Journal Information
ISSN / EISSN : 2337-4713 / 2442-8728
Published by: Universitas Muhammadiyah Metro (10.24127)
Total articles ≅ 87
Current Coverage
DOAJ
Archived in
SHERPA/ROMEO
Filter:

Latest articles in this journal

Nandia Pitri
Published: 29 February 2020
HISTORIA, Volume 8, pp 29-40; https://doi.org/10.24127/hj.v8i1.2439

Abstract:
Penelitian ini menjelaskan hubungan antara batik incung dengan Kota Sungaipenuh. Kota Sungaipenuh merupakan salah satu kota penghasil batik di Indonesia. Kota Sungaipenuh sebagai pusat pengembangan kerajinan batik incung. Batik incung di Kota Sungaipenuh digunakan oleh masyarakat sebagai aset ekonomi dan identitas budaya. Batik incung adalah batik khas Kota Sungaipenuh dengan menjadikan aksara incung (aksara Kerinci kuno) sebagai motif batiknya. Adanya penggunaan motif aksara incung menjadikan batik incung di Kota Sungaipenuh memiliki keunikan dengan mengembangkan kearifan lokal masyarakat setempat. Hal ini dikarenakan masyarakat Kota Sungaipenuh memiliki rasa bangga terhadap batik sebagai sesuatu yang indah untuk dijadikan sebagai karya seni. Sehingga, mereka memiliki kewajiban untuk membangkitkan serta mengembangkan batik incung. Selain itu, motif tulisan Kota Sungaipenuh yang dituliskan dalam aksara incung juga dijadikan sebagai motif batik di daerah ini. Hal ini juga disebabkan karena Kota Sungaipenuh menjadi sentral atau pusat pengembangan batik incung. Pengembangan motif pada batik incung di Kota Sungaipenuh juga berkaitan dengan adanya budaya setempat, karena generasi muda belum mengenal aksara incung secara keseluruhan, maka dijadikan sebagai motif batik untuk memperkenalkan kembali aksara incung kepada masyarakat setempat terkhususnya kepada generasi muda.
Vitri Puspita Sari
Published: 29 February 2020
HISTORIA, Volume 8, pp 1-12; https://doi.org/10.24127/hj.v8i1.2626

Abstract:
Di Minangkabau, poligami merupakan hal yang sudah biasa terjadi pada masa kolonial. Pada masa itu, laki-laki banyak yang mempunyai istri lebih dari satu orang. Mengingat hal itu, penulisan ini penting dilakukan dengan tujuan untuk melihat apakah memang di Minangkabau praktek poligami sering terjadi. Penulisan ini akan menggunakan metode sejarah dengan melihat sumber-sumber pada masa kolonial. Menurut laporan Kolonial Belanda Indisch Verslag terbitan 1931, di Sumatera Barat terdapat sebanyak 271.901 laki-laki yang sudah menikah secara monogami. Sedangkan laki-laki yang beristri dua terdapat sebanyak 20.127 orang. Laki-laki yang beristri tiga orang sebanyak 2.371 orang, dan laki-laki yang mempunyai istri empat terdapat sebanyak 455 orang. Dari jumlah tersebut, Sumatera Barat yang paling banyak berpoligami di antara kota-kota yang ada di Pulau Sumatera.
Mutiarawati Fajariah, Djoko Suryo
Published: 29 February 2020
HISTORIA, Volume 8, pp 77-94; https://doi.org/10.24127/hj.v8i1.2214

Abstract:
The success of Europeans in creating their history has succeeded in bringing Europe to high success and culture, why is that: The period of renensaince in Europe began to emerge among the thinkers of scholars who can create new innovations and one of the very famous of the many is as we know it the industrial revolution, the industrial revolution that began in the United Kingdom. One of the industrial revolution happened because of population growth. The increase in population as it was waged, did not occur in England. This Industrial Revolution occurs because things that are diverse are better and healthier and have a general prosperity, scientific advances, especially technology used for life today such as technology in medical treatment, and technology in manufacturing such as in a casting and others-another by bricks discovered by russian scientist Thomas Newton, with this machine the changes that can be overcome in the life of social society this led to the industrial revolution and made Britain the first country of the industrial revolution.
, Z Zulkarnain
Published: 29 February 2020
HISTORIA, Volume 8, pp 41-60; https://doi.org/10.24127/hj.v8i1.2280

Abstract:
Konservatisme sebagai suatu ideologi kembali mendapatkan perhatian dalam kehidupan bernegara masyarakat indonesia di beberapa tahun terakhir, hal ini disebabkan oleh adanya serangkaian pristiwa-pristiwa besar sehingga isu ideologi kembali mencuat kehadapan publik. Menyeruaknya isu ideologi dan keterlibatan framing media menyebabkan terbentuknya stigma negatif terhadap ideologi khususnya yang berlandaskan pada ajaran keislaman. Penelitian ini bertujuan untuk menggali dan menganalisa proses lahir dan berkembangnya konservatisme islam di Indonesia menggunakan pendekatan historis. Hasil telaah dan analisa ditemukan bahwa pengistilahan konservatisme akan selalu berkaitan dengan tradisionalitas masyarakat, namun perbedaan makna tradisional pada tiap-tiap negara akan menyebabkan terjadinya perbedaan bentuk-bentuk dari konservatisme. Makna tradisionalitas pada masayarakat indonesia lebih identik kepada golongan islam yang bila ditelusuri lebih jauh lagi, hal tersebut disebabkan oleh adanya propaganda Belanda untuk menciptakan rasa inferiority complex akibat adanya kekhawatiran terhadap terjadinya perlawan yang dimotori oleh golongan islam. Perjuangan islam untuk kembali menegakkan ajaran-ajaran keislaman ditengah kehidupan berbangsapun terus berlanjut dan berdinamika pasca Indonesia merdeka hingga kini dengan berbagai bentuk, salah satunya adalah partai politik yang menjadikan isyariat sebagai sine qua non dan raison d’ȇtre dari partai tersebut.
R Rispan, Ajat Sudrajat
Published: 29 February 2020
HISTORIA, Volume 8, pp 61-76; https://doi.org/10.24127/hj.v8i1.2254

Abstract:
Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji nilai-nilai yang terkandung dalam kearifan lokal kalosara dan akan diintegrasikan kedalam pembelajaran sejarah guna membangun karakter peserta didik. Fokus penelitian ini adalah proses pewarisan nilai-nilai kearifan lokal kalosara terhadap peserta didik. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan etnografi. Hasil penelitian menunjukan bahwa: nilai-nilai kearifan lokal kalosara yang dapat diaktualisasikan dan diinternalisasikan dalam pembelajaran sejarah antara lain: pertama, nilai kepemimpinan yang berintikan persatuan dan kesatuan (medulu mepoko’aso), keserasian dan keharmonisan, kesucian dan keadilan (ate pute penao moroha), nilai keamanan, kedamaian, keadilan dan kesejahteraan (morini mbu’umbundi monapa mbu’undawaro), kedua, budaya malu (kohanu), ketiga, budaya gotong royong (samaturu), dan keempat, budaya sopan santun (meiro’u) yang meliputi saling hormat-menghormati (mombekapona-pona’ako), dan saling kasih-mengasihi (mombekamei-meiri’ako). Pewarisan nilai-nilai kearifan lokal kalosara sangat penting, selain menjadikan pembelajaran sejarah semakin menarik dan bermakna, juga dapat berfungsi sebagai alat bagi penguatan karakter anak didik untuk mempersiapkan diri dalam menghadapi tantangan masa kini dan masa yang akan datang, sehingga peserta didik memiliki pengetahuan moral, perasaan moral, dan tindakan moral dalam memahami nilai-nilai luhur yang terdapat dalam kebudayaannya. Pewarisan nilai-nilai kearifan lokal kalosara dapat tercapai dengan efektif apabila ada kerjasama antara lingkungan keluarga, masyarakat, dan Sekolah dalam menginternalisasikan nilai budaya tersebut sebagai bagian sumber belajar bagi pembelajaran sejarah di Sekolah. Kata Kunci: Pewarisan Nilai, Kalosara, Pembelajaran Sejarah
Ella Hutriana Putri, M Midawati
Published: 29 February 2020
HISTORIA, Volume 8, pp 13-28; https://doi.org/10.24127/hj.v8i1.2472

Abstract:
Batik tanah liek merupakan batik khas yang berasal dari Sumatera Barat. Proses pengerjaan batik tanah liek hampir sama dengan batik pada umumnya namun ada beberapa perbedaan dalam proses pengerjaan dan motif yang digunakan. Dalam proses pengerjaan batik tanah liek proses pencelupan kain ke tanah liat dilakukan untuk mendapatkan warna alami tanah liat. Proses perendaman kedalam tanah liat dilakukan lebih kurang selama seminggu. Untuk mendapatkan hasil yang memuaskan. Semua kegiatan tersebut tidak terlepas dari pekerjaan yang membutuhkan kesabaran dan ketelitian. Sumber daya manusia yang dipakai pada umumnya adalah perempuan yang bekerja paruh waktu untuk mengisi kekosongan waktu setelah mengurus rumah tangganya. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif untuk memahami fenomena sosial yang terjadi di masyarakat dengan cara terjun langsung ke lokasi penelitian. Daerah yang diambil dalam penelitian ini adalah di Kabupaten Dharmasraya. Artikel ini bertujuan untuk menjelaskan pekerja perempuan sebagai perajin dan pengusaha batik yang berkecimpung dengan dunia batik tanah liek sejak 1995.Kata Kunci :Perempuan, batik tanah liek, perajin, pengusaha
Elsa Carlina Apriyanthy.Lk, Aman Aman
Published: 24 January 2020
HISTORIA, Volume 7, pp 175-188; https://doi.org/10.24127/hj.v7i2.1911

Abstract:
Penelitian ini berjudul “Berdirinya Keuskupan Sintang (Kalimantan Barat)”. Penelitian ini mengkaji mengenai Keuskupan Sintang di Kalimantan Barat. Masalah yang diangkat dalam penelitian ini adalah : pertama, “Bagaimana latar belakang berdirinya Keuskupan Sintang?”, kedua, “Bagaimana proses berdirinya Keuskupan Sintang?”,. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode historis dengan pendekatan interdisipliner. Adapun langkah-langkah seperti yang disebutkan diatas mengacu kepada metodologi penelitian Sejarah yang mengandung empat langkah penting, yaitu : 1.Heuristik, 2.Kritik Sumber, 3.Interpretasi Sumber, 4.Historiografi. Hasil dari penelitian ini adalah dapat diambil kesimpulan: Pertama, Latar belakang dari berdirinya Keuskupan Sintang berawal dari karya misi dan melakukan pelayanan kepada seluruh umat. Adapun tempat untuk melakukan pelayanan di Indonesia khususnya di Sintang, Kalimantan Barat dimulai di daerah pedalaman tempat Etnis Dayak dan menyebar ke daerah-daerah lain, termasuk salah satunya di Kabupaten Sintang. Kedua, Melihat dari sejarah perjalanan karya misi yang panjang. Maka, ada keinginan untuk mendirikan Keuskupan Sintang. Untuk mewujudkan hal tersebut ada beberapa tahapan yang harus dilakukan yaitu meningkatkan status wilayah Sintang dan Kapuas Hulu menjadi Prefektur Apostolik Sintang pada tahun 1948, dan ditingkatkan lagi menjadi Vikariat Apostolik Sintang pada tahun 1956, setelah itu mendirikan tahta Keuskupan yaitu Gereja Katedral Kristus Raja Sintang yang selesai dibangun pada tahun 1957, dan barulah ditingkatkan menjadi Keuskupan Sintang yang secara resmi berdiri pada tahun 1961.
Bobi Hidayat, K Kuswono, Ragil Agustono, Umi Hartati
Published: 24 January 2020
HISTORIA, Volume 7, pp 215-226; https://doi.org/10.24127/hj.v7i2.2228

Abstract:
Tujuan penilitian ini adalah ingin mengetahui secara historis apa yang menjadi latarbelakang pendirian TK ‘Aisyiyah Bustanul Athfal tertua dan terbaik di Provinsi Lampung. Selain itu yang ingin dipaparkan dalam penulisan artikel hasil penelitian ini adalah bagaimana strategi yang digunakan oleh sekolah untuk mempertahankan keberadaan sekolah hingga saat ini dan menjadi TK ‘Aisyiyah unggulan di Provinsi Lampung. Penelitian ini menggunakan metode penelitian historis dengan menggunakan 4 langkah yaitu 1). Heuristik, 2). Kritik sumber, 3). Interpretasi, dan 4). Historiografi. Untuk merealisasikan langkah penelitian sejarah, peneliti menggunakan teknik pengumpulan data berupa wawancara secara mendalam, observasi lapangan langsung, dan pencatatan dokumen. Hasil penelitian menunjukkan bahwa TK ‘Aisyiyah Bustanul Athfal tertua di Provinsi Lampung yaitu TK ‘Aisyiyah Bustanul Athfal Teluk Betung Selatan yang berdiri pada tahun 1955. Sedangkan TK ‘Aisyiyah Bustanul Athfal terbaik di Provinsi Lampung yaitu TK ‘Aisyiyah Bustanul Athfal 1 Pringsewu yang berdiri pada tahun 1961. Untuk mempertahankan eksistensi TK, TK ‘Aisyiyah Bustanul Athfal melibatkan masyarakat khususnya anggota ‘Aisyiyah dan masyarakat umum lainya dalam menajalankan kegiatan di TK baik dalam hal tenaga pengajar, sumbangan dana dan pengembangan program-program kerja lainya.
Miftakhuddin Miftakhuddin
Published: 24 January 2020
Abstract:
(mengingat naskah ini bukan artikel penelitian, maka penulis sengaja tidak menyertakan bagian abstrak maupun metode penelitian)
N Noviyanti, Rully Puji Nurmala Putri, Wiwin Hartanto
Published: 24 January 2020
HISTORIA, Volume 7, pp 207-214; https://doi.org/10.24127/hj.v7i2.2002

Abstract:
Kerusuhan Mei 1998 merupakan salah satu peristiwa bersejarah dalam perjalanan bangsa, peristiwa ini memberikan dampak yang kompleks terhadap semua lapisan masyarakat yang mengalaminya di berbagai daerah salah satunya adalah etnis Cina. Etnis Cina kerap menjadi sasaran dalam kerusuhan tersebut seperti di daerah Situbondo terjadi kerusuhan anti Cina pada tahun 1967 yang disebabkan oleh kesenjangan politik dan ekonomi serta di beberap adaerah lain (Winarni dan Badriyanto, 2012:144). Berdasarkan data dan fakta empiris tersebut penulis tertarik untuk menelusuri apakah di Kecamatan Kaliwates Kabupaten juga terjadi perusakan terhadap toko-toko milik etnis Cina sebagai rangkaian dari gerakan reformasi atau tidak mengingat banyaknya masyarakat etnis Cina di kecamatan ini.Metode kajian yang digunakan adalah metode sejarah dengan pengumpulan data berupa teknik wawancara kepada beberapa informan Berdasarkan wawancara yang telah dilakukan, informasi yang dapat diperoleh yaitu kerusuhan (demonstrasi) pada tahun 1998 di Kecamatan Kaliwates terjadi di kawasan Jalan Gajah Mada hingga kantor Pemerintah daerah Jember, Peristiwa ini juga disertai dengan pengrusakan terhadap beberapa toko milik etnis Cina. Peristiwa ini menimbulkan ketakutan dan rasa tidak aman bagi masyarakat etnis Cina untuk melakukan aktivitas jual beli. Peristiwa ini terjadi sebagai akibat dari kekagetan/ eforia terhadap situasi politik dan sosial yang sedang tidak stabil. Kata kunci: Gerakan Reformasi, etnis Cina, Kecamatan Kaliwates Abstract The May 1998 riots were one of the historical events in the nation's journey, this event had a complex impact on all levels of society who experienced it in various regions, one of which was ethnic Chinese. Ethnic Chinese are often the target of the riots such as in the Situbondo area, there were anti-Chinese riots in 1967 caused by political and economic disparities and in several other areas (Winarni and Badriyanto, 2012: 144). Based on the empirical data and facts the authors are interested in exploring whether in Kaliwates District there is also destruction of ethnic Chinese shops as a series of reform movements or not remembering the large number of ethnic Chinese communities in this sub-district.The study method used is the historical method by collecting data in the form of interview techniques to several informants. Based on interviews that have been conducted, information that can be obtained is that riots (demonstrations) in Kaliwates District occurred in Jalan Gajah Mada area to Jember Regional Government offices, Events this was also accompanied by destruction of several ethnic Chinese shops. This event raises fears and insecurity for ethnic Chinese people to carry out buying and selling activities. This event occurred as a result of the shock / euphoria of the political and social situation that was being unstable. Keywords: Reformation Movement, ethnic Chinese, Kaliwates District
Back to Top Top