Refine Search

New Search

Results in Journal Equalita: Jurnal Studi Gender dan Anak: 40

(searched for: journal_id:(6073383))
Page of 1
Articles per Page
by
Show export options
  Select all
Suci Ramdaeni
Equalita: Jurnal Studi Gender dan Anak, Volume 3, pp 66-76; https://doi.org/10.24235/equalita.v3i1.8320

Abstract:
This study aims to explore gender constructs in early childhood education. Through a post-developmentalism perspective, this research uncovers how masculine and feminine binaries reinforce inequality in PAUD. This study uses a meta-analysis research method that integrates previous research through a post-developmentalism perspective. The findings of this study indicate that children often reinforce inequality through understanding gender stereotypes, choosing the type of song, and selecting the song instrument that is constructed in early childhood education. It is hoped that this research will become a reflection for teachers and adults to be more gender sensitive. So that boys and girls get the same stimulation and experience in singing in PAUD.in the form of stimulation and the same experience in singing to boys and girls
Asep Kurniawan
Equalita: Jurnal Studi Gender dan Anak, Volume 3, pp 17-37; https://doi.org/10.24235/equalita.v3i1.8378

Abstract:
The purpose of this study was to reveal in depth the leadership of women during the Covid-19 pandemic and the impact of the Covid-19 pandemic on her. This research used a qualitative method with normative law which was carried out by reviewing the literature. The approach used a contextual and statutory approach. The data were organized, analyzed inductively, and classified into many units and formulated into a pattern. The results showed that the progress of female leaders during Covid-19 was quite successful in controlling the condition with their leadership strengths. However, in general, this Covid-19 pandemic negatively impact on the lives of almost the entire population of the world, especially for women, namely, the multiple burdens of child care and work, the threat of domestic violence, and unequal treatment in the economic sector. All of these impacts showed that the Covid-19 pandemic was not gender-neutral due to the position of women who positioned unbalanced from the beginning with men in the economic and social sectors. For this reason, there should be emancipation efforts to initiate policies that were sensitive to gender issues in overcoming the Covid-19 pandemic.
R.F Bhanu Viktorahadi
Equalita: Jurnal Studi Gender dan Anak, Volume 3, pp 1-16; https://doi.org/10.24235/equalita.v3i1.8353

Abstract:
Hidup sebagai orang asing menjadi masalah besar dan kompleks dalam sejarah manusia, termasuk dalam Perjanjian Lama. Kitab Rut menjadi salah satu kitab yang memuat narasi tentang hidup sebagai orang asing. Elimelekh dan keluarganya hidup sebagai orang asing di tanah Moab. Selanjutnya Rut yang mengikuti dengan ibu mertuanya, hidup sebagai orang asing di Yehuda, kampung halaman ibu mertuanya tersebut. Kondisi sebagai orang asing itu tidak membuat Rut takut. Sebaliknya, ia menunjukkan keberanian untuk membuka diri dan beradaptasi dengan budaya baru tempatnya hidup sekarang. Tindakannya menjadi inspirasi untuk menumbuhkan semangat pluralisme dan multikulturalisme. Melalui analisis kritis dalam penelitian ini, pembaca dapat melihat bagaimana benih eksklusivisme dan radikalisme muncul di masa pasca-pembuangan di antara bangsa Yahudi. Akan tetapi, keberanian perempuan Rut menjadi cahaya yang menerangi kegelapan eksklusivitas menuju perayaan atas multikulturalisme. Pembaca dapat mengambil inspirasi dari hidup Rut untuk membuka diri terhadap keragaman dan multikulturalisme. Tindakannya sekaligus menjadi inspirasi untuk mengarusutamakan semangat multikulturalisme.
Ayu Vinlandari Wahyudi
Equalita: Jurnal Studi Gender dan Anak, Volume 3, pp 109-120; https://doi.org/10.24235/equalita.v3i1.8607

Abstract:
Penelitian ini bertujuan mengungkapkan nilai karakter dan makna simbolik figur wanita dalam Tari Kandagan. Wanita merupakan makhluk lembut yang sangat memiliki pengaruh besar dalam kehidupan, karena sejatinya wanita diberikan fitrah secara kodrati untuk haid, hamil, melahirkan, dan menyusui. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode deskriptif analisis, berdasarkan observasi dari bentuk pertunjukan dan wawancara. Tari Kandagan menggambarkan seorang wanita yang memiliki karakter lincah, gagah, dan berani. Hal tersebut terlihat dari ragam-ragam gerak Tari Kandagan, seperti gerakan alung soder, sepak soder, jangkung ilo dan waliwis mandi. Ragam-ragam gerak dalam Tari Kandagan pun kental dengan nilai filosofis berdasarkan aktivitas wanita dalam kehidupan. Dengan demikian, di samping kelembutannya, wanita pun memiliki karakter gagah, kegigihan, ketangguhan, keberanian, dan kekuatan baik dalam jiwa maupun raganya.
Indra Gunawan, Ahmad Khaerurozi, Syamsul Maarif
Equalita: Jurnal Studi Gender dan Anak, Volume 3, pp 38-50; https://doi.org/10.24235/equalita.v3i1.8176

Abstract:
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui persepsi mahasiswa di IAIN Syekh Nurjati pada Tahun 2021 mengenai isu kesetaraan gender dalam mempelajari bidang filsafat. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan triangulasi sumber sebagai validitas data. Data diperoleh melalui observasi dan wawancara yang dilakukan oleh peneliti kepada mahasiswi Filsafat Agama IAIN Syekh Nurjati dan kepada mahasiswa dan mahasiswi di luar jurusan Filsafat Agama. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada kecenderungan bias gender mengenai perempuan yang mempelajari bidang filsafat, antara lain adalah adanya asumsi bahwa filsafat lebih cocok didalami oleh kaum laki-laki yang cenderung lebih rasional dibanding perempuan yang dianggap cenderung emosional. Diharapkan dengan adanya penelitian ini dapat menghadirkan suatu realitas yang lebih adil, dimana tidak ada bias gender dalam pemilihan suatu bidang yang akan ditekuni, sehingga baik laki-laki maupun perempuan dapat memasuki suatu bidang ataupun karir pilihan mereka secara bebas tanpa adanya intervensi, diskriminasi, maupun stereotip.
Lutfatulatifah Lutfatulatifah
Equalita: Jurnal Studi Gender dan Anak, Volume 3, pp 96-108; https://doi.org/10.24235/equalita.v3i1.8743

Abstract:
Tujuan dari makalah ini adalah untuk menjelaskan bagaimana strategi pembelajaran anti bias gender di Lembaga pendidikan anak usia dini. Pembelajaran anti bias gender sendiri dimaksudkan untuk memperjuangkan kesetaraan yang bukan berarti mempertentangkan laki-laki dan perempuan tetapi upaya untuk membangun hubungan yang setara dan kesempatan yang sama bagi laki-laki dan perempuan. Dalam Makalah ini menggunakan pendekatan kajian literatur. Terdapat tiga tema besar yang dibahas dalam makalah ini. Yakni gender, strategi pembelajaran anti bias gender, dan peran. Dalam strategi pembelaajaran anti bias gender sendiri membahas terkait perencanaan, pembelajaran, dan evaluasi. Pembelajaran ini tentu memiliki tujuan untuk menciptakan kesetaraan dan keadilan gender yang tidak dapat hanya diusahakan oleh salah satu pihak saja. Tapi perlu kejasama antar semua komponen diantaranya yakni, sekolah, orangtua, peserta didik, pengelola dan juga masyarakat.
Musahwi Awie Musahwi, Pitriyani Pitriyani
Equalita: Jurnal Studi Gender dan Anak, Volume 3, pp 51-65; https://doi.org/10.24235/equalita.v3i1.8303

Abstract:
Musahwi ([email protected])Pitriyani ([email protected]) AbstractPenelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan tentang pemberdayaan perempuan melalui program kredit mikro Koperasi Syariah Benteng Mikro Indonesia yang menggunakan pola Grammen Bank. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif dengan wawancara mendalam dan observasi langsung. Hasil penelitian menunjukan bentuk pemberdayaan yang diberikan oleh Koperasi Syariah Benteng Mikro Indonesia berupa pemberian kredit mikro tanpa aguman khusus untuk perempuan, pelatihan mengelola keuangan keluarga melalui simpanan wajib dan sukarela, kegiatan perkumpulan melalui Rembug Pusat.
Wakhid Hasyim
Equalita: Jurnal Studi Gender dan Anak, Volume 3, pp 121-131; https://doi.org/10.24235/equalita.v3i1.8631

Abstract:
Artikel ini berupaya untuk memahami kepemimpinan keluarga dalam masyarakat muslim dalam konteks kehidupan modern. Fokus kajiannya adalah konsep tentang kepemimpinan dalam keluarga, kepemimpinan laki-laki, kepemimpinan perempuan, dan peluang laki-laki untuk bekerjasama dalam memimpin keluarga bersama perempuan. Paparan dapat memberi beberapa pelajaran antara lain pertama, bahwa perubahan sosial mempengaruhi terhadap perubahan keluarga, termasuk kepemimpinan laki-laki dan relasi gender. Kedua, secara tekstual keagamaan, makna kepemimpinan dapat diperluas tidak saja oleh laki-laki, namun juga oleh perempuan. Kepemimpinan dapat dimaknai sebagai kewenangan mengambil keputusan, dan kewenangan melaksanakan hasil keputusan musyawarah keluarga. Ketiga, laki-laki dalam konteks masyarakat patriarki memiliki modalitas kuat untuk berkerjasama dengan perempuan dalam memimpin keluarga, baik dari aspek dominasi, signifikasi maupun legitimasi.
Yeni Huriani, Mohammad Taufik Rahman, Mochamad Ziaul Haq
Equalita: Jurnal Studi Gender dan Anak, Volume 3, pp 76-95; https://doi.org/10.24235/equalita.v3i1.8355

Abstract:
Dengan situasi Bekerja dari Rumah (WFH) dan Belajar dari Rumah (SFH) selama Pandemi COVID-19, tanggung jawab keluarga perempuan telah meningkat. Hal tersebut menyebabkan terjadinya kekerasan dalam rumah tangga, kekerasan pasangan intim (IPV), kesehatan mental, dan tingginya resiko kekerasan terhadap anak, terutama anak perempuan. Studi ini menggunakan perspektif studi perempuan dengan pendekatan kualitatif dalam mengamati dan menganalisis secara kritis perkembangan pandemi COVID-19 yang menimpa perempuan selama tahun 2020, baik berdasarkan observasi langsung, studi literatur hasil penelitian dampak pandemi, serta berbagai laporan yang dipublikasikan oleh Pemerintah dan media swasta terpercaya. Studi ini menemukan bahwa pandemi dapat menciptakan realitas baru dalam relasi berbasis gender dalam rumah tangga, yaitu: membangun konstruksi baru relasi gender; dari kesetaraan gender hingga keadilan relasi kuasa berbasis gender; mengubah tanggung jawab pengasuhan dari mengandalkan ibu menjadi tanggung jawab orang tua secara kolektif; kebutuhan untuk meningkatkan pengaturan untuk pembagian kerja yang adil dalam pekerjaan dan perawatan di rumah. Artikel ini menggunakan kajian perempuan dalam menganalisis dan mengembangkan wacana kritis tentang keadilan relasi kekuasaan gender dalam keluarga di tengah pandemi yang memberi tekanan pada perempuan di Indonesia, terutama karena tuntutan WFH dan SFH.
Misbah Binasdevi
Equalita: Jurnal Studi Gender dan Anak, Volume 3, pp 132-142; https://doi.org/10.24235/equalita.v3i1.8738

Abstract:
Pendidikan sebagai salah satu sarana bagi individu untuk mendapatkan informasi dan melatih kemampuan yang dimiliki agar mampu bersaing di lingkungan masyarakat. Namun, pendidikan di Indonesia ternyata masih terdapat ketidaksetaraan gender. Penggambaran ketidaksetaraan gender tersebut muncul dalam buku pegangan siswa. Kurikulum 2013 edisi revisi 2018 masih memuat nilai-nilai ketidaksetaraan gender yang diilustrasikan melalui gambar dan teksh cerita. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisa dan mengdeskripsikan kategori ketidaksetaraan gender yang terdapat dalam buku tematik kurikulum 2013 edisi revisi 2018 kelas 3 tema 4 “Hak dan Kewajibanku”. Penelitian ini menggunakan metode analisa semiotika C.S Pierce untuk mengungkap makna dibalik tanda-tanda. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa buku pegangan siswa masih belum mampu melahirkan suatu kesetaraan gender bagi perempuan. Ketidaksetaraan gender ini meliputi (1) Bias gender dalam nilai sifat terdapat 2 perbedaan yaitu sifat maskulin dan feminim terutama dalam berpakaian, (2) Bias gender dalam peran kerja terdapat 2 perbedaan peran yaitu publik dan domestik, dan (3) Bias gender dalam kegemaran membentuk 3 perbedaan yaitu kepemilikan barang, hobi/olahraga dan permainan.Kata Kunci: Ketidaksetaraan Gender, Tematik K13, Semiotika Pierce
Naila Farah
Equalita: Jurnal Studi Gender dan Anak, Volume 2, pp 182-201; https://doi.org/10.24235/equalita.v2i2.7457

Abstract:
Gender masih menjadi pembahasan strategis baik di rana sosial maupun akademik. Isu gender menjadi legitimasi untuk meruntuhkan pemahaman superioritas berdasarkan jenis kelamin. Di Indonesia, isu gender juga melahirkan paradigma baru. Keterbukaan informasi publik didukung makin lenturnya regulasi yang semula membatasi peran-peran strategis perempuan membuat persolan seksualitas tidak lagi menjadi halangan untuk melebarkan peran gender. Pemahaman ini juga telah menjalar ke berbagai pelosok. Misalnya di Indramayu. masyarakat justru mempraktikan langsung peran-peran gender yang tidak lagi bergantung pada identitas seksualitasnya seperti, pergeseran peran gender antara perempuan dan laki-laki. Khususnya bagi keluarga TKW. Perempuan yang bekerja sebagai TKW, punya multiperan menjadi ibu rumah tangga (IRT), TKW Indramayu juga menjadi andalan dalam mendulang rupiah untuk pemenuhan kebutuhan keluarga besar. Dari sini, pembahasaan mengenai pergeseran peran gender dipandang menarik. Kajian gender bersentuhan langsung dengan kehidupan masyarakat di Desa Purwajaya, Kecamatan Krangkeng, Kabupaten Indramayu yang banyak bekerja sebagai TKW. Penelitian ini termasuk penelitian lapangan, pendekatan yang dilakukan adalah pendekatan etnografi. Metode etnografi ialah suatu metode atau ilmu mengenai (gambaran) etnik, suku, bangsa atau masyarakat. Metode ini menggambarkan keadaan masyarakat yang diteliti dalam hal ini perempuan yang bekerja sebagai TKW di Desa Purwajaya, Kecamatan Krangkeng, Kabupaten Indramayu. Dari hasil penelitian, penulis menemukan terjadinya pergeseran peran gender TKW di desa tersebut, yang kemudian jika dilebarkan lagi, TKW di desa tersebut menjalankan multiperan gender. Bukan hanya sebagai ibu rumah tangga, melainkan menjadi penopang ekonomi utama keluarga.
Cucum Cucum
Equalita: Jurnal Studi Gender dan Anak, Volume 2, pp 152-163; https://doi.org/10.24235/equalita.v2i2.7449

Abstract:
Pendidikan mempunyai peran yang sangat strategis dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia, dan upaya mewujudkan cita-cita bangsa Indonesia dalam mewujudkan kesejahteraan umum dan mencerdaskan kehidupan bangsa. Tujuan pendidikan nasional serta sabda Rasul di atas berbanding lurus bahwa keduanya mempunyai tujuan yang sama dalam membentuk karakter atau akhlak manusia yang mulia. Jadi bisa disimpulkan bahwa karakter itu erat kaitannya dengan personality. Seseorang bisa dikatakan berkarakter apabila tingkah lakunya sesuai dengan kaidah moral. Lembaga pendidikan mempunyai peran yang sangat penting dalam upaya untuk membentuk karakter. Sehingga dalam paper ini dimaksudkan untuk menjabarkan terkait implementasi pendidikan karakter pada anak usia dini.Kata kunci: Impelentasi, Pendidikan, Karakter, Anak Usia DiniEducation has a very strategic role in improving the quality of human resources, and efforts to realize the aspirations of the Indonesian people in realizing general welfare and educating the nation's life. The objectives of national education and the words of the Prophet above are directly proportional to the fact that both have the same goal in shaping noble human character or morals. So it can be concluded that character is closely related to personality. A person can be said to have character if their behavior is in accordance with moral principles. Educational institutions have a very important role in the effort to shape character. So that this paper is intended to describe the implementation of character education in early childhood.Keywords: Implementation, Education, Character, Early Childhood
Vevi Alfi Maghfiroh
Equalita: Jurnal Studi Gender dan Anak, Volume 2, pp 257-273; https://doi.org/10.24235/equalita.v2i2.7426

Abstract:
Radha’ah dan Hadhanah merupakan hak anak sekaligus kewajiban kedua orang tua dalam menjalankan amanah titipan Tuhan. Keharusan ini sudah diatur dengan jelas dalam ayat Al-Qur’an dan teks hadist. Dalam literatur fikih klasik umumnya pembahasan radha’ah hanya membahas tentang tekhnis penyusuan yang menyebabkan terjadinya mahram dan upah penyusuan yang dilakukan oleh perempuan selain ibu kandung. Begitupun dengan hadhanah, umumnya hanya menempatkan orang tua sebagai subjek pengasuh, tanpa mempertimbangkan kebutuhan dan kemaslahatan anak. Pembahasan Radha’ah dan Hadhanah berperspektif gender ini memperhatikan dengan seksama perbedaan dan fungsi sosial yang dikonstruksikan oleh masyarakat tentang gender untuk kesetaraan dan kesalingan menggapai maslahah bagi setiap subjeknya. Adapun metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah kuantitatif pada penelitian pustaka, dengan tekhnik analisis berupa metode deskriptif analitik dan metode deduktif untuk mengurai secara menyeluruh objek yang diteliti. Adapun hasil dari penelitian ini menyatakan bahwa perspektif gender dalam rada’ah tidak hanya melihat peran biologis perempuan dalam memenuhi kewajibannya sebagai ibu yang menyusui, tetapi juga memperhatikan peran bapak sebagai pelindung yang harus menjamin kebutuhan keduanya baik secara materil maupun non-materil. Begitupun hadhanah berperspektif gender harus menjadikan maslahah sebagai ketentuan hukum hak asuh agar berorientasi pada terwujudnya kemaslahatan bagi anak dan kedua orang tuanya.Kata Kunci: Radha’ah, Hadhanah, Gender
Yunita Dwi Jayanti
Equalita: Jurnal Studi Gender dan Anak, Volume 2, pp 227-238; https://doi.org/10.24235/equalita.v2i2.7433

Abstract:
Komunikasi yang disampaikan dalam sebuah tarian adalah pengalaman berharga yang bermula dari imajinasi kreatif, kemudian disesuaikan dengan kehidupan sehari-hari untuk menstimulasi kecerdasan pada anak. Sekolah merupakan media utama dan tempat untuk mengembangkan kecerdasan yang dimiliki setiap individu. Pada pendidikan Sekolah Dasar (SD) salah satu bidang studi yang disampaikan kepada siswa adalah pembelajaran seni tari. Implementasi pembelajaran tari kreatif bertujuan untuk menggali kecerdasan kinestetik, intrapersonal, dan interpersonal siswa. Karakteristik siswa di lingkungan sekolah perkotaan dalam berinteraksi, toleransi, bekerjasama antar teman sebaya kurang terjalin dengan baik, disebabkan dari sikap siswa yang individual serta latar belakang suku dan budaya masing-masing siswa yang berbeda menunjukan acuh tak acuh, kurangnya guru menggali kecerdasan interpersonal siswa pada saat di sekolah. Tujuan penulisan artikel ini untuk mendeskripsikan pembelajaran tari kreatif dalam meningkatkan kecerdasan Interpersonal siswa kelas II SD Cendekia Leadership School Bandung. Metode penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan pendekatan interdisiplin. Pada hasil pretest diperoleh predikat Cukup dalam indikator kecerdasan interpersonal, sedangkan pada hasil posttest mengalami peningkatan di lihat dari berbagai aspek kepemimpinan, bekerjasama. sosialisasi, dan empati dengan memperoleh predikat Baik. Hasil dari penelitian ini terdapat pengaruh dalam pembelajaran tari kreatif terhadap peningkatkan kecerdasan interpersonal siswa kelas II SD di Cendekia Leadership School Bandung.Kata kunci: tari kreatif, siswa, kecerdasan interpersonal
Burhan Sanusi
Equalita: Jurnal Studi Gender dan Anak, Volume 2, pp 202-226; https://doi.org/10.24235/equalita.v2i2.7451

Abstract:
Penelitian ini membahas tentang perubahan tradisi perawatan di masa kehamilan yang meliputi ritual masa kehamilan dari perawatan sampai persalinan (ngajuru) di desa Japura Kidul Kecamatan Astanajapura Kabupaten Cirebon. Tradisi perawatan di masa kehamilan yang ada di Desa Japura Kidul ini mengalami perubahan, salah satunya ialah pada ritual ngajuru (persalinan) dan perawatan kehamilan. Penelitian ini menjadi menarik karena memiliki keunikan dalam ritual-ritual yang berubah mengenai tradisi perawatan di masa kehamilan.Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif, penelitian ini melakukan observasi di lapangan dan wawancara mendalam. Data berasal dari hasil wawancara dari para informan, sedangkan data tambahan berbentuk dokumen. Analisis data dilakukan dengan cara menelaah dan mengamati data yang ada. Perubahan tradisi masa kehamilan dapat terjadi karena ada beberapa faktor yang mempengaruhinya, di antaranya yaitu kebijakan pemerintah yang mengakibatkan konflik, dan ketegangan terhadap kelompok-kelompok yang ada di masyarakat Japura Kidul. Sehingga perubahan yang terjadi dalam tradisi perawatan di masa kehamilan ini merupakan keteraturan yang dipaksa oleh kelompok dominan dengan menggunakan posisi dan wewenangnya untuk mengajak masyarakat beralih dari layanan paraji menuju layanan medis modern. Pengetahuan masyarakat tentang kesehatan, kebersihan, dan keselamatan yang semakin meninggi. Sehingga kesadaran masyarakat muncul dan mengalami perubahan.Kata kunci: Perubahan, Tradisi, Perawatan, KehamilanAbstractThis study discusses in the change for the tradition of care pregnancy, including rituals pregnancy from nursing to give birth (ngajuru) in Japura Kidul Village, Astanajapura District, Cirebon Regency. The tradition of care pregnancy is in Japura Kidul has changed, one of the ritual is ngajuru (giving birth) and pregnancy. This research becomes interested because it has unique in rituals which is changed as long as the tradition of care pregnancy.This study used qualitative descriptive, it conducts an observations and in-depth interviews. The data takes from informant interview result, while the additional data are documents. Data analysis performed by analyzing and peering-data. The change in the pregnancy tradition can occur because several factors that influence it, including government policies that cause conflict, and against groups in the community of Japura Kidul. So that the change that occurs in the tradition of care pregnancy is orderliness that forced by the dominant group to use its means and authority to invite people to switch from paraji to modern medical services. Increasing public knowledge about health, cleanliness and safety. So that public awareness appears and experiences changes.Keywords: The change. Tradition, Nursing, Pregnancy
Abu Bakar
Equalita: Jurnal Studi Gender dan Anak, Volume 2, pp 142-151; https://doi.org/10.24235/equalita.v2i2.7450

Abstract:
Salah satu yang cukup berperan besar yaitu lingkungan. Lingkungan akan memberi warna terhadap proses pendidikan anak. Dan lingkungan yang sangat utama adalah lingkungan keluarga dimana terjadi di dalamnya pendidikan keluarga. Keluarga sebagai kelompok terkecil dalam masyarakat merupakan wadah yang sangat penting karena menjadi tempat penanaman dasar-dasar tata kehidupan bagi seorang manusia. Keluarga merupakan wadah pendidkan karakter seseorang yang pertama dan utama. Yang menjadi permasalahan banyak terjadi peran orang tua dalam proses pendidikan dalam keluarga tidak menunjukkan pada pola pendidikan sebenarnya. Orang tua menyadarai bahwa pendidikan keluarga sangat penting tetapi pada prakteknya para orang tua tidak maksimal dalam menerapkannya. Bentuk pendidikan anak dalam keluarga diantara yaitu dengan cara; menanamkan ketauhidan,ketauladanan, saling menghormati sesama anggota keluarga, keharmonisan keluarga, kepercayaan kepada anak, perhatian orang tua terhadap anak, komunikasi yang demokratis serta mengapresiasi anak. Hal-hal tersebut merupakan proses pembentukan lingkungan keluarga yang mendukung dalam proses pendidikan anak, sehingga proses pendidikan anak akan lebih maksimal.Kata kunci: lingkungan, pendidikan, keluarga, anakAbstractOne that plays a big role is the environment. The environment will give color to the child's education process. And the very main environment is the family environment where family education occurs. The family as the smallest group in society is a very important container because it becomes a place for planting the basics of life for a human being. Family is the first and foremost place for educating one's character. The problem is that the role of parents in the educational process in the family does not show the actual pattern of education. Parents realize that family education is very important but in practice parents are not maximal in implementing it. The form of children's education in the family is by way of; instilling monotheism, exemplary, mutual respect for fellow family members, family harmony, trust in children, parental attention to children, democratic communication and appreciation of children. These things are the process of forming a family environment that supports the process of children's education, so that the children's education process will be maximized.Keywords: environment, education, family, children
Laili Widayanti, Rustono Rustono, Atika Zahra Furi
Equalita: Jurnal Studi Gender dan Anak, Volume 2, pp 239-256; https://doi.org/10.24235/equalita.v2i2.7456

Abstract:
Perkembangan kognitif anak-anak dalam konsep ruang kanan kiri di RA Al Muhtadin sangat rendah, hal ini disebabkan oleh 1) pembelajaran guru yang monoton dan kurang variatif; 2) minat anak yang tergolong rendah pada pembelajaran konsep ruang; 3) karakteristik anak yang selalu meniru apa yang dilihatnya dan tidak berpikir secara nalar; dan 4) alat peraga atau media pembelajaran yang kurang menarik. Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan kemampuan kognitif dalam konsep ruang kanan-kiri dan untuk mengetahui penerapan metode permainan pijak kaki pada anak kelompok A di RA Al Muhtadin Langenharjo Kendal. Penelitian ini merupakan penelitian tindakan kelas dengan menggunakan 2 siklus, setiap siklus terdiri satu kali pertemuan dengan empat tahapan. Dimulai dengan tahapan perencanaan, pelaksanaan, observasi dan refleksi. Terbukti dari hasil penelitian yang menunjukkan bahwa pada observasi awal pra siklus anak yang memperoleh nilai 16,67%, pada siklus I kemampuan anak meningkat menjadi 75%, dan pada siklus II kemampuan anak meningkat menjadi 91,67%. Berdasarkan penelitian tersebut disarankan pada semua guru dapat merancang kegiatan pembelajaran yang kreatif dan inovatif serta menggunakan media dan metode yang menarik, menyenangkan dan bervariasi.
Bani Syarif Maula
Equalita: Jurnal Studi Gender dan Anak, Volume 2, pp 164-181; https://doi.org/10.24235/equalita.v2i2.7287

Abstract:
Studi hukum Islam yang menjadi wilayah kajian PTKI, terutama Fakultas Syariah, memerlukan penyegaran dan pembaharuan dalam hal pengkajiannya, terutama dalam hal pendekatan yang digunakannya, bukan hanya bersifat normatif tetapi juga sosiologis. Hal ini merupakan suatu keharusan karena studi hukum Islam tidak dapat lepas dari kontak dengan ilmu-ilmu sosial dan humaniora. Kajian ini merupakan hasil dari penelitian eksploratif dengan pendekatan normatif yang mencoba mengungkap materi perkuliahan dan bahan ajar matakuliah di Fakultas Syariah, khususnya tentang hukum keluarga (perkawinan dan kewarisan) dikaitan dengan wacana kesetaraan gender. Kurikulum Fakultas Syariah di PTKI terdiri dari matakuliah yang sarat dengan isu-isu kesetaraan dan keadilan gender (KKG). Namun demikian, berdasarkan ulasan dan analisis terhadap kurikulum Fakultas Syariah, terutama matakuliah hukum perkawinan dan hukum waris dapat disimpulkan bahwa model pembelajaran dalam perkuliahan di PTKI seringkali tidak menggambarkan sebuah overt curriculum yang responsif gender. Hal ini terlihat dari indikator kompetensi (target hasil belajar) yang tidak ditemukan adanya indikator/target yang mengarahkan mahasiswa agar memperoleh pengetahuan di bidang hukum perkawinan dan waris dengan menggunakan pemahaman kesetaraan dan keadilan gender.
Ayu Vinlandari Wahyudi
Equalita: Jurnal Studi Gender dan Anak, Volume 2, pp 130-141; https://doi.org/10.24235/equalita.v2i2.7136

Abstract:
Tulisan ini bertujuan untuk mengungkapkan dan menjelaskan bagaimana peranan tari dalam perspektif gender dan budaya. Tulisan ini berangkat dari sebuah permasalahan yakni masih adanya pandangan stereotype gender tentang tari dalam pandangan masyarakat sosial. Pemahaman mengenai tari dalam sudut pandang masyarakat sosial masih menimbulkan pro dan kontra. Hal tersebut dikarenakan masih kurangnya rasa ingin tahu serta pemahaman terhadap tari itu sendiri, sehingga masih banyak yang menganggap bahwa tari hanya dapat ditarikan oleh wanita saja. Tari merupakan sebuah gejolak ekspresi manusia yang dituangkan ke dalam gerak ritmis yang indah, yang dapat ditarikan baik oleh laki-laki maupun perempuan. Dalam sebuah tarian memiliki tujuan dan fungsinya masing-masing. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode penelitian studi literatur. Analisis data menggunakan metode deskriptif analisis dengan tujuan untuk mendapatkan sebuah analisis dari permasalahan yang diusung. Penelitian ini menghasilkan sebuah analisis yakni tarian adalah suatu kegiatan yang dilakukan dengan tidak memandang gender.Kata Kunci : Tari, Gender, Budaya
Yeni Sulistiani, Lutfatulatifah Lutfatulatifah
Equalita: Jurnal Studi Gender dan Anak, Volume 2, pp 118-129; https://doi.org/10.24235/equalita.v2i2.7036

Abstract:
Tulisan ini bertujuan mendeskripsikan konsep pendidikan bagi perempuan menurut Dewi Sartika. Metode penelitian yang digunakan adalah library research. Pendidikan menurut Dewi Sartika adalah ilmu atau alat untuk menata, mengubah, dan memajukan segala perkara ke arah yang lebih baik, termasuk anak didik. Hasil guna dari tulisan ini dapat dijadikan batu-batu landasan untuk memahami bagaimana konsep pendidikan dalam pemikiran Dewi Sartika, serta pemikiran untuk mengembangkan penelitan lebih lanjut, baik mengenai Dewi Sartika, maupun tentang konsep pendidikan tokoh lainnya yang akan memperkaya khazanah keilmuan, terutama bagi praksis pendidikan.
Royani Afriani, Maimunah Maimunah
Equalita: Jurnal Studi Gender dan Anak, Volume 2, pp 75-88; https://doi.org/10.24235/equalita.v2i1.7059

Abstract:
Penelitian ini dilakukan dalam rangka turut menyelesaikan satu dari beberapa persoalan yang dihadapi oleh Pekerja Migran Indonesia. Penelitian yang mengambil topic tentang Penguatan Keterampilan Bahasa Inggris bagi Calon Pekerja Migran Indonesia ini dilakukan di Pondok Pesantren Al-Quranniyah, Krangken, Indramayu. Penelitian dilakukan selama empat bulan dalam bentuk pendidikan dan pengajaran. Output dari kegiatan ini adalah meningkatkan kemampuan bahasa Inggris CPMI di Indramayu. Pihak-pihak yang terlibat dalam kegiatan ini adalah Dinas Ketenagakerjaan Indramayu dan Pengasuh, guru, ustadz, dan santri di Pondok Pesantren Al-Quranniyyah.
Lutfatulatifah Lutfatulatifah
Equalita: Jurnal Studi Gender dan Anak, Volume 2, pp 67-73; https://doi.org/10.24235/equalita.v2i1.7057

Abstract:
Dalam paper ini menjelaskan terkait penelitian yang telah dilakukan tentang pola asuh orangtua di Benda Kerep. Benda Kerep merupakan suatu kelompok masyarakat yang dikenal tradisional disalah satu daerah di Kota Cirebon. Dari Penelitian yang telah dilakukan didapatkan hasil bahwa dalam pola asuh orangtua di Benda Kerep didominasi oleh Ibu. Penelitian ini menggunakan pendekatan semi etnografi, dimana penelitian dilakukan selama 2 bulan dengan tinggal dengan kelompok masyarakat Benda Kerep. Untuk analisis sendiri menggunakan teknik grounded theory. Dari apa yang didapatkan dalam penelitian bahwa dalam kondisi saat ini yang modern masih ada kelompok masyarakat yang masih menjalani cara tradisional dengan tetap memperrtahankan konstruksi social dimana pengasuhan merupakan tanggung jawab Ibu.
Jaja Suteja, Muzaki Muzaki
Equalita: Jurnal Studi Gender dan Anak, Volume 2, pp 1-18; https://doi.org/10.24235/equalita.v2i1.6991

Abstract:
Penelitian ini menggunakan metode kualitatif lapangan (field research) dengan jenis deskriptif. Teknik pengumpulan datanya dengan menggunakan observasi partisipan, wawancara, dan dokumentasi, teknik pengambilan datanya denggan purposive sampling. Hasil penelitian ini menghasilkan beberapa temuan yakni bahwa kasus-kasus kekerasan dalam rumah tangga di Kabupaten Cirebon semakin hari, semakin meningkat. Bahkan Dalam kebanyakan kasus, pelaku yang menjadi penyebab kekerasan dalam rumah tangga dilakukan oleh pasangannya. Akan tetapi, tidak sedikit pasangan yang posisinya sebagai korban KDRT tetapi masih tidak mau melaporkan kasusnya kepada pihak yang berwajib dengan alasan masih mencintai pasangannya. Salah satu upaya untuk mencegah KDRT dapat dilakukan dengan kegiatan konseling keluarga. Konseling keluarga bertujuan untuk membantu anggota keluarga belajar menghargai secara emosional bahwa dinamika keluarga adalah kait-mengait diantara anggota keluarga yang lainnya. Kesimpulan dari penelitian ini menghasilkan temuan bahwa salah satu upaya dalam mencegah kekerasan dalam rumah tangga dapat dilakukan dengan kegiatan konseling keluarga. Oleh karena itu, dibutuhkan sekali tenaga konselor yang profesional dan handal baik secara akademik maupun praktisi dalam memecahkan permasalahan KDRT.This research uses a qualitative field method (field research) with a descriptive type. Data collection techniques using participant observation, interviews, and documentation, data collection techniques with purposive sampling. The results of this study resulted in several findings namely that cases of domestic violence in Cirebon District are increasing day by day. In fact, in most cases, the perpetrators who cause domestic violence are committed by their partners. However, not a few couples whose position as victims of domestic violence but still do not want to report their cases to the authorities on the grounds they still love their partners. One effort to prevent domestic violence can be done with family counseling activities. Family counseling aims to help family members learn to appreciate emotionally that family dynamics are a link between other family members. The conclusion of this study resulted in the finding that one of the efforts in preventing domestic violence can be done with family counseling activities. Therefore, professional and reliable counselors are needed both academically and practitioners in solving domestic violence problems KDRT.
Listiana Ikawati
Equalita: Jurnal Studi Gender dan Anak, Volume 2, pp 108-117; https://doi.org/10.24235/equalita.v2i1.7089

Abstract:
The LGBT phenomenon is not a novel thing nowadays. Many controversies have arisen in response to whether it can be accepted or not. Some countries, especially Islamic countries including Indonesia insists that this is unacceptable because it violates the Islamic laws as stated in Quran and Hadith. Other countries, especially the western countries considered this to be normal and tolerable. The concern on this issue has also encouraged the actors in the movie industries to create some work representing how this phenomenon occurs. One of which is found in Chloe movie. This gender-related study aimed at analyzing how the gender identity, sexual orientation and gender fluidity were portrayed in the movie. It included how the main character perceive her gender identity and sexual orientation, why the gender fluidity existed and what reasons were underlying such behaviors. The analysis on the movie was carried out by using lesbian/ gay criticism. The result of the study shows that gender is a fluid entity. Admitting to belong to a particular gender identity requires someone to perform some roles which are agreed by the society. However, one’s gender identity does not always represent his or her sexual orientation. Some people even change their sexual orientation or gender fluidity. The movie reveals that heterosexual deprivation causes the gender fluidity. Lack of intimacy between husbands and wives may influence each of them to get the intimacy from people of the same gender. Last but not least, communication between husbands and wives plays a vital role to maintain the sexual relations that indirectly maintains the straightness of the gender identity and sexual orientation.
Asep Kurniawan
Equalita: Jurnal Studi Gender dan Anak, Volume 2, pp 32-47; https://doi.org/10.24235/equalita.v2i1.7053

Abstract:
Efektivitas dari kepemimpinan kepala sekolah adalah diantara faktor dari sejumlahfaktor yang berkaitan dengan kinerja guru, melalui kinerja yang baik, maka proseskomunikasi pendidikan di suatu sekolah akan terlaksana dengan baik. Penelitian inibertujuan untuk mengungkap sejauhmana pengaruh kepemimpinan kepala sekolahperempuan terhadap kinerja guru di MTsN Ciledug Cirebon. Metode penelitian ini ialahkuantitatif korelasional. Populasi penelitian adalah 67 guru dengan sampel 30 guru.Instrumen yang dipergunakan adalah angket. Teknik analisis yang dipakai ialah teknikanalisis Statistik Parametris sebagaimana jenis penelitian bersifat asosiatif, denganmemakai korelasi bivariate atau Product Moment Pearson. Hasil yang memperlihatkanbahwa ada hubungan yang sangat kuat antara Variabel Kepemimpinan Kepala Sekolahperempuan (X), dengan Kinerja Guru di MTsN Ciledug Cirebon sebesar 0,825 ataumemiliki pengaruh langsung sebesar 68,0625%. Hal tersebut berarti apabilakepemimpinan Kepala Sekolah perempuan sudah baik, maka kinerja guru pun menjadibaik.
Muhammad Candra Syahputra
Equalita: Jurnal Studi Gender dan Anak, Volume 2, pp 58-66; https://doi.org/10.24235/equalita.v2i1.7056

Abstract:
Coronavirus Disease (COVID-19) adalah wabah virus yang menjakit masyarakat dunia atau disebut pandemi, sejak ditemukan kasus positif COVID-19 di Indonesia pada 2 Maret 2020 pemerintah Republik Indonesia mengumumkan Indonesia darurat COVID-19, yang juga berdampak pada kegiatan belajar mengajar di sekolah maupun madrasah. Sekolah dan madrasah dirumahkan untuk melakukan kegiatan belajar di rumah dengan melakukan pembelajaran dalam jaringan. Guru sebagai pendidik selain tetap memberikan materi dalam proses belajar-mengajar jarak jauh melalui jaringan internet, juga harus bekerjasama dengan orang tua dalam mengawasi kegiatan belajar mengajar, selain itu orang tua juga hendaknya memberikan edukasi tentang dampak COVID-19 dan juga cara pencegahannya. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode penelitian kepustakaan dengan mengandalkan sumber-sumber kepustakaan yang kemudian di analisis secara mendalam untuk mengetahui betapa pentingnya peran orang tua dalam mengedukasi anak-anaknya tentang dampak COVID-19 dan cara pencegahannya, melakukan kontrol terhadap anak melalui pengawasaan agar tidak bermain diluar rumah, bekerjasama dengan guru mengawasi kegiatan belajar-mengajar anak, menanamkan nilai karakter dalam menyikapi pandemi COVID-19.
Leny Sri Wahyuni
Equalita: Jurnal Studi Gender dan Anak, Volume 2, pp 98-107; https://doi.org/10.24235/equalita.v2i1.7064

Abstract:
Memasuki golden age period, kemampuan berbahasa seorang anak biasanya mengalami perkembangan yang signifikan. Namun, tidak semua anak dapat sempurna dalam memperoleh bahasanya, seperti yang dialami oleh DRS. DRS merupakan seorang anak perempuan berusia 3 tahun 1 bulan. Sejak lahir, DRS menderita palatosis yang mengakibatkan ia tidak mampu berbahasa seperti anak-anak seusianya. Ketidaksempurnaan artikulator yang dimiliki oleh DRS berimbas pada ketidakjelasan artikulasi fonem maupun kata yang dibunyikannya sehingga mengganggu proses pemerolehan fonologinya. Oleh karena itu, studi ini bertujuan untuk menginvestigasi fonem apa saja yang mengalami gangguan saat dilafalkan oleh penderita palatosis. Adapun, penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan menggunakan metode studi kasus. Setelah dilakukan penelitian, DRS cenderung mengalami kesulitan dalam melafalkan bunyi-bunyi konsonan, terutama kesulitan saat melafalkan bunyi dental, alveolar, postaveolar, dan palatal, sebagai contoh ketidakjelasan pada pelafalan fonem /j/. Walaupun sudah dilakukan operasi penutupan celah pada langit-langit rongga mulutnya dan pemasangan obturatir, akan tetapi belum dapat sepenuhnya membantu DRS dalam memperoleh kemampuan fonologinya. Hal itu karena masih terdapat bunyi sengau di setiap pelafalan fonem-fonem konsonan yang dilafalkannya. Sementara itu, dalam pemerolehan bunyi-bunyi vokal, DRS tidak begitu mengalami kesulitan untuk melafalkannya, ia mampu melafalkan fonem /a/, /i/, /u/, /e/, dan juga /o/ dengan cukup baik.
Suryadi Suryadi, Anisul Fuad, Syaeful Badar
Equalita: Jurnal Studi Gender dan Anak, Volume 2, pp 19-31; https://doi.org/10.24235/equalita.v2i1.7052

Abstract:
Permasalahan anak jalanan atau pekerja anak merupakan masalah sosial yang belum terselesaikan sampai saat ini. Solusi yang dibuat oleh stakeholders atas permasalahan tersebut masih belum menyentuh akar permasalahan yang sesungguhnya. Permasalahan anak jalanan terkait erat dengan kondisi ekonomi, sosial, dan budaya di dalam keluarga mereka. Desakan ekonomi dalam kehidupan perkotaan di Cirebon menyisakan kelompok masyarakat dengan akses yang serba terbatas. Menggunakan metode kualitatif, penelitian ini mengungkap permasalahan sosial, ekonomi, dan budaya anak jalanan di Kota Cirebon dengan mengambil data pada dua lokasi yang menjadi pusat anak-anak dan keluarganya melakukan aktivitas. Pengumpulan data lapangan dengan wawancara mendalam dan diskusi terfokus dengan anak jalanan dan keluarga mereka on the spot di lokasi untuk menjaga ke-alamiahan kegiatan yang biasa mereka lakukan. Menggunakan teori strategi bertahan keluarga (household survival strategy) masih nampak bahwa tenaga kerja anak adalah potensi sekaligus asset yang ada dalam keluarga sebagai tenaga kerja ketiga yang pada waktunya harus dipergunakan manakala keluarga dalam tekanan ekonomi yang hebat. Temuan penelitian menggambarkan kondisi anak jalanan sebagai berikut : usia responden anak jalanan antara 6 s.d. 13 tahun, Sebagian dari mereka sudah tidak bersekolah lagi (drop out), berasal dari Kota Cirebon 75% dan Kabupaten Cirebon 25% dengan aktivitas utama mengamen, mengemis dan berjualan tisu yang dijajakan di perempatan jalan ketika lampu lalulintas sedang merah (berhenti). Sebagian besar anak jalanan pernah mengalami kekerasan fisik sperti : 1) ditendang, dicubit, dan diinjak oleh tukang becak, 2) dibenturkan ke pintu oleh orang tuanya, 3) dipukul dan dikeroyok di sekolah oleh temannya, 4) dipaksa jual tisu, 5) dibatasi jam main, karena di terget jualan tisu. Kekerasan Psikologis : 1) dihina, diejek, bullying oleh teman sekolah maupun teman di jalan dan 2) bullying (dimarahi dan direndahkan) di rumah oleh orang tuanya. Alasan ekonomi dan situasi psikologis menjadi alasan anak turun ke jalan, yaitu alasan yang disampaikan oleh anak-anak melakukan aktivitas dan bertahan di jalanan.
Novianti Muspiroh
Equalita: Jurnal Studi Gender dan Anak, Volume 2, pp 48-57; https://doi.org/10.24235/equalita.v2i1.7055

Abstract:
Penelitian ini bertujuan untuk mengungkap sejauhmana perbedaan hasil belajar biologi siswa berdasarkan gender di MTsN 1 Kota Cirebon. Penelitian ini ialah penelitian kuantitatif ex post facto. Data hasil belajar siswa laki-laki dan perempuan dari dokumentasi guru. Populasi pada penelitian ini ialah seluruh siswa kelas 7 a MTsN 1 Kota Cirebon yang berjumlah 32 siswa. Berpijak pada hasil analisis data yang dilaksanakan dengan analisis variansi satu jalan dengan sel tidak sama didapatkan nilai Fhitung = 2.270 lebih besar dari Ftabel = 1.97, sehingga bisa disimpulkan ada perbedaan yang signifikan antara hasil belajar siswa berdasarkan gender di MTsN 1 Kota Cirebon. Selanjutnya dilaksanakan uji simple effect antar hasil belajar siswa laki-laki dan siswa perempuan untuk mengetahui manakah yang lebih baik antara hasil belajar siswa laki-laki ataukah siswa perempuan. Dari uji tersebut didapatkan nilai Fhitung memperlihatkan perbedaan yang signifikan, yakni Fhitung = 2.597 lebih besar dari Ftabel =1.97. Oleh karena itu, bisa disimpulkan bahwa hasil belajar siswa perempuan lebih baik dari pada siswa laki-laki di MTsN 1 Kota Cirebon.
Aip Saripudin, Ery Khaeriyah, Rosmita Ayu Lestari
Equalita: Jurnal Studi Gender dan Anak, Volume 2, pp 74-83; https://doi.org/10.24235/equalita.v2i1.7058

Abstract:
Penelitian ini dilatar belakangi oleh kreativitas anak usia dini pada kelompok B masih rendah. Terbukti dari indikator kreatifitas yakni mampu menyesuaikan warna, menggambar bentuk, keluwesan dalam menggambar objek yang ditiru masih terbatas. Hal ini tidak terlepas dari stimulasi di lembaga PAUD yang masih terbatas. Kegiatan menggambar belum sepenuhnya diterapkan secara maksimal oleh guru. Penggunaan Lembar Kerja Anak (LKA) juga menjadi salah satu factor anak belum mampu mengekspresikan ide dan gagasannya dalam bentuk gambar-gambar sederhana. Adapun tujuan penelitian ini adalah mengetahui penerapan teknik inkblot untuk meningkatkan kreativitas anak melalui kegiatan menggambar. Jenis penelitian yang digunakan adalah Penelitian Tindakan Kelas dengan model Kemmis dan Mc Taggart. Subjek dalam penelitian ini sebanyak 20 anak. Data dikumpulkan melalaui observasi, dokumentasi dan wawancara. Hasil penelitian menunjukan bahwa terdapat peningkatan yang signifikan dalam kreatifitas anak usia dini. Peningkatan tersebut terlihat dari penggunaan media menggambar dengan bantuan stimulasi teknik Inkblot yang dilakukan oleh peneliti. Hal ini terlihat dari indikator capaian perkembangan anak melalui dua siklus memperoleh nilai sebesar 88,45%. Artinya nilai tersebut berada pada level sangat baik atau berkembang sangat baik, sehingga untuk mengembangkan anak dalam aspek kreatifitas salah satunya dapat dilakukan melalaui menggambar langsung dengan teknik inkblot.
Asep Kurniawan
Equalita: Jurnal Studi Gender dan Anak, Volume 1, pp 1-13; https://doi.org/10.24235/equalita.v1i2.5229

Abstract:
So far, women's leadership is still underestimated; especially her managerial skills as a principal in an educational institution.Actually, she can lead the school and bring it to good quality. This research was intended to further uncover the conceptual skills, human skills and technical skills of female principals in State High Schools 6 Cirebon City. This research was a survey research. The respondents were 250 students. The research instrument was a questionnaire. The result showed that the principal’s managerial skills of State High Schools 6 Cirebon City were very good. It could be viewed from the conceptual skills (86.4%) and human skills (83.2%) were very good. Meanwhile, technical skills were good (76.8%). Based on the results of the respondents' assessment, the technical skills of female principals of State High Schools 6 Cirebon City were lower than conceptual and human skills.Keywords: ability, gender, assessment
Masmuri Masmuri
Equalita: Jurnal Studi Gender dan Anak, Volume 1, pp 105-126; https://doi.org/10.24235/equalita.v1i2.5491

Abstract:
Abstrak: Kabut asap yang meresahkan masyarakat hampir di tiap tahunnya, akibat pembakaran hutan dan lahan yang muncul sebagai konsekuensi dari human error, mengisyaratkan tentang betapa signifikannya komunitas-komunitas belajar pada hari ini dapat menyumbangkan perannya dalam membangun karakter ramah lingkungan. Disebut demikian, karena komunitas-komunitas belajar yang ada sekarang, sejauh ini masih belum cukup optimal dalam mengembangkan karakter ramah lingkungan, sementara tuntutan dan tantangan yang dihadapi generasi saat ini dalam kehidupan masa depan khususnya yang berkaitan dengan krisis lingkungan disadari akan sangat komplek. Era globalisasi yang disebut-sebut mendukung industrialisasi, sulit memungkiri ikut bertanggung jawab pada terjadinya eksploitasi alam besar-besaran. Karena itu, jika generasi saat ini tidak dibangun karakter ramah lingkungannya sejak sekarang, sebagai pelaku-pelaku industri di masa depan, maka dapat diramalkan kasus-kasus karhutla dan berbagai bentuk kasus pengrusakan lingkungan lainnya sangat mungkin berulang dan makin parah. Dalam membangun karakter ramah lingkungan ini, pendidik di komunitas-komunitas belajar dapat mempertimbangkan pendekatan behavioristik yang dapat mereka aktualisasikan dalam pembelajaran. Inilah yang menjadi fokus dari artikel ini.Kata Kunci: Karakter Ramah Lingkungan, Pendekatan Belajar Behavioristik, Komunitas-komunitas Belajar The haze that is disturbing the community almost every year, due to the burning of forests and land which arises as a consequence of human error indicates how significant learning communities today can contribute to their role in building eco-friendly character. It’s because the learning communities are still not optimal enough in developing eco-friendly character, while the demands and challenges faced by the generation now in the future life especially those related to environmental crises are realized to be very complex. The era of globalization which supports industrialization, it is difficult to deny taking responsibility for the occurrence of massive natural exploitation. Therefore, if the generation is not built eco-friendly character from now, as industry players in the future, it can be predicted that the cases of forest and land fire and various other forms of environmental destruction are very likely to recur and get worse. In building this eco-friendly character, educators on learning communities can consider a behavioristic approach that they can actualize in learning. This is the focus of this article.Keywords: Eco-friendly Character, Behavioristic Learning Approach, Learning Communities
Jaja Suteja, Bahrul Ulum
Equalita: Jurnal Studi Gender dan Anak, Volume 1, pp 169-185; https://doi.org/10.24235/equalita.v1i2.5548

Abstract:
Violence against a child is one of the most dominant cases and is found anytime, anywhere, almost everywhere in all provinces in Indonesia. This becomes very ironic, considering that children who are in fact the next generation of the nation, should get parental love, guidance and education that is full of love.Methodology This study uses descriptive qualitative methods with data collection techniques through observation, in-depth interviews and documentation studies while the research analysis is used through the analysis of Miles and Huberman. The results of this study indicate that the most frequent impact of parental violence on children in society is psychological violence. Psychological violence is violence perpetrated by an offender against a victim's mentality by yelling, swearing, threatening, demeaning, commanding, harassing, stalking, and spying, or other acts that cause fear (including those directed at close people victims, such as family, children, husband, friends, or parents). Acts of psychological violence experienced by students have not yet ended. In reality we still see a lot of shouting, ridicule and even punishment given by educators against students who commit violations of discipline. Another impact of cases of violence against children is the inhibition of psychological development of children both cognitive, affective and psychomotor.Keywords: Violence, Parents, Psychological, Children Abstrak: Kekerasan terhadap seorang anak merupakan salah satu kasus yang paling dominan dan banyak dijumpai kapanpun, dimanapun, hampir disetiap tempat di seluruh provinsi di Indonesia. Hal ini menjadi sangat ironis, mengingat anak yang- notabene generasi penerus bangsa, seharusnya mendapatkan kasih sayang orangtua, bimbingan serta pendidikan yang penuh cinta kasih.Metodologi Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif dengan teknik pengumpulan datanya melalui observasi terlbat, wawancara mendalam dan studi dokumentasi sedangkan analisis penelitian yang digunakan melalui analisis Miles dan Huberman. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa Dampak dari kekerasan orang tua terhadap anak yang paling banyak terjadi di masyarakat adalah kekerasan secara psikologis. Kekerasan psikologis adalah kekerasan yang dilakukan oleh pelaku terhadap mental korban dengan cara membentak, menyumpah, mengancam, merendahkan, memerintah, melecehkan, menguntit, dan memata-matai, atau tindakan-tindakan lain yang menimbulkan rasa takut (termasuk yang diarahkan kepada orang-orang dekat korban, misalnya keluarga, anak, suami, teman, atau orangtua).Tindak kekerasan psikologis yang dialami oleh anak didik ternyata belum berakhir. Dalam kenyataan masih banyak kita lihatadanya bentakan, ejekan dan bahkan hukuman yang diberikan oleh para pendidik terhadap anak didik yang melakukan pelanggaran tata tertib. Dampak lainnya dari kasus kekerasan terhadap anak yaitu terhambatnya perkembangan psikologis anak baik itu secara kognitif, afektif maupun psikomotor.Kata Kunci: Kekerasan, Orang Tua, Psikologis, Anak
Maulidya Ulfah, Lisa Felicia
Equalita: Jurnal Studi Gender dan Anak, Volume 1, pp 127-143; https://doi.org/10.24235/equalita.v1i2.5642

Abstract:
Abstrak: Pengenalan pembelajaran Matematika pada anak merupakan kegiatan yang sangat penting untuk perkembangan anak. NCTM dan NAEYC menegaskan bahwa pendidikan matematika yang berkualitas tinggi, menantang dan mudah dipahami untuk anak usia 3-6 tahun merupakan dasar yang sangat penting untuk masa depan anak. Oleh karena itu, anak sejak dini perlu dikenalkan atau bahkan diajarkan tentang matematika permulaan. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui hakekat pembelajaran matematika untuk anak usia dini, mengetahui pendidikan matematika terpadu, memahami prinsip pembelajaran matematika menurut NCTM pada anak, memahami standar pembelajaran matematika menurut NCTM untuk anak dan memahami kemampuan berhitung permulaan pada anak. Metode Penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah kajian pustaka tentang NCTM. Hasilnya bahwa NCTM memberikan 6 prinsip dasar yang harus dimasukan secara serius kedalam program matematika di sekolah yaitu prinsip kesetaraan, kurikulum, pengajaran, pembelajaran, penilaian dan teknologi. Pengalaman matematika merupakan ketrampilan dasar pada anak yang meliputi mencocokkan, mengelompokkan dan mengurutkan. Dalam NCTM terdapat 5 standar isi matematika pada anak usia dini yaitu bilangan, geometri, pengukuran. Standar dan Prinsp pembelajaran matematika pada anak usia dini secara internasional telah terdokumentasikan dalam NCTM. Oleh karena itu pendidik hendaknya menerapkan prinsip dan standar tersebut sehingga tujuan pembelajaran matematika dapat tercapai dengan mudah. Kata Kunci: NCTM, Pembelajaran, Matematika, Anak
Halim Purnomo
Equalita: Jurnal Studi Gender dan Anak, Volume 1, pp 86-104; https://doi.org/10.24235/equalita.v1i2.5486

Abstract:
Secara psikologis pemerolehan bahasa anak sangat dipengaruhi oleh komunitas di mana dia sering berada. Gaya bahasa yang akan digunakan anak sebagai alat komunikasi hasil dari apa yang sering didengar dan disaksikan. Bahasa bagi anak merupakan ciri khas wujud perkembangan diri anak secara spontan. Untuk memperoleh suatu bahasa, anak mempelajarinya melalui berbagai proses. Oleh karena itu secara umum anak-anak dapat belajar bahasa melalui media bahasa baik secara langsung maupun tidak langsung. Media langsung yang maksud merupakan media yang diberikan oleh orangtua, guru maupun tutor. Sedangkan media tidak langsung merupakan media yang diperoleh oleh anak biasanya pada saat berinteraksi dengan teman sebaya, mendengar dan menyaksikan dari media televisi maupun media lainnya serta pemerolehan bahasa dari aspek pendengaran yang diterima tanpa disadari, anak akan menerima apa yang didengar.Kata Kunci: Corak dan warna bahasa anak, media belajar bahasa anak Psychologically, the acquirement of children’s language hardly influenced by the community where the children are. The language’s styles which will be used as the communication tool is the results of the hearing process and what the children have been seen. The language for children is a character of skills that grow in themselves spontaneity, without real effort or formal instruction, then it usually uses without understanding the basic logic. For acquiring a language, children have to learn it through various processes. Therefore, generally, children’s language can be acquired from various media, it can be direct or indirect media. The direct media means media which has been given by parents, teachers or facilitator directly. And on the other hand, indirect media is media that has been acquired by children in general. For example when the interaction was being held; hearing or seeing from television or the other indirect media. Then, acquiring the language from the hearing aspect that has been accepted without realizing it, and children will accept what they have heard.Keywords: children's language style, children's language learning media.
Nur Hamzah
Equalita: Jurnal Studi Gender dan Anak, Volume 1, pp 50-62; https://doi.org/10.24235/equalita.v1i2.5463

Abstract:
Abstrak: Data dan fakta tentang kemiskinan manusia Indonesia tentu menyimpulkan bahwa perlu ikhitiar percepatan yang sistematis, berkelanjutan dan tepat sasaran agar penduduk Indonesia tidak rentan terhadap dampak negatif kemiskinan. Dalam program pengentasan kemiskinan, biasanya pemerintah atau kelompok masyarakat menfokuskan hanya pada keluarga dan kurang memperhatikan unsur perempuan. Padahal perempuan dalam struktur kemiskinan menjadi salah satu individu yang rentan mengalami dampak negatif kemiskinan. Berangkat dari hal tersebut, kegiatan Kuliah Kerja Lapangan (KKL) yang merupakan bentuk pengabdian mahasiswa kepada masyarakat pada mahasiswa FTIK IAIN Pontianak diarahkan melakukan pendampingan pada perempuan miskin. Kegiatan didahului dengan pemetaan persoalan, FGD dan mengumpulkan seluruh resouce agar terlibat aktif pada pendampingan. Kegiatan dilakukan dengan mengadakan pelatihan life skill berbasis industri rumah tangga. Adapun hasil jangka pendek dari program ini yaitu: terbukanya kesadaran bahwa keadaan kesejahteraan dapat dirubah, meningkatnya kapasitas diri, lalu bertambahnya kecakapan pribadi (life skil)l tentang home industry dengan memanfaatkan bahan baku yang tersedia disekitar dan murah , berikutnya bertambahnya alternatif usaha untuk peningkatan kesejahteraan keluarga dan terbukanya peluang usaha baru. Dalam jangka panjang diprediksi meningkatkan income dalam keluarga, meningkat kesejahteraan keluarga dan terkahir adalah tercipta dan semakin menguatnya kesetaraan gender dalam keluargaKata Kunci: Pemberdayaan, Perempuan Pesisir Data and facts about Indonesian human poverty certainly conclude that there is a need for systematic, sustainable and targeted acceleration efforts so that the Indonesian population is not vulnerable to the negative effects of poverty. In poverty alleviation programs, usually the government or community groups focus only on the family and pay less attention to the elements of women. Whereas women in poverty structure are one of the individuals who are vulnerable to the negative effects of poverty. Departing from this, the Field Work Lecture (KKL) which is a form of student service to the community at the Pontianak IIK FTIK students is directed to provide assistance to poor women. The activity was preceded by mapping the issues, FGDs and gathering all resources to be actively involved in the assistance. The activity was carried out by organizing home industry-based life skills training. The short-term results of this program are: opening awareness that welfare conditions can be changed, increasing self-capacity, then increasing personal skills (life skills) about home industry by utilizing raw materials available around and cheap, then increasing alternative business to improve welfare family and opening new business opportunities. In the long run it is predicted to increase income in the family, increase family welfare and finally will be created and the strengthening of gender equality in the family.Keywords: Empowerment, Coastal Women
Mhd Habibu Rahman
Equalita: Jurnal Studi Gender dan Anak, Volume 1, pp 30-49; https://doi.org/10.24235/equalita.v1i2.5459

Abstract:
Abstrak: Tulisan ini menyajikan tentang pentingnya pendidikan akhlak anak. Pendidikan akhlak merupakan suatu usaha sadar yang dilakukan untuk menanamkan perilaku baik kepada setiap anak. sebagaimana ciri khas dari pendidikan Islam yang dikemukan oleh Imam Al-Ghazali yang lebih maenekankan pentingnya menanamkan nilai moralitas yang dibangun dari basic pendidikan akhlak Islami. Mengingat pentingnya akhlak ditanamkan kepada anak sejak dini oleh sebab itu pada penelitian ini yang menjadi rumusan masalah yaitu: bagaimana konsep pendidikan akhlak untuk anak menurut Imam Al-Ghazali, bagaimana kecenderungan pemikiran imam Al-Ghazali, dan bagaimana metode mendidik akhlak anak dalam perspektif Imam Al-Ghazali. Penelitian ini merupakan penelitian kepustakaan (library reseach). Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan historis pedagogis, adapun sumber data terdiri dari data primer dan data sekunder, dan analisis data dilakukan dengan teknik cotent analysis. Hasil penelitian menyatakan bahwa pemikiran Imam Al-Ghazali tentang pendidikan lebih cenderung pada pendidikan moral dengan pembinaan budi pekerti dan penanaman sifat-sifat keutamaan pada anak didik, metode yang dapat digunakan dalam mendidik anak dengan cara langsung dan tidak langsung seperti menerapkan pembiasaan dalam peribadatan, dan menceritakan kisah-kisah akhlak mulia.Kata Kunci: Pendidikan Akhlak Anak, Imam Al-Ghazali This paper presents the importance of children's moral education. Moral education is a conscious effort made to instill good behavior in every child. as a characteristic of Islamic education that was raised by Imam Al-Ghazali who emphasized the importance of instilling morality values which were built from basic Islamic moral education. Given the importance of morals instilled in children from an early age, therefore in this study the problem formulation is: how is the concept of moral education for children according to Imam Al-Ghazali, how is the tendency of Imam Al-Ghazali's thinking, and how is the method of educating children in the perspective of Imam Al -Ghazali. This research is a library research (library research). The approach used in this research is a pedagogical historical approach, while the source of data consists of primary and secondary data, and data analysis is performed by cotent analysis techniques. The results of the study state that Imam Al-Ghazali's thoughts about education are more likely to be moral education by fostering character and instilling virtue traits in students, methods that can be used in educating children in direct and indirect ways such as applying habituation in worship, and tell stories of noble morals.Keywords: Childhood Education, Imam Al-Ghazali
Armanila Armanila
Equalita: Jurnal Studi Gender dan Anak, Volume 1, pp 63-85; https://doi.org/10.24235/equalita.v1i2.5480

Abstract:
The objective of this research is to know the increasing interpersonal and intrapersonal intelligence of early childhood (5-6 years old) through thematic learning. This study was conducted of the first semester of Zulhijjah kindergarten in 2014 academic year. The methodological of this research was used classroom action research method by applied”Kemmis and Taggart”model and used two cycle, which consist of four steps as follows: 1) planning, 2) implementation, 3) observation, 4) reflection. The point of new of this study is 10 children of B class at Zulhijjah kindergarten Medan. Based on the concept of classroom action research that has mixed paradigma method, namely quantitative and qualitative research methods. The quantitative data was analyzed by using t-test, paired samples (t-paired samples) to know of increasing of interpersonal and intrapersonal intelligence before and after done the action, then to show the difference each cycles. And qualitative data was analyzed based in the observation result that has done. The result of this research shows that there is a significant different in increasing interpersonal and intrapersonal intelligence through thematic learning in pre and post assesment. After counted the data that had found from the field by using t-test formula, the result of counting is as follows: 1) interpersonal intelligence of t-test= -19,844 lower than t-table= 2,262. 2) intrapersonal intelligence of t-tes= -18,253 lower than t-table= 2,262, by that, it can be told that, there is an increasing between the first and in the final assesment in the level of confidence /trust 95% to interpersonal and intrapersonal intelligence. It can be seen in pre-action too, which average value of interpersonal intelligence as big as 40,62%, then in cycle I increase to 64,79%, and in the final cycle II has been reached 80,41%. From the finding of the research can be concluded that to increase interpersonal and intrapersonal intelligence of early chilhood (5-6 years old) need to pay attention the thematic learning that is used.Keywords: interpersonal, intrapersonal intelligence, thematic learning. Abstrak: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui peningkatan kecerdasan interpersonal dan intrapersonal anak usia dini (5-6 tahun) melalui pembelajaran tematik. Penelitian dilakukan pada Taman Kanak-kanak Zulhijjah Medan selama semester pertama tahun pembelajaran 2014. Secara metodologi penelitian ini merupakan penelitian tindakan kelas (classroom action research) dengan menerapkan model”Kemmis dan Taggart”dalam dua siklus, dengan tahapan sebagai berikut: 1) perencanaan, 2) pelaksanaan, 3) pengamatan, 4) refleksi. Subjek penelitian ini berjumlah 10 orang anak kelas B di Taman Kanak-kanak Zulhijjah Medan. Sesuai dengan tuntunan penelitian tindakan kelas, maka diterapkan metode penelitian berparadigma ganda yaitu metode kuantitatif dan kualitatif. Data kuantitatif dianalisis dengan menggunakan uji-t, sampel berpasangan (t-paired samples) untuk mengetahui peningkatan kecerdasan interpersonal dan intrapersonal sebelum dan sesudah dilakukan tindakan, serta melihat perbedaan pada tiap-tiap siklus, sedangkan data kualitatif dianalisis berdasarkan hasilobservasi yang telah dilakukan. Hasil penelitian menunjukkan, bahwa adanya perbedaan yang signifikan dalam peningkatan kecerdasan interpersonal dan intrapersonal melalui pembelajaran tematik, pada assesmen awal dan assesmen akhir, setelah dilakukan penghitungan dengan menggunakan uji-t, maka hasilnya adalah sebagai berikut: 1) t-hitung kecerdasan interpersonal= -19,844 lebih kecil dari nilai t-tabel= 2,262, 2) t-hitung kecerdasan intrapersonal=-18,253 lebih kecil dari nilai t-tabel= 2,262 dengan demikian dapat dikatakan bahwa terdapat peningkatan antara assemen awal dan assesmen akhir pada tingkat kepercayaan 95% terhadap kecerdasan interpersonal dan intrapersonal. Hal ini juga terlihat pada pra tindakan dengan nilai rata-rata kecerdasan interpersonal sebesar 40,62% lalu pada siklus I meningkat menjadi 64,79%, dan diakhir siklus II telah mencapai 82,70% demikian juga pada kecerdasan intrapersonal yaitu memiliki nilai rata-rata pada pra tindakan sebesar 43,95% lalu pada siklus I meningkat menjadi 63,75% dan diakhir siklus II telah mencapai 80,41%. Dari temuan penelitian ini dapat disimpulkan bahwa, untuk meningkatkan kecerdasan interpersonal dan intrapersonal anak usia dini (5-6 tahun) perlu memperhatikan pembelajaran tematik yang digunakan.Kata kunci: kecerdasan interpersonal, kecerdasan intrapersonal, pembelajaran tematik.
Elfan Fanhas Fatwa Khomaeny
Equalita: Jurnal Studi Gender dan Anak, Volume 1, pp 144-168; https://doi.org/10.24235/equalita.v1i2.5630

Abstract:
Parenting and education for early childhood, in the era of Industrial 4.0 and the era of Society 5.0, can not be done with conventional and classical approaches, because in this era occurs a rapid industrial revolution (speed), change suddenly, Unfriendly with slowly, and unpredictable, which produces many sophisticated industrial products, and also affects the social change drastically. This research uses an explanation method based on library research, with the following steps: Identifying, reviewing, studying, analyzing, and syntactic the implementation of the family education concept Based on Q.S. Lukman (31): 12-19. Family education concepts based on Lukmanul Hakim that can be applied are as follows: (1). Introducing the creator (2). Introducing the origin of humans and their own (3). Teaching science as the basis of argumentation, (4). Introducing the law of causality, (5). Training and making habitual to prayer, (6). Training and making habitual to amar ma`ruf nahi munkar, (7). Training the patience, (8). Training to caring for others, (9). Training the children not to be arrogant or humble (10). Training the children live modestly, (11). Training children for good manners or politeness. The methods and models used are adapted to the material to be delivered.Keywords: Education Concept, Lukmanul Hakim, Family Abstrak: Pengasuhan dan pendidikan anak di era Industri 4.0 dan Era Society 5.0 tidak dapat dilakukan dengan pendekatan konvensional dan klasikal, karena pada era ini terjadi sebuah revolusi industri yang sangat cepat (speed), berubah mendadak (suddent change), tidak bersahabat dengan yang lambat (unfriendly with slowly), masa depan yang susah untuk diprediksi (unpredictable), yang menghasilkan banyak produk hasil industri yang canggih (sophisticated) dan berdampak pula pada perubahan sosial masyarakat yang drastis. Penelitian ini menggunakan metode eksplanatif didasarkan pada studi pustaka (library Research), dengan langkah-langkah sebagai berikut : Mengidentifikasi, Mengkaji, Mendalami, Menganalisis dan sintaksis penerapan konsep pendidikan Lukmanul Hakim berdasarkan pada Q.S. Lukman (31):12-19 pada keluarga. Konsep pendidikan Lukmanul Hakim yang dapat diterapkan dalam keluarga, adalah sebagai berikut: (1) Mengenalkan pengetahuan tentang sang pencipta; (2) Mengenalkan pengetahuan tentang diri dan asal usul manusia; (3) Mengajarkan ilmu pengetahuan sebagai landasan argumentasi dalam menjalani kehidupan; (4) Mengenalkan dan mengajarkan kepada anak pengetahuan tentang hukum sebab akibat (hukum kausalitas); (5) Melatih dan membiasakan sholat; (6) Melatih dan membiasakan beramar maruf nahi munkar; (7) Melatih dan membiasakan anak untuk bersabar; (8) Melatih dan membiasakan anak untuk memiliki kepedulian kepada sesama; (9) Melatih dan membiasakan anak untuk tidak memiliki sifat sombong dan angkuh; (10) Melatih dan membiasakan anak untuk hidup bersahaja; (11) Melatih dan membiasakan anak untuk memiliki sopan santun. Adapun metode dan model yang digunakan disesuaikan dengan materi yang akan disampaikan.Kata Kunci: Konsep Pendidikan, Lukmanul Hakim, Keluarga
Ach Tijani
Equalita: Jurnal Studi Gender dan Anak, Volume 1, pp 14-19; https://doi.org/10.24235/equalita.v1i2.5455

Abstract:
Media sosial adalah ruang sosial digital baru bagi masyarakat dunia yang berisi berbagai macam perbincangan, termasuk perbincangan gender. Kajian ini akan mengulas perdebatan baru persoalan gender di media sosial. Kajian ini menggunakan analisa filosofis dan penyelesaian dalam perspektif Islam. Melalui analalisis filosofis, diketahui bahwa dalam media sosial terdapat problem toxic of masculinity dan over feminity yang melanggengkan problem gender dari ruang faktual ke ruang virtual. Islam memberikan tawaran yang sangat optimis agar tetap tidak beranjak dari media sosial dengan menggunakan tiga prinsip dasar yaitu, rational, emperical inquiry dan morality.Keywords: Media Sosial, Gender, Maskulinitas, Feminitas
Page of 1
Articles per Page
by
Show export options
  Select all
Back to Top Top