JURNAL WALENNAE

Journal Information
ISSN / EISSN : 1411-0571 / 2580-121X
Published by: Balai Arkeologi Yogyakarta (10.24832)
Total articles ≅ 53
Filter:

Latest articles in this journal

Sriwigati Sriwigati, Muh. Fadhlan Syuaib Intan Intan, Nasrullah Azis, Henki Riko, Aisyah Arung Qalam Qalam, Erna Sari Kurata
Published: 25 November 2021
Journal: Jurnal Walennae
Jurnal Walennae, Volume 19, pp 111-122; https://doi.org/10.24832/wln.v19i2.696

Abstract:
Kubur batu merupakan tinggalan megalitik yang sangat menonjol di Pulau Sangihe bagian selatan, sampai saat ini tercatat di 45 lokasi situs, 2 lokasi sumber bahan, dan jumlah kubur batu 699. Variabilitas temuan lainnya yang konteks dengan kubur batu, ditemukan pada saat survei yakni fragmen tembikar, keramik dan logam. Tulisan ini akan mengetengahkan tentang analisis laboratoris temuan tembikar, keramik dan logam tersebut. Kajian data berdasarkan penelitian survei dan ekskavasi dan kemudian dilanjutkan dengan analisis laboratoris melalui uji XRF dan sayatan tipis untuk temuan fragmen tembikar dan logam. Tembikar yang ditemukan berupa tembikar polos dengan bentuk wadah berupa periuk dan mangkuk. Berdasarkan analisis laboratorium dapat diketahui tembikar dari Pulau Sangihe kemungkinan merupakan tembikar produksi lokal.Analisis keramik diketahui berasal dari Cina, Cina Selatan, Eropa, dan Jepang. Kronologi keramik hasil penelitian dari abad ke 15–19 Masehi. Stone graves are prominent megalithic remains in the southern part of Sangihe Island. They are distributed in 45 site locations and 2 material source locations. The number of the stone graves is 699. Pottery, ceramic and metal fragments in the same context as the stone graves were found during the survey. This article will report the results of a laboratory analysis of the pottery, ceramic and metal findings. The data collected during the survey and excavation underwent a laboratory analysis. The pottery and metal fragments were tested by using the XRF technique and the thin section method. The pottery fragments found are plain pots and bowls. Based on the laboratory analysis, it is supposed that the pottery found in Sangihe Islands was locally produced. The analysis indicates that the ceramic fragments originated in China, South China, Europe and Japan. Chronologically, the ceramic fragments originated in the 15th-19th centuries.
Nurul Adliyah Purnamasari, Makmur Makmur
Published: 25 November 2021
Journal: Jurnal Walennae
Jurnal Walennae, Volume 19, pp 123-142; https://doi.org/10.24832/wln.v19i2.508

Abstract:
Nisan arca merupakan tipe nisan yang memiliki bentuk menyerupai manusia. Nisan arca adalah bentuk kontinuitas dari sebuah produk budaya yang dikenal dengan sebutan arca megalitik, yang bertransformasi menjadi nisan arca pada masa peradaban Islam di Sulawesi Selatan. Penelitian ini sendiri dilakukan sebagai upaya untuk menelusuri nisan arca pada wilayah Etnik Makassar yang ditemukan pada delapan kompleks makam Islam yang tersebar di Kabupaten Bantaeng, Jeneponto dan Maros. Metode yang digunakan yaitu metode desk study yaitu penelusuran data awal terkait nisan arca di wilayah Etnik Makassar, kemudian dilanjutkan dengan pengumpulan data lapangan. Setelah seluruh data terkumpul dilakukan proses analisis. Tahapan analisis dilakukan dengan proses klasifikasi data terhadap seluruh nisan arca untuk menentukan morfologi masing-masing. Sehingga diperoleh informasi bahwa nisan arca di wilayah Etnik Makassar terdiri atas beberapa variasi bentuk yang berbeda. Variasi tersebut dipengaruhi oleh beberapa faktor, yaitu perbedaan kondisi etnografi, lingkungan dan sistem pengetahuan masyarakat setempat, serta periode pembuatan nisan arca itu sendiri. Statue tombstones are a type of tombstones that resemble human beings. Statue tombstones are a form of the continuity of cultural products known as megalithic statues, which were transformed into statue tombstones during the Islamic era in South Sulawesi. This research was conducted to investigate the statue tombstones found in eight Islamic tomb complexes in Makassar Ethnic Areas in Bantaeng Regency, Jeneponto Regency, and Maros Regency. The desk study method was used to explore preliminary data related to the statue tombstones found in Makassar Ethnic Areas. Then, field data collection was carried out. The analysis process was carried out after all the required data had been collected. The analysis was carried out by classifying the data on the statue tombstones to determine their morphological features. Results of the analysis show that the statue tombstones have varied forms. The variety was influenced by several factors, namely the ethnographic conditions, environments and knowledge systems of the local communities, and the periods in which the statue tombstones were made.
Naufal Raffi, Dyah Kumalasari Kumalasari, Sandy Maulana Yusuf Yusuf
Published: 25 November 2021
Journal: Jurnal Walennae
Jurnal Walennae, Volume 19, pp 101-110; https://doi.org/10.24832/wln.v19i2.494

Abstract:
Interaksi antarbudaya dalam kajian arkeologi seni memungkinkan corak budaya tertentu muncul di artefak budaya lain. Tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui latar belakang kemunculan ornamen figur qilin pada mimbar Masjid Gedhe Mataram Kotagede, beserta teknik penggambaran dan prinsip-prinsip seni yang melekat padanya. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini ialah kualitatif deskriptif dengan pendekatan arkeologi seni dan ikonografi. Dari hasil wawancara diketahui bahwa ornamen qilin merupakan pemberian dari Sultan Palembang. Ornamen ini menjadi bukti adanya pengaruh Tiongkok di Nusantara. Qilin pada mimbar Masjid Gedhe Mataram Kotagede digambarkan dengan teknik denaturalistis atau stilasi. Penggambaran qilin memperhatikan prinsip-prinsip seni rupa. Prinsip-prinsip tersebut antara lain kesatuan, keseimbangan, irama, dan kesebandingan simbol. Intercultural interactions, in relation to the study of art archeology, have allowed certain cultural features to appear in other cultural artefacts. The aim of this study was to put forward the reasons behind the appearance of the qilins on the pulpit of the Masjid Gedhe Mataram in Kotagede, along with the depiction techniques and art principles attached to it. The research method used in this study was descriptive qualitative with an art archaeological and iconographical approach. The study indicated that the pulpit was a gift from Sultan of Palembang, demonstrating Chinese influence in this archipelagic nation (Nusantara). The qilins were portrayed using denaturalization or stylized techniques, highlighting the principles of fine art such as unity, balance, rhythm, and proportionality of symbol.
Moh. Ali Fadillah
Published: 25 November 2021
Journal: Jurnal Walennae
Jurnal Walennae, Volume 19, pp 77-100; https://doi.org/10.24832/wln.v19i2.711

Abstract:
Berbagai sumber sejarah menyebutkan bahwa Banten merupakan salah satu pelabuhan lada untuk pasar Asia dan Eropa pada abad ke-17. Namun pecahan keramik dari periode Tang dan Song-Yuan hasil penggalian di situs Banten Girang membuktikan bahwa aktivitas perdagangan telah dimulai sejak abad X. Permasalahannya, sejarah awal perkebunan lada belum diketahui dengan jelas, oleh karen itu diperlukan suatu kajian untuk mengetahui tentang perdagangan lada pra-Islam di Banten. Kami melakukan survei di pedalaman Banten yang diduga sebagai lahan perkebunan di masa lalu. Pengamatan lapangan telah menemukan kembali jejak lada yang terhubung ke pelabuhan di pantai utara dan barat. Berdasarkan keterkaitannya dengan peninggalan pra-Islam, lada diduga telah dibudidayakan sejak Milenium pertama Masehi seiring dengan masuknya pedagang India dan China melalui Selat Sunda. Hasil analisis kontekstual terhadap jejak arkeologi dan etnografi, telah memberi gagasan bahwa perdagangan lada telah menjadi penggerak utama perekonomian yang dikendalikan oleh kekuasaan politik pesisir utara Jawa yang mungkin telah dimulai pada masa Tarumanagara dan berkembang pada masa kerajaan Sunda-Banten. Various historical sources state that Banten was one of the pepper ports for the Asian and European markets in the 17th century. Ceramic shards from the Tang and Song-Yuan periods at the Banten Girang site prove that trading activities have started since the 10th century. The problem is, the early history of pepper plantations is unknown, therefore a study is needed to gain knowledge about the pre-Islamic pepper trade in Banten. We conducted a survey in the interior of Banten suspected as plantation land in the past. Field observations have rediscovered traces of pepper connected to ports on the north and west coasts. Based on its association with pre-Islamic remains, pepper was supposed to have been cultivated since the first millennium AD along with the arrival of Indian traders through the Sunda Strait. The results of the contextual analysis on archaeological and ethnographic traces, propose the idea that the pepper trade has become the main driver of the economy controlled by the north coast polities of Java which may have started during the Tarumanagara period and developed during the Sundanese kingdom of Banten.
Fakhri Fakhri, Delta Bayu Murti Murti, Budianto Hakim Hakim, Muhammad Nur Nur, Akin Duli Duli, Khadijah Tahir Muda Muda
Published: 25 November 2021
Journal: Jurnal Walennae
Jurnal Walennae, Volume 19, pp 143-160; https://doi.org/10.24832/wln.v19i2.520

Abstract:
Pembahasan utama dalam penelitian ini adalah uraian osteoarkeologis terkait temuan rangka manusia situs prasejarah Leang Kado‘ 4 di kawasan karst Simbang, Maros, Sulawesi Selatan. Sebagai bagian dari kajian bioarkeologi, uraian ini meliputi penentuan jenis kelamin, usia kematian, rata-rata tinggi badan, afinitas ras, dan jumlah individu minimal yang ada di Situs Leang Kado‘ 4 sebagai bagian aktivitas penguburan. Metode penelitian menerapkan langkah kerja analisis dalam kajian bioarkeologi yang juga diterapkan dalam disiplin antropologi ragawi. Langkah kerja analisis tersebut, meliputi: identifikasi, pengukuran, komparasi, dan penghitungan estimasi jumlah individu minimal dalam sebuah himpunan data. Penelitian ini berkesimpulan bahwa sisa rangka manusia di situs Leang Kado‘ 4 memiliki kesamaan dengan dua jenis ras manusia, yaitu ras populasi Sahul-Pacific dikenal pula sebagai Australo-Papuan atau Australomelanesoid dan ras populasi Asia atau Mongoloid. Hadirnya data ini diharapkan menjadi salah satu bahan pertimbangan rekomendasi kebijakan berwawasan pembangunan karakter budaya bangsa yang mengedepankan kebhinekaan asal usul dengan data temuan rangka manusia. This research aims to provide an osteoarchaeological analysis of the human skeletons found at the prehistoric site of Leang Kado‘ 4 in Simbang karst area, Maros, South Sulawesi. As a part of bioarchaeological studies, the analysis included the determination of sex, age at death, average height, racial affinity, and the minimum number of individuals at the site as part of the burial activities. The research employed the analytical process that is commonly carried out in bioarchaeological and physical anthropological studies. The analytical process consists of identification, measurement, comparison, and estimation of the minimum number of individuals in a data set. It is concluded that the human skeletal remains at Leang Kado‘ 4 site share several similarities with two human races, i.e. Sahul-Pacific race also known as Australo-Papuan or Australomelanesoid and Asian or Mongoloid race. It is expected that all this data can be used as a base for developing policies oriented to the development of the national character and culture by emphisizing the diversity of the people’s origins, which is supported by data on human skeletal remains.
Irfanuddin Wahid Marzuki, Putra Kamajaya, Nurachman Iriyanto, Ajeng Wulandari
Published: 25 November 2021
Journal: Jurnal Walennae
Jurnal Walennae, Volume 19, pp 161-178; https://doi.org/10.24832/wln.v19i2.519

Abstract:
Kawasan Kota Lama Gorontalo memiliki banyak tinggalan arkeologi berupa bangunan-bangunan indis dan kolonial, yang saat ini mengalami ancaman karena perkembangan kota dan ekonomi. Penelitian ini bertujuan untuk menggali persepsi masyarakat awam mengenai tinggalan-tinggalan arkeologi di kawasan Kota Lama Gorontalo. Banyaknya bangunan kolonial membuktikan kota Gorontalo telah ada dan berperan penting sejak lama masa kolonial. Penelitian ini bersifat deskriptif dengan penalaran induktif. Tahap pengumpulan data memadukan antara studi pustaka dan pengamatan lapangan serta wawancara. Selain itu, untuk mendapatkan masukan dari para ahli dilakukan FGD yang melibatkan peneliti dari Balai Arkeologi, BPNB, akademisi, pemerintah daerah, guru, BPCB, dan professional. Hasil penelitian menunjukkan sebagian masyarakat masih ada yang belum mengetahui kawasan Kota Lama, meskipun mereka beraktivitas di kawasan tersebut. Upaya sosialisasi kepada masyarakat mengenai kawasan Kota Lama diperlukan sehingga masyarakat menyadari keberadaan kawasan Kota Lama dan potensi arkeologi yang dimilikinya, pelestarian serta pengembangan kawasan. Stakeholder atau pemangku kepentingan di kawasan Kota Lama Gorontalo dapat dikelompokkan menjadi empat, yaitu; pemain kunci (pemerintah), subjek (pemilik/pemakai), pendukung (akademisi, LSM, budayawan), dan pengikut lain (masyarakat umum). Masing-masing stakeholder (pemangku kepentingan) memiliki fungsi dan peran sendiri-sendiri, sehingga perlu dikoordinasi dan disinergikan agar sesuai dengan tujuan, yaitu pelestarian dan pengelolaan kawasan yang sesuai dengan kondisi sosial budaya Gorontalo. Hasil penelitian ini dapat dijadikan dasar untuk kegiatan penelitian ke depan mengenai pengelolaan kawasan baik oleh Balai Arkeologi Provinsi Sulawesi Utara, akademisi, maupun pihak Pemerintah Daerah. Kota Lama Gorontalo has many archaeological remains indis and colonial buildings, which are currently experiencing threats due to urban and economic developments. This study aims to explore the general public's perception of archaeological remains in the Kota Lama Gorontalo. The number of colonial buildings in Gorontalo proves that Gorontalo has existed and played an important role since the long colonial period. This research is descriptive with inductive reasoning. The data collection combines literature study and field observations and interviews. In addition, to get input from experts, an FGD was conducted which involved researchers from the Balai Arkeologi, BPNB, academics, local government, teachers, BPCB, and professionals. The results showed that some people still do not know Kota Lama, even though they are active in this area. Socialization efforts to the public regarding Kota Lama are needed so that people are aware of the existence of Kota Lama and its archaeological potential, preservation and development of the area. Stakeholders in Kota Lama Gorontalo can be grouped into four, namely; key players (government), subjects (owners / users), supporters (academics, NGOs, cultural observers), and other followers (general public). Each stakeholder (stakeholder) has its own function and role, so it needs to be coordinated and synergized so that it is in accordance with the objectives, namely the preservation and management of the area in accordance with the socio-cultural conditions of Gorontalo. The results of this study can be used as the basis for future research activities regarding area management by the Balai Arkeologi Sulawesi Utara Province, academics, and the local government.
Anas Anwar Nasirin, Dade Mahzuni
Published: 25 June 2021
Journal: Jurnal Walennae
Jurnal Walennae, Volume 19, pp 11-22; https://doi.org/10.24832/wln.v19i1.426

Abstract:
Candi Bojongmenje merupakan salah satu artefak sejarah Jawa Barat. Publikasi seputar Candi Bojongmenje tidak banyak dibandingkan candi-candi lainnya di Pulau Jawa karena literatur yang membahas candi ini masih sedikit. Candi Bojongmenje ditemukan pada 2002 di Kampung Bojongmenje, Desa Cangkuang, Rancaekek, Kabupaten Bandung. Keberadaan candi ini diketahui sejak abad VIII M terkait erat dengan keruntuhan Kerajaan Tarumanegara dan berdirinya Kerajaan Sunda. Tujuan penelitian ini untuk mengkaji eksistensi Candi Bojongmenje sejak abad VIII M pasca runtuhnya Kerajaan Tarumanegara pada abad VII M dan berdirinya Kerajaan Sunda Abad X M. Penelitian ini menggunakan metode sejarah, dimana penulis melakukan proses Heuristik, Kritik, Interpretasi dan menyajikan hasil penelitian dalam bentuk Historiografi. Hasil penelitian membuktikan, keberadaan Candi Batujaya sejak abad VII M menjadi bukti runtuhnya Kerajaan Tarumanegara pasca penyerbuan Jayasana dari Kerajaan Sriwijaya dan sempat eksisnya kebudayaan Budha di tanah Sunda. Keberadaan Candi Bojongmenje sejak abad VIII M menjadi bukti masih eksisnya kebudayaan Tarumanegara di daerah pedalaman pasca penyerbuan Sriwijaya yang menjadi cikal bakal berdirinya Kerajaan Sunda pada abad X M. Bojongmenje Temple is one of the artefacts of west Java history. The publication of Bojongmenje Temple is not much compared to other temples in Java Island because the literature that discusses this temple is still small. Bojongmenje Temple was found in 2002 in Kampung Bojongmenje Cangkuang Village, Rancaekek, Bandung Regency. The existence of this temple is closely related to the collapse of tarumanegara kingdom in the VIIth century AD and the establishment of sunda kingdom in the X century M. The purpose of this research is to examine the cause of the construction of Bojongmenje Temple in the 8th century AD after the collapse of tarumanegara kingdom in the VII century AD and then the establishment of sunda kingdom in century X M. This research uses historical methods, where the author conducts heuristic process, criticism, interpretation and presents the results of this study in the form of Historiography. The results prove, the existence of Batujaya Temple in the 7th century AD became the cause of the collapse of tarumanegara kingdom after the invasion of Jayasana from Srivijaya Kingdom and the existence of Buddhist culture in sundanese land. Keberadaan Bojongmenje Temple in the 8th century AD became evidence of the existence of Tarumanegara culture in the hinterland after the invasion of Srivijaya which became the forerunner of the establishment of the Sunda Kingdom in the X century AD.
Abednego Andhana Prakosajaya, Hot Marangkup Tumpal Sianipar, Rizal Hendra Pratama
Published: 25 June 2021
Journal: Jurnal Walennae
Jurnal Walennae, Volume 19, pp 47-58; https://doi.org/10.24832/wln.v19i1.424

Abstract:
Terdapat beberapa petirtaan di Jawa Tengah yang merupakan bagian integral dari sebuah candi. Fenomena ini dapat dilihat pada tata ruang Candi Ngempon yang terletak tidak jauh dari Petirtaan Derekan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis penerapan kitab Manasara-Silpasastra yang memengaruhi tata letak petirtaan dengan suatu candi sebagai satu bagian integral. Penelitian ini dilakukan dengan analisis data sekunder yang diperoleh dari studi pustaka dan wawancara. Data sekunder tersebut kemudian menjadi dasar dilakukannya crosscheck dengan melakukan pengamatan lapangan. Dari metode tersebut diperoleh kesimpulan bahwa tata ruang Pechaka dalam Manasara[1]Silpasastra diduga menjadi dasar pemilihan letak Candi Ngempon yang berada di sisi timur laut Petirtaan Derekan sehingga menunjukan adanya penerapan kitab Manasara-Silpasastra dalam kasus ini There are several petirtaans or bathing structures in Central Java that become an integral part of a temple complex. Such a phenomenon can be seen in the layout of Ngempon Temple and Petirtaan Derekan which are located close to each other. This research aims to analyze the implementation of the book of Manasara-Silpasastra in the layout of Petirtaan Derekan and Ngempon Temple as an integrated whole. The research was carried out by analyzing secondary data obtained from a literature review and interviews. The secondary data were corroborated with data obtained from field observations. Results of the analysis indicate that the layout of Pechaka in Manasara-Silpasastra might become the basis for the positioning of Ngempon Temple at the northeast of Petirtaan Derekan. This shows that the book of Manasara-Silpasastra might be implemented in the layout of the complex of Ngempon temple.
Moh Rosyid
Published: 25 June 2021
Journal: Jurnal Walennae
Jurnal Walennae, Volume 19, pp 23-32; https://doi.org/10.24832/wln.v19i1.432

Abstract:
Tujuan ditulisnya artikel ini untuk mengidentifikasi jejak Hindu Kuno di Kawasan Menara Kudus Jawa Tengah. Metode yang digunakan dalam riset ini adalah deskriptif analitik yakni cara mendeskripsikan dan menganalisa data berupa bangunan kuno berupa Menara Masjid Al-Aqsha, Makara/Kalla, dan dua gapura (kori) di Masjid al-Aqsha. Riset ini mendeskripsikan, menganalisis, dan menginterpretasi data berdasarkan observasi danliteratur. Hasilnya,kondisi benda cagar budaya yang menyerupai peninggalan Hindu di Kawasan Menara Kudus(1) Menara hasil renovasi erakolonial tahun 1880, 1913, 1933, dan oleh BPCB Jawa Tengah tahun 1980, 2011, 2013, dan 2014.Kondisinya kini tidak lagi asli karya masa lalu tapi bentuknya tetap utuh, 80 persen hasil renovasi BPCB Jawa Tengah akibat Menara mengalami kerusakan diterpa hujan, cuaca/iklim/angin, dan getaran akibat pengguna jalan di depan Menara yakni mobil dan sepeda motor.Rekomendasi BPCB Jawa Tengah sejak tahun 2018 mobil umum dilarang melintas jalan di depan Menara oleh Pemda Kudus hingga kini, (2) dua gapura (kori) di serambi dan di dalam Masjid Menara Kudus kondisinya baik dan utuh, dan (3) kala/makara posisinya ada di tempat wudlu.Untuk merawat kesinambungan Kawasan Kauman Menara Kudus agar lestari, Pemda Kudus perlu mencanangkannya sebagai kota pusaka. This article identifying the Kuno Hindu Trail in Region Kudus Minaret Central Java. This research data were descriptive analysis a by interview, participatory observation, and literature review. Data collection was analyzed using a qualitative descriptive approach. Data collection was observationand literature. Research result, condition culture reserve relic Hindu in Kudus Minaret (1) minaret, renovation colonial era in the year of 1880, 1913, 1933 and BPCB Central Java 0f 1980, 2911, 2013, and 2014. The condition is now not original after renovation although the shape is still intact. The minaret is damaged because get rained on, weather, vibration due to the car. The recomanded BPCB until 2018 the car prohibited from passing in front of minaret, (2) two gate (kori) in the masque al-Aqsha good condition and intact, (3) kala/makara in ablution place. To preserve holy government Kudus need to schedule the city heritage.
Bernadeta Akw
Published: 25 June 2021
Journal: Jurnal Walennae
Jurnal Walennae, Volume 19, pp 59-76; https://doi.org/10.24832/wln.v19i1.509

Abstract:
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui distribusi wadah kubur kayu yang diletakkan di gua-gua di Kepulauan Selayar dan perbandingannya dengan beberapa daerah di Sulawesi Selatan dan Tenggara. Dalam pencapaiannya, selain diuraikan bentuk-bentuk wadah kubur kayu di gua-gua Selayar, juga dilakukan deskripsi temuan sejenis di Bulukumba, Enrekang, Toraja (Sulawesi Selatan) dan Kolaka Utara (Sulawesi Tenggara). Metode yang digunakan adalah studi literatur (desk study), yaitu mencari dan menghimpun berbagai referensi berkaitan dengan topik penelitian. Selanjutnya dilakukan pengolahan data dengan disertai analisis bentuk, sebaran dan etnografi serta pembuatan peta. Hasil penelitian menunjukkan bahwa distribusi wadah kubur kayu baik di pesisir maupun di pedalaman Sulawesi Selatan terdapat di Selayar, Bulukumba, Enrekang dan Toraja. Demikian pula di Sulawesi Tenggara wadah kubur kayu ditemukan di gua-gua khususnya di daerah Kolaka Utara. Dari data literatur menunjukkan wadah kubur kayu berawal di Toraja sekitar abad ke-8 M dan mengalami perkembangan pada abad ke-12 dan ke-13 Masehi. Kontinuitas tradisi itu masih berlangsung di Toraja yang merupakan daerah pegunungan yang secara geografis cukup terisolir sehingga lambat dalam memperoleh perubahan budaya pada masa-masa tertentu. Secara etnografis, wadah kubur kayu yang digunakan oleh sebagian masyarakat Toraja sekarang memiliki perbedaan secara tipologis. Berbeda dengan Enrekang, meskipun terletak pada topografi perbukitan dan pegunungan, namun masyarakatnya tidak lagi menggunakan wadah kubur kayu disebabkan kuatnya pengaruh agama Islam. This research aims to establish the distribution of wood coffins placed in caves in Selayar Islands and their counterparts in several regions in South Sulawesi and Southeast Sulawesi. To meet the aim, the research describes the forms of wood coffins placed in caves in Selayar, Bulukumba, Enrekang, and Toraja (South Sulawesi) and Kolaka Utara (Southeast Sulawesi). The method used was literature study (desk study), which comprises the activities of finding and collecting various references related to the research topic. The collected data were analyzed to find out the forms, distribution and ethnography of wood coffins in those regions. A map of the distribution of wood coffins in the regions was also made. The results of the research show that the distribution of wood coffins in the coastal areas and hinterlands in South Sulawesi is found in Selayar, Bulukumba, Enrekang and Toraja. In Southeast Sulawesi especially in the region of Kolaka Utara, wood coffins are found in caves. The data collected through literature study show that the tradition of using wood coffins started in Toraja around the 8th century and experienced rapid development in the 12th and 13th centuries. Today the tradition is still performed in Toraja. This region is mountainous, so that it did not undergo rapid cultural changes in some certain eras. Ethnographically, the wood coffins now used by some of the Toraja communities have typological differences compared with the ones used in the past. Enrekang is also a mountainous area. However, the community does not use wood coffins anymore due to the strong influence of Islam.
Back to Top Top