Jurnal Gizi dan Dietetik Indonesia (Indonesian Journal of Nutrition and Dietetics)

Journal Information
ISSN / EISSN : 23033045 / 2503183X
Current Publisher: Alma Ata University Press (10.21927)
Total articles ≅ 108
Current Coverage
DOAJ
Archived in
SHERPA/ROMEO
Filter:

Latest articles in this journal

Wahyuningsih Wahyuningsih, Nimas Arum Setyaningtyas
Jurnal Gizi dan Dietetik Indonesia (Indonesian Journal of Nutrition and Dietetics), Volume 6; doi:10.21927/ijnd.2018.6(2).58-63

Abstract:ABSTRAKLatar belakang: Menarche adalah periode menstruasi pertama pada seseorang yang terjadi sekitar usia 11-13 tahun. Rata-rata usia menarche kini menurun mendekati usia normal. Hal ini disebabkan oleh beberapa faktor seperti, menarche ibu, aktivitas olahraga, paparan media massa dewasa, status gizi, dan pendapatan orang tua. Ini akan berdampak pada kehidupan selanjutnya.Tujuan: Untuk mengetahui faktor-faktor dominan yang berhubungan dengan usia menarche pada remaja putri di SMPN 01 Jumapolo Kabupaten Karanganyar tahun 2016.Metode: Jenis penelitian yang digunakan adalah metode penelitian kuantitatif dengan pendekatan cross sectional, dengan 97 remaja putri sebagai sampel menggunakan teknik total sampling. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner dan dianalisis menggunakan uji korelasi rank spearman dan uji regresi linier.Hasil: Penelitian ini menunjukkan bahwa ada hubungan antara usia menarche remaja putri dan status gizi (BMI) (p-value 0,032) dan usia menarche remaja putri dan dengan pendapatan orang tua (p-value 0,018) .Usia menarche ibu, kebiasaan olahraga dan frekuensi menonton program favorit tidak memiliki hubungan dengan usia menarche remaja perempuan. Analisis multivariat menunjukkan bahwa faktor status gizi (BMI) merupakan faktor yang paling dominan terkait dengan kekuatan hubungan (B) -0,94.Kesimpulan: Status gizi merupakan faktor yang paling dominan yang terkait dengan usia menarke, oleh karena itu diharapkan dapat memberikan pendidikan kesehatan bagi remaja putri untuk meningkatkan gizi pada rentang usia 9-13 tahun.KATA KUNCI: usia menarche, status nutrisi, remajaABSTRACTBackground: Menarche is the first period of menstruation in a person occuring around the age of 11-13 years.The average age of menarche is now decreasing approaching normal age. This is due to several factors such as, maternal menarche, sports activity, adult mass media exposure, nutritional status, andparent income. This will have an impact on the next life. Objectives:To determine the dominant factors associated with the age of enarche in female teenager in SMPN 01 JumapoloKaranganyarRegency in 2016.Methods: The type of research used was quantitative study method with cross sectional approach, with 97 female teenagers as samples using total sampling technique.Data were collected using questionnaire and analyzed using Spearman rank correlation test and linear regression test. Results:This research showed that there is a relationship between age of menarche of female teenagers and nutritional status (BMI) (p-value 0.032) and age of menarche of female teenagers and with parent income (p-value 0,018).The age of maternal menarche, exercise habits and frequency of favourite programme watching has no relationship with the age of menarche of female teenagers. Multivariate analysis showed that nutritional status factor (BMI) was the most dominant factor related to strength of relationship (B) -0.94. Conclusion: Nutrition status is the most dominant factor associated...
Chori Elsera
Jurnal Gizi dan Dietetik Indonesia (Indonesian Journal of Nutrition and Dietetics), Volume 6; doi:10.21927/ijnd.2018.6(2).76-82

Abstract:Background: The infant mortality rate in Indonesia is still very high at around 32 per 1,000 live births. This number is still very far from the MDGs by 2015 that is 23 per 1,000 live births. Indonesia ranks 10 out of 18 countries in ASEAN. Coverage of exclusive breastfeeding in Indonesia is still low and decreasing every year. It is inversely proportional to the scope of neonates visits to 90% more. Activities carried out during the visit of neonates among other vital signs checks, counseling and exclusive breastfeeding infant care, vaccination, treatment and referral of cases.Objectives: To determine the influence of neonatal visits to exclusive breastfeeding, evaluate the relationship of education, knowledge, work, place and birth attendants, gestational age and birth weight, family support exclusive breastfeeding.Methods: An observational study and case-control design were used with a quantitative approach. The samples in this study were mothers with babies aged 6 to 9 months at the time of the study that met the inclusion criteria. The total sample were 158 respondents, that were divided into 2 groups, 79 in the case group and 79 in the control group. The sampling technique with simple random sampling. Data was collected by was conducted interviews with questionnaires and secondary data. Analysis of the data used univariate analysis with frequency distribution table, with Chi-square bivariate and multivariate logistic regression.Results: The result of this study showed 76.6% of respondents were worker, 90.5%, 63.95 had higher education history. There was a significant relationship between neonatal visit with exclusive breastfeeding with p = 0.026 (OR 0.488, 95% CI 0.259 to 0.92). External variables that most influence on exclusive breastfeeding was working with a value of p = 0.016 (OR 2.878, 95% CI 1.217 to 6.805).Conclusions: Visits neonates influencedexclusive breastfeeding in Klaten. Employment is the most influential factor for exclusive breastfeeding.KEYWORDS: exclusive breastfeeding, neonates, visits neonates
Eva Nurinda, Hamam Hadi, Anggun Putri Lestari
Jurnal Gizi dan Dietetik Indonesia (Indonesian Journal of Nutrition and Dietetics), Volume 6; doi:10.21927/ijnd.2018.6(2).64-69

Abstract:ABSTRAKLatar belakang: Hiperkolesterolemia merupakan komplikasi pada DM yang ditandai dengan meningkatnya kadar kolesterol total. Prevalensi hiperkolesterolemia pada DM mencapai 20%-90%. Beberapa penelitian menyebutkan bahwa glukomanan dalam tepung porang yang merupakan serat dapat menurunkan kadar kolesterol.Tujuan: Mengetahui efek tepung porang (Amorphophallus oncophyllus) dengan maserasi keji beling (Strobilanthes crispa) terhadap kadar kolesterol total pada tikus wistar jantan (Rattus norvegicus) DM tipeMetode: Penelitian ini bersifat eksperimen murni dengan rancangan pre post with control group design. Subjek penelitian adalah 35 ekor tikus yang dibagi dalam 5 kelompok yaitu kontrol negatif, kontrol positif, pembanding, tepung porang murni, dan porang dengan ekstrak Strobilanthes crispa. Serum darah semua tikus diambil setelah 14 hari perlakuan untuk diukur kadar kolesterol total. Kemudian hasil dianalisis menggunakan ANOVA yang dilanjutkan dengan uji beda nyata (Duncan). Hasil : Pemberian tepung porang ekstrak Strobilanthes crispa dapat menurunkan kadar kolesterol total lebih baik sebesar 28,76% dibandingkan tepung porang murni yang dapat menurunkan kadar kolesterol total sebesar 15,35% (p=0,05). Kadar air feses hari ke-1 dan hari ke-14 tidak berbeda nyapada semua kelompok. Kesimpulan : Dari hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa pemberian tepung porang dengan maserasi ekstrak Strobilanthes crispa dapat menurunkan kadar kolesterol total lebih baik dibandingkan tepung porang murni. KATA KUNCI: diabetes melitus, keji beling, Strobilanthes crispa, kolesterol total, tepung porang,ABSTRACTBackground: Hypercholesterolemia is a complication in DM characterized by increased of total cholesterol levels. Prevalence of hypercholesterolemia in DM reached 20% -90%. Several studies stated that glucomannan in porang flour which is a fiber may lower cholesterol levels. Objective: To understand the effect of porang flour (Amorphophallus oncophyllus) with keji beling (Strobilanthes crispa) maceration of total cholesterol levels in male wistar rats (Rattus norvegicus) DM type 2. Methods: This study used on experimental with pre post with control group design. The subjects were 35 rats divided into 5 groups: negative control, positive control, comparison, pure porang intervention, and porang flour with Strobilanthes crispa extract. The blood serum of all rats was taken after 14 days of treatment to measure total cholesterol levels. Then the results were analyzed using ANOVA followed by real difference test (Duncan). Results: Porang flour with Strobilanthes crispa maceration decreased total cholesterol level by 28.76% compared to pure porang flour which only reduced total cholesterol level equal to 15.35% (p=0.05).Conclusions: From the results of this study it can be concluded that the provision porang flour with Strobilanthes crispa maceration can lower total cholesterol level better than pure porang flour. KEYWORDS: diabetes mellitus, keji beling,...
Waisaktini Maragareth, Soeharyo Hadisaputro, Ani Margawati
Jurnal Gizi dan Dietetik Indonesia (Indonesian Journal of Nutrition and Dietetics), Volume 6; doi:10.21927/ijnd.2018.6(2).70-75

Abstract:ABSTRAKLatar Belakang: Peningkatan infeksi HIV anak di Indonesia searah dengan peningkatan presentase penularan AIDS dari ibu ke anaknya dari 3% (2013) menjadi 4,6% (2015). HIV anak menjalani terapi antiretroviral (ARV) untuk meningkatkan jumlah sel T-CD4+. Stadium klinis berat pada HIV anak menurunkan jumlah CD4+. Pemberian suplementasi zat gizi makro dan mikro dapat meningkatkan status gizi HIV anak yang menjalani ARV.Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan asupan energi, protein, dan lemak terhadap status gizi berdasarkan berat badan dan jumlah CD4+ pada HIV anak di Kota dan Kabupaten Semarang. Metode: Penelitian ini menggunakan desain cross-sectional. Subjek yaitu anak usia 1-14 tahun sebanyak 31 subjek. Data dikumpulkan meliputi tinggi badan (TB), berat badan (BB), asupan zat gizi diperoleh dengan metode food recall 2x24 jam. Jumlah CD4+ melalui pemeriksaan darah subjek. Data dianalisis menggunakan uji Chi-square dan Regresi Logistik untuk menghitung Prevalence Rasio (PR). Hasil: Asupan protein memberikan risiko bermakna terhadap rendahnya jumlah CD4+ (PR=2,8; p=0,018; CI=1,331-5,891). Kesimpulan: Asupan gizi (energi, protein, lemak) tidak terkait dengan berat badan rendah (BB/U) dan stunting (TB/U). Asupan zat gizi yang berhubungan bermakna dengan jumlah CD4+ yang rendah (<500 sel/mm3) hanya asupan protein. Asupan protein yang kurang pada HIV anak berisiko mengalami suppresi berat (jumlah CD4+ <500 sel/mm3) sebesar 3,036 kali KATA KUNCI: asupan gizi, HIV anak , jumlah CD4 +, stunting ABSTRACTBackground: The increase in HIV-infected children in Indonesia in line with the increase percentage of HIV positive children from mother to child transmission from 3% (2013) to 4.6% (2015). HIV-infected children using antiretroviral therapy (ARV) to increase the T-cells CD4+ count in HIV-infected children patients. Clinical stage heavily on lowering the CD4+ count for HIV-infected children. Supplementation of macro and micronutrients can improve the nutritional status of children using antiretroviral HIV. Objectives. The study aimed to analyze the relationship of intake of energy, protein, fat and clinical stage of nutritional status and CD4 counts for HIV-infected children in the regional district and the city of Semarang.Methods: A cross-sectional study in The Regional District and the City of Semarang. The subject of 31 HIV-infected children aged 1-14 years. Data collected included height, body weight, nutrient intake obtained by the method of Food Recall 2x24 hours. The number of CD4+ through blood test subjects. Data were analyzed using the Chi-Square test. Results: The intake of protein significantly increase the of low CD4+ count (PR = 3.036; p = 0.021; CI = 1.211 to 7.608 and PR = 2.8; p = 0.018; CI = 1.331 to 5.891). Conclusions: Nutrient intake (energy, protein, fat) is not associated with low body weight (WAZ), stunting (HAZ) and nutrient intake (energy, protein, fat) is not associated with low CD4 + incidence...
Carissa Cerdasari, Theresia Puspita, Rany Adelina
Jurnal Gizi dan Dietetik Indonesia (Indonesian Journal of Nutrition and Dietetics), Volume 6; doi:10.21927/ijnd.2018.6(2).43-50

Abstract:ABSTRAKLatar belakang: Masalah sulit makan pada anak dapat berakibat jangka panjang pada pertumbuhan dan perkembangan, terutama dikaitkan dengan kejadian underweight. Underweight akan berdampak pada gangguan perkembangan kecerdasan dan proses belajar, lebih rentan terhadap infeksi, meningkatkan keparahan penyakit, hingga meningkatkan mortalitas. Salah satu penyebab sulit makan pada anak karena penampilan makanan yang tidak menarik. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan pengetahuan ibu terkait gizi dan kesulitan makan pada anak, keterampilan ibu dalam pembuatan bekal, dan tingkat kesulitan makan pada anak sebelum dengan setelah pelatihan pembuatan “bento”. Metode: Pada penelitian one-group pretest-posttest design ini, ibu (n=20) dari anak prasekolah usia 3-6.5 tahun direkrut dari KB/TK Al-Ghoniya, Malang. Variabel yang diteliti diukur sebelum dan setelah pelatihan pembuatan Bento. Kesulitan makan pada anak ditentukan dengan menggunakan Child Eating Behavior Questionnaire (CEBQ) versi Indonesia. Pengetahuan ibu diukur menggunakan pertanyaan pilihan ganda sebanyak 20 butir, dan keterampilan pembuatan bekal dinilai menurut 5 aspek, yaitu kesesuaian porsi, variasi menu, cita rasa, dan penampilan. Uji wilcoxon dan uji t berpasangan digunakan untuk menilai perbedaan pengetahuan dan keterampilan ibu, serta tingkat kesulitan makan pada anak sebelum dengan sesudah pelatihan.Hasil: Terdapat perbedaan pengetahuan dan keterampilan ibu, serta nilai kerewelan pada anak (p <0.05). Tidak ditemukan perbedaan skor peka terhadap kenyang dan lambannya makan pada anak (p>0.05). Meskipun tidak ada perbedaan secara statistik, namun terdapat kecenderungan penurunan nilai peka terhadap kenyang dan lambannya makan sebelum dengan setelah pelatihan. Kesimpulan: peningkatan penampilan pada makanan melalui bento dapat dijadikan alternatif untuk mengatasi kesulitan makan pada anak prasekolah. KATA KUNCI: bento; kesulitan makan; anak prasekolah ABSTRACTBackground: Picky eating in children may have long-term consequences for growth and development, especially related to underweight. Underweight results on developmental disorder, increase infection susceptibility, disease severity and mortality. One of the causes of picky eating in children is the unattractive of food appearance.Objectives: To analize the effectiveness of the bento making training, including: Mother’s knowledge related to nutrition and feeding difficulty in children; mother’s skill in food preparation; and level of eating difficulty in children before and after bento making.Methods: This study used pretest-posttest design one-group study, mothers (n= 20) of preschool-aged 3-6.5 years were recruited from Al-Ghoniya Playgroup and Kindergarten School, Malang. Picky eating in children was determined by Child Eating Behavior Questionnaire (CEBQ) Indonesian version. Studied variables were mother’s knowledge and skills, children’s satiety responsiveness, slowness in eating,...
Riska Mayangsari, Madarina Julia, Susetyowati Susetyowati
Jurnal Gizi dan Dietetik Indonesia (Indonesian Journal of Nutrition and Dietetics), Volume 6; doi:10.21927/ijnd.2018.6(2).51-57

Abstract:ABSTRAKLatar belakang: Persentase balita kurus di Kabupaten Muna sebesar 11,8% dan balita sangat kurus sebanyak 6,3%. Sesuai rekomendasi World Health Organization (WHO), perbaikan status gizi balita gizi buruk dilakukan dengan memperbaiki asupan zat gizi dengan memberikan formula terapi berupa pemberian Formula 100 (F-100), dimana F-100 merupakan makanan yang berbahan dasar susu yang diberikan pada fase transisi dan fase rehabilitasi Tujuan:Mengetahui daya terima F-100 oleh balita gizi buruk dan mengetahui hubungan daya terima F-100 balita gizi buruk dengan perubahan status gizi.Metode:Jenis penelitian ini merupakan penelitian observasional yang menggunakan rancangan kohort prospektif. Sampel penelitian adalah seluruh balita umur 12-24 bulan yang mengalami gizi buruk berjumlah 73 balita yang telah memenuhi criteria inklusi dan eksklusi.Sampel penelitian mendapatkan F-100 selama 5 minggu.Analisis data yang digunakan adalah univariat dan bivariat. Hasil:Sebagian besar subjek (63,08%) termasuk dalam kategori daya terima baik dengan menghabiskan F-100 yang diberikan dan sisanya (36,92%) termasuk dalam kategori daya terima kurang dengan tidak menghabiskan F-100 yang diberikan. Hasil uji Chi Square menunjukan ada hubungan antara daya terima F-100 dengan perubahan status gizi (p=0,02) (RR=2,7, 95% CI=1,07-7,21). Kesimpulan :Terdapat hubungan yang signifikan antara daya terima F-100 denganperubahan status gizibalita (p<0,05). KATA KUNCI: evaluasi, status gizi, F-100ABSTRACTBackground: The total percentage of underweight children in Muna District was 11.8% and the percentage of severe wasted children was 6.3%. As recommended by World Health Organization (WHO),improvement in nutritional status of malnourished children is conductedby improving food supplementation. Giving therapeutic formula 100 (F-100), where F-100 is the food made from dairy products which given in transition and rehabilitation phase. Objectives:To figure out the admission of F-100 by malnourished children and to find out the correlation between F-100 admission from malnourished children and the changing of nutritional status. Methods: This research is an observational study using the design of prospective cohort study. The sample were the whole children aged 12-24 months who suffered malnutrition with the total number up to 73 children who have fulfilled the criteria of inclusion and exclusion. The study sample had received F-100 for 5 weeks. The data analysis used is univariate and bivariate.Results: Most of the subjects are included in the category of well admission (63.08%) by spending given F-100 and the rests are included in the category of less admission (36.92%) by not spending the given F-100. The result of Chi Square Test shows that there is correlation between the admission of F-100 andthe changing of nutritional status (p=0.02) (RR=2.7, 95% CI=1.07-2).Conclusions: There is significant correlation between the admission of F-100 and the changing of children’s...
Kusuma Yati Alim, Ali Rosidi, Suhartono Suhartono
Jurnal Gizi dan Dietetik Indonesia (Indonesian Journal of Nutrition and Dietetics), Volume 6; doi:10.21927/ijnd.2018.6(3).89-98

Abstract:ABSTRAK Latar Belakang: Berdasarkan data PSG Kementrian Kesehatan Tahun 2017 perevalensi stunting di Indonesia 29,6% (pendek 19,8% dan sangat pendek 9,8%) dan prevalensi stunting di Kabupaten Banjarnegara sebesar 30,1% Prevalensi stunting di Kecamatan Wanayasa mencapai 23,7%. Rendahnya asupan gizi, faktor genetik dan paparan pestisida merupakan salah satu faktor yang berpengaruh terhadap kejadian stunting. Paparan pestisida sendiri dapat mengakibatkan gangguan metabolisme, pertumbuhan dan perkembangan anak. Kecamatan Wanayasa merupakan salah satu daerah pertanian di Indonesia, terdapat area pertanian kentang dan sayuran dengan intensitas penggunaan pestisida yang tinggi dalam pengolahan lahannya.Tujuan: Menganalisis faktor risiko stunting pada anak usia 2-5 tahun di daerah pertanianMetode : Desain penelitian yang digunakan adalah case control dengan jumlah sampel 47 kasus (stunting) dan 47 kontrol (tidak stunting). Pemilihan subjek secara purposive sampling dengan matching umur dan jenis kelamin. Data diperoleh melalui pengukuran tinggi badan ,berat badan serta wawancara terstruktur dan untuk asupan gizi dengan menanyakan frekuensi penggunaan bahan makanan responden dalam ukuran rumah tangga dan mengkonversinya dalam ukuran berat (gram). Data dianalisis menggunakan uji chi-square, menghitung Odds Rasio (OR) dan metode regresi logistik.Hasil: Nilai skor Z TB/U terendah pada kelompok kasus adalah -5.4SD dan tertinggi -2.55SD, umur balita terendah pada kelompok kasus 24 bulan dan pada kelompok kontrol 27 bulan. Sebagian besar pekerjaan ibu baik pada kelompok kasus (51.1%) maupun pada kelompok kontrol (57.4%) adalah sebagai petani. Pada analisis bivariat riwayat penyakit kehamilan ibu, tingkat kecukupan gizi (kalsium,zink, protein), riwayat paparan pestisida bumil tidak berhubungan secara bermakna dengan kejadian stunting.Tinggi badan ibu < 150 cm (OR=10.07; 95%CI: 3.57-28.38), panjang badan lahir (OR=11.04; 95%CI: 4.19-29.06), dan riwayat paparan pestisida pada anak (OR=4.21; 95%CI : 1.77-10.04) sebagai faktor risiko stunting. Simpulan: Panjang badan lahir, tinggi badan ibu dan paparan pestisida merupakan faktor risiko stunting pada anak usia 2-5 tahun. Kata Kunci: anak usia 2-5 tahun, daerah pertanian, stunting ABSTRACTBackground: According to Nutritional Status Monitoring 2017, stunting prevalence in Indonesia was 29.6% and stunting prevalence in Banjarnegara District was 30.1%.The prevalence of stunting in Wanayasa Subdistrict was 23.7%. Low nutritional intake, genetic factors and exposure from pesticides are among the factors that influence stunting. Exposure from pesticides can lead to metabolic disorders, growth and development of children. Wanayasa Subdistrict is one of an agricultural area in Indonesia, there is a potato and vegetable farming area with high intensity of pesticide use in the processing of its land.Objectives: This study aims was to analyze the risk factors for stunting among children age 2-5 years living in an...
Putri Aulia Arza, Necia Anggela
Jurnal Gizi dan Dietetik Indonesia (Indonesian Journal of Nutrition and Dietetics), Volume 6; doi:10.21927/ijnd.2018.6(1).28-32

Abstract:ABSTRAK Latar belakang: Substitusi tepung tulang lele dan bubuk jamur tiram dalam pembuatan wafel dapat meningkatkan kadar kalsium pada waffel.Tujuan: Menganalisis substitusi tepung tulang ikan patin dan bubuk jamur tiram terhadap karakteristik sensorik dan kandungan kalsium wafel.Metode: Jenis penelitian ini adalah eksperimental dengan menggunakan RAL. Sampel adalah wafel tepung tulang ikan patin dengan 4 variasi substitusi , yaitu waffle dengan formula standar yaitu 77% tepung terigu, 33% tepung tulang ikan patin tanpa penambahan bubuk jamur (A), waffel dengan pengurangan tepung terigu dengan substitusi tepung tulang ikan patin 33% dan bubuk jamur 17% (B), waffle dengan substitusi tepung tulang ikan patin 33% dan 25% bubuk jamur (C), wafel dengan substitusi tepung tulang ikan patin 33% dan 34% bubuk jamur. Waffle diuji daya terima meliputi warna, aroma, rasa dan tekstur serta kadar kalsium.Hasil: Hasil dari evaluasi sensorik menunjukkan semua kategori hedonic yaitu aroma, rasa dan tekstur kecuali warna tidak berbeda nyata pada p>0,05. Formulasi terbaik diperoleh pada perlakuan B yaitu penambahan tepung tulang ikan patin dan bubuk jamur tiram masing-masing sebanyak 33% dan 17%. Penambahan tepung tulang ikan patin dan bubuk jamur meningkatkan kadar kalsium pada wafel yaitu masing-masing 12,53% dan 16,19% pada penambahan 33% tepung tulang ikan patin (control) dan 33% tepung tulang ikan patin: 17% atau bubuk jamur (formulasi terbaik) ecara berurutan.Kesimpulan: Substitusi tepung tulang lele dan bubuk jamur tiram dalam pembuatan wafel menurunkan daya terima waffle, tetapi meningkatkan kadar kalsium dari waffle. KATA KUNCI: tepung tulang ikan patin; bubuk jamur tiram; evaluasi sensorik; kandungan kalsium ABSTRACTBackground: The substitution of catfish bone flour and oyster mushroom powder to make the waffles have the function in increasing calcium on food.Objectives: To analyze the effects of catfish bone flour and oyster mushroom powder on sensory characteristics and calcium content of waffles.Methods: This was experimental study using random complete design. Samples were waffle of catfish bone flour with 4 different formula, those were 77% wheat flour and 33% of catfish bone flour (control), waffles with the decrease of wheat flour with 33% of catfish bone flour and 17% of oyster mushroom powder © and waffles with the decrease of wheat flour with 33% of catfish bone flour and 34% of oyster mushroom powder (D). Waffles were then evaluated for their hedonic evaluation and the content of calcium.Results: sensory evaluation showed all categories except color were not significantly different at p>0.05. The obtained results indicated that the addition of catfish bone flour and mushroom powder led to a pronounced increase calcium contents in the supplemented of waffles 12.53% and 16.19% at 33% of catfish bone flour (control) and 33% of catfish bone flour: 17% of mushroom powder (best formulation), respectively. Conclusion: The substitution of...
I Gusti Ayu Wita Kusumawati, I Nengah Reyunika, Ida Bagus Agung Yogeswara, I Gede Mustika, I Made Wisnu Adi Putra, Umar Santoso, Yustinus Marsono
Jurnal Gizi dan Dietetik Indonesia (Indonesian Journal of Nutrition and Dietetics), Volume 6; doi:10.21927/ijnd.2018.6(1).1-6

Abstract:ABSTRAK Latar belakang: Loloh sembung (Blumea balsamifera) adalah minuman tradisional masyarakat Bali yang digunakan untuk mengobati penyakit. Perbedaan kematangan daun sembung akan mempengaruhi aktivitas antioksidan loloh sembung.Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk menentukan aktivitas antioksidan loloh sembung yang dibuat dari berbagai jenis kematangan daun sembung yang diekstrak dengan menggunakan pelarut air.Metode: Serbuk daun sembung pada tingkat kematangan yang berbeda (muda, dewasa dan tua) direbus untuk menghasilkan loloh sembung. Analisis kandungan antioksidan meliputi analisis total fenolik, total kandungan flavonoid dan aktivitas antioksidan ferric reducing antioxidant power (FRAP).Hasil: Hasil analisis menunjukkan bahwa daun sembung dengan tingkat kematangan tua menunjukkan kandungan total fenolik dan aktivitas antioksidan yang tinggi dibandingkan dengan daun dewasa dan muda, yaitu masing-masing sebesar 0,85±0,005 GAE/g dan 0,66 ±0,003 mmol Fe2+/g sampel. Sedangkan, daun dengan tingkat kematangan dewasa menunjukkan total flavonoid yang tinggi, yaitu sebesar 0,39±0,006 QE/g. Berdasarkan korelasi Pearson, perbedaan tingkat kematangan daun menunjukkan korelasi positif dengan kandungan total fenolik, total flavonoid dan aktivitas antioksidan (FRAP).Kesimpulan: Perbedaan tingkat kematangan daun sembung menunjukkan korelasi positif dengan kandungan total fenolik, total flavonoid dan aktivitas antioksidan (FRAP). Penelitian ini menunjukkan bahwa loloh sembung berpotensi sebagai minuman fungsional yang memanfaatkan kearifan lokal. KATA KUNCI: tingkat kematangan daun, total fenolik, total flavonoid, FRAP ABSTRACT Background: A Loloh sembung (Blumea balsamifera) is a traditional herbal drink from Bali and widely used to treat several diseases by Balinese people. Sembung leaf at different maturity stages would affect antioxidant activity of loloh sembung.Objectives: The objective of the research was determined antioxidant activity of loloh sembung prepare from different maturity stages of sembung leaf and extracted using water.Methods: Sembung leaves powder at different maturity stages (young, mature and old) was boiled to produce loloh sembung. The analyses of antioxidant activity of loloh sembung included total phenolic content (TPC), total flavonoid content (TFC) and ferric reducing antioxidant power (FRAP).Results: The results showed that old leaves were significantly higher in TPC and FRAP values compare to mature and young leaves, i.e 0.8575±0.005 GAE/g and 0.6625±0.003 mmol Fe2+/g sample respectively. However, the mature leaves revealed significantly high TFC, i.e 0.3972±0.006 QE/g. Based on Pearson’s correlation coefficient, the difference of maturity stage exhibited positive correlation with TPC, TFC and FRAP.Conclusion: The different of maturity stage exhibite showed positive correlation with TPC, TFC and FRAP. This study suggested that loloh sembung had a promising prospect as functional drink based on local...
Choirun Nisa, Veriani Aprilia, Lana Santika Nadia
Jurnal Gizi dan Dietetik Indonesia (Indonesian Journal of Nutrition and Dietetics), Volume 6; doi:10.21927/ijnd.2017.5(3(s2)).62-65

Abstract:ABSTRAKLatar Bekalang: Indonesia dikenal sebagai negara agraris, beras merupakan makanan pokok warganya, dengan setiap tahun mampu memproduksi beras yakni 32 juta ton. Bekatul beras merupakan limbah hasil penggilingan padi yang biasanya digunakan sebagai pakan hewan, sebagai pangan fungsional mengandung banyak zat gizi yaitu protein, lemak, karbohidrat, serat kasar dan vitamin B1, namun konsumsinya masih rendah karena kandungan lemak yang tinggi menyebabkan mudah rusak, kurang tahan lama dan berbau tengik, sehingga perlu dilakukan versivikasi pangan guna meningkatkan konsumsi bekatul salah satunya dengan ditambahkan ke yogurt. Yogurt merupakan produk fermentasi susu dengan bakteri Lactobacillus bulgaricus dan Streptococcus thermophiles berikut manfaatnya yaitu sebagai sumber kalsium, anti bakteri, untuk mengurangi kolesterol, dan penderita obesitas.Tujuan: Untuk mengetahui pengaruh substitusi tepung bekatul terhadap sifat organoleptik dan nilai zat gizi pada produk yogurt bekatul. Metode: Jenis penelitian adalah eksperimental dengan menggunakan RAL (Racangan Acak Lengkap) dengan 4 perlakuan dan 2 kali ulangan. Sampel dalam penelitian ini adalah yogurt bekatul dengan formula yaitu P0 (175 g susu UHT: 0% bekatul), P1 (165 g susu UHT: 5% bekatul), P2 (155 g susu UHT: 10% bekatul), P3 (145 g susu UHT: 15% bekatul). Pada sifat organoleptik (uji kesukaan) yaitu dari rasa, aroma, tekstur, warna dan keseluruhan. Pada analisis nilai gizi yang diukur meliputi kadar air, abu, protein, lemak, karbohidrat, serat, gula reduksi, dan gula total.Hasil: Berdasarkan pengujian sifat organoleptik atau uji kesukaan yogurt substitusi tepung bekatul pada atribut warna, rasa, aroma dan keseluruhan, yogurt bekatul P1 (165 g susu UHT: 5% tepung bekatul) paling disukai panelis. Dari hasil pengujian nilai gizi yogurt bekatul P3 (145 g susu UHT: 15% bekatul) memiliki kadar abu, protein, lemak dan serat, gula total paling tinggi. Namun kadar air, karbohidrat, dan gula reduksi paling rendah. Kesimpulan: Makin banyak substitusi tepung bekatul, maka makin tinggi nilai gizi yogurt bekatul. Namun kesukaan panelis terhadap yogurt bekatul makin rendah.KATA KUNCI: yogurt bekatul, sifat organoleptik, nilai giziABSTRACTBackground: Indonesia is known as an agricultural country, rice is the staple food of citizens, each year capable of producing 32 million tons of rice. Rice bran was a waste of rice mill which is usually used as animal feed, as functional food contains many nutrients such as protein; fat; carbohydrate; crude fiber; and vitamin B1, but the consumption is still low because the high fat content causes easily damaged, less durable, and rancid smell. So, it is necessary to do food diversification to increase bran consumption, such as by addition to yogurt. Yogurt is a fermented milk product from Lactobacillus bulgaricus bacteria and Streptococcus thermophilus along with its benefits as a source of calcium, anti-bacterial, reducing cholesterol, and lowering of body...