Al Ibtida: Jurnal Pendidikan Guru MI

Journal Information
ISSN / EISSN : 2442-5133 / 2527-7227
Published by: IAIN Syekh Nurjati Cirebon (10.24235)
Total articles ≅ 148
Current Coverage
DOAJ
Archived in
SHERPA/ROMEO
Filter:

Latest articles in this journal

Ade Yulianto, Aan Yuliyanto, Ghullam Hamdu, Lutfi Nur, Desi Fitriani, Noorhisham Hamzah
Al Ibtida: Jurnal Pendidikan Guru MI, Volume 8, pp 130-143; https://doi.org/10.24235/al.ibtida.snj.v8i1.7865

Abstract:
Information on students' ability in higher-order thinking obtained during the learning process can certainly provide an overview for teachers to evaluate appropriate and effective learning. In this context, how can a teacher properly carry out diagnostic and remedial teaching based on the information on student abilities obtained? Therefore, this study aims to provide a disclosure analysis technique for the acquisition of students' abilities in higher-order thinking. This research is one of the stages of Design-Based Research (DBR), which is a reflection to produce design principles and perfect their implementation. Determination of the research sample is done by using the purposive sampling technique. Data collection of students' ability in higher-order thinking was done through HOTS-based test questions developed based on the cognitive hierarchy adopted from Bloom's taxonomy. The results of the acquisition of students' abilities in higher-order thinking were then analyzed through Rasch modeling with the help of the Winsteps 3.75 application. Based on the results of Rasch modeling, it was obtained that the students' abilities were grouped into high, medium, and low categories and had a level of suitability of abilities that did not need to be reviewed, and there were no biased student abilities. The results of data processing and analysis of students' ability in higher-order thinking have implications for teacher actions in carrying out appropriate and effective learning evaluations as well as mapping students' abilities in higher-order thinking with unbiased conformity.Keywords: student ability, HOTS-based test questions, rasch modeling. AbstrakInformasi kemampuan siswa dalam berpikir tingkat tinggi yang diperoleh selama proses pembelajaran tentunya dapat memberikan gambaran bagi guru untuk melakukan evaluasi pembelajaran yang tepat dan efektif. Dalam konteks tersebut, bagaimana seorang guru dapat secara tepat melakukan diagnostic and remedial teaching berdasarkan informasi kemampuan siswa yang diperoleh?. Maka dari itu, penelitian ini bertujuan untuk memberikan teknik analisis pengungkapan pemerolehan kemampuan siswa dalam berpikir tingkat tinggi. Penelitian ini merupakan salah satu tahapan dari Desain Based Reaserch (DBR), yakni refleksi untuk menghasilkan prinsip-prinsip desain dan menyempurnakan implementasinya. Penentuan sampel penelitian dilakukan dengan menggunakan teknik purposive sampling. Pengumpulan data kemampuan siswa dalam berpikir tingkat tinggi dilakukan melalui pengerjaan soal tes berbasis HOTS yang dikembangkan berdasarkan hirarki kognitif yang diadopsi dari taksonomi Bloom. Hasil pemerolehan kemampuan siswa dalam berpikir tingkat tinggi kemudian dianalisis melalui pemodelan rasch dengan berbantuan aplikasi winsteps 3.75. Berdasarkan hasil pemodelan Rasch diperolehlah pengelompokkan kemampuan siswa dengan kategori tinggi, sedang, dan rendah serta memiliki tingkat kesesuaian kemampuan yang tidak perlu ditinjau ulang dan tidak terdapat kemampuan siswa yang bias. Hasil pengolahan dan analisis data kemampuan siswa dalam berpikir tingkat tinggi berimplikasi pada tindakan guru dalam melaksanakan evaluasi pembelajaran yang tepat dan efektif serta pemetaan kemampuan siswa dalam berpikir tingkat tinggi dengan kesesuaian yang tidak bias.Kata kunci: kemampuan siswa, soal tes berbasais HOTS, pemodelan rasch.
Ririen Wardiani, Indrya Mulyaningsih, Siriporn Maneechukate
Al Ibtida: Jurnal Pendidikan Guru MI, Volume 8, pp 65-79; https://doi.org/10.24235/al.ibtida.snj.v8i1.7795

Abstract:
Writing is a skill that involves creativity. It can be triggered by using a stimulating activity of both hemispheres of the brain. This study aims to describe the improvement of narrative writing skills by using a learning model based on the balancing of the functions of the right and left hemispheres of the brain. The research method used is classroom action research through three implementation cycles from January – December 2019 in three elementary schools in Ponorogo, Indonesia. The sample of this study was 72 students of grade 4. The data collected through using tests, observations, and interviews were then analyzed both qualitatively and quantitatively. The results showed that to produce good writing, students need to be guided and given a lighter. After balancing the functions of the cerebral hemispheres, 86% or 62 students met the minimum completeness score. The students' ability in writing narratives has increased significantly, especially in the aspects of content, content organization, vocabulary, grammar, and spelling.Keywords: narrative writing; the balancing of the functions of the cerebral hemispheres; the brain learning model.AbstrakMenulis merupakan keterampilan yang melibatkan kreativitas. Ini dapat dipicu dengan menggunakan aktivitas stimulasi kedua belahan otak. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan peningkatan keterampilan menulis narasi dengan menggunakan model pembelajaran berbasis keseimbangan fungsi belahan otak kanan dan kiri. Metode penelitian yang digunakan adalah penelitian tindakan kelas melalui tiga siklus pelaksanaan dari Januari – Desember 2019 di tiga sekolah dasar di Ponorogo, Indonesia. Sampel penelitian ini adalah 72 siswa kelas 4. Data yang dikumpulkan melalui tes, observasi, dan wawancara kemudian dianalisis secara kualitatif dan kuantitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa untuk menghasilkan tulisan yang baik, siswa perlu dibimbing dan diberi pemantik. Setelah dilakukan penyeimbangan fungsi belahan otak, 86% atau 62 siswa memenuhi nilai ketuntasan minimal. Kemampuan siswa dalam menulis narasi meningkat secara signifikan, terutama dalam aspek isi, organisasi isi, kosa kata, tata bahasa, dan ejaanKata kunci: menulis narasi; menyeimbangkan fungsi belahan otak; model pembelajaran otak.
Muhammad Shabir Umar, Muljono Damopolii, Fitriani Nur, Suharti Suharti
Al Ibtida: Jurnal Pendidikan Guru MI, Volume 8, pp 80-92; https://doi.org/10.24235/al.ibtida.snj.v8i1.7211

Abstract:
This study aims to determine the description of mastering pedagogical competence, map the teaching readiness, and analyze the significant effect of mastering pedagogical competence on teaching readiness of the prospective elementary school teachers at State Islamic University (UIN) Alauddin Makassar, Indonesia. This research was ex-post-facto quantitative research. The research variables were pedagogical competence and the readiness to be a teacher. The population and sample were all of the final semester students, consisting of 80 students of Madrasah Ibtidaiyah Teacher Education Department at UIN Alauddin Makassar who had taken the Field Experience Practice program using simple random sampling. The instrument used was a Likert scale-based questionnaire. A basic linear regression was employed to analyze the data. The following are the results of this study: (1) the mean score of prospective elementary school teachers' pedagogical competence was 70.62, indicating that the pedagogical competency score was in the high category; (2) the mean score of prospective elementary school teachers' teaching readiness mapping was 72.25, indicating that the mapping score of teaching readiness was in the high category; (3) the mean score of prospective elementary school teachers' pedagogical competence was 70.62, indicating that the pedagogical competency score was in the high category. As a result, prospective elementary school teachers' teaching preparation was influenced by their knowledge of pedagogical competence. Accordingly, prospective elementary school teachers' teaching preparation is needed to be trained by developing pedagogical competency by constructing a learning program in the Madrasah Ibtidaiyah Teacher Education Department.Keywords: pedagogical competence, teaching readiness, prospective elementary school teachers.AbstrakPenelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan penguasaan kompetensi pedagogik, memetakan realitas kesiapan mengajar, dan mengetahui signifikansi pengaruh penguasaan kompetensi pedagogik terhadap kesiapan mengajar calon guru sekolah dasar di Universitas Islam Negeri (UIN) Alauddin Makassar, Indonesia. Penelitian ini adalah penelitian kuantitatif jenis ex-post facto. Variabel penelitian yaitu kompetensi pedagogik dan kesiapan menjadi guru. Populasi dan sampel yaitu seluruh mahasiswa semester akhir program studi Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah (PGMI) UIN Alauddin Makassar yang telah mengambil program praktik pengenalan lapangan (PPL), dengan sampel random sampling sejumlah 80 orang. Instrumen yang digunakan yaitu angket berbasis skala Likert. Teknik analisis data yang digunakan adalah regresi linear sederhana. Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan, diperoleh bahwa: (1) rata-rata skor kompetensi pedagogik calon guru sekolah dasar adalah 70.62 yang berarti secara umum skor kompetensi pedagogik berada pada kategori tinggi, (2) rata-rata pemetaan kesiapan mengajar calon guru sekolah dasar adalah 72.25 yang berarti skor pemetaan kesiapan mengajar berada pada kategori tinggi, dan (3) terdapat pengaruh yang signifikan kompetensi pedagogik terhadap kesiapan mengajar calon guru sekolah dasar. Sehingga dapat disimpulkan bahwa penguasaan kompetensi pedagogik mempengaruhi kesiapan mengajar calon guru sekolah dasar. Oleh karena itu, kesiapan mengajar calon guru sekolah dasar perlu dipersiapkan secara matang melalui penguatan kompentesi pedagogik baik melalui penyiapan kurikulum pembelajaran pada jurusan Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah.Kata kunci: kompetensi pedagogik, kesiapan mengajar, calon guru sekolah dasar.
Rina Rindanah, A. Juntika Nurihsan, UmaN Suherman, Amin Budiamin
Al Ibtida: Jurnal Pendidikan Guru MI, Volume 8, pp 104-115; https://doi.org/10.24235/al.ibtida.snj.v8i1.8313

Abstract:
The goal of this study is to describe the career adaptability profile of the Madrasah Ibtidaiyah Teacher Education students, as well as their developmental issues and alternatives. This is a quantitative study with a population of all the Madrasah Ibtidaiyah Teacher Education students at one of Cirebon City's universities, and a sample size of 70 individuals. Questionnaires and interview guides were utilized as research tools. The research data was then examined utilizing descriptive-analytic approaches, both quantitative and qualitative. The results revealed that the students of the Madrasah Ibtidaiyah Teacher Education had a modest career adaptability score, with a percentage of 47.14 percent. In terms of gender, female students' average career adaptability score was greater than male students' average career adaptability score. Elements of career concern, career curiosity, career self-control, and elements of career contribution are all positive aspects of career adaptability. However, there is still room for improvement in terms of career self-confidence, career collaboration, and professional continuity. Conducting mentorship programs for students in preparing career plans, determining and selecting careers, enhancing the role of academic supervisors, and establishing a student career development center are all options for improving student careers.Keywords: career adaptability, alternative career development, students. AbstrakPenelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan secara komprehensif profil adaptabilitas karir mahasiswa Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah beserta masalah dan alternatif pengembangannya. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan populasi seluruh mahasiswa Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah di salah satu perguruan tinggi di Kota Cirebon dan sampelnya berjumlah 70 mahasiswa. Instrumen penelitian yang digunakan berupa angket dan pedoman wawancara. Data hasil penelitian kemudian dianalisis menggunakan teknik analisis deskriptif kuantitatif dan kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa skor rata-rata adaptabilitas karir mahasiswa Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah tergolong sedang, dengan persentase sebesar 47.14%. Ditinjau dari jenis kelamin, skor rata-rata adaptabilitas karir mahasiswa perempuan lebih tinggi dibandingkan skor rata-rata adaptabilitas karir mahasiswa laki-laki. Dari tujuh aspek adaptabilitas karir, aspek kepedulian karir, keingintahuan terhadap karir, pengendalian diri terhadap karir dan aspek kontribusi dalam karir sudah baik. Namun demikian, pada aspek keyakinan diri terhadap karir, kerjasama dalam membangun karir dan keberlanjutan karir masih harus ditingkatkan. Alternatif yang dapat dilakukan dalam mengembangkan karir mahasiswa adalah dengan melakukan program pendampingan kepada mahasiswa dalam menyusun rencana karir, penetapan dan pemilihan karir, peningkatan peran dosen pembimbing akademik, serta pendirian pusat pengembangan karir mahasiswa.Kata kunci: adaptabilitas karir, alternatif pengembangan karir, mahasiswa.
Ulin Nuskhi Muti'Ah, Heri Retnawati, Anwar Senen, Gulzhaina K. Kassymova
Al Ibtida: Jurnal Pendidikan Guru MI, Volume 8, pp 1-15; https://doi.org/10.24235/al.ibtida.snj.v8i1.7519

Abstract:
Collaborative skills are becoming mandatory in the 21st century. There have been many studies that show the effectiveness of the collaborative learning (CL) approach on students' collaboration and interaction abilities. In Indonesia, through the implementation of 2013 curriculum, group learning is encouraged. This study aims to describe the implementation of collaborative learning by describing the teachers' understanding of collaborative skills and collaborative learning models, the strategies teachers use to teach collaborative skills, and the constraints that prevent teachers from using collaborative learning models. This qualitative research involved 13 elementary school teachers in the Special Region of Yogyakarta Province. Data collection was carried out through in-depth interviews. Data were analyzed using the Bogdan and Biklen models. The results show that 1) the teachers' understanding of collaborative skills still needs to be improved, especially in the collaboration aspect, 2) the teachers' knowledge about collaborative learning models is still lacking, 3) the obstacles that cause teachers not to use CL are teachers' lack of knowledge, teachers’ lack of motivation to improve their knowledge, teachers’ hesitance to try new learning models, and teachers' concerns that it will be difficult for students to use CL. Therefore, the teachers need to increase their understanding and open themselves to new learning models. This can be a concern for principals and teacher education managers to provide intensive education and training related to collaborative learning approach.Keyword: collaborative learning, teachers’ understanding, elementary schools. AbstractKeterampilan kolaboratif menjadi keterampilan wajib di abad ke-21. Telah banyak penelitian yang menunjukkan efektivitas pendekatan pembelajaran kolaboratif terhadap kemampuan kolaborasi dan interaksi siswa. Di Indonesia, melalui penerapan kurikulum 2013, pembelajaran kelompok digalakkan. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan pelaksanaan pembelajaran kolaboratif dengan mendeskripsikan pemahaman guru tentang keterampilan kolaboratif dan model pembelajaran kolaboratif, strategi yang digunakan guru untuk mengajarkan keterampilan kolaboratif, dan kendala yang menghalangi guru menggunakan model pembelajaran kolaboratif. Penelitian kualitatif ini melibatkan 13 guru SD di Daerah Istimewa Yogyakarta. Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara mendalam. Data dianalisis menggunakan model Bogdan dan Biklen. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 1) pemahaman guru tentang keterampilan kolaboratif masih perlu ditingkatkan terutama pada aspek kolaborasi, 2) pengetahuan guru tentang model pembelajaran kolaboratif masih kurang, 3) kendala yang menyebabkan guru tidak menggunakan pembelajaran kolaboratif adalah kurangnya pengetahuan guru, kurangnya motivasi guru untuk meningkatkan pengetahuannya, keengganan guru untuk mencoba model pembelajaran baru, dan kekhawatiran guru akan kesulitan siswa dalam menggunakan pembelajaran kolaboratif. Oleh karena itu, guru perlu meningkatkan pemahaman dan membuka diri terhadap model pembelajaran baru. Hal ini dapat menjadi perhatian bagi kepala sekolah dan pengelola pendidikan guru untuk memberikan pendidikan dan pelatihan secara intensif terkait dengan pendekatan pembelajaran kolaboratif.Kata kunci: pembelajaran kolaborasi, pemahaman guru, sekolah dasar.
E. Kus Eddy Sartono, Sukowati Sukowati, Siti Soleha
Al Ibtida: Jurnal Pendidikan Guru MI, Volume 8, pp 50-64; https://doi.org/10.24235/al.ibtida.snj.v8i1.7092

Abstract:
The goal of this research is to see how successful the Kahoot game! based on local wisdom is at boosting students' creative thinking capabilities and national spirit. This is a quasi-experimental study that uses technical data analysis, such as the t-test and MANOVA test, with SPSS as a supporting tool. Tests and questionnaires that had been validated by instrument specialists, class teachers, and peers were used to collect data. The participants in this study were fifth-grade students from an Islamic elementary school, with a total of 81 pupils. The results showed a significant level of 0.000 < 0.05, indicating that fifth-grade students in a Islamic elementary school who are taught using the Kahoot game!! have a considerable comprehension of the ability to think about national characters compared to children who are not taught using the Kahoot game. The Kahoot! game based on local wisdom has a substantial impact on enhancing children's creative thinking skills and nationalism in Islamic elementary school, according to the findings.Keywords: kahoot! game based on local wisdom, creative thinking skill, the spirit of nationality. AbstrakPenelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat efektifitas game kahoot! berbasis kearifan lokal dalam meningkatkan kemampuan berpikir kreatif dan karakter semangat kebangsaan siswa. Penelitian ini merupakan penelitian quasi experiment dengan menggunakan teknis analisis data menggunakan uji t dan uji MANOVA dengan berbantuan SPSS. Pengumpulan data dilakukan melalui pretest-posttest dengan menggunakan tes dan angket yang telah divalidasi oleh ahli instrumen, guru kelas, dan teman sejawat. Subjek penelitian ini yaitu siswa kelas V madrasah ibtidaiyah yang berjumlah 81 siswa. Hasil penelitian yang diperoleh menunjukkan taraf signifikansi 0,000 < 0,05 artinya ada perbedaan signifikan kemampuan berpikir kreatif dan karakter semangat kebangsaan siswa kelas V madrasah ibtidaiyah yang diajar menggunakan game kahoot! dan siswa yang tidak diajar dengan menggunakan game kahoot!. Sehingga dapat disimpulkan bahwa game kahoot! berbasis kearifan lokal berpengaruh signifikan dalam meningkatkan kemampuan berpikir kreatif dan semangat kebangsaan siswa di madrasah ibtidaiyah/sekolah dasar.Kata kunci: game kahoot! berbasis kearifan lokal, keterampilan berpikir kreatif, semangat kebangsaan.
Udeme Samuel Jacob, Jace Pilley, Ifedolapo Oyewumi
Al Ibtida: Jurnal Pendidikan Guru MI, Volume 8, pp 16-31; https://doi.org/10.24235/al.ibtida.snj.v8i1.8036

Abstract:
Aggressive behaviour is a major characteristics among adolescents with mild intellectual disability due to their inability to effectively use verbal communication to express their needs. This study, therefore, investigated the role of parental conflicts, peer influence, and socio-environmental deprivation in predicting aggressive behaviour among the study participants. The theory of planned behaviour, which states that individual behaviour is determined by corresponding expectations, was the theoretical framework used in this study. A descriptive correlational research design was adopted. The sample consisted of 50 participants (43% males, 57% females) aged between 13 and 18 (median of 15.5; the standard deviation of 1.20). The participants were adolescents with mild intellectual disability who lived in the Ibadan Metropolis, Nigeria and were conveniently selected for the study. The Children’s Perception of Inter-parental Conflict Scale, Resistance to Peer Influence Questionnaire, socio-environment deprivation scale and Aggressive Behaviour Scale were used for data collection. Analysis of variance was used for data analysis. The results revealed that there was no significant relationship between the independent variables (parental conflicts, peer influence and socio-environmental deprivation) and aggressive behaviour among adolescents with mild intellectual disability. The joint contribution of parental conflict, peer influence and environmental deprivation to the aggressive behaviour was 5.5%. This was not significant. The study has shown that parental conflicts, peer influence and socio-environmental deprivation do not play a role in increasing aggressive behaviour among adolescents with mild intellectual disability.Keywords: aggressive behaviour, adolescents with mild intellectual disability, parental conflicts, peer influence, socio-environmental deprivation.AbstrakPerilaku agresif merupakan karakteristik utama pada remaja dengan disabilitas intelektual ringan karena ketidakmampuan mereka untuk menggunakan komunikasi verbal secara efektif untuk mengungkapkan kebutuhannya. Oleh karena itu, penelitian ini menyelidiki peran konflik orang tua, pengaruh teman sebaya, dan deprivasi sosial-lingkungan dalam memprediksi perilaku agresif di antara peserta penelitian. Teori perilaku terencana yang menyatakan bahwa perilaku individu ditentukan oleh ekspektasi yang sesuai merupakan kerangka teori yang digunakan dalam penelitian ini. Sebuah desain penelitian korelasional deskriptif diadopsi. Sampel terdiri dari 50 peserta (43% laki-laki, 57% perempuan) berusia antara 13 dan 18 (median 15,5; standar deviasi 1,20). Para partisipan adalah remaja dengan disabilitas intelektual ringan yang tinggal di Ibadan Metropolis, Nigeria dan dipilih dengan mudah untuk penelitian ini. Persepsi Anak-Anak tentang Skala Konflik Antar Orangtua, Kuesioner Resistensi terhadap Pengaruh Teman Sebaya, skala deprivasi sosio-lingkungan dan Skala Perilaku Agresif digunakan untuk pengumpulan data. Analisis varian digunakan untuk analisis data. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tidak ada hubungan yang signifikan antara variabel independen (konflik orang tua, pengaruh teman sebaya dan deprivasi sosial lingkungan) dengan perilaku agresif pada remaja dengan disabilitas intelektual ringan. Kontribusi bersama dari konflik orang tua, pengaruh teman sebaya dan perampasan lingkungan terhadap perilaku agresif adalah 5,5%. Ini tidak signifikan. Penelitian telah menunjukkan bahwa konflik orang tua, pengaruh teman sebaya, dan deprivasi sosial-lingkungan tidak berperan dalam meningkatkan perilaku agresif di kalangan remaja dengan disabilitas intelektual ringan.Kata kunci: perilaku agresif, remaja dengan disabilitas intelektual ringan, konflik orang tua, pengaruh teman sebaya, perampasan sosial lingkungan.
Irfan Fauzi, Rohma Mauhibah, Al Jupri
Al Ibtida: Jurnal Pendidikan Guru MI, Volume 8, pp 32-49; https://doi.org/10.24235/al.ibtida.snj.v8i1.7741

Abstract:
Students have difficulties in understanding addition and subtraction of numbers. These difficulties need to be anticipated in order to find ways to reduce them. This research aims to develop the learning designs for addition and subtraction of two-digit numbers using the Realistic Mathematics Education (RME) approach. The snakes and ladders game was used as the learning media, while the language of arrows was used as the context of learning. Using educational design research, this study involved a total of 29 first graders of one of the elementary schools in Bandung City, Indonesia. The sample in this study was selected using purposive sampling. The data were collected through tests and observations. The results of this research indicated that the learning designs had a positive impact on the students’ understanding of the addition and subtraction of two-digit numbers. The students' average score after learning the addition and subtraction of two-digit numbers was 70.62. The principles of Realistic Mathematics Education (RME) are the key to student success in understanding mathematical concepts. This research could be used as a reference for developing mathematics learning designs using the RME approach in elementary schools.Keywords: learning designs, addition and subtraction of numbers, realistic mathematics education.Abstrak Siswa mengalami kesulitan dalam memahami penjumlahan dan pengurangan bilangan. Kesulitan-kesulitan tersebut perlu diantisipasi agar dapat ditemukan cara untuk menguranginya. Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan desain pembelajaran penjumlahan dan pengurangan bilangan dua digit dengan menggunakan pendekatan Realistic Mathematics Education (RME). Permainan ular tangga digunakan sebagai media pembelajaran, sedangkan bahasa panah digunakan sebagai konteks pembelajaran. Menggunakan educational design research, penelitian ini melibatkan total 29 siswa kelas satu salah satu sekolah dasar di Kota Bandung, Indonesia. Sampel dalam penelitian ini dipilih dengan menggunakan purposive sampling. Pengumpulan data dilakukan melalui tes dan observasi. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa desain pembelajaran berpengaruh positif terhadap pemahaman siswa tentang penjumlahan dan pengurangan bilangan dua angka. Nilai rata-rata siswa setelah mempelajari penjumlahan dan pengurangan bilangan dua angka adalah 70,62. Prinsip-prinsip Realistic Mathematics Education (RME) menjadi kunci keberhasilan siswa dalam memahami konsep matematika. Penelitian ini dapat dijadikan acuan untuk mengembangkan desain pembelajaran matematika dengan pendekatan RME di sekolah dasar.Keywords: desain pembelajaran, penjumlahan dan pengurangan bilangan, realistic mathematics education.
Nuryana Nuryana, Dede Cahyati Sahrir
Al Ibtida: Jurnal Pendidikan Guru MI, Volume 8, pp 116-129; https://doi.org/10.24235/al.ibtida.snj.v8i1.8104

Abstract:
The roles of the teacher in internalizing the values of local wisdom can be seen from the extent of the efforts made by the teacher in developing the values of local wisdom in the learning process. This study aims to describe the roles of teachers and the factors that influence them in internalizing the values of the local wisdom of Cirebon in learning at the Madrasah Ibtidaiyah (Islamic elementary school). A qualitative descriptive study with an ethnographic approach was combined with a quantitative descriptive survey method in this research. Questionnaires, observation, and interviews were utilized to collect data for this study. The findings revealed that instructors' roles in instilling local wisdom values in Islamic elementary school children in Cirebon City had not been fully utilized in the classroom. This can be seen in how the abilities and competencies of teachers who are considered still inadequate to be able to internalize the values of local wisdom in madrasah learning. Local wisdom has so far only been used in the classroom to invite students to tour historical sites, make traditional arts an extracurricular activity, and convey stories about Cirebon's history. Government regulations stating that local wisdom is crucial to its survival and preservation are examples of supporting elements. Teachers, family support, curriculum load, and the cost of visiting cultural sites were discovered to be the most constraining factors.Keywords: teachers’ roles; local wisdom; cirebon city; madrasa. AbstrakPeran guru dalam menginternalisasikan nilai-nilai kearifan lokal dapat dilihat dari sejauh mana upaya yang dilakukan guru dalam mengembangkan nilai-nilai kearifan lokal dalam proses pembelajaran. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan peran guru dan faktor yang mempengaruhinya dalam menginternalisasikan nilai-nilai kearifan lokal Cirebon dalam pembelajaran di Madrasah Ibtidaiyah. Penelitian ini menggunakan penelitian deskriptif kualitatif pendekatan etnografi dikolaborasikan dengan deskriptif kuantitatif metode survei. Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah angket, observasi dan wawancara. Hasil penelitian menunjukkan bahwa peran guru dalam menginternalisasikan nilai-nilai kearifan lokal kepada siswa Madrasah Ibtidaiyah di Kota Cirebon belum maksimal diterapkan dalam pembelajaran. Hal tersebut terlihat pada bagaimana kemampuan dan kompetensi guru yang dinilai masih belum mumpuni untuk dapat menginternalisasikan nilai-nilai kearifan lokal pada pembelajaran di madrasah ibtidaiyah. Selama ini penerapan kearifan lokal dalam pembelajaran hanya sebatas mengajak siswa kunjungan ke tempat bersejarah, menjadikan kesenian tradisional sebagai salah satu ekstrakulikuler dan bercerita mengenai sejarah cirebon saat pembelajaran. Faktor yang mendukung diantaranya adanya kebijakan pemerintah yang menyatakan bahwa kearifan lokal penting untuk dijaga eksisitensi dan kelestariannya. Adapun faktor yang menghambat ditemukan berasal dari guru, dukungan orangtua, beban kurikulum dan juga biaya kunjungan situs budaya.Kata kunci: peran guru; kearifan lokal; Cirebon; madrasah.
Abdul Sholeh, Asep Supena
Al Ibtida: Jurnal Pendidikan Guru MI, Volume 8, pp 93-103; https://doi.org/10.24235/al.ibtida.snj.v8i1.7459

Abstract:
Elementary school students with Attention Deficit Hyperactivity Disorder (ADHD) possessed low self-eesteem that impacted on their academic failure. This study aims to describe the use of a children’s music therapy to enhance the self-esteem of ADHD students. Using a qualitative case study to garner the data from ADHD students, this study included pre-field stages, activities during the field, and post empirical stages. Data were analyzed using observations and interviews. The results of the research show that the children’s music therapy can be used as an alternative in developing the self-esteem of ADHD children in an elementary school. It can be seen from their development of several aspects including ability (competence), meaning (significance), goodness (virtue), and strength (power). Therefore, elementary school teachers are advised to use the music therapy to enhance the self-esteem of ADHD children. As a medium of healing and to overcome anxiety, such therapy could allow students to gain self-acceptance, get acceptance by others, be able to complete tasks, be able to make decisions, be able to control themselves, and have better self-awareness.Keywords: a children's music therapy, self-esteem, attention deficit hyperactivity disorder.AbstrakSiswa sekolah dasar dengan Attention Deficit Hyperactivity Disorder (ADHD) memiliki harga diri yang rendah yang berdampak pada kegagalan akademik mereka. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan penggunaan terapi musik anak untuk meningkatkan harga diri siswa ADHD. Menggunakan studi kasus kualitatif untuk mengumpulkan data dari siswa ADHD, penelitian ini meliputi tahap pra-lapangan, kegiatan selama lapangan, dan tahap pasca empiris. Teknik analisis data menggunakan observasi dan wawancara. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terapi musik anak dapat digunakan sebagai salah satu alternatif dalam mengembangkan harga diri anak ADHD di sekolah dasar. Hal ini dapat dilihat dari perkembangannya dari beberapa aspek antara lain kemampuan (competence), makna (significance), kebaikan (virtue), dan kekuatan (power). Oleh karena itu, guru sekolah dasar disarankan untuk menggunakan terapi musik untuk meningkatkan harga diri anak ADHD. Sebagai media penyembuhan dan mengatasi kecemasan, terapi tersebut dapat memungkinkan siswa untuk memperoleh penerimaan diri, mendapatkan penerimaan oleh orang lain, mampu menyelesaikan tugas, mampu mengambil keputusan, mampu mengendalikan diri, dan memiliki kesadaran diri yang lebih baik.Kata kunci: terapi musik anak, harga diri, attention deficit hyperactivity disorder.
Back to Top Top