Nyimak: Journal of Communication

Journal Information
ISSN / EISSN : 25803808 / 25803832
Current Publisher: Journal of Government and Civil Society (10.31000)
Total articles ≅ 48
Filter:

Latest articles in this journal

Umaimah - Wahid, Nurzahara Amalia
Nyimak: Journal of Communication, Volume 4, pp 35-51; doi:10.31000/nyimak.v4i1.2300

Abstract:
Kota Tangerang Selatan adalah kota yang menerapkan program smart city pada tahap awal dari 200 wilayah kabupaten dan kota di Indonesia dengan “Gerakan menuju 100 Smart City” yang didasarkan pada integrasi teknologi dalam tata kelola kota berkat keberadaan internet of things (IoT). Integrasi teknologi bertujuan untuk meningkatkan efisiensi, membagikan informasi pada publik, memperoleh respon cepat, dan memperbaiki pelayanan masyarat untuk meningkatkan kualitas dan kesejahteraan masyarakat. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui dan menjelaskan bagaimana humas pemerintah Kota Tangerang Selatan melakukan sosialisasi program smart city kepada masyarakat. Penelitian ini menggunakan teori difusi dan inovasi, konsep hubungan masyarakat, dan smart city. Pendekatan penelitian yang digunakan adalah pendekatan kualitatif dengan metode studi kasus; wawancara dan observasi digunakan untuk memperoleh data penelitian. Hasil penelitian menunjukkan bahwa humas pemerintah Tangerang Selatan melakukan berbagai bentuk sosialisasi mengenai program smart city berdasarkan berbagai inovasi teknologi komunikasi dan informasi. Namun, upaya tersebut belumlah maksimal, karena belum ada pemerataan pengetahuan masyarakat tentang konsep smart city di Kota Tangerang Selatan. Hal ini disebabkan sosialisasi yang dilakukan oleh humas, termasuk lewat media social, masih belum menjangkau masyarakat secara keseluruhan. Indikasinya terlihat dari kurangnya pengetahuan masyarakat tentang konsep kota pintar di Kota Tangerang Selatan sehingga pemanfatan inovasi teknologi program smart city belum bisa meningkatkan pelayanan publik secara maksimal.Kata kunci: Inovasi, hubungan masyarakat, Tangerang Selatan, smart city ABSTRACTSouth Tangerang is a city that implemented smart city programs from 200 districts/cities in the early stages of the “Movement towards 100 Smart Cities” program by the Indonesian central government based on the integration of technology in city governance due to the presence of the internet in various ways (LoT). The integration of these technologies is intended to improve efficiency, share information with the public, get a quick response and improve services to improve the quality and welfare of the people in the city. The purpose of this research is to find out and explain how the public relations of the South Tangerang city government spread smart city programs through various forms of innovation to the public. This study uses the Theory of Diffusion and Innovation, the concept of Public Relations (PR) and Smart City. The research approach uses qualitative with the case study method. The researcher obtained the data through interviews and observations, and to validate the data, the researcher used the triangulation of sources. The results showed that the public relations government of the City of South Tangerang conducted various forms of socialization of smart city programs by conducting technological innovations that were applied to community services at local government offices. But the results have not been maximal. This is shown by the uneven public knowledge about the concept of smart cities in South Tangerang. Therefore, the awareness to support smart city programs is also limited. The indication can be viewed from the lack of public knowledge about the concept of smart cities in South Tangerang. Thus, the utilization of smart city program technology innovation has not been able to improve public services maximally.Keywords: Innovation, public relations, South Tangerang, smart city
Rismiatun Rismiatun, Umaimah - Wahid, Ilham Ramdana
Nyimak: Journal of Communication, Volume 4, pp 149-156; doi:10.31000/nyimak.v4i1.2214

Abstract:
Pengelolaan kesan menjadi hal yang krusial bagi customer service. Sebagai ujung tombak perusahaan, customer service senantiasa ada di garda terdepan dalam berinteraksi dengan pelanggan dan dituntut mampu memberi pelayanan terbaik pada pelanggan. Penelitian ini hendak mengetahui bagaimana pengelolaan kesan verbal dan nonverbal customer service Universitas Budi Luhur. Melibatkan empat informan, penelitian menggunakan paradigma konstruktivisme dengan pendekatan deskriptif-kualitatif. Data penelitian diperoleh melalui wawancara, studi dokumentasi, dan observasi. Hasil penelitian menunjukkan pengelolaan kesan di panggung depan bertujuan untuk memperoleh kesan positif sewaktu berinteraksi dengan pelanggan. Pengelolaan kesan ini dilakukan melalui penggunaan pesan verbal dan nonverbal, di mana keduanya dapat saling memperkuat satu sama lain.Kata Kunci: Dramaturgi, pesan verbal, pesan nonverbal, customer service ABSTRACTImpression management is crucial for customer service. As the spearhead of company, customer service is always at the forefront in interacting with customers and is demanded to be able to provide the best service to customers. This study wanted to find out how to manage verbal and nonverbal customer service at Budi Luhur University. Involving four informants, the research uses a constructivism paradigm with a descriptive-qualitative approach. Research data obtained through interviews, documentation, and observations. The results showed that the management of impressions on the front stage aims to obtain positive impressions when interacting with customers. This impression management is done through the use of verbal and nonverbal messages, where both can reinforce one another. Keywords: Dramaturgy, verbal messages, nonverbal messages, customer service
Sonny Zaluchu
Nyimak: Journal of Communication, Volume 4, pp 135-147; doi:10.31000/nyimak.v4i1.2219

Abstract:
Penelitian ini disusun menggunakan pendekatan kualitatif dengan analisis analisis wacana untuk mengulas dan membahas tarian Maena yang dilakukan pada upacara perkawinan adat suku Nias di Sumatera Utara. Maena adalah tarian budaya yang melibatkan banyak peserta. Hampir semua orang Nias mampu melakukan jenis tarian ini karena mudah dipelajari dan memiliki pola gerakan yang sederhana. Sebagai produk budaya, Maena adalah tanda wacana dengan kandungan bentuk dan makna simbolik. Sehingga, analisis dilakukan dengan pendekatan semiotika dan wacana. Hasilnya, Maena bukan hanya tarian belaka. Selain menjadi alat literasi yang kuat, Maena juga menjadi sebuah identitas dalam struktur budaya suku Nias yang melekat dalam cara hidup bermasyarakat, yang membawa pesan-pesan moral untuk tujuan edukasi dan transformasi paradigma di satu sisi serta kritik sosial pada sisi lainnya. Maena memenuhi tanda sebagai sebuah signifying order yang diterima masyarakat yang dalam kacamata semiotika mengandung unsur ekspresif dan emotif.Kata kunci: Maena, budaya Nias, wacana, tarian ABSTRACTThis paper was prepared using a qualitative approach with a discourse analysis to review and discuss Maena dances performed at Nias traditional ceremonies in North Sumatra. Maena is a cultural dance that involves many participants. Because almost all Nias people are able to do this type of dance because it is easy to learn and has a simple movement pattern. As a cultural product, Maena is a sign of discourse with symbolic form and meaning. Thus, the analysis was carried out with the semiotics and discourse approach. As a result, Maena is not just a dance. Besides being a powerful literacy tool, Maena is also an identity within the cultural structure of the Nias tribe that is inherent in the way of life of the community, which carries moral messages for the purpose of education and paradigm transformation on the one hand and social criticism on the other. Maena fulfills the sign as a signifying order received by the people who in semiotic glasses contain expressive and emotive elements.Keywords: Maena, Nias culture, discourse, dance
Rangga Saptya Mohamad Permana, Jimi Narotama Mahameruaji
Nyimak: Journal of Communication, Volume 4, pp 17-33; doi:10.31000/nyimak.v4i1.2313

Abstract:
Masyarakat Sunda sejak dahulu sudah akrab dengan konsep-konsep triumvirate dalam setiap unsur kehidupannya. Beberapa konsep triumvirate Sunda antara lain adalah Tri Tangtu Di Buana, Tri Buana, serta “Tiga Rahasia”. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan perbandingan konsep Tri Tangtu Di Buana, Tri Buana, dan “Tiga Rahasia” yang merupakan konsep-konsep triumvirate Sunda dengan konsep Trias Politica dalam kaitannya dengan komunikasi politik. Penelitian ini menggunakan metode hermeneutika untuk mengungkap perbandingan tersebut. Hasil penelitian menunjukkan bahwa makna yang diperoleh sebagai dasar untuk membandingkan konsep-konsep triumvirate Sunda dengan konsep Trias Politica adalah konsep Tri Tangtu Di Buana yang berhubungan dengan konsep Tri Buana dan konsep “Tiga Rahasia” yang merupakan tiga kelembagaan dalam Kerajaan Sunda yang mengandung aktivitas komunikasi politik, terwujud dalam pembagian/pemisahan kekuasaan dan pembagian wilayah kekuasaan yang berlaku dalam masyarakat Sunda kuno, khususnya dalam lingkup suprastruktur komunikasi, tepatnya di Kerajaan Sunda.Kata kunci: Komunikasi politik, kekuasaan, triumvirate, Sunda ABSTRACTEver since, the Sundanese people have been familiar with triumvirate concepts in every element of their life. Some Sundanese triumvirate concepts include Tri Tangtu Di Buana, Tri Buana, and “Tiga Rahasia”. This research intent to describe the comparative concepts of Tri Tangtu Di Buana, Tri Buana, and “Tiga Rahasia” which are Sundanese triumvirate concepts with the concept of Trias Politica in relation to political communication. This research uses hermeneutic method to reveal the comparison. The results show that the meaning obtained as a basis for comparing Sundanese triumvirate concepts with the concept of Trias Politica is the concept of Tri Tangtu Di Buana which is related to the concept of Tri Buana and the concept of “Tiga Rahasia” is the three institutions in the Sunda Kingdom which contains political communication activities, and manifested in the division / separation of power and division of territory prevailing in ancient Sundanese society, especially in the sphere of communication superstructure, precisely in the Sunda Kingdom.Keywords: Political communication, power, triumvirate, Sundanese
Rose Emmaria Tarigan, Abdul Basit
Nyimak: Journal of Communication, Volume 4, pp 125-134; doi:10.31000/nyimak.v4i1.2224

Abstract:
Program wisata halal sebenarnya sangat positif apabila diimplementasikan dalam rangka meningkatkan kunjungan baik wisatawan lokal maupun mancanegara. Namun demikian, masyarakat di sekitar kawasan wisata Danau Toba menolak rencana program wisata halal yang digulirkan pemerintah daerah. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui penyebab penolakan masyarakat terhadap pencanangan wisata halal yang digagas oleh pemerintah daerah. Menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif, penelitian ini menggunakan studi literatur sebagai teknik pengumpulan data. Hasil penelitian menunjukkan: (1) pemerintah daerah tidak sepenuhnya memahami tradisi (kearifan lokal) yang hidup pada masayarakat di sekitar kawasan wisata Danau Toba; dan (2) meskipun dimensi logos sudah diterapkan dengan mengajukan argumentasi yang memadai, namun dua dimensi lainnya, yaitu ethos dan pathos belum diterapkan dengan maksimal sehingga menghambat proses komunikasi yang berlangsung.Kata kunci: Ethos, pathos, logos, wisata halal, Danau Toba ABSTRACTHalal tourism program is actually very positive if implemented in order to increase visits by both local and foreign tourists. However, the community around Danau Toba rejected halal tourism program planned by the local government. This study aims to determine the cause of public rejection of the launching of halal tourism which was initiated by the local government. Using a qualitative descriptive approach, this study uses literature studies as a data collection technique. The results showed: (1) the local government did not fully understand the tradition (local wisdom) that lived in the communities around Danau Toba area; and (2) although the logos dimension has been applied by submitting thw adequate arguments, two other dimensions, namely ethos and pathos, have not been applied to the maximum so that it inhibits the ongoing communication process.Keywords: Ethos, pathos, logos, halal tourism, Danau Toba
Febri Nurrahmi, Puteri Farabuana
Nyimak: Journal of Communication, Volume 4, pp 1-16; doi:10.31000/nyimak.v4i1.2326

Abstract:
Para pendakwah saat ini banyak memanfaatkan media sosial untuk berdakwah. Akun Instagram Pemuda Hijrah merupakan salah satu akun dakwah di Instagram yang memuat video dakwah, menayangkan kajian keislaman dengan tema perbaikan diri dan mengajak anak muda untuk hijrah. Penelitian ini menggunakan teori pembelajaran sosial untuk mengetahui bagaimana efektivitas akun Instagram Pemuda Hijrah sebagai media dakwah. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif eksplanatif melalui wawancara mendalam, observasi nonpartisipan terhadap tujuh follower pada akun Pemuda Hijrah, serta dengan menonton video akun Instagram Pemuda Hijrah minimal tiga kali dalam satu minggu. Hasil penelitian menunjukkan bahwa strategi dakwah menggunakan video yang disebarkan melalui akun Pemuda Hijrah tergolong efektif untuk meningkatkan pemahaman agama, memberi motivasi, dan mendorong perubahan perilaku informan menjadi lebih religius.Kata kunci: Dakwah, Instagram, Pemuda Hijrah, video ABSTRACTNowadays, Islamic clerks make use of social media to propagate Islamic teachings. The Instagram account of Pemuda Hijrah is one of the Instagram accounts that contain videos promoting Islamic teachings on self- improvement and inviting young people to convert to Islamic practices. Using social learning theory, this study aims to learn the effectiveness of the Instagram account of Pemuda Hijrah as a preaching channel. This study employed an explanatory qualitative method using in-depth interviews and nonparticipant observations. The informants were seven followers of the Instagram account and regularly watched videos on the account at least three times a week. The results show that spreading Islamic teaching through videos on the Instagram account have been effective increase comprehension, stimulate motivation and encourage informant to be more religious. Keywords: Islamic preaching, Instagram, Pemuda Hijrah, video
Nufian S Febriani
Nyimak: Journal of Communication, Volume 4, pp 89-107; doi:10.31000/nyimak.v4i1.2225

Abstract:
Penelitian ini dimaksudkan untuk menjawab permasalahan bagaimana preferensi media sosial pada generasi milenial terhadap tingkat pengetahuan atas calon legislatif dalam bentuk penjabaran data secara ilmiah dan sistematis. Berdasarkan catatan Komisi Pemilihan Umum (KPU), jumlah pemilih generasi milenial pada Pemilu 2019 proporsinya sekitar 34,2% dari total 152 juta pemilih. Dengan ketergantungan generasi milenial terhadap media sosial seperti Instagram, Facebook, Twitter serta berbagai macam aplikasi instant messanger seperti Whatsapp, kampanye politik melalui media sosial menjadi salah satu cara tepat untuk menarik simpati generasi milenial. Penelitian ini menggunakan salah satu model dalam kajian perilaku konsumen, yaitu TAM (Technology Acceptance Model ) yang kemudian diturunkan menjadi konsep preferensi konsumen dengan operasionalisasi variabel X adalah Preferensi Media Sosial dan variabel Y adalah Tingkat Pengetahuan. Metode yang digunakan adalah kuantitatif melalui survei terhadap 100 orang responden, yang menunjukan bahwa sebanyak 71 responden (71%) memiliki pengetahuan atas calon legislatif di kota asalnya dari media sosial dan sebanyak 29 responden (29%) menyatakan tidak mengetahui. Berdasarkan hasil survei tersebut, dapat disimpulkan bahwa penggunaan model Technology Acceptance Model (TAM) dapat digunakan untuk menganalisis faktor-faktor preferensi perilaku pemilih generasi milenial dalam menggunakan media sosial untuk mendapatkan pengetahuan atas calon legislatif melalui media sosial.Kata kunci: Media sosial, generasi milenial, legislatif ABSTRACTThis research is intended to answer the problem of how social media preferences in millennial generation are towards the level of knowledge of legislative candidates in the form of scientific and systematic translation of data. Based on the record of the General Election Commission (KPU), the number of millennial generation voters in the 2019 Election was around 34.2% of the total 152 million voters. With millennial generation dependence on social media such as Instagram, Facebook, Twitter and various instant messenger applications such as Whatsapp, making political campaigns through social media one of the right ways to attract the sympathy of millennials. This study uses one model in the study of consumer behavior, namely TAM (Technology Acceptance Model) which is then reduced to the concept of consumer preferences with the operationalization of variable X is the preference of social media and variable Y is the Level of Knowledge. The method used is quantitative through a survey of 100 respondents showing that as many as 71 respondents (71%) had knowledge of legislative candidates in their home city from social media and as many as 29 respondents (29%) stated they did not know. Based on the results of the survey, it can be concluded that the use of the Technology Acceptance Model (TAM) can be used to analyze the factors of preference of millennial generation voters in using social media to gain knowledge of legislative candidates through social media.Keywords: Social media, millennial generation, legislative
Al Fauzi Rahmat, Eko Priyo Purnomo
Nyimak: Journal of Communication, Volume 4, pp 73-88; doi:10.31000/nyimak.v4i1.2268

Abstract:
The presence of a Kiyai in political contestation in Indonesia has its own challenges because it is motivated by a religious figure who believes that voters can support themselves, especially Muslim voters. Furthermore, the Kiyai carried out various strategies to lure voters effectively on social media, referred Twitter accounts a strategic platform to lure voters in a political context. This article aims to identify political branding using social media Twitter by KH. Ma’ruf Amin as a vice-presidential candidate in the 2019 presidential election contest. Furthermore, qualitative methods are used for this research. Then, the analyzer uses NVivo 12 plus software to see the coding intensity of the KH Twitter account. KH Ma’ruf Amin namely @Kiyai_Marufamin, this tool can provide capture code of capture from a tweet that displays the intensity level. The results of this study indicate that KH. Ma’ruf Amin uses social media Twitter as a tool to find support, especially for Muslim voters. Social media activities in the period February 2019 - April 2019 were considered to have high intensity of coverage, this identified that the distribution of tweets by KH. Ma’ruf Amin is more about spreading tweets along with pictures, formal language and visual style against the background of a Kiyai. Thus, Twitter @Kiyai_Marufamin can provide a good political brand for KH. Ma’ruf Amin as a vice presidential candidate to participate in the 2019 presidential election in Indonesia.Keywords: Twitter, political branding, KH. Ma’ruf Amin, 2019 presidential election campaign ABSTRAKKehadiran dari seorang Kiyai dalam kontestasi politik di Indonesia memiliki tantangan tersendiri karena dilatarbelakangi seorang agamawan yang meyakini bahwa pemilih dapat mendukung dirinya, terutama pemilih Muslim. Selanjutnya seorang Kiyai melakukan berbagai strategi untuk memancing pemilih secara efektif di media sosial, dimana akun Twitter sebagai platform strategis untuk memikat para pemilih dalam kontekstasi politik. Artikel ini bertujuan untuk mengidentifi-kasi branding politik menggunakan media sosial Twitter oleh KH. Ma’ruf Amin sebagai kandidat wakil presiden dalam kontes pemilihan presiden 2019. Selanjutnya, metode kualitatif digunakan untuk penelitian ini. Kemudian, alat analisa menggunakan perangkat lunak NVivo 12 plus untuk melihat intensitas pengkodean dari akun Twitter KH. Ma’ruf Amin yaitu @Kiyai_Marufamin, alat ini mampu memberikan laju koding tangkapan dari tweet yang menampilkan tingkat intensitas. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa KH. Ma’ruf Amin menggunakan media sosial Twitter sebagai alat untuk mencari dukungan, terutama bagi pemilih Muslim. Kegiatan media sosial pada periode Februari 2019 - April 2019 dianggap memiliki intensitas liputan yang tinggi, hal ini mengidentifikasikan bahwa distribusi tweet oleh KH. Ma’ruf Amin lebih tentang menyebarkan tweet bersama dengan gambar, bahasa formal dan gaya visual dengan latar belakang seorang Kiyai. Dengan demikian, Twitter @Kiyai_Marufamin dianggap dapat memberikan merek politik yang bagus untuk KH. Ma’ruf Amin sebagai kandidat wakil presiden untuk berpartisipasi dalam pemilihan presiden 2019 di Indonesia.Kata kunci: Twitter, merek politik, KH. Ma’ruf Amin, kampanye pemilihan presiden 2019
Arni Ernawati
Nyimak: Journal of Communication, Volume 4, pp 53-72; doi:10.31000/nyimak.v4i1.2297

Abstract:
Media audiovisual seperti film diyakini bisa menjadi alat penyampai pesan paling ampuh untuk masyarakat. Tidak heran banyak industri film semakin tumbuh subur untuk berlomba-lomba membuat film. Tema film yang hadirkan pun bermacam-macam, dan tema percintaan masih mendominasi dalam industri perfilman kita. Salah satu film yang turut meramaikan industri perfilman adalah film Ada Apa dengan Cinta (AADC) yang dirilis pada 7 Februari 2002. Film ini bisa dikatakan sebagai film pelopor dan paling laris pada masanya untuk kategori film pop-remaja atau percintaan platonis remaja. Film ini mengandung pesan penting bagi perempuan. Penelitian ini bertujuan untuk membuka dan menganalisis pesan menyangkut politik identitas perempuan yang dibawakan dalam film AADC. Penulis mencoba mengamati setiap alur dan adegan dalam film. Film ini membawakan tentang perempuan yang dalam tekanan patriarki dan perempuan yang berjuang keluar dari tekanan tersebut. Hasil yang didapat dalam penelitian ini berupa hasil studi kasus atau analisis yang berhubungan dengan politik identitas dalam film.Kata Kunci: Politik identitas, perempuan, analisis film ABSTRACTAudio-visual media like film as the most powerful message delivery tool for public. No wonder many film industries are floushing to compete making movies. The theme of the film has been introduced with variuos kinds, and romance films still win our film industry. One of the titles the film present, which helped enliven the film industry is the film Ada Apa dengan Cinta (AADC). The film is a teenage love story by Rudi Soedjarwo success kicked off the Indonesia film market. The film background is about Rangga and Cinta with the spices of romance in adolescene, arguably the forerunner and most film best-selling in his time for the category of pop-teen film or teen platonic romance. Besides this film about important messages about and for women. This research tries to opened and analyzed messages about the identity politics of women presentedin the film. The authors tries to withdraw every plot and scene in the film.This film tells about womwn under patriarchal pressure and women who struggle to get out of that pressure. to get a guess and analyzing messages containing identity politics delivered. The result obtained in this research consist of case studies and anlyzes relating to identify politics film.Keywords: Identity politics, women, film analysis
Moh. Sonhaji, Faishal Hilmy Maulida
Nyimak: Journal of Communication, Volume 4, pp 109-124; doi:10.31000/nyimak.v4i1.2220

Abstract:
Pemilu 1955 menciptakan polarisasi di antara kaum santri dan abangan. Hal ini terjadi karena adanya mobilisasi massa yang dilakukan oleh partai politik dari kota-kota besar hingga pelosok desa. Dampaknya, rakyat terbelah dalam berbagai macam aliran politik terutama munculnya dua kubu besar antara kaum santri dan abangan. Tujuan penelitian ini untuk menganalisis kecenderungan pilihan politik kelompok santri dan abangan pada Pemilu 1955 dan menganalisis pola komunikasi politik yang ditunjukkan partai-partai pada pemilu pertama di Indonesia ini. Penelitian ini menggunakan metode penelitian sejarah dengan pendekatan komunikasi politik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pola komunikasi politik yang dilakukan PKI dan PNI mampu memengaruhi signifikansi perolehan suara mereka dari kaum abangan, sedangkan Masjumi dan NU mendapat sokongan suara besar dari kaum santri karena pola pendekatan kultural yang mereka lakukan. Kesimpulannya, komunikasi politik yang dilakukan partai-partai pada Pemilu 1955 terhadap rakyat sangat bergantung pada pola pendekatan kultural yang dilakukan.Kata kunci: Komunikasi, politik, santri, abangan, Pemilu 1955 ABSTRACTThe Indonesian Elections of 1955 has constructed a polarization between the santri and the abangan. This happened because of the mass mobilization carried out by political parties from big cities to remote villages. The impact, people are divided into various political currents, especially the emergence of two large camps between santri and abangan. The purpose of this study was to analyze the political preference trends of the santri and abangan groups in the 1955 Election and to analyze the patterns of political communication shown by parties in the first elections in Indonesia. This research uses historical research method with political communication approach. The results of this study indicate that the patterns of political communication carried out by the PKI and PNI were able to influence the significance of their abangan voters, while Masjumi and NU received a large voters from the santri due to the pattern of cultural approach they did. This is to illustrate the vote acquisition of the top four voters who won it in the 1955 Election. To concluded, the political communication carried out by the parties in the 1955 Election against the people was very dependent on the pattern of cultural approach they took. Keywords: Communication, tendency, santri, abangan, Indonesian Elections of 1955