Kontemplasi: Jurnal Ilmu-Ilmu Ushuluddin

Journal Information
ISSN / EISSN : 2338-6169 / 2580-6866
Published by: Martabat : Jurnal Perempuan dan Anak (10.21274)
Total articles ≅ 99
Filter:

Latest articles in this journal

Ahmad Fahrudin, Arbaul Fauziah
Kontemplasi: Jurnal Ilmu-Ilmu Ushuluddin, Volume 8, pp 264-284; https://doi.org/10.21274/kontem.2020.8.1.264-284

Abstract:
Education is one of the main things that can make a significant contribution to the development and progress of a nation. This fact is evidenced by the existence of a generation of people who are quality-produced from educational institutions in Indonesia, if the young generation of this nation does not attend education, perhaps the development and progress of the times will not be able to be like today. Education, especially in Muslims, one of the foundations and guidelines for which is the Koran, through some of the verses it contains, there are some instructions and knowledge that are very extraordinary if we dig into the meaning for the meaning. So it is important for Muslims to make Al-Qur'an as a guide in processing their studies. Education and knowledge are two main things that are interrelated, they are like two sides of a coin that cannot be separated, even always in pairs. In the context of this article, the concept of knowledge and education from the perspective of the Koran will be discussed, namely taking one of the verses in Surah al-Mujadilah, verse 11. The verse explains the various things it contains, then explains Asbabun Nuzul, describes the verse, Menafsiri is then analyzed, hopefully, what is discussed here becomes a study that can increase wealth, both theoretical wealth and scientific wealth practically. Keywords: Science, Education, Al-Mujadilah. Abstrak Pendidikan merupakan salah satu perkara pokok yang mampu memberikan kontribusi signifikan terhadap perkembangan dan kemajuan suatu bangsa. Fakta ini dibuktikan dengan adanya generasi bangsa yang secara kualitas dihasilkan dari bangku lembaga pendidikan yang ada di Indonesia, jika generasi muda bangsa ini tidak mengenyam bangku pendidikan, mungkin perkembangan dan kemajuan zaman tidak mampu seperti sekarang ini. Pendidikan khususnya dalam umat Muslim, salah satu landasan dan yang menjadi pedomannya adalah al-Qur’an, melalui beberapa ayat yang dikandungnya, terdapat beberapa petunjuk dan ilmu yang sangat luar jika diselami makna demi maknanya. Maka menjadi penting bagi umat Muslim menjadikan al-Qur’an sebagai pegangan dalam berproses di dalam menuntut ilmu. Pendidikan dan ilmu merupakan dua hal pokok yang berkaitkelindan, keduanya ibarat dua sisi mata uang logam yang tak mampu dipisahkan, bahkan selalu berpasangan. Dalam konteks artikel ini, maka akan di bahas kosep ilmu dan pendidikan dari persfektif al-Qur’an, yaitu mengambil salah satu ayatnya dalam surat al-Mujadilah ayat 11. Ayat tersebut dijelaskan berbagai hal yang dikandungnya, kemudian dijelaskan asbabun nuzul, mendeskripsikan ayat, menafsiri kemudian dianalisis, semoga apa yang dibahas di sini menjadi sesuatu kajian yang mampu menambah kekayaan, baik kekayaan secara teoritis maupun kekayaan keilmuan secara praktis. Kata Kunci: Ilmu, Pendidikan, Al-Mujadilah.
M Khusnun Niam
Kontemplasi: Jurnal Ilmu-Ilmu Ushuluddin, Volume 8; https://doi.org/10.21274/kontem.2020.8.1.127-142

Abstract:
Hadith is everything that is based on the Prophet Muhammad Salallahu Alaihi Wassalam, both in the form of words, attitudes, and other cases in which there is approval of the Prophet Muhammad Salallahu Alaihi Wassalam. His position became the second source of law after the Qur'an because it contained news that could be used as a guide by Muslims. The development of hadith is not like the Qur'an which is easy and smooth. This is due to the large number of Western scholars who began to weaken Islam by studying the hadith to find evidence of the authenticity of the hadith. So that the hadith experts try to put up a fight by exposing the error of the study of Western scholars related to the hadith discourse. This article aims to describe the various discourses on hadith, both from among Muslims and non-Islamic circles or Orientalists. The aim is none other than trying to find views on the traditions of Muslim scholars and among Western scholars who study the hadith. In addition, as for the specific purpose is to find the interaction that occurs from the Muslim community over their views on the Orientalist. Keywords: Muslim scholars, Western scholars, and Discourse on Hadith. Abstrak Hadis merupakan segala sesuatu yang disandarkan pada Nabi Muhammad Salallahu Alaihi Wassalam, baik berupa perkataan, sikap, dan perkara lain yang di dalamnya ada persetujuan Nabi Muhammad Salallahu Alaihi Wassalam. Kedudukannya dijadikan sumber hukum kedua setelah al-Qur’an karena berisikan berita yang bisa dijadikan pedoman oleh umat Islam. Perkembangan hadis tidak seperti al-Qur’an yang mudah dan lancar. Hal ini disebabkan banyaknya sarjana Barat yang mulai melemahkan Islam dengan mengkaji hadis untuk menemukan bukti ketidakotentikan hadis. Sehingga para ahli hadis berupaya untuk melakukan perlawanan dengan membongkar kekeliruan atas kajian para sarjana Barat terkait diskursus hadis. Artikel ini bertujuan untuk mendeskripsikan berbagai diskursus atas hadis, baik dari kalangan muslim maupun kalangan diluar islam atau kalangan orientalis. Tujuannya tidak lain ialah mencoba menemukan pandangan atas hadis dari kalangan sarjana muslim dan kalangan sarjana barat yang mengkaji hadis. Selain itu, adapun tujuan khususnya ialah untuk menemukan interaksi yang terjadi dari kalangan muslim atas pandangannya terhadap orientalis. Kata Kunci: Sarjana Muslim, Sarjana Barat, dan Diskursus Hadis.
Muhammad Ainun Najib
Kontemplasi: Jurnal Ilmu-Ilmu Ushuluddin, Volume 8; https://doi.org/10.21274/kontem.2020.8.1.203-228

Abstract:
KH. Husein Muhammad is often classified as a liberal feminist because of his involvement in the thoughts and movements of feminism in Indonesia. Some researchers emphatically liberal feminism in the thinking of Kiai Husein. However, if it is read carefully, there are slips of feminist thought and movement of Kiai Husein with a sufistic nuance even though it starts from the interpretation of gender or fiqh of female which is indeed the core of his science. Kiai Husein's sufistic thought traces are clearly seen in three ways. First, women are sacred and respectable creatures. This is excerpted from the speech of the Muhammad in the event of hajj wada'. Second, loving equality is loving God (mahabbah). For Kiai Husein, the sign of someone loving his Lord is a sincere recognition of the equality of men and women. The use of the concept of mahabbah in feminism confirms, in the thought of Kiai Husein, sufism in feminism. Third, women are not a matter of the body, but spirit. In the midst of the ideology of capitalism which makes the female body as a vessel of sensuality, Kiai Husein defended women through human essence, including men, which lies in the spirit. Keywords: Woman, Sufism, KH. Husein Muhammad, thoughts, feminism. Abstrak KH. Husein Muhammad acapkali diklasifikasikan sebagai feminis liberal lantaran keterlibatannya dalam pemikiran dan gerakan feminisme di Indonesia. Beberapa peneliti dengan tegas feminisme liberal dalam pemikiran Kiai Husein. Namun, bila dibaca dengan saksama, terselip pemikiran dan gerakan feminisme Kiai Husein yang bernuansa sufistik sekalipun hal itu berawal dari tafsir gender atau fikih perempuan yang memang menjadi core keilmuannya. Jejak pemikiran sufistik Kiai Husein terlihat dengan gamblang dalam tiga hal. Pertama, Perempuan adalah makhluk suci dan terhormat. Ini disarikan dari pidato Nabi Muhammad dalam peristiwa haji wada’. Kedua, mencintai kesetaraan adalah mencintai Tuhan (mahabbah). Bagi Kiai Husein, tanda seorang mencintai Tuhannya adalah pengakuan yang tulus terhadap kesetaraan laki-laki dan perempuan. Penggunaan konsep mahabbah dalam feminisme menegaskan, dalam pemikiran Kiai Husein, tasawuf dalam feminisme. Ketiga, perempuan bukan soal tubuh, tapir ruh. Di tengah ideologi kapitalisme yang menjadikan tubuh perempuan sebagai bejana sensualitas, Kiai Husein melakukan pembelaan terhadap perempuan melalui esensi manusia, termasuk laki-laki, yang terletak pada ruh. Kata Kunci: Perempuan, tasawuf, KH. Husein Muhammad, pemikiran.
Ridho Afifudin
Kontemplasi: Jurnal Ilmu-Ilmu Ushuluddin, Volume 8; https://doi.org/10.21274/kontem.2020.8.1.143-176

Abstract:
This paper discusses the movement of farmer group in Blitar in fighting for their rights to plantation land. The land is the company's land that has expired its contract (ex-HGU), so based on government regulations and existing laws, the position of the land may be claimed by residents. But the struggle of the farmers was not as smooth as expected. Various upheaval arose in the process. From this problem, the author see this problem in the perspective of Hassan Hanafi’s concept of theology. As Hanafi explained about how human faith became the spirit of the movement to fight for justice. There are two principles stated; First, the principle of needs and benefits, is who most needs access to the land along with the large benefits that will be received. Second, the principle of agreement and understanding; This principle concerns the process of negotiation (deliberation) between the two parties, especially in terms of compensation (ta'widh) if there is a party harmed. Keywords: Teologi, Hassan Hanafi, Gerakan Petani. Abstrak Artikel ini membahas pergerakan kelompok tani di Blitar dalam memperjuangkan hak mereka atas tanah perkebunan. Tanah tersebut adalah tanah perusahaan yang telah habis masa kontraknya (ex-HGU), jadi berdasarkan peraturan pemerintah dan undang-undang yang ada, posisi tanah tersebut dapat diklaim oleh penduduk. Namun perjuangan para petani itu tidak semulus yang diharapkan. Berbagai pergolakan muncul dalam prosesnya. Dari masalah ini, penulis melihat masalah ini dalam perspektif konsep teologi Hassan Hanafi. Seperti yang Hanafi jelaskan tentang bagaimana iman manusia menjadi semangat gerakan untuk memperjuangkan keadilan. Ada dua prinsip yang dinyatakan; Pertama, prinsip kebutuhan dan manfaat, adalah siapa yang paling membutuhkan akses ke tanah bersama dengan manfaat besar yang akan diterima. Kedua, prinsip kesepakatan dan pemahaman; Prinsip ini menyangkut proses negosiasi (musyawarah) antara kedua pihak, terutama dalam hal kompensasi (ta'widh) jika ada pihak yang dirugikan. Kata Kunci: Teologi, Hassan Hanafi, Gerakan Petani.
Rifqi As'Adah
Kontemplasi: Jurnal Ilmu-Ilmu Ushuluddin, Volume 8; https://doi.org/10.21274/kontem.2020.8.1.177-202

Abstract:
In the discussion of this paper the author tries to trace the meaning of fâhisyah by describing the actual meaning of the word f fâhisyah contained in of the Qur'an, by classifying and by examining the word fâhisyah in accordance its context. The method used by the author is munâsabah (internal relation), with some quotations from the dictionary, exegesis works, and hadis corroborating the exploration. This method will answer the problem of to whom and what for the word fâhisyah is used. This study presents the meaning of fâhisyah in the Qur'an in a more comprehensive and representative way and wiil make the use of the word fâhisyah and its content in the Qur’an clear. Keywords: Fâhisyah, Mûjam, Classification Makkah-Civil, Hadith. Abstrak Dalam pembahasan tulisan ini penulis mencoba menelusuri makna fâhisyah dengan menggambarkan makna sebenarnya dari kata fâhisyah yang terkandung dalam Al-Qur'an, dengan mengklasifikasikan dan dengan memeriksa kata fâhisyah sesuai konteksnya. Metode yang digunakan oleh penulis adalah munâsabah (hubungan internal), dengan beberapa kutipan dari kamus, karya tafsir, dan hadis yang menguatkan eksplorasi. Metode ini akan menjawab masalah kepada siapa dan untuk apa fâhisyah digunakan. Studi ini menyajikan makna fâhisyah dalam Al-Qur’an dengan cara yang lebih komprehensif dan representatif dan akan membuat penggunaan kata fâhisyah dan isinya dalam Al-Qur’an menjadi jelas. Kata Kunci: Fâhisyah, Mû’jam, Klasifikasi Makkah-Madani, Hadis.
Muhammad Fadhlulloh Mubarok
Kontemplasi: Jurnal Ilmu-Ilmu Ushuluddin, Volume 8; https://doi.org/10.21274/kontem.2020.8.1.22-38

Abstract:
Science is the obligation of muslims to open the horizons of the islamic world yag rooted in the revelation of the Qur'an and the Sunnah, supported by akaluntuk the development of Islamic education. The islamic life is very closely connected with education, in order to continue generasa young intellect and know religion. A figure of islam Al-Imam Al-Ghazali is an expert philosopher famous with his work we Ihya; Ulumuddin (reviving the knowledge of religion). In the book of Ihya ‘Ulumuddin explained about the concept of science that can be drawn as a reference of scientific a muslim. in the works of Al-Ghazali explained in detail about the meaning of the concept of science which is very important for the development of islamic religious education. Al-Ghazali divides knowledge into two categories, namely: fardhu ‘ain and fardhu kifayah. Therefore, the concept of education should be started from the fard ‘ain fardhu kifayah. Keywords: Of Science, Imam Al-Ghazali, Fard ‘Ain, Fard Kifayah. Abstrak Ilmu merupakan kewajiban muslim untuk membuka cakrawala dunia islam yag bersumber pada wahyu Al-Qur’an dan Sunnah dengan didukung oleh akaluntuk perkembangan pendidikan Islam. Kehidupan islam sangat erat hubungannya dengan pendidikan, demi meneruskan generasa muda yang intelek dan tahu agama. Seorang tokoh islam Al-Imam Al-Ghazali merupakan ahli filosof masyhur dengan karyanya kita Ihya; Ulumuddin (menghidupkan kembali pengetahuan agama). Dalam kitab Ihya ‘Ulumuddin dijelaskan tentang konsep keilmuan yang dapat ditarik sebagai rujukan ilmiah seorang muslim. dalam karya Al-Ghazali dijelaskan secara detail tentang makna konsep keilmuan yang sangat penting demi perkembangan pendidikan agama islam. Al-Ghazali membagi ilmu menjadi dua kategori yaitu: fardhu ‘ain dan fardhu kifayah. Oleh karena itu, konsep pendidikan seharusnya dimulai dari yang fardhu ‘ain untuk fardhu kifayah. Kata Kunci: Ilmu, Imam Al-Ghazali, Fardhu ‘Ain, Fardhu Kifayah.
Hadiana Trendi Azami
Kontemplasi: Jurnal Ilmu-Ilmu Ushuluddin, Volume 8; https://doi.org/10.21274/kontem.2020.8.1.1-21

Abstract:
This article will discuss the idiosyncrasy of humans by using qualitative method and descriptive analysis approach. According to Felix Siauw in understanding the potential of human life should be dissected in advance about human nature and the factors that influence it. After that, can be aware of potential human life that is at once a privilege of the human. Among the privileges of man, namely physical needs, instincts, sense and mind, and nature for days. The purpose of this Article review about understanding the verses of the qur'an and the message of da'wah put forward by Felix Siauw in chanel Youtube Felix Siauw. How Felix Siauw in explaining the nature of keistemewaan human. How faceted shape of the idiosyncrasy of man according to Felix Siauw, functionality and usability to determine the potential of human life in the context of the present.The study will be reviewed in the perspective of maqasid of shari'ah especially related to the message verses of the qur'an. Keywords: Idiosyncrasy, Human, Potential, Life. Abstrak Artikel ini akan membahas keistimewaan manusia dengan menggunakan metode kualitatif dan pendekatan analisis deskriptif. Menurut Felix Siauw dalam memahami potensi kehidupan manusia harus dibedah terlebih dahulu tentang hakikat manusia dan faktor-faktor yang mempengaruhinya. Setelah itu, dapat diketahui potensi kehidupan manusia yang sekaligus menjadi keistimewaan manusia. Diantara keistimewaan manusia yaitu kebutuhan jasmani, naluri, akal dan pikiran, dan fitrah untuk bertauhid. Tujuan Artikel ini mengkaji tentang pemahaman ayat al-Qur’an dan pesan dakwah yang dikemukakan oleh Felix Siauw dalam chanel Youtube Felix Siauw. Bagaimana cara Felix Siauw dalam menjelaskan hakikat keistemewaan manusia. Bagaiamana ragam bentuk keistimewaan manuia menurut Felix Siauw, fungsi dan kegunaan untuk mengetahui potensi kehidupan manusia dalam konteks kekinian.Kajian tersebut akan dikaji dalam perspektif maqasid syari’ah terutama terkait pesan ayat al-Qur’an. Kata kunci : Keistimewaan, Manusia, Potensi, Hidup.
Azam Azam
Kontemplasi: Jurnal Ilmu-Ilmu Ushuluddin, Volume 8; https://doi.org/10.21274/kontem.2020.8.1.75-103

Abstract:
The existence of Majlis Ulama Indonesia is seen as very important amid the reality of the plurality of Indonesian Islamic society. The advancement and religiousness of Muslims in the realm of religious thought, social organization, tendencies of flow and politics aspirations not only being a strength, but also often incarnates into weaknesses and sources of conflict among Muslims themselves. The Majlis Ulama Indonesia is to create good living conditions, society, nationality and good national matters, towards a quality society and the realization of the glory of Islam and Muslims in the Unity Republic of Indonesia. The Majlis Ulama Indonesia is to create good living conditions, society, nationality and good national matters, towards a quality society and the realization of the glory of Islam and Muslims in the Unity Republic of Indonesia. The phenomenon of elections is a contemporary problem faced by the Majlis Ulama Indonesia, in this case there is not a normative text that is explicitly contained in the Qur'an or the Sunnah of the Prophet. Then it is necessary to take new steps to interconnect between historical-political texts in order to create a dynamic dialogue, and then the decision of the Majlis Ulama Indonesia is obliged to participate in making elections, one of which is to choose a leader who is trustworthy and has skills in the field of leadership. Because considering the mafsadat and maslahat, thus participation in the election is an obligation to choose a leader who is considered beneficial, both for the common people, nation and state. Keywords: Hadis, Majlis Ulama Indonesia, Fatwa, electoral Election. Abstrak Eksistensi Majlis Ulama Indonesia dipandang sangat penting di tengah realitas pluralitas masyarakat Islam Indonesia. Kemajmukan dan keagamaan umat Islam dalam alam fikiran keagamaan, organisasi sosial, dan kecendrungan aliran dan aspirasi politik selain dapat merupakan kekuatan, tapi juga sering menjelma menjadi kelemahan dan sumber pertentangan dikalangan umat Islam sendiri. Majlis Ulama Indonesia adalah tercipta kondisi kehidupan, kemasyarakatan, kebangsaan, dan kenegaraan yang baik, menuju masyarakat yang berkualitas dan terwujudnya kejayaan Islam dan kaum muslimin dalam negara Kesatuan Republik Indonesia. Fenomena pemilu merupakan problematika kontemporer yang dihadapi oleh Majlis Ulama Indonesia, dalam kasus ini tidak selalu ada teks normatif yang secara eksplisit terdapat dalam al-Qur’an maupun sunnah Nabi. Maka perlu menempuh langkah-langkah baru untuk menginterkoneksikan antara teks historis-politik agar tercipta dialogis yang dinamis, maka keputusan dari Majlis Ulama Indonesia wajib ikut serta untuk mengsuksekan pemilu, salah satunya adalah memilih pemimpin yang amanah dan punya skil dalam bidang kepemimpinan. Karena mempertimbangkan antara mafsadat dan maslahat, dengan demikian itu keikutsertaan dalam pilres adalah suatu kewajiban untuk memilih pemimpin yang dianggap bermaslahat, baik bagi umat, bangsa dan negara. Kata Kunci: Hadis, Majlis Ulama Indonesia, Fatwa, Pemilihan Umum.
Alaika Abdi Muhammad
Kontemplasi: Jurnal Ilmu-Ilmu Ushuluddin, Volume 8; https://doi.org/10.21274/kontem.2020.8.1.39-74

Abstract:
The religious tolerance has always been an interesting topic of study. The relations between religions in various parts of the world, makes the study has important position. Many religious leaders try to explain the meaning of tolerance based on the verses of the Koran. The contemporary scholar who gives serious attention to tolerance is Wahbah al-Zuhayli. Methodologically, his interpretation tends to follow the approach of the classical Ulema scholars. The problem of tolerance that he explained is based on the current social reality of religious communities. The idea of tolerance offered by al-Zuhayli begins with an explanation of the concept of wasatiyyah al-Islam. Furthermore, the interpretation of al-Zuhayli's tolerance has four main points: First, the union of Islam with the Abrahamic Religion. The existence of several roots of the same teachings in Abrahamic Religion is a way to form a moderate and tolerant attitude. Second, the principle of freedom in choosing religion. Third, the prohibition of spreading hatred and terror. Fourth, the recommendations prioritizing justice. Al-Zuhayli's interpretation revealed a pattern of harmonious and tolerant relations between religious communities. This is, at the same time, a scientific criticism of the doctrines of violence that are echoed by radical groups. Keywords: Religious tolerance, Wahbah al-Zuhayli, Wasathiyyah al-Islam (Islamic moderations). Abstrak Tema toleransi agama selalu menjadi topik yang menarik untuk dikaji. Pasangsurut hubungan antar umat beragama di berbagai belahan dunia, tak terkecuali di Indonesia, membuat kajian ini memiliki posisi yang penting dalam studi agama. Banyak agamawan, khususnya para ulama tafsir yang bersaha menjelaskan makna toleransi secara normatif berdasarkan ayat-ayat Al-Qurán. Ulama kontemporer yang memberi perhatian serius tentang toleransi adalah Wahbah al-Zuhayli. Meski secara metolodolgis penafsiran al-Zuhayli cenderung mengikuti pendekatan nas ulama klasik. Namun, problem toleransi yang ia jelaskan berdasarkan realitas sosial umat beragama saat ini. Gagasan toleransi yang ditawarkan oleh al-Zuhayli diawali dengan penjelasannya tentang konsep wasatiyyah al-Islam (moderasi Islam). Selanjutnya, al-Zuhayli mengelompokan empat hal pokok tema toleransi yang dijelaskan al-Qur’an. Pertama, relasi antar Agama Samawi. Adanya beberapa akar ajaran yang sama dalam agama samawi merupakan jalan untuk membentuk sikap moderat dan toleran. Kedua, asas kebebasaan dalam memilih agama. Poin ini menegaskan prinsip Ri’ayah al-Din yang diusung syari’at Islam. Ketiga, larangan menebar kebencian. Dan ke-empat Larangan tindakan teror serta anjuran mengutamakan keadilan. Setiap manusia berhak mendapatkan perlindungan atas kemerdekaan jiwanya. Penafsiran al-Zuhayli mengungkap adanya pola hubungan harmonis dan toleran antar umat beragama. Hal ini sekaligus merupakan kritik ilmiah atas doktrin-doktrin kekerasan yang sering dikumandangkan kelompok radikal. Kata Kunci: Toleransi agama, Wahbah al-Zuhayli, Wasathiyyah al-Islam (moderasi Islam).
Fairuz Dianah, Mohammad Hadi Sucipto, Abdul Djalal, Mohammad Kurjum
Kontemplasi: Jurnal Ilmu-Ilmu Ushuluddin, Volume 8; https://doi.org/10.21274/kontem.2020.8.1.229-263

Abstract:
This paper discusses altruism in QS. Al-Hasyr verse 9 in Tafsir al-Tanwir wa al-Tahrir and al-Mizan fi al-Tafsir represented by lafadz خصاصة. Altruism is very important to be studied moreover it is related to the problems of the family of the 4.0 era today which are rife with discrimination of women, divorce and economic problems. Returning to the values of religious altruism is one solution to build a family defense that is sakinah mawaddah and warahmah. The purpose of this study is to understand the comparison of Tafsir al-Tanwir wa al-Tahrir and al-Mizan fi al-Tafsir to understanding altruism khasasahand their implications for family defense in the 4.0 era. To achieve the objectives, the method use id qualitative method with swmantic approach. Through this reading the results obtained in study are; fist; altruism is understood as voluntary activity carried out by a person or group to help others without expecting anything in return. Second; khasasahin QS. Al-Hasyr verse 9 has several maenings namely; 1) loving his brother because of God, 2) generous and far frombeing miserly, 3) putting this brother ahead of himself. Through this understanding, the implications derived from the substance of this study are the creation of altruism as a stronghold in the family in this era. Keywords: altruism, QS. Al-Hasyr: 9, Tafsir al-Tanwir wa al-Tanwir, al-Mizan fi al-Tafsir. Abstrak Tulisan ini membahas tentang altruisme dalam QS. Al-Hasyr ayat 9 pada Tafsir al-Tanwir wa al-Tahrir dan al-Mizan fi al-Tafsir yang direpresentasikan oleh lafadz خصاصة. Altruisme sangat penting dikaji apalagi dikaitkan dengan problem keluarga era 4.0 dewasa ini yang marak dengan diskriminasi perempuan, perceraiaan dan problem ekonomi. Mengembalikan pada nilai-nilai altruisme agama menjadi salah satu solusi untuk membangun pertahanan keluarga yang sakinah, mawaddah dan warahmah. Tujuan penelitian ini adalah untuk memahami komparasi Tafsir al-Tanwir wa al-Tahrir dan al-Mizan fi al-Tafsir terhadap pemahaman altruisme khasasahdan implikasinya terhadap pertahanan keluarga di era 4.0. Untuk mencapai tujuan tersebut, metode yang digunakan adalah metode kualitatif dengan pendekatan semantik. Melalui pembacaai ini, hasil yang diperoleh dalam penelitian ini adalah; pertama; altruisme dipahami sebagai kegiatan suka rela yang dilakukan seseorang atau kelompok untuk menolong orang lain tanpa mengharapkan imbalan apapun. Kedua; lafad khasasah dalam QS. Al-Hasyr ayat 9 memiliki beberapa makna yaitu; 1) mencintai saudaranya karena Allah, 2) dermawan dan jauh dari sifat kikir, 3) mengutamakan saudaranya daripada dirinya sendiri. Melalui pemahaman ini, implikasi yang didapat dari substansi penelitian ini adalah terciptanya altruisme sebagai benteng pertahanan dalam keluarga di era sekarang ini. Kata Kunci: altruisme, QS. Al-Hasyr: 9, Tafsir al-Tanwir wa al-Tahrir, al-Mizan fi al-Tafsir.
Back to Top Top