ANIMA Indonesian Psychological Journal

Journal Information
ISSN / EISSN : 0215-0158 / 2620-5963
Published by: Universitas Surabaya (10.24123)
Total articles ≅ 136
Filter:

Latest articles in this journal

, , Yulia Ayriza, Fonny Dameaty Hutagalung
ANIMA Indonesian Psychological Journal, Volume 37; https://doi.org/10.24123/aipj.v37i1.3916

Abstract:
Friendship is one of the forms of interpersonal relationship which may be experienced by people at some point in their lives. Friendships play larger roles when people move into adolescence, when peers begin to play larger roles. However, studies concerning friendship tend greatly to be focused upon mental health benefits for adolescents and their role as factors protective against mental health problems, predominantly internalizing disorder. Nonetheless, several of the latest pieces of research indicate that friendship does not always provide protection against internalizing disorder. Experts in the field of developmental psychopathology have recommended looking at the connection between friendships and internalizing disorder from a different viewpoint. Not just viewing friendships as protection against internalizing disorder, there are guidelines asking about the effects of internalizing disorder influencing friendships. This study attempted to delve deeper into whether the internalizing disorder such as depression and anxiety, regarding two indexes of the features of friendship (the positive features of friendship and the negative features of friendship), with non-clinical adolescents in the South East Asian context, involving 400 Indonesian participants (84% female adolescents; 16% male adolescents; Mage = 16.04) and 269 Malaysian participants (73% female adolescents; 27% male adolescents; Mage = 15.86). The results of hierarchical linear regression analysis indicated that the increase in depression rates predicted lower levels of the positive features of friendships and higher levels of the negative features of friendship. Meanwhile, an increase in anxiety predicted higher levels of the negative features of friendship. Besides this, there were no significant results from regression analysis regarding anxiety and the positive features of friendship. Additional findings and practical implications are discussed comprehensively. Persahabatan merupakan salah satu bentuk relasi interpersonal yang akan dialami seseorang pada satu titik dalam kehidupannya. Persahabatan mengambil peran yang lebih besar ketika individu beranjak ke masa remaja, ketika teman sebaya mulai mengambil peran yang lebih besar. Hanya saja, studi tentang persahabatan cenderung banyak difokuskan pada manfaatnya bagi kesehatan mental remaja serta perannya sebagai faktor protektif terhadap masalah kesehatan mental, terutama masalah internalisasi. Namun, beberapa penelitian terkini menunjukkan bahwa persahabatan tidak selalu memberikan proteksi terhadap masalah internalisasi. Ahli-ahli psikopatologi perkembangan sebenarnya sudah memberi saran untuk melihat hubungan antara persahabatan dan permasalahan internalisasi dari sudut pandang yang berbeda. Alih-alih melihat persahabatan sebagai pelindung dari permasalahan internalisasi, ada arahan untuk bertanya apa efek masalah internalisasi mempengaruhi persahabatan. Studi ini mencoba untuk mendalami lebih jauh mengenai peran masalah internalisasi seperti depresi dan kecemasan kepada dua indeks fitur persahabatan (fitur persahabatan positif dan fitur persahabatan negatif) pada remaja non klinis dalam konteks Asia Tenggara, dengan melibatkan 400 partisipan Indonesia (84% remaja perempuan; 16% remaja laki-laki; Musia = 16,04) dan 269 peserta Malaysia (73% remaja perempuan; 27% remaja laki-laki; Musia = 15,86). Hasil analisis hierarchical linear regression menunjukkan bahwa naiknya depresi memprediksi fitur persahabatan positif yang lebih rendah dan memprediksi fitur persahabatan negatif yang lebih tinggi. Sedangkan naiknya kecemasan memprediksi fitur persahabatan negatif yang lebih tinggi. Selain itu, tidak ditemukan hasil yang signifikan pada hasil analisis regresi untuk kecemasan dan fitur persahabatan positif. Temuan tambahan dan implikasi praktis didiskusikan secara komprehensif.
Zakiyah Rahmani, Thomas Dicky Hastjarjo
ANIMA Indonesian Psychological Journal, Volume 37; https://doi.org/10.24123/aipj.v37i1.4272

Abstract:
In a collective culture, parental career support is considered an important source of consideration for adolescent students. Unfortunately, preliminary research conducted by the authors found that parents were not quite able to provide the support their children required. One of the efforts to overcome this problem is the provision of psychoeducation to increase career decision-making literacy to parents through an application named i-Karier. This study tested a hypothesis that i-Karier literacy can increase parental support in adolescent students’ decision-making. This study utilized a quantitative approach with quasi-experimental design (untreated control group design with dependent pretest and posttest samples using a double pretest). The participants were 48 parents of high school students in Class XI and XII who were selected using purposive sampling. There were nine inclusion criteria, namely: (1) education level; (2) children’s career aspirations; (3) parents’ location; (4) zero attendance in training on adolescents' career decision-making; (5) ability to operate a smartphone; (6) availability of supporting facilities; (7) low to moderate levels of knowledge of career decisions; (8) low to moderate scores on the parental support scale; and (9) parents' willingness to participate. The results of mixed Analysis of Variance (ANOVA) model reported a significant interaction between group factors and measurement period factors on parental support, F(2.01, 92.51) = 130.99, p < .01, η_p^2= .74. The results of the interview regarding intervention effectiveness to participants in the experimental group confirmed these findings. Fundamentally, participation in this program could improve the ability of parents to provide the support their children require when facing various major choices in higher education. Dalam budaya kolektif, dukungan orang tua dalam pengambilan keputusan karier (parental career support) dianggap sebagai sumber pertimbangan penting bagi siswa remaja. Sayangnya, penelitian awal yang dilakukan oleh penulis menemukan bahwa para orang tua kurang dapat memberikan dukungan yang dibutuhkan oleh anak-anak mereka. Salah satu upaya untuk mengatasi masalah tersebut adalah pemberian psikoedukasi untuk meningkatkan literasi pengambilan keputusan karier kepada para orang tua melalui aplikasi bernama i-Karier. Penelitian ini menguji sebuah hipotesis bahwa literasi i-Karier dapat meningkatkan dukungan orang tua dalam pengambilan keputusan siswa remaja. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain quasi-experiment (untreated control group design with dependent pretest and posttest samples using a double pretest). Partisipan penelitian ini adalah 48 orang tua siswa Sekolah Menengah Atas (SMA) Kelas XI dan XII yang dipilih menggunakan purposive sampling. Terdapat sembilan kriteria inklusi yaitu: (1) tingkat pendidikan; (2) aspirasi karier anak; (3) lokasi orang tua; (4) tidak pernah mengikuti pelatihan; (5) kemampuan mengoperasikan smarphone; (6) memiliki fasilitas mendukung; (7) memiliki pengetahuan keputusan karier; (8) skor parental support scale; dan (9) kesediaan orang tua untuk berpartisipasi. Hasil analisis model Analysis of Variance (ANOVA) campuran melaporkan adanya interaksi yang signifikan antara faktor kelompok dan faktor periode pengukuran terhadap dukungan orangtua, F(2,01, 92,51) = 130,99; p < 0,01; η_p^2 = 0,74. Hasil wawancara perihal efektivitas intervensi kepada para partisipan di kelompok eksperimen mengonfirmasi temuan tersebut. Secara mendasar, keikutsertaan dalam program ini dapat meningkatkan kemampuan para orangtua dalam memberikan dukungan yang dibutuhkan oleh anak-anak mereka saat menghadapi berbagai pilihan jurusan di pendidikan tinggi.
Felicia Yosiana Gunawan, Imelda Ika Dian Oriza
ANIMA Indonesian Psychological Journal, Volume 37; https://doi.org/10.24123/aipj.v37i1.3033

Abstract:
Emotional distress amongst university students is an issue which has emerged as the result of various factors, such as the transition from adolescence to young adulthood, an increase in demands made, and changes in the situation and the system of learning. The phenomenon of distress may be seen from the number of undergraduate students seeking psychological help in university clinics. The queues of undergraduates always exceed the capacity for the provision of services, so that undergraduates are forced to wait for between one and three months. One of the ways to overcome this phenomenon is by conducting web-based psychological intervention. Internet connection may increase accessibility and facilitation of web-based psychological intervention. This study examined the feasibility of eight sessions of web-based guided self-help Acceptance and Commitment Therapy (ACT) organized to reduce the levels of emotional distress and to increase the psychological flexibility and self-compassion of undergraduate students of the Faculty of Psychology of a university in Indonesia. This study was quasi-experimental, with a one group pretest-posttest design involving 38 participants. After the interventions, there was a significant reduction in symptoms of distress detected, as well as an increase in the levels of psychological flexibility and self-compassion of the participants. Feasibility assessment results showed that with the supportive resources of the people conducting the trial, Internet connections, and independence on the part of the participants, the conducting of a web-based program of Acceptance and Commitment Therapy (ACT) is feasible. More in-depth research on a wider scale is required to reach a closer to adequate conclusion regarding the effectiveness of such a program, however, the feasibility of the web-based Acceptance and Commitment Therapy (ACT) intervention, as proven in this study, indicated that the features of online psychological intervention offer an efficient option for the providers of mental health services. Distress emosional pada mahasiswa adalah isu yang muncul akibat berbagai faktor, seperti transisi dari usia remaja ke dewasa muda, bertambahnya tuntutan, dan perubahan situasi serta sistem belajar. Fenomena distress terlihat dari banyaknya mahasiswa sarjana yang mencari bantuan psikologis di klinik universitas. Antrean mahasiswa selalu melebihi kapasitas pemberi layanan sehingga mahasiswa perlu mengantre selama satu hingga tiga bulan. Salah satu cara untuk mengatasi fenomena ini adalah dengan menjalankan intervensi psikologis berbasis-web. Koneksi Internet dapat meningkatkan keterjangkauan dan kemudahan partisipan mengakses layanan psikologis. Studi ini meneliti fisibilitas delapan sesi guided self-help Acceptance and Commitment Therapy (ACT) berbasis-web yang disusun untuk menurunkan tingkat distress emosional serta meningkatkan fleksibilitas psikologis dan self-compassion mahasiswa sarjana Fakultas Psikologi dari sebuah universitas di Indonesia. Studi ini merupakan quasi-experimental dengan desain one-group pretest-posttest sebanyak 38 partisipan. Setelah intervensi, ditemukan penurunan gejala distress yang signifikan, disertai dengan naiknya fleksibilitas psikologis dan self-compassion partisipan. Hasil asesmen fisibilitas menunjukkan bahwa dengan sumber daya yang menunjang dari pihak pelaksana, koneksi Internet, dan kemandirian dari pihak partisipan, program Acceptance and Commitment Therapy (ACT) berbasis-web fisibel untuk dilakukan. Riset lebih dalam dengan skala lebih luas dibutuhkan untuk mencapai konklusi yang lebih adekuat mengenai efektivitas program, namun fisibilitas intervensi Acceptance and Commitment Therapy (ACT) berbasis-web yang terbukti pada studi ini menunjukkan bahwa intervensi psikologis fitur daring merupakan opsi efisien bagi penyedia layanan kesehatan mental.
Muhamad Salis Yuniardi, Jacqueline Rodgers, Mark Henry Freeston
ANIMA Indonesian Psychological Journal, Volume 37; https://doi.org/10.24123/aipj.v37i1.2531

Abstract:
Considerable efforts have been made over a long period of time to understand the variability in substance use and the causal factors underlying it. Therefore, this study aimed to compare motives and the context of alcohol and cannabis use based on a novel measure named the Newcastle Substance Use Questionnaire (NSUQ). Participants were recruited from five universities in the United Kingdom. A total of 58 participants reported using of both alcohol and cannabis during the previous year of the study. Comparisons of motives and context were conducted using General Linear Model - Repeated Measure Analysis of Variance (ANOVA) through International Business Machines Corporation (IBM) Statistical Product and Service Solutions (SPSS) version 21.0. There are differences and similarities regarding motives and contexts of alcohol and cannabis use. “Improving social interaction” was the highest rated on alcohol use, whereas “improving cognitive performance” was the highest rated on cannabis use. Additionally, the most frequent context for both substances is “using with friends”. Bermacam upaya telah dilakukan dalam jangka waktu lama untuk memahami variasi dalam penggunaan zat adiktif dan faktor yang melatarbelakanginya. Studi ini bertujuan membandingkan motif dan konteks penggunaan alkohol dan ganja, dengan menggunakan instrumen pengukuran baru bernama Newcastle Substance Use Questionnaire (NSUQ). Partisipan direkrut dari lima universitas di Britania Raya. Sebanyak 58 partisipan melaporkan penggunaan keduanya dalam setahun terakhir dari waktu pelaksanaan studi ini. Perbandingan motif dan konteks penggunaan dilakukan dengan menggunakan General Linear Model - Repeated Measure Analysis of Variance (ANOVA) pada program International Business Machines Corporation (IBM) Statistical Product and Service Solutions (SPSS) versi 21.0. Ada perbedaan dan persamaan terkait motif dan konteks penggunaan alkohol dan ganja. “Membantu meningkatkan interaksi sosial” adalah motif dengan skor tertinggi terkait penggunaan alkohol, sedangkan “meningkatkan kemampuan kognitif” adalah motif dengan skor tertinggi terkait penggunaan ganja. Selanjutnya, konteks penggunaan yang paling sering terjadi pada penggunaan keduanya adalah “menggunakan bersama teman”.
Mario Rizky Yuwono, Stefani Virlia
ANIMA Indonesian Psychological Journal, Volume 37; https://doi.org/10.24123/aipj.v37i1.2324

Abstract:
The risk of gaming disorder is not only limited to hardcore gaming style, but is also found in the increasingly popular casual gaming style. This study aims to test how leisure boredom affects gaming disorder in emerging adult smartphone users. A quantitative approach with correlational design was used in the study. The criteria of the respondents were individuals aged 18-25 years, who played games on their smartphones at least once a day and resided in Surabaya, Indonesia. A total of 175 respondents participated in this research. Modified version of the Leisure Boredom Scale (LBS) and the Internet Gaming Disorder - 20 Test (IGD-20 Test) were utilized to collect data. The data was analyzed using simple linear regression. The results indicated that leisure boredom may predict the tendency of gaming disorder in emerging adult smartphone users. The conflict aspect in gaming disorder was found to be the most affected by leisure boredom, whereas the mood modification aspect was found to be the only aspect not affected by leisure boredom. Risiko akan kelainan bermain game tidak hanya terbatas pada gaya bermain intensif (hardcore gaming), namun juga pada gaya bermain santai (casual gaming) yang semakin populer. Studi ini bertujuan untuk menguji pengaruh rasa bosan di waktu luang terhadap kelainan bermain game pada pengguna smartphone dewasa muda. Pendekatan kuantitatif dengan desain korelasional telah digunakan dalam studi ini. Responden memiliki kriteria berusia 18-25 tahun yang bermain game di smartphone minimal satu kali dalam sehari dan berdomisili di Surabaya, Indonesia. Terdapat 175 responden yang bersedia mengikuti studi ini. Alat ukur Leisure Boredom Scale (LBS) dan Internet Gaming Disorder - 20 Test (IGD-20 Test) yang dimodifikasi telah digunakan untuk mengumpulkan data. Data dianalisis menggunakan regresi linear sederhana. Hasil menunjukkan bahwa rasa bosan di waktu luang memprediksi kecenderungan kelainan bermain game pada pengguna smartphone dewasa muda. Aspek conflict ditemukan sebagai aspek yang paling dipengaruhi rasa bosan di waktu luang sedangkan aspek mood modification ditemukan tidak dipengaruhi rasa bosan di waktu luang.
Intan Permatasari, Harry Susianto
ANIMA Indonesian Psychological Journal, Volume 37; https://doi.org/10.24123/aipj.v37i1.4470

Abstract:
In Indonesia, online research is typically conducted using survey design. Data collection is conducted by distributing links to questionnaires through social media. Compared to surveys, online experimental research, especially ones that utilize mobile applications and require repeated measures, are very rarely implemented. This is thought to be caused by the lack of experience among researchers of psychology in creating and managing online research platforms or smartphone applications. This article aims to guide researchers on conducting online experiments with repeated measures, integrated with additional smartphone applications that are available for free. Di Indonesia penelitian secara daring umumnya dilakukan menggunakan desain survei. Pengumpulan datanya dilakukan dengan cara menyebarkan tautan kuesioner melalui media sosial. Dibandingkan survei, penelitian eksperimen daring, terlebih lagi yang menggunakan aplikasi ponsel dan membutuhkan pengukuran multipel sangat jarang dilakukan. Penyebabnya diduga karena peneliti psikologi umumnya belum terbiasa membuat serta mengelola platform penelitian daring atau aplikasi ponsel. Artikel ini bertujuan memberikan panduan melakukan eksperimen daring dengan pengukuran multipel (repeated measures) yang mengintegrasikan tambahan aplikasi ponsel yang bisa dilakukan secara gratis.
Edwin Adrianta Surijah, Juneman Abraham, Christiany Suwartono, Ide Bagus Siaputra
ANIMA Indonesian Psychological Journal, Volume 36, pp 127-155; https://doi.org/10.24123/aipj.v36i2.4580

Abstract:
TIM RaDaR is an initiative to discover common standards for scientific publications in the field of psychology in Indonesia. Through this standard, authors (i.e., researchers, students, or lecturers) may prepare their manuscripts to meet the basic criteria for scientific publication. The writing criteria comprise of Title, Introduction, Methods, Results and Discussion, and References. This article also provides a checklist to aid authors and journal editors in evaluating manuscripts to be published. As an initiative, this article aims to become a starting point in synergizing better quality scientific publications in the field of psychology in Indonesia. TIM RaDaR adalah sebuah inisiatif untuk menggali standar bersama publikasi ilmiah psikologi Indonesia. Melalui standar ini, penulis (peneliti, mahasiswa, atau dosen) dapat mempersiapkan tulisan yang mereka susun untuk memenuhi kriteria dasar publikasi ilmiah. Kriteria tersebut mencakup penulisan Judul, Pendahuluan, Metode, Hasil dan Diskusi, serta Pustaka Acuan (Title, Introduction, Methods, Results and Discussion, and References). Tulisan ini juga memberikan sebuah checklist yang dapat digunakan sebagai alat bantu bagi penulis dan pengelola jurnal untuk mengevaluasi tulisan yang telah disusun. Sebagai suatu inisiatif, tulisan ini menjadi titik awal sinergi publikasi ilmiah psikologi Indonesia yang lebih bermutu di masa mendatang.
Wuri Prasetyawati, Tjut Rifameutia, Robyn Gillies, Peter Newcombe
ANIMA Indonesian Psychological Journal, Volume 36, pp 184-203; https://doi.org/10.24123/aipj.v36i2.2277

Abstract:
Well-being is an indicator of students’ happiness in school. There is currently a need to identify students’ well-being in order to know the conditions of students’ mental health and their levels of contentment in school. The existing instruments of student well-being in Indonesia have numerous items, which can impact the participants’ behavior in filling out the questionnaires. Therefore, there was a need for a shorter version of the instruments. This research focused on the adaption of the Brief Adolescent Subjective Well-Being in School Scale (BASWBSS), an instrument for subjective well-being with only eight items and was previously developed by Tian, Wang, and Huebner (2015) among high school students in China. A total of 235 Indonesian students, both high school and first-year university students were the participants in this study. Reliability testing using internal consistency, while construct and criterion validity testing was implemented to test this scale's psychometric properties in the Indonesian context. The result of this study indicated that the adaptation of Brief Adolescent Subjective Well-Being in School Scale (BASWBSS) was valid and reliable for Indonesian students. Kesejahteraan merupakan indikator kebahagiaan siswa di sekolah. Saat ini, terdapat kebutuhan mengidentifikasi kesejahteraan siswa untuk mengetahui kondisi kesehatan mental dan tingkat kepuasan mereka di sekolah. Alat ukur kesejahteraan siswa yang ada di Indonesia memiliki banyak butir pertanyaan, yang dapat berdampak pada perilaku partisipan dalam mengisi kuesioner. Karenanya, dibutuhkan versi pendek dari alat ukur tersebut. Penelitian ini berfokus pada adaptasi Brief Adolescent Subjective Well-Being in School Scale (BASWBSS), sebuah alat ukur kesejahteraan subjektif dengan delapan butir yang dikembangkan oleh Tian, Wang, dan Huebner (2015) untuk siswa sekolah menengah atas di Tiongkok. Sebanyak 235 siswa Indonesia, yang merupakan siswa sekolah menengah atas dan mahasiswa tahun pertama, menjadi partisipan dalam penelitian ini. Uji reliabilitas dilakukan menggunakan konsistensi internal, sedangkan uji validitas konstruk dan validitas kriteria digunakan untuk menguji aspek psikometri dalam konteks Indonesia. Hasil penelitian menunjukkan bahwa hasil adaptasi dari Brief Adolescent Subjective Well-Being in School Scale (BASWBSS) valid dan reliabel untuk siswa di Indonesia.
Ihsana Sabriani Borualogo, Ferran Casas
ANIMA Indonesian Psychological Journal, Volume 36, pp 204-230; https://doi.org/10.24123/aipj.v36i2.2880

Abstract:
This study aims to explain the subjective well-being of Indonesian children in terms of material well-being. Indonesia is still considered a developing country, and several studies reveal the correlation between economic status and subjective well-being of adults. However, only a very limited number of studies focus on Indonesian children’s material well-being from their own perspective. This study used data from the third wave of the Children’s Worlds survey conducted in Indonesia. The sample (N = 14,576; 49.35% boys; 50.65% girls) was composed of children aged 10 years and 12 years. Subjective well-being (SWB) was measured using the Children’s Worlds Subjective Well-Being Scale (CW-SWBS) and a single-item Overall Life Satisfaction (OLS) scale. Material well-being was measured using family economic status, material deprivation, frequency of being worried about family’s money situation, and frequency of having enough food to eat each day. Data were analyzed using descriptive statistics. Cummins’ theory of subjective well-being (SWB) was used to explain the results. Results showed that children from families with high economic status who reported no material deprivation, never worrying about the family’s money, and always having enough food to eat each day displayed higher subjective well-being (SWB) mean scores on both subjective well-being (SWB) scales compared to children in families from middle and lower economic status. However, children from middle and lower economic status showed rather high subjective well-being (SWB) scores, suggesting that children are able to maintain positive feelings about themselves and their level of subjective well-being (SWB) despite belonging to a less fortunate economic situation. These results will hopefully encourage Indonesian scholars and researchers to elaborate deeper in future studies. Penelitian ini bertujuan menjelaskan kesejahteraan subjektif (subjective well-being; SWB) anak Indonesia terkait kesejahteraan materi. Indonesia masih dikategorikan sebagai negara berkembang, dan beberapa penelitian terdahulu mengungkapkan korelasi antara status ekonomi dan kesejahteraan subjektif orang dewasa. Namun, studi yang memfokuskan pada kesejahteraan materi anak Indonesia dari perspektif mereka sendiri masih sangat terbatas. Studi ini menggunakan data dari survei Children’s Worlds gelombang ketiga yang dilakukan di Indonesia. Sampel penelitian terdiri dari anak-anak usia 10 tahun dan 12 tahun (N = 14.576; 49,35% laki-laki; 50,65% perempuan). Kesejahteraan subjektif diukur dengan menggunakan dua skala: Children’s Worlds Subjective Well-Being Scale (CW-SWBS) dan Overall Life Satisfaction (OLS) dengan butir pertanyaan tunggal. Kesejahteraan materi diukur berdasarkan dimensi status ekonomi keluarga, kekurangan materi, frekuensi kekhawatiran tentang situasi keuangan keluarga, dan frekuensi ketersediaan makanan untuk dikonsumsi setiap hari. Data kemudian dianalisis dengan menggunakan statistik deskriptif. Teori Cummins tentang kesejahteraan subjektif digunakan untuk menjelaskan temuan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa anak-anak dari keluarga dengan status ekonomi tinggi yang tidak melaporkan kekurangan materi, tidak pernah khawatir tentang keuangan keluarga, dan selalu memiliki cukup makanan untuk dikonsumsi setiap hari menunjukkan skor rata-rata kesejahteraan subjektif yang lebih tinggi pada dua skala kesejahteraan subjektif dibandingkan anak-anak dari keluarga dengan status ekonomi menengah dan rendah. Namun, anak-anak dari status ekonomi menengah dan rendah menunjukkan skor kesejahteraan subjektif yang relatif tinggi, yang mengungkapkan bahwa anak-anak dapat menjaga perasaan positif tentang diri mereka sendiri dan tingkat kesejahteraan subjektifnya meskipun tergolong ke dalam status ekonomi yang kurang mapan. Hasil penelitian diharapkan dapat mendorong para ilmwuan dan peneliti di Indonesia untuk lebih mendalami fenomena ini pada studi-studi selanjutnya.
Juliana Murniati
ANIMA Indonesian Psychological Journal, Volume 36, pp 274-325; https://doi.org/10.24123/aipj.v36i2.3915

Abstract:
Universities (PT) are complex organizations, due to their internal nature and in response to the demands of globalization and technological development. Leaders and leadership are key factors in the success of an organization in fulfilling its goals. Studies on leadership in university organizations (OPT) in Indonesia is still limited, even though leaders perform their functions depending on context. This means that leadership study from different cultures and other organizations (corporations) may not be readily implemented in private university organizations (OPTS) in Indonesia. A qualitative study on 13 leaders of private universities (PTS) aims to identify the leadership characteristics of private university organizations (OPTS); specifically, by portraying leadership functions and leadership styles played by individuals who are active leaders private universities (PTS). The phenomenological qualitative study conducted using grounded analysis presents a conceptual model with three important characteristics: (1) academic leadership; (2) community leadership; and (3) corporate leadership. The interpretation of academic leadership and community leadership relates to the tri dharma (three pillars) of universities (PT), for which the view has not been solidified among the participants at the institutional and individual levels. Meanwhile, from corporate leadership emerges several interpretations related to the adoption of performance-based strategy, succession planning, and qualifications. Facing extremely competitive external challenges, leaders of universities (PT) can consider Systems Theory framework that look at the internal components of organizations holistically, rather than part by part, such that unique leadership characteristics would emerge, such as entrepreneurial leadership with the interpretation of tri dharma that is not merely limited to the dichotomy between research and teaching universities. Perguruan tinggi (PT) merupakan organisasi yang kompleks, baik karena natur internal maupun akibat tuntutan sebagai dampak dari perkembangan teknologi dan globalisasi. Pemimpin dan kepemimpinan merupakan faktor kunci akan keberhasilan organisasi mencapai visinya. Kajian kepemimpinan di organisasi perguruan tinggi (OPT) terutama di Indonesia sangat terbatas, padahal pemimpin berfungsi tergantung pada konteks. Artinya, studi kepemimpinan dari budaya berbeda atau organisasi lain (korporasi) belum tentu dapat diimplementasikan dalam organisasi perguruan tinggi swasta (OPTS) di Indonesia. Studi kualitatif terhadap 13 pemimpin perguruan tinggi swasta (PTS) bertujuan untuk identifikasi karakteristik kepemimpinan di organisasi perguruan tinggi swasta (OPTS); secara spesifik berupa gambaran fungsi pemimpin dan gaya kepemimpinan yang diperankan oleh mereka yang tengah aktif memimpin perguruan tinggi swasta (PTS). Hasil studi kualitatif fenomenologi dengan analisis secara grounded menampilkan model konseptual dengan tiga karakteristik, yakni: (1) kepemimpinan akademik; (2) kepemimpinan komunitas; dan (3) kepemimpinan korporasi. Pemaknaan terhadap kepemimpinan akademik dan kepemimpinan komunitas terkait dengan tri dharma perguruan tinggi (PT), yang pandangannya tidak solid antar partisipan baik pada tataran institusional maupun individual. Sementara pada kepemimpinan korporasi muncul makna terkait adopsi strategi berbasis kinerja, program kaderisasi, dan kualifikasi. Menghadapi tantangan eksternal yang sangat kompetitif, pemimpin perguruan tinggi (PT) dapat mempertimbangkan kerangka systems theory yang melihat komponen internal organisasi secara keseluruhan, bukan bagian demi bagian, sehingga boleh jadi muncul karakteristik kepemimpinan yang unik seperti entrepreneurial dengan pemaknaan terhadap tri dharma yang tidak terbatas pada research atau teaching university semata.
Back to Top Top