Refine Search

New Search

Advanced search

Results in Journal Panrita Abdi - Jurnal Pengabdian pada Masyarakat: 36

(searched for: journal_id:(5773883))
Page of 4
Articles per Page
by
Show export options
  Select all
Citra Kesumasari, Yessy Kurniati, Aminuddin Syam, Abdul Salam, Devintha Virani
Panrita Abdi - Jurnal Pengabdian pada Masyarakat, Volume 4, pp 322-327; doi:10.20956/pa.v4i3.8083

Abstract:
Prevention of Stunting Through Empowerment of Family Welfare Programme Cadres in Barebbo District in Bone Regency Bone Regency has the highest prevalence of stunting under five in South Sulawesi, after Enrekang district. Family Welfare Programme (PKK) cadres are often empowered in overcoming various problems in the community. This dedication activity aims to empower PKK cadres to prevent stunting in the Barebbo District, Bone Regency. Audience The target of this training is PKK cadres in Barebb Subdistrict. The Community Service Method is to provide training to PKK cadres on stunting prevention. The training was carried out in two ways, namely by providing material on stunting and demonstrations on how to screen stunting to children through anthropometric measurements. Based on the results of the activities carried out, it appears that the training carried out has increased the knowledge of PKK cadres who were trained in the good category by 54.5%. This is in accordance with established indicators of success. The training carried out effectively increased the knowledge and skills of PKK cadres in conducting anthropometric measurements. This is important in preventing stunting in infants. PKK cadres who have been trained are expected to be able to contribute significantly in screening the status of toddlers in the community.Keywords: Toddlers, stunting, prevention, anthropometry. Abstrak. Kabupaten Bone menjadi kabupaten yang memiliki prevalensi balita stunting tertinggi di Sulawesi Selatan, setelah kabupaten Enrekang. Kader PKK sering diberdayakan dalam mengatasi berbagai masalah dalam masyarakat. kegiatan pengabdian ini bertujuan untuk memberdayakan kader PKK untuk mencegah terjadinya stunting di Kecamatan Barebbo, Kabupaten Bone. Khalayak Sasaran pada pelatihan ini adalah kader PKK di Kecamatan Barebbo.Metode Pengabdian yang dilakukan adalah dengan memberikan pelatihan kepada kader PKK tentang pencegahan stunting. Pelatihan tersebut dilakukan dengan dua cara, yaitu dengan pemberian materi tentang stunting dan demonstrasi tentang cara melakukan skreening stunting pada balita melalui pengukuran antropometri. Berdasarkan hasil kegiatan yang telah dilakukan, terlihat bahwa pelatihan yang dilakukan telah meningkatkan pengetahuan kader PKK yang dilatih pada kategori baik sebesar 54,5%. Hal ini telah sesuai dengan indikator keberhasilan yang telah ditetapkan. Pelatihan yang dilakukan efektif meningkatkan pengetahuan dan keterampilan kader PKK dalam melakukan pengukuran antropometri. Hal tersebut penting dalam melakukan pencegahan stunting pada balita. Kader PKK yang telah dilatih diharapkan mampu berkontribusi secara nyata dalam melakukan skreening status balita di masyarakat.Kata Kunci : Balita, stunting, pencegahan, antropometri
Husna Amalya Melati, Metasari Kartika, Yudithya Ratih
Panrita Abdi - Jurnal Pengabdian pada Masyarakat, Volume 4, pp 314-321; doi:10.20956/pa.v4i3.7792

Abstract:
PPPUD of Product Diversification of Corak Insang Weaving at Kampung Wisata Tenun KhatulistiwaAbstact. Since established on 16th of November 2018 as a woven tourist village area, the number of visitors in Gang Sambas Jaya, Batu Layang sub district, Pontianak City has increased, but the products provided were only woven clothes and scarves with a relatively high price, thus not all visitors are interested and can afford the products. The lack of variety of the woven derivative products with various price ranges made the income of woven craftsmen was not optimal. The community service program by PPPUD (Development Program of Regional Featured Product) team in collaboration with non-governmental group (KSM) aimed to diversify the gill-pattern woven products (as known as corak insang) in order to expand the market target and to meet visitors’ demand. Community service activities included training to create a corak insang ornament pattern on screw pine-based clutches, making half-moon bags model of handbags, sewing clothes – starting from making its basic pattern, breaking patterns, cutting materials and sewing clothes, and making a pouch/pencil case using the remaining woven fabrics. The activity result showed that the partners acquired skills in producing derivative products of woven corak insang. A total of 5 people acquired skills in making half-moon bag model of handbags, 8 people acquired skills in making woven corak insang ornament pattern on screw-pine based clutches, 10 people acquired skills in making basic pattern, breaking pattern, and sewing clothes, and 15 people acquired skills in creating pouch and pencil case. It shows that more than 80% of participants have been succeeded in diversifying corak Insang woven products.Keywords: Diversification, product, woven, corak Insang, community service. Abstrak. Sejak ditetapkan pada tanggal 16 November 2018 sebagai kawasan kampung wisata tenun, jumlah pengunjung di Gang Sambas Jaya Kelurahan Batu Layang Kota Pontianak meningkat, namun produk yang disediakan hanya berupa kain tenun dan syal yang harganya relatif tinggi sehingga tidak semua pengunjung berminat dan mampu membelinya. Minimnya variasi produk turunan dengan berbagai rentang harga menjadikan pendapatan perajin tenun belum optimal. Pengabdian yang dilakukan oleh tim PPPUD (Program Pengembangan Produk Unggulan Daerah) bekerjasama dengan mitra Kelompok Swadaya Masyarakat (KSM) adalah mendiversifikasikan produk tenun corak insang agar mampu memperluas pangsa pasar dan memenuhi permintaan pengunjung. Kegiatan pengabdian yang dilakukan antara lain sosialisasi, pelatihan, pendampingan dan evaluasi. Pelatihan meliputi pelatihan membuat ornamen corak Insang pada clutch berbahan dasar pandan, pelatihan membuat tas tangan jenis halfmoon bag, pelatihan menjahit baju yang dimulai dari pembuatan pola dasar, pecah pola, menggunting bahan dan menjahit baju, dan pelatihan pembuatan pouch/pencil case dengan memanfaatkan sisa kain tenun dan kain tenun yang ada. Hasil kegiatan menunjukkan bahwa mitra kemudian memiliki keterampilan dalam memproduksi produk turunan dari tenuncorak Insang. Sebanyak 5 orang memiliki kemampuan dalam membuat tas tangan model (halfmoon bag), 8 orang memiliki kemampuan dalam membuat ornamen tenun corak Insang pada produk clutch berbahan pandan, 10 orang telah memiliki kemampuan dalam membuat pola dasar, pecah pola dan menjahit baju dan 15 orang telah memiliki kemampuan membuat produk berupa pouch dan pencil case.Hal ini menunjukkan bahwa lebih dari 80% mitra telah berhasil melakukan diversifikasi produk tenun corak Insang.Kata Kunci: diversifikasi, produk, tenun, corak Insang, pengabdian.
Margunani Margunani, Inaya Sari Melati, Ahmad Sehabuddin
Panrita Abdi - Jurnal Pengabdian pada Masyarakat, Volume 4, pp 305-313; doi:10.20956/pa.v4i3.7762

Abstract:
Simple Financial Records Training in Intip UMKM Nyatnyono Village Ungaran Semarang A micro enterprises named “Intip Pak Harto” has a central role in developing and establishing economy welfare in Nyatnyono Village, District Ungaran, Semarang. This training aims to create the soft skills for Intip craftsmen in terms of recording their financial transaction in a simple way. This training has a positive impact for craftsmen as it increases their understanding about how to develop a better financial recording in order to manage their business financial become more effective. This training techniques including a campaign and a simulation. The results of this program is Intip craftsmen has a better skills in doing a simple financial records.Keywords: Training, simple financial records, intip UMKM Abstrak. Usaha Mikro “Intip Pak Harto” memegang peranan penting di dalam pembangunan dan pertumbuhan ekonomi di Desa Nyatnyono Kecamatan Ungaran, Semarang. Tujuan pelatihan ini yakni memberikan soft skill bagi pelaku UMKM Intip dalam hal pencatatan keuangan sederhana. Pelatihan ini memberikan dampak positif pada para pengrajin berupa meningkatnya pemahaman mereka tentang bagaimana seharusnya pencatatan keuangan dilakukan untuk pengelolaan keuangan usaha yang lebih efektif. Kegiatan pelatihan dilakukan dengan teknik sosialisasi dan praktek. Hasil dari pelatihan ini yakni para pelaku usaha intip memiliki ketrampilan lebih baik dalam melakukan pencatatan keuangan sederhana. Kata Kunci: Pelatihan, pencatatan keuangan sederhana, UMKM intip.
Raras Setyo Retno, Sri Utami, Wachidatul Linda Yuhanna
Panrita Abdi - Jurnal Pengabdian pada Masyarakat, Volume 4, pp 298-304; doi:10.20956/pa.v4i3.7609

Abstract:
Utilization of Soybean Dregs Into Crackers To Improve the Skills of the Wakah Village Community of Ngrambe Subdistrict, Ngawi Regency Wakah Village is one of the tofu industry villages in Ngrambe, Ngawi Regency. Tofu waste in Setono Village has not been used optimally. Solid tofu waste has nutritional content that can still be used as a potential culinary product. The product developed is soybean crackers. This community empowerment program was carried out in July 2019 with 30 participants. The method used is the delivery of material, making raw crackers, frying crackers, and packaging the product. In general, the training went well. The level of understanding of the material and skills of participants was 90%. The result show that tofu industry waste can be used as soybean crackers. An increase in the knowledge and skills of the Wakah Village community in processing tofu industrial waste into soybean crackers.Keywords: Pulp, soybean, crackers, Wakah.Abstrak. Desa Wakah merupakan salah satu desa industri tahu di Kecamatan Ngrambe Kabupaten Ngawi. Limbah tahu di Desa Setono belum dimanfaatkan secara optimal. Limbah tahu padat mempunyai kandungan gizi yang masih dapat digunakan sebagai produk kuliner yang potensial. Produk yang kembangkan adalah kerupuk ampas kedelai. Program pemberdayaan masyarakat ini dilakukan pada bulan Juli 2019 dengan peserta sejumlah 30 orang. Metode yang dilakukan adalah penyampaian materi, pembuatan kerupuk mentah, menggoreng kerupuk, dan mengemas produk. Secara umum pelatihan berjalan lancar. Tingkatpemahaman materi dan keterampilan peserta sejumlah 90%. Hasil dari program ini adalah limbah industri tahu dapat dimanfaatkan menjadi kerupuk ampas kedelai. Adanya peningkatan pengetahuan dan keterampilan masyarakat Desa Wakah dalam mengolah limbah industri tahu menjadi kerupuk ampas kedelai. Kata Kunci: Ampas, kedelai, kerupuk, Wakah.
Fadia Fitriyanti, Ani Yunita, Muhammad Khaeruddin Hamsin
Panrita Abdi - Jurnal Pengabdian pada Masyarakat, Volume 4, pp 290-297; doi:10.20956/pa.v4i3.7437

Abstract:
Enhancement of Sharia Arbitrators on Competence Quality in the Yogyakarta Special Region National Sharia Arbitration Board The increase in cases resolved at the Yogyakarta Special Region National Sharia Arbitration Board (BASYARNAS DIY), the limitation of Islamic arbitrators, and the lack of expertise of arbitrators in dispute resolution raises issues related to the mastery of Sharia economic law for arbitrators in BASYARNAS DIY region. This community service program aims to increase the knowledge/ competence of expertise for Sharia arbiter in BASYARNAS DIY region, namely by conducting scientific discussions for Arbitrators as a basis for resolving Shariah economic disputes. The method of carrying out this dedication includes the preparation stage of scientific discussion, discussion on enhancing the competence of Sharia Arbitrators supported by pre-test and post-test during training and monitoring of evaluation activities as a reference for feedback for future discussion activities. This program was held on Friday July 26, 2019 in the meeting room of the Master of Law Degrees Program on the 2nd floor of the Postgraduate Building of Universitas Muhammadiyah Yogyakarta. The results of the community service activities were that the discussion went well and smoothly, attended by the BASYARNAS DIY Arbiter and internship students at the BASYARNAS DIY Region. With this discussion activity, the arbiter who previously did not understand about 50 percent related to the resolution of Islamic economic disputes to 100 percent really understood both materially and practically about the resolution of Islamic economic disputes delivered by speakers from the National Sharia Arbitration Board and the Indonesian National Arbitration Board so the arbiter's knowledge has increased significantly.Keywords: Enhancement, Competence, National Sharia Arbitration Board, Arbitrator.Abstrak. Meningkatnya perkara yang diselesaikan di BASYARNAS DIY, terbatasnya jumlah arbiter syari’ah, dan kurangnya keahlian arbiter dalam penyelesaian sengketa maka menimbulkan persoalan terkait penguasaan hukum ekonomi syari’ah bagi para arbiter di BASYARNAS wilayah DIY. Program pengabdian masyarakat ini bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan/kompetensi keahlian bagi arbiter syari’ah di BASYARNAS wilayah DIY yaitu dengan cara melakukan diskusi ilmiah bagi Arbiter sebagai dasar dalam menyelesaikan sengketa ekonomi syari’ah. Metode pelaksanaan pengabdian ini meliputi tahap persiapan diskusi ilmiah, diskusi peningkatan kompetensi Arbiter Syari’ah yang didukung dengan pre-test dan post-test pada saat pelatihan dan monitoring evaluasi kegiatan sebagai acuan feedback untuk pelaksanaan kegiatan diskusi kedepannya. Kegiatan pengabdian ini dilaksanakan pada hari jumat tanggal 26 Juli 2019 di ruang sidang Magister Ilmu Hukum di lantai 2 Gedung Pasca Sarjana Universitas Muhammadiyah Yogyakarta. Hasil kegiatan pengabdian ini ialah kegiatan diskusi berjalan dengan baik dan lancar dengan dihadiri oleh Arbiter BASYARNAS DIY dan mahasiswa magang di BASYARNAS Wilayah DIY. Dengan adanya kegiatan diskusi ini maka para arbiter yang sebelumnya kurang memahami sekitar 50 persen terkait penyelesaian sengketa ekonomi syari’ah menjadi 100 persen sangat memahami baik secara materi maupun praktik mengenai penyelesaian sengketa ekonomi syari’ah yang disampaikan oleh narasumber dari Badan Arbitrase Syari’ah Nasional Pusat dan Badan Arbitrase Nasional Indonesia sehingga pengetahuan arbiter mengalami peningkatan secara signifikan.Kata Kunci: Peningkatan, Kompetensi, BASYARNAS, Arbiter.
Femy M Sahami, Sri Nuryatin Hamzah
Panrita Abdi - Jurnal Pengabdian pada Masyarakat, Volume 4, pp 281-289; doi:10.20956/pa.v4i3.7559

Abstract:
Olimoo’o village as a coastal village has abundant squid potential, so the group of women conducted the processing of dried squid products which are named "Cumkring O500". The problem that arises over time is that the business does not work as expected. The Community Empowerment Learning (KKN PPM) Real Work Lecture Program directs students to apply their knowledge to maximise community empowerment to develop the cumkring potential to become a superior product of the village which leads to an increase in the community's economy. Through this program the transfer of dried squid processing technology is carried out which aims to improve group skills in processing to product marketing, creating diversification of processed dried squid ready and improving the economy of the community. The method used is the active involvement of all group members through group learning techniques accompanied by mentoring and direct practice at all stages of the process. The output of this activity is an increase in group knowledge about the processing of dried squid, the creation of processed squid products with three levels of flavour, namely original, selow and hot issue and product socialisation. The long-term target of this activity is the Cumkring O500 product to become an icon of Olimoo’o Village, as expected by the government and society. Therefore, there needs to be a commitment from the group in cumkring processed innovation and group strengthening to create a sustainable production house, and develop it into Micro, Small, and Medium Enterprises (MSMEs) as a form of independence, equitable economic growth, and increasing community income.
Agita Risma Nurhikmawati, Wachidatul Linda Yuhanna
Panrita Abdi - Jurnal Pengabdian pada Masyarakat, Volume 4, pp 273-280; doi:10.20956/pa.v4i3.7472

Abstract:
The Empowerment of Women’s Cooperative Group Putri Jati Emas Through Houseware Making Made of Vinyl Waste Vinyl waste is synthetic waste that is difficult to decompose. In Setono, there are 2 car upholstery and 1 shoe making industries which produce approximately 10 kg of vinyl waste per day. Thus, this study conducts vinyl waste processing by involving women's cooperative group, Putri Jati Emas. Vinyl waste is chosen since it can be made into high-selling houseware. The method in this activity is waste sorting, product designing, pattern making, printing, pattern cutting, sewing, sticking vinyl to houseware, and product finishing. In general, this activity went well and was conducive. In addition, the community is very enthusiastic and active in participating the program. In consequences, the participants’ skill level increases up to 80%. The houseware produced are trash bins, tissue containers, snack jars, biscuit tins, trays, and flower pots. In conclusion, this program is very relevant for improving the skills of the women in supporting family income.Keywords: Houseware, waste, vinyl.Abstrak. Limbah vinil merupakan limbah sintetis yang sulit terurai dan tidak dimanfaatkan. Di Desa Setono terdapat 2 industri jok mobil dan 1 industri pembuatan sepatu yang menghasilkan limbah vinil sebanyak 10 kg per hari. Pengolahan limbah vinil dilakukan dengan melibatkan kelompok koperasi wanita Putri Jati Emas. Limbah vinil dapat dikreasikan menjadi produk houseware berdaya jual tinggi. Metode dalam kegiatan ini adalah sortasi limbah, pemaparan desain, pembuatan pola, mencetak, menggunting pola, menjahit, menempel pada produk houseware dan finishing produk. Secara umum kegiatan ini berjalan lancar dan kondusif. Masyarakat antusias dalam mengikuti pelatihan. Tingkat keterampilan masyarakat sasaran sebanyak 80%. Produk yang dihasilkan berupa tempat sampah, tempat tissue, toples, kreasi kaleng biskuit, nampan dan pot bunga. Pelatihan kreasi limbah vinil menjadi houseware sangat relevan dan bermanfaat bagi peningkatan skill kelompok Koperasi Wanita Putri Jati Emas.Kata Kunci: Houseware, limbah, vinil.
Yusnaini Yusnaini, Muhammad Ramli, Zainuddin Saenong, Indriyani Nur, Indrayani Indrayani
Panrita Abdi - Jurnal Pengabdian pada Masyarakat, Volume 4, pp 265-272; doi:10.20956/pa.v4i3.8742

Abstract:
Broodstock Introduction and Technology Transfer of Crayfish (Cerax quadricarinatus) Hatchery in the Community Groups in Ladongi Subdistrict, East Konawe Regency Crayfish is an introduced species that has the potential to be developed. However, Its development is hindered by the availability of the seeds. The aim of this activity was to transfer crayfish hatchery technology into two community groups in Ladongi Subdistrict, East Konawe Regency. These activities were conducted from 2017-2018. The forms of activities were hatchery extension/training, introduction of crayfish broodstocks, contruction of breeding ponds and hatcheries and evaluation of knowledge, skills, availability of production facilities and the ability of partners to produce caryfish seeds. The results showed that the knowledge level of participants based on indicators was 55-91%., from know nothing to know many things about crayfish. The skill level of participants based on indicators was 64-100%, from unable to be able to seed crayfish. Both groups are able to manage resources and produce seeds, and as crayfish suppliers. In addition to seed production, the groups also produce crayfish for consumption and for broodstocks. Keywords: Crayfish, hatcheries, technology transfer, community groups.Abstrak. Lobster air tawar (LAT) merupakan spesies introduksi yang potensi dikembangkan, namun terkedala pada ketersediaan benih.Kegiatan ini bertujuan mentransfer teknologi pembenihan LAT kepada dua kelompok masyarakat di Kecamatan Ladongi Kabupaten Kolaka Timur. Kegiatan direalisasikan tahun 2017-2018. Bentuk kegiatan yaitu penyuluhan/pelatihan pembenihan, introduksi indukan LAT, konstruksi kolam indukan dan pembenihan. Evalusi tingkat pengetahuan, keterampilan, ketersediaan sarana produki dan kemampuan mitra memproduksi benih LAT. Hasil kegiatan menunjukan bahwa, tingkat serapan pengetahuan peserta berdasarkan indikator yaitu 55-91%, dari tidak tahu menjadi tahu tentang LAT. Tingkat keterampilan peserta berdasarkan indikator 64-100 %, dari tidak bisa menjadi bisa membenihkan LAT. Kedua kelompok mampu mengelola sumberdaya dan memproduksi benih, sebagai penyuplaiLAT. Selain bentuk benih kelompok memproduksi LAT ukuran konsumsi dan indukan bertelur.Kata Kunci: Lobster air tawar, pembenihan, alih teknologi, kelompok masyarakat
Herlina Herlina, Dian Aswita, Ikramullah Zein
Panrita Abdi - Jurnal Pengabdian pada Masyarakat, Volume 4, pp 255-264; doi:10.20956/pa.v4i2.7824

Abstract:
Solar Dryer Oven Technology as an Effort to Increase Salted Fish Production in the Fishing Communities in Deah Raya Village, Banda Aceh City Salted fish processing is one of the traditional ways of preserving fish carried out by the community when the fish harvest is so abundant, so that it can reduce the impact of losses due to fish spoilage. Implementation of community service is intended to introduce oven solar dryer technology as a simple technology to help realize increased productivity of salted fish processing. The target of PKM implementation consists of two groups, the engkut taleung group and the asen belideung group, in Gampong Deah Raya, Syiah Kuala District, Banda Aceh. The method used in this PKM is a technology transfer method. PKM provides a solution by utilizing technology as an effort to increase the production of hygienic salted fish production in the coastal area of Banda Aceh. The result of this PKM activity is the success in the manufacture and assembly of solar dryer ovens, so that PKM activities can be carried out. Technical training on the use of ovens can run well, marked by an increase in community knowledge and skills in using ovens for drying and making salted fish. Furthermore, the solar dryer oven unit is handed over to the community as a salted fish processing technology that can be the best solution in reducing fish spoilage and damage, and can overcome excess catches that have not been marketed, and produce more hygienic salted fish production. Keywords: fishing communities, oven solar dryer, salted fish, technology.Abstrak. Pengolahan ikan asin merupakan salah satu cara pengawetan ikan secara tradisional yang dilakukan oleh masyarakat pada saat hasil panen ikan yang begitu melimpah, sehingga dapat mengurangi dampak kerugian akibat pembusukan ikan. Pelaksanaan pengabdian kepada masyarakat ini dimaksudkan untuk memperkenalkam oven solar dryer teknologi sebagai teknologi sederhana guna membantu mewujudkan peningkatan produktivitas pengolahan ikan asin. Sasaran pelaksanaan PKM terdiri dari dua kelompok, kelompok usaha engkut taleung dan kelompok usaha asen belideung, di Gampong Deah Raya, Kecamatan Syiah Kuala, Banda Aceh. Metode yang digunakan dalam PKM ini adalah metode alih teknologi. PKM ini memberikan solusi dengan memanfaatkan teknologi berupa oven solar dryer sebagai upaya peningkatan hasil produksi ikan asin yang higienis di wilayah pesisir kota Banda Aceh. Hasil kegiatan PKM ini adalah keberhasilan dalam pembuatan dan perakitan oven solar dryer, sehingga kegiatan PKM dapat terlaksana. Pelatihan teknis penggunaan oven dapat berjalan dengan baik, ditandai dengan adanya peningkatan pengetahuan dan keterampilan masyarakat dalam menggunakan oven untuk melakukan pengeringan dan pembuatan ikan asin. Selanjutnya, unit oven solar dryer tersebut diserahkan kepada masyarakat sebagai teknologi pengolahan ikan asin yang dapat menjadi solusi terbaik dalam mengurangi pembusukan dan kerusakan ikan, serta dapat mengatasi kelebihan hasil tangkapan yang belum laku di pasarkan, dan menghasilkan produksi ikan asin yang lebih higienis.Kata Kunci: masyarakat nelayan, oven solar dryer, ikan asin, teknologi.
Muafi Muafi, Muchammad Sugarindra, Endar Abdi Prakoso
Panrita Abdi - Jurnal Pengabdian pada Masyarakat, Volume 4, pp 245-254; doi:10.20956/pa.v4i2.9190

Abstract:
Exploring the Potential Wealth of Modern Batik Motif Sido Luhur Pakualaman Batik Association Yogyakarta Sido Luhur Pakualaman Batik Association has a unique batik motif that is Mount Ketur motif. The Mount Ketur motif comes from historical values in the Pakualaman community. The historical value which is embodied in the batik motif is one of creativity forms from the craftsmen for their intellectual property. Each motif formed from each batik craftsman has extraordinary potential in terms of beauty, local wisdom, and meaning of life. Batik motifs become a very decisive element because from the motif, we will know whether batik has a "spirit" or not. This service activities has aim to explore and demonstrate the potential wealth of batik motifs owned by the Sido Luhur batik association so that it can be used as a medium for product quality improvement and product promotion media. The activity method consists of 3 steps: discussion, socialization, and intense mentoring. The results of community service activities have a positive impact on associations, such as increasing the member’s creativity, number of modern motifs created, and ability to maintain product quality. Beside that, the community service activities also can compile product catalogs of all batik motifs and have a strong enthusiasm to obtain Intellectual Property Rights in the form Copyright of batik motifs.Keywords: batik motifs, philosophy, utilization.Abstrak. Perkumpulan Batik Sido Luhur Pakualaman memiliki motif batik yang khas yaitu motif Gunung Ketur. Motif Gunung Ketur sendiri berasal dari nilai-nilai histori yang ada di masyarakat Pakualaman. Nilai histori yang diwujudkan dalam bentuk seni motif batik tersebut merupakan salah satu bentuk daya kreativitas pengrajin atas kekayaan intelektual yang dimilikinya, sehingga setiap motif yang terbentuk dari masing-masing pengarjin batik memiliki potensi yang luar biasa dari segi keindahan, kearifan lokal dan makna hidup. Motif batik menjadi unsur yang sangat menentukan karena dari motif itulah dapat diketahui apakah sebuah batik memiliki “roh” atau tidak. Kegiatan pengabdian ini memiliki tujuan untuk menggali dan menunjukkan potensi kekayaan motif batik yang dimiliki oleh perkumpulan batik Sido Luhur sehingga dapat dimanfaatkan sebagai media peningkatan kualitas produk dan media promosi produk. Metode kegiatan terdiri dari 3 langkah yaitu diskusi, sosialisasi dan pendampingan secara intens. Hasil kegiatan pengabdian memberikan dampak yang positif bagi perkumpulan, diantaranya meningkatkan daya kreatifitas anggota, menambah jumlah motif modern yang diciptakan, menambah kemampuan untuk menjaga kualitas produk, tersusunnya katalog produk dari semua motif batik yang dimiliki serta memiliki semangat yang kuat untuk mendapatkan Hak Kekayaan Intelektual berupa Hak Cipta motif batik.Kata Kunci: motif batik, filosofi, pemanfaatan.
Page of 4
Articles per Page
by
Show export options
  Select all
Back to Top Top