Jurnal Manajemen Industri dan Logistik

Journal Information
ISSN / EISSN : 2622-528X / 2598-5795
Current Publisher: Politeknik APP Jakarta (10.30988)
Total articles ≅ 86
Current Coverage
DOAJ
Filter:

Latest articles in this journal

Christanto Triwibisono, Rio Aurachman
Jurnal Manajemen Industri dan Logistik, Volume 4, pp 75-83; doi:10.30988/jmil.v4i1.324

Abstract:
Makalah ini mengusulkan solusi atas masalah kemacetan di Perempatan Sukarno Hatta – Buah Batu Bandung dengan menggunakan metode simulasi komputer dengan perangkat lunak Pro Model. Ada tiga alternatif solusi masalah ini yaitu mengubah durasi lampu merah dan hijau, menambah jalur jalan baru, atau membuat jalan layang. Pengubahan durasi lampu merah dan hijau hanya akan mengubah waktu tempuh mobil dari rata-rata 10,5 menit menjadi 8,9 menit (85% dari waktu tempuh saat ini). Penambahan satu jalur pada setiap jalan hanya akan mengubah waktu tempuh kendaraan dari rata-rata 10,5 menit menjadi 7,7 menit (73% dari waktu tempuh saat ini). Pembuatan jalan layang satu arah di Jalan Sukarno Hatta merupakan solusi terbaik, karena mengubah waktu tempuh kendaraan untuk dari rata-rata 10,3 menit menjadi 3,2 menit. Terjadi perubahan signifikan, waktu tempuh tinggal 32% dari waktu tempuh saat ini
Raihan Ahmad Fadhil (Universitas Pertamina), Eko Gito Prabowo (Pt. Pertamina Ep), A. A. N. Perwira Redi (Universitas Pertamina)
Jurnal Manajemen Industri dan Logistik, Volume 4, pp 01-09; doi:10.30988/jmil.v4i1.282

Abstract:
Global energy consumption increases every year. BP Statistics Review of World Energy 2019 shows that Indonesia's energy consumption increases by 4.9% in 2018, reaching 185.5 million tons of oil equivalent (TOE). Therefore, oil and gas companies must increase production to fulfill those needs. PT Pertamina EP is a subsidiary of PT Pertamina (Persero) which focuses on the upstream oil and gas sector. One of the activities carried out in the upstream business is drilling. Drilling materials are necessary to support the dynamic of drilling process. The mechanism used when there is a shortage of stock is to send the required material from another field that has the required material, or is called Inter Unit Assistance (BAU). In 2018 the costs incurred for transportation of BAU OCTG (Oil Country Tubular Goods) material amounted to Rp 45,733,340,000. Distribution center is an alternative for cutting distribution chains. We proposed allocation of facility such distribution center location decision using p-median optimization model to reduce the BAU transportation cost. This approach is implemented using math programming using AMPL and Gurobi. Distribution center functions as a material distribution center to meet the needs of the surrounding fields. By applying the scenario of building a distribution center, transportation costs can be reduced by 13% or Rp 6,167,325,000. AbstrakKonsumsi energi global cenderung meningkat setiap tahunnya. Data BP Statistical Review of World Energy 2019 menunjukkan konsumsi energi Indonesia meningkat sebesar 4,9% pada tahun 2018 dengan nilai mencapai 185,5 juta tonnes oil equivalent (TOE). Oleh karena itu perusahaan minyak dan gas bumi (migas) harus meningkatkan produksi untuk memenuhi kebutuhan tersebut. PT Pertamina EP adalah perusahaan yang fokus pada sektor hulu migas. Salah satu kegiatan yang dilakukan pada bisnis hulu adalah pemboran. Untuk Rencana pengeboran yang dinamis dibutuhkan ketersediaan material. Mekanisme yang dilakukan saat terjadi kekurangan stock adalah mengirim material yang dibutuhkan dari field lain yang memiliki ketersediaan material yang dibutuhkan, atau disebut Bantuan Antar Unit (BAU). Biaya yang dikeluarkan pada tahun 2018 untuk transportasi BAU material OCTG (Oil Country Tubular Goods) sebesar Rp 45.733.340.000. Biaya tersebut dibutuhkan untuk mendistribusikan material pada lokasi field yang tersebar di berbagai lokasi di pulau Jawa, Sumatera, dan Kalimantan. Dalam penelitian ini diusulkan untuk memanfaatkan penggunaan distribution center (DC) sebagai upaya untuk menghemat biaya transportasi BAU. DC berfungsi sebagai pusat distribusi material untuk memenuhi kebutuhan field di sekitarnya. Model optimasi p-median digunakan memilih lokasi fasilitas DC yang memiliki biaya transportasi paling minimal dengan mempertimbangkan jarak, biaya, dan permintaan material. Diasumsikan satu DC akan ditempatkan di setiap wilayah / pulau. Solusi optimal dari model p-median dihasilkan menggunakan software pemrograman matematis AMPL dengan menggunakan solver GUROBI. Hasil eksperimen didapatkan bahwa dengan penerapan skenario adanya DC, biaya transportasi dapat dipangkas sebesar 13% atau sebesar Rp 6.167.325.000.
Rahman Soesilo (Sekolah Tinggi Teknologi Mutu Muhammadiyah), Yahdi Firmansyah (Sekolah Tinggi Teknologi Mutu Muhammadiyah), Sartono (Sekolah Tinggi Teknologi Mutu Muhammadiyah)
Jurnal Manajemen Industri dan Logistik, Volume 4, pp 58-66; doi:10.30988/jmil.v4i1.372

Abstract:
Determination of the External Warehouse location has a vital role in the Supply Chain Management system to facilitate the delivery process to consumers who can run smoothly, quickly, and the most optimum distance. The company needs to build a new external warehouse because the current warehouse will be used for new machine installations. Therefore, it was decided to create an alternative external warehouse outside the factory. The purpose of this study is to determine the optimum location of the external warehouse to be made. This study uses the Center of Gravity method to calculate the optimal area that will be considered by the location between the distribution of consumer locations and the number of shipments and also consider the size of the factory that will supply the product. Based on the results of this study, calculations using the Center of Gravity method found that the location of the external warehouse chosen was at (-7.328293, 112.7420916), the settlement area of Jemur Wonosari, Wonocolo, Surabaya City, East Java. By determining the exact location of the external warehouse, the company will benefit from the efficiency of transportation costs.AbstrakPenentuan lokasi gudang eksternal memiliki peran penting dalam sistem Manajemen Rantai Pasokan untuk memfasilitasi proses pengiriman kepada konsumen sehingga proses produk dapat terkirim dengan lancar, cepat dan jarak yang paling optimal. Perusahaan saat ini membutuhkan gudang eksternal karena area gudang yang ada akan digunakan untuk instalasi mesin baru. Oleh karena itu, diputuskan untuk membuat alternatif gudang eksternal di luar pabrik. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menentukan lokasi gudang eksternal yang paling optimal untuk dibuat. Penelitian ini menggunakan metode Center of Gravity untuk menghitung lokasi optimal yang sesuai dengan lokasi antara lokasi konsumen dan jumlah pengiriman dan juga mempertimbangkan lokasi pabrik yang akan memasok produk. Dari hasil penelitian ini, perhitungan menggunakan metode Center of Gravity menemukan bahwa lokasi gudang eksternal yang dipilih berada di (-7.328293, 112.7420916), yaitu daerah Jemur Wonosari, Wonocolo, Kota Surabaya, Jawa Timur. Dengan menentukan lokasi yang tepat dari gudang eksternal, perusahaan akan mendapat manfaat dari efisiensi biaya transportasi.
Muhammad Rafi Iqbal (Universitas Widyatama), Ismail Hasan (Universitas Widyatama), Aldri Satria Gusmon (Universitas Widyatama)
Jurnal Manajemen Industri dan Logistik, Volume 4, pp 67-74; doi:10.30988/jmil.v4i1.430

Abstract:
To meet the rapid demand for pharmaceutical drugs, a new warehouse is needed to distribute to various cities in West Java. This research at PT. Kimia Farma has the aim of determining the location of a new warehouse that is efficient and effective in minimizing the transportation costs of PT. Kimia Farma Plant Bandung to the location of distribution in West Java. The current conditions with warehouses in the city of Bandung prove that transportation costs at the company are very large, due to the distance from the old warehouse to the distributors. In this study, the Center of Gravity method is used to determine the location of the warehouse. The design of this research is a case study in the area of West Java with data collection methods such as interviews and using CorelDraw software to create a Cartesian diagram. The calculation results obtained using the center of gravity method for the location of the new warehouse located in Subang with coordinate points (18.36). With the new warehouse location, it can minimize transportation costs as much as Rp. 481,192 with a percentage reduction of 6.76% and the distance from the initial warehouse in Bandung to Subang and then to all distribution destinations, which is 43 km closer after the addition of new warehouses. and has a decreased percentage of 6.91%. Abstrak Untuk memenuhi permintaan obat-obatan farmasi yang cepat, maka dibutuhkan letak gudang baru untuk mendistribusikan ke berbagai kota di Jawa Barat. Penelitian pada PT.Kimia Farma ini memiliki tujuan menentukan letak gudang baru yang efisien serta efektif dalam meminimkan biaya transportasi PT.Kimia Farma Plant Bandung ke letak distribusi di Jawa Barat. Kondisi saat ini dengan gudang di Kota Bandung membuktikan pengeluaran biaya transportasi pada perusahaan sangatlah besar, dikarenakan adanya jarak tempuh yang jauh dari gudang lama menuju para distributor. Dalam penelitian, digunakan metode center of gravity dalam mentukan letak gudang. Desain penelitian ini berupa studi kasus wilayah jawa barat dengan metode pengumpulan data berupa wawancara serta menggunakan software CorelDraw untuk membuat diagram kartesius. Hasil perhitungan yang diperoleh menggunakan metode center of gravity untuk letak gudang baru berletak di Subang dengan titik koordinat (18,36). Dengan adanya letak gudang yang baru maka, dapat meminimkan biaya transportasi sebesar Rp.481.192 dengan persentase penurunan sebesar 6,76% dan jarak tempuh dari gudang awal di Bandung menuju Subang lalu menuju semua tujuan distribusinya yakni sebesar 43 km lebih dekat setelah adanya penambahan gudang baru dan memiliki presentase penurunan sebesar 6,91%.
Muhamad As'Adi (Upn Veteran Jakarta), Akhmad Nidhomuz Zaman (Upn Veteran Jakarta), Alina Cynthia Dewi (Upn Veteran Jakarta), Arraz Naoval Viacenza (Upn Veteran Jakarta), Donny Montreano (Upn Veteran Jakarta)
Jurnal Manajemen Industri dan Logistik, Volume 4, pp 47-57; doi:10.30988/jmil.v4i1.419

Abstract:
The 4.0 industrial revolution created opportunities for MSMEs in rural areas to build and develop marketing networks on a wide and efficient scale. Applying digitization in a village will have an impact on the potential of what is not yet known in general. This study discusses the design of Android applications that are expected to provide new experiences to visitors to find out the potential of the village that has not been exposed. The contribution of this research is to examine the application design model that evaluates in two villages with different cultures and potentials, namely Ponggok Klaten Village and Kadubungbang Pandeglang Village. The results of QFD and AHP can help applications that are flexible to the village as well as visitor application needs and application priority features. Of the different features, because there are indeed differences between villages with different topography.AbstrakRevolusi industri 4.0 menciptakan peluang bagi UMKM di daerah pedesaan untuk dapat membangun dan mengembangkan jaringan pemasaran pada skala yang luas dan efisien. Penerapan digitalisasi pada suatu Desa akan memberikan dampak luias terhadap potensi apa yang belum diketahui secara umum. Penelitian ini bertujuan untuk mengusulkan desain aplikasi android yang diharapkan dapat memberikan pengalaman baru kepada para pengunjung untuk mengetahui potensi desa yang belum terekspos. Kontribusi dari penelitian ini adalah untuk mempelajari perbandingan pada desain model aplikasi yang dievaluasi pada dua desa dengan budaya dan potensi yang berbeda, yaitu Desa Ponggok Klaten dan Desa Kadubungbang Pandeglang. Hasil QFD dan AHP dapat diketahui bahwa aplikasi bersifat fleksibel terhadap penerapan dua desa serta prioritas kebutuhan pengunjung dan fitur prioritas aplikasi. Hasil erbandingan terdapat kesamaan dalam kebutuhan pelanggan dan perbedaan dalam desain fitur, karena kedua desa memiliki budaya dan topografi yang berbeda.
Winarno (Universitas Singaperbangsa Karawang), A. A. N. Perwira Redi (Universitas Pertamina)
Jurnal Manajemen Industri dan Logistik, Volume 4, pp 35-46; doi:10.30988/jmil.v4i1.311

Abstract:
Two-echelon location routing problem (2E-LRP) is a problem that considers distribution problem in a two-level / echelon transport system. The first echelon considers trips from a main depot to a set of selected satellite. The second echelon considers routes to serve customers from the selected satellite. This study proposes two metaheuristics algorithms to solve 2E-LRP: Simulated Annealing (SA) and Large Neighborhood Search (LNS) heuristics. The neighborhood / operator moves of both algorithms are modified specifically to solve 2E-LRP. The proposed SA uses swap, insert, and reverse operators. Meanwhile the proposed LNS uses four destructive operator (random route removal, worst removal, route removal, related node removal, not related node removal) and two constructive operator (greedy insertion and modived greedy insertion). Previously known dataset is used to test the performance of the both algorithms. Numerical experiment results show that SA performs better than LNS. The objective function value for SA and LNS are 176.125 and 181.478, respectively. Besides, the average computational time of SA and LNS are 119.02s and 352.17s, respectively.AbstrakPermasalahan penentuan lokasi fasilitas sekaligus rute kendaraan dengan mempertimbangkan sistem transportasi dua eselon juga dikenal dengan two-echelon location routing problem (2E-LRP) atau masalah lokasi dan rute kendaraan dua eselon (MLRKDE). Pada eselon pertama keputusan yang perlu diambil adalah penentuan lokasi fasilitas (diistilahkan satelit) dan rute kendaraan dari depo ke lokasi satelit terpilih. Pada eselon kedua dilakukan penentuan rute kendaraan dari satelit ke masing-masing pelanggan mempertimbangan jumlah permintaan dan kapasitas kendaraan. Dalam penelitian ini dikembangkan dua algoritma metaheuristik yaitu Simulated Annealing (SA) dan Large Neighborhood Search (LNS). Operator yang digunakan kedua algoritma tersebut didesain khusus untuk permasalahan MLRKDE. Algoritma SA menggunakan operator swap, insert, dan reverse. Algoritma LNS menggunakan operator perusakan (random route removal, worst removal, route removal, related node removal, dan not related node removal) dan perbaikan (greedy insertion dan modified greedy insertion). Benchmark data dari penelitian sebelumnya digunakan untuk menguji performa kedua algoritma tersebut. Hasil eksperimen menunjukkan bahwa performa algoritma SA lebih baik daripada LNS. Rata-rata nilai fungsi objektif dari SA dan LNS adalah 176.125 dan 181.478. Waktu rata-rata komputasi algoritma SA and LNS pada permasalahan ini adalah 119.02 dan 352.17 detik.
Dahliyah Hayati (Politeknik App)
Jurnal Manajemen Industri dan Logistik, Volume 4, pp 27-34; doi:10.30988/jmil.v4i1.245

Abstract:
The performance of suppliers both directly and indirectly determines several critical points for the company such as: product prices, product availability in the market, and product quality. It is very important for companies to monitor and improve the quality of raw materials obtained from suppliers, because this will determine the performance of the company, especially on the quality of products produced. The quality monitoring system implemented in the company must be responsive and consider every critical aspect of the non-conformity that occurs, not only using the Supplier Correction Action Request (SCAR) form or the Vendor Corrective Action Request (VCAR) form or the Supplier Corrective and Preventive Action Request (SCPAR) form for all types of non-conformity found. In this study, samples were taken at 3 different companies in order to obtain valid data to analyze and evaluate the existing quality monitoring system to get a new quality monitoring system that more responsive to avoid repeated findings occur. The research method was conducted by classifying non conformity types based on the level of criticism using the Total Quality Management (TQM) approach, fishbone diagrams, Failure Mode and Effect Analysis (FMEA), and Quality Function Deployment (QFD) so that the quality monitoring system produced is more accurate, effective and efficient in handling raw material non-conformities that occur. AbstrakKinerja pemasok baik secara langsung maupun tidak langsung ikut menentukan beberapa point kritikal bagi perusahaan seperti: harga produk, ketersediaan produk di pasar, dan kualitas produk. Sangat penting bagi perusahaan untuk memonitor dan meningkatkan kualitas bahan baku yang diperoleh dari pemasok, karena hal ini akan menentukan performa bagi perusahaan terutama terhadap kualitas produk yang dihasilkan. Sistem monitoring kualitas yang diterapkan di perusahaan harus responsif dan mempertimbangkan setiap aspek kritikal ketidaksesuaian yang terjadi, tidak bisa hanya menggunakan Supplier Correction Action Request (SCAR) form atau Vendor Corrective Action Request (VCAR) form atau Supplier Corrective and Preventive Action Request (SCPAR) form untuk semua tipe non conformity atau ketidaksesuaian yang ditemukan. Dalam penelitian ini, dilakukan pengambilan sampel di 3 perusahaan yang berbeda dengan tujuan agar didapatkan data valid guna menganalisis mengenai sistem monitoring kualitas yang telah ada saat ini dan mengevaluasi untuk mendapatkan sistem monitoring kualitas baru yang lebih responsif sehingga tidak terjadi lagi temuan berulang. Metode penelitian dilakukan dengan mengklasifikasikan tipe non conformity berdasarkan tingkat kritikalnya menggunakan pendekatan Total Quality Management (TQM), penggunaan fishbone diagram, Failure Mode and Effect Analysis (FMEA), dan Quality Function Deployment (QFD) sehingga sistem monitoring kualitas yang dihasilkan lebih akurat, efektif dan efisien dalam penanganan ketidaksesuaian bahan baku yang terjadi.
Sirma Oktaviani (Universitas Indonesia), Sartika Djamaluddin (Universitas Indonesia)
Jurnal Manajemen Industri dan Logistik, Volume 4, pp 10-26; doi:10.30988/jmil.v4i1.284

Abstract:
The effect of import liberalization on industrial productivity can occur through increased access to inputs and technology transfer to imported products. Another factor that can affect productivity is product complexity. The calculation results of the 2010-2014 Product Complexity Index (PCI) based on the concept of diversity and ubiquity, showed the average 3-digit PCI ISIC was 0.0946 with a minimum value of -2.1324 and a maximum of 2.2157. This study aims to look at the effect of imported raw materials on the productivity of companies that produce more complex products. By using the 2010-2014 Large and Medium Industry Survey data and involving the firm's fixed effects and time, empirical results show that imports of raw materials significantly affect the productivity of companies that produce complex products by -0.0405. In addition, it is known that the manufacturing industry takes approximately one year to absorb technology in complex products so as to increase firm productivity. Firm-level productivity is calculated based on the Levinshon-Petrin (2003) estimated productivity to control selection and simultaneity bias.ABSTRAK Efek liberalisasi impor terhadap produktivitas industri dapat terjadi melalui peningkatan akses input serta transfer teknologi pada produk impor. Faktor lainnya yang dapat mempengaruhi produktivitas adalah kompleksitas produk. Hasil perhitungan Product Complexity Index (PCI) 2010-2014 berdasarkan konsep keragaman dan ubiquity, menunjukkan rata-rata PCI ISIC 3 digit adalah 0.0946 dengan nilai minimum -2.1324 dan maksimum 2.2157. Penelitian ini bertujuan untuk melihat pengaruh impor bahan baku terhadap produktivitas perusahaan yang lebih banyak menghasilkan produk kompleks. Dengan menggunakan data Survei Industri Besar dan Sedang tahun 2010-2014 serta melibatkan efek tetap perusahaan dan waktu, hasil empiris menunjukkan impor bahan baku mempengaruhi produktivitas perusahaan yang menghasilkan produk kompleks secara signifikan sebesar -0.0405. Selain itu, diketahui bahwa industri manufaktur memerlukan waktu kira-kira satu tahun untuk menyerap teknologi pada produk kompleks sehingga dapat meningkatkan produktivitas perusahaan. Produktivitas level perusahaan dihitung berdasarkan estimasi produktivitas Levinshon-Petrin untuk mengendalikan bias seleksi dan simultanitas.
Jurnal Manajemen Industri dan Logistik, Volume 3; doi:10.30988/jmil.v3i2.242

Abstract:
In order to maintain their inventory efficiently, enterprises need to prioritize inventory policies considering multiple criteria. A Multi Criteria Inventory Classification (MCIC) is one of the most effective techniques widely used to classify inventory. In this paper, multiple criteria (annual value, lead time, cost per unit) are considered on ABC inventory classification. The aim of this study is classify products considering those multiple criteria. Multiple criteria ABC Classifications methodology developed by Ramanathan-Model and Ng-Model are used and compared with traditional method. Data are collected from annual chemical product transaction on PT XYZ during 2018. In this paper, linear programming method is used to solve ABC MCIC Model. The result of this study show that 12 items (14%) are identified as Class A, 26 items (30%) as class B and the remaining 48 items (56%) as C Class. In our conclution, we propose inventory policies based on the result of the ABC Models. Keywords: ABC Model; MCIC; Traditional Model; Ramanathan-Model; Ng-Model; Linear Programming; Chemical Product.Abstrak Dalam mengelola persediaan secara efisien, perusahaan perlu menentukan prioritas pengelolaan persediaan dengan mempertimbangkan beberapa kriteria. Klasifikasi ABC Multi Kriteria (MCIC) merupakan model klasifikasi persediaan barang yang umum digunakan oleh perusahaan dalam mengelola persediaan dalam jumlah besar. Penelitian ini menggunakan multi kriteria berupa nilai total produk, lead time dan biaya per unit. Tujuan penelitian adalah mengelompokan jenis/kelas barang sesuai dengan tingkat kepentingan dengan mempertimbangkan multi kriteria. Metode Multi kriteria yang telah dikembangkan oleh Ramanathan-Model dan Ng-Model dibandingkan dengan hasil klasifikasi Single criteria ABC (Traditional model). Data yang digunakan adalah data tahunan transaksi produk kimia PT XYZ di tahun 2018. Penyelesaian model ABC multi kriteria (MCIC) dengan pemrograman linear. Terdapat 86 items produk kimia yang diklasifikasikan dengan hasil klasifikasi A sejumlah 12 item (14%), B sejumlah 26 item (30%) dan item C sejumlah 48 item (56%). Pada penelitan ini juga disampaikan kebijakan inventory masing-masing kelas berdasarkan hasil klasifikasi ABC model yang telah dilakukan.Kata Kunci: Model ABC; MCIC; Model tradisional; Model Ramanathan; Model Ng; Pemrograman Linear; Produk kimia.
Yolanda Masnita (Universitas Trisakti - Indonesia), Abdul Rahman (Universitas Trisakti - Indonesia), Andhika Veraldy (Universitas Trisakti - Indonesia)
Jurnal Manajemen Industri dan Logistik, Volume 3, pp 155-163; doi:10.30988/jmil.v3i2.138

Abstract:
In strategy competition, innovation must be clear and precise in accordance with consumer demand and expectations. Limited organizational resources require organizations to manage innovation clearly. The company's efforts to change or increase product output, both from its processes and services, are interpreted as innovation. This study aims to examine the effect of total quality management on company performance with two approaches, additional innovation and radical innovation. The hypothesis was tested from data collected from 108 food and beverage SMEs registered at the Indonesian Food and Beverage Entrepreneurs Association - GAPMMI using convenience sampling data processed with AMOS. The results of the study show that additional innovation as a TQM mediator has an influence on company performance. In addition, testing shows that radical innovation has no effect on company performance. Therefore, additional innovation is the best way that SMEs can choose as a TQM approach to influence company performance. This research can contribute to small and medium enterprises in the selection of innovations in the practice of TQM. This will help entrepreneurs get better company performance Key words: total quality management; incremental innovation; radical innovation; firm performance; SMEs AbstrakDalam kompetisi strategi, inovasi harus jelas dan tepat sesuai dengan permintaan dan harapan konsumen. Terbatasnya sumber daya organisasi menuntut organisasi mengelola inovasi dengan jelas. Upaya perusahaan untuk mengubah atau meningkatkan output produk, baik dari proses dan layanannya, ditafsirkan sebagai inovasi. Penelitian ini bertujuan untuk meneliti pengaruh manajemen kualitas total terhadap kinerja perusahaan dengan dua pendekatan, inovasi tambahan dan inovasi radikal. Hipotesis diuji dari data yang dikumpulkan dari 108 UKM makanan dan minuman yang terdaftar di Gabungan Pengusaha Makanan dan Minuman Indonesia – GAPMMI dengan menggunakan convenience sampling data diolah dengan AMOS. Hasil penelitian menunjukkan bahwa inovasi tambahan sebagai mediator TQM, memiliki pengaruh terhadap kinerja perusahaan. Selain itu, pengujian menunjukkan bahwa inovasi radikal tidak berpengaruh pada kinerja perusahaan. Oleh karena itu, inovasi tambahan adalah cara terbaik yang dapat dipilih oleh UKM sebagai pendekatan TQM untuk mempengaruhi kinerja perusahaan. Penelitian ini dapat berkontribusi untuk usaha kecil dan menengah dalam pemilihan inovasi dalam praktik TQM. Hal ini akan membantu pengusaha mendapatkan kinerja perusahaan yang lebih baik Kata kunci: manajemen kualitas total; inovasi tambahan; inovasi radikal; kinerja perusahaan; UKM
Back to Top Top