Refine Search

New Search

Results in Journal Excelsis Deo: Jurnal Teologi, Misiologi, dan Pendidikan: 37

(searched for: journal_id:(6101768))
Page of 1
Articles per Page
by
Show export options
  Select all
Pudun Tadam
Excelsis Deo: Jurnal Teologi, Misiologi, dan Pendidikan, Volume 4, pp 1-12; doi:10.51730/ed.v4i2.50

Abstract:
Strategic Learning involves Learning Strategies and Teaching Strategies that can help bring success to a student. The research objective answers the question: What is the meaning of a Learning Strategy? What is an Effective Learning Strategy? What are the Learning Strategies among Teachers against Students in the Context of Solving Learning Difficulties? The answer is: Learning strategies are the methods that will be selected and used by a teacher to deliver learning material that aims to make it easier for students to receive and understand learning material, which in the end can be mastered learning objectives at the end of learning activities. Three aspects of effective learning strategies are: (1) Students Need Continuous Strategic Instruction. (2) Teachers Promote Self-Awareness in Metacognition in the Classroom. (3) Teachers Can Recognize and Understand Different Learning Profiles. Learning Strategies between Teachers and Students in the Context of Solving Learning Difficulties are: (1) learning difficulties manifested in classrooms, (2) difficulties demonstrated by students in classrooms, and (3) strategies to help students who have difficulty paying attention in class . Abstrak: Strategic Learning melibatkan Strategi Pembelajaran dan Strategi Pengajaran yang dapat membantu membawa kejayaan kepada seorang mahasiswa. Tujuan penelitian menjawab pertanyaan: Apakah pengertian Strategi Pembelajaran? Bagaimanakah Strategi Pembelajaran yang Efektif? Bagaimanakah Strategi Pembelajaran di antara Guru terhadap Siswa dalam Konteks Memecahkan Kesulitan Belajar? Jawabannya adalah: Strategi pembelajaran adalah cara-cara yang akan dipilih dan digunakan oleh seorang pengajar untuk menyampaikan materi pembelajaran yang bertujuan untuk memudahkan peserta didik menerima dan memahami materi pembelajaran, yang pada akhirnya tujuan pembelajaran dapat dikuasainya di akhir kegiatan belajar. Tiga hal strategi pembelajaran yang efektif adalah: (1) Siswa Memerlukan Instruksi Strategi yang Berkelanjutan. (2) Guru Mempromosikan Kesadaran Diri dalam Metakognisi di Kelas. (3) Guru-guru Dapat Mengenali dan Memahami Profil Pembelajaran yang Berbeda. Strategi Pembelajaran di antara Guru terhadap Siswa dalam Konteks Memecahkan Kesulitan Belajar adalah: (1) kesulitan belajar dimanifestasi dalam bilik kelas, (2) kesulitan didemonstrasi oleh siswa dalam bilik kelas, dan (3) strategi-strategi untuk membantu siswa yang kesulitan perhatian di kelas.
Resa Junias, Dorce Sondopen
Excelsis Deo: Jurnal Teologi, Misiologi, dan Pendidikan, Volume 4, pp 13-28; doi:10.51730/ed.v4i2.51

Abstract:
Basically, Jesus was willing to offer himself to come down to earth to teach the gospel to every human being and was willing to be tortured, crucified, and died to atone for human sins. The purpose of this research is to answer the question: What does God want about His resurrection? How important is the resurrection of Jesus for the lives of believers? What effect will the resurrection of Jesus Christ have on the lives of believers? The answer was: (1) His bodily resurrection and eternity. Everything is possible because Christ, after He rose from the dead, did not die again, in other words, He lives and continues to live. The resurrection of Christ happened a transfer of power, Christ went from being ruled by death to being ruler over death. (2) Without the resurrection, Christian faith is not possible. His disciples are only symbols of defeat and destruction. Without the resurrection, Jesus' position as Messiah and King would be inexplicable. Without the resurrection, the outpouring of the Holy Spirit would leave an inexplicable mystery. Without the resurrection, the source of the disciples' testimony was lost. (3) The impact of the resurrection of Jesus Christ for the lives of believers is that as long as man is in God, whatever he does, all his efforts in God, will receive a reward or reward from God. Abstrak: Pada dasarnya Yesus rela mempersembahkan diri-Nya untuk turun ke bumi guna mengajarkan injil bagi setiap manusia dan rela disiksa, serta disalibkan, dan mati bagi menebus dosa manusia. Tujuan penelitian ini menjawab pertanyaan: Apakah yang Tuhan inginkan tentang kebangkitan-Nya? Bagaimana pentingnya kebangkitan Yesus untuk kehidupan orang percaya? Apa dampak kebangkitan Yesus Kristus bagi kehidupan orang percaya? Jawabnya adalah: (1) Kebangkitan tubuhnya dan berlanjut dalam kekekalan. Semuanya dapat terjadi karena Kristus, sesudah Ia bangkit dari antara orang mati, tidak mati lagi, dengan kata lain, Ia hidup dan terus hidup. Kebangkitan Kristus terjadi peralihan kekuasaan, Kristus beralih dari dikuasai oleh maut menjadi penguasa atas maut. (2) Tanpa kebangkitan, iman Kristen tidak mungkin muncul. Murid-murid-Nya hanyalah simbol kekalahan dan kehancuran. Tanpa kebangkitan, posisi Yesus sebagai Mesias dan Raja tidak akan terjelaskan. Tanpa kebangkitan, pencurahan Roh Kudus akan meninggalkan misteri yang tidak dapat dijelaskan. Tanpa kebangkitan, sumber kesaksian murid-murid hilang. (3) Dampak kebangkitan Yesus Kristus bagi kehidupan orang percaya adalah selama manusia ada di dalam Tuhan, apapun yang ia kerjakan, semua jerih payahnya dalam Tuhan, akan mendapat balasan atau upah dari Tuhan.
Pilipus Kuiyok Sajijilat, Hendi Wijaya
Excelsis Deo: Jurnal Teologi, Misiologi, dan Pendidikan, Volume 4, pp 107-127; doi:10.51730/ed.v4i2.57

Abstract:
The concept of Theosis is an important teaching that must be known to believer in Christ, because Theosis is the ultimate goal of human life, which is united with God, and the central core of the joyous message of the gospel is that we are called to share in God's life. The method of writing this article is a type of conceptual article or thought-provoking article (not a research article) which is an analysis of thoughts on the problem phenomena that arise. By using exegesis methods and other text comparisons, Theosis is obtained when humans live in God. Living in God means loving one another, and living in the light, then becoming similar and in line with God and purifying ourselves of all the passions of the world. There is no human who can experience Theosis if he does not live in God, become like and in the image of Christ and purify himself from all the passions of the World. AbstrakKonsep Theosis merupakan satu pengajaran penting yang harus diketahui oleh setiap orang percaya kepada Kristus, karena Theosis merupakan tujuan akhir hidup manusia, yakni menyatu dengan Allah, dan inti utama berita sukacita dari Injil yaitu kita dipanggil untuk ikut ambil bagian dalam hidup-Nya Allah. Metode penulisan artikel ini adalah jenis artikel konseptual atau artikel hasil pemikiran (bukan artikel hasil penelitian) merupakan analisa pemikiran terhadap fenomena-fenomena masalah yang muncul. Dengan menggunakan metode eksegesis dan komparasi teks lain, maka Theosis didapatkan ketika manusia tinggal di dalam Allah. Tinggal di dalam Allah berarti saling mengasihi, dan hidup di dalam terang, kemudian menjadi serupa dan segambar dengan Allah dan menyucikan diri dari segala nafsu dunia. Tidak ada manusia yang dapat mengalami Theosis kalau tidak tinggal di dalam Allah, menjadi serupa dan segambar dengan Kristus dan menyucikan diri dari segala hawa nafsu Dunia.
Anton Nainggolan
Excelsis Deo: Jurnal Teologi, Misiologi, dan Pendidikan, Volume 4, pp 71-86; doi:10.51730/ed.v4i2.55

Abstract:
Successful education is education that can shape human behavior, not just equip people with knowledge and information. Research Objectives: (1). What is the meaning of Christian character education? (2). What is the role of Christian character education in the development of the inner attitudes of students? (3). What Are the Natural Implications of Human Total Disability? Methods: This research was conducted using a qualitative method with a literature study approach. Research Results: (1). Education that shapes and develops the inner attitude of students so that they are able to behave and behave wisely, and be responsible in their daily lives as Christians (2). Character education plays an important role in the personal formation of students. In the process various noble morals are discussed, including honesty, virtue, courage, discipline, generosity, tolerance, and responsibility. (3). Proper character education must actually begin with a personal encounter with Jesus. Character education and learning are tools, media or means in the formation of the human person. AbstrakPendidikan yang berhasil adalah pendidikan yang dapat membentuk perilaku manusia, bukan sekedar membekali manusia dengan pengetahuan dan informasi saja. Tujuan Penelitian: (1). Apakah pengertian pendidikan karakter Kristen? (2). Bagaimanakah peran pendidikan karakter kristen terhadap pengembangan sikap batin peserta didik? (3). Bagaimanakah Implikasi Natur Ketidakmampuan Total Manusia? Metode: Penelitian ini dilakukan dengan metode Kualitatif dengan pendekatan studi pustaka. Hasil Penelitian: (1). Pendidikan yang membentuk dan mengembangkan sikap batin peserta didik supaya mampu bersikap dan berperilaku bijak, serta bertanggung jawab dalam kehidupannya sehari-hari sebagai orang Kristen (2). Pendidikan karakter berperan penting dalam pembentukan pribadi peserta didik. Dalam proses itu berbagai akhlak luhur diperbincangkan, termasuk kejujuran, kebajikan, keberanian, kedisiplinan, kemurahan, toleransi, tanggung jawab. (3). Pendidikan karakter yang tepat sebenarnya harus dimulai dengan perjumpaan pribadi dengan Yesus. Pendidikan dan pembelajaran karakter merupakan alat bantu, media atau sarana dalam pembentukan pribadi manusia.
Iis Dahlia Mayasari, Chearolina Chearolina, Suryowati Wang
Excelsis Deo: Jurnal Teologi, Misiologi, dan Pendidikan, Volume 4, pp 59-70; doi:10.51730/ed.v4i2.54

Abstract:
Suffering is pressure that comes from outside a person. The suffering that exists in humans is both unavoidable and inevitable. The problem that arises is: What is meant by suffering education? How to provide a solution to the suffering of people who are complaining? How to provide a solution to the suffering of the quarreling person? How to provide a solution to the suffering of those who commit suicide? How does the education of suffering in the book of Ayub provide solutions to the things of God's servant world at GBI KelIR Samarinda? The answer: (1) Education for suffering is education to live in the world. Humans as God's creation still accept every suffering that comes in their life. (2) The solution to the suffering of a complaining person is: do something happily, have a heart that is willing to accept criticism and suggestions, still give thanks to God, and be humble. (3) The solution to the suffering of the quarreling person is: don't always feel right, apologize first when you are guilty, learn to yield, and be willing to listen to advice. (4) The solution to the suffering of a person who commits suicide is someone who dares to live in pain and can accept the reality of life, is obedient to God, is always grateful, and always longs to live in historical peace. (5) The education of suffering taught to God's servants at GBI KelIR Samarinda is: Education continues to survive, Education to Realize God is the Source of Life, Education Do not Blame Anyone, and Education "makes people aware that suffering is a test and not everything comes from sin". Abstrak: Penderitaan adalah tekanan yang datang dari luar diri seseorang. Penderitaan yang ada pada manusia tidak bisa ditolak dan tidak bisa dihindari. Persoalanya yang muncul adalah: Apakah yang dimaksud dengan pendidikan penderitaan? Bagaimanakah memberi solusi tentang penderitaan orang yang bersungut-sungut? Bagaimanakah memberi solusi tentang penderitaan orang yang bertengkar? Bagaimanakah memberi solusi tentang penderitaan orang yang bunuh diri? Bagaimanakah pendidikan penderitaan dalam kitab Ayub memberi solusi perkara-perkara dunia pelayan Tuhan di GBI KelIR Samarinda? Jawabnya: (1) Pendidikan penderitaan adalah pendidikan untuk hidup di tengah dunia. Manusia sebagai ciptaan Allah tetap menerima setiap penderitaan yang datang dalam kehidupannya. (2) Solusi tentang penderitaan orang yang bersungut-sungut adalah: melakukan suatu hal dengan senang hati, memiliki hati yang mau menerima kritik dan saran, tetap mengucap syukur kepada Tuhan, dan rendah hati. (3) Solusi tentang penderitaan orang yang bertengkar adalah adalah: jangan merasa selalu benar, meminta maaf terlebih dahulu ketika bersalah, belajar mengalah, dan mau mendengar nasihat. (4) Solusi tentang penderitaan orang yang bunuh diri adalah seseorang berani hidup menderita dan dapat menerima kenyataan hidup, taat kepada Tuhan, selalu bersyukur, dan selalu rindu hidup damai sejarah. (5) Pendidikan penderitaan yang diajarkan kepada pelayan Tuhan di GBI KelIR Samarinda adalah: Pendidikan tetap Bertahan, Pendidikan Menyadari Allah adalah Sumber Hidup, Pendidikan Jangan Menyalahkan Siapapun, dan Pendidikan “menyadarkan bahwa penderitaan adalah sebuah ujian dan tidak semuanya berasal dari dosa”.
Rufina Leong
Excelsis Deo: Jurnal Teologi, Misiologi, dan Pendidikan, Volume 4, pp 29-40; doi:10.51730/ed.v4i2.52

Abstract:
Learning strategies have the purpose of giving awareness to educators to increase their knowledge of technological development skills from the era of globalization. The question that arises: What is Christian Education? What are the effective Christian Education learning strategies? What are the challenges, constraints of implementing Christian Education, and how to overcome them? The answer is: (1) Christian education is a student-centered learning process based on elements of communication, collaborative, critical thinking, creativity, and the application of pure values and ethics. (2) Christian Education learning strategies can be done in accordance with the context of students in the classroom with the following rules: teachers determine the instructor learning process strategy, teachers give time and opportunity, teachers give clear instructions to students, teachers give trust and guidance to students and teachers give students the right to learn. (3) The challenges and constraints of implementing Christian Education and how to overcome it are: First, teachers (lecturers) need to be aware of the importance of diversifying teaching and learning methods to be in line with 21st century education in fulfilling their duties and responsibilities for students . Second, teachers should always be proactive, self-assessing, prepared, confident and take the initiative to strive to improve skills and produce effective teaching techniques that are able to attract students. Abstrak: Strategi pembelajaran mempunyai tujuan memberi kesadaran kepada warga pendidik meningkat pengetahuan keterampilan perkembangan tekonologipada era globalisasi. Persoalan yang timbul: Apa itu Pendidikan Kristen? Bagaimanakah strategi pembelajaran Pendidikan Kristen yang efektif? Bagaimanakah cabaran, kekangan melaksanakan Pendidikan Kristen, dan cara mengatasinya? Jawabnya adalah: (1) Pendidikan Kristen merupakn proses pembelajaran yang berpusatkan murid berteraskan elemen komunikasi, kolaboratif, pemikiran kritis, kreativiti, dan aplikasi nilai murni dan etika. (2) Strategi pembelajaran Pendidikan Kristen dapat dilakukan sesuai dengan konteks murid di kelas dengan kaidah-kaidah sebagai berikut: guru menentukan strategi proses belajar pengajar, guru beri masa dan peluang, guru memberikan arahan jelas kepada murid, guru memberi kepercayaan dan bimbingan kepada murid, dan guru memberikan hak murid untuk belajar. (3) Cabaran dan kekangan melaksanakan Pendidikan Kristen dan cara mengatasinya adalah: Pertama, guru-guru (pensyarah-pensyarah) perlu sadar akan kepentingan mempelbagaikan kaedah pengajaran dan pembelajaran agar selari dengan pendidikan abad ke-21 dalam menunaikan tugas dan tanggungjawab mereka demi kemenjadian murid. Kedua, guru harus sentiasa bersikap proaktif, menilai diri, bersedia, berkeyakinan dan mengambil inisiatif untuk berusaha meningkatkan kemahiran dan menghasilkan teknik pengajaran berkesan yang mampu menarik minat murid.
Angku Jalong
Excelsis Deo: Jurnal Teologi, Misiologi, dan Pendidikan, Volume 4, pp 41-58; doi:10.51730/ed.v4i2.53

Abstract:
Spirituality is highly emphasized for someone who wants to dive into the field of theological schools, especially in Malaysia Evangelical Seminary Belaga highlights the three main pillars for the existing Theology schools, which is to want those schools to be identical to the three pillars that are standard. such as; High academic, high discipline and high spirituality. The question that arises in the following question: How important is the Spiritual Development of Theological Students? How is the Bible's Guide to Improving Spirituality? What is the spirituality of a Condition to Meet the Degree Standards of Theology School Students? The answer is (1) Learning strategies to increase spirituality in METS Belaga schools will definitely continue to be realized with the involvement and cooperation of the center and METS itself with full submission to the leadership of the Holy Spirit. (2) The guide to improving the quality of spirituality based on the Bible is that teachers should give comprehensive attention so that students can assess and track the extent of their spiritual development. (3) By giving systematic instruction to the students alone they can understand this life which must change constantly in this life for the glory of His name. Abstrak: Kerohanian sangat ditekankan bagi seseorang yang mahu menerjunkan diri dalam bidang sekolah teologi, khususnya di Malaysia Evangelical Seminary Belaga mengetengahkan tiga pilar utama untuk sekolah-sekolah Teologia sedia ada, iaitu mahu sekolah-sekolah tersebut identik dengan tiga pilar yang menjadi piawan(standard) seperti; Academis yang tinggi, disiplin yang tinggi dan kerohanian yang tinggi. Persoalan yang muncul dalam pertanyaan berikut: Bagaimanakah pentingnya Membangun Spiritual Pelajar Teologi? Bagaimanakah panduan Meningkat Mutu Kerohanian berdasarkan Alkitab? Bagaimanakah kerohanian satu Syarat untuk Memenuhi Standar Gelar Pelajar Sekolah Teologi? Jawaban adalah (1) Strategi learning untuk meningkatkan kerohanian di sekolah METS Belaga pasti akan terus terealisasi dengan penglibatan dan kerjasama pihak pusat dan METS itu sendiri dengan penuh penyerahan kepada pimpinan Roh Kudus. (2) Panduan meningkat mutu kerohanian berdasarkan Alkitab adalah para guru harus memberi perhatian yang menyeluruh agar para pelajar dapat menilai dan mengesan sejauh mana keadaan perkembangan kerohanian mereka. (3) Dengan memberi pengajaran yang sistematis kepada para pelajar saja mereka dapat mengerti kehidupan ini yang harus berubah terus menerus dalam hidup ini bagi kemuliaan nama-Nya.
Indro Puspito
Excelsis Deo: Jurnal Teologi, Misiologi, dan Pendidikan, Volume 4, pp 87-106; doi:10.51730/ed.v4i2.56

Abstract:
The need for quality leaders who are expected to be able to shepherd believers is enormous. This urgent need dates back to the very real work of the Holy Spirit in Acts. The problem that arises is: What is the meaning of the person of the Shepherd? How is the pastor's job as an educator who teaches the church? How is Jesus as a Model of the True Shepherd and his relationship to the Shepherd as an Educator? The answer: (1) The pastor of the church is someone whose job is to care for, care for, feed and who has a relationship with the people he serves. (2) The pastor's duties as education that teaches the church are: to feed, care for, and lead. (3) The image of Jesus as a model of the shepherd is used as a means of material for the teaching and learning process both for himself as an educator and for his congregation so that both the educator and the congregation can change according to the characteristics of the true shepherd, Jesus Christ. AbstrakKebutuhan akan pemimpin yang berkualitas dan diharapkan mampu menggembalakan orang-orang percaya, begitu besar. Kebutuhan yang mendesak ini sudah dimulai sejak pekerjaan Roh Kudus yang begitu nyata dalam Kisah Para Rasul. Persoalannya yang timbul adalah: Apakah yang dimaksud dengan pribadi Gembala? Bagaimanakah tugas gembala sebagai pendidik yang mengajar jemaat? Bagaimanakah Yesus sebagai Model Gembala Sejati dan relasinya terhadap Gembala sebagai Pendidik? Jawabnya: (1) Kepribadian Gembala jemaat adalah seseorang yang pekerjaannya menjaga, memelihara, memberi makan dan yang memiliki hubungan dengan orang-orang yang dilayaninya. (2) Tugas gembala sebagai pendidikan yang mengajar jemaat adalah: memberi makan, memelihara, dan memimpin. (3) Gambaran Yesus sebagai model gembala digunakan sebagai sarana materi proses belajar mengajar baik terhadap dirinya sebagai pendidik mapun terhadap jemaatnya agar baik pendidik maupun jemaat terjadi perubahan sesuai dengan karakteristik gembala sejati adalah Yesus Kristus.
Paulus Labai
Excelsis Deo: Jurnal Teologi, Misiologi, dan Pendidikan, Volume 2, pp 1-12; doi:10.51730/ed.v2i2.45

Abstract:
Christian education learning serves as a guide to help Christian educators in training adults in the church so that the congregation will understand more about the image or concept of identity, role and responsibility as adults more clearly and steadily in everyday life and in their relationship with society. around. The problems that arise are: What is the definition of adult andragogy? What is the significance of Christian education for adults? What is the Christian education learning strategy for adult congregations in the BEM Taman Tunku Miri church, Malaysia? The answers to the problems are: (1) Christian education for adult congregations is an effort to educate or educate church members in all existing age groups, including the adult age group. (2) significant Christian education for adults is one form of the church's efforts in educating or educating its citizens by planning a learning program designed in such a way as to achieve the goals of Christian education for adults. (3) The Christian education learning strategy for adult congregations at the BEM Taman Tunku Miri church, Malaysia is to develop Christian education learning for adults who should understand and have skills with regard to design procedures so that Christian education programs for adults become more accommodating and effective.Abstrak: Pembelajaran pendidikan Kristen berfungsi sebagai pedoman untuk menolong pendidik Kristen dalam melatih orang-orang dewasa dalam gereja sehingga jemaat semakin memahami gambar atau konsep jati diri, peran dan tanggung jawabnya sebagai orang dewasa secara lebih jelas dan mantap dalam kehidupan sehari-hari serta dalam relasinya dengan masyarakat sekitar. Persoalan yang timbul adalah: Apakah pengertian andragogi orang dewasa? Apakah signifikan pendidikan Kristen bagi orang dewasa? Bagaimanakah strategi pembelajaran pendidikan Kristen bagi Jemaat dewasa di gereja BEM Taman Tunku Miri, Malaysia? Jawaban dari persoalan-persoalan adalah: (1) pendidikan Kristen kepada jemaat dewasa merupakan usaha mendidik atau membelajarkan warga gereja dalam segala kelompok usia yang ada, tidak terkecuali kelompok usia dewasa. (2) signifikan pendidikan Kristen bagi orang dewasa merupakan salah satu bentuk upaya gereja dalam mendidik atau membelajarkan warganya adalah dengan adanya perencanaan program pembelajaran yang didesain sedemikian rupa untuk mencapai tujuan pendidikan Kristen bagi orang dewasa. (3) Strategi pembelajaran pendidikan Kristen bagi Jemaat dewasa di gereja BEM Taman Tunku Miri, Malaysia adalah mengembangkan pembelajaran pendidikan Kristen bagi orang dewasa hendaknya memahami dan memiliki keterampilan berkenaan dengan prosedur desain sehingga demikian program pendidikan Kristen bagi orang dewasa menjadi lebih akomodatif dan efektif.
Belinda Mau, Areyne Christi
Excelsis Deo: Jurnal Teologi, Misiologi, dan Pendidikan, Volume 2, pp 41-50; doi:10.51730/ed.v2i2.44

Abstract:
In this era of globalization, teachers are very dominant in self-actualizing to educate the nation in facing the challenges and competition in the world, so that they are required to improve their professionalism in dealing with any existing problems. Solutions to answer the problems faced by teachers arise in the following questions: Who is the teacher? What is the role of the teacher both as a teacher and in relation to their students? How to manage the quality of the teaching and learning process on children's self-development in the context of interest in learning? The answers are: (1) a teacher is a professional educator who educates, teaches a science, guides, trains, provides assessments, and evaluates students. (2) the role of the teacher to work holistically. The teacher not only carries out his duties as a teacher, but becomes an example and a companion to his students. (3) the teacher must be able to manage the class very well so that in every learning process, children can be interested and respond when a teacher delivers a material. Abstrak: Dalam era globalisasi ini guru sangatlah dominan di dalam mengaktualisasi diri untuk mencerdaskan bangsa dalam menghadapi tantangan dan persaingan dunia, sehingga dituntut untuk meningkatkan profesionalnya dalam menangani setiap masalah yang ada. Solusi untuk menjawab persoalan-persoalan yang di hadapi oleh guru muncul dalam pertanyaan sebagai berikut: Siapakah guru itu? Apakah peranan guru baik sebagai guru dan berhubungan dengan anak didiknya? Bagaimanakah mengelola kualitas proses belajar mengajar terhadap pengembangan diri anak dalam konteks minat belajar? Jawabnya adalah: (1) guru adalah seorang tenaga pendidik profesional yang mendidik, mengajarkan suatu ilmu, membimbing, melatih, memberikan penilaian, serta melakukan evaluasi kepada peserta didik. (2) peranan guru bekerja secara holistik. Guru tidak saja menjalankan tugasnya sebagai seorang pengajar, tetapi menjadi teladan dan teman bergaul bagi para muridnya. (3) guru harus dapat mengelola kelas dengan sangat baik sehingga dalam setiap proses pembelajaran, anak dapat tertarik dan meresponi ketika seorang guru menyampaikan sebuah materi.
James Jimry
Excelsis Deo: Jurnal Teologi, Misiologi, dan Pendidikan, Volume 2, pp 13-24; doi:10.51730/ed.v2i2.49

Abstract:
Learning is a relatively permanent change in behavior or potential behavior as a result of experience. Learning is the interaction between stimulus and response. These issues are very useful when reviewed as follows: What is the meaning of Learning and Teaching? What are the methods for improving the Quality of Learning and Teaching? How to Improve the Quality of Learning and Teaching through an Efficient Curriculum Model? The answers to the problems are: (1) the notion of learning and teaching is a different concept even though it is a process of change in the learning structure, which involves teachers, students and educational infrastructure. (2) methods to improve the quality of learning and teaching are to improve the quality are: communication of learning and teaching, collaboration, and developing various forms of learning. (3) improving the quality of learning and teaching through efficient curriculum models are: the Ralp W. Tyler curriculum model, the Hilda Taba curriculum model, the Peter Oliva curriculum model, or the Muray Print curriculum model.Abstrak: Belajar merupakan perubahan yang relatif permanen dalam perilaku atau potensi perilaku sebagai hasil dari pengalaman. Belajar adalah interaksi antara stimulus dan respon. Persoalan-persoalan tersebut sangatlah berguna bila dikaji kembali sebagai berikut: Apakah pengertian Pembelajaran dan Pengajaran? Bagaimanakah kaedah-kaedah untuk meningkatkan Kualitas Pembelajaran dan Pengajaran? Bagaimanakah Meningkatkan Kualitas Pembelajaran dan Pengajaran melalui Model Kurikulum yang Efisien? Jawaban persoalan adalah: (1) pengertian Pembelajaran dan Pengajaran merupakan suatu konsep yang berbeda meski menjadi proses perubahan dalam struktur belajar, yang melibatkan pengajar, pelajar, dan prasarana pendidikan. (2) kaedah-kaedah untuk meningkatkan kualitas pembelajaran dan pengajaran adalah dengan meningkatkan kualitas adalah: komunikasi pembelajaran dan pengajaran, kolaborasi, dan mengembangkan bentuk pembelajaran yang bervariasi. (3) meningkatkan kualitas pembelajaran dan pengajaran melalui model-model kurikulum yang efisien adalah: model kurikulum Ralp W.Tyler, model kurikulum Hilda Taba, model kurikulum Peter Oliva, atau model kurikulum Muray Print.
Novelia Palele, Lina Triana
Excelsis Deo: Jurnal Teologi, Misiologi, dan Pendidikan, Volume 2, pp 33-40; doi:10.51730/ed.v2i2.48

Abstract:
Theoretical basis: The family is a community that Allah has determined and defined for human needs. Research Objectives: (1) What is meant by family based education? (2) Why are some congregations lazy to follow Serving, and Confidant of God? (3) Why have some Serving, and Confidant of God congregations become discouraged? (4) What is the reason why some congregations refuse to follow Serving, and Confidant of God? (5) How is Family-Based Education and its application for Serving and Confidant of God services at GBI Kelir Samarinda? Method: Qualitative-Observative. Results of the study: (1) This education takes place in the family which is carried out by parents who are given to educate children in the family environment, (2) the congregation thinks the shepherd does not pay attention to it, the shepherd prefers the congregation, the congregation cannot keep secrets, the shepherd cannot be a good example. (3) Not comfortable attending worship, Thinking that this community is not important, Feeling just a waste of time, Worshiping too long. (4) Busy working, no desire to worship, rainy weather conditions, far distance to places of worship, do not have vehicles, do not have offerings for worship, there are conflicts among congregation members that have not been resolved. (5) through the communities of Salvation, Serving, and Confidant of God, we can reach out to every congregation in the church and through the communities of Salvation, Serving, and Confidant of God. Keywords: Education, Family, Service Abstrak: Landasan teori: Keluarga adalah komunitas yang Allah telah tentukan dan tetapkan bagi kebutuhan manusia. Tujuan Penelitian: (1) Apakah yang dimaksud dengan Pendidikan Berbasis Keluarga? (2) Mengapakah beberapa jemaat malas mengikuti Serving, dan Confidant of God? (3) Mengapa beberapa jemaat Serving, dan Confidant of God menjadi tawar hati? (4) Apakah penyebab beberapa jemaat yang tidak mau mengikuti Serving, dan Confidant of God? (5) Bagaimanakah Pendidikan Berbasis Keluarga dan penerapannya bagi pelayanan Serving, dan Confidant of God di GBI Kelir Samarinda? Metode:Kualitatif-Observatif. Hasil Penelitian: (1)Pendidikan ini berlangsung dalam keluarga yang dilaksanakan oleh orang tua yang diberikan untuk mendidik anak dalam lingkungan keluarga, (2) jemaat menilai gembala tidak memerhatikannya, gembala pilih kasih kepada jemaat, jemaat tidak bisa menyimpan rahasia, gembala tidak bisa menjadi teladan yang baik. (3) Kurang nyaman mengikuti ibadah, Menganggap bahwa komunitas ini tidak penting, Merasa hanya membuang waktu saja, Ibadahnya terlalu lama. (4) Sibuk bekerja, Tidak ada kerinduan beribadah, Keadaan cuaca hujan, Jarak tempat beribadah jauh, Tidak mempunyai kendaraan, Tidak mempunyai persembahan untuk beribadah, Ada konflik sesama anggota jemaat yang belum diselesaikan. (5) melalui komunitas Salvation, Serving, dan Confidant of God dapat menjaungkau setiap jemaat-jemaat yang ada di gereja dan melaluin komunitas Salvation, Serving, dan Confidant of God. Kata Kunci: Pendidikan, Keluarga, Pelayanan
Darwis Laana, Dorce Sondopen
Excelsis Deo: Jurnal Teologi, Misiologi, dan Pendidikan, Volume 2, pp 27-32; doi:10.51730/ed.v2i2.47

Abstract:
One of the challenges in the teaching and learning process in the classroom is that students are less enthusiastic. The teacher's expectation during teaching in class is that all students can be enthusiastic and full of interest in learning. But in reality it is not like that, because not all teachers have the ability to solve the problems of students who are less enthusiastic. Therefore, the study of teacher skills in increasing student interest in learning is needed. The purpose of this study is to encourage teachers to add skills in carrying out their duties so that students learn more seriously. The author uses a qualitative descriptive method, namely explaining the terms used in the title of the article based on related sources. The important point of the results in this study is that teachers must have the skills to manage the classroom well. The teacher must master the skills from opening to closing class. The teacher must have skills in asking, explaining, giving reinforcement, and also in making deep variations. These classroom management skills have a big influence on students' attention to learning.Abstrak: Salah satu tantangan dalam proses belajar mengajar di kelas ialah murid kurang antusias. Harapan guru selama mengajar di kelas adalah semua murid dapat antusias dan penuh minat belajar yang tinggi. Namun dalam kenyataannya tidak seperti itu, sebab tidak semua guru memiliki kemampuan dalam mengatasi masalah murid yang kurang antusias. Maka itu kajian tentang keterampilan guru dalam meningkatkan minat murid untuk belajar sangat dibutuhkan. Tujuan dari kajian ini untuk mendorong guru menambah keterampilan dalam melaksanakan tugasnya sehingga murid belajar dengan lebih serius. Penulis menggunakan metode deskriptif kualitatif yaitu menjelaskan istilah-istilah yang digunakan pada judul tulisan berdasarkan sumber yang berkaitan. Poin penting hasil dalam kajian ini adalah guru harus memiliki ketrampilan untuk mengelola kelas dengan baik. Guru harus menguasai keterampilan untuk memulai pembukaan sampai pada menutup kelas. Guru harus memiliki keterampilan dalam bertanya, menjelaskan, memberi penguatan, dan juga dalam membuat variasi dalam. Keterampilan dalam pengelolaan kelas ini berpengaruh besar terhadap perhatian murid untuk belajar.
Dwi Indarti Hutami Dewi, Setiya Aji Sukma
Excelsis Deo: Jurnal Teologi, Misiologi, dan Pendidikan, Volume 4, pp 1-18; doi:10.51730/ed.v4i1.25

Abstract:
The world of education is increasingly confronted with various challenges that complicate and demand that education increasingly innovate in developing educational products. Research Objectives: What is the meaning of Environmental Care according to the Bible and experts? Does caring about the environment support the effectiveness of learning? What is the perspective of Ephesians 5: 1-21 regarding Environmental Care as an Implementation of Religious Character Values? The research method used is exposition and literature research. The results of the study are: (1) the meaning of caring for the environment is loving the dimensions of the space into which the learning activities take place, caring for the environment is everyone's obligation. This needs to be instilled in students to grow into a generation that can take part in preserving the natural environment and the social environment. (2) environmental care attitude (in family, school, and community) is realized through obedience in realizing environmental preservation efforts. Obedience must be based on love, because by loving, humans will automatically have a sense of caring. The environment as a container for the formation of a person's character. (3) Christ is the only example in terms of love, Christians must understand Christ for themselves, then apply the love of Christ to the environment, so as to create a healthy and loving environment in the world of Indonesian education..AbstrakDunia pendidikan semakin hari semakin dihadapkan dengan berbagai tantangan yang mempersulit dan menuntut supaya pendidikan semakin berinovasi dalam mengembangkan produk pendidikan. Tujuan penelitian: Apakah makna Cinta Lingkungan menurut Alkitab dan para ahli? Apakah sikap Cinta lingkungan menunjang efektifitas pembelajaran? Bagaimanakah perspektif Efesus 5:1-21 mengenai Cinta Lingkungan sebagai Implementasi Nilai Karakter Religius? Metode penelitian yang digunakan adalah eksposisi dan penelitian literature. Hasil penelitian adalah: (1) makna cinta lingkungan adalah mengasihi dimensi ruang yang menjadi tempat melakukan kegiatan pembelajaran, cinta lingkungan adalah kewajiban semua orang. Hal ini perlu ditanamkan kepada peserta didik agar bertumbuh menjadi generasi yang dapat ambil bagian dalam rangka melestarikan lingkungan alam maupun lingkungan pergaulan. (2) sikap cinta lingkungan (dalam keluarga, sekolah, dan masyarakat) diwujudkan melalui ketaatan dalam mewujudkan upaya pelestarian lingkungan. Ketaatan tersebut haruslah berdasarkan pada kasih, karena dengan mengasihi, manusia akan dengan otomatis memiliki rasa peduli. Lingkungan tersebut sebagai wadah pembentukan karakter seseorang. (3) Kristus adalah satu-satunya teladan dalam hal mengasihi, orang Kristen harus memahami Kristus atas diri masing-masing, lalu menerapkan kasih Kristus kepada lingkungan, agar tercipta lingkungan yang sehat dan penuh kasih di dunia pendidikan Indonesia.
Victoria Woen
Excelsis Deo: Jurnal Teologi, Misiologi, dan Pendidikan, Volume 4, pp 51-60; doi:10.51730/ed.v4i1.34

Abstract:
General theory: Marriage is an institution authorized by God which involves the union of a man and a woman as "one flesh" in a lifelong relationship. The method used by the authors in this study is a quantitative research method. In this research besides being descriptive, the writer also uses survey method because the survey method is one of the characteristics of descriptive research. The purpose of writing this article is to know the meaning of marriage in the Bible, the Old Testament view of unbelieving marriage, and the New Testament view of unbelieving marriage. The results obtained are, (1) the meaning of marriage in the Bible is an institution authorized by God which involves the union of a man and a woman as "one flesh" in a lifetime relationship. (2) The Old Testament view of unfaithful marriage, as exemplified by the biblical figures in the Old Testament, is known that the Israelites were not accustomed to marrying people from non-nationals or relatives. (3) The New Testament view of unbelieving marriage. II Corinthians 6:14 says: "Do not be an unequal partner with unbelievers." that marrying a partner who is not a believer or having a different religion is strongly opposed by the Bible. God does not want Christians to marry unbelievers because that will require a life-long struggle.AbstrakTeori umum: Pernikahan adalah lembaga yang disahkan Allah yang melibatkan penyatuan seorang laki-laki dan seorang perempuan sebagai “satu daging” dalam suatu hubungan seumur hidup. Metode yang dipakai oleh penulis dalam penelitian ini adalah metode penelitian kuantitatif. Di dalam penelitian ini selain bersifat deskriptif, penulis juga menggunakan metode survei karena metode survei merupakan salah satu ciri penelitian yang bersifat deskriptif. Tujuan Penulisan Artikel ini adalah mengetahui makna pernikahan dalam Alkitab, Pandangan Perjanjian Lama mengenai pernikahan tidak seiman, dan Pandangan Perjanjian Baru mengenai pernikahan tidak seiman. Hasil yang diperoleh yaitu, (1) makna pernikahan dalam Alkitab adalah lembaga yang disahkan Allah yang melibatkan penyatuan seorang laki-laki dan seorang perempuan sebagai “satu daging” dalam suatu hubungan seumur hidup. (2) Pandangan Perjanjian Lama mengenai pernikahan tidak seiman, sebagaimana teladan tokoh-tokoh alkitab dalam Perjanjian Lama, diketahui bahwa bangsa Israel tidak biasa menikah dengan orang dari bukan sebangsa atau sanak-saudaranya. (3) Pandangan Perjanjian Baru mengenai pernikahan tidak seiman. II Korintus 6:14 mengatakan: “Janganlah kamu merupakan pasangan yang tidak seimbang dengan orang-orang yang tak percaya”. bahwa menikah dengan pasangan yang tidak seiman atau berbeda agama sangatlah ditentang oleh Alkitab. Allah tidak menginginkan umat Kristen menikah dengan pasangan yang tidak seiman karena hal itu akan membutuhkan pergumulan seumur hidup.
Sri Suwantie
Excelsis Deo: Jurnal Teologi, Misiologi, dan Pendidikan, Volume 4, pp 89-100; doi:10.51730/ed.v4i1.33

Abstract:
The Bible states that all have sinned and have lost God's glory. The fact that all have sinned and have lost God's glory can only be resolved by God himself. All forms of human effort can never save him. God must come into the world in Jesus Christ to give salvation to sinners. For the Son of Man came to seek and save the lost. This is the purpose and mission of the coming of the Lord Jesus into the world that Luke the Gospel writer wants to convey. God often initiates His meetings with people He wants to be blessed with. God so loved a Zacchaeus who had been ostracized by his own people. God rejects the view of many people that staying in a sinner's house means taking part in the wrong way of life. God also rejects the view that the greatest sinner is far beyond the salvation that God has given. God states that the salvation that He has given to all people, for all nations. Zacchaeus found the Messiah, Jesus. He received Jesus joyfully. He found the Savior, he got salvation. His life underwent a change. The greatest sinner becomes justified. Religious leaders and many people are just busy justifying themselves. They considered Zacchaeus more sinful than them. Their views make it difficult for them to open their hearts to understand the salvation that God has given through Jesus Christ. Their eyes and ears became blind and deaf to see and hear God's work of salvation through Jesus Christ. Even their hearts are dull to feel the mercy of Jesus to sinners.Alkitab menyatakan bahwa semua orang telah berbuat dosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah. Kenyataan bahwa semua orang telah berbuat dosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah hanya dapat diselesaikan oleh Allah sendiri. Segala bentuk usaha manusia tidak akan pernah bisa menyelamatkan dirinya. Allah harus hadir ke dunia dalam Yesus Kristus untuk memberi keselamatan kepada orang berdosa. Anak Manusia datang untuk mencari dan menyelamatkan yang hilang. Inilah tujuan dan misi kedatangan Tuhan Yesus ke dalam dunia yang ingin disampaikan oleh Lukas si penulis Injil tersebut. Allah sering kali memprakarsai pertemuaanNya dengan orang-orang yang hendak dikaruniaiNya. Allah begitu mengasihi seorang Zakheus yang telah mengalami pengucilan oleh bangsanya sendiri. Allah menolak pandangan orang banyak bahwa menumpang di rumah seorang pendosa berarti mengambil bagian dalam cara hidupnya yang salah. Allah juga menolak pandangan bahwa seorang pendosa terbesar berada jauh di luar keselamatan yang Allah berikan. Allah menyatakan bahwa keselamatan yang diberikanNya untuk semua orang, untuk semua bangsa. Zakheus menemukan Mesias yaitu Yesus. Ia menerima Yesus dengan sukacita. Ia menemukan juruselamat, ia mendapatkan keselamatan. Hidupnya mengalami perubahan. Seorang pendosa terbesar menjadi seorang yang dibenarkan. Pemuka agama dan orang banyak hanya sibuk membenarkan diri mereka sendiri. Mereka menganggap Zakheus lebih berdosa dari mereka. Pandangan mereka membuat mereka sukar membuka hati mereka untuk mengerti keselamatan yang Allah berikan melalui Yesus Kristus. Mata dan telinga mereka menjadi buta dan tuli untuk melihat dan mendengar karya keselamatan Allah melalui Yesus Kristus. Bahkan hati mereka tumpul untuk merasakan belas kasihan Yesus kepada para pendosa.
Suryowati Wang
Excelsis Deo: Jurnal Teologi, Misiologi, dan Pendidikan, Volume 4, pp 61-72; doi:10.51730/ed.v4i1.31

Abstract:
Humans are special creatures of God with their true nature as guardians of the earth. The purpose of writing to find answers about human meaning, the meaning of the world, and how human relationships and their world? The study uses qualitative methods with a philology approach. The results of the study are: (1) man is not just a creation, he is also a person. Being a person means being able to make decisions, set goals, and move towards those goals. Humans are not robots whose actions are determined by forces outside themselves. To be one person means to be a "creation that has a choice". (2) the world is: First, in the perspective of the Bible is "creation", the whole existence of a place in which humans live with all the good blessings of God. Second, from a perspective outside the Bible, the world is identified with all sources of evil, containing: evil, bad, negative and imperfections. (3) the relationship between humans and the world is that humans must be missionaries in a Christological framework that has the duty to serve in the world as a source of evil. Humans become the "salt" and "light" of Christ fighting the source of evil. AbstrakManusia adalah makhluk ciptaan Allah yang istimewa dengan hakekat sejatinya sebagai pemelihara bumi. Tujuan penulisan menemukan jawaban tentang makna manusia, makna dunia, dan bagaimanakah hubungan manusia dan dunianya? Penelitian menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan filologi. Hasil penelitian adalah: (1) manusia adalah bukan sekedar hanya ciptaan, ia juga satu pribadi. Menjadi suatu pribadi berarti mampu membuat keputusan, menetapkan tujuan, dan bergerak ke arah tujuan-tujuan itu. Manusia bukan robot yang tindakannya ditentukan oleh kekuatan di luar dirinya. Menjadi satu pribadi berarti menjadi “ciptaan yang memiliki pilihan”. (2) dunia adalah: Pertama, dalam perspektif Alkitab adalah “tata cipta”, seluruh keberadaan tempat yang di dalamnya manusia hidup dengan segala berkat yang baik dari Allah. Kedua, dalam perspektif di luar Alkitab, dunia adalah diidentikkan segala sumber kejahatan, berisi: hal-hal yang jahat, buruk, negatif dan ketidaksempurnaan. (3) hubungan manusia dan dunia adalah manusia mesti menjadi misioner dalam kerangka pikir Kristologi yang mempunyai tugas untuk melayani di dunia sebagai tempat sumber kejahatan. Manusia menjadi “garam” dan “terang” Kristus memerangi sumber kejahatan..
Anton Siswanto
Excelsis Deo: Jurnal Teologi, Misiologi, dan Pendidikan, Volume 4, pp 19-34; doi:10.51730/ed.v4i1.28

Abstract:
God's servant is identical to the example in expressing Christ's love for the congregation and being a public figure in all thoughts, words and actions. In this paper, a Biblical Principle is explained, which is love exhibited by "giving" behavior. And this action starts from the leader and followed by the person who is led. The following will describe a principle that the Lord Jesus taught to humans through a specific New Testament perspective. And it is given that the love shown by a practice of giving will have a tremendous impact on humanity. Certainly as a believer we have the source to give, and that source concerns finance, information, relationships, spirit and time / energy. With sources that all come from God, believers can give joyfully and voluntarily as taught by the Lord Jesus himself. This article on God's Servant and the art of giving uses research methods based on the study of several sources of the New Testament and the study of literature relating to this topic and with the results obtained will also provide application as a concrete step of the spiritual leader that is God's servant in giving who will close this writing to get believers to do the Word of God in concrete steps.AbstrakHamba Tuhan identik dengan contoh dan teladan dalam mengekspresikan kasih Kristus kepada jemaat dan menjadi publik figur dalam segala pikiran, perkataan dan tindakan. Dalam tulisan ini diuraikan sebuah prinsip Alkitab yaitu kasih yang ditunjukkan dengan perilaku “memberi”. Dan tindakan ini dimulai dari pemimpin baru diikuti oleh orang yang dipimpin. Berikut akan diuraikan sebuah prinsip yang Tuhan Yesus ajarkan kepada manusia melalui perspektif Perjanjian Baru secara spesifik. Dan diberikan bahwa kasih yang ditunjukkan dengan sebuah praktik memberi akan mempunyai dampak yang luar biasa kepada umat manusia. Tentu sebagai seorang percaya kita memiliki sumber untuk memberi, dan sumber itu menyangkut keuangan, informasi, hubungan/relasi, roh dan waktu/energi. Dengan sumber-sumber yang semuanya berasal dari Tuhan maka orang percaya bisa memberi dengan sukacita dan sukarela seperti yang diajarkan oleh Tuhan Yesus sendiri. Tulisan mengenai Hamba Tuhan dan seni memberi ini menggunakan metode penelitian berdasarkan studi beberapa sumber dari Perjanjian Baru dan studi literatur yang berkaitan dengan topik ini dan dengan hasil yang didapat akan juga memberikan aplikasi sebagai langkah nyata dari pemimpin rohani yaitu hamba Tuhan dalam memberi yang akan menutup tulisan ini untuk mengajak orang-orang percaya melakukan Firman Tuhan dengan langkah nyata.
Lucyana Henny
Excelsis Deo: Jurnal Teologi, Misiologi, dan Pendidikan, Volume 4, pp 73-88; doi:10.51730/ed.v4i1.32

Abstract:
Worship according to the concept of Christianity is God's commandment that must be done by every person who has been redeemed and saved by the Lord Jesus Christ. The purpose of the study is to answer: What is the meaning of worship of believers? What are the elements of worship according to the Bible? How is worship lived in church life? Research using qualitative methods using literature review (library research). The results of the study are: (1) worship truly is a service to God by offering all souls and spirits with various actions and attitudes of respect and adoration, submission, and obedience with a thankful welcome. (2) Worship without doubt is the inner confession of a person who accepts that God is sovereign in power and good. With a series of personal offerings and the offerings of the people, approaching the altar of God by bringing sacrifice. (3) worship lived in church life is Jesus as the subject of worship through hymns, prayers, confessions of sins begging for forgiveness, giving thanks. Church life gives the best offerings to God, body, soul and spirit, which must be accompanied by service to others.AbstrakBeribadah menurut konsep kekristenan adalah perintah Tuhan yang wajib dilakukan oleh setap orang yang sudah di tebus dan diselamatkan oleh Tuhan Yesus Kristus. Tujuan penelitian adalah menjawab: Apakah makna ibadah persekutuan orang percaya? Apakah unsur-unsur ibadah menurut Alkitab? Bagaimanakah ibadah dihayati dalam kehidupan bergereja? Penelitian menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan kajian literature (library research). Hasil penelitian adalah: (1) ibadah yang benar adalah pelayanan kepada Allah dengan mempersembahkan seluruh tubuh jiwa dan roh dengan aneka tindakan dan sikap penuh hormat dan puja, ketundukan, serta ketaatan dengan penuh ucapan syukur. (2) unsur-unsur ibadah adalah ungkapan batin seseorang yang mengakui bahwa Allah berdaulat penuh kuasa dan baik. Dengan rangkaian persembahan pribadi maupun persembahan umat, menghampiri mezbah Allah dengan membawa kurban. (3) ibadah dihayati dalam kehidupan bergereja adalah Yesus sebagai pokok penyembahan melalui nyanyian pujian, doa, pengakuan dosa mohon pengampunan, mengucap syukur. Kehidupan bergereja itu memberikan persembahan terbaik kepada Tuhan yaitu tubuh, jiwa dan roh, yang harus dibarengi dengan pelayanan kepada sesama.
Sewie Elia Huang
Excelsis Deo: Jurnal Teologi, Misiologi, dan Pendidikan, Volume 4, pp 35-50; doi:10.51730/ed.v4i1.29

Abstract:
Fasting prayer has a very significant role for the growth of faith and congregation in the growth of the church because fasting prayer is their intimate relationship with God. The purpose of this paper answers the question: What is meant by fasting prayer? What is the relationship between fasting prayer and the Holy Spirit? What is the relationship between fasting prayer and shepherding leadership? What is the relation of fasting prayer in the growth of the Church? The research method uses descriptive literature research. The results of the study are: (1) fasting prayer is abstaining from all physical food for other bodies describing the consequences of fasting, namely: "suffering of the soul". (2) the relationship of fasting prayer with the Holy Spirit is fasting prayer which brings clarity of the way, the voice of the spirit, so that it will be sensitive to the voice of the Holy Spirit to provide guidance in obtaining spiritual and material victory as well. (3) the relationship of fasting prayer with the leadership of the shepherding is a servant of God who truly is a servant of God whose life of prayer is accompanied by fasting. (4) the relation of fasting prayer in the growth of the Church is the pastoral service can help realize the need for maturity and encourage growth in spirituality.AbstrakDoa puasa mempunyai peran yang sangatlah signifikan bagi pertumbuhan iman dan jemaatnya dalam pertumbuhan gereja karena doa puasa merupakan hubungan intim mereka dengan Allah. Tujuan penulisan ini menjawab pertanyaan: Apakah yang dimaksud dengan doa puasa? Bagaimanakah relasi doa puasa dengan Roh Kudus? Bagaimanakah relasi doa puasa dengan kepemimpinan pengembalaan? Bagaimanakah relasi doa puasa dalam pertumbuhan Gereja? Metode penelitian menggunakan penelitian deskriptif literature. Hasil penelitian adalah: (1) doa puasa adalah berpantang dengan semua makanan jasmani untuk tubuh yang lain menggambarkan akibat berpuasa, yaitu: “penderitaan jiwa”. (2) relasi doa puasa dengan Roh Kudus adalah doa puasa mendatangkan kejernihan jalan, akan suara roh, sehingga akan peka dengan suara Roh Kudus untuk memberikan bimbingan memperoleh kemenangan rohani dan materi juga. (3) relasi doa puasa dengan kepemimpinan pengembalaan adalah seorang hamba Tuhan yang sungguh sungguh adalah hamba Tuhan yang hidup doanya disertai puasa. (4) relasi doa puasa dalam pertumbuhan Gereja adalah pelayanan penggembalaan dapat menolong menyadari kebutuhan akan kedewasaan dan mendorong bertumbuh dalam kerohanian.
Frieska Putrima Tadung
Excelsis Deo: Jurnal Teologi, Misiologi, dan Pendidikan, Volume 4, pp 101-115; doi:10.51730/ed.v4i1.35

Abstract:
Integrity to behave holy is a life that shows as befits the family of God, which is to live a life that matches the calling. A life that should be "blameless, a life of moral integrity and complete surrender. The purpose of this paper is to answer the question: What does Integrity mean is holy? how to prove the integrity of holy behavior is very important as a servant of God and in order to be able to create God's servants who have honesty and pleasing before God? how to prove that the impact of integrity behaving holy towards commitment in service is needed by choir service and in order to create maximum service that pleases God? The research method used is qualitative using a grounded research design. The results of the study are (1) Integrity is a picture of a person who has quality in all dimensions of his life. (2) how to prove the integrity of holy behavior is very important as a servant of God and in order to be able to create servants of God who have honesty and are pleasing before God; (3) Integrity of Holy Behavior in Creating God's Servant who Does Not Obey Lust, Living in Fear of God, and Behaving in Truth Obedient Haw Lust is an earthly system that is contrary to God's plan.AbstrakIntegritas berperilaku kudus merupakan kehidupan yang menunjukkan sebagaimana layaknya keluarga Allah, yakni menjalani kehidupan yang berpapadan dengan panggilan. Kehidupan yang seharusnya “tidak bercacat, kehidupan yang berintegritas moral dan penyerahan yang seutuhnya. Tujuan penulisan ini menjawa pertanyaan: Apakah yang dimaksud dengan Integritas berlaku kudus ? bagaimana membuktikan integritas berperilaku kudus sangatlah penting sebagai seorang pelayan Tuhan dan guna untuk dapat menciptakan pelayan Tuhan yang memiliki kejujuran dan berkenan di hadapan Tuhan? bagaimana membuktikan bahwa dampak integritas berperilaku kudus terhadap komitmen dalam pelayanan sangat dibutuhkan oleh pelayanan paduan suara dan guna untuk menciptakan pelayanan yang maksimal dan menyenangkan hati Tuhan? Metode peneltian yang digunakan adalah kualitatif ini menggunakan desain penelitian grounded. Hasil penelitian adalah (1) Integritas merupakan gambaran seorang pribadi yang memiliki kualitas diri dalam segala dimensi kehidupannya. (2) bagaimana membuktikan integritas berperilaku kudus sangatlah penting sebagai seorang pelayan Tuhan dan guna untuk dapat menciptakan pelayan Tuhan yang memiliki kejujuran dan berkenan di hadapan Tuhan; (3) Integritas Berperilaku Kudus dalam Menciptakan Pelayan Tuhan yang Tidak Menuruti Hawa Nafsu, Hidup dalam Takut akan Tuhan, dan Berperilaku Taat Kebenaran Haw Nafsu yaitu sistem duniawi yang bertentangan dengan rencana Allah.
Yohanes Hasiholan Tampubolon
Excelsis Deo: Jurnal Teologi, Misiologi, dan Pendidikan, Volume 3, pp 13-25; doi:10.51730/ed.v3i2.13

Abstract:
Artikel ini akan menjelaskan mengenai kontekstualisasi metodologi dalam misiologi Paulus dalam dunia kontemporer. Metodologi Paulus tidak bisa dipisahkan dengan teologi Paulus. Oleh karena itu, dalam tulisan inipun akan membahas juga mengenai konsep teologis Paulus mengenai pembenaran, keselamatan, rekonsiliasi, dsb. Artikel akan dimulai dengan peristiwa di Damaskus ketika ia berjumpa dengan Kristus. Peristiwa tersebut menjadi awal panggilannya memberitakan Injil kabar baik kepada bangsa-bangsa lain. Memberitakan kabar baik oleh Paulus adalah memberitakan keselamatan dari dosa dan menjadi hidup. Kabar baik dalam Misi Paulus tidak sebatas memberitakan Injil keselamatan, namun juga menghidupi Injil tersebut dalam keseharian. This article will explain the contextualization of methodology in Paul's missiology in the contemporary world. Paul's methodology can not be separated from Paul's theology. Therefore, this article will also discuss Paul's theological concepts of justification, salvation, reconciliation, etc. The article will begin with events in Damascus when he met Christ. The incident became the beginning of his call to preach the good news to other nations. Preaching the good news by Paul is preaching salvation from sin and come alive. Good news in Paul's mission is not limited to preaching the gospel of salvation, but also living the gospel in daily life.
Ronald Yohanes Sinlae
Excelsis Deo: Jurnal Teologi, Misiologi, dan Pendidikan, Volume 3, pp 35-55; doi:10.51730/ed.v3i2.15

Abstract:
In Matthew chapters 5-7 Jesus teaches His disciples on the Mount. Jesus does not need a particular school or building, every circumstance and meeting are always used to convey the word of God. In His Teaching, the Lord Jesus has the goal to discuss various topics about religion and morality in a scientific or theoretical manner and to serve everyone who comes to Him. Jesus knew and understood the Characteristics of the students and followers who were listening to His teachings. In the teaching process Jesus always taught in a special way. Jesus did not give a teaching and tell others to believe it, but encouraged them to think and draw their own conclusions about what had been explained to His disciples. Keywords: Pedagogical Competence; Lord Jesus; Gospel of Matthew Abstrak Di dalam Matius pasal 5-7 Yesus mengajar murid-murid-Nya di atas Bukit. Yesus tidak memerlukan sekolah atau gedung tertentu, setiap keadaan dan pertememuan selalu di gunakan untuk menyampaikan firman Allah. Dalam Pengajaran-Nya, Tuhan Yesus mempunyai tujuan untuk membahas berbagai topik tentang keagamaan dan kesusilaan secara ilmiah atau teori dan melayani setiap orang yang datang kepada-Nya. Yesus mengenal dan memahami Karakteristik murid-murid dan pengikut yang sedang mendengarkan pengajaran-Nya. Dalam proses pengajaran Yesus selalu mengajar dengan cara yang istimewa. Yesus tidak memberikan suatu ajaran dan menyuruh orang lain untuk mempercayainya, tetapi mendorong mereka untuk berpikir dan menarik kesimpulan sendiri atas hal yang telah dijelaskan kepada murid-murid-Nya. Kata kunci: Kompetensi Pedagogik; Tuhan Yesus; Injil Matius
Dorce Sondopen
Excelsis Deo: Jurnal Teologi, Misiologi, dan Pendidikan, Volume 3, pp 95-105; doi:10.51730/ed.v3i2.18

Abstract:
AbstraksiMisi dapat merelasikan penginjilan dan pemuridan sehingga mempunyai hubungan yang erat dan merupakan satu kesatuan yang tidak dapat diputuskan. Hal inilah yang juga berguna dan bermanfaat bagi pertumbuhan gereja. Pertumbuhan gereja adalah penginjilan yang mencari untuk memuridkan di mana terjadi proses pemuridan yang utuh yang dapat dipilah dengan melihat aspek kualitatif, kuantitatif, organik dan fokus yang tidak terpisahkan satu dari yang lainnya. Kata Kunci: misi, relasi, penginjilan, pemuridan, pertumbuhan gereja AbstractThe mission can relate evangelism and discipleship so as to have a close relationship and a unity that can not be decided. This is also useful and beneficial to the growth of the church. The growth of evangelical churches are seeking to make disciples are in the process of discipleship intact that can be sorted by viewing aspects of qualitative, quantitative organic and focus inseparable from one another. Keywords: mission, relationship, evangelism, discipleship, church growth
Harianto Gp
Excelsis Deo: Jurnal Teologi, Misiologi, dan Pendidikan, Volume 3, pp 73-94; doi:10.51730/ed.v3i2.17

Abstract:
This study aims to examine the mission in the context of suffering related to about theology of suffering, its context in Indonesia and its implications for mission in Indonesia. In connection with the goal, the results of the study show that suffering is the pressure faced by someone who comes from outside himself to exert a good influence on that person. The suffering of non-believers is different. If non-believers are suffering because of the world, but if believers suffer because of Christ. The suffering experienced by believers in Indonesia is indeed the Great Commission of Christ. Believers and the church are obliged to do God's mission is to win souls who are lost in their suffering by being a witness of God and dialogue to preach the gospel.Keywords: Mission; Suffer; Church; BelieversAbstractPenelitian ini bertujuan mengkaji mengenai misi dalam konteks penderitaan berkaitan dengan seputar teologi penderitaan, konteksnya di Indonesia dan implikasinya terhadap misi di Indonesia. Berkaitan dengan tujuan, hasil penelitian menunjukkan bahwa penderitaan ialah tekanan yang dihadapi seseorang yang datang dari luar dirinya untuk memberikan pengaruh yang baik kepada orang tersebut. Penderitaan orang yang bukan percaya dengan orang percaya berbeda. Kalau orang yang bukan percaya adalah penderitaan karena dunia tetapi kalau orang percaya menderita karena Kristus. Penderitaan yang dialami orang-orang percaya di Indonesia adalah memang amanat Agung Kristus. Orang percaya maupun gereja wajib melakukan misi Allah adalah memenangkan jiwa-jiwa yang tersesat dalam penderitaannya dengan cara adalah menjadi saksi Allah dan dialog untuk memberitakan Injil. Kata Kunci: Misi; Penderitaan; Gereja; Orang Percaya
Alvin Budiman Kristian
Excelsis Deo: Jurnal Teologi, Misiologi, dan Pendidikan, Volume 3, pp 27-33; doi:10.51730/ed.v3i2.14

Abstract:
This study aims to explain or explain about the meaning of faith in the New Testament starting from understanding, the meaning of faith in the New Testament, to the application of New Testament figures to be applied in everyday life. the terms faith and trust in the Bible often contain the following components of meaning: Believe and accept that something is true, rely on or entrust yourself, be faithful, and be obedient. Keywords: Faith, Believe, New Testament AbstrakPenelitian ini bertujuan untuk menjelaskan atau menjabarkan tentang seputar makna iman dalam Perjanjian Baru mulai dari pengertian, makna iman dalam Perjanjian Baru, hingga aplikasi dari tokoh Perjanjian Baru untuk diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. istilah iman dan percaya dalam Alkitab sering mengadung komponen-komponen makna sebagai berikut: Percaya dan menerima bahwa sesuatu itu benar, mengandalkan atau mempercayakan diri, setia, dan taat. Kata Kunci: Iman, Kepercayaan, Perjanjian Baru
Silci Arisanti
Excelsis Deo: Jurnal Teologi, Misiologi, dan Pendidikan, Volume 3, pp 107-118; doi:10.51730/ed.v3i2.19

Abstract:
Kata spiritualitas merupakan suatu kata yang bersifat universal karena bisa digunakan oleh semua agama karena spirtitualitas itu sendiri merupakan saripati religius yang ada dibalik ajaran atau aturan-aturan formal agama. Sebaliknya, dalam penghayatan spiritualitas, ajaran atau dogma atau doktrin suatu agama hanyalah menjadi pijakan semata sehingga dogma bukanlah merupakan hal terakhir, melainkan selanjutnya bagaimana seseorang dapat mengalami perjumpaan Yang Ilahi.
Bimo Setyo Utomo
Excelsis Deo: Jurnal Teologi, Misiologi, dan Pendidikan, Volume 3, pp 1-12; doi:10.51730/ed.v3i2.12

Abstract:
Bekerja adalah bagian yang tak terpisahkan dari eksistensi manusia di dunia ini. Meskipun demikian terdapat perbedaan cara memahami dan menyikapi mengenai konsep bekerja. Sumbangsih pemikiran yang paling mempengaruhi kehidupan kekristenan tentang bekerja adalah adanya pembagian dua kutub, yaitu: secular work (bekerja di bidang sekuler) dan contemplative work (bekerja di bidang rohani). Pembagian dua kutub tersebut bahkan sudah dimulai sejak Abad Pertengahan dan masih terasa pengaruhnya hingga masa kini. Dalam makalah ini, peneliti berusaha menelusuri perkembangan konsep mengenai bekerja dan membandingkannya dengan konsep dalam Alkitab yang akan bermuara dalam penemuan panggilan kudus (sacred calling) sebagai pemenuhan dari Ad Majorem Dei Gloriam di dalam konsep bekerja.
Danik Astuti Lumintang
Excelsis Deo: Jurnal Teologi, Misiologi, dan Pendidikan, Volume 3, pp 57-72; doi:10.51730/ed.v3i2.16

Abstract:
The view that emphasizes the hierarchy and leadership of men is known as complementary. Complementary emphasizes that although men and women are equal before God. Men and women are created to fulfill different roles in relationships with one another. However, due to the advancement of civilization, and due to the awareness of the facts of social-political injustice against women, modern secular feminists (social-political) have emerged. This research reveals a synergy between equality and Christian women's leadership partnerships. Keywords: Complementary; Egalitarianism, Partnership, Women AbstractPandangan yang menekankan hirarkhi dan kepemim-pinan kaum laki-laki dikenal dengan sebutan complementary. Complementary menekankan bahwa walaupun laki-laki dan perempuan setara di hadapan Allah. Laki-laki dan perempuan diciptakan untuk memenuhi peran yang berbeda dalam hubungan satu dengan yang lain. Namun, karena kemajuan peradaban, dan karena kesadaran fakta ketidakadilan sosial-politik terhadap kaum wanita, bangkitlah modern secular feminist (social-politic). Penelitian ini mengungkap suatu sinegitas antara kesetaraan dengan kemitraan kepemimpinan wanita Kristen. Kata Kunci: Komplementer; Egalitarianisme; Kemitraan; Perempuan
Joseph Tong
Excelsis Deo: Jurnal Teologi, Misiologi, dan Pendidikan, Volume 3, pp 1-16; doi:10.51730/ed.v3i1.6

Abstract:
Management is the integration and coordination of resources to effectively move the organization towards the desired goals. The concepts and key elements in management are organizations. This organization is also divided into two namely: voluntary organizations and voluntary organizations. The objectives of this management are: (1) Vision and mission for existence; (2) Objectives and targets; (3) The desired destination and floating destination. Management effectiveness refers to how well an organization reaches its goals over a period of time. This emphasizes goals or mission (long distance) and goals (short term). Effectiveness contrasts with efficiency. Efficiency is a short-term measure of how well an organization uses resources. Healthy organization management must be effective and efficient. Leadership relates to people, while management pays more attention to tasks and performance. As far as the organization is concerned, these two things have the same function in promoting the well-being and development of healthy organizations to achieve organizational goals. Manajemen adalah integrasi dan koordinasi sumber daya untuk menggerakkan organisasi secara efektif menuju tujuan yang diinginkan. Adapun konsep dan elemen kunci dalam manajemen yaitu organisasi. Organisasi ini pun dibagi menjadi dua yakni: organisasi sukarela dan organisasi tidak sukarela. Tujuan dari manajemen ini adalah: (1) Visi dan misi untuk eksistensi; (2) Tujuan dan target; (3) Tujuan yang diinginkan dan tujuan mengambang. Efektivitas manajemen mengacu pada seberapa baik sebuah organisasi untuk mencapai tujuannya selama periode waktu tertentu. Hal ini menekankan pada tujuan atau misi (jarak jauh) dan tujuan (jangka pendek). Efektivitas kontras dengan efisiensi. Efisiensi adalah ukuran jangka pendek seberapa baik sebuah organisasi menggunakan sumber daya. Manajemen organisasi yang sehat harus efektif dan efisien. Kepemimpinan berkaitan dengan orang, sedangkan manajemen lebih memperhatikan tugas dan kinerjanya. Sejauh menyangkut organisasi, dua hal ini memiliki fungsi yang sama dalam mempromosikan kesejahteraan dan pengambangan organisasi yang sehat untuk mencapai tujuan organisasi.
Harianto Gp
Excelsis Deo: Jurnal Teologi, Misiologi, dan Pendidikan, Volume 3, pp 17-38; doi:10.51730/ed.v3i1.1

Abstract:
The model (shape, style, paradigm or style) is the most important part of seeing a development, especially the theological church. Theology here is not only interpreted as "knowledge (cognitive) about God" but also changes in the affective and psychomotor of the church towards the knowledge of God. The Church is responsible for laying the cognitive foundation of God and making changes within himself and having the skills to worship and carry out His will. In this context the term "Church Theological Model" appears. The author conducts research based on models of church theology which began from the time of the fathers of the Church to the Church of the XX century. From there it can then be arranged in the direction of development towards globalization which reaches in the direction of the models of Church theology in the Indonesian Churches. Model (bentuk, corak, paradigm atau gaya) merupakan bagian terpenting dalam melihat sebuah perkembangan, khususnya gereja berteologi. Teologi di sini bukan saja diartikan sebagai “pengetahuan (kognitif) tentang Tuhan” tetapi juga perubahan afektif dan psikomotoris gereja terhadap pengetahuan akan Tuhan tersebut. Gereja bertanggungjawab untuk meletakan dasar kognitif akan Tuhan dan melakukan perubahan di dalam diri serta mempunyai keterampilan menyembah dan melaksanakan kehendak-Nya. Dalam konteks ini muncul istilah “Model Teologi Gereja”. Penulis melakukan penelitian berdasarkan model-model teologi gereja yang dimulai sejak masa bapa-bapa Gereja hingga Gereja masa abad XX. Dari situ kemudian bisa tersusun arah pengembangan menuju globalisasi yang mencapai pada hasil arah model-model teologi Gereja di Gereja-gereja Indonesia.
Stevri Indra Lumintang
Excelsis Deo: Jurnal Teologi, Misiologi, dan Pendidikan, Volume 3, pp 39-48; doi:10.51730/ed.v3i1.7

Abstract:
The movement of globalization caused postmoderns to "replace the modern worldview" with "postmodern worldview". That means there are massive and fundamental changes. Therefore, this transition period is a period of great change, which is not easily accepted by many people because it has caused many major problems with humanity. Globalization presses in many directions, so that nothing is lost. Globalization has made many people and organizations become voracious and ferocious. That means using the time available. Nothing is greater than God's will. The will of globalization is under God's will. This is the strong foundation of a servant of God acting as the main actor of globalization. The main role of God's servants as the main actor of globalization, namely preaching the Word. Gerakan globalisasi menyebabkan kaum postmodern “mengganti worldview modern” dengan “worldview postmodern”. Itu artinya terjadi perubahan besar-besaran dan mendasar. Karena itu, masa peralihan ini merupakan masa perubahan besar, yang tidak mudah diterima oleh banyak orang karena telah menyebabkan banyak masalah yang besar terhadap humanistas. Globalisasi menekan ke banyak arah, sehingga tidak ada yang luput dari pengaruhnya. Globalisasi telah membuat banyak orang dan organisasi tertentu menjadi rakus dan ganas tiada ampun. Itu artinya menggunakan waktu yang ada. Tidak ada yang lebih hebat dari pada kehendak Allah. Kehendak globalisasi berada di bawah kehendak Allah. Inilah dasar yang kuat dari seorang hamba Tuhan berperan sebagai aktor utama globalisasi. Peran utama hamba Tuhan sebagai aktor utama globalisasi, yaitu memberitakan Firman.
Areyne Christi
Excelsis Deo: Jurnal Teologi, Misiologi, dan Pendidikan, Volume 3, pp 49-66; doi:10.51730/ed.v3i1.9

Abstract:
Early childhood is the period beginning the most important and fundamental throughout the range of growth and development of human life. In early childhood, all children's potential is growing very fast. The facts found by the expert-ahlineurologi, stated that about 50% of the capacity of human intelligence has occurred when the age of 4 years and 80% had occurred when he was 8 years old. Growth functional nerve cells require a variety of educational situations that supports both the educational situation of families, communities and schools. Usia dini merupakan periode awal yang paling penting dan mendasar sepanjang rentang pertumbuhan dan perkembangan kehidupan manusia. Pada masa usia dini, semua potensi anak berkembang sangat cepat. Fakta yang ditemukan oleh ahli-ahlineurologi, menyatakan bahwa sekitar 50% kapasitas kecerdasan manusia telah terjadi ketika usia 4 tahun dan 80% telah terjadi ketika berusia 8 tahun. Pertumbuhan fungsional sel-sel syaraf tersebut membutuhkan berbagai situasi pendidikan yang mendukung, baik situasi pendidikan keluarga, masyarakat maupun sekolah.
Alvin Kristian
Excelsis Deo: Jurnal Teologi, Misiologi, dan Pendidikan, Volume 3, pp 123-132; doi:10.51730/ed.v3i1.5

Abstract:
In the midst of the plurality of the people of this world. Then it cannot be denied that there are differences between one another. That diversity and differences is what is termed pluralism. As well as religion which is an important part of society, even each individual has a plurality phenomenon whose influence in society has a huge impact on the thinking of each individual. The differences between each religion and the truth claims and absolutes of each religion often cause considerable friction in society. In fact, it is not uncommon for many people to judge and make religion a tool of violence. Ditengah-tengah kemajemukkan masyarakat dunia ini. Maka tidak bisa dipungkiri adanya perbedaan antara satu dengan yang lainnya. Keragaman dan perbedaan-perbedaan itulah yang disebut dengan istilah pluralisme. Sebagaimana juga agama yang merupakan bagian yang penting dalam masyarakat, bahkan tiap-tiap individu mempunya fenomena pluralitas yang pengaruhnya di dalam masyarakat mempunyai dampak yang sangat besar bagi pemikiran tiap-tiap individu. Perbedaan masing-masing agama dan klaim-klaim kebenaran serta kemutlakan tiap-tiap agama sering menimbulkan gesekan-gesekan yang cukup keras dalam masyarakat. Bahkan tidak jarang banyak orang menilai dan menjadikan agama sebagai alat kekerasan.
Dwi Indarti Hutami Dewi
Excelsis Deo: Jurnal Teologi, Misiologi, dan Pendidikan, Volume 3, pp 77-98; doi:10.51730/ed.v3i1.10

Abstract:
The existence of transgender people in the community cannot be denied. Some of them also have achievements both nationally and internationally. Some transgender individuals have strong self-esteem that persist in the midst of a society where the majority ignore and even reject them. Others experience feelings of grief and even despair until suicide due to severe rejection especially from the family. The church as a family home that must love and protect each member of the congregation must not be favoritism. The church needs to reach out to transgender people through pastoral care. Counseling services also need to be opened for them so that mental recovery can occur. Keberadaan orang transgender dalam komunitas tidak dapat disangkal. Beberapa dari mereka juga memiliki prestasi baik secara nasional maupun internasional. Beberapa individu transgender memiliki harga diri yang kuat yang bertahan di tengah-tengah masyarakat di mana mayoritas mengabaikan dan bahkan menolak mereka. Yang lain mengalami perasaan sedih dan bahkan putus asa sampai bunuh diri karena penolakan yang parah terutama dari keluarga. Gereja sebagai rumah keluarga yang harus mencintai dan melindungi setiap anggota jemaat tidak boleh pilih kasih. Gereja perlu menjangkau orang-orang transgender melalui perawatan pastoral. Layanan konseling juga perlu dibuka untuk mereka sehingga pemulihan mental dapat terjadi.
Agustina Pasang
Excelsis Deo: Jurnal Teologi, Misiologi, dan Pendidikan, Volume 3, pp 67-76; doi:10.51730/ed.v3i1.2

Abstract:
Ecological (environmental) problems are the responsibility of all human beings, both personal and group, including the responsibilities of all religions or beliefs. Even so, it must be admitted that the topic of ecology and all its problems are lacking or not or even not getting attention as they should. Ecological topics tend to be distinguished, not or lacked attention by both churches and Christian theologians and reform theologians in particular with indications of a lack of Christian literature that addresses topics concerning ecology. There is no or lack of studies (seminars, lectures) on ecology both in the church environment, Christian institutions and theological colleges, besides that there is a misunderstanding which feels that ecology does not touch or come into contact with theology. This understanding appears in behavior that is not or less responsible for the environment (not friendly to the environment), for example by littering, spitting carelessly and so on. Permasalahan ekologis (lingkungan) merupakan tanggung jawab semua manusia baik bersifat pribadi maupun kelompok, termasuk di dalamnya tanggung jawab semua agama atau aliran kepercayaan. Meskipun demikian harus diakui bahwa topik ekologi dan semua permasalahannya kurang atau belum atau bahkan tidak mendapat perhatian sebagaimana seharusnya. Topik ekologi cenderung dianaktirikan, tidak atau kurang mendapat perhatian baik oleh gereja-gereja maupun para teolog Kristen dan teolog reform pada khususnya dengan indikasi kurangnya literatur-literatur Kristen yang membahas topik mengenai ekologi. Tidak ada atau kurangnya kajian-kajian (seminar, ceramah) mengenai ekologi baik di lingkungan gereja, lembaga-lembaga Kristen dan Sekolah Tinggi Teologi, selain itu adanya salah pengertian (misunderstanding) yang merasa bahwa ekologi tidak bersinggungan atau bersentuhan dengan teologi. Pemahaman ini nampak dalam perilaku yang tidak atau kurang bertanggung jawab terhadap lingkungan (tidak ramah terhadap lingkungan), misalnya dengan membuang sampah sembarangan, meludah sembarangan dan lain sebagainya.
Suryowati Wang
Excelsis Deo: Jurnal Teologi, Misiologi, dan Pendidikan, Volume 3, pp 99-122; doi:10.51730/ed.v3i1.8

Abstract:
Chinese Christianity faces a problem when the congregation begins to doubt the future and wants everything to be fast and instant without wanting to go through a process that feels long. This fact led Christians to turn to Shio's predictions which were nothing more than occult. This study of prediction based on Shio will try to prove that no one in the world can predict what can happen, because God himself plans and regulates everything. True Christianity relies its life on God, its fate is determined by faith and not divination. The history of Shio use in Chinese culture cannot be separated from the origin of its use as a means of making it easier to mark the year and season on the Chinese Luni-Solar calendar. This history and theology is needed for Chinese Christianity to be compatible with the gospel. Kekristenan umat Tionghoa menghadapi masalah ketika jemaat mulai ragu akan masa depan dan menginginkan segala sesuatu serba cepat dan instan tanpa ingin melewati proses yang dirasa lama. Kenyataan ini membawa orang-orang Kristen berpaling pada ramalan Shio yang tidak lebih dari okultisme. Penelitian akan ramalan berdasarkan Shio ini akan berusaha membuktikan bahwa tidak ada seorangpun di dunia ini yang dapat meramal apa yang dapat terjadi, karena Allah sendiri yang merencanakan dan mengatur segala sesuatu. Kristen sejati menyandarkan hidupnya kepada Allah, nasibnya ditentukan imannya dan bukan ramalan. Sejarah penggunaan Shio pada budaya Tionghoa tidak bisa terlepas dari asal mula pengunaannya sebagai sarana mempermudah menandai tahun dan musim pada kalender Luni-Solar bangsa China. Sejarah dan teologi ini yang diperlukan bagi Kekristenan Tionghoa agar berpadanan dengan Injil.
Page of 1
Articles per Page
by
Show export options
  Select all
Back to Top Top