Jurnal Anestesi Perioperatif

Journal Information
ISSN / EISSN : 2337-7909 / 2338-8463
Published by: Jurnal Anestesi Perioperatif (JAP) (10.15851)
Total articles ≅ 244
Current Coverage
DOAJ
Archived in
SHERPA/ROMEO
Filter:

Latest articles in this journal

Uta Provinsiana Sukmara, Dedi Fitri Yadi, Odih Fahruzi
Jurnal Anestesi Perioperatif, Volume 10, pp 65-70; https://doi.org/10.15851/jap.v10n1.2674

Abstract:
Pasien dengan kelainan mata yang dilakukan vitrektomi sebagian besar geriatri dan dapat disertai beberapa komorbid, seperti hipertensi dan diabetes melitus. Serial kasus ini melaporkan dua kasus pasien dengan komorbid hipertensi dan diabetes melitus yang dilakukan tindakan vitrektomi. Tindakan anestesi blokade peribulbar dilakukan kedua pada pasien tersebut menggunakan ropivakain 0,75%. Penyuntikan dilakukan dengan pendekatan inferotemporal dan medial kantus, tercapai nilai Cicendo Akinesia Score 3 dan memfasilitasi vitrektomi tanpa komplikasi. Blokade peribulbar dengan ropivakain 0,75% dapat digunakan untuk pembedahan vitrektomi pada pasien geriatri memiliki komorbid. Peribulbar Block Using Ropivacaine 0.75% in Patients with Comorbidities Most patients with eye disorders undergoing vitrectomy are geriatric and may have several comorbidities, such as hypertension and diabetes mellitus. This case series reports two patients with hypertension and diabetes mellitus who underwent vitrectomy. Both patients received peribulbar block with 0.75% ropivacaine. Peribulbar injection was performed with an inferotemporal and medial canthus approach. The peribulbar block was successful in both patients with a Cicendo Akinesia score of 3 and facilitated uncomplicated vitrectomy. Peribulbar block using 0.75% ropivacaine can be used for uncomplicated vitrectomy in geriatric patients with comorbidities.
Marrylin Tio Simamora, Erwin Pradian, Nurita Dian Kestriani
Jurnal Anestesi Perioperatif, Volume 10, pp 50-57; https://doi.org/10.15851/jap.v10n1.2574

Abstract:
Pandemi Coronavirus disease 2019 (COVID-19) memberi dampak ke seluruh aspek, salah satunya dalam pelayanan kesehatan. Skrining praoperatif menjadi salah satu hal penting dalam persiapan dan pemilihan pasien yang akan menjalani operasi elektif di masa pandemi COVID-19. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui sensitivitas dan spesifisitas kuesioner COVID-19 yang digunakan untuk skrining pasien praoperatif di RSUP Dr. Hasan Sadikin. Penelitian dilakukan di Unit Rekam Medis RSUP dr. Hasan Sadikin Bandung pada bulan Februari 2021 hingga Maret 2021. Penelitian ini merupakan studi deskriptif retrospektif dengan desain cross sectional (potong lintang) untuk membandingkan hasil kuesioner dengan hasil PCR COVID-19 yang diambil dari data pasien praoperatif bulan Juni 2020 hingga Agustus 2020. Hasil penelitian didapatkan bahwa sensitivitas kuesioner COVID-19 untuk skrining pasien praoperatif di RSUP Dr. Hasan Sadikin sangat lemah (36,4%), sedangkan spesifisitasnya sangat kuat (97,2%). Rasio kemungkinan positif sempurna (13), sedangkan rasio kemungkinan negatif cukup (0,65). Simpulan penelitian ini kuesioner COVID-19 kurang baik bila digunakan pada populasi dengan prevalensi yang rendah, tetapi cukup baik untuk menyaring pasien yang sehat, namun masih belum dapat dijadikan sebagai alat uji diagnostik, masih membutuhkan pemeriksaan penunjang lainnya untuk mendiagnosis COVID-19.
Covid-19 Sensitivity and Specificity Questionnaire for Screening Preoperative Patients at Dr. Hasan Sadikin Hospital Bandung The 2019 Corona Virus Disease (COVID-19) pandemic impacts all aspects, one of which is health services. Preoperative screening is one of the essential things in the preparation and selection of patients who will undergo elective surgery during the COVID-19 pandemic. This study aimed to determine the sensitivity and specificity of the COVID-19 questionnaire used to screen preoperative patients at Dr. Hasan Sadikin Hospital. The study was conducted at the Medical Record Unit of Dr. Hasan Sadikin Hospital Bandung from February 2021 to March 2021. This study was a retrospective descriptive study with a cross-sectional design to compare the results of the questionnaire with the results of the COVID-19 PCR taken from preoperative patient data from June 2020 to August 2020. The results found that sensitivity in the COVID-19 questionnaire for screening preoperative patients at Dr. Hasan Sadikin Hospital was very weak (36.4%), while the specificity was very strong (97.2%). The positive likelihood ratio was perfect (13), while the negative likelihood ratio was moderate (0.65). This study concludes that the COVID-19 questionnaire is unsuitable for use in a low prevalence population but is good enough to screen healthy patients. However, it still cannot be used as a diagnostic test tool and requires other supporting tests to diagnose COVID-19.
Purwoko Purwoko, Husni Thamrin, Yuniar Rachmad
Jurnal Anestesi Perioperatif, Volume 10, pp 10-16; https://doi.org/10.15851/jap.v10n1.2461

Abstract:
Pemilihan agen hemostatis yang baik diharapkan dapat memfasilitasi hemostasis intraoperatif dan selanjutnya akan dapat memperbaiki hasil akhir pasien. Penelitian ini bertujuan mengetahui perbedaan agen hemostatik antara asam traneksamat dan etamsylate atau dengan kombinasi terhadap efek hemostatik pada kasus perdarahan yang disebabkan oleh operasi sedang. Penelitian ini merupakan uji klinis eksperimental dengan rancangan penelitian pre dan post tindakan yang terdiri dari 33 subjek yang menjalani operasi sedang. Penelitian dilakukan di RSUD Dr. Moewardi Solo selama Agustus–Oktober 2017. Setelah dilakukan randomisasi dilakukan pemeriksaan bleeding time sebelum dan sesudah tindakan yang telah diberi perlakuan 30 menit sebelum tindakan. Penelitian ini menggunakan tes analitik komparatif numerik dengan skala ordinal dilanjutkan dengan uji statistik mengunakan non parametrik Kruskal-Wallis. Selisih waktu perdarahan sebelum dengan sesudah perlakuan pada kelompok asam traneksamat mengalami penurunan rerata -0,05±0,57 menit, kelompok etamsylate mengalami penurunan rerata -0,73±1,95 menit, dan kelompok kombinasi etamsylate dan asam traneksamat mengalami penurunan rerata -1,14±2,20 menit dengan perbedaan tidak signifikan (p>0,05). Simpulan, tidak didapatkan perbedaan pemberian asam traneksamat, estamsylate dan kombinas keduanya dengan waktu perdarahan.
Effects of Tranexamic Acid, Etamsylate, and Combination with Bleeding Time Profile in Moderate Surgery The selection of an excellent hemostatic agent is expected to facilitate intraoperative hemostasis and further improve patient outcomes. This study aimed to determine the difference between hemostatic agents, tranexamic acid and etamsylate, or a combination of hemostatic effects in bleeding caused by moderate surgery. This study was an experimental clinical trial with a pre-and post-action research design consisting of 33 subjects undergoing moderate surgery. The study was conducted at Dr. Moewardi Hospital Surakarta from August to October 2017. After randomization, the bleeding time was checked before and after treatment, 30 minutes before the procedure. This study used a comparative numerical, analytical test with an ordinal scale followed by statistical tests using nonparametric Kruskal-Wallis. The difference in bleeding time before and after treatment with the tranexamic acid group decreased with a mean of -0.05 ±0.57 minutes, the etamsylate group decreased with a mean of -0.73±1.95 minutes, and the etamsylate + tranexamic combination group decreased with a mean of -1.14±2.20 minutes, p-value=0.501 (p>0.05). In conclusion, there is no difference in the hemostatic effect between tranexamic acid, etamsylate, and the combination of tranexamic acid and etamsylate.
Novie Salsabila, Ezra Oktaliansah, Radian Ahmad Halimi
Jurnal Anestesi Perioperatif, Volume 10, pp 58-64; https://doi.org/10.15851/jap.v10n1.2561

Abstract:
Postoperative sore throat (POST) merupakan salah satu komplikasi anestesi yang mengurangi kenyamanan pasien dengan angka kejadian yang cukup tinggi. Lidokain merupakan salah satu medika mentosa yang dapat digunakan untuk mencegah POST. Penelitian ini bertujuan menilai efektivitas spray lidokain pada endotracheal tube (ETT) yang dihubungkan dengan lama anestesi/intubasi pada periode Desember 2020–Februari 2021 di RSUP Dr. Hasan Sadikin Bandung. Uji klinis dilakukan terhadap 113 subjek yang terbagi menjadi 3 kelompok, yaitu dengan lama operasi 2 jam (kelompok 3). Penilaian dilakukan pada jam ke-0, 1, 6, dan 24 pascaoperasi. Analisis statistik nonparametrik menggunakan uji Kruskal Wallis dan analisis post-hoc menggunakan uji Mann Whitney. Terdapat perbedaan POST yang signifikan pada perbandingan kelompok 1 dengan 3, serta kelompok 2 dengan 3 (p0,05). Pemberian lidokain pada ETT untuk mencegah POST efektif pada lama anestesi/intubasi kurang dari 2 jam. Diperlukan modalitas lain untuk mencegah POST pada operasi dengan durasi lebih dari 2 jam. Effectiveness of Lidocaine Spray for Preventing Postoperative Sore Throat in Several Durations of Anesthesia Postoperative sore throat (POST) is a common postoperative complaint after general anesthesia, which can cause dissatisfaction and discomfort after surgery. Lidocaine is one of the drugs used to reduce or prevent POST. This study aimed to determine the effectiveness of lidocaine in preventing POST at various durations of anesthesia/intubation. The study was conducted from December 2020 to February 2021 at Dr. Hospital. Hasan Sadikin Bandung. This study enrolled 113 subjects who were divided into three groups, namely the group with a duration of anesthesia/intubation of less than 1 hour (group 1), between 1–2 hours (group 2), and the group with a duration of more than 2 hours (group 3). The postoperative sore throat was assessed immediately after the patient was extubated, 1, 6, and 24 hours post-extubation. Nonparametric statistical analysis was performed with the Kruskal Wallis test. The results showed that the severity of POST was statistically different between the groups (p<0.05). Post-hoc analysis using the Mann-Whitney test showed significant differences between groups 1 and 3 and between groups 2 and 3 (p0.05). Administration of a lidocaine spray for preventing POST is effective in an anesthetic duration of fewer than 2 hours. Other modalities may be required for an anesthesia duration of more than 2 hours.
Sugeng Budi Santosa, Bambang Novianto Putro, Irfan Tri Budhi Wardhana
Jurnal Anestesi Perioperatif, Volume 10, pp 1-9; https://doi.org/10.15851/jap.v10n1.2463

Abstract:
Post operative nausea vomiting (PONV) merupakan salah satu komplikasi tersering pascaoperatif terutama pada operasi risiko tinggi seperti operasi telinga tengah. Penelitian ini bertujuan menganalisis perbedaan efektivitas gabapentin, deksametason, dan gabapentin+deksametason dalam mencegah PONV. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental dengan pendekatan double blind randomized control trial pada 30 pasien ASA I dan II yang sudah memenuhi kriteria inklusi dan menjalani operasi telinga tengah dengan anestesi umum di Instalasi Bedah Sentral RSUD dr Moewardi Surakarta pada Maret–Mei 2019. Kelompok sampel terbagi dalam 3 kelompok, yaitu kelompok deksametason, kelompok gabapentin, dan kelompok gabapentin+deksametason. Pencatatan meliputi skala PONV (0–3) yang dinilai pada jam ke-1, 12, dan 24 pascaoperasi. Analisis statistik yang digunakan untuk uji perbedaan PONV adalah Uji Kruskal. Skala PONV pada jam ke-1, 12, dan 24 antara ketiga kelompok tidak didapatkan perbedaan signifikan (p>0,05). Simpulan, gabapentin, deksametason, dan gabapentin+deksametason tidak memiliki perbedaan efektivitas terhadap angka kejadian PONV pascaoperasi telinga tengah, akan tetapi kombinasi kedua obat tersebut memberikan hasil yang lebih baik.
Differences in Effectiveness of Gabapentin, Dexamethasone, and Gabapentin-Dexamethasone on Incidence Rate of PONV Post Middle Ear Surgery Postoperative nausea and vomiting (PONV) are among the most common complications after anesthesia, especially after high-risk PONV surgery, such as middle ear surgery. This study aimed to analyze the differences in the effectiveness of gabapentin+dexamethasone in preventing PONV post-middle ear surgery. This study was an experimental study with a double-blind, randomized controlled trial on 30 samples that met the inclusion criteria and was conducted in the Central surgical installation of Dr. Moewardi Hospital Surakarta from March to May 2019. The sample was divided into three groups receiving dexamethasone, gabapentin, or both treatments. Records included the PONV (0–3) scale, graded at 1, 12, and 24 hours postoperatively. The statistical analysis used to test for differences in PONV was the Kruskal test. There was no significant difference between the two groups on the PONV scale at 1, 12, and 24 hours (p>0.05). In conclusion, gabapentin, dexamethasone, and gabapentin+dexamethasone have no difference in effectiveness in the PONV incidence post-middle ear surgery. However, the combination of the two drugs gives better results.
Eko Setijanto, Husni Thamrin, Andi Rizki Caprianus
Jurnal Anestesi Perioperatif, Volume 10, pp 29-34; https://doi.org/10.15851/jap.v10n1.2462

Abstract:
Anestesi spinal merupakan metode yang ekonomis, aman, nyaman, dan efektif yang memberikan anestesi cepat dan dapat diandalkan. Pasien pascaoperasi dengan anestesi spinal yang dilakukan mobilisasi cepat memberikan keuntungan dibanding dengan mobilisasi setelah tirah baring 24 jam. Penelitian ini bertujuan menilai perbandingan antara pasien mobilisasi cepat dan mobilisasi lambat pada pasien pasca-anestesi spinal terhadap komplikasi neurologis yang terjadi. Penelitian dilakukan di Instalasi Bedah Sentral RSUD Dr. Moewardi Surakarta selama Juli–Agustus 2018. Penelitian ini menggunakan uji klinis acak tersamar ganda pada 30 pasien yang menjalani operasi dengan anestesi spinal yang memenuhi kriteria inklusi. Sampel dibagi menjadi 2 kelompok, yaitu kelompok yang mendapat perlakuan mobilisasi setelah efek anestesi spinal hilang dan kelompok yang mendapat perlakuan mobilisasi setelah tirah baring 24 jam. Hasil penelitian didapat tidak ada perbedaan yang signifikan komplikasi neurologis pada pasien pascaanestesi spinal yang dilakukan mobilisasi cepat dibanding dengan mobilisasi lambat dengan nilai p=0,456. Simpulan penelitian ini tidak ada perbedaan kejadian komplikasi neurologis antara pasien pascaanestesi spinal dengan mobilisasi cepat dan mobilisasi setelah tirah baring 24 jam.
Comparison of Neurological Complications between Rapid and Slow Mobilization in Spinal Anesthesia Patients Spinal anesthesia is an economical, safe, convenient, and effective method that provides fast and reliable anesthesia. Postoperative patients under spinal anesthesia who underwent rapid mobilization provided an advantage over mobilization after 24 hours of bed rest. This study aimed to compare patients' fast and slow mobilization after spinal anesthesia with neurological complication incidence at the Central Surgical Installation of Dr. Moewardi Hospital Surakarta. The study was conducted in July–August 2018. This study used a double-blind, randomized clinical trial on 30 patients undergoing surgery under spinal anesthesia who met the inclusion criteria. The sample was divided into two groups: the group that received mobilization treatment after the effects of spinal anesthesia disappeared and the group that received mobilization treatment after 24 hours of bed rest. The results showed no significant difference in neurological complications in post-spinal anesthesia patients who underwent rapid mobilization compared with slow mobilization with a p-value = 0.456. This study concludes that there is no difference in the incidence of neurological complications between post-spinal anesthesia patients with rapid and slow mobilization.
Jannatin Aliya Indrina, Indriasari Indriasari, Ardi Zulfariansyah
Jurnal Anestesi Perioperatif, Volume 10, pp 35-49; https://doi.org/10.15851/jap.v10n1.2559

Abstract:
Pengelolaan anestesi perioperatif merupakan tanggungjawab dokter anestesi yang mencerminkan mutu pelayanan di rumah sakit. Tujuan penelitian ini mengetahui angka kejadian serta karakteristik mortalitas dan morbiditas pada pengelolaan anestesi perioperatif di RSUP Dr. Hasan Sadikin Bandung tahun 2017–2019. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif observasional retrospektif terhadap rekam medis pasien yang mengalami mortalitas dan morbiditas, perioperatif. Hasil penelitian mengungkapkan angka kejadian mortalitas dan morbiditas tahun 2017–2019 sebesar 2 kasus per 1.000 tindakan anestesi. Karakteristik pasien yang mengalami mortalitas dan morbiditas yaitu pasien usia produktif, jenis kelamin wanita, IMT normal, komorbid penyakit jantung, dan status fisik ASA 3. Karakteristik pembedahan, mortalitas ditemukan lebih banyak pada operasi digestif, waktu operasi pukul 07.00–16.00, dan lama operasi ≤3 jam, sedangkan pada morbiditas ditemukan lebih banyak pada operasi obstetri-ginekologi, waktu operasi pukul 07.00–16.00, dan lama operasi ≤3 jam. Karakteristik anestesiologi, mortalitas dan morbiditas lebih banyak terjadi pada anestesi umum, lama anestesi >3 jam, dan kegagalan penanganan jalan napas. Simpulan penelitian ini adalah kejadian mortalitas dan morbiditas pada pengelolaan anestesi perioperatif dipengaruhi oleh berbagai faktor sehingga penilaian, penatalaksanaan, dan koordinasi yang baik dari berbagai bidang dapat memberikan luaran yang baik pada pasien. Incidence Rate and Characteristics of Mortality and Morbidity in Perioperative Anesthesia Management at Dr. Hasan Sadikin Hospital Bandung 2017–2019 The anesthesiologist is responsible for managing perioperative anesthesia, which reflects the quality of care in the hospital. This study aimed to determine the incidence and characteristics of cases of mortality and morbidity in the perioperative anesthesia management at Dr. Hasan Sadikin Bandung Year 2017–2019. This study was a retrospective descriptive observational study on the medical records of perioperative morbidity and mortality patients at Dr. Hasan Sadikin Hospital Bandung Year 2017–2019. The results showed that the mortality and morbidity cases in 2017–2019 were 2 cases per 1,000 anesthetic procedures. Characteristics of patients who experienced mortality and morbidity were productive age, female gender, normal BMI, comorbid heart disease, and ASA physical status 3. The characteristics of surgery in mortality cases were digestive surgery, which was performed between 07.00–16.00 and with a duration of 3 hours. The characteristics of surgery in morbidity cases were obstetric-gynecological surgery performed between 07.00–16.00 and with a duration of 3 hours of surgery. The anesthesiological characteristics in cases of mortality and morbidity were in patients with general anesthesia, duration of anesthesia >3 hours, and failure of airway management. Various factors can influence the incidence of mortality and morbidity in perioperative anesthesia management. Appropriate assessment, management, and coordination of various fields can provide good patient outcomes.
Ardana Tri Arianto, Sugeng Budi Santosa, Syarif Afif
Jurnal Anestesi Perioperatif, Volume 10, pp 17-28; https://doi.org/10.15851/jap.v10n1.2495

Abstract:
Penambahan adjuvan pada levobupivakain dapat memperkuat dan memperpanjang efek analgesia pada blok saraf tepi. Klonidin memiliki aksi yang sinergis dengan agen lokal anestesi. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui efektivitas penambahan klonidin 1 mcg/kgBB dan 2 mcg/kgBB pada scalp block sebagai analgetik kraniotomi. Penelitian dilakukan pada 30 pasien yang menjalani kraniotomi di RS Dr. Moewardi Surakarta selama periode bulan Mei–Agustus 2020 Desain penelitian yang digunakan adalah uji klinis tersamar acak ganda dengan analisis statistik menggunakan uji one-way ANOVA atau Kruskal Wallis. Subjek dibagi menjadi tiga kelompok, kelompok I: scalp block dengan levobupivakain 0,25%, kelompok II: scalp block ditambah klonidin 1 mcg/kgBB, kelompok III: scalp block ditambah klonidin 2 mcg/kgBB. Penilaian terhadap tekanan darah, MAP, laju nadi dilakukan sebelum intubasi, pemasangan pin, insisi kulit, dan insisi duramater. Hasil penlitian didapatkan perbedaan signifikan penambahan klonidin pada levobupivakain 0,25% dengan kelompok kontrol terutama pada laju nadi dan diastole. Klonidin 2 mcg/kgBB pada beberapa waktu menunjukkan perbedaan signifikan dibanding dengan penambahan dosis klonidin 1 mcg/kgBB. Simpulan, penambahan klonidin pada scalp block levobupivakain efektif menurunkan respons hemodinamik terutama laju nadi dan tekanan darah diastole Differences in Hemodynamic Response to 1 and 2 mcg/kgBW Clonidine Addition to Scalp Block Adding adjuvants to levobupivacaine can enhance and prolong the analgesic effect of peripheral nerve blocks. Clonidine has a synergistic action with local anesthetic agents. This study aimed to determine the effectiveness of adding clonidine 1 mcg/kgBW and 2 mcg/kgBW on scalp blocks as craniotomy analgesics. The study included 30 patients who underwent a craniotomy at Dr. Moewardi Hospital Surakarta in May-August 2020. The study design was a double-blind, randomized clinical trial with statistical analysis using one-way ANOVA or Kruskal Wallis trials. Subjects were divided into three groups: group I, scalp block with 0.25% levobupivacaine; group II, scalp block plus clonidine 1 mcg/kgBW; and group III, scalp block plus clonidine 2 mcg/kgBW. Assessment of blood pressure, MAP, and pulse rate was performed before intubation, pin placement, skin incision, and dura mater incision. The study results showed a significant difference in adding clonidine to 0.25% levobupivacaine with the control group, especially in the pulse rate and diastole. Clonidine 2 mcg/kgBW several times showed a significant difference compared to adding a dose of 1 mcg/kgBW clonidine. In conclusion, adding clonidine to levobupivacaine scalp block effectively reduces hemodynamic responses, especially pulse rate and diastolic blood pressure.
Jansen Laory, Rudi Kurniadi Kadarsah, Indriasari Indriasari
Jurnal Anestesi Perioperatif, Volume 9, pp 174-181; https://doi.org/10.15851/jap.v9n3.2549

Abstract:
Postoperative sore throat (POST) setelah anestesi umum dengan pemasangan pipa endotrakea merupakan komplikasi yang sering terjadi dan tidak diinginkan. Angka kejadian nyeri tenggorok pascaoperasi setelah pemasangan pipa endotrakea adalah 6–76%. Penelitian ini bertujuan membandingkan efek kombinasi parasetamol dan deksametason dengan deksametason tunggal untuk mengurangi angka kejadian POST pada pasien setelah anestesi umum. Penelitian ini merupakan eksperimental dengan melakukan uji klinis rancangan acak lengkap terkontrol buta ganda. Penelitian dilakukan di RSUP Dr. Hasan Sadikin bulan Januari–April 2021. Total 92 pasien yang dijadwalkan operasi elektif dibagi secara acak menjadi 2 kelompok. Kelompok deksametason dan parasetamol (n=46) diberikan deksametason 10 mg dan parasetamol 1.000 mg intravena. Kelompok deksametason (n=46) diberikan deksametason 10 mg intravena dan plasebo. Pada penelitian ini, derajat POST dipantau. Angka kejadian POST didapatkan lebih rendah pada kelompok kombinasi deksametason dan parasetamol dibanding dengan kelompok deksametason dan plasebo pada jam ke-0, 1, dan 6 (p=0,0001, p=0,001, dan p=0,0001). Simpulan penelitian ini adalah kombinasi deksametason parasetamol lebih baik dibanding dengan deksametason tunggal dalam menurunkan angka kejadian POST anestesi umum. Comparison of Combined Paracetamol and Dexamethasone with Preoperative Dexamethasone for Reducing Sore Throat Post General Anesthesia Postoperative sore throat (POST) following general anesthesia with endotracheal tube insertion is a common and undesirable complication. The incidence of postoperative sore throat after insertion of an endotracheal tube is 6–76%. This study aimed to compare the effect of combined paracetamol and dexamethasone with single-dose dexamethasone to reduce POST incidence in patients after general anesthesia. This experimental study conducted a double-blind, complete randomized controlled clinical trial at RSUP Dr. Hasan Sadikin Bandung during January–April 2021 Ninety-two patients scheduled for elective surgery were randomly assigned to two groups. The dexamethasone and aracetamol group (n=46) were given dexamethasone 10 mg and paracetamol 1000 mg intravenously. Dexamethasone group (n=46) was given dexamethasone 10 mg intravenously and placebo. In this study, the degree of POST was monitored. Results showed that the incidence of POST was lower in the dexamethasone and paracetamol combination group than in the dexamethasone and placebo group at 0, 1, and 6 hours (p=0.0001, p=0.001, and p=0.0001). This study concludes that the combination of dexamethasone paracetamol is better than single-dose dexamethasone in reducing the incidence of POST general anesthesia.
Ristiawan Muji Laksono, Fakultas Kedokteran Departemen Anestesiologi Dan Terapi Intensif, Isngadi Isngadi, Yudi Hadinata, Karmini Yupono, Ruddi Hartono, Djudjuk Rahmad Basuki
Jurnal Anestesi Perioperatif, Volume 9, pp 135-141; https://doi.org/10.15851/jap.v9n3.2382

Abstract:
Propofol merupakan jenis obat induksi intravena yang paling sering digunakan dalam pembiusan umum, namun dapat menimbulkan rasa nyeri pada lokasi injeksi. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui perbandingan persentase nyeri pascainjeksi propofol setelah premedikasi lidokain dengan perlakuan torniket selama satu menit dan teknik campuran lidokain fropofol. Penelitian ini merupakan uji klinis tersamar tunggal bersifat eksperimental. Penelitian dilaksanakan di RSUD Dr. Saiful Anwar pada April–Mei 2013. Subjek penelitian adalah 50 pasien yang dibagi menjadi dua kelompok secara acak. Kelompok A (n=25) mendapat perlakuan campuran 40 mg lidokain dalam propofol intravena (i.v.). Kelompok B (n=25) mendapat perlakuan lidokain 40 mg (i.v.) dengan perlakuan torniket selama satu menit, diikuti injeksi propofol. Derajat nyeri diukur menggunakan Verbal Rating Score. Hasil pengukuran dianalisis statistik dengan uji normalitas, homogenitas, dan Mann Whitney menggunakan software SPSS (versi 18, IBM Statistic, USA). Pemberian lidokain dengan perlakuan torniket signifikan dapat merunkan detajat nyeri lebih baik (24/25 tidak nyeri, 1/25 nyeri) dibanding dengan kelompok campuran lodokain dan propofol (10/25 tidak nyeri, 11/25 nyeri ringan, 4/25 nyeri sedang) (p=0,000). Premedikasi lidokain dengan perlakuan torniket lebih baik dalam menurunkan derajat nyeri dibanding dengan pemberian campuran lidokain dan propofol. Premedication Using Lidocaine with Tourniquet Technique is Superior to Combining Lidocaine and Propofol to Prevent Propofol Injection Pain Propofol is one of the most used intravenous induction drugs in general anesthesia, but it produces pain at the injection site. This study aimed to compare the post-propofol injection pain after premedication using lidocaine with the tourniquet technique and a mixture of lidocaine in propofol. This study was a single-blind, experimental clinical trial conducted from April to May 2013. The study's subject was 50 patients divided into two groups. Group A (n=25) received a mixture of 40 mg lidocaine in propofol intravenously (i.v.). Group B (n=25) received 40 mg lidocaine (i.v) with a tourniquet technique for one minute, followed by propofol injection. The degree of pain is measured using the Verbal Rating Score. The results were statistically analyzed using the normality, homogeneity, Mann-Whitney test using SPSS (version 18, IBM Statistic, USA) software. The administration of lidocaine with the tourniquet technique was significantly better in reducing the pain levels (24/25 painless, 1/25 mild pain) compared to the mixture of lidocaine in the propofol group (10/25painless, 11/25 mild pain, 4/25 moderate pain) (p= 0,000). The premedication of lidocaine with the tourniquet technique significantly produces lower pain levels than the mixture of lidocaine in propofol. Premedication of lidocaine with a tourniquet technique can prevent pain after injecting propofol.
Back to Top Top