Nyimak: Journal of Communication

Journal Information
ISSN / EISSN : 2580-3808 / 2580-3832
Published by: Journal of Government and Civil Society (10.31000)
Total articles ≅ 74
Filter:

Latest articles in this journal

Tuti Widiastuti, Adrian Arditiar, Akbar Fauzan Rambe, Eartha Annafi Rasjiddin
Nyimak (Journal of Communication), Volume 6, pp 55-75; https://doi.org/10.31000/nyimak.v6i1.5118

Abstract:
The development of communication, technology, and the economy in Indonesia encourages the development of promotional activities itself, the birth of various platforms to carry out promotional activities makes competition in business more stringent. Manufacturers are trying to attract the hearts of consumers. Based on this phenomenon, marketing media is needed to be able to reach a wider target market. One of the marketing media that is currently being used is through social media. The purpose of this study is to measure the effect of Instagram ads and celebrity endorsements have on buying interest in local brands. The research uses a quantitative approach with a survey method. Data was collected by distributing questionnaires to respondents.Keywords: Social media optimization, instagram ads, celebrity endorsements, buying interest, local fashion brandsABSTRAK Perkembangan komunikasi, teknologi, dan ekonomi di Indonesia mendorong perkembangan kegiatan promosi itu sendiri, lahirnya berbagai platform untuk menjalankan kegiatan promosi membuat persaingan dalam berbisnis menjadi lebih ketat. Para produsen berusaha untuk menarik hati konsumennya. Berdasarkan fenomena tersebut, diperlukan media untuk menjangkau target pasar yang lebih luas. Salah satu media pemasaran yang saat ini digunakan adalah melalui media sosial. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengukur pengaruh instagram ads dan endorsement selebgram. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan metode survei. Pengumpulan data dilakukan dengan menyebarkan kuesioner kepada responden. Kata Kunci: Optimasi media sosial, instagram ads, endorsment selebgram, minat beli, brand fashion lokal.
Rachmi Kurnia Siregar, Amin Aminudin
Nyimak (Journal of Communication), Volume 6, pp 1-16; https://doi.org/10.31000/nyimak.v6i1.2537

Abstract:
This study aims to determine the organizational communication of the Dasok Village Head in East Java regarding the management of the Village Fund. This research method uses a case study with a qualitative approach. Data collection techniques were carried out through in-depth interviews, observations, and literature studies. The results showed that the Dasok Village Head violated the authority given by the state by not involving the Village Consultative Body (BPD) as a representation of the community, thus causing the Village Fund to be prone to corruption. The communication carried out by the Village Head takes place in a linear (one-way) manner. On that basis, the government should encourage village heads to build intensive communication and dialogue with the BPD and village communities. As a solution to minimize cases of corruption in the Village Fund, the application of local wisdom values and a cultural value system is a necessity that is carried out by the government so that the objectives of the Undang-Undang Desa No. 6 Tahun 2014 namely villages to become advanced, independent, democratic, and have prosperous citizens can be achieved.Keywords: Corruption, local wisdom, organizational communications, village fundABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui komunikasi organisasi Kepala Desa Dasok Jawa Timur terkait pengelolaan Dana Desa. Metode penelitian ini menggunakan studi kasus dengan pendekatan kualitatif. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui wawancara mendalam, observasi dan studi pustaka. Hasil penelitian menunjukkan Kepala Desa Dasok menyalahi kewenangan yang diberikan negara dengan tidak melibatkan Badan Permusyawaratan Desa (BPD) sebagai representasi masyarakat, sehingga menyebabkan Dana Desa rawan korupsi. Komunikasi yang dilakukan Kepala Desa berlangsung secara linier (satu arah). Atas dasar itu, pemerintah harus lebih mendorong kepala desa untuk membangun komunikasi dan dialog intensif dengan BPD maupun masyarakat desa. Sebagai solusi menimalisasi kasus-kasus korupsi Dana Desa, penerapan nilai-nilai kearifan lokal dan sistem nilai budaya menjadi suatu keniscayaan yang dilakukan pemerintah agar tujuan Undang-Undang Desa No. 6 Tahun 2014 yakni desa menjadi maju, mandiri, demokratis, dan warganya sejahtera dapat tercapai. Kata Kunci: Dana desa, kearifan lokal, komunikasi organisasi, korupsi
Nikmah Suryandari, Irya Nur Holifah
Nyimak (Journal of Communication), Volume 6, pp 41-54; https://doi.org/10.31000/nyimak.v5i2.5069

Abstract:
The purpose of this study is to find out family communication as an effort to prevent early marriage in Pegantenan Village Pamekasan Madura. The study subjects were families in Pegantenan Village with children under the age of 20 who were unmarried. This research was qualitative. Data collection methods used observations and interviews and documentation. Informants were selected using the purposive sampling method. Data analysis used data reduction, data presentation, and data verification (conclusions). Data validity examination technique used triangulation techniques. The results showed that families in Pegantenan Village of Pegantenan District of Pamekasan Regency used 2 (two) models of family communication, namely consensual family communication, which often emphasizes communication, and is protective because decision making is dominated by parents. The conclusion of this study showed that economic, cultural, and lack of awareness about reproduction were the main factors of early marriage in Pegantenan Madura Village.Keywords: Family communication, early marriage, Pegantenan village, MaduraABSTRAK Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui komunikasi keluarga sebagai upaya pencegahan pernikahan dini di Desa Pegantenan Pamekasan Madura. Subjek penelitian adalah keluarga di Desa Pegantenan dengan anak di bawah usia 20 tahun yang belum menikah. Penelitian ini adalah penelitian kualitatif. Metode pengumpulan data menggunakan observasi dan wawancara serta dokumentasi. Informan dipilih dengan menggunakan metode purposive sampling. Analisis data menggunakan reduksi data, penyajian data, dan verivikasi data (kesimpulan). Teknik pemeriksaan keabsahan data menggunakan teknik triangulasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa keluarga di Desa Pegantenan Kecamatan Pegantenan Kabupaten Pamekasan menggunakan 2 (dua) model komunikasi keluarga, yaitu komunikasi keluarga konsensual, yang menekankan seringnya terjalin komunikasi, dan protektif karena pengambilan keputusan didominasi oleh orang tua. Simpulan dari penelitian ini menunjukkan bahwa factor ekonomi, budaya, dan kurangnya kesadaran tentang reproduksi menjadi factor utama terjadinya pernikahan dini di Desa Pegantenan Madura. Kata Kunci: Komunikasi keluarga, pernikahan dini, Desa Pegantenan; Madura
Mayasari Mayasari, Nani Darmayanti, Yanti Tayo, Zainal Abidin, Kusrin Kusrin
Nyimak (Journal of Communication), Volume 6, pp 95-113; https://doi.org/10.31000/nyimak.v6i1.5373

Abstract:
I In the dynamics of general elections, the discussion of women legislative candidates has always been an interesting topic because the proportion of 30% of women candidates’ minimum requirement is always difficult to fulfill by any political party. The difficulty of women legislative candidates penetrating parliamentary seats is a problem that must be resolved. Therefore, it is necessary to conduct qualitative research to formulate how the communication patterns carried out by women politicians in the Karawang Regency, who have succeeded in penetrating parliamentary seats through case study techniques during the research. The communication pattern that marks the women’s success in election contestation can be a guide or reference when other women party politicians enter politics and advance to become legislature members. This research is limited to women members of the legislature who come from the Golkar Party. The results showed that the success of women members of the Regional Legislative Assembly (DPRD) from the Golkar party in occupying seats in the DPRD was partly due to the communication patterns they succeeded in establishing. They build vertical, horizontal, formal, and informal communication patterns that apply more social and cultural approaches. The uniqueness is when social media is used as a tool for political campaigns today, the communication strategy developed by those women legislative candidates of the Golkar party does not take advantage of social media. This is because the targeted constituents are people in remote areas, so the communication pattern through a direct face-to-face approach is much more impactful than social media.Keywords: Women DPRD members of Karawang Regency, political communication patterns, 2019 general electionABSTRAK Dalam dinamika pemilihan umum (pemilu) pembahasan mengenai calon anggota legislatif perempuan selalu menjadi topik yang menarik karena adanya proporsi 30% caleg perempuan yang selalu sulit dipenuhi oleh setiap partai politik. Sulitnya calon anggota legislatif perempuan menembus kursi parlemen merupakan masalah yang harus dicarikan solusinya. Dengan demikian, perlu dilakukan penelitian dengan menggunakan metode kualitatif untuk merumuskan bagaimana pola komunikasi yang telah dilakukan oleh para politisi perempuan di Kabupaten Karawang yang telah berhasil menembus kursi parlemen dengan studi kasus sebagai teknik penelitian. Pola komunikasi yang menandai keberhasilan kaum perempuan dalam kontestasi pemilu ini dapat menjadi pedoman ataupun acuan ketika pihak lain yang juga perempuan akan terjun ke dunia politik dan akan maju menjadi anggota legislatif. Penelitian ini dibatasi hanya pada anggota legislatif perempuan yang berasal dari Partai Golkar. Hasil penelitian menunjukkan bahwa keberhasilan para anggota DPRD perempuan dari Partai Golkar dalam menduduki kursi di DPRD salah satunya disebabkan oleh pola komunikasi yang berhasil mereka bangun. Adapun pola komunikasi yang mereka bangun tersebut adalah pola komunikasi vertikal, horizontal, formal, informal yang lebih cenderung menerapkan pendekatan sosial dan budaya. Saat media sosial dijadikan alat kampanye politik dewasa ini, strategi komunikasi yang dibangun para calon anggota legislatif perempuan di Kabupaten Karawang yang berasal dari Partai Golkar ini tidak memanfaatkan media sosial. Hal ini disebabkan konstituen yang menjadi sasarannya adalah masyarakat pelosok yang belum memiliki pemahaman awam terhadap teknologi sehingga pola komunikasi melalui tatap mula langsung jauh lebih berdampak dibandingkan dengan penggunaan media sosial. Kata Kunci: Anggota DPRD perempuan Kabupaten Karawang, pola komunikasi politik, Pemilu 2019
Ismandianto Ismandianto, Suyanto Suyanto, Khasna Latifah, Muchid Muchid
Nyimak (Journal of Communication), Volume 6, pp 115-130; https://doi.org/10.31000/nyimak.v6i1.5547

Abstract:
Radio transformation is a step to maintain existence. Innovation and adjustment to the rapid development of new media and exacerbated by the Covid-19 virus pandemic requires radio to transform into the digital era. This article aims to see the existence of RRI in transforming radio media in the digital era and Covid-19. The change of radio to the digital era is a demand in facing the challenges of progress and growth of information. This research uses descriptive qualitative method. The results show that the segmentation of radio listeners in the small category is caused by listeners who prefer and seek social media information. RRI’s strategy to uphold its existence in the digital era is to update technology and cooperation. The transformation carried out during the Covid-19 response period gave rise to an increased character for the information that was broadcast.Keywords: Transformation, technology, digital, Covid-19ABSTRAK Transformasi radio menjadi langkah untuk mempertahankan eksistensi. Inovasi dan penyesuaian dengan perkembangan media baru yang pesat serta diperparah dengan pandemi virus Covid-19 mengaharuskan radio melakukan transformasi ke era digital. Artikel ini bertujuan untuk melihat eksistensi RRI dalam melakukan transformasi media radio di era digital dan Covid-19. Perubahan radio ke era digital merupakan tuntutan dalam menghadapi tantangan kemajuan dan pertumbuhan informasi. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif. Hasil menunjukkan bahwa segmentasi pendengar radio kategori kecil diakibatkan faktor pendengar yang lebih menyukai dan mencari mencari informasi sosial media. Strategi RRI menegakkan eksistensi di era digital, adalah memperbeharui teknologi dan kerjasama. Traspormasi yang dilakukan selama masa penanggulangan Covid-19 memunculkan karakter yang meningkat terhadap informasi yang disiarkan. Kata Kunci: Transformasi, teknologi, digital, Covid-19
Sugeng Suharto, Prasetyono Hendriarto, Firdaus Yuni Dharta, Marulam Mt Simarmata, Mateo Jose A. Vidal
Nyimak (Journal of Communication), Volume 6, pp 29-40; https://doi.org/10.31000/nyimak.v6i1.4978

Abstract:
Public relations (PR) professionals used to rely mainly on newspapers, radio, and television for their campaigns before digitization. However, since the invention of the internet, public relations has been converted into digital PR. In this circumstance, public relations must adapt and migrate from traditional to digital media. This exploratory study examines public relations in Indonesia by conducting a survey and understanding the role of public relations that Indonesian public relations practitioners usually practice. Through the lens of systems theory, this study aims to investigate how 1) Public Relations is organized by Indonesian professionals, 2) The role of Public Relations in Indonesia, 3) Understanding and Professional Public Relations in Indonesia. This study uses a quantitative approach with survey methods related to Indonesian public relations practitioners. The data for this study were obtained using Qualtrics. According to the findings, Indonesian professionals who organize public relations participate in public relations activities with input, throughput, and output methods. In Indonesia, the job of public relations is linked to digital clippings that are crucial for an institution or institution and hosting corporate events as a tactic to improve the image. Meanwhile, in Indonesia, the definition and profession of public relations can impact how the job is conducted, and the country currently lacks a comprehensive public relations education program.Keywords: Public service domain, role of public relations, IndonesiaABSTRAK Para profesional hubungan masyarakat (PR) biasanya mengandalkan surat kabar, radio, dan televisi untuk kampanye mereka sebelum digitalisasi. Namun, sejak penemuan internet, PR telah diubah menjadi PR digital. Dalam keadaan ini, humas harus beradaptasi dan bermigrasi dari media tradisional ke media digital. Studi eksploratif ini mengkaji humas di Indonesia dengan melakukan survei dan memahami peran humas yang biasa dipraktikkan oleh praktisi humas Indonesia. Melalui lensa teori sistem, penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana 1) Humas diselenggarakan oleh profesional Indonesia, 2) Peran Humas di Indonesia, 3) Pengertian dan Profesional Humas di Indonesia. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan metode survei terkait dengan praktisi humas Indonesia. Data untuk penelitian ini diperoleh dengan menggunakan Qualtrics. Berdasarkan temuan, profesional Indonesia yang menyelenggarakan humas berpartisipasi dalam kegiatan humas dengan metode input, throughput, dan output. Di Indonesia, pekerjaan humas terkait dengan kliping digital yang sangat penting bagi sebuah institusi atau institusi dan menyelenggarakan acara perusahaan sebagai taktik untuk meningkatkan citra. Sementara itu, di Indonesia, definisi dan profesi humas dapat berdampak pada bagaimana pekerjaan itu dilakukan, dan negara saat ini masih kekurangan program pendidikan humas yang komprehensif. Kata Kunci: Domain layanan public, peran humas, Indonesia
Selly Oktarina, Sumardjo Sumardjo, Ninuk Purnaningsih, Dwi Retno Hapsari
Nyimak (Journal of Communication), Volume 6, pp 77-93; https://doi.org/10.31000/nyimak.v6i1.5156

Abstract:
Urban farming is essential as an effort to overcome land limitations and weak productivity in the food supply. Urban farming from a communication perspective is an empowerment effort that directly involves the community in its implementation. This study aims to analyze the participatory communication of women farmers and analyze factors that affect the application. This study was conducted in Bogor City and Bogor Regency. This study is explanatory survey research with a quantitative approach and supported by qualitative data. The data obtained is by cluster sampling with urban, semi-urban, and rural clusters on 231 respondents. Data were analyzed using the score, Difference Test, and Structural Equation Model (SEM). The results show that the participatory communication level in the urban farming program is medium, referring to the dialogue atmosphere, dialogue participation, and convergence level. The factors that significantly influence participatory communication are characteristics, champion competence, the exposure of media communication, and institutional support.Keywords: Communication, dialogue, participation, urban farmingABSTRAKUrban farming penting sebagai upaya mengatasi keterbatasan lahan dan lemahnya produktivitas dalam penyediaan pangan. Urban farming dari perspektif Komunikasi merupakan upaya pemberdayaan yang melibatkan secara langsung masyarakat dalam pelaksanaannya. Fokus penelitian ini adalah menganalisis komunikasi partisipatif wanita tani dan menganalisis faktor-faktor yang berpengaruh terhadap komunikasi partisipatif dalam pelaksanaan program urban farming. Penelitian dilakukan di Kota Bogor dan Kabupaten Bogor. Penelitian ini bersifat survey explanatory research dengan pendekatan kuantitatif dan didukung data kualitatif. Pengambilan sampel secara cluster sampling dengan klaster kelurahan yang dikelompokkan berdasarkan urban, semi urban dan rural terhadap 231 orang wanita tani. Analisa data dilakukan dengan metode skor, uji beda serta analisis structural model (SEM). Hasil penelitian menunjukkan bahwa komunikasi partisipatif wanita tani dalam program urban farming berada pada kriteria sedang yang dilihat dari suasana dialog, partisipasi dialog dan tingkat konvergensi. Faktor yang berpengaruh signifikan terhadap komunikasi partisipatif adalah pendidikan formal, luas lahan, kompetensi pemberdaya, terpaan media komunikasi, dan dukungan lembaga. Kata Kunci: Dialog, komunikasi, partisipasi, urban farming
Arifah Hidayati, Elfitra Desy Surya, Abdul Samad Arief, Achmad Daengs Gs, Jose Marco G. Reyes
Nyimak (Journal of Communication), Volume 6, pp 17-27; https://doi.org/10.31000/nyimak.v6i1.4977

Abstract:
Public relation is an important part of marketing activities that involves assessing or perceiving the general public’s attitudes and views, as well as general and specific consumers (segments), toward a company’s or product’s activities and brand policies, and then carrying out the necessary activities to create a positive image. This goal can be achieved by using suitable media to complete customer satisfaction so that skills in utilizing social media are the main thing that public relations must do. This study aims to determine the ability to use social media by entrepreneurs such as university graduates when they start working. This study uses a quantitative approach with a survey method. The population in this study is Indonesian entrepreneurs. A survey of 396 entrepreneurs was chosen as the method. The findings show that public relations and customer service are the most sought-after social media skills among university graduates, ahead of knowledge of social media content creation, strategy development, and analytics.Keywords: Social media skill, public relations, customer service, employers
ABSTRAK Humas adalah bagian penting dari kegiatan pemasaran yang melibatkan penilaian atau persepsi sikap dan pandangan masyarakat umum, serta konsumen (segmen) umum dan khusus, terhadap kegiatan perusahaan atau produk dan kebijakan merek, dan kemudian melakukan kegiatan yang diperlukan untuk menciptakan citra positif. Tujuan tersebut dapat dicapai dengan menggunakan media yang sesuai untuk melengkapi kepuasan pelanggan sehingga keterampilan dalam memanfaatkan media sosial menjadi hal utama yang harus dilakukan oleh humas. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kemampuan penggunaan media sosial oleh para pengusaha seperti lulusan universitas ketika mereka mulai bekerja. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan metode survei. Populasi dalam penelitian ini adalah pengusaha Indonesia. Sebuah survei terhadap 396 pengusaha dipilih sebagai metode. Temuan menunjukkan bahwa hubungan masyarakat dan layanan pelanggan adalah keterampilan media sosial yang paling dicari di kalangan lulusan universitas, di atas pengetahuan tentang pembuatan konten media sosial, pengembangan strategi, dan analitik. Kata Kunci: Keterampilan media sosial, hubungan masyarakat, pelayanan pelanggan, pengusaha
Ferdinand Eskol Tiar Sirait, Rati Sanjaya
Nyimak (Journal of Communication), Volume 5, pp 1-14; https://doi.org/10.31000/nyimak.v5i1.2652

Abstract:
COVID-19 has been declared as pandemic by WHO. Indonesian government late to give official statement that made public believe in hoax, rumours, gossip, even propaganda that they got from social media and passed from one group to another. As we know, too much information or shortage of information could lead to confusing messages that eventually increase public distrust towards official statement. Consequently, people resort to social media as the only source of information. As a mass-self communication channel, the credibility of information from this source is problematic. Castell’s mass-self communication made this circle become infodemic that hamstring public trust to government. In this research, we do comparative case study on how countries (China and South Korea) tackle communication problems during the pandemic. This research is significant because it could be a reference model of crisis communication strategy when the country faces a pandemic Relying on mass media analysis and literature review, we find that China’s government uses power to control information circulation while South Korea’s generates public’s participation in social media. Indonesia as a democratic country could use this experience to gain public’s trust by doing Coomb’s SCCT for crisis situation. Doing this, Indonesia is expected to be more prepared to for the crisis communication in the future.Keywords: COVID-19, infodemic, crisis communication, case study ABSTRAKCOVID-19 telah dinyatakan sebagai pandemi oleh WHO. Pemerintah Indonesia terlambat memberikan pernyataan resmi yang membuat publik percaya pada hoax, rumor, gosip, bahkan propaganda yang mereka dapatkan dari media sosial dan diteruskan dari satu kelompok ke kelompok lain. Seperti kita ketahui, informasi yang terlalu banyak atau kekurangan informasi dapat menimbulkan pesan yang membingungkan yang pada akhirnya meningkatkan ketidakpercayaan publik terhadap pernyataan resmi. Akibatnya, masyarakat menggunakan media sosial sebagai satu-satunya sumber informasi. Sebagai saluran komunikasi massa-mandiri, kredibilitas informasi dari sumber ini bermasalah. Komunikasi massa yang dilakukan Castell membuat lingkaran ini menjadi infodemik yang melemahkan kepercayaan publik kepada pemerintah. Dalam penelitian ini, kami melakukan studi kasus komparatif tentang bagaimana negara-negara (China dan Korea Selatan) menangani masalah komunikasi selama pandemi. Penelitian ini penting karena dapat menjadi model referensi strategi komunikasi krisis ketika negara menghadapi pandemi Mengandalkan analisis media massa dan tinjauan pustaka, kami menemukan bahwa pemerintah China menggunakan kekuatan untuk mengontrol peredaran informasi sementara Korea Selatan menghasilkan partisipasi publik di media sosial. Pengalaman ini bisa dimanfaatkan Indonesia sebagai negara demokrasi untuk mendapatkan kepercayaan publik dengan melakukan SCCT Coomb untuk situasi krisis. Dengan begitu, Indonesia diharapkan lebih siap menghadapi krisis komunikasi di masa mendatang.Kata Kunci: COVID-19, infodemik, komunikasi krisis, studi kasus
Henni Gusfa, Gun Gun Heryanto, Tuti Widiastuti, Rita Nurlita Setia, Yofrina Octika Gultom
Nyimak (Journal of Communication), Volume 5, pp 39-58; https://doi.org/10.31000/nyimak.v5i1.2873

Abstract:
This research examined the communicative institution of the presidential chief staff of the Republic of Indonesia during Jokowi’s administration.  The purpose of this research was to find a communicative model applied by the presidential chief staff in making public decisions. The theory used was the role of Communicative Constitutive of Organization, the management concept of bureaucracy and public office, and the rational model of public decision making.  The method used in this research was case study in which cases analyzed from policies through interview and observation, and literature study. The results of the research on decision-making processes of public policies based on national development planning in Jokowi’s Nawacita were institutional communications carried out by the Presidential Chief of Staff (PCS) in the form of monitoring, solving barriers related to bureaucracy management in communication toward public through various online media, talk shows, and news. Communication across institutions and internal communication were carried out exclusively. Based on rational decision making, the communicative model of the presidential chief of staff was one-way process providing no room for discussion or negotiation involving the community.  stakeholder external  participation in the institutional communicative model were in ministry department, non-institutional department, provincial, district, and city governments.Keywords: Model, communicative, presidential, public policy, decision makingABSTRAK Studi ini mengkaji kelembagaan komunikatif para staf Kepala Kepresidenan Republik Indonesia pada masa pemerintahan Jokowi. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui model komunikatif yang diterapkan oleh jajaran pimpinan presiden dalam pengambilan keputusan publik. Teori yang digunakan adalah peran Konstitutif Komunikatif Organisasi, konsep manajemen birokrasi dan jabatan publik, dan model rasional pengambilan keputusan publik. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah studi kasus di mana analisis kasus dari kebijakan melalui wawancara dan observasi, serta studi pustaka. Hasil penelitian proses pengambilan keputusan kebijakan publik berdasarkan perencanaan pembangunan nasional dalam Nawacita Jokowi adalah komunikasi kelembagaan yang dilakukan oleh Kepala Staf Kepresidenan (PCS) dalam bentuk pemantauan, penyelesaian hambatan terkait pengelolaan birokrasi dalam komunikasi menuju publik melalui berbagai media online, talk show, dan berita. Komunikasi lintas institusi dan komunikasi internal dilakukan secara eksklusif. Berdasarkan pengambilan keputusan yang rasional, model komunikatif Kepala Staf Kepresidenan merupakan proses satu arah yang tidak memberikan ruang untuk diskusi atau negosiasi yang melibatkan masyarakat. Partisipasi eksternal pemangku kepentingan dalam model komunikatif kelembagaan berada di departemen kementerian, departemen non-kelembagaan, pemerintah provinsi, kabupaten, dan kota. Kata Kunci: Model, komunikatif, presidensial, kebijakan publik, pengambilan keputusan
Back to Top Top