Refine Search

New Search

Results in Journal Kreano, Jurnal Matematika Kreatif-Inovatif: 117

(searched for: journal_id:(76648))
Page of 3
Articles per Page
by
Show export options
  Select all
Siti Maryam Sari, Heni Pujiastuti
Kreano, Jurnal Matematika Kreatif-Inovatif, Volume 11, pp 71-77; doi:10.15294/kreano.v11i1.22717

Abstract:
Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan kemampuan komunikasi matematis siswa ditinjau dari self-concept. Penelitian ini merupakan jenis penelitian deskriptif dengan pendekatan kuantitatif. Subjek pada penelitian ini berjumlah 9 peserta didik kelas VIII MTs Al Ulya Al Mubarok. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah tes kemampuan komunikasi matemtis dan angket self-concept serta wawancara. Hasill penelitian diperoleh siswa yang memimiliki self-concept tinggi mendapatkan hasil tes kemampuan komunikasi matematisnya kategori baik dengan persentase nilai 75% sebanyak 3 orang. Siswa yang memiliki self-concept sedang yaitu mendapatkan hasil tes kemampuan komunikasi matematis yang cukup yaitu dengan rentang persentase nilai 41%-60% sebanyak 4 orang, dan siswa yang memimiliki self-concept rendah hasil tes kemampuan komunikasi matematisnya kurang yaitu persentase nilainya 40% sebanyak 2 orang. Kemampuan komunikasi matematis siswa sejalan dengan self-concept nya. Semakin tinggi self-concept siswa semakin baik pula kemampuan komunikasi matematisnya.This study was designed to describe students' mathematical communication skills in terms of self-concept. This research is a type of descriptive quantitative research. The subjects in this study tested 9 students of class VIII MTs Al Ulya Al Mubarok. The instruments used in this study were tests of mathematical communication skills and self-concept questionnaires and interviews. The results of the study obtained that students who have high self-concept get mathematical communication skills test results in both categories with a percentage of 75% as many as 3 peoples. Students who have self-concept are getting sufficient mathematical communication test results with a range of 41% -60% assessment value as many as 3 peoples, and students who have low self-concept of mathematical communication skills test results are less that is beneficial value of 40% by 3 peoples. Students' mathematical communication skills are in line with their self-concept. The higher the student's self-concept the better his mathematical communication skills.
Ahmat Wakit, Nor Hidayati
Kreano, Jurnal Matematika Kreatif-Inovatif, Volume 11, pp 101-109; doi:10.15294/kreano.v11i1.21047

Abstract:
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kemampuan pemecahan masalah matematika mahasiswa Teknik Sipil ditinjau dari gaya kognitif. Penelitian merupakan penelitian deskriptif kualitatif. Sebanyak 26 subjek kelas GA ditentukan gaya kognitifnya menggunakan Group Embedded Figure Test (GEFT) untuk mengelompokkan subjek Field Dependent (FD), Field Intermediate (FDI), dan Field Independent (FI). Setiap kategori gaya kognitif diambil 2 mahasiswa dengan skor rendah dan tinggi yang dijadikan subjek penelitian. Hasil pemecahan masalah mahasiswa menunjukkan bahwa subjek FD Lemah belum mampu memenuhi semua indikator pemecahan masalah dan membutuhkan bimbingan lebih dalam menyelesaikan permasahalan yang dihadapi. Subjek FD Kuat mengalami kendala dalam menggunakan pengetahuan konsep dan menerapkan berbagai strategi yang tepat untuk memecahkan masalah, dan merefleksikan proses pemecahan masalah menggunakan langkah Polya. Kemampuan pemecahan masalah subjek FDI Lemah dan FDI Kuat tergolong baik, namun masih belum mampu melakukan pengecekan kembali. Subjek FI Lemah dan FI Kuat memiliki kemampuan pemecahan masalah yang baik. Seluruh indikator pemecahan masalah terpenuhi.This research aims to analyze the mathematical problem solving abilities of Civil Engineering students in terms of cognitive style. The research is a qualitative descriptive study. A total of 26 GA class subjects were determined by their cognitive style using the Group Embedded Figure Test (GEFT) to group Field Dependent (FD), Field Intermediate (FDI), and Independent Field (FI) subjects. Each category of cognitive style was taken by 2 students with low and high scores which were used as research subjects. The results of student problem solving show that the subject of Weak FD has not been able to meet all the indicators of problem solving and requires more guidance in solving the problem at hand. The subject of Strong FD encountered problems in using concept knowledge and implementing various appropriate strategies to solve problems, and reflecting the problem solving process using Polya's steps. The problem solving ability of the subject FDIL weak and strong FDI is quite good, but still not able to check again. Weak FIL and Strong FI subjects have good problem solving skills. All indicators of problem solving are met.
Putri Wulan Clara Davita, Heni Pujiastuti
Kreano, Jurnal Matematika Kreatif-Inovatif, Volume 11, pp 110-117; doi:10.15294/kreano.v11i1.23601

Abstract:
Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan kemampuan pemecahan masalah matematika siswa ditinjau dari gender. Penelitian ini adalah penelitian deskriptif kuantitatif. Pokok bahasan pada penelitian ini yaitu turunan fungsi trigonometri. Subjek dalam penelitian ini adalah siswa kelas XII SMA Negeri 1 Wanasalam tahun ajaran 2019/2020 yang berjumlah 20 siswa. Metode pengumpulan data dalam penelitian ini adalah metode tes. Teknik analisis data dalam penelitian ini dengan melihat nilai tes kemampuan pemecahan masalah matematika dilihat dari kategori tinggi, sedang dan rendah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai rata-rata siswa perempuan 80,12 dan nilai rata siswa laki-laki 74,57. Berdasarkan hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa kemampuan pemecahan masalah matematika siswa perempuan lebih baik daripada siswa laki-laki.This study aims to describe students’ mathematical problem solving abilities in terms of gender. This research is a quantitative descriptive study using the results of the final test scores as a reference to see students’ mathematical problem solving abilities. The subject of this research is the trigonometric function derivative. Subjects in this study were students of class XII of SMA Negeri 1 Wanasalam in the 2019/2020 school year, is 20 students. Data analysis techniques in this study by looking at the test scores of mathematical problem solving skills seen from the high, medium and low categories. The results showed that the average value of female students was 80.12 and the average value of male students was 74.57. Based on the results of this study it can be concluded that the mathematical problem solving ability of female students is better than male students.
Ni Putu Novianty Sari, Yusuf Fuad, Rooselyna Ekawati
Kreano, Jurnal Matematika Kreatif-Inovatif, Volume 11, pp 56-63; doi:10.15294/kreano.v11i1.22525

Abstract:
Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan profil berpikir aljabar siswa SMP dalam memecahkan masalah pola bilangan. Indikator berpikir aljabar yang digunakan, yaitu generalisasi, abstraksi, berpikir analitik, berpikir dinamik, pemodelan dan organisasi. Kelas 8B dipilih secara purposif dari dua kelas 8 pada SMP LabSchool Unesa Surabaya. Semua siswa kelas 8B, terdiri atas 21 laki-laki dan 9 perempuan, harus mengerjakan tes kemampuan matematika (TKM) dan tes pemecahan masalah (TPM). Hasil tes TKM, TPM dan dokumen nilai ujian tengah semester (UTS) mengidentifikasi 1 siswa berkategori matematika tinggi, 10 siswa berkategori matematika sedang dan 19 siswa berkategori matematika rendah. Selanjutnya, dipilih sebagai subjek penelitian, dengan sepersetujuan siswa, yakni seorang siswa laki-laki berkemampuan matematika tinggi dan masing-masing seorang siswa perempuan berkemampuan matematika sedang dan rendah. Data penelitian diperoleh dari jawaban TPM dan wawancara berbasis TPM. Keabsahan data diuji dengan triangulasi waktu. Hasil penelitian menunjukkan bahwa siswa berkemampuan tinggi memenuhi semua indikator berpikir aljabar dan semua langkah pemecahan masalah. Siswa kemampuan matematika sedang mampu menerapkan semua langkah pemecahan masalah, namun hanya memenuhi indikator generalisasi, abstraksi, pemodelan dan berpikir analitik. Siswa kemampuan matematika rendah masih mengalami kesulitan untuk menerapkan keempat langkah pemecahan masalah, dan hanya mampu memenuhi indikator abstraksi, berpikir dinamik, berpikir analitik, dan pengorganisasian. Dengan demikian kemampuan berpikir aljabar siswa SMP signifikan berpengaruh pada penyelesaian permasalahan pola bilangan. Oleh karena itu guru disarankan untuk lebih banyak memberi latihan untuk mengembangkan kemampuan berpikir aljabar siswa dalam memecahkan masalah pola bilangan.Kata Kunci: Berpikir Aljabar, Kemampuan Matematika, Masalah Pola Bilangan, Pemecahan Masalah.
Irfan Fauzi, Andika Arisetyawan
Kreano, Jurnal Matematika Kreatif-Inovatif, Volume 11, pp 27-35; doi:10.15294/kreano.v11i1.20726

Abstract:
Geometri adalah cabang matematika yang diajarkan dengan tujuan agar siswa dapat memahami sifat-sifat dan hubungan antar unsur geometri serta dapat mendorong siswa untuk dapat berpikir secara kritis dan memecahkan masalah dalam kehidupan sehari-hari. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kesulitan siswa kelas 4 SD Negeri Asmi 033 Kota Bandung dalam menjawab soal geometri. Penelitian ini menggunakan studi eksploratif dalam bentuk tes uraian tertulis pada materi geometri yang diberikan kepada 26 siswa SD Negeri Asmi 033 Kota Bandung. Hasil analisis menunjukkan bahwa terdapat kesulitan yang dihadapi siswa dalam menjawab soal geometri, kesulitan tersebut diantaranya adalah (1) siswa kesulitan dalam penggunaan konsep, (2) siswa kesulitan dalam penggunaan prinsip, dan (3) siswa kesulitan dalam menyelesaikan masalah-masalah verbal. Hasil penelitian ini dapat dijadikan bahan pengembangan permasalahan geometri, khususnya pada materi keliling dan luas bangun datar di masa yang akan datang.Geometry is a branch of mathematics taught with the aim that students can understand the properties and relationships between elements of geometry and can encourage students to be able to think critically and solve problems in everyday life. This study aims to analyze the difficulties of fourth grade students of SD Negeri Asmi 033 Bandung City in answering geometry question. This study used an exploratory study in the form of a written description test on the geometry material given to 26 students of SD Negeri Asmi 033 Bandung City. The results of the analysis show that there were difficulties faced by students in answering geometry questions, such difficulties were (1) students difficulty in using concepts, (2) students difficulty in using principles, and (3) students difficuly in solving verbal problems. The result of this study can be used as material for the development of geometry problems, especially in the material of circumference and area of plane (geometry) in the future.
Jauharotul Izzah,
Kreano, Jurnal Matematika Kreatif-Inovatif, Volume 11, pp 64-70; doi:10.15294/kreano.v11i1.22547

Abstract:
Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan pelaksanaan pembelajaran berbasis lesson study dengan menggunakan model kooperatif Tipe Think Pair Share(TPS) pada matakuliah pengantar aljabar. Jenis penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kualitatif. Subjek dalam penelitian ini adalah mahasiswa Pendidikan Matematika kelas C-2019 Universitas Negeri Malang yang berjumlah 34 mahasiswa. Analisis penelitian difokuskan pada kegiatan perencanaan (plan), pelaksanaan (do), dan refleksi (see). Hasil penelitian menunjukkan bahwa secara keseluruhan proses pembelajaran matematika berbasis lesson study dengan model kooperatif tipe TPS dapat diikuti oleh mahasiswa secara efektif. Sebagian besar mahasiswa berpartisipasi aktif dalam proses pembelajaran. Hasil tes individu sebagai uji pemahaman konsep aljabar mengalami peningkatan dengan perolehan nilai rata-rata kelas sebesar 80,00 pada periode I dan perolehan nilai rata-rata kelas sebesar 88,50 pada periode II. Sementara, hasil respon mahasiswa terhadap proses pembelajaran diperoleh skor rata-rata sebesar 3,26 yang berarti respon mahasiswa sangat positif.This study aims to describe the implementation of lesson study-based learning, using cooperative learning models Think Pair Share (TPS) type to improve understanding of algebraic concepts. This type of research is qualitative research. The subjects in this study were students of Mathematics Education class C-2019 State University of Malang, amounting to 34 students. Research analysis focused on planning (plan), implementation (do), and reflection (see) activities. The results showed that the whole process of learning mathematics based on lesson study with a cooperative model of Think Pair Share (TPS) type could be effectively followed by students. Most students actively participate in the learning process. Individual test results as a test of understanding the concept of algebra have increased with the acquisition of an average grade of 80.00 in period I and the average grade of 88.50 in period II. Meanwhile, the results of student responses to the learning process obtained an average score of 3.26, which means that the response of students was very positive.
Huriah Hasanah, Puji Nugraheni, Riawan Yudi Purwoko
Kreano, Jurnal Matematika Kreatif-Inovatif, Volume 11, pp 16-26; doi:10.15294/kreano.v11i1.20663

Abstract:
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kendala penerapan pendekatan saintifik dalam pembelajaran barisan dan deret geometri. Sumber data terdiri dari data primer yaitu siswa yang diambil dengan teknik snowball dan data sekunder yaitu guru. Teknik pengumpulan data menggunakan observasi, wawancara, dan dokumentasi. Teknik analisis data terdiri dari reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Teknik pemeriksaan keabsahan data menggunakan triangulasi teknik. Berdasarkan hasil penelitian disimpulkan bahwa kendala penerapan pendekatan saintifik dalam pembelajaran barisan dan deret geometri berupa: (1) kendala dalam menanya yaitu merumuskan pertanyaan terkait banyaknya suku, jumlah suku pertama, serta rasio; (2) kendala dalam mengumpulkan informasi yaitu kurang optimalnya penggunaan buku teks dan internet; (3) kendala dalam mengasosiasi yaitu menentukan banyaknya suku dan menentukan rumus barisan dan deret; (4) kendala dalam mengkomunikasikan yaitu membaca kalimat matematika perkalian dan akar.This study aims to analyze the constraints of implementation scientific approach in the learning of geometric sequences and series. Data sources consist of primary data is students uses snowball techniques and secondary data is teachers. Data collection techniques using observation, interview, and documentation. Data analysis techniques used data reduction, data display, and conclusion drawing. The data validity inspection technique used triangulate technique. Based on the results of the study concluded that constraints of implementation scientific approach in the learning of geometric sequences and series is: (1) constraints in questioning is to formulate questions related to the number of tribes, the number of first tribes, and ratio; (2) constraints in collecting information is less optimal use of textbook and internet; (3) constraints in associating is determining the number of tribes and determining the sequences and series formula; (4) constraints in communicating is read math sentences of multiplication and root.
Dewi Wahyuningsih, Danang Setyadi
Kreano, Jurnal Matematika Kreatif-Inovatif, Volume 11, pp 46-55; doi:10.15294/kreano.v11i1.22493

Abstract:
Motivasi merupakan aspek kunci pada pencapaian prestasi, belajar akan lebih ulet, mempelajari dan menguasai materi demi tujuan yang ingin dicapai. Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan Board Game Zathura Mathematics pada materi berpangkan dan bentuk akar. Penelitian ini termasuk dalam pengembangan atau Research and Development (R&D) melalui 5 tahapan : Analysis (menganalisis), Design (mendesain), Development (mengembangkan), Implementation (melaksanakan), dan Evaluation (mengevaluasi). Media valid dari segi materi dan media pembelajaran dengan persentase 88% dan 87% dari kedua kategori tersebut masuk dalam kategori sangat baik untuk materi maupun media pembelajaran. Nilai praktis pada media ini sebesar 100% termasuk dalam kategori sangat baik. Board Game Zathura Mathematics valid dan praktis sebagai media pembelajaran materi Bilangan Berpangkat dan Bentuk Akar pada peserta didik kelas IX.Motivation is a key aspect of achievement, learning will be more tenacious, learn and master the material for the objectives to be achieved. This study aims to develop the Zathura Mathematics Board Game on trunk material and root shapes. This research is included in the development or Research and Development (R&D) through 5 stages: Analysis (analyzing), Design (designing), Development (developing), Implementation (implementing), and Evaluation (evaluating). Media is valid in terms of material and learning media with a percentage of 88% and 87% of the two categories included in the excellent category for the material and learning media. The practical value of this media is 100% included in the excellent category. Zathura Mathematics Board Game is valid and practical as learning media for Rank Numbers and Root Shapes in grade IX students.
Ani Minarni, E.Elvis Napitupulu, Yaya S. Kusumah
Kreano, Jurnal Matematika Kreatif-Inovatif, Volume 11, pp 1-15; doi:10.15294/kreano.v11i1.22494

Abstract:
Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh perangkat pembelajaran berbasis discovery learning berbantuan Microsoft Excel yang efektif dalam meningkattkan kemampuan pemecahan masalah statistika (KPMS) dan soft skills siswa SMP. Kriteria efektif bersandar pada teori intervensi pembelajaran yang meliputi adanya peningkatan capaian hasil belajar setelah intervensi, adanya respon positif siswa dan guru terhadap perangkat pembelajaran yang dikembangkan, keterlibatan (engagement) siswa yang tinggi dalam pembelajaran, serta diperoleh lebih dari 65% siswa mencapai skor 65 dari skala 100 dalam tes KPMS. Peningkatan KPMS diselidiki melalui indeks gain ternormalisasi. Peningkatan soft skills dideskripsikan dengan bersandar pada statistik deskriptik. Penelitian ini menghasilkan perangkat pembelajaran yang memiliki karakteristik efektif dalam meningkatkan KPMS dan soft skills siswa SMP sehingga siap untuk disebarluaskan. Disarankan agar guru lebih diberi kesempatan untuk mengimplementasikan perangkat pembelajaran yang dikembangkan sesuai dengan tujuan pembelajaran matematika sehingga dapat diharapkan siswa memperoleh kemampuan pemecahan masalah dan soft skills yang lebih tinggi lagi.This study aims to obtain discovery learning-based learning tools supported by Microsoft Excel that are effective in increasing statistical problem solving abilities (KPMS) and soft skills of junior high school students. Effective criteria rely on the theory of learning interventions which include an increase in learning outcomes after the intervention, positive student and teacher responses to the learning tools developed, high student engagement in learning, and obtained more than 65% of students achieving a score of 65 from a scale of 100 in the KPMS test. The increase in KPMS is investigated through a normalized gain index. Improved soft skills are described by relying on descriptive statistics. This research produces learning tools that have effective characteristics in improving problem solving skills and soft skills of junior high school students so that they are ready to be disseminated. It is recommended that teachers be given more opportunities to implement learning tools that are developed in accordance with the learning objectives of mathematics so that students can expect to get higher problem solving skills and soft skills.
Ruhban Maskur, Dwi Permatasari, Rosida M Rakhmawati
Kreano, Jurnal Matematika Kreatif-Inovatif, Volume 11, pp 78-87; doi:10.15294/kreano.v11i1.23562

Abstract:
Penelitian ini menghasilkan bahan ajar matematika berbasis Rhythm Reading Vocal yang layak, menarik, efektif pada materi konsep pecahan. Penelitian ini merupakan penelitian pengembangan menggunakan model ADDIE yang terdiri dari analysis, design, development, implementation, evaluation. Hasil yang diperoleh dari penelitian ini adalah bahan ajar berbasis Rhythm Reading Vocal. Perolehan hasil uji kelayakan ahli materi 4,26 “Sangat Layak” dan ahli media 3,9 “Sangat Layak”. Hasil angket kemenarikan peserta didik uji kelompok kecil diperoleh skor rata-rata 3,23 “Menarik” dari 10 peserta didik dan uji kelompok besar diperoleh skor rata-rata 3,41 “Sangat Menarik” dari 24 peserta didik. Hasil uji effect size diperoleh skor 1,03 “Tinggi’. Berdasarkan hasil analisis data disimpulkan bahwa pengembangan bahan ajar matematika berbasis Rhythm Reading Vocal pada materi konsep pecahan layak, efektif dijadikan bahan ajar jenjang SMP.This research produces mathematics teaching material based on Rhythm Reading Vocal which is feasible, interesting, effective on fraction cocept material. This research is a development research using ADDIE model which consists of analysis, design, development, implementation, evaluation. The results obtained from this study are teaching materials based on Rhythm Reading Vocal. Aqcquistion of feasibility test results of material expert 4.26 “Very Feasible” and media expert 3.9 “Very feasible”. The results of the attractiveness of the small group test students obtained an average score of 3.23 “Attractive” from 10 students amd large group test obtained an average score of 3.41 “ Very Interesting” from 24 students. Effect size test results obtained score 1.03 “High”. Based on the results of the data analysis, it was concluded that the development of Rhythm Reading Vocal based mathematics teaching material on feasible fraction concept material, effectively became the teaching material for SMP.
Lisna Sari, Ryan Angga Pratama, Besse Intan Permatasari
Kreano, Jurnal Matematika Kreatif-Inovatif, Volume 11, pp 88-100; doi:10.15294/kreano.v11i1.23618

Abstract:
Penelitian ini bertujuan untuk menghasilkan media pembelajaran Puzzle Angka dan Corong Angka (PANCORAN) yang layak digunakan dalam materi Bilangan untuk siswa kelas 5 Tunagrahita di Sekolah Luar Biasa (SLB) Tunas Bangsa Balikpapan. Penelitian ini merupakan kategori penelitian dan pengembangan (R&D), dengan metode pengembangan model Borg & Gall yang dimodifikasi dengan tahapan yang dilakukan sebagai berikut: (1) penelitian dan pengumpulan informasi awal, (2) perencanaan, (3) pengembangan format produk awal, (4) uji coba awal, (5) revisi produk, (6) uji coba lapangan, (7) revisi produk. Hasil validasi menunjukkan bahwa media pembelajaran Puzzle Angka dan Corong Angka (PANCORAN) yang dikembangkan termasuk kategori Sangat Valid (rata-rata skor 4,75), Sangat Praktis (skor 4,7), dan Efektif (ketuntasan belajar siswa mencapai 80%).This study aims to produce learning media for Number Puzzle and Number Funnel (PANCORAN) that aresuitable for use in Numbers material for Grade 5 Tunagrahita students at Tunas Bangsa Special Schools (SLB)Balikpapan. This research is a research and development (R&D) category, with the method of developing themodified Borg & Gall model with the following stages: (1) initial research and preliminary data collection, (2)planning, (3) developing the initial product format, ( 4) initial trials, (5) product revisions, (6) field trials, (7)product revisions. The results of the validation show that the learning media for Number Puzzle and NumberFunnel (PANCORAN) developed is in the category of Very Valid (average score 4,75), Very Practical (score4,7), and Effective (the percentage of completeness of student learning outcomes reaches 80%)
Egha Alifa Putra, Ria Sudiana, Aan Subhan Pamungkas
Kreano, Jurnal Matematika Kreatif-Inovatif, Volume 11, pp 36-45; doi:10.15294/kreano.v11i1.21014

Abstract:
Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan learning management system (LMS) berbasis smartphone sebagai media pembelajaran matematika. Model pengembangan yang digunakan adalah model ADDIE yaitu Analisis, Desain, Development, Implementasi, dan Evaluasi. Adapun langkah-langkah yang dilakukan yaitu Analisis terhadap keadaan sekolah dan menemukan potensi serta masalah yang ada mengenai media pembelajaran, mendesain media pembelajaran sesuai dengan hasil analisis, mengembangkan hasil desain yang telah dibuat, implementasi terhadap media pembelajaran kepada para ahli yaitu ahli media pembelajaaran dan ahli Pendidikan matematika, serta evaluasi media pembelajaran yang telah layak menurut para ahli kepada siswa serta praktisi yaitu guru. Untuk melihat kelayakan dari media pembelajaran dilakukan validasi produk awal media pembelajaran. Pada tahap implementasi dilakukan validasi produk yang telah dibuat, adapun tingkat kualitas media pembelajaran berdasarkan penilaian terhadap media pembelajaran: 1) Ahli Media Pembelajaran diperoleh persentase 84% dengan kategori sangat baik, 2) Ahli Pendidikan Matematika diperoleh persentase 92,72% dengan kategori sangat baik. Efektifitas media pembelajaran berdasarkan evaluasi media pembelajaran oleh siswa serta praktisi yaitu guru, adapun hasil yang didapatkan adalah 1) Respon siswa terhadap media pembelajaran diperoleh persentase 87,91% dengan kategori sangat baik, 2) Hasil praktisi guru diperoleh persentase 87,86%.This study aims to develop a smartphone-based learning management system (LMS) as a medium for learning mathematics. The development model used is the ADDIE model, namely Analysis, Design, Development, Implementation, and Evaluation. The steps taken are Analysis of the state of the school and finding potential and existing problems regarding learning media, designing learning media in accordance with the results of the analysis, developing the design results that have been made, implementation of learning media to experts namely learning media experts and math education experts, as well as evaluation of instructional media that are appropriate according to experts to students and teachers. To see the feasibility of learning media, the initial product learning media validation is done. At the implementation stage, product validation has been carried out, as for the level of quality of learning media based on the assessment of learning media: 1) Learning media experts obtained a percentage of 84% with very good categories, 2) Mathematics education experts obtained a percentage of 92.72% with very good categories. The effectiveness of learning media is based on the evaluation of instructional media by students and teachers, while the results obtained are 1) Students' responses to learning media obtained a percentage of 87.91% with very good categories, 2) Results of teacher practitioners obtained a percentage of 87.86%
Kreano, Jurnal Matematika Kreatif-Inovatif, Volume 10, pp 179-185; doi:10.15294/kreano.v10i2.17970

Abstract:
Menanamkan nilai karakter pada soal matematika menjadi salah satu cara untuk mencapai tujuan utama pendidikan nasional yaitu membentuk siswa yang berkarakter. Penanaman nilai karakter melalui soal matematika mirip TIMSS diharapkan mampu menjadi sarana untuk menghadirkan soal matematika yang memiliki nuansa karakter dan membiasakan siswa agar dapat menyelesaikan masalah matematika dalam kehidupan sehari-hari. Jenis penelitian ini adalah design research tipe formative evaluation yang bertujuan untuk menghasilkan soal mirip TIMSS yang memuat nilai-nilai karakter. Hasil yang diperoleh peneliti adalah sebanyak 17 soal matematika mirip TIMSS yang memuat nilai karakter religius, kerja keras, jujur, atau disiplin.Instill character values in math problems be one way to achieve the main goal of national education is to produce good students in character. Instilling character values through math problems seem TIMSS expected to be a means to present mathematical problems that have a character nuance and familiarize students to be able to solve mathematical problems in daily life. The type of this research is design research (formative evaluation) to produce a problems similar to TIMSS that contains character values. The results obtained by the researchers were as many as 17 math problems similar to TIMSS which contained the value of religious character, hard work, honesty, or disciplineKeywords: mathematics problems, TIMSS, character value.
, Budiyono Budiyono, Isnandar Slamet
Kreano, Jurnal Matematika Kreatif-Inovatif, Volume 10, pp 125-131; doi:10.15294/kreano.v10i2.16831

Abstract:
The purpose of this study is to find out from each model of learning mathematics, which provides better mathematics learning achievement, students who have the type of logical intelligence mathematics, visual, kinesthetic or interpersonal. This research method of this study is quasi experimental research or pre-experimental research with research design using 3 x 4 factorial designs. The population in this study is the entire students VIII grade SMP N in districk of Demak. Sampling was done by stratified cluster random sampling technique. Instruments used to collect data are a questionnaire of multiple intelligences and mathematics learning achievement test. The prerequisite test includes the population normality test using the Lilliefors method and the homogeneity test of population variance using the Bartlett method.With α = 0, 05. Hypothesis testing of the study are analysis of variance with unequal cell. Based on the results of hypothesis testing, obtained the conclusion that. There is interaction of learning model on mathematics learning achievement in each category of students’ multiple intelligence.
Puspita Ayu Damayanti,
Kreano, Jurnal Matematika Kreatif-Inovatif, Volume 10, pp 119-124; doi:10.15294/kreano.v10i2.16814

Abstract:
Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan media pembelajaran interaktif berbasis powerpoint pada materi kerucut yang valid dan praktis. Model pengembangan yang digunakan adalah modifikasi model 4D yang dikembangkan oleh Thiagarajan, yaitu pendefinisian, perancangan, dan pengembangan. Hasil analisa kevalidan menunjukkan bahwa media memenuhi kriteria valid dengan rata-rata skor 3,32. Hasil analisis kepraktisan menunjukkan bahwa media dinyatakan praktis dengan kriteria rata-rata skor hasil observasi kegiatan pembelajaran 3,83 dan skor hasil angket siswa 3,43. Berdasarkan hasil analisis tersebut, media pembelajaran interaktif berbasis powerpoint dapat dinyatakan valid dan praktis.This study aims to develop powerpoint-based interactive learning media on the material of cone. The development model used is the modification of 4D model developed by Thiagarajan, that is defining, designing, and developing. The results of the validity analysis showed that the media fulfill the valid criteria in average score of 3.32. The results of practical analysis showed that the media was practical in average score of observation result of learning activity 3.83 and score of student questionnaire result 3,43. Based on the results of the analysis, powerpoint-based interactive learning media was valid and practical.
Kreano, Jurnal Matematika Kreatif-Inovatif, Volume 10, pp 186-192; doi:10.15294/kreano.v10i2.19061

Abstract:
Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan kualitas siswa IPS dalam mengikuti pembelajaran kontekstual materi Program Linier dengan mempertimbangkan kecemasan belajar matematika. Penelitian ini dideskripsikan secara kualitatif. Penelitian ini melibatkan 29 siswa kelas XI IPS di salah satu SMA Negeri di Surabaya. Data diperoleh dari pengamatan, angket, tes dan wawancara sebagai pendukung. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kualitas pembelajaran dikategorikan tidak berkualitas. Namun, hasil tersebut lebih tinggi daripada kualitas pembelajaran yang umumnya terjadi di kelas yang sama.This research aims to describe the quality in contextual teaching and learning of linier programming by considering the mathematics anxiety. It will be described qualitatively. The subject is 29 students of second graders (social) from one of state senior high school in Surabaya. The data is obtained by observation, questionnaire, test and interview. The result of research shows that the learning quality is categorized as bad. However, this result is 24% higher than the common learning quality at the same class.
Kreano, Jurnal Matematika Kreatif-Inovatif, Volume 10, pp 165-170; doi:10.15294/kreano.v10i2.21244

Abstract:
Performa mahasiswa memiliki peran penting dalam menghasilkan lulusan yang berkualitas. Kurang optimalnya performa mahasiswa terlihat dari hasil belajar mahasiswa pada mata kuliah Persamaan Diferensial rata-rata sekitar 70 dan masih ada yang mendapatkan nilai kurang dari 70 sekitar 38%, serta kurangnya kemandirian belajar mahasiswa. Oleh karenanya optimalisasi performa mahasiswa perlu dilakukan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mendapatkan optimalisasi performa mahasiswa melalui penggunaan bahan ajar komputasi matematika berbantuan software Mathematica. Kemandirian belajar dan hasil belajar mahasiswa dijadikan sebagai sasaran performa mahasiswa yang akan dioptimalkan. Penelitian ini dilaksanakan di Program Studi Pendidikan Matematika FKIP Universitas Muhammadiyah Tangerang yang berjumlah 24 mahasiswa pada mata kuliah Persamaan Diferensial menggunakan bahan ajar Komputasi Matematika Berbantuan Software Mathematica. Penelitian ini merupakan penelitian kuasi eksperimen dengan desain eksperimen yang digunakan adalah one-group pretest-posttest design. Hasil yang didapat dari penelitian ini adalah terdapat perbedaan yang signifikan antara sebelum dan sesudah penggunaan bahan ajar untuk kemandirian belajar dan hasil belajar mahasiswa melalui uji t. Rata-rata peningkatan persentase kemandirian belajar dan hasil belajar mahasiswa secara berturut-turut sebesar 7% dan 24%.Students’ performance has an important role in producing quality graduates. Less optimal students’ performance can be seen from student learning outcomes in Differential Equation courses an average of around 70 and there are still those who score less than 70 about 38%, and lack of students’ self regulated learning. Therefore, optimizing students’ performance needs to be done. The purpose of this study is to obtain the optimization of students’ performance using computational mathematics teaching materials assisted by Mathematica software. Self regulated learning and student learning outcomes are targeted as students’ performance to be optimized. This research was conducted in the Mathematics Education Study Program FKIP Muhammadiyah University of Tangerang, totaling 24 students in the Differential Equation course using Mathematica Software Computational Mathematics teaching material. This research is a quasi-experimental research with the experimental design used is a one-group pretest-posttest design. The results obtained from this study are that there are significant differences between before and after the use of teaching materials for self-regulated learning and student learning outcomes through t-test. The average increase in the percentage of self-regulated learning and student learning outcomes are 7% and 24%, respectively.
Kreano, Jurnal Matematika Kreatif-Inovatif, Volume 10, pp 112-118; doi:10.15294/kreano.v10i2.15050

Abstract:
Tujuan penelitian ini untuk mengetahui kemampuan memecahkan masalah siswa dalam mengerjakan soal tipe Higher Order Thinkimg Skills (HOTS). Kemampuan memecahkan masalah merupakan salah satu kemampuan yang penting untuk dikembangkan dan harus dimiliki oleh siswa. Dengan mengerjakan soal-soal Higher Order Thinking Skills, maka siswa akan mencapai level-level pada kemampuan matematika dari level yang terendah sampai level tertinggi. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mendiskripsikan pemecahan masalah siswa kelas XII IPA dalam menyelesaikan soal tipe Higher Order Thinking Skills berdasarkan langkah-langkah Polya. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian deskriptif. Pada penelitian ini peneliti juga menggunakan beberapa metode untuk mengumpulkan data antara lain: tes, wawancara dan dokumentasi. Hasil penelitian ini diperoleh kesimpulan bahwa siswa dalam memecahkan masalah menggunakan langkah Polya, dapat menuhi indikator menganalisis, menciptakan, dan mengevaluasi.The purpose of this study to determine the ability to solve student problems in working on the problem type Higher Order Thinkimg Skills (HOTS). Ability to solve problems is one of the important skills to be developed and must be owned by students. By working on the Higher Order Thinking Skills questions, students will reach the levels of mathematical ability from the lowest level to the highest level. The purpose of this research is to describe the problem solving of students of class XII IPA in solving the problem of Higher Order Thinking Skills type based on Polya steps. This research uses qualitative approach with descriptive research type. In this study the researchers also used several methods to collect data, among others: tests, interviews and documentation. The results of this study obtained the conclusion that students in solving problems using Polya step, can meet the indicators analyze, create, and evaluate.
Muslimin Muslimin,
Kreano, Jurnal Matematika Kreatif-Inovatif, Volume 10, pp 171-178; doi:10.15294/kreano.v10i2.18323

Abstract:
Penelitian ini dilatarbelakangi oleh rendahnya kemampuan penalaran matematika siswa Sekolah Menengah Atas (SMA) dalam matematika. Siswa mengalami kesulitan dalam pembelajaran materi geometri ruang. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran kemampuan penalaran matematika siswa SMA pada materi geometri ruang. Metode penelitian ini adalah kualitatif deskriptif dengan menganalisis kemampuan penalaran siswa dari instrumen yang diberikan. Instrumen dalam penelitian ini berbentuk tes tertulis yang berjumlah 5 soal. Berdasarkan hasil penelitian penelitian di SMA YPI Tunas Bangsa Palembang diperoleh nilai rata-rata kemampuan penalaran matematika siswa sebesar 66,11 yang tergolong cukup. Secara keseluruhan, indikator kemampuan penalaran matematika yang banyak dikuasai siswa adalah menyajikan pernyataan matematika dengan gambar dan tulisan, sedangkan indikator kemampuan penalaran matematika yang kurang dikuasai siswa adalah menarik kesimpulan dari suatu pernyataan.This research is motivated by the low mathematical reasoning abilities of high school students in mathematics. Students experience difficulties in learning space geometry material. This study aims to describe the mathematical reasoning abilities of high school students in space geometry. The method of this research is descriptive qualitative by analyzing the students' reasoning abilities of the given instrument. The instruments in this study were in the form of written tests totaling 5 questions. Based on the results of research at Tunas Bangsa Palembang YPI High School, the average mathematical reasoning ability of students of 66.11 was obtained as an average. Overall, the indicator of mathematical reasoning abilities that are controlled by many students is presenting mathematical statements with images and writing, while indicators of mathematical reasoning abilities that are less mastered by students are drawing conclusions from a statement.
, Akhmad Faisal Hidayat
Kreano, Jurnal Matematika Kreatif-Inovatif, Volume 10, pp 132-140; doi:10.15294/kreano.v10i2.18818

Abstract:
Berpikir kreatif merupakan salah satu aspek penting dalam matematika. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi tahapan proses berpikir kreatif siswa SMP dalam aktivitas pengajuan masalah matematika. Tahapan tersebut didasarkan pada hasil Tugas Pengajuan Masalah Matematika (TPMM) dan wawancara. Penelitian ini dilakukan di salah satu SMP Negeri di Kota Jambi. Subjek penelitian ini adalah 2 siswa SMP Kelas IX dengan kriteria kreatif, dengan alat pengumpul data berupa TPMM dan pedoman wawancara. Analisis data TPMM dilakukan dengan menganalisis soal yang dapat diselesaikan, kemudian dilihat berdasarkan indikator berpikir kreatif yaitu kelancaran (fluency), keluwesan (flexibility) dan kebaruan (novelty). Wawancara dilakukan berdasarkan 4 tahap proses berpikir kreatif yaitu persiapan, inkubasi, iluminasi, dan verifikasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa siswa kreatif melewati empat tahap proses berpikir kreatif, yaitu persiapan, inkubasi, iluminasi, dan verifikasi. Pada tahap persiapan siswa berusaha mendapatkan wawasan dalam menghadapi masalah yang diberikan; tahap inkubasi siswa mencari ide; tahap iluminasi siswa memunculkan ide; dan tahap verifikasi siswa menguji ide yang dihasilkan.Creative thinking is one of the important aspects in mathematics. This study aims to identify the stages of the creative thinking process of junior high school students in the activity of submitting mathematical problems. These stages are based on the results of the Task for Submission of Mathematical Problems (TPMM) and interviews. This research was conducted at one of the Public Middle Schools in Jambi City. The subject of this study were 2 junior high school students of Class IX with creative criteria, with data collection tools in the form of TPMM and interview guidelines. TPMM data analysis is done by analyzing the questions that can be solved, then seen based on creative thinking indicators, namely fluency, flexibility and novelty. Interviews were conducted based on 4 stages of the creative thinking process, namely preparation, incubation, illumination, and verification. The results showed that creative students passed the four stages of the creative thinking process, namely preparation, incubation, illumination, and verification. In the preparation stage students try to gain insight in dealing with problems given; incubation stage students look for ideas; the student's illumination stage raises ideas; and the verification stage students test the idea produced.
, Agung Prasetyo Abadi
Kreano, Jurnal Matematika Kreatif-Inovatif, Volume 10, pp 141-145; doi:10.15294/kreano.v10i2.19369

Abstract:
Tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan hubungan antara konsep diri dengan prestasi akademik mahasiswa pada mata kuliah teori grup. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan metode deskriptif. Subjek dalam penelitian ini adalah mahasiswa semester IV kelas E Program Studi pendidikan Matematika FKIP UNSIKA. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini berupa angket konsep diri dan hasil akademik mahasiswa. Dari hasil analisis korelasi sederhana, diperoleh nilai koefisien korelasi antara konsep diri dengan prestasi akademik mahasiswa sebesar 0,41. Berdasarkan perolahan data diperoleh kesimpulan bahwa terdapat hubungan yang positif dan signifikan antara konsep diri dengan prestasi akademik mahasiswa pada mata kuliah teori grup.The purpose of this research is to describe the corelation betwen self-concept with academic achievement college student in teori grup courses.This research is quantitative experiment with descriptive methode. The subject of this research is college student of Fourth Semester on E Class in Educational Faculty of Singaperbangsa University. The instrument of research is some self-concept questionnaire and academic achievement college student score. The result of simple corelation analysis is 0,41. Based on the data, it concluses that there is positive and significant corelation between self-concept and academic achievement college student in teori grup courses.
Kreano, Jurnal Matematika Kreatif-Inovatif, Volume 10, pp 193-201; doi:10.15294/kreano.v10i2.20337

Abstract:
Penelitian ini bertujuan untuk menghasilkan modul berbasis POE (Predict Observe Explain) yang layak, menarik dan efektiv pada materi trigonometri. Penelitian ini merupakan penelitian pengembangan dengan menggunakan model 4-D yang terdiri dari 4 tahap (define, design, develop, disseminate). Hasil yang diperoleh dari penelitian ini adalah produk berupa bahan ajar modul dengan model pembelajaran POE (Predict Observe Explain) dengan perolehan hasil uji kelayakan sebesar 3,4 untuk validasi ahli materi dengan kriteria “sangat layak” dan 3,1 untuk validasi ahli media dengan kriteria “layak”. Hasil angket kemenarikan peserta didik diperoleh skor rata-rata sebesar 3,3 untuk kelompok kecil dengan kriteria “sangat menarik” dari 10 orang peserta didik dan 3,3 untuk uji kelompok besar dengan kriteria “sangat menarik” dari 30 orang peserta didik. Hasil uji efektivitas memperoleh skor sebesar 0,72 di SMAN 5 Bandar Lampung dan 0,70 untuk MAN 2 Bandar Lampung yang keduanya memiliki kriteria “tinggi”. Berdasarkan hasil analisis data dapat disimpulkan bahwa pengembangan modul berbasis POE (Predict Observe Explain) pada materi trigonometri efektif diterapkan untuk jenjang SMA/MA.This research aims to produce a POE-based module (Predict Observe Explain) that is feasible, interesting and effective in trigonometric material. This research is a development research using a 4-D model consisting of 4 people (defining, designing, developing, disseminating). The results obtained from this study are products consisting of module teaching materials with the POE learning model (Predict Observe Explain) by agreeing to the feasibility test results of 3.4 for the validation of material experts with criteria "very valuable" and 3.1 for media expert validation with a "Worthy" proposal. The results of the students' attractiveness questionnaire obtained an average score of 3.3 for small groups with the criteria of "very interesting" from 10 students and 3.3 for large group trials with the criteria "very interesting" from 30 students. The test score obtained a score of 0.72 at SMAN 5 Bandar Lampung and 0.70 for MAN 2 Bandar Lampung which was equipped to have the criteria of "high". Based on the results of data analysis it can be concluded that the development of a POE-based module (Predict Observe Explain) on trigonometric materials is effectively applied to the level of SMA / MA.
, Trian Pamungkas Alamsyah, Dede Halimatusadiah
Kreano, Jurnal Matematika Kreatif-Inovatif, Volume 10, pp 146-152; doi:10.15294/kreano.v10i2.19671

Abstract:
Penelitian ini dilatarbelakangi dengan rendahnya kemampuan pemecahan masalah matematis siswa serta strategi pembelajaran yang masih bertumpu pada guru. Salah satu alternatifnya yakni diterapkalah strategi pembelajaran Problem Based Learning, karena strategi ini diharapakan dapat meningkatkan kemampuan pemecahan masalah matematis siswa. Penelitian ini memiliki tujuan untuk mengetahui pencapaian akhir dan peningkatan kemampuan pemecahan masalah matematis siswa yang menggunakan strategi pembelajaran Problem Based Learning lebih baik dari pada siswa yang menggunakan strategi pembelajaran Inkuiri. Metode penelitian yang digunakan adalah quasi ekperiment dengan desain non-equivalent control group. Teknik sampel menggunakan teknik purposive sampling, dimana kelas IV-A sebagai kelas ekperimen dan kelas IV-B sebagai kelas kontrol. Hasil analisis data menunjukan rata-rata skor posttest kelas ekperimen 75,03 dan kelas kontrol 68,7. Rata-rata data Gain kelas ekperimen 0,59 dan kelas kontrol 0,51. Hasil analisis tersebut memberikan kesimpulan bahwa pencapaian akhir dan peningkatan kemampuan pemecahan masalah matematis siswa kelas ekperimen lebih baik daripada kelas kontrol.The research is motivated by the low mathematical problem solving abilities of students and learning strategies that are still based on the teacher. One of the alternative is to apply the learning strategies of Problem Based Learning, because this strategy is expected to improve students' mathematical problem solving abilities. This study has a goal whether the final achievement and improvement of students' mathematical problem solving abilities using Problem Based Learning learning strategies is better than students who use Inquiry learning strategies. The research method used was a quasi experiment with a non-equivalent control group design. The sample technique used purposive sampling technique, where class IV-A as the experimental class and class IV-B as the control class. The results of data analysis showed an average posttest score of experimental class 75.03 and control class 68.7. The average Gain data of the experimental class is 0.59 and the control class is 0.51. The results of the analysis provide the conclusion that the final achievement and improvement of experimental class mathematical problem solving abilities are better than the control class.
Amirulmukminin Amirulmukminin,
Kreano, Jurnal Matematika Kreatif-Inovatif, Volume 10, pp 159-164; doi:10.15294/kreano.v10i2.20642

Abstract:
Estimasi Matematika merupakan salah satu kompetensi dalam matematika yang berkaitan dengan kemampuan menaksir. Salah satu cara untuk melatih kemampuan estimasi dapat melalui strategi permainan tradisional Mpa’a Amba. Namun sebelum itu, dilakukan uji validitas dan reabel oleh dua ahli terhadap perangkat pembelajaran yang dikembangkan yaitu RPP, LKS, BAS, dan Instrument kemampuan estimasi matematika. Setelah dilakukan penilaian, diperoleh bahwa perangkat pembelajaran yang dikembangkan sangat valid dan sangat reabel. Menggunakan Instrument tersebut, maka diperoleh pengajaran menggunakan strategi Mpa’a Amba khusus materi Aritmetika Sosial untuk meningkatkan kemampuan estimasi matematika pada siswa kelas VII sangat efektif karena diperoleh nilai ketika di ukur menggunakan rumus N-Gain termasuk kategori tinggi. Hal itu dilihat dari perbandingan nilai pre test dan post test. Bahwa peningkatan nilai pre test ke post test antara 66,67 hingga 233,33%.Mathematical Estimation is one of the competencies in mathematics related to the ability to estimate. One way to practice estimation skills can be through the traditional Mpa’a Amba game strategy. But before that, validity and reliability tests were carried out by two experts on the learning tools developed, namely RPP, LKS, BAS, and Instrument of mathematical estimation ability. After the assessment, it was found that the learning tools developed were very valid and very reliable. Using these instruments, the teaching obtained using Mpa'a Amba's strategy specifically Social Arithmetic material to improve the ability of estimation in student’s the VII class is very effective because the value obtained when measured using the N-Gain formula is high. It was seen from the comparison of the pre-test and post-test scores. That the increase in the value of pre-test to post-test between 66.67 to 233.33%.
, Aan Subhan Pamungkas, Trian Pamungkas Alamsyah
Kreano, Jurnal Matematika Kreatif-Inovatif, Volume 10, pp 49-56; doi:10.15294/kreano.v10i1.18534

Abstract:
Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan media pembelajaran animasi PowToon pada mata pelajaran matematika di kelas IV, khususnya materi keliling dan luas bangun datar. Penelitian ini merupakan jenis penelitian dan pengembangan atau Research and Development (R&D) dengan menggunakan model 4-D (define, design, development, and disseminate). Subjek penelitian ini adalah siswa kelas IV SDN Karangtumaritis yang berjumlah 22 siswa. Data dikumpulkan dengan tes, observasi, angket, dan dokumentasi. Analisis data dilakukan dengan analisis deskriptif. Hasil penelitian didapatkan, 1) skor rata-rata dari validasi ahli dengan persentase sebesar 88% yang termasuk dalam kategori “sangat layak”; 2) skor rata-rata kepraktisan dengan persentase sebesar 93,33% yang termasuk dalam kategori “sangat praktis”; 3) skor rata-rata dari respon siswa dengan persentase sebesar 94,73% yang termasuk dalam kategori “sangat baik”; 4) skor rata-rata dari post test sebesar 76,14 yang termasuk dalam kategori baik sehingga dapat disimpulkan bahwa media pembelajaran animasi PowToon dapat memberikan pemahaman kepada siswa kelas IV mengenai mata pelajaran matematika pada materi keliling dan luas bangun datar.This research aims to develop PowToon animation learning media on mathematical subjects in grade IV, especially on the material circumference and area of plane. This research was the kind of Research and Development (R&D) using the 4-D model (define, design, development, and disseminate). The subject of this research was the grade IV SDN Karangtumaritis with totalling 22 students. Data collected with the tests, observation, question form, and documentation. Data analysis was done with a descriptive analysis. The research results obtained, 1) the average score of validation experts with percentage of 88% that are included in the category of "highly feasible"; 2) the average score of practicality with a percentage of 93,33% is included in the category of "very practical"; 3) score the average of the percentage of students with response 94,73% are included in the categories "excellent"; 4) the average score of the post test of 76,14 are included in the categories “good” so it can be concluded that the PowToon animation learning media can give insight to grade IV on subjects of mathematics on the material circumference and area of plane.
, Yusuf Fuad, Agung Lukito
Kreano, Jurnal Matematika Kreatif-Inovatif, Volume 10, pp 27-36; doi:10.15294/kreano.v10i1.17334

Abstract:
Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan kemampuan representasi mahasiswa pendidikan matematika dalam menyelesaikan soal Kalkulus. Tiga mahasiswa yang dipilih dari 20 mahasiswa program studi S1 pendidikan matematika Universitas Negeri Surabaya Kelas 2016 U ditetapkan sebagai subjek penelitian. Metode pengumpulan data adalah pemberian soal Kalkulus Integral Lipat Dua dan wawancara berbasis tugas. Hasil analisis menunjukkan bahwa dalam menyelesaikan soal Kalkulus, mahasiswa mampu menampilkan ide-ide yang dimilikinya secara multirepresentatif, akurat secara grafis namun tidak lengkap, praktis secara simbolik, tidak runtut dan tidak tepat secara numerik, bahasa yang detail secara verbal tertulis namun kurang fasih dalam verbal lisan, dan kurang mampu menjelaskan hubungan antar jenis representasi.This study aims to describe the representation ability of undergraduate mathematics education students in solving calculus problems. The subjects of this research were three students selected from 20 undergraduate mathematics education students of 2016 U class from The State University of Surabaya. Data collection methods used in this study are written test and tasks-based interview. The results showed that in solving calculus problems, the students were able to display their ideas in multi-representation, accurate but incomplete in graphic, practical in symbolic, not coherently nor precisely in numeric, detail in written verbal but not fluent in spoken verbal, and two of the three students were unable of explaining the relationship between representation types.
, Lulu Choirun Nisa, Nadhifah Nadhifah
Kreano, Jurnal Matematika Kreatif-Inovatif, Volume 10, pp 68-77; doi:10.15294/kreano.v10i1.17822

Abstract:
Kemampuan berpikir kritis merupakan salah satu kompetensi lulusan dari pembelajaran matematika pada jenjang SMA. Melalui penguasaan kompetensi ini, diharapkan siswa terbiasa untuk bisa bersikap rasional, tidak hanya dalam pembelajaran matematika namun juga dalam pemecahan masalah lainnya. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan kemampuan berpikir kritis siswa dalam menyelesaikan soal matematika pada pokok bahasan barisan dan deret berdasarkan gaya berpikirnya. Jenis penelitian ini adalah deskriptif kualitatif dengan subjek penelitian siswa kelas XI MIPA 1 yang berjumlah 34 siswa. Dengan tes gaya berpikir Gregorc, dari ke-34 siswa tersebut diperoleh lima siswa memiliki gaya berpikir Sekuensial Konkret, delapan siswa bergaya Sekuensial Abstrak, lima siswa bergaya Acak Konkret, dan 16 siswa memiliki gaya berpikir Acak Abstrak. Dari masing-masing kelompok gaya berpikir tersbeut diambil dua siswa untuk dianalisis lebih lanjut kemampuan berpikir kritisnya. Pengumpulan data dilakukan dengan tes dan wawancara. Indikator kemampuan beripikir kritis yang digunakan mengacu pada Ennis (2011), yaitu mampu untuk (1) melakukan klarifikasi dasar, (2) memberikan dasar sebuah keputusan, (3) menyimpulkan, (4) melakukan klarifikasi lebih lanjut, dan (5) melakukan dugaan dan keterpaduan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kemampuan berpikir kritis siswa dari kelompok gaya berpikir Konkret lebih baik daripada siswa dari kelompok Abstrak, dan siswa dengan jenis gaya berpikir Sekuensial Abstrak dan Acak Abstrak memiliki kemampuan berpikir kritis lebih rendah dibandingkan dengan gaya berpikir lainnya. Secara bertutut-turut, kemampuan berpikir kritis terbaik dimiliki oleh siswa dengan gaya berpikir Sekuensial Konkret yang memenuhi 4 kemampuan, Acak Konkret yang memenuhi 3 kemampuan, serta Sekuensial Abstrak dan Acak Abstrak yang hanya memenuhi 1 kemampuan berpikir kritis.
Khoirul Anwar, Jurotun Jurotun
Kreano, Jurnal Matematika Kreatif-Inovatif, Volume 10, pp 94-104; doi:10.15294/kreano.v10i1.19366

Abstract:
Penelitian ini dilatar belakangi hasil belajar siswa yang belum mencapai kriteria ketuntasan minimal yang telah ditetapkan. Di samping itu, model pembelajaran yang diterapkan monoton, sehingga aktivitas siswa rendah. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui aktivitas dan hasil belajar siswa pada materi dimensi tiga akibat pembelajaran yang menggunakan model pembelajaran PBL berbantuan alat peraga sederhana berbahan limbah sedotan. Penelitian ini merupakan penelitian tindakan kelas dengan tiga siklus. Subyek penelitian ini siswa kelas XII IPA-1 SMA Negeri 1 Dempet Demak semester gasal tahun pelajaran 2017/2018. Pengambilan data dalam penelitian ini menggunakan teknik observasi dan angket yang selanjutnya dianalisis sebagai data kualitatif, serta penilaian hasil ulangan blok dianalisis sebagai data kuantitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa model pembelajaran PBL berbantuan alat peraga sederhana berbahan limbah sedotan dapat meningkatkan hasil belajar siswa dengan rata – rata mencapai 75,44 dengan jumlah siswa yang tuntas mencapai 86,84%, dapat meningkatkan aktivitas siswa menjadi 3,68 (sangat aktif). Respon siswa terhadap model pembelajaran yang telah diterapkan adalah sangat positif (80,99%). Oleh karena itu, model pembelajaran PBL berbantuan alat peraga sederhana berbahan limbah sedotan dapat diterapkan pada pembelajaran matematika, khususnya dimensi tiga .This research is based on the learning result of students who have not met the minimum completeness criteria that have been determined, besides that, learning model that is applied monotonically so that student activity is low. This study aims to determine the activity of student learning result in the three dimensional material due to PBL learning models assisted with simple teaching aids made from straws. This research is a classroom action research with three cycles. The subject of this research is XII IPA-1 of SMAN 1 Dempet of the odd semester in 2017/2018. Taking data in this research used observation and questionnare techniques which are then analyzed as qualitative data and the result of block test are analyzed as quantitative data the result of the study showed that the PBL learning models assisted with sample teaching aids made from straws can improve student learning results by an average of 75,44 with the number of students who completed 86,84% can improve student activity to 3,68 (very active). Student response to the learning model that has been applied is very positive (80,99%). Therefore, PBL learning models assisted with simple teaching aids made from straws can be applied to mathematic learning, especially the three dimensions.
, Muhammad Istiqlal
Kreano, Jurnal Matematika Kreatif-Inovatif, Volume 10, pp 78-85; doi:10.15294/kreano.v10i1.12695

Abstract:
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui keefektifan penerapan model pembelajaran problem posing tipe post solution posing terhadap kemampuan pemecahan masalah siswa pada salah satu SMP di Kota Semarang. Penelitian ini merupakan penelitian kuasi-eksperimen dengan desain pretest-postest. Pemilihan sampel ditetapkan dengan teknik random sampling dan diperoleh siswa kelas VII A sebagai kelompok eksperimen dan siswa kelas VII B sebagai kelompok kontrol. Instrumen yang digunakan untuk pengambilan data penelitian adalah tes kemampuan pemecahan masalah pada pokok bahasan segi empat sub pokok bahasan persegi panjang dan persegi. Uji yang digunakan untuk mengetahui adanya perbedaan rata-rata gain adalah uji t. Berdasarkan hasil penelitian, rata-rata gain kemampuan pemecahan masalah siswa yang memperoleh pembelajaran dengan model pembelajaran problem posing tipe post solution posing adalah 13.91, sedangkan rata-rata gain kemampuan pemecahan masalah siswa yang memperoleh pembelajaran secara konvensional adalah 7.09. Dengan uji t terlihat bahwa rata-rata gain kemampuan pemecahan masalah siswa yang memperoleh pembelajaran problem posing tipe post solution posing lebih baik daripada siswa yang memperoleh pembelajaran secara konvensional. Disarankan guru dapat terus mengembangkan pembelajaran dengan model problem posing tipe post solution posing dan menerapkan pada materi lain.The purpose of this study was to determine the effectiveness of applying the problem posing learning model type post solution posing to students' problem solving abilities in one of the junior high schools in the Semarang city. This research is a quasi-experimental study with a pretest-posttest design. Sample selection was determined by random sampling technique and was obtained by students of class VII A as an experimental group and students of class VII B as a control group. The instrument used for retrieval of research data is a problem solving ability test on the subject of rectangles. The test used to determine the difference in average gain is the t test. Based on the results of the study, the average gain problem solving ability of students who get learning with problem posing learning model type post solution posing is 13.91, while the average gain problem solving ability of students who obtain conventional learning is 7.09. With the t test it can be seen that the average gain of problem solving abilities of students who get problem posing learning model type post solution posing is better than students who get conventional learning. It is suggested that the teacher can continue to develop learning with problem posing learning model type post solution posing and apply it to other material.
, Nur Fitriyana
Kreano, Jurnal Matematika Kreatif-Inovatif, Volume 10, pp 18-26; doi:10.15294/kreano.v10i1.16825

Abstract:
Penelitian ini bertujuan menghasilkan lembar kerja siswa matematika berbasis pendekatan open-ended yang valid, praktis dan efektif dalam melatih kemampuan pemecahan masalah matematis siswa Kelas VIII SMP di Kota Lubuklinggau. Jenis penelitian yang dilakukan adalah penelitian pengembangan (Research and Development). Prosedur penelitian pengembangan LKS diadaptasi dari model pengembangan perangkat pembelajaran 4-D yang terdiri dari 4 tahap yaitu pendefinisian (define), perancangan (design), pengembangan (develop), dan penyebaran (disseminate). Ujicoba terbatas dan ujicoba kelompok besar dilakukan di SMP Negeri 14 Lubuklinggau kelas VIII dengan jumlah siswa sebanyak 29 orang. Berdasarkan hasil analisis data menghasilkan LKS berbasis pendekatan open-ended yang valid dengan nilai rata-rata 4,167, praktis dengan nilai rata-rata 4,21 dan efektif dengan nilai rata-rata 4,126. Implementasi LKS Berbasis Pendekatan open-ended meningkatkan kemampuan pemecahan masalah siswa di SMP Negeri 1 Lubuklinggau sebesar 79,70% dengan kategori baik, SMP Negeri 14 Kota Lubuklinggau sebesar 74,02% dengan kategori baik, dan SMP PGRI 3 Kota Lubuklinggau sebesar 66,45% dengan kategori baik.This study aims to produce mathematics student worksheets based on a valid, practical and effective open-ended approach in training mathematical problem solving skills of VIII SMP students in Lubuklinggau City. The type of research conducted is development research (Research and Development). The LKS development research procedure is adapted from a 4-D learning device development model consisting of 4 stages, namely define, design, develop, and disseminate. Limited trials and large group trials were conducted in the eighth grade Lubuklinggau Middle School 14 with a total of 29 students. Based on the results of data analysis produces worksheet based on a valid open-ended approach with an average value of 4.167, practically with an average value of 4.21 and effective with an average value of 4.126. Implementation of Student-Based Worksheets An open-ended approach improves students' problem solving abilities in Lubuklinggau Middle School 1 by 79.70% in good category, Lubuklinggau Middle School 14 State by 74.02% in good category, and Lubuklinggau City PGRI 3 Junior High School by 66.45 % in good category.
, Haninda Bharata, Caswita Caswita
Kreano, Jurnal Matematika Kreatif-Inovatif, Volume 10, pp 57-67; doi:10.15294/kreano.v10i1.18493

Abstract:
Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan bahan ajar transformasi geometri yang berorientasi pada kemampuan berpikir kritis siswa. Penelitian ini merupakan penelitian pengembangan yang mengikuti tahapan R&D (Brog & Gall, 1989). Ujicoba lapangan dilakukan pada siswa kelas XI SMA Fransiskus Bandar Lampung tahun pelajaran 2018/2019, dengan XI-A1 sebagai kelas eksperimen dan kelas XI-A3 sebagai kelas kontrol. Perbedaan perlakuan dari kedua kelas adalah penggunaan bahan ajar transformasi geometri. Pengumpulan data menggunakan lembar validasi untuk menentukan validitas bahan ajar, angket respon siswa dan praktisi untuk menentukan tingkat kepraktisan dan instrumen tes kemampuan berpikir ktitis siswa untuk menentukan kefektifan bahan ajar setelah pembelajaran yang kemudian dianalisis dengan uji perbedaan rata-rata. Hasil penelitian ini adalah pengembangan bahan ajar tranformasi geometri yang dikembangkan valid, praktis, dan efektif.This research was aimed to develop a geometry transformation learning material that is oriented to students' critical thinking ability. This research was an development research that followed R&D stages (Brog & Hall, 1989) until the main field test. The field-testing was conducted on grade XI students of SMA Fransiskus Bandar Lampung academic year 2018/2019 where XI-A1 was chosen as the experiment class and XI-A3 as the control class. The difference in treatment between these two classes was in the using of the geometry transformation learning material. Data were collected using the validation sheet to determine the validity level, the students' response questionnaire to determine the practicality level, and the students' critical thinking ability test instrument to determine the effectivity of the learning material after the learning process. Afterwards, data were analyzed by the difference in mean test. It can be concluded from the research result that the developed geometry transformation learning material was valid, practical, and effective.
, Ni Made Dwijayani
Kreano, Jurnal Matematika Kreatif-Inovatif, Volume 10, pp 105-111; doi:10.15294/kreano.v10i1.14916

Abstract:
This study aims to find out whether: (1) self efficacy mathematics of students who are taught by the learning model of Treffinger oriented local wisdom with better-tiered assignment or not from self efficacy of students receiving conventional learning, (2) students' mathematics student competence taught by model Lessons are used to perform better or better tasks from students receiving conventional learning, (3) there is some self-efficacy and simultaneous mathematical strategies between students who are taught by Treffinger-aided learning model with tiered assignments conventional learning. This research type is quasi experiment with posttest only control group design. Data in this research is self efficacy mathematics used by using questionnaire and data required by student. The data obtained were analyzed descriptively on the basis of t-test 1 for hypothesis 1 and hypothesis 2, and MANOVA test for hypothesis 3. Characteristics of the teaching-oriented model of Treffinger oriented local wisdom with the help of this tiered function are: (1) student involvement in the problem and they as participants active in problem solving, (2) the science of cognitive dimension and student affectivity to seek the direction of problem solving provided, (3) the students do group analysis to explore ideas, and (4) the students use the acquired understanding to solve other related problems with everyday life. In addition, by delivering advice sourced from Bali's reliable local wisdom and making the process more enjoyable. Given tiered tasks in learning mathematics such as practice questions that can be done effectively. Through the learning model oriented Treffinger local wisdom assisted by this tiered task is expected students are able to solve problems in a way with their own. The process of thinking to discuss mathematical problems and will foster confidence in students to solve problems related to other terms for the next. To complete the problem of tiered training well, also required good students also.
, Darhim Darhim, Sufyani Prabawanto
Kreano, Jurnal Matematika Kreatif-Inovatif, Volume 10, pp 86-93; doi:10.15294/kreano.v10i1.19373

Abstract:
Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan kesulitan belajar yang dialami mahasiswa pada materi aplikasi integral untuk luas daerah dalam perspektif disposisi matematis. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif eksploratif dengan instrumen skala, tes, dokumentasi, dan catatan lapangan. Data diambil dari 80 mahasiswa dari program studi S1 pendidikan matematika di sebuah universitas di Jawa Tengah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa mahasiswa dengan disposisi matematis positif sedang dan tinggi memiliki jenis kesulitan yang sama yaitu (1) kesulitan dalam menggambar grafik, (2) kesulitan dalam menentukan daerah yang dicari luasnya, (3) kesulitan dalam menentukan batas integral, (4) kesulitan dalam menggunakan rumus integral, dan (5) kesulitan dalam memahami integral. Mahasiswa dengan disposisi matematis positif rendah selain mengalami kelima kesulitan tersebut, juga mengalami kesulitan dalam menghitung integral. Terdapat tren atau kecenderungan peningkatan persentase pada 2 jenis kesulitan, dan penurunan persentase pada 1 jenis kesulitan, sedangkan pada 3 jenis kesulitan yang lain bersifat fluktuatif.The purpose of this research was to described the learning difficulties experienced by students in integral application material for the area in the perspective of mathematical dispositions. This research used descriptive exploratory methods with scale, tests, documentation, and field notes instruments. Data was taken from 80 undergraduate students from the mathematics education study program at a university in Central Java. The results showed that students with moderate and high positive mathematical dispositions had the same types of difficulties, namely (1) difficulties in drawing graphics, (2) difficulties in determining the area to be searched for, (3) difficulties in determining integral boundaries, (4) difficulties in using integral formulas, and (5) difficulties in understanding integrals. Students with low positive mathematical dispositions in addition to experienced these five difficulties, also experienced difficulties in calculating integrals. There is a trend or tendency to increase percentage in 2 types of difficulties, and a decrease in percentage in 1 type of difficulty, while in 3 other types fluctuating.
, Siti Maghfirotun Amin, Yusuf Fuad
Kreano, Jurnal Matematika Kreatif-Inovatif, Volume 10, pp 10-17; doi:10.15294/kreano.v10i1.16097

Abstract:
Penelitian ini termasuk jenis penelitian pengembangan dan deskriptif yang mengacu pada model pengembangan 4D Thiagarajan (1974). Proses pengembangan perangkat pembelajaran PBL ini meliputi tahap pendefinisian, perancangan, pengembangan, dan pendiseminasian. Teknik pengumpulan data menggunakan lembar validasi untuk menilai perangkat pembelajaran yang dikembangkan, teknik observasi terhadap kemampuan guru dan aktivitas siswa, tes hasil belajar siswa, serta angket respon siswa terhadap pembelajaran. Hasil pengembangan perangkat pembelajaran menunjukkan bahwa perangkat pembelajaran telah memenuhi kriteria valid, praktis dan efektif. Kemudian, perangkat pembelajaran PBL pada materi aritmetika sosial ini efektif saat diimplementasikan pada kelas lain. Dengan demikian, perangkat pembelajaran PBL pada materi aritmetika sosial kelas VII hasil pengembangan ini layak dan efektif untuk digunakan sebagai perangkat pembelajaran di dalam kelas.This research includes the type of development and descriptive research that refers to the Thiagarajan (1974) 4D development model. The process of developing PBL learning devices includes the stages of defining, designing, developing, and disseminating. The data collection technique uses a validation sheet to assess the learning device developed, observation techniques on the teacher's abilities and student activities, student learning outcomes tests, and student response questionnaires to learning. The results of the development of learning devices show that learning devices have met the criteria of valid, practical and effective. Then, PBL learning devices on social arithmetic material are effective when implemented in other classes. Thus, PBL learning devices in class VII social arithmetic results of this development are feasible and effective to be used as learning tools in the classroom.
, Sekti Kartika Dini, Rohmatul Fajriyah
Kreano, Jurnal Matematika Kreatif-Inovatif, Volume 10, pp 37-48; doi:10.15294/kreano.v10i1.18214

Abstract:
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui proses dan hasil dari penggunaan metode Student Team Achievement Division (STAD) dan tutorial berdasarkan hasil belajar serta tingkat kepuasan mahasiswa pada mata kuliah Kalkulus 1. Pengambilan data diperoleh dengan metode tes melalui ujian kompetensi (UK), UTS, dan UAS. Hasil belajar tersebut dianalisis menggunakan uji Kruskall Wallis dan post hoc test untuk mengetahui perbedaan rata-rata yang signifikan diantara sampel yang diambil. Sementara tingkat kepuasan dianalisis menggunakan text mining dari kuesioner yang diberikan berdasarkan barplot dan wordcloud yang diasosiasikan dengan kata yang dominan muncul serta evaluasi keseluruhan dari tingkat kepuasan dan saran yang diberikan. Berdasarkan hasil belajar, diperoleh nilai rata-rata kelas eksperimen lebih tinggi dibanding kelas kontrol. Sementara dari tingkat kepuasan masuk dalam kategori puas hingga sangat puas. Lebih jauh metode ini dapat digunakan sebagai alternatif metode pembelajaran untuk matakuliah lain yang khususnya berkaitan dengan konseptual.The purpose of this study is finding out how the processes and results of using the Student Team Achievement Division (STAD) and tutorial methods based on the learning outcomes and the student’s satisfaction level at Calculus 1 class. Data are provided through the competency tests (UK), mid term exam (UTS), and final exam (UAS). The learning outcomes is analyzed using the Kruskall Wallis test and the post hoc test to find out the significant differences in the samples average. The satisfaction level is analyzed by a text mining technique: barplot and wordcloud associated to other dominant words as well as the overall evaluation of the students’s satisfaction level and their suggestion. The learning outcomes analysis shows that the average exam scores of the experimental class is higher than the control class. Mean while the students’ satisfaction level is categorized as satisfied at both of the STAD and tutorial methods. Furthermore this method can be used as an alternative learning method in other subjects which are considered as conceptually heavy.
Fatmah Fatmah, Arif Hidayad
Kreano, Jurnal Matematika Kreatif-Inovatif, Volume 10, pp 1-9; doi:10.15294/kreano.v10i1.16664

Abstract:
Tujuan dari penelitian ini adalah mendapatkan gambaran tentang pembelajaran berbasis proyek dalam pembiasaan berpikir kreatif mahasiswa calon guru matematika. Penelitian ini termasuk penelitian pengembangan dengan teknik analisis deskriptif kualitatif. Penelitian tersebut mengikuti tahapan identifikasi, pengembangan, dan penyebaran (Borg & Gall). Ujicoba dilakukan pada semester VI program studi pendidikan Matematika di STKIP Taman Siswa Bima. Pengumpulan data menggunakan instrumen lembar observasi, pedoman wawancara dan instrumen tes. Perangkat pembelajaran yang melalui tahap pengembangan, setelah dilakukan uji validasi dan ujicoba dapat dikatakan praktis dengan adanya penilaian validator yang menyatakan perangkat valid dan dapat dipergunakan setelah direvisi sesuai catatan, hasil observasi pelaksanaan pembelajaran setiap SAP pada kriteria baik, hasil observasi pembelajaran mahasiswa setiap SAP menunjukan aktif. Perangkat pembelajaran dikatakan efektif dengan adanya mahasiswa merespon positif pembelajaran setiap SAP, RTM dan instrumen tes hasil belajar memenuhi kriteria valid, reliabel dan sensitif serta ketuntasan belajar klasikal terpenuhi.The purpose of this study is to get an overview of project-based learning in the habit of creative thinking of teacher and students perspective of mathematics. This research included development research with qualitative descriptive analysis. The study follows the stages of identification, development, and dissemination (Borg & Gall). The trial was conducted in the sixth semester of Mathematics education program at STKIP Taman Siswa Bima. Data collection used observation sheet, in-depth interview and test. Learning device through development stage, after validation test and test can be said practically with the existence of validator assessment which stated device valid and can be used after the revised, the result of observation of learning implementation every Teaching Events Unit on a good criterion, the result of observation of students' learning in every Teaching Events Unit show active participation. Learning devices are said to be effective in the presence of students respond positively to learning each Teaching Events Unit, Student Duty Plan and test result learning instruments meet the criteria of valid, reliable and sensitive as well as completeness of classical learning fulfilled.
Muhammad Anis Rasyid
Kreano, Jurnal Matematika Kreatif-Inovatif, Volume 8, pp 171-181; doi:10.15294/kreano.v8i2.9849

Abstract:
Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan berpikir reflektif siswa SMP dalam pemecahan masalah pecahan ditinjau dari perbedaan gender. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif dengan pendekatan kualitatif. Subjek pada penelitian ini yaitu, satu siswa laki-laki dan satu siswa perempuan di kelas VIIB SMPN 2 Kodeoha. Pengambilan data dimulai dengan memberikan tes kemampuan matematika untuk mendapatkan subjek yang berkemampuan tinggi, kemudian memperhatikan perbedaan gender. Setelah itu, memberikan tugas pemecahan masalah pecahan dan melakukan wawancara. Hasil penelitian menunjukkan, subjek laki-laki melakukan reacting, elaborating dan contemplating pada tahap memahami masalah, menyusun rencana, melaksanakan rencana dan memeriksa kembali dalam pemecahan masalah pecahan. Sedangkan, subjek perempuan melakukan reacting, elaborating dan contemplating pada tahap memahami masalah, menyusun rencana, melaksanakan rencana dan memeriksa kembali dalam pemecahan masalah pecahan. Namun, pada tahap menyusun rencana, subjek perempuan melakukan contemplating hanya sebatas meyakini tanpa mempertimbangkan berdasarkan pengalamannya dalam pemecahan masalah pecahan.The study aimed at describing the junior high school students reflective thinking in fraction problem solving viewed on gender differences. This study employed descriptive research with qualitative approach. The research subjects were one male student and one female student in VIIB class of SMPN 2 Kodeoha. The data collection was started by giving mathematics ability test to get a subject highly capable, then paid attention of the gender differences. After that, give fraction problem solving task and did the interview. The results of the study showed that male subjects did reacting, elaborating and contemplating on understanding the problems, devising a plan, carrying out the plan and looking back stages in a fraction problem solving. Whereas, female subjects did reacting, elaborating and contemplating on understanding the problems, devising a plan, carrying out the plan and looking back stages in a fraction problem solving. But, at the stage of devise a plan, female subjects did contemplating only a believing without consideration based on his experience in problem solving fractions.
Akhmad Nayazik
Kreano, Jurnal Matematika Kreatif-Inovatif, Volume 8, pp 182-190; doi:10.15294/kreano.v8i2.7163

Abstract:
Penelitian ini bertujuan untuk membentuk keterampilan pemecahan masalah melalui model IDEAL Problem Solving. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif kolaboratif dengan teknik pengambilan subjek penelitian yaitu purposive sampling. Pengambilan sampel dengan pertimbangan tertentu terfokus pada keterampilan pemecahan masalah subjek penelitian. Subjek penelitian terdiri dari subjek S.A, S.B, S.C, dan S.D. Keempat subjek penelitian dilakukan pengamatan, alat perekaman, dan wawancara untuk menggali informasi mendalam dan pendapat, sehingga diperoleh gambaran keterampilan pemecahan masalah subjek penelitian. Hasil penelitian menunjukkan bahwa keterampilan pemecahan masalah S.A, S.B, S.C., dan S.D melalui model IDEAL Problem Solving dengan teori pemrosesan informasi dapat terbentuk.This research aims to form problem solving skills through IDEAL Problem Solving model. This research was a qualitative collaborative research. The technique of research subject taking was purposive sampling. Sampling with particular consideration focuses on problem solving skills of research subjects. Research subjects consist of subjects S.A, S.B, S.C, and S.D. The four subjects of the study were observed, recorded, and interviewed to explore in-depth information and opinions, to obtain a description of the problem solving skills of the research subjects. The results show that problem solving skills of S.A, S.B, S.C., and S.D through IDEAL Problem Solving model with information processing theory can be formed.
Akhmad Faisal Hidayat, Siti Maghfirotun Amin, Yusuf Fuad
Kreano, Jurnal Matematika Kreatif-Inovatif, Volume 8, pp 162-170; doi:10.15294/kreano.v8i2.9635

Abstract:
Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif dengan pendekatan kualitatif. Tujuan penelitian ini adalah mendeskripsikan profil penalaran proporsional siswa SMP dalam memecahkan masalah matematika berdasarkan gaya kognitif sistematis dan intuitif. Penelitian ini dilakukan di kelas IX SMP Al-Muslim Sidoarjo pada tahun ajaran 2016/2017. Subjek penelitian ini adalah seorang siswa bergaya kognitif sistematis dan seorang siswa bergaya kognitif sistematis. Alat pengumpul data berupa Tes Gaya Kognitif (TGK), Tugas Pemecahan Masalah (TPM), Pedoman wawancara, dan alat rekam audio visual. Data penelitian diperoleh dari pemberian tugas pemecahan masalah dan wawancara sebanyak dua kali. Wawancara dilakukan untuk mengungkapkan profil penalaran proporsional dalam memecahkan masalah matematika terkait materi perbandingan. Keabsahan data diuji dengan triangulasi waktu. Hasil penelitian menunjukkan kedua subjek gagal membedakan masalah proporsional dan bukan proporsional pada tahap memahami masalah. Pada tahap menyusun rencana, Siswa bergaya kognitif sistematis mengelompokkan bagian-bagian yang sebanding untuk membuat persamaan. Sedangkan siswa bergaya kognitif intuitif membandingkan luas lahan pertama dan kedua, kemudian menyederhanakan perbandingannya. Pada tahap melaksanakan rencana, siswa bergaya kognitif sistematis menggunakan strategi cross product algorithm untuk menemukan solusi. Sedangkan siswa bergaya kognitif intuitif menggunakan strategi build-up method dan factor of change untuk menemukan solusi. Pada tahap memeriksa kembali, Siswa bergaya konitif sistematis dan intuitif mengecek solusi yang mereka peroleh dengan mensubtitusi masing-masing solusi ke persamaan, kemudian melihat nilai perbandingan yang dihasilkan. Jawaban benar jika nilai perbandingan dalam persaamaan tersebut sama. This research uses descriptive qualitative approach. The purpose of this study was to describe proportional reasoning profile of junior high school student in mathematical problem solving based on systematic and intuitive cognitive style. This study was do ini class IX SMP Al-Muslim Sidoarjo in 2016/2017. One subject is systematic cognitive style and the other is intuitive cognitive style. The colect data instruments are TGK, TPM, interview guidence, and video recorder. Data were obtain from giving problem solving task and gave interview twice during the study. Interviews were do for exploration proportional reasoning profile of junior high school student in mathematical problem solving about proportional problems. The validity of the data is tested using time triangulation. The result of this research showed both of subjects failed to different the proportional problem and non-proportional problems on understanding step. On planning step, systematic student collected the same parts to make a equation. Intuitive student compared large of first field and second, and simplified it. On doing step, systematic student use cross product algorithm strategy to find solution....
Ida Wahyu Kurniati, Emi Pujiastuti, Ary Woro Kurniasih
Kreano, Jurnal Matematika Kreatif-Inovatif, Volume 8, pp 109-118; doi:10.15294/kreano.v8i2.5060

Abstract:
Tujuan penelitian ini adalah mengetahui model pembelajaran discovery learning berbantuan smart sticker mampu meningkatkan disposisi matematik dan kemampuan berpikir kritis. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode penelitian kuantitatif. Populasi dalam penelitian ini adalah siswa kelas VIII SMP Negeri 40 Semarang. Pengambilan sampel dilakukan dengan teknik cluster random sampling, diperoleh kelas VIII H sebagai kelas eksperimen dan kelas VIII E sebagai kelas kontrol. Analisis data yang digunakan adalah uji proporsi dan uji ketidaksamaan dua rata-rata. Hasil penelitian menunjukkan bahwa hasil tes kemampuan berpikir kritis siswa kelas eksperimen mencapai nilai lebih dari 65 dan lebih dari 70% siswa di kelas eksperimen mencapai nilai lebih dari 65. Kemampuan berpikir kritis dan disposisi matematik siswa kelas eksperimen lebih baik dari kelas kontrol dan dinyatakan meningkat dibandingkan hasil pretest. Berdasarkan hasil penelitian disimpulkan bahwa model pembelajaran Discovery Learning berbantuan Smart Sticker dapat meningkatkan disposisi matematik dan kemampuan berpikir kritis.The purpose of this study was to find out that discovery learning model which is assisted by smart sticker can improve mathematical disposition and critical thinking skills. The method used in this research is quantitative research methods. The population in this study is eighth-grade students of SMP Negeri 40 Semarang. Sampling was carried out by cluster random sampling technique, is obtained as an experimental class in eighth grade H and the eighth grade E as a control. Analysis of the data used is the proportion test, and test two average inequality. The result show that the test result of students critical thinking skills experiment class reached a value of more than 65 and more than 70% student in experimental class reached a value of more than 65. Critical thinking skills and mathematical disposition of experiment class better than control class and declared that increased if compared to the pretest. The final conclusion is that discovery learning model which is assisted by smart sticker can improve mathematical disposition and critical thinking skills.
Defi Indah Permatasari
Kreano, Jurnal Matematika Kreatif-Inovatif, Volume 8, pp 199-207; doi:10.15294/kreano.v8i2.9537

Abstract:
Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif yang bertujuan untuk mendeskripsikan penalaran proporsional siswa smp laki-laki dan perempuan dalam menyelesaikan masalah matematika. Subjek penelitian terdiri dari siswa laki-laki dan perempuan kelas IX SMPN 2 Bangsal Mojokerto. Penelitian ini dimulai dengan memberikan Tes Kemampuan Matematika (TKM) untuk mendapatkan dua subjek dengan kemampuan matematika yang setara. Kemudian dilanjutkan dengan pemberian Tugas Penalaran Proporsional (TPP) dan wawancara. Pengecekan keabsahan data menggunakan triangulasi waktu. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa siswa laki-laki dan perempuan menunjukkan aktivitas penalaran proporsional pada komponen 1) memahami kovariasi, 2) mengenali situasi proporsional dan non-proporsional, 3) mengaplikasikan strategi multiplikatif dan 4) memahami syarat penggunaan rasio, pada saat menyelesaikan masalah jenis missing value. Kemudian untuk jenis masalah numerical comparison diperoleh hasil bahwa hanya siswa laki-laki yang menunjukkan aktivitas penalaran proporsional sedangkan siswa perempuan mengenali bahwa jenis masalah tersebut merupakan situasi non-proporsional.This research is a qualitative research which aimed to describe the proportional reasoning of male and female students on solving mathematical problems. The subject of this research are two students, they are male and female students at IX grade of SMPN 2 Bangsal Mojokerto. This study begins by giving the Mathematical Ability Test (TKM) to get two subjects with similar mathematical abilities and then it continued with Proportional Reasoning Task (TPP) and interviews. The checking of the data validity using triangulation of time. The results of this study showed that in the reasoning of proportional component, there is activity of the male and female students in 1) understand covariation, 2) recognize proportional and non-proportional situations, 3) apply multiplicative strategies and 4) understand terms of use of ratios, when resolving type problems "missing value". For the type of "numerical comparison" problem, only male student showed proportional reasoning activities whereas female students recognize that the type of problem as a non-proportional situation.
Muhammad Irfan
Kreano, Jurnal Matematika Kreatif-Inovatif, Volume 8, pp 143-149; doi:10.15294/kreano.v8i2.8779

Abstract:
Dalam memecahkan masalah, siswa yang mengalami kecemasan belajar matematika mungkin mengalami kesalahan-kesalahan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kesalahan siswa yang mengalami kecemasan belajar matematika dalam pemecahan masalaha matematika. Jenis Penelitian ini adalah penelitian kualitatif dengan metode studi kasus. Pengambilan sampel dilakukan dengan menggunakan teknik purposive sampling. Hasil penelitian menunjukkan bahwa siswa yang mengalami kecemasan matematika tinggi mampu menyelesaikan permasalahan matematika sesuai langkah-langkah Polya. Namun, ia mengalami kesalahan dalam tiga hal, yaitu: (1) kesalahan penulisan simbol-simbol matematika, (2) pemaknaan model matematika, dan (3) ketidakkonsitenan dalam penggunaan simbol.In the problem solving, students learn math anxiety may have errors. This study aimed to analyze the errors that students learn math anxiety in mathematical problem solving. This type of study is a qualitative research with case study method. Sampling was done by using purposive sampling technique. The results showed that students who have high math anxiety was able to solve the problems of mathematics according to the steps Polya. However, he encountered an error in three ways, namely: (1) error in writing mathematical symbols, (2) the meaning of a mathematical model, and (3) inconsistent in the use of symbols.
Ni Made Dwijayani
Kreano, Jurnal Matematika Kreatif-Inovatif, Volume 8, pp 126-132; doi:10.15294/kreano.v8i2.10014

Abstract:
Penelitian ini bertujuan untuk menghasilkan perangkat pembelajaran matematika dengan menggunakan model ICARE yang valid, praktis, dan efektif. Perangkat pembelajaran yang dikembangkan berupa media pembelajaran matematika. Jenis penelitian ini adalah design research yang dilakukan melalui tahap preliminary research, prototyping stage, dan assessment phase. Data dikumpulkan menggunakan lembar pengamatan keterlaksanaan, angket respons siswa, angket respons guru, dan tes kemampuan pemecahan masalah siswa. Data yang diperoleh selanjutnya dianalisis secara deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perangkat pembelajaran yang dikembangkan sangat valid, telah memenuhi aspek kepraktisan dan telah memenuhi aspek keefektifan. Selain hal tersebut di atas, perangkat yang dikembangkan memiliki beberapa karakteristik yaitu: (1) praktis dalam penggunaan; (2) kegiatan pembelajaran mengarahkan siswa untuk berpikir kritis dan kreatif; (3) latihan soal dan masalah-masalah riil yang memberikan kesempatan siswa untuk memikirkan berbagai alternatif solusi dalam pemecahan masalah; dan (4) memberikan variasi dalam pembelajaran.The purpose of this research was to developing mathematics instructional materials with REACT strategy which were valid, practical, and effective. The instructional materials which were developed in this study consisted of mathematics instructional media. Data were collected by using observation sheet of instructional materials implementation, students and teachers response questionnaire, and problem solving test. The collected data analyzed descriptively. The result of this research showed that the mathematics instructional materials were categorized very high in validity, had fulfilled the practicality and the effectiveness aspects. The characteristics of the instructional media are: (1) practical usage; (2) learning activities were guided students to think critically and creatively; (3) exercises and real problems gave students the opportunity to think about alternative solutions to solve problems; and (4) provide variations in the learning.
Abdul Yazid Nafii
Kreano, Jurnal Matematika Kreatif-Inovatif, Volume 8, pp 119-125; doi:10.15294/kreano.v8i2.10259

Abstract:
Penelitian ini merupakan jenis penelitian kualitatif yang bertujuan untuk mendiskripsikan pemahaman siswa SMP terhadap konsep persamaan linear satu variabel (PLSV) ditinjau dari perbedaan jenis kelamin. Hasil penelitian menunjukan bahwa subjek perempuan dan subjek laki-laki mempunyai perbedaan dalam membuat pernyataan tentang ciri-ciri PLSV dan membangun menggunakan model sebab-akibat dari suatu sistem (PLSV). Perbedaan muncul karena subjek perempuan hanya dapat menyebutkan sebagian ciri-ciri PLSV, sedangkan subjek laki-laki melakukan kesalahan dalam menjelaskan akibat yang dihasilkan dari operasi hitung pada suatu PLSV dengan suatu konstanta. Sedangkan dalam menyajikan PLSV ke dalam representasi yang beragam, memberikan contoh PLSV yang berbeda, mengelompokan beberapa kalimat matematika ke dalam contoh dan bukan contoh PLSV, menyimpulkan PLSV dengan alasan logis, serta menyebutkan kesamaan dan perbedaan PLSV dan bukan PLSV kedua subjek tidak menunjukkan perbedaan yang signifikan.This research is a type of qualitative research that aims to describe students' understanding of Junior High School on the concept of linear equations of one variable (PLSV) in terms of gender differences. The results showed that female subjects and male subjects are different in making statements about PLSV characteristics and constructing using cause-and-effect models of a system (PLSV). The differences between female subjects and male subjects as follows: mention some of the features of the PLSV, whereas the male subject makes a mistake in explaining the result of the counting operation on a PLSV constantly. Whereas in presenting the PLSV into multiple representations, giving different examples of PLSV, grouping several mathematical sentences into samples rather than examples of PLSV, summarizing PLSV with logical reasons, and mentioning the similarities and differences between PLSV and not PLSV the two subjects didnt perform significant differences.
Tuti Mariani Malau
Kreano, Jurnal Matematika Kreatif-Inovatif, Volume 8, pp 215-220; doi:10.15294/kreano.v8i2.9675

Abstract:
This study aims to find out the difference of spatial ability and self confidence students improvement who were taught through inquiry learning model with GeoGebra (ILMG) and inquiry learning model without GeoGebra (ILMWG). The population of the study was the students at SMAN 19 Medan. The sample was the tenth grade students who randomly selected. Experimental 1 class were taught by ILMG and experimental 2 class were taught by ILMWG. The instruments of this study were spatial ability test and self confidence scale. The data were analyzed with the analysis of variance and Mann-Whitney analysis. In general, The results of the study shows that the improvement of students spatial ability and self confidence who were taught through ILMG higher than ILMWG.Penelitian ini bertujuan untuk melihat perbedaan peningkatan kemampuan keruangan dan percaya diri siswa yang diajar dengan model pembelajaran inkuiri berbantuan GeoGebra (MPIG) dan model pembelajaran inkuiri tanpa berbantuan GeoGebra (MPITG). Populasi dari penelitian ini adalah siswa-siswi SMA Negeri 19 Medan. Sampelnya adalah siswa kelas X yang dipilih secara acak. Kelas eksperimen 1 diajar dengan menggunakan MPIG dan kelas eksperimen 2 diajar dengan menggunakan MPITG. Instrumen penelitian ini adalah tes kemampuan keruangan dan skala percaya diri. Data dianalisis dengan menggunakan analisis kovarian dan uji Mann-Whitney. Hasil penelitian secara umum menunjukkan bahwa peningkatan kemampuan keruangan dan percaya diri siswa yang diajar melalui MPIG lebih tinggi daripada melalui MPITG.
Imroatul Mufidah
Kreano, Jurnal Matematika Kreatif-Inovatif, Volume 8, pp 208-214; doi:10.15294/kreano.v8i2.9545

Abstract:
Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan profil number sense siswa SD bergaya kognitif object imagery, spatial imagery, dan verbal pada materi pecahan. Penelitian dimulai dengan memberikan tes kemampuan matematika dan tes gaya kognitif untuk pemilihan subjek dan dilanjutkan dengan tes number sense dan wawancara dengan masing-masing subjek. Subjek penelitian adalah tiga siswa laki-laki kelas VI SD bergaya kognitif object imagery, spatial imagery, dan verbal yang berkemampuan matematika setara. Hasil penelitian menunjukkan: 1) number sense siswa object imagery ditunjukkan dengan membandingkan dan mengurutkan pecahan; menyatakan pecahan ke desimal dan daerah yang diarsir; mengenal dua ekspresi matematika yang ekuivalen; menyatakan akibat dari operasi dua bilangan; dan memperkirakan panjang benda. 2) Number sense siswa spatial imagery ditunjukkan dengan menunjukkan nilai tempat desimal; membandingkan dan mengurutkan pecahan; menyatakan pecahan ke desimal, daerah yang diarsir, serta garis bilangan; mengenal dua ekspresi matematika yang ekuivalen; menyatakan akibat dari operasi dua bilangan dan memperkirakan hasil yang logis; melakukan perhitungan mental; dan memperkirakan panjang benda. 3) Number sense siswa verbal ditunjukkan dengan menunjukkan nilai tempat desimal; membandingkan dan mengurutkan pecahan; menyatakan pecahan ke desimal dan daerah yang diarsir; mengenal dua ekspresi matematika yang ekuivalen; menyatakan akibat dari operasi dua bilangan; dan memperkirakan panjang benda.The aim of this study was to describe number sense profile of elementary students with object imagery, spatial imagery, and verbal cognitive style in fractions. Research began by giving mathematical ability test and cognitive style questionnaire to determine the subjects, then giving number sense test and doing interview with each of them. The subjects were three male students with object imagery, spatial imagery, and verbal cognitive style who had equal grade mathematical ability test. The results showed that: 1) the number sense of object imagery-student was described by compared and ordered fractions; changed fraction to decimal and shaded region; understood two equivalent expressions; understood the effect of operation; and determined the length of objects. 2) The number sense of spatial imagery-student was described by understood decimal place value; compared and ordered fractions; changed fraction to decimal, shaded region and located fractions in number line; understood two equivalent expressions; understood the effect of operation and can estimate right number as result; used mental computation; and determined the length of objects. 3) The number sense of verbal-student was described by understood decimal place value; compared and ordered fractions; changed fraction to decimal and shaded region; understood two equivalent expressions; understood the effect of operation was given; and determined the length of objects.
Fulgensius Efrem Men
Kreano, Jurnal Matematika Kreatif-Inovatif, Volume 8, pp 191-198; doi:10.15294/kreano.v8i2.7192

Abstract:
Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan proses berpikir kritis siswa SMA dalam pengajuan soal matematika berdasarkan tingkat kemampuan matematika yang terdiri atas kemampuan matematika tinggi, sedang dan rendah. Subjek penelitian adalah siswa kelas X dan berjumlah lima orang. Adapun hasil penelitian yang menggambarkan proses berpikir kritis siswa SMA dalam pengajuan soal berdasarkan tingkat kemampuan matematika sebagai berikut. 1) Siswa berkemampuan matematika tinggi kategori baik dalam pengajuan soal matematika memahami petunjuk dan informasi, menggunakan pengetahuan yang telah diperoleh sebelumnya sebagai sumber ide dan memiliki beberapa kriteria untuk membuat soal. 2) Siswa berkemampuan matematika sedang dengan kategori baik dalam pengajuan soal matematika memahami petunjuk dan informasi pada masalah terkait pengajuan soal, mengenali perintah dan mengidentifikasi asumsi-asumsi mendasar berupa apa yang diketahui pada informasi yang diberikan. 3) Siswa berkemampuan matematika rendah kategori kurang baik dalam pengajuan soal matematika memahami petunjuk dan informasi yang pada masalah terkait pengajuan soal. Mengacu pada hasil penelitian terlihat bahwa proses berpikir kritis siswa SMA dalam pengajuan soal matematika berdasarkan tingkat kemampuan matematika berbeda-beda.This study aims to describe Senior High School students critical thinking process in mathematics problem posing based on their mathematics ability level that is consisted of high, medium and low ability level. The subjects of this study is are five grade X students. The data were collected through semi-structured interview. This research then illustrates senior high school students critical thinking process in mathematic problem posing based on their mathematic ability level as follows: 1) The student have high mathematic ability in mathematic problem posing that might be categorized baik could understand the instruction and information, use her previous knowledge as the source of idea and having some criteria to make problems. 2) The student have medium mathematics ability in mathematics problem posing that might be categorized baik could understand the instruction and information related to problem posing, identify the instruction basic assumptions due to the knowledge she attained form given information. 3) The student have low mathematics ability in mathematics problem posing that might be categorized kurang baik could understand the instruction and information in mathematics problem posing. Referring to the research findings, it is known that senior high school students critical thinking process in mathematics posing problem is different based on their mathematic ability level.
Tri Rahmah Silviani, Jailani Jailani, Evvy Lusyana, Aida Rukmana
Kreano, Jurnal Matematika Kreatif-Inovatif, Volume 8, pp 150-161; doi:10.15294/kreano.v8i2.8404

Abstract:
Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan minat belajar siswa dalam pembelajaran matematika menggunakan metode inquiry based learning setting group investigation pada kelas VII.C SMP Negeri 12 Yogyakarta tahun pelajaran 2016/2017 yang berjumlah 34 siswa. Jenis penelitian ini merupakan penelitian tindakan kelas yang terdiri dari tahap perencanaan, tindakan, pengamatan, dan refleksi. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah angket minat belajar matematika. Hasil penelitian menunjukkan bahwa minat belajar matematika siswa meningkat yang ditunjukkan dengan peningkatan minat belajar matematika siswa dari siklus 1 yaitu 4 (12%) siswa dalam kategori sangat tinggi, 24 (71%) siswa dalam kategori tinggi dan 6 (18%) siswa dalam kategori sedang, sedangkan pada siklus 2 meningkat menjadi 11 (32%) siswa dalam kategori sangat tinggi, dan 23 (68%) siswa dalam kategori tinggi. Berdasarkan hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa metode inquiry based learning setting group investigation dapat meningkatkan minat belajar matematika siswa kelas VII.C SMP Negeri 12 Yogyakarta.The aims of this research were increasing students interest in learning mathematics by using inquiry based learning setting group investigation in class VII.C SMP Negeri 12 Yogyakarta academic year 2016/2017 which amounted to 34 students. This research was a classroom action research consisting of planning, actions, observation, and reflection. This research instruments was questionnaires of interest in learning mathematics. The result of the research showed that the students interest in mathematics learning increased. It was showed by the increase of students mathematics learning interest from first cycles which was 4 (12%) of students in a category was very high, 24 (71%) of students in the high category and 6 (18%) of students in the medium category, whereas in second cycles increased to 11 (32%) of students in a category is very high, and 23 (68%) of students in the high category. The result showed that the method of inquiry based learning setting group investigation can increase students interest in learning mathematics class VII.C SMP Negeri 12 Yogyakarta.
Aria Joko Pramono
Kreano, Jurnal Matematika Kreatif-Inovatif, Volume 8, pp 133-142; doi:10.15294/kreano.v8i2.6703

Abstract:
Aktivitas metakognitif adalah berkaitan dengan kesadaran dan pengaturan terhadap pengetahuan tentang proses dan hasil pikir dalam kegiatan merencanakan (planning) proses berpikir, memantau (monitoring) proses berpikir, dan mengevaluasi (evaluation) proses dan hasil berpikir. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan aktivitas metakognitif siswa SMP berdasarkan kemampuan matematika tinggi, sedang, dan rendah. Analisis data dilakukan dalam penelitian ini meliputi; reduksi, pemaparan, dan menarik kesimpulan aktivitas metakognitif subjek dalam pemecahan masalah matematika. Berdasarkan analisis data, subjek berkemampuan matematika tinggi dan sedang dalam pemecahan masalah, melakukan kegiatan perencanaan proses berpikirnya, memantau proses berpikirnya, dan mengevaluasi proses dan hasil berpikirnya dalam setiap tahap pemecahan masalah (memahami masalah, menyusun rencana penyelesaian, melaksanakan rencana penyelesaian, dan memeriksa kembali). Sedangkan subjek berkemampuan matematika rendah dalam pemecahan masalah, melakukan kegiatan perencanaan proses berpikirnya, memantau proses berpikirnya, dan mengevaluasi proses dan hasil berpikirnya dalam tahap memahami masalah, dan tahap melaksanakan rencana penyelesaian. Sedangkan pada tahap menyusun rencana penyelesaian subjek berkemampuan matematika rendah melakukan kegiatan perencanaan proses berpikirnya, dan memantau proses berpikirnya. Dan dalam tahap memeriksa kembali subjek berkemampuan matematika rendah hanya melakukan kegiatan mengevaluasi.Activity of metacognitive has relation with awareness and control on knowledge about process and result of thinking in activity of planning thinking process, monitoring process of thinking, and evaluating process and result of thinking. This research aims to describe metacognitive activity of the junior high school students based on high, medium, and low mathematics skills. Data analysis used in this research consists of reduction, discussion, and conclusion in term of metacognitive activities of the subject in mathematics problem solving. Based on data analysis, subject with high and medium mathematics skills in problem solving, conduct activity of thinking process planning, monitoring thinking process, and evaluating process and result of thinking in each problem solving stages (comprehending the problem, structuring problem solving plan, conducting problem solving plan, and rechecking). Subject with low mathematics skills in problem solving, conducting activity of thinking process plan, monitoring thinking process, and evaluating process and result of thinking in each problem solving stages, and stage of conducting problem solving plan. On stage of structuring problem solving plan subject with low mathematics skills conducts activity of thinking process plan, and monitors thinking process. On stage of rechecking subject with low mathematics skills only conducts activity of evaluation.
Nenta Dumalia Siregar, Edy Surya
Kreano, Jurnal Matematika Kreatif-Inovatif, Volume 8, pp 47-52; doi:10.15294/kreano.v8i1.7730

Abstract:
Penelitian ini bertujuan untuk untuk mengetahui apakah dengan menggunakan metode mathmagic dapat meningkatkan motivasi belajar siswa kelas V SDN No.027688 Binjai T.A 2010/2011 yang barjumlah 35 orang siswa. Penelitian Tindakan Kelas ini dilaksanakan secara kolaborasi dengan guru kelas dalam dua siklus. Teknik pengumpulan data: observasi, tes, catatan lapangan dan dokumentasi. Teknik analisis data deskriptif. Hasil penelitian mengalami perubahan dilihat dari presentasi jumlah nilai dan rata-rata kelas. Sebelum dilakukan tindakan hanya 5 orang siswa (1,25 %) yang memperoleh hasil yang baik dengan nilai antara 2,80-3,39. Pada siklus I ada 2 orang siswa (5%) memperoleh hasil yang sangat baik dengan nilai antara 3,40 - 4,00, dan 6 orang siswa (15%) memperoleh hasil yang baik dengan nilai antara 2,80 3,39. Dengan kata lain meningkat menjadi 20%. Pada siklus II ada 5orang siswa (12,5%) memperoleh hasil yang sangat baik dengan nilai antara 3,40-4,00, dan 27 orang siswa (67,5 %) mengalami perubahan yang memperoleh hasil yang baik dengan nilai antara 2,80-3,39.Berarti telah terjadi peningkatan menjadi 80%.This research aims to to know whether using mathmagic method can improve the motivation of students in grade 5 at SDN No.027688 Binjai T.A 2010/2011 that barjumlah 35 students. This Class Action research carried out in collaboration with the class teacher in two cycles of. Data collection techniques: observation, tests, note field and documentation. Descriptive data analysis techniques. The results of research experience changes seen from the presentation number of values and the average class. Prior to the action only 5 students (1.25%) who get good results with a value between 2,80-3,39. At cycle I no 2 the students (5%) get very good results with a value between 3.40 - 4.00, and 6 students (15%) get good results with a value between 2.80 - 3,39. In other words rose to 20%. At cycle II is 5students (12.5%) get very good results with a value between 3,40-4,00, and 27 students (67.5%) experience changes that get good results with a value between 2,80-3,39.means there has been increased to 80%.
Page of 3
Articles per Page
by
Show export options
  Select all
Back to Top Top