AcTion: Aceh Nutrition Journal

Journal Information
ISSN / EISSN : 25273310 / 25485741
Current Publisher: Politeknik Kesehatan Kemenkes Aceh (10.30867)
Total articles ≅ 72
Current Coverage
DOAJ
Archived in
SHERPA/ROMEO
Filter:

Latest articles in this journal

Cut Sriyanti, Nizwar Siregar, Mudatsir Mudatsir, Azhari Gani
AcTion: Aceh Nutrition Journal, Volume 4, pp 123-127; doi:10.30867/action.v4i2.179

Abstract:Breast milk was a food source to meet all the baby's needs for nutrients. Early initiation of breastfeeding may improve survival of children, improve health status, and improve brain development and motoric. Efforts to improve the health of infants with exclusive breastfeeding can be done by involving students with the mentoring process. This studied aims to find out the level of success of mentoring by students on the provision of breastfeeding exclusive in Aceh Province. The project design was cross-sectional study with a number of subjects were 86 infant under two years. The sampling technique uses cluster sampling. Data analyses using Chi-Square test. The results of the studied found that of 43 respondents who received a breastmilk income, 76,7% gave exclusive breastfeeding and 23,3% did not give exclusive breastfeeding. Then of 43 respondents who did not get the assistance, as 53,5% gave exclusive breastfeeding, and 46,5% did not give exclusive breastfeeding. Results known to have a significant relationship between mentoring with exclusive breastfeeding (p= 0,020). Students mentoring is effective in increasing the provision of exclusive breastfeeding to infant under two years of age. ASI merupakan sumber makanan untuk memenuhi semua kebutuhan nutrisi pada bayi. Inisiasi menyusui dini dapat meningkatkan kelangsungan hidup anak-anak, meningkatkan status kesehatan, dan meningkatkan perkembangan otak dan motorik. Upaya meningkatkan kesehatan bayi dengan pemberian ASI eksklusif dapat dilakukan dengan melibatkan siswa dengan proses pendampingan. Penelitian bertujuan untuk mengetahui tingkat keberhasilan pendampingan oleh siswa tentang pemberian ASI eksklusif di Provinsi Aceh. Desain penelitian adalah studi cross-sectional dengan jumlah subjek 86 anak di bawah dua tahun. Teknik pengambilan sampel menggunakan cluster sampling. Analisis data menggunakan uji Chi-Square. Hasil penelitian menujukkan bahwa dari hasil pendampingan oleh siswa terdapat 76,7% yang telah memberikan ASI eksklusif. Sedangkan tidak mendapatkan pendampingan hanya sebesar 53,5% yang memberikan ASI eksklusif. Terdapat hubungan signifikan antara pendampingan dengan pemberian ASI eksklusif (p= 0,020). Kesimpulan, pendampingan siswa efektif dalam meningkatkan pemberian ASI eksklusif untuk bayi di bawah usia dua tahun. Saran, perlu penguatan kepada dinas pendidikan bahwa lintas sektor ini sangat bagus dalam meningkatkan kesehatan masyarakat.
Fitri Yani Arbie, Rahma Labatjo
AcTion: Aceh Nutrition Journal, Volume 4, pp 89-98; doi:10.30867/action.v4i2.126

Abstract:Stunting is recognised as a critical issue in the developing countries like Indonesia that arises due to nutritional deficiencies. The present research paper is aimed at examining the problem of stunting among the Indonesian children of age group 0 to 5 years. Methods, qualitative study with interpretivism philosophy and descriptive research design. Data analysing is using meta-analysis method. Results, the level of nutrition among the children belonging to poor and rural families is lower as compared to the children belonging to urban and rich families in Indonesia. The key reasons behind increasing rate of stunting problem among the children are insufficient nutrition level, low paternal education and less hygienic living conditions. Conclusions, the major reason for stunting is found to be the low level of proper nutrition provision to the children of 0-5 years within Indonesia. It is proposed that proper nutrition should be provided to the Indonesian children and for this purpose, the rural and low-income families should be provided with proper education, employment and financial support. Stunting harus diakui sebagai masalah kritis pada negara berkembang seperti Indonesia yang muncul akibat kekurangan gizi. Penelitian bertujuan untuk meneliti masalah stunting pada anak-anak Indonesia dari kelompok umur 0 hingga 5 tahun. Metode, penelitian kualitatif dengan filosofi interpretivisme dan desain penelitian deskriptif. Analisis data menggunakan metode meta-analisis. Hasil penelitian menemukan, status gizi pada anak-anak dari keluarga miskin dan pedesaan lebih rendah dibandingkan dengan anak-anak dari keluarga perkotaan dan kaya di Indonesia. Alasan utama dibalik meningkatnya masalah stunting di pada anak-anak adalah asupan gizi yang tidak memadai, rendahnya pendidikan orang tua dan lingkungan yang kurang higienis. Kesimpulan, alasan utama banyak stunting ditemukan karena rendahnya tingkat pemberian nutrisi yang tepat untuk anak-anak 0-5 tahun di Indonesia. Saran, nutrisi yang tepat harus diberikan kepada anak-anak Indonesia supaya permasalahan stunting teratasi, selain itu masyarakat di pedesaan dan berpenghasilan rendah harus diberikan pendidikan yang layak, pekerjaan dan dukungan ekonomi yang memadai.
Armenia Eka Putriana, Drajat Martianto, Hadi Riyadi
AcTion: Aceh Nutrition Journal, Volume 4, pp 154-162; doi:10.30867/action.v4i2.152

Abstract:The cultural practices of eating in the Makassar, Bugis and Toraja tribes have a variety of unique characteristics based on their respective beliefs. Objective of this study was to analyze the practice of feeding pattern and health practices in child under two years nutritional status in Makassar, Bugis and Toraja tribes. The study using a cross-sectional study design. Total 360 child under two years were divided into 3 tribes: 120 in Makassar tribes, 120 in Bugis tribes and 120 in Toraja tribes. The results showed that there were significant differences in parenting feeding pattern on cultural. The parenting feeding pattern style applied by child under two years mothers is mostly in the Toraja tribe (OR: 1,6), less than the Makassar and Bugis tribes. Health parenting in Bugis tribe (OR: 8,1) is better than the Toraja and Makassar tribes. In conclusion, the highest percentage of parenting feeding pattern styles in the less category is Makassar tribe and the highest percentage of health care patterns in the good category is Toraja tribe. Praktek terhadap budaya makan di suku Makassar, Bugis dan suku Toraja memiliki berbagai karakteristik unik berdasarkan keyakinan masing-masing. Tujuan penelitian untuk menganalisis praktik pola makan dan praktik kesehatan serta analisis status gizi pada anak di bawah dua tahun pada suku Makassar, Bugis dan suku Toraja. Penelitian menggunakan desain potong lintang. Total sampel yaitu 360 anak di bawah dua tahun yang berasal dari 3 suku: 120 di suku Makassar, 120 di suku Bugis dan 120 di suku Toraja. Hasil penelitian menunjukkan terdapat perbedaan signifikan terhadap pola makan orang tua pada budaya. Model pola asuh makan yang diterapkan kepada anak dibawah dua tahun oleh ibu sebagian besar berada di suku Toraja kurang baik (OR: 1,6), dibandingkan dari suku Makassar dan Bugis. Pelayanan kesehatan oleh orang tua kepada anak-anak mereka di suku Bugis (OR: 8,1) lebih baik dari pada suku Toraja dan Makassar. Kesimpulan, persentase tertinggi pola pola asuh makan dalam kategori kurang adalah suku Makassar dan persentase tertinggi pola perawatan kesehatan dalam kategori baik adalah suku Toraja.
Farida Hanum, Dwi Sudiarto, Noni Zakiah, Safwan Safwan, Agus Hendra Al Rahmad
AcTion: Aceh Nutrition Journal, Volume 4, pp 128-133; doi:10.30867/action.v4i2.177

Abstract:White rice as the major staple food for Indonesian people has the opportunity to be contaminated with chemical hazards. Research in USA shows that arsenic is contained in rice. The arsenic emissions of 75% are estimated to originate from the mining, fertilizers and pesticides. This study aims to determine qualitatively arsenic contamination of white rice consumed by Acehnese people and how to cook it. A total of 30 white rice samples were obtained with purposive technique from the Aceh Health Polytechnic employees who brought breakfast. The the consideration that they come from various regions in Aceh. Arsenic analysis contamination in samples was carried out using arsenic test kit. Data collected is in the form of interviews about white rice cooking techniques and the analysis of arsenic contamination. The results showed that white rice consumed by the employees was safe from arsenic and that the rice cooking technique on a household is feasible. Besides that the arsenic test was also carried out on white rice sold in stalls, the results were positive. This indicates that white rice is consumed by people in Aceh, there are those which are contaminated with arsenic. This study provides evidence that the contamination is still present in rice which has been processed into rice cooked. Keywords: ABSTRAKNasi putih sebagai salah satu sumber makanan pokok di Indonesia memiliki peluang tercemar bahan kimia yang sangat berbahaya. Penelitian di USA menunjukkan bahwa arsen terkandung di dalam beras, 75% emisi arsen diperkirakan berasal dari aktivitas penambangan, pemupukan dan pestisida. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui cemaran arsen secara kualitatif pada nasi putih di Aceh dan bagaimana teknik memasaknya. Penelitian ini merupakan survey deskriptif berbasis laboratorium. Populasi adalah seluruh pegawai Poltekkes Kemenkes Aceh. Sebanyak 30 sampel nasi putih dicuplik secara purposif dari 30 orang pegawai yang membawa bekal sarapannya. Pertimbangan bahwa mereka berasal dari berbagai daerah di Aceh. Analisis arsen menggunakan arsen test kit. Data primer dikumpulkan dari hasil wawancara tentang teknik memasak nasi putih dan hasil analisis arsen pada nasi putih. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nasi putih yang dikonsumsi oleh pegawai Poltekkes Kemenkes Aceh aman dari cemaran arsen. Hasil ini menegaskan bahwa teknik memasak nasi pada skala rumah tangga dapat menghasilkan nasi putih yang bebas dari cemaran kimia arsen. Analisis arsen juga dilakukan pada nasi putih yang dijual di warung sebagai pembanding, hasilnya positif. Ini menunjukkan bahwa nasi putih yang dikonsumsi oleh masyarakat Aceh, ada yang tercemar arsen. Penelitian ini membuktikan bahwa cemaran arsen masih ada pada beras yang telah diolah menjadi nasi.
Taufiq Firdaus Alghifari Atmadja, Andi Eka Yunianto
AcTion: Aceh Nutrition Journal, Volume 4, pp 142-148; doi:10.30867/action.v4i2.185

Abstract:Meniran tea is a functional beverage that contains a variety of active components. Meniran tea contains a variety of active components including flavonoids which act as antioxidants. The purpose of this study was to study the formulation of meniran leaf tea (Phyllanthus niruri) as a functional drink. The design used in this study is an experimental design with a Completely Randomized Design (CRD). Meniran leaf tea formulation is done by mixing dried meniran leaves with dry black tea leaves with formulations 25%, 50%, and 75%. Organoleptic test results (hedonic and hedonic quality) were analyzed by statistical tests using the Kruskal-Wallis test, while antioxidant capacity data would be analyzed by ANOVA statistical tests. Analysis of antioxidant capacity was carried out using the Spectrophotometry method. Organoleptic test results showed that the hedonic quality parameters typical aroma tea is in the range (2,45 – 2,93), the typical aroma of meniran (2,86 – 3,10), bitter taste (3,76 – 4,45), taste foreign (2,83 – 3,38), and steeping color (1,52 – 3,21). The hedonic organoleptic test showed that the beverage aroma parameters were in the range (3,31 – 3,34), taste (1,96 – 2,55) and steeping color (3,07 – 3,65). Antioxidant capacity test shows that F3 functional drinks have the highest antioxidant content of 87,3%. Overall F1 meniran tea (25% meniran leaves, 75% black tea leaves) is the best formula based on organoleptic test results and antioxidant capacity.Teh meniran merupakan minuman fungsional yang memiliki kandungan berbagai komponen aktif. Teh Meniran mengandung berbagai komponen aktif diantaranya golongan flavonoid berperan sebagai antioksidan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mempelajari formulasi teh daun Meniran (Phyllanthus niruri) sebagai minumal fungsional. Desain penelitian ini yaitu eksperimental melalui Rancangan Acak Lengkap (RAL). Formulasi teh daun meniran dilakukan dengan mencampurkan daun meniran kering dengan daun teh hitam kering dengan formulasi 25%, 50%, dan 75%. Data hasil uji organoleptik (hedonik dan mutu hedonik) dianalisis dengan uji statistik menggunakan uji Kruskal-Wallis, sedangkan data kapasitas antioksidan akan dianalisis dengan uji statistik ANOVA. Analisis kapasitas antioksidan dilakukan dengan menggunakan metode Spektrofotometri. Hasil uji organoleptik mutu hedonik menunjukkan bahwa parameter aroma khas teh berada pada kisaran (2,45 – 2,93), aroma khas meniran (2,86 – 3,10), rasa pahit (3,76 – 4,45), rasa asing ( 2,83 – 3,38), dan warna seduhan (1,52 – 3,21). Uji organoleptik hedonik menunjukkan bahwa parameter aroma minuman berada pada kisaran (3,31 – 3,34), rasa (1,96 – 2,55) dan warna seduhan (3,07 – 3,65). Uji kapasitas antioksidan menunjukkan bahwa minuman fungsional F3 memiliki kandungan antioksidan paling tinggi sebesar 87,3%. Secara keseluruhan teh meniran F1(25% daun meniran, 75% daun teh hitam) merupakan formula yang terbaik berdasarkan hasil uji...
Masyudi Masyudi, Mulyana Mulyana, T. M Rafsanjani
AcTion: Aceh Nutrition Journal, Volume 4, pp 111-116; doi:10.30867/action.v4i2.174

Abstract:Nutritional status with WFA provides an description of acute nutritional problems, due to fluctuating changes in body weight. Breastfeeding is not until two years is a factor causing weight not to rise, so weaning toddlers very well even at 2 years. Mothers with poor parenting such as breastfeeding, complementary feeding and health services also affect the condition of the nutritional status of children under five acutely. The aim of study was to determine the impact of parenting and weaning age on the nutritional status of toddler. The research was cross-sectional study design, with 65 toddlers in Muara Batu District, North Aceh Regency. Samples are taken randomly. Parenting and weaning data were collected through interviews, while nutritional status data used a WFA z-score index. Analysis using Chi-square test. The results show the relationship between parenting (p= 0,021; OR= 3,6) and weaning age (p= 0,042; OR= 3,5) with the nutritional status of toddlers. In conclusion, poor parenting and the fast age of weaning have an impact on the high number of cases of malnutrition in children under five in Muara Batu District, North Aceh. Suggestions, it is necessary to support health promotion such as counseling related to parenting and weaning, and it is hoped that positive follow-up by relevant stakeholders in improving the nutritional status of toddlers.Status gizi BB/U memberikan gambaran masalah gizi akut, karena perubahan berat badan yang fluktuatif. Pemberian ASI tidak sampai dua tahun merupakan faktor penyebab berat badan tidak naik, sehingga menyapih balita sangat baik genap pada 2 tahun. Ibu dengan pola asuh tidak baik seperti pemberian ASI, MP-ASI dan pelayanan kesehatan berdampak juga terhadap kondisi status gizi balita secara akut. Tujuan penelitian untuk mengetahui dampak pola asuh dan usia penyapihan terhadap status gizi balita. Penelitian berdesain Cross-sectional study, pada balita sebanyak 65 balita di Kecamatan Muara Batu, Kabupaten Aceh Utara. Sampel diambil secara acak. Data pola asuh dan penyapihan dikumpulkan melalui wawancara, sedangkan data status gizi menggunakan z-score indeks BB/U. Analisis menggunakan uji Chi-square. Hasil menunjukkan hubungan antara pola asuh (p= 0,021; OR= 3,6) dan usia penyapihan (p= 0,042; OR= 3,5) dengan status gizi balita. Kesimpulan, pola asuh yang kurang baik serta cepatnya usia penyapihan berdampak terhadap tingginya kasus gizi kurang pada balita di Kecamatan Muara Batu, Aceh Utara. Saran, perlu dukungan promosi kesehatan seperti penyuluhan terkait pola asuh pada balita dan penyapihan, serta diharapkan tindak lanjut positif oleh stakeholder terkait dalam meningkatkan status gizi balita.
Retno Wahyuningsih, Intan Gumilang Pratiwi
AcTion: Aceh Nutrition Journal, Volume 4, pp 163-167; doi:10.30867/action.v4i2.180

Abstract:Overweight becomes a problem in young women, because in general they want to look perfect by having an ideal body, slim and slim. Teenagers who lack physical activities, such as sports and activities that require a lot of body movement are things to watch out for obesity. This research is a correlational study that aims to determine the relationship of physical activity with the incidence of obesity in adolescents in the Department of Nutrition Health Polytechnic Mataram. The study population was all students of the Nutrition Department. The sample that was selected randomly as many as 62 students from the Department of Nutrition. Data collected were physical activities obtained from the recall of 2x24 hours of physical activity conducted over two days, namely college days and holiday days (weekends). Measurement of physical activity using the PAL instrument (Physical Activity Level). Data analysis used chi-square test and OR at 95% CI. The results showed that adolescents have moderate physical activity, but BMI tends to be obese (28,2), and there is a significant relationship (p value = 0,048; OR= 3,3) between physical activity and BMI of adolescent students. Mild physical activity has a 3.3-fold chance of obesity compared to moderate physical activity. In conclusion, adolescent physical activity shows a significant relationship with body mass index. Kegemukan menjadi suatu permasalahan pada remaja putri, karena pada umumnya mereka ingin tampil sempurna dengan memiliki tubuh yang ideal, langsing dan ramping. Remaja yang kurang melakukan aktifitas fisik, seperti olahraga dan kegiatan-kegiatan yang membutuhkan banyak gerak tubuh merupakan hal yang harus diwaspadai terhadap terjadinya obesitas. Penelitian korelasional yang bertujuan untuk mengetahui hubungan aktifitas fisik dengan kejadian obesitas pada remaja di Jurusan Gizi Politeknik Kesehatan Mataram. Populasi penelitian ini adalah mahasiswa Jurusan Gizi yang terpilih secara acak sebanyak 62 orang. Data yang dikumpulkan yaitu aktivitas fisik yang diperoleh dari hasil recall aktivitas fisik selama 2x24 jam yang dilakukan selama dua hari yaitu hari kuliah dan hari libur kuliah (weekend). Pengukuran aktivitas fisik tersebut dengan menggunakan instrument PAL (Physical Activity Level). Analisis data menggunakan uji chi-square dan OR pada CI 95%. Hasil penelitian diketahui remaja mempunyai aktifitas fisik yang sedang, namun IMT cenderung gemuk (28,2), dan terdapat hubungan signfikan (nilai p= 0,048; OR= 3,3) antara aktifitas fisik dengan IMT remaja mahasiswa. Aktifitas fisik ringan berpeluang sebesar 3,3 kali mengakibatkan obesitas dibandingkan aktifitas fisik sedang. Kesimpulan, aktifitas fisik remaja menunjukkan hubungan secara signifikan dengan indeks masa tubuh.
Saskiyanto Manggabarani, Wanda Lestari, Herlina Gea
AcTion: Aceh Nutrition Journal, Volume 4, pp 134-141; doi:10.30867/action.v4i2.181

Abstract:Velva is a type of frozen dessert made from fruit that contains nutrients that help the body's metabolic processes and as a source of energy. The addition of vegetables is done to replace fruits that are more expensive and as a source of antioxidants. The aim is to determine the acceptability and hedonic quality and nutritional content of the best formulas for Velva products. Experimental research using a completely randomized design (CRD) approach to the formulation of the basic material for making dragon fruit Velva with the addition of carrot and pumpkin vegetables that is five treatments and two replications to obtain 10 experimental units, the data were analyzed by One Way ANOVA with Duncan test. The results based on hedonic tests show that F3 (80% Carrot + Yellow Pumpkin 20%) averaged 3,51 best-selected formulas. Whereas the hedonic quality test showed that F1 (Carrot 100%) average value of 3,51 the best-selected formula. Organoleptically selected best Velva showed F5 as the best Velva formula ranging from 3.49 organoleptic average test results and nutrient analysis results with nutrient content values. Water content is 77,4%, fat content is 7,4%, protein content is 2,9%, carbohydrate content is 15.3164% ash content is 4,3%. Conclusion; the best dragon fruit Velva formula, carrot vegetable, and pumpkin are the best in hedonic and hedonic quality in formula F5 (60% carrot and 40% pumpkin) containing low-fat content based on SNI frozen dessert.Velva sejenis frozen dessert terbuat dari buah yang mengandung kandungan zat gizi yang membantu proses metabolisme tubuh dan sebagai sumber energi. Penambahan sayur dilakukan untuk mengganti buah yang harganya lebih mahal dan sebagai sumber antioksidan. Tujuan untuk mengetahui daya terima dan mutu hedonik serta kandungan gizi formula terbaik terhadap produk velva. Penelitian eksperimen menggunakan rancangan acak lengkap (RAL) pendekatan formulasi dari bahan dasar pembuatan velva buah naga dengan penambahan sayur wortel dan labu kuning yaitu lima perlakuan dan dua kali ulangan sehingga diperoleh 10 unit percobaan, data dianalisis dengan One Way Anova dengan uji Duncan. Hasil uji hedonik menunjukkan bahwa F3 (Wortel 80% + Labu Kuning 20%) rata-rata 3,51 formula terpilih terbaik. Uji mutu hedonik menunjukkan bahwa F1 (Wortel 100%) nilai rata-rata 3,51 formula terpilih terbaik. Velva terpilih terbaik secara organoleptik menunjukkan F5 sebagai formula velva terbaik berkisar 3,49 nilai rata-rata uji organoleptik dan hasil analisis zat gizi dengan nilai kandungan zat gizi. Kadar air 77,5%, kadar lemak 7,4%, kadar protein 2,9%, kadar karbohidrat 15,3% kadar abu 4,3%. Kesimpulan; formula velva buah naga, sayur wortel dan labu kuning yang terbaik secara hedonik dan mutu hedonik pada formula F5 (60% wortel dan 40% labu kuning) yang mengandung kadar lemak rendah berdasarkan SNI frozen dessert.
Ratna Dewi
AcTion: Aceh Nutrition Journal, Volume 4, pp 149-153; doi:10.30867/action.v4i2.161

Abstract:Perineal injury is a predisposing factor for postpartum infections. This form of infection varies and is local until sepsis and postpartum death occur. One of the risk factors for perineal infection is healing of old perineal wounds. The study aims to measure the effect of broiler chicken eggs on healing of perineal wounds in puerperal mothers. The study was used a quasi experimental design method with a control group approach. Conducted for postpartum mothers in the district of Ingin Jaya from July to November 2018. The sample consisted of 15 intervention group mothers (receiving broiler eggs) and 15 control group mothers. Data collection by interview, 24 hour recall. Analysis using the Man Whitney test. The results showed that mothers who were given broiler eggs had a faster healing process in perineal wounds (p
Maharani Maharani, Sri Wahyuni, Diah Fitrianti
AcTion: Aceh Nutrition Journal, Volume 4, pp 81-88; doi:10.30867/action.v4i2.78

Abstract:The double burden of nutrition is very worrying for children in Indonesia. Indonesia has a prevalence of malnutrition of 13,8% and 3,1% was overweight of children, while in Aceh that is 16,8% and 2,9% of overweight. One of the factors is the arrangement of additional food that is not patterned. The purpose of this study was to examine the relationship between mother's knowledge and attitudes about supplementary food and nutritional status in infants. The study was an analytic survey using a cross sectional approach. Samples were taken as many as 86 toddlers with a simple random technique. Data collection using questionnaires and anthropometric measurements. Knowledge and attitude data are processed according to percentage values, and nutritional status data are processed according index to WFA. The statistical test is chi-square at CI:95%. The results showed that mothers' knowledge and attitudes about supplementary food were still not good, and there were still many toddlers with the best nutritional status. Other results show the relationship between maternal knowledge (p=0,000) and maternal attitudes (p=0,019) regarding supplementary food with nutritional status in toddlers in Woyla Barat District. Conclusions, poor mother's knowledge and attitude about supplementary feeding is related to the high problem of malnutrition and over nutrition. Suggestions, counseling is needed related to providing good and nutritious supplementary food, as well as monitoring the nutritional status of children continuously both in the WFA, HFA and WFH indexs.Beban ganda masalah gizi sangat mengkhawatirkan anak-anak di Indonesia. Indonesia mempunyai prevalensi kekurangan gizi sebesar 13,8% dan 3,1% balita gizi lebih, sedangkan di Aceh yaitu sebesar 16,8% dan 2,9% anak gizi lebih. Salah satu faktor penyebab yaitu pengaturan makanan tambahan yang tidak terpola. Tujuan penelitian untuk mengukut hubungan pengetahuan dan sikap ibu tentang makanan tambahan dengan status gizi pada balita di. Penelitian bersifat survey analitik dengan menggunakan pendekatan cross sectional. Sampel diambil sebanyak 86 balita dengan teknik acak sederhana. Pengumpulan data menggunakan kuesioner dan pengukuran antropometri. Data pengetahuan dan sikap diolah menurut nilai persetase, dan data status gizi diolah menurut indeks BB/U. Uji statistik yaitu chi-square pada CI:95%. Hasil penelitian menunjukan pengetahuan dan sikap ibu tentang makanan tambahan masih kurang baik, serta masih banyak balita yang bestatus gizi kurang. Hasil lainnya menunjukkan hubungan antara pengetahuan ibu (p= 0,000) dan sikap ibu (p= 0,019) tentang makanan tambahan dengan status gizi pada balita di Kecamatan Woyla Barat Kabupaten. Kesimpulan, pengetahuan dan sikap ibu yang kurang baik tentang pemberian makannan tambahan berhubungan dengan tingginya masalah gizi kurang dan kelebihan gizi. Saran, perlu dilakukan penyuluhan terkait pemberian makanan tambahan yang baik dan bergizi, serta pemantauan status gizi anak...