Profetik: Jurnal Komunikasi

Journal Information
ISSN / EISSN : 1979-2522 / 2549-0168
Current Publisher: Profetik: Jurnal Komunikasi (10.14421)
Total articles ≅ 82
Current Coverage
DOAJ
Filter:

Latest articles in this journal

Rieka Mustika, Bambang Mudjiyanto
Profetik: Jurnal Komunikasi, Volume 13, pp 87-101; doi:10.14421/pjk.v13i1.1832

Abstract:
Abstrak. Penelitian ini bertujuan mendapatkan gambaran mengenai efikasi diri peserta Jambore ICT Tahun 2016 dan 2017 penyandang disabilitas dalam pemanfaatan teknologi informasi dan komunikasi. Beberapa aspek yang dihadapi penyandang disabilitas saat ini antara lain: kesulitan melihat, kesulitan mendengar, kesulitan berjalan/naik tangga, kesulitan menggunakan/menggerakkan tangan/jari, kesulitan dalam hal mengingat atau berkonsentrasi, gangguan perilaku dan/atau emosional, kesulitan/gangguan berbicara dan/atau memahami/berkomunikasi dengan orang lain, dan kesulitan mengurus diri. Penyandang disabilitas sebagai sumber daya manusia seharusnya dikembangkan potensi dan kelebihan dirinya. Dengan pemanfaatan ICT sebagai enabler diharapkan dapat meningkatkan efikasi diri para peserta Jambore penyandang disabilitas untuk hidup mandiri di dunia kerja. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif untuk mendapatkan mengenai self efficacy pada penyandang disabilitas yang mengikuti Jambore ICT. Pengumpulan data lapangan berlangsung dari tanggal 30 Juli 2018 s/d 3 Agustus 2018, Kota Jayapura, Provinsi Papua. Subyek penelitian individu, dengan key informan dan informan ditarik melalui snowball sampling. Keikutsertaan pelatihan ICT disabilitas (tunarungu, tunadaksa, dan tunanetra) dalam Jambore ICT Tahun 2016 dan 2017 dapat meningkatkan keyakinan atas kemampuan dirinya memasuki dunia kerja, mensosialisasikan kepada saudara, teman dan masyaraakat serta dapat menumbuhkan keyakinan dalam tentukan kesulitan, seperti pengoperasian software dan hardware ICT. Pemisahan jenis dan klasifikasi disabilitas dengan jumlah siswa pelatihan dalam satu kelas yang standar akan mempermudah penerimaan materi pelatihan Jambore ICT. This study aims to get a picture of the self-efficacy of ICT participants in 2016 and 2017 with disabilities in the use of information and communication technology. Some aspects faced by persons with disabilities today include: difficulty seeing, difficulty in hearing, difficulty walking / climbing stairs, difficulty using / moving hands / fingers, difficulty in remembering or concentrating, behavioral and / or emotional disturbances, difficulty in speaking and / or understand / communicate with others, and have difficulty taking care of yourself. Persons with disabilities as human resources should develop their potential and strengths. The use of ICT as an enabler is expected to increase the self-efficacy of Jamboree participants with disabilities to live independently in the world of work. This study uses a qualitative descriptive method to obtain self efficacy in persons with disabilities who take the ICT Jamboree. Field data collection took place from 30 July 2018 to 3 August 2018, Jayapura City, Papua Province. Individual research subjects, with key informants and informants drawn through snowball sampling. The participation of ICT disability training (deaf, deaf, and blind) in the 2016 and 2017 ICT Jamboree can increase confidence in her ability to enter the workforce, socialize with relatives, friends and communities and can foster confidence in determining difficulties, such as the operation of ICT software and hardware. Separation of types and classifications of disability with the number of training students in a standard class will facilitate the reception of ICT Jambore training materials.
Abdul Basit, Muji Prabella
Profetik: Jurnal Komunikasi, Volume 13, pp 168-183; doi:10.14421/pjk.v13i1.1963

Abstract:
Abstrak. Perkembangan era digital saat ini telah memperlihatkan transformasi nyata dari perubahan ruang periklanan. Iklan dalam bentuk film telah menjadi bagian dari media massa sebagai salah satu media representasi yang merupakan cerminan dari masyarakat. Bukalapak melalui YouTube, membalut makna feminisme dalam kemasan film AFTER 11 yang sekaligus merupakan iklan untuk membangun pandangan agar masyarakat lebih berdaya. Dengan memperlihatkan figur perempuan seorang ibu yang tidak hanya berkiprah di ranah domestik, namun dapat melakukan aktifitas ataupun pekerjaan yang bersifat maskulin. Karakter perempuan yang menyadari kebebasannya membuat menarik untuk menguak dan menelitinya dari sisi feminisme, dengan menggunakan analisis semiotika Roland Barthes yang memaparkan denotasi, konotasi dan mitos. Kesimpulan dari penelitian ini menunjukan bahwa ada ideologi feminisme yang ingin dibawa oleh Bukalapak melalui media iklan dalam film AFTER 11, bahwa perempuan saat ini dapat beraktifitas sebebas-bebasnya tanpa perlu khawatir dan mampu berperan ganda dalam memenuhi kebutuhan anaknya, selain itu juga Bukalapak ingin mendobrak stereotip menjadi pengusaha harus dengan modal yang besar dan biasanya hal ini hanya dapat dilakukan oleh kaum kapitalis, namun dengan Bukalapak, UKM atau individu, ataupun hanya seorang ibu rumah tangga, dapat berdaya dan tangguh. The development of the digital era today has shown a real transformation of the changing advertising space. Advertising in the form of films has become part of the mass media as one of the media representations that are a reflection of society. Bukalapak through YouTube, wrapped the meaning of feminism in the AFTER 11 film packaging which is also an advertisement to broaden views so that people are more empowered. By showing a female figure as a mother who not only takes part in the domestic sphere, but also carry out activities or jobs that are masculine. The character of women who realize their freedom makes it interesting to uncover and examine it from the side of feminism, using Roland Barthes's semiotic analysis which presents denotations, connotations and myths. The conclusion of this study shows that there is an ideology of feminism that Bukalapak wants to bring through the advertising media in the film AFTER 11, that women today can work as freely as possible without worrying and being able to play a dual role in meeting their children's needs, besides that Bukalapak also wants to break stereotypes being an entrepreneur must be with big capital and usually this can only be done by the capitalists, but with Bukalapak, UKM or individual, or just a housewife, can be empowered and resilient.
Fibriyani Nur Aliya
Profetik: Jurnal Komunikasi, Volume 13, pp 43-59; doi:10.14421/pjk.v13i1.1893

Abstract:
Abstrak. Personal branding seorang eksekutif merupakan proses menjaga identitas, reputasi, dan citra publik seseorang. Mantan Ketua Umum PSSI, Edy Rahmayadi, menerima petisi online yang memaksanya mundur. Petisi online tersebut dipicu oleh maraknya pemberitaan di media massa dan media sosial. Meme kontroversial yang dibuat oleh Edy menanggapi pertanyaan jurnalis dibuat dan disebarluaskan di internet. Diketahui bahwa pengguna internet didominasi oleh pengguna internet. Berdasarkan hal tersebut, maka penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor personal branding Edy Rahmayadi dalam pandangan kaum milenial sebagai pengguna internet dan media sosial terbesar. Variabel origin yang digunakan dalam penelitian ini. adalah Authentic Personal Branding variable. Hasil penelitian menunjukkan empat faktor baru terbentuk, yaitu Mampu menjelaskan sebelas faktor asal dan faktor personal branding pembentuk Edy Rahmayadi, Faktor pertama adalah Faktor Keunggulan, faktor kedua adalah Faktor Inovasi, Faktor ketiga adalah Faktor Pakar, dan Faktor keempat adalah Keunikan. Faktor yang menjelaskan variabel asal adalah faktor keunggulan. An executive's personal branding is the process of maintaining one's identity, reputation and public image. Former PSSI Chairperson, Edy Rahmayadi, received an online petition that forced him to resign. This is happened when he handled the crisis that occurred in the PSSI organization. The online petition was triggered by the rise of news coverage on him in the mass media and social media. The controversial memes made by Edy in response to journalists' questions were made and disseminated on the internet. It is known that internet users are dominated by millennial generation, where this is directly proportional to social media users. Based on this, this study aims to analyze Edy Rahmayadi's personal branding factors in the view of millennials, as the biggest internet and social media user. The origin variable uses in this study is the Authentic Personal Branding variables. The results shows four new factors formed, which are able to explain eleven origin factors and the personal branding factors forming Edy Rahmayadi. The first factor is the Excellence Factor, the second factor is the Innovation Factor, the third Factor is the Expert Factor, and the fourth Factor is Uniqueness. The most dominant factor explaining the origin variable is the excellence factor.
Wayan Weda Dewi, Dian Tamitiadini, Ika Rizki Yustisia
Profetik: Jurnal Komunikasi, Volume 13, pp 138-154; doi:10.14421/pjk.v13i1.1711

Abstract:
Studies of environmental issues in Indonesia are still minim. Eventhough, Indonesia has many serious problem related to environmental issue. One of them is listed as the second largest constibutor of plastic waste in Asia. Piles of plastic waste cause various problems such as sea water pollution and decreased quality of human life. In order to reduce the negative impact of this plastic waste pile, of course good synergy between various parties including the Government, the community and business actors is needed. Bali is one of the province that commited to reducing the consumption of disposable plastics by implementing a pro-environment policy related to limiting the consumption of plastic bags. Using descriptive qualitative method, this research focusing on indetifying stages of social change using the concept of stages approach to the strategy of reducing plastic consumption, especially in Bali Province. This research is directed at literacy efforts in the community and business actors regarding the impact of the use of disposable plastics (PSP) as well as social intervention efforts through the preparation of pro-environment campaign models in reducing plastic consumption. In addition, the focus of the research also wants to see the extent to which stages of change have been achieved on the part of consumers and businesses in Bali. This model can be used as a basis for the Bali provincial government in formulating policies related to the use of plastics which are harmful to the environment.Abstrak. Kajian mengenai isu lingkungan dalam perspektif komunikasi lingkungan masih minim di Indonesia. Padahal Indonesia memiliki sejumlah permasalahan serius terkait isu lingkungan, salah satunya tercatat sebagai negara ke-dua terbesar penyumbang limbah plastik di level Asia. Timbunan sampah plastik menimbulkan berbagai permasalahan seperti pencemaran air laut dan menurunnya kualitas hidup manusia. Guna mengurangi dampak negatif timbunan sampah plastik ini tentunya diperlukan sinergi yang baik antar berbagai pihak di antaranya Pemerintah, masyarakat, dan juga pelaku usaha. Provinsi Bali menjadi salah satu provinsi yang berkomitmen terhadap pengurangan konsumsi plastik sekali pakai dengan jalan menerapkan kebijakan pro lingkungan terkait pembatasan konsumsi kantong plastik bagi pelaku usaha. Menggunakan metode penelitian kualitatif deskriptif, penelitian ini berfokus pada identifikasi tahapan perubahan sosial menggunakan pendekatan konsep stages of change dalam strategi pengurangan konsumsi plastik khususnya di Provinsi Bali. Penelitian ini diarahkan pada upaya literasi pada masyarakat dan pelaku usaha mengenai dampak penggunaan plastik sekali pakai (PSP) serta upaya intervensi sosial melalui penyusunan model kampanye pro lingkungan dalam mengurangi konsumsi plastik. Selain itu, fokus penelitian juga ingin melihat sejauh mana tahapan perubahan perilaku (stages of change) telah dicapai di sisi konsumen dan pelaku usaha di Bali. Model ini dapat dijadikan landasan bagi pemerintah Provinsi Bali dalam menyusun kebijakan terkait penggunaan plastik yang berbahaya bagi lingkungan.
Mohamad Hasan As'adi
Profetik: Jurnal Komunikasi, Volume 13, pp 60-73; doi:10.14421/pjk.v13i1.1685

Abstract:
Abstrak. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui Iklim komunikasi organisasi di dalam Lembaga Sarana Prasarana di Yayasan Pondok Pesantren Wahid Hasyim Yogyakarta. Iklim komunikasi organisasi yang baik sangat penting dalam sebuah organisasi. Dengan berjalannya iklim komunikasi organisasi kredibilitas dan kemajuan organisasi dapat tercapai. Iklim komunikasi di suatu organisasi berbeda dengan organisasi yang lainnya dari suasana atau atmosfer organisasinya. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian kualitatif deskriptif. Penelitian mengungkap berbagai informasi kualitatif dengan deskripsi-analisis yang di teliti dan penuh makna. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa iklim komunikasi organisasi yang ada di lembaga sarana prasarana adalah iklim sosial yang terbentuk saling mendukung meskipun dalam pelaksanaan komunikasi belum berjalan secara maksimal. Komunikasi yang kurang maksimal tersebut menyebabkan informasi yang penting tidak didapatkan oleh seluruh anggota kelompok akan tetapi hanya segelintir anggota. Dampak yang paling berpengaruh akibat komunikasi yang tidak sehat adalah beban organisasi hanya bertumpu pada segelintir orang dan timbulnya sikap acuh terhadap pekerjaan anggota organisasi. Perkembangan informasi yang dinamis setiap harinya seharusnya dapat di bagikan melalui media sosial. Beberapa faktor yang mempengaruhi buruknya komunikasi antara lain, kurangnya kepercayaan antar anggota organisasi, kurangnya tanggung jawab, dan perubahan informasi yang terlalu dinamis. Upaya yang dilakukan untuk memperbaiki komunikasi dalam organisasi ini adalah dengan memberikan kepercayaan, tanggung jawab, dan membagikan informasi dengan teratur. The research aims at finding the communication climate of an organization in the Department of Infrastructures and Facilities of Wahid Hasyim Islamic Boarding School Yogyakarta. A pleasant communication climate of an organization is significant. A communication climate of an organization that works well will help it to achieve credibility and development. Communication climate, atmosphere, and environment, in one organization, are different from another. The method used in this research is descriptive qualitative research. This research explains various qualitative data with a careful and meaningful description analysis. This research shows that organizations' communication climate in the Department of Infrastructures and Facilities is supported by social climate. Although in the case of communication, there is still room for improvement. Since the lack of communication, some information might not access by all of the group members. The lack of communication can result in uneven workloads and lack of member responsibilities. Dynamic information changes should share via social media. Some factors that can affect poor communication are lack of trust between members, lack of responsibilities, and information changes that are too dynamic. Researchers found that giving trust, being responsible, and regularly sharing information can improve communication.
Svaradiva Anurdea Devi, Pinckey Triputra
Profetik: Jurnal Komunikasi, Volume 13, pp 102-116; doi:10.14421/pjk.v13i1.1900

Abstract:
Abstrak. Akhir-akhir ini popularitas penggunaan konten blog berbayar sebagai salah satu marketing konten digital meningkat. Para peneliti menemukan bahwa terdapat lebih dari 180 blogger Indonesia yang menawarkan layanan blogger di platform sociabuzz.com per 2019. Pengguna internet sering merujuk pada review produk di blog sebelum membeli produk. Fenomena ini disadari oleh praktisi humas yang menggunakan blog sebagai cara untuk memasarkan produk mereka. Namun, belum ada penelitian terkait penerapan etika blog kepada pembuat konten blog berbayar di Indonesia. Penelitian ini berupaya menganalisis penerapan etika blogger dalam proses pembuatan konten menggunakan empat prinsip etika blogger oleh Cenite dkk. (2009) sebagai unit analisis untuk penelitian ini. Penelitian ini menganalisis pengetahuan blogger akan etika blogger dengan mewawancarai dua pemimpin komunitas blogger di Indonesia dan mengamati cara mereka menulis blog konten berbayar dan konten tidak berbayar. Peneliti mewawancarai mereka tentang proses pembuatan konten, proses verifikasi data, dan empat prinsip etika blogger, yaitu atribusi, akuntabilitas, meminimalkan bahaya, dan pengungkapan kebenaran. Peneliti menemukan bahwa atribusi dianggap penting oleh kedua narasumber, dan proses pengungkapan kebenaran dihindari dalam membuat konten berbayar. Disimpulkan bahwa kedua informan menerapkan standar ganda antara konten berbayar dan tidak berbayar. Lately, the popularity of using blog paid-content as one of digital content marketing has risen. Researchers found that there were more than 180 Indonesian bloggers offering blogger services on the sociabuzz.com platform per 2019. Internet users often refer to a product review on a blog before buying products. This phenomenon was realized by public relations practitioners in which using blogs as a way to market their products. However, there has been no research related to the application of blog ethics to the paid blog content creators in Indonesia. This research attempts to analyze the application of ethics as a blogger in the process of content creation using the four ethical principles of bloggers by Cenite et al. (2009) as the unit of analysis for this study. This research analyzed the awareness of bloggers about the ethics of bloggers by interviewing two leaders of the blogger community in Indonesia and observed the way they write a paid-content and non-paid-content blog. Researchers interviewed them about the process of creating content, the data verification process, and the four blogger ethical principles, namely attribution, accountability, minimizing danger, and truth-telling. Researchers found that attribution was considered important by the two speakers, and the truth-disclosure process was avoided in making paid content. It is concluded that both informants applied a double standard between paid and non-paid content.
Mutia Rahmi Pratiwi, Naiza Rosalia, Fibriyani Nur Aliya
Profetik: Jurnal Komunikasi, Volume 13, pp 117-137; doi:10.14421/pjk.v13i1.1723

Abstract:
Abstrak. Universitas Dian Nuswantoro (Udinus) sebagai Universitas Terbaik ketiga Nasional memiliki Visi “The Top Priority University to be Chosen in education and Enterpreneurship”. Visi ini diimplementasikan melalui pemberian mata kuliah kewirausahaan. Indikator keberhasilan sekaligus indikator prestasi mata kuliah yang diberikan, dapat dilihat melalui jumlah lulusan yang menjadi wirausaha, yaitu sejumlah 165 sejak tahun 2011. Berdasar data tersebut, dapat dikatakan bahwa lulusan yang menjadi wirausaha masih sangat sedikit. Diketahui bahwa pencapaian prestasi sangat dipengaruhi oleh lingkungan belajar yang mendukung, terutama pada saat terjadi interaksi komunikasi antar personal Dosen dan Mahasiswa. Berdasar hal tersebut, penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor Komunikasi Antar Pribadi yang mampu meningkatkan lingkungan belajar yang mendukung di Universitas Dian Nuswantoro. Metode penelitian yang digunakan adalah analisis faktor, dengan dua belas variabel asal. Adapun dua belas faktor tersebut antara lain, toleransi, kesempatan yang seimbang, sikap menghargai, sikap mendukung, sikap terbuka, pemilikan informasi, kepercayaan, keakraban, kesejajaran, control dan pengawasan, respon, dan suasana emosional. Hasil penelitian menunjukkan sepuluh faktor baru yang terbentuk yaitu perhatian, timbal balik, akurasi, kolaborasi, pengertian, kejelasan, kejujuran, keintiman, keikhlasan, kesetiaan. Faktor yang paling dominan adalah faktor perhatian. Berdasar hasil penelitian, disarankan kepada pengajar untuk dapat menerapkan kesepuluh faktor dalam pembelajaran mata kuliah yang termasuk dalam turunan kewirausahaan, terlebih faktor perhatian. Penerapan faktor-faktor ini dalam pembelajaran mata kuliah kewirausahaan diharapkan mampu membentuk lingkungan belajar yang mendukung dan mampu meningkatkan motivasi untuk berwirausaha. Konteks tentang pengaruh faktor komunikasi antar personal dalam pembelajaran terhadap motivasi berwirausaha dapat dikaji pada penelitian selanjutnya. Dian Nuswantoro University (Udinus) as the third best National University, has a vision "The Top Priority University to be Chosen in Education and Entrepreneurship". This vision is implemented through the provision of entrepreneurship courses. Indicators of success as well as indicators of achievement given courses, can be seen through the number of graduates who become entrepreneurs, which is a number of 165 since 2011. Based on these data, it can be said that graduates who become entrepreneurs are very few. It is known that achievement is greatly influenced by a supportive learning environment, especially when communication interactions occur between lecturers and students. This study aims to determine the factors of Interpersonal Communication that can improve the supportive learning environment at Dian Nuswantoro University. The research method used was factor analysis, with twelve origin variables. They are, tolerance, balanced opportunities, respect, support, openness, ownership of information, trust, intimacy, alignment, control and supervision, response, and emotional atmosphere. The results showed ten new factors formed namely attention, reciprocity, accuracy, collaboration, understanding, clarity, honesty, intimacy, sincerity, and loyalty. The most dominant factor is attention. Based on the results of the study, it is advisable for instructors to be able to apply the ten factors in learning subjects included in entrepreneurship, especially attention factors. The application of these factors in learning entrepreneurship courses is expected to form a supportive learning environment and be able to increase motivation for entrepreneurship. The context of the influence of interpersonal communication factors in learning on entrepreneurial motivation can be examined in furtherresearch
Joko Sutarso
Profetik: Jurnal Komunikasi, Volume 13, pp 74-86; doi:10.14421/pjk.v13i1.1742

Abstract:
Abstrak. Penggunaan media sosial semakin meningkat dari tahun ke tahun, namun demikian tidak semua konten media sosial memiliki sisi positif. Beberapa dampak negatif penggunaan media sosial seperti penyebaran berita bohong (hoax), ujaran kebencian (hate speech), perundungan (cyberbullying) dan konten negatiflainnya merupakan bentuk-bentuk penyalahgunaan media sosial menjadi keprihatinan masyarakat karena telah memasuki ranah sosial, politik, ekonomi dan bahkan keagamaan. Hal ini tidak terlepas dari kapitalisasi koorporasi media sosial yang terus berkembang dengan terpaan yang semakin meluas melintasi batas negara dan bangsa, masuk dalam kehidupan berbagai generasi, strata sosial ekonomi, tingkat pendidikan dan latar belakang pendidikan serta pengalaman. Metode yang digunakan dalam tulisan ini adalah teoritis kualitatif yang didasarkan pada pengamatan terhadap isi media sosial dan kajian teoritis yang berusaha menjelaskan pengaruh isi media terhadap perilaku masyarakat dalam bermedia sebagai bahan pengayaan (enrichment) bagi kegiatan literasi media sosial di kalangan masyarakat bagi para pegiat literasi. Penjelasan teoritis yang dipakai meliputi aspek positif dan negatif dilihat dari aspek sosial, politik, psikologi, pendidikan dan kebudayaan. Hasilnya konten budaya lokal memiliki peluang mengisi konten dalam ruang media sosial dan konten budaya lokal yang selektif, kreatif, edukatif, dan sekaligus menghibur dapat digunakan untuk meminimalkan dampak negatif globalisasi dan kapitalisme media sosial. Manfaat lain dari sosialisasi dari promosi budaya lokal di media sosial adalah untuk meningkatkan integrasi masyarakat karena didalamnya terdapat nilai-nilai kearifan lokal yang memiliki nilai bersifat nasional bahkan universal. Social media uses have been increasing from year to year. However, not all social media content has a positive side. Some negative effects of social media from hoaxes, hate speech, cyberbullying to other negative content are the forms of abuse of social media. It is concern to the public because these have entered the social, political, economic and religious spheres. It is definitely inseparable from the capitalization of a social media corporation. It has been developing with increasingly widespread exposure across national borders, and it has been entering into the lives of various generations, socio-economic strata, education levels and educational backgrounds and experiences as well. The research method used in this research was a qualitative theoretical approach based on observations of social media content and theoretical studies. It aims at seeking to explain the influence of media content on people's behavior in their media use as the enrichment material for social media literacy activities in society for literacy activists. The theoretical explanations used in this research include positive and negative aspects. In this matter the social, political, psychological, educational and cultural perspectives will see the aspects. Moreover, the research results show that local cultural content has the opportunity to fill content in the social media space. Selective, creative, educative, and entertaining local cultural content can be used to minimize the negative effects of globalization and social media capitalism. Another benefit of socialization of local culture promotion on social media is to increase social integration because in the local culture there are local wisdom values and national or universal values as well.
Florenzia Shafira Esmeralda Riswanto, Anindita Alifiani Prianto, Alexander Mamby Aruan
Profetik: Jurnal Komunikasi, Volume 13, pp 25-42; doi:10.14421/pjk.v13i1.1759

Abstract:
The rapid development of skateboarding in Indonesia serves as a business opportunity for local entrepreneurs. Although the skateboard market in Indonesia is classified as a segmented market, but it is still a promising business. Local skateboarding shoes brand developed quite rapidly along with the development of skateboarding sports in Indonesia, this is portrayed by the high level of enthusiasm by the society who starting to play skateboard, the high amount of local skateboarding communities appears in Jabodetabek area and plentiful skateboarding events and competitions. The result of this research shows that there has been a lot of skateboarding competition in Indonesia which has been used as a communication strategy. Competitions are considered good and effective for local skateboarding shoes brand to increase engagement as a form of brand awareness, because they can take part either as the supporting element or as the skateboarding competition organizer. Besides, it also can bring a positive impression to the brands itself. In addition, the competitions held offline needs to be supported by online activities and the source includes education elements. Berlo’s Communication Model (SMCR) explains that when using a competition, it needs to be based on the communication skills, the understanding of social and cultural systems of the source and the receiver to the message that can be felt by the human five senses which will increase the success of delivering messages from the source to the receiver. The methodology of this research is qualitative and the instrument used to collect data involves interviews.Abstrak. Pesatnya perkembangan skateboard di Indonesia menjadi peluang bisnis bagi para pengusaha lokal. Meskipun pasar skateboard di Indonesia tergolong sebagai pasar yang tersegmentasi, namun bisnis pada industri ini tetap menjanjikan. Merek sepatu skateboard lokal berkembang cukup pesat seiring dengan perkembangan olahraga skateboard di Indonesia, hal ini dapat dilihat dari tingginya antusiasme masyarakat yang mulai bermain skateboard, jumlah komunitas skateboard lokal yang bermunculan di daerah Jabodetabek, hingga banyaknya acara dan kompetisi bertajuk skateboard. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa terdapat banyak kompetisi skateboard di Indonesia yang telah digunakan sebagai strategi komunikasi. Kompetisi dianggap baik dan efektif bagi para merek sepatu skateboard lokal untuk meningkatkan keterlibatan masyarakat sebagai bentuk kesadaran merek, karena mereka dapat berperan sebagai elemen pendukung atau penyelenggara kompetisi skateboard. Kompetisi juga dapat memberikan kesan positif bagi merek itu sendiri. Selain itu, kompetisi yang diadakan secara offline perlu didukung oleh aktivitas online dan mencakup unsur edukasi. Model Komunikasi Berlo (SMCR) menjelaskan bahwa ketika menggunakan sebuah kompetisi, perlu didasarkan pada keterampilan komunikasi, pemahaman csistem sosial dan budaya dari sumber dan penerima pesan yang kemudian dapat dirasakan oleh panca indera manusia untuk meningkatkan keberhasilan penyampaian pesan dari sumber ke penerima. Metode penelitian ini adalah kualitatif dan instrumen yang digunakan untuk mengumpulkan data adalah wawancara.
Zuly Qodir
Profetik: Jurnal Komunikasi, Volume 13, pp 155-167; doi:10.14421/pjk.v13i1.1858

Abstract:
Abstrak. Artikel ini hendak menjelaskan tentang pemberitaan yang terkait Islam di Media mainstream Barat. Pemberitaan di media mainstream barat cenderung negative. Islam itu identic dengan musuh peradaban. Artikel ini berasumsi bahwa pemberitaan negative tentang Islam di Barat dikarenakan adanya tindakan-tindakan yang dilakukan oleh sebagian kelompok migran muslim yang kurang dapat berhubungan dengan baik sesama anggota masyarakat di Barat. Pada era post Truth pemberitaan media tentang Islam sebenarnya dipengaruhi persoalan kepentingan ekonomi dan politik dari kebijakan media. Pemberitaan media tentang Islam merupakan hal yang sangat kompleks tidak hanya dapat dilihat dalam perspektif yang tungal. Artikel ini mempergunakan pendekatan kritis atas perspektif yang digunakan oleh media-media Barat mainstream ketika memberitakan muslim di Eropa. Jika pada persoalan agama dan politik maka media Barat harus dilihat bagaimana mendidik agar kita menjadi “melek media” bagi kalangan masyarakat. This article asserts that the imagination of religion and politics in the era of post-truth media can be said to be negative. Religion and politics are mutually antagonistic. Even among supporters of political forces hostile to each other due to religion. This paper provides an explanation that due to media portrayals, especially the foreign media about the impact of Islam is worrying enough in the era of post-truth. Media portrayals of religion and politics are negative then the public needs to get a reinforcement-strengthening (media literacy) relating to religion and politics in the era of post-truth. This article also explains that there is a fairly complex problem when the media provides related depictions of religion and politics, especially related to Islam in the spotlight in the international media and the mainstream media. This article is not directly about to give a critique of the media portrayal of the religion (Islam) in particular and the world of politics going on, because the adherents of a religion does not necessarily become enemies of each other. If you bring religion and politics as the enemy that happens is the commodification religion and politics by the media so that the media does not educate people but just a mere profiteering.
Back to Top Top