EMARA Indonesian Journal of Architecture

Journal Information
ISSN / EISSN : 24607878 / 24775975
Current Publisher: Fakultas Sains dan Teknologi UINSA (10.29080)
Total articles ≅ 68
Current Coverage
DOAJ
Archived in
SHERPA/ROMEO
Filter:

Latest articles in this journal

Dedi Hantono, Abdul Hamid Hakim
EMARA: Indonesian Journal of Architecture, Volume 5, pp 75-79; doi:10.29080/eija.v5i2.879

Abstract:
Fasad telah menjadi elemen utama dalam pembentukan karakter visual dalam sebuah kawasan Kota Tua Jakarta. Namun untuk memperbaiki kualitas visual kawasan bersejarah, yang penuh dengan bangunan yang dikonservasi, merubah fasad adalah satu hal yang tidak diizinkan. Ruang publik menjadi alternatif utama dalam memperbaiki kualitas visual kawasan Kota Tua Jakarta. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi elemen fisik yang memiliki pengaruh terhadap pembentukan visual kawasan Kota Tua Jakarta Data dikumpulkan dengan dengan kuesioner terhadap 10 orang responden Dengan menggunakan uji regresi, hubungan antar variabel diuji untuk menyelediki pengaruhnya antar variabel, dan dianalisis dengan pendekatan post positivistic realistic. Hasilnya menunjukkan ruang publik yang berpengaruh terhadap kualitas visual Kota Tua Jakarta adalah empat elemen dengan bentukan linier; termasuk diantaranya jalan-jalan, kali, dan jalur pedestrian; serta satu elemen berbentuk persegi (ruang bersama)
Fildzah Zatalini Zakirah, Hafshah Salamah, Hanson Endra Kusuma
EMARA: Indonesian Journal of Architecture, Volume 5, pp 69-74; doi:10.29080/eija.v5i2.694

Abstract:
Lingkungan kerja memiliki pengaruh yang cukup besar terhadap motivasi, kinerja, dan kebetahan seseorang di ruangan kerja. Hal tersebut akan mempengaruhi keinginan seseorang untuk berpindah ke tempat yang lebih baik menurut orang tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara faktor-faktor ketidaknyamanan lingkungan kerja dengan keinginan untuk pindah ruang kerja berdasarkan persepsi responden yang bekerja di ruangan tertutup. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dan pendekatan grounded theory. Pengumpulan data menggunakan kuesioner daring yang dibagikan secara bebas (non-random sampling). Hasil analisis korespondensi menunjukkan lima kategori ketidaknyamanan utama yang sangat berpengaruh terhadap kebetahan seseorang di ruangan kerja yaitu faktor kondisi termal tidak nyaman, interior ruang yang tidak baik, suasana kerja yang tidak mendukung, fasilitas dalam ruang yang kurang mendukung, dan pencahayaan ruang yang tidak sesuai. Diantara lima kategori utama tersebut, ketidaknyamanan termal merupakan faktor yang paling memiliki korespondensi dengan keinginan pindah ruang kerja. Dapat disimpulkan bahwa terdapat tiga kelompok faktor yang mewakili ketidaknyamanan kerja yaitu: faktor yang sangat berpengaruh, cenderung berpengaruh dan kurang berpengaruh terhadap ketidakbetahan individu terhadap lingkungan kerja mereka.
Muhamad Ratodi, Arfiani Syariah
EMARA: Indonesian Journal of Architecture, Volume 5, pp 61-68; doi:10.29080/eija.v5i2.850

Abstract:
Peran ulama sangat besar bagi masyarakat Kalimantan Selatan, tak hanya dalam aspek tatanan sosial kemasyarakatan tetapi juga dalam pembentukan cikal bakal permukiman Muslim. Penelitian ini mencoba mengidentifikasi pola perkembangan permukiman Sekumpul akibat aktivitas syiar KH Muhammad Zaini Abdul Ghani, serta identifikasi perubahan fungsi kawasannya berikut penerapan konsep Islam dalam penataan wilayah Sekumpul. Gambaran perkembangan deliniasi kawasan didapatkan melalui bantuan Google Earth dan Badan Informasi Geospasial Republik Indonesia, didukung dengan wawancara terstruktur terhadap narasumber kunci dengan menggunakan teknik snowball sampling. Hasil penelitian menunjukkan ekspresi perkembangan deliniasi spasial di kawasan Sekumpul berjalan natural dan mengadaptasi pola gurita dengan unsur jaringan jalan sebagai faktor dominannya. Dalam periode tahun 1990-an hingga saat ini kawasan Sekumpul telah tiga kali mengalami perubahan fungsi kawasan mulai dari fungsi pusat dakwah, fungsi hunian hingga fungsi ekonomi dengan konsep Religious tourismnya. Tidak ditemukan panduan spesifik terkait teknis pengembangan wilayah dalam materi kajian Majelis Arraudah, hanya pesan penting yang disampaikan oleh KH Muhammad Zaini Abdul Ghani adalah untuk memuliakan tamu. Konsep inilah yang menjadi pegangan warga Sekumpul Martapura dalam mengembangkan sarana fasilitas dan infrastruktur kawasan permukimannya
Ihsan Maulanar Robbany, Josephin Maria Pastika Atidipta, Shabrina Amalia Ihsanti, Vadya Dzauqiah, Agus S. Ekomadyo
EMARA: Indonesian Journal of Architecture, Volume 5, pp 52-60; doi:10.29080/eija.v5i2.779

Abstract:
Kelas kreatif merupakan orang-orang yang menggunakan pemikiran kreatifnya untuk memecahkan permasalahan melalui inovasi-inovasi. Aktivitas kelas kreatif memicu kebutuhan akan ruang yang dapat mengakomodasi kegiatan mereka. Kota Bandung adalah salah satu contoh kota kreatif sehingga memiliki banyak ruang kreatif. Penelitian ini bertujuan memetakan tipe-tipe ruang kreatif di Kota Bandung beserta hubungan dengan konteksnya melalui tiga studi kasus yakni Kompleks Gudang Selatan, Lo.Ka.Si Coffee & Space, dan Bandung Creative Hub. Pemetaan ruang kreatif dilakukan melalui penilaian kuantitatif dan penilaian kualitatif melalui observasi dan wawancara pengelola serta pengguna. Sedangkan, studi mengenai konteks kasus dilakukan lewat wawancara dan studi pustaka. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ketiga kasus tersebut merupakan ruang kreatif yang didominasi oleh ruang presentasi. Hal ini banyak didukung oleh faktor-faktor pada aspek kelembagaan. Selain itu, ditemukan bahwa industri kreatif di Bandung masih berorientasi pada kegiatan presentasi.
Nur Adyla Suriadi, Nurgadima Djalaluddin, Muhammad Aswad
EMARA: Indonesian Journal of Architecture, Volume 5, pp 46-51; doi:10.29080/eija.v5i2.681

Abstract:
The fishing settlements in Karama Village have different characteristics from other settlements, because this village still maintains Mandar culture in terms of physical and non-physical aspects such as weaving lipa 'saqbe activities, fisherman cultural rituals, sandeq races, and other cultural rituals that are carried out every year. But as its development, its existence can experience a shift. This condition can occur with the presence of other cultures both intentionally or unconsciously influenced by the economic activities of the community. This study aims to identify shifts in the cultural value of the community in Karama Village, especially in the aspect of community economic activity, through stages of identifying land-use change; analyzing it changes in Karama Village due to community economic activities; formulating an analysis of policy implications for dealing with land-use change problems in Karama Village. The results of the study indicate a change in governance and land-use change in Karama Village, with seventy-four percent of buildings changing their function from residential to trade and industry, eighteen percent of buildings experienced an increase in building area due to community economic activities. Meanwhile, twenty-eight percent of buildings do not increase their building area but use their public land for economic activities Those change has significant implications for socio-economic activities that are specifically in the cultural element that is related to the economic system or livelihoods
Fairuz Nabilah, Hanson Endra Kusuma
EMARA: Indonesian Journal of Architecture, Volume 5, pp 41-45; doi:10.29080/eija.v5i1.542

Abstract:
Parkir di bahu jalan merupakan cara parkir yang praktis dan dilakukan hampir di semua kota. Tetapi, cara tersebut dapat menimbulkan ketidaktertiban, kemacetan, pungutan liar, dan permasalahan lainnya. Sebagian pemerintah daerah mulai memperkenalkan penggunaan mesin parkir elektronik. Tujuan dilakukannya penelitian ini adalah untuk mengetahui dimensi persepsi masyarakat terhadap penggunaan mesin parkir elektronik. Data dikumpulkan dengan survei daring dan dianalisis menggunakan analisis korespondensi, analisis faktor, dan anova. Hasil analisis menunjukkan hampir semua responden baik yang pernah dan belum pernah menggunakan mesin parkir elektronik, cenderung antusias ingin memakai mesin tersebut. Dari hasil analisis terungkap tiga dimensi persepsi penggunaan mesin parkir yaitu Keamanan dan Ketertiban, Pemanfaatan Teknologi, dan Kejelasan Tarif. Responden yang setuju pada penggunaan mesin parkir elektronik cenderung memiliki persepsi positif terhadap tiga dimensi tersebut. Responden yang tidak setuju cenderung memiliki persepsi negatif terhadap tiga dimensi tersebut.
Annisa Nur Ramadhani, Arina Hayati, Muhammad Faqih
EMARA: Indonesian Journal of Architecture, Volume 5, pp 32-40; doi:10.29080/eija.v5i1.656

Abstract:
Sense of place is closely related to the level of community participation and sustainability development. In this paper, the context of environment is tourism kampung. Tourism kampung has a dynamic activities and cultural values both tangible and intangible. The development of tourism kampung has a positive goal to improve inhabitant’s socio-economic welfare. But, there was a change in kampung’s function, activity and meaning from a closed settlement system with low social accessibility to a tourism kampung. This change can also affect the people’s sense of place. Research method used in this study is mixed method, which combines quantitative and qualitative research. Data collection techniques were obtained from questionnaires, field observations, and in depth interviews. The result shows that physical improvement has a positive effect in escalating the level of inhabitant’s sense of place. The finding will be important to the development of the sense of place’s theory and sustainable development.
Yohanes Djarot Purbadi, Reginaldo Christophori Lake
EMARA: Indonesian Journal of Architecture, Volume 5, pp 12-23; doi:10.29080/eija.v5i1.641

Abstract:
Pariwisata merupakan salah satu model dalam strategi pembangunan yang semakin banyak digunakan. Pariwisata berbasis masyarakat dan ekonomi kreatif merupakan trend konsep yang diyakini mampu menyejahterakan masyarakat dan melestarikan lingkungan. Desa wisata berkembang di Daerah Istimewa Yogyakarta sejak tahun 2010 dan terus meningkat jumlahnya. Pada sisi lain, kampung-kampung-wisata juga tumbuh di kawasan perkotaan dan perdesaan sejalan dengan pertumbuhan desa-desa wisata. Karangwaru Riverside terletak di Kalurahan Karangwaru sejak tahun 2012 telah dikenal sebagai destinasi wisata baru di Yogyakarta, sebagai ruang publik yang memanfaatkan sungai dan kawasan sekitar sungai. Idealnya, konsep kampung-wisata berbasis masyarakat dan potensi lokal menjadi dasar pengembangan Karangwaru Riverside sebagai kampung-wisata yang hijau, lestari, sejahtera berkelanjutan. Permasalahan yang dikaji adalah bagaimana konsep pengembangan Karangwaru Riverside yang berbasis masyarakat dan potensi lokal untuk menciptakan kemakmuran masyarakat dan kelestarian lingkungan secara berkelanjutan. Tujuan tulisan adalah merumuskan konsep pengembangan kawasan tepian sungai berbasis potensi lokal, ekonomi kreatif dan ekonomi digital pada kasus Karangwaru Riverside. Penelitian ini menggunakan metode observasi lapangan, wawancara dan studi pustaka tentang kampung-wisata, ekonomi kreatif dan pembangunan pariwisata hijau lestari. Hasilnya, Karangwaru Riverside sebagai kampung-kota berpotensi dikembangkan lebih maju dengan konsep kampung-wisata berbasis pada potensi lokal, partisipasi masyarakat, ekonomi kreatif, pembangunan hijau ramah lingkungan dan didukung ekonomi digital.
Rita Ernawati
EMARA: Indonesian Journal of Architecture, Volume 5, pp 24-31; doi:10.29080/eija.v5i1.527

Abstract:
Kepuasan terhadap tempat tinggal merupakan hasil dari interaksi karakteristik individual dengan karakteristik fisik rumah yang dihuninya. Karakteristik personal suatu individu memunculkan ekspetasi terhadap tempat tinggal. Faktor yang secara umum mempengaruhi kepuasan terhadap tempat tinggal adalah lokasi, ekonomi, fasilitas, kualitas bangunan dan kehidupan sosial dengan penghuni lain. Rusunawa merupakan bentuk tempat tinggal dengan kompleksitas permasalahan tersendiri. Namun rusunawa juga dianggap mampu memberikan solusi bagi peyediaan perumahan di Indonesia. Untuk menjamin kelayakan dan kenyamanan penghuni, penelitian ini mencoba mengelaborasi faktor yang mempengaruhi kepuasan tinggal di rusunawa. Dengan metode kualitatif, pengumpulan dan analisis dilakukan secara triangulasi untuk menjamin kredibilitas penelitian. Survei dengan kuesioner, observasi, wawancara dan Focus Group Discussion dilakukan untuk menghasilkan data yang beragam agar dapat dianalisis dengan teori dan penelitian terdahulu. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa faktor lokasi, ekonomi, teknis bangunan dan kehidupan sosial merupakan faktor yang mempengaruhi kepuasan tinggal. Faktor teknis yang meliputi luas hunian dan pengelolaan bangunan masih perlu ditingkatkan untuk memenuhi kepuasan penghuni
Yohannes Firzal
EMARA: Indonesian Journal of Architecture, Volume 5, pp 1-5; doi:10.29080/eija.v5i1.533

Abstract:
Identitas suatu tempat pada hakikatnya dapat diubah dan dibentuk. Kondisi seperti ini dapat dimungkinkan sebagai bentuk upaya untuk mengakomodir perubahan keseharian yang terjadi yang terbentuk oleh transformasi dan artikulasi hubungan sosial. Dalam konteks ini, identitas tempat tersebut akan berkaitan erat dengan pengaruh budaya dan tradisi yang berlaku; sesuatu yang bersifat tidak tetap, belum berakhir dan memiliki berbagai variasi bentuk lainnya yang sudah tentu mempengaruhi tempat dan kehidupan masyarakat tempatan. Melalui pendekan penelitian kualitatif, penelitian ini mencari pengaruh budaya Melayu pada identitas sosial kebudayaan di Kota Pekanbaru. Data lapangan dikelompokkan, dianalisis, dan diolah melalui proses iterasi berulang guna memahami bagaimana proses rekonstruksi identitas sosial kebudayaan terjadi, dan bagaimana juga identitas budaya tertentu menjadi dasar dalam proses rekonstruksi identitas ini. Penelitian ini pada akhirnya dapat menyimpulkan bahwa hubungan antara budaya dan identitas dapat dijelaskan melalui arsitektur dan perubahan sosial kebudayaan yang terjadi di kehidupan perkotaan
Back to Top Top