (AOR 1,12, CI 95% 1,06-1,19; AOR 1,24, CI95% 1,15-1,33). Kesimpulan: Faktor yang berhubungan dengan stunting balita di perkotaan adalah BBLR dan tinggi badan orang tua.KATA KUNCI: balita; determinan; Indonesia; perkotaan; stuntingABSTRACTBackground:Childhood stunting is a form of chronic malnutrition, including among children in the urban area.Objectives: This research was to determine the risk factors of 0-59 months stunting children in urban Indonesia.Methods: This was a cross sectional study using secondary data based Indonesia’s Basic Health Research 2013. Samples were a total of 13,248 children aged 0-59 months from 33 provinces, urban residency, singleton, ≥37 weeks gestation, and HAZ score -5.99 to 5.99 SD. Independent variables were children characteristics (age, sex, size of birth); and household characteristics (parental age, high, education, employment, economic level), while the dependent variable was stunting. Multivariate logistic regression analysis was performed using Stata 13.Results: Children characteristics such as low birth weight (AOR 1.2 CI 95% 1.09-1.32); and short newborn length (AOR 1.16 CI95%:1.99-1.23) and stature father (AOR 1.24, CI95% 1.18-1.31) and mother (AOR 1.23, CI95% 1.17-1.29); maternal low education (AOR 1.14, CI 95% 1.02-1.23); paternal low education(AOR 1.13, CI95% 1.02-1.23), low middle economic level (AOR 1.12, CI 95% 1.06-1.19; AOR 1.24, CI95% 1.15-1.33) were factors associated with urban stunting children.Conclusion: Low birth weight and short stature were dominant factors associated with stunting children in Indonesian urban areas.KEYWORDS: children, determinant, Indonesian, urban, stunting
Waisaktini Maragareth, Eviyani Margaretha Manungkalit, Nia Kurniati, Utih Arupah
Jurnal Gizi dan Dietetik Indonesia (Indonesian Journal of Nutrition and Dietetics), Volume 8, pp 30-38; doi:10.21927/ijnd.2020.8(1).30-38

Abstract:
ABSTRAKLatar Belakang: HIV adalah masalah kesehatan yang signifi kan di Indonesia. satu kota di DKI Jakarta yang memiliki perkiraan jumlah kasus HIV tertinggi yang ditularkan melalui pria ke wanita. Beberapa penelitian menyatakan bahwa anak-anak dengan HIV memiliki asupan energi dan protein yang kurang, dan anemia. Oleh karena itu, pentingnya meningkatkan pengetahuan gizi seimbang pada orangtua yang memiliki anak HIV sehingga adanya peningkatan perilaku yang baik terhadap asupan makanan pada anaknya.Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh pemberian pedoman nutrisi seimbang pada asupan gizi (energi dan protein) dan kadar hemoglobin pada anak-anak HIV Metode: Desain penelitian adalah studi pra-eksperimental desain One Group Pre-Post Test. Penelitian ini adalah desain pre-post test kelompok kontrol non acak. Penelitian dilakukan di RSUPN dr Cipto Mangunkusumo dari Agustus hingga Oktober 2019. Sampel diambil secara purposive dengan kriteria inklusi dan eksklusi. Data dianalisis dengan menggunakan paired t-test.Hasil: Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada perbedaan yang signifi kan antara asupan energi rata-rata sebelum konseling dan setelah konseling (p = 0,013) tetapi tidak ada perbedaan yang signifi kan antara asupan protein rata-rata sebelum dan sesudah konseling (p = 0,934). Ada perbedaan yang signifi kan antara level Hb sebelum dan setelah konseling (p = 0,000).Kesimpulan: Ada pengaruh konseling gizi terhadap asupan energi tetapi tidak ada pengaruh terhadap kadar HbKATA KUNCI: energi; protein; Hb; HIV; anakABSTRACTBackground: HIV is a signifi cant health problem in Indonesia. There were an estimated 242.699 persons living with HIV. Central Jakarta is one of the cities in DKI Jakarta that has the highest estimated number of HIV cases transmitted through men to women. Thus means that there is a possibility that the number of HIV children in Central Jakarta wil also increase. Some studies suggest that children with HIV have less energy and protein intake, and anemia. Because of this, the importance of increasing the knowledge of balanced nutrition in parents who have HIV children so that there is an increase in good behavior towards food intake in children. Objectives: The study aimed to analyze the effect of providing balanced nutrition guidelines on nutritional intake (energy and protein) and hemoglobin levels in HIV children. Methods: The research design was a pre-expreimental study of the One Group Pre-Post Test design. study was experimental non randomized control group pre-post test design. The study was carried out at RSUPN dr Cipto Mangunkusumo from August to October 2019. The sample were taken purposively with inclusion and exclusion criteria. Data were analyzed by using paired t-test.Results:The results showed that there was a signifi cant difference between the mean energy intake before counseling and after counseling (p = 0.013) but there was no signifi cant difference between the average protein intake before and after counseling (p = 0.934). There was a signifi cant difference between the level Hb before and atter counseling (p = 0.000).Conclusions: The provision of counseling on nutrition guidelines provide a signifi cant difference between the average energy intake and the levels of Hb.KEYWORDS: energy; protein; Hb; HIV; children
Nuryani Nuryani, Yeni Paramata
Jurnal Gizi dan Dietetik Indonesia (Indonesian Journal of Nutrition and Dietetics), Volume 8, pp 9-21; doi:10.21927/ijnd.2020.8(1).9-21

Abstract:
ABSTRAKLatar Belakang: Remaja merupakan kelompok usia yang rentang mengalami malnutrisi baik gizi lebih maupun gizi kurang yang disebabkan oleh pertumbuhan fi sik yang cepat, perubahan hormonal untuk system reproduksi dan perubahan psikosial. Tujuan: Tujuan penelitian ini untuk mengkaji sejumlah faktor yang mempengaruhi kejadian malnutrisi pada remaja. Metode: Desain penelitian cross sectional study yang diselenggarakan di MTS Negeri Model 1 Limboto. Pengambilan sampel menggunakan tekhnik accidental sampling sejumlah 251 remaja. Variabel penelitian berupa status gizi remaja, status sosial ekonomi, pengetahuan, sikap dan perilaku gizi pada remaja. Analisis hubungan antara variabel menggunakan uji chi square test dengan nilai α = 0.05. Hasil: Hasil penelitian menunjukkan sebanyak 10,0% remaja mengalami stunting, 23,5% remaja mengalami obesitas, 72,5% pengetahuan gizi kurang, 41,8% sikap gizi seimbang negative dan 45,4% perilaku gizi seimbang yang tidak baik. Analisis uji chi square menunjukkan pendidikan ayah berhubungan dengan kejadian stunting pada remaja (p = 0,001), namun analisis hubungan social ekonomi dengan kejadian stunting dan obesitas remaja berturut – turut pendidikan ibu (p=0,051 dan p=0,647), pekerjaan ibu (p = 0,385 dan p = 0,206), pendapatan keluarga (p = 1,000 dan p=0,061), riwayat pengasuhan (p = 0,496 dan p = 0,525), jumlah saudara (p = 0,131 dan p = 0,903), jenis kelamin (p = 0,298 dan p = 1,000), pengetahuan (p = 0,767 dan p = 0,447), sikap (p = 0,656 dan p = 0,805) dan perilaku gizi (p = 1,000 dan p = 0,268) tidak berhubungan dengan kejadian stunting dan obesitas pada remaja. Kesimpulan: faktor social ekonomi yakni pendidikan ayah berhubungan signifi kan dengan kejadian stunting pada remaja.KATA KUNCI: malnutrisi, pengetahuan, perilaku, sikap, sosialekonomiABSTRACTBackgrounds: Adolescents are an age group that vulnerable experiencing of malnutrition both over nutrition and undernutrition caused by rapid physical growth, hormonal changes to the reproductive system and psychosocial changes. Objectives: The purpose of this study was to examine the socioeconomic factors that infl uenced the incidence of malnutrition in adolescents. Methods: The design study was cross sectional study conducted in MTS Model 1 Limboto State. Sampling was used an accidental sampling technique with 251 adolescents. Research variables were included nutritional status, socioeconomic status, knowledge, attitudes, and nutritional behavior. Analysis of the association between variables using the chi square test with a value α = 0.05. The results showed as many as 10.0% of adolescents were stunted, 23.5% of adolescents were obese, 72.5% low nutritional knowledge, 41.8% negative balanced nutrition attitudes and 45.4% poor balanced nutrition behavior. Analysis chi square test was showed the father education related to the incidence of stunting in adolescents (p = 0.001) , but analysis of social economy with the incidence of stunting and obesity in adolescent respectively maternal education (p = 0.051 and p=0.647), mother occupation (p = 0.385 and p = 0.206), family income (p = 1,000 and p = 0.061), caregivers (p = 0.496 and p = 0.525), number of siblings (p = 0.131 and p = 0.903), gender (p = 0.298 and p = 1,000), nutrition knowledge (p = 0.767 and p = 0.447), attitudes (p = 0.656 and p = 0.805) and nutrition behavior (p = 1,000 and p = 0.268) were not related to the incidence of stunting and obesity in adolescents. Conclusion: It was concluded that socioeconomic factors namely father education were signifi cantly related to the incidence of stunting in adolescents.KEYWORDS: attitude, behavior, knowledge, malnutrition, social economy
Rahma Micho Widyanto, Rifanty Meydiana Rachmawati Putri, Fuadiyah Nila Kurniasari, Yunimar Yunimar, Budi Utomo
Jurnal Gizi dan Dietetik Indonesia (Indonesian Journal of Nutrition and Dietetics), Volume 7, pp 51-57; doi:10.21927/ijnd.2019.7(2).51-57

Abstract:
ABSTRAKLatar belakang: Kanker serviks merupakan penyakit yang menduduki posisi kedua penyebab kematian pada wanita. Berbagai terapi pendukung mulai dikembangkan, seperti melalui bahan makanan yang dipercaya memiliki efek anti-kanker. Buah sirsak disebut memiliki kandungan fitokimia seperti Annonaceous acetogenin, flavonoid dan fenol yang bermanfaat sebagai anti-kanker. Tujuan: Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui potensi anti-oksidan dan sitotoksisitas dari sari buah sirsak pada sel HeLa secara in vitro. Metode: Penelitian ini dilakukan dengan membuat sari buah sirsak dengan cara diblender kemudian dikeringkan dengan metode freeze-drying, yang kemudian dilanjutkan dengan uji 2,2-diphenyl-1-picrylhydrazyl (DPPH) untuk mengetahui potensi penghambatan radikal bebas, dan potensi sitotoksisitas melalui uji MTT (3-(4,5-dimetiltiazol-2-il)-2,5-difenitetrazolium bromide) assay pada sel kanker serviks HeLa. Hasil: Hasil uji aktivitas anti-oksidan menunjukkan persamaan regresi linier (y=0,0149x – 2,8812) dan nilai perhitungan IC50 sari buah sirsak sebesar 3549 μg/mL dan hasil uji sitotoksisitas menunjukkan persamaan regresi linier (y=0,0197x + 0,3101) dan nilai perhitungan IC50 sari buah sirsak pada sel HeLa sebesar 2522,33 μg/mL.Kesimpulan: Sari buah sirsak memiliki aktivitas anti-oksidan yang sangat rendah dan tidak berpotensi sebagai anti-kanker terhadap sel HeLa secara in vitro. KATA KUNCI : Annona muricata Linn, anti-oksidan, kanker, sitotoksisitas ABSTRACTBackground: Cervical cancer is the second leading cause of death in women. Various supporting therapies have been developed, such as through food ingredients which are believed to have anti-cancer effects. Soursop is known to be high phytochemical content such as Annonaceous acetogenin, flavonoid and phenols which are useful as anti-cancer. Objectives: This research was conducted to determine the antioxidant and cytotoxic activity of soursop juice on HeLa cell lines.Methods: This study started by making the soursop fruit extract by blending then dried with freeze-drying method, and then proceed with 2.2-diphenyl-1-picrylhydrazyl (DPPH) assay to determine the potential free radical scavenging activity, cytotoxic potential activity in vitro through MTT (3-(4,5-dimethylthiazol-2-il)-2,5-difenitetrazolium bromide) assay on HeLa cell lines.Results: The IC50 antioxidant activity of soursop fruit extract is 3549 μg/mL with linear regression equation (y=0.0149x – 2.8812) and the IC50 cytotoxicity test of soursop fruit extracton HeLa was 2522,33 μg/mL with linier regression equation (y=0.0197x + 0.3101). Conclusion: The conclusion in this study is that soursop fruit extract has very low antioxidant activity and has no in vitro potential effect as an anti-cancer on HeLa cell lines. KEYWORDS : Annona muricata Linn, antioxidant, cancer, cytotoxic
Mustakim Mustakim, Kusharisupeni Djokosujono
Jurnal Gizi dan Dietetik Indonesia (Indonesian Journal of Nutrition and Dietetics), Volume 7, pp 41-50; doi:10.21927/ijnd.2019.7(2).41-50

Abstract:
ABSTRAK Latar Belakang: Kelompok lanjut usia mengalami perkembangan yang pesat di masa mendatang. Kebugaran menjadi salah satu prediktor dalam menentukan kesakitan dan kematian pada kelompok lansia.Tujuan: Penelitian ini memiliki tujuan untuk membahas karakteristik, komposisi tubuh, gaya hidup dan asupan gizi dengan kebugaran yang diukur melalui serangkaian tes kebugaran pada wanita pralansia di Kecamatan Pancoran Mas kota Depok.Metode: Penelitian menggunakan desain studi cross-sectional dan dilakukan pada 134 orang wanita pralansia di Kecamatan Pancoran Mas kota Depok.Hasil: Hasil penelitian menunjukkan bahwa 72,4 persen wanita pralansia berada pada kondisi tidak bugar. Variabel paling berhubungan dengan kebugaran adalah aktivitas fisik setelah dikontrol dengan IMT, persen lemak tubuh, status merokok dan asupan vitamin B12.Kesimpulan: Akivitas fisik merupakan faktor paling berpengaruh terhadap kebugaran non kardiorespiratori pada wanita pralansia. Oleh karena itu, wanita pralansia wajib menjaga aktivitas fisiknya secara rutin melalui jalan kaki, senam ataupun kegiatan fisik lainnya.KATA KUNCI: wanita pra lansia, kebugaran non kardiorespiratori, aktivitas fisik ABSTRACTBackgrounds: Fitness was found as an indicator of morbidity and mortality to the elderly. A person who have low physical fitness level is often associated with a lack of regular physical activities and causes of degenerative diseases and premature death. Besides, fitness will have an inluenfce to his body composition (reduced fat levels in the abdomen), increase lipid profile (reduced triglyceride levels, increased HDL), reduce LDL, and reduce blood pressure.Objectives: This study focused on the physical fitness of middle-aged women in Pancoran Mas, Depok. The purpose of this study was to look at the relationship between lifestyle, body composition and nutritional intake and physical fitness. In addition, this study also determined the dominant factor related to physical fitness.Methods: This study used a cross-sectional design and the data were collected from 134 middle-aged women. Physical Fitness was measured by fitness test using handgrip test, sit and reach test, and chair sit and stand the test. Data on body composition will be collected through a series of anthropometric measurements. Meanwhile, nutrition intake was collected using an interview questionnaire on a 2-day 24-hour dietary recall and lifestyle were collected by using Physical Activity Scele for Elderly (PASE Questionnaire).Results: The result showed that 72.4 percent of respondents had a low category level condition. This study showed that there is a significant relationship between physical activities and non-cardiorespiratory fitness in middle-aged women. The dominant factor related to determining fitness was physical activities with OR 2.382 after being measured by a percentage of body fat, body mass index (BMI), smoking status and vitamin B12 intake.Conclusions: The most influential variable was physical activities after adjusted by BMI (Body Mass Index), the percentage of body fat, smoking status, and vitamin B12 intake.middle aged women should keep their physical activity in active level. They can use walking or aerobic dance to maintain their physical activity.KEYWORDS: Middle-aged women; non-cardiorespiratory fitness; physical activity
Pramesti Retno Hapsari, Retno Pangastuti, Fery Lusviana Widiany
Jurnal Gizi dan Dietetik Indonesia (Indonesian Journal of Nutrition and Dietetics), Volume 7, pp 58-64; doi:10.21927/ijnd.2019.7(2).58-64

Abstract:
ABSTRAKLatar belakang: Asuhan gizi rumah sakit diberikan kepada pasien berdasarkan hasil asesmen, termasuk kondisi klinis. Salah satu faktor yang mendukung kepatuhan diet pasien di rumah sakit adalah edukasi gizi. Stiker pesan diet dapat digunakan sebagai alat bantu untuk pemberian edukasi terhadap pasien. Tujuan: Untuk menganalisis pengaruh pemberian stiker pesan diet terhadap sisa makanan pasien rawat inap. Metode: Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental dengan desain perbandingan kelompok statis. Sebanyak 220 responden diambil secara acak, dibagi menjadi kelompok kontrol (tanpa stiker diet) dan kelompok intervensi (diberi diet stiker). Stiker pesan diet diberikan kepada kelompok intervensi selama 1 hari dalam siklus menu ke-8. Stiker pesan diet ditempelkan di plato dan materinya disesuaikan dengan diet yang diberikan oleh ahli gizi rumah sakit. Sisa makanan diketahui menggunakan metode Visual Comstock berskala 6 poin. Data dianalisis univariat dan bivariat menggunakan uji-T independen. Hasil: Rata-rata sisa makanan pada kelompok intervensi berdasarkan masing-masing komponen makanan adalah 28,62 ± 28,62% pada buah, 23,24 ± 23,24% pada sayuran, 22,38 ± 20,87% pada makanan pokok, 22,30 ± 22,69% pada lauk nabati, dan 20,75 ± 22,38% pada lauk hewani. Sedangkan rata-rata sisa makanan pada kelompok kontrol adalah 44,89 ± 44,89% pada buah, 33,32 ± 33,32% pada sayuran, 39,83 ± 29,33% pada makanan pokok, 31,67 ± 31,67% pada lauk nabati, dan 36,20 ± 31,76% pada lauk hewani. Hasil uji-T independen untuk menganalisis pengaruh pemberian stiker diet terhadap sisa makanan menunjukkan nilai p=0,000 (p<0,05) untuk semua kelompok komponen makanan. Kesimpulan: Modifikasi konseling gizi dengan menggunakan stiker pesan diet berpengaruh terhadap sisa makanan pasien rawat inap. KATA KUNCI: intervensi gizi, metode visual Comstock, pasien rawat inap, sisa makanan, stiker pesan diet ABSTRACTBackground: Nutrition care in hospital was provided to the patient based on nutritional assessment result, including clinical state. One of the factors supporting the dietary compliance of inpatients is a nutritional education. Diet message sticker could be used as a tool to educate patients. Objective: To analyze the effect of diet message sticker on food waste of inpatients. Methods: This was an experimental study with static group comparison design. As many as 220 respondents were randomly divided into control group (without diet sticker) and intervention group (given sticker diet). Diet message stickers were given to the intervention group for 1 day in the 8th menu cycle. Diet message sticker was attached on the plateau and the material was adjusted to the diet provided by the dietitian. Food waste was obtained by the Visual Comstock method with 6 point scale. Data was analyzed univariate and bivariate using independent T-test. Results: The average food waste in the intervention group which based on each food component were 28.62±28.62% in fruit, 23.24 ± 23.24% in vegetable, 22.38 ± 20.87% in staple food, 22.30 ± 22.69% in vegetable side dish, and 20.75 ± 22.38% in animal side dish respectively. While the average food waste in the control group were 44.89 ± 44.89% in fruit, 33.32 ± 33.32% in vegetable, 39.83 ± 29.33% in staple food, 31.67 ± 31.67% in vegetable side dish, and 36.20 ± 31.76% in animal side dish respectively. The result of the independent T-test to analyze the effect of applying diet message stickers to food waste showed p-value=0.000 (p<0.05) for all food component groups. Conclusion: Modification of nutritional counseling by using diet message sticker affects on food waste of inpatients. KEYWORDS: diet message sticker; dietary intervention; food waste; inpatient; visual comstock method.
Eka Nurhayati, Sandra Fikawati
Jurnal Gizi dan Dietetik Indonesia (Indonesian Journal of Nutrition and Dietetics), Volume 7, pp 65-73; doi:10.21927/ijnd.2019.7(2).65-73

Abstract:
ABSTRAK Latar Belakang: Persepsi Ketidakcukupan ASI (PKA) adalah pikiran atau perasaan ibu terhadap kondisi ketiadaan atau berkurangnya produksi ASI sehingga ibu merasa bahwa ASI-nya tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan bayinya. PKA menjadi alasan utama ibu berhenti menyusui secara dini dan alasan untuk memberikan makanan tambahan lebih awal pada bayinya. Prevalensi PKA belum diketahui secara pasti, diperkirakan antara 30-80% dari ibu yang menyusui mempunyai PKA. Tujuan : untuk mengetahui faktor paling dominan dalam PKA.Metode: Desain penelitian ini menggunakan Cross Sectional. Jumlah sampel dalam penelitian ini sebanyak 71 sampel ibu yang memiliki bayi 0-6 bulan yang gagal menyusui secara eksklusif dikarenakan mengalami PKA. Hasil: Hasil analisis didapatkan sebanyak 59 (83,1%) ibu memiliki PKA dengan ASI yang cukup. Ada hubungan yang bermakna konseling ASI saat Antenatal Care (ANC) dengan PKA yang mempunyai ASI cukup, ibu yang tidak mendapatkan konseling saat ANC berpeluang 19,7 kali mempunyai PKA, p=0,012; OR=19,746 (CI 95% 1,926-202,456). Kesimpulan: Konseling ASI pada saat ANC yang berkualitas merupakan hal yang sangat penting dilaksanakan oleh petugas kesehatan untuk persiapan menyusui. Pemanfaatan “Temu wicara” dalam konsep 10 T dalam ANC perlu diefektifkan untuk membahas persiapan laktasi. KATA KUNCI: persepsi ketidakcukupan ASI, konseling ASI ABSTRACTBackground: Perceptions of Insufficient Milk Supply (PIM) is the mother's thoughts or feelings about the condition of the absence or reduction in milk production. She felt that her breast milk is not enough to satisfy the needs of the baby. PIM was the main reason mothers stop breastfeeding early and a reason to give extra food early on the baby. Prevalence of PIM is not certain, it is estimated between 30-80% of breastfeeding mothers has PIM. Objectives: This study aimed to find out the most dominant factors related to PIM.Methods: Design of this study using cross-sectional. The numbers of samples in this study were 71 samples of mothers with babies’ 0-6 months exclusive breastfeeding failure due to experiencing PIM. Results: Found as many as 59 (83.1%) mothers had PIM with enough milk. There is a significant correlation counseling exclusive breastfeeding during Antenatal Care (ANC) by PIM that has enough milk, mothers who did not receive counseling when the ANC likely to have 19.7 times PIM, p = 0.012; OR = 19.746 (95% CI 1.926 to 202.456). Conclusion: Exclusive Breastfeeding counseling during ANC quality does health personnel in preparation for breastfeeding implement a very important thing. Utilization of “Gathering of speech” in the concept of 10 T in the ANC should be effected to discuss preparation for lactation. KEYWORDS: exclusive breastfeeding, perceptions of insufficient milk supply
Back to Top Top