Refine Search

New Search

Results in Journal Missio Ecclesiae: 105

(searched for: journal_id:(6233165))
Page of 3
Articles per Page
by
Show export options
  Select all
Rio Janto Pardede, Ferdinan Samuel Manafe, Yatmini Yatmini
Published: 25 April 2022
Missio Ecclesiae, Volume 11, pp 72-87; https://doi.org/10.52157/me.v11i1.150

Abstract:
Ibadah streaming merupakan salah satu cara untuk memfasilitas jemaat untuk dapat dilayani melalui ibadah yang didalamnya juga terkandung pujian, penyembahan dan firman Tuhan. Dalam pengertian, hakikat ibadah menentukan ibadah streaming layak disebut sebagai ibadah. Penelitian ini bertujuan untuk melihat sejauhmana pentingnya memahami hakikat ibadah dalam ibadah streaming. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode penelitian konten analisis yang di jelaskan secara deskriptif. Berdasarkan analisis isi yang dilakukan, ditemukan hubungan antara hakikat ibadah dengan ibadah streaming pada konten: 1) Perjanjian Lama: Sejak zaman Kain dan Habel, Patriakh (Abraham, Ishak, Yakub), Musa, Para Hakim, Daud, Salomo, Nabi-nabi, Mazmur. 2) Perjanjian Baru: Sinagoge, Injil Sinoptik (sikap hati, Menyembah dalam roh dan kebenaran), Paulus (Mengenal Allah yang disembah, Mempersembahkan totalitas hidup, ibadah tanpa kepura-puraan, ibadah berguna dalam segala hal), Ibrani (menyucikan hati nurani, Mengekang lidah). Sehingga pelaksanaan ibadah bukan masalah dimana dan kapan dilaksanakan tetapi bagaimana spiritualitas pribadi seseorang dalam menghormati Tuhan dalam ibadahnya, baik melalui ibadah streaming. Karena sejarah Alkitab membuktikan para tokoh-tokoh Alkitab melakukan ibadah dimana mereka memiliki keterikatan spiritualitas dengan Allah.
Franky Franky, Dina Elisabeth Latumahina
Published: 25 April 2022
Missio Ecclesiae, Volume 11, pp 21-36; https://doi.org/10.52157/me.v11i1.145

Abstract:
Di tengah konteks zaman yang terus mengalami perubahan, gereja sebaiknya terbuka dalam menghadapi kepelbagaian dan perubahan. Dalam melayani (pastoral), gereja harus menghayati dan menjalani kehidupannya dalam proses pembaharuan terus menerus serta menjadi cair (liquid). Apabila memerhatikan dinamika pelayanan pastoral pada saat ini, maka gereja tidak lepas dari permasalahan dalam menyikapi perubahan. Misalnya: adanya anggapan bahwa keterbukaan terhadap sesuatu di luar gereja akan mengancam eksistensi gereja pada masa kini. Akibatnya, gereja tidak mau dievaluasi, menerima kritik dan saran karena menganggap pendekatan pelayanan tradisional adalah cara/ metode terbaik dalam menerapkan pelayanan pastoral. Dalam artikel ini, peneliti menggunakan metode penelitian kualitatif dengan pendekatan fenomenologis, yakni menggali pemahaman dan pengalaman subyektif dari para informan dengan memerhatikan konteks pelayanan pastoral gereja-gereja anggota PGIS Kota Batu. Adapun tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengkaji serta menemukan model liquid church bagi peningkatan pelayanan pastoral. Pada akhirnya, dengan mengacu pada kajian literatur, hasil dan pembahasan, maka peneliti menemukan Model Liquid Church, yakni: 1) Gereja Tidak Bersifat Eksklusif; 2) Gereja Kontekstual; 3) Gereja Adaptif; 4) Gereja yang Inovatif dan Kreatif; 5) Gereja yang Membumi dan 6) Gereja Yang Relevan dengan Situasi dan Kondisi. Model ini dapat menjadi rekomendasi bagi gereja-gereja anggota PGIS Kota Batu guna meningkatkan pelayanan pastoral.
Adieli Halawa, Robert Calvin Wagey
Published: 25 April 2022
Missio Ecclesiae, Volume 11, pp 1-20; https://doi.org/10.52157/me.v11i1.146

Abstract:
Pada masa kini, konflik merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan manusia. Pemahaman tentang konflik secara komprehensif baik teori umum maupun Alkitab merupakan bagian yang sangat penting untuk dipahami oleh setiap pemimpin Kristen khususnya para pemimpin di Gereja Kristen Injili Nusantara (GKIN). Tujuan penelitian dalam tulisan ini adalah:(1) Untuk mengetahui teori umum dan pandangan Alkitab tentang konflik. (2) Untuk mengetahui penyebab terjadinya konflik dalam Pemilihan Pemimpin di Sinode GKIN. (3) Untuk menemukan model penyelesaian konflik dalam Pemilihan Pemimpin di Sinode GKIN. Observasi serta penelitian yang dilakukan peneliti dalam proses pemilihan pemimpin di sinode GKIN mengerucut pada satu bukti dan fakta yang tidak terbantahkan bahwa terjadi konflik dalam pemilihan pemimpin yang sedang berlangsung di sinode GKIN. Jika dikonstruksikan maka konflik yang terjadi karena: (1) Dukung mendukung calon yang menimbulkan konflik interpersonal, intra grup dan kelompok dalam sinode GKIN. (2) Regulasi yang mengatur tentang pemilihan pemimpin di sinode GKIN belum memadai dan memenuhi kebutuhan organisasi. (3) Karakter para pemimpin di GKIN yang belum bersesuaian dengan prinsip-prinsip kepemimpinan Kristen yang berdasarkan Alkitab. (4) Konflik dalam pemilihan pemimpin yang sudah berlangsung lama belum ada upaya terstruktur dan sistemik dalam mengelola potensi konflik tersebut menjadi hal positif bagi organisasi. Sinode GKIN membutuhkan sebuah model pendekatan penyelesaian konflik dengan empat model sesuai dengan konteks di sinode GKIN, yaitu: Model proposal penyelesaian masalah, model dialog terbuka untuk solusi, model solusi komprehensif dan model hikmat Allah.
Maria Hanie Endojowatiningsih
Published: 25 April 2022
Missio Ecclesiae, Volume 11, pp 37-50; https://doi.org/10.52157/me.v11i1.152

Abstract:
Pengalaman anak-anak Imam Eli bisa jadi dialami oleh anak-anak hamba Tuhan. Anak-anak hamba Tuhan memiliki pergumulan khusus, yang bisa berimbas negatif tapi juga bisa berimbas positif. Hasil wawancara informal, ditemukan bahwa ada yang menanggapi negatif, misalnya merasa tertekan, dituntut terlalu banyak, tidak sebebas anak-anak lain, dibayang-bayangi oleh status orangtuanya. Namun ada yang menanggapinya secara positif, misalnya bersyukur dan bangga akan status sebagai anak-anak hamba Tuhan, karena bisa mendapat pendidikan dan keteladanan rohani yang sangat baik dari orangtua, bisa turut melayani bersama orangtua. Anak-anak imam Eli, di tengah umat Israel, ternyata menanggapi secara negatif, yaitu dengan perilaku yang sangat tidak menjadi berkat, dan menjadi perhatian Tuhan. Pembahasan penelitian ini, kiranya dapat memberikan kontribusi bagi anak-anak hamba Tuhan agar tidak memiliki kecenderungan seperti halnya anak-anak imam Eli, dan penting juga bagi para hamba Tuhan supaya tidak mengalami kegagalan seperti imam Eli. Metode penelitian yang penulis pakai adalah kualitatif, dengan mewawancarai 13 mahasiswa Institut Injil Indonesia yang orangtuanya (ayah atau ibunya) adalah hamba Tuhan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 69% informan kecewa menjadi anak hamba Tuhan, 46% informan pernah minder menjadi anak hamba Tuhan, dan informan berpendapat bahwa jika anak-anak hamba Tuhan tidak mengaktualisasikan Firman Tuhan secara benar maka akan menjadi batu sandungan bagi jemaat, merusak pekerjaan Tuhan, nama baik orangtua tercemar, dan wibawa orangtua hilang.
Meldaria Manihuruk, Chresty Thessy Tupamahu, Lasrida Siagian
Published: 25 April 2022
Missio Ecclesiae, Volume 11, pp 51-71; https://doi.org/10.52157/me.v11i1.153

Abstract:
Pendampingan Pastoral atau Pastoral Care adalah sebuah proses yang dilakukan oleh seseorang yang bersedia untuk memberikan perhatian, perawatan, pemeliharaan, atau perlindungan kepada seseorang lain yang membutuhkan. Pendampingan pastoral memberikan pertolongan yang menghubungkan antara pendamping, orang yang didampingi, dengan Allah. Orang tua sebagai “manager” atau “penjaga” bagi anak-anaknya memiliki peran penting dalam pendampingan pastoral untuk menolong anak-anaknya khususnya bagi anak-anak remaja awal yang memasuki masa-masa krisis peralihan. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui peran orang tua dalam pendampingan pastoral bagi anak usia remaja awal menurut 2 Timotius 1:3-18. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif dengan pendekatan grammatical analysis. Dalam pengumpulan data, penelitian ini menggunakan tekni studi literatur dan wawancara. Berdasarkan hasil penelitian ditemukan bahwa peran orang dalam pendampingan pastoral bagi orang tua anak remaja awal harus meliputi ucapan syukur, mendoakan, mendidik, memberi kasih sayang, memberi disiplin, serta memberi teladan kepada anak. Kesimpulan dari penelitian ini bahwa masa-masa krisis peralihan anak remaja awal tidak bisa dihindari, namun kesadaran dan kesigapan orang tua dalam peran pendampingan pastoral terhadap anak remaja awal ini sangat signifikan karena dapat menolong anak mereka menghadapi masa-masa peralihan tersebut.
Safri Pardede, Alvyn Cesarianto Hendriks, Stimson Hutagalung, Janes Sinaga
Published: 25 April 2022
Missio Ecclesiae, Volume 11, pp 88-98; https://doi.org/10.52157/me.v11i1.156

Abstract:
Kecanduan narkoba sudah menjadi permasalahan besar dihadapi dan mengkawatirkan, di dunia. Pada tahun 2017 sampai 2019 ada sekitar 3,3 sampai 3,6 juta jiwa lebih diantara umur 10 tahun sampai 59 tahun, dan termasuk pelajar. Mereka yang berusia 15 tahun sampai 35 tahun (generasi milenial) lebih cenderung pecandu narkoba. Berdasarkan data ini, penelitian bermaksud agar gereja dan gembala mengadakan pembinaan kepada warga gereja dan kepada mereka yang telah menggunakan narkoba sebagai mana dalam Matius 18:12 – 14, dengan tujuan mencegah menjadi pecandu dan pengguna narkoba. Metode yang digunakan adalah metode kualitatif yaitu mengungkap makna dan pengalaman subjek serta mengutip literatur-literatur dari internet dan pengalaman penulis selama tinggal di rumah satu keluarga dimana ada anaknya yang kecanduan narkoba yang tidak mendapatkan pembinaan serta pendampingan. Hasilnya agar warga gereja dapat mengetahui efek dan bahayanya narkoba dan kepada mereka yang ketergantungan narkoba menyadari kesalahaan dan dapat sembuh serta dapat diterima menjadi warga gereja.
Nelly Nelly, Dina Elisabeth Latumahina
Published: 30 October 2020
Missio Ecclesiae, Volume 9, pp 66-97; https://doi.org/10.52157/me.v9i2.130

Abstract:
Dosen merupakan salah satu komponen esensial dalam suatu sistem pendidikan di perguruan tinggi. Dalam Tridharma Perguruan Tinggi, dosen harus melakukan dengan beban kerja paling sedikit sepadan dengan dua belas SKS dan paling banyak enam belas SKS pada setiap semester sesuai dengan kualifikasi akademik. Pelaksanaan tugas utama dosen ini perlu dievaluasi dan dilaporkan secara periodik sebagai bentuk akuntabilitas kinerja dosen kepada para pemangku kepentingan. Penilaian kinerja dosen dipandang perlu dalam kaitannya dengan tercapainya Tridharma Perguruan Tinggi. Evaluasi kinerja adalah penilaian yang dilakukan secara sistematis untuk mengetahui hasil pekerjaan karyawan dan kinerja organisasi. Untuk mengetahui kinerja dosen dalam melaksanakan Tridharma Perguruan Tinggi di STA Jember maka penelitian ini menggunakan penelitian evaluasi, secara khusus evaluasi kinerja. Dalam penelitian evaluasi kinerja ini, model yang digunakan adalah evaluasi kinerja 360 derajat. Secara umum model evaluasi ini bertujuan untuk mengukur apakah kinerja dosen sesuai dengan standar atau kriteria kinerja yang sudah ditentukan. Penilaian kinerja dosen tersebut dilakukan oleh multi penilai atau penilaian dilakukan oleh beberapa orang. Data yang didapat dianalisis dan dicari hubungannya, dibandingkan, kemudian menemukan pola dasar dari data aslinya. Berdasarkan rekapan persentase rata-rata skor ketercapaian dari 17 orang dosen menunjukkan kinerja dalam melaksanakan pendidikan dan pengajaran adalah baik. The lecturer is one of the essential components in the education system in higher education. In the Tridharma of Higher Education, lecturers must carry out a workload of at least twelve credits and a maximum of sixteen credits in each semester according to their academic qualifications. The implementation of this lecturer's main task needs to be evaluated and reported periodically as a form of accountability for lecturer performance to stakeholders. Performance appraisal is deemed necessary in its assessment by achieving the Tridharma of Higher Education. Company assessments are carried out systematically to see the results of employee work and organizational performance.To see the performance of lecturers in the Tridharma of Higher Education at Jember Bible College to evaluate and evaluate performance. In this performance evaluation research, the model used is a 360-degree performance evaluation. In general, this evaluation model aims to measure whether the lecturer's performance is in accordance with the specified performance standards or criteria. The performance appraisal is carried out by multiple appraisers or the service is carried out by several people. The data obtained were analyzed and searched, compared, then found the basic pattern of the data built. Based on the recapitulation of the average proportion of achievement of 17 people who show good performance in carrying out education and completing it.
Natalia Debora Pantas
Published: 31 October 2016
Missio Ecclesiae, Volume 5, pp 169-189; https://doi.org/10.52157/me.v5i2.64

Abstract:
Pada umumnya pemuda memiliki gaya hidup yang cenderung instant, mudah dipengaruhi oleh hal-hal yang ada di sekitarnya. Demikian juga dengan pemuda gereja. Keluarga maupun komunitas di mana dia berada turut mempengaruhi gaya hidupnya. Secara khusus perihal kerohanian seseorang sangat mempengaruhi gaya hidupnya. Karena itu seorang pemuda gereja atau pemuda Kristus harus memiliki gaya hidup yang berbeda dari dunia ini yaitu gaya hidup yang sesuai dengan standar Alkitab yaitu Firman Allah. Salah satunya adalah gaya hidup yang bersaksi tentang Kristus. Berkenaan dengan hal ini pemahaman seseorang mengenai bersaksi sangat berpengaruh pada penerapan hal tersebut dalam kehidupannya. Apakah pemahamannya mengenai bersaksi bersifat sempit atau secara luas. Pada umumnya pemuda gereja memahami bersaksi dalam arti sempit yaitu menyaksikan kebaikan Tuhan, pertolongan Tuhan dalam study, keluarga, keberhasilan yang diperoleh. Lebih dari itu pemahaman mengenai bersaksi harus dimengerti dalam arti yang luas yakni dalam arah bersaksi tentang Kristus. Pengalaman seseorang dengan Tuhan dalam arti perjumpaan seseorang secara pribadi dengan Tuhan memulihkan kehiduapannya bahkan mendorong dia untuk menyaksikan itu bagi orang lain dengan tujuan orang lain mengalami hal yang sama. Tujuan bersaksi tentang Kristus supaya orang boleh mengenal Tuhan, percaya kepada Tuhan bahkan dapat juga menjadi saksi Kristus. Ada tantangan ataupun hambatan yang dihadapi pada saat bersaksi tentang Kristus. Adapun hambatan yang dialami berasal dari dalam pribadi yang bersaksi maupun dari luar. Tantangan dari luar berkaitan dengan konteks masyarakat setempat, perbedaan suku, budaya dan agama yang mengarah pada perbedaan pemahaman atau konsep tentang keselamatan. Sedangkan tantangan dari dari pribadi yang bersaksi adalah adanya rasa takut, malu, tidak berani berkata-kata bahkan tidak siap untuk menghadapi resiko atau konsekuensi yang akan dialami termasuk menghadapi penganiayaan. Berkaitan dengan hal ini diperlukan hikmat Tuhan dan pertolongan Roh Kudus dalam menyampaikan berita kesaksian tentang Kristus dan karyaNya. Secara khusus pemuda gereja yang hidup dalam konteks masyarakat Indonesia yang majemuk. Bersaksi tentang Kristus dapat dilakukan bukan hanya secara verbal tetapi juga non-verbal. Melalui perkataan dan perbuatan pemuda gereja yang berbeda dari gaya hidup dunia ini, bahkan menjadi berkat bagi banyak orang.Pengalaman hidup bersama Tuhan dan anugerah keselamatan yang dianugerahkan kepada setiap orang yang percaya kepada Kristus tidak dapat digantikan atau ditukar dengan apapun. Hal itu merupakan suatu kesukaan dan berita yang harus disampaikan kepada orang lain secara khusus orang yang belum percaya. Perbuatan Tuhan yang ajaib yang dialami orang percaya dapat diceritakan kepada orang lain sehingga orang tersebut dikuatkan iman percayanya. Tetapi dalam arti yang lebih luas berita tentang Kristus harus disampaikan kepada semua orang. Setiap orang percaya dipanggil untuk menjadi saksi Kristus. Seorang saksi adalah seorang yang mengalami sendiri suatu peristiwa sehingga dapat menceritakan hal tersebut kepada orang lain. Demikian juga dengan seorang saksi Kristus harus memberitakan Injil tentang Yesus Kristus; memberitakan tentang kematian dan kebangkitan Tuhan Yesus Kristus, dan barangsiapa yang percaya kepada-Nya mendapat pengampunan dosa dan memperoleh hidup yang kekal. Demikian juga dengan para pemuda dipanggil untuk menjadi saksi Kristus yaitu bersaksi tentang Kristus melalui kehidupan para pemuda dan menjadikan itu sebagai gaya hidup setiap hari. Gaya hidup berarti pola perilaku yang sudah menjadi kebiasaan dalam kehidupan seseorang, dan hal ini sudah menjadi bagian dalam hidupnya. Para rasul dalam kitab Kisah Para Rasul menjadikan bersaksi tentang Kristus sebagai gaya hidup mereka. Walaupun mengalami tantangan ataupun penganiayaan, para rasul tetap mentaati perintah Tuhan Yesus untuk bersaksi (Kis. 1: 8).Bersaksi bukan hanya sekedar berkata-kata tentang pertolongan Tuhan, tetapi menyampaikan tentang berita kesaksian yaitu Injil Yesus Kristus, bahkan hidup sesuai dengan teladan Kristus. Pentingnya bagi orang percaya untuk menyatakan kesaksiannya melalui perkataan dan perbuatan sehingga orang yang belum percaya dapat mengenal Kristus melalui kehidupan orang percaya. Gereja perlu terus mendorong para pemuda untuk menggunakan dan memaksimalkan semua potensi yang ada pada mereka dalam arah yang benar yaitu terus dipakai untuk melayani Tuhan. Bahkan gereja perlu juga mendorong semua pemuda untuk terlibat dalam pelayanan gereja melalui program-program pelayanan yang dibuat oleh gereja. Tentunya masing-masing pemuda dilibatkan dalam bidangnya sesuai dengan apa yang dapat dikerjakannya. Bagi pemuda gereja, perlunya dibuat kelompok-kelompok kecil atau kelompok tumbuh bersama bagi para pemuda, sehingga dari situ para pemuda semakin bertumbuh di dalam Tuhan. Tentunya hal berdampak pada kerohanian yang semakin dewasa bukan hanya pada satu pribadi tetapi kepada semua pemuda. Selain itu pokok-pokok pengajaran tentang bersaksi dapat diajarkan kepada para pemuda. Mulai dari sikap pribadi yang bersaksi, landasan dari bersaksi tentang Kristus, bagaimana cara bersaksi, tujuan dari bersaksi dan gaya hidup seorang yang menjadi saksi Kristus. Dengan demikian hal ini dapat mendorong pemuda gereja untuk semakin giat bersaksi tentang Kristus dan menjadikannya sebagai gaya hidup.
Wilianus Illu
Published: 30 April 2016
Missio Ecclesiae, Volume 5, pp 52-73; https://doi.org/10.52157/me.v5i1.58

Abstract:
Kitab Kejadian adalah kitab Perjanjian Lama yang pertama dan sebagai pendahuluan dari seluruh Alkitab, yang mencatat tentang penciptaan, permulaan sejarah manusia, asal mula bangsa Ibrani dan perjanjian Allah dengan Abraham, nenek moyang mereka. Allah menciptakan manusia menurut peta dan teladanNya sendiri, dan diciptakan-Nya mereka laki-laki dan perepuan (Kej. 1:26-27). Kejatuhan manusia dalam dosa merusak segalanya. Manusia tidak lagi dapat membedakan yang jahat dan yang baik, dan kecenderungan manusia selalu berbuat yang jahat. Dosa semakin berkembang, dosa manusia tidak pernah berkurang, mulai dari manusia pertama hingga saat ini. Dosa merupakan penyebab terputusnya hubungan antara manusia dan khalik-Nya. Akibatnya, manusia mengalami kesuraman dan hidup tanpa masa depan. Semua kejahatan lahir dari keadaan umat manusia yang berdosa, walaupun demikian banyak orang tidak mengetahui asal usul dosa dan akbitanya. Namun dari sisi lain Tuhan tidak membiarkan manusia ciptaan-Nya terus hidup dalam dosa, maka Dia melakukan aktivitas misi-Nya dengan cara mencari manusia dengan kasih-Nya (Kej. 3:8-9). Dengan adanya kenyataan ini, maka pemanggilan Abraham dalam teks Kejadian 12:1-3 adalah sebagai awal penggenapan janji keselamatan manusia yang sudah jatuh ke dalam dosa (Kej. 3:15), atau sebagai awal babak baru dalam penyataan Perjanjian Lama mengenai maksud Allah untuk menebus dan menyelamatkan umat manusia dari dosa. Allah bermaksud memilih seseorang yang mengenal dan melayani-Nya, dan dengan iman yang tulus dapat mengenal, mengajarkan, dan memelihara jalan-jalan Tuhan dengan baik. Pemanggilan Abram mutlak atas inisiatif Allah. Itu berarti bahwa Allah yang memanggil Abram adalah Allah yang dengan sendirinya ada, juga berkuasa atas alam semesta dan atas semua suku bangsa di dunia. Pemanggilan Abram bukan hanya menjadi berkat bagi keluarga dan keturunannya saja, melainkan bagi semua suku bangsa, seperti ditulis dalam Galatia 3:8,16 bahwa “berkat yang menunjuk pada Injil Kristus yang ditawarkan kepada semua bangsa.” Itu berarti bahwa janji berkat kepada Abraham bersifat universal. Jadi berkat tersebut menyangkut, baik berkat material (jasmani) maupun berkat rohani. Berkat jasmani ini mencakup harta benda yang banyak, yang dapat membahagiakan kehidupan Abram dan keturunannya. Sedangkan berkat rohani mencakup keselamatan jiwa manusia yang bersifat kekal, yaitu di dalam Yesus Kristus yang adalah keturunan Daud, menjadi berkat penebusan bagi semua suku bangsa tanpa memandang suku, ras, dan golongan. Gereja (orang percaya) harus menyadari bahwa berkat itu diberikan secara cuma-cuma melalui penebusan Yesus Kristus. Maka gereja (orang percaya) harus menyalurkan berkat tersebut kepada orang-orang yang belum mengenal Tuhan Yesus, dengan tujuan supaya mereka juga dapat percaya bahwa Yesus Kristus adalah Tuhan yang hidup yang dapat menyelamatkan umat manusia dari dosa. Misi harus menjadi tanggung jawab gereja dalam memberitakan Injil, karena gereja adalah pusat atau wadah yang dapat membina warga jemaat untuk dapat terlibat dalam pekerjaan Tuhan. Dalam hal ini gereja harus mampu melakukan tindakan nyata (memberitakan Injil) untuk menolong orang-orang yang belum percaya kepada Yesus Kristus. Gereja sebagai wakil Allah di dunia, harus mampu merealisasikan ketaatannya terh adap mandat misi Allah dalam menjangkau setiap orang yang belum percaya kepada Tuhan Yesus Kristus. Gereja dalam melakukan misi, harus menjangkau semua golongan, dalam hal ini gereja tidak membuat suatu patokan atau batasan dalam melaksanakan misi Allah. Karena misi Allah adalah misi yang universal yang harus dilakukan oleh semua gereja. Gereja harus memperluas pengetahuannya tentang misi, sehingga dapat menjalankan misi Allah. Gereja tidak lagi berputar-putar pada diri sendiri melainkan harus memikirkan dan menjangkau seluruh suku bangsa yang belum percaya kepada Tuhan Yesus Kristus. Gereja juga mempelajari firman Tuhan dengan tekun, sehingga semua pengajaran yang disampaikan kepada orang-orang yang belum percaya kepada Tuhan Yesus Kristus dapat sungguh dipertanggungjawabkan di hadapan Tuhan. Mengacu pada pemaparan di atas, maka penulis memberikan beberapa rekomendasi yang berupa saran, yang ditunjukkan kepada gereja-gereja yang bertanggungjawab untuk dapat menjalankan misi Allah. Tugas gereja Tuhan masa kini adalah menjalankan misi Allah dengan benar dan dapat dipertanggungjawabkan di hadapan Tuhan. Dalam memberitakan firman Allah kepada jemaat, tidak hanya dalam pemberitaannya berisi tentang moral, memiliki karakter yang baik, rajin berdoa, rajin membaca Alkitab, mengikuti ibadah di gereja dan membawa persembahan. Tetapi juga tugas seorang Pendeta adalah sebagai mediator berkat, yang harus menjadi teladan dalam menjalankan tugasnya sebagai seorang pemimpin yang handal. Itu sebabnya gereja Tuhan perlu melaksanakan misi Allah secara serius, juga mampu merealisasikan misi tersebut kepada jemaat, agar jemaat juga dapat menyadari bahwa misi Allah adalah penting untuk dilakukan dengan sungguh-sungguh dan kelak akan dipertanggung jawabkan kepada Allah. Seorang pemimpin gereja harus memiliki hati untuk menolong orang-orang yang ada di luar Kristus. Hal ini tidak terbatas pada pelayanan Firman Tuhan tetapi juga dituntut lewat sikap hidup seorang pemimpin gereja. Tugas seorang pemimpin gereja adalah mempersiapkan dan membina jemaat untuk menjadi berkat, garam dan terang dalam keluarga, gereja, masyarakat, negara dan dunia melalui pemberitaan Injil.
Iwan Setiawan
Published: 29 October 2017
Missio Ecclesiae, Volume 6, pp 139-166; https://doi.org/10.52157/me.v6i2.73

Abstract:
Penderitaan adalah kata yang sering dihindari oleh manusia termasuk orang percaya. Selain itu situasi zaman sekarang yang semakin menekan umat manusia, seperti yang dikatakan Tuhan Yesus bahwa zaman akhir dunia ini ditandai bukan oleh perdamaian, melainkan oleh peperangan yang bertambah-tambah (Mat. 24:6). Banyak martir di negara-negara komunis yang menjadi korban kekerasan dan penindasan, yang mengakibatkan penderitaan. Mengenai Indonesia, meskipun bukan negara komunis atau negara terlarang untuk Injil, namun ratusan gereja telah dirusak dan dibakar, yang mengakibatkan korban yang cukup banyak. Ada cukup banyak kesaksian tentang penderitaan orang percaya karena iman mereka kepada Kristus, namun tidak dapat dipungkiri bahwa masih banyak orang percaya yang belum memahami arti penderitaan itu. Hal ini nampak pada seringnya jemaat disuguhkan Firman Tuhan yang menawarkan kesenangan hidup belaka, tanpa harus mengalami penderitaan. Karena itu mereka lebih banyak melarikan diri, putus asa dan kecewa ketika mengalami penderitaan, padahal sesungguhnya penderitaan tidak dapat dihindari, namun yang dimaksudkan penulis adalah cara menanggapi penderitaan itu harus sesuai dengan apa yang Tuhan ajarkan, yaitu bahwa penderitaan yang dialami manusia itu tidak sebanding dengan kemuliaan yang akan dinyatakan (Rm. 8:18). Paulus menegaskan bahwa bahwa orang percaya akan mengalami penderitaan, namun penderitaan itu hanya sedikit atau sebagian kecil dari kemuliaan yang akan dinyatakan. Penderitaan dan hawa nafsu terjadi karena dunia ini memang berdosa. Penderitaan yang diderita umat manusia terjadi setelah kejatuhan manusia ke dalam dosa. Masa sekarang ini semuanya jahat, diwarnai oleh dosa, kematian dan kebinasaan. Suatu ketika akan datang hari Tuhan, yaitu hari penghakiman, ketika dunia akan digoncangkan sampai ke dasarnya; tetapi sesudah itu akan datang suatu dunia baru. Ketika Paulus menggambarkan ini, ia memakai pengertian yang setiap orang Yahudi sudah mengenal dan mengerti. Ia berbicara tentang masa sekarang dan tentang kemuliaan yang akan dinyatakan. Dengan demikian, yang dimaksud Paulus dalam bagian ini adalah keyakinan kita bahwa penderitaan sekarang tidak sebanding dengan kemuliaan yang akan datang yang akan dinyatakan kepada kita orang yang percaya kepada-Nya. Jadi penderitaan yang kita tanggung sebagai pengikut Kristus menunjukkan keikutsertaan kita dalam penderitaan Kristus, dan dapat disebut juga “menggenapkan apa yang belum tercakup dalam penderitaan Kristus”, supaya kita dapat bersekutu dengan Kristus dalam penderitaan-Nya. Dengan demikian pengharapan di sini berarti harapan adanya suatu keyakinan dan kepastian bahwa orang percaya akan dibebaskan atau dimerdekakan dari kesia-siaan. Tuhan telah mengaruniakan Roh Kudus sebagai jaminan pemberian lebih besar yang akan diterima di masa depan. Inilah pengharapan orang percaya, yaitu penantian penuh keyakinan akan berkat-berkat yang dijanjikan yang sekarang belum ada atau belum tampak. Tidak ada ketekunan yang tidak diawali dengan penderitaan. Ketekunan disediakan bagi kita sebagai hasil penderitaan. Orang yang menolak penderitaan dengan mengeluh dan mencari jalan keluar sendiri tidak akan memperoleh ketekunan.
Rafles Rudi Laua
Published: 30 October 2018
Missio Ecclesiae, Volume 7, pp 229-258; https://doi.org/10.52157/me.v7i2.89

Abstract:
Berdasarkan acuan pada kajian teoritik dan berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan sesuai fokus dan subfokus peneliti mengenai exegese Kitab Efesus 5:22-33 sebagai pola pembinaan bagi pernikahan, maka ditemukan sebab-sebab lemahnya penerapan pola pembinaan bagi pernikahan di Gereja Bala Keselamatan Desa Pani’i dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut: Pertama, Pernikahan yang baik adalah komitmen total dari dua orang di hadapan Tuhan dan sesama. Pernikahan yang baik didasarkan pada kesadaran bahwa pernikahan ini adalah kemitraan yang mutual. Pernikahan yang baik juga melibatkan Tuhan secara proaktif di dalam setiap pengambilan keputusan, sebab pernikahan adalah sebuah rencana ilahi yang istimewa. Dengan demikian, pernikahan seharusnya tetap dijaga dan dipertahankan di dalam kekuatan Roh yang mempersatukan kedua insan. Kedua menurut penulis pola pembinaan dalam pernikahan merupakan suatu metode yang paling efektif dalam memberikan pembekalan kehidupan suami istri melalui konseling pranikah dimulai dari pengertian tentang hakekat pernikahan kristen, mengetahui pernikahan itu adalah rencana dan rancangan Allah dalam hidup manusia, dan pentingnya pola diterapkan pada setiap pelayanan diharapkan dapat membuat pelayanan menjadi berkualitas. Setiap gereja memiliki pola yang menjadi ciri dalam pelayanannya, bukan hanya sekedar untuk membuat pelayanan kelihatan aktivitasnya namun untuk dapat memaksimalkan pelayanan yang dapat memenuhi kebutuhan jemaat. Ketiga, pola pembinaan pernikahan Kristen yang telah menjadi bagian dari pelayanan gereja ini sejak lama tidak diterapkan dengan baik. Kegiatan-kegiatan ibadah yang mengedepankan pembinaan pemuda dalam menghadapi pergaulan dan perencanaan masa depan memlalui rencana penikahan yang ada pada dasarnya memiliki pola pengajaran yang sama. Hanya disebagian ibadah ketegorial yang memiliki sedikit perbedaan. Penyebabnya adalah hamba Tuhan tidak dapat melihat tanda-tanda perubahan zaman dan menyesuaikan pelaksanaannya dengan kondisi jemaat yang juga berubah. Hasilnya jemaat menjadi kurang peduli pentingnya pembinaan pernikahan Keempat, pola pembinaan pernikahan tidak mendapat perhatian dari hamba Tuhan dan kurangnya pemahaman dari hamba Tuhan mengenai pola pembinaan disebabkan kurangnya pengalaman dalam pembinaan, dalam hal ini hamba Tuhan harus terus meningkatkan dan memperlengkapi diri melalui buku-buku serta perlunya berelasi dengan gereja lain atau hamba Tuhan baik dari denominasi yang sama maupun dari denominasi gereja yang berbeda. Kelima, pembinaan melalui koseling merupakan pembelajaran khusus yang bertujuan untuk membentuk pasangan suami istri sampai akhirnya mereka memahmi benar arti sebuah pernikahan Kristen dan menjalani hidup sebagai pasangan suami istri. Hamba Tuhan harus menerapkan pola yang dapat membuat pasangan suami istri merasa dewasa dalam menjalani kehidupan berumah tidak kehilangan esensi dari pembelajaran itu sendiri. Dalam penerapan pola ini, pemberitaa melalui firman Tuhan didaarkan pada kitab Efesus 5:22-33. Pola itu, sesungguhnya di zaman ini sangat diperlukan dikarenakan pengaruh-pengaruh sekuler yang begitu cepat mempengaruhi prilaku hidup dalam pernikahan yang dipengaruhi oleh: (1) Kekuatan Teknologi yang cepat sehingga antara kebutuhan dan keinginan tidak sesuai; (2) Komunikasi yang tidak harus dibangun ,justru membuat keretakan hidup suami istri dengan adanya perselingkuhan; dan (3) Tayangan-tayangan yang tidak lagi terbatas dapat disaksikan sehingga membentuk pola kehidupan yang tidak lagi mengutamakan kesucian hidup. Lemahnya pelayanan ini juga disebabkan: (a) Karena gereja kurang peduli akan pentingnya pembinaan sejak awal arti pernikahan Kristen (b) Gereja terlalu sibuk mengurusi hal-hal kegiatan gereja saja dan mulai meninggalkan perhatian kepada kehidupan keluarga. (c) Gereja tidak melaksanakan pola pembinaan sejak muda kepada pemuda-pemudi gereja untuk mempersiapkan hidup dalam berumah tangga (d) Karena kurang memperlengkapi diri, gereja tidak dapat menerapkan pola yang ada dalam Alkitab, sesungguhnya ada pola yang sangat ideal yang dapat diterapkan dalam pelayanan.
Yuliana Lu
Published: 31 October 2016
Missio Ecclesiae, Volume 5, pp 134-152; https://doi.org/10.52157/me.v5i2.62

Abstract:
Tuhan menciptakan manusia dengan kemampuan berbudaya, termasuk masyarakat Sumba Timur. Namun di kecenderungan manusia, meekspresikan budaya mereka, tidak bisa dipisahkan dengan ekspresi spiritual mereka, karena manusia memang adalah makhluk spiritual, yang selalu berkerinduan untuk memiliki relasi dengan Sang Pencipta. Berbagai usaha dilakukan manusia, yang biasanya sarat dengan penyembahan berhala. Masyarakat Sumba Timur, juga sarat dengan penyembahan berhala, sejak seorang bayi berada di kandungan ibunya, hingga dia harus meninggalkan dunia ini. Namun bagi Masyarakat Sumba Timur yang sudah bertobat dan menjadi orang Kristen sebaliknya harus merefleksikan imannya yang relevan dan bermakna bagi masyarakat dan budaya Sumba Timur. Adapun rekomendasi-rekomendasi yang penulis berikan kepada Masyarakat Sumba Timur adalah sebagai berikut: 1) Harus menghindari ritus-ritus yang tidak sesuai dengan Firman Allah. Orang Kristen harus bersikap kritis terhadap budaya-budaya setempat yang merusak iman Kristen. Firman Tuhan harus menjadi tolak ukur etika; 2) Orang Kristen juga harus menjadi saksi yang hidup bagi masyarakat yang masih terlibat dalam upacara pemakaman. Misalnya dalam upacara pemakaman ini, pemukulan gong dengan irama duka bisa dilaksanakan oleh orang Kristen sebagai pertanda bahwa di tempat tersebut terjadi kematian. Tetapi pemukulan gong dengan irama pata lamba yang bertujuan untuk memanggil arwah leluhur (marapu) tidak boleh dilakukan oleh orang Kristen. Pemotongan hewan untuk menjamu makan para keluarga dan kerabat yang datang melayat untuk dimakan, orang Kristen dapat melakukannya. Tetapi pemotongan hewan yang tidak untuk dimakan, namun hanya sebagai simbol mendampingi arwah si mati, atau sebagai bekal si mati menuju alam baka tidak perlu dilakukan oleh orang Kristen, dan gereja harus melarang hal ini karena dari segi ekonomi hal tersebut sangat merugikan, dan dari segi teologis hanyalah menyia-nyiakan berkat Tuhan. Penyimpanan mayat yang terlalu lama dari segi kesehatan tidak menguntungkan, demikian juga dari segi ekonomi sangat merugikan karena membutuhkan biaya yang sangat besar. Sebaliknya seluruh keluarga berembuk dan menyelesaikan pertikaian, yang mungkin ada, dalam waktu yang tidak terlalu lama, agar si mati dapat dikubur cepat. Upacara padita waimata dapat dilakukan oleh orang Kristen dalam bentuk ibadah pengucapan syukur tutup duka. Upacara paludungu (menyampaikan arwah si mati) tidak perlu dilakukan oleh orang Kristen. Karena bagi orang Kristen setelah mati ia kembali berada dalam tangan Tuhan Sang Pencipta bukan menjadi marapu.
Stevri Indra Lumintang
Published: 30 April 2015
Missio Ecclesiae, Volume 4, pp 1-27; https://doi.org/10.52157/me.v4i1.44

Abstract:
Mamur 19:1-15 dibagi dalam dua bagian besar berdasarkan dua syair yang berbeda, namun sinergis, yaitu syair pertama dalam ayat 1–7, dan syair kedua dalam ayat 8–15. Sinergisnya kedua syair ini membahas tentang pujian-pujian kepada Allah. Dan secara terpisah namun berkaitan, maka syair pertama membahas tentang keagungan dan kebesaran penyataan Allah dalam karya penciptaan langit dan segala sesuatu yang ada di dalamnya (General Revelation); sedangkan syair kedua membahas tentang keagungan dan kebesaran penyataan Allah secara khusus dalam Hukum Taurat (Special Revelation). Keduanya bersinergi satu dengan yang lain, sebagai modus Allah menyatakan diri-Nya kepada manusia. Misi Allah adalah misi Allah menyatakan atau memperkenalkan diri-Nya kepada manusia. Ada dua modus misi penyataan Allah, yaitu modus penciptaan dan modus perkataan. Dengan kata lain, misi Allah adalah misi melalui aksi penciptaan dan misi melalui perkataan yang ditulis dan yang kemudian diberitakan. Gereja, dalam sejarahnya, jatuh hanya pada salah satu sisi misi Allah, sehingga membentuk kutub misi ekstrim kiri, yakni misi penciptaan (humanity) dan misi ekstrim kanan yakni misi pemberitaan Firman (spirituality), pada hal, Allah tidak bermaksud demikian. Penyusun Mazmur 19 mengajak dua kutub misi yang ekstrim untuk memformulasi misi yang seutuhnya, lepas dari kutub ekstrim dan berani untuk berangkulan dengan kutub yang lain, sehingga menghasilkan suatu bangunan misi yang seutuhnya. Misi Allah tidak berhenti pada misi penciptaan, sebagaimana Pemazmur yang menulis Mazmur 19 tidak hanya berhenti pada ayat 7, melainkan berlanjut pada misi pemberitaan, yaitu misi melalui Firman Tuhan, sebagaimana yang dikemukakan Pemazmur pada ayat 8 dan seterusnya. Misi yang hanya berhenti pada ayat 7 menghasilkan misi agama-agama, karena agama ada sebagai respon terhadap penyataan Allah secara umum. Inilah misi yang tidak bersingungan dengan tema keselamatan, pada hal, setelah penciptaan, dunia bukan hanya dinodai, melainkan dirusak oleh dosa manusia, sehingga misi penciptaan tidak mungkin lagi berlanjut. Misi penciptaan sesungguhnya berhenti pada kitab Kejadian pasal dua. Karena itu, Allah melanjutkan dengan misi, yaitu keselamatan dari dosa dengan cara memberikan Firman, yang membebaskan manusia dari dosa (Kej 3:15). Misi ini dimulai oleh Allah dengan memilih orang tertentu, seperti Abraham, sampai memilih bangsa tertentu, seperti Israel untuk menjadi alat misi. Misi ini dilaksanakan secara eksklusif oleh orang atau bangsa tertentu, namun untuk menjangkau orang atau bangsa secara inklusif. Dari uraian di atas, maka misi yang bersifat inklusif yaitu misi ALLAH melalui ciptaan-Nya, dan misi ini berlanjut pada misi yang bersifat eksklusif, yaitu misi TUHAN melalui Firman-Nya. Misi inklusif melalui penciptaan adalah misi universal, sedangkan misi ekslusif melalui firman adalah misi bersifat partikular. Allah hanya memberikan Firman-Nya (Taurat, Peraturan, Titah, Perintah, Takut akan Tuhan, dan Hukum) kepada umat pilihan-Nya. Karena itu, Mazmur 19:8-11 adalah himne pujian umat Allah, yaitu umat yang berkitab, yang memuji Allah karena mengenal Allah melalui Firman Allah. Lebih jauh lagi, misi penyataan Allah melalui alam semesta, hanya dapat dimengerti dan dialami melalui misi penyataan Allah secara khusus yaitu Firman Tuhan. Artinya, manusia dapat mengenal Allah melalui alam semesta dalam terang Firman Tuhan. Tanpa beriman kepada Firman, manusia tidak dapat mengenal Allah melalui alam semesta. Akhirnya, sekalipun dua modus tidak dapat dipisahkan, namun keduanya dapat dibedakan. Misi Allah menyatakan diri-Nya melalui penciptaan adalah bersifat umum karena dialamatkan kepada semua orang; sedangkan misi Allah menyatakan diri-Nya melalui Firman-Nya adalah bersifat tertentu, yaitu khusus kepada umat pilihan atau umat yang berkitab. Pengenalan akan Allah melalui Taurat Tuhan adalah lebih jelas atau lebih terang dibandingkan dengan pengenalan melalui alam. Karena pengenalan melalui Taurat Tuhan adalah bersifat obyektif, yaitu manusia mengenal berdasarkan wahyu Allah yang tertulis; sedangkan pengenalan akan Allah melalui alam adalah bersifat subyektif, yaitu manusia mengenal Allah berdasarkan sudut pandang dan latar belakang dari manusia itu sendiri melihat dan memaknai ciptaan Allah. Karena itu, penyataan Allah secara umum melalui alam melahirkan penyembahan dan pujian kepada Allah yang tidak dikenal atau penyembahan berhala. Sedangkan penyataan Allah secara khusus melalui Firman melahirkan ibadah kepada yang dikenal melalui hubungan. Karena itu, kekristenan bukan hanya suatu agama, melainkan lebih dari itu, yaitu hubungan dengan Allah. Kristen bukan hanya agama yang mengakui adanya Allah, melainkan mengenal Allah dan Tuhan dengan cara berhubungan secara intim.
Junius Halawa
Published: 30 October 2018
Missio Ecclesiae, Volume 7, pp 287-317; https://doi.org/10.52157/me.v7i2.91

Abstract:
Pertama, Pelayanan pastoral konseling merupakan pelayanan yang efektif untuk memahami dan menolong jemaat dalam setiap persoalan mereka. Secara khusus para hamba Tuhan harus memberikan pelayanan pastoral konseling bagi jemaat yang memiliki pergumulan khusus salah satunya bagi perempuan yang telah melakukan hubungan seks sebelum menikah, supaya jemaat dikuatkan, jiwanya diselamatkan dan mengalami pemulihan di dalam Tuhan. Dalam melakasankan pastoral konseling bagi perempuan yang telah melakukan hubungan seks sebelum menikah perlu menggunakan pendekatan psikologis Alkitabiah. Psikologi Alkitabiah dapat diterapkan para konselor Kristen untuk memudahkan memahami pikiran, perasaan dan keadaan yang sedang dialami konseli. Maka, psikologi berguna sebagai prinsip pendekatan supaya konseli dapat lebih terbuka, sehingga tujuan pastoral konseling itu sendiri dapat tercapai. Kedua, Perempuan merupakan ciptaan Tuhan yang mulia, berharga dan istimewa di hadapan Allah. Perempuan juga memiliki natur segambar dan serupa dengan Allah sehingga perempuan sehakikat dengan laki-laki. Tuhan menciptakan perempuan memiliki peranan sebagai penolong bagi suami, mengajarkan kebenaran kepada anak dan memberikan hidup untuk melayani Tuhan. Kemudian seks adalah merupakan ciptaan Tuhan yang baik bagi manusia. Tuhan punya tujuan menciptakan seks bagi manusia agar manusia memiliki keintiman, satu keastuan dan kenikmatan. Seks yang berkenan kepada Allah ialah hubungan seksual yang dilakukan oleh pasangan suami-istri yang sudah diberkati dalam pernikahan kudus. Seks menurut Alkitab memiliki dimensi prokreasi, dimensi relasi, dimensi rekreasi dan dimensi refleksi. Namun, fakta membuktikan bahwa seks seringkali dipahami secara salah oleh sebagian manusia. Kosekuensi logis dari pemahaman seks yang salah akan menimbulkan hubungan seksual yang terlarang misalnya hubungan seks sebelum menikah. Secara khusus perempuan melakukan hubungan seks sebelum menikah, memiliki beberapa faktor diantaranya pertumbuhan biologis, pacaran, pelecehan seksual, teknologi dan sebagainya. Perilaku hubungan seks sebelum menikah akan berdapak terhadap spritual, psikologi, fisik dan sosial. Ketiga, Kasus perempuan yang telah melakukan hubungan seks sebelum menikah adalah dosa yang sangat serius di hadapan Tuhan. Tuhan tidak menginzikan hubungan seksual di luar penikahan kudus. Dosa seks sebelum menikah mengakibatkan seseorang berstatus manusia berdosa di hadapan Allah. Perempuan yang telah melakukan hubungan seks sebelum menikah permasalahannya bisa diselesain dengan metode pastoral konseling yang tepat. Berdasarkan hasil temuan penelitian di lapangan mengenai faktor dan dampak hubungan seks sebelum memikan, maka cara untuk menyelesaikan kasus tersebut dengan menerapkan model pastoral konseling psikologi Alkitabiah bagi perempuan yang telah melakukan hubungan seks sebelum menikah  
Afgrita Fendy Christiawan
Published: 29 April 2018
Missio Ecclesiae, Volume 7, pp 28-67; https://doi.org/10.52157/me.v7i1.81

Abstract:
Kitab Maleakhi menyatakan ketertinggalan bangsa Israel dalam mewujudkan ketaatannya kepada Allah. Meskipun demikian Allah tetap mengasihi mereka. Maleakhi mengajak bangsa ini untuk memulihkan hubungan mereka dengan Tuhan dengan cara memulihkan kerohanian mereka. Tidak hanya kepada seluruh suku, tetapi juga sampai kepada pelayan Tuhan yaitu Lewi dan Imam. Maleakhi berbicara dalam otoritas ucapan ilahi. Taurat adalah pemberian Tuhan untuk mengatur prilaku bangsa Israel sebagai umat kepunyaan Allah. Persepuluhan adalah bentuk peribadatan dan wujud keaktifan dalam mendukung kegiatan keimamatan dalam bait Allah. Pengabaian persepuluhan berdampak kepada terhambatnya pelayanan karena para imam bekerja bagi nafkah mereka masing-masing. Taurat itu sendiri tidak hanya berlaku kepada bangsa Israel, tetapi juga kepada bangsa-bangsa lain yang percaya kepada YHWH. Perbuatan baik adalah penting, tetapi persepuluhan juga penting. Tidak boleh mengabaikan salah satunya. Suku Lewi tidak menerima persepuluhan sebagai upah, tetapi sebagai warisan. Persepuluhan adalah wajib. Tidak memandang pekerjaan ataupun tingkat penghasilan. Suku Lewi hidup dari persepuluhan, namun mereka juga memberikan persepuluhan terbaik mereka kepada para imam. Bangsa Israel telah menghina Tuhan, khususnya para imam dengan tidak hormat dan tidak takut kepada Tuhan. Hidup mereka sudah jauh bertentangan dengan hukum Tuhan dengan mempersembahkan persembahan yang tidak layak, kawin-cerai dan kawin campur dengan bangsa kafir. Mereka juga berbicara dengan sembarangan memuji orang-orang gegabah dan fasik. Tuhan mengingatkan mereka bahwa ada hari penghakiman dan penghukuman bagi orang angkuh dan berbuat jahat, namun juga hari kemenangan bagi orang benar. Dalam menjalankan persepuluhan memerlukan kesungguhan seperti yang diteladani dari Abraham (dan Yakub). Persepuluhan Musa juga memandang kepada teladan Abraham. Persepuluhan harus jujur dan utuh. Sejak nenek moyang mereka, bangsa Israel sudah mengesampingkan ketetapan Tuhan. Masalah ini akan tetap berlangsung jika mereka tidak bertobat. Mereka juga sudah lama tidak menjalankan persembahan persepuluhan sehingga tempat perbendaharaan tidak terisi dan tidak ada makanan bagi orang Lewi. Tuhan kecewa kepada Lewi dan Imam yang mengabaikan tugas mereka dan bertindak dengan pandang bulu. Mereka gagal memberikan instruksi yang benar dalam Taurat. Mengakibatkan Bangsa Israel bertindak menyimpang dan tidak tahu bahwa itu salah. Bangsa ini hancur dalam ketidaktahuan. Mereka merampok Allah dengan terus menerus tidak memberikan persepuluhan dan persembahan. Tindakan itu sudah menjadi kebiasaan buruk (profesi). Maleakhi menyerukan pertobatan dan supaya bangsa Israel mengingat kembali akan kesetiaan Tuhan. Mereka dituduh telah merampok Tuhan karena lalai pada persepuluhan dan persembahan khusus yang adalah nafkah para imam. Persepuluhan adalah serius, sehingga dengan tidak memberikannya sama saja dengan merampok Tuhan. Cara untuk kembali kepada Tuhan di antaranya adalah dengan menghiraukan persepuluhan. Bangsa Israel tidak memberikan persepuluhan atau memberikan namun tidak sebagaimana seharusnya. Kesulitan ekonomi menjadi alasan bangsa Israel untuk tidak memberikan persepuluhan. Mereka merasa dirinya begitu susah sehingga layak jika bertindak tidak hormat kepada Tuhan. padahal justru pengabaiannya terhadap persepuluhan itulah yang membuat berkat mereka terhambat. Mereka tidak sadar bahwa tindakan mereka justru memperburuk keadaan karena mendatangkan pengadilan, peringatan dan kutuk dari Tuhan. “Dengan kutukan kamu terus menerus dikutuk, tetapi masih tetap terus menerus merampok Tuhan”. Kutuk itu mengikat dan membatasi berkat. Bangsa Israel menjadi bangsa yang besar karena Tuhan, namun mereka tetap merampok Tuhan. Orang yang tidak tahu bagaimana memberi, maka mereka akan menerima makin lama makin sedikit. Tuhan meminta mereka menguji Dia dengan persepuluhan karena Ia pasti memulihkan perekonomian mereka. Berkat akan dicurahkan berlimpah sampai tidak lagi diperlukan. Tuhan adalah sumber penghidupan mereka, karena itu memberikan persepuluhan tidak mengurangi penghasilan mereka, justru lebih. Allah memerintahkan agar kembali melakukan persepuluhan yang lama diabaikan ke Bait Allah yang adalah rumah perbendaharaan. Ketaatan mereka memenuhinya adalah wujud ketaatan kepada Allah. Ada jaminan bagi yang taat. “Ujilah Aku” perintah Tuhan sebagai bukti kesetiaan-Nya. Bangsa Israel meragukan pemeliharaan Tuhan dalam ketidaktahuan mereka, karena itu tantangan dari Tuhan ini muncul. Mereka bertanggungjawab jika Imam dan Lewi kelaparan karena absen nya persepuluhan. Karena memberi persepuluhan semata-mata karena menghormati Tuhan. Kegagalan persepuluhan sebenarnya berakar kepada kekikiran karena tidak percaya/ meragukan Allah. Memberikan Persepuluhan merupakan bentuk ketaatan. Allah adalah sumber berkat dan hanya dirasakan oleh orang yang takut kepada-Nya. Berkat adalah Kekuatan dari Allah yang datang dari Allah yang mendatangkan keberuntungan dan kekayaan bagi manusia. Tuhan menjaga sumber penghasilan umat-Nya. Tuhan akan menghardik belalang pelahap tidak hanya saat ini tetapi seterusnya. Allah mengusir binatang pelahap agar tidak merusak hasil panen mereka. Negeri itu menjadi negeri kesukaan karena tanah tersebut menjadi berkat bagi setiap orang dan setiap orang menjadi kesukaan atas negeri.
Awasuning Manaransyah
Published: 29 October 2017
Missio Ecclesiae, Volume 6, pp 112-127; https://doi.org/10.52157/me.v6i2.71

Abstract:
Firman Tuhan dalam kitab Rut ini sangat istimewa. Pada bagian awal, kita melihat kepahitan hidup yang sangat menyedihkan hati Naomi, namun di bagian akhir, kepahitan hati Naomi diselesaikan Tuhan dengan rencana Tuhan yang spektakuler. Tentu Naomi tidak pernah berpikir dan merencanakan bahwa ia akan menjadi seorang nenek (band. Rut 1:11-13), tetapi Tuhan membuat lebih dari pada itu. Penghiburan dan pemulihan yang Tuhan kerjakan dalam kehidupan Naomi, harus dijalani oleh Naomi tahap demi tahap dan inilah yang disebut dengan proses. Proses itu sendiri membutuhkan waktu, ketekunan, kesetiaan, kebergantungan kepada Tuhan. Saya ingin katakan bahwa belajarlah, berusahalah mengerti kehendak Tuhan dari kepahitan hati yang terjadi. Bangkit dan arahkan langkah hidupmu ke dalam persekutuan yang intim dengan Tuhan. Nikmatilah setiap langkah-langkah yang Tuhan pimpin menuju kehidupan yang sangat/sungguh indah bersama dengan Tuhan.
Jeny Marlin
Published: 30 April 2016
Missio Ecclesiae, Volume 5, pp 22-34; https://doi.org/10.52157/me.v5i1.56

Abstract:
Berdasarkan hasil analisa dan eksegese Surat Efesus 4:11-16 yaitu bahwa Kristus memperlengkapi orang-orang kudus dengan berbagai karunia adalah merupakan wujud dari pembinaan yang dilakukan-Nya sendiri. Keperbedaan karunia-karunia tersebut semuanya mengarah kepada pemberitaan Injil, sehingga Tubuh Kristus dapat bertumbuh mencapai kedewasaan penuh di dalam Kristus. Jemaat Efesus merupakan jemaat yang sudah percaya kepada Kristus, akan tetapi Kristus menginginkan agar keberadaan orang percaya yang telah diselamatkan itu dapat hidup berpadanan dengan panggilannya sebagai orang-orang yang telah dipanggil dan dikuduskan Allah. Oleh karena itu setiap gereja atau orang-orang yang telah dikuduskan Allah adalah anggota Tubuh Kristus, di mana Kristus sebagai Kepala. Tubuh membutuhkan suatu pertumbuhan agar mencapai kedewasaaan, sehinggga bukan lagi seperti anak-anak, akan tetapi bertumbuh menjadi dewasa, yaitu memiliki pengetahuan dan pengenalan yang benar akan Anak Allah, serta bertumbuh di dalam Kristus. Adapun wujud pemberian Allah adalah rasul-rasul, nabi-nabi, pemberita-pemberita Injil, gembala-gembala dan pengajar-pengajar, menunjuk kepada tugas yang Tuhan berikan kepada seorang anggota jemaat. Oleh karena itu seseorang yang memperoleh jabatan khusus itu, berarti bahwa ia dipilih Tuhan untuk suatu pekerjaan khusus dalam jemaat-Nya. Keberagaman karunia ini bukan untuk mempertentangkan antara karunia yang satu dengan yang lainnya, demikian pula bukan sesuatu yang harus dibangga-banggakan karena karunia-karunia tersebut tidak ada yang lebih tinggi/rendah, melainkan masing-masing diberikan oleh Kristus untuk suatu maksud atau tujuan yang khusus, memperlengkapi dan memberi sarana orang-orang percaya bagi pembangunan Tubuh Kristus, sehingga gereja dapat melaksanakan tugas dan tanggung jawabnya sebagai orang yang dipanggil Allah/rekan sekerja-Nya yaitu memberitakan Injil sesuai dengan karunia masing-masing. Paulus sebagai rasul Kristus melakukan pembinaan bagi murid-muridnya, bahkan kepada seluruh jemaat di Efesus melalui berbagai macam cara/ metode pembinaan yaitu: melalui persekutuan-persekutuan, khotbah-khotbah, pengajaran-pengajaran, nasihat-nasihat, doa, bahkan melalui sarana pendidikan. Hal ini dapat terlihat dari usaha Paulus dengan menyewa sebuah ruang kuliah dan setiap hari ia berbicara, penyampaian pengajaran-pengajaran tentang Kristus di ruang kuliah Tiranus (Kis. 19). Paulus memberikan pembinaan bagi setiap penatua, dan diaken yang ada di Efesus melalui doa dan nasihat-nasihat, agar melaksanakan tugas dan tanggung jawab yang Tuhan percayakan yaitu menggembalakan jemaat dengan melengkapi/ mempersiapkan orang-orang percaya lainnya (sebagai anggota Tubuh Kristus) untuk lebih produktif, yaitu siap melayani Tuhan dan aktif turut membangun Tubuh Kristus (Kis. 20). Tugas panggilan gereja tidak pernah berubah. Tetapi bentuk-bentuk penerapannya tidak selalu sama dari tempat ke tempat, dan dari jaman ke jaman. Strategi pelayanan bagi orang dewasa disesuaikan dengan fungsi perkembangan, serta dengan isu penting di sekitar usia tersebut.[1] Rancangan program pembinaan di jemaat harus disesuaikan dengan pergumulan individu maupun kelompok. [1] Samuel Sidjabat, Pendewasaan ...., 39
Simon Petrus Siahaan
Published: 30 October 2015
Missio Ecclesiae, Volume 4, pp 123-154; https://doi.org/10.52157/me.v4i2.53

Abstract:
Kemajuan suatu gereja baik secara kwalitas maupun secara kwantitas tidak bisa dilepaskan dari sikap gembala atau pemimpinnya terhadap domba-domba-Nya atau jemaat-Nya. Seorang pemimpin mau tidak mau dituntut untuk hidup menjadi panutan bagi yang dipimpin (jemaat). Dan seorang pemimpin bukanlah seorang penguasa. Seringkali dapat dilihat bagaimana jikalau seorang pemimpin atau gembala itu sangat memperhatikan jemaatnya, memberi makanan rohani sesuai dengan Firman Tuhan, mengarahkan, melindungi, dan mengasihi jemaatnya, maka secara otomatis jemaatnya pun mengasihi pemimpinya. Akan tetapi jikalau seorang pemimpin atau gembala yang memiliki sifat yang kasar, tamak, kejam dan bengis serta tidak bertanggung jawab, maka dapat dibayangkan bagaimana reaksi dari jemaatnya atau orang yang dipimpin (“domba-dombanya”).
Hanok Tuhumury
Published: 29 April 2018
Missio Ecclesiae, Volume 7, pp 68-100; https://doi.org/10.52157/me.v7i1.82

Abstract:
Pergantian sistem pemerintahan di Israel dalam 1 Samuel 8:1-22 yang menyoroti suasana transisi dari pemerintahan hakim ke pemerintahan raja menuntut agar kita tidak menghayati iman secara naif, dalam arti hitam-putih saja, tetapi secara mendalam, secara dialektis. Di dalam ayat 7 barulah jelas bahwa persoalan dalam perikop ini bukanlah sekadar masalah sekular mengenai pergantian sistem, tetapi persoalan iman. Sebab dengan mengajukan tuntutan meminta raja, bukannya Israel menolak Samuel, tetapi menolak Tuhan sendiri. Kesetiaan iman terhadap Tuhan ternyata tidak menuntut agar kita mengidentikkan iman dengan zaman apa saja, entah itu masa lalu, masa kini atau masa depan. Kerajaan Allah melampaui gambaran apa pun yang dapat digambarkan oleh manusia. Maka yang dituntut dari orang beriman dalam rangka menghadapi perubahan zaman sehingga dapat setia kepada imannya maupun kepada konteks, adalah sikap dialektis. Tetapi yang ditekankan adalah kesetiaan iman saja, dan tidak peduli pada perubahan konteks yang terjadi di sekitarnya. Penulis melihat bahwa hal tersebut yang membuat bebarapa anggota gereja Bala Keselamatan Jember, akhirnya kalah dalam peperangan rohani karena tidak peduli dengan konteks, imannya “terjual” karena menikah dengan orang yang tidak seiman dan akhir terjadi perceraian karena tidak adanya kesesuaian dalam hidup rumah tangga. Bagaimana supaya kita dapat terhindar dari kesalahan ini, sehingga bisa membangun sikap dialektis yang dapat memampukan kita untuk setia pada iman sekaligus setia pada konteks?. Emanuel Gerrit Singgih mengemukakan tiga hal, sebagai berikut: Pertama, kita perlu kembali kepada Alkitab. Harus bertolak dari teks Alkitab sehingga dapat menuntun kita untuk mengambil sikap yang tepat sesuai dengan suasana perubahan sehingga bisa menghayati imannya sesuai dengan konteks yang ada. Kedua, kita perlu kembali kepada reformator-reformator, yang adalah para pembaru gereja dengan prinsip reformasi: yaitu “Ecclesia Reformata, semper roformanda” (gereja reformasi selalu bereformasi). Para reformator telah berhasil memecahkan kebekuan teologis yang ada dengan memprotes konteks, “penggunaan bahasa Latin sebagai bahasa ibadah dan menggantikan dengan bahasa setempat (konteks). Ketiga, beralih dari managemen top-down, kepada managemen bottom-up, sehingga jemaat yang ada dalam segala pergumulan hidupnya tetap dihargai karena mereka adalah domba dari Kristus, jemaat dan gembala/majelis semuanya adalah kawan sekerja Allah.
Jammes Juneidy Takaliuang
Published: 30 October 2015
Missio Ecclesiae, Volume 4, pp 155-163; https://doi.org/10.52157/me.v4i2.54

Abstract:
Peran serta orang Kristen dalam mewujudkan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia bukan hanya partial, tetapi harus holistik. Karena tujuan pencapaian ini adalah manusia seutuhnya yang pada prinsipnya adalah keselarasan hubungan antara manusia dengan Tuhan-nya, antara sesama manusia serta lingkungan alam sekitarnya, keserasian hubungan antara bangsa-bangsa dan juga keselarasan antara cita-cita hidup di dunia dan mengejar kebahagian di akhirat. Jadi orang Kristen adalah agen untuk mewujudkan cita-cita mulia ini dengan berlandaskan kepada Kristus yang adalah sumber keadilan, serta status orang Kristen yang adalah warga kerajaan surga seperti yang digambarkan oleh Rasul Paulus dalam Filipi 3:20. Implementasi dari warga kerajaan surga adalah menjadi warga negara Indonesia yang benar dan bertanggung jawab, sehingga jelas bahwa orang Kristen harus mengambil peran dalam menentukan arah bangsa ini. Sikap skeptis dan pesimistis bukanlah bagian dalam diri orang Kristen. Lebih jelas lagi dalam ranah praksis orang Kristen wajib: 1) Memiliki perbuatan yang luhur, yang tercermin dalam sikap dan suasana kekeluargaan serta gotong royong; 2) Menjalankan sikap adil terhadap sesama dengan cara menghormati hak-hak orang lain; 3) Sistem balancing yaitu menjaga keseimbangan antara hak dan kewajiban; 4) Tidak menciptakan dehumanisasi melalui pereduksian harkat dan martabat manusia; 5) Memiliki cara hidup dan gaya hidup sederhana (menentang sifat hedonisme dan materialisme yang menonjolkan spirit individualisme); dan 6) Bekerja keras, memiliki integritas diri yang tinggi, kreatif dan inovatif serta nasionalis.
Mansyukur Waruwu
Published: 29 April 2018
Missio Ecclesiae, Volume 7, pp 101-140; https://doi.org/10.52157/me.v7i1.83

Abstract:
Dari bentuk-bentuk Pastoral Konseling yang sudah diuraikan di atas, maka dari 1 Korintus 7:12-16, ada 4 nasehat Pastoral Konseling yang dilakukan Paulus kepada jemaat Korintus bagi pasangan yang tidak seiman, nasehat tersebut diberikan untuk memberikan solusi atas pertanyaan dan persoalan yang dihadapi, dialami jemaat Korintus. Nasehat tersebut adalah model pastoral konseling bagi pasangan yang tidak seiman yaitu; Model Pastoral Konseling Edukatif, Supportif, Model Spiritual, dan Model konfrontatif.
Awasuning Manaransyah
Published: 30 April 2015
Missio Ecclesiae, Volume 4, pp 28-34; https://doi.org/10.52157/me.v4i1.45

Abstract:
Tema “Keluarga Kristen yang Diberkati Tuhan” di atas merupakan tujuan dari setiap keluarga Kristen, yakni untuk mengalami kerukunan dan kebahagiaan dalam keluarga. Di sisi lain, penulis juga melihat bahwa saat ini, ada begitu banyak keluarga Kristen yang mengalami konflik antara suami dengan istri dan antara orangtua dengan anak-anak. Oleh karena itu, ada banyak keluarga Kristen mengalami keretakan dalam rumah tangga bahkan perceraian antara suami dengan istri. Dengan memahami konsep keluarga Kristen yang hidup bersama dalam kerukunan yang diberkati Tuhan, saya berharap bahwa kualitas keluarga akan lebih baik, sehingga mereka akan mampu bertahan hidup di era ini, dengan hidup berjalan bersama-sama dengan Tuhan, bersekutu dalam keluarga, membaca Alkitab, berdoa dan menyanyikan puji-pujian kepada Tuhan bersama-sama setiap hari.
Agus Suryo Jarot Yudhono
Published: 30 October 2019
Missio Ecclesiae, Volume 8, pp 116-136; https://doi.org/10.52157/me.v8i2.100

Abstract:
Pelayanan konseling Kristen kepada pasangan suami-isteri dalam menyelesaikan konflik keluarga adalah langkah penting yang harus segera dilakukan oleh setiap pelaku gereja (hamba Tuhan) yang berperan sebagai konselor. Sebab ada beberapa hal yang menjadi pertimbangan bahwa pelayanan konseling Kristen kepada pasangan suami-isteri dalam menyelesaikan konflik adalah penting dan maka dapat ditarik simpulan sebagai berikut: (1) Pelayanan konseling Kristen sebagai representatif Tuhan Yesus Kristus, Sang Konselor Agung, seharusnya pelayanan konseling Kristen dilakukan dengan sungguh-sungguh dan penuh tanggung jawab sebagai bentuk meneladani figure Tuhan Yesus dalam melakukan konseling kepada umat manusia. Sehingga peran pelayanan konseling Kristen kepada jemaat khususnya kepada pasangan suami-isteri dalam menyelesaikan konflik keluarga memberikan dampak yang besar secara rohani, dimana setiap jemaat dan keluarga Kristen tetap kokoh di dalam iman dan mampu menyelesaikan konflik keluarga dengan baik sesuai prinsip-prinsip Alkitabiah; (2) Pelayanan konseling Kristen kepada pasangan suami-isteri dalam menyelesaikan konflik keluarga perlu mendapat perhatian khusus bagi gembala jemaat, gembala bertanggungjawab untuk memperhatikan langsung kegiatan pelayanan konseling Kristen tersebut karena seluruh pembinaan kerohanian jemaat, termasuk pelayanan konseling Kristen menjadi tanggung jawab seorang gembala jemaat. Jika gembala jemaat tidak aktif ada di tempat, maka pendelegasian kepada para pengerja gereja yang telah ditunjuk oleh gembala jemaat untuk melayani konseling Kristen kepada jemaat bisa dilaksanakan dengan sebaik-baiknya dengan penuh tanggung jawab; (3) Pelayanan konseling Kristen kepada pasangan suami-isteri dalam menyelesaikan konflik keluarga menjadisolusi yang tepat di tengah-tengah perubahan dan perkembangan jaman yang semakin kompleks. Sekaligus persoalan dan permasalahan yang dihadapi oleh setiap keluarga juga semakin kompleks sehingga dengan adanya pelayanan konseling Kristen mampu membantu memberikan jawaban dan jalan keluar bagi keluarga yang menghadapi konflik keluarga; (4) Bentuk keseriusan pelayanan konseling Kristen terhadap keluarga dalam menyelesaikan konflik perlu diwujudkan dengan proaktif. Sehingga gereja sebagai pelaku/konselor dari pelayanan konseling Kristen dapat berkontribusi dan berdampak terhadap keluarga yang sedang dalam menghadapi konflik sehingga keutuhan dan keharmonisan keluarga bisa tetap terjaga dengan baik; dan (5) Diperlukan kerjasama yang baik antara pihak gereja (gembala dan para pengerja) dengan seluruh jemaat, khususnya kepada pasangan suami-isteri dalam menyelesaikan konflik keluarga untuk aktif melakukan konseling Kristen jika memerlukan konseling dalam menyelesaikan permasalahan maupun konflik keluarga yang tidak dapat terselesaikan secara pribadi. Maka pasangan suami-isteri perlu melibatkan pihak gereja untuk melakukan konseling Kristen dalam menyelesaikan permasalahan atau konflik keluarga.
Dewi Magdalena Rotua
Published: 30 October 2014
Missio Ecclesiae, Volume 3, pp 145-161; https://doi.org/10.52157/me.v3i2.41

Abstract:
Indonesia adalah negara yang kaya. Ada beribu-ribu pulau, banyak budaya dan bahasa, bahkan terdapat berbagai agama dan kepercayaan terhadap Tuhan yang Mahaesa di bumi pertiwi ini. Toleransi beragama merupakan suatu agenda yang penting mengingat pluralitas agama yang ada di negara kita. Sebagai kaum Injili kita juga turut andil dalam toleransi agama dengan memberikan wawasan Alkitabiah toleransi agama serta memberi wawasan kebangsaan yang berjiwa Pancasila pada jemaat. Di samping itu kita juga harus mengagendakan upaya dialog antar umat beragama. Kemajemukan agama merupakan fakta keragaman bangsa Indonesia yang harus diterima dan disyukuri sebagai bagian dari kehendak Tuhan sendiri. Pluralitas tidak perlu diperdebatkan dan dieksploitasi sebagai sarana menggugat kelompok-kelompok tertentu atau bahkan disingkirkan demi supremasi dan kepentingan politik dan agama tertentu. Sebagai pengikut Kristus kita harus proaktif dalam mengupayakan terjadinya toleransi beragama di negeri ini. Upaya dan kerja keras sangat dibutuhkan mengingat ancaman disintegrasi bangsa. Pluralitas agama disatu pihak merupakan kekayaan dan keunikan bangsa Indonesia yang tidak dapat dipungkiri. Hal ini harus disikapi dengan bijak, agar masyarakat Indonesia dapat hidup dengan damai di negeri yang tercinta ini. Hendaknya toleransi tidak sekedar menjadi suatu wacana saja tetapi harus teraplikasi dalam kehidupan sehari-hari. Tidak dapat dipungkiri bahwa misi Kristen merupakan bukti keberadaan Kekristenan di dunia pada umumnya serta di Indonesia ini. Penginjilan yang memberi tempat pada kejujuran dan tanpa melukai atau merendahkan agama lain. Kemajemukan masyarakat di tengah-tengah pluralitas agama dan kebudayaan adalah perilaku yang harus di responi dengan sikap toleransi. Semua agama memiliki kedudukan yang sama di bumi pertiwi ini sesuai dengan dasar Negara Pancasila. Misi Kristen merupakan satu wujud keunikan iman Kristiani tanpa melupakan fakta adanya penganut agama lain, serta tanpa kehilangan identitas misi Kristen yang bersifat Misio Dei, yang turut memberi sumbangsih bagi kesejahteraan bangsa. Maka tidaklah dapat diragukan lagi misi Kristen merupakan hal yang sangat penting bagi kekristenan di masa mendatang.
Sherly Mudak
Published: 30 October 2014
Missio Ecclesiae, Volume 3, pp 128-144; https://doi.org/10.52157/me.v3i2.40

Abstract:
Teologi dan psikologi merupakan dua ilmu yang sangat berbeda sehingga tindakan untuk mengintegrasikan teologi dan psikologi bukan masalah yang mudah. Meskipun memiliki tujuan yang terbaik untuk tetap alkitabiah, namun sangatlah tidak mudah untuk mengakui konsep-konsep psikologi atau pemikiran yang berkompromi dengan isi Alkitab. Akibat yang biasa dilakukan namun berbahaya adalah kecenderungan melihat kepada ajaran Alkitab melalui kacamata psikologi sementara kebutuhan kritis adalah melihat kepada psikologi melalui pandangan atau ajaran Alkitab. Teologi (dalam hal ini teologi Kristen) atau kekristenan dan psikologi dapat diintegrasikan, asalkan psikologi berada di bawah otoritas Alkitab. Dengan berotoritaskan Alkitab, maka apabila ajaran Alkitab mengalami konflik dengan konsep atau ajaran apapun, ajaran Alkitab akan tetap diterima sebagai kebenaran karena Alkitab adalah penyataan Allah yang tidak dapat salah. Sedangkan jika konsep lain, sekalipun didukung oleh penelitian ilmiah tetapi jika tidak sesuai dengan kebenaran Alkitab, maka tidak dapat diterima sebagai kebenaran. Dengan berlandaskan kepada Allah dan penyataan-Nya kepada manusia baik itu penyataan khusus maupun penyataan umum, integrasi teologi dan psikologi sesuai dengan perspektif Alkitab yaitu melayani dan memandang manusia ciptaan Allah sebagai satu keutuhan. Dengan demikian konselor Kristen dapat menerima psikologi hanya jika aspek-aspeknya selaras dengan kebenaran Alkitab dan juga sebaliknya. Maka di dalam memformulasikan proses integrasi antara teologi dan psikologi harus diperhatikan bahwa, sangat tidak beralasan bagi orang Kristen untuk menolak semua hal tentang psikologi yang dibangun di atas dasar ilmu pengetahuan, sebaliknya tidak ada alasan untuk menolak kekristenan hanya karena berlandaskan pada Alkitab. Masalah dalam integrasi, khususnya dalam bidang theologia dan psikologi adalah bagaimana membawa kebenaran Allah, dari segala bidang yang diciptakan-Nya, untuk menunjang karya-Nya atas umat manusia secara utuh.
Stevri Indra Lumintang
Published: 27 March 2012
Missio Ecclesiae, Volume 1, pp 1-25; https://doi.org/10.52157/me.v1i1.18

Abstract:
Karakter janda dalam perumpamaan ini merupakan representatif dari orang-orang pilihan Allah (orang percaya) yang sedang berada dalam dunia. Sekalipun tidak memiliki pengaruh politis, ekonomi, dan sosial, sehingga tidak diperhitungkan dunia (hakim yang lalim), namun mereka diperhatikan oleh Allah secara khusus dalam konteks pemuridan dengan prinsip-prinsip kerajaan Allah. Orang pilihan (orang percaya) yang memang hidup dengan prinsip-prinsip kerajaan Allah pastilah berbeda dengan prinsip-prinsip kerajaan dunia, dan itulah sebabnya mereka menderita. Penderitaan orang pilihan disebabkan oleh karena ketidakadilan dalam dunia. Dalam penderitaan karena ketidakadilan, Tuhan memberikan jaminan bahwa Ia pasti membenarkan atau memberikan keadilan kepada mereka. Jaminan inilah yang sesungguhnya menjadikan orang-orang pilihan bertekun dalam iman mereka kepada Tuhan, dan mengekpresikan ketekunan iman mereka melalui ketekunan atau ketahanan berdoa. Dalam hal ini, Tuhan adalah penyebab orang beriman dan berdoa. Tidak ada alasan atau dasar dari pendoa sehingga doanya terkabalkan, Tuhanlah subjek doa. Tidak seorang pun tahu bagaimana sebenarnya berdoa. Dialah yang sesunguhnya berdoa di dalam dan melalui kita. Melalui Roh Kudus, Ia memimpin kita berdoa sesuai dengan kehendak-Nya, seperti yang Paulus nyatakan sebagai berikut. Roh Kudus menolong kita di dalam kelemahan kita, karena kita tidak tahu bagaimana sebenarnya harus berdoa, tetapi Roh sendiri berdoa untuk kita kepada Allah dengan keluhan-keluhan yang tidak terucapkan. Dan Allah yang menyelidiki hati nurani, mengetahui maksud Roh itu, bahwa Ia sesuai dengan kehendak Allah, berdoa untuk orang-orang kudus (Rm 8:26-27).
Gunaryo Sudarmanto
Published: 30 October 2012
Missio Ecclesiae, Volume 1, pp 26-43; https://doi.org/10.52157/me.v1i1.19

Abstract:
Diversitas humanitas mesti dipandang sebagai kreatifitas Allah yang patut dihargai sebagaimana Allah menghargainya sebagai gambar dan rupa-Nya sendiri. Diskriminasi humanitas justru bukti sikap antagonis terhadap otoritas penciptanya. Radikalisme doktrin yang melulu berorientasi pada kebenaran vertikal harus dibarengi dengan pemahaman horisontalnya. Kebenaran sejati justru menjadi utuh ketika kedua aspek tersebut diposisikan secara proporsional. Perbedaan bukan alasan untuk saling melawan dan menghancurkan, karena kasih kepada Tuhan dan sesama bukanlah kebenaran yang dapat dipisahkan sama sekali. Allah sendiri telah berbuat baik kepada semua orang sesuai hakikat Diri-Nya sendiri sebagai Pencipta segalanya. Allah juga menghendaki agar manusia, yang telah diciptakan dalam gambar dan rupa-Nya, saling melakukan perbuatan baik. Semua manusia memiliki tanggung jawab bersama selama kehidupannya di dunia ini, sehingga dibutuhkan solidaritas dengan sesama. Melalui interaksi yang baik justru dimungkinkan adanya point of contact bagi Injil, sehingga dapat terjadi transformasi kesadaran terhadap hakikat kebenaran Injil yang meresap ke segala aspek hidup manusia seperti garam mengasinkan dunia yang tawar (Mat 5:13). Teologi Multikultural melandasi sikap Kristen untuk berelasi dengan semua orang dalam segala bentuk perbedaannya tanpa kehilangan jati diri (keunikan) kekristenannya.
Gustaf R. Rame
Published: 30 April 2014
Missio Ecclesiae, Volume 3, pp 1-16; https://doi.org/10.52157/me.v3i1.33

Abstract:
Dari analisa teori interpretasi, Paul Ricoeur membawa kita untuk dapat mengantisipasi beberapa implikasi, yakni yang berkisar pada penggunaan dan pengkaburan konsep peristiwa pembicaraan dalam tradisi hermenutika romantic yang telah dibangun oleh Schleirmarcher dan Dilthey, bahwa interpretasi harus mengindentifikasi kategori pemahaman sebagai maksud mula-mula dari sudut pandang penulis teks atau si pembicara. Dalam hal ini Ricoeur mengajak untuk mempertanyakan asumsi hermeneutika ini dari sudut pandang anatomi bahasa, bahwa tanpa adanya suatu penyelidikan khusus terhadap tulisan (teks), suatu teori analisa bahasa belum dapat menjadi suatu teori teks. Namun bila suatu teks dapat diakomodir oleh teori analisa bahasa, maka kondisi inskripsi bahasa berada dalam persyaratan yang memungkinkan terjadinya suatu wacana dalam pengaruh teks. Dalam artian bahwa apa yang terjadi dengan teks adalah manifestasi sepenuhnya pembicaraan yang hidup, yakni pemilahan makna dari peristiwa, yakni otonomi teks tetap muncul dalam aturan dialektika peristiwa dan makna teks. Di sinilah Ricoeur menawarkan sebuah proyek yang menarik dalam rangkuman ilmu teologi dan filsafat sebagai suatu pendekatan bagi kajian-kajian hermeneutika yang berguna bagi suatu analisis kritis dalam dunia interpretasi.
Jonar Situmorang
Published: 30 October 2018
Missio Ecclesiae, Volume 7, pp 188-228; https://doi.org/10.52157/me.v7i2.88

Abstract:
Model Misi Perkotaan yang dilakukan oleh rasul Paulus di Korintus menjadi suatu bentuk pelayanan misi, yang kontekstual. Adapun bentuk model misi perkotaan yang dilakukan Paulus adalah “menjadi seperti”. Dengan menjadi seperti, memudahkan dalam pendekatan untuk menyampaikan kabar baik. Tetapi patut diperhatikan dan digaris-bawahi, bahwa dalam model pendekatan ini jangan sampai kebablasan, yaitu kehilangan kontrol diri. Ada rambu-rambu yang harus diperhatian, di mana firman Allah adalah sebagai tolok ukur. Dan tujuan dari pelaksanaan model misi ini adalah memenangkan sebanyak mungkin jiwa-jiwa bagi kemuliaan nama Tuhan. Untuk terwujudnya akan hal ini, maka makna dari “menjadi seperti” dapat pula berarti bahwa umat Krisrtus dapat menjadi teladan, sebagai kesaksian yang hidup bagi orang lain. Pelayanan misi perkotaan harus menjadi perhatian gereja. Karena di perkotaan itu terdapat multikompleks permasalahan. Yang paling menyolok adalah adanya kesenjangan sosial, yang membuat orang lain enggan dekat dengan gereja. Belum lagi keegosian, yang mementingkan kepentingan pribadi, membuat ketidak-pedulian dengan sesama. Tetapi dengan konsep yang dilakukan Paulus, yaitu “menjadi seperti”, dapat menciptakan keterbukaan dengan orang lain. Di sinilah kesempatan untuk dapat menjadi saksi. Yang tidak kalah penting dalam pendekatan secara kontekstualisasi ini adalah bahwa firman Allah menjadi barometernya. Jangan sampai firman Allah yang menyesuaikan diri dengan budaya. Dengan menjadi seperti, bisa saling memahami, dan berempati, yang tentunya dilandasi dalam kasih Kristus, sehingga bisa menjadi berkat bagi orang lain.
Sherly Mudak
Published: 29 April 2017
Missio Ecclesiae, Volume 6, pp 97-111; https://doi.org/10.52157/me.v6i1.70

Abstract:
Ada ungkapan bijak yang menyatakan, “if you only pray when you’re in trouble, then you are in trouble.” Doa bukan hanya dipanjatkan pada saa seseorang merasa perlu atau ada dalam masalah dan pergumulan saja. Doaitu bukan suatu hal yang remeh dan merupakan nomer dua atau sekedar ritual untuk memperkuat keyakinan atas motivasi seseorang. Orang percaya harus berdoa karena Firman Allah memerintahkan kepadanya untuk berdoa. Firman Tuhan mengatakan, "Carilah Tuhan selama Ia berkenan ditemui; berserulah kepada-Nya selama Ia dekat!" Yesaya 55:6. Tuhan Yesus juga mengatakan suatu perumpamaan supaya murid-murid-Nya tidak jemu- jemu berdoa. Lukas 18:1. 1 Tesalonika 5:17 berkata, "Tetaplah berdoa." Doa adalah perintah Allah dan disertai janji Allah. Allah yang memerintahkan untuk berdoa adalah Allah yang berjanji akan mengabulkan doa dan permohonan setiap orang yang berseru kepada-Nya dalam doa. Seperti yang tertulis dalam Mazmur 50:15, "Berserulah kepada-Ku pada waktu kesesakan,Aku akan meluputkan engkau,dan engkau akan memuliakan Aku" juga dalam Matius 7:7-8, "Mintalah,maka akan diberikan kepadamu; carilah maka kamu akan mendapat;ketoklah,maka pintu akan dibukakan kepadamu. Karena setiap orang yang meminta, menerima,dan setiap orang yang mencari, mendapat,dan setiap orang yang mengetok,baginya pintu dibukakan." Allah menginginkan agar setiap umat-Nya berdoa dan hal ini pun diajarkan oleh Tuhan Yesus telah mengajarkan kepada para murid-Nya agar mereka berbicara kepada Bapa di surga saat mereka berdoa. Berdoa ialah berbicara dengan Bapa yang di surga. Ini merupakan persekutuan dengan Allah. "Mendekatlah kepada Allah, dan Ia akan mendekat kepadamu" Yakobus 4:8a. Tuhan sangat senang saat anak-Nya berbicara dengan Dia dalam doa. Inilah alasan utama mengapa orang percaya harus berdoa yaitu karena Allah menginginkan orang percaya untuk berdoa. Setiap orang percaya dituntut untuk berdoa untuk melewati perjalanan kehidupan rohaninya. Yesus berkata bahwa orang percaya dapat meminta kepada Bapa Surgawi segala sesuatu yang butuhkan, termasuk pada saat di mana iadicobai oleh Iblis dan jatuh ke dalam dosa, maka ia harus berdoa dan meminta Tuhan agar melepaskannya dari pencobaan tersebut. Jika orang percaya jatuh dalam dosa, maka iahanya bisa diampuni jika ia mau mengakui dosa kepada Tuhan lewat doa. "Jika kita mengaku dosa kita, maka Ia adalah setia dan adil, sehingga Ia akan mengampuni segala dosa kita dan menyucikan kita dari segala kejahatan." 1 Yohanes 1:9. Allah turut campur tangan dalam mengatasi persoalan atau mewujudkan impian atau keinginan orang percaya. Tanpa Allah tidak mungkin keinginan dan rencana manusia dapat tercapai. Amsal 19:21 mengatakan, “Banyaklah rencangan di hati manusia, tetapi keputusan Tuhanlah yang terlaksana.” Ini menunjukan bawa manusia tidak berkuasa untuk mencapai apa yang diingini. Dalam Amsal 16:3 dikatakan, “Serahkanlah perbuatanmu kepada Tuhan, maka terlaksanalah segala rencanamu.” Jelas sekali hubungan kedua ayat ini. Rancangan manusia tanpa diserahkan kepada Tuhan tidak akan terlaksana. Apapun itu keinginan hati kita,dapat diuatarakan kepada Allah di dalam doa-doa dan pasrahkan semuanya dalam tangan kuasa Allah, maka Tuhan akan mengabulkannya.
Jammes Juneidy Takaliuang
Published: 29 April 2012
Missio Ecclesiae, Volume 2, pp 61-84; https://doi.org/10.52157/me.v2i1.26

Abstract:
Ibadah yang sejati bukan hanya didasarkan pada pengalaman tetapi didasarkan pada sebuah pemahaman teologis yang mendasar. Artinya ibadah harus di dasarkan pada Alkitab yang adalah Firman Allah. Maka kebenaran dari ibadah bersifat mutlak dan harus dilakukan. Jika ibadah didasarkan kepada pengalaman pribadi, maka kebenaran dari ibadah tersebut tergantung apa kata pribadi sehingga nilai kebenarannya adalah relatif, manusia sebagai penentu kebenaran. Jika kebenaran ibadah adalah relatif, maka ibadah dapat ditolak yang berarti perlawanan terhadap Allah. Ibadah yang didasarkan pada pengalaman semakin jelas tujuannya yaitu ibadah antropocentris. Karena itu, ibadah harus dikaji secara teologis dengan melihat beberapa aspek penting yang saling berkaitan satu dengan yang lain dan berfondasi pada Alkitab. Jika hal ini dilakukan, maka dipastikan bahwa ibadah tersebut adalah ibadah yang sehat karena memberi gizi yang tepat bagi orang-orang yang melaksanakan ibadah.
Yustus Adipati
Published: 31 October 2013
Missio Ecclesiae, Volume 2, pp 163-183; https://doi.org/10.52157/me.v2i2.31

Abstract:
Berdasarkan berbagai penjelasan berkenan dengan kepedulian orangtua terhadap PAUD, maka beberapa faktor disebutkan sebagai berikut: Fakfor ‘Skill Anak’: Memberikan perhatian seperti sarana penunjang bagi kesehatan fisik anak; pemenuhan kebutuhan gizi anak melalui makan dan minuman yang sehat, serta kebutuhan vitamin, sampai kepada pemenuhan kebutuhan asupan-asupan penunjang lainnya; Faktor Pola Belajar Anak: Memberikan perhatian berupa kebutuhan fasilitas sarana prasarana belajar, seperti alat bermain anak untuk membangun antusiasme serta rasa keingin-tahuan anak, dengan berkesinambungan, konsistensi, keteraturan agar pembiasaan belajar itu menjadi ‘Daily Habit’; Faktor Respon Anak dalam Mengatasi Konflik: Memberikan pengalaman mencurahkan isi hati anak kepada orangtua; menempatkan diri di tengah persaingan, serta mempelajari pelbagai aturan atau norma yang berlaku. Melalui penjelasan di atas, dapat dirangkum beberapa indikator mengenai Kepedulian orangtua terhadap PAUD, sebagai berikut: (1) Faktor ‘Skill Anak’, dengan indikator-indikatornya, meliputi: a) Kesehatan Fisik, b) Kebutuhan Gizi; (2) Faktor Pola Belajar Anak, dengan indikator-indikatornya, meliputi: a) Fasilitas Belajar, b) Fasilitas bermain, c) Kebiasaan belajar; (3) Faktor Respon Anak dalam Mengatasi Konflik, dengan indikator-indikatornya, meliputi: a) Pencurahan hati, b) Persainan, c) aturan.
Robert Calvin Wagey
Published: 30 October 2012
Missio Ecclesiae, Volume 1, pp 44-86; https://doi.org/10.52157/me.v1i1.20

Abstract:
Menurut Rasul Paulus, yang dimaksud dengan karunia Roh adalah suatu kesanggupan khusus yang diberikan Allah kepada setiap orang percaya sesuai kehendak-Nya guna dipakai bagi kepentingan jemaat sebagai tubuh Kristus. Pemberian ini dimungkinkan karena karya keselamatan Kristus di atas kayu salib. Dasar pemberian karunia Roh adalah semata-mata karena kasih dan anugerah Allah, bukan hasil usaha manusia atau sebagai suatu pahala atas jasa manusia. Karunia Roh berbeda dengan talenta. Karunia Roh diberikan Allah kepada orang percaya untuk kemuliaan Allah. Talenta adalah bakat atau kesanggupan khusus pembawaan seseorang sejak lahir, digunakan untuk kepentingan umum manusia. Setiap talenta/bakat dapat dipakai dan diubah-Nya sebagai karunia Roh pada saat orang tersebut percaya kepada-Nya. Berdasarkan pengertian bahwa karunia-karunia Roh diberikan Allah kepada jemaat untuk pelayanan dan pembangunan tubuh Kristus, maka setiap anggota jemaat atau orang percaya mempunyai tanggung jawab di dalam pelayanan jemaat. Tanggungjawab itu tidak dapat diwakilkan dan dimonopoli orang lain, secara khusus oleh para pelayan jemaat. Para pelayan jemaat bertanggung jawab untuk memperlengkapi dan mempersiapkan setiap anggota jemaat bagi pelayanan dan pembangunan jemaat, sebagai tubuh Kristus. Jemaat dengan segala karunianya merupakan potensi yang amat besar bagi perkembangan dan pertumbuhan tubuh Kristus. Melalaikan potensi ini berarti kehilangan kesempatan bahkan dapat menghalangi pertumbuhan jemaat. Sebaliknya, melibatkan setiap anggota jemaat, sesuai dengan karunianya, dalam Pelayanan Kesaksian (Marturia), Pelayanan Persekutuan (Koinonia), Pelayanan Sosial (Diakonia) akan berakibat pada pertumbuhan jemaat secara kualitatif dan kuantitatif. Karena itulah tujuan Allah memberikan karunia-karunia Roh kepada jemaat-Nya. Karunia-karunia Roh yang diberikan Allah kepada setiap orang percaya beranekaragam dan berbeda-beda. Perbedaan ini bukan untuk dipertentangkan atau diistimewakan melainkan untuk saling melengkapi satu dengan yang lain, agar seluruh orang percaya sampai kepada kesempurnaan Kristus. Setiap karunia tidak lebih penting dan istimewa daripada karunia-karunia yang lain. Semua sama penting dan sama kualitasnya karena bersumber dari Allah yang sama. Pandangan yang menganggap karunia-karunia Roh yang bersifat spektakular lebih penting daripada karunia-karunia Roh yang lain, tidak benar. Demikian juga, memutlakkan karunia berkata-kata dengan bahasa roh bagi setiap orang percaya tidak sesuai dengan kebenaran Firman Tuhan. Setiap orang percaya menerima karunia yang berbeda-beda, sesuai dengan kehendak Allah. Karunia-karunia Roh diberikan Allah kepada setiap orang percaya, pada saat percaya kepada Kristus dan dibaptis di dalam nama-Nya. Pengalaman orang percaya menerima karunia-karunia Roh berlangsung secara simultan. Saat seseorang percaya kepada Kristus dan dibaptis dalam nama-Nya, pada saat itu secara simultan ia menerima keselamatan, menjadi anggota tubuh Kristus, menerima Roh Kudus dan karunia-karunia Roh. Dan menurut Paulus, inilah yang dimaksud dengan dibaptis dengan Roh Kudus. Oleh karena itu, pandangan yang menyatakan pengalaman tersebut berbeda, tidak simultan dengan kelahiran baru melainkan merupakan pengalaman kedua atau second blessing dan karena itu hanya merupakan pengalaman beberapa orang percaya tertentu saja adalah tidak benar.
Ridwan Henry Simamora
Published: 29 April 2012
Missio Ecclesiae, Volume 2, pp 85-110; https://doi.org/10.52157/me.v2i1.27

Abstract:
Fenomena Gerakan Transformasi yang berkembang di Indonesia, satu sisi harus diberi apresiasi. Upaya yang dilakukan dalam beberapa kegiatan akbar sebagai wujud ingin mempersatukan lembaga-lembaga Gereja dan gerejawi dalam kegiatan persekutuan dan doa bersama, serta berkolaborasi antara tokoh-tokoh nasional dengan internasional telah memberi pengaruh yang cukup signifikan, dan bahkan bisa disebutkan sebagai suatu kegiatan yang fenomenal di Indonesia. Namun demikian, harus juga dicermati kemana arah transformasi yang diinginkan. Apakah sebatas hanya untuk memperlihatkan bahwa lembaga-lembaga Gereja dan Gerejawi dapat berkumpul bersama-sama, wujud dari kesatuan, atau untuk memperlihatkan bahwa Tuhan berkarya meningkatkan jumlah orang-orang Kristen? Jika bisa disebutkan dengan bahasa iman. Atau hanya sebatas suatu kegiatan Kristen rohani yang didukung oleh sebagian dari tokoh-tokoh Kristen internasional atau dengan bahasa “kumpul-kumpul bareng”? Atau bisa jadi kegiatan tersebut justru tidak rohani (berbagai perspektif dapat berkembang untuk terminologi istilah rohani, bahkan penyimpangannya). Kemanakah arah yang mau dibawa oleh tokoh-tokoh Kristen untuk transformasi di Indonesia? Jika tanpa merumuskan secara sistematis dan pengakuan bersama akan apa yang dilakukan di dalam Gereja serta di luar Gereja. PL dan PB mendorong manusia untuk memperbaiki dunia. Allah, hakim-hakim, para nabi, raja-raja, dan Yesus melakukan upaya yang terus menerus dalam memberitakan suara transformasi; keadilan dan kebenaran, menaati hukum, mengkritisi ketidakadilan dan ketidakbenaran, membela hak-hak orang yang miskin, lemah, yang ditindas, serta mengupayakan kesejahteraan bangsa. Keberadaan dunia ini pada dasarnya tidak jahat, melainkan baik karena diciptakan Tuhan. Tentu ciptaan yang baik itu telah dinodai oleh dosa. Manusia telah memanipulasi dan merampas kebaikan dan kasih yang benar. Namun ciptaan itu masih berharga dan perlu diperbaiki di dalam penebusan Kristus. Gereja atau orang Kristen tidak berhak menolak keberadaan dunia yang merupakan ciptaan Allah di dalam Kristus (Kol 1:15-16), melainkan ikut serta memberi solusi terhadap persoalan-persoalan yang dihadapi oleh dunia. Dunia adalah dunia Allah di mana Gereja hidup dan tinggal menjadi berkat. Gerakan Transformasi yang menekankan mobilisasi doa massa bisa jadi hanya mengarah kepada pencapaian kesatuan Gereja-gereja, dan upaya damai sejahtera (feel good theology) yang akan dialami secara transformatif di Indonesia. Hal itu bisa saja menjadi gerakan yang lebih mirip ambisi doa dan perilaku “nabi-nabi” yang dikritik oleh beberapa nabi dan Tuhan Yesus. Jika Gereja tidak menyuarakan kebenaran dengan mengingatkan pemerintah, para politikus, para tokoh agama, para pengusaha secara khusus pemimpin dan pengusaha Kristen yang sarat dengan prilaku KKN dan mengabaikan hukum serta tidak adanya upaya yang sistematis dari pihak Gereja untuk memperbaiki keadaan sosial, maka doa-doa orang Kristen bisa jadi hanya sebatas artifisial belaka. Artinya doa-doa yang diungkapkan dan “kumpul-kumpul bareng” tidak menjadi edukasi bagi orang-orang Kristen, dapat dilepaskan dari prilaku hidup benar, serta terlepas dari takut akan Tuhan dan mengabaikan hukum yang merupakan prasyarat kesejahteraan bangsa dan Negara. Jika di dalam Gereja dan Yayasan Kristen serta partai politik sendiri menyimpan kebusukan dan mempertontonkan perilaku ketidakadilan dan ketamakan akan kekuasaan dan harta serta tidak memperdulikan kesejahteraan orang lain, maka transformasi seperti apa yang dapat kita harapkan? Pada satu sisi gerakan transformasi yang telah dikemukakan di atas harus dihargai dalam upaya untuk kesatuan Gereja-gereja Tuhan di Indonesia, serta upaya mengembangkan spirit kerjasama antar orang-orang Kristen dalam persekutuan. Namun pada sisi lain, gerakan tersebut menyisakan persoalan-persoalan yang tidak kalah merisaukan, sebab spirit transformasi yang ditawarkan adalah dalam rangka mobilisasi masa untuk menghacurkan kuasa kegelapan bukannya upaya sistematis dalam menyuarakan pertobatan dan memberlakukan keadilan serta upaya menanggulangi kemiskinan yang merupakan salah satu isu utama di Indonesia, demi kesejahteraan masyarakat Indonesia. Gereja dan umat Tuhan membutuhkan keseriusan dalam upaya transformasi di dalam Kristus, merumuskan dan mengajar-ajarkan dogma dalam ibadah dan keharmonisannya dengan kehidupan praktis sebagai tanggungjawab dan ketaatan kepada Allah dan sesama. Hal itu berarti Gereja akan bergumul dengan isu-isu yang berkembang dan kompleks pada eranya dan mungkin sekali sebagai suatu persiapan kedepan dalam kerangka mempersiapkan yang pada umumnya disebut tanggungjawab pelayan menjadi berkat bagi bangsa-bangsa.
Awasuning Manaransyah
Published: 30 October 2014
Missio Ecclesiae, Volume 3, pp 183-198; https://doi.org/10.52157/me.v3i2.43

Abstract:
Kiamat merupakan satu isu yang tidak ada habis-habisnya dibicarakan dari waktu ke waktu. Kiamat selalu digambarkan dengan keadaan yang sangat mengerikan, yang mana terjadi kehancuran bumi dan kebinasaan seluruh makhluk hidup. Sehingga ketika seseorang mendengar istilah kiamat, maka yang muncul dalam pikirannya adalah suatu gambaran peristiwa yang sangat menyeramkan dan menakutkan. Tapi saya yakin bahwa Saudara sudah pernah mendengar begitu banyak isu tentang datangnya kiamat. Dan respon setiap orang yang mendengar isu itu pun berbeda-beda. Prinsip-prinsip penting antara lain: Ucapan Syukur, Mari kita menjalani hidup ini dengan penuh ucapan syukur, karena Tuhan telah mengaruniakan talenta-Nya kepada kita masing-masing; Menemukan Talenta, Siapapun kita, terutama yang percaya dan mengenal Tuhan Yesus, pasti ada talenta tertentu yang Tuhan telah karuniakan kepada kita masing-masing. Maka langkah pertama yang dapat kita lakukan adalah menemukan talenta apa yang Tuhan berikan kepada kita masing-masing; Bekerja Keras, Kita harus meninggalkan kebiasaan santai, malas, hidup tanpa tujuan dan mari kita mengembangkan kebiasaan “berani bermimpi”, berani melangkah dan bekerja keras, maksimal bahkan berusaha sampai “sempurna”. Kita harus berani berinovasi melayani pekerjaan Tuhan, dan Senantiasa Siap Diaudit, Mulai dan akhiri setiap hari dengan ucapan syukur dan menyerahkan diri kepada Tuhan Yesus, jalani hidup sesuai dengan rencana dan kehendak Tuhan Yesus. Apabila Tuhan Yesus datang secara tiba-tiba, kita didapati berkenan di hadapan-Nya. Amin.
Magdalena Grace Kelly Tindagi
Published: 28 April 2017
Missio Ecclesiae, Volume 6, pp 17-31; https://doi.org/10.52157/me.v6i1.67

Abstract:
Menurut Undang-undang no 10 Tahun 1992, tentang Perkembangan Kependudukan dan Pembangunan Keluarga Sejahtera Bab 1 Pasal 1 butir 10: disebutkan bahwa keluarga adalah unit terkecil dalam masyarakat yang terdiri dari suami isteri atau suami-isteri-anak, ayah-anak, atau ibu anak. Dimensi Kristen sangat penting sebagai kaidah, norma, referensi, model tolok ukur dari seluruh performance pendidikan Kristen, serta menjadi “Imitatio Christi” yang kemudian mengaktualisasikan nilai-nilai Kristen dalam perilaku etis. Secara khusus karena keluarga menjadi pilar utama tempat pemeliharaan dan pelatihan iman. Tugas dan peran orangtua dalam menanamkan nilai-nilai keluarga bagi pembinaan iman anak remaja di zaman now ini menjadi sangat vital dan mendasar bagi kehadiran keluarga Kristen, oleh karena apabila dilihat dari makna dalam bahasa Indonesia makna dari kata keluarga yang dapat diartikan sebagai suatu unit keluarga yang terdiri dari pasutri dan anak-anak, atau istilah keluarga dapat juga diartikan seisi rumah atau mereka yang hidup di bawah satu atap dan satu pemimpin. Peranan Pemimpin dalam keluarga adalah orangtua yang beriman kepada Yesus Kristus sebagai dasar berdirinya keluarga (I Kor. 3:11; 11:3). Jadi tugas dan peran orangtua dalam menanamkan nilai-nilai keluarga bagi pembinaan iman anak remaja sangat signifikan di zaman now ini. Menurut Solaeman bahwa pengertian keluarga dalam arti yang lebih luas adalah ikatan yang meliputi semua pihak yang ada hubungan darah, atau yang disebut dengan clan atau marga, dan dalam arti sempit adalah hubungan darah antar keluarga inti yang terdiri atas ayah, ibu, dan anak. Sehingga, tugas orangtua dalam melibatkan anak remajanya dalam mewujudkan nilai-nilai kristiani menjadi sangat penting bagi penananam fondasi gereja selanjutnya. Kartini Kartono menyebutkan bahwa keluarga merupakan unit sosial terkecil yang memberikan fondasi primer bagi perkembangan anak. Sehingga, tugas terpenting bagi gereja adalah menyiapkan fondasi yang kuat bagi lingkungan keluarga, sebagai lingkungan utama gereja (selain lingkungan sekitar dan lingkungan sekolah), agar para orangtua ikut berperan dan memberikan nuansa pada perkembangan anak remaja di zaman now; oleh karena baik buruknya struktur keluarga dan masyarakat sekitar memberikan pengaruh baik atau buruknya pertumbuhan kepribadian anak.
Manintiro Uling
Published: 30 October 2019
Missio Ecclesiae, Volume 8, pp 172-189; https://doi.org/10.52157/me.v8i2.149

Abstract:
Orang Kristen ada dan hadir di tengah-tengah dunia yang plural. Sebab, pluralitas itu niscaya dalam hidup manusia. Realitas kemajemukan tidak bisa dihindari dan ditolak, sehingga berbeda itulah hidup, menerima perbedaan itulah indahnya hidup. Hidup bersama, meskipun berbeda dalam banyak hal, saling menerima satu dengan yang lain, demikianlah semestinya hidup dijalani. Akan menjadi Ironis, jika gaya hidup yang eksklusif, tertutup, dan isolatif, bahkan separatis yang ditampilkan. Namun faktanya, fenomena hidup yang eksklusif, tertutup dan cenderung hanya mau berbaur dengan yang sefaham, segolongan, dan sekeyakinan saja menjadi ciri khas sekelompok orang yang ekstrem atau singkatnya yang biasa disebut dengan gerakan radikalisme dan fundamentalisme.
Dora Hutasoit
Published: 30 October 2015
Missio Ecclesiae, Volume 4, pp 85-98; https://doi.org/10.52157/me.v4i2.50

Abstract:
Hukum providensia Tuhan, seringkali diinterpresentasikan terlalu dangkal: Orang saleh diberkati, orang fasik dihukum. Akibatnya pada hakikatnya kata saleh dan menderita tidak dapat bertemu. Kendati demikian, justru kitab Ayub memaparkan bahwa kedua hal itu bertemu di dalam pengalaman hidup Ayub.
Candrawati Candrawati
Published: 31 October 2021
Missio Ecclesiae, Volume 10, pp 169-189; https://doi.org/10.52157/me.v10i2.144

Abstract:
Manajemen Keuangan Dalam Perspektf Iman Kristen adalah suatu kajian manajemen keuangan yang bersumber pada Alkitab sebagai firman Tuhan dan penting bagi suatu lembaga Kristen untuk menerapkannya. Lembaga Kristen adalah lembaga yang jarang menerapkan manajemen karena berbagai alasan: ketidakmengertian tentang manajemen, asumsi yang keliru, kurangnya fleksibilitas dalam penerapannya dan menganggapnya sebagai suatu ilmu pengetahuan sekuler dan tidak dapat diterapkan dalam suatu lembaga Kristen atau bahkan menganggapnya bertentangan dengan iman Kristen. Tujuan penulis adalah: 1) untuk memahami prinsip-prinsip Manajemen Keuangan dalam perspektif iman Kristen. 2) untuk mengetahui sejauhmana prinsip manajemen keuangan dalam perspektif iman Kristen diterapkan oleh Lembaga Kristen. 3) untuk mengetahui kendala-kendala penerapan prinsip manajemen keuangan dalam perspektif Iman Kristen sehingga dapat menolong Lembaga Kristen memiliki Manajemen Keuangan yang bertanggung jawab. Metode Penelitian yang digunakan adalah metode penelitian kualitatif menggunakan paradigma alamiah. Dalam pengumpulan data, penulis menggunakan teknik pengumpulan data observasi, wawancara dan telaah dokumen tertulis. Sebaliknya, analisis data menggunakan analisis domain, analisis taksonomi, analisis komponen dan analisis tema. Hasil Penelitiannya adalah bahwa: 1) Manajemen Keuangan dalam Perspektif Iman Kristen kurang dipahami secara menyeluruh dan tidak secara khusus dapat mengaitkannya dengan manajemen keuangan sehingga menemui kesulitan dalam hal praktis implementasi dalam pelayanan. 2) Penerapan Prinsip Manajemen Keuangan Dalam Perspektif Iman Kristen sebagian besar belum dilakukan dan belum terorganisir dengan baik. 3) Lembaga-Lembaga Kristen secara umum menyadari tanggung jawab keuangan yang dipercayakan namun menemui banyak kendala, sebagai berikut: a) Sumber daya manusia tidak dilatih khusus untuk mengelola dalam disiplin ilmu keuangan dan mengerjakannya dengan sikap yang benar. b) Lembaga Kristen kurang fokus melakukan manajemen keuangan karena kurangnya pemahaman mengenai manajemen keuangan dalam perspektif iman Kristen.
Danik Astuti Lumintang
Published: 29 April 2013
Missio Ecclesiae, Volume 2, pp 39-60; https://doi.org/10.52157/me.v2i1.25

Abstract:
Kebangkitan tubuh atau orang mati dalam 1 Korintus 15:25-58 adalah misteri yang menjadi pokok bahasan hangat di sepanjang zaman. Hal ini dinyatakan sebagai misteri, karena masih menjadi perbincangan atau pertanyaan bagi banyak orang Kristen sendiri. Tidak sedikit orang Kristen yang memiliki doktrin yang benar, pengetahuan dan pemahaman yang cukup, namun doktrin atau pengetahuan dan pemahaman yang benar tersebut tidak nampak atau tidak tercermin pada sikap yang benar. Bahkan tidak sedikit orang Kristen yang bertanya, dengan tubuh apakah orang percaya dibangkitkan. Apakah dengan tubuh yang telah rusak, tubuh yang tercerai berai karena orang tersebut waktu meninggal mengalami kecelakaan, apakah benar tubuh itu yang dibangkitkan? dan apakah orang yang sudah meninggal, pada saat tubuh dibangkitkan, mereka dapat bertemu dengan keluarganya, seorang suami dapat bertemu dan melihat istrinya dengan tubuh yang dahulu dia lihat ataukah sebaliknya. Pertanyaan-pertanyaan tersebut hingga kini masih menjadi misteri bagi banyak orang, mereka belum mendapatkan jawaban yang benar. Karena itulah penulis ingin memberikan jawaban yang benar mengenai kebangkitan tubuh atau orang mati menurut surat 1 Korintus 15:25-58.
Galuh Pandandari, Erni M.C. Efruan
Published: 30 October 2020
Missio Ecclesiae, Volume 9, pp 17-44; https://doi.org/10.52157/me.v9i2.129

Abstract:
Penulisan artikel ini bertujuan untuk mengemukakan sebuah model dari integrasi Kristologi dan Misiologi berdasarkan Lukas 24:44-49, yang memberi pengaruh terhadap keterlibatan jemaat dalam pelayanan misi di Gereja POUK ICHTHUS BDP, dengan menggunakan kombinasi model atau desain sequential explanatory yang menggabungkan metode penelitian kuantitatif dan kualitatif secara berurutan. Beberapa prinsip yang terdapat dalam model tersebut adalah : (1) Kristologi dan Misiologi yang dibangun di atas dasar penggalian Alkitab, (2) Kristologi yang misiologis dan Misiologi yang kristologis. (3) Kristologi tanpa Misiologi menjadi Kristologi tanpa sasaran, Misiologi tanpa Kristologi menjadi Misiologi tanpa dasar, (4) Integrasi Kristologi dan Misiologi meningkatkan mutu pelayanan misi, (5) Integrasi Kristologi dan Misiologi yang diajarkan secara maksimal menghasilkan keterlibatan dalam misi global, (6) Kristologi dan Misiologi yang terintegrasi melalui ketaatan menjadi Saksi Kristus, dan (7) Efektivitas Integrasi Kristologi dan Misiologi bergantung pada kuasa Roh Kudus. Rekomendasi diberikan kepada Gembala Jemaat, Para Pengajar Kelas Pembinaan Jemaat dan Penggiat Misi di Gereja POUK ICHTHUS Bumi Dirgantara Permai dan di gereja-gereja mitra misi, dalam mengemban misi Allah sampai Parousia.
Adi Putra
Published: 30 October 2020
Missio Ecclesiae, Volume 9, pp 1-16; https://doi.org/10.52157/me.v9i2.122

Abstract:
The problematic text and meaning of Matthew 19: 9 is the focus of this study. Because this verse not only causes polemic in its meaning, it is also needed in the text. Because based on the notes to Nestle Aland 28 (NA28), there are so many variations on this verse. By using qualitative, specifically using analysis and exegesis tools with accuracy in analyzing, it is concluded that the text provided by NA28 is much better (stated or) and suitable to be used as translated text in exegesis studies. In addition, in this study, it was found as a phrase "except for adultery" asking for reasons to justify divorce. However, in this study it was found that even adultery had taken place, divorce was still not permitted. Because Jesus' Teaching Principle is love and forgiveness. Abstraksi: Problematika teks dan makna Matius 19:9 menjadi konsen dari penelitian ini. Oleh karena ayat ini tidak hanya menimbulkan polemik pada maknanya, melainkan juga pada teksnya. Karena berdasarkan catatan kaki pada Nestle Aland 28 (NA28), ada begitu banyak varian terhadap ayat ini. Dengan menggunakan pendekatan kualitatif, khususnya menggunakan analisis apparatus dan eksegesis dengan ketelitian dalam menganalisis, maka disimpulkan bahwa teks yang diberikan oleh NA28 jauh lebih baik (mendekatai aslinya) dan cocok dijadikan sebagai teks acuan dalam studi eksegesis. Selain itu, dalam penelitian ini, dijumpai bahwa frasa “kecuali karena zina” bukanlah sebuah alasan untuk membenarkan perceraian. Akan tetapi dalam penelitian ini ditemukan bahwa bahkan sekalipun telah terjadi perzinaan, perceraian tetap tidak diperbolehkan. Karena prinsip ajaran Yesus adalah kasih dan pengampunan.
Irawan Budi Lukmono, Gunaryo Sudarmanto
Published: 30 October 2020
Missio Ecclesiae, Volume 9, pp 98-118; https://doi.org/10.52157/me.v9i2.126

Abstract:
Obyek dari penelitian ini adalah kepemimpinan pembawa damai bagi resolusi konflik. Penelitian ini menggunakan paradigm naturalistik dengan pendekatan kualitatif dan metode fenomenologi.            Tujuan penelitian ini untuk menjelaskan dan menemukan: (1) kepemimpinan pembawa damai, (2) kepemimpinan Yesus Kristus sebagi pembawa damai, (3) model kepemimpinan Yesus Kristus sebagai pembawa damai bagi resolusi konflik di kota Surakarta.            Pengumpulan data melalui pengamatan, wawancara, dan penelaahan dokumen tertulis. Analisis data dengan menggunakan analisis domain, analisis taksonomi, analisis komponensial, dan analisis tema.             Hasil dari penelitian adalah model kepemimpian pembawa damai bagi resolusi konflik di kota Surakarta yang memiliki tiga komponen: (1) kepemimpinan pembawa damai yang mencakup prinsip, upaya, dan karakter, (2) resolusi konflik, (3) dampak. Hasil penelitian ini dapat diterapkan para pemimpin Kristen dalam membangun perdamaian dan resolusi konflik di kota Surakarta. Abstract viewed = 199 times
Yohanis Udju Rohi
Published: 30 October 2014
Missio Ecclesiae, Volume 3, pp 162-182; https://doi.org/10.52157/me.v3i2.42

Abstract:
Kedatangan Yesus ke dunia memiliki misi yang jelas, di mana Yesus datang untuk menyatakan kasih Allah yang menyelamatkan. Gereja sebagai tubuh Kristus bukan hanya diselamatkan tetapi juga dipanggil untuk menjadi pembawa berita keselamatan bagi orang yang belum percaya kepada Tuhan Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat pribadinya. Oleh karena itu gereja harus memiliki dasar pemahaman dan praktek misi yang benar sesuai dengan misi Yesus yang juga adalah misi Allah.
Maria Hanie Endojowatiningsih
Published: 31 October 2013
Missio Ecclesiae, Volume 2, pp 125-142; https://doi.org/10.52157/me.v2i2.29

Abstract:
Gerakan Feminisme lahir dari kerinduan para perempuan ingin keluar dari kungkungan atau tekanan budaya patriarkhat yang cenderung merendahkan dan merugikan kaum perempuan. Dan gerakan Feminisme ini juga berpengaruh dalam Theologia, sehingga melahirkan Theologia Feminisme, yang melahirkan juga pola-pola penafsiran Alkitab, yang menguntungkan kaum perempuan. Gerakan Feminisme di Indonesia bisa memotivasi kaum perempuan untuk mendapatkan hak-haknya. Namun gerakan ini tidak mampu secara tuntas meniadakan budaya patriarkhat yang sudah mendarah-daging di masyarakat Indonesia. Untuk itu, kaum perempuan, terma suk perempuan Kristen tidak bisa memaksakan haknya. Di kalangan Gereja, tentunya bukan karena adanya Gerakan Feminisme barulah orang Kristen memberi penghargaan kepada kaum perempuan secara proporsional, melainkan berdasarkan Firman Tuhan sendiri, khususnya dalam Kitab Kejadian pasal 1-2, di mana perempuan diciptakan Tuhan sejajar dengan laki-laki, yakni menurut gambar atau rupa Allah sendiri, dengan tugas yang sama dalam melaksanakan Amanat Budaya, meskipun peran konkritnya berbeda. Dalam relasinya dengan laki-laki/suami, perempuan bertugas sebagai penolong/ pendukung. Ini satu tugas yang istimewa. Dan bahwa perempuan diciptakan untuk dikasihi dan dilindungi, karena dari satu tulang rusuk yang berasal dari laki-laki.
Danik Astuti Lumintang
Published: 30 April 2014
Missio Ecclesiae, Volume 3, pp 35-63; https://doi.org/10.52157/me.v3i1.36

Abstract:
Doktrin kebangkitan merupakan dasar atau sentral pemberitaan dari iman kristen, karena itu, doktrin kebangkitan merupakan keunikan Kristen yang tiada tandingnya. Memang, doktrin kebangkitan orang mati bukanlah monopoli agama Kristen, karena agama-agama dan aliran lain, misalnya: agama Islam, Hindu, Budha dan aliran kebatinan, serta agama Suku memiliki konsep masing-masing.1 Yang jelas, bahwa doktrin Kristen mengenai kebangkitan berbeda sama sekali dengan doktrin kebangkitan agama-agama lain, aliran-aliran kepercayaan bahkan pandangan filsafat. Kesamaan yang ada hanyalah kesamaan istilah, sedangkan sumber dan konsepnya berbeda. Tetapi karena tulisan ini bukanlah studi perbandingan agama, maka perbedaan konsep ini tidak akan dibahas lebih lanjut. Doktrin kebangkitan menurut ajaran kristiani adalah doktrin yang unik, karena Alkitab yang adalah sumber dogma menyatakan bahwa kebangkitan orang percaya (Gereja) adalah kebangkitan tubuh. Tidak ditemukan di dalam ajaran lain mana pun juga. Kebangkitan Kristus yang menjadi dasar kebangkitan orang percaya adalah unik. Kendatipun demikian di kalangan Kristen sendiri masih menjadi pokok perdebatan yang seru, antara dongeng dan fakta, antara spiritual dan jasmaniah, antara bohong dan benar. Perdebatan ini sesungguhnya sudah dimulai sejak zaman Tuhan Yesus.2 Hal ini disebabkan oleh karena perbedaan pandangan atau konsep di antara orang Kristen sendiri. Perbedaan-perbedaan yang ada ini disebabkan oleh perbedaan hermeneutika yang dipakai, dan perbedaan latar belakang yang mempengaruhi masing-masing pandangan tersebut, bahkan perbedaan konteks zaman dan tempat dimana doktrin itu dibicarakan atau diajarkan. Karena itu, penulis sengaja membahas lagi topik kebangkitan orang mati ini dalam 1Korintus 15:12-58 untuk menggali kebenaran alkitabiah mengenai doktrin ini, sekaligus menemukan implikasinya etisnya bagi kehidupan orang percaya (Gereja).
Elvin Paende
Published: 30 October 2019
Missio Ecclesiae, Volume 8, pp 93-115; https://doi.org/10.52157/me.v8i2.99

Abstract:
Lanjut usia adalah mereka yang rata-rata telah memasuki usia 60 tahun ke atas. Dalam usia seperti ini setiap orang mengalami perubahan-perubahan yang mengarah pada kemunduran-kemunduran, baik dari segi fisik maupun rohani. Perubahan fisik akan mempengaruhi segi psikologis, sosiologis, dan pneumatologis para lanjut usia, sehingga mereka akan mengalami perasaan rendah diri karena merasa tidak mampu dan tidak berguna lagi.Hal tersebut akan membuat mereka menutup diri, akibatnya mereka merasa kesepian. Masalah ini akan terasa lebih berat lagi oleh karena memang para lanjut usia akan ditinggalkan oleh anak-anak yang telah terpencar ke berbagai tempat untuk membangun rumah tangga sendiri (sidron “sarang kosong”). Dalam keadaan demikian para lanjut usia cenderung untuk berdiam diri di rumah saja, suatu kondisi yang menjadi penyebab timbulnya masalah baru bagi para lanjut usia. Mereka akan menjadi asing bagi linkungan dan dilupakan orang, akibatnya mereka tertolak dan kehilangan harga diri. Oleh karena itu pelayanan gereja terhadap para lanjut usia haruslah ditempatkan sebagai satu pelayanan kategorial dan serius ditangani oleh pekerja dan hamba Tuhan khusus yang sungguh memahami persoalan atau permasalahan lanjut usia.Pelayanan kategorial tersebut akan membuat gereja terikat secara moril pada penanganan yang serius dan bertanggung jawab terhadap para lanjut usia yang menjadi anggota jemaat. Itu berarti pelayanan kategorial akhirnya memberikan keseimbangan dalam perhatian dan aksi penatalayanan dalam seluruh gerak pelayanan gereja.
Olivia Masihoru
Published: 31 October 2016
Missio Ecclesiae, Volume 5, pp 102-133; https://doi.org/10.52157/me.v5i2.61

Abstract:
Pekerjaan misi yaitu membawa orang-orang berdosa untuk mengenal Tuhan Yesus merupakan tugas semua orang yang percaya kepada-Nya. Semua orang percaya mempunyai tugas dan tanggung jawab untuk memberitakan Injil, seperti yang diamanatkan Tuhan Yesus (Mat 28:18-20). Namun lebih khusus lagi Allah memanggil dan menetapkan orang-orang tertentu untuk mengerjakan tugas misi itu. Dalam pekerjaan misi membutuhkan banyak pekerja, karena ladang misi sangat luas. Pekerja yang dibutuhkan adalah hamba Tuhan yang memiliki beban misi untuk memenangkan sebanyak mungkin jiwa bagi kemuliaan Tuhan. Hamba Tuhan perlu memahami misi sehingga dapat terlibat dalam pelayanan misi. Injil Kerajaan Allah harus diberitakan kapada semua orang, terutama kepada orang-orang yang belum mengenal Injil, seperti penugasan Yesus kepada ketujuh puluh murid (Luk 10:1-12). Injil adalah berita sukacita yang harus diberitakan kepada segala bangsa melalui para Hamba-Nya, sehingga setiap orang percaya dan mengenal Yesus sebagai Juruselamat dunia. Dalam pelayanan misi Tuhan memakai hamba Tuhan, tentunya dengan penyertaan-Nya melalui kuasa Roh Kudus.
Yustus Adipati
Published: 31 October 2016
Missio Ecclesiae, Volume 5, pp 90-101; https://doi.org/10.52157/me.v5i2.60

Abstract:
Di era globalisasi dan perubahan lingkungan yang demikian cepat ini, maka dalam perjalanan gereja selanjutnya telah menimbulkan berbagai tantangan baru dan menuntut gereja untuk peka terhadap berbagai persoalan berkaitan dengan keberadaan jemaat di masa kini dan yang akan datang. Dalam mengantisipasi perubahan zaman ini, gereja menghadapi tantangan yang cukup berat sebagai dampak atau akibat negatif dari kemajuan umat manusia dan hal yang nyata, salah satu di antaranya adalah terabaikannya hak anak dalam hal pendidikan. Bentuk-bentuk kegiatan mulai dari perencanaan, proses pelaksanaan pembelajaran, sampai dengan penilaian hasil belajar merupakan unsur-unsur penting dalam pendidikan. Sedangkan, upaya menolong anak, semuanya bermuara pada kegiatan pendidikan. Tanggungjawab keluarga menjadi sangat penting terutama bagi dan untuk masa depan anak di kemudian hari. Salah satu implementasi akademisnya adalah bahwa setiap anak berhak memperoleh pendidikan dan pengajaran serta pengembangan pribadi dengan tingkat kecerdasan sesuai dengan minat dan bakat anak. Sekalipun, tugas dan tanggungjawab terhadap pembinaan serta pendidikan anak secara teologis masih terkait dengan fungsi gereja; namun dalam praktik pelaksanaannya bahwa tugas pokok ini sangat tergantung sepenuhnya pada keterlibatan semua orangtua agar berperan nyata di tengah keluarga berdasarkan kemurahan hati.
I Gusti Ngurah Oka
Published: 30 April 2014
Missio Ecclesiae, Volume 3, pp 86-103; https://doi.org/10.52157/me.v3i1.38

Abstract:
Kehadiran Perda syariat, pada satu sisi merefleksikan kegagalan pemerintah dalam mengimplementasi hukum di Indonesia. Kegagalan ini berdampak pada sisi lain, di mana kemudian banyak orang merasa berhak untuk membuat atau mencari aturan alternatif karena menunjuk ketidakmampuan hukum dalam mengatasi berbagai persoalan. Untuk itu saat ini perlu dikaji ulang konsep kerukunan antar umat beragama tidak hanya sebagai bungkus formal semata, tetapi menjadi pemicu dan pemacu terbentuknya kesadaran beragama dan berteologi di Indonesia. Tujuannya agar umat beragama memperoleh pemahaman dan wawasan yang luas dan cerah tentang kerukunan hidup umat beragama sehingga tumbuh dan berkembang penghayatan dan penyikapan yang positif untuk hidup rukun sesama umat beragama.
Page of 3
Articles per Page
by
Show export options
  Select all
Back to Top Top