Acta VETERINARIA Indonesiana

Journal Information
ISSN / EISSN : 2337-3202 / 2337-4373
Published by: Journal of Consumer Sciences (10.29244)
Total articles ≅ 158
Current Coverage
DOAJ
Archived in
SHERPA/ROMEO
Filter:

Latest articles in this journal

Muhammad Fadly Aulia, Dwi Cipto Budinuryanto, Okta Wismandanu
Acta VETERINARIA Indonesiana, Volume 9, pp 82-86; https://doi.org/10.29244/avi.9.2.82-86

Abstract:
Telemedicine is defined as remote diagnose and patient care using telecommunications technology. Recently telemedicine technology was introduced to the field of veterinary medicine. Due to the nature of telecommunications, a veterinarian will utilize telemedicine technology as a means of assessing patient severity and providing medical advice. The perception of veterinarians, especially small animal practitioners, to telemedicine is influenced by many factors, for example: age, desire (expectation), attention (focus), information obtained, and other factors. This study aims to determine the factors that influence veterinarians' perceptions of telemedicine. This research is expected to be an input in implementing telemedicine in practice. The design of this study is descriptive method, where the sampling method uses a questionnaire filled out by small animal practitioners online. The results showed that the pandemic had no impact on veterinary services. But there is an adaptation of practice procedure. Respondents are neutral towards the application of telemedicine, but the majority of respondents who have implemented telemedicine think that the application of telemedicine has a good impact on health services. There are many obstacles felt by respondents in implementing telemedicine.
Mega Cempaka Putri, Erina Erina, Mahdi Abrar, M. Daud Ak
Acta VETERINARIA Indonesiana, Volume 9, pp 134-142; https://doi.org/10.29244/avi.9.2.134-142

Abstract:
Aspergillosis merupakan penyakit yang disebabkan oleh jamur Aspergillus sp. yang dapat menyerang puyuh muda secara akut dan sebagai penyakit menahun pada puyuh dewasa. Penelitian ini bertujuan untuk mengisolasi dan mengidentifikasi Aspergillus sp. pada kantung hawa puyuh (Coturnix japonica). Sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah 35 kantung hawa puyuh yang tidak produktif lagi (afkir) diambil secara acak. Isolasi dan identifikasi Aspergillus sp. dilakukan sesuai dengan menggunakan metode Thompson. Sampel dicuci dengan aquadest steril berisi antibiotic gentamicin selanjutnya ditanamkan pada media Sabouraud’s Dextrose Agar (SDA) kemudian diinkubasikan pada suhu kamar selama 3-7 hari. Pertumbuhan koloni Aspergillus sp. diamati morfologinya secara makroskopis dan mikroskopis. Data yang diperoleh dianalisis secara deskriptif. Hasil pemeriksaan menunjukkan bahwa Aspergillus sp. dapat diisolasi dan diidentifikasi pada 24 dari 35 sampel kantung hawa. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa 68,57% sampel yang diperiksa positif terinfeksi Aspergillus sp. dengan persentase masing-masing spesies Aspergillus fumigatus 40%, Aspergillus flavus 25,7%, dan Aspergillus niger 17,1%.
Gunanti Gunanti, Dwi Utari Rahmiati, Viyata Pratiwi Risky
Acta VETERINARIA Indonesiana, Volume 9, pp 127-133; https://doi.org/10.29244/avi.9.2.127-133

Abstract:
Tahapan pascaoperasi merupakan bagian penting dalam tindakan operasi. Persembuhan luka merupakan proses usaha untuk memperbaiki kerusakan yang terjadi pada kulit. Balsamum peruvianum merupakan resin dari pohon Myroxylon balsamum dengan kandungan asam sinamat yang dapat merangsang proses persembuhan luka, sekaligus memiliki kandungan benzyl benzoate yang berfungsi sebagai antiseptik alami. Penelitian ini bertujuan mengevaluasi efek aplikasi Balsamum peruvianum dalam persembuhan luka kastrasi dengan metode terbuka, satu dan dua sayatan pada anak babi. Hewan coba yang digunakan adalah anak babi yang telah dikastrasi berusia satu bulan dan terbagi menjadi dua kelompok, yaitu kastrasi satu sayatan dan dua sayatan masing-masing tiga ekor sampel. Anak babi masing-masing dibersihkan lukanya dua kali sehari selama dua minggu pascaoperasi dengan menggunakan kapas dan rivanol kemudian dioleskan Balsamum peruvianum menggunakan cotton bud. Pengamatan dilakukan secara makroskopis dan metode dinilai dengan skala 1 untuk sembuh sempurna dan 5 untuk luka basah. Data yang didapat kemudian diolah menggunakan Aplikasi SPSS V.20 dan diuji menggunakan Independent Sample T Test dengan selang kepercayaan 95 %. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tidak ada perbedaan waktu persembuhan yang nyata antara dua kelompok. Kelompok babi satu sayatan memiliki waktu persembuhan rata-rata lebih singkat.
Rizal Eko Kurniawan Kurniawan
Acta VETERINARIA Indonesiana, Volume 9, pp 72-81; https://doi.org/10.29244/avi.9.2.72-81

Abstract:
Edible Bird Nest (EBN) is a food product of animal origin that obtains many benefits for Indonesia's export commodities. EBN contains many nutrients in which it is widely utilized in the health sector. EBN products have been exported to various countries and one of them is China. EBN products exported to China have potential harms such as physical, biological, and chemical hazards that pose risks to human health. Therefore, every product of animal origin needs food safety assurance. Hazard Analysis Critical Control Point (HACCP) is a food safety system developed to identify, evaluate, and control food safety hazards. HACCP is a system developed to prevent or reduce hazards to an acceptable extent during the globally adopted production. Through the implementation of a food safety assurance system in the EBN, it is expected to lower the risk of food hazards. This paper discussed HACCP in ensuring food safety of animal origin, especially Edible Bird Nest to fulfill the export requirements of Edible Bird Nest to China. Keywords: Animal-origin Food Safety, HACCP, Edible Bird Nest
Acta VETERINARIA Indonesiana, Volume 9, pp 120-126; https://doi.org/10.29244/avi.9.2.120-126

Abstract:
Skin flap rotasi adalah flap berpola melengkung digunakan untuk penutupan defek berbentuk segitiga. Penelitian ini bertujuan mengetahui perbedaan kesembuhan skin flap rotasi pada kucing dengan perawatan dry dressing dan moist dressing secara subjektif dan objektif. Penelitian menggunakan 6 ekor kucing lokal jantan berumur 1-2 tahun, bobot badan 2-4 kg yang dibagi menjadi 2 kelompok perlakuan. Semua kucing dibuat luka berbentuk segitiga dengan ukuran 2 cm pada area lateral abdomen untuk ditutup menggunakan skin flap rotasi. Kelompok I dirawat dengan dry dressing (K-I) dan kelompok II dirawat dengan moist dressing (K-II). Pengamatan subjektif meliputi perubahan warna kulit dan respon nyeri dilakukan pada hari ke-3, 6, 9 dan 12 setelah bedah serta uji pendarahan yang dilakukan pada hari ke-18 setelah bedah. Pengamatan objektif hari ke-18 setelah bedah untuk mengamati waktu absorpsi NaCl 0,9% dan waktu timbulnya dilatasi pupil setelah penyuntikan adrenalin. Kelompok dry dressing menunjukkan hasil yang baik pada hari ke-9 ditandai dengan warna kulit yang sama dengan kulit sekitar dan respon nyeri berkurang. Uji pendarahan menunjukkan darah segera keluar setelah insisi pada kedua kelompok perlakuaan. Waktu absorbsi NaCl 0,9% dan efek adrenalin lebih cepat pada kelompok dry dressing. Kesembuhan skin flap rotasi dengan perawatan dry dressinglebih cepat dibandingkan moist dressing. Kata kunci : Skin flap rotasi, dry dressing, dan moist dressing
Dwi Utari Rahmiati
Acta VETERINARIA Indonesiana, Volume 9, pp 105-111; https://doi.org/10.29244/avi.9.2.105-111

Abstract:
Teknik kastrasi dengan pembedahan pada pedet memiliki keunggulan yaitu waktu persembuhan yang cepat dan tingkat keberhasilan yang tinggi. Penelitian ini bertujuan melakukan evaluasi klinis pada pedet yang dikastrasi secara pembedahan. Sembilan ekor pedet berumur 1,5 bulan dikastrasi dengan eksisi 1/3 distal skrotum dan penjepitan emasculator di funiculus sprematicus. Evaluasi pengamatan makroskopis dilakukan terhadap perkembangan luka pada hari ke 2, 7, dan 14 pasca kastrasi. Evaluasi hematologi dilakukan pada hari ke 7 pasca kastrasi. Hasil pengamatan makroskopis persembuhan luka menunjukkan perbaikan yang signifikan (p<0.05) antara hari ke- 2 (skor 3.78 ± 0.44) dan hari ke- 7 (skor 1.56 ±0.52). Pengamatan pada hari ke- 14 pasca kastrasi semua pedet sudah sembuh sempurna dari luka operasi. Hasil evaluasi hematologi menunjukkan nilai rata-rata seluruh parameter berada dalam rentang nilai normal. Kastrasi dengan eksisi ⅓ distal skrotum dapat menjadi pilihan metode kastrasi di negara beriklim tropis seperti Indonesia karena tingkat persembuhannya yang cepat dan minim komplikasi.
Putut Isworo Arimurti Putut, Chaerul Basri, Denny Widaya Lukman
Acta VETERINARIA Indonesiana, Volume 9, pp 112-119; https://doi.org/10.29244/avi.9.2.112-119

Abstract:
ABSTRAK Sampah makanan kapal dihasilkan dari sampah dapur dan atau restoran yang berasal dari kru kapal atau penumpang. Sampah makanan kapal laut internasional yang diturunkan di Pelabuhan Tanjung Priok berpotensi sebagai media pembawa virus African swine fever (ASF) ke Indonesia. Penelitian ini bertujuan untuk mendeteksi keberadan virus ASF dari sampah makanan kapal laut internasional yang berasal atau transit dari negara tertular ASF di Pelabuhan Tanjung Priok. Jumlah sampel dari setiap negara dihitung secara proporsional dari data jumlah frekuensi kedatangan kapal. Sebanyak 23 sampel pooling sampah makanan yang mengandung daging babi didapatkan dari 23 kapal yang berasal dari 5 negara tertular ASF yaitu China, Hong Kong, Vietnam, Filipina, dan Korea Selatan. Sampel diuji dengan real-time PCR di Balai Besar Uji Standar Karantina Pertanian menggunakan kit ekstraksi dan master mix komersial serta primer King seperti yang direkomendasikan oleh OIE. Hasil penelitian menunjukkan dari total 23 sampel yang diambil sebanyak 2 sampel positif (8,69%) mengandung virus ASF. Sampel positif tersebut berasal dari kapal China dan Filipina. Keberadaan virus ASF pada sampah makanan tersebut menunjukkan indikasi bahwa sampah makanan dari kapal laut internasional dapat menjadi jalur masuknya ASF ke Indonesia. Kata kunci: African swine fever, sampah makanan, kapal laut, real-time PCR ABSTRACT Ship’s food waste was generated from the kitchen and or the restaurant originating from ships crews or passengers. International ship’s food waste that is disposed at Tanjung Priok Port has the potential to carry African swine fever (ASF) to Indonesia. This study is aimed to detect the presence of the ASF virus from international ship’s food waste originating or transiting from ASF-infected countries at Tanjung Priok Port. The number of samples from each country which was calculated proportionally from the data on the frequency of ship arrivals. A total of 23 pooling samples of food waste containing pork were obtained from 23 ships from 5 ASF-infected countries, i.e., China, Hong Kong, Vietnam, Philippines, and South Korea. Samples were tested with real-time PCR at The Center for Diagnostic of Agricultural Quarantine using extraction kits and commercial master mixes and King’s primer as recommended by OIE. The results showed that from total of 23 samples, there were 2 positive samples (8.69%) containing the ASF virus. Those positive samples were from China and Philippines ships. The presence of the ASF virus in food waste indicates that food waste from international ships can be the entry route for ASF to Indonesia.
Yusuf Ridwan, Hadzash Peppyrhanggasidhi Shatyaayyupranathasari, Etih Sudarnika
Acta VETERINARIA Indonesiana, Volume 9, pp 87-96; https://doi.org/10.29244/avi.9.2.87-96

Abstract:
Kecacingan pada kuda merupakan penyakit yang dapat mempengaruhi kesehatan dan performa kuda termasuk pada kuda delman. Penelitian ini bertujuan menduga prevalensi dan mengidentifikasi faktor-faktor risiko kejadian infeksi cacing saluran pencernaan pada kuda delman di Kota Bogor. Metode penelitian ini yaitu studi cross-sectional, menggunakan dua jenis data berupa hasil pemeriksaan laboratorium sampel feses dan hasil wawancara terhadap kusir delman menggunakan kuesioner terstruktur. Data dianalisis untuk menentukan rataan derajat infeksi cacing dan proporsi kuda yang terinfeksi serta pendugaan nilai risiko relatif (RR). Hasil penelitian 20 sampel feses menunjukkan prevalensi Strongyle sebesar 60%. Berdasarkan hasil identifikasi larva, jenis Strongyle terdiri atas Cyathostominae 73% (Cyathostominae tipe A 61%, tipe G 6%, tipe C 4%, tipe F 1%, dan tipe H 1%), Strongylus vulgaris 22%, S. equinus 3%, serta S. edentatus 2%. Derajat infeksi Strongyle termasuk kategori infeksi ringan dengan jumlah 282.5 telur tiap gram tinja (TTGT). Faktor risiko yang mempunyai hubungan terhadap kejadian infeksi Strongyle yaitu umur kuda, kepadatan populasi, jenis kandang dan pakan kuda, lokasi dan cara pemotongan rumput, higiene kuda, serta sanitasi. Perbaikan manajemen pemeliharaan kuda perlu dilakukan oleh para pemilik kuda untuk menurunkan kejadian infeksi cacing saluran pencernaan.
Aprilia Hardiati, Safika, I Wayan Teguh Wibawan, Fachriyan Hasmi Pasaribu
Acta VETERINARIA Indonesiana, Volume 9, pp 97-104; https://doi.org/10.29244/avi.9.2.97-104

Abstract:
This study aimed to investigate the phenotypic and genotypic of antibiotics resistance profile in Escherichia coli. The 30 samples come from cloacal swab of broilers in Cianjur, Indonesia. Isolation and identification of E. coli was performed by culture in McConkey agar, eosin methylene blue agar, Gram staining and five essential biochemical tests (IMViC). In this study, 10 isolates (33.3%) were confirmed E. coli positive. Phenotypic profile was performed by screening all isolates with 8 antibiotics of 6 antibiotic groups. The screening was carried by Kirby-Bauer disk diffusion method based on the standard of CLSI. For genotypic profile, each resistant isolate was detected antibiotic resistance-encoding gene. The result showed all isolates (100%) resistant against tetracyclin, oxytetracycline and erythromycin. Nine isolates (90%) detected nalidixic acid and enrofloxacin-resistant. The ciprofloxacin and gentamicin-resistant isolates were 70% and 40%, respectively. There was no resistant isolate for chloramphenicol. Multi drug-resistant was detected on 90% isolates. Only gyrA (100%) and tetA (80%) genes were detected. This study showed high rate of occurrence of antibiotic resistance in E. coli. Not all resistant isolates were detected in the antibiotic resistance-encoding gene in this study. Future research to detect resistance genes should use more varied target genes.
Shelly Kusuma, Reza Yesica, Ida Bagus Gde Rama Wisesa, Jenny Hermanto, Yustia Nurholizah, Maria Widyaneni Trinastuti
Acta VETERINARIA Indonesiana pp 95-101; https://doi.org/10.29244/avi...95-101

Abstract:
Zoonotic parasitic infections is one of the global public health issues. The complex parasite transmission allows for the relationship between people, animals, vectors, and the environment. The existence of rat in the environment has an important role as a host and reservoir for various types of ecto and endoparasites. This study was conducted to collect informative data on the parasitic infection of wild rats in Blimbing sub-district, Malang city, East Java. A total number of eight wild rat were captured using live-traps from landfills during 4 days. They were classified by sex, weight and body length. The rats were anesthetized, collecting for any ectoparasites and then their carcasses were dissected for examinations of endoparasites. The result of this study show succesfull live-trap of rodents including Rattus norvegicus (87.5%) and Suncus murinus (12.5%). 50% of sampled rodents were male, 37.5% were female, and 12.5% of female the musk shrew. The presence of helminthes infection in all wild rats, namely Hymenolopis nana, Syphacia obvelata, Nippostrongylus brasiliensis. Furthermore, the ectoparasites identification were Xenopsylla cheopis, Echinolaelap echidninus, and blood protozoa identifications Trypanosoma lewisi. Based on the results show 100% of wild rats positive infections of endo-ectoparasites. This study indicates to continuous study among rodents’ parasites in wild rats in different urban areas and analysis of their potential impact on public health.
Back to Top Top