Journal Information
ISSN / EISSN : 18583903 / 18583903
Current Publisher: Diponegoro University (10.14710)
Total articles ≅ 270
Current Coverage
Archived in

Latest articles in this journal

Tiafahmi Angestiwi, Bobby Rahman Hanun, P Prihantini
JURNAL PEMBANGUNAN WILAYAH & KOTA, Volume 16; doi:10.14710/pwk.v16i1.28425

Blora is one of the regencies with the lowest local revenue in the Central Java Province, this is very contrary to the potential of the region. One of the regional potentials which can be more developed is the natural tourism asset sector. Blora, with its extensive teak forest, even with one of the oldest teak trees and with an old train route for wood transportation, can be one of the attractions for tourists. The tourism asset sector is expected to increase revenue in Blora Regency. This study aims to generate potential asset development strategies for Gubug Payung ecotourism area as a source of regional revenue for Blora Regency. The research method used was quantitative rationalistic, with SWOT analysis technique approach. The data collection technique made use of interviews of relevant agencies in Blora Regency and the local community and literature reviews. Based on the baseline analysis, the potential asset development strategies of the Gubug Payung ecotourism area was carried out by supporting aggressive growth policies. Blora Regency requires an urban catalyst, so that it can reduce disparities between districts. Besides, the development of ecotourism assets can support the conservation of the dominant areas of protected teak forests.
Abdullah Luthfi, I Ismiyati, Ferry Hermawan
JURNAL PEMBANGUNAN WILAYAH & KOTA, Volume 16; doi:10.14710/pwk.v16i1.22237

The implementation of the Village Fund policy made a very significant change, the villages which had previously received a very limited budget were managed centrally by government agencies on top of which villages now get a substantial budget and are given the authority to manage independently. Village Funds for physical development realized in 2015, 2016 and 2017 that are felt transparently, do not meet the quality of infrastructure in supporting facilities and infrastructure. This study aims to evaluate the successful implementation of village road infrastructure related to village funding. The location of this research is Gondang Village, Kertanegara Village and Karanggambas Village, Purbalingga Regency. The data analysis technique used is data analysis with quantitative and qualitative methods with steps of data collection, data reduction, data presentation and conclusion drawing. The results of this study show that (1) Village planning in the research location is not fully in accordance with Permendagri Number 114 of 2014, (2) the highest level of road damage in Karanggambas Village (16.94%), the biggest 2016 and 2017 road damage in the village Gondang (10.73% and 17.77%) (3) commitment and quality of human resources affect the successful implementation of infrastructure planning and development, (4) Implementation of Village Funds in terms of benefits has been felt by the community in meeting basic infrastructure needs, but not fully implemented. said to be successful, (5) the level of maintenance of damage to village road infrastructure is still low.
Agus Sugianto, Imam Buchori
JURNAL PEMBANGUNAN WILAYAH & KOTA, Volume 16; doi:10.14710/pwk.v16i1.19956

Kejadian kebakaran periode 2012-2016 di kabupaten Pati hampir meliputi semua kecamatan yang ada, terjadi di wilayah perkotaan maupun perdesaan. Kerugian material mencapai milyaran rupiah dan korban jiwa. Padahal perlindungan terhadap bahaya kebakaran kabupaten dan kota di Indonesia, merupakan pelayanan dasar dalam penyelenggaraan pemerintahan. Satu pos pemadam kebakaran tidak mampu menjangkau seluruh wilayah, akibatnya kegagalan pemadaman karena terlambat datang. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisis kebutuhan pos pemadam kebakaran berdasarkan tingkat kerawanan kawasan dan perlindungan kawasan strategis di kabupaten Pati. Pemilihan metode kuantitatif dengan pendekatan spasial. Penentuan kerawanan kebakaran kawasan menggunakan analisis spasial multi kriteria dan analisis pairwise comparism (AHP). Selanjutnya menggunakan kriteria eliminator melalui teknik overlay untuk alternatif lokasi. Evaluasi jangkauan pelayanan setiap lokasi dengan Service area pada Network Analyst di Arcgis 10.4 untuk mengetahui jumlah ideal pos pemadam. Hasil penelitian menunjukan tingkat kerawanan kawasan tinggi seluas 5.141 ha (3,42%), sangat tinggi seluas 68,68 ha (0,05%) dari wilayah studi dan tersebar di perkotaan dan perdesaan. Pada tahap elemininasi dan evaluasi lokasi berdasarkan jangkauan layanan pos pemadam menurut time rate 5 menit ada 9 lokasi baru, time rate 10 menit dibutuhkan 8 lokasi. Hasil akhirnya adalah 6 lokasi baru pos pemadam baru jika dikomparasi terhadap kebijakan kawasan dan memperhitungkan area layanan pos eksisting.
Yudi Basuki, Sri Rahayu, Novia Windri Rahmawati
JURNAL PEMBANGUNAN WILAYAH & KOTA, Volume 16; doi:10.14710/pwk.v16i1.23025

Banyumanik sub-district grows and develops caused by increases in population. Jalan Sukun Raya is a road commonly used by residents in Srondol Wetan Village to Jalan Setiabudi and vice versa. Sukun Raya Road Corridor is one of the local roads in Banyumanik Subdistrict. The land use in this corridor is a commercial and service area, and settlement. Land use in the road corridor is a commercial and service area. Based on these problems, it is necessary to do trip attraction modeling. In this case, the trip attraction is needed in considering the impact of existing development, such as in the sub-center of the commercial and services area, housing, and offices. The aims of this article to develop the trip attraction model.Trip attraction modeling uses multiple linear regression analysis with the stepwise method on the commercial and service area and small scale on Jalan Sukun Raya, Banyumanik Subdistrict which is a sub-service area of the city of Semarang. Correlation and multiple linear regression analysis done based on data obtained from survey results. Data collection on Jalan Sukun Raya at peak times was carried out with field observations and interviews with established resource persons.The results showed that the sales income variable became the most influential variable on the trip attraction shown in the equation Y = 0.352 + 4.998E-7 X4. The resulting model is useful for estimating trip attraction in small-scale commercial and service areas.
Winiko Afriza, Okto Risdianto Manullang
JURNAL PEMBANGUNAN WILAYAH & KOTA, Volume 16; doi:10.14710/pwk.v16i1.17720

The Aceh Provincial Government through the department of transportation in 2016 began operating Bus Rapid Transit (BRT) in Banda Aceh city. The presence of Trans Koetaradja is expected to be able to implement a mass transit system that is capable of maintaining order, traffic congestion and traffic jam in Banda Aceh City. However, the existence of BRT Trans Koetaradja poses a threat to the existence of drivers and businessmen of transporting labi-labi in Banda Aceh City. Starting from the problem, this research aims to create the form of integration of BRT Trans Koetaradja service with feeder of labi-labi transportation in Banda Aceh City. The research method used is descriptive analysis of kunatitatif which will describe the potential of travel demand and condition of existing road network. In addition, it uses a spatial descriptive analysis method to formulate the form of feeder transport routes of labi-labi and analyze the operational integration of routes, time and rates. The result of the research shows that there are 6 feeder routes that will serve the corridor I Keudah-Darussalam namely Prada area route, Zainal Abidin General Hospital route, Simpang Keramat route, Unsyiah campus route and UIN Ar-Raniry route, Aceh Governor Office and route of Simpang Mesra area. Operationally, the integration of Trans Koetaradja transport service time with feeder transport of labi-labi is at 07.00-18.00 wib. The required headway of each feeding route is 4-9 minutes. The travel time required for each feeder route is 10-15 minutes with the number of fleets used by 32 units to serve 6 (six) feeder routes. In terms of tariff integration, the cost to be spent per passenger to use labi-labi transportation on each feeder route is between Rp.1.000 - Rp. 1,500.
Joni Purwohandoyo, Bobby Tumpal Lubis, Yustikarani Julianti Pambudi, Muhammad Sidiq Wicaksono
JURNAL PEMBANGUNAN WILAYAH & KOTA, Volume 15, pp 275-287; doi:10.14710/pwk.v15i4.21732

Provinsi Nusa Tenggara Barat merupakan salah satu provinsi di Indonesia yang menaruh perhatian khusus terhadap pengembangan industri. Sumberdaya wilayah menjadi faktor penentu dalam pengembangan industri, yang terdiri dari sumberdaya alam dan sumberdaya manusia. Sumberdaya wilayah dan didukung dengan prasyarat industri terkait dengan kebijakan pemerintah akan menentukan sektor industri unggulan dan strategi pengembangan industrinya. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dan kualitatif. Untuk melihat konsentrasi sumberdaya alam di Provinsi NTB menggunakan analisis LQ sedangkan penentuan industri unggulan menggunakan analisis kesenjangan. Berdasarkan hasil analisis terdapat dua jenis industri yang menjadi unggulan di Provinsi NTB yaitu agroindustri dan industri kerajinan. Kedua jenis industri ini merupakan industri dengan tingkat kesenjangan yang rendah. Strategi pengembangan industri di Provinsi NTB disesuaikan dengan kondisi masing-masing jenis industri.
Nadia Oktinova, Iwan Rudiarto
JURNAL PEMBANGUNAN WILAYAH & KOTA, Volume 15, pp 262-274; doi:10.14710/pwk.v15i4.21534

Jumlah penduduk di pusat kota yang cukup besar mengakibatkan semakin berkurangnya lahan di wilayah tersebut sehingga lambat laun akan terjadi perkembangan perkotaan ke arah pinggiran (urbanisasi), seperti yang terjadi di Kota Semarang yaitu pengembangan kota baru Bukit Semarang Baru (BSB) di Kecamatan Mijen. Dengan adanya BSB ini terjadi perubahan penggunaan lahan yang kemudian juga mengakibatkan adanya perkembangan perkotaan di sekitarnya. Dengan adanya hal tersebut, penelitian ini bertujuan untuk menganalisis perubahan penggunaan lahan dan perkembangan perkotaan yang terjadi di sekitar kawasan BSB. Pendekatan penelitian ini yaitu pendekatan kuantitatif dengan pendekatan spasial yang pengolahan data serta analisisnya secara spasial menggunakan software ArcGIS 10.3.1. Data penggunaan lahan diperoleh dengan interpretasi citra DigitalGlobe tahun 2013 dan tahun 2017 yang kemudian dilakukan teknik overlay untuk mengetahui perubahan penggunaan lahannya. Hasil dari penelitian ini yaitu telah terjadi perubahan penggunaan lahan dari lahan pertanian menjadi danau/waduk (36,45 ha), industri (14,98 ha), lahan kosong (22,41 ha), perdagangan dan jasa (2,78 ha) dan permukiman (84,84 ha) serta perubahan penggunaan lahan permukiman menjadi perdagangan dan jasa (2,59 ha). Di sekitar kawasan BSB juga telah terjadi perkembangan perkotaan yang terlihat dari peningkatan penggunaan lahan terbangun sebesar 102,59 ha dengan pola konsentris dan horisontal dimana lahan terbangunnya ini menyebar pada seluruh wilayahnya.
Dellamanda Yosky, Sri Rahayu Budiani
JURNAL PEMBANGUNAN WILAYAH & KOTA, Volume 15, pp 301-309; doi:10.14710/pwk.v15i4.20594

Industri Kecil dan Menengah Kabupaten Sleman cabang industri kerajinan didominasi oleh industri kerajinan bambu. Industri ini membentuk sentra-sentra di wilayah tertentu yang menghasilkan produk khas. Lokasi merupakan hal penting dalam industri karena berhubungan dengan efisiensi produksi dan pemasaran. Tujuan dari penelitian ini adalah : 1) Mengetahui distribusi sentra industri kerajinan bambu di Kabupaten Sleman. 2) Mengetahui karakteristik usaha industri kerajinan bambu di Kabupaten Sleman. 3) Mengetahui faktor yang paling berpengaruh terhadap pemilihan lokasi sentra industri kerajinan bambu di Kabupaten Sleman. Penelitian ini dilakukan secara survei. Pengambilan sampel ditentukan secara acak di masing-masing sentra dengan metode Proporsionate Stratified Random Sampling. Total responden sebanyak 87 unit usaha. Analisis dilakukan dengan hasil berupa peta, tabel frekuensi, serta analisis kuantitatif regresi linier berganda. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 1) Lokasi sentra-sentra industri kerajinan bambu Kabupaten Sleman cenderung mengelompok di wilayah Kabupaten Sleman bagian barat dengan masing-masing sentra memiliki produk khas. 2) Industri kerajinan bambu Kabupaten Sleman didominasi oleh industri skala rumah tangga. 3) Faktor yang yang paling berpengaruh terhadap keuntungan sebagai fungsi karakteristik spesifik lokasi industri kerajinan bambu Kabupaten Sleman adalah kuantitas bahan baku.
Erma Maulana Putri, Jawoto Sih Setyono
JURNAL PEMBANGUNAN WILAYAH & KOTA, Volume 15, pp 326-339; doi:10.14710/pwk.v15i4.21639

Isu dalam pemenuhan air bersih terkait dengan kesenjangan penyediaan air bersih dengan permintaan air bersih. Upaya adaptasi menghadapi kurangnya ketersediaan air bersih dikenal adanya istilah koping. Koping terhadap tekanan merupakan salah satu komponen dari kerentanan. Penelitian ini memiliki pertanyaan penelitian berkaitan dengan “bagaimana mekanisme koping masyarakat Kampung Tambaklorok dan Kelurahan Rowosari terhadap permasalahan pemenuhan air bersih?”. Tujuan penelitian ini adalah mengkaji mekanisme koping yang dilakukan oleh masyarakat Kampung Tambaklorok dan Kelurahan Rowosari dalam pemenuhan air bersih. Kampung Tambaklorok dan Kelurahan Rowosari merupakan dua wilayah di Kota Semarang yang memiliki permasalahan dalam pemenuhan air bersih. Pendekatan penelitian yang digunakan adalah metode penelitian survei dengan penyebaran kuisioner kepada masyarakat. Analisis yang digunakan dalam penelitian adalah statistik deskriptif. Hasil temuan studi yaitu terdapat perbedaan dan persamaan mekanisme koping masyarakat Kampung Tambaklorok dan Kelurahan Rowosari. Perbedaan mekanisme koping dinilai berdasarkan faktor yang mempengaruhi pemilihan koping, bentuk koping dan tindakan yang dilakukan sebelum dan saat terjadi permasalahan pemenuhan air bersih. Berdasarkan hasil analisis, tindakan berkaitan dengan permasalahan pemenuhan air bersih yang dilakukan oleh masyarakat Kelurahan Rowosari lebih beragam dibandingkan dengan tindakan yang dilakukan masyarakat Kampung Tambaklorok. Tindakan-tindakan tersebut meliputi tindakan teknis/struktural, ekonomis dan sosial.
Budi Kurniawan
JURNAL PEMBANGUNAN WILAYAH & KOTA, Volume 15, pp 310-325; doi:10.14710/pwk.v15i4.26028

Back to Top Top