EMARA: Indonesian Journal of Architecture

Journal Information
ISSN / EISSN : 2460-7878 / 2477-5975
Current Publisher: Fakultas Sains dan Teknologi UINSA (10.29080)
Total articles ≅ 75
Current Coverage
DOAJ
Archived in
SHERPA/ROMEO
Filter:

Latest articles in this journal

EMARA: Indonesian Journal of Architecture, Volume 6, pp 64-76; doi:10.29080/eija.v6i1.914

Abstract:
Jalan Surabaya telah terkenal sebagai kawasan distrik penjualan arloji sekaligus kawasan hunian pecinan yang pada masa Belanda disebut dengan nama Canton Straat. Seiring dengan perkembangan jaman kawasan ruas Jalan Surabaya mengalami degradasi kualitas visual dengan nilai historis yang melekat padanya. Penelitian bertujuan untuk menghasilkan konsep revitalisasi kawasan bersejarah Jalan Surabaya dengan pendekatan retrofitting. Dengan menggunakan metode deskriptif kualitatif, tahapan penelitian dimulai dengan melakukan analisis terhadap berbagai aspek dari kawasan, meliputi fisik, sosial, ekonomi dan budaya. Tiga strategi utama retrofitting digunakan untuk menghasilam model revitalisasi kawasan. Hasilnya penelitian menunjukkan bahwa revitalisasi kawasan Jalan Surabaya dapat ditempuh dengan cara pembangunan gerbang pecinan, ruang terbuka publik dan prasarana angkutan umum; signage, area parkir dan penataan pedestrian; serta konservasi bangunan bersejarah. Agar model revitalisasi dapat diterapkan maka akan membutuhkan dukungan semua pihak, termasuk partisipasi masyarakat setempat.
Josephine Roosandriantini
EMARA: Indonesian Journal of Architecture, Volume 6, pp 40-49; doi:10.29080/eija.v6i1.898

Abstract:
Arsitektur nusantara yang merupakan hasil ide kreatif dari masyarakat Nusantara, yang cenderung diciptakan hanya dengan material dan peralatan sederhana. Akan tetapi arsitektur nusantara yang hadir dengan identitas kekunoannya, bukan berarti tidak memiliki nilai kreativitas. Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi penerapan teori "Guna dan Citra" dari Mangunwijaya dalam memandang wujud kreativitas dalam arsitekur nusantara. Pengumpulan data dilakukan melalui berbagai kajian literatur untuk menarik kesimpulan tentang bagaimana Teori "Guna dan Citra" diterapkan di Arsitektur Nusantara. Dua objek arsitekur Tradisional, yakni bangunan Tongkonan di Toraja dan Mamasa, serta arsitektur Batak Toba dipilih sebagai objek kajian. Hasil kajian memperlihatkan bahwa penerapan aspek Guna terletak pada pada detail arsitektural konstruksi, tampilan atap dan material yang berkaitan dengan fungsi. Sedangkan penerapan Citra terletak pada penggambaran makna yang dikaitkan kepada penyelesaian bangunan. Selain itu kajian ini semakin menguatkan fakta bahwa Arsitektur Nusantara merupakan hasil ide kreatif masyarakatnya dalam beradaptasi dengan kondisi geogfrafis dan iklim.
EMARA: Indonesian Journal of Architecture, Volume 6, pp 50-63; doi:10.29080/eija.v6i1.800

Abstract:
Perguruan Tinggi memiliki peran yang penting dalam mewujudkan masa depan kota yang berkelanjutan. Konsep Eco-Campus telah dicanangkan oleh Pemerintah Kota Surabaya melalui Badan Lingkungan Hidup (BLH). Ruang Terbuka Hijau (RTH) telah menjadi indikator kunci di dalam penataan ruang berbasis Eco-Campus. Seiring dengan meningkatnya jumlah pembangunan infrastruktur fisik, keberadaan Ruang Terbuka Hijau juga telah mulai berkurang dan beralih fungsi. Penelitian in bertujuan mengevaluasi komposisi Ruang Terbuka Hijau di lingkungan Institusi pendidikan tinggi dalam konteks ecocampus. Penelitian ini mengambil tempat di kampus UIN Sunan Ampel Surabaya yang juga telah menyandang gelar Ecocampus. Dengan menggunakan metode kuantitatif, empatbelas variabel dijadikan indikator evaluasi untuk menjawab tujuan penelitian. Hasil menunjukkan bahwa kampus UIN Sunan Ampel memiliki komposisi ruang terbuka sebesar enampuluh lima persen, yang terdiri dari tujuh persen Ruang Terbuka Hijau dan lima puluh enam persen Ruang Terbuka Non-hijau. Untuk menunjang performa eco campus nya, maka pihak kampus dapat mempertimbangkan penerapan vertical landscaping.
EMARA: Indonesian Journal of Architecture, Volume 6, pp 21-30; doi:10.29080/eija.v6i1.902

Abstract:
Heritage and cultural tourism are part of the tourism industry that must be maintained sustainability. Therefore heritage tourism destinations must be able to carry a “sense of place” as its focus. A sense of place is essential in attracting tourists to visit heritage sites for a long time. This article aims to assess the relationship between the Sense of Place between tourists, both domestic and international, and the length of stay in the Kota Bharu Cultural Heritage Zone. A total of 445 tourists participated as respondents by filling out a questionnaire survey. At the same time, data analysis was carried out using One way ANOVA. The results showed that the Sense of Place in the Kota Bharu Cultural Heritage Area affects the length of stay of tourists with eight correlated scales. Those eight scales are authenticity, historical value, distinction, harmony, maintainability, and cleanliness. This study also finds several important implications for local governments and tourism practitioners in maintaining the economic and social attributes of a tourism destination. This study is expected to serve as the basis for future studies related to the design of urban areas and other heritage tourism sites.
EMARA: Indonesian Journal of Architecture, Volume 6, pp 31-39; doi:10.29080/eija.v6i1.806

Abstract:
Masjid Tuha Ulee Kareng adalah salah satu masjid tradisional tertua di Aceh yang masih difungsikan hingga saat ini. Namun bangunan ini masih menyimpan berbagai permasalahan diantaranya adalah fungsi bangunan yang tidak berfungsi maksimal, tidak terawatnya struktur dan material bangunan, serta kurangnya pengetahuan masyarakat tentang keberadaan arsitektur masjid ini. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi unsur kearifan lokal pada bangunan masjid Tuha Ulee Kareng, terutama pada komponen struktur dan ornamennya yang telah menjadi ciri khas Aceh di masa lampau. Pengumpulan data dilakukan dengan melakukan observasi lapangan dan wawancara semi-terstruktur terhadap 15 informan kunci. Hasil penelusuran menunjukkan keunikan masjid terlihat pada bagian atap yang memiliki dua tingkatan. Struktur dan konstruksi bangunan masjid masih dalam kondisi asli dengan bahan material kayu. Berbagai ukiran ornamen yang menghiasi kontruksi kayu tidak hanya sebagai perwujudan ekspresi seni, namun menyiratkan makna hubungan manusia dengan Tuhan penciptanya. Hal tersebut diterjemahkan sebagai bentuk kearifan lokal pada bangunan Masjid Tuha Ulee Kareng
EMARA: Indonesian Journal of Architecture, Volume 6, pp 1-10; doi:10.29080/eija.v6i1.894

Abstract:
The study has tried to answer the question of how the dominant discourse in the city tries to create meanings and forms an interpretation by using signs and symbols. Accordingly, common semiotics of Dur Untash city has been investigated. In three steps, including preparation, organization, and final report or conclusion, a content analysis method has been done. First, deconstruction views of reading place are explained and how an interpretation discourse is formed. Then we investigated some standard semantic features of Dur Untash city and an image of some familiar ideas and signs is projected. Finally, a bipolar semantic interpretation of these signs and images is presented. The dominant discourse of the city has wanted to catch a meaning, but none of its symbols and characters has such a valid capacity and authority. Therefore, the dominant discourses could not conjure spatial features controlled by meaning-making
EMARA: Indonesian Journal of Architecture, Volume 6, pp 9-20; doi:10.29080/eija.v6i1.684

Abstract:
Preferensi merupakan pilihan terhadap sesuatu objek yang mencerminkan persepsi dan sikap individu. Persepsi dan sikap ini cenderung konstan sehingga terdapat kemungkinan kemiripan dalam preferensi individu terhadap pakaian dan rumah rumah tinggal. Penelitian ini merupakan studi awal untuk mengeksplorasi hubungan persamaan antara fashion dan arsitektur dari sudut pandang preferensi pakaian dan rumah tinggal. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif yang bersifat eksploratif dengan pendekatan grounded theory. Pengumpulan data menggunakan kuesioner daring dengan metode non-random sampling. Data teks yang terkumpul dianalisis dengan analisis isi (open coding). Hasilnya telah mengungkap kemiripan berbagai faktor yang menjadi pertimbangan dalam memilih pakaian dan rumah tinggal. Hasil studi juga telah berhasil mengidentifikasi delapan kategori faktor, yaitu citra, kenyamanan, suasana hati, materialitas, kebersihan, ekonomi, kemudahan, dan fungsi, serta berbagai kata kunci baru yang mempengaruhi preferensi individu terhadap pakaian dan rumah tinggal.
EMARA: Indonesian Journal of Architecture, Volume 5, pp 75-79; doi:10.29080/eija.v5i2.879

Abstract:
Fasad telah menjadi elemen utama dalam pembentukan karakter visual dalam sebuah kawasan Kota Tua Jakarta. Namun untuk memperbaiki kualitas visual kawasan bersejarah, yang penuh dengan bangunan yang dikonservasi, merubah fasad adalah satu hal yang tidak diizinkan. Ruang publik menjadi alternatif utama dalam memperbaiki kualitas visual kawasan Kota Tua Jakarta. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi elemen fisik yang memiliki pengaruh terhadap pembentukan visual kawasan Kota Tua Jakarta Data dikumpulkan dengan dengan kuesioner terhadap 10 orang responden Dengan menggunakan uji regresi, hubungan antar variabel diuji untuk menyelediki pengaruhnya antar variabel, dan dianalisis dengan pendekatan post positivistic realistic. Hasilnya menunjukkan ruang publik yang berpengaruh terhadap kualitas visual Kota Tua Jakarta adalah empat elemen dengan bentukan linier; termasuk diantaranya jalan-jalan, kali, dan jalur pedestrian; serta satu elemen berbentuk persegi (ruang bersama)
EMARA: Indonesian Journal of Architecture, Volume 5, pp 69-74; doi:10.29080/eija.v5i2.694

Abstract:
Lingkungan kerja memiliki pengaruh yang cukup besar terhadap motivasi, kinerja, dan kebetahan seseorang di ruangan kerja. Hal tersebut akan mempengaruhi keinginan seseorang untuk berpindah ke tempat yang lebih baik menurut orang tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara faktor-faktor ketidaknyamanan lingkungan kerja dengan keinginan untuk pindah ruang kerja berdasarkan persepsi responden yang bekerja di ruangan tertutup. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dan pendekatan grounded theory. Pengumpulan data menggunakan kuesioner daring yang dibagikan secara bebas (non-random sampling). Hasil analisis korespondensi menunjukkan lima kategori ketidaknyamanan utama yang sangat berpengaruh terhadap kebetahan seseorang di ruangan kerja yaitu faktor kondisi termal tidak nyaman, interior ruang yang tidak baik, suasana kerja yang tidak mendukung, fasilitas dalam ruang yang kurang mendukung, dan pencahayaan ruang yang tidak sesuai. Diantara lima kategori utama tersebut, ketidaknyamanan termal merupakan faktor yang paling memiliki korespondensi dengan keinginan pindah ruang kerja. Dapat disimpulkan bahwa terdapat tiga kelompok faktor yang mewakili ketidaknyamanan kerja yaitu: faktor yang sangat berpengaruh, cenderung berpengaruh dan kurang berpengaruh terhadap ketidakbetahan individu terhadap lingkungan kerja mereka.
EMARA: Indonesian Journal of Architecture, Volume 5, pp 61-68; doi:10.29080/eija.v5i2.850

Abstract:
Peran ulama sangat besar bagi masyarakat Kalimantan Selatan, tak hanya dalam aspek tatanan sosial kemasyarakatan tetapi juga dalam pembentukan cikal bakal permukiman Muslim. Penelitian ini mencoba mengidentifikasi pola perkembangan permukiman Sekumpul akibat aktivitas syiar KH Muhammad Zaini Abdul Ghani, serta identifikasi perubahan fungsi kawasannya berikut penerapan konsep Islam dalam penataan wilayah Sekumpul. Gambaran perkembangan deliniasi kawasan didapatkan melalui bantuan Google Earth dan Badan Informasi Geospasial Republik Indonesia, didukung dengan wawancara terstruktur terhadap narasumber kunci dengan menggunakan teknik snowball sampling. Hasil penelitian menunjukkan ekspresi perkembangan deliniasi spasial di kawasan Sekumpul berjalan natural dan mengadaptasi pola gurita dengan unsur jaringan jalan sebagai faktor dominannya. Dalam periode tahun 1990-an hingga saat ini kawasan Sekumpul telah tiga kali mengalami perubahan fungsi kawasan mulai dari fungsi pusat dakwah, fungsi hunian hingga fungsi ekonomi dengan konsep Religious tourismnya. Tidak ditemukan panduan spesifik terkait teknis pengembangan wilayah dalam materi kajian Majelis Arraudah, hanya pesan penting yang disampaikan oleh KH Muhammad Zaini Abdul Ghani adalah untuk memuliakan tamu. Konsep inilah yang menjadi pegangan warga Sekumpul Martapura dalam mengembangkan sarana fasilitas dan infrastruktur kawasan permukimannya
Back to Top Top