Forum Arkeologi

Journal Information
ISSN / EISSN : 0854-3232 / 2527-6832
Current Publisher: Balai Arkeologi Yogyakarta (10.24832)
Total articles ≅ 59
Current Coverage
DOAJ
Filter:

Latest articles in this journal

I Wayan Suantika
Published: 30 April 2020
Forum Arkeologi, Volume 33, pp 1-16; doi:10.24832/fa.v33i1.520

Abstract:
Pakerisan River which located in Gianyar Regency is one of the famous rivers which has many archaeological sites. Some of them are rock-cut architectures, carved along its riverbank, such as Gunung Kawi Temple Site, Kerobokan Temple Site, Goa Garbha, and Tegallinggah Temple Site. In general, all of the rock-cut architectures are the depiction of buildings and could be categorized as sacred or profane in regard to their functions. These sites were built around 10th- 13th Century. This research aims to indentify all the building types based on the carving. Survey and interview were used in data collection, and were used in collecting data. Then, the data were analyzed with morphological, technological and contextual analysis. The result of this research shows that these rock-cut architectures consist of sacred buildings, i.e. rock-cut temples, worship niches, hermitage niches, and some house-like profane buildings. These architectural concepts of rock-cut architecture might be used as references to understand the origin of Balinese traditional architecture nowadays. Sungai Pakerisan yang ada di Kabupaten Gianyar adalah salah satu situs arkeologi yang terkenal di Bali. Sebab di sepanjang sungai itu terdapat beberapa pahatan tebing kuno, seperti Komplek Gunung Kawi, Situs Kerobokan, Situs Goa Garbha, dan Situs Tegallinggah. Umumnya semua pahatan tebing tersebut merupakan bentuk-bentuk bangunan yang dapat diketahui sebagai bangunan suci dan bangunan biasa yang dibangun sekitar abad ke- 10-13 Masehi. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi tipe-tipe bangunan berdasarkan pahatan tebing yang ada di sana. Metode survei dan wawancara diterapkan dalam penelitian ini untuk memperoleh data. Analisa data menggunakan teknik analisis morfologi, analisis teknologi dan analisis kontekstual pahatan tebing. Dari kegiatan penelitian ini diharapkan dapat diketahui seluruh tipe bangunan yang ada di sana. Temuan penelitian ini berupa berbagai pahatan tebing berbentuk bangunan pada DAS Pakerisan, yang secara garis besar terdiri atas bangunan suci (sakral) berupa candi tebing, ceruk pemujaan dan ceruk pertapaan, serta bangunan profan berupa rumah. Dengan melihat pahatan-pahatan tebing tersebut, tersirat adanya konsep-konsep dasar arsitektur yang mungkin sebagai cikal-bakal dari arsitektur tradisional Bali yang kita kenal sekarang.
Andri Restiyadi, Lolita Refani Lumban-Tobing, Anik Juli Dwi Astuti, Churmatin Nasoichah, Mochammad Fauzi Hendrawan
Published: 30 April 2020
Forum Arkeologi, Volume 33, pp 31-48; doi:10.24832/fa.v33i1.587

Abstract:
Biara Sangkilon is one of the many biaras in the in Padang Lawas archaeological area located in Sangkilon Village, Lubuk Barumun District, Padang Lawas Regency. In general, the arrangement of biaras in this region has its own characteristics, namely the main building facing the mandapa, with one gate. The problem raised in this paper is how the spatial constellation of Biara Sangkilon is? The writing purpose of this article is to get a description of the space boundaries based on the distinction of spatial functions and their relationships in the Biara Sangkilon Complex. Through descriptive-analytical research it can be seen in fact through the form of structure, distance, findings artifactual, and boundaries, there is a fairly clear division of space between sacred space, and profane at Biara Sangkilon. Biara Sangkilon merupakan salah satu dari sekian banyak biara di Kawasan Kepurbakalaan Padang Lawas yang terletak di Desa Sangkilon, Kecamatan Lubuk Barumun, Kabupaten Padang Lawas. Secara umum, susunan biara-biara yang terdapat di kawasan ini memiliki ciri khas tersendiri yaitu bangunan utama berhadapan dengan mandapa, dengan satu pintu gerbang. Adapun permasalahan yang diangkat dalam makalah ini adalah bagaimanakah konstelasi keruangan Biara Sangkilon? Tujuan dari penulisan artikel ini untuk mendapatkan gambaran tentang batas-batas ruang yang didasarkan pada pembedaan fungsi-fungsi ruang beserta relasirelasinya yang terdapat di Kompleks Biara Sangkilon. Melalui penelitian yang bersifat deskriptifanalitis dapat diketahui ternyata melalui bentuk struktur, jarak, temuan artefaktual, dan batasbatas, terdapat pembagian ruang yang cukup jelas antara ruang sakral, dan profan di Biara Sangkilon.
Ida Bagus Putu Prajna Yogi
Published: 30 April 2020
Forum Arkeologi, Volume 33, pp 65-76; doi:10.24832/fa.v33i1.597

Abstract:
The Sangkulirang-Mangkalihat Karst region in East Kalimantan is so wide and rich in prehistoric archeological remains, that requires strategies to maintain its sustainability. Various threats to the preservation of karst have begun to emerge, and certainly they also have impacts on preservation of existing archeological resources. Problems that arise are how the threats of preservation of prehistoric caves in the Sangkulirang-Mangkalihat Karst Area and how the conservation strategy is. Five management concepts that exist in the theory of archaeological resource management according to Pearson and Sullivan will be used as the aim of the research reference in determining the strategy of preservation and utilization of cultural heritage areas. Local people have an important role in this preservation. The close access to conservation objects and strong ties to the environment have been ensured as a reason that local people must be involved in this preservation. However, regulations made for conservation areas must benefit local people. Wilayah Karst Sangkulirang-Mangkalihat di Kalimantan Timur sangat kaya tinggalan arkeologi prasejarah, dengan wilayah yang sangat luas memerlukan strategi untuk mempertahankan keberlanjutannya. Berbagai ancaman terhadap pelestarian karst sudah mulai muncul, dan yang pasti itu juga berdampak pada pelestarian sumber daya arkeologis yang ada. Permasalahan yang muncul ialah; Bagaimanakah ancaman kelestarian gua-gua prasejarah di Kawasan Karst Sangkulirang-Mangkalihat dan bagaimana startegi pelestariannya. Lima konsep pengelolaan yang ada dalam teori pengelolaan sumberdaya arkeologi menurut Pearson dan Sullivan, akan digunakan sebagai tujuan penelitian ini dalam menentukan strategi pelestarian dan pemanfaatan kawasan cagar budaya. Masyarakat setempat memiliki peran penting dalam pelestarian ini. Kedekatan akses ke objek konservasi dan ikatan kuat dengan lingkungan telah dipastikan sebagai alasan bahwa masyarakat harus terlibat dalam pelestarian ini. Tetapi peraturan dibuat untuk kawasan konservasi harus bermanfaat bagi masyarakat lokal.
Irfanuddin Wahid Marzuki
Published: 30 April 2020
Forum Arkeologi, Volume 33, pp 17-30; doi:10.24832/fa.v33i1.599

Abstract:
This article discusses about the influence of Islamic culture in the land of Minahasa of North Sulawesi Province based on archaeological studies. Minahasa is the biggest ethnic area in North Sulawesi Province, with the majority of the population being Christians. Islam arrival in Minahasa carried by Arab traders, fisherman from North Maluku, Bugis, Makasar, Gorontalo and political prisoners from Java and Sumatera. The early history of Islam in Minahasa, acculturation process, development, and Islamic influence in Minahasa can be traced by using archaelogical studies based on existing physical cultural. Research on Islamic culture in Minahasa specifically based on archaeological studies has not been done before. The previous researches of the same topic were mostly conducted through nonphysical culture. The result of the observation reveals that the influence of Islamic culture in Minahasa comprises of some Islamic Settlements, Mosques, and Islamic Cemetery. The influence of Islamic culture in Minahasa coastal area and inland has different characters due to different historical background, socio cultural, and political background of the Islamic communities. Artikel ini membahas mengenai pengaruh kebudayaan Islam di tanah Minahasa, Propinsi Sulawesi Utara berdasarkan tinggalan arkeologi. Minahasa merupakan wilayah etnis terbesar di Propinsi Sulawesi Utara dengan mayoritas penduduk beragama Kristen. Agama Islam di Minahasa dibawa oleh pedagang-pedagang Arab serta, nelayan dari Maluku Utara, Bugis, Makasar, Gorontalo dan tahanan politik dari Jawa dan Sumatera. Dengan menggunakan kajian arkeologi, dapat ditelusuri sejarah awal masuknya Islam, proses akulturasi yang terjadi, perkembangan dan pengaruh Islam di Minahasa berdasarkan tinggalan kebudayaan fisiknya. Penelitian mengenai kebudayaan Islam di Minahasa dengan menggunakan kajian arkeologi secara khusus belum pernah dilakukan, penelitian-penelitian sebelumnya mengkaji dengan menggunakan tinggalan kebudayaan non fisik yang ada. Hasil pengamatan di lapangan, pengaruh kebudayaan Islam yang terdapat di Minahasa berupa: permukiman Islam, masjid, dan pemakaman (kubur) Islam. Terdapat adanya perbedaan pengaruh kebudayaan Islam di wilayah pesisir dengan pedalaman Minahasa yang disebabkan perbedaan latar belakang sejarah, sosial budaya, dan politik masyarakat Islam pesisir dan pedalaman Minahasa.
Nyoman Rema, A.A. Gde Bagus
Published: 30 April 2020
Forum Arkeologi, Volume 33, pp 49-64; doi:10.24832/fa.v33i1.581

Abstract:
Duarato Traditional Village is one of the traditional villages in Belu Regency, East Nusa Tenggara, which has space pattern and traditional architecture that still preserved today and reflect the concept of life. This study aims to determine the settlement pattern and architecture of Duarato traditional houses. Data were collected through literature study, direct observation, and interview with traditional figures. The data analyzed qualitatively, then a conclusion is drawn. This study resulted in the unique pattern of the village settlements and the architecture of traditional houses have become the characteristic of Duarato Traditional Village. Based on the analysis, Duarato settlement belongs to cluster pattern. The most sacred area for ancestor worship is built on the highest land and/or the direction of sunrise. The center of activity is in K’sadan, which is surrounded by houses and bosok. The traditional house is in the form of wooden stage house. The space pattern of the house is divided vertically and horizontally which functioned for profane or sacred activities. It is meaningful as an effort to maintain the constancy of tribe personalities. Kampung Adat Duarato merupakan salah satu kampung adat di Kabupaten Belu, Nusa Tenggara Timur, yang memiliki pola ruang dan arsitektur traditional yang masih lestari dan mencerminkan konsep kehidupan masyarakatnya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pola ruang permukiman dan arsitektur rumah adat Duarato. Data penelitian ini dikumpulkan melalui studi pustaka, observasi langsung, dan wawancara kepada tokoh adat. Setelah data terkumpul kemudian dianalisis secara kualitatif, dilanjutkan dengan penyimpulan. Penelitian ini menghasilkan temuan bahwa pola ruang permukiman kampung dan arsitektur tradisional rumah adat cukup unik yang menjadi ciri khas Kampung Adat Duarato. Berdasarkan dari hasil analisis, Kampung Adat Duarato menganut pola cluster atau mengelompok. Areal paling suci untuk pemujaan leluhur dibangun pada lahan yang paling tinggi dan/atau arah matahari terbit. Pusat kegiatan berada pada k’sadan, yang dikelilingi oleh rumah dan bosok. Rumah adat kampung ini secara arsitektur berupa rumah panggung dengan konstruksi kayu. Pola ruang rumah ini terbagi secara vertikal dan horizontal yang difungsikan untuk kegiatan yang bersifat profan maupun sakral, yang bermakna sebagai upaya menjaga keajegan kepribadian suku.
Dhanang Puspita, Andy Wibowo, Mohammad Ruly Fauzi
Published: 13 November 2019
Forum Arkeologi, Volume 32, pp 63-74; doi:10.24832/fa.v32i2.563

Abstract:
So far, there is no previous report on the existence of Stenasellidae in a prehistoric cave-site in Indonesia. For the very first time, information about the existence of this ancient shrimp in a prehistoric habitation-site yielded from multidisciplinary research at Mesiu Cave. Their existence is delightful to discuss because they are extremely vulnerable and only lives in a specific environment (i.e. stygobit). This article unravels the reason behind the survival of Stenasellidae at Mesiu Cave over a descriptive – explanatory approach. Our observation on the specimen shows its similarity to the typical characteristics of Stenasellus genera. Furthermore, description of their existing habitat shows a characteristic which is fundamentally contradicting to the regular location of prehistoric human activity in a cave site. More likely, this distinctive spatial use of the cave has enabled Stenasellus sp. to survive until the present day. Moreover, the discovery of this unique cavernicole also enhances the outstanding value of Mesiu Cave as a cultural heritage site. Hingga saat ini, belum ada laporan mengenai penemuan Stenasellidae (Crustacea, Malacostraca, Isopoda) pada situs gua hunian prasejarah di Indonesia. Untuk pertama kalinya, informasi mengenai keberadaan udang purba tersebut pada situs gua hunian diperoleh dari penelitian multidisipliner di situs Gua Mesiu. Bertahannya eksistensi organisme ini di situs hunian prasejarah menarik untuk diulas lebih lanjut sebab hewan ini dikenal rentan dan hanya hidup pada lingkungan yang spesifik (i.e. stygobit). Artikel ini mengungkap alasan yang melatarbelakangi bertahannya eksistensi Stenasellidae di situs Gua Mesiu melalui pendekatan deskriptif–eksplanatif. Observasi kami pada fisiologi spesimen Stenasellidae tersebut menunjukkan karakteristik anatomi dari marga Stenasellus. Sedangkan deskripsi habitat Stenasellus sp. menunjukkan karakteristik lingkungan yang bertolak-belakang dengan lokasi aktivitas hunian manusia di gua-gua prasejarah pada umumnya. Perbedaan tersebut sangat mungkin menjadi salah satu faktor penyebab bertahannya eksistensi Stenasellus sp. di Gua Mesiu. Laporan mengenai penemuan fauna gua ini juga turut menambah nilai penting dan keunikan tersendiri Gua Mesiu sebagai situs cagar budaya.
Nyoman Arisanti
Published: 13 November 2019
Forum Arkeologi, Volume 32, pp 117-132; doi:10.24832/fa.v32i2.553

Abstract:
This study aims to see how traditional villages become a marker of the cultural identity of the people of Central Sumba, and also to determine the ideology that exists within traditional villages, and other factors that also lies behind that. The theory used to examine this research problem are semiotic theory, ideological theory, and theory practices. Data collection techniques were carried out by interviews, observations, documentation, and surveys. Data analysis techniques used contextual analysis and comparative analysis. The cultural identity of the peoples of Central Sumba are characterized by traditional houses, rituals of marapu, and megalithic traditions. The existence of traditional villages in Central Sumba is motivated by the ideology of marapu. Besides that, the Regional Government of Central Sumba Regency also gives efforts to preserve traditional villages. The way the indigenous community overcomes resistance and adaptation are the main points in maintaining the existence of traditional villages. Tradisi megalitik di Sumba tidak terlepas dari komunitas adat yang melangsungkan tradisi marapu. Komunitas adat di Sumba Tengah hidup dalam suatu kawasan yang disebut kampung adat. Perkembangan globalisasi telah menyebabkan agama-agama modern masuk ke dalam tatanan masyarakat Sumba. Meskipun demikian, komunitas adat tetap eksis ditengah pergulatan modernitas yang cenderung mengikis kebudayan-kebudayaan lokal. Penelitian ini bertujuan untuk melihat bagaimana kampung adat menjadi penanda identitas budaya masyarakat Sumba. Selain itu, penelitian ini juga bertujuan untuk mengetahui ideologi dibalik tetap eksisnya kampung adat dan faktor-faktor lain yang melatar belakangi eksistensi kampung adat di Sumba Tengah. Teori yang digunakan untuk mengkaji masalah penelitian ini adalah teori semiotika, teori ideologi, dan teori praktik yang digunakan secara eklektik. Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini dilakukan dengan metode wawancara, observasi, dokumentasi, dan survei untuk membandingkan tradisi dan tinggalan budaya antar kampung adat. Teknik analisis data yang digunakan analisis kontekstual dan analisis komparatif. Identitas budaya masyarakat Sumba Tengah ditandai dengan rumah adat, ritual marapu, dan tradisi megalitik. Eksistensi kampung adat di Sumba Tengah didukung oleh ideologi marapu. Selain itu, perkembangan industri pariwisata Sumba Tengah telah menjadikan kampung adat sebagai objek wisata handalan, yang berperan dalam menjaga eksistensi komunitas di kampung adat. Pemerintah Daerah Kabupaten Sumba Tengah, juga turut berperan dalam upaya pelestarian kampung adat dengan melakukan langkah-langkah pelestarian budaya. Cara komunitas adat mengatasi resistensi dan adaptasi terhadap perkembangan agama-agama modern menjadi kunci utama dalam menjaga eksistensi kampung adat di Sumba Tengah.
Churmatin Nasoichah, Nfn Mulyadi
Published: 13 November 2019
Forum Arkeologi, Volume 32, pp 105-116; doi:10.24832/fa.v32i2.566

Abstract:
Passive sentence is a sentence subject to accept or subject to action. There are two languages which also have passive sentences, namely Javanese and Old Javanese. Before the Javanese language developed, it was known as Old Javanese. Old Javanese as one of the derivatives of Austronesian languages is a language that has very old literature. By studying the Hariñjiŋ A, B, C Inscriptions as one of the proofs of the use of Old Javanese language, the research was carried out with contrastive analysis, namely comparing it with Javanese. The problem is how do passive constructs in Old Javanese language (the case study of Hariñjiŋ A, B, CInscriptions) and Javanese when viewed using contrastive analysis? The purpose is to describe passive construction in Old Javanese (a case study on the Hariñjiŋ A, B, C Inscriptions) and Javanese inscriptions and compare the two sentence patterns. The method of this research is descriptive qualitative by using a descriptive comparative contrast method which aims to provide an overview of passive sentences and find differences. The conclusions are that the construction of passive sentences in Old Javanese (in the writing of the Hariñjiŋ A, B and C Inscriptions) has a transitive passive and intransitive passive form which is the same as Javanese. The passive form is indicated by a kiks prefix, a combination of affix-in, a combination of affixes, a combination of ma-affixes, and infix -in-. Whereas the Javanese language is only known to be a prefix, di- -ni, and di-confix, or to be deunned. It can be concluded also that passive sentence Javanese is not derived from Old Javanese but rather has an influence from Malay which is the forerunner of Indonesian. Kalimat Pasif merupakan sebuah kalimat subjek menerima atau dikenai aksi. Terdapat dua bahasa yang juga memiliki bentuk kalimat pasif, yaitu bahasa Jawa dan bahasa Jawa Kuna. Sebelum bahasa Jawa berkembang, telah dikenal adanya bahasa Jawa Kuna. Bahasa Jawa Kuna sebagai salah satu turunan dari bahasa Austronesia adalah bahasa yang mempunyai kesusastraan yang sangat tua. Dengan mengkaji Prasasti Hariñjiŋ A, B, C sebagai salah satu bukti adanya penggunaan bahasa Jawa Kuna, penelitian dilakukan dengan analisis kontrastif yaitu membandingkannya dengan bahasa Jawa. Adapun permasalahannya adalah bagaimanakah konstruksi pasif pada bahasa Jawa Kuna (studi kasus Prasasti Hariñjiŋ A, B, C) dan bahasa Jawa apabila dilihat dengan menggunakan analisis kontrastif? Adapun tujuannya untuk mendeskripsikan konstruksi pasif dalam bahasa Jawa Kuna (studi kasus pada Prasasti Hariñjiŋ A, B, C) dan bahasa Jawa serta membandingkan kedua pola kalimat tersebut. Metode penelitian ini bersifat deskriptif kualitatif dengan menggunakan metode deskriptif komparatif kontras yang bertujuan memberikan gambaran tentang bentuk kalimat pasif serta menemukan perbedaannya. Adapun kesimpulannya adalah konstruksi kalimat pasif dalam bahasa Jawa Kuna (dalam penulisan Prasasti Hariñjiŋ A, B, dan C) memiliki bentuk pasif transitif dan juga pasif intransitif yang sama dengan bahasa Jawa. Bentuk pasifnya ditandai dengan prefiks ka-, kombinasi afiks -in- -an, kombinasi afiks -in- -akan, kombinasi afiks ma- -akĕn, dan infiks -in-. Sedangkan bahasa Jawa hanya diketahui prefiks di-, konfiks di- -ni, dan konfiks di- -ne, atau dipun- -aken. Dapat disimpulkan juga bahwa kalimat penanda pasif bahasa Jawa bukan diturunkan dari bahasa Jawa Kuna melainkan mendapat pengaruh dari bahasa Melayu yang merupakan cikal bakal bahasa Indonesia.
Heri Purwanto, Coleta Palupi Titasari
Published: 13 November 2019
Forum Arkeologi, Volume 32, pp 75-94; doi:10.24832/fa.v32i2.580

Abstract:
The holy building religious in the past founded in Indonesia equipped with various componens. One of the componens that to interesting for talking is relief. the temples is locatated in western slope Mount Lawu much to contain various kinds of relief, but this study want to identify the kind of type of flora that enshrined in the form of relief as well as looking for the functions and benefits. Data collection was done through observation and literature review. Data analysis was using qualitative and contextual. This research managed to identify twelve the kinds of relief is coconut, jackfruit, eggplant, areca nut, durian, lotus, banyan tree, wine, plants spread, silk cotton tree, bulging, banana?. This flora reliefs carved in different places is in the housing, the grave, and the forest. The function showed is for beautify temple building, showed environment in the past, and function link to religious. The past peoples that lived in research site to using flora to the foods, medicine, and holy ritual. Bangunan suci keagamaan masa lalu yang ditemukan di Indonesia dilengkapi dengan berbagai komponen. Salah satu komponen yang menarik untuk dibicarakan adalah relief. Candi-candi yang terletak di Lereng Barat Gunung Lawu mengandung berbagai jenis relief, namun studi ini lebih memfokuskan terhadap relief tumbuh-tumbuhan. Untuk itu penelitian ini ingin mengidentifikasi jenis-jenis flora yang diabadikan dalam bentuk relief serta menelusuri fungsi dan manfaatnya. Metode pengumpulan data yang digunakan meliputi observasi dan kajian pustaka. Analisis yang digunakan ialah kualitatif dan kontekstual. Penelitian ini berhasil mengindentifikasi duabelas jenis flora yaitu kelapa, nangka, terung, pinang, durian, teratai, beringin, anggur, tumbuhan menjalar, randu, kepuh, dan pisang?. Relief-relief flora ini dipahatkan diberbagai lokasi baik di perumahan, kuburan, maupun hutan. Fungsi yang ditunjukkan adalah untuk memperindah bangunan candi, menunjukkan lingkungan masa lalu, dan fungsi dalam kaitan keagamaan. Masyarakat masa lalu yang hidup di situs penelitian memanfaatkan berbagai jenis flora untuk bahan makanan, obat-obatan, dan upakara.
Yuni Suniarti, Nfn Mahirta, Sue O’Connor, Widya Nayati
Published: 13 November 2019
Forum Arkeologi, Volume 32, pp 133-144; doi:10.24832/fa.v32i2.556

Abstract:
Exploitation of aquatic resources has been carried out since the time of hunting and gathering food. Aquatic resources are generally exploited by communities or people living in coastal areas. One area that still exploits aquatic resources is Halerman Village, Alor Barat Daya Regency. People who live on the coast use marine resources as food, one of which is shellfish. The most shellfish that widely exploited is Haliotidae. Research question brought in this article is how shellfish consumption behavior of people in Halerman Village is. The purpose of this research is to record shellfish consumption behavior of people in Halerman Village. The research method used was in the form of observation and interviews regarding all stages of shellfish exploitation conducted by Alor coastal communities in Halerman Village. The use of shellfish is closely related to the consumption behaviors of the community which consists of the search for shellfish carried out during periods of low tide when the intertidal area is exposed. When collecting the shellfish, people use various equipment such as iron, wood, stone, baskets and buckets. The method of processing is done by gouging, burning, boiling, cooking with spices and breaking the shell using stones or other hard tools. Shellfish processing in archaeological assemblages can be demonstrated by the presence of breakage and/or burning patterns on the shell remains. These experimental and ethno-archaeological observations can be used as a reference for understanding the behaviour that resulted in the formation of shells in archaeological deposits. Pemanfaatan sumber daya akuatik telah dilakukan sejak masa berburu dan mengumpulkan makanan. Sumber daya akuatik pada umumnya dieksploitasi oleh komunitas atau masyarakat yang tinggal di wilayah pesisir. Salah satu daerah yang masih melakukan eksploitasi sumber daya akuatik yaitu Desa Halerman, Kabupaten Alor Barat Daya. Masyarakat yang bertempat tinggal di pesisir memanfaatkan sumber daya laut sebagai bahan pangan, salah satunya kerangkerangan. Salah satu jenis kerang yang banyak dieksploitasi yaitu Haliotidae. Rumusan masalah penelitian yaitu bagaimana perilaku konsumsi kerang masyarakat Desa Halerman. Tujuan Penelitian untuk mendokumentasikan perilaku konsumsi kerang masyarakat Desa Halerman. Metode penelitian yang digunakan berupa observasi partisipasi dan wawancara yang dilakukan kepada masyarakat pesisir Alor di Desa Halerman. Pemanfaatan kerang erat kaitannya dengan perilaku konsumsi masyarakat yang terdiri dari waktu pencarian kerang, cara pemilihan dan proses pengambilan, alat yang digunakan serta cara pengolahan kerang. Waktu pencarian kerang dilakukan meting surut (air laut surut) pada saat area intertidal terbuka. Jenis kerang yang dikonsumsi pada umumnya jenis kerang yang hidup di area low dan middle intertidal, akan tetapi salah satu jenis yang paling banyak dicari merupakan jenis kerang abalone (Haliotidae), alat yang digunakan untuk mencari kerang berupa besi, kayu, batu, keranjang dan ember. Cara pengolahan yang dilakukan dengan cara dicungkil, dibakar, direbus, dimasak bersama bumbu dan dipecahkan cangkangnya menggunakan batu atau alat keras lainnya. Pola pecah atau bekas pembakaran pada cangkang kerang dapat menjadi referensi untuk penelitian arkeologi yang berkaitan dengan pola kerusakan cangkang kerang pada deposit arkeologi.
Back to Top Top