Kwangsan: Jurnal Teknologi Pendidikan

Journal Information
ISSN / EISSN : 2338-9184 / 2338-9184
Total articles ≅ 259
Filter:

Latest articles in this journal

Uwes Anis Chaeruman
Kwangsan: Jurnal Teknologi Pendidikan, Volume 8, pp 142-153; doi:10.31800/jtp.kw.v8n1.p142--153

Abstract:
The Pandemic Coronavirus Disease (Covid-19) has taken place all over the world. This situation has affected all sectors of human life, likewise in the education sector. Physical distancing policy has forced all countries to close the school. Distance and online learning have become the only option to solve it. This article tried to answer two questions. First, what are the essences of learning spaces in the context of e-learning viewed from the perspective of time and space synchronicity? Second, what are the implications of it to the implementation of teaching and learning in the era Covid-19 and new normal? The researcher applied literature review to answer those questions. Literatures review result showed that learning space can be divided into four categories. This classification provides some implications toward the implementation of teaching and learning in the era of Covid-19 and new normal. AbstrakPandemi virus corona (Covid-19) telah melanda seluruh dunia. Bencana kejadian luar biasa ini telah berpengaruh terhadap semua sektor kehidupan manusia, termasuk sektor pendidikan. Kebijakan jarak sosial dan fisik telah memaksa proses pembelajaran di sekolah terhenti. Belajar di rumah dengan moda pembelajaran jarak jauh dan daring menjadi satu-satunya pilihan untuk memecahkan masalah tersebut. Artikel ini berupaya menjawab dua hal. Pertama, apa esensi ruang belajar dalam konteks e-learning ditinjau dari sudut pandang ruang dan waktu? Kedua, apa implikasinya dalam pembelajaran di era Covid-19 dan tatanan baru? Peneliti menggunakan metode kajian pustaka untuk menjawab pertanyaan tersebut. Berdasarkan hasil kajian pustaka, diperoleh empat klasifikasi ruang belajar baru dan implikasi terhadap pembelajaran di era Covid-19 dan tatanan baru.
Siti Masitoh, Fibria Cahyani
Kwangsan: Jurnal Teknologi Pendidikan, Volume 8, pp 122-141; doi:10.31800/jtp.kw.v8n1.p122--141

Abstract:
Professional teachers were required having four competencies as mandated by Teachers Law No. 14 of 2005. Those competencies were: (1) pedagogic, (2) professional, (3) personal, and (4) social competence. They seemed to Ki Hajar Dewantara's thoughts were explicitly reflected in Tamansiswa principles, namely: (1) orderly speaking and acting, (2) greetings, (3) peace, and (4) happiness. They accord to regulation of national education minister No. 16 of 2007, including "Presenting yourself as an honest person, noble character, and revealing good model for students and society." The toughts of Ki Hajar's personality was translated into values that must be possessed by educators and educated. These values were, (1) exemplary: ing ngarsa sung tulada; (2) motivation: ing madya mangun karsa; (3) tut wuri handayani is in the implementation of education is called the nurture system. Data collection techniques was using method: questionnaire, observation, interview, and documents. Data analysis techniques also used flow analysis adaptation of Milles and Huberman (2013). The research findings were: (1) lecturers' behavior in conducting education with the nurture system at UST Yogyakarta in building character has been internalized in lecturers, employees, and students reflected in campus life. Referring to Tamansiswa principles, Ki Hajar Dewantara's thoughts were consisting to: (a) Niteni, Nirokake, Nambahi, (b) Tri Nga: Ngerti, Ngroso, Nglakoni, and (c) the implementation of leadership trilogy in the nurture system stood for wider seven Tamansiswa principles. Ki Hajar's thoughts were expected to be implemented by the teachers as educator by giving good model in carrying out education.AbstrakGuru profesional dituntut memiliki empat kompetensi seperti yang diamanahkan oleh Undang-Undang Guru No 14 Tahun 2005. Kompetensi yang dimaksud, yaitu kompetensi: (1) pedagogik, (2) profesional, (3) kepribadian, dan (4) kompetensi sosial. Dalam penerapan keempat kompetensi guru tersebut secara terintegrasi. Ajaran Ki Hajar Dewantara yang tersurat dalam azas tamansiswa, yaitu (1) tertib bicara dan bertindak, (2) salam, (3) damai, dan (4) bahagia. Keempat azas tamansiswa ini selaras dengan Permendiknas No. 16 Tahun 2007, di antaranya “Menampilkan diri sebagai pribadi yang jujur, berakhlak mulia, dan teladan bagi peserta didik dan masyarakat.” Ajaran kepribadian Ki Hajar dapat dijabarkan menjadi nilai-nilai yang harus dimiliki oleh pendidik, dan terdidik. Nilai-nilai tersebut yaitu, (1) keteladanan: ing ngarsa sung tulada; (2) motivasi: ing madya mangun karsa; (3) tut wuri handayani dalam plaksanaan pendidikan disebut sistem among. Teknik pengumpulan data menggunakan metode: angket, observasi, wawancara dan dokumen. Teknik analisis data menggunakan analisis alir adaptasi Milles dan Huberman (2013). Hasil penelitian ditemukan: (1) perilaku dosen dalam melaksanakan pendidikan dengan sistem among di UST Yogyakarta dalam membangun karakter sudah terinternalisasi pada dosen, tendik dan mahasiswa yang tercermin dalam kehidupan kampus. dengan berlandaskan azas tamansiswa. Ajaran Ki Hajar Dewantara di antaranya: (a) Niteni, Nirokake, Nambahi, (b) Tri Nga: Ngerti, Ngroso, Nglakoni, dan (c) penerapan trilogi kepemimpinan dalam sistem among dengan berpijak pada tujuh azas tamansiswa yang diperluas. Ajaran Ki Hajar ini diharapkan dapat diterapkan oleh guru sebagai pendidik dengan keteladanan dirinya dalam melaksanakan pendidikan
Mallevi Agustin Ningrum, Lailatul Asmaul Chusna
Kwangsan: Jurnal Teknologi Pendidikan, Volume 8, pp 18-32; doi:10.31800/jtp.kw.v8n1.p18--32

Abstract:
Children aged 4-5 years need to be introduced to the geometry as a provision for further education. But in reality there are still many children aged 4-5 years who are not yet able to recognize geometric shapes (circles, triangles, and quadrilateral) due to the lack of attractive media use in the learning of children aged 4-5 years, especially in understanding geometric shapes. Therefore, the purpose of this study is to provide a media innovation that is appropriate and effective geometry to stimulate children aged 4-5 years in recognizing geometric shapes (circles, triangles and rectangles). This type of research uses Borg and Gall research and development. Material validation test results showed a score of 87% with a good category, while the product validation test results obtained a score of 80% with a good category so that the geometry taxis are worth testing. The results of large group trials using the mann whitney u-test in the experimental group were 4.6, whereas in the control group it was 3.4 and the average achievement score of the large group trial results reached 90.31%. Therefore, it can be concluded that the innovation of geometry is declared feasible and effective to stimulate the ability of children aged 4-5 years to recognize geometric shapes. AbstrakAnak usia 4-5 tahun perlu dikenalkan bentuk geometri sebagai bekal untuk pendidikan selanjutnya. Namun pada kenyataannya masih banyak anak usia 4-5 tahun yang belum bisa mengenal bentuk geometri (lingkaran, segitiga, dan segiempat) karena kurangnya pemanfaatan media yang menarik pada pembelajaran anak usia 4-5 tahun khususnya dalam memahami bentuk geometri. Oleh karena itu, tujuan dari penelitian ini adalah memberikan inovasi media dakon geometri yang layak dan efektif untuk menstimulasi anak usia 4-5 tahun dalam mengenal bentuk geometri (lingkaran, segitiga, dan segiempat). Jenis penelitian ini menggunakan research and development Borg and Gall. Hasil uji validasi materi menunjukkan skor 87% dengan kategori baik, sedangkan hasil uji validasi produk diperoleh skor 80% dengan kategori baik sehingga dakon geometri layak untuk diujicobakan. Hasil uji coba kelompok besar menggunakan uji mann whitney u-test pada kelompok eksperimen sebesar 4,6 sedangkan pada kelompok kontrol sebesar 3,4 dan rata-rata pencapaian skor hasil uji coba kelompok besar mencapai 90,31%. Oleh karena itu, dapat disimpulkan bahwa inovasi dakon geometri dinyatakan layak dan efektif untuk menstimulasi kemampuan anak usia 4-5 tahun dalam mengenal bentuk geometri.
Rahmi Rivalina
Kwangsan: Jurnal Teknologi Pendidikan, Volume 8, pp 83-109; doi:10.31800/jtp.kw.v8n1.p83--114

Abstract:
The demands of 21st learning is to enable students use High Order Thinking Skills (HOTS) through problem solving and critical thinking, communication and collaboration, and creativity and innovation. In its implementation, the teachers are the first persons to earlier master the concept of HOTS supported by understanding Neuroscience. The problem discussed in this review is why the teachers need to implement the neuroscience approach in learning their student and how the teacher's strategy implements it so students are able to achieve the 21st learning. The objective of this review is to describe: (1) the importance of teachers to comprehend the neuroscience approach in learning, and (2) the strategy of teachers in implementing the neuroscience approach to achieve the 21st learning.The method used in writing this article is reviewing various documents, both in the form of laws and regulations, the results of research and development as well as studies, various scientific works that are presented in print/written and networking. The result of the review is that to achieve 21st Century skills and competencies, ideally teachers must understand neuroscience, such as brain development and function ranging from the early age to adults and student intelligence types, and teacher methods of teaching students. The conclusion of this study states that the achievement of 21st century skills and learning competencies is carried out using the Neuroscience approach as one of the solutions. AbstrakTuntutan pembelajaran abad 21 mengharuskan siswa untuk menggunakan keterampilan berpikir tingkat tinggi (High Order Thinking Skills/HOTS) melalui pemecahan masalah dan berpikir kritis, komunikasi dan kolaborasi, dan kreativitas dan inovasi. Untuk mengimplementasikannya guru terlebih dahulu harus memahami konsep HOTS dibantu dengan pemahaman Ilmu Neurosains. Masalah yang dibahas dalam kajian ini mengapa guru perlu menerapkan pendekatan neurosains di dalam membelajarkan peserta didiknya dan bagaimana strategi guru menerapkannya sehingga siswa dapat mencapai pembelajaran abad 21. Tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan: (1) pentingnya guru memahami pendekatan neurosains dalam pembelajaran, dan (2) strategi guru menerapkan pendekatan neurosains untuk mencapai pembelajaran abad ke-21. Metode penelitian yang digunakan di dalam penulisan artikel ini adalah mengkaji berbagai dokumen, baik yang berupa perangkat peraturan perundang-undangan, hasil-hasil penelitian dan pengembangan serta kajian, maupun berbagai karya ilmiah yang disajikan secara cetak/tertulis dan jejaring. Untuk memperkaya tulisan ini, penulis juga melakukan wawancara secara terbatas. Hasil kajian mengungkapkan bahwa untuk mencapai kompetensi keterampilan dan kecakapan abad 21, idealnya guru harus memahami ilmu neurosains seperti perkembangan dan fungsi otak mulai dari balita sampai dewasa dan tipe kecerdasan siswa, dan metode guru membelajarkan siswa. Kesimpulan kajian ini menyatakan pencapaian kompetensi keterampilan dan kecakapan pembelajaran abad 21 dilakukan dengan pendekatan Neurosains sebagai salah satu solusi.
Ade Koesnandar
Kwangsan: Jurnal Teknologi Pendidikan, Volume 8, pp 33-61; doi:10.31800/jtp.kw.v8n1.p33--61

Abstract:
This research is a development research that is intended to produce innovative ICT-based learning development service models that are in line with the 2013 Curriculum through distance assistance. Based on the preliminary survey, it was obtained that teachers still face many difficulties in applying innovative learning models. This condition is the reason for the importance of this research. The development steps include: needs analysis, design, preparation of materials, making examples of lesson plans, application development, and application trials. From the results of the needs analysis, it was found that (1) in general teachers had tried to apply innovative learning models according to the demands of the 2013 curriculum even though they were still experiencing difficulties, (2) there was still a lack of examples and training in the implementation of innovative learning models caused the teacher's weak understanding of the concept innovative learning, (3) teachers still need additional knowledge and guidance in the application of innovative learning, (4) teachers also declare they are ready to utilize innovative learning assistance applications if available, and (5) teachers of Learning House Ambassadors (DRB) state their readiness to help other teachers overcome the difficulties of developing innovative learning models. In this research development, innovative learning development tutorial materials have been produced, both in the form of text and video media, examples of innovative lesson plans, and application 01 version of innovative learning assistance services that can be accessed via the website; sibatik.kemdikbud.go.id/inovatif. AbstrakPenelitian ini merupakan penelitian pengembangan yang dimaksudkan untuk menghasilkan model layanan pengembangan pembelajaran inovatif berbasis TIK yang sesuai Kurikulum 2013 melalui pendampingan jarak jauh. Berdasarkan survei awal diperoleh informasi bahwa para guru masih banyak menghadapi kesulitan dalam menerapkan model-model pembelajaran inovatif. Kondisi yang demikian inilah yang menyebabkan pentingnya dilaksanakan penelitian ini. Langkah-langkah pengembangan mencakup: analisis kebutuhan, perancangan, penyiapan bahan, pembuatan contoh rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP), pengembangan aplikasi, dan uji coba aplikasi. Dari hasil analisis kebutuhan diperoleh informasi bahwa (1) secara umum guru sudah berusaha menerapkan model pembelajaran inovatif sesuai tuntutan Kurikulum 2013 sekalipun masih mengalami kesulitan, (2) masih dirasakan kurangnya contoh-contoh dan pelatihan implementasi model pembelajaran inovatif menyebabkan masih lemahnya pemahaman guru terhadap konsep pembelajaran inovatif, (3) guru masih memerlukan tambahan pengetahuan dan bimbingan dalam penerapan pembelajaran inovatif, (4) guru juga menyatakan siap untuk memanfaatkan aplikasi pendampingan pembelajaran inovatif apabila tersedia, dan (5) guru Duta Rumah Belajar (DRB) menyatakan kesiapannya membantu guru lainnya mengatasi kesulitan mengembangkan model-model pembelajaran inovatif. Dalam penelitian pengembangan ini telah dihasilkan bahan tutorial pengembangan pembelajaran inovatif, baik dalam bentuk teks maupun media video, contoh-contoh RPP inovatif, dan aplikasi versi 01 layanan pendampingan pembelajaran inovatif yang dapat diakses melalui laman; sibatik.kemdikbud.go.id/inovatif.
E. Kus Eddy Sartono, A Endah Wulandari
Kwangsan: Jurnal Teknologi Pendidikan, Volume 8, pp 62-82; doi:10.31800/jtp.kw.v8n1.p62--82

Abstract:
This research aims to produce a learning media. The product is about “a train culture” which can be used properly as a learning material of cultural diversity to embed nationalism character for fourth grade students of SD N Golo Yogyakarta. This research’s using Research and Development (RnD) Borg and Gall model. The data resources were collected from interview, observation, and questionnaire. This product was passed planning step, validation step (by two experts), and trial steps. Final validation by material expert got average score 4,3 with ‘very high’ validity and quality. Final validation by media expert got average score 5 with ‘very high’ validity and quality. Initial field trials were conducted on 3 students and 1 teacher in class IV B, while the main field test was conducted on 12 students and 1 teacher in class IV A, SD N Golo Yogyakarta. Preliminary field testing result got average score 4,2 in teacher testing ‘very high’ validity and quality, and got average score 4,38 in student testing ‘very high’ validity and quality. Main field testing result got average score 4,8 in teacher testing ‘very high’ validity and quality, and got average score 4,36 in student testing ‘very high’ validity and quality. So, overall, this media train of culture can be used properly into a social science lessons. AbstrakPenelitian ini bertujuan untuk menghasilkan media pembelajaran Kereta Budaya (train of culture) yang layak digunakan pada materi keberagaman budaya Indonesia sebagai upaya untuk menanamkan karakter cinta tanah air bagi siswa kelas IV SDN Golo Yogyakarta. Penelitian ini merupakan penelitian pengembangan yang mengacu pada model yang dikembangkan Borg & Gall. Teknik pengumpulan data menggunakan wawancara, observasi, studi pustaka, dan angket. Teknik analisis data menggunakan statistik deskriptif kuantitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa media pembelajaran Kereta Budaya layak digunakan dan mempunyai kualitas tinggi sehingga dapat digunakan di Sekolah Dasar. Hasil validasi materi memperoleh skor rata-rata 4,3 memiliki tingkat validitas dan kualitas “sangat tinggi”. Hasil validitas terakhir dari segi media, memperoleh skor rata-rata 5 (memiliki tingkat validitas dan kualitas “sangat tinggi”). Uji coba lapangan awal dilakukan kepada 3 siswa dan 1 guru kelas IVB; sedangkan uji coba lapangan utama dilakukan kepada 12 siswa dan 1 guru kelas IVA SDN Golo Yogyakarta. Hasil uji coba lapangan awal kepada guru memperoleh skor rata-rata 4,2 (tingkat validitas dan kualitas “sangat tinggi”; sedangkan kepada siswa memperoleh skor rata-rata 4,38 (tingkat validitas dan kualitas “sangat tinggi”). Hasil uji coba lapangan utama kepada guru memperoleh skor rata-rata 4,8 (tingkat validitas dan kualitas “sangat tinggi”); sedangkan kepada siswa memperoleh skor rata-rata 4,36 (tingkat validitas dan kualitas “sangat tinggi”).
Rahmi Rivalina
Kwangsan: Jurnal Teknologi Pendidikan, Volume 8, pp 83-109; doi:10.31800/jtp.kw.v8n1.p83--109

Abstract:
Tuntutan pembelajaran abad 21 mengharuskan siswa untuk menggunakan keterampilan berpikir tingkat tinggi (High Order Thinking Skills/HOTS) melalui pemecahan masalah dan berpikir kritis, komunikasi dan kolaborasi, dan kreativitas dan inovasi. Untuk mengimplementasikannya guru terlebih dahulu harus memahami konsep HOTS karena arsitektur utama dalam mengisi kecerdasan siswa adalah guru. Masalah yang dibahas dalam kajian ini mengapa guru perlu dibekali dengan pendekatan neurosains dalam proses pembelajaran dan bagaimana strategi guru menerapkan pendekatan neurosains dalam pembelajaran sehingga siswa dapat mencapai kompetensi kecakapan abad 21. Tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan: (1) pentingnya memahami pendekatan neurosains bagi guru dalam proses pembelajaran, dan (2) strategi guru menerapkan pendekatan neurosains untuk mencapai kompetensi kecakapan abad ke-21. Hasil kajian mengungkapkan guru perlu menerapkan pendekatan neurosains dalam pembelajaran untuk membantu guru dalam mencapai kompetensi keterampilan dan kecakapan abad 21 siswa. Strategi guru menerapkan pendekatan neurosains dengan memahami tahapan perkembangan pusat kecerdasan, tipe kecerdasan, dan diagram pembelajaran abad 21, yang dituangkan dalam bentuk rancangan pembelajaran yang efektif dan menyenangkan. Kesimpulan kajian ini menyatakan peningkatan HOTS pada guru akan berdampak pada capaian hasil pembelajaran dan kompetensi siswa abad 21. AbstrakThe demands of 21st learning is to enable students use High Order Thinking Skills (HOTS) through problem solving and critical thinking, communication and collaboration, and creativity and innovation. In its implementation, the teachers are the first persons to earlier master the concept of HOTS as the main architecture in creating the intelligence of students is the teacher.The problem discussed in this review is why the teachers need to be equipped with neuroscience approaches in the learning process, how the teacher's strategy implements it so students are able to achieve the 21st learning competency. The objective of this review is to describe: (1) the importance of teachers to comprehend the neuroscience approach in learning process, and (2) the strategy of teachers in implementing the neuroscience approach to achieve the 21st competency. The results of review revealed teachers need to apply a neuroscience approach in learning to assist teachers in achieving 21st century students' competencies. The teacher's strategy applies the neuroscience approach by understanding the stages of development of the intelligence, the multiple intelligence, and the 21st century learning diagram, which is formed in effective and fun learning designs. The conclusion of this review states that the increase of teachers’ HOTS will have an impact in learning outcomes and 21st century students’ competency.
Fajar Arianto, Lamijan Hadi Susarno, Utari Dewi, Alfi Fatimatus Safitri
Kwangsan: Jurnal Teknologi Pendidikan, Volume 8, pp 110-121; doi:10.31800/jtp.kw.v8n1.p110--121

Abstract:
E-learning is a kind of learning by utilizing information and communication technology. The success of using e-learning influenced by various factors. Technology Acceptance Model (TAM) is a model developed by Davis (1989) that is used to find out the acceptance and use of technology. The purpose of TAM is to explain the determinants of computer acceptance in general, which can explain user behavior in various computing technologies of end-users and user populations, saving time and theoretically justified. This model aims to predict and explain the factors that need to be corrected. This study focused on six variables, namely the perception of use, the perception of ease, attitude, and behavior. The analysis technique used to analyze data was SEM (Structural Equation Model) analysis. The research subjects were 262 students. The results of this study were (1) perception of use had a strong effect on the attitude of the use of e-learning, (2) perception of ease had a strong effect on the attitude of the use of e-learning, (3) perception of use had a moderate effect on the behavior of the use of e-learning, (4) perception of ease had a moderate effect on e-learning usage behavior, and (5) strong e-learning attitude toward e-learning behavior. The use of e-learning must pay attention to the user's attitude towards the technology used and the user's perception of the ease of use. AbstrakE-learning merupakan pembelajaran dengan memanfaatkan teknologi onformasi dan komunikasi. Keberhasilan dalam penggunaan e-learnig dipengaruhi berbagai faktor. Teknologi Acceptance Model (TAM) merupakan model yang dikembangkan oleh Davis (1989) yang digunakan untuk mengetahui mengetahui penerimaan dan penggunaan pemenfaatan teknologi. Tujuan dari TAM adalah untuk memberikan penjelasan tentang faktor-faktor penentu penerimaan komputer secara umum, mampu menjelaskan perilaku pengguna di berbagai teknologi komputasi pengguna akhir dan populasi pengguna, hemat waktu dan secara teoritis dibenarkan. Model ini bertujuan untuk memprediksi dan menjelaskan faktor-faktor yang perlu diperbaiki. Pada penelitian ini memfokuskan pada enam variabel, yaitu persepsi penggunaan, persepsi kemudahan, sikap, dan perilaku. Teknik analisa yang dipergunakan untuk menganalisis data adalah analisis SEM (Structural Equation Model). Subjek penelitain berjumlah 262 mahasiswa. Hasil dari penelitian ini adalah (1) persepsi penggunaan berpengaruh yang kuat terhadap sikap penggunaan e-learning, (2) persepsi Kemudahan berpengaruh yang kuat terhadap sikap penggunaan e-learning, (3) persepsi Penggunaan berpengaruh yang sedang terhadap perilaku penggunaan e-learning, (4) persepsi Kemudahan berpengaruh yang sedang terhadap perilaku penggunaan e-learning, dan (5) sikap penggunaan e-learning yang kuat terhadap perilaku penggunaan e-learning. Penggunaan e-learning harus memperhatikan sikap pengguna terhadap teknologi yang digunakan dan persepsi pengguna terhadap kemudahan penggunaan.
Abdul Haris Faisal, Nfn Zuriyati, Eva Leiliyanti
Kwangsan: Jurnal Teknologi Pendidikan, Volume 8, pp 1-17; doi:10.31800/jtp.kw.v8n1.p1-18

Abstract:
Poetry writing activities are still considered difficult by students. The learning media used have not been able to support learning activities on poetry material. Therefore, this study aims to produce Android-based learning media on poetry material for high school subjects. This research method adapts the ADDIE model to design a system in learning. The instruments in this study used media validation sheets and material validation sheets. The results of this study indicate that the learning media based on an Android applications is declared appropriate for use in learning. The feasibility is evidenced by the result of the assessment of media experts and material experts who state that the learning media is very accomodating and qualified. Based on these result, instructional media for writing poetry is recommended to be develop in other materials in bahasa Indonesia. AbstrakKegiatan menulis puisi masih dianggap sulit oleh siswa. Media pembelajaran yang digunakan selama ini belum mampu menunjang kegiatan pembelajaran pada materi puisi. Oleh karena itu, tujuan penelitian ini adalah untuk menghasilkan sebuah media pembelajaran berbasis aplikasi android pada materi puisi untuk siswa kelas X SMA. Metode penelitian ini mengadaptasi model ADDIE untuk merancang sebuah sistem dalam pembelajaran. Instrumen dalam penelitian ini menggunakan lembar validasi media dan lembar validasi materi. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa media pembelajaran menulis puisi berbasis aplikasi android dinyatakan layak digunakan dalam pembelajaran. Kelayakan tersebut dibuktikan dari hasil penilaian pakar media dan pakar materi yang menyatakan bahwa media pembelajaran sangat akomodatif dan berkualitas. Berdasarkan hasil tersebut, media pembelajaran menulis puisi berbasis aplikasi direkomendasikan untuk dikembangkan pada materi lainnya dalam mata pelajaran bahasa Indonesia.
Abdul Haris Faisal, Nfn Zuriyati, Eva Leiliyanti
Kwangsan: Jurnal Teknologi Pendidikan, Volume 8, pp 1-17; doi:10.31800/jtp.kw.v8n1.p1--17

Abstract:
Poetry writing activities are still considered difficult by students. The learning media used have not been able to support learning activities on poetry material. Therefore, this study aims to produce Android-based learning media on poetry material for high school subjects. This research method adapts the ADDIE model to design a system in learning. The instruments in this study used media validation sheets and material validation sheets. The results of this study indicate that the learning media based on an Android applications is declared appropriate for use in learning. The feasibility is evidenced by the result of the assessment of media experts and material experts who state that the learning media is very accomodating and qualified. Based on these result, instructional media for writing poetry is recommended to be develop in other materials in bahasa Indonesia. AbstrakKegiatan menulis puisi masih dianggap sulit oleh siswa. Media pembelajaran yang digunakan selama ini belum mampu menunjang kegiatan pembelajaran pada materi puisi. Oleh karena itu, tujuan penelitian ini adalah untuk menghasilkan sebuah media pembelajaran berbasis aplikasi android pada materi puisi untuk siswa kelas X SMA. Metode penelitian ini mengadaptasi model ADDIE untuk merancang sebuah sistem dalam pembelajaran. Instrumen dalam penelitian ini menggunakan lembar validasi media dan lembar validasi materi. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa media pembelajaran menulis puisi berbasis aplikasi android dinyatakan layak digunakan dalam pembelajaran. Kelayakan tersebut dibuktikan dari hasil penilaian pakar media dan pakar materi yang menyatakan bahwa media pembelajaran sangat akomodatif dan berkualitas. Berdasarkan hasil tersebut, media pembelajaran menulis puisi berbasis aplikasi direkomendasikan untuk dikembangkan pada materi lainnya dalam mata pelajaran bahasa Indonesia.
Back to Top Top