Refine Search

New Search

Results in Journal An-Nisa' : Jurnal Kajian Perempuan dan Keislaman: 35

(searched for: journal_id:(6091894))
Page of 1
Articles per Page
by
Show export options
  Select all
Evi Muzaiyidah Bukhori
An-Nisa' : Jurnal Kajian Perempuan dan Keislaman, Volume 14, pp 43-57; doi:10.35719/annisa.v14i1.53

Abstract:
Tulisan ini dilatarbelakangi oleh keinginan kuat untuk mempublikasikan masterpiece seorang mufasir kontroversial dari Suriah yang menawarkan pembacaan baru terhadap Al-Qur’an bernama Muhammad Syahrur. Dalam tafsirnya terhadap Al-Qur’an, Syahrur telah mengundang berbagai polemik dan respon-respon yang tidak jarang bernada negatif. Syahrur bukanlah satu-satunya mufasir modern-kontemporer anti maenstreem, terdapat juga mufasir lain seperti Muhammad Arkoun. Namun menarik untuk dicatat adalah metodologi tafsir Al-Qur’an Syahrur gunakan untuk membaca isu-isu perempuan yang masih terus-menerus diperdebatan sampai hari ini yaitu isu poligami. Hasil tulisan ini adalah Pembacaan Syahrur terhadap Al-Qur’an sedikit banyak dipengaruhi oleh setting sosial di mana ia hidup. Terutama pergumulannya dengan dengan teman sekaligus guru bernama ‘’Ja’far Dakk al-Bab. Semenjak itu Syahrur mulai mendalami Al-Qur’an. Muhammad Syahrur memandang salah satu problem terbesar dalam penafsiran Al-Qur’an adalah problem aplikasi metodologi penafsiran. Konsep kunci pemikiaran Syahrur adalah teori tentang Hudud. Teori ini terutama dipakai untuk membaca persoalan-persoalan hukum yang terdapat dalam ajaran Islam khususnya isu poligami memiliki pemahaman yang unik dibandingkan dengan ulama-ulama terdahulu. This paper is motivated by a strong desire to publish a masterpiece of a controversial commentator from Syria who offers a new reading of the Qur'an named Muhammad Syahrur. In his commentary on the Qur'an, Syahrur has invited various polemics and responses that are often negative in tone. Shahrour is not the only modern-contemporary anti-maenstreem commentator, there are also other commentators such as Muham-mad Arkoun. However, it is interesting to note that the methodology of Al-Qur'an Syahrur exegesis uses to read women's issues which are still being debated to this day, namely the issue of polygamy. The result of this paper is that Syahrur recitation of the Al-Qur'an is more or less influenced by the social setting in which he lives. Especially his struggles with a friend and teacher named Ja'far Dakk al-Bab. Since then Syahrur began to study the Qur'an. Muhammad Syahrur sees that one of the biggest problems in the interpretation of the Qur'an is the problem of the application of the methodology of interpretation. The key concept of Syahrur ‘s thinking is the theory of Hudud. This theory is mainly used to read legal issues contained in Islamic teachings, especially the issue of polygamy, which has a unique understanding compared to previous scholars.
Nur Shofiyah, Masruchan Masruchan
An-Nisa' : Jurnal Kajian Perempuan dan Keislaman, Volume 14, pp 29-42; doi:10.35719/annisa.v14i1.44

Abstract:
Al-Qur’an sebagai kalamullah mengandung asas pengajaran karena mencakup ajaran-ajaran Islam yang menata kehidupan kaum muslimin dalam segala aspek di dunia dan akhirat. Pemahaman al-Qur’an terutama bagi anak harus dimulai sejak dini melalui kegiatan membaca dan menulis yang dilanjutkan dengan memahami ajaran agama Islam secara bertahap. Namun faktanya, sistem pembelajaran Al Qur’an terutama bagi anak usia dini masih monoton dan kurang menarik karena masih menerapkan paradigma pembelajaran yang berpusat pada pengajar. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan sistem pembelajaran al-Qur’an di lembaga Tahsin Qur’an Ka’Uqoy Private dengan jenis penelitian kualitatif deskriptif dan menggunakan teknik pengumpulan data observasi, wawancara, serta dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sistem pembelajaran al-Qur’an di lembaga Tahsin Qur’an Ka’Uqoy menerapkan paradigma konstruksionisme dengan hanya menggunakan satu peraga yaitu alat indera melalui ragam interaksi dengan lingkungan sekitarnya seperti melihat, mendengar, menyentuh, dan merasakannya. Melalui pengaktifan indrawi, seorang anak bisa membangun gambaran dalam dunia belajarnya. Lembaga ini telah mencetak pengajar yang mampu mengajarkan Al-Qur’an dengan mudah untuk difahami terutama bagi anak usia dini dengan cara ikut terlibat langsung dalam mencerna, mengolah, mengalami, memahami, merasakan dan mempraktikkan isi kandungan Al-Qur’an dengan fun learning sehingga para anak usia dini lebih mudah dalam menangkap ilmu Al-Qur’an dan menerimanya dengan senang hati. Al-Qur'an as kalamullah contains teaching principles because it includes Islamic teachings that organize the lives of Muslims in all aspects. Understanding the Qur'an, especially for children, must start early through reading and writing activities which are continued by gradually understanding the teachings of Islam. However, the fact is that the learning system of the Qur'an, especially for early childhood, is still monotonous and less interesting because it still applies a teacher-centered learning paradigm. This study aims to describe the al-Qur'an learning system in the Tahsin Qur'an ka'Uqoy Private institution with a descriptive qualitative research that uses some data collection techniques. The results showed that the al-Qur'an learning system in the tahsin Qur'an ka'Uqoy institution applies the constructionism paradigm by using only an instrument namely the senses through various interactions with the surrounding environment such as seeing, hearing, touching, and feeling it. Through sensory activation, a child can build a picture in the world of learning. This institution has produced teachers who are able to teach the Qur'an easily to be understood, especially for early childhood by being directly involved in digesting, processing, experiencing, understanding, tasting and practicing the contents of the Al- The Qur'an with fun learning so that early childhood can more easily grasp the knowledge of the Qur'an.
M Mohsi, Moh Mujibur Rohman, Miftahul Ulum
An-Nisa' : Jurnal Kajian Perempuan dan Keislaman, Volume 14, pp 74-87; doi:10.35719/annisa.v14i1.56

Abstract:
Nikah bawah tangan menjadi isu krusial dalam hukum Islam kekinian. Sadd al-dzarī‘ah merupakan salah satu bentuk metode ijtihad yang yang dapat digunakan sebagai landasan istimbath al-hukm (pengambilan hukum). Secara istilah sadd al-dzarī‘ah merupakan pembahasan seputar upaya untuk menghalangi dan memblokade semua akses dan kemungkinan dari suatu perbuatan tertentu yang pada dasarnya diperbolehkan maupun dilarang untuk mencegah terjadinya segala jenis kerusakan dan kemudaratan. Teori pencegahan ini sering disebut sebagai langkah preventif dalam meminimalisir atau bahkan menutup jalan terjadinya kemudaratan suatu perbuatan. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif, dengan studi pustaka. penelitian pustaka mengacu kepada literatur-literatur sebagai basic of anlisis atas topik yang dijadikan obyek penelitian. Salah satu bentuk langkah preventif pemerintah Indonesia dalam bidang hukum perkawinan adalah menjamin ketertiban dalam sebuah perkawinan melalui undang-undang pencatatan perkawinan, sebagaimana pasal 5 ayat (1) Kompilasi Hukum Islam (KHI) yang berbunyi “Agar terjamin ketertiban perkawinan bagi masyarakat islam setiap perkawinan harus dicatat”. Langkah ini bertujuan membentuk keadilan gender, agar diskriminasi terhadap kaum perempuan dalam praktik perkawinan tidak lagi terjadi. Underhand marriage is a crucial issue in contemporary Islamic law. Sadd al-dzarī'ah is a form of the ijtihad method which can be used as a basis for istimbath al-hukm. In terms of sadd al-dzarī'ah, it is a discussion about efforts to block and block all access and the possibility of a certain act which is basically allowed or prohibited to prevent all kinds of damage and damage. This theory of prevention is often referred to as a preventive step in minimizing or even blocking the path for the occurrence of an act of oblivion. This research uses a qualitative approach, with literature study. literature research refers to the literature as the basic of analysis on the topic which is the object of research. One form of preventive measures taken by the Indonesian government in the field of marriage law is to guarantee order in a marriage through the marriage registration law, as in Article 5 paragraph (1) Islamic Law Compilation (KHI) which reads "In order to ensure orderliness of marriage for the Islamic community every marriage must noted ”. This step aims to establish gender justice, so that discrimination against women in the practice of marriage no longer occurs.
Muhammad Ulul Albab
An-Nisa' : Jurnal Kajian Perempuan dan Keislaman, Volume 14, pp 21-28; doi:10.35719/annisa.v14i1.42

Abstract:
Artikel ini membahas tentang peran orientalis dalam memandang hadits Nabi Muhammad SAW dengan kacamata mereka. Maksud dan tujuan orientalis tentu mempunyai misi khusus dalam menggoyahkan pegangan umat Islam, yaitu hadits. Sosok orientalis seringkali menganggap rendah ajaran Islam lantaran dari sifat kebenciannya yang merupakan warisan akibat kekalahan di pihak Kristen dalam perang salib. Sehingga muncul nama-nama orientalis dengan mentalitas tinggi dalam memerangi Islam. Salah satunya adalah Ignaz Goldziher dan Joseph Schacht yang aktif dalam mengkritik hadits. Keduanya mempunyai koneksitas dalam dalam mempunyai pandangan sama terkait otentitas hadits. Sehingga perlu tinjauan ulang arah kritik mereka untuk bisa menemukan analisa diskriptif dalam membantahnya. Oleh karenanya, kedua tokoh orientalis tersebut mempunyai hubungan erat dalam pandangannya terhadap hadits, sehingga kita sebagai Muslim tentu mempunyai kewajiban dalam memperjelas terkait otentitas hadits dan ilmu sanad yang benar. This article discusses the role of orientalists in looking at the hadith of the Prophet Muhammad SAW with their views. Orientalist purposes and objectives certainly have a special mission in shaking the grip of Muslims, namely hadith. Orientalist figures often consider the teachings of Islam because of the nature of his hatred which is a legacy of defeat on the war of Christian side. So came the names of orientalists with a high mentality in the fight against Islam. One of them is Ignaz Goldziher and Joseph Schacht who are active in criticizing hadiths. Both have deep connections in having the same view regarding the authenticity of hadith. So it is necessary to review the direction of their criticism to be able to find a descriptive analysis in refusing it. Therefore, the two orientalist figures have a close relationship in his view of the hadith, so that we as Muslims certainly have an obligation in clarifying the authenticity of hadith and the science correct of sanad.
Muh Gufron Hidayatullah, Syamsul Huda
An-Nisa' : Jurnal Kajian Perempuan dan Keislaman, Volume 14, pp 01-20; doi:10.35719/annisa.v14i1.40

Abstract:
Trem Al-Hidayah memiliki multi interpretasi yang berhubungan dengan jalan kehidupan (Sabil al-Hayat). Setiap insan diseru untuk menjalankan kehidupannya setakar dengan tolok ukur aturan Allah SWT (hududullah). Ia juga di haruskan untuk selalu mengikuti aturan individu, berkeluarga dan bermasyarakat (ijtimaiyyah). Bertolak dari itu semua, memahami petunjuk tuhan (al-Hidayah mina Allah) merupakan kebutuhan manusia yang subtansial. Agar didalam menjalankan kehidupannya baik yang sifatnya horizontal (hamblum minannas) atau vertikal (hamblum minallah) sesuai dengan Iradtullah. Eksplorasi ini bermaksud untuk memahami bagaimana syaikh al-Shawi dalam menafsirkan ayat-ayat al-Hidayah dalam kitabnya Tasfsir Hasiyah Shawi. Penelitian ini memakai metode kualitatif dengan model penelitian (al-Dirasah al-Maudluiyyah) yang tekanannya pada pendalaman pemahaman topic ayat-ayat al-Hidayah, kemudian mengunakan tehnik Content Analisys yaitu menganalisis hasil makna ayat-ayat al-Hidayah hasil tafsiran Syaikh al-Shawi dan analisis historis atau teori asbab al-Nuzul yaitu uaraian sejarah sebab-sebab turunnya ayat al-Qur’an. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa al-Hidayah bukanlah keberhasilan seseorang dalam menjalankan kehidupan, sebagaimana anggapan banyak orang akan tetapi al-Hidayah adalah petunjuk tuhan baik berupa al-Qur’an atau Sunnah beserta interpretasinya meskipun orang tersebut belum mengikuti petunjuk-Nya. The tram of Al-Hidayah is subject to multiple interpretations that intertwine with the pathway of life (Sabil al-Hayat). Every soul is commanded to conduct their life adhering to the etiquette arranged by Allah SWT (hududullah). One is also obligated to always follow the etiquette whether as an individual, in a family, and in a society (ijtimaiyyah). Following that, understanding the messages from God (al-Hidayah mina Allah) has then become a crucial necessity for one. In order to live a good life, be it in accordance to the Earth and everything within (hamblum minannas), or in accordance to God (hamblum minallah) entwined with Iradtullah. This exploration is meant to gain understanding on how Syaikh al-Shawi interpreted the passages of al-Hidayah in his book, Tasfsir Hasiyah Shawi. This research used the qualitative method with a research model (al-Dirasah al-Maudluiyyah) that emphasizes on deepening the understanding of the topics in al-Hidayah passages. Content analysis was then used to analyze the meaning of al-Hidayah passages according to Syaikh al-Shawi’s interpretation, and a historical analysis or the theory of asbab al-Nuzul, which is the chronological backstory to every passage of Al-Qur’an that has been passed down to the humankind. The result of this research showed that al-Hidayah is not about someone’s success in living their life as many have assumed, instead al-Hidayah is a direction from God in the form of both al-Qur’an and as-Sunnah along with its interpretations, even if one might have not yet followed His guidance.
Nani Widiawati, Nurkhopipah Nurkhopipah
An-Nisa' : Jurnal Kajian Perempuan dan Keislaman, Volume 14, pp 88-107; doi:10.35719/annisa.v14i1.58

Abstract:
Sinetron Dunia Terbalik yang mengungkap pertukaran peran gender dalam masyarakat merupakan fenomena yang menarik untuk dianalisis. Tulisan difokuskan untuk menemukan problem gender dalam sinetron Dunia Terbalik, prinsip-prinsip kesetaraan gender dalam perspektif Nasaruddin Umar, dan interpretasi gender dalam sinetron Dunia Terbalik berdasarkan pemikiran Nasaruddin Umar. Untuk itu, digunakan penelitian kualitatif dengan metode analisis isi terhadap sinetron tersebut sampai 150 episode versi youtube. Hasil penelitian menunjukkan bahwa problem gender dalam sinetron Dunia Terbalik adalah mengungkap pertukaran peran gender antara laki-laki dengan perempuan. Berdasarkan prinsip-prinsip kesetaraan gender menurut Nasaruddin Umar, dapat diinterpretasi bahwa persoalan pertukaran gender bukan hal esensial sebab, dalam pandangan Islam, laki-laki dan perempuan sama-sama sebagai hamba Allah, khalifah di bumi, menerima perjanjian primordial di mana Adam dan Hawa terlibat secara aktif dalam drama kosmis sehingga keduanya berpotensi meraih prestasi. Temuan ini sesungguhnya membuka ruang evaluasi bagi penggagasnya untuk membuka wawasan masyarakat dalam memahami persoalan gender sehingga makna pesan yang disampaikan tidak menjadi kontradiksi. The soap opera Dunia Terbalik, which reveals the exchange of gender roles in society, is an interesting phenomenon to analyze. The writing is focused on finding gender problems in the soap opera Dunia Terbalik, the principles of gender equality in the perspective of Nasaruddin Umar, and the interpretation of gender in the soap opera Dunia Terbalik based on the thoughts of Nasaruddin Umar. For this reason, qualitative research is used with the content analysis method to these soap operas up to 150 episodes of the YouTube version. The results showed that the gender problem in the soap opera Dunia Terbalik is to reveal the exchange of gender roles between men and women. Based on the principles of gender equality according to Nasaruddin Umar, it can be interpreted that the issue of gender exchange is not essential because, in the view of Islam, men and women are both servants of Allah, caliphs on earth, accepting the primordial agreement in which Adam and Eve were involved actively in the cosmic drama so that both of them have the potential for achievement. These findings actually open up an evaluation space for the initiators to open people's insights in understanding gender issues so that the meaning of the messages conveyed does not become a contradiction.
Nurul Sa'Adah, Abdulloh Dardum
An-Nisa' : Jurnal Kajian Perempuan dan Keislaman, Volume 14, pp 29-45; doi:10.35719/annisa.v14i1.54

Abstract:
Salah satu bentuk penjagaan Allah Swt terhadap ayat-ayatnya (al-Qur’an) adalah dengan banyaknya umat Islam yang menghafalkan al-Qur’an. Tradisi menghafal ini bahkan sudah ada sejak masa Nabi Saw dan dan para shahabat. Ketika wahyu diturunkan, disamping ditulis, Nabi Saw dan para shahabat juga berupaya untuk langsung menghafalkannya. Tradisi menghafal ayat-ayat al-Qur’an ini terus berlangsung hingga saat ini. Karena itu banyak berdiri lembaga yang fokus pada tahfidz al-Qur’an, baik itu berupa yayasan, pesantren, dan sebagainya dengan metodenya masing-masing. Bahkan ada juga lembaga tahfidz yang dikhususkan untuk mencetak para huffadz dari kalangan anak-anak usia dini. Tentu saja bukan perkara mudah untuk mengajar bahkan mencetak anak-anak usia dini menjadi penghafal al-Qur’an. Dalam konteks inilah kajian living qur’an ini ingin mengungkap bagaimana metode yang digunakan oleh Sekolah Tahfidz Anak Usia Dini Shahabat Qur’an (TAUD SAQU) Jember dalam pembelajaran al-Qur’an untuk anak usia dini. Instrumen pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah wawancara, observasi dan dokumentasi. Data yang didapatkan selanjutnya dianalisa, kemudian dilakukan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada 3 metode yang digunakan dalam pembelajaran al-Qur’an di TAUD SAQU Jember, yaitu; 1) Metode Tarbiyah, Metode Tahajji dan Metode Tahfidz. The tradition of memorizing the Koran (Alquran) has existed since the time of the Prophet and friends. This tradition continues to this day. Because of that, there are many institutions that focus on the tahfidz of the Koran, both in the form of foundations, Islamic boarding schools, and so on with their respective methods. There is even a tahfidz institute which is devoted to producing huffadz from young children. Of course, it is not an easy matter to teach and even print young children to memorize the Koran. It is in this context that this study of living quran wants to reveal how the methods used by the Tahfidz Early Childhood School of Sahabat Qur'an (TAUD SAQU) Jember in learning the Koran for early childhood. The method used in this study is a qualitative method, while the data sources were obtained from interviews, observation, and documentation. The data obtained is then analyzed, then conclusions are drawn. The results showed that there were 3 methods used in learning the Koran at TAUD SAQU Jember: 1) Tarbiyah method, which is religious material taught to children which includes morning dhikr, prayers, asmaul husna, hadis, tauhid, and so on . 2) Tahajji method, which is material on how to learn and spell hijaiyah letters and 3) Tahfiz method, which is memorizing the Koran by using TTM (Talaqqi-Tasmi'-Murāja'ah).
Muhammad Munir, Dwi Putri Robiatul Adawiyah
An-Nisa' : Jurnal Kajian Perempuan dan Keislaman, Volume 13, pp 254-285; doi:10.35719/annisa.v13i2.33

Abstract:
Extreme work was done by Muslim women, their courage in doing slicing the bark of rubber tree to get the latex (noreh) alone in the middle of the night located in the forest.This work really made the researchers amazed.It was interesting to be adopted by all women moslem that they can learnin and understand the life of a Muslim woman that happened in the village clearly. The method of the study uses descriptive qualitative research and the approach is Phenomenology Study, using data collection methods: interviews, observation and documentation, which include Muslim women, rubber workers, and including the people in the village. The location of this study is in the district of Kaula Mandor B, Kuburaya Regency by snowball regardingMuslim women plays an important role in family such as parenting children, obeying their husbands and their parents. While in data analysis, researchers would analyze, explore data. Data analysis is directed at research questions, data reduction, and synthesis. Triangulation and extension of participation is used as checking the validity of the data. The results of this study are the role of Muslim women, the courage of Muslim women, the upbringing of Muslim women, and self-portraits of Muslim women in Islam. Pekerjaan yang ekstrim yang dilakukan oleh wanita muslimah, keberanian mereka dalam melakukan pekerjaan melukai pohon karet untuk mendapatkan getahnya (noreh) sendirian di tengah malam yang berlokasi di hutan, pekerjaan ini sangat membuat peneliti kagum sehingga menarik untuk di angkat dalam sebuah penelitian ini agar semua wanita muslimah memahami begitu berat kehidupan seorang muslimah yang terjadi di desa tersebut. Metode penelitian ini menggunakan jenis penelitian kualitatif deskriptif dan pendekatannya Studi Fenomenologi, dengan menggunakan metode pengumpulan data: wawancara, observasi dan dokumentasi, yang meliputi wanita muslimah, wanita pekerja karet, serta termasuk masyarakat yang ada di desa tersebut. Adapun lokasi penelitian ini bertempat di kecamatan Kaula Mandor B Kabupaten Kuburaya dengan cara snowball. Dengan pertimbangan wanita muslimah berperan penting dalam berkeluarga seperti pola asuh anak, taat kepada suami dan kepada orang tuanya. Sedangkan dalam analisis data peneliti akan menganalisis, mengeksplorasi data. analisis data diarahkan pada pertanyaan penelitian, reduksi data, sintesisasi. Triangulasi dan perpanjangan keikutsertaan sebagai pengecekan keabsahan data. Hasil dari penelitian ini ialah Peran Wanita Muslimah, Keberanian Wanita Muslimah, Pola Asuh Anak Wanita Muslimah, Potret diri wanita muslimah dalam Islam
Ade Kartini, Asep Maulana
An-Nisa' : Jurnal Kajian Perempuan dan Keislaman, Volume 13, pp 231-253; doi:10.35719/annisa.v13i2.32

Abstract:
Cultivating character in children is highly recommended to be formed from an early age. Because early childhood is a critical period that will determine children's attitudes and behavior in the future. Parents need to instill moral values as the basis of religious norms and social norms adhered to by the family. Parents' upbringing for their children determines and influences the child's personality and behavior. Children will be good or not all depending on the parenting style of the parents in the family. Thus, a comprehensive character education model in the family is very necessary and important to understand and actualize. This library research is conducted through documentation study and qualitative data analysis. The findings of the research state that character education that has high values must be designed in an educational model. Goal setting is the first thing to do. These goals will guide where this program is directed. To fulfill this, a character education development model in the family is made through several relevant approaches, methods and strategies.and women so that they can change according to different times. gender that has been outlined by nature. Penanaman karakter pada anak sangat dianjurkan untuk dibentuk sejak dini. Karena usia dini merupakan masa kritis yang akan menentukan sikap dan perilaku anak di masa yang akan datang. Orang tua perlu menanamkan nilai-nilai moral sebagai dasar dari norma agama dan norma sosial yang dianut oleh keluarga. Pola asuh orang tua terhadap anak-anaknya sangat menentukan dan memengaruhi kepribadian serta perilaku anak. Anak akan menjadi baik atau tidak semua tergantung dari pola asuh orang tua dalam keluarga. Dengan demikian model pendidikan karakter dalam keluarga yang komprehensif sangat diperlukan dan penting untuk dipahami dan dapat diaktualisasikan. Penelitian kepustakaan ini dilakukan melalui studi dokumentasi dan analisis data kualitatif. Temuan hasil penelitian menyatakan bahwa pendidikan karakter yang mempunyai nilai yang luhur haruslah dirancang dalam sebuah model pendidikan. Penetapan tujuan adalah hal pertama yang harus dilakukan. Tujuan ini akan menuntun program ke arah yang diinginkan. Untuk memenuhi hal tersebut dibuatlah sebuah model pengembangan pendidikan karakter dalam keluarga melalui beberapa pendekatan, metode, dan strategi yang relevan.
Sinta Yulis Pratiwi, Titi Andari Ratih
An-Nisa' : Jurnal Kajian Perempuan dan Keislaman, Volume 13, pp 286-312; doi:10.35719/annisa.v13i2.34

Abstract:
Baban Tengah Hamlet, Mulyorejo Village, Silo District is a unique village. However, in its uniqueness there are several problems. Seen in the educational aspect, elementary school institutions are very important because the first foundation of children is to become the nation's next generation. However, along with the development of the children experience moral degradation. As in Baban Tengah hamlet, there are minors who have committed criminal acts by drinking alcohol and smoking. This is of course a problem in the world of education. From this, it is necessary to preserve culture and habituation of positive activities in order to form and enhance student character with various formal, informal and non-formal learning processes. This research use desciptive qualitative approach. As for the collection of data and information in this study using observation techniques, interview documentation and triangulation. The results of this study indicate the concept of local traditions, the results of local traditions, supporting and inhibiting factors in improving the character of students. Dusun Baban Tengah Desa Mulyorejo Kecamatan Silo merupakan desa yang unik. namun di dalam keunikannya terdapat beberapa permasalahan.Terlihat pada aspek pendidikan, lembaga sekolah dasar menjadi sangat penting karena pondasi pertama anak menjadi generasi penerus bangsa. Akan tetapi seiring berkembangnya zaman anak mengalami degradasi moral. Seperti halnya di dusun Baban Tengah terdapat anak di bawah umur sudah melakukan tindakan kriminal dengan meminum-minuman keras dan merokok. Hal ini tentu menjadi permasalahan dalam dunia pendidikan. Dari hal tersebut diperlukan pelestarian budaya dan pembiasaan aktivitas positif guna pembentukan dan meniingkatkan karakter siswa dengan berbagai proses pembelajaran formal, informal maupun non formal. Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif. Adapun dalam pengumpulan data dan informasi dalam penelitian ini menggunakan teknik observasi, wawancara dokumentasi dan triangulasi. Hasil penelitian ini menunjukkan konsep tradisi lokal, hasil tradisi lokal, faktor pendukung dan penghambat dalam meningkatkan karakter peserta didik.
St. Rodliyah
An-Nisa' : Jurnal Kajian Perempuan dan Keislaman, Volume 13, pp 333-355; doi:10.35719/annisa.v13i2.36

Abstract:
Religion is the most important and main element in human life, more than that religion is a universal need. Because the rules contained therein contain very high values for human life and these norms are divine norms that reached humans through divine revelation to the Prophet and his Messenger, which embodied the command (amr) prohibition (nahi), and merit (ibahah). This means that if humans understand well, then want to practice as far as the content of the religious teachings, then surely they are a good ummah, in other words they will not harm or offend others and of course will have good morals too. We feel concerned and worried seeing life in this sophisticated and modern era of globalization. Society the higher the intellectual level, but, strangely in terms of behavior (morality) is decreasing. We often see on television and various mass media, there are kindergarten and elementary school children experiencing severe depression due to violence in the family. The impact is that the child chooses to end his life by committing suicide. Therefore, start equipping our children from an early age with education based on religious concepts as a foundation, as strong roots to serve as guidelines so that later our children become human beings who are able to develop all their potential properly and are ready to face everything. challenge. If we choose the wrong educational institution and provide the foundation for education, it will certainly give birth to a generation that has a mental crisis that will lead to the destruction of the nation. Agama merupakan unsur yang paling penting dan utama dalam kehidupan manusia, lebih dari itu agama merupakan kebutuhan yang universal. Karena kaidah-kaidah yang terkandung di dalamnya mengandung nilai-nilai yang sangat tinggi bagi kehidupan manusia dan kaidah-kaidah tersebut merupakan norma-norma ketuhanan yang sampai kepada manusia melalui wahyu Ilahiyah kepada Nabi dan Rasulnya, yang mewujudkan perintah (amr) larangan (nahi), dan kebolehan (ibahah). Hal ini berarti jika manusia memahami dengan baik, kemudian mau mengamalkan sejauh isi ajaran agama tersebut, maka pastilah mereka ummat yang baik dengan kata lain mereka tidak akan merugikan atau menyinggung perasaan orang lain dan sudah barang tentu akan memiliki moral yang baik juga. Kita merasa prihatin dan khawatir melihat kehidupan di era globalisasi yang serba canggih dan modern ini. Masyarakat semakin tinggi tingkat intelektualnya, Tetapi, anehnya dari segi perilaku (moralitas) semakin menurun. Sering kita menyaksikan di tayangan televisi dan berbagai media massa, ada anak usia taman kanak-kanak dan SD mengalami depresi cukup berat akibat kekerasan dalam keluarga. Dampaknya si anak memilih mengakhiri hidupnya dengan cara bunuh diri. Oleh karena itu, mulailah membekali anak-anak kita sejak dini dengan pendidikan yang berlandaskan konsep-konsep agama sebagai fondasi, sebagai akar yang kuat untuk dijadikan pedoman agar kelak anak-anak kita menjadi manusia yang mampu mengembangkan seluruh potensi dirinya dengan baik dan siap menghadapi segala tantangan. Apabila kita salah memilih lembaga pendidikan dan salah memberikan landasan pendidikan, maka sudah pasti akan melahirkan generasi yang memiliki krisis mentalitas yang akan mengakibatkan kehancuran bangsa.
Erfan Efendi
An-Nisa' : Jurnal Kajian Perempuan dan Keislaman, Volume 13, pp 313-332; doi:10.35719/annisa.v13i2.35

Abstract:
Gender socialization in pesantren is a top priority because gender construction in pesantren is very dependent on how gender identity is also formed through how strong the socialization process is. The identity formed in the pesantren will then become a reference for the students to socialize or interact with the environment outside the pesantren. From that, the issue of gender or equal partnerships between men and women, which was previously known as the increase in the position of the role of women in Islam, has increasingly attracted a lot of progress and success. There are two orientations in socializing gender in pesantren, namely: first, strengthening the normativity of gender roles . This role is performed by most of the kyai, nyai, and teachers. Second, prioritizing gender role textuality. This motive is carried out by a small number of madrasah teachers and badal kyai and nyai when conducting recitation at the pesantren. The problem is the focus of this research discussion. First, what is the role of kyai and nyai leadership in gender socialization at the Wahid Hasyim Islamic boarding school, Sleman Yogyakarta. Second, how to implement gender criteria in the regulations of the Wahid Hasyim Sleman Yogyakarta Islamic boarding school. Third, how is the implementation of the santri behavior of the Wahid Hasyim Sleman Yogyakarta Islamic boarding school. Sosialisasi gender di pesantren menjadi prioritas utama sebab konstruksi gender yang ada di pesantren sangat bergantung pada bagaimana identitas gender juga dibentuk melalui seberapa kuat proses sosialisasinya. Identitas yang terbentuk di pesantren selanjutnya akan menjadi acuan para santri untuk bermasyarakat ataupun berinteraksi dengan lingkungan di luar pesantren. Dari itu, persoalan gender atau kemitra sejajaran antara laki-laki dan perempuan yang sebelumnya dikenal dengan peningkatan kedudukan peran perempuan dalam Islam semakin menarik banyak kemajuan dan keberhasilan.Terdapat dua orientasi dalam mensosialisasikan gender di pesantren, yaitu: pertama, menguatkan normativitas peran-peran gender. Peran ini dilakukan oleh sebagian besar para kyai, nyai, dan guru. Kedua, mengedepankan tekstualitas peran gender. Motif ini dilakukan oleh sebagian kecil guru madrasah dan badal kyai serta nyai ketika melakukan pengajian di pesantren. Adapun problem yang menjadi fokus pembahasan penelitian ini. Pertama, Bagaiman peran kepemimpinan kyai dan nyai dalam sosialisasi gender di pesantren Wahid Hasyim Sleman Yogyakarta. Kedua, Bagaimana implementasi kesteraan gender dalam peraturan pesantren Wahid Hasyim Sleman Yogyakarta. Ketiga, bagaimana implementasi pada perilaku santri pesantren Wahid Hasyim Sleman Yogyakarta.
Husnul Khotimah, Ainul Churria Almalachim
An-Nisa' : Jurnal Kajian Perempuan dan Keislaman, Volume 13, pp 196-211; doi:10.35719/annisa.v13i2.30

Abstract:
Economic well being or a livelihood in the family can be a trigger to realize the family mandate of sakinah, mawaddah and rahmah. This can be achieved with an established education, age and occupation. Living is a logical consequence of marriage, where it is the husband's obligation to his wife, so that if the husband does not provide a proper living for the wife, then it is not uncommon for couples to experience tempestuous relationships continuously until it leads to divorce. Divorce from the background aspect is seen as an alternative solution in overcoming unresolved household problems, so divorce must be for strong and clear reasons, and only in circumstances that can endanger the husband and wife only divorce is permitted by Religion. Kesejahteraan ekonomi atau nafkah dalam keluarga bisa menjadi pemantik untuk mewujudkan mandat keluarga yaitu sakinah, mawaddah dan rahmah. Hal demikian bisa tercapai dengan mapannya pendidikan, usia dan pekerjaan. Nafkah merupakan konsekuensi logis pernikahan, dimana hal tersebut merupakan kewajiban suami terhadap istri, sehingga jika suami tidak memberikan nafkah yang layak kepada istri, maka tidak jarang relasi pasangan akan mengalami prahara secara terus menerus hingga berujung pada perceraian. Perceraian dari aspek yang melatar belakanginya dipandang sebagai solusi alternatif dalam mengatasi permasalahan rumah tangga yang tidak terselesaikan, sehingga terjadinya perceraian harus dengan alasan-alasan yang kuat dan jelas, dan hanya dalam keadaan yang dapat membahayakan suami dan istri sajalah perceraian diperbolehkan oleh Agama.
Mahrus Mahrus
An-Nisa' : Jurnal Kajian Perempuan dan Keislaman, Volume 13, pp 212-230; doi:10.35719/annisa.v13i2.31

Abstract:
The problems will be examined in this study are: (1) How understanding the basic concept of the character of early childhood education in boarding school PAUD Al-Barokah, Ajung ? (2) How is implementation of learning methods of early childhood character education in PAUD Al Barokah Boarding School? (3) How to faced constraints in the process of implementation of character education in PAUD Al Barokah boarding school, Ajung.? This Research to know (1) Understanding the basic concept of the character of early childhood education in boarding school PAUD Al-Barokah, Ajung (2) Implementation of learning methods of early childhood character education in PAUD Al Barokah Boarding School (3) Faced constraints in the process of implementation of character education in PAUD Al Barokah boarding school, Ajung. This research was exploratory, qualitative method using the method of data collection by using the observation method, interview and documentation. And analyzed using the descriptive method, preparation of requirement and the validity of the data. Based in the presentation and analysis of data in general it can be concluded that (1) understanding of the basic concepts of early childhood character education in PAUD Al Barokah boarding school are quite diverse, (2) Implementation of learning methods of early childhood character education by using several methods, such as using Conditioning methods, Example, story, field trip and demonstration, (3) As for the barriers are is the language, the number of teachers, APE and textbooks. Permasalahan yang akan dikaji dalam penelitian ini adalah : (1)Bagaimana pemahaman konsep dasar pendidikan karakter anak usia dini di PAUD Pondok Pesantren Al Barokah Kecamatan Ajung, (2) Bagaimana inplementasi metode pembelajaran pendidikan karakter anak usia dini di PAUD Pondok Pesantren Al Barokah Kecamatan Ajung, (3) Bagaimana kendala-kendala yang dihadapi dalam menginplementasi metode pembelajaran pendidikan karakter di PAUD Pondok Pesantren Al Barokah Kecamatan Ajung. Adapun penelitian ini menggunakan metode kualitatif eksploratif, metode pengumpulan data dengan menggunakan metode abservasi, interview, dan dokumentasi. Dan dianalisis dengan menggunakan metode diskriptif, penyususnan katagori dan validitas data. Berdasarkan penyajian dan analisis data secara umum dapat disimpulkan bahwa (1) Pemahaman Konsep Dasar Pendidikan Karakter Anak Usia Dini di PAUD Pondok Pesantren Al Barokah Kecamatan Ajung cukup beragam,(2) Implementasi Metode Pembelajaran Pendidikan Karakter Anak Usia Dini dengan menggunakan beberapa metode, diantaranya adalah dengan menggunakan Metode Pembiasaan, Keteladanan, Kisah, Karyawisata dan demontrasi, (3) Adapun kendalanya adalah bahasa, jumlah tenaga pengajar, APE dan buku pelajaran.
Muhamad Nuril Huda
An-Nisa' : Jurnal Kajian Perempuan dan Keislaman, Volume 13, pp 69-115; doi:10.35719/annisa.v13i1.25

Abstract:
Teacher professionalism is something that cannot be negotiated, including for a fiqh teacher. Because the professionalism of a teacher plays a very dominant role, even though the sophistication of technology is very, very impressive. There are still too many human elements such as attitudes, value systems, feelings, motivation, habits, etc. which are expected to be the result of the learning process. A good religious attitude is one of the hopes that results from a fiqh study. And only fiqh learning managed by a professional fiqh teacher has implications for the formation of students' religious attitudes. Professional fiqh teachers are able to create a dynamic and democratic learning atmosphere, and will have implications for students' religious attitudes in the form of; first, the students will understand what they do and at the same time understand what other people who are different from it have been practicing, Second, the level of student obedience in carrying out religious rites is getting better, Third, the more students have more confidence in the truth of their religion, Fourth, the students' commitment to godliness is getting better. good, and Fifth, embedded tolerance towards all differences. Profesionalisme guru adalah suatu hal yang tidak dapat ditawar-tawar lagi, termasuk bagi seorang guru fiqih. Karena keprofesionalan seorang guru memegang peranan yang sangat dominan, meskipun kecanggihan tehnologi sudah amat sangat mengagumkan. Masih terlalu banyak unsur-unsur manusiawi seperti sikap, sistem nilai, perasaan, motivasi, kebiasaan, dan lain-lain yang diharapkan menjadi hasil dari proses pembelajaran. Sikap keberagamaan yang baik adalah salah satu harapan yang dihasilkan dari sebuah pembelajaran fiqih. Dan hanya pembelajaran fiqih yang dikelola oleh seorang guru fiqih profesional yang memungkinkan berimplikasi pada pembentukan sikap keberagamaan siswa. Guru fiqih yang profesional mampu menciptakan suasana pembelajaran yang dinamis dan demokratis, dan akan berimplikasi terhadap sikap keberagamaan siswa berupa; pertama siswa akan memahami apa yang diamalkan sekaligus memahami apa yang selama ini diamalkan orang lain yang berbeda dengannya, Kedua, tingkat kepatuhan siswa dalam menjalankan ritus-ritus agama semakin baik, Ketiga, semakin tambah keyakinan siswa terhadap kebenaran agamanya, Keempat, komitmen kebertuhanan siswa semakin baik, dan Kelima, tertanam sikap toleransi terhadap segala perbedaan..
Leny Marinda
An-Nisa' : Jurnal Kajian Perempuan dan Keislaman, Volume 13, pp 116-152; doi:10.35719/annisa.v13i1.26

Abstract:
Cognitive development is a change processes of human life in understanding, managing information, solving problems and knowing something. Jean Piaget is one of a figures studied cognitive development and said about cognitive development steps. Jean Piaget is also a biologist who links the physical maturity development with cognitive development steps. These steps are the motoric sensory step (0–2 years), pre-operational (2-7 years), concrete operations (7–11 years) and formal operations (11–15 years). In understanding the world actively, a child uses a scheme, assimilation, accommodation, organization and equilibration. A child's knowledge formed gradually in line with the information experience found. According to Piaget, children undergo a definite sequence of cognitive development steps. In this theory, children predicted to have maturity quantity and quality based on the steps passed. a step of cognitive development is a continuation of previous cognitive development. Cognitive problems arise in elementary school children viewed from Piaget's cognitive development theory including dyslexia, dysgraphia and dyscalculia. Perkembangan kognitif adalah tahapan-tahapan perubahan yang terjadi dalam rentang kehidupan manusia untuk memahami, mengolah informasi, memecahkan masalah dan mengetahui sesuatu. Jean Piaget adalah salah satu tokoh yang meneliti tentang perkembangan kognitif dan mengemukakan tahapan-tahapan perkembangan kognitif. Jean Piaget yang juga ahli Biologi menghubungkan tahapan perkembangan kematangan fisik dengan tahapan perkembangan kognitif. Tahapan-tahapan tersebut adalah tahap sensory motorik (0–2 tahun), pra-operasional (2–7 tahun), operasional konkret (7–11 tahun) dan operasional formal (11–15 tahun). Dalam memahami dunia secara aktif, anak menggunakan skema, asimilasi, akomodasi, organisasi dan equilibrasi. Pengetahuan anak terbentuk secara berangsur sejalan dengan pengalaman tentang informasi-informasi yang ditemui. Menurut Piaget, anak menjalani urutan yang sudah pasti dari tahap-tahap perkembangan kognitif. Pada teori ini, anak diprediksi memiliki kematangan secara kuantitas maupun kualitas berdasarkan tahapan-tahapan yang dilaluinya. Perkembangan kognitif pada satu tahap merupakan lanjutan dari perkembangan kognitif tahap sebelumnya. Problem kognitif yang muncul pada anak usia sekolah dasar dilihat dari teori perkembangan kognitif ala Piaget diantaranya disleksia, disgrafia dan diskalkulia.
Heni Listiana
An-Nisa' : Jurnal Kajian Perempuan dan Keislaman, Volume 13, pp 40-68; doi:10.35719/annisa.v13i1.24

Abstract:
Discussions about children and female migrant workers (TKW) are always in interesting issue. Especially, related to child care. By using data extraction techniques such as observation, interviews, and documentation, it is known that parenting children of migrant workers in Madura has formed a new structure with the emergence of a second mother. There are three types of second mothers, namely grandmother, bu de (mother's brother or sister), and sister of TKW's child. They carry out the role of mother, among them being a model of children's behavior that is easily observed and imitated, becomes an educator, becomes a consultant, and becomes a source of information. Nearly 77% of grandmothers become maternal substitutes for migrant workers' children. Grandmother is considered the right person to do childcare tasks. This structure is called the inner parenting structure. While the structure of outside parenting takes the form of community participation in child care, namely good neighbors, the attention of the village head (Klebun), and the environment of friends and schools. Pembahasan tentang anak dan Tenaga Kerja Wanita (TKW) selalu menjadi isu yang menarik. Terutama yang berkaitan dengan pola asuh anak. Dengan menggunakan teknik penggalian data berupa observasi, wawancara, dan dokumentasi diketahui bahwa pola asuh anak TKW di Madura membentuk struktur baru dengan munculnya ibu pengganti (second mother). Ada tiga jenis ibu pengganti, yaitu nenek, bu de (kakak atau adik ibu), serta kakak dari anak TKW. Mereka menjalankan peran ibu diantaranya menjadi model tingkah laku anak yang mudah diamati dan ditiru, menjadi pendidik, menjadi konsultan, dan menjadi sumber informasi. Hampir 77% nenek menjadi sosok pengganti ibu bagi anak-anak TKW. Nenek dianggap sebagai sosok yang tepat untuk melakukan tugas-tugas pengasuhan anak. Struktur ini disebut dengan struktur pola asuh dalam. Sementara struktur pola asuh luar itu berwujud peran serta masyarakat dalam pengasuhan anak yaitu tetangga yang baik, perhatian kepala desa (Klebun), dan lingkungan teman dan sekolah.
Cici Afifatul Hasanah, Ayu Ferliana, Depict Pristine Adi
An-Nisa' : Jurnal Kajian Perempuan dan Keislaman, Volume 13, pp 1-27; doi:10.35719/annisa.v13i1.22

Abstract:
The purpose of this study is describe feminism and the resilience of women in the world of work in Indonesia and Iceland. Feminism as a system of ideas, as a framework and study of social life and human experience that evolved from a women-centered perspective. In Indonesia and Iceland, this is a long history as a reflection of the responsibility regarding the reality of gender inequality. In this study researchers used a research method with the type of literature study. Data collection techniques that utilize secondary data obtained through the library and then described and analyzed to extract from the literature such as books, journals, report, documents and other materials that support this research. Based on the results and discussion that has been presented, it can be concluded that feminism is increasingly developing and being recognized by the world. Feminism and the resilience of women in these two countries have shown that women have great opportunities in the development of the world of work, politics and other fields. Tujuan dari penelitian ini adalah mendeskripsikan feminisme dan ketahanan perempuan dalam dunia kerja di Indonesia dan Islandia. Feminisme sebagai sistem gagasan, sebagai kerangka kerja dan studi kehidupan sosial dan pengalaman manusia yang berevolusi dari perpsektif yang berpusat pada perempuan. Di Indonesia dan Islandia, hal ini adalah sejarah panjang sebagai cerminan dari tanggung jawab tentang realitas ketidaksetaraan gender. Dalam penelitian ini peneliti menggunakan metode penelitian dengan jenis kajian kepustakaan. Teknik pengumpulan data menggunakan teknik penelitian kepustakaan yang memanfaatkan data sekunder yang diperoleh melalui perpustakaan kemudian di deskripsikan dan dianalisis untuk disarikan dari literatur seperti buku, jurnal, laporan, dokumen dan bahan lain yang mendukung penelitian ini. Berdasarkan hasil dan pembahasan yang telah dipaparkan dapat disimpulkan bahwa feminisme semakin lama semakin berkembang dan diakui oleh dunia. Feminisme dan ketahanan perempuan di dua negara ini sudah menunjukkan bahwa kaum perempuan memiliki peluang besar dalam perkembangan dunia kerja, politik dan bidang lainnya.
Ahmad Fauzi
An-Nisa' : Jurnal Kajian Perempuan dan Keislaman, Volume 13, pp 28-39; doi:10.35719/annisa.v13i1.23

Abstract:
To prevent the spread of Covid-19, various universities and schools began to implement e-learning. This is the application of application-based learning. There are many universities that have organized this learning model program and have passed their students' thesis and dissertation examinations by utilizing this technological sophistication. This paper explains the nature of e-learning model, both its characteristics, strengths, weaknesses and its benefits in preventing the spread of Covid-19. Basically, e-learning has two types, namely synchronous and asynchronous. The Synchronous is learning process all at once between lecturers and students (on line at the same time). Whereas the asynchronous is not at the same time. Students can take different time from lecturers. It can be concluded that e-learning can be used to prevent the spread of covid-19, because there is no face-to-face learning when giving material. E-learning also has several advantages over conventional learning systems. However, e-learning also has shortcomings, such as the lack of interaction between students and teachers even between other students, tend to ignore the social aspects and foster individual aspects, the teaching and learning process tends towards training rather than education, and several other shortcomings. Guna mencegah penyebaran Covid-19 ini, berbagai Perguruan Tinggi hingga sekolah mulai menerapkan e-learning. Upaya ini adalah penerapan pembelajaran berbasis aplikasi. Ada banyak kampus yang sudah menyelenggarakan program pembelajaran model ini dan sudah meluluskan ujian skripsi, tesis dan disertasi mahasiswanya dengan memanfaatkan kecanggihan teknologi ini. Tulisan ini berupaya untuk menjelaskan hakikat pembelajaran e-learning ini, karakteristik, kelebihan dan kekurangannya serta manfaatnya dalam mencegah penyebaran Covid-19. Pada dasarnya, e-learning memiliki dua tipe, yaitu synchronous dan asynchronous. Synchronous artinya proses pembelajaran terjadi pada saat yang sama antara dosen dan mahasiswa (on line di waktu bersamaan). Sedangkan asynchronous tidak pada waktu bersamaan. Mahasiswa dapat mengambil waktu pembelajaran berbeda dengan dosen yang memberikan materi. Dapat disimpulkan bahwa pembelajaran berbasis e-learning dapat dimanfaatkan sebagai media untuk mencegah penyebaran covid-19, sebab tidak dibutuhkan adanya tatap muka dalam pemberian materi pelajaran. E-learning juga memiliki beberapa kelebihan dibandingkan dengan sistem pembelajaran konvensional. Namun demikian, e-learning juga memiliki kekurangan, seperti minimnya interaksi antara pelajar dengan pengajar bahkan antara pelajar yang lain, kecenderungan mengabaikan aspek sosial dan membuat tumbuhnya aspek individual, proses belajar mengajar cenderung ke arah pelatihan dari pada pendidikan, dan beberapa kekurangan lainnya.
S U L a i M a N S U L a i M a N
An-Nisa' : Jurnal Kajian Perempuan dan Keislaman, Volume 13, pp 182-195; doi:10.35719/annisa.v13i1.28

Abstract:
This research is motivated by various forms of violence in schools that arise due to the diversity of students in various ways. Thus, multicultural values education is needed in shaping religious character that involves the management process in schools. This research method uses qualitative research methods with the type of field research. Data collection uses observations, interviews and documentaries. the results of this research that management of multicultural education in Catholic Primary Schools (SDK) carried out by maximizing management functions by planning, implementing and supervising the process and results of multicural education itself. Penelitian ini dilatar belakangi dari munculnya berbagai bentuk kekerasan yang cukup beragam di sekolah yang timbul karena adanya keberagaman yang terjadi antar siswa dalam berbagai hal, sehingga sangat diperlukan adanya pendidikan nilai-nilai multikultural dalam pembentukan karakter religius yang melibatkan serangkaian proses manajemen di sekolah. Metode penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif dengan jenis penelitian lapangan (field reaserch). pengumpulan datanya menggunakan pengamatan (observasi), wawancara dan dokumenter. Kesimpulan dari penelitian ini adalah manajeman pendidikan multikultural di Sekolah Dasar Katolik (SDK) dilakukan dengan memaksimalkan fungsi-fungsi manajeman yaitu dengan merencanakan, melaksanakan dan mengawasi proses maupun hasil dari pendidikan multikural itu sendiri.
Ainul Churria Almalachim, Nailul Fauziyah, Asep Maulana
An-Nisa' : Jurnal Kajian Perempuan dan Keislaman, Volume 13, pp 153-181; doi:10.35719/annisa.v13i1.27

Abstract:
This paper is a paper that uses literature review with the theme of the concept of Educating Children from the Quranic perspective, by using the concept of literal interpretation, the results of this paper are that the success of children's educational processes in the family is very dependent on the roles and responsibilities of the family itself. Where parents as the core of the family has a very important role, it is he who is fully responsible for the educational process of children in the family, so that it can be said that the success of the child's educational process in the family is very dependent on how parents carry out their duties and responsibilities. The implication of the meaning of wisdom for educator figures is that an educator in addition to constantly trying to improve his academic abilities, he also tries to harmonize with his practice. Paper ini adalah paper yang menggunakan kajian pustaka dengan tema konsep Mendidik Anak Perpektif al Quran, dengan menggunakan konsep interpretasi literal, hasil paper ini adalah Keberhasilan proses pendidikan anak dalam keluarga sangat tergantung pada peran dan tanggung jawab keluarga itu sendiri. Di mana orang tua sebagai inti dari keluarga memiliki peranan yang sangat penting, dialah yang bertanggung jawab penuh terhadap proses pendidikan anak dalam keluarga, sehingga dapat dikatakan bahwa keberhasilan proses pendidikan anak dalam keluarga sangat tergantung pada bagaimana orang tua melaksanakan tugas dan tanggung jawabnya tersebut. Implikasi dari makna hikmah bagi figur pendidik adalah bahwa seorang pendidik selain senantiasa berusaha meningkatkan kemampuan akademiknya, ia pun berupaya menselaraskan dengan amalannya.
Ade Kartini, Asep Maulana
An-Nisa' : Jurnal Kajian Perempuan dan Keislaman, Volume 12, pp 217-239; doi:10.35719/annisa.v12i2.18

Abstract:
The development of an increasingly advanced world opens up opportunities for everyone, both men and women, to take part openly in various fields of life. This is inseparable from the role and figure of women, whose work today cannot be ruled out, thus constructing gender equality, which means the claim that humans between men and women are created as creatures and that differences only lie in the quality and level of piety. There is no claim that men or women are special before God, so whoever wants to gain a high degree must be cautious. There is no reason for the difference between men and women in the capacity of humans as creatures. Both have the same potential and opportunities to become ideal beings. Thus, a comprehensive understanding of the conceptual gender and perceptions between gender and sex is very necessary and important to understand correctly. This library research is conducted through documentation study and qualitative analysis. The findings of the research result state that gender is a concept that examines the differences between men and women as a result of social construction which can take the form of differences in roles, functions, and responsibilities between men and women so that they can change according to different times. gender that has been outlined by nature. Perkembangan dunia yang semakin maju membukakan kesempatan bagi setiap orang baik laki-laki maupun perempuan untuk berkiprah secara terbuka di berbagai bidang kehidupan. Hal tersebut tidak lepas dari peran dan sosok perempuan yang hari ini kiprahnya tak bisa dikesampingkan sehingga mengonstruksi kesetaraan gender yang berarti klaim bahwa manusia antara laki-laki dan perempuan sama-sama diciptakan sebagai makhluk dan perbedaan pun hanyalah terletak pada kualitas dan kadar ketakwaannya. Tak ada klaim laki-laki ataupun perempuan yang menjadi istimewa di hadapan Tuhan, maka barang siapa yang ingin memperoleh derajat yang tinggi maka hendaklah bertakwa. Tidak ada alasan perbedaan antara laki-laki dan perempuan dalam kapasitas manusia sebagai makhluk. Keduanya mempunyai potensi dan peluang yang sama untuk menjadi makhluk yang ideal. Dengan demikian pemahaman tentang konseptual gender dan persepsi antara gender dengan seks yang komprehensif sangat diperlukan dan penting untuk dipahami secara benar. Penelitian kepustakaan ini dilakukan melalui studi dokumentasi dan analisis data kualitatif. Temuan hasil penelitian menyatakan bahwa gender adalah suatu konsep yang mengaji tentang perbedaan antara laki-laki dan perempuan sebagai hasil kontruksi sosial yang dapat berbentuk perbedaan peran, fungsi, dan tanggung jawab antara laki-laki dan perempuan sehingga dapat berubah sesuai dengan perkembangan jaman berbeda halnya dengan jenis kelamin yang telah digariskan secara kodrati.
Leny Marinda
An-Nisa' : Jurnal Kajian Perempuan dan Keislaman, Volume 12, pp 240-262; doi:10.35719/annisa.v12i2.21

Abstract:
Hijab or khimar which is interpreted as a head covering for Muslim women is an interesting theme to be discussed. It is not something new when Islam was born. The discussion has crossed various levels in the history of human life from time to time. Hijab and khimar explained clearly in Al Ahzab: 59 and An Nur: 31. The context of the descent of the verses is related to the social, cultural, economic and security of the Muslim community. The development of interpretations of religious, social and cultural texts bring diverse views about Hijab. Now, the hijab ,with all its dynamics, has an important position in Muslim life that deserves attention. Hijab atau khimar yang diartikan sebagai penutup kepala bagi wanita muslimah menjadi tema yang menarik untuk dibahas. Bukan hal baru ketika Islam lahir. Pembahasan telah melintasi berbagai tingkatan dalam sejarah kehidupan manusia dari masa ke masa. Hijab dan khimar dijelaskan secara gamblang dalam Al Ahzab: 59 dan An Nur: 31. Konteks turunnya ayat tersebut terkait dengan sosial, budaya, ekonomi dan keamanan umat Islam. Perkembangan tafsir teks agama, sosial dan budaya membawa pandangan yang beragam tentang hijab. Kini, hijab dengan segala dinamikanya memiliki posisi penting dalam kehidupan muslim yang patut mendapat perhatian.
Nur Ittihadatul Ummah
An-Nisa' : Jurnal Kajian Perempuan dan Keislaman, Volume 12, pp 137-158; doi:10.35719/annisa.v12i2.14

Abstract:
Management of gender responsive educational facilities is an important issue that needs serious attention because the management of gender-responsive infrastructure can provide space to ensure the fulfillment of women's and men's rights based on their specific needs so as to create a sense of security and comfort for each user. IAIN Jember is required to pay attention to the specific needs of men and women so that dominance does not occur, does not cause difficulties for certain sexes in the use of infrastructure. Indicators of gender responsive infrastructure include the provision of separate toilets, child care and nursing rooms, provision of closed ablution places, closed prayer rooms, ideal 17 cm staircase facilities, CCTV and adequate lighting. The management of gender responsive educational facilities is needed to realize gender justice and equality, support reproductive and cultural functions. This research uses a qualitative approach with the type of case study research. The technique of collecting data uses observation, interviews and document study. Data analysis using interactive analysis. The validity of the data used source triangulation and method triangulation. The results showed that: the prayer room for employees tends to be open so there is no privacy, there are wheelchairs for students with disabilities, and there is no separate toilet for male and female employees. Pengelolaan sarana pendidikan responsif gender merupakan isu penting yang perlu mendapat perhatian serius karena pengelolaan prasarana tanggap gender dapat memberikan ruang untuk menjamin pemenuhan hak perempuan dan laki-laki berdasarkan kebutuhan spesifiknya sehingga tercipta rasa aman dan nyaman bagi setiap pengguna. IAIN Jember dituntut untuk memperhatikan kebutuhan khusus laki-laki dan perempuan agar tidak terjadi dominasi, tidak menyulitkan jenis kelamin tertentu dalam penggunaan infrastruktur. Indikator infrastruktur responsif gender antara lain penyediaan toilet terpisah, ruang penitipan anak dan menyusui, penyediaan tempat wudhu tertutup, mushola tertutup, fasilitas tangga ideal 17 cm, CCTV dan penerangan yang memadai. Pengelolaan fasilitas pendidikan responsif gender diperlukan untuk mewujudkan keadilan dan kesetaraan gender, mendukung fungsi reproduksi dan budaya. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian studi kasus. Teknik pengumpulan data menggunakan observasi, wawancara dan studi dokumen. Analisis data menggunakan analisis interaktif. Validitas data menggunakan triangulasi sumber dan metode triangulasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa : mushollah untuk karyawan cenderung terbuka sehingga tidak ada privasi, terdapat kursi roda bagi mahasiswa difabel. Kursi roda ini berada di poli klinik kampus, dan tidak ada pemisahan toilet bagi karyawan laki-laki dan perempuan.
Muhammad Faisol
An-Nisa' : Jurnal Kajian Perempuan dan Keislaman, Volume 12, pp 159-194; doi:10.35719/annisa.v12i2.16

Abstract:
Polygamy is a controversy among Muslim scholars. The pros and cons of polygamy in Islam have strengthened since the spread of gender equality issues between men and women. With regard to the problem of polygamy which is still the pros and cons, in Jember which is predominantly Muslim and many Islamic boarding schools have been established in this area. This study aims to determine the views of the asatidz PP. Nurul Islam Jember about polygamy and fiqh review of the views of the asatidz PP. Nurul Islam Jember about polygamy. This research is field research, in which this research focuses more on the results of data collection from informants or respondents who have been determined. Data collection techniques using interview techniques and documentation techniques. The data analysis technique used in this research is descriptive qualitative analysis. This research states that: 1) polygamy according to the view of Asatidz Pondok Pesantren Nurul Islam Jember against polygamy is that polygamy can be practiced with several conditions, such as being financially capable, being able to do justice between wives, children, and their families. The Nurul Islam Islamic Boarding School Asatidz chose not to practice polygamy because of their concerns in the field of livelihoods, their fear of not being able to do justice if they have more than one. Besides all of them have felt quite and happy with one wife, 2) In the fiqh review, the view of Asatidz Pondok Pesantren Nurul Islam Jember on Polygamy is in line with the views of the fiqh scholars. This is reflected in their opinion which states that polygamy can be practiced for anyone who meets the qualifications with the limit of four wives. Poligami merupakan suatu kontroversi dikalangan para cendekiawan Muslim. Pro dan kontra tentang poligami dalam Islam menguat semenjak santernya isu-isu kesetaraan gender antara laki-laki dan perempuan. Berkenaan dengan masalah poligami yang masih menjadi pro dan kontra, di Jember yang mayoritas berpenduduk muslim serta banyak pondok pesantren yang didirikan di daerah ini. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pandangan para asatidz PP. Nurul Islam Jember tentang poligami dan Tinjauan fiqh terhadap pandangan para asatidz PP. Nurul Islam Jember tentang poligami. Penelitian ini adalah field research (penelitian lapangan), yang mana penelitian ini lebih menitik beratkan kepada hasil pengumpulan data dari informan atau responden yang telah ditentukan. Teknik pengumpulan data menggunakan teknik wawancara dan teknik dokumentasi. teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis deskriptif kualitatif. Penelitian ini menyatakan bahwa : 1) poligami menurut pandangan Asatidz Pondok Pesantren Nurul Islam Jember Terhadap Poligami adalah bahwa poligami boleh dipraktekan dengan beberapa syarat, seperti mampu secara finansial, mampu berbuat adil di antara isteri-isteri, anak-anak, serta keluarganya. Para Asatidz Pondok Pesantren Nurul Islam memilih untuk tidak melakukan poligami disebabkan kekhawatiran dalam bidang nafkah, kekhawatiran mereka untuk tidak bisa berbuat adil di jika memiliki lebih dari satu. Disamping mereka semua telah merasa cukup dan bahagia dengan satu istri, 2) Dalam tinjauan fiqh, Pandangan Asatidz Pondok Pesantren Nurul Islam Jember Terhadap Poligami sejalan dengan pandangan ulama fiqh. Hal ini tercermin dari pendapat mereka yang mengatakan bahwa poligami boleh dipraktekan bagi siapa saja yang memenuhi kualifikasi dengan batasan empat orang istri.
Fagholi Rohman, Maria Ismail
An-Nisa' : Jurnal Kajian Perempuan dan Keislaman, Volume 12, pp 292-311; doi:10.35719/annisa.v12i2.20

Abstract:
Parenting is very urgent thing for the growth and development of children's future.The role of parents to the children's education, social functions, protection, affection, religiosity and economy as well as recreational and biological functions greatly affect how the results of parenting patterns against the child. It can be categorized from several types of parenting. This article discusses about how uniqueness parents' parenting, family custom of tengger krajan hamlet. (1) How the parenting for children in famil Tengger area ?; (2) How is the harmony between parents' expectations and heredity conditions in Tengger area. The discussion approach used by the researcher that is descriptive qualitative approach with the research grounded theory model to get the description of reality that is happening in description and making reader can describe the condition carefully.This research has produced a pattern worthy of being called a new pattern that is static, rooted and related to various aspects of custom so that it is not included in the previous parenting styles and can serve as a guideline for further research assets. With different locations and research subjects, it will give birth to data that supports the existence of other uniqueness that has not been previously covered in existing theories. ang tua merupakan hal yang sangat urgen bagi pertumbuhan dan perkembangan anak untuk masa depan. peran orang tua terhadap pendidikan anak, fungsi sosial, proteksi, afeksi, religiusitas dan ekonomi serta fungsi rekreasi dan biologis sangat mempengaruhi bagaiamana hasil pola asuh orang tua terhadap anaknya. hal tersebut dapat dikategorikan dari beberapa jenis-jenis pola asuh. artikel ini membahas tentang bagaimana keunikan pola asuh orang tua, adat keluarga tengger dusun krajan. (1) Bagaimana pola asuh anak dalam keluarga di kawasana Tengger?; (2) Bagaimana keselarasan antara harapan orang tua dan kondisi keturunan dikawasan Tengger. Pendekatan yang digunakan oleh peneliti yaitu pendekatan kualitatif deskriptif dengan model penelitian grounded Theory demi mendapatkan gambaran realita yang tengah terjadi secara deskripsi dan memungkinkan pembaca dapat menggambarkan keadaan dengan seksama. Penelitian ini telah menghasilkan bentuk pola yang layak untuk dinamakan pola baru yang bersifat statis, mengakar dan bersangkut paut dengan berbagai aspek adat sehingga tidak termasuk dalam kategori-kategori pola asuh sebelumnya dan dapat menjadi pedoman dalam rangka modal penelitian selanjutnya. Dengan lokasi dan subjek penelitian yang berbeda, akan melahirkan data yang mendukung adanya keunikan-keunikan lain yang belum tercover sebelumnya dalam teori-teori yang ada.
Rini Puji Astuti
An-Nisa' : Jurnal Kajian Perempuan dan Keislaman, Volume 12, pp 263-291; doi:10.35719/annisa.v12i2.19

Abstract:
The challenge in dealing changes and demands in coming era is the rapid change of dynamic times. So that, the role of women is needed in dealing an existing problems in society, such as many social problems that occur in the society. therefore, need a leader who is reliable and resilient. Today, women's leadership is still being debated because some Muslim societies are viewed cynically, even though it has long been found that women have succeeded in being the subject of achieving leadership goals, for example in development, so the term "Women's Leadership" is no longer suitable to used, because the more suitable is "Optimizing the Empowerment of Women's Leadership". One example in the Jokowi-JK government has been to appreciated the role of women in strategic positions than the previous government. There are eight women ministers in Jokowi government, namely Rini Soemarno (Minister of State-Owned Enterprises), Siti Nurbaya (Minister of Forestry and Environment), Puan Maharani (Coordinating Minister for Human Development and Culture), Nila F Moeloek (Minister of Health), Khofifah Indar Parawansa (Minister of Social Affairs), Yohana Yembise (Minister of Women's Empowerment and Child Protection), Retno LP Marsudi (Minister of Foreign Affairs), and Susi Pudjiastuti (Minister of Maritime Affairs and Fisheries), as well as nine KPK panelists who are women. they can show achievements according to their duties and responsibilities. So far, women's efforts still face many obstacles or challenges. These obstacles or challenges start from external factors and internal factors. In addition, the role of women is needed in the family, this is an asset of the nation that makes the next generation to build a developed, fair, and prosperous country. Tantangan dalam menghadapi perubahan dan tuntutan di era mendatang adalah perubahan jaman yang dinamis. Oleh karena itu diperlukan peran perempuan dalam menghadapi permasalahan yang ada di masyarakat, seperti berbagai permasalahan sosial yang terjadi di masyarakat. Oleh karena itu dibutuhkan seorang pemimpin yang handal dan tangguh. Kepemimpinan perempuan saat ini masih diperdebatkan karena sebagian masyarakat muslim dipandang sinis, padahal sudah lama ditemukan bahwa perempuan telah berhasil menjadi subjek pencapaian tujuan kepemimpinan, misalnya dalam pembangunan, sehingga istilah "Kepemimpinan Perempuan" tidak ada. lagi cocok dipakai, karena yang lebih cocok adalah "Mengoptimalkan Pemberdayaan Kepemimpinan Wanita". Salah satu contoh dalam pemerintahan Jokowi-JK adalah mengapresiasi peran perempuan pada posisi-posisi strategis dibanding pemerintahan sebelumnya. Ada delapan menteri perempuan di pemerintahan Jokowi, yakni Rini Soemarno (Menteri Badan Usaha Milik Negara), Siti Nurbaya (Menteri Kehutanan dan Lingkungan Hidup), Puan Maharani (Menteri Koordinator Pembangunan Manusia dan Kebudayaan), Nila F Moeloek (Menteri Kesehatan). ), Khofifah Indar Parawansa (Menteri Sosial), Yohana Yembise (Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak), Retno LP Marsudi (Menteri Luar Negeri), dan Susi Pudjiastuti (Menteri Kelautan dan Perikanan), serta sembilan orang Panelis KPK yang perempuan. mereka dapat menunjukkan prestasi sesuai dengan tugas dan tanggung jawabnya. Selama ini upaya perempuan masih menghadapi banyak kendala atau tantangan. Hambatan atau tantangan tersebut dimulai dari faktor eksternal dan faktor internal. Selain itu, peran perempuan sangat dibutuhkan dalam keluarga, hal ini merupakan aset bangsa yang menjadikan generasi penerus bangsa untuk membangun negara yang maju, adil, dan sejahtera.
Uzlah Wahidah Maulidiyah
An-Nisa' : Jurnal Kajian Perempuan dan Keislaman, Volume 12, pp 195-216; doi:10.35719/annisa.v12i2.50

Abstract:
The discussion about abortion is very interesting, in some previous studies the concept of reproduction is the legality of abortion that very controversial. There are some contemporary scholars who have an interesting view of abortion, one of them is an Indonesian professor, M. Quraish Shihab. He wrote about abortion in one of the sub-themes of his book. Against this phenomenon the writer who has educational backgrounds interested in providing an analysis of the methodology used by M. Quraish Shihab in making very controversial decisions especially about abortion. The reason for this istinbath methodology that will describe in this paper. Pembahasan tentang aborsi sangat menarik, pada beberapa penelitian sebelumnya konsep reproduksi adalah legalitas aborsi yang sangat kontroversial. Ada beberapa ulama kontemporer yang memiliki pandangan menarik tentang aborsi, salah satunya adalah Guru Besar Indonesia M. Quraish Shihab. Dia menulis tentang aborsi di salah satu sub-tema bukunya. Terhadap fenomena tersebut penulis yang berlatar belakang pendidikan tertarik untuk memberikan analisis tentang metodologi yang digunakan oleh M. Quraish Shihab dalam pengambilan keputusan yang sangat kontroversial khususnya tentang aborsi. Alasan metodologi istinbath inilah yang akan diuraikan dalam tulisan ini.
Dyah Nawangsari
An-Nisa' : Jurnal Kajian Perempuan dan Keislaman, Volume 12, pp 113-136; doi:10.35719/annisa.v12i1.12

Abstract:
80 percent of all internet users include children and adolescents are 15-19 year old. They use internet to find information, to connect with their friends and for entertainment. This is easy for gadget abuse. based on the survey conducted the National Commission for Child Protection about adolescent sexual behavior in 2007, there are 97% of teenagers in Indonesia have accessed pornography. The survey involved 4,726 respondents from middle and high school students among 13-17 years old in 12 major cities. This research aims to describe: (1) The form of gadget deviation as the impact of IT abuse for teenagers. (2) the reason of the deviation, (3) the effort of stake holder in managing the gadget deviation. By using a combination of quantitative and qualitative approache, the result of this research as follows: (1) Some gadget deviations that are often done by children such as: addicted to gadgets, accessing romantic nuances that lead to pornography and accessing violent shows. (2) The background of these deviations includes: the desire of children to be accepted in the community, efforts to build self-confidence, and efforts to find identity. (3) several attempts have made to overcome gadged abuse, both by parents, teachers and government. 80 persen dari semua pengguna internet termasuk anak-anak dan remaja berusia 15-19 tahun. Mereka menggunakan internet untuk mencari informasi, terhubung dengan teman-teman mereka dan untuk hiburan. Ini mudah untuk penyalahgunaan gadget. Berdasarkan survei yang dilakukan Komnas Perlindungan Anak tentang perilaku seksual remaja tahun 2007, terdapat 97% remaja di Indonesia yang telah mengakses pornografi. Survei tersebut melibatkan 4.726 responden dari siswa sekolah menengah dan menengah berusia 13-17 tahun di 12 kota besar. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan: (1) Bentuk penyimpangan gadget sebagai dampak penyalahgunaan TI pada remaja. (2) alasan penyimpangan, (3) upaya stake holder dalam mengelola penyimpangan gadget. Dengan menggunakan kombinasi pendekatan kuantitatif dan kualitatif, hasil penelitian ini adalah sebagai berikut: (1) Beberapa penyimpangan gadget yang sering dilakukan oleh anak-anak seperti: kecanduan gadget, mengakses nuansa romantis yang mengarah pada pornografi dan mengakses tayangan kekerasan. (2) Latar belakang penyimpangan tersebut meliputi: keinginan anak untuk diterima di masyarakat, upaya membangun rasa percaya diri, dan upaya menemukan jati diri. (3) Berbagai upaya telah dilakukan untuk menanggulangi penyalahgunaan, baik oleh orang tua, guru maupun pemerintah.
Mahmud Zain
An-Nisa' : Jurnal Kajian Perempuan dan Keislaman, Volume 12, pp 100-112; doi:10.35719/annisa.v12i1.11

Abstract:
Nowadays everyone has a gadget and social media account, such as WhatsApp, Facebook, Twitter, Instagram, etc. This can make anyone addicted of technology and make them happy, comfortable, even stress. Therefore, school as a constitutional education obligate to anticipate the spreading of hoax. One of the ways is the role of educational psychology as education process of material learning related to technology. Technology supports all sorts of ability in managing the information gotten by students, such as; understanding, analysis, and critical thinking. Learning process of technology can used by teacher to give instruction in order that the students can managing the information, so that, they can behaving critically and avoiding of spreading of hoax. Saat ini setiap orang memiliki gadget dan akun media sosial, seperti WhatsApp, Facebook, Twitter, Instagram, dll. Hal ini dapat membuat siapa saja kecanduan teknologi dan membuat mereka senang, nyaman, bahkan stres. Oleh karena itu, sekolah sebagai pendidikan konstitusional wajib mengantisipasi penyebaran hoax. Salah satu caranya adalah dengan peran psikologi pendidikan sebagai proses pendidikan materi pembelajaran yang berkaitan dengan teknologi. Teknologi mendukung segala macam kemampuan dalam mengelola informasi yang diperoleh siswa, seperti; pemahaman, analisis, dan pemikiran kritis. Proses pembelajaran teknologi dapat dimanfaatkan oleh guru untuk memberikan arahan agar siswa dapat mengelola informasi, sehingga mereka dapat bersikap kritis dan terhindar dari penyebaran hoax.
Luluk Sultoniyah, Ahmad Royani
An-Nisa' : Jurnal Kajian Perempuan dan Keislaman, Volume 12, pp 58-78; doi:10.35719/annisa.v12i1.8

Abstract:
Moral decadence phenomenon among teenagers includes college student. Lately, it has disturbed many parties. The phenomenon could seen from juvenile deliquency, drug, and free relationship. Higher educational institution that shoud be moral development center and students moral, even in some cases being a moral decadence transit. Therefore, educational institution is not only expected as a place to get knowledge, but also could give enough stock in educating strong student morals to face globalization era. The development of religious culture in MI Al-Barokah An-Nur Ajung Jember is carried out by instilling systematic behavior or manners in practicing their religions, so that they have good personality, character, noble morality, and responsibility, both their relationship with Allah, with human beings and with the environment. therefore, the values developed at MI Al-Barokah An-Nur were emphasizing morality, achievement, discipline and environmental culture. Fenomena dekadensi moral di kalangan remaja termasuk mahasiswa. Belakangan ini hal itu meresahkan banyak pihak. Fenomena tersebut terlihat dari kenakalan remaja, narkoba, dan hubungan bebas. Perguruan tinggi yang seharusnya menjadi pusat pengembangan moral dan moral siswa, bahkan dalam beberapa kasus menjadi transit dekadensi moral. Oleh karena itu, lembaga pendidikan tidak hanya diharapkan sebagai tempat menimba ilmu, tetapi juga dapat memberikan bekal yang cukup dalam mendidik akhlak siswa yang kuat untuk menghadapi era globalisasi. Pengembangan budaya keagamaan di MI Al-Barokah An-Nur Ajung Jember dilakukan dengan menanamkan perilaku atau tata krama yang sistematis dalam mengamalkan agamanya, sehingga memiliki kepribadian, akhlak, akhlak yang mulia, dan tanggung jawab yang baik, baik hubungannya dengan Allah, maupun hubungan mereka dengan Allah. dengan manusia dan dengan lingkungan. Oleh karena itu nilai-nilai yang dikembangkan di MI Al-Barokah An-Nur adalah mengutamakan moralitas, prestasi, disiplin dan budaya lingkungan.
Nur Ika Mauliyah, Ella Anastasya Sinambela
An-Nisa' : Jurnal Kajian Perempuan dan Keislaman, Volume 12, pp 45-57; doi:10.35719/annisa.v12i1.7

Abstract:
The chance to be a leader, open for anyone, both men and women. Although, it cannot be denied, culture still considers that women are weak, inconsistent and only concerned with feelings than logic, so they do not deserve to be a leader. As the world develops, the assumption is a little bit of changes, which gives women chance to be a leader. In the 21st century, women's progress in working world was increased dramatically, because the quality of women is sometimes more than men. Getting a quality and high education, giving women have chance to be leader in organizations / companies. Names such as Susi Pudjiastuti, Catherine Hindra Sutjahyo, Grace Tahir, Veronika Linardi, Mary Barra, Gini Rometty, Marillyn Hewson, Sheryl Sandberg, Marissa Mayer are some of the names of women who are able to lead companies and business decision makers. Work decision making is an condition for measuring leaders, women have feminine characteristics which make them able to take business decisions well, by considering rational, realistic, logical, and pragmatic. The mindset that considers leaders only carried out by men has changed step by step. Women can also have character of a leader, such as; give direction, speeches, rhetoric and ideas. Women are not completely weak, they are also able to be a strong foundation in building organizations/ companies. Kesempatan menjadi pemimpin, terbuka bagi siapa saja, baik pria maupun wanita. Meski tidak bisa dipungkiri, budaya masih menganggap perempuan lemah, tidak konsisten dan hanya mementingkan perasaan daripada logika, sehingga tidak pantas menjadi pemimpin. Seiring perkembangan dunia, asumsinya adalah sedikit perubahan, yang memberi peluang bagi perempuan untuk menjadi pemimpin. Pada abad ke-21, kemajuan perempuan dalam dunia kerja meningkat drastis, karena kualitas perempuan terkadang lebih dari laki-laki. Mendapatkan pendidikan yang berkualitas dan tinggi, memberikan perempuan kesempatan untuk menjadi pemimpin dalam organisasi / perusahaan. Nama-nama seperti Susi Pudjiastuti, Catherine Hindra Sutjahyo, Grace Tahir, Veronika Linardi, Mary Barra, Gini Rometty, Marillyn Hewson, Sheryl Sandberg, Marissa Mayer adalah beberapa nama perempuan yang mampu memimpin perusahaan dan pengambil keputusan bisnis. Pengambilan keputusan kerja merupakan salah satu syarat untuk mengukur pemimpin, perempuan yang memiliki sifat feminin sehingga mampu mengambil keputusan bisnis dengan baik, dengan mempertimbangkan rasional, realistis, logis, dan pragmatis. Pola pikir yang menganggap pemimpin hanya dilakukan oleh laki-laki berubah sedikit demi sedikit. Wanita juga bisa memiliki karakter seorang pemimpin, seperti; memberi arahan, pidato, retorika dan ide. Perempuan tidak sepenuhnya lemah, mereka juga mampu menjadi fondasi yang kuat dalam membangun organisasi / perusahaan.
Hikmatul Hasanah, Suprianik Suprianik
An-Nisa' : Jurnal Kajian Perempuan dan Keislaman, Volume 12, pp 22-44; doi:10.35719/annisa.v12i1.6

Abstract:
A woman has great potential, as well as a man, it can be seen from the various roles of woman needed in society, including: the role of reproduction, economic, social, political and Islamic leadership. However, in Islamic leadership, most women are only members of the management in social organizations, because they are deemed not have brave characteristics like men, except the social organization that all of the members are women. this is because women's interests are not accommodated in various political decisions. Education is the main factor that determines the activeness of women as administrators of political parties, obstacle experienced by women in political parties, including through a number of issues such as; education, employment, justice and gender equality, domestic roles, patriarchal culture, religion and family relationship. Woman, who has the competence to lead the country, could be heads of state in the modern society context, because the modern government system is not same with monarchy system in classical times, where the head of state must control all state affairs. Whereas in the modern era, there are separate sections in shaping the performance of leader of state. Seorang perempuan memiliki potensi yang besar, demikian pula halnya dengan laki-laki, hal ini terlihat dari berbagai peran yang dibutuhkan perempuan dalam masyarakat, antara lain: peran reproduksi, ekonomi, sosial, politik dan kepemimpinan Islam. Namun dalam kepemimpinan Islam, sebagian besar perempuan hanya menjadi pengurus dalam organisasi kemasyarakatan, karena dianggap tidak memiliki sifat pemberani seperti laki-laki, kecuali organisasi kemasyarakatan yang semua anggotanya adalah perempuan. Hal ini dikarenakan kepentingan perempuan tidak terakomodir dalam berbagai keputusan politik. Pendidikan merupakan faktor utama yang menentukan keaktifan perempuan sebagai pengurus partai politik, kendala yang dialami perempuan di partai politik, diantaranya melalui sejumlah isu seperti; pendidikan, pekerjaan, keadilan dan kesetaraan gender, peran rumah tangga, budaya patriarki, agama dan hubungan keluarga. Perempuan yang memiliki kompetensi memimpin negara dapat menjadi kepala negara dalam konteks masyarakat modern, karena sistem pemerintahan modern tidak sama dengan sistem monarki pada zaman klasik, dimana kepala negara harus menguasai semua urusan kenegaraan. Padahal di era modern, terdapat bagian tersendiri dalam membentuk kinerja pemimpin negara.
Isa Vila Rizki Ullabanati, Mahfudz Sidiq
An-Nisa' : Jurnal Kajian Perempuan dan Keislaman, Volume 12, pp 79-99; doi:10.35719/annisa.v12i1.10

Abstract:
Jember is a district with a high divorce rate in the East Java province. Divorcing leaves behind a victim which is the child of a divorced couple. Children who are victims of broken home usually have negative behavior both for themselves and the surrounding environment due to family conditions that are broke apart. In addition, the needs of broken home child unlike when the family is still intact. But the children's victim of the divorced parents in Tegalsari Village did not show deviant behavior like most children who were victims of broken home. The purpose of this study is to describe how to fulfill the basic needs of children by parents after divorce. The approach of this research is qualitative and uses descriptive type of research. Determination of informants in this study using a purposive technique. The technique of collecting data uses observation, interviews, and documentation. Data analysis used data reduction, data presentation, and conclusion or verification. The data validity technique used is in the form of source triangulation. The results showed that both divorced parents still met their children's needs even though they were not in one house. Needs fulfilled by parents are educational needs, health needs and needs of achievement. The way fathers and mothers fulfill their children's needs is somewhat different. Mothers in meeting their children's needs are more responsive, organized and resilient starting from simple things to serious problems. While the father in fulfilling his children's needs is less sensitive to the needs of his child. It means that the father in meeting the needs of his children seems serious when the problem is considered very important, for example a child who is seriously ill must be taken to the hospital and others. Jember merupakan salah satu kabupaten dengan tingkat perceraian yang tinggi di Provinsi Jawa Timur. Perceraian meninggalkan korban yang merupakan anak dari pasangan yang bercerai. Anak-anak yang menjadi korban broken home biasanya memiliki perilaku negatif baik terhadap diri sendiri maupun lingkungan sekitarnya akibat kondisi keluarga yang berantakan. Selain itu, kebutuhan anak broken home tidak seperti saat keluarga masih utuh. Namun anak-anak korban dari orang tua yang bercerai di Desa Tegalsari tidak menunjukkan perilaku menyimpang seperti kebanyakan anak yang menjadi korban broken home. Tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan bagaimana pemenuhan kebutuhan dasar anak oleh orang tua pasca perceraian. Pendekatan penelitian ini adalah kualitatif dan menggunakan jenis penelitian deskriptif. Penentuan informan dalam penelitian ini menggunakan teknik purposive. Teknik pengumpulan data menggunakan observasi, wawancara, dan dokumentasi. Analisis data menggunakan reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan atau verifikasi. Teknik keabsahan data yang digunakan berupa triangulasi sumber. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kedua orang tua yang bercerai tetap dapat memenuhi kebutuhan anaknya meskipun tidak berada dalam satu rumah. Kebutuhan yang dipenuhi oleh orang tua adalah kebutuhan pendidikan, kebutuhan kesehatan dan kebutuhan berprestasi. Cara ayah dan ibu memenuhi kebutuhan anak mereka agak berbeda. Ibu dalam memenuhi kebutuhan anaknya lebih tanggap, teratur dan ulet mulai dari hal yang sederhana hingga masalah yang serius. Sedangkan ayah dalam memenuhi kebutuhan anaknya kurang peka terhadap kebutuhan anaknya. Artinya bapak dalam memenuhi kebutuhan anaknya nampak serius padahal masalah dianggap sangat penting, misalnya anak yang sakit parah harus dibawa ke rumah sakit dan lain-lain.
Al Fadili, Mahfudz Sidiq
An-Nisa' : Jurnal Kajian Perempuan dan Keislaman, Volume 12, pp 1-21; doi:10.35719/annisa.v12i1.5

Abstract:
One of the social problems in Jember is the high divorce rate. Divorce is chosen because it is considered as a solution to the problems that previously occurred in the family. On the other hand, many studies have shown that divorce could bring negative effects on husbands, wives and children. It means that divorce not only brings the positive effects because it ends the previous problem but also raises new problems. Therefore, it needs family counseling agencies that can help to solve the problem. Religious court is not a family counseling institution but in practice, it has effort to reconcile and resolve family problems through mediation, so it is important to understand the mediation effort of divorce in religious court as family counseling. This research used qualitative approach in descriptive type. The research location was in Religious Court of Jember. The used informant determination technique was Purposive technique. The used data collection methods were observation, interviews, and documentation. The data were analyzed by using Miles and Huberman model. The research results indicated that the mediation of divorce in religious court was an effort to solve family problems done by both husband and wife assisted by neutral and professional third party that was mediator. He did not take decision, but he helped families reach reconciliation. The mediation process was carried out with a problem solving approach with several steps, namely (1) establishing relationships with clients (2) identifying family problems, (3) doing caucus as needed, (4) giving advice, (5) offering reconciliation through written agreement, and (6) making formal agreement. Salah satu masalah sosial di Jember adalah tingginya angka perceraian. Perceraian dipilih karena dianggap sebagai solusi atas permasalahan yang sebelumnya terjadi dalam keluarga. Di sisi lain, banyak penelitian menunjukkan bahwa perceraian dapat berdampak negatif bagi suami, istri, dan anak. Artinya, perceraian tidak hanya membawa dampak positif karena mengakhiri masalah sebelumnya tetapi juga menimbulkan masalah baru. Oleh karena itu, diperlukan lembaga konseling keluarga yang dapat membantu menyelesaikan masalah tersebut. Pengadilan Agama bukanlah lembaga konseling keluarga tetapi dalam praktiknya memiliki upaya untuk mendamaikan dan menyelesaikan masalah keluarga melalui mediasi, sehingga penting untuk memahami upaya mediasi perceraian di pengadilan agama sebagai konseling keluarga. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan tipe deskriptif. Lokasi penelitian di Pengadilan Agama Jember. Teknik penentuan informan yang digunakan adalah teknik Purposive. Metode pengumpulan data yang digunakan adalah observasi, wawancara, dan dokumentasi. Analisis data menggunakan model Miles dan Huberman. Hasil penelitian menunjukkan bahwa mediasi perceraian di pengadilan agama merupakan upaya penyelesaian masalah keluarga yang dilakukan oleh suami dan istri dengan dibantu pihak ketiga yang netral dan profesional sebagai mediator. Dia tidak mengambil keputusan, tetapi dia membantu keluarga mencapai rekonsiliasi. Proses mediasi dilakukan dengan pendekatan pemecahan masalah dengan beberapa langkah, yaitu (1) menjalin hubungan dengan klien (2) mengidentifikasi masalah keluarga, (3) melakukan kaukus sesuai kebutuhan, (4) memberi nasihat, (5) menawarkan rekonsiliasi melalui kesepakatan tertulis, dan (6) membuat kesepakatan formal.
Page of 1
Articles per Page
by
Show export options
  Select all
Back to Top Top