Nature: National Academic Journal of Architecture

Journal Information
ISSN / EISSN : 2302-6073 / 2579-4809
Current Publisher: Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar (10.24252)
Total articles ≅ 130
Current Coverage
DOAJ
Filter:

Latest articles in this journal

Kartika Sahar, Wafirul Aqli
Nature: National Academic Journal of Architecture, Volume 7, pp 263-277; doi:10.24252/nature.v7i2a10

Abstract:
Abstrak_ Arsitektur Futuristik merupakan gaya arsitektur yang berasal dari ide pemikiran atau gagasan ide yang mengungkapkan kebebasan dan berorientasi ke masa depan ke dalam bentuk yang tidak biasa, kreatif dan inovatif. Dari penelusuran literatur dan teori, telah dirumuskan beberapa prinsip Arsitektur Futuristik yaitu; (1) bangunan yang memiliki konsep masa depan; (2) bentuk bangunannya yang tidak biasa atau asimetris; dan (3) memanfaatkan kemajuan di era teknologi dalam penggunaan struktur dan konstruksi bangunannya. Penelitian ini mengambil studi kasus antara lain Jockey Club Innovation Tower di Hongkong, The Crystal of Knowledge UI di Depok, dan Universitas Multimedia Nusantara di Tangerang. Metode yang digunakan pada penelitian ini adalah metode menganalisis secara deskriptif-kualitatif tentang pengaplikasian ketiga prinsip arsitektur futuristik di ketiga studi kasus tersebut. Hasil dari penelitian ditemukan bahwa penerapan konsep masa depan dalam arsitektur futuristik akan sangat terlihat jika terdapat kekontrasan dari sekitarnya dalam hal bentuk dan tampilan bangunan. Semakin tidak biasa bentukan yang dipilih dan semakin asimetris juga menentukan seberapa maksimal prinsip futuristik itu diterapkan, dan penggunaan sistem struktur yang menggunakan teknologi terkini juga memperkuat penerapan prinsip tersebut.Kata kunci: Arsitektur Futuristik; Arsitektur Pendidikan; Bangunan Pendidikan; Konsep Futuristik. Abstract_ Futuristic Architecture is an architectural style derived from ideas or ideas that express freedom and future-oriented in an unusual, creative, and innovative form. From the search of literature and theory, several principles of futuristic architecture have been formulated, namely; (1) buildings that have a concept of the future; (2) unusual or asymmetrical shape of the building; and (3) utilizing advancements in the technological era in the use of building structures and construction. This research takes case studies including Jockey Club Innovation Tower in Hong Kong, The Crystal of Knowledge UI in Depok, and Multimedia Nusantara University in Tangerang. The method used in this study is a descriptive-qualitative method of analyzing the application of the three futuristic architectural principles in the three case studies. The results of the study found that the application of future concepts in futuristic architecture will be very visible if there is a contrast from the surroundings in terms of the shape and appearance of the building. The more unusual formations chosen and the more asymmetric also determine how the maximum futuristic principle is applied, and the use of structural systems that use the latest technology also reinforces the application of these principles.Keywords: Futuristic Architecture; Educational Architecture; Educational Buildings; Futuristic Concepts.
Rita Ernawati
Nature: National Academic Journal of Architecture, Volume 7, pp 192-204; doi:10.24252/nature.v7i2a5

Abstract:
Abstrak_ Home Base Enterprises (HBEs) merupakan suatu kegiatan usaha berbasis keluarga yang dilakukan secara fleksibel. Kegiatan produksi di rumah berdampak pada kompleksitas tatanan dan penggunaan ruang. Ruang publik sangat penting dalam mewadahi aktivitas pengguna dengan beragam kebutuhan dan kondisi sosial budaya. Gang kampung memiliki peran dalam mengakomodasi berbagai aktivitas masyarakat baik sebagai ruang publik maupun ruang privat. Fenomena di kampung menunjukkan bercampurnya berbagai aktivitas ternyata tidak menimbulkan konflik penggunaan ruang. Penelitian ini fokus pada strategi menjaga keharmonisan penggunaan gang kampung sebagai ruang ekonomi dan sosial. Penelitian ini dilakukan dengan menerapkan metode penelitian deskriptif kualitatif melalui observasi lapangan, wawancara, mapping dan analisis triangulasi. Penggunaan gang untuk aktivitas HBE Kampung Kue Rungkut Lor merupakan kesepakatan bersama masyarakat. Aturan dirumuskan untuk mengontrol waktu, ruang dan elemen yang boleh digunakan untuk aktivitas HBE. Penelitian ini merumuskan bahwa keharmonisan penggunaan ruang didasarkan pada nilai kebersamaan dan kekeluargaan. Fleksibilitas tatanan fisik kampung merupakan faktor penting menjaga ketahanan dan keberlanjutan kampung untuk mewadahi berbagai aktivitas. Penggunaan ruang publik yang bertanggung jawab untuk berbagai aktivitas masyarakat menjadi faktor kunci menciptakan kehidupan kampung yang harmonis.Kata kunci: Adaptasi Penggunaan Ruang; Gang Kampung; Home Base Enterprise. Abstract_ Home Base Enterprises (HBEs) is a family-based business activity that is carried out in a flexible way. Production activities at home have an impact on the complexity of the order and use of space. Public space is very important in accommodating user activities with a variety of needs and socio-cultural conditions. The kampung’s alley has a role in accommodating various community activities both as a public and private space. The phenomenon in the kampung figures out that the mix used for various activities does not cause conflicts. This research focuses on the strategy in maintaining the harmonious use of kampung’s alley as an economic space and social space. This research was conducted by applying descriptive qualitative research methods through field observations, interviews, mapping, and triangulation analysis. The use of the alley for the activities of HBE Kampung Kue Rungkut Lor was based on a community agreement. Rules are formulated to control the time, space, and elements that can be used for HBE activities. This research formulates that harmony in the use of space is based on the value of togetherness and kinship. The flexibility of the physical structure in the kampung is an important factor in maintaining the resilience and sustainability to accommodate a variety of activities. The responsible use of public space for various community activities is the key factor in creating harmonious life in the kampung.Keywords: Adaptation Use of Spac; Kampung’s Alley; Home Base Enterprise.
Yusfan Adeputera Yusran, Afidz Aditya Utama
Nature: National Academic Journal of Architecture, Volume 7, pp 153-171; doi:10.24252/nature.v7i2a2

Abstract:
Abstrak_ Budaya dalam suatu ruang muncul sebagai respon manusia dalam memaknai tempatnya beraktivitas. Seiring semakin intensnya digunakan, ruang itu dapat memberikan makna yang mendalam bagi penggunanya. Penelitian ini mengangkat sebuah fenomena yang terjadi di Jalan Melati, Desa Malangsuko, Malang yaitu sebuah konstruksi lokal sederhana pengaman selokan yang bernama Buk dapat menciptakan ruang interaksi yang intens digunakan oleh masyarakat setempat. Lama-kelamaan ruang ini cenderung membentuk sebuah budaya interaksi yang mewarnai kehidupan sehari-hari masyarakatnya. Secara eksploratori, penelitian ini diawali dengan mengkaji kondisi riil Buk di lokasi untuk mendapatkan bagaimana peran Buk dalam terciptanya ruang budaya. Melalui perspektif Ekistics, fenomena keberadaan Buk dibaca dengan menggunakan aspek alam (nature), manusia (man), masyarakat (society), naungan (shells), dan jaringan (network). Disamping itu, dilakukan pula kuantifikasi hasil kajian kualitatif tersebut dengan menyebarkan kuesioner kepada masyarakat yang tinggal di sepanjang Jalan Melati Desa Malangsuko. Hasilnya menunjukkan bahwa memang proses sosial di dalamnya merupakan hasil dari bagaimana masyarakat di tempat ini memanfaatkan Buk ini dan sekaligus menjadikannya tempat berinteraksi. Proses sosial yang terjadi di tempat ini menunjukkan bahwa Buk memiliki peran sebagai pendukung terjadinya interaksi yang saling berkesinambungan serta memperlihatkan bagaimana manusia menciptakan sebuah elemen konstruksi sederhana sebagai tanggapan alam yang kemudian dimanfaatkan oleh mereka sehari-hari. Kata kunci : Arsitektur yang Sederhana; Ekistics; Spasialisasi. Abstract_ Culture in a space arises as a human response to interpret their activity’s place. As more and more intensely used, space can give a deep meaning to its users. This research attempts to raise a phenomenon that occurs in Jalan Melati in Malangsuko hamlet, Malang where a simple local construction for the gutter safety called Buk can create an intense interaction space used by the local community. Over time this space tends to form a culture of interaction that colours the daily lives of the locals. Exploratively, this study began by examining the real condition at the site to get the role of the Buk in creating cultural space. From the Ekistics perspective, the existence of Buk is read using the five ekistics’ principles; Nature, Man, Society, Shells, and Network. Also, the obtained qualitative study results were quantified by distributing questionnaires to the locals who live along Jalan Melati. The results show that the social process in it is a result of how the locals use this Buk and, at the same time, make it a place to fulfil their social needs. The social processes that occur at there show that Buk has a role as a supporter of continuous interaction and shows how the locals create a simple construction element in response to nature and then utilized it on their daily basis.Keywords: Ekistics; Inornate Architecture; Spatialization.
Mina Razmara, Hajar Asadpour, Malihe Taghipour
Nature: National Academic Journal of Architecture, Volume 7, pp 183-191; doi:10.24252/nature.v7i2a4

Abstract:
Abstrak_ Lanskap penyembuhan menciptakan ruang yang membantu orang mengurangi stres dan meningkatkan kesehatan mental mereka. Dalam budaya Iran, taman bersejarah serta taman kota (dalam beberapa dekade terakhir) dapat bermanfaat untuk menciptakan lanskap penyembuhan. Mempertimbangkan model Canter Place, parameter lanskap penyembuhan disajikan dalam bentuk tiga dimensi: fungsional, persepsi-semantik, dan fisik-visual. Karena pria dan wanita berperilaku berbeda dalam menghadapi lingkungan mereka, penelitian ini mengevaluasi bagaimana taman Persia dan taman kota berpengaruh (dengan dua pola struktural yang berbeda) di antara pria dan wanita. Metode penelitian adalah kuantitatif, dan data dikumpulkan dengan teknik kuesioner. Kemudian, analisis varian variabel Unianova tunggal dalam perangkat lunak SPSS 23 digunakan untuk mengevaluasi data. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tidak ada perbedaan dalam persepsi dimensi dalam penyembuhan antara pria dan wanita. Pemahaman seorang wanita tentang dimensi penyembuhan persepsi-semantik dan fungsional di Azadi Park berbeda dan kurang dari pria. Di Taman Eram, tidak seperti Taman Azadi, tidak banyak perbedaan antara kegiatan pria atau wanita. Secara umum, umpan balik wanita lebih rendah daripada pria, pada parameter penyembuhan lingkungan Azadi Park (struktur lanskap organik). Oleh karena itu, perlu untuk lebih memperhatikan inklusivitas gender dari lanskap penyembuhan perkotaan dalam desain.Kata kunci : Lanskap Penyembuhan; Taman Persia; Taman Kota; Taman Shiraz Eram; Jenis Kelamin. Abstract_ Healing Landscapes are spaces that help people to reduce their stress and improve their mental health. In Iranian culture, historic gardens and urban parks (in recent decades) can be useful to create healing landscapes. Considering the Canter Place model, the parameters of landscape healing presented in the form of three dimensions: functional, perceptual-semantic, and physical-visual. Since men and women behave differently in dealing with their surroundings, this research evaluates how Persian gardens and urban parks effect (with two different structural patterns) among men and women. The research method was quantitative, and data gathered by the questionnaire technique. Then, Unianova single-variable analysis of variance test in SPSS 23 software was used to evaluate the data. The results indicated no difference in the perception of the physical-visual dimension of healing between men and women. A woman's understanding of the perceptional-semantic and functional dimension of healing in Azadi Park was different and less than men. In Eram Garden, unlike Azadi Park, there was not much difference between of men or women’s activities. In general, women's feedback is lower than men, on the environment healing parameters of Azadi Park (organic landscape structure). Therefore, it is necessary to pay more attention to the gender inclusiveness of urban healing landscapes in design.Keywords: Healing Landscape; Persian Garden; Urban Park; Shiraz Eram Garden; Gender.
Sidhi Pramudito, Bezaliel Tera Kurnial
Nature: National Academic Journal of Architecture, Volume 7, pp 205-219; doi:10.24252/nature.v7i2a6

Abstract:
Abstrak_ Kampung Gampingan merupakan salah satu pemukiman padat di kota Yogyakarta. Namun dalam kondisi tersebut, masih dapat ditemukan keberadaan ruang terbuka publik berupa plaza. Ruang terbuka publik itu adalah lapangan multifungsi yang dimanfaatkan warga untuk beraktivitas baik individu maupun kelompok. Hal ini yang menjadi perhatian bagi penulis untuk dapat mengidentifikasi pola aktivitas warga dalam memanfaatkan ruang tersebut sebagai satu-satunya ruang terbuka publik dengan tipologi plaza di kampung ini. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif-kualitatif dengan pendekatan teori behavioral setting. Pengumpulan data dilakukan dengan cara survei lokasi, wawancara, dan mendokumentasikan kegiatan masyarakat kampung pada saat pagi hari, siang hari, sore hari, dan malam hari pada di hari kerja (Senin s.d Jumat) serta hari libur (Sabtu s.d Minggu) dengan pembagian area menjadi 5 macam ruang aktivitas. Temuan data dianalisis dengan metode place centered mapping. Hasil dari penelitian ini ditemukan bahwa pola aktivitas warga pada ruang terbuka publik ini adalah terklaster berdasarkan tujuan yang ditentukan oleh ragam atribut ruang, material, ukuran ruang, dan hubungan ruang dengan sekitarnya. Pada ruang ini teridentifikasi kecenderungan pola aktivitas warga yang terkonsentrasi pada area tertentu yang dipengaruhi oleh ragam atribut ruang.Sisi selatan, timur, barat, dan area tengah menjadi area yang cukup dominan dimanfaatkan warga untuk berbagai aktivitas interaksi warga. Berbeda dengan sisi utara yang minim aktivitas interaksi. Hal yang menjadi faktor penentu adanya aktivitas interaksi adalah keragaman atribut ruang serta dimensi ruang. Sebagai rekomendasi, penambahan jumlah dan kualitas atribut ruang dapat menjadi salah satu usulan yang harapannya dapat meratakan aktivitas di ruang terbuka publik dengan tipologi plaza ini.Kata kunci: Pola Aktivitas; Ruang Terbuka Publik; Kampung Gampingan; Yogyakarta. Abstract_ Kampung Gampingan is one of the densest settlements in the city of Yogyakarta. However, the existence of public open spaces such as plazas can still be found. The public open space is a multifunctional field that is used by residents to do activities for both individuals and groups. This is of concern to the writer to be able to identify the pattern of community activities in utilizing the space as the only public open space with plaza typology in this village. This study uses a descriptive-qualitative method with a behavioral setting theory approach. Data collection is done by location survey, interview, and documenting community activities in the morning, afternoon, evening, and evening on weekdays (Monday-Friday) and holidays (Saturday-Sunday) with the division of the area into 5 types of activity space. Data findings were analyzed by the place centered mapping method. The results of this study found that the pattern of citizen activity in this public open space is clustered based on objectives determined by the variety of attributes of space, material, size of space, and the relationship of space with its surroundings. In this space, a trend of residents' activity patterns that are concentrated in certain areas is identified which is influenced by various spatial attributes. The south, east, west, and central areas are areas that are quite dominant for residents to use for various citizen interaction activities. In contrast to the north side which has minimal interaction activity. The thing that determines the existence of interaction activities is the diversity of spatial attributes and spatial dimensions. As a recommendation, increasing the number and quality of space attributes can be one of the proposals which hopefully can even out activities in public open spaces with this plaza typology.Keyword: Pattern of Activities, Public Open Space; Kampung Gampingan; Yogyakarta.
Alexius Boer
Nature: National Academic Journal of Architecture, Volume 7, pp 256-262; doi:10.24252/nature.v7i2a9

Abstract:
Abstrak. Desa nelayan merupakan desa yang mata pencaharian penduduknya adalah perikanan laut. Meningkatnya jumlah penduduk desa nelayan menyebabkan peningkatan kebutuhan hidup yaitu kebutuhan sandang, pangan, papan, pendidikan, dan kesehatan serta mengakibatkan kondisi kualitas lingkungan yang buruk. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi dan mengkaji kondisi pola spasial permukiman nelayan dan arahan penataan permukiman nelayan di Permukiman Wuring. Penelitian dilakukan dengan penelitian kualitatif. Tahap ini akan melakukan evaluasi dan penilaian kondisi spasial permukiman. Analisis data yang digunakan didasarkan pada skor dengan kriteria dan indikator yang telah ditentukan (Dirjen Cipta Karya, Kementerian Pekerjaan Umum, 2014 tentang Pedoman Pelaksanaan kegiatan identifikasi Kawasan Permukiman. Kumuh). Evaluasi kondisi permukiman nelayan di Perkampungan Wuring dapat dilihat dari nilai total keseluruhan komponen penilaian untuk Sembilan komponen penilaian. Hasil yang diperoleh adalah 2,88, artinya secara keseluruhan kualitas permukiman nelayan masih tergolong buruk karena di bawah angka 3. Arah pengembangan Perkampungan Wuring harus berdasarkan tata guna lahan. Pembagian zonasi kawasan permukiman nelayan Desa Wuring terdiri atas: Zona I, Perdagangan dan Jasa, Zona II, Pemanfaatan dan Zona III, Perlindungan. Kami menyimpulkan bahwa Desa Wuring dinilai buruk oleh karena itu mereka harus menata kembali kawasan tersebut menjadi zona tiga titik, Zona II dan Zona III.Kata Kunci: Evaluasi; Penilaian; Pola Ruang; Perkampungan Wuring; Zona The increase in the fisherman village population causes an increase in the necessities of life, namely the need for clothing, food, shelter, education, and health, and leads to poor environmental quality conditions. This study aims to evaluate and assess the condition of the spatial pattern of fishermen settlements and the direction of arrangement of the fishermen settlement in Wuring Village. The research was conducted by qualitative research. This stage will carry out an evaluation and assessment of the spatial conditions of the settlement. The data analysis used is based on a score with predetermined criteria and indicators (DirjenCiptaKarya, Ministry of Public Work, 2014, concerning Guidelines for Implementation of Settlement Area identification activities. Grungy). Evaluation of the condition of the fishermen settlement in Wuring village can be seen from the total value of the overall assessment components for the 9 assessment components. The result obtained is 2.88, meaning that the overall quality of the fishermen settlement is still considered poor because it is below number 3. The zoning division in the fishing settlement area of Wuring village consists of Zone I, Trade and services, Zone-II, Utilization, and Zone III, Protection. We conclude that Wuring Village assed as a bad point therefore they should rearrange the area to be three-point Zone I, Zone II, and Zone III.Keywords: Evaluation; Assessment; Spatial Pattern; Wuring Village; Zone
Dimas Wihardyanto, Ikaputra Ikaputra
Nature: National Academic Journal of Architecture, Volume 7, pp 220-240; doi:10.24252/nature.v7i2a7

Abstract:
Abstrak_ Bangirejo Taman merupakan salah satu kawasan perumahan untuk para pegawai pemerintahan kolonial Belanda (amtenar) yang berada di Yogyakarta. Penggunaan kata taman dibelakang Bangirejo pada kawasan perumahan ini untuk memperjelas perbedaan karakteristik kawasan perumahan ini dengan permukiman di sekitarnya dimana kawasan perumahan Bangirejo Taman didesain dengan adanya taman lingkungan di tengah kawasan. Peneliti menggunakan pendekatan interpretive historical research untuk mendapatkan karakteristik arsitektur tata ruang yang asli mencakup tata massa, tata ruang, orientasi, sirkulasi, serta hubungan dan hirarki ruang. Karakteristik tersebut didapatkan dengan cara melakukan proses gambar rekonstruksi tata ruang pada perumahan kolonial Bangirejo Taman berdasarkan analisis kesamaan dan perbedaan gambar denah 7 buah rumah tinggal yang dipilih dengan pendekatan snowball sampling. Dari hasil analisis diketahui bahwasanya karakteristik tata ruang bangunan rumah tinggal kolonial di Kawasan Bangirejo Taman dirancang terutama untuk memenuhi aspek fungsionalitas. Hal ini tampak dari adanya pemisahan antara bangunan inti (hoofdgebouw), dan bangunan servis (bijgebouw) yang keduanya dihubungkan oleh selasar. Karakteristik tersebut diperkuat dengan pola konfigurasi dan sirkulasi ruang pada bangunan inti dan servis yang tunggal dan sederhana. Selain memenuhi fungsionalitas ruang, perancangan rumah tinggal kolonial di Kawasan Bangirejo Taman juga memperhatikan higienitas ruang dengan meletakkan bangunan inti dan bangunan servis di bagian tengah dari lahan agar mendapatkan sinar matahari yang cukup, dan prinsip cross ventilation dapat diterapkan.Kata kunci : Arsitektur Kolonial; Karakteristik Ruang; Rumah Tinggal Kolonial; Interpretive Historical Research. Abstract_ BangirejoTaman is a residential area for the employees of the Dutch colonial government (Amtenaar) located in Yogyakarta. The use of the word taman (park) behind Bangirejo in this residential area is to clarify the differences in the characteristics of this residential area with the surrounding settlements where the BangirejoTaman residential area is designed with a neighborhood park in the middle of the area. Researchers used an interpretive historical research approach to obtain the characteristics of the original spatial architecture including spatial planning, spatial planning, orientation, circulation, and relationships, and hierarchical space. These characteristics were obtained by carrying out a process of drawing spatial reconstruction in the colonial housing estate BangirejoTaman based on an analysis of the similarities and differences in the drawings of 7 residential planes that were selected using a snowball sampling approach. From the results of the analysis, it is known that the characteristics of the spatial structure of colonial residential buildings in the BangirejoTaman Area are designed primarily to meet the functional aspects. This can be seen from the separation between the core building (hoofdgebouw), and the service building (bijgebouw) which are both connected by a hallway. These characteristics are reinforced by the pattern of configuration and circulation of space in the core building and a single and simple service. In addition to fulfilling spatial functionality, the design of colonial dwellings in the BangirejoTaman Area also pays attention to space hygiene by placing core buildings and service buildings in the middle of the land in order to get enough sunlight, and the principle of cross ventilation can be applied.Keywords: Colonial Architecture; Spatial Characteristics; Colonial House; Interpretive Historical Research.
Isabella Nindya Laksita, Syam Rachma Marcillia
Nature: National Academic Journal of Architecture, Volume 7, pp 143-152; doi:10.24252/nature.v7i2a1

Abstract:
Abstrak_ Riset ini menyelidiki desa Sanggrahan sebagai pemukiman padat dan perkembangan organik yang sudah tumbuh dari waktu ke waktu menjadi pusat industri rumah tangga bakpia, sebagai tujuan wisata kuliner yang penting di Yogyakarta. Tujuan dari riset ini yaitu untuk menyelidiki pengaruh unsur-unsur fisik aksesibilitas sebagai strategi pencarian arah turis di wilayah defisit data untuk keberlanjutan kawasan pariwisata. Metode riset ini merupakan pemetaan kognitif dan kuesioner terbuka. Hasilnya menunjukkan bahwa di wilayah defisit data, turis cenderung melewati jalan dengan konektivitas yang lebih baik dari semula. Minimnya data di desa, memungkinkan turis menggunakan elemen fisik kota untuk mencari informasi aksesibilitas seperti jalan, simpul, tepi, dan landmark sebagai panduan untuk mencari jalan mencapai toko bakpia, meskipun kondisi fisik elemen dari aksesibilitas ini tidak memadai. Sebaliknya, konsep distrik digunakan oleh turis untuk mengetahui posisi mereka di distrik penjualan Bakpia Pathuk.Kata kunci: Elemen Fisik; Mencari Jalan; Desa Sanggrahan.Abstract_This study investigates Sanggrahan village as a dense and organic growth settlement that has developed over time into a center of bakpia-making home-industry, a crucial culinary tourism destination in Yogyakarta. The purpose of this research is to investigate the influence of physical elements of Accessibility to the tourists-wayfinding strategy in an information deficit area for the sustainability of the tourism area. The method of the study is cognitive mapping and open-ended questionnaires. The results show that in the information deficit area, tourists tend to go through paths with more excellent connectivity from their origins. In the village, the lack of information allows tourists to utilize the physical elements of the city for accessibility information such as paths, nodes, edges, and landmarks as guidance for wayfinding to reach the bakpia shops, even though these physical elements of accessibility conditions are inadequate. In contrast, the concept of the district is used by tourists to know their position in the Bakpia Pathuk sales district.Keywords: Physical Elements; Wayfinding; Sanggrahan Village
Ali Asadpour
Nature: National Academic Journal of Architecture, Volume 7, pp 241-255; doi:10.24252/nature.v7i2a8

Abstract:
Abstrak_ Makalah ini membahas arsitektur vernakular dalam hal konsep dan pendekatan dalam studi. Keragaman definisi, sikap, dan preferensi telah menghasilkan berbagai pendekatan dalam beberapa dekade terakhir. Mengenali perbedaan ini dapat membantu untuk mendapatkan pemahaman yang lebih dalam tentang kondisi saat ini dan cakrawala masa depan dalam penelitian. Tujuan dari penelitian ini termasuk mengidentifikasi dan mengkategorikan pendekatan dominan terhadap arsitektur vernakular. Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif dan deskriptif. Hasil penelitian mengidentifikasi lima kecenderungan yang dianggap arsitektur vernakular sebagai objek estetika, fenomena biologis (jenis dan evolusi), substansi material-fisik (penjelasan fisik), realitas budaya-sosiologis, dan akhirnya sebagai fenomena antropologis. Pendekatan-pendekatan ini merepresentasikan perpindahan dari dokumentasi ke interpretasi, objektivitas ke subjektivitas, dan primitif ke biasa dalam studi. Fenomenologi, hermeneutika, semiotik, studi gender, dan feminisme menetapkan cakrawala baru bagi penelitian arsitektur vernakular. Evolusi sikap dapat dijelaskan di bawah perubahan paradigma penelitian dari positivisme ke post-positivisme dan fenomenologi.Kata kunci: Arsitektur Vernakular; Desain Iklim; Budaya; Sosiologi; Tipologi. Abstract_ This paper addresses vernacular architecture in terms of concepts and approaches in studies. The diversity of definitions, attitudes, and preferences has led to a variety of approaches in recent decades. Recognizing these differences can help to obtain a deeper understanding of today's conditions and future horizons in research. The objectives of this study included identifying and categorizing the dominant approaches toward vernacular architecture. The research used a qualitative and descriptive method. The results identified five tendencies considered vernacular architecture as an object of aesthetics, a biological phenomenon (types and evolution), a material-physical substance (physical explanations), a cultural-sociological reality, and finally as an anthropological phenomenon. These approaches represented the movement from documentation to interpretation, objectivity to subjectivity, and primitive to ordinary in the studies. Phenomenology, hermeneutics, semiotics, gender studies, and feminism set new horizons for vernacular architectural research. The evolution of attitudes can be explained under the change in research paradigms from positivism to post-positivism and phenomenology.Keywords: Vernacular Architecture; Climatic Design; Culture Sociology; Typology.
Aditya Fhazar Nugraha, Yeptadian Sari
Nature: National Academic Journal of Architecture, Volume 7, pp 172-182; doi:10.24252/nature.v7i2a3

Abstract:
Abstrak_ Bangunan perpustakan memiliki banyak manfaat dimana terdapat banyak ilmu pengetahuan yang bisa dimanfaatkan dengan baik, namun ketertarikan untuk menggunakan perpustakaan tersebut perlu yang Namanya kualitas pelayanan dan juga tersedianya buku yang lengkap sehingga dapat menarik lebih banyak pengguna untuk dapat mengunjungi perpustakaan. Peranan prinsip rancangan bangunan arsitektur hijau lebih efisien digunakan pada bangunan perpustakaan karena prinsip ini sangat membantu bangunan dalam menciptakan ruang yang nyaman sehingga pengunjung yang datang merasa nyaman berada didalam bangunan.Kata kunci : Perpustakaan; Bangunan; Arsitektur Hijau. Abstract_ Library building has many benefits where there is a lot of knowledge that can be put to good use. Still, the interest to use the library needs to be called Quality of service and also the availability of complete books so that it can attract more users to be able to visit the library. The role of green architecture building design principles is more efficiently used in library buildings because this principle is very helpful in building structures to create a comfortable space so that visitors who feel comfortable in the building.Keywords: Library; Building; Green Architecture.
Back to Top Top