Refine Search

New Search

Results in Journal Berkala Ilmiah Pertanian: 32

(searched for: journal_id:(5985889))
Page of 1
Articles per Page
by
Show export options
  Select all
Nur Izzah Az-Zahra, Giyarto Giyarto, Maryanto Maryanto
Published: 28 February 2019
Berkala Ilmiah Pertanian, Volume 2, pp 1-5; https://doi.org/10.19184/bip.v2i1.15773

Abstract:
The coconut water has been declared a natural isotonic drink because it a fairly complete minerals. However, coconut water is easily damaged and polluted by the activity of microorganisms, so effort to improve the stability of coconut water is needed. Honey is a natural food source that has a function as a taste, contains rich minerals, and as an antimicrobials is expected to inhibit the growth of microorganisms as a solution in extending the shelf life of coconut water. With this ability, honey can be added (fortified) to the isotonic drink of coconut water. This research aims to measure the quality characteristics of isotonic drinks made from coconut water with variations of honey concentration during cold storage. The stages of this research was carried out with the preparation of the ingredients, the preparation of isotonic beverages according to the treatment, and the testing of quality characteristics during cold storage. Isotonic drinking stage made of coconut water and honey (100 ml Hydro coco as control (P0); 95 mL coconut water: 5 mL of honey (P1); 92.5 mL coconut water: 7 mL honey (P2), 90 mL coconut water: 10 mL honey (P3), 87.5 mL coconut water: 12.5 mL honey (P4), and 85 mL coconut water: 15 mL of honey (P5)). Measurement of quality characteristics (content of Na, K, ash, and degree of acidity) isotonic drinks of honey coconut water every 10 days once a month periodically. The results data are presented in tables and graphs, and analyzed descriptively. The results showed that the value of Na and K content in each sample was between 85.79-102.44 ppm and 1860.1-2020,8 ppm, the value of ash content in the lowest sample was 1.9681% and the highest was 4.7448 %, and the lowest degree of acidity (pH) was 3.4 and the highest was 5.7.Keywords: isotonic drinks, coconut water, honey Air kelapa telah dinyatakan sebagai minuman isotonik alami karena mengandung mineral yang cukup lengkap. Namun, air kelapa mudah rusak dan mudah tercemar oleh aktivitas mikroorganisme, sehingga upaya untuk meningkatkan stabilitas air kelapa sangat dibutuhkan. Madu merupakan sumber makanan alami yang memiliki fungsi sebagai rasa, mengandung mineral yang kaya, dan antimikroba diharapkan dapat menghambat pertumbuhan mikroorganisme sebagai solusi dalam memperpanjang stabilitas air kelapa. Dengan kemampuan ini, madu dapat ditambahkan (fortifikasi) ke minuman isotonik air kelapa. Penelitian ini bertujuan untuk mengukur kualitas karakteristik minuman isotonik yang dibuat dari air kelapa dengan variasi konsentrasi madu selama penyimpanan dingin. Tahapan penelitian ini dilakukan dengan persiapan bahan, pembuatan minuman isotonik sesuai perlakuan, dan pengujian karakteristik kualitas selama penyimpanan dingin. Tahapan pembuatan minuman isotonik yang terbuat dari air kelapa dan madu (100 ml Hydro coco sebagai kontrol (P0); 95 mL air kelapa: 5 mL madu (P1); 92,5 mL air kelapa: 7 mL madu (P2 ), 90 mL air kelapa: 10 mL madu (P3), 87,5 mL air kelapa: 12,5 mL madu (P4), dan 85 mL air kelapa: 15 mL madu (P5)). Pengujian karakteristik kualitas (kandungan Na, K, abu, dan derajat keasaman) minuman isotonik madu air kelapa setiap 10 hari sekali selama sebulan secara berkala. Data hasil disajikan dalam bentuk tabel dan grafik, dan dianalisis secara deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai kadar Na dan K pada masing-masing sampel adalah antara 85,79-102,44 ppm dan 1860,1-2020,8 ppm, nilai kadar abu pada sampel terendah adalah 1,9681% dan tertinggi 4,7448%, dan nilai derajat keasaman (pH) terendah adalah 3,4 dan tertinggi 5,7. Kata Kunci : Minuman isotonic, Air Kelapa, Madu
Dian Krisnawati, Cahyoadi Bowo
Published: 28 February 2019
Berkala Ilmiah Pertanian, Volume 2, pp 13-18; https://doi.org/10.19184/bip.v2i1.15777

Abstract:
This research was aimed a) to find out the right calcium dose to increase aluvial agricultural land pH, and b) to find out the influence of calcification on rice plants growth and production. This research was conducted on July 2018 until January 2019 in Agricultural Faculty, University of Jember. The research design used was Completely Randomized Design (RAL) with one factor that has 6 standard and 4 repetition. Calcium dose treatment included to: Ca0 (0 ton/ha), Ca1 (1 ton/ha), Ca2 (1,3 ton/ha), Ca3 (2 ton/ha), Ca4 (2,6 ton/ha) and Ca5 (3 ton/ha). The data was statically analyzed using ANOVA and if it is obtained influence of analysis treatment, it was continued using Duncan’s Multiple Range Test (DMRT) with credibility level of 95%. The result of analysis showed that the addition of CaCO3 was able to increase pH H2O, pH CaCl2, and available P2O5, and able to reduce Al-dd level. The suitable dose of CaCO3 was 1,3 ton/ha (Ca2) or using method based on Al-dd. The giving of 1,3 ton/ha was able to give the best growing media for rice plants growth, so that it was able to increase rice plants production. ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk a) Mengetahui dosis kapur yang sesuai untuk meningkatkan pH tanah sawah aluvial, dan b) Mengetahui pengaruh pengapuran terhadap peningkatan pH tanah sawah aluvial, pertumbuan dan produksi tanaman padi. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Juli 2018 sampai Januari 2019 di Fakultas Pertanian, Universitas Jember. Penentuan dosis pengapuran yang diaplikasikan berdasarkan dengan kebiasaan petani, metode Al-dd dan KTK efektif. Rancangan percobaan yang digunakan adalah Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan satu faktor perlakuan yang memiliki 6 taraf dan 4 ulangan. Perlakuan dosis kapur terdiri dari Ca0 (0 ton/ha), Ca1 (1 ton/ha), Ca2 (1,3 ton/ha), Ca3 (2 ton/ha), Ca4 (2,6 ton/ha) dan Ca5 (3 ton/ha). Data hasil dianalisis menggunakan ANOVA dan apabila didapatkan pengaruh perlakuan analisis dilanjutankan dengan menggunakan Duncan’s Multiple Range Test (DMRT) dengan taraf kepercayaan 95 %. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian CaCO3 dapat meningkatkan pH H2O, pH CaCl2, P2O5 tersedia, Ca2+ serta menurunkan Al-dd dalam tanah. Dosis yang sesuai adalah 1,3 ton/ha atau menggunakan metode berdasarkan kandungan Al dd. Pemberian CaCO3 1,3 ton/ha sudah dapat memberikan media tanam yang ideal untuk pertumbuhan tanaman padi. sehingga mampu meningkatkan produksi tanaman padi.
Titik Khoiriyah, Wiwik Siti Windrati, Nurud Diniyah
Published: 28 February 2019
Berkala Ilmiah Pertanian, Volume 2, pp 6-12; https://doi.org/10.19184/bip.v2i1.14960

Abstract:
Nugget is a frozen ready to eat food product made from raw ground meat with a coating material. Generally, the coating material has used breadcrumbs. The breadcrumb is made from dried and crushed white bread. Bread crumbs have an important component as a coating material that is 13% starch and 8-9,7% protein. Intelligent rice has a starch and protein content of 64.48% and 7.2-9.7%. Therefore, bread crumbs may be substituted using Beras Cerdas crumbs. This study aims to determine the nature of the specific and organoleptic nuggets that use substitution of Beras Cerdas crumbs as a coating material and to know the ratio of breadcrumbs with the clever crumb of Beras Cerdas is right and still in the likes of consumers. The method of this study was to use a randomized block design with three (3) replications in each treatment. Data obtained from the results of the study processed using the program SPSS 17.0, organoleptic data using Friedman Test. The physical properties data were analyzed using ANOVA and if there were differences continued by using Duncan New Multiple Range Test (DNMRT) test at α ≤ 5%. The best one treatment analysis compared to control nuggets (100% breadcrumbs) was performed using the effectiveness test. The results showed that the substitution of intelligent rice crumbs as a coating material had an effect on the color, aroma, taste, crispness, and overall color and stickiness value, but not significant effect on color value (brightness) and nugget texture value.Based on the best treatment effectiveness test ie P1 with a value of 0.63 effectiveness ABSTRAK Nugget merupakan produk makanan beku siap saji yang berbahan baku daging giling yang diberi bahan pelapis. Umumnya, bahan pelapis yang digunakan yaitu remah roti. Remah roti terbuat dari roti tawar yang dikeringkan dan dihancurkan. Remah roti memiliki komponen penting sebagai bahan pelapis yaitu kadar pati 13% dan protein 8-9,7%. Beras cerdas memiliki kadar pati dan protein 64,48% dan 7,2-9,7%. Oleh sebab itu, remah roti dapat disubstitusi menggunakan remah beras cerdas. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui sifat sifik dan organoleptik nugget yang menggunakan substitusi remah beras cerdas sebagai bahan pelapis serta mengetahui rasio perbadingan remah roti dengan remah beras cerdas yang tepat dan masih di sukai konsumen. Metode penelitian ini adalah menggunakan rancangan acak kelompok dengan tiga (3) kali ulangan pada setiap perlakuan. Data yang diperoleh dari hasil penelitian diolah menggunakan program SPSS 17.0, Data organoleptik menggunakan Uji Friedman. Data sifat fisik dianalisis menggunakan ANOVA dan jika terdapat perbedaan dilanjutkan dengan menggunakan uji Duncan New multiple Range Test (DNMRT) pada taraf uji α ≤ 5%. Analisis satu perlakuan terbaik dibandingkan dengan nugget kontrol (100% remah roti) dilakukan dengan menggunakan uji efektivitas. Hasil penelitian menunjukkan bahwa substitusi remah beras cerdas sebagai bahan pelapis berpengaruh nyata terhadap kesukaan warna, aroma, rasa, kerenyahan, dan keseluruhan serta nilai daya lekat, namun tidak berpegaruh nyata terhadap nilai warna (kecerahan) dan nilai tekstur nugget.Berdasarkan uji efektivitas perlakuan terbaik yaitu P1 dengan nilai efektivitas 0,63
Laily Dwi Dzulhijja, Wagiyana Wagiyana, Sigit Prastowo
Published: 19 February 2019
Berkala Ilmiah Pertanian, Volume 2, pp 42-47; https://doi.org/10.19184/bip.v2i1.16167

Abstract:
This study aims to determine the effect of soursop leaf flour, lemongrass flour, kenikir leaf flour, lime leaf flour, and kluwih leaf flour on: 1) mortality, 2) damage to seeds, 3) shrinkage of seed weight, 4) appearance of adult C. analysts on soybean seeds in deposits and 5) laying eggs of C. imago female eggs, 6) probit analysis LT50. The experiment was carried out using a Completely Randomized Design (CRD). As treatments are: A) controls; B) soursop leaf flour in doses of 1gr, 2gr, and 3gr; C) Serai leaf flour with doses of 1gr, 2gr, and 3gr; D) kenikir leaf flour with doses of 1gr, 2gr, and 3gr; E) lime leaf flour with doses of 1gr, 2gr, and 3gr; and F) kluwih leaf flour with doses of 1gr, 2gr, and 3gr. Each treatment uses five replications. The observed parameters were analyzed by "F" test variance then if it was significantly different to find out the difference in the effect of treatment, an Honest Real Difference Test was conducted at a level of 5% distrust. The best mortality results using the treatment of soursop leaf flour dose 3gr on 5 days amounted to 1.80 tails; 1 month is 6.60; 2 months totaling 13.40; and 3 months totaling 11.20. The results of the observation of the number of eggs produced by C. C. the best analyst was the treatment of soursop leaf flour dose 3gr on 5 days amounting to 139 items, 1 month 119.20 items; 2 months 91.20 items; and 3 months 72.20 items. The best imago observation results were treatment of soursop leaf flour dose 3gr at 1 month amounting to 132.20 tails; while at 2 months there were 79 heads. The best observation of seed damage and shrinkage of seed weight was the treatment of soursop leaf flour with a dose of 3gr, in the damage of seeds of 67.40 grains of seed damage; while the seed weight is reduced by 17.94 gr. The results of the best analysis of Probit LT50 were treatment of soursop leaf flour with a dose of 3gr because it could kill 50% of the population C. Analysts with a relatively short time were 9 days after treatment. Keywords: C. analis, leaf flour, dosage ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh tepung daun sirsak, tepung daun serai, tepung daun kenikir, tepung daun jeruk nipis, dan tepung daun kluwih terhadap: 1) mortalitas, 2) kerusakan biji, 3) susut bobot biji, 4) kemunculan dewasa C. analis pada biji kedelai dalam simpanan dan 5) peletakan telur imago betina C. analis, 6) analisis probit LT50. Percobaan dilakukan dengan menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL). Sebagai perlakuan adalah: A) kontrol; B) tepung daun sirsak dengan dosis 1gr, 2gr, dan 3gr; C) tepung daun serai dengan dosis 1gr, 2gr, dan 3gr; D) tepung daun kenikir dengan dosis 1gr, 2gr, dan 3gr; E) tepung daun jeruk nipis dengan dosis 1gr, 2gr, dan 3gr; dan F) tepung daun kluwih dengan dosis 1gr, 2gr, dan 3gr. Tiap perlakuan menggunakan lima ulangan. Terhadap parameter yang diamati dilakukan analisis dengan sidik ragam uji “F” kemudian apabila berbeda nyata untuk mengetahui perbedaan pengaruh perlakuan dilakukan Uji Beda Nyata Jujur pada taraf ketidakpercayaan 5%. Hasil mortalitas terbaik menggunakan perlakuan tepung daun sirsak dosis 3gr pada 5 hari sejumlah 1,80 ekor; 1 bulan sejumlah 6,60 ekor; 2 bulan sejumlah 13,40 ekor; dan 3 bulan sejumlah 11,20 ekor. Hasil pengamatan jumlah telur yang dihasilkan imago C. analis terbaik adalah perlakuan tepung daun sirsak dosis 3gr pada 5 hari sejumlah 139 butir, 1 bulan 119,20 butir; 2 bulan 91,20 butir; dan 3 bulan 72,20 butir. Hasil pengamatan imago muncul terbaik adalah perlakuan tepung daun sirsak dosis 3gr pada 1 bulan sejumlah 132,20 ekor; sedangkan pada 2 bulan sejumlah 79 ekor. Hasil pengamatan kerusakan biji dan susut bobot biji terbaik adalah perlakuan tepung daun sirsak dosis 3gr, pada kerusakan biji sejumlah 67,40 butir kerusakan biji; sedangan susut bobot biji sejumlah 17,94 gr. Hasil Analisis Probit LT50 terbaik adalah perlakuan tepung daun sirsak dosis 3gr karena dapat mematikan 50% populasi C. analis dengan rentan waktu yang cukup singkat yaitu pada 9 hari setelah perlakuan. Kata kunci: C. analis, tepung daun, dosis
Ilham Budi Susilo
Published: 19 February 2019
Berkala Ilmiah Pertanian, Volume 2, pp 34-41; https://doi.org/10.19184/bip.v2i1.16161

Abstract:
Demand for mustard in Indonesia continues to increase while the amount of agricultural land per capita in Indonesia is still low. One effort to increase the productivity and quality of an efficient pakcoy can be done with hydroponics. The number of rabbits that are potential to be processed into rabbit urine-based POC. POC rabbit has an uns N content of 2.72%, P 1.1%, K 0.5% higher compared to some cattle dung. Research is needed regarding rabbit urine POC concentrations and appropriate time intervals for pakcoy plants. This research uses RAL method compiled by factorial consisting of 2 factors applied to the pakcoy pakcoy plant which is repeated 3 times. Factor 1 is the concentration of POC rabbits consisting of P0: 0 ml / liter, P1: 10 ml / liter, P2: 15 ml / liter, P3: 20 ml / liter. Factor 2 is the time interval for rabbit POC administration consisting of W1: 4 days, W2: 5 days, W3: 6 days. The best concentration was the POC concentration of 20 ml / l and the time interval was once every 6 days with an average fresh weight of 190.67 g / plant canopy. Keywords : Pakcoy, Liquid Organic Fertilizer rabbit, concentration, interval tume, hydroponic. ABSTRAK Permintaan sawi di Indonesia terus mengalami peningkatan sedangkan jumlah luas lahan pertanian perkapita di Indonesia masih rendah. Salah satu usaha peningkatan produktivitas dan kualitas pakcoy yang efisien dapat dilakukan dengan hidroponik. Jumlah kelinci yang banyak menjadi potensi untuk diolah menjadi POC berbasis urin kelinci. POC kelinci memiliki kandungan unsur N 2.72%, P 1.1%, K 0,5% yang lebih tinggi dibandingkan dengan beberapa kotoran ternak. Perlu dilakukan penelitian mengenai konsentrasi POC urin kelinci dan interval waktu yang tepat untuk tanaman pakcoy. Penelitian ini menggunakan metode RAL yang disusun secara faktorial yang terdiri dari 2 faktor perlakuan yang diaplikasikan pada tanaman pakcoy pakcoy yang diulang 3 kali. Faktor 1 yaitu konsentrasi POC kelinci yang terdiri dari P0: 0 ml/ltr, P1: 10 ml/ltr, P2:15 ml/ltr, P3:20 ml/ltr. Faktor 2 yaitu interval waktu pemberian POC kelinci terdiri dari W1: 4 hari sekali, W2: 5 hari sekali, W3: 6 hari sekali. Perlakuan terbaik yaitu pada Konsentrasi POC 20 ml/l dan interval waktu 6 hari sekali dengan rerata berat segar tajuk 190,67 g/tanaman. Kata kunci: pakcoy, POC urin kelinci, konsentrasi POC, interval Waktu POC, Hidroponik.
Fenti Margareta, Budianto Budianto, Sutoyo Sutoyo
Published: 17 February 2019
Berkala Ilmiah Pertanian, Volume 2, pp 26-29; https://doi.org/10.19184/bip.v2i1.16152

Abstract:
This research is aimed to find out the most appropriate propagation method of Siamese Pontianak orange plant vegetatively. This research was done on 31st January 2019 until 31st March 2019 in experimentan garden of Punten, Sidomulyo village, Batu City. The method used in propagation of Siamese Pontianak orange planf vegetatively are insert grafting, side grafting, and top grafting. The research method used is Randomized Block Design (RAK) with non factorial experiment method that consist of 3 level that are insert grafting, side grafting, and top grafting that was repeated 9 times, so that obtained 27 experiment units. Data analysis used is ANNOVA and if there is real difference then it will be further tested using BNT. Parameters that are observed are: growing time of shoots, length of shoots, and the number of leaves. The research result show that insert grafting is an appropriate method in propagation of Siamese Pontianak orange plant with better result growing time of shoots, length of shoots, and number of leaves. Keywords: Vegetatif Propagation Method, Siamese Pontianak Orange ABSTRAK Penelitian bertujuan untuk mengetahui metode perbanyakan tanaman jeruk Siam Pontianak yang tepat dilaksanakan pada 31 Januari 2019 sampai dengan 31 Maret 2019 di Kebun Percobaan Punten Desa Sidomulyo Kota Batu. Metode yang digunakan dalam perbanyakan tanaman jeruk Siam Pontianak Secara vegetatif yaitu okulasi sisip, sambung samping, dan sambung pucuk. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Kelompok dengan metode percobaan non faktorial yang terdiri dari 3 taraf yaitu okulasi sisip, sambung samping, dan sambung pucuk yang diulang sebanyak 9 kali, sehingga diperoleh sebanyak 27 unit percobaan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa okulasi sisip merupakan metode yang tepat dalam perbanyakan tanaman jeruk Siam Pontianak dengan hasil waktu tumbuh tunas, panjang tunas, dan jumlah daun yang lebih baik. Kata kunci: Metode Perbanyakan Vegetatif, Jeruk Siam Pontianak
Avrida Kristiawan, Suharto Suharto, Wildan Jatmiko
Published: 12 February 2019
Berkala Ilmiah Pertanian, Volume 2, pp 30-33; https://doi.org/10.19184/bip.v2i1.16118

Abstract:
Spodoptera litura F. is a pest that causes a decrease in production at various plant phases. S litura attacks the leaves and fruit of the plant, causing leaves to be slightly whitish because only the upper leaves are left behind. The cause of the high attack of pests is resistance to the use of chemical insecticides that are used continuously. The negative impact of the use of chemical insecticides can be reduced by the use of vegetal insecticides made from neem seeds and tobacco leaf waste. The study was conducted in May to June 2017, through two stages. The first stage is preparation includes the multiplication and maintenance of S litura, tool sterilization, and extraction of vegetal insecticides in the Laboratory of Pests and Diseases. The second stage of preparation includes the application of vegetal insecticides to S litura. The application of the treatment uses factorial Randomized Complete Design (RAL) with the first factor, which is neem seed (M), and vegetal insecticides made from tobacco leaf waste (T) and the second factor Concentration (D) includes 5 concentrations namely 15%, 12.5%, 10%, 7.5%, 5% plus controls as a comparison with an accuracy value of 95% and continued Duncan test 95%. The combination of treatment was the concentration of pulp seeds of 15%, neem seed concentration of 12.5%, neem seed concentration of 10%, neem seed concentration of 7.5%, pulp concentration of 5%, tobacco leaf waste concentration of 15%, tobacco leaf waste concentration of 12.5 %, 10% tobacco leaf waste concentration, 7.5% tobacco leaf waste concentration, 5% tobacco leaf waste concentration. Neem seeds are the best vegetal insecticides to control as many as S litura pests. The best concentration to increase production is 15%. Keywords : Tabacco Leaf Waste, Neem Seeds, Concentration, S. litura F. ABSTRAK Spodoptera litura F. merupakan hama pemakan daun hingga habis, sehingga hanya tertinggal bagian epidermis daun dan tulang-tulang daun saja (Kurmia, 2017). Penyebab tingginya serangan hama ini dikarenakan karena resistensi hama akibat penggunaan insektisida kimia yang digunakan secara terus menerus. Penelitian dilakukan pada bulan Mei sampai Juni 2017, melalui dua tahap. Tahap pertama adalah persiapan meliputi perbanyakan dan pemeliharaan S litura, sterilisasi alat, dan ektraksi insektisda nabati Labolatorium Hama dan Penyakit. Tahap kedua persiapanya meliputi aplikasi insektisida nabati pada S litura. Pengaplikasian perlakuan menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) faktorial dengan faktor pertama yaitu insketisida nabati berbahan biji mimba (M), dan insektisida nabati berbahan limbah daun tembakau (T) dan faktor kedua Konsentrasi (D) meliputi 5 konsentrasi yaitu 15%, 12,5%, 10%, 7,5%, 5% ditambah kontrol sebagai pembanding dengan nilai ketepatan 95% dan dilanjutkan uji Duncan 95%. Kombinasi perlakuan yaitu konsentrasi biji mimba 15%, konsentrasi biji mimba 12,5%, konsentrasi biji mimba 10%, konsentrasi biji mimba 7,5%, konsentrasi mimba 5%, konsentrasi limbah daun tembakau 15%, konsentrasi limbah daun tembakau 12,5%, konsentrasi limbah daun tembakau 10%, konsentrasi limbah daun tembakau 7,5%, konsentrasi limbah daun tembakau 5%. Kata Kunci : Limbah Daun Tembakau, Biji Mimba, Konsentrasi, dan S. litura F
Nabila Nur Aisyah Al Ayyubi, Bambang Kusmanadhi, Tri Agus Siswoyo, Yagus Wijayanto
Published: 16 February 2019
Berkala Ilmiah Pertanian, Volume 2, pp 19-25; https://doi.org/10.19184/bip.v2i1.16148

Abstract:
Green Deli Rose Apples (Syzygium samarangense) has several beneficial properties in terms of usability, cultivation, health, and economy. The intensive development of green deli rose apples plants is needed given increasing demand, needs, and has bright prospects. One of the efforts to develop green deli rose apples plants is through handling plant propagation. Propagation of green deli rose apples can be done in two ways, namely generative and vegetative. Generative propagation requires a relatively long time, while vegetative propagation have difficult to growth in rooted. Shoot-cuttings is one of the vegetative propagation that has been chosen because it is easier to root than the old parts of the plant. The use of plant growth regulators (PGR) is needed to stimulate green deli rose apples shoot-cuttings rooting. Alternative PGR is giving shallot extract and coconut water as a substitute for synthetic auxin which has a relatively expensive price. The purpose of this study was to determine the combination of the effect of the concentration shallot extract and coconut water, as well as to find out the concentration of shallot extracts and coconut water which was most influential on the growth of shoot-cutting of green deli rose apples. The extract shallot concentration used is control, 0,5%, 1,0%, and 1,5%. The coconut water concentration used is control, 20%, 30% and 40%. Data obtained next analyzed and tested using DMRT α 5%. The result showed te best treatment combination for concentration shallot extract of 0,5% and coconut water of 20%. Keywords: greend deli rose apples, shoot-cutting, shallot extract, coconut water ABSTRAK Jambu air madu deli hijau (MDH) (Syzygium samarangense) memiliki beberapa sifat yang menguntungkan baik dari segi kegunaan, budidaya, kesehatan, maupun ekonomi. Pengembangan tanaman secara intensif diperlukan mengingat permintaan dan kebutuhan yang semakin meningkat, serta memiliki prospek yang cerah. Salah satu usaha pengembangan tanaman yaitu melalui penanganan perbanyakan tanaman. Perbanyakan dapat dilakukan dengan dua cara yaitu generatif dan vegetatif. Perbanyakan secara generatif membutuhkan waktu yang relatif lama, sedangkan perbanyakan vegetatif memiliki kendala sulit membentuk perakaran. Stek pucuk merupakan salah satu perbanyakan vegetatif yang banyak dipilih karena lebih mudah berakar dibandingkan bagian tanaman tua. Penggunaan zat pengatur tumbuh (ZPT) diperlukan untuk merangsang perakaran stek pucuk jambu air MDH. Alternatif ZPT yaitu pemberian ekstrak bawang merah dan air kelapa sebagai pengganti auksin sintetis yang memiliki harga relatif mahal. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kombinasi pengaruh konsentrasi ekstrak bawang merah dan air kelapa terhadap pertumbuhan stek pucuk jambu air MDH, serta mengetahui konsentrasi ekstrak bawang merah dan air kelapa yang paling berpengaruh terhadap pertumbuhan stek pucuk jambu air MDH. Konsentrasi ekstrak bawang merah yang digunakan antara lain kontrol, 0,5%, 1% dan 1,5%. Konsentrasi air kelapa yang digunakan antara lain kontrol, 20%, 30%, dan 40%. Data yang diperoleh selanjutnya dianalisis dan diuji menggunakan DMRT α 5%. Hasil penelitian menunjukkan kombinasi perlakuan terbaik untuk konsentrasi ekstrak bawang merah dan air kelapa adalah konsentrasi 0,5% dan air kelapa 20%. Kata Kunci: jambu air madu deli hijau, stek pucuk, ekstrak bawang merah, air kelapa
Rizka Dwi Wildani, Cahyoadi Bowo
Published: 7 November 2019
Berkala Ilmiah Pertanian, Volume 2, pp 173-179; https://doi.org/10.19184/bip.v2i4.16319

Abstract:
On agriculture, efficiency measurement is based on income and outcome. Liming is the part of income that effected to soil condition and productivity. One of constraints on cultivating rice plants is low grades of soil acidity. The low grades of soil acidity could be caused from the characteristic of alluvial soil and other influences. Acid soil can results in decrease of rice yield. Liming materials can increase the grades of soil acidiy and productivity at first season to third season. The effect of liming is significant to increase soil acidity, but weakly effecting to improvement of productivity. Furthermore, production efficiency showed value of R/C ratio more than 1 and increase on every season. Thus, although liming unable to improve productivity significantly, however farming activity or cultivating is arguably efficient or productive. Keywords : Efficiency, Rice Plants, Acid Soil, Lime, Alluvial ABSTRAK Pada pertanian, pengukuran efesiensi dilihat dari pemasukan dan pengeluaran. Pemberian kapur termasuk dalam pemasukan yang dapat mempengaruhi kondisi tanah maupun produktivitasnya. Salah satu kendala dalam budidaya tanaman padi adalah nilai pH tanah yang rendah. Nilai pH tanah yang rendah dapat disebabkan dari karakteristik tanah alluvial maupun dari pengaruh lainnya. Rendahnya pH tanah sehingga tanah masam dapat mengakibatkan penurunan hasil produksi tanaman padi. Tanah masam dapat diatasi dengan pemberian kapur pertanian. Pemberian kapur pertanian dapat meningkatkan nilai pH dan produktivitas pada musim tanam pertama sampai musim tanam ketiga. Pengaruh pemberian kapur signifikan dalam meningkatkan nilai pH, namun tidak berpengaruh lemah terhadap peningkatan produktivitas. Selain itu, efisiensi produksi menunjukkan nilai R/C ratio yang lebih dari 1 dan meningkat signifikan pada setiap musim. Jadi, meskipun pemberian kapur tidak mampu meningkatkan produktivitas secara signifikan, namun kegiatan usahatani atau budidaya dapat dikatakan efisien atau layak produksi. Kata Kunci: Efisiensi, Tanaman Padi, Tanah Masam, Kapur Pertanian, Aluvial
Nur Wijiyanti, Raden Soedradjad
Published: 7 November 2019
Berkala Ilmiah Pertanian, Volume 2, pp 169-172; https://doi.org/10.19184/bip.v2i4.16318

Abstract:
Tuban Regency is an Agropolitan area that develops Tasikmadu starfruit plants. The demand form Tasikmadu starfruit has increased every year but it cannot be fullfilled because of the low production in terms of quantity and quality. The problem is the fruit size is small and the productivity is low. These problems can be overcome by the use of potassium fertilizer and gibbereline hormone. Giving potassium fertilizer and gibereline hormone is expected to increase the production of Tasikmadu starfruit plants in Tuban Regency. The results of this study can be used as a reference in the administration of potassium fertilizer and gibbereline hormone in the cultivation of Tasikmadu starfruit plants in Tuban Regency. This study uses factorial Randomized Block Design (RBD). The first factor is the dose of potassium fertilizer with 4 levels of KCl fertilizer dose which is 0 g/plant, 150 g/plant, 300 g/plant and 450 g/plant. The second factor is the concentration of gibberelin hormone which consists of 4 levels, which is 0 ppm, 50 ppm, 100 ppm and 150 ppm. The data obtained were analyzed by using standart error minimum. Key words: Tasikmadu Starfruit, Potassium Fertilizer, Gibbereline Hormone. ABSTRAK Kabupaten Tuban merupakan daerah Agropolitan yang mengembangkan tanaman Belimbing Tasikmadu. Permintaan belimbing tasikmadu mengalami peningkatan setiap tahunnya namun belum dapat dipenuhi karena rendahnya produksi belimbing tasikmadu dari segi kuantitas dan kualitas. Masalahnya adalah ukuran buah yang kecil dan rendahnya produksi.. Masalah-masalah tersebut dapat diatasi dengan penggunaan pupuk kalium dan hormon giberelin. Pemberian pupuk kalium dan hormon giberelin diharapkan mampu meningkatkan produksi tanaman belimbing tasikmadu di Kabupaten Tuban. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh kombinasi perlakuan pupuk kalium dan hormon giberelin terhadap produksi tanaman belimbing tasikmadu di Kabupaten Tuban. Hasil penelitian ini dapat dimanfaatkan sebagai acuan dalam pemberian pupuk kalium dan hormon giberelin pada budidaya tanaman belimbing tasikmadu di Kabupaten Tuban. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) faktorial. Faktor pertama adalah dosis pupuk kalium berupa KCl dengan 4 taraf yaitu 0 gram/tanaman, 150 gram/tanaman, 300 gram/tanaman dan 450 gram/tanaman. Faktor kedua adalah konsentrasi hormon giberelin yang terdiri dari 4 taraf yaitu 0 ppm, 50 ppm, 100 ppm dan 150 ppm. Data yang diperoleh dianalisis menggunakan analisis simpangan baku terkecil. Kata kunci : Belimbing Tasikmadu, Pupuk Kalium, Hormon Giberelin
Fitria Dwi Darmayati, Tarsicius Sutikto
Published: 7 November 2019
Berkala Ilmiah Pertanian, Volume 2, pp 164-168; https://doi.org/10.19184/bip.v2i4.16317

Abstract:
This research was about determine the water content using the method of saturated water content that has been carried out and were suitable in Canada, However, this method needs to be tested for tropical regions such as in Jember. This present study aimed to determine the accuracy and characteristics of the empirical equations that used in determine the water content using the method of saturated water content in several classes of soil texture. Soil samples consist of the Raung Mountains, Argopuro Mountains, and Southern Mountains zones which are expected to represent several texture classes. The empirical equation is Yfc = a + b (xfc), to determine the water content in the field capacity condition, Yw = a + b (xw), to determine the water content in a permanent wilt point condition. The empirical equation for total available water is AT = Yfc - Yw. Based on the results of the study obtained a new equation from the results regression analysis of the saturated water content value with the measurements of Pressure Plate Apparatuse results, named Yfc = -2.4742 + 0.6551 (x) and Yw = -16.949 + 0.557 (x). From the equation, then determined total available water based on the Karkanis Equation and the New Equation. The appropriateness test of the method of saturated water content using Graph 1: 1 was carried out on each total available water data (Karkanis equation and new equation) which results showed that the method was invalid to be applied to the study location (R2 = 0.0239). Key words: Total Available Water, Soil Texture, Pressure Plate Apparatus, Saturated Water Content ABSTRAK Penelitian mengenai penetapan kandungan air menggunakan metode pengukuran kandungan air jenuh telah dilakukan di Canada hasilnya sesuai untuk daerah tersebut. Namun metode tersebut perlu diuji untuk daerah tropika seperti di Jember. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui akurasi dan karakteristik persamaan empiris yang digunakan dalam penetapan total air tersedia dengan metode kandungan air jenuh pada beberapa kelas tekstur tanah. Contoh tanah terdiri atas zona Pegunungan Raung, Pegunungan Argopuro, dan Pegunungan Selatan yang diharapkan mewakili beberapa kelas tekstur. Persamaan empiris yang digunakan adalah Yfc = a + b(xfc), untuk kandungan air kapasitas lapang, Yw = a +b(xw), untuk kandungan air titik layu permanen. Persamaan empiris untuk total air teredia yaitu AT = Yfc - Yw. Hasil dari penelitian diperoleh Persamaan Baru dari hasil analisis regresi nilai kandungan air jenuh dengan hasil pengukuran Pressure Plate Apparatuse yaitu Yfc = -2,4742 + 0,6551 (x) dan Yw = -16,949 + 0,557 (x). Dari persamaan tersebut kemudian ditentukan total air tersedia berdasarkan Persamaan Karkanis dan Persamaan Baru. Uji kelayakan metode pengukuran kandungan air jenuh dengan menggunakan Grafik 1:1 dilakukan pada masing-masing data total air tersedia (Persamaan Karkanis dan Persamaan baru) yang hasilnya menunjukkan bahwa metode tersebut tidak valid/sahih untuk diterapkan pada lokasi penelitian (R2 = 0,0239). Kata Kunci : Total Air Tersedia, Tekstur tanah, Pressure Plate Apparatus, Kandungan Air Jenuh.
Farida Puput Kurniasih, Raden Soedradjad
Published: 7 November 2019
Berkala Ilmiah Pertanian, Volume 2, pp 159-163; https://doi.org/10.19184/bip.v2i4.16316

Abstract:
The increasing of demand for agricultural product and the narrowing of fields where fields are currently being prioritized for cultivating food crops forcing them to take and use dry land. Problem happended by conducting agricultural activities on dry land such as limited water availability, low microorganism population and low nutrient avaibility. Water avaibility on dry land can be optimized by providing compost and PGPR. The productivity of Sawi nauli varieties according to the minister of agriculture decision (2009) that 37 -39 tons/ha with a population per hectare are 93.000 plants. This purpose of this study is to determine the effect of compost and PGPR on dry land about pakchoy productivity. This study also used factorial completely randomizing design and replicated 3 times. The design of two treatments are : firsty, compost which consists of 4 levels with a dose of 5 kilograms of soil, 4900 grams of soil with 100 grams of compost, 4800 grams of soil with 200 grams of compost, 4700 grams of soil with 300 grams of compost. For the second factor is PGPR which consists of 4 levels with a dose of 0 miligrams/plant, 100 miligrams/plant, 200 miligram/plant and 300 miligram/plant. The data obtained were analyzed by using analysis of variance (ANOVA). Then, the results obtained from the ANOVA test were followed by the Standart Error Mean (SEM). Based on the results of the study it is known that there are influences from each single factor and combination of treatments. Compost treatment showed significantly different results on variable number of leaves, number of leaf chlorophyll and dry weight of plants. Whereas there is a very significant effect on plant height and plant fresh weight. On a si ngle factor PGPR showed no significant results on variable plant height, number of leaf chlorophyll, but showed a significant effect on variable number of leaves, plant fresh weight and plant dry weight. The combination of compost and PGPR treatment showed no significant results on variable plant height, number of leaves, number of leaf chlorophyll, and plant dry weight. The treatment combination treatment showed a significant effect on the fresh weight variable of the plant. Keywords: compost, dry land, PGPR, pakchoy. ABSTRAK Meningkatnya permintaan untuk produk pertanian dan penyempitan lahan di mana lahan saat ini sedang diprioritaskan untuk menanam tanaman pangan memaksa mereka untuk mengambil dan menggunakan lahan kering. Masalah terjadi dengan melakukan kegiatan pertanian di la han kering seperti ketersediaan air yang terbatas, populasi mikroorganisme yang rendah dan ketersediaan nutrisi yang rendah. Ketersediaan air di lahan kering dapat dioptimalkan dengan menyediakan kompos dan PGPR. Produktivitas varietas Sawi nauli menurut keputusan menteri pertanian (2009) bahwa 37-39 ton / ha dengan populasi per hektar adalah 93.000 tanaman. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh kompos dan PGPR pada lahan kering terhadap produktivitas pakchoy. Penelitian ini juga menggunakan rancangan acak lengkap faktorial dan direplikasi sebanyak 3 kali. Rancangan dua perlakuan tersebut adalah: pertama, kompos yang terdiri dari 4 level dengan dosis 5 kg tanah, 4900 gram tanah dengan 100 gram kompos, 4800 gram tanah dengan 200 gram kompos, 4700 gram tanah dengan 300 gram kompos. Untuk faktor kedua adalah PGPR y ang terdiri dari 4 level dengan dosis 0 miligram / tanaman, 100 miligram / tanaman, 200 miligram / tanaman dan 300 miligram / tanaman. Data yang diperoleh dianalisis dengan menggunakan analisis varian (ANOVA). Kemudian, hasil yang diperoleh dari uji ANOVA dianalisis menggunakan Standart Error Mean (SEM). Berdasarkan dari hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat pengaruh dari masing-masing faktor tunggal dan kombinasi perlakuan. Perlakuan kompos menunjukkan hasil yang tidak nyata pada variabel jumlah daun, jumlah klorofil daun, tinggi tanaman dan bobot kering tanaman sedangkan pada variabel bobot segar tanaman menunjukkan hasil berbeda nyata. Pada faktor tunggal PGPR me nunjukkan hasil yang tidak nyata pada variabel tinggi tanaman, jumlah klorofil daun, tetapi menunjukkan hasil berbeda nyata pada variabel jumlah daun, bobot segar tanaman dan bobot kering tanaman. Pada kombinasi perlakuan kompos dan PGPR menunjukkan hasil tidak nyata pada variabel tinggi tanaman, jumlah daun, jumlah klorofil daun, dan bobot kering tanaman. Perlakuan kombinasi perlakuan yang menunjukkan berbeda nyata terdapat pada variabel bobot segar tanaman Kata kunci : Kompos, lahan kering, PGPR, pakchoy.
Arzaky Ardi Surya Nugroho, Cahyoadi Bowo, Joko Sudibya
Published: 7 November 2019
Berkala Ilmiah Pertanian, Volume 2, pp 149-154; https://doi.org/10.19184/bip.v2i4.16312

Abstract:
Perennial tropical horticulture is a superior product whose productivity is affected by water availability. The impact of climate fluctuations due to global warming affects the availability of ground water. This study aims to determine the effect of the Standardized Precipitation Index (SPI) drought index derived from rainfall data on the productivity of perennial horticulture (durian, avocado and rambutan). The study was conducted from July 2016 - November 2018 in 9 sub-districts in Jember Regency where has the highest production. Rainfall data is proceed into SPI data according to the guidelines of the WMO (World Meteorological Organization). Productivity data derived from production data divided by the number of plants. The results of 12 monthly SPI calculations compared with the perennial horticultural productivity data. To find out the relationship between productivity and SPI, the correlation method is used. The results showed that the appropriate SPI value for observing annual horticultural productivity was SPI 9 and 12 monthly. The value of SPI greatly influences the correlation of productivity of durian, avocado and rambutan. Keywords: SPI, productivity, annual horticulture. ABSTRAK Tanaman hortikultura tropis tahunan adalah produk unggulan yang produktivitasnya dipengaruhi oleh ketersediaan air. Dampak fluktuasi iklim akibat pemanasan global mempengaruhi ketersediaan air tanah. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh index kekeringan SPI yang berasal dari data curah hujan terhadap produktivitas hotikultura tahunan (durian, alpukat dan rambutan). Penelitian dilakukan mulai bulan Juli 2016 – November 2018 pada 9 Kecamatan dengan produksi tertinggi di Kabupaten Jember. Data curah hujan diolah menjadi data SPI sesuai pedoman WMO (World Meteorological Organization) dan data produktivitas berasal dari data produksi dibagi jumlah tanaman kemudian hasil perhitungan SPI 12 bulanan dibandingkan dengan data produktifitas hortikultura t ahunan. Untuk mengetahui hubungan produktivitas dan SPI digunkan metode korelasi. Hasil penelitian menunjukkan nilai SPI yang sesuai untuk mengamati produktivitas hortikultura tahunan adalah SPI 9 dan 12 bulanan. Nilai SPI sangat berpengaruh terhadap korelasi produktivitas durian, alpukat dan rambutan. Nilai SPI yang semakin tinggi menaikkan produktivitas durian, tetapi menurunkan produktivitas alpukat dan rambutan. Kata Kunci : SPI, produktifitas, hortikuktura tahunan
Dovy Andis Pradana, Sri Hartatik
Published: 7 November 2019
Berkala Ilmiah Pertanian, Volume 2, pp 155-158; https://doi.org/10.19184/bip.v2i4.16314

Abstract:
The Eggplant (Solanum melongena L.) is one of the plant commodities that has high economic value. Eggplant production is still volatile so plant breeding with a colchicine mutation is needed to increase eggplant production. Colchicine is Colchicum autumnale seed extract which is able to weaken the spindle thread from the metaphase process to anaphase so that chromosome multiplication occurs without the formation of cell walls. Eggplant sprouts induced by different concentrations of colchicine, they are 0 ppm (K0), 100 ppm (K1), 200 ppm (K2) for 6 hours (L1), 12 hours (L2), 18 hours (L3) . The variables observed were morphological characters such as plant height, flowering age, fruit weight, fruit diameter, fruit length, leaf length, leaf width and stem diameter. The results of the treatment show concentration of colchicine and soaking time had a very significant effect on fruit diameter and fruit weight. K1L2 is the most effectif treatment on diameter and weigh of fruit.The concentration of colchicine has a significant effect on plant height and flowering age. The most effectif concentration in plant height and flowering age is K1. Keywords: Eggplant, Colchicine concentration, Soaking time of colchicine ABSTRAK Terung (Solanum melongena L.) merupakan salah satu komoditas tanaman dengan nilai ekonomis tinggi. Produksi terung masih fluktuatif sehingga pemuliaan tanaman dengan mutasi colchicine diperlukan untuk meningkatkan produksi terung. Colchicine merupakan ekstrak dari biji Colchicum autumnale yang mampu melemahkan untaian DNA dari proses metafase menjadi anafase, sehingga multiplikasi kromosom terjadi tanpa pembentukan dinding sel. Kecambah terung diinduksi dengan colchicine dalam konsentrasi yang berbeda, yaitu 0 ppm (K0), 100 ppm (K1), 200 ppm (K2) selama 6 jam (L1), 12 jam (L2), 18 jam (L3). Variabel yang diamati adalah karakter morfologi seperti tinggi tanaman, umur berbunga, berat buah, diameter buah, panjang buah, panjang daun, lebar daun dan diameter batang. Hasil percobaan menunjukkan konsentrasi colchicine dan waktu perendaman memiliki pengaruh yang sangat signifikan terhadap diameter buah dan berat buah. Perlakuan K1L2 merupakan perlakuan yang paling efektif mempengaruhi diameter dan berat buah. Konsentrasi colchicine memiliki efek signifikan terhadap tinggi tanaman dan usia berbunga. Konsentrasi paling efektif terhadap tinggi tanaman dan umur berbunga adalah K1. Kata Kunci: Terung, konsentrasi colchicine, waktu perendaman colchicine
Eka Frida Hardiyanti, Giyarto Giyarto, Andrew Setiawan Rusdianto
Published: 7 November 2019
Berkala Ilmiah Pertanian, Volume 2, pp 141-148; https://doi.org/10.19184/bip.v2i4.16309

Abstract:
Small sour starfruit is a fruit whose limited utilization to traditional processing. The short shelf life causes a low level of consumption. The effort to extend the shelf life of small sour starfruit is to use it as dried sweets fruit. The purpose of the study was to determine the physicochemical and organoleptic characteristics of dried sweets small sour starfruit based on the concentration of brown sugar and the type of aqueous solution. Variations in treatment namely P1 (60% brown sugar concentration, lime water soaked), P2 (60% brown sugar concentration, husk ash soaked), P3 (60% brown sugar concentration, salt solution), P4 (70% brown sugar concentration, lime water soaked), P5 (70% brown sugar concentration, husk ash soaked), P6 (70% brown sugar concentration, salt solution), P7 (brown sugar concentration 80%, lime water soaked), P8 (80% brown sugar concentration, husk ash soaked), P9 (80% brown sugar concentration, salt solution). Observations included texture, water content, vitamin c levels, reducing sugar levels, ash content, and organoleptic tests. The results of the study were analyzed descriptively. The results showed that the higher concentration of brown sugar used resulted in ash content, and the reduced sugar content increased and the texture became softer, while the water content and vitamin C levels decreased. The use of the lime water soaked resulted in increased values of texture, ash content, and sugar content, while the water content and vitamin C levels decreased. The organoleptic test results are subjective and level acceptable to panelists on the parameters of color, aroma, taste and texture. Keywords : Small Sour Starfruit, Dried Sweets, brown sugar, Soak Solution ABSTRAK Belimbing wuluh adalah buah yang pemanfaatannya masih terbatas pada pengolahan tradisional. Umur simpan belimbing wuluh yang singkat menyebabkan tingkat konsumsinya rendah. Upaya untuk memperpanjang umur simpan belimbing wuluh adalah menjadikannya manisan kering. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui karakteristik fisikokimia dan organoleptik manisan kering belimbing wuluh berdasarkan variasi konsentrasi gula merah dan jenis larutan rendaman. Variasi perlakuan yaitu P1 (konsentrasi gula merah 60%, larutan rendaman air kapur), P2 ( konsentrasi gula 60%, larutan rendaman air abu sekam), P3 (konsentrasi gula merah 60%, larutan rendaman larutan garam), P4 (konsentrasi gula merah 70%, larutan rendaman air kapur), P5 (konsentrasi gula merah 70%, larutan rendaman air abu sekam), P6 (konsentrasi gula merah 70%, larutan rendaman larutan garam), P7 (konsentrasi gula merah 80%, larutan rendaman air kapur), P8 (konsentrasi gula merah 80%, larutan rendaman air abu sekam), P9 (konsentrasi gula merah 80%, larutan rendaman larutan garam). Pengamatan meliputi tekstur, kadar air, vitamin c, gula reduksi, kadar abu, dan uji organoleptik. Hasil penelitian dianalisis secara deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan tingginya konsentrasi gula merah mengakibatkan nilai tekstur, kadar abu, dan gula reduksi meningkat, sedangkan kadar air dan vitamin c menurun. Penggunaan larutan rendaman air kapur mengakibatkan nilai tekstur, kadar abu, dan kadar gula reduksi meningkat, sedangkan kadar air dan vitamin c menurun. Hasil uji organoleptik bersifat subjektif dan pada taraf dapat diterima oleh panelis pada parameter warna, aroma, rasa, dan tekstur. Kata Kunci : belimbing wuluh, manisan kering, gula merah, jenis larutan rendaman
Afaf Millatusy Syahidah, Bambang Hermiyanto
Published: 6 November 2019
Berkala Ilmiah Pertanian, Volume 2, pp 132-140; https://doi.org/10.19184/bip.v2i4.16306

Abstract:
Solid waste pollution of Paper manufacturer (Lime mud) can cause land degradation through decreasing soil quality due to chemical, physical and biological properties changes. The purpose of this study was to determine the effect of adding cow manure and SP-36 fertilizer to give improvement in the soil chemical properties, growth and production of Sorghum. Pot experiment was conducted using Randomized block Design (RBD) factorial with two factors, the first factor was soil conditions (polluted and non-polluted soil), the second factor was the type of fertilizer with 4 levels including control, cow manure (258 gram/pot), SP-36 fertilizer (0.64 gram/pot) and combination of cow manure (2658 gram/pot) and SP-36 fertilizer (0.64 gram/pot). The parameter of chemical properties observation included soil pH (pH meter), C -organic (Kurmis), Cation Exchange Capacity (extract of ammonium acetate 1 M ph 7), P-availability (Olsen) and Ca-exchanged (extract of ammonium acetate 1 M ph 7). The parameter of the plant growth and production included height of plant, dry weight of plant stem and leave and weight of 1,000 seeds. The research result revealed that combination of manure and SP36 fertilizer to the polluted soil could decrease soil pH from 8.31 to 8.17, Ca-exchanged decrease in amount of 49.58% compared to the control ones, and the increase of P-availability was in amount of 92.89% compared to the controlled ones. The addition of cow manure to the polluted soil could increase C-organic in amount of 222.7% and weight of 1,000 seeds increased in amount of 24.9% compared to the controlled ones. The provision of SP-36 treatment to the polluted soil could increase CEC of soil in amount of 3.25% and the height of plant increased to 9.31% compared to the control ones. Keyword: Manure, SP-36 fertilizer, Sorghum, Chemical Improvement, Lime mud ABSTRAK Pencemaran limbah padat Pabrik Kertas (Lime mud) dapat menyebabkan terjadinya degradasi lahan melalui penurunan kualitas tanah karena perubahan sifatkimia, fisika dan biologi tanah. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh penambahan pupuk kandang sapi dan pupuk SP-36 terhadap perbaikan sifat kimia tanah, pertumbuhan dan produksi tanaman Sorghum pada tanah tercemar limbah padat (Lime mud). Percobaan pot dilakukan menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) faktorial dengan dua faktor, faktor pertama kondisi tanah (tanah tidak tercemar dan tanah tercemar), faktor kedua jenis pupuk dengan 4 taraf terdiri atas kontrol, pupuk kandang sapi (258 gram/pot) , pupuk SP-36 (0,64 gram/pot) dan kombinasi pupuk kandang sapi (258 gram/pot) dan pupuk SP-36(0,64 gram/pot). Parameter pengamatan sifat kimia tanah meliputi pH tanah (pH meter), C-organik (Kurmis), KTK tanah (ekstrak Amonium asetat 1 M ph 7), Ptersedia (Olsen) dan Ca-tertukar (ekstrak Amonium asetat 1 M ph 7). Parameter pertumbuhan dan produksi tanaman meliputi tinggi tanaman, berat kering brangkasan dan berat 1000 biji. Hasil penelitian menunjukkan kombinasi pupuk kandang dan pupuk SP-36 pada tanah tercemar dapat menurunkan pH tanah dari 8.31 menjadi 8.17, Ca-tertukar menurun sebesar 49,58 % dibanding kontrol, dan terjadi peningkatan P-tersedia sebesar 92.89 % dibandingkan dengan kontrol. Penambahan pupuk kandang sapi pada tanah tercemar mampu meningkatkan C-organik sebesar 222.7 % dan berat 1000 biji meningkat 24,9 % dibandingkan dengan kontrol. Pemberian pupuk SP-36 pada tanah tercemar dapat meningkatkan KTK tanah sebesar 3.25% dan tinggi tanaman meningkat 9.31 % dibanding kontrol. Kata kunci: Pupuk Kandang Sapi, Pupuk SP-36, Sorghum, Sifat Kimia Tanah, Lime mud
Oviaki Zelin, Hidayat Bambang Setyawan
Published: 7 August 2019
Berkala Ilmiah Pertanian, Volume 2, pp 122-126; https://doi.org/10.19184/bip.v2i3.16286

Abstract:
The growth and yield of taro plants can be influenced by the planting material used, and the use of improper types of planting material can cause plants to be unproductive according to potential yields. The use of planting materials derived from tubers is expected to increase the yield of taro. This study aims to determine the best type of planting material to increase the yield of taro. The experiments were carried out in the villages of Antirogo, Sumbersari, Jember, East Java with an altitude of ± 89 meters above sea level starting in April 2018 to October 2018. The experiment used a Randomized Block Design (RBD) method with 2 treatment factors. Factor 1 is the type of planting material (B), B1: Bulbs; B2: Puppies; B3: Stolon. Factor 2 is taro variety (V), V1: Green Taro; B2: Brown Taro; B3: Purple Line Green Taro. Each repeated 4 times. The results showed that there was an interaction between the use of different types of planting material and varieties that had an effect on tuber weight per plant. The type of planting material has a significant effect on the number of tillers, leaf area, tuber weight, and tube diameter. Varieties significantly affect all observed variables. The treatment that gave the best results was planting material from tubers (B1) and Purple Line Green taro varieties (V3) with tuber yield per plant 362.58 grams (± 14.5 tons/ha). Keywords: taro, planting material, varieties ABSTRAK Pertumbuhan dan hasil tanaman talas dapat dipengaruhi oleh bahan tanam yang digunakan, dan penggunaan macam bahan tanam yang kurang tepat dapat menyebabkan tanaman tidak produktif sesuai dengan hasil potensial. Penggunaan bahan tanam yang berasal dari umbi diharapkan dapat meningkatkan pertumbuhan dan hasil talas. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan macam bahan tanam terbaik untuk meningkatkan pertumbuhan dan hasil talas. Percobaan dilakukan di desa Antirogo, Sumbersari, Jember, Jawa Timur dengan ketinggian ± 89 mdpl dimulai pada bulan April 2018 sampai Oktober 2018. Percobaan menggunakan metode Rancangan Acak Kelompok (RAK) dengan 2 faktor perlakuan. Faktor 1 yaitu macam bahan tanam (B), B1: Umbi; B2: Anakan; B3: Stolon. Faktor 2 yaitu varietas talas (V), V1: Talas Hijau; V2: Talas Coklat; V3: Talas Hijau Garis Ungu. Perlakuan diulang sebanyak 4 kali. Hasil penelitian menunjukkan terdapat interaksi antara penggunaan macam bahan tanam dan varietas yang memberikan pengaruh terhadap bobot umbi per tanaman. Macam bahan tanam berpengaruh nyata terhadap jumlah anakan, luas daun, bobot umbi, dan diameter umbi. Varietas berpengaruh nyata terhadap seluruh variabel pengamatan. Perlakuan yang memberikan hasil terbaik yaitu bahan tanam dari umbi (B1) dan varietas talas Hijau Garis Ungu (V3) dengan hasil bobot umbi per tanaman 362,58 gram (±14,5 ton/ha). Kata kunci : talas, bahan tanam, varietas
Ayna Devita Trisna Putri, Miswar Miswar
Published: 7 August 2019
Berkala Ilmiah Pertanian, Volume 2, pp 102-107; https://doi.org/10.19184/bip.v2i3.16282

Abstract:
Cucumber is a horticultural product which becomes one type of fruit vegetable and has a great demand in the community. The potential productivity of cucumber itself is still relatively low, that is in 2016 amounting to 10.19 tons / ha, this also occurs in the productivity of local cucumbers which are quite low, but until now there are still many cultivated by farmers in Jember area. In addition to the increase in production, it is also necessary to improve the quality of fruit which affects the competitiveness of the selling value of cucumber fruit. Regarding the increase in production and quality of fruit, the efforts need to be made to improve cultivation methods. One of them is the use of organic fertilizers which contain more complex nutrients and the application of plant regulators. One of the organic fertilizers, vermicompost organic fertilizer, is the result of decomposition by worms which affects plant growth and the application of gibberellins (GA3), it can improve fruit quality and increase the percentage of fruit formation. This study aimed to determine the effect of using the combination of vermicompost organic fertilizer and the addition of giberelin (GA3) on cucumber plants by using a randomized group design (RGD) with 2 factors and 3 replications. The first factor was giving vermicompost organic fertilizer, namely (K0) 0 g/plant (control), (K1) 120 g/plant (3 tons/ha), (K2) 240 g/plant (6 tons/ha), (K3) 360 g/plant (9 tons/ha). The second factor was the addition of gibberellin concentrations (GA3), namely (G0) 0 ppm, (G1) 50 ppm, (G2) 100 ppm and (G3) 150 ppm. The data obtained were then analyzed using variance analysis, if between treatments had a significant difference, then further tests were carried out by using Duncan's Multiple Distance Test at the level of 5%. The best treatment ofvermicompost organic fertilizer dosage and giberelin hormone concentration was found in the treatment of 360 g/plant or 9 tons/ha (K3) at the optimal concentration of 100 ppm giberelin hormone. Key words: Cucumber, Vermicompost fertilizer, Gibberellin (GA3), Production and Quality of Fruit ABSTRAK Mentimun merupakan produk hortikultura yang menjadi salah satu jenis sayuran buah yang banyak diminati oleh masyarakat. Potensi produktivitas mentimun sendiri masih tergolong rendah yaitu pada tahun 2016 sebesar 10,19 ton/ha, hal ini juga terjadi pada produktivitas mentimun jenis lokal yang cukup rendah, namun sampai saat ini masih banyak dibudidayakan oleh petani pada daerah Jember. Selain peningkatan terhadap produksi, perlu juga dilakukan perbaikan kualitas buah yang berpengaruh pada daya saing nilai jual buah mentimun. Terkait peningkatan produksi dan mutu buah, maka perlu dilakukan upaya perbaikan cara budidaya. Salah satunya adalah penggunaan pupuk organik yang mengandung unsur hara yang lebih kompleks dan pengaplikasian zat pengatur tumbuhan. Salah satu pupuk organik yaitu pupuk organik kascing, yang merupakan hasil dekomposisi oleh cacing yang berpengaruh terhadap pertumbuhan tanaman dan aplikasi giberelin (GA3) yang mampu meningkatkan kualitas buah dan meningkatkan persentase pembentukan buah. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh kombinasi penggunaan pupuk kascing dan pemberian hormon giberelin (GA3) pada tanaman mentimun, menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) dengan 2 faktor dan 3 ulangan. Faktor pertama pemberian dosis pupuk kascing yaitu, (K0) 0 g/tanaman (kontrol), (K1) 120 g/tanaman (3 ton/ha), (K2) 240 g/tanaman (6 ton/ha), (K3) 360 g/tanaman (9 ton/ha). Faktor kedua pemberian konsentrasi giberelin (GA3) yaitu (G0) 0 ppm, (G1) 50 ppm, (G2) 100 ppm dan (G3) 150 ppm. Data yang diperoleh selanjutnya dianalisis menggunakan analisis sidik ragam, jika antar perlakuan mengalami perbedaan yang signifikan, maka dilakukan uji lanjut dengan menggunakan Uji Jarak Berganda Duncan pada taraf 5%. Perlakuan dosis pupuk kascing dan konsentrasi hormon Giberelin terbaik terdapat pada perlakuan 360 g/tanaman atau 9 ton/ha (K3) pada konsentrasi optimal hormon giberelin 100 ppm. Kata Kunci: Mentimun, Pupuk Kascing, Giberelin (GA3), Produksi dan Kualitas Buah
Danar Musi Pawarta, Wahyu Indra Duwi Fanata, Gatot Subroto, Niken Sulistyaningsih
Published: 7 August 2019
Berkala Ilmiah Pertanian, Volume 2, pp 115-121; https://doi.org/10.19184/bip.v2i3.16284

Abstract:
Rubber is one of the important plantation crops for Indonesia. Rubber production that continues to increase is inseparable from the rubber waste produced, especially rubber wastewater. Rubber liquid waste can be managed into liquid fertilizer because there are carbon and nitrogen contents that can be used by microbes as growth substrate. Exploitation of rubber liquid waste is also expected to be able to solve existing problems in the cultivation of shallots, especially in the formation of tubers and minimize the use of chemical fertilizers. This study aims to determine the effect of liquid fertilizer concentration and interval of spraying liquid fertilizer from rubber waste on the growth and yield of shallots. The liquid fertilizer concentration used is 0 ml/l, 5 ml/l, 10 ml/l and 15 ml/l. The liquid fertilizer spraying interval used is 1 week, 2 weeks and 3 weeks. Data obtained next analyzed and tested using DMRT α 5%. The result showed te best treatment combination for concentration of 15 ml/l and a spraying interval of 1 week. Keywords: rubber waste, concentration, spraying interval, shallots ABSTRAK Karet merupakan salah satu tanaman perkebunan yang penting bagi Indonesia. Produksi karet yang terus meningkat tidak lepas dari limbah karet yang dihasilkan khususnya limbah cair karet. Limbah cair karet dapat dikelola menjadi pupuk cair dikarenakan terdapat kandungan karbon dan nitrogen yang dapat digunakan oleh mikroba sebagai subtrat pertumbuhan. Pemanfaatan limbah cair karet diharapkan juga dapat menyelesaikan permasalahan yang ada dalam budidaya tanaman bawang merah khususnya dala pembentukan umbi dan meminimalisir penggunaan pupuk kimia. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh konsentrasi pupuk cair dan interval penyemprotan pupuk cair dari limbah karet terhadap pertumbuhan dan hasil bawang merah. Konsentrasi pupuk cair yang digunakan antara lain 0 ml/l, 5 ml/l, 10 ml/l dan 15 ml/l. Interval penyemprotan pupuk cair yang digunakan antara lain 1 minggu, 2 minggu dan 3 minggu. Data yang diperoleh selanjutnya dianalisis dan diuji menggunakan DMRT α 5%. Hasil penelitian menunjukkan kombinasi perlakuan terbaik untuk konsentrasi dan interval penyemprotan pupuk cair adalah konsentrasi 15 ml/l dan interval penyemprotan 1 minggu. Kata Kunci: limbah karet, konsentrasi, interval penyemprotan, bawang merah
Andina Dwi Pramesti, Bambang Hermiyanto
Published: 7 August 2019
Berkala Ilmiah Pertanian, Volume 2, pp 108-114; https://doi.org/10.19184/bip.v2i3.16283

Abstract:
Sandy land has a considerable potential to resolve the problem of the narrowing area of agricultural land in Indonesia. Improvement of sandy land quality which belongs to the marginal land is necessary in order to increase its productivity, for example through the addition of compost and organic liquid fertilizer. This research aims to know the effect of blotong compost and organic liquid fertilizer of Eichhornia crassipes to endomycorrhizal infection and the production of sorghum plants. The experimental design used was factorial completely randomized block design with 2 factors and 3 replicates. The first factor was dose of blotong compost which consists of 3 levels, i.e. 0, 20, and 40 tons blotong compost /ha. The second factor was concentration of the organic liquid fertilizer of Eichhornia crassipes consists of 4 levels, i.e. 0, 10, 25, and 40% of the organic liquid fertilizer of Eichhornia crassipes. Further data obtained were analyzed using ANOVA, followed by Duncan Multiple Range Test (DMRT) for significantly different data. The results showed that the application of blotong compost increase soil Corganic, total soil microorganisms, plant height and lowering endomycorrhizal infection. Optimal fertilizing compost blotong dose is 40 tons/ha. The application of organic liquid fertilizer of Eichhornia crassipes increase the total soil microorganisms with optimal concentration of 40%, as well as reducing endomycorrhizal infection. The combination treatment of 20 tons of compost blotong/ha and 10% organic liquid fertilizer of Eichhornia crassipes already enhance the growth and production of sorghum, but the maximum growth and plant production is achieved with the addition of 40 tons of compost blotong/ha and 40% organic liquid fertilizer of Eichhornia crassipes. Keywords: Root infection, sandy land, blotong, Eichhornia crassipes, sorghum ABSTRAK Lahan pasir pantai memiliki potensi cukup besar untuk mengatasi masalah semakin menyempitnya luasan lahan pertanian di Indonesia. Perbaikan kualitas lahan pasir pantai yang termasuk ke dalam lahan marginal sangat diperlukan agar dapat meningkatkan produktivitasnya, misalnya melalui penambahan pupuk kompos dan pupuk organik cair (POC). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemupukan kompos blotong dan POC eceng gondok terhadap infeksi endomikoriza dan produksi tanaman sorgum. Penelitian ini menggunakan rancangan acak kelompok (RAK) dengan 2 faktor dan 3 ulangan. Faktor pertama yaitu dosis kompos blotong yang terdiri atas 3 taraf yaitu 0, 20, dan 40 ton kompos blotong/ha. Faktor kedua yaitu konsentrasi POC eceng gondok yang terdiri atas 4 taraf yaitu 0, 10, 25, dan 40% POC eceng gondok. Data dianalisis menggunakan ANOVA. Apabila antar perlakuan berbeda nyata maka dilakukan uji lanjut menggunakan Duncan Multiple Range Test (DMRT). Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian blotong dapat meningkatkan C-organik tanah, total mikroorganisme tanah, tinggi tanaman, serta menurunkan infeksi endomikoriza. Dosis pemupukan kompos blotong yang optimal adalah 40 ton/ha. Pemberian pupuk organik cair eceng gondok dapat meningkatkan total mikroorganisme tanah dibanding kontrol dengan konsentrasi optimal 40%, serta menurunkan infeksi endomikoriza. Kombinasi perlakuan 20 ton kompos blotong/ha dan 10% POC eceng gondok sudah dapat meningkatkan pertumbuhan dan produksi tanaman sorgum, namun pertumbuhan dan produksi tanaman maksimum dicapai pada perlakuan penambahan 40 ton kompos blotong/ha dan 40% POC eceng gondok. Kata kunci: Infeksi endomikoriza, tanah pasir pantai, blotong, eceng gondok, sorgum.
Sheka Panji Prasetya, Bambang Kusmanadhi
Published: 7 August 2019
Berkala Ilmiah Pertanian, Volume 2, pp 97-101; https://doi.org/10.19184/bip.v2i3.16277

Abstract:
The use of onion tubers with various sizes can affect the result of onion productivity. The availability of quality seeds and timely is a factor which plays a role in the success of the farmer of onion. Seed in the form of tubers are planting material that has been long to used in bussines farming. The use of seed tubers has variation measure of in weight. The weight size of seed tubers give affect the growth and result of cultivated shallots. The solution of this problem is looking for the right tuber size to get maximal production and result on local varieties that have been registered and issued by the Department of Agriculture. This research executed in Bagor Subdistrict, Nganjuk Regency in April 2018 until June 2018. It used Rancangan Acak Lengkap Faktorial (RAL Faktorial) with using 2 factor. The first factor was local varieties consisting of Bauji varieties, Biru Lancor and Batu Ijo. The second factor is 4 level of different size tuber weight. If there is a real difference, will be further testing using DMRT (Duncan Multiple Range Test) with an error rate of 5%. The parameters of observation consist of plant height, number of leaves, number of tubers, tuber diameter, tuber wet weight, tuber dry weight, tuber shrinkage and number of tuber layers. The results showed that the effect of the combination of the two factors had very significant effect on the parameters of fresh tuber weight and dry weight of onion. The varieties treatment showed the best results for fresh weight of the bulbs were Blue Lancor varieties. The treatment of seed tuber weight showed results to fresh weight of tuber was the weight of a large tuber. Key words: Onions, Seed Bulbs, Local Varieties. ABSTRAK Penggunaan umbi bawang merah dengan berbagai ukuran dapat berpengaruh terhadap hasil produktivitas bawang merah. Ketersediaan bibit yang berkualitas dan tepat waktu merupakan faktor yang ikut berperan dalam keberhasilan usaha tani bawang merah. Bibit yang berupa umbi merupakan bahan tanam yang sudah lama digunakan dalam usaha tani bawang merah. Penggunaan umbi bibit memiliki keragaman dalam ukuran berat. Ukuran berat umbi bibit berpengaruh terhadap pertumbuhan dan hasil bawang merah yang dibudidayakan. Solusi dari permasalahan tersebut adalah dengan mencari ukuran berat umbi bibit yang tepat agar mendapatkan produksi dan hasil secara maksimal pada varietas lokal yang sudah terdaftar dan dikeluarkan oleh Kementerian Pertanian. Penelitian ini dilaksanakan di Kecamatan Bagor Kabupaten Nganjuk pada bulan April 2018 hingga bulan Juni 2018. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap Faktorial (RAL Faktorial) dengan menggunakan 2 faktor. Faktor pertama yaitu varietas lokal yang terdiri varietas Bauji, Biru Lancor dan Batu Ijo. Faktor kedua yaitu 4 taraf ukuran berat umbi bibit yang berbeda. Apabila ada beda nyata dilakukan uji lanjut dengan menggunakan DMRT (Duncan Multiple Range Test) dengan taraf kesalahan 5%. Parameter pengamatan meliputi tinggi tanaman, jumlah daun, jumlah umbi, diameter umbi, berat basah umbi, berat kering umbi, penyusutan umbi dan jumlah lapisan umbi. Hasil penelitian menunjukkan pengaruh kombinasi kedua faktor berpengaruh sangat nyata pada parameter jumlah umbi, berat segar umbi dan berat kering jemur umbi bawang merah. Perlakuan varietas menunjukkan hasil terbaik untuk berat segar umbi adalah varietas Biru Lancor. Perlakuan berat umbi bibit menunjukkan hasil untuk berat segar umbi adalah berat umbi bibit ukuran besar. Kata Kunci : Bawang Merah, Umbi Bibit, Varietas Lokal.
Lailatul Nichmah, Sih Yuwanti, Sony Suwasono
Published: 2 May 2019
Berkala Ilmiah Pertanian, Volume 2, pp 50-55; https://doi.org/10.19184/bip.v2i2.16168

Abstract:
Coffee powder as one of the processed products of the roasting coffee had a weakness that was giving a waste of brewing dreg. One of the efforts which could be done to reduce the brewing dreg was by making the dip coffee. Besides the dip coffee, the herbal coffee products such as the cinnamon was one of the diversification products of the processed coffee to obtain a new aroma and flavour and to obtain the healthy effect. This research aimed to know the dip cinnamon coffee characteristics by the roasting coffee difference level, the cinnamon powder concentration, and the treatment which resulted a good dip cinnamon coffee on its physical, chemical and organoleptic characteristics. This research used the Completely Randomized Design which consisted two factors; they were the roasting coffee level (light, medium, dark) and the cinnamon powder concentration (2%, 4%, 6%). Each treatment was used 3 repetitions. The physical and chemical characteristics test and the organoleptic preference were done on the dip cinnamon coffee product. The gained data of this research was calculated and analyzed using ANOVA and descriptive which were described in histogram. The research result showed that the best treatment from the chosen affectivity test result was the dark roasting coffee by 2% of the cinnamon powder concentration which resulted 26.13 of the lightness steeping value, 0.60% of sari content, 34.46 mg GAE/gram of the polyphenol total, 70.34% of antioxidant activity, color preference 7.08 (more prefer), aroma preference 7.04 (more prefer), taste preference 6.56 (less prefer), and whole preference 7 (more prefer).Keywords: Dip coffee; Cinnamon; Roasting level ABSTRAK Kopi bubuk sebagai hasil olahan kopi sangrai memiliki kelemahan yaitu masih meninggalkan ampas hasil penyeduhan. Upaya yang dapat dilakukan untuk mengurangi ampas hasil penyeduhan diantaranya dengan pembuatan kopi celup. Selain kopi celup, produk kopi herbal seperti penggunaan kayu manis juga merupakan salah satu diversifikasi produk olahan kopi untuk memperoleh aroma dan cita rasa baru serta memperoleh efek kesehatan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui sifat-sifat kopi kayu manis celup dengan perbedaan tingkat penyangraian kopi dan konsentrasi bubuk kayu manis serta perlakuan yang menghasilkan kopi kayu manis celup dengan sifat fisik, kimia, dan organoleptik yang baik. Penelitian ini dirancang denganmenggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) yang terdiri dari dua faktor, yaitu tingkat penyangraian kopi (light, medium, dark) dan konsentrasi bubuk kayu manis (2%, 4%, 6%). Setiap perlakuan diulang sebanyak 3 kali. Pengujian karakteristik fisik dan kimia serta kesukaan organoleptik dilakukan terhadap produk kopi kayu manis celup. Data yang didapat dari hasil pengamatan diolah dan dianalisis secara ANOVA dan Deskriptif yang digambarkan dengan histogram. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan terbaik dari hasil uji efektivitas yang terpilih adalah perlakuan penyangraian kopi dark dengan konsentrasi bubuk kayu manis 2% yang menghasilkan nilai lightness seduhan 26,13, kadar sari 0,60%, total polifenol 34,46 mg GAE/gram, aktivitas antioksidan 70,34%, kesukaan warna 7,08 (agak suka), kesukaan aroma 7,04 (agak suka), kesukaan rasa 6,56 (sedikit suka), dan kesukaan keseluruhan 7 (agak suka).Kata Kunci: kopi celup, kayu manis, tingkat penyangraian
Zaiyin Rizky Ageng Maulidia, Wahyu Indra Duwi Fanata
Published: 2 May 2019
Berkala Ilmiah Pertanian, Volume 2, pp 77-81; https://doi.org/10.19184/bip.v2i2.16175

Abstract:
Indonesia is rich in rice genetic diversity in the form of javanica rice. Subspecies javanica have some superiority characters, among others a strong plant tissue, but in generally they have low productivity. Weaknesses of javanica rice can be repaired by biotechnology through genetic transformation techniques from callus of plant. Auxin types and genotypes are important factors for callus induction and plant regeneration. Therefore, this research held for know callus introduction and plant regeneration of three varieties of Javanica rice (Pendok, Genjah Arum, and Menthik Wangi Susu) combined with type of auxin (2,4-D and pychloram). The experimental design of RALs two factorials, there are three varieties of rice (Pendok, Genjah Arum, and Menthik Wangi Susu) and two types of auxin (2,4-D and Pychloram) and analyzed by DMRT α5%. The results of this study is Mentik Wangi Susu have highest regeneration than Pendok and Genjah Arum. The use of 2,4-D resulted in a higher callus induction and plant regeneration than pychloram in the three rice varieties used. While the best combination of treatments for callus induction and regeneration is Menthik Wangi Susu and 2,4-D. Keyword: auxin, javanica, callus induction, plant regeneration. ABSTRAK Indonesia kaya akan keragaman genetik padi berupa padi javanica. Padi sub spesies javanica memiliki beberapa keunggulan diantaranya jaringan tanaman yang kuat, namun pada umumnya mempunyai tingkat produktivitas gabah yang rendah. Kelemahan pada padi javanica dapat diperbaiki dengan bioteknologi melalui teknik transformasi genetik menggunakan jaringan kalus. Genotip dan jenis auksin merupakan faktor penting dalam induksi kalus dan regenerasi tanaman padi secara in vitro. Oleh karena itu, penelitian ini dilaksanakan untuk mengetahui daya pembentukan kalus dan regenerasi pada tiga varietas padi javanica, yaitu Pendok, Genjah Arum, dan Menthik Wangi Susu yang dikombinasikan dengan perlakuan jenis auksin berupa penggunaan 2,4-D dan pikloram. Rancangan percobaan yang digunakan adalah RAL dua faktorial yaitu varietas tanaman padi dan jenis auksin dengan pengujian menggunakan DMRT α5%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari ketiga varietas padi yang digunakan, varietas Mentik Wangi Susu menunjukan daya regenerasi yang tertinggi dibandingkan varietas Pendok dan Genjah Arum. Penggunaan 2,4-D menghasilkan tingkat pengkalusan dan regenerasi yang tinggi dibandingkan pikloram pada tiga varietas padi yang digunakan. Sedangkan kombinasi perlakuan yang terbaik untuk induksi kalus dan daya regenerasi adalah penggunaan varietas Menthik Wangi Susu dan auksin dalam bentuk 2,4-D. Kata Kunci: auksin, javanica, induksi kalus, regenerasi tanaman.
Rizqiyatul Halaliah, Rudi Wibowo, Agus Supriono
Published: 2 May 2019
Berkala Ilmiah Pertanian, Volume 2, pp 66-71; https://doi.org/10.19184/bip.v2i2.16177

Abstract:
There were nine centre areas of cocoa production in 2009-2013. On those years, East Java was one of the centre area where has the positive increasing of cocoa production. State-owned plantation still dominated cocoa plantation in East Java. One of these companies is PTPN XII (lit: Nusantara Plantation XII Co. Ltd) which has developed Java Cocoa (Kakao Mulia). It has the high value of cocoa seed. Renteng plantation is the sub-plantation of PTPN XII. It is in second regional division. Java Cocoa (Kakao Mulia) can be found widely in Renteng specifically in Kedaton Afdeling. This study aimed to know: (1) factor which causing the unsuccessful achieved the target production of Java Cocoa (Kakao Mulia) in Renteng sub-plantation, PTPN XII plantation, Jember Regency. (2) the main factor behind unsuccessful cocoa production target in Renteng Sub plantation, PTPN XII plantation, Jember Regency. (3) formulate an appropriate alternative strategy to improve production capacity of Java Cocoa (Kakao Mulia) in PTPN XII plantation, Jember Regency. The study was held purposively in Renteng Sub-plantation area of PTPN XII. The result showed that : (1) production target of cocoa dry seed’s quality in Kedaton Afdeling (2014 -2015) cannot be achieved successfully because several factors such as : human resources, raw materials, method and environment. (2) the main factor behind this unsuccessfull production target was extremely unpredictable weather. This factor has frequency score equal to six and percentage for 20%. (3) the best alternative and priority strategy in order to increase capacity of cocoa dry seed’s quality in Kedaton Afdeling is through preventive action against unpredictable weather. This strategy was chosen based on weight score for 0.463 and inconsistency ratio for 0.05; Keywords: Java Cocoa (Kakao Mulia), causal diagram, pareto diagram, Analytical Hierarchy Process (AHP) ABSTRAK Terdapat sembilan wilayah sentra produksi kakao di tahun 2009-2013. Provinsi Jawa Timur merupakan salah satu daerah sentra yang memilki pertumbuhan produksi yang bernilai positif jika dibandingkan dengan wilayah sentra yang lain. Salah satu status pengusahaan yang mengembangkan budidaya tanaman kakao dengan produksi dan luas wilayah terbesar di Jawa Timur adalah perkebunan negara. PTPN XII merupakan perkebunan milik negara yang mengembangkan budidaya kakao termasuk jenis kakao yang memiliki nilai jual yang tinggi yaitu kakao mulia. Kebun Renteng merupakan salah satu kebun milik PTPN XII yang terletak di wilayah II. Kakao mulia dibudidayakan di Afdeling Kedaton. Penelitian ini bertujuan untuk: (1) mengetahui faktor-faktor yang menyebabkan tidak tercapainya target produksi mutu kakao mulia di Kebun Renteng PTPN XII Kabupaten Jember; (2) mengetahui faktor utama yang menyebabkan tidak tercapainya target produksi mutu kakao mulia di Kebun Renteng PTPN XII Kabupaten Jember; (3) mengetahui strategi alternatif yang dipandang cocok untuk meningkatkan produksi mutu kakao mulia di PTPN XII Kebun Renteng Kabupaten Jember. Penelitian ini dilakukan secara sengaj di Kebun Renteng PTPN XII. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) Faktor yang menyebabkan tidak tercapainya target produksi mutu kakao mulia di Afdeling Kedaton (2014-2015) adalah sumber daya manusia, bahan baku, metode dan lingkungan. (2) Faktor utama tidak tercapainya target produksi mutu kakao mulia di PTPN XII Kebun Renteng adalah perubahan cuaca yang ekstrim. Faktor tersebut mempunyai frekuensi sebesar enam dengan bobot persentase sebesar 20%. (3) Strategi alternatif yang menjadi prioritas utama dalam mencapai tujuan meningkatkan produksi mutu kakao kering di Afdeling Kedaton adalah tindakan pencegahan atau tindakan antisipasi perubahan cuaca yang ekstrim yang mana hasil ini didapat dengan menunjukkan angka bobot sebesar 0,463 dengan nilai incosistency ratio sebesar 0,05 Keywords: Kakao Mulia, Diagram Sebab Akibat, Diagram Pareto, AHP
Nur Karimah Rakhmawati, Ahmad Nafi, Andrew Setiawan Rusdianto
Published: 2 May 2019
Berkala Ilmiah Pertanian, Volume 2, pp 47-49; https://doi.org/10.19184/bip.v2i2.16162

Abstract:
Flake is made from cereals such as wheat, corn, rice, or tubers. Indonesia's wheat imports in 2017 rose about 9% to11.48 million tons. One of the local food stuffs used in the manufacture of flake is corn flour. However, the protein content is still very low at around 9.2%. Then needed other materials that can increase the added value of the dregs know. The addition of mocaf containing starch is high enough to help maintain flake crispness. The purpose of this research is to know lightness, hue, water absorption, and rehydration time of corn flour flour, dregs and mocaf. This research was conducted on three stages, namely: 1) making tofu waste flour, 2) flake processing, 3) physical properties test. The design of the study used CRD (Completely Randomized Design) factorial with one factor, namely: corn flour, tofu waste flour, and mocaf (5% : 35% : 60%; 5% : 40% : 55%; 5% : 45% : 50%; 5% : 50% : 45% dan 5% : 55% : 40%) with four repetitions. The result of analysis showed that flake of corn flour, tofu waste flour and mocaf had the physical characteristic of color with lightness value of about 72,83 - 80,75; hue value of about 107.36 - 108.03 (yellow); water absorption value of about 67.27 - 117.25%; and rehydration time of about 321 - 562 seconds. Keywords: flake, mocaf, tofu waste flour, corn flour ABSTRAK Flake terbuat dari serealia seperti gandum, jagung, beras, atau umbi-umbian. Impor gandum Indonesia pada 2017 naik sekitar 9% menjadi 11,48 juta ton. Oleh sebab itu perlu inovasi dalam rangka pemberdayaan pangan lokal untuk pembuatan flake dengan menggunakan bahan tepung jagung. Namun, kandungan proteinnya masih sangat rendah yaitu sekitar 9,2%. Maka diperlukan bahan lain yang dapat meningkatkan nilai tambah yaitu ampas tahu. Penambahan mocaf yang mengandung pati cukup tinggi dapat membantu mempertahankan kerenyahan flake.Tujuan penelitian ini untuk mengetahui lightness, hue, daya serap air, dan waktu rehidrasi flake tepung jagung, tepung ampas tahu dan mocaf. Penelitian ini dilakukan dengan tiga tahap, yaitu: 1) pembuatan tepung ampas tahu, 2) pembuatan flake, 3) uji fisik. Rancangan penelitian menggunakan RAL (Rancangan Acak Lengkap) dengan perlakuan formulasi tepung jagung, tepung ampas tahu dan mocaf (5% : 35% : 60%; 5% : 40% : 55%; 5% : 45% : 50%; 5% : 50% : 45% dan 5% : 55% : 40%) dilakukan empat kali pengulangan. Hasil analisis menunjukkan bahwa flake tepung jagung, tepung ampas tahu dan mocaf memiliki karakteristik fisik lightness 72,83 – 80,75; nilai hue 107,36 –108,03 (yellow); nilai daya serap air 67,27 – 117,25%; dan waktu rehidrasi 321 – 562 detik. Kata Kunci: flake, mocaf, tepung ampas tahu, tepung jagung
Irza Guari Syah Fitri, Tri Handoyo
Published: 2 May 2019
Berkala Ilmiah Pertanian, Volume 2, pp 72-76; https://doi.org/10.19184/bip.v2i2.16174

Abstract:
Aromatic rice (Oryza sativa L.) is one type of rice that has aroma and high selling price than non-aromatic rice. The variety development is needed to form superior aromatic rice. The variety development requires information about kinship and diversity between varieties. Kinship analysis with identification of morphological characteristics is an observation based on taxonomic approach. This research aims to determine the morphological characteristics and kinship of 21 aromatic rice varieties. The research was conducted from March to September 2018 with a randomized block design (RBD) of 3 replications. Observation variables used plant height (cm), number of productive tillers (tiller), age of flowering and harvesting (days), weight of 100 grain (gram), shape of grain, color of grain, color of rice and DNA band pattern as molecular data. Morphological data were analyzed by variance (ANOVA) and cluster analysis with UPGMA program (Unweight Pair Group Method with Arithmetic Mean) using DIST Coefficient on NTSYS 2.02 software. Molecular data showed in visualisation of DNA band using Primer OPB-07 based on RAPD marker. The research results showed the differences in morphological characters and kinship levels. Cluster analysis forms 2 clusters and 2 sub-clusters. Keywords: Aromatic Rice, Mophological Diversity, RAPD, Dendrogram ABSTRAK Padi aromatik (Oryza sativa L.) merupakan salah satu jenis padi yang memiliki aroma wangi dan memiliki harga jual yang lebih tinggi dibanding padi biasa. Pengembangan varietas diperlukan untuk membentuk padi aromatik yang lebih unggul. Pengembangan varietas membutuhkan informasi tentang kekerabatan dan keanekaragaman antar varietas. Analisis kekerabatan dengan identifikasi karakteristik morfologi merupakan suatu observasi berdasarkan pendekatan taksonomi. Percobaan ini bertujuan untuk mengetahui karakteristik morfologi dan molekuler 21 varietas padi aromatik. Percobaan dilakukan di mulai Maret - September 2018 dengan Rancangan Acak Kelompok (RAK) 3 ulangan. Variabel pengamatan menggunakan tinggi tanaman (cm), jumlah anakan produktif (batang), umur berbunga dan panen (HSS), bobot 100 gabah, bentuk gabah, warna gabah, dan warna beras serta pola pita DNA sebagai data molekuler. Data morfologi dianalisis dengan ragam (ANOVA) serta dianalisis gerombol dengan program UPGMA (Unweight Pair Group Method with Arithmetic Mean) menggunakan DIST Koefisien pada software NTSYS 2.02. Data molekuler ditunjukkan dalam bentuk visualisasi DNA menggunakan primer OPB-07 berdasarkan penanda RAPD. Hasil percobaan menunjukkan perbedaan karakter morfologi dan tingkat kekerabatan yang berbeda. Analisis gerombol membentuk 2 cluster dan 2 sub-cluster. Kata kunci: Padi Aromatik, Kekerabatan Morfologi, RAPD, Dendrogram
Deby Rimba Samudra Fernandez Dacosta, Luh Putu Suciati, Djoko Soejono
Published: 2 May 2019
Berkala Ilmiah Pertanian, Volume 2, pp 61-65; https://doi.org/10.19184/bip.v2i2.16172

Abstract:
One of the supporters of the national parks of Meru Betiri National Park (TNMB) in land rehabilitation is for the purpose of enhancing the ability and independence community in benefiting forest resource and land optimally. Chilli plant is a plant endemic to Java, which is in the Meru Betiri National Park National Park (TNMB) in addition Java is chili plants intercrop in Meru Betiri National Park as it can grow under the shade of a tree of principal. In addition the existence of the programme planning of aquaculture farming Java Chilli can also increase the income of farmers in land rehabilitation of Meru Betiri National Park National Park (TNMB). This research aims to know the: (1) financial feasibility analysis of effort of land rehabilitation Resort Java Chilli Wonoasri Meru Betiri National Park National Park (TNMB) District Jember; (2) the sensitivity of farming Java Chili against the decline in production and a decrease in the price of production. The research results showed that: (1) analysis ofthe feasibility of farming chili Java at Resort Wonoasri Garden Meru Betiri National Park (TNMB) with the investment criteria of Jember District shows the result with the value as follows: Net Present Value (NPV) worth Rp 94,783,796; PR worth 13.63; Net benefit Cost (Net/B/C) worth 13.63; Gross Benefit Cost Ratio (Gross B/C) worth 3.71 and Internal Rate of Return (IRR) is worth 43.7%. Based on the results of financial eligibility criteria then Java chili farming deserves to be run and developed. (2) J ava chili farming is not sensitive to a decrease in production of 40% so that the Java chili farming is still eligible to run and developed and insensitive Java chili farming is taking action against a price reduction of 18%.Keywords: Java Chili, Feasibility Analysis, Sensitivity Analysis ABSTRAK Salah satu kegiatan pendukung Taman Nasional Meru Betiri (TNMB) di lahan rehabilitasi adalah dengan tujuan untuk meningkatkan kemampuan dan kemandirian masyarakat dalam mendapatkan manfaat sumberdaya hutan dan lahan secara optimal. Tanaman cabe jawa merupakan tanaman endemik yang berada di kawasan Taman Nasional Meru Betiri (TNMB) selain itu tanaman cabe jawa merupakan tanaman sela di Taman Nasional Meru Betiri karena dapat tumbuh dibawah naungan pohon pokok. Selain itu dengan adanya program tersebut perencanaan budidaya usahatani cabe jawa juga dapat meningkatkan pendapatan petani di lahan rehabilitasi Taman Nasional Meru Betiri (TNMB). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui: (1) analisis kelayakan finansial usaha cabe jawa lahan rehabilitasi Resort Wonoasri Taman Nasional Meru Betiri (TNMB) Kabupaten Jember; (2) sensitivitas usahatani cabe jawa terhadap penurunan produksi dan penurunan harga produksi. Hasil penelitianmenunjukan bahwa: (1) analisis kelayakan usahatani cabe jawa di Resort Wonoasri Taman Nasional Meru Betiri (TNMB) Kabupaten Jember dengan kriteria investasi menunjukkan hasil dengan nilai sebagai berikut: Net Present Value (NPV) bernilai Rp 94.783.796; PR bernilai 13,63; Net benefit Cost (Net B/C) bernilai 13,63; Gross Benefit Cost Ratio (Gross B/C) bernilai 3, 71 dan Internal Rate of Return (IRR) bernilai 43,7%. Berdasarkan hasil kriteria kelayakan finansial maka usahatani cabe jawa layak untuk dijalankan dan dikembangkan. (2) Usahatani cabe jawa tidak peka terhadap penurunan produksi sebesar 40% sehingga usahatani cabe jawa masih layak untuk dijalankan dan dikembangkan dan usahatani cabe jawa tidak peka tehadap penurunan harga sebesar 18%. Kata Kunci: Cabe Jawa, Analisis Kelayakan, Analisis Sensitiitas.
Muhammad Erfan, Hari Purnomo, Nanang Tri Haryadi
Published: 2 May 2019
Berkala Ilmiah Pertanian, Volume 2, pp 82-86; https://doi.org/10.19184/bip.v2i2.16176

Abstract:
Coffee Berry Borer (Hypothenemus hampei Ferr.) Is the main pest in coffee plants in Indonesia. Characteristics of coffee berries that are attacked by pests, there is a small hole in the coffee berry and powder around it. Control is carried out biologically, technically, and chemically. These control techniques need to be tested for effectiveness in the laboratory. The test requires the insect H. hampei as a test insect. H. hampei can be obtained by mass propagation. Mass propagation can be done using artificial diet. This study was conducted to determine the effect of artificial diet on the life cycle of H. hampei. This study uses descriptive methods on 2 types of feed treatment; natural diet of coffee berry and artificial diet made from wheat powder and coffee powder. The results showed that the number of eggs produced by H. hampei in natural diet treatment could range from 30 to 46 eggs and every 3 days observation could lay eggs from 0 to 22 eggs. The percentage of eggs that succeeded in being imago was 95.32% with a sex ratio of 1: 10. The duration of life of H. hampei ranged from 100 to 150 days, with a period of 5-6 days, larvae 18-19 days and pupae 4-5 days. In the artificial diet, the egg method is able to grow into a second instar larval stage with a life span of 19 days. Keywords: Life Cycle, Coffee Berry Borer, Natural Diet, Artificial Diet ABSTRAK Penggerek Buah Kopi (Hypothenemus hampei Ferr.) merupakan hama utama padla tanaman kopi di Indonesia. Ciri – ciri buah kopi yang terserang hama ini, yaitu terdapat lubang kecil pada buah kopi dan serbuk disekitarnya. Pengendalian dapat dilakukan secara biologi, kultur teknis, dan kimiawi. Teknik – teknik pengendalian tersebut perlu diuji keefektifannya di laboratorium. Pengujian tersebut memerlukan serangga H. hampei sebagai serangga uji. Serangga H. hampei dapat diperoleh dengan perbanyakan secara massal. Perbanyakan massal dapt dilakukan dengan menggunakan pakan buatan. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui pengaruh pakan buatan terhadap siklus hidup serangga H. hampei. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif pada 2 macam perlakuan pakan; pakan alami buah kopi dan pakan buatan dari bahan dasar bubuk gandum dan bubuk kopi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa jumlah telur yang dihasilkan serangga H. hampei pada perlakuan pakan alami mampu berkisar 30 – 46 telur dan setiap 3 hari pengamatan dapat bertelur 0 – 22 telur. Persentase telur yang berhasil menjadi imago 95,32% dengan sex rasio 1 : 10. Lama hidup H. hampei berkisar 100 – 150 hari, dengan masa telur 5 – 6 hari, masa larva 18 – 19 hari dan masa pupa 4 – 5 hari. Pada pakan buatan yang menerapakan metode telur mampu tumbuh menjadi stadia larva instar 2 dengan masa hidup larva sampai 19 hari. Kata Kunci: Siklus Hidup, Penggerek Buah Kopi, Pakan Alami, Pakan Buatan
Yogi Farid Fadilah, Usmadi Usmadi
Published: 7 August 2019
Berkala Ilmiah Pertanian, Volume 2, pp 127-131; https://doi.org/10.19184/bip.v2i3.16287

Abstract:
Tobacco is one of the seeds that can be stored for certain period. Seed storage is one of the ways in maintaining the viability of the seeds to meet the needs of the next planting period. Pillen seed technology has developed where in addition to increasing the size of seeds can improve the quality of seeds. Kaolin in pillen has an Al content which is suspected if absorbed by plants will inhibit the growth of tobacco seeds. Giving humic acid is expected to be able to play a role in binding Al, so that the level of Al content in the soil can be lowered so as not to cause toxins to plants. This study aims to determine the effect of pillen seed storage and application of humic acid on the growth of tobacco seedlings. This research used the factorial of complete randomized design (RAL) 2 × 3. The first factor of the concentration of humic acid consisted of without humic acid 0 ml / l and liquid humic acid 6 mL/L. The second factor for the shelf life of the top seeds is 3, 8 and 13 years. Humic acid concentration of 6 ml could support the growth of the tobacco seedlings Keywords : tobacco seeds, seeds saving,humid acid ABSTRAK Tembakau merupakan salah satu benih yang dapat disimpan dalam periode tertentu. Penyimpanan benih merupakan salah satu cara dalam mempertahankan viabilitas benih untuk memenuhi kebutuhan masa periode tanam yang selanjutnya. Teknologi benih pillen merupakan salah satu upaya untuk memperbesar ukuran benih dan memperbaiki mutu dan kualitas benih. Kaolin dalam benih pillen memiliki kandungan Al yang diduga apabila diserap tanaman akan menghambat pertumbuhan bibit tembakau. Pemberian asam humat diharapkan mampu mengikat Al, sehingga tingkat kandungan Al dalam tanah dapat diturunkan agar tidak menyebabkan racun bagi tanaman. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh lama penyimpanan benih pillen dan aplikasi asam humat terhadap pertumbuhan bibit tembakau. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) faktorial 2 × 3 . Faktor pertama konsentrasi asam humat terdiri atas tanpa asam humat 0 mL/L dan asam humat cair 6 mL/L. Faktor kedua lama simpan benih teriri atas 3, 8 dan 13 tahun. Konsentrasi asam humat 6 mL/L mampu meningkatkan pertumbuhan bibit tembakau. Kata Kunci : Benih tembakau, lama simpan, asam humat
Yessinta Trizna Amanda, Isa Marufi, Anita Dewi Moelyaningrum
Published: 7 August 2019
Berkala Ilmiah Pertanian, Volume 2, pp 92-96; https://doi.org/10.19184/bip.v2i3.16275

Abstract:
The liquid waste of tempe factory in UD. X Patrang Sub-District, Jember Regency has the levels of organic matter BOD, COD, TSS and turbidity of the tempe liquid initial waste at UD. X in the amount of 3,200 mg / l; 4,200 mg / l; 5,016 mg / l and 901 NTU. This has exceeded environmental quality standards. For this reason, one of the coagulation-flocculation processing is needed using natural ingredients of trembesi seeds (Samanea saman). Trembesi seed is one of the plants that is used as a natural coagulant because it has a high content of tannin which is capable of adsorbing wastewater. The purpose of this study was to analyze the differences in levels of BOD, COD, TSS and Turbidity which were contacted with trembesi seeds and contacted with trembesi seeds with a concentration of 0.7 gr / l; 1.4 gr / l; 2.2 gr / l and stirring speed of 300 rpm for 2 minutes continued with 230 rpm for 25 minutes. The type of this research is True Experimental with the design of posttest only control group design. This study has 24 samples divided into 4 control groups (K), the second group concentrates 0.7 gr / l; third group 1.4 gr / l; the third group 2.2 gr / l then laboratory tests were BOD, COD, TSS and Turbidity. The results of this study are that there are differences in groups that are contacted with trembesi seeds with those not contacted with seeds trembesi to decrease in BOD, COD, TSS and Turbidity. Keywords: Liquid waste, BOD, COD, TSS, Turbidity, Coagulation ABSTRAK Limbah cair pabrik tempe di UD. X Kecamatan Patrang Kabupaten Jember memiliki kadar bahan organik BOD, COD, TSS dan kekeruhan limbah awal cair tempe di UD.X berturut-turut sebesar 3.200 mg/l; 4.200 mg/l; 5.016 mg/l dan 901 NTU. Hal ini telah melebihi baku mutu lingkungan. Untuk itu diperlukan salah satu pengolahan dengan metode koagulasi-flokulasi menggunakan bahan alami biji trembesi (Samanea saman). Biji trembesi merupakan salah satu tanaman yang dimanfaatkan sebagai koagulan alami karena memiliki kandungan tanin yang tinggio yang mampu mengadsorbsi air limbah. Tujuan penelitian ini adalah untuk manganalisis perbedaan kadar BOD, COD, TSS dan Kekeruhan yang dikontakkan dengan biji trembesi dan yang dikontakkan dengan biji trembesi dengan konsentrasi 0,7 g/L; 1,4 g/L; 2,2 g/L dan kecepatan pengadukan 300 rpm selama 2 menit dilanjutkan dengan 230 rpm selama 25 menit. Jenis penelitian ini adalah True eksperimental dengan desain posttest only control group design.penelitian ini terdapat 24 sampel yang terbagi dalam 4 kelompok kontrol (K), kelompok kedua konsentrasi 0,7 g/L; kelompok ketiga 1,4 g/L; kelompok ketiga 2,2 g/L kemudian dilakukan uji laboratorium BOD, COD, TSS dan Kekeruhan. Hasil dari penelitian ini adalah terdapat perbedaan kelompok yang dikontakkan dengan biji trembesi dengan yang tidak dikontakkan dengan biji trembesi terhadap penurunan BOD, COD, TSS dan Kekeruhan Kata Kunci: Limbah cair, BOD, COD, TSS, Kekeruhan,Koagulasi
Diah Meyshita Utari, Bambang Marhaenanto, Sri Wahyuningsih
Published: 7 August 2019
Berkala Ilmiah Pertanian, Volume 2, pp 87-91; https://doi.org/10.19184/bip.v2i3.16273

Abstract:
The demand was increase each year, but supplies with productions are not belance. This is due by narrowing of agricultural land, verticulture is verticulture is a planting system solution that save agricultural land. Vertical cultivation needs to be treated, such as watering to keep the optimal soil moisture. The wrong watering will make the green mustard productions not maximal and even die. Therefore, this research purpose to design an automatic watering system can help s the treat and control proper watering system . In this research, the automatic control system components have been tried before applied and soil moisture measurement to determine the setpoint value. The results of the trials indicated that components proper to applied on watering verticulture system and soil moisture value 34.11% for the soil water field capacity, 27.86% for temporary wilting point of green mustard. The result of the study indicated that automatic watering system on the set point value, if the soil moisture is less than the lower setpoint value, the pump will be on and if it is more than the upper setpoint value, the pump will be off. This result was successful, because the pump can be on and off match with the settled setpoint value. Key words : Verticulture, automatics watering system, control system arduino, soil moisture ABSTRAK Permintaan meningkat setiap tahun, tetapi persediaan dengan produksi tidak seimbang. Hal ini disebabkan oleh penyempitan lahan pertanian, verticulture adalah solusi sistem tanam yang menyelamatkan lahan pertanian. Budidaya vertikal perlu nutrisi yang cukup, seperti penyiraman untuk menjaga kelembaban tanah yang optimal. Penyiraman yang salah akan membuat produksi sawi hijau tidak maksimal dan bahkan mati. Oleh karena itu, tujuan penelitian ini untuk merancang sistem penyiraman otomatis dapat membantu perlakuan dan kontrol sistem penyiraman yang tepat. Dalam penelitian ini, komponen sistem kontrol otomatis telah dicoba sebelum diterapkan dan pengukuran kelembaban tanah untuk menentukan nilai titik pengaturan. Hasil uji coba menunjukkan bahwa komponen yang tepat untuk diterapkan pada sistem penyiraman tanaman dan nilai kelembaban tanah 34,11% untuk kapasitas lapangan air tanah, 27,86% untuk sementara titik layangan mustard hijau. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sistem penyiraman otomatis pada nilai titik setel, jika kelembaban tanah kurang dari nilai SetPoint bawah, pompa akan berada di dan jika itu lebih dari nilai SetPoint atas, pompa akan dimatikan. Hasil ini berhasil, karena pompa dapat on dan off cocok dengan nilai titik pengaturan menetap. Kata kunci: Vertikultur, sistem penyiraman otomatis, sistem kontrol Arduino, kelembaban tanah
Nugroho Setya Budi, Yhulia Praptiningsih, Maryanto Maryanto
Published: 8 May 2019
Berkala Ilmiah Pertanian, Volume 2, pp 56-60; https://doi.org/10.19184/bip.v2i2.16170

Abstract:
Cake is made from wheat flour, sugar, and eggs. The supply of wheat flour depends on wheat import. The wheat imports predicted to continue to increase, so it is necessary to find an alternative to reduce the use of wheat flour as a primary ingredient of cake sourced from local raw materials which low utilized. Balbisiana banana was a low class of banana which had a low optimal utilization because it was disliked by the people. Balbisiana banana had a dark lightness so it was needed to add the yellow sweet potato flour to increase the brightness of the cake. Balbisiana banana and yellow sweet potato flour could be used as wheat to substitution because had high starch content, good nutritional value and low IG value. The purpose of this research was to know the influence of the proportion of balbisiana banana and yellow sweet potato flour on the physical and organoleptic characteristics of cake, to know the proportion of balbisiana banana and yellow sweet potato flour on cake with good properties and high preference, and chemical properties of cake high preference. The results showed that the proportion of balbisiana banana and yellow sweet potato flour significantly affected on color (lightness), loaf volume, and staleness, and there were difference on preference of color, flavor and overall but not difference taste and staleness (p
Page of 1
Articles per Page
by
Show export options
  Select all
Back to Top Top