Nyimak (Journal of Communication)

Journal Information
ISSN / EISSN : 2580-3808 / 2580-3832
Published by: Journal of Government and Civil Society (10.31000)
Total articles ≅ 66
Filter:

Latest articles in this journal

Akhirul Aminulloh, Myrtati Dyah Artaria, Yuyun Wahyu Izzati Surya, Kamil Zajaczkowski
Nyimak (Journal of Communication), Volume 5, pp 135-150; https://doi.org/10.31000/nyimak.v5i1.3882

Abstract:
Presidential elections often are colored by propaganda and post-truth politics in its campaign to influence public opinion. This study aimed to identify the way and forms of propaganda and post-truth communicate political messages from the 2019 presidential election in Indonesia through political communication on social media. This research employed a mixed-methods approach that combines quantitative and qualitative methods. The quantitative data were obtained from Twitter with social network analysis (SNA) from December 2018 to March 2019. Meanwhile, the qualitative data were obtained from literature searches and expert interviews. The results of this analysis indicated that presidential candidate Jokowi was widely rumored to be a liar, claimant of success, weak leader, communist, pro-China, and anti-Islam. There were also many rumors that referred to presidential candidate Prabowo as a pro caliphate, human rights violator, person with a questionable religion, bad-tempered person, inexperienced leader, and hoax spreader. These negative issues constitute propaganda in the form of stories, rumors, and myths that were manipulated to influence public opinion on social media. Some parts of society believed them based on emotional belief instead of on rationally observed facts. We conclude that even when it involves many people in a big nation, propaganda can be manipulated to influence public opinion.Keywords: Propaganda, post-truth, social media, political communication, presidential election ABSTRAKPemilihan presiden sering kali diwarnai oleh propaganda dan politik pasca-kebenaran dalam kampanyenya untuk memengaruhi opini publik. Kami mempelajari kasus pemilihan presiden di Indonesia tahun 2019. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi bagaimana bentuk-bentuk propaganda dan post-truth mengkomunikasikan pesan politik melalui komunikasi politik di media sosial. Penelitian ini menggunakan pendekatan metode campuran, yaitu kombinasi metode kuantitatif dan kualitatif. Data kuantitatif diperoleh dari media sosial Twitter dengan analisis jejaring sosial (SNA) dari Desember 2018 hingga Maret 2019. Data kualitatif diperoleh dari penelusuran literatur dan wawancara ahli. Hasil analisis menunjukkan bahwa capres Jokowi banyak diisukan sebagai pembohong, klaim keberhasilan, pemimpin lemah, komunis, pro-China, dan anti-Islam. Banyak rumor yang menyebut calon presiden Prabowo sebagai pro khilafah, pelanggar HAM, orang yang agamanya dipertanyakan, pemarah, pemimpin yang tidak berpengalaman, dan penyebar hoax. Implikasi dari penelitian ini adalah bahwa isu-isu negatif tersebut merupakan propaganda berupa cerita, rumor, dan mitos yang dimanipulasi untuk memengaruhi opini publik di media sosial. Sebagian masyarakat percaya bahwa propaganda ini sebagai kebenaran karena didasarkan pada keyakinan emosional, bukan fakta yang diamati secara rasional. Kami menyimpulkan bahwa meskipun melibatkan banyak orang di negara besar, propaganda dapat dimanipulasi untuk memengaruhi opini publik.Kata Kunci: Propaganda, post-truth, media sosial, komunikasi politik, pemilihan presiden
Hanny Hafiar, Priyo Subekti, Yanti Setianti, Nurul Asiah
Nyimak (Journal of Communication), Volume 5, pp 117-133; https://doi.org/10.31000/nyimak.v5i1.3664

Abstract:
Limited availability of employment opportunities, making some with disabilities intend to become entrepreneurs. There are a number of research results related to disability and entrepreneurship that have been published and indexed on the Garuda portal. The publication of research results is one of the scientific communication activities. This research aims to map a number of these studies. The research method used is descriptive quantitative. Based on the results of the analysis, it is known that research related to disabilities and entrepreneurship which is published in national journals and indexed on the Garuda portal, the majority of the research content makes the disability community the subject of its study, is followed by disabled entrepreneurs and students with disabilities and makes people with disabilities, in general, the subject of their studies. followed by hearing, physical, visual and intellectual disabilities. Furthermore, there are four clusters of keywords related to the results of disability and entrepreneurial research. The first cluster of entrepreneurs is associated with training, education, ability, motivation, and finance. The second cluster of entrepreneurship is associated with skills, vocational, character, independence, and marketing. The third cluster, entrepreneurship, is associated with mentoring, empowerment, business, and community. The fourth cluster connects entrepreneurship with, welfare, accessibility, economy, and entrepreneurs.Keywords: Scientific communication, entrepreneurship, disability, research trends, concepts ABSTRAKKeterbatasan lapangan kerja, membuat sebagian disabilitas memiliki harapan untuk dapat menjadi wirausahawan. Terdapat sejumlah hasil riset terkait disabilitas dan wirausaha yang sudah dipublikasikan dan terindeks di portal Garuda sebagai salah satu aktivitas komunikasi ilmiah. Oleh karena itu riset ini bertujuan untuk melakukan pemetaan atas sejumlah riset tersebut. Metode yang digunakan adalah deskriptif kuantitatif. Berdasarkan hasil analisis dan pembahasan, diketahui bahwa riset terkait disabilitas dan wirausaha yang dipublikasikan dalam jurnal nasional dan terindeks di portal garuda, mayoritas dari isi riset menjadikan komunitas disabilitas sebagai subjek kajiannya, diikuti oleh wirausahawan disabilitas dan siswa disabilitas, serta menjadikan penyandang disabilitas secara umum sebagai subjek kajiannya, diikuti oleh disabilitas pendengaran, fisik, penglihatan dan intelektual. Selanjutnya terdapat empat klaster kata kunci terkait hasil riset disabilitas dan wirausaha. Klaster pertama wirausaha dikaitkan dengan pelatihan, pendidikan, kemampuan, motivasi, dan keuangan. Klaster kedua wirausaha dikaitkan dengan keterampilan, vokasional, karakter, mandiri dan pemasaran. Klaster ketiga, wirausaha dikaitkan dengan pendampingan, pemberdayaan, usaha dan komunitas. Adapun klaster keempat menghubungkan wirausaha dengan, kesejahteraan, aksesibilitas, ekonomi dan pengusaha.Kata Kunci: Komunikasi ilmiah, wirausaha, disabilitas, tren riset, konsep
Ferdinand Eskol Tiar Sirait, Rati Sanjaya
Nyimak (Journal of Communication), Volume 5, pp 1-14; https://doi.org/10.31000/nyimak.v5i1.2652

Abstract:
COVID-19 has been declared as pandemic by WHO. Indonesian government late to give official statement that made public believe in hoax, rumours, gossip, even propaganda that they got from social media and passed from one group to another. As we know, too much information or shortage of information could lead to confusing messages that eventually increase public distrust towards official statement. Consequently, people resort to social media as the only source of information. As a mass-self communication channel, the credibility of information from this source is problematic. Castell’s mass-self communication made this circle become infodemic that hamstring public trust to government. In this research, we do comparative case study on how countries (China and South Korea) tackle communication problems during the pandemic. This research is significant because it could be a reference model of crisis communication strategy when the country faces a pandemic Relying on mass media analysis and literature review, we find that China’s government uses power to control information circulation while South Korea’s generates public’s participation in social media. Indonesia as a democratic country could use this experience to gain public’s trust by doing Coomb’s SCCT for crisis situation. Doing this, Indonesia is expected to be more prepared to for the crisis communication in the future.Keywords: COVID-19, infodemic, crisis communication, case study ABSTRAKCOVID-19 telah dinyatakan sebagai pandemi oleh WHO. Pemerintah Indonesia terlambat memberikan pernyataan resmi yang membuat publik percaya pada hoax, rumor, gosip, bahkan propaganda yang mereka dapatkan dari media sosial dan diteruskan dari satu kelompok ke kelompok lain. Seperti kita ketahui, informasi yang terlalu banyak atau kekurangan informasi dapat menimbulkan pesan yang membingungkan yang pada akhirnya meningkatkan ketidakpercayaan publik terhadap pernyataan resmi. Akibatnya, masyarakat menggunakan media sosial sebagai satu-satunya sumber informasi. Sebagai saluran komunikasi massa-mandiri, kredibilitas informasi dari sumber ini bermasalah. Komunikasi massa yang dilakukan Castell membuat lingkaran ini menjadi infodemik yang melemahkan kepercayaan publik kepada pemerintah. Dalam penelitian ini, kami melakukan studi kasus komparatif tentang bagaimana negara-negara (China dan Korea Selatan) menangani masalah komunikasi selama pandemi. Penelitian ini penting karena dapat menjadi model referensi strategi komunikasi krisis ketika negara menghadapi pandemi Mengandalkan analisis media massa dan tinjauan pustaka, kami menemukan bahwa pemerintah China menggunakan kekuatan untuk mengontrol peredaran informasi sementara Korea Selatan menghasilkan partisipasi publik di media sosial. Pengalaman ini bisa dimanfaatkan Indonesia sebagai negara demokrasi untuk mendapatkan kepercayaan publik dengan melakukan SCCT Coomb untuk situasi krisis. Dengan begitu, Indonesia diharapkan lebih siap menghadapi krisis komunikasi di masa mendatang.Kata Kunci: COVID-19, infodemik, komunikasi krisis, studi kasus
Henni Gusfa, Gun Gun Heryanto, Tuti Widiastuti, Rita Nurlita Setia, Yofrina Octika Gultom
Nyimak (Journal of Communication), Volume 5, pp 39-58; https://doi.org/10.31000/nyimak.v5i1.2873

Abstract:
This research examined the communicative institution of the presidential chief staff of the Republic of Indonesia during Jokowi’s administration. The purpose of this research was to find a communicative model applied by the presidential chief staff in making public decisions. The theory used was the role of Communicative Constitutive of Organization, the management concept of bureaucracy and public office, and the rational model of public decision making. The method used in this research was case study in which cases analyzed from policies through interview and observation, and literature study. The results of the research on decision-making processes of public policies based on national development planning in Jokowi’s Nawacita were institutional communications carried out by the Presidential Chief of Staff (PCS) in the form of monitoring, solving barriers related to bureaucracy management in communication toward public through various online media, talk shows, and news. Communication across institutions and internal communication were carried out exclusively. Based on rational decision making, the communicative model of the presidential chief of staff was one-way process providing no room for discussion or negotiation involving the community. stakeholder external participation in the institutional communicative model were in ministry department, non-institutional department, provincial, district, and city governments.Keywords: Model, communicative, presidential, public policy, decision making ABSTRAKStudi ini mengkaji kelembagaan komunikatif para staf Kepala Kepresidenan Republik Indonesia pada masa pemerintahan Jokowi. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui model komunikatif yang diterapkan oleh jajaran pimpinan presiden dalam pengambilan keputusan publik. Teori yang digunakan adalah peran Konstitutif Komunikatif Organisasi, konsep manajemen birokrasi dan jabatan publik, dan model rasional pengambilan keputusan publik. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah studi kasus di mana analisis kasus dari kebijakan melalui wawancara dan observasi, serta studi pustaka. Hasil penelitian proses pengambilan keputusan kebijakan publik berdasarkan perencanaan pembangunan nasional dalam Nawacita Jokowi adalah komunikasi kelembagaan yang dilakukan oleh Kepala Staf Kepresidenan (PCS) dalam bentuk pemantauan, penyelesaian hambatan terkait pengelolaan birokrasi dalam komunikasi menuju publik melalui berbagai media online, talk show, dan berita. Komunikasi lintas institusi dan komunikasi internal dilakukan secara eksklusif. Berdasarkan pengambilan keputusan yang rasional, model komunikatif Kepala Staf Kepresidenan merupakan proses satu arah yang tidak memberikan ruang untuk diskusi atau negosiasi yang melibatkan masyarakat. Partisipasi eksternal pemangku kepentingan dalam model komunikatif kelembagaan berada di departemen kementerian, departemen non-kelembagaan, pemerintah provinsi, kabupaten, dan kota.Kata Kunci: Model, komunikatif, presidensial, kebijakan publik, pengambilan keputusan
Eny Ratnasari, Suwandi Sumartias, Rosnandar Romli
Nyimak (Journal of Communication), Volume 5, pp 97-116; https://doi.org/10.31000/nyimak.v5i1.3218

Abstract:
Online Gender-Based Violence (OGBV) cases in Indonesia are increasing every year. The Indonesian people have not considered the issue of OGBV as an important thing. This study aims to explore digital activism carried out by SAFEnet (Southeast Asia Freedom of Expression Network) in the “Awas KBGO!” (Beware of OGBV!) Campaign. This research is qualitative research with a case study approach. Researchers want to know the role of social media in digital activism internally (inward) and externally (outward). Data collection techniques are interviews, observation, and literature study. The research subjects were campaign makers, campaign partners, and the target audience of the campaign. The results showed that social media has an important role in digital activism in the “Awas KBGO!” (Beware of OGBV!) Campaign. After conducting the analysis, the researchers found three major themes in the digital activism research conducted by SAFEnet, such as (1) Information Sources; (2) Movement, Mobilization, and Self-Mediation; (3) Online Gender-Based Violence Victims Advocacy.Keywords: Digital activism, online movement, online gender-based violence (OGBV), social media ABSTRAKKasus Kekerasan Berbasis Gender Online (KBGO) di Indonesia naik setiap tahun. Masyarakat Indonesia pun belum menganggap isu KBGO merupakan suatu hal yang penting. Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi aktivisme digital yang dilakukan oleh SAFEnet (Southeast Asia Freedom of Expression Network) dalam kampanye “Awas KBGO!”. Penelitian ini adalah penelitian kualitatif dengan pendekatan studi kasus. Peneliti ingin mengetahui peran media sosial dalam aktivisme digital secara internal (inward) dan eksternal (outward). Teknik pengumpulan data yaitu wawancara, observasi, dan studi pustaka. Subjek penelitian adalah pembuat kampanye, mitra kampanye, dan target audiens kampanye. Hasil penelitian menunjukkan bahwa media sosial memiliki peran penting dalam aktivisme digital dalam kampanye “Awas KBGO!”. Setelah dilakukan analisis, peneliti menemukan tiga tema besar dalam penelitian aktivisme digital yang dilakukan SAFEnet dalam kampanye “Awas KBGO!” yaitu: (1) Sumber Informasi; (2) Pergerakkan, Mobilisasi, dan Self-Mediation; (3) Advokasi Korban Kekerasan Berbasis Gender Online. Kata Kunci: Aktivisme digital, gerakan siber, kekerasan berbasis gender online, media sosial
, Teguh Dwi Putranto, Charles Julian Santos Navarro
Nyimak (Journal of Communication), Volume 5, pp 151-166; https://doi.org/10.31000/nyimak.v5i1.4100

Abstract:
The coronavirus disease (COVID-19) pandemic in early 2021 is still a “big disaster” for Indonesia. The public is increasingly confused about the Government’s Vaccination program in reducing the number of COVID-19 cases in Indonesia. The development of Vaccine-related hoaxes such as safe or not, halal or not, has also become a new job faced by the Government, especially the Ministry of Health. This study aims to determine the Indonesian Ministry of Health’s performance in overcoming hoaxes against Vaccinations during the Covid-19 pandemic. The method used in this research is Krippendorff content analysis on Instagram posts of the Ministry of Health @kemenkes_ri during the period 1 January 2021 to 29 January 2021. The conclusion obtained in this study is that the Ministry of Health’s efforts in dealing with hoaxes circulating in the community regarding the Covid-19 Vaccination are by presenting health experts in providing information related to the Covid-19 Vaccine. The information conveyed is related to the quality and safety of Vaccines, to the Vaccine development process.Keywords: Performance, social media, hoax, vaccination, COVID-19 ABSTRAKPandemi penyakit coronavirus (COVID-19) di awal tahun 2021 masih menjadi “bencana besar” bagi Indonesia. Masyarakat semakin bingung dengan program vaksinasi yang dilakukan Pemerintah dalam menekan angka kasus COVID-19 di Indonesia. Berkembangnya hoaks terkait vaksin seperti aman atau tidak, halal atau tidak, juga menjadi pekerjaan baru yang dihadapi Pemerintah, khususnya Kementerian Kesehatan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kinerja Kementerian Kesehatan RI dalam mengatasi hoaks terhadap vaksinasi selama pandemi Covid-19. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis konten Krippendorff pada postingan Instagram Kementerian Kesehatan @kemenkes_ri selama periode 1 Januari 2021 hingga 29 Januari 2021. Kesimpulan yang diperoleh dalam penelitian ini adalah bahwa upaya yang dilakukan oleh Kementerian Kesehatan dalam menghadapi hoaks yang beredar di masyarakat terkait vaksinasi Covid-19 adalah dengan menghadirkan pakar kesehatan dalam memberikan informasi terkait vaksin Covid-19. Informasi yang disampaikan terkait dengan kualitas dan keamanan vaksin, hingga proses pengembangan vaksin. Kata Kunci: Kinerja, media sosial, hoaks, vaksinasi, COVID-19
Anna Gustina Zainal, Toni Wijaya, Selly Oktarina, Eko Wahyono, Pairulsyah Pairulsyah
Nyimak (Journal of Communication), Volume 5, pp 15-37; https://doi.org/10.31000/nyimak.v5i1.2871

Abstract:
This study aims to determine: (1) the level of understanding of farmers about government regulations related to KUR funds in the Agriculture sector, (2) communication patterns and behavior as well as the use of farmer media types associated with KUR management in the agricultural sector (3) the relationship between communication patterns and behavior and the use of sector is aimed at educating farmers’ independence in managing their farming so that the food security program continuously improving. This research was designed as a descriptive correlational approach using the survey method. The research targets are farmer groups participating in the KUR program in the Agriculture sector covering five sub Districts, namely: Gading Rejo, Kotaa Agung, Gisting, Talang Padang, and Semaka, in Tanggamus District. Based on the results of the research, it is known that the understanding of farmers about the procedure for applying for KUR in the agricultural sector, rights and obligations and sanctions for violations, and management of KUR funds in the agricultural sector that they get on average are in the quite good category. Besides, there are significant differences in communication patterns and behavior as well as the use of types of media, causing farmers to understand different KUR programs in the Agriculture sector. Especially in the factor of communication patterns, communication behavior, and the use of the type of media that farmers choose. The relationship between communication patterns, individual farmer characteristics, behavior, communication, and the use of media types is quite varied.Keywords: Agriculture sector, communication patterns, farmer, regulation ABSTRAKPenelitian ini bertujuan untuk mengetahui: (1) tingkat pemahaman petani tentang peraturan pemerintah terkait dana KUR di sektor Pertanian, (2) pola dan perilaku komunikasi serta penggunaan jenis media petani yang terkait dengan pengelolaan KUR di bidang pertanian. sektor (3) keterkaitan antara pola komunikasi dan perilaku dengan pemanfaatan sektor bertujuan untuk mendidik kemandirian petani dalam mengelola usahataninya sehingga program ketahanan pangan terus meningkat. Penelitian ini dirancang dengan pendekatan deskriptif korelasional dengan menggunakan metode survei. Sasaran penelitian adalah kelompok tani peserta program KUR bidang Pertanian yang meliputi lima kecamatan, yaitu: Gading Rejo, Kota Agung, Gisting, Talang Padang, dan Semaka, di Kabupaten Tanggamus. Berdasarkan hasil penelitian diketahui bahwa pemahaman petani tentang tata cara pengajuan KUR di sektor pertanian, hak dan kewajiban serta sanksi atas pelanggaran, dan pengelolaan dana KUR di sektor pertanian yang mereka dapatkan rata-rata. termasuk dalam kategori cukup baik. Selain itu terdapat perbedaan pola komunikasi dan perilaku serta penggunaan jenis media yang sangat berbeda sehingga menyebabkan petani memahami berbagai program KUR di sektor Pertanian. Terutama pada faktor pola komunikasi, perilaku komunikasi, dan penggunaan jenis media yang dipilih petani. Hubungan antara pola komunikasi, karakteristik individu petani, perilaku, komunikasi, dan penggunaan jenis media cukup bervariasi.Kata Kunci: Sektor pertanian, pola komunikasi, petani, regulasi
Lestari Nurhajati, Amanda Pramarta Putri, Xenia Angelica Wijayanto
Nyimak (Journal of Communication), Volume 5, pp 79-96; https://doi.org/10.31000/nyimak.v5i1.3160

Abstract:
Indonesia is one of the countries in Asia that has experienced a severe impact due to the COVID-19 virus. This message was conveyed by the president of Indonesia officially on March 2, 2020. The Indonesian government received various criticisms. The Indonesian people considered the government to be slow in taking a stand on this global pandemic. BNPB (National Disaster Management Agency) was then appointed as the COVID-19 Response Acceleration Task Force. As an agency engaged in disaster issues, BNPB strives to carry out the disaster mitigation process for the COVID-19 case. This study aims to determine how BNPB carries out the representation of disaster communication through Instagram @bnpb_indonesia. The disaster communication process is inseparable from disaster mitigation itself. The concept of successful disaster communication emphasizes the affected, the commitment of the leadership, communication as part of planning and operations in the field, awareness of the situation, and cooperation with the media. This study uses Barthes’s semiotic method to see how denotative, connotative, and mythical forms are formed on BNPB’s Instagram. This preliminary research shows that in general, BNPB Instagram has worked hard to fulfill its organizational profile as a representation of the foremost organization dealing with the COVID-19 disaster in Indonesia. However, in terms of successful communication, several things are not fulfilled on the existing BNPB Instagram display, especially the lack of focus on those affected.Keywords: Representation, disaster communication, covid-19, Instagram, BNPB ABSTRAKIndonesia menjadi salah satu negara di Asia yang mengalami dampak sangat serius akibat virus Covid-19. Hal ini disampaikan presiden Indonesia secara resmi pada tanggal 2 Maret 2020. Berbagai kritik dituai oleh pemerintah Indonesia, masyarakat Indonesia menganggap pemerintah lamban mengambil sikap atas pandemik global ini. BNPB (Badan Nasional Penanggulangan Bencana) kemudian ditunjuk sebagai Gugus Tugas Percepatan Penangangan Covid-19. Sebagai badan yang bergerak pada isu kebencanaan, BNPB berupaya keras melakukan proses mitigasi bencana atas kasus Covid-19. Penelitian ini bertujuan mengetahui bagaimana representasi komunikasi bencana dilakukan BNPB melalui Instagram @bnpb_indonesia. Proses komunikasi bencana tidak terpisahkan dari mitigasi bencana. Konsep keberhasilan komunikasi bencana menekankan fokus pada yang terdampak, adanya komitmen pimpinan, komunikasi sebagai bagian dari perencanaan dan operasi di lapangan, kesadaran atas situasi, serta adanya kerja sama dengan media. Penelitian ini menggunakan metodologi semiotika Barthes untuk melihat bagaimana denotatif, konotatif dan mitos terbentuk atas Instagram BNPB. Penelitian awal ini menunjukkan hasil bahwa secara umum Instagram BNPB berupaya keras memenuhi profil organisasinya sebagai representasi organisasi terdepan yang menangani bencana Covid-19 di Indonesia. Namun dari sisi keberhasilan komunikasinya, ada beberapa hal yang tidak terpenuhi pada tampilan Instagram BNPB yang ada, terutama kurang fokusnya pada yang terdampak.Kata Kunci: Representasi, komunikasi bencana, covid-19, Instagram, BNPB
Tantry Widiyanarti, Sarwititi Sarwoprasodjo, Ahmad Sihabudin, Rilus A. Kinseng
Nyimak (Journal of Communication), Volume 5, pp 59-78; https://doi.org/10.31000/nyimak.v5i1.3122

Abstract:
Manuscript digitization is an effort to preserve the content of the manuscript from damage. The content of the manuscript which contain local wisdom must be saved, because the manuscript is old and is in a concerning condition, damaged, destroyed, or even lost. Therefore, digitalization needs to be done. However, digitalization cannot be done easily, because there are cultural differences that underlie it. This study wants to see how intercultural communication is carried out during the process of digitizing a manuscript so that digitization can be carried out. This study uses a qualitative method with observation, interview, and data triangulation techniques. This research is useful to add insight and make it easier for the digitizer to digitize the manuscript if he meets a manuscript owner with a different culture than the digitizer. The result or finding is that the intercultural communication used in digitizing manuscripts uses a cultural dimension approach so that digitization can be carried out.Keywords: Manuscript digitization, power distance, uncertainty avoidance, the collectivism-short term communication ABSTRAKDigitalisasi naskah ialah upaya untuk melestarikan isi naskah dari kerusakan. Isi naskah yang berisi local wisdom harus diselamatkan,karena usia naskah sudah tua dengan kondisi yang prihatin, rusak, hancur, bahkan hilang. Karena itu digitalisasi perlu dilakukan. Namun, digitalisasi tidak dapat dilakukan dengan mudah, disebabkan ada perbedaan budaya yang mendasarinya. Penelitian ini ingin melihat bagaimana komunikasi antarbudaya yang dilakukan ketika proses digitalisasi naskah sehingga digitalisasi dapat dilakukan. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan teknik observasi, wawancara dan triangulasi data. Penelitian ini berguna menambah wawasan dan memudahkan pendigital dalam melakukan digitalisasi naskah, jika bertemu dengan pemilik naskah yang berbeda budayanya dengan pendigital. Hasil atau temuan penelitian ini adalah komunikasi antarbudaya yang digunakan dalam digitalisasi naskah menggunakan pendekatan dimensi budaya sehingga digitalisasi dapat terlaksana. Kata Kunci: Digitalisasi naskah, power distance, uncertainty avoidance, collectivism-short term orientation, low level communication
Rama Kertamukti
Nyimak (Journal of Communication), Volume 4; https://doi.org/10.31000/nyimak.v4i2.2880

Abstract:
Activity of human social life is currently mediated by internet technology. Mediation has created space in the activities of social life which previously had an activity in the body replaced by activities in cyberspace. Instagram is a technological social space in the posfenomenological dimension of cyber space. Instagram as social media mediates its user body to be shared with other users. Instagram is a mode of reduced social interaction and transcends bodily space, programmed body, identity constructed in digital form. The metrosexual man enters the Instagram room to image himself and share it with other users. This research analyzes how metrosexual man activities in consumption and presents his identity in cyberspace. This study uses a virtual ethnographic method by tracing metrosexual male Instagram accounts through the hashtag #priadewasa #ganteng. This method can explore deeper about subject interactions on Instagram. The result is identity and consumption activities in the form of fashion, the places they visit are presented making it their class that has their own tastes in activities shared on Instagram. The liquid space provided by Instagram renders de-identification. Instagram space gives a different space unlike theworld off-line. Human life is never static, the dynamics of human life are changes that can never be avoided. These changes are a process of human adaptation to the movement of the surrounding environment. One form of human adaptation is to create technology that aims to simplify and improve the quality of life. Keywords: Instagram, Metrosexual, Identity, Consumption ABSTRAKAktivitas kehidupan sosial manusia saat ini termediasi teknologi internet. Mediasi itu telah menciptakan ruang dalam aktivitas kehidupan sosial yang sebelumnya beraktivitas dalam kebertubuhan tergantikan dengan aktivitas dalam ruang siber. Instagram adalah ruang sosial teknologis yang berada dalam dimensi posfenomenologis ruang siber. Instagram sebagai media sosial memediasi tubuh penggunannya untuk dibagikan ke pengguna lain. Instagram adalah moda interaksi sosial tereduksi dan melampaui ruang kebertubuhan, tubuh terprogramkan, identitas terkonstruksi dalam wujud digital. Pria metroseksual memasuki ruang Instagram untuk mencitrakan dirinya dan dibagi ke pengguna lain. Penelitian ini menganalisa bagaimana aktivitas pria metroseksual dalam berkonsumsi dan menghadirkan identitasnya di dunia siber. Penelitian ini menggunakan metode etnografi virtual dengan menelusuri akun Instagram pria metroseksual melalui hashtag #priadewasa #ganteng. Metode ini dapat mengeksplorasi lebih dalam interaksi subjek di instagram. Hasilnya Identitas dan aktivitas konsumsi berupa fashion, tempat-tempat yang mereka kunjungi menjadikan kelas mereka memiliki selera tersendiri dalam aktivitas yang dibagikan di instagram. Ruang cair yang diberikan instagram mengarahkan de-idetifikasi. Ruang Instagram memberi ruang berbeda tidak seperti dunia off line. Kehidupan manusia tidak pernah dalam kondisi statis, dinamika kehidupan manusia merupakan perubahan yang tidak pernah bisa dihindari. Perubahan-perubahan tersebut merupakan proses adaptasi manusia terhadap pergerakan dari lingkungan sekitarnya. Salah satu bentuk adaptasi manusia adalah dengan menciptakan teknologi yang bertujuan mempermudah dan meningkatkan kualitas hidup.Kata Kunci: Instagram, Metroseksual, Identitas, Konsumsi
Back to Top Top