Refine Search

New Search

Results in Journal Eduprof : Islamic Education Journal: 27

(searched for: journal_id:(5998604))
Page of 1
Articles per Page
by
Show export options
  Select all
Oon Sukron
Eduprof : Islamic Education Journal, Volume 2, pp 202-225; https://doi.org/10.47453/eduprof.v2i2.27

Abstract:
This research was conducted with the background that the Al-Qur'an is the main source of Islamic teachings and a way of life for every Muslim. The ability to read the Koran for children is the basis for themselves or to be conveyed to others. Based on the background of the problem above, the authors conducted research with the aim of implementing the reading and writing guidance of the Qur'an (BTQ) through the Ummi method and the Iqro method in the main cendikia junior high school, Langseb village, Lebakwangi district, Kuninga district. performance). Based on the data, data analysis, and discussion, the results of the study concluded that there was a very significant difference in the reading and writing activities of the Qur'an between using the Iqro Method and the Ummi Method at SMK Cendikia Utama, Lebakwangi Kuningan District. The use of the Ummi Method is more effective in learning to read and write the Qur'an than the Iqro Method. This is evident from the average value achieved using the Ummi Method (86.3) while using the Iqro Method (77.5). The comparative test results show that the average of the Ummi Method is 86.25 and the average of the Iqro Method is 77.50. In absolute terms it is clear that the average student uses the Ummi method is different from those using the Iqro method. From the SPSS output it is known that the t value on Equal variances not assumed is 2.669 with a significant probability of 0.011 (2-tail). So it can be concluded that on average students who use the Ummi Method have different grades against students who use the Iqro method. Or it can be said that the final score of students using the Ummi method is significantly higher than students who use the Iqro method. Abstrak Penelitian ini dilaksanakan dengan latar belakang Al-Qur’an adalah sumber utama ajaran Islam dan pedoman hidup bagi setiap muslim, kemampuan membaca al-Qur’an bagi anak-anak merupakan dasar bagi dirinya sendiri atau untuk disampaikan kepada orang lain,. Berdasarkan latarbelakang masalah diatas penulis melakukan penelitian dengan tujuan pelaksanaan bimbingan baca tulis al qur’an( btq ) melalui metode ummi dan metode iqro di smk cendikia utama desa langseb kecamatan lebakwangi kebupaten kuninga Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif, jenis studi komparatif dengan instrumen berupa tes perbuatan (unjuk kerja). Berdasarkan data, analisis data, dan pembahasan, hasil penelitian disimpulkan Terdapat perbedaan yang sangat signifikan kegiatan Baca Tulis Al Qur’an antara menggunakan Metode Iqro dengan Metode Ummi di SMK Cendikia Utama Kecamatan Lebakwangi Kuningan. Penggunaan Metode Ummi lebih epektif digunakan dalam pembelajaran baca tulis Al Qur’an daripada Metode Iqro. Hal ini terbukti dari nilai rata-rata yang dicapai, menggunakan Metode Ummi (86,3) sedangkan menggunakan Metode Iqro (77,5). Hasil Uji Komparasi bahwa rata-rata Metode Ummi sebesar 86,25 dan rata-rata Metode Iqro sebesar 77,50. Secara absolut jelas terlihat bahwa rata-rata siswa menggunakan metode Ummi berbeda dengan yang menggunakan metode Iqro. Dari output SPSS diketahui bahwa nilai t hitung pada Equal variances not assumed adalah 2,669 dengan probabilitas signifikan sebesar 0,011 (2-tail). Jadi dapat disimpulkan bahwa rata-rata siswa yang menggunakan Metode Ummi memiliki nilai yang berbeda terhadap siswa yang menggunakan metode Iqro. Atau dapat dikatakan bahwa nilai akhir siswa yang menggunakan metode Ummi lebih tinggi secara signifikan dari pada siswa yang menggunakan metode Iqro.
Yogi Permana, Nuruddin Araniri, Nurhidayat Nurhidayat
Eduprof : Islamic Education Journal, Volume 2, pp 242-260; https://doi.org/10.47453/eduprof.v2i2.36

Abstract:
Based on the preliminary research, students there still lack motivation and awareness of the importance of knowledge in the learning process, this is what encourages researchers to raise the formulation of research problems. The formulation of the problem in this study is how to apply the peer teaching method to increase student learning motivation in Islamic Education subjects and what are the supporting and inhibiting factors in how to increase student learning motivation by applying the Peer Teaching method to Islamic Education subjects at SMAN 2 Majalengka. This research uses a descriptive qualitative approach. Data collection techniques used in this study are observation, interviews, and documentation. With research subjects, students and educators at SMAN 2 Majalengka. The results of this study indicate that one of the supporting factors of student learning motivation is the role of the teacher which reflects its nature as a professional educator and one of the inhibiting factors is the role of the teacher that does not reflect his personality as an educator, ignoring the complaints experienced by students in the process. learning, while the results of the application of the peer teaching method of trained students are able to build solidarity with fellow students, instill a caring attitude towards fellow students, create an attitude of mutual acquaintance with fellow students, provide exemplary outside of class hours, respect the ability of students to catch them. other, building an anti-discrimination attitude towards the differences in the abilities of other students, creating an active learning atmosphere and teaching staff is not bored. Absrak Berdasarkan penelitian pendahuluan peserta didik di sana masih kurang memiliki motivasi dan kesadaran akan pentingnya ilmu dalam proses pembelajaran hal inilah yang mendorong peneliti untuk mengangkat rumusan masalah penelitian. Adapun rumusan masalah dalam penelitian ini yaitu Bagaimana cara menerapkan metode peer teaching dalam meningkatkan motivasi belajar siswa pada mata pelajaran PAI dan apa saja faktor pendukung dan faktor penghambat dalam cara meningkatkan motivasi belajar siswa dengan menerapkan metode Peer Teaching pada mata pelajaran PAI di SMAN 2 Majalengka. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif. Teknik pengumpulan data yang di gunakan dalam penelitian ini yaitu observasi, wawancara, dan dokumentasi. Dengan subjek penelitian peserta didik dan tenaga pendidik SMAN 2 Majalengka. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa salah satu faktor pendukung motivasi belajar siswa adalah peran guru yang mencerminkan sifatnya sebagai tenaga pendidik yang profesional dan faktor penghambatnya salah satunya adalah peran guru yang tidak mencerminkan pribadinya sebagai seorang tenaga pendidik, mengabaikan keluh kesah yang di alami peserta didik dalam proses pembelajaran, Sedangkan hasil penerapan dari metode peer teaching peserta didik terlatih untuk dapat membangun solidaritas terhadap sesama peserta didik, menanamkan sikap peduli terhadap sesama peserta didik, mewujudkan sikap saling mengenal antar sesama peserta didik, memberikan keteladanan diluar jam pelajaran, menghargai daya tangkap peserta didik yang lainnya, membangun sikap anti diskriminasi terhadap perbedaan kemampuan peserta didik lainnya, mewujudkan suasana belajar yang aktif dan tenaga pendidik pun tidak jenuh
Gilang Maulana Jamaludin, Lili Yulianti, Mas’Ud Mas’Ud
Eduprof : Islamic Education Journal, Volume 2, pp 187-201; https://doi.org/10.47453/eduprof.v2i2.26

Abstract:
This study discusses the effect of punishments on student learning discipline in Islamic religious education subjects. With the existence of Islamic religious education in which there are religious values ​​which are used as an effort to guide and practice Islamic teachings. Because punishment is an educational tool to support the smoothness of the educational process. One of the educational tools that can be used to improve discipline in learning is by giving punishment. This type of research method used is a type of experimental research. The research design used was Pre Experimental Design. The instruments used in this study were questionnaires, observation and tests. The sample in this study were fourth grade students of SDN Cisetu III Rajagaluh. Analysis of the data used is the prerequisite test (normality and homogeneity ) and hypothesis testing. The results of this study indicate that the punishment for the discipline of student learning in the fourth grade Islamic religious education subject at SDN Cisetu III has an effect with t count 41.04 greater than t table 2.063 with a level significant 5%. Abstrak Kajian ini membahas tentang Pengaruh Pemberian Punishment terhadap Kedisiplinan Belajar Siswa pada Mata Pelajaran Pendidikan Agama Islam. Dengan adanya pendidikan agama Islam yang didalamnya terdapat nilai-nilai keagamaan yang dijadikan sebagai upaya untuk membimbing dan mengamalkan ajaran Islam. Karena punishment merupakan alat pendidikan guna mendukung kelancaran proses pendidikan. Salah satu alat pendidikan yang dapat digunakan untuk meningkatkan kedisiplinan belajar yaitu dengan pemberian punishment. Jenis metode penelitian yang digunakan ini adalah jenis penelitian eksperimen. Desain penelitian yang digunakan Pre Exsperimental Design. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini yaitu angket, observasi dan tes. Sampel dalam penelitian ini yaitu siswa kelas IV SDN Cisetu III Rajagaluh. Analisis data yang digunakan yaitu uji prasyarat (normalitas dan homogenitas) dan uji hipotesis. hasil penelitian ini menunjukan bahwa punishment terhadap kedisiplinan belajar siswa pada mata pelajaran pendidikan agama Islam kelas IV di SDN Cisetu III terdapat pengaruh dengan t hitung 41,04 lebih besar dari t tabel 2,063 dengan taraf sigmifikan 5%.
Iffan Ahmad Gufron, Nani Rosini, Taufiqurrahman Taufiqurrahman
Eduprof : Islamic Education Journal, Volume 2, pp 149-161; https://doi.org/10.47453/eduprof.v2i2.25

Abstract:
Schools always innovate in carrying out programs that are carried out through daily religious activities at school so that students do not feel bored and bored in the learning process or activities in the school. These religious activities are packaged in Islamic Religious Education (PAI) lessons. however it is still ignored by students. The purpose of this paper is to describe the strategy of delivering religion in Islamic Education subjects, developing the potential of students, and the importance of holistic education. This research uses a qualitative approach with a case study design. Data were collected by in-depth interviews, observation and documentation. Data analysis used interactive analysis through data reduction, data display, verification and conclusion stages. Furthermore, the results of the research show that holistic religious-based education in Islamic Education which is applied at SMP IT BINA UMMAH SUMBER includes 1) Implementation of religious-based holistic education in Islamic Education lessons; and 2) to determine the factors inhibiting and encouraging religious-based holistic education in Islamic Education lessons. It can be concluded that holistic religion-based education is education that develops all the potential that exists in students. The results of this study are expected to develop all the potential to be realized as character building in students. Abstrak Sekolah selalu berinovasi dalam melakukan program-program yang dijalankan melaui kegiatan keagamaan pada keseharian di sekolah sehingga peserta didik tidak merasa bosan dan jenuh dalam proses belajar maupun kegiatan yang ada di sekolah kegiatan keagamaan tersebut dikemas pada pelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI) akan tetapi masih diabaikan pada peserta didik. Tujuan penulisan ini adalah untuk mendeskripsikan strategi penyampaian keagamaan pada mata pelajaran PAI, pengembangan potensi peserta didik, dan Urgensi pendidikan holistik. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain studi kasus. Data dikumpulkan dengan wawancara mendalam, observasi dan dokumentasi. Analisis data menggunakan analisis interaktif melalui tahap reduksi data, display data, verifikasi dan kesimpulan. Selanjutnya, hasil dari penelitian menujukkan bahwa pendidikan holistik berbasis keagamaan pada pelajaran PAI yang diterapkan di SMP IT BINA UMMAH SUMBER meliputi 1) Implementasi pendidikan holistik berbasis keagamaan pada pelajaran PAI; dan 2) untuk mengetahui faktor-faktor penghambat dan pendorong pendidikan holistik berbasis keagamaan pada pelajaran PAI. Dapat disimpulkan bahwa pendidikan holistik berbasis keagamaan adalah pendidikan yang mengembangkan seluruh potensi yang ada pada peserta didik. Hasil penelitian ini diharapkan dalam mengembangkan seluruh potensi diwujudkan sebagai pembentukan karakter pada peserta didik.
Umar Samsudin
Eduprof : Islamic Education Journal, Volume 2, pp 261-277; https://doi.org/10.47453/eduprof.v2i2.37

Abstract:
Education as a major factor in the development of people's culture is often used by various thoughts and ideologies to spread their understanding and thinking patterns. It is not strange if a thought dominates a certain educational institution or system. Among the ideas that influence and even determine the goals and learning methods of an educational system are ideology and religion. The relationship between education and ideology is rooted in the history of education. The domination of an ideology is not only obtained through revolution or violence carried out by state institutions, but also through other institutions, such as religious institutions, education, mass media and the family. And it becomes clear that the nature of education is very dependent on the perspective of the ideology it adopts. Abstrak Pendidikan sebagai faktor utama perkembangan budaya masyarakat, seringkali dimanfaatkan oleh berbagai pemikiran dan ideologi untuk menyebarkan pemahaman dan pola pikirnya. Sudah tidak asing lagi jika suatu pemikiran mendominasi lembaga atau sistem pendidikan tertentu. Di antara pemikiran-pemikiran yang banyak memberikan pengaruh dan bahkan menentukan tujuan dan metode pembelajaran suatu sistem pendidikan adalah ideologi dan agama. Hubungan antara pendidikan dan ideologi sudah mengakar dalam perjalanan sejarah dunia pendidikan. Dominasi suatu ideologi tidak hanya didapatkan melalui revolusi atau kekerasan yang dilakukan oleh institusi-institusi negara, tetapi juga dapat melalui institusi-institusi lain, seperti institusi agama, pendidikan, media massa dan keluarga. Dan menjadi jelaslah bahwa hakikat pendidikan sangat tergantung dari kacamata ideologi yang dianutnya.
Mohamad Samsudin
Eduprof : Islamic Education Journal, Volume 2, pp 162-186; https://doi.org/10.47453/eduprof.v2i2.38

Abstract:
Understanding the complexity of the factors that influence student learning is necessary for educator/teacher so that learning goals can be realized. In addition, the teacher can take appropriate action so that the learning process can be accomplished effectively and efficiently, understanding these factors can also help students succeed in learning. The factors that influence learning include internal, external, and learning approach. Internal factors are factors found in student which include factors: innate, intelligence, physical and psychological condition, emotional, age, and gender. External factors are factors that exist outside of student which include factors: family environment, classroom environment, and community environment. While the learning approach factors include factors: goal, learning method, media, time, motivation, exercises and tests, learning material, and learning resources. Abstrak Memahami kompleksitas faktor-faktor yang memengaruhi belajar siswa merupakan hal yang niscaya bagi pendidik/guru agar tujuan pembelajaran dapat terwujud. Di samping guru dapat mengambil tindakan yang tepat agar proses pembelajaran dapat berjalan secara efektif dan efisien, memahami faktor-faktor tersebut juga dapat membantu keberhasilan siswa dalam belajar. Hal-hal yang berpengaruh terhadap belajar meliputi faktor internal, eksternal, dan pendekatan belajar. Faktor internal adalah faktor yang terdapat pada diri siswa yang meliputi faktor: bawaan sejak lahir, inteligensi, kondisi fisik dan psikis, emosional, usia, dan jenis kelamin. Faktor eksternal adalah faktor yang terdapat di luar diri siswa yang meliputi faktor: lingkungan keluarga, lingkungan kelas, dan lingkungan masyarakat. Sedangkan faktor pendekatan belajar meliputi faktor: tujuan, metode belajar, media, waktu, motivasi, latihan dan ulangan, bahan pelajaran, dan sumber belajar.
Lela Siti Nurlaela, Herdianto Wahyu Pratomo, Nuruddin Araniri
Eduprof : Islamic Education Journal, Volume 2, pp 226-241; https://doi.org/10.47453/eduprof.v2i2.35

Abstract:
The family environment has a very close relationship in shaping the character of a child. Therefore, parents should be more careful in educating a child, so that children have good character. This research was carried out with the aim to intention of scientifically analyze the effect of parenting on children’s character formation in class III students MI Tahfizhul Qur’an Asasul Huda Ranjikulon, Kasokandel District, Majalengka Regency, 2019/2020 school year. Based on the results of observations made by researchers at MI Tahfizhul Qur’an Asasul Huda, it shows that there are deviant behaviors carried out by children at school. Among them are 1) Lack of religious attitudes instilled in children such as speaking harshly; 2) Mocking each other among friends, even to the fight. The research method used is descriptive verfication method, namely research conducted to determine the value of the independent variable, either one or more (independent) variables without making comparisons, or linking with other variables. The population in this study were students of class III MI Tahfizhul Qur’an Asasul Huda Ranjikulon, Kasokandel District, Majalengka Regency, amounting to 22 students. The instruments used in this study were tests and questionnaires. From this population the research sample was taken using the total sampling method. Thus the number of samples in this study were 22 students. The results showed that the parenting style had a positive and significant effect on the character building of children. As evidenced by the acquisition of a correlation coefficient of 0,389 and a significant level of 0,073. This means that the value of t is greater than t table. Thus Hₒ is rejected and H¹ is accepted, that is, there is a positive and significant influence between the parenting style of parents on the formation of children’s character. Abstrak Lingkungan keluarga memiliki kaitan yang sangat erat dalam membentuk karakter seorang anak. Oleh karena itu, hendaknya orang tua lebih berhati-hati lagi dalam mendidik seorang anak, agar anak memiliki karakter yang baik. Penelitian ini dilaksanakan dengan maksud untuk menganalisis secara ilmiah mengenai Pengaruh Pola Asuh Orang Tua terhadap Pembentukan Karakter Anak pada Siswa Kelas III MI Tahfizhul Qur’an Asasul Huda Ranjikulon Kecamatan Kasokandel Kabupaten Majalengka Tahun Pelajaran 2019/2020. Berdasarkan hasil observasi yang peneliti lakukan di MI Tahfizhul Qur’an Asasul Huda Ranjikulon Kecamatan Kasokandel Kabupaten Majalengka menunjukkan bahwa adanya perilaku-perilaku menyimpang yang dilakukan oleh anak-anak di sekolah diantaranya: 1) Kurangnya sikap-sikap religius yang ditanamkan dalam diri anak-anak seperti berbicara kasar; 2) Saling mengejek antar sesama teman, bahkan sampai kepada perkelahian. Metode penelitian yang digunakan adalah metode deskriptif verifikatif yaitu penelitian yang dilakukan untuk mengetahui nilai variabel mandiri, baik satu variabel atau lebih (independen) tanpa membuat perbandingan, atau menghubungkan dengan variabel lain. Populasi dalam penelitian ini siswa kelas III MI Tahfizhul Qur’an Asasul Huda Ranjikulon Kecamatan Kasokandel Kabupaten Majalengka yang berjumlah 22 siswa. Dari populasi tersebut diambil sampel penelitian dengan menggunakan metode total sampling. Dengan demikian jumlah sampel dalam penelitian ini adalah sebanyak 22 siswa. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini yaitu tes dan angket. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pola asuh orang tua berpengaruh positif dan signifikan terhadap pembentukan karakter anak. Yang dibuktikan dengan perolehan koefisien korelasi sebesar 0,389 dan tingkat signifikan sebesar 0,073. Hal ini berarti nilai t hitung lebih besar dari t tabel. Dengan demikian H0 ditolak dan H1 diterima yaitu terdapat pengaruh yang positif dan signifikan antara pola asuh orang tua terhadap pembentukan karakter anak.
Lutfi Faishol
Eduprof : Islamic Education Journal, Volume 2, pp 39-53; https://doi.org/10.47453/eduprof.v2i1.30

Abstract:
As a Muslim who has guidelines in the life, namely the Qur’an and Hadis , the Qur'an and Hadis should be used as an example in living this life. Included in the issue of leadership, So each leader shoud rest on the concept that is relevant to Islamic teachings. This thing that should be an example in leading is the leadership of the Prophet (prophetic). The success of leadership that has been proven by the Prophet Muhammad is as a leader, he is the most successful and influential person of all time. In Islam, leadership is believed to have a value that is typical of mere subordinate participation and achievement of organizational goals. There are transcendental values that are struggeled in prophetic leadership in any organization. The concept of leadership in Islam is not only horizontal-formal towards fellow humans, but also is vertical-moral that we have responsibility to the God on the last day. These values become the basis for conducting leadership activities. Where prophetic leadership is a leadership that bases the personality of the Prophet in carrying out his leadership. Because prophetic leadership in the Qur'an has been mentioned and has been exemplified by the Prophet. As a leader in carrying out prophetic leadership, they need to know and emulate the characteristics of the Prophet (peace and blessings of Allah be upon him) that can lead themselves, giving an example, able to communicate well, close to the people that they lead, always consulting, and giving motivation and praise. Prophetic leadership is manifested as a position of leader who take the responsibility for achieving the goals and expectations of the agency / organization through its leadership activities. Abstrak Sebagai seorang muslim yang memiliki pedoman dalam hidupnya yakni al Quran dan Hadits, maka sepantasnya al Quran dan Hadits dijadikan sebagai teladan dalam menjalani hidup ini. Termasuk dalam masalah kepemimpinan, setiap pemimpin berpijak pada konsep kepemimpinan yang relevan dengan ajaran Islam. Hal ini yang sebaiknya menjadi teladan dalam memimpin adalah kepemimpinan Nabi (propetic). Keberhasilan kepemimpinan yang telah dibuktikan oleh Nabi Muhammad saw adalah selaku seorang pemimpin, Beliau adalah orang yang paling berhasil dan berpengaruh sepanjang masa. Dalam Islam, kepemimpinan diyakini mempunyai nilai yang khas dari sekedar kepengikutan bawahan dan pencapaian tujuan organisasi. Ada nilai-nilai transendental yang diperjuangkan dalam kepemimpinan profetik dalam organisasi apapun. Konsep kepemimpinan dalam Islam tidak hanya bersifat horizontal-formal terhadap sesama manusia, akan tetapi bersifat vertical-moral yakni adanya sebuah tanggungjawab dihadapan Allah di hari ahir kelak. Nilai-nilai tersebut menjadi pijakan dalam melakukan aktifitas kepemimpinan. Dimana kepemimpinan profetik merupakan kepemimpinan yang melandaskan kepribadian dari Rasulullah saw dalam menjalankan kepemimpinannya. Karena kepemimpinan profetik dalam al quran telah disinggunng serta sudah dicontohkan oleh Rasulullah saw. Sebagai seorang pemimpin dalam menjalankan kepemimpinan profetik, mereka perlu mengetahui dan meneladani sifat-sifat Rasulullah saw yakni dapat memimpin diri sendiri, memberikan teladan, dapat berkomunikasi dengan baik, dekat dengan orang-orang yang dipimpinnya, selalu bermusyawarah, serta memberikan motivasi dan pujian. Kepemimpinan profetik diwujudkan sebagai posisi/jabatan leader yang memikul tanggung jawab untuk mencapai tujuan dan harapan dari instansi/organisasi melalui aktivitas-aktivitas kepemimpinannya.
Saeful Malik
Eduprof : Islamic Education Journal, Volume 2, pp 128-148; https://doi.org/10.47453/eduprof.v2i1.34

Abstract:
The general purpose of this study is to describe how the Implementation of Multicultural Education Management in Al Muqoddas Islamic Boarding School in Tukmudal Sumber Cirebon. The specific objectives of the study, namely to describe: 1. How is the Planning and Implementation of Multicultural Education in the Islamic Boarding School of Al Muqoddas Tukmudal Sumber Cirebon Regency? 2. How is the final Organizing and Evaluation in the Implementation of Multicultural Education in Al Muqoddas Islamic Boarding School in Tukmudal Sumber Cirebon Regency? 3. What factors are supporting and hindering the implementation of Multicultural Education Management in Al Muqoddas Islamic Boarding School in Tukmudal Sumber Cirebon Regency? This type of research is qualitative. The research approach uses phenomenology. The subjects of the study were Mudir Ma’had, Caregivers, Asatidz councilors and santri parents. Data collection methods using in-depth interviews, observation and documentation. Data analysis techniques using triangulation. The results of the study are 1) Planning for multicultural education in the Islamic Boarding School of Al Muqoddas Tukmudal Sumber Cirebon as an inseparable part of other annual activities carried out by the school in the form of composing and establishing activities to preserve the diversity of national cultural diversity into a unifying Indonesian nation; 2) The implementation of multicultural education at Al Muqoddas Boarding School in Tukmudal Sumber Cirebon, awareness and recognition and acceptance of the attitudes, behaviors, mentality, and morals of the school community carried out in various activities, such as respecting diverse differences, such as ethnicity, descent, skin color, descent religion, work and so on; 3) An assessment of multicultural education at Al Muqoddas Islamic Boarding School in Tukmudal Sumber Cirebon with indicators in the form of changes in attitudes, morals, and mental behaviors and views on social security, economic culture, and politics that unite the nation. Abstrak Tujuan umum penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan bagaimana Implementasi Manajemen Pendidikan Multikultural di Pondok Pesantren Al Muqoddas Tukmudal Sumber Cirebon. Tujuan khusus penelitian, yaitu mendeskripsikan tentang: 1.Bagaimana Perencanaan dan Pelaksanaan Pendidikan Multikultural di Pondok Pesantren Al Muqoddas Tukmudal Sumber Kabupaten Cirebon? 2.Bagaimana Pengorganisasian dan Evaluasi akhir dalam Implementasi Pendidikan Multikultural di Pondok Pesantren Al Muqoddas Tukmudal Sumber Kabupaten Cirebon? 3. Faktor-faktor apa yang menjadi pendukung dan penghambat pada implementasi Manajemen Pendidikan Multikultural di Pondok Pesantren Al Muqoddas Tukmudal Sumber Kabupaten Cirebon?. Jenis penelitian adalah kualitatif. Pendekatan penelitian menggunakan fenomenologi. Subjek penelitian adalah Mudir Ma’had, Pengasuh, dewan Asatidz dan Orang tua santri. Metode pengumpulan data menggunakan wawancara mendalam, observasi dan dokumentasi. Teknik analisis data menggunakan trianggulasi. Hasil penelitian yaitu 1) Perencanaan pendidikan multikultural di Pondok Pesantren Al Muqoddas Tukmudal Sumber Cirebon sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari kegiatan tahunan lainnya yang dilaksanakan oleh sekolah berupa penyusunan dan penetapan kegiatan melestarikan keragaman budaya bangsa yang majemuk menjadi pemersatu bangsa Indonesia; 2) Pelaksanaan pendidikan multikultural di Pondok Pesantren Al Muqoddas Tukmudal Sumber Cirebon kesadaran dan pengakuan serta penerimaan sikap, perilaku, mental, dan moral warga sekolah yang dilaksanakan dalam berbagai kegiatan, seperti saling menghormati perbedaan yang beragam, seperti suku, keturunan, warna kulit, keturunan, agama, pekerjaan, dan sebagainya; 3) Penilaian pendidikan multikultural di Pondok Pesantren Al Muqoddas Tukmudal Sumber Cirebon dengan indikator berupa perubahan perilaku sikap, moral, dan mental serta pandangannya tentang keregamanan sosial, budaya ekonomi, dan politik yang menjadi pemersatu bangsa
Amirudin Amirudin, Masayu Mashita Maisarah
Eduprof : Islamic Education Journal, Volume 2, pp 18-38; https://doi.org/10.47453/eduprof.v2i1.29

Abstract:
Islam is understood in multi-meaning, as a religious teaching and as a scientific field. This matter is still being debated by several groups, especially regarding the issue surrounding studying Islam in the West. The purpose of this paper is to examine the development of Islamic studies from time to time. The issue of using a normative and historical approach in Islamic studies has been widely discussed by experts, both from the West and the East. However, in its development, Islamic studies form a separate 'stronghold' with their respective identities in an effort to understand Islamic teachings, both as an 'observer' and as an 'actor' who has an element of partiality. By using a historical approach, this paper will prove the flexibility of Islamic studies, where each "camp" will have its own method and style in understanding Islamic teachings, both in its development in the East and West. The study of Islam will always be up to date because it attracts attention. This is of course not only among Muslims (insiders), but also among non-Muslims (outsiders) who study Islam from various perspectives. Abstrak Islam dipahami dengan multi-makna, sebagai ajaran keagamaan dan sebagai bidang keilmuan. Hal tersebut hingga kini masih diperdebatkan oleh beberapa kalangan, terutama menyangkut isu seputar mengkaji Islam di Barat. Tujuan tulisan ini ingin mengkaji perkembangan studi Islam dari masa ke masa. Isu penggunaan pendekatan normatif maupun historis dalam kajian Islam telah ramai diperbincangkan oleh para ahli, baik dari Barat maupun Timur. Namun dalam perkembangannya, studi Islam membentuk ‘kubu’ tersendiri dengan identitas masing-masing dalam upaya memahami ajaran Islam, baik sebagai ‘pengamat’ maupun sebagai ‘aktor’ yang memiliki unsur keberpihakan. Dengan menggunakan pendekatan historis, tulisan ini akan membuktikan fleksibilitas kajian Islam, di mana masing-masing ‘kubu’ akan memiliki metode dan corak tersendiri dalam memahami ajaran Islam, baik perkembangannya di Timur dan Barat. Kajian tentang ke-Islaman akan selalu aktual untuk diperbincangkan karena sangat menarik perhatian. Hal ini tentunya tidak hanya dikalangan muslim sendiri (insider), tetapi juga kalangan non-muslim (outsider) yang mempelajari agama Islam dari berbagai sudut pandang.
Kaelani Kaelani
Eduprof : Islamic Education Journal, Volume 2, pp 101-127; https://doi.org/10.47453/eduprof.v2i1.33

Abstract:
Islamic Education Development Strategy Based on Interdisciplinary Approaches: Philosophical, Paedagogical, Psychological and Sociological. Indonesian Muslims, now is the time to think about how to anticipate and accommodate the development of science and technology in this post-modern era which is increasingly sticking out, which sometimes confuse humans themselves. This clearly has an impact on the perspective of the paradigm of human thinking in life, both at the upper middle and lower levels, especially for groups of people whose educational level is still relatively low, including the educated or the younger generation. To anticipate this, the community still believes that the path of education is considered very dominant or is obliged to form a moral human (integrating faith and science and technology in students), maturing students or call it: humanizing humans according to the human nature given by Allah SWT. Seeing the urgency of such a substantive existence of education for society now and in the future, for this reason the author is touched to conduct research based on an interdisciplinary approach: opinions of experts in education, science and technology and the environment. In this study, the authors used an analysis-descriptive-argumentative approach. Therefore, the writer contemplatively-ijtihadi will try to make a kind of strategic effort in developing alternative Islamic schools, meaning an effort to find or make a strategy from institutional, curriculum, process and Islamic evaluation while still paying attention to science and technology and the environment. So that it is truly a strategy to develop Islamic schools that are taqorrub-accommodative to quality education (Islamic schools) which are kaffah-feasable and acceptable. Abstrak Strategi Pengembangan Pendidikan Islam Berdasarkan Pendekatan Interdisipliner: Filosofis, Paedagogis, Psikologis dan Sosiologis. Umat Islam Indonesia, sekarang sudah saatnya untuk memikirkan bagaimana upaya untuk mengantisipasi dan mengakomodasi perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi di era pasca-modern ini yang semakin hari semakin mencuat, yang terkadang manusia sendiri confuse dibuatnya. Hal ini jelas berdampak kepada perspektif paradigma berpikir manusia dalam kehidupannya, baik pada level menengah ke atas maupun ke bawah, lebih-lebih kepada kelompok manusia yang tingkat pendidikannya masih relatif rendah, termasuk juga kalangan terpelajar atau generasi mudanya. Untuk mengantisipasi hal tersebut masyarakat masih mempercayakan bahwa jalur pendidikan dianggap sangat dominan atau berkewajiban untuk membentuk manusia yang bermoral (mengintegrasikan imtaq dan iptek pada diri siswa), mendewasakan siswa atau sebut saja : memanusiakan manusia sesuai dengan fitrah insaniah yang diberikan Allah SWT. Melihat urgensi yang demikian substantif dari eksistensi pendidikan bagi masyarakat sekarang dan masa depan, untuk itu penulis terketuk hatinya mengadakan penelitian Berdasarkan Pendekatan Interdisipliner:Filosofis, Paedagogis, Psikologis dan Sosiologis] yang bersumber pada Al-Qur’an dan Al-Hadits, yang diintegrasikan dengan pendapat para ahli pendidikan, iptek dan evironment. Dalam penelitian ini penulis menggunakan pendekatan metode analisis-deksriptif-argumentatif. Maka dari itu penulis secara kontemplatif-ijtihadi akan mencoba untuk membuat semacam upaya strategis dalam mengembangkan sekolah-sekolah Islam-alternatif, artinya suatu upaya mencari atau membuat strategi dari mulai kelembagaan, kurikulum, proses dan evaluasi yang Islami dengan tetap memperhatikan sisi iptek dan environment. Sehingga betul-betul merupakan suatu strategi pengembangan sekolah-sekolah Islam yang taqorrub-akomodatif kepada pendidikan (sekolah Islami) yang bermutu secara kaffah-feasable dan acceptable
Dian Widiantari
Eduprof : Islamic Education Journal, Volume 2, pp 1-17; https://doi.org/10.47453/eduprof.v2i1.28

Abstract:
This thinking contains an explanation of the values of character education in vocational camp activities. The purpose of this thought is to describe the values contained in vocational camps. The results of this thought indicate that there are 6 values of character education contained in the vocational camp, namely, disciplinary character values, hard work character values, creative character values, character values respecting achievement, environmental care character values, and responsibility character values. In vocational camps, there are character values that can be associated with teaching character education in schools in Indonesia Abstrak Pemikiran ini mengandung pemapaparan tentang nilai-nilai pendidikan karakter dalam kegiatan kemah vokasional. Tujuan pemikiran ini untuk mendeskripsikan tentang nilai nilai yang terkandung dalam kemah vokasional. Hasil pemikiran ini menunjukkan bahwa nilai-nilai pendidikan karakter yang terkandung dalam kemah vokasional ada 6 yaitu, nilai karakter disiplin, nilai karakter kerja keras, nilai karakter kreatif, nilai karakter menghargai prestasi, nilai karakter peduli lingkungan, dan nilai karakter tanggung jawab. Dalam kemah vokasional terdapat nilai-nilai karakter yang dapat dikaitkan dengan pengajaran pendidikan karakter sekolah di Indonesia.
M. Sauki
Eduprof : Islamic Education Journal, Volume 2, pp 54-75; https://doi.org/10.47453/eduprof.v2i1.31

Abstract:
At present, riots that occur between religious communities still occur, but all not because it is solely a matter of religion, but rather social, economic, and political issues in the name of religion. In our own country, Indonesia has also recorded many riots between religious communities. Call it the worst case was the action to defend Islam or known as the 212 action which took place at the end of 2016 and early 2017. This conflict actually started to emerge when Basuki Tjajaya Purnama replaced the position of Governor of DKI Jakarta which was still vacant because the Governor of DKI Jakarta was proposed to be become a President. Basuki, or what is known as Ahok in a structured manner, is obliged to serve as a replacement Governor. There were pros and cons among the community and religionists, especially among Muslims. That they do not want to be led by non-Muslims (Kafir). They think that Islam in Jakarta is the religion of the majority so that a leader should be from the Islamic group not non-Muslim. So it does not rule out if there is a re-election for the Governor of DKI Jakarta, the writer speculates that Ahok will not serve as Governor. Abstrak Pada dewasa ini, kerusuhan yang terjadi antar umat beragama pun masih terjadi, namun semua bukan karena memang semata-mata persoalan agama, tapi lebih pada persoalan sosial, ekonomi, politik yang mengatasnamakan agama. Di negeri kita sendiri, Indonesia telah banyak tercatat pula kerusuhan antar umat beragama. Sebut saja yang paling parah adalah aksi bela Islam atau yang dikenal dengan aksi 212 yang terjadi di penutupan akhir 2016 dan awal 2017. Konflik ini sebetulnya sudah mulai muncul ketika Basuki Tjajaya Purnama menggantikan posisi kursi Gubernur DKI Jakarta yang masih kosong dikarenakan Gubernur DKI Jakarta diajukan untuk menjadi seorang Presiden. Basuki atau yang dikenal dengan sebutan Ahok secara terstruktur wajib menjabat sebagai Gubernur pengganti. Terjadilah pro dan kontra di kalangan masyarakat dan agamawan, khususnya di kalangan umat Islam. Bahwasanya mereka tidak mau dipimpin oleh non-muslim (Kafir). Mereka beranggapan bahwa Islam yang berada di Jakarta adalah agama mayoritas maka yang menjadi seorang pemimpin seharusnya dari golongan Islam bukan non-Islam. Sehingga tidak menutup kemungkinan jika ada pemilihan ulang Gubernur DKI Jakarta, penulis berspekulatif Ahok tidak akan menjabat sebagai Gubernur.
Muhammad Saefudin
Eduprof : Islamic Education Journal, Volume 2, pp 76-100; https://doi.org/10.47453/eduprof.v2i1.32

Abstract:
During adolescence or many students experience a period of ambivalence (ambivalence). On the one hand, they still want to be comfortable living under the protection and love of their parents, but on the other hand they want to develop independently or independently. It is in these situations and conditions that often rebel teenagers and want to impose their will. This is the situation that happened in the Nahdlatul Ulama Juntinyuat High School (SMA NU Juntinyuat) in Indramayu district, finding students who consumed addictive substances. So that it causes behavior that is not appropriate for students in general. Based on the above background, the authors conducted research with the aim of revealing how the role of Islamic religious education teachers in the implementation of the anti-drug movement program as an effort to prevent the use of addictive substances in students at SMA NU Juntinyuat Indramayu with research objectives: (1) To determine the implementation of the movement program anti drugs at SMA NU Juntinyuat Indramayu. (2) To determine the role of Islamic religious education teachers in efforts to prevent the use of addictive substances in students at SMA NU Juntinyuat. (3) This is to determine the relationship between the anti-drug movement program and efforts to prevent the use of addictive substances by students at SMA NU Juntinyuat. The author in this research uses qualitative research methods. The type of qualitative research that the author uses is a case study. Data collection is carried out by observation, documentation, interview techniques. Data analysis techniques include data reduction, data presentation, and drawing conclusions. Research information. The conclusion of this study is that the results of the anti-drug movement program implemented in SMA NU Juntinyuat Indramayu succeeded in regaining students' self-confidence. This is known from the decrease in students who are addictive substances. Abstak Pada masa remaja atau siswa banyak mengalami masa ambivalensi (sikap mendua). Di satu sisi meraka masih ingin mendapat kenyamanan hidup di bawah perlindungan dan kasih sayang orang tua, tetapi di sisi lain mereka ingin pula berkembang secara independen atau mandiri.[1] Dalam situasi dan kondisi yang membimbangkan inilah remaja sering memberontak dan ingin memaksakan kehendaknya. Inilah situasi yang terjadi di Sekolah Menengah Atas Nahdlatul Ulama Juntinyuat (SMA NU Juntinyuat)kabupaten Indramayu, menemukan siswa yang mengkonsumsi zat adiktif. Sehingga menimbulkan perilaku yang tidak sewajarnya selayaknya pelajar pada umumnya. Berdasarkan latar belakang di atas, penulis melakukan penelitian dengan tujuan untuk mengungkapkan bagaimana peran guru pendidikan agama Islam dalam implementasi program gerakan anti narkoba sebagai upaya pencegahan penggunaan zat adiktif pada siswa di SMA NU Juntinyuat Indramayu dengan tujuan penelitian: (1) Untuk mengetahui implementasi program gerakan anti narkoba di SMA NU Juntinyuat Indramayu. (2) Untuk mengetahui peran guru pendidikan agama Islamdalam upaya mencegah penggunaan zat adiktif pada siswa di SMA NU Juntinyuat. (3) Untuk mengetahui keterkaitan program gerakan anti narkoba dengan upaya mencegah penggunaan zat adiktif oleh siswa di SMA NU Juntinyuat. Penulis dalam riset ini menggunakan metode penelitian Kualitatif. Jenis penelitian Kualitatif yang penulis gunakan adalah Studi Kasus.Pengumpulan data dilakukan dengan teknik observasi, dpkumentasi, wawancara.Teknik analisis data meliputi meliputi reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan.Informan penelitian. Kesimpulan dari penelitian ini adalah bahwa Hasil Program gerakan anti narkoba yang diterapkan di SMA NU Juntinyuat Indramayu ini berhasil menumbuhkan kembali rasa percaya diri siswa. Hal ini diketahui dari berkurangnya siswa yang ketergantungan zat adiktif..
Nuraeni Nuraeni, Halimah Halimah, Junaedi Junaedi
Eduprof : Islamic Education Journal, Volume 1, pp 26-51; https://doi.org/10.47453/eduprof.v1i2.20

Abstract:
Penelitian ini bertujuan untuk melihat pengaruh kompetensi manajerial dan supervisi kepala sekolah terhadapkinerja guru RA PC Weru Kabupaten Cirebon. Tempat penelitian adalah di semua RA yang termasuk ke dalam Pengurus Cabang (PC) Kecamatan Weru Kabupaten Cirebon. Populasi dan sampel sasaran dalam penelitian ini adalah pendidik (guru) RA di PC Weru Kabupaten Cirebon sebanyak 74 orang. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kuantitatif. Adapun metode penelitian ini adalah metode penelitian survei. Teknik pengumpulan data dengan pengamatan (wawancara dan kuesioner). Adapun teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini yaitu analisis data deskriptif dan data inferensial. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa 1) Terdapat korelasi yang positif antara Kompetensi Majerial Kepala Sekolah (X1) dengan Kompetensi Supervisi Kepala Sekolah (X2). Koefisien korelasinya sebesar 0,365 dengan nilai Sig. 0,001 (
Nurfadilah Nurfadilah
Eduprof : Islamic Education Journal, Volume 1, pp 13-25; https://doi.org/10.47453/eduprof.v1i2.16

Abstract:
Pendidikan merupakan bimbingan dan pertolongan secara sadar yang diberikan oleh pendidik kepada peserta didik sesuai dengan perkembangan jasmaniah dan rohaniah ke arah kedewasaan. Peserta didik di dalam mencari nilai-nilai hidup, harus dapat bimbingan sepenuhnya dari pendidik, karena menurut ajaran Islam, saat anak dilahirkan dalam keadaan lemah dan suci/fitrah sedangkan alam sekitarnya akan memberi corak warna terhadap nilai hidup atas pendidikan agama peserta didik.
Alfiatun Munawwaroh, Farid Wajdi, Vinesa Fitri
Eduprof : Islamic Education Journal, Volume 1, pp 78-92; https://doi.org/10.47453/eduprof.v1i2.21

Abstract:
Penelitian ini bertujuan untuk melihat gaya kepemimpinan nyai hajah masriyah amva di pondok pesantren kebon jambu al-islamy babakan ciwaringin kabupaten cirebon. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kualitatif. Metode penelitian yang digunakan pada penelitian ini adalah metode studi fenomenologis. Penelitian ini dilaksanakan di Pondok Pesantren Kebon Jambu Al- Islamy Babakan Ciwaringin Kabupaten Cirebon Teknik pengumpulan data yang akan digunakan peneliti yaitu Wawancara Observasi Studi, dokumenter, Triangulasi Analisis data dalam penelitian ini dilakukanpadasaatpengumpulan data, Reduksi Data, Penyajian data dan Verifikasi data. Gaya kepemimpinan yang dipakai Nyai Masriyah Amva bisa dibilang gaya kepemiminan karismatik dimana beliau selalu mengajak dalam hal kebaikan dan ibadah seperti yang dijabarkan dalam ciri-ciri pemimpin karismatik. Selain itu Ny.Hj.Masriyah Amva juga dikatan memiliki pola kepemimpinan kolektif dimana pesantren sendiri sudah berbentuk yayasan sebagai wadah dan menjadi organisasi impersonal, pembagian wewenang dalam tata laksana kepengurusan diatur secara fungsional, sehingga akhirnya semua itu diwadahi dan digerakkan menurut tata aturan manajemen modern.. Gaya kepemimpinan Ny.Hj.Masriyah Amva juga memiliki gaya kepemimpinan demokratis ini dintandai sikap beliau yang selalu terbuka, melibatkan segala elemen-elemen penting yang ada di Pondok Pesantren guna kemajuan pondok serta bersifat terbuka atas pilihan putra-putrinya dalam segala hal, menghargai pendapat dan pilihan orang lain.
Muhammadun Muhammadun
Eduprof : Islamic Education Journal, Volume 1, pp 52-77; https://doi.org/10.47453/eduprof.v1i2.15

Abstract:
Perumusan penalaran dalam agama, serta reformulasi rasionalismenya, harus berdasar pada prinsip-prinsip doktrinal, secara jelas mempunyai tujuan dan maksud tertentu, yakni ditujukan oleh pembuat syari’ah (Allah dan Rasul-Nya) kepada manusia yang pada akhirnya membawa manusia kepada nilai-nilai kebijkan (al-fadilah). Intinya menurut al-Jabiri bahwa gagasan “maqasid asy-syari’ah” dalam disiplin ilmu-ilmu agama sebanding dengan gagasan “hukum-hukum kausalitas di alam ini” dalam disiplin filsafat.Dengan demikian, penataan ulang ini memberikan landasan ulang terhadap hubungan antara bayani dan burhani yang didasarkan pada pradigma rasional-empiris, artinya realitas agama dan realitas filsafat dikaji dengan semangat rasional-kritis dan empiris, hal ini bertujuan agar para pakar dapat menjaga kandungan keduanya (agama dan filsafat) dan merekonstruksinya kembali. Inilah arah baru dalam cakrawala sistem pegetahuan di dunia Arab-Islam.
Taufiqurrahman Taufiqurrahman
Eduprof : Islamic Education Journal, Volume 1, pp 94-118; https://doi.org/10.47453/eduprof.v1i2.23

Abstract:
Ikhlas merupakan kesucian hati dalam beribadah atau beramal untuk menuju kepada Allah. Ikhlas adalah suasana kewajiban yang mencerminkan motivasi bathin kearah beribadah kepada Allah dan kearah membersihkan hati dari kecenderungan untuk melakukan perbuatan yang tidak menuju kepada Allah.Terdapat lima aspek penting dalam ikhlas, yaitu (1) ikhlas dalam arti pemurnian agama (2) ikhlas dalam arti pemurnian agama dari hawa nafsu dan perilaku menyimpang; (3) ikhlas dalam arti pemurnian amal dari bermacam-macam penyakit dan noda yang tersembunyi; (4) ikhlas dalam arti pemurnian ucapan dari kata-kata yang tidak berguna, kata-kata buruk, dan kata-kata bualan, serta (5) ikhlas dalam arti pemurnian budi pekerti dengan mengikuti apa yang dikehendaki oleh Tuhan. Penelitian ini merupakan penelitian kualitaif dengan pendekatan semiotik bayaniyah melalui studi terhadap ayat-ayat yang berkaitan dengan ikhlas.Peneltian dilaksanakan dengan menggali makna-maknayang mendekati bahkanyang tepat untuk mnemukan hakikat makna ikhlas. Beberapa litertur tafsir digunakan untuik mendukung penulisan ini.
Yoyoh Badriyyah
Eduprof : Islamic Education Journal, Volume 1, pp 93-107; https://doi.org/10.47453/eduprof.v1i2.17

Abstract:
Banyak upaya yang dilakukan sekolah dalam upaya pengembangan pembelajaran PAI di sekolah. Namun upaya-upaya tersebut terkadang masih belum mampu mengatasi persoalan yang muncul di sekolah. Pengelolaan program ekstrakurikuler di sekolah dibutuhkan suatu desain yang terencana dengan baik serta komprehensif mencakup seluruh komponen-komponen pembelajaran. Sebab komponen-komponen pembelajaran tersebut ikut andil mempengarhui tingkat keberhasilan pelaksanaan pembelajran. Krida Nusantara, sebagai sekolah yang berbasis umum telah menunjukan sebuah model dalam pengembangan pembelajaran PAI di sekolah umum yaitu melalui pendekatan inegrasi dengan program ekstrakurikuler keagamaan yang terkelaola dengan baik.hasil penelitian ini menunjukan bahwa keberhasilan penyelenggaraan pembelajaran PAI di sekolah karena ditunjang oleh program ekstrakurikuler pendidikan agama (penag) yang dirancang dan dilaksanakan dengan baik, mulai dari aspek desain pembelajaran (tujuan pembelajaran, materi ajar, proses dan evaluasi), tenaga pengelola (pamong agama), tenaga pengajar, serta pengendalian kendala pembelajaran.
Muhammad Usef Saefullah, Amin Haedari, Labisal Qolbi
Eduprof : Islamic Education Journal, Volume 1, pp 1-12; https://doi.org/10.47453/eduprof.v1i2.19

Abstract:
Manajemen pelayanan khusus dilakukan untuk mendukung keberhasilan proses belajar mengajar. Keberhasilan proses belajar mengajar membutuhkan fasilitas baik pengajar maupun sarana dan prasarana untuk mencapainya. Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan, pengawasan dan evaluasi menajemen mutu pelayanan pendidikan di SMAN 1 Astanajapura. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif yang digunakan yaitu penelitian kualitatif deskriptif dengan pendekatan studi kasus (case study). Teknik pengumpulan data merupakan langkah yang paling utama dalam penelitian karena tujuan utama dari penelitan adalah obsevasi, wawancara dan dokumentasi. Kegiatan yang dilakukan dalam analisis data yaitu reduksi data, penyajian data, dan verifikasi data. Hasil penelitian ini ntuk perencanaan sekolah merencanakan tersedianya sarana dan prasarana selama 8 tahun dari mulai 2016-2023. Pengorganisasian dan pengawasan sekolah didukung dari tenaga pendidikan yang berkompeten disetiap mata pelajarannya, staf administrasi yang mampu bekerja dengan baik, koordinasi kepala sekolah dengan warga sekolah yang baik, komite sekolah yang mendukung proses kegiatan sekolah, masyarakat yang mampu bekerja sama, penjagaan sekolah baik dari security dan polisi setempat. Pelaksanaan yang diterapkan yaitu dengan media pembelajaran PAKEM, pelayanan yang optimal dari segi adminstrasi, guru yang kreatif dan inovaif, kegiatan ekstrakulikuler, kegiatan keagamaan, perlombaan akademik, maupun non akademik, mutu lulusan, bekerja sama dengan beberapa perusahaan dan perguruan tinggi. Evaluasi setiap tahun sekolah mengadakan rapat dengan dengan orang tua murid, setiap awal semester rapat dengan warga sekolah untuk memajukan dan mengevaluasi manajemen mutu dalam pelayanan pendidikan.
Iksan Sahri Kamil
Eduprof : Islamic Education Journal, Volume 1, pp 21-34; https://doi.org/10.47453/eduprof.v1i1.8

Abstract:
Classic Moslem scholars discussed the water on starting chapters in their books. It is shown how important the water in Moslems attention as a basic need that Moslem must know. The water in Islam can be disputed in two terms. First, in the ecology perspective, second, in the mahdhah ritual perspective. In the first one, the concept imagines the water as a basic condition for life being and human as khalifah Allah fi al-Ardh. This contains ecology perspective. And the other one is for ritual condition in Islam ethic (ilm al-fiqh). Ilm al-fiqh or Islam ethic said that the water is a basic material for removing hadath (forbidden situation for taking Islamic mahdhah ritual) and cleaning najasat (the dirty materials in shariah perspective). In other hand, sciences make a new way to understand Al-quran and al-sunnah as a new interpretation of Al-quran specially in nature and all creations in universe and ritual activity in sciences prespective
Barnawi Barnawi
Eduprof : Islamic Education Journal, Volume 1, pp 64-73; https://doi.org/10.47453/eduprof.v1i1.10

Abstract:
Kepala madrasah sebagai pengelola pendidikan harus mampu menyusun RKA untuk mencapai tujuan madrasah. Namun pada kenyataannya kepala madrasah dalam wilayah binaan peneliti masih belum mampu menyusun RKA dengan optimal. Tujuan penelitian ini adalah untuk meningkatkan kemampuan kepala madrasah se wilayah binaan dalam menyusun RKA melalui workshop. Penelitian ini tergolong penelitian tindakan sekolah yang melibatkan 7 (tujuh) kepala madrasah se wilayah binaan peneliti. Penelitian dilakukan dengan dua siklus, setiap siklus terdiri atas empat tahap, yaitu: perencanaan, tindakan, observasi, dan refleksi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai rerata klasikal kepala madrasah dalam menyusun RKA naik dari 74,93 pada siklus I menjadi 90,07 pada siklus II. Persentase ketuntasan juga mengalami kenaikan, yaitu dari 1 orang (14,29%) pada siklus I menjadi 7 orang (100%) pada siklus II. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa kemampuan kepala madrasah se wilayah binaan dalam menyusun RKA dapat ditingkatkan melalui workshop
Oman Fathurohman
Eduprof : Islamic Education Journal, Volume 1, pp 1-20; https://doi.org/10.47453/eduprof.v1i1.3

Abstract:
Terintegrasinya nilai-nilai, norma dan budaya bangsa merupakan bagian dari aspek penting sistem pendidikan nasional. Terciptanya generasi yang memiliki karakter yang kuat sebagai bagian dari karakteristik bangsa yang bermoral. Penerapan kurikulum yang memasukkan mata pelajaran Pendidikan Agama dan Karakter sejatinya masih minim dalam sistem pendidikan Nasional, namun setidaknya steakholder pendidikan bisa berinovasi dengan kurikulum yang ada, entah dengan mengintegrasikannya dengan kurikulum aatu dengan cara lain yang elegan yang dapat diterapkan di lembaga pendidikan. Penerapan Konsep yang terintegrasi dengan pendidikan diantaranya dengan pendekatan holistik. Tulisan ini walaupun sederhana mencoba Menjelaskan konsep pendidikan agama Islam dengan pendekatan holistik berorientasi karakter, menjelaskan wacana baru akan praktek pendidikan karakter yang holistik pada anak usia dini., dan Sebagai bagian dari wacana upaya internalisasi nilai moral sejak dini. Sedangkan manfaat yang diharapkan adalah manjadi bagian dari konsep dan implementasi nyata yang baik dalam upaya internalisasi nilai atau karakter sejak dini.
Affandi Mochtar
Eduprof : Islamic Education Journal, Volume 1, pp 87-94; https://doi.org/10.47453/eduprof.v1i1.13

Abstract:
Pesantren adalah lembaga pendidikan tertua yang ada di Indonesia, sistem bandungan dan sorogan adalah model pembelajaran klasiknyang pertama kali diterapkan oleh pesantren sebelum diterapkannya madrasi (sekolah dengan system berjenjang). Secara histories pesantren telah ada di Indonesia sejka lama, sejak pertama kali masuknua Islam di Indonesia dan menjadi bagain terpenting dari perjuangan bangsa Indonesi dalam melawan kolonialisme. Pada mada kolonialisme pesantren mengalami pasang surut sejalan dengan peran pesanren yang dianggap sebagai basis kekuatan bangsa Indonesia. Namun pasca kemerdekan pesantren di enjuru negri berkembang pesat, bahkan secara kelembagaan mengalami berbagai innovasi yang sangan menggembirakan dan mewarni kancah pendidikan negeri ini.Pesantren di Indonesia tidak saja menjega eksistensinya sebagai pendidikan yang bercorak klasik (salaf), namun telah bias beradaptasi bahkan berinnovasi menjadi model dan lembaga pendidikan modern.
Basari Basari
Eduprof : Islamic Education Journal, Volume 1, pp 75-84; https://doi.org/10.47453/eduprof.v1i1.11

Abstract:
Berdasarkan hasil observasi awal pembelajaran Pendidikan Agama Islam di Kelas XII TGB 3 SMK Negeri 1 Jamblang memperlihatkan adanya beberapa kendala dalam pelaksanaan KBM, yaitu : metode pembelajaran yang kurang bervariasi sehingga siswa merasa jenuh dan bosan untuk belajar Pendidikan Agama Islam dan hasil belajar yang tidak optimal. Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan motivasi belajar Pendidikan Agama Islam, agar menjadi lebih baik (maksimal), baik secara individu maupun klasikal. Untuk mencapai tujuan tersebut dilakukan penelitian tindakan kelas di Kelas XII TGB 3 SMK Negeri 1 Jamblang Kabupaten Cirebon dalam pembelajaran PAI pada materi “Ketentuan Waris dalam Islam” dengan menerapkan Model Skrip Kooperatif, yang didasari oleh prinsip bahwa guru mengajarkan Pendidikan Agama Islam sebagai upaya pembinaan, yaitu siswa yang bekerja dalam kelompok tersebut terbagi dua peran, ada yang sebagai pembicara dan ada yang sebagai pendengar, dan yang sebagai pendengar guna untuk menyimak/ mengoreksi/ menunjukkan ide-ide pokok yang kurang lengkap, serta untuk membantu, mengingat/ menghapal ide-ide pokok dengan menghubungkan materi sebelumnya atau dengan materi lainnya. Penelitian tindakan kelas ini dilaksanakan dalam 2 siklus. Hasil penelitian menunjukkan prestasi belajar siswa dalam mata pelajaran PAI, yaitu: pada Awal mencapai rata-rata 56,84, pada Siklus I meningkat mencapai rata-rata 74,47, dan pada Siklus II terjadi peningkatan yang cukup signifikan yaitu mencapai rata-rata 83,03.
Amirudin Amirudin
Eduprof : Islamic Education Journal, Volume 1, pp 35-59; https://doi.org/10.47453/eduprof.v1i1.9

Abstract:
Perdebatan tentang hakekat kejadian manusia, telah melahirkan dua pandangan besar, yakni pandangan dari ilmu pengetahuan dan menurut Al-quran. Pandangan ilmu pengetahuan diwakili Robert Charles Darwin, melalui teori evolusinya. Teori evolusi menyatakan bahwa makhluk hidup termasuk rnanusia, muncul melalui proses seleksi alam (natural selection} yang gradual^ sehingga bagi sementara pihak, peran Tuhan sebagai pencipta akan terusik. Pernyataan teori evolusi tersebut tentang keberadaan makhluk hidup secara kebetulan (by chance) dan tidak memiliki tujuan (non purposive} membuat signifikansi Tuhan bagi kehidupan meluntur. Makhluk hidup tidak akan lagi butuh penyelamatan dari Tuhan karena itu agama tidak lagi dibutuhkan. Menurut Al-quran, generasi manusia yang ada sekarang ini berasal dari satu sosok bernama Adam. Penciptaan Adam sendiri merupakan sebuah pengecualian, dia berasal dari tanah. Hal dijelaskan pada QS. 7: 189, 6: 98, QS. 30: 6 dan QS. 41: 7-8. Informasi yang terkandung beberapa ayat Al-quran menegaskan bahwa manusia awal yang diciptakan berasal dari tanah, sementara generasi manusia selanjutnya diciptakan dari saripati air yang hina (air mani). Komposisi penciptaan manusia ini juga dibekali dengan peniupan ruh Allah SWT, yang menjadi titik perbedaan dibandingkan dengan makhluk-makhluk ciptaan Allah SWT lainnya. Kesempurnaan dan keunggulan manusia inilah yang akhirnya ia dingkat khalifah untuk memakmurkan bumi dan seluruh isinya.
Page of 1
Articles per Page
by
Show export options
  Select all
Back to Top Top