Refine Search

New Search

Results in Journal Jurnal Farmagazine: 66

(searched for: journal_id:(6018771))
Page of 2
Articles per Page
by
Show export options
  Select all
Rahmawida Putri, Riki Hardiansah, Jaka Supriyanta
Published: 26 August 2020
Jurnal Farmagazine, Volume 7, pp 20-29; https://doi.org/10.47653/farm.v7i2.208

Abstract:
Ekstrak etanol 96% daun pepaya (Carica papaya L.) memiliki aktivitas farmokologi sebagai antibakteri, antelmintik, antimalaria dan antiinflamasi. Aktivitas tersebut diduga disebabkan kandungan kimia yang terdapat di dalam ekstrak. Salah satu senyawa aktif yang terdapat pada ekstrak daun pepaya adalah alkaloid karpain yang memiliki aktivitas sebagai antibakteri. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui sifat fisik sediaan salep dan pada konsentrasi berapakah sediaan salep ekstrak etanol 96% daun pepaya (Carica papaya L.) mempunyai aktivitas yang paling optimal terhadap bakteri Propionibacterium acnes. Jenis penelitian ini yaitu penelitian secara eksperimental dengan analisis secara deskriptif. Pembuatan ekstrak daun pepaya dilakukan dengan metode maserasi, yang kemudian digunakan sebagai zat aktif pada sediaan salep antijerawat dengan konsentrasi FI 5%, FII 10% dan FIII 20%. Hasil penelitian menunjukkan sediaan salep antijerawat ekstrak etanol 96% daun pepaya mempunyai sifat fisik yang baik, dan hasil pengujian antibakteri tidak memberikan efek penghambatan terhadap bakteri Propionibacterium acnes dikarenakan konsentrasi ekstrak terlalu rendah.
Achmad Faruk Alrosyidi, Fauzan Humaidi, Iffah Wulandari Aprilia
Published: 11 February 2020
Jurnal Farmagazine, Volume 7, pp 66-71; https://doi.org/10.47653/farm.v7i1.155

Abstract:
Apotek harus berpedoman pada standar pelayanan yang berlaku dalam melaksanakan praktek pelayanan kefarmasian. Pelayanan kefarmasian mengalami perubahan yang semula hanya berfokus pada pengolahan obat (drug oriented) menjadi pelayanan yang komprehensif (pharmaceutical care) yaitu pelayanan yang langsung dan bertanggung jawab kepada pasien yang berkaitan dengan sediaan farmasi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat kepuasan pelanggan terhadap sistem pelayanan kefarmasian di apotek Kimia Farma 274 Pamekasan. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kuantitatif menggunakan kuisioner dengan skala Likert. Hasil dari penelitian yang dilakukan kepada 100 responden menunjukkan bahwa pelanggan apotek kimia farma 274 Pamekasan merasa sangat puas terhadap lokasi dan tata ruang apotek, ketersediaan perbekalan farmasi, waktu pelayanan, dan sikap tenaga kefarmasian dalam melakukan pelayanan kefarmasian. Hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai bahan evaluasi terhadap apotek agar dapat meningkatkan pelayanan kefarmasian dimasa yang akan datang dan pemacu sarana pelayanan kefarmasian yang lain untuk memberikan pelayanan kefarmasian yang lebih baik lagi kepada pelanggan. Kata Kunci: Apotek, Kimia Farma 274 Pamekasan, Kepuasan Pelanggan, Pelayanan Kefarmasian
Faisal Ismail, Dilla Kanitha
Published: 26 August 2020
Jurnal Farmagazine, Volume 7, pp 7-13; https://doi.org/10.47653/farm.v7i2.523

Abstract:
Aterosklerosis memiliki peranan penting dalam penyakit jantung koroner dengan ditandai dengan adanya penumpukan terus-menerus plak di dinding pembuluh darah arteri koroner. Pentoxyfillin merupakan turunan metilxantin. Pada pemakaian obat dalam pentoxyfillin digunakan untuk aterosklerosis atau diabetes mellitus dengan indikasi meredakan sakit. Tujuan dari penelitian ini adalah mengidentifikasi dan metetapkan kadar dari pentoxyfillin. Dalam penelitian ini dilakukan pengukuran menggunakan spektrofotometri Fourier Transform Infra Red (FT-IR) dengan pembuatan pellet KBr. Pembuatan pellet dibuat dengan menggunakan tekanan menggunakan alat hand press dengan bobot tekanan 8 ton. Dilanjutkan dengan penetapan kadar pentoxyfillin dalam sediaan tablet menggunakan metode spektrofotometri UV-Visibel pada panjang gelombang maksimum ± 274 nm, dengan menggunakan methanol sebagai blangko. Berdasarkan pengujian yang telah dilakukan didapat hasil identifikasi berupa bilangan gelombang pada daerah 3000-2750 cm-1 yang menunjukkan gugus -CH, -CO, amida -CO rengang, pada bilangan gelombang 1750-1500 cm-1 yang menunjukkan gugus -CH dan pada bilangan gelombang 750 - 800 cm-1 menunjukkan gugus -CH2, dan hasil kadar 407 mg. Dari hasil pengujian kadar tablet pentoxyfillin dapat disimpulkan bahwa sediaan tablet pentoxyfillin memenuhi persyaratan Standar Internal.
Abdul Aziz Setiawan, Nabila Paramitha Aziz Chairunnisa
Published: 1 August 2019
Jurnal Farmagazine, Volume 6, pp 72-80; https://doi.org/10.47653/farm.v6i2.132

Abstract:
Kaca piring adalah perdu tahunan dari suku kopi-kopian atau Rubiaceae. Daun kaca piring memiliki potensi sebagai inhibitor enzim xanthine oxidase karena adanya beberapa golongan senyawa seperti flavonoid, polifenol dan terpenoid. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kandungan metabolit sekunder yang berpotensi sebagai inhibitor, ekstrak daun kaca piring memiliki aktivitas sebagai inhibitor dan konsentrasi ekstrak dengan nilai hambat paling baik. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental dengan 5 perlakuan konsentrasi dan 2 ulangan. Perlakuan konsentrasi ekstrak daun kaca piring (Gardenia jasminoides J. Ellis) yaitu 0,1;0,25;0,5;1;5 µg/mL allopurinol sebagai pembanding dengan perlakuan konsentrasi 0,1;0,2;0,5;1;2 µg/mL. Prinsip pengukuran adalah nilai absorbansi pada spektrofotometer yang mengukur jumlah asam urat yang terbentuk sehingga diperoleh persentase hambatannya. Hasil penelitian menunjukkan daya hambat ekstrak dengan konsentrasi 0,1 sebesar 2,9%; 0,2 sebesar 5,09%; 0,5 sebesar 8,24%; 1 sebesar 11,04%; 5 sebesar 49,64%. Berdasarkan hasil penelitian bahwa daya hambat optimum oleh ekstrak daun kaca piring (Gardenia jasminoides J. Ellis) pada konsentrasi 5µg/mL yang memiliki persentase penghambatan paling besar yaitu 49,64% dengan nilai keseluruhan IC50 sebesar 5,04 µg/mL kategori penghambatan sangat kuat.
Ristiana Della, Nita Rusdiana
Published: 26 August 2020
Jurnal Farmagazine, Volume 7, pp 49-53; https://doi.org/10.47653/farm.v7i2.301

Abstract:
ABSTRAK Pemerintah RI telah mengeluarkan Permenkes RI No. HK.02.02/MENKES/068/I/2010 yang mewajibkan penulisan resep dengan nama generik di Fasilitas Pelayanan Kesehatan Pemerintah untuk mengantisipasi tingginya harga obat. Formularium Rumah Sakit merupakan daftar obat yang disepakati staf medis, disusun oleh Komite Farmasi dan Terapi yang ditetapkan oleh pimpinan rumah sakit. Formularium bermanfaat sebagai acuan bagi penulis resep, mengoptimalkan pelayanan kepada pasien, memudahkan perencanaan, dan penyediaan obat pada fasilitas pelayanan kesehatan. Penelitian dilakukan di RSU Kabupaten Tangerang. Penelitian ini bertujuan untuk mengukur persentase penulisan resep dalam nama generik dan kesesuaian dengan Formularium Rumah Sakit pada pasien BPSJ penyakit jantung koroner rawat jalan di RSU kabupaten Tangerang periode Februari-Juni 2019. Metode penelitian ini menggunakan metode deskriptif dengan data yang dikumpulkan secara retrospektif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rata-rata persentase penulisan resep dengan nama generik periode bulan Februari-Juni 2019 sebesar 66,7% dan persentase penulisan resep dengan Formularium Rumah Sakit rata-rata sebesar 7,28%. Penulisan resep pasien BPJS penyakit jantung koroner rawat jalan di poli jantung RSU Kabupaten Tangerang belum sesuai dengan PerMenKes RI No. HK.02.02/MENKES/068/I/2010 dan Formularium RSU Kabupaten Tangerang Tahun 2018. Kata kunci : BPJS Kesehatan, Formularium Rumah Sakit, Resep Obat Generik.
Banu Kuncoro, Yuli Yanti
Published: 1 February 2019
Jurnal Farmagazine, Volume 6, pp 42-50; https://doi.org/10.47653/farm.v6i1.128

Abstract:
Penyakit Jantung Koroner (PJK) atau penyakit kardiovaskular di Indonesia dilaporkan menempati urutan pertama penyebab kematian sebesar 26,4%. Pasien dengan PJK biasanya juga mengalami penyakit penyerta, sehingga membutuhkan berbagai macam obat dalam terapinya. Penggunaan berbagai macam obat ini dapat beresiko terjadinya interaksi obat. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui gambaran profil pengobatan pasien PJK dan interaksi obat terkait mekanisme farmakodinamik, farmakokinetik dan kategori signifikan klinis yang terjadi pada pasien rawat inap jantung koroner di RSU Kabupaten Tangerang Tahun 2017. Metode penelitian non eksperimental secara deskriptif dengan menggunakan data retrospektif berdasarkan catatan rekam medik pasien. Analisis data dilakukan dengan cara melakukan skrining interaksi obat menggunakan Drug Interaction Checker di www.medscape.com dan www.drugs.com dan Stockley Drug Interaction 8th ed. Hasil penelitian menunjukan bahwa kriteria pasien PJK banyak terjadi pada laki-laki (72,80%) pada usia 45-55 tahun (38,04%). Diagnosa PJK berdasarkan Klasifikasi paling banyak yaitu UAP (83,60%) dengan komplikasi paling banyak Hipertensi (68,51%) dan lama perawatan rata-rata selam 2 hari (58,70%). Peresepan pasien PJK mempunyai jumlah jenis obat paling banyak >5 (67,55%) macam obat dengan golongan obat paling banyak antiplatelet (32,63%) dengan jenis aspirin (17,71%). Interaksi obat pasien PJK yang berpotensi sebanyak (89,13%) dengan interaksi paling banyak aspirin dengan bisoprolol (17,80%) dan signifikasi klinis paling banyak level moderat (72,22%) dengan mekanisme interaksi farmakodinamik (86,84%). Kesimpulan penelitian ini yaitu Interaksi obat terjadi pada pasien yang menerima lebih dari lima macam obat dengan interaksi yang paling banyak aspirin dengan bisoprolol. Kata kunci : Interaksi Obat, Farmakokinetik, Farmakodinamik, Jantung Koroner
Sefi Megawati, Agil Restudiarti, Selpina Kurniasih
Published: 26 August 2020
Jurnal Farmagazine, Volume 7, pp 43-48; https://doi.org/10.47653/farm.v7i2.167

Abstract:
Gagal ginjal kronik adalah kerusakan ginjal selama 3 bulan atau lebihdisebabkan oleh abnormalitas struktural atau fungsional dengan atau tanpa penurunan laju filtrasi glomerulus. Terapi gagal ginjal kronik yang banyak digunakan adalah hemodialisa. Dampak dari pasien gagal ginjal kronik yang menjalani terapi hemodialisa salah satunya adalah anemia. Anemia pada gagal ginjal kronik muncul ketika kreatinin turun kira-kira 40ml/menit. Tujuan penelitian ini yaitu untuk mengetahui pola penggunaan obat anemia serta evaluasi penggunaan obat anemia pada pasien gagal ginjal kronik yang menjalani hemodialisa berdasarkan empat aspek ketepatan yaitu tepat pasien, tepat indikasi, tepat obat dan tepat dosis. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif dengan pengumpulan data secara retrospektif pada rekam medik pasien di RSUD Kabupaten Tangerang periode Januari-Desember 2018. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pola penggunaan obat anemia pada pasien gagal ginjal kronik yang menjalani hemodialisa yaitu jenis terapi tunggal (74%) dan terapi kombinasi (26%). Sedangkan obat yang digunakan adalah epoetin alfa, transfusi prc, asam folat dan vitamin B12. Evaluasi penggunaan obat anemia pada pasien gagal ginjal kronik yang menjalani hemodialisa yaitu tepat pasien (100%), tepat indikasi (100%), tepat obat (96%) dan tepat dosis (100%).
Gina Septiani Agustien, Susanti Susanti
Published: 11 February 2020
Jurnal Farmagazine, Volume 7, pp 32-36; https://doi.org/10.47653/farm.v7i1.152

Abstract:
Kebutuhan suplemen penambah stamina atau tonikum bisa didapatkan dari mengkonsumsi tanaman herbal. Pemanfaatan tanaman herbal untuk tonikum mempunyai kelebihan tersendiri dibandingkan senyawa sintetik. Buah kapolaga (Amomum cardamomum) adalah tanaman perdu banyak terdapat di wilayah Indonesia, masyarakat biasanya menggunakan kapolaga untuk bumbu masakan. Buah kapolaga memiliki potensi besar dalam bidang farmasi, yaitu adanya senyawa flavonoid yang bermanfaat sebagai tonikum. Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui mengetahui efek tonikum pada mencit dan menentukan pada konsentrasi berapa dapat memberikan efek tonikum yang optimum. Uji efek tonikum dilakukan menggunakan uji renang kemudian dilihat waktu pada petahanan berenang mencit. Metode uji renang yang digunakan adalah natatory exhaustion. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa infusa buah kapolaga pada dosis 2,5 g/kgBB, 5,0 g/kgBB dan 10 g/kgBB pada metode ketahanan berenang menunjukkan efek tonikum pada mencit (Mus musculus). Infusa buah kapolaga pada konsentrasi 10 g/kgBB menunjukkan efek tonikum yang paling baik pada mencit, tetapi efeknya masih lebih kecil daripada pemberian kafein sebagai pembanding. Kata Kunci: Buah Kapolaga, Infusa, Mencit, Tonikum
Sefi Megawati, Nur’Aini Nur’Aini, Dewi Kurniasih
Published: 11 February 2020
Jurnal Farmagazine, Volume 7, pp 1-12; https://doi.org/10.47653/farm.v7i1.159

Abstract:
Daun singkong (Manihot esculenta Crantz.) memiliki kandungan flavonoid, tanin serta saponin yang terbukti berkhasiat sebagai obat untuk mempercepat proses penyembuhan luka. Penelitian ini bertujuan untuk membuat formulasi gel dari ekstrak daun singkong dan uji efektivitas dalam penyembuhan luka sayat pada kelinci jantan. Jenis penelitian ini adalah eksperimental dengan cara membuat gel ekstrak daun singkong yang akan diujikan pada hewan uji sebanyak 4 ekor dengan 6 kelompok perlakuan. Data penyembuhan luka dianalisis secara statistik menggunakan One way ANOVA (Analisys Of Varian) dan evaluasi fisik sediaan gel dianalisis secara deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa gel ekstrak daun singkong memenuhi persyaratan uji evaluasi fisik sediaan gel. Hasil uji statistik memberikan efek signifikan terhadap penyembuhan luka pada kelinci jantan (p<0.05). Rata-rata persentase panjang luka pada hari ke-7 terdapat perbedaan antar kelompok. Disimpulkan bahwa formulasi gel ekstrak daun singkong menghasilkan sediaan yang memenuhi syarat dan gel ekstrak daun singkong pada konsentrasi 60% memiliki efek terbaik dalam proses penyembuhan luka sayat. Kata Kunci: Daun Singkong, Gel, Penyembuhan Luka Sayat
Umilawati Rawi, Shirly Kumala, Wahyudi Uun
Published: 1 February 2019
Jurnal Farmagazine, Volume 6, pp 9-18; https://doi.org/10.47653/farm.v6i1.127

Abstract:
Ketidak patuhan terapi hipertensi dapat menimbulkan komplikasi kronis. Konseling dan leaflet adalah bentuk edukasi yang dapat diberikan pada pasien hipertensi. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi efektivitas pemberian konseling dan leaflet terhadap tingkat kepatuhan melalui penurunan nilai tekanan darah sistole dan diastole dan penurunan skor kuesioner Morisky Medication Adherence Scale (MMAS-8) pada pasien hipertensi. Penelitian merupakan pre-experimental yang dilaksanakan secara prospektif mulai dari bulan April sampai Juni 2014 dan dilaksanakan di RSUD dr. Adjidarmo. Sampel penelitian adalah pasien hipertensi berjumlah 30 orang yang masuk kriteria inklusi dan eksklusi dan diberikan intervensi konseling dan leaflet. Kepatuhan diukur terhadap skor MMAS-8 dan nilai tekanan darah sistole dan diastolesebelum dan sesudah 30 hari pemberian intervensi. Hasil pengukuran dianalisis dengan menggunakan uji Wilcoxon untuk MMAS-8 dan Nilai tekanan darah sistole dan diastole. Hasil analisis menunjukkan ada perbedaan yang signifikan (p<0,05) terhadap skor MMAS-8 sebelum dan sesudah intervensi. Dengan demikian penelitian ini mengindikasikan bahwa pemberian konseling dan leaflet pengobatan efektif meningkatkan kepatuhan pasien hipertensi. Kata Kunci: MMAS-8, Tekanan darah sistole dan diastole, kepatuhan, hipertensi, konseling, leaflet
Indah Wulan Sari, Junaidin Junaidin, Dina Pratiwi
Published: 26 August 2020
Jurnal Farmagazine, Volume 7, pp 54-60; https://doi.org/10.47653/farm.v7i2.194

Abstract:
Diabetes tipe 2, Orthosiphon stamineus B, α-glucosidase, moleculer docking.
Purwaniati Purwaniati, Aiyi Asnawi
Published: 26 August 2020
Jurnal Farmagazine, Volume 7, pp 30-42; https://doi.org/10.47653/farm.v7i2.172

Abstract:
Corona virus desease 2019 (COVID-19) yang disebabkan Severe acute respiratory syndrome Corona Virus 2 (SARS-CoV-2) telah menjadi wabah global. Hingga saat belum ada obat atau vaksin untuk terapi COVID-19 ini. Upaya penemuan obat baru atau pengujian terhadap obat yang telah ada mendesak untuk dilakukan. Penentuan target kerja obat COVID-19 yang tepat menjadi tantangan tersendiri, karena sebagai virus baru strukturnya belum diketahui secara jelas. Dalam kesempatan ini, kami melakukan sistematik review untuk dapat mengidentifikasi molekul-molekul yang dapat menjadi target kerja obat anti COVID-19. Review ini diawali dengan penelusuran pustaka pada database Pubmed dengan menggunakan kata kunci “SARS-CoV-2 drug target”. Main protease (Mpro), angiotensin converting enzyme 2 (ACE2), protein spike dan RNA-dependent RNA polymerase (RdRp) merupakan protein target yang paling banyak digunakan dalam penelitian.
Susanti Susanti, Richa Mardianingrum
Published: 11 February 2020
Jurnal Farmagazine, Volume 7, pp 13-17; https://doi.org/10.47653/farm.v7i1.151

Abstract:
Gadung (Dioscorea hispida Dennst.) adalah umbi liar yang banyak terdapat di wilayah Indonesia, khususnya di daerah Kabupaten Tasikmalaya, namun pemanfaatannya belum maksimal dibandingkan dengan tanaman umbi lainnya. Umbi gadung memiliki potensi besar dalam bidang farmasi, yaitu adanya senyawa fenol yang bermanfaat sebagai antimikroba. Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui aktivitas antibakteri ekstrak metanol umbi gadung terhadap Propionibacterium acnes. Kadar fenol dianalisis menggunakan pereaksi Folin-Ciocalteu dan Spektrofotometer UV-Vis yang dinyatakan sebagai kadar fenol total (mg GAE/g ekstrak). Adapun uji aktivitas antibakteri dilakukan dengan metode disk diffusion. Hasil penelitian menunjukkan bahwa umbi Gadung mempunyai aktivitas antibakteri dengan diameter zona hambat 10,00±0.00 dengan kadar fenol total sebesar 127,5313 ± 0,2133 mg GAE/gram untuk ekstrak daging umbi gadung dan 85,6719 ± 0,1931 mg GAE/gram untuk ekstrak kulit umbi gadung. Meskipun diameter zona hambatnya masih lebih rendah dibandingkan kontrol positif, namun hal ini menunjukkan adanya potensi antibakteri yang cukup bagus dari umbi gadung. Kata Kunci: Gadung, Fenol, Antibakteri, Jerawat
Trisna Lestari, Yusi Anggriani, Dian Ratih Laksmitawati
Published: 1 August 2019
Jurnal Farmagazine, Volume 6, pp 57-65; https://doi.org/10.47653/farm.v6i2.144

Abstract:
LJaminan kesehatan adalah jaminan berupa perlindungan kesehatan agar peserta memperoleh manfaat pemeliharaan kesehatan dan perlindungan dalam memenuhi kebutuhan dasar kesehatan yang diberikan kepada setiap orang yang telah membayar iuran atau iurannya dibayar oleh pemerintah. Salah satu tempat pelayanan kesehatan tingkat pertama melalui sistem jaminan kesehatan adalah Badan Penyelenggara Jaminan Sosial Kesehatan (BPJS). Pemenuhan kebutuhan pasien berupa jenis obat yang harus tersedia pada peresepan dan pemesanan perlu disusun suatu daftar (formularium) dari semua obat yang ada di stok atau sudah tersedia. Dalam penggunaan obat di Puskesmas untuk pasien BPJS Kesehatan berpedoman pada standar terapi yang dikeluarkan oleh kementrian kesehatan yaitu formularium nasional (fornas) agar penggunaan obat pada pasien lebih rasional. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui kesesuaian peresepan obat pasien BPJS Kesehatan dengan Formularium Nasional berdasarkan kelas terapi dan kesesuaian ketersediaan item obat formularium nasional dengan daftar item obat formularium nasional di Puskesmas Kabupaten Tangerang Tahun 2016. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kualitatif non eksperimental yang bersifat deskriptif. Hasil penelitian Kesesuaian peresepan Obat dengan Formularium Nasional Berdasarkan Kelas Terapi dari 10 besar tertinggi sudah mencapai 100%, pada kesesuaian total peresepean yang di resepkan di puskesmas kabupaten Tangerang baru mencapai > 80%. Sedangkan rata-rata proprosi item obat formularium nasional dengan daftar item obat formularium nasional maish sangat rendah >50%. Kesimpulan penelitian ini adalah peresepan obat pasien BPJS Kesehatan dengan Formularium Nasional berdasarkan kelas terapi di puskesmas kabupaten Tangerang tahun 2016 sudah sesuai sedangkan ketersediaan item obat formularium nasional dengan daftar item obat formularium nasional masih belum sesuai. Kata kunci : BPJS Kesehatan, Peresepan, Formularium nasional
Nuriyatul Fhatonah1
Published: 1 August 2019
Jurnal Farmagazine, Volume 6, pp 39-46; https://doi.org/10.47653/farm.v6i2.137

Abstract:
Profesional kesehatan sering merekomendasikan rejimen pengobatan demam untuk anak-anak yang menggabungkan parasetamol dan ibuprofen atau maupun pemberian tunggal. Namun, ada ketidakpastian tentang apakah rejimen ini lebih baik daripada penggunaan agen tunggal, dan juga tentang profil efek samping dari rejimen kombinasi. Untuk mengetahui effektivitas dari kombinasi parasetamol dan ibuprofen dibandingkan dengan monoterapi untuk mengobati demam pada anak. Pada bulan februari 2018, melakukan pencarian penelitian dengan kata kunci [acetaminophen] versus [ibuprofen] versus [paracetamol and ibuprofen] [pediatrics] [febril] pada tahun 2005-2016 dengan menggunakan PUBMED.gov. penelitian dengan menggunakan metode RCT (randomization controller trial) dengan tema perbandingan effektifitas penggunaan paracetamol dan ibuprofen secara tunggal maupun secara kombinasi pada pasien demam anak. Dari hasil analisis menggunakan forest plot didapatkan perbedaan signifikan dalam menurunkan resiko peningkatan suhu antara terapi kombinasi paracetamol dengan ibuprofen dibandingkan dengan paracetamol tunggal pada jam ke empat dan keenam (RR 0,79, 95%CI , 0,64 sampai 0,97), kombinasi paracetamol dengan ibuprofen dibandingkan dengan ibuprofen tunggal didapatkan RR 0,88, 95% CI, 0,69 sampai 1,12. Sedangkan paracetamol tunggal dibandingkan dengan ibuprofen tunggal didapatkan hasil RR 1,32, 95% CI 1,09 sampai 1,60. Terapi Paracetamol kombinasi dengan ibuprofen lebih effektif dibandingkan dengan paracetamol tunggal maupun ibuprofen tunggal dalam menurunkan demam pada anak. Kata Kunci: Demam, antipiretik, Acetaminophen, Ibuprofen
Reza Aditya Sunaryo, Mohammad Zaky, La Ode Akbar Rasydy
Published: 26 August 2020
Jurnal Farmagazine, Volume 7, pp 61-67; https://doi.org/10.47653/farm.v7i2.478

Abstract:
Belimbing wuluh (Averrhoa bilimbi L.) merupakan salah satu tanaman buah dari keluarga (Oxalidaceae) dengan marga (Averrhoa). Buah belimbing wuluh memiliki daya simpan yang relative singkat sekaligus memiliki rasa asam sehingga kurang disukai jika dikonsumsi secara langsung. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bahwa sari buah belimbing wuluh (Averrhoa bilimbi L.) dapat dibuat menjadi sediaan nutraseutikal gummy candies serta dapat mengetahui formula manakah yang paling disukai responden dan hasil evaluasi fisik yang terbaik dalam sediaan gummy candies . sampel berupa buah belimbing wuluh dilakukan dengan metode spray drying yang diformulasikan menjadi sediaan gummy candies dengan variasi konsentrasi sukrosa 115 mg, 230 mg, 345 mg, 490 mg, 575 mg. semua sediaan di uji dengan pengujian organoleptis, keseragaman bobot dan hedonik. Hasil dari evaluasi sediaan gummy candies menyatakan bahwa sediaan gummy candies memenuhi mutu fisik. Dari data tersebut dapat disimpulkan bahwa sediaan gummy candies sari buah belimbing wuluh menunjukkan hasil uji yang paling disukai dari sediaan gummy candies yaiitu pada formula 3 dengan kadar sukrosa 345 mg berdasarkan parameter rasa, warna, aroma dan bentuk.hasil dari uji keseragaman bobot yaitu pada formula 3 yang paling disukai panelis. Kata Kunci : buah belimbing wuluh, gummy candies
Page of 2
Articles per Page
by
Show export options
  Select all
Back to Top Top