Refine Search

New Search

Results in Journal Dunia Keperawatan: Jurnal Keperawatan dan Kesehatan: 132

(searched for: journal_id:(517296))
Page of 3
Articles per Page
by
Show export options
  Select all
Krisna Yetti Malawat, Laras Adythia Pratiwi, Dewi Gayatri
Dunia Keperawatan: Jurnal Keperawatan dan Kesehatan, Volume 8, pp 511-517; doi:10.20527/dk.v8i3.9389

Abstract:
Perilaku Perawat memiliki pengaruh yang kuat terhadap kebutuhan dan keberhasilan edukasi pasien yang bertujuan mengidentifikasi determinan perilaku perawat dalam pemberian edukasi pasien dengan desain cross sectional. Penelitian menggunakan total sampling dengan 210 sampel sesuai dengan kriteria inklusi. Instrumen yang digunakan merupakan modifikasi dari berbagai tinjauan literatur yang kemudian diuji validitas dan reliabilitas. Mayoritas perawat memiliki karakteristik sebagai berikut: berjenis kelamin perempuan, berumur < 35 tahun, pendidikan D3 Keperawatan, memiliki total pengalaman < 10 tahun, berstatus PNS, sudah mengikuti pelatihan (dalam tiga tahun belakangan), tetapi memiliki pengetahuan yang kurang terkait pemberian edukasi pasien. Terdapat hubungan antara umur, pencapaian, kebijakan, kondisi kerja, supervisi, dukungan sosial, dan fungsi perencanaan kepala ruangan dengan perilaku perawat dalam pemberian edukasi pasien (p=0,001-0,037), variabel yang paling dominan mempengaruhi perilaku perawat dalam pemberian edukasi pasien adalah dukungan sosial (OR= 5,186). Manajer keperawatan beserta seluruh jajaran rumah sakit perlu membuat program penunjang pemberian edukasi pasien, melengkapi segala sarana dan prasarana yang ada, beserta mempersiapkan sumber daya yang kompeten.
Arista - Maisyaroh, Eko Prasetya Widianto, Rizeki Dwi Fibriansari, Lailatul Sholeha, Novita Tri Handayani
Dunia Keperawatan: Jurnal Keperawatan dan Kesehatan, Volume 8, pp 490-498; doi:10.20527/dk.v8i3.8050

Abstract:
Alat dan mesin pertanian saat ini banyak digunakan di pertanian untuk meningkatkan produktivitas, akan tetapi angka trauma akibat penggunaan nya juga masih tinggi, Petani terbatas kemampuan dalam penanganan kejadian trauma di area pertanian, menyebabkan peningkatan resiko morbiditas dan mortalitas. Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan kemampuan petani melakukan perawatan luka akibat trauma di area pertanian dengan menggunakan pendekatan Population Centered Health Nursing Care (CHNC). Penelitian menggunakan desain quasi eksperimental pre and post. Kelompok perlakukan 125 petani dari Candipuro dan kelompok control 125 petani dari pasirian, tekung, senduro, dan sumbersuko. Hasil analisis bivariat menggunakan uji Mann-Whitney U pada kelompok perlakuan diperoleh nilai significancy 0,000 (p0,05), disimpulkan bahwa efektifitas peningkatan kemampuan petani setelah diberikan pelatihan melalui pendekatan Population Centered Health Nursing Care. Pengembangan model peningkatan keamanan dan keselamatan petani dilakukan dengan mengembangkan kader kesehatan di kelompok tani .
Irmina Ika Yuniarti, I Made Kariasa
Dunia Keperawatan: Jurnal Keperawatan dan Kesehatan, Volume 8, pp 452-459; doi:10.20527/dk.v8i3.8256

Abstract:
Stroke dapat menyebabkan kematian dan menimbulkan dampak kecacatan. Self management dengan dukungan keluarga diperlukan untuk beradaptasi dengan kondisi pasca stroke serta mencegah stroke berulang. Dukungan keluarga mempunyai peran untuk keberhasilan self management. Tujuan : literature review bertujuan untuk mengidentifikasi dan menganalisa peran penting dari dukungan kelurga terhadap self management pasien pasca stroke. Desain : naratif literature review. Metode: analisis penelitian yang diterbitkan pada data base online ProQuest, EBSCO, Google scholar dan Scopus, CINAHL, MEDLINE, Science direct. Penelitian dipilih menggunakan kriteria dan kata kunci periode 2015-2019. Sembilan penelitian dilakukan analisa menggunakan proses literature review. Hasil: Dukungan keluarga yang dapat diberikan pada pasien stroke dalam melaksanakan self management meliputi: dukungan terhadap manajemen penyakit, dukungan terhadap manajemen peran, dukungan terhadap manajemen emosi Kesimpulan : dukungan yang kuat dari keluarga diperlukan untuk meningkatkan self management pada pasien stroke karena keluarga merupakan pendamping utama pasien dalam beradaptasi dengan perubahan yang terjadi pasca stroke.
Stepanus Maman Hermawan, Hany Wihardja
Dunia Keperawatan: Jurnal Keperawatan dan Kesehatan, Volume 8, pp 406-416; doi:10.20527/dk.v8i3.7818

Abstract:
Stroke merupakan penyebab ketiga tertinggi kematian di dunia. Kecacatan dan kelumpuhan jangka panjang menjadi beban bagi penderita stroke yang hidup. Kecacatan diakibatkan oleh kelemahan otot dan syaraf ekstremitas atas dan bawah. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi hubungan karakteristik individu dan riwayat stroke pertama dengan kekuatan otot pasien stroke di unit rawat jalan dan inap, rumah sakit pemerintah di Kalimantan Barat. Penelitian ini menggunakan pendekatan analisis deksriptif cross-sectional dengan kuesioner dan Manual Muscle Testing (MMT). Total sampel pada penelitian ini sebanyak 99 responden. Penelitian ini dilakukan pada bulan April hingga Juni tahun 2018. Hasil uji statistik menunjukkan terdapat hubungan yang signifikan antara umur (p=0,026), jenis kelamin (p=0,029), dan riwayat stroke (p=0,036) dengan kekuatan otot. Kekuatan otot dapat ditingkatkan dengan latihan penguatan yang dilakukan secara konsisten dan berulang. Latihan ini juga harus disesuaikan dengan usia, jenis kelamin, dan keadaan atropi otot yang dialami pasien sebelumnya untuk mencegah kecacatan jangka panjang.
Fitrio Deviantony
Dunia Keperawatan: Jurnal Keperawatan dan Kesehatan, Volume 8, pp 346-353; doi:10.20527/dk.v8i3.7731

Abstract:
Banjir dan tanah longsor adalah bencana yang menyebabkan banyak kerusakan yang berkaitan dengan lingkungan, dan ada peningkatan jumlah morbiditas, serta jumlah kerusakan dari lingkungan yang terjadi, dan akan mempengaruhi psikologi masyarakat yang terkena dampak bencana. Efek psikologis dari peristiwa yang tidak biasa ini tidak diragukan lagi akan menyebabkan trauma atau apa yang disebut gangguan stress pasca trauma (PTSD). Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi pengalaman petani yang mengalami banjir langsung dan tanah longsor; desain penelitian yang digunakan adalah desain penelitian kualitatif menggunakan pendekatan fenomenologi interpretatif. Teknik pengumpulan data yang digunakan yaitu wawancara mendalam dengan panduan wawancara semi-terstruktur yang melibatkan lima peserta, dan data dianalisis menggunakan analisis fenomenologi interpretatif. Hasil dari penelitian ini mendapatkan enam tema. Pertama adalah bencana yang disebabkan oleh manusia, tema kedua adalah menerima kenyataan yang ada, tema ketiga semakin dekat dengan Allah, tema keempat memiliki keinginan untuk bertani lagi setelah bencana, tema kelima adalah memulihkan ekonomi keluarga, dan tema keenam adalah menjaga lingkungan di sekitar dan meningkatkan diri mereka sendiri. Mengingat dampak yang akan timbul dari kondisi ini, jika tidak mendapatkan perawatan yang tepat, diperlukan peran petugas kesehatan dalam memberikan layanan kepada petani yang terkena dampak banjir dan tanah longsor untuk memahami, hidup dan menerima kondisi yang terjadi serta mampu beradaptasi dengan baik, karena jika tidak diatasi dengan baik maka tidak diragukan lagi akan mempengaruhi psikologi masyarakat yang terkena dampak bencana. Efek psikologis dari peristiwa yang tidak biasa ini tidak diragukan lagi akan menyebabkan trauma atau apa yang disebut gangguan stres pascatrauma (PTSD).
Sholihatul Amaliya
Dunia Keperawatan: Jurnal Keperawatan dan Kesehatan, Volume 8, pp 337-345; doi:10.20527/dk.v8i3.8663

Abstract:
Sepsis neonatorum banyak dialami neonatus dengan angka kematian dan kesakitan yang tinggi. Tanda klinis sepsis neonatorum bersifat non-spesifik sehingga identifikasi karakteristik bayi dan ibu yang dapat meningkatkan risiko bayi mengalami sepsis penting dilakukan. Penelitian bertujuan mengidentifikasi karakteristik ibu dan bayi dengan sepsis yang dirawat di salah satu rumah sakit Pendidikan di Jawa Timur. Metode penelitian menggunakan deskriptif retrosspektif dengan data sekunder laporan asuhan keperawatan mahasiswa tahap pembelajaran profesi Ners. Penelitian melibatkan 17 responden dengan convinience sampling. Kriteria inklusi bayi dengan diagnosis medis sepsis dan dirawat di ruang bayi. Hasil penelitian 53% bayi mengalami sepsis neonatus awitan dini, lahir prematur (53%) dan memiliki berat badan lahir rendah (65%). Karakteristik ibu 53% menjalani persalinan spontan dan mengalami masalah kesehatan (59%) seperti infeksi, hipertensi dan perdarahan. Kesimpulan dari penelitian ini mayoritas bayi yang mengalami sepsis lahir dalam kondisi prematur dan BBLR dengan karakteristik ibu mayoritas persalinan spontan dan mengalami masalah kesehatan selama hamil.
Daniswara Setiarta, Titih Huriah
Dunia Keperawatan: Jurnal Keperawatan dan Kesehatan, Volume 8, pp 328-336; doi:10.20527/dk.v8i3.8368

Abstract:
Patient safety is the key to maintain the quality of health services. One of the most important things to achieve patient safety is to identify medication errors and its causes. Most cases of medication errors are reported by nurses, because nurses are the therapeutic team. The purpose of this study is to determine factors affecting medication error by nurse in giving parenteral therapy at Government Hospital in Magelang. A cross-sectional analytic study was carried out on 67 nurses working in hospital wards. The data were collected using a questionnaire filled by respondents to see medication errors within 3 months. The final number of medication errors were 91 incidents in 3 months. The most frequent errors were wrong time (51.7%), wrong dose (14.2%), wrong document and wrong drug (9.9%), wrong route (8.8%), and the least was wrong patient (5%). Although the medication error incidences were not sentinel events and didn’t affect to SNARs criteria, but it still affecting on the quality of health services in the hospital. The significant independent determinant of medication errors is working experience at Government Hospital in Magelang (p 0,001), while the other determinants are not. Conclusion in this study was significant correlation between work experience in hospital and medication error, where respondents with work experience at Government Hospital in Magelangless than 5 years tend to be at higher risk doing medication errors than those who having worked more or equivalent to 5 years.
Rinco Siregar, Rumondang Gultom, Frida Liharis Saragih
Dunia Keperawatan: Jurnal Keperawatan dan Kesehatan, Volume 8, pp 417-424; doi:10.20527/dk.v8i3.8704

Abstract:
Background : It is importan to promote physical activity for elderly people, but to improve level of physical activity of elderly people is a challange for health workers. Purpose : The purpose of this quasi- experimental study was to determine the effect of exercise consultation program by using Transtheoretical Model (TTM) approach on physical activity level in elderly people at Darussalam’s Community Health Center. Research method :The two comparison groups for this study were purposively designed for pre-test/post-test procedures; sixty elderly people at Darussalam’s Community Health Center with randomly allocated into the experimental (30 people) and the control (30 people) groups. While the experimental group received the exercise consultation for 8 weeks, the control group received routine care. Physical Activity Scale for Elderly (PASE) was use to assess the the physical activity of elderly. Comparative assessments on differences in level of physical activity both within group using Wilcoxson macthed-pairs and between group using Mann Withney U Test. Results : The results of this study found that after receiving exercise consultation program, level of physical activity in elderly people significantly increased in the experimental group (P < 0.05), but there was no significant difference in the control group. Between groups, level of physical activity significantly increased after receiving the exercise consultation while no change was found among those who did not (P < 0.05).Conclusion: The exercise consultation program by using TTM approach could increase level of physical activity of elderly people.
Ahmad Faizal Rangkuti, Feby Indah Nurcahyati
Dunia Keperawatan: Jurnal Keperawatan dan Kesehatan, Volume 8, pp 479-489; doi:10.20527/dk.v8i3.8088

Abstract:
Latar Belakang: Pediculosis capitis merupakan infestasi ektoparasit spesies pediculus humanus capitis yang hidup di kulit kepala manusia dan dapat menimbulkan berbagai masalah bagi penderitanya. Penularannya dibagi menjadi dua yaitu melalui kontak langsung dan tidak langsung. Personal hygiene dan tingkat pengetahuan merupakan faktor risiko terjadinya pediculosis capitis. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan tingkat pengetahuan dan personal hygiene dengan kejadian pediculosis capitis pada santriwati di Pondok Pesantren Binaul Ummah, Bantul, DIY. Metoda: Desain yang digunakan pada penelitian ini adalah analitik observasional dengan pendekatan cross sectional. Teknik sampling yang digunakan pada penelitian ini adalah teknik total sampling yaitu sebanyak 55 santriwati. Hasil penelitian dianalisis secara univariat dan bivariat dengan uji chi square.Hasil: Karakteristik responden umur terbanyak adalah 13 tahun (36,4%) dan kelas terbanyak adalah kelas VIII (41,8%). Santriwati yang memiliki tingkat pengetahuan rendah (56,4%) dan Personal hygiene tidak baik (63,6%). Kejadian pediculosis capitis positif adalah 74,5%. Hasil uji statistik chi square tingkat pengetahuan p value = 0,034 dan personal hygiene p value = 0,028 yang artinya p value <0,05. Kesimpulan: Ada hubungan antara tingkat pengetahuan dan personal hygiene dengan kejadian pediculosis capitis pada santriwati pondok pesantren Binaul Ummah, Bantul, DIY. Peneliti menyarankan bagi pihak pengelola pondok pesantren agar mengupayakan penyediaan fasilitas pos kesehatan pesantren (Poskestren) sehingga para santriwati dapat memperoleh pengobatan maupun informasi kesehatan khususnya mengenai pediculosis capitis.
Nuridha Fauziyah, Rr Tutik Sri Hariyati, Umi Fatmawati
Dunia Keperawatan: Jurnal Keperawatan dan Kesehatan, Volume 8, pp 442-451; doi:10.20527/dk.v8i3.8859

Abstract:
Salah satu domain penerapan patient-centered-cared yang dapat dilakukan adalah dengan mendengarkan pendapat pasien tentang asuhan keperawatan yang diharapkan serta memotivasi pasien untuk selalu terlibat aktif dalam proses perawatan. Metode pelibatan pasien: feedback pasien dan edukasi Speak-up merupakan cara yang dapat diterapkan di rumah sakit. Studi ini bertujuan menerapkan pengembangan metode pelibatan pasien: feedback pasien dan edukasi speak-up. Metode yang digunakan adalah pilot-study terhadap 57 perawat dengan menggunakan lembar observasi proses feedback pasien dan edukasi Speak-up yang terdiri dari 17 item. Tahapan dimulai dengan identifikasi masalah, analisis fishbone, implementasi dan evaluasi. Implementasi berupa pembuatan panduan, standar prosedur operasional, formulir, dan video role-play. Hasil studi menunjukan bahwa metode pelibatan pasien: feedback pasien dan edukasi speak-up dilakukan dengan capaian 69,42%. Keberhasilan proses pelibatan pasien dipengaruhi adanya keinginan organisasi dan staf untuk mendengarkan pasien, kesiapan untuk berubah, sumber daya yang mendukung, serta dukungan perawat, perawat manajer dan manajemen. Studi ini dapat menjadi dasar penerapan metode baru mengenai proses pelibatan pasien di rumah sakit.
Vergeina Ayu Mandalike Mastur, Hanny Handiyani, Aat Atnikasari
Dunia Keperawatan: Jurnal Keperawatan dan Kesehatan, Volume 8, pp 397-405; doi:10.20527/dk.v8i3.7765

Abstract:
Pelaksanaan peningkatan mutu di rumah sakit masih kurang memuaskan. Masalah ini disebabkan salah satunya adalah dengan belum terlaksana dengan baik pelaksanaan audit keperawatan oleh komite keperawatan. Studi ini bertujuan untuk mengidentifikasi pelaksanaan audit mutu profesi keperawatan di Rumah Sakit A, Jakarta Barat. Metode yang digunakan adalah pilot study pada ruangan keperawatan dengan pelibatan dari perawat manajer dan perawat klinis sebanyak 140 perawat. Dimulai dari tahap pengkajian, wawancara, observasi, penyebaran kuesioner dan focus group disscussion, dan analisis fishbone dengan ditemukan masalah bahwa audit profesi keperawatan yang menjadi tugas subkomite keperawatan berpotensi di tingkatkan. Implementasi yang dilakukan adalah pembuatan pedoman, tim auditor, tools audit dan pelaksanaan audit keperawatan. Hasil: Pelaksanaan audit telah dilaksanakan dengan penentuan topic adalah serah terima antar shift. Belum optimalnya pelaksanaan serah terima antar shift menjadi hasil dari pelaksanaan audit keperawatan. Kesimpulan telah terlaksananya penyusunan pedoman audit mutu keperawatan di RS A, terbentuknya tim auditor dan telah tersusunnya tools dalam pelaksanaan audit keperawatan. Telah dilakukan pelaksanaan audit mutu profesi keperawatan dengan topik serah terima antar shift dan hasilnya bahwa serah terima antar shift berpotensi untuk dioptimalkan. Rekomendasi pengesahan pedoman audit keperawatan, pelaksanaan audit keperawatan dengan topik sesuai dengan kebutuhan komite keperawatan dan re-audit secara berkala. Dukungan dan komitmen dari setiap staf manajerial serta adanya kepedulian dan komitmen dari perawat klinis dapat membangun perubahan bagi rumah sakit.
Evelin Malinti, Yunus Elon, Imanuel Sri Mei Wulandari
Dunia Keperawatan: Jurnal Keperawatan dan Kesehatan, Volume 8, pp 425-434; doi:10.20527/dk.v8i3.8277

Abstract:
Status kesehatan individu dapat dicerminkan dari tekanan darah. Banyak faktor yang dapat mempengaruhi tekanan darah. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi faktor-faktor resiko tekanan darah pada orang dewasa di desa Cihanjuang Rahayu. Dengan pendekatan potong lintang, penelitian ini dilakukan pada total 120 responden yang dipilih secara purposive sampling. Pengisian kuesioner dan pengukuran tinggi badan dan berat badan, serta tekanan darah dilakukan untuk memperoleh data dalam penelitian ini. Lebih dari setengah responden memiliki tekanan darah diatas normal yang tergolong meningkat dan hipertensi. Faktor usia, pekerjaan dan IMT memiliki hubungan yang siknifikan dengan tekanan darah sistolik dan diastolik (p<.05). Tingkat pendidikan dan status pernikahan secara siknifikan berhubungan dengan tekanan darah sistolik (p<.05). Sedangkan tingkat pendapatan dan aktifitas fisik memiliki hubungan siknifikan dengan tekanan darah diastolik (p<.05). Tidak terdapat hubungan signifikan (p>.05) tingkat stress, merokok, minum kopi, jenis kelamin, dan riwayat keluarga dengan tekanan darah. Melakukan pola hidup yang sehat sangat penting ditanamkan kepada masyarakat untuk mencegah dan mengontrol tekanan darah tinggi.
Kristina Kristina, Theresia Tutik Ismiati
Dunia Keperawatan: Jurnal Keperawatan dan Kesehatan, Volume 8, pp 499-510; doi:10.20527/dk.v8i3.8433

Abstract:
Latar belakang : Pengetahuan yang memadai tentang asuhan keperawatan merupakan syarat utama dalam merawat pasien, dibutuhkan bahan pembelajaran yang menarik dan interaktif sehingga mahasiswa keperawatan dapat belajar dengan baik dan memahami asuhan keperawatan yang akan diberikan. Tujuan : Penelitian ini bertujuan untuk menyediakan pilihan bahan pembelajaran menarik berupa komik interaktif tentang asuhan keperawatan pada pasien dengan kanker. Metode penelitian : penelitian ini menggunakan true experimental design dengan post test-only control design. Terdapat 80 responden mahasiswa keperawatan semester 5, kelompok perlakuan sebanyak 40 responden dan kelompok kontrol sebanyak 40 responden. Tehnik sampling yang digunakan adalah purposive sampling dengan pemilihan sample sesuai dengan kriteria inklusi. Kelompok perlakuan mendapatkan bahan belajar berupa komik keperawatan dan kelompok kontrol diberikan handout. Setelah mendapatkan pengajaran tentang asuhan keperawatan pada pasien kanker sebanyak 2 kali pertemuan, dilakukan evaluasi tertulis dengan kategori soal level kognitif 1 – 3. Nilai mahasiswa diolah menggunakan program SPSS 24 dengan analisis independent t-test. Hasil : hasil analisis menunjukkan setelah menggunakan bahan belajar komik keperawatan pada kelompok perlakuan dan handout pada kelompok kontrol, terdapat perbedaan nilai yang signifikan 000<0.05, dimana hasil belajar pada kelompok perlakuan menunjukkan hasil rata-rata 72,6 dan nilai rata-rata 60.4 pada kelompok kontrol. Kesimpulan : media pembelajaran komik interaktif keperawatan efektif dalam meningkatkan hasil belajar mahasiswa keperawatan.
Indra Adi Sugiatno, Sri Rahayu
Dunia Keperawatan: Jurnal Keperawatan dan Kesehatan, Volume 8, pp 354-364; doi:10.20527/dk.v8i3.8045

Abstract:
Keselamatan pasien merupakan komponen yang penting dalam asuhan serta langkah untuk memperbaiki mutu layanan yang berkualitas. Strategi penerapan patient safety telah dilakukan dengan berbagai upaya di lingkungan rumah sakit. Data keselamatan pasien berdasarkan provinsi terbanyak di Banten 125 laporan, dan Jakarta 105 laporan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan perilaku penerapan patient safety pada perawat di ruang Instalasi Gawat Darurat RSUD dr. Dradjat Prawiranegara tahun 2018. Desain penelitian bersifat cross sectional dimana sampel yang diambil dengan metode total sampling. Populasi penelitian adalah perawat yang ada di ruang IGD RSUD dr. Dradjat Prawiranegara Serang berjumlah 37 orang. Pengumpulan data menggunakan kuesioner. Hasil penelitian univariat menunjukan dari 37 responden sebanyak 30 responden (81,1%) memiliki tingkat pengetahuan yang baik, 21 responden (56,8%) memiliki sikap positif, 30 responden (81,1%) memiliki masa kerja ≥5 tahun, dan 20 responden (54,1%) memiliki perilaku yang baik. Hasil analisa bivariat menunjukkan bahwa ada hubungan yang bermakna antara pengetahuan (nilai P=0,002), sikap (nilai P=0,003) dan masa kerja ≥5 tahun (nilai P=0,027) dengan perilaku penerapan keselamatan pasien pada perawat. Peneliti mengharapkan agar Rumah Sakit mampu melakukan penyegaran kembali tentang penerapan keselamatan pasien (patient safety) kepada seluruh perawat secara berkala enam bulan sekali.
Hendra Dwi Cahyono, Dewi Irawaty
Dunia Keperawatan: Jurnal Keperawatan dan Kesehatan, Volume 8, pp 386-396; doi:10.20527/dk.v8i3.8222

Abstract:
Background: Chemotherapy induced Alopecia (CIA) is one of the most complained and cause the highest distress in breast cancer patients with chemotherapy. Cryotherapy or Scalp Cooling is an alternative intervention to reduce metabolism of cytotoxic agents against hair follicle by lowering the temperature of the scalp. Literature that discusses the effectiveness of Cryotherapy in breast cancer patients is still limited.Objective: Summarize and investigate the effect of Cryotherapy on preventing Chemotherapy induced Alopecia in breast cancer patients and its determinant factors of successfull Cryotherapy . Design: Literature ReviewData Sources: A search was performed by using Ebscohost, Scopus, Science Direct, and ProQuest database from 2009 to 2019 for research article.Review methods: A systematic process was used to analyze and extract data include studies using CASP.Result: From 278 articles that have been observed using CASP, only 10 articles match the inclusion criteria. Total respondents in 10 articles were 1201 breast cancer patients undergoing chemotherapy. All articles used in this study showed positive results about the effect of Cryotherapy on decreasing the severity of Chemotherapy Induced Alopecia (CIA) measured by hair preservation, hair loss, hair regrowth, and decreasing use a wig or head covering. The importance of continuously monitoring the patient's condition to manage the side effects caused by Cryotherapy such as headaches, cold, and nausea.Conclusion:Cryotherapy significantly reduce the severity of CIA by inhibit the process of mitosis and vasoconstriction. There are several factors that must be considered when giving Cryotherapy, such as type of chemotherapy, dosages, device, duration of administration, and temperature. For further research, it is important to considered some factors that can affect the successfull of Cryotherapy and the patient response
Frima Ulfa Agustina, Tuti Afriani, Hanny Handiyani
Dunia Keperawatan: Jurnal Keperawatan dan Kesehatan, Volume 8, pp 468-478; doi:10.20527/dk.v8i3.7768

Abstract:
Kejadian jatuh merupakan hal yang harus dicegah pada saat pasien mendapatkan perawatan di rumah sakit. Perawat harus patuh terhadap Standar Operasional Prosedur (SOP) untuk mencegah terjadinya insiden keselamatan pasien tersebut. Salah satu cara untuk meningkatkan kepatuhan perawat tersebut adalah dengan supervisi keperawatan. Metode yang digunakan adalah pilot project dengan inovasi. Implementasi berupa pembuatan draft instruksi kerja supervisi, draft instrumen supervisi, buku saku sasaran keselamatan pasien, sosialisasi inovasi terhadap 46 orang yang terdiri dari bidang pelayanan keperawatan, komite keperawatan, kepala instalasi, kepala ruangan, leader dan perawat pelaksana. Hasil studi melalui evaluasi input project berupa wawancara 2 ketua tim dan 3 perawat pelaksana memperlihatkan bahwa supervisi kepala ruangan dengan menggunakan instrumen dan instruksi kerja supervisi pengurangan risiko jatuh akan membantu meningkatkan pengetahuan perawat tentang Standar Operasional Prosedur (SOP) Pengurangan Risiko Jatuh di Rumah Sakit. Kesimpulan: peningkatan pengetahuan perawat tentang pengurangan risiko jatuh dipengaruhi oleh fungsi supervisi kepala ruangan sebagai perawat manajer lini pertama. Rekomendasi: studi ini menjadi dasar penerapan supervisi sasaran keselamatan pasien khususnya pengurangan risiko jatuh.
Elfina Natalia, Maria Floriana Ping
Dunia Keperawatan: Jurnal Keperawatan dan Kesehatan, Volume 8, pp 435-441; doi:10.20527/dk.v8i3.9163

Abstract:
Kemenkes (2015) melakukan pemantauan status gizi dengan hasil Kalimantan Timur memiliki 26,7% anak yang mengalami stunting, dimana 18,3% tergolong pendek dan 8,4% sangat pendek. Stunting erat kaitannya dengan asupan zat gizi yang rendah akibat dari perilaku pemberian makan yang tidak tepat, hal ini dipengaruhi oleh pengetahuan gizi ibu dan kearifan lokal. Penelitian ini bertujuan melihat keterkaitan dan implikasi yang ditimbulkan kearifan lokal dan pengetahuan ibu terhadap status gizi dan pola makan pada stunting anak usia preschool. Menggunakan metode observasional analitik dengan kombinasi metode kuantitatif dan kualitatif dengan jumlah responden 50. Uji regresi logistik memaparkan terjadinya stunting yang dominan dipengaruhi oleh pengetahuan ibu tentang gizi dengan nilai p=0,027 dan OR=3,801. Sedangkan data kualitatif mengungkapkan adanya persepsi yang keliru terkait tumbuh dan kembang pada anak usia preschool. Analisis ini menginformasikan bahwa pengetahuan dan persepsi ibu yang keliru tentang gizi memiliki hubungan erat dengan kejadian stunting pada anak usia preschool.
Aby Yazid Al Busthomy Rofi'i, Agung Waluyo, Masfuri Masfuri, Umi Aisyiyah
Dunia Keperawatan: Jurnal Keperawatan dan Kesehatan, Volume 8, pp 365-374; doi:10.20527/dk.v8i3.8297

Abstract:
Fracture atau patah tulang menjadi bagian gangguan musculoskeletal, salah satu penyebab utama seseorang mendatangi ke layanan kesehatan. Fraktur tibia merupakan 17-21% dari seluruh fraktur ekstremitas bawah dan 3%-13% dari fraktur tibia dikelompokkan sebagai fraktur segmental. Virginia Henderson mengemukakan teori kebutuhan dasar manusia yang sesuai digunakan sebagai dasar pengkajian keperawatan. Studi ini bertujuan untuk menggambarkan aplikasi teori Henderson dalam pengkajian keperawatan pasien gangguan muskuloskeletal. Metode yang digunakan adalah studi kasus sederhana dengan instrumen pengkajian berdasarkan 14 domain kebutuhan dasar manusia sesuai teori Henderson. Hasil pengkajian menunjukkan terdapat kebutuhan dasar yang bermasalah yaitu kebutuhan bergerak dan mempertahankan postur, proteksi dan hygiene serta rasa aman dan nyaman. Analisis kelompok data dengan Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia didapatkan lima diagnosis keperawatan yang sesuai. Hasil studi menunjukkan pendekatan teori Henderson dapat digunakan sebagai model pengkajian, khususnya dalam kasus mukuloskeletal. Diperlukan studi lanjutan untuk mendapatkan bentuk baku model pengkajian keperawatan berdasarkan teori kebutuhan dasar Henderson.
Emdat Suprayitno, Cory Nelia Damayanti
Dunia Keperawatan: Jurnal Keperawatan dan Kesehatan, Volume 8, pp 460-467; doi:10.20527/dk.v8i3.9067

Abstract:
Hipertensi merupakan faktor risiko utama kematian penyakit kardiovaskular, berasal dari faktor genetik, lingkungan, dan sosial. Strategi intervensi sangat dibutuhkan untuk meningkatkan kesadaran dan perawatan diri. Tujuan penelitian ini untuk menganalisis pengaruh intervensi supportive educative berbasis caring terhadap self care management penderita hipertensi. Desain penelitian ini adalah quasi experimental. Populasi yaitu seluruh lansia penderita hipertensi sebanyak 71 orang dengan simple random sampling, jumlah sampel sebanyak 66 orang terbagi menjadi 2 kelompok yaitu kelompok perlakuan sebanyak 33 orang diberikan intervensi supportive educative berbasis caring dan sebanyak 33 orang kelompok kontrol diberikan leaflet tentang penyakit hipertensi. Hasil penelitian berdasarkan uji independent t test skor selfcare management pada kelompok perlakuan dan kontrol setelah intervensi yaitu p=0,000. Skor selisih delta skor selfcare management pada kelompok perlakuan dan kontrol setelah intervensi yaitu p=0,000. Hasil penelitian ini menunjukkan intervensi supportive educative berbasis caring efektif meningkatkan self care management penderita hipertensi, intervensi ini bisa menjadi upaya promotif untuk meningkatkan kemandirian perawatan diri pada penderita hipertensi.
Azis Fahruji, Krisna Yetti, Dudi Mashudi
Dunia Keperawatan: Jurnal Keperawatan dan Kesehatan, Volume 8, pp 375-385; doi:10.20527/dk.v8i3.8064

Abstract:
Evaluasi merupakan komponen esensial dari proses pendidikan berkelanjutan. Program Pendidikan Keperawatan Berkelanjutan (PKB) non-formal, terdiri dari seminar, pelatihan, workshop, konferensi, simposium dll. Perawatan pasien fase terminal (akhir kehidupan) adalah pengetahuan tentang masalah yang terkait dengan penyakit dan kematian, kompetensi keperawatan diperlukan untuk mengelola situasi dinamis dan kompleks seputar perawatan akhir kehidupan sehingga perawat yang merawat pasien selama berhari-hari merasa tidak siap memberikan perawatan pada akhir kehidupan. Tujuannya untuk Mengevaluasi pelaksanaan pasca pendidikan keperawatan berkelanjutan pada perawatan pasien akhir kehidupan dengan mengunakan fishbone. Desain studi kasus dengan menggunakan distribusi frekuensi dari hasil tes, kuesioner dan audit dokumentasi dengan 75 sampel kemudian dianalisis menggunakan fishbone. Hasil tes menunjukan nilai > 85 (54,7%), pemahaman asesmen awal menunjukan nilai > 85 (37,3%), hasil audit dokumentasi menunjukkan tidak ada dokumentasi 94% dan ada dokumentasi 6%. Komite keperawatan sebagai promotor pelaksanaan kegiatan berkoordinasi dengan bidang keperawatan dan manajer keperawatan dalam pelaksanakan evaluasi setiap program pendidikan berkelanjutan.
Ika Permanasari, Jannaim Jannaim, Yesi Septina Wati
Dunia Keperawatan: Jurnal Keperawatan dan Kesehatan, Volume 8; doi:10.20527/dk.v8i2.8149

Lola Illona Elfani Kausar, Astuti Yuni Nursasi
Dunia Keperawatan: Jurnal Keperawatan dan Kesehatan, Volume 8, pp 162-177; doi:10.20527/dk.v8i2.8200

Abstract:
Tuberkulosis paru merupakan penyakit dengan prevalensi tinggi dan terus mengalami peningkatan setiap tahunnya, baik di Indonesia maupun di dunia. Prevalensi secara global mencapai 10 juta kasus pada tahun 2017 dengan 1,3 juta kematian, sedangkan di Indonesia mencapai hingga 1.017.290 kasus. Hal ini menyebabkan TB paru menjadi salah satu penyebab utama kematian di dunia. Penyebab penyakit ini terus meningkat adalah penularan yang mudah serta faktor individu dan sosial yang rentan. Banyak permasalahan yang ditimbulkan TB paru, terutama permasalahan kesehatan fisik pasien yang dapat menimbulkan berbagai dampak negatif. Sehingga regimen pengobatan saja tidak cukup dalam penanggulangan penyakit ini, melainkan memerlukan intervensi lain seperti program rehabilitasi paru. Penelitian ini bertujuan memperoleh gambaran kesehatan fisik pasien TB paru dengan metode literature review terhadap studi yang relevan, diambil dari artikel terpublikasi dan terindeks internasional Scopus periode tahun 2014-2019 dengan bahasa inggris dan dapat diakses full text, dengan kata kunci status kesehatan fisik TB paru, rehabilitasi TB paru, dan tuberkulosis paru. Analisis dilakukan dengan seleksi artikel yang sesuai dengan kriteria inklusi yang ditetapkan peneliti sehingga diperoleh 11 artikel. Analisis menggambarkan bahwa pada pasien TB paru terdapat permasalahan kesehatan fisik yang tidak dapat diabaikan meliputi penurunan berat badan, nyeri dan ketidaknyamanan, kelelahan dan kelemahan fisik, kurang berenergi dan penurunan kemampuan aktivitas sehari-hari, gangguan istirahat dan tidur, dan penurunan kemandirian dalam mobilitasisi. Hasil telaah beberapa studi tersebut dapat digunakan perawat untuk merancang intervensi yang sesuai dengan pendekatan pencegahan primer dan sekunder dengan tujuan akhir adalah meningkatkan status kesehatan pasien.
Lita Heni Kusumawardani, Rasdiyanah Rasdiyanah, Utami Rachmawati, Muhamad Jauhar, I Gusti Ayu Putu Desy Rohana
Dunia Keperawatan: Jurnal Keperawatan dan Kesehatan, Volume 8, pp 259-268; doi:10.20527/dk.v8i2.8555

Abstract:
Stunting is a growth disorder in children caused by malnutrition for a long time. The child's condition becomes shorter than normal children his age and has a delay in thinking. The incidence of stunting in Indonesia is quite high sostunting is becoming a priority health problem now. An effective strategy is needed to control stunting in Indonesia. The aim of this review was to explore the stunting management strategies to potentially implement in Indonesia.A literature review design was used to explore the stunting management strategies. Literature study of 15 articles retrieved from the journal database of Science Direct, Proquest, Scopus, and EBSCO in the last 5 years using keywords stunting, management, rural areas, and community based. Data were analyzed in tables consist of title, author, year, sample, methodology, and result. Control and preventionstunting could done through integrated nutrition interventions.Strategy Specific nutritional interventions such as providing supplementation and supplementary food plus nutritional interventions including non-health interventions, improving the family's economy, access and utilization of clean water, sanitation (especially latrines and safe septic tanks), which are urgently needed to support personal hygiene behavior and the environment . Interventions can use mother's counseling and support methods regularly by health workers by involving health cadres.Specific and sensitive intervention strategies are effective strategies within stunting control and prevention. Monitoring and evaluation of nutritional knowledge, attitudes and practices coupled with an assessment of the nutritional status and morbidity of mothers and children is also very necessary in controlling and preventing stunting in Indonesia
Andi Nur Aina, Sigit Mulyono, Uswatul Khasanah
Dunia Keperawatan: Jurnal Keperawatan dan Kesehatan, Volume 8, pp 243-252; doi:10.20527/dk.v8i2.8285

Abstract:
Tuberkulosis (TB) merupakan salah penyakit menular berbahaya yang menjadi salah satu penyebab kematian utama dibeberapa negara berkembang diseluruh dunia. Terdapat 10 juta angka kejadian penyakit ini dan 1,5 juta orang meninggal setiap tahunnya, oleh sebab itu penyakit TB menjadi penyakit infeksius terkenal didunia. TB Paru masih menjadi masalah yang sulit ditangani oleh pemerintah. Berbagai upaya untuk mengatasi dan menanggulangi TB. Tugas kesehatan keluarga menjadi salah satu intervensi dalam merawat klien dengan TB paru.Tujuan penelitian ini adalah untuk meningkatkan kemandirian keluarga pada klien TB Paru melalui tugas kesehatan keluarga di wilayah kerja Puskesmas Telaga Biru. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan design pre test and post test with control group. Populasi dalam penelitian ini adalah keluarga dengan TB paru. Tekhnik pengambilan sampel menggunakan probablitity sampling dengan tekhnik sampling cluster sampling. Jumlah sampel yang digunakan sebanyak 20 keluarga kelompok intervensi dan 20 keluarga kelompok kontrol, sampel total 40 keluarga. penelitian ini telah lulus uji etik dari komite etik penelitian keperawatan Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Muhammadiyah Jakarta dengan no. 0191/F.9-UMJ/II/2019. Analisa data menggunakan paired t test dan independent t test. Hasil dari penelitian ini didapatkan mayoritas karateristik responden berdasarkan jenis Usia dewasa akhir 36 - 45 tahun (32,5%) , berjenis kelamin perempuan (67,5%), tingkat pendidikan rendah (60%). Adapun perbedaan ratarata tingkat kemandirian keluarga sesudah intervensi pada kelompok intervensi dan kelompok kontrol dengan nilai p value 0,001. Dalam meningkatkan kemandirian keluarga diperlukan pemahaman, pengetahuan terkait penyakit yang diderita sehingga menimbulkan perubahan perilaku dalam hal perawatan dan pemeliharaan kesehatan.
I Wayan Gede Saraswasta, Rr Tutik Sri Hariyati, Umi Fatmawati
Dunia Keperawatan: Jurnal Keperawatan dan Kesehatan, Volume 8, pp 199-207; doi:10.20527/dk.v8i2.8024

Abstract:
Kualitas dokumentasi keperawatan menunjukkan akuntabilitas perawat dalam memberikan asuhan keperawatan kepada pasien. Namun pelaksanaan dokumentasi keperawatan di rumah sakit X masih di bawah standar yaitu sebesar 58% sehingga diperlukan optimalisasi pelaksanaan dokumentasi keperawatan. Tujuan penulisan ini adalah mendeskripsikan proyek inovasi untuk mengoptimalkan pelaksanaan dokumentasi keperawatan. Metode yang digunakan adalah pilot study terhadap 70 dokumentasi keperawatan. Proses dimulai dari identifikasi masalah, analisis masalah, plan of action, implementasi, serta evaluasi. Kualitas dokumentasi keperawatan diukur menggunakan instrument audit dokumentasi keperawatan. Implementasi berupa penyusunan panduan, standar prosedur operasional (SPO), sosialisasi, uji coba, pendampingan serta pembuatan video roleplay dokumentasi keperawatan. Hasil studi menunjukkan adanya peningkatan pelaksanaan dokumentasi keperawatan sebesar 11,40%. Kesimpulan yaitu pelaksanaan proyek inovasi dapat meningkatkan pelaksanaan dokumentasi keperawatan. Rekomendasi yaitu menggunakan panduan, SPO dan video roleplay sebagai referensi dalam melakukan dokumentasi keperawatan.
Akbar Harisa, Putri Wulandari, Syahrul Ningrat, Yodang Yodang
Dunia Keperawatan: Jurnal Keperawatan dan Kesehatan, Volume 8, pp 269-276; doi:10.20527/dk.v8i2.8324

Abstract:
Congestive Heart Failure dapat menimbulkan dampak dalam kehidupan pasien secara psikologis. Dampak yang sering ditimbulkan dari segi psikologis salah satunya depresi. Terapi murottal Al-Qur’an merupakan salah satu jenis terapi nonfarmakologis yang digunakan untuk menurunkan depresi karena dapat menimbulkan respon relaksasi bagi yang mendengarkannya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh terapi murottal terhadap skor depresi pada pasien Congestive Heart Failure di Pusat Jantung Terpadu RSUP Dr. Wahidin Sudirohusodo. Metode penelitian ini merupakan jenis penelitian Quasi experimental dengan rancangan penelitian yang digunakan adalah Time Series With Control Group Design. Responden sebanyak 36 dibagi menjadi 2 kelompok, masing-masing kelompok 18 responden. Instrumen yang digunakan adalah kuesioner Hamilton Anxiety and Depression Scale. Data dianalisis menggunakan uji Wilcoxon. Hasil penelitian ini didapatkan nilai p<0,05. Artinya secara umum ada pengaruh intervensi terapi murottal terhadap skor depresi. Kesimpulan adalah terapi murottal Al-Quran dapat menurunkan skor depresi pada pasien Congestive Heart Failure. Oleh karena itu, diharapkan pemberi pelayanan perawatan dalam memberikan intervensi keperawatann dengan menggunakan bacaan Al-Quran sebagai terapi komplementer untuk menurunkan skor depresi
Laras Adythia Pratiwi, Krisna Yetti, Dudi Mashudi
Dunia Keperawatan: Jurnal Keperawatan dan Kesehatan, Volume 8, pp 231-242; doi:10.20527/dk.v8i2.7758

Abstract:
Rumah Sakit berkewajiban memfasilitasi pasien dan keluarga dengan pemberian informasi dan edukasi. Edukasi merupakan faktor penunjang partisipasi proses optimalisasi asuhan.Kualitas edukasi dapat ditingkatkan dengan melakukan supervisi. Supervisi merupakan suatu proses mengawasi dan memberikan arahan yang dilakukan supervisor keperawatan guna meningkatkan kualitas pelayanan. Studi kasus ini bertujuan untuk mengoptimalkan pelaksanaan supervisi pemberian edukasi pasien dan keluarga pada RS di Jakarta Selatan. Data dikumpulkan melalui observasi, penyebaran kuesioner dan wawancara tim manajerial. Kemudian dilakukan analisis menggunakan diagram fishbone dan software statistik. Implementasi dilakukan dengan membuat instrumen supervisi pemberian edukasi dan observasi pendokumentasian pemberian edukasi pasien dan keluarga. Hasil: Pelaksanaan supervisi pemberian edukasi serta observasi pendokumentasian masih belum optimal. Kesimpulan: Kualitas pelayanan keperawatan dapat meningkat dengan adanya pelaksanaan supervisi pemberian edukasi sesuai SOP.Rekomendasi: Pedoman, panduan, SOP dan instrumen merupakan acuan dalam mengoptimalkan pelaksanaan supervisi. Perbaikan form edukasi, pengesahan instrumen supervisi dan observasi pemberian edukasi merupakan elemen dalam mencapai kualitas pelayanan keperawatan.
Vema Tiyas Puspita, I Made Kariasa
Dunia Keperawatan: Jurnal Keperawatan dan Kesehatan, Volume 8, pp 294-303; doi:10.20527/dk.v8i2.8253

Abstract:
Stroke merupakan salah satu penyebab utama kematian dan disabilitas di seluruh dunia. Salah satu komplikasi stroke adalah fatigue post stroke (FPS), dimana prevalensi berkisar 25%-85%. Mekanisme FPS belum diketahui secara pasti kemungkinan dapat disebabkan oleh fatigue fisik dan mental. Faktor-faktor yang menyebabkan FPS antara lain disabilitas fisik dan gangguan psikologi. Intervensi baik fisik maupun non fisik belum terbukti secara efektif mengatasi FPS. Tujuan dari studi ini untuk melihat keefektifan intervensi yang bersifat non fisik dalam mengatasi FPS. Studi ini merupakan literature review dengan pencarian artikel menggunakan database Scopus, Ebsco, dan Science Direct dengan kata kunci fatigue post stroke, non-physical intervention, dan stroke management. Kriteria inklusi adalah jurnal full text dalam Bahasa inggris, intervensi pada manusia, penelitian Randomize Control Trial (RCT) atau Quasi experiment, jurnal yang terbit dari tahun 2015-2020 dan penelitian yang mengukur tingkat FPS sebagai tujuan utamanya. Hasil studi literatur didapatkan lima artikel RCT yang sesuai kriteria inklusi, dari kelima artikel didapatkan tiga jenis intervensi yaitu obat psikostimulan, Traditional Chinese Medicine (TCM) dan intervensi psikologi. Meskipun tidak semua intervensi menunjukkan hasil yang signifikan, intervensi dengan modafinil, Cognitive Behavioral Therapy dan TCM dapat menurunkan FPS. Hasil dari telaah literatur dapat dijadikan sebagai bukti dasar dalam penanganan fatigue pada pasien post strok
Kelana Kusuma Dharma, Andi Parellangi, Halina Rahayu
Dunia Keperawatan: Jurnal Keperawatan dan Kesehatan, Volume 8, pp 208-221; doi:10.20527/dk.v8i2.8331

Abstract:
Tujuan Penelitian: Penelitian ini bertujuan menganalisis efektifitas pembiayaan intervensi model adaptasi berbasis pemberdayaan keluarga dalam meningkatkan kapasitas fungsional dan kualitas hidup pasien pasca stroke dibandingkan dengan program rehabilitasi konfensional di rumah sakit. Metode: Penelitian ini adalah penelitian kuasi eksperimen menggunakan desain pre-test dan post-test kontrol group. Peneliti membagi sampel menjadi 2 kelompok yaitu kelompok intervensi yang mendapatkan pemberdayaan keluarga berbasis model adaptasi (caregiver empowerment program based on adaptation model/CEPBAM) dan kelompok kontrol yang mendapatkan program rehabilitasi medik di RS. Metode sampling yang digunakan yaitu stratified random sampling. Sampel berjumlah 56 orang (28 orang perkelompok) yang dihitung menggunakan rumus jumlah sampel untuk menguji hipotesis dua mean kelompok independen. Hasil: Tidak ada perbedaan kapasitas fungsional dan kualitas hidup pasca stroke yang bermakna sebelum dan setelah perlakuan diantara kedua kelompok. Terjadi peningkatan kapasitas fungsional dan kualitas hidup yang bermakna sesudah perlakuan pada setiap kelompok (p=0,001). Rasio efektifitas pembiayaan menunjukkan perlunya pembiayaan sebesar Rp 564.634 untuk meningkatkan 1 nilai kualitas hidup menggunakan intervensi CEP-BAM dan Rp 566.527 menggunakan rehabilitasi di RS. Kesimpulan: Intervensi CEP-BAM dan program rehabilitasi di rumah sakit menunjukkan efektifitas pembiayaan yang sama dalam meningkatkan kapasitas fungsional dan kualitas hidup pasien pasca stroke. Rekomendasi: CEP-BAM dapat digunakan dalam rehabilitasi pasca stroke terutama di wilayah yang tidak memiliki rumah sakit dengan fasilitas unit rehabilitasi medik.
Hilman Syarif, Agung Waluyo, Yati Afiyanti, Muchtaruddin Mansyur
Dunia Keperawatan: Jurnal Keperawatan dan Kesehatan, Volume 8, pp 222-230; doi:10.20527/dk.v8i2.8228

Abstract:
Penurunan fungsi kognitif seringkali memengaruhi keberfungsian, kualitas hidup, dan integrasi penyintas kanker payudara di komunitasnya. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi hubungan penurunan fungsi kognitif terhadap kualitas hidup penyintas kanker payudara pasca-kemoterapi. Penelitian desain crosssectional ini dilakukan di Rumah Sakit Kanker Dharmais. Responden sebanyak 110 yang diidentifikasi menggunakan metode purposif. Kuesioner untuk mengukur fungsi kognitif adalah Montreal Cognitive Assessment (MoCA) versi Indonesia dan EORTC QLQ C30 untuk kualitas hidup. Rerata skor visuospasial/ eksekutif adalah 4,30 (0,80), penamaan 2,76 (0,45), atensi 4,25 (1,16), bahasa 2,39 (0,80), abstraksi 1,63 (0,52), delayed recall 2,17 (1,01), dan orientasi 5,88 (036). Rerata skor kualitas hidup lebih rendah pada kelompok yang mengalami penurunan fungsi kognitif dibandingkan dengan kelompok yang normal, yaitu 56,76 (13,04) dan 79,47 (10,05), p <0.001. Kesimpulan, penurunan fungsi kognitif berkontribusi terhadap kualitas hidup. Rekomendasi, pengkajian fungsi kognitif dilakukan secara rutin oleh perawat dan perlunya intervensi untuk meningkatkan kualitas hidup para penyintas.
Neny Utami, Imami Nur Rachmawati
Dunia Keperawatan: Jurnal Keperawatan dan Kesehatan, Volume 8, pp 277-285; doi:10.20527/dk.v8i2.8151

Abstract:
Kehamilan pre-eklampsia menjadi salah satu penyebab kematian maternal. Kurangnya kesadaran dan pengetahuan untuk melakukan pemeriksaan, perawatan antenatal dan perawatan intrapartum yang tepat baik pada ibu hamil dan keluarga berdampak pada keterlambatan pengambilan keputusan penanganan. Tujuan untuk mendeskripsikan persepsi masyarakat dan tenaga kesehatan tentang kehamilan pre-eklampsia. Metodologi: Literature review. Pencarian basis data yang digunakan adalah ScienceDirect, Scopus, ProQuest dan Pubmed dengan diperoleh 10 artikel dengan metode SPIDER. Kriteria inklusi dalam kajian adalah Persepsi masyarakat dan tenaga kesehatan tentang tentang kehamilan pre-eklampsia, bahasa inggris, fulltext, studi kualitatif, tahun 2014-2019. Literature review menunjukkan masih belum tepatnya pemahaman masyarakat tentang pre-eklampsia dan tenaga kesehatan tentang penanganan pre-eklampsia. Literature review ini merekomendasikan peningkatan pemahaman masyarakat tentang tanda bahaya kehamilan termasuk preeklampsia sehingga dapat mendorong peran masyarakat dalam pencegahan angka kesakitan
Santa Maria Pangaribuan, Josephine Tahasy Barakah
Dunia Keperawatan: Jurnal Keperawatan dan Kesehatan, Volume 8, pp 120-129; doi:10.20527/dk.v8i2.7968

Abstract:
Cervical cancer is caused by human papillomavirus (HPV) but it can be reduced by HPV infection. The aimed of this study was to explore perception and knowledge about HPV, cervical cancer and HPV vaccine in Ciranjang West Java, Indonesia. This was a cross sectional study of 90 adult female in Ciranjang, West Java, Indonesia. A 31 item self-report questionnaire was completed in this study. The reliability of this tool was assessed using Cronbach’s alpa (0.86) and the Kaiser-Meyer-Olkin value was 0.704. A total of 90 questionnaire were distributed, completed and analyzed. Only 42 (46.7%), 69 (76.7%) and 69 (76.7%) of adult female had ever heard of HPV infection, cervical cancer and HPV vaccine respectively. Only 13 (14.4%) knew that HPV can cause herpes and 28 (31.3%) knew that HPV can cause genital warts. Of the 44 adult female knew that there is a vaccine being developed to prevent HPV infection. Generally, the perception, knowledge and attitude about HPV among adult female were low. There is a need for health promotion to improve knowledge, perception and HPV vaccine
I Wayan Artana, Yunik Widiyani, Si Putu Agung Ayu Pertiwi Dewi
Dunia Keperawatan: Jurnal Keperawatan dan Kesehatan, Volume 8, pp 253-258; doi:10.20527/dk.v8i2.8504

Abstract:
Penurunan fungsi fisiologis berbagai sistem organ yang terjadi pada lansia sering mengakibatkan kecemasan yang dapat mengganggu fungsi-fungsi lain di antaranya fungsi sosial dan kesehatannya. Kecemasan yang tidak ditangani dengan baik dapat berlanjut menjadi depresi bahkan sampai melakukan bunuh diri. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh musik gamelan selonding Bali terhadap kecemasan pada lansia yang ada di Banjar Selat, Buahan Kaja, Payangan, Gianyar. Desain yang digunakan pre eksperimental dengan one group pretest-posttest design. Pengambilan sampel menggunakan purposive sampling berjumlah 41 orang lansia. Data kecemasan dikumpulkan menggunakan Hamilton Rating Scale for Anxiety (HARS) di analisis menggunakan uji statistik Wilcoxon Signed Rank Test pada tingkat kepercayaan 95% (α 0,05). Hasil uji Wilcoxon Sign Rank ditemukan p = 0,001, < 0,05. Kesimpulannya adalah ada pengaruh yang signifikan musik gamelan Selonding Bali dalam menurunkan kecemasan lansia. Disarankan dalam upaya menurunkan tingkat kecemasan lansia, dapat menerapkan terapi musik gamelan Selonding.
Putri Nilasari, Rr Tutik Sri Hariyati, Siti Anisah
Dunia Keperawatan: Jurnal Keperawatan dan Kesehatan, Volume 8, pp 178-188; doi:10.20527/dk.v8i2.8026

Abstract:
Asuhan keperawatan yang holistik merupakan asuhan yang seharusnya diberikan oleh perawat. Namun diketahui perawat pernah melewatkan satu dari beberapa kegiatan dalam asuhan keperawatan. Studi ini bertujuan mendeksripsikan pelaksanaan asuhan keperawatan di ruang sub instalasi rawat inap X RS Militer Jakarta. Metode yang digunakan yaitu pilot study melalui 23 dokumen rekam medis, observasi dan wawancara dengan pasien dan keluarga. Tahap dimulai dengan pengkajian awal, analisis fishbone, PDSA (Plan-Do-StudyAction), implementasi dan evaluasi. Implementasi berupa pembuatan draft SPO dan pengoptimalan formulir, sosialisasi, pendampingan, dan video roleplay. Hasil studi menunjukkan terdapat peningkatan pada proses evaluasi jalannya asuhan keperawatan mencapai 78,26%. Sementara pada tindakan keperawatan yang menunjukkan peningkatan yang signifikan pada pemenuhan kebutuhan mandi mencapai 75%, ROM mencapai 70%, duduk di kursi roda dan berjuntai mencapai 100%. Keberhasilan dipengaruhi oleh sumber daya material berupa SPO serta dukungan dan peran dari manajer perawat. Rekomendasi studi ini dapat menjadi dasar dalam pengoptimalan pelaksanaan asuhan keperawatan di rumah sakit.
Novita Agustina, Nani Nurhaeni
Dunia Keperawatan: Jurnal Keperawatan dan Kesehatan, Volume 8, pp 189-198; doi:10.20527/dk.v8i2.7776

Abstract:
Kematian balita disebabkan salah satunya oleh pneumonia setiap tahunnya di dunia dan Indonesia. Pneumonia menyebabkan gangguan pernapasan yang memengaruhi saturasi oksigen. Jika tidak tertangani dengan baik menyebabkan kecacatan dan kematian, maka dibutuhkan intervensi berupa pengaturan posisi yang dapat meningkatkan status kesehatan anak. Tujuan: mengidentifikasi artikel penelitian tentang pengaturan posisi terhadap peningkatan status kesehatan anak pneumonia. Metodenya tinjauan pustaka, yang menganalisis artikel ilmiah dari 3 database: Science Direct, Whiley Online dan Ebscohost. Kata kunci pneumonia, position*, dan oxygenation. Kriteria inklusi research article, tahun 2014-2019 dan bahasa Inggris. Didapatkan 9 jurnal dengan menggunakan perumusan PICO. Hasil: pengaturan posisi semirecumbent, prone, fowler, dan lateral dapat meningkatkan saturasi oksigen, mencegah kejadianVAP dan menstabilkan hemodinamik. Kesimpulan: pengaturan posisi yang tepat adalah posisi semirecumbent, prone, fowler, dan lateral. Dibutuhkan penelitian mengenai efektivitas dari masing-masing posisi terhadap status kesehatan anak dengan pneumonia yang bermanfaat dan dapat diimplementasikan dalam asuhan keperawatan pada anak pneumonia di rumah sakit.
Ade Irma Dahlia, Enie Novieastari, Tuti Afriani
Dunia Keperawatan: Jurnal Keperawatan dan Kesehatan, Volume 8, pp 304-312; doi:10.20527/dk.v8i2.7757

Abstract:
Rumah Sakit wajib melakukan evaluasi kompetensi klinis perawat yang disertai dengan penguatan pengarahan dan monitoring kinerja klinis oleh perawat manajer untuk memastikan bahwa perawat kompeten sehingga dapat memberikan asuhan keperawatan yang aman dan sesuai standar profesi. Tujuan studi ini untuk mempersiapkan Panduan, Standar Operasional Prosedur dan instrumen supervisi klinis keperawatan yang dilakukan secara berjenjang serta mensosialisasikan dan mengevaluasi implementasi panduan dan SPO supervisi klinis berjenjang di RS X. Metode menggunakan pilot study melalui teori perubahan Kurt Lewin dengan analisis masalah menggunakan diagram fishbone. Tahap unfreezing dilakukan dengan mengumpulkan data-data hasil pengkajian masalah manajemen melalui wawancara, observasi dan survey pada perawat rawat inap RS X. Tahap movement yaitu melakukan semua proses perubahan yang tertulis dalam bentuk Plan of Action (POA) bersama pihak RS. Tahap refreezing yaitu panduan dan SPO supervisi keperawatan disahkan oleh pihak RS. Implementasi yang diberikan sebagai solusi permasalahan yaitu membuat panduan dan SPO supervisi klinis keperawatan berjenjang. Rekomendasi bagi rumah sakit yaitu memberikan pelatihan supervisi klinis bagi kepala ruang dan perawat primer, sosialisasi instrumen supervisi yang sudah diperbaiki dan menambahkan supervisi klinis sebagai indikator kinerja bagi kepala ruang dan perawat primer.
Nina Setiawati, Lutfatul Latifah, Aprilia Kartikasari
Dunia Keperawatan: Jurnal Keperawatan dan Kesehatan, Volume 8, pp 286-293; doi:10.20527/dk.v8i2.8471

Abstract:
Lebih dari separuh wanita hamil yang merasa tidak nyaman karena mual dan muntah dilaporkan telah mengalami gangguan tidur selama kehamilan. Durasi tidur yang tidak memadai dan kualitas tidur yang buruk selama kehamilan dapat meningkatkan kehamilan dengan risiko, termasuk gangguan pertumbuhan janin, dan depresi pascapersalinan. Yoga umumnya digunakan untuk relaksasi dan terbukti efektif untuk mengurangi stres dan kecemasan pada wanita hamil sehingga dimungkinkan untuk meningkatkan kualitas tidur bagi wanita hamil. Salah satu bentuk latihan yoga pada ibu hamil adalah pranayama dan postur yoga restoratif. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui apakah pranayama dan postur yoga restoratif efektif untuk meningkatkan kualitas tidur pada wanita hamil. Studi quasy eksperimental dengan kelompok kontrol ini dilakukan pada 58 wanita hamil dengan mual muntah yang didapatkan dengan metode purposive sampling. Responden dibagi menjadi dua kelompok, 29 responden di setiap kelompok. Pranayama dan postur yoga restoratif diberikan pada kelompok intervensi dalam 30 menit selama 7 hari terus menerus. Kualitas tidur diukur oleh Pittsburgh Sleep Quality Index (PSQI). Hasil analisis data menggunakan uji Chi-Square menunjukkan bahwa tidak ada perbedaan dalam skor kualitas tidur ibu hamil sebelum dan sesudah diberi pranayama dan postur yoga restoratif (p>0.05). Wanita hamil trimester kedua dan ketiga yang mengalami mual dan muntah dalam penelitian ini tampaknya tidak mengalami peningkatan kualitas tidur setelah melakukan pranayama dan postur yoga restoratif. Frekuensi dan keteraturan dalam melakukan yoga menjadi poin penting yang perlu diperhatikan untuk hasil yang lebih ba
Ichsan Rizany, Rr Tutik Sri Hariyati, Efi Afiyanti
Dunia Keperawatan: Jurnal Keperawatan dan Kesehatan, Volume 8, pp 320-327; doi:10.20527/dk.v8i2.8875

Abstract:
Nurse satisfaction in hospitals in Indonesia was still low. The low level of nurse discharge was influenced by a number of factors. The purpose of this study was to determine the relationship between nursing scheduling and patient satisfaction at Y Hospital Jakarta. The method used in this study was cross-sectional. The number of samples was 32 nurses (n = 32) through a stratified random sampling technique. The study was conducted at Y Hospital Jakarta. Inclusion criteria included implementing nurses who worked at least 1 year and were willing to become respondents. Data were analyzed by the Pearson correlation test. The results showed that the average patient satisfaction was 73, while the nurse's scheduling was 90.29. These results indicated that nurse satisfaction was still below the minimum service standard (SPM). This result also showed that there was a significant relationship between nursing scheduling and nurse satisfaction (p = 0.040; r = 0.349). The conclusion of this study was that there was a significant relationship between nursing scheduling and nurse satisfaction at Y Hospital. Recommendations were given to hospital managers to improve nurse satisfaction by managing to nurse scheduling properly
Titik Agustiyaningsih, Anggraini Dwi Kurnia, Retno Yunita Larasati
Dunia Keperawatan: Jurnal Keperawatan dan Kesehatan, Volume 8, pp 130-139; doi:10.20527/dk.v8i2.7960

Abstract:
Terdapat 24,03% penduduk Indonesia memiliki berperilaku buang air besar sembarangan. Perilaku ini berpotensi menimbulkan suatu penyakit seperti Water-borne diseases. Penelitian bertujuan untuk mengetahui hubungan antara pengetahuan tentang jamban sehat dan lingkungan fisik dengan perilaku buang air besar sembarangan. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kuantitatif dengan pendekatan cross sectional study. Jumlah responden sebanyak 78 orang dengan menggunakan teknik quota sampling. Analisa data menggunakan uji korelasi spearman rank. Hasil menunjukkan sebagian besar responden berumur 51 - 60 (37%), laki-laki (76%), buruh tani (73%), tamat SD (64%), dan memiliki penghasilan perbulan kurang dari Rp.1.000.000. Hubungan yang signifikan antara pengetahuan tentang jamban sehat dengan perilaku BABS dengan nilai P= 0,000, memiliki hubungan yang kuat dengan nilai r=-0,543, Hubungan yang signifikan antara lingkungan fisik dengan perilaku BABS dengan nilai P= 0,000 memiliki tingkat yang kuat dengan nilai r=0,712. Pengetahuan tentang jamban sehat dan lingkungan yang baik harus terus ditingkatkan untuk mengurangi perilaku BABS pada msyarakat.
Nanda Sartika, Allenidekania Allenidekania
Dunia Keperawatan: Jurnal Keperawatan dan Kesehatan, Volume 8, pp 140-149; doi:10.20527/dk.v8i2.8008

Abstract:
Remaja thalasemia mayor mengalami berbagai masalah psikososial yang berdampak pada menurunnnya kualitas hidup, hubungan interpersonal, harga diri yang mengakibatkan depresi. Tujuan penelitian ini adalah untuk melihat masalah psikososial dan hal-hal yang terjadi pada remaja thalasemia terkait psikososial yang dialaminya. Studi literatur dibuat dengan melakukan analisis pada artikel ilmiah yang dipublikasikan dari tahun 2015-2019 dan berbahasa inggris. Data didapat dari database Scopus, Wiley, Science Direct, Ebsco host, dan Proquest dengan kata kunci psychosocial adolescent, thalassemia, dan quality of life. Hasil studi literatur sebanyak 2.533 artikel dan didapatkan 8 artikel yang sesuai dengan kriteria inklusi dan eksklusi. Hasil telaah ditemukan masalah psikososial pada remaja thalasemia terjadi karena adanya pembatasan aktivitas, tidak percaya diri karena adanya perubahan bentuk wajah dan warna kulit, remaja merasa berbeda dengan saudara kandungnya, dan menurunnya performa sekolah. Ini akan berdampak pada menurunnya kualitas hidupnya. Hasil telaah literatur review dapat dijadikan data dasar dalam pengembangan program konseling dan pendampingan untuk remaja thalasemia mayor
Nyimas Sri Wahyuni, Yeni Rustina
Dunia Keperawatan: Jurnal Keperawatan dan Kesehatan, Volume 8, pp 150-161; doi:10.20527/dk.v8i2.7741

Abstract:
Pemberian edukasi menyusui kepada ibu memerlukan metode yang efektif untuk mencapai keterampilan ibu dalam menyusui. Salah satu metode pembelajaran menggunakan video dengan menerapkan model Kognitif Sosial Bandura. Pencarian literature melalui web site Scopus, Ebsco, Science direct dan Proquest dengan kata kunci : ibu, video, menyusui. Tujuan studi literatur ini adalah untuk mengetahui efektifitas edukasi menyusui menggunakan video dan mendiskusikan penerapannya dengan pendekatan model Kognitif Social Bandura untuk praktik keperawatan. Review ini mengidentifikasi duapuluh artikel untuk dikritisi, kriteria inklusi artikel yang diterbitkan dari tahun 2010 sampai 2020; penelitian eksperimen; intervensi berupa video; fokus hasil penelitian adalah pengetahuan dan keterampilan menyusui ibu; dan ditulis dalam bahasa Inggris. Edukasi menyusui menggunakan video menjadi persuasif untuk ibu dan intervensi yang efektif. Metode pembelajaran ini melibatkan interaksi antara ibu dan perawat, sehingga perawat dapat membantu mereka menganalisa video yang mereka terima dan dapat memberikan dukungan yang lebih kuat dan terarah untuk ibu menyusui.
Siti Sofiah, Kurnia Rachmawati, Herry Setiawan
Dunia Keperawatan: Jurnal Keperawatan dan Kesehatan, Volume 8, pp 59-65; doi:10.20527/dk.v8i1.7255

Abstract:
Sebagian besar remaja mengalami permasalahan pada kualitas tidurnya yang disebabkan oleh kelelahan akibat dari aktivitas fisik yang tidak teratur. Penelitian ini bertujuan agar mengetahui apakah ada hubungan aktivitas fisik dengan kualitas tidur pada santriwati Pondok Pesantren Darul Hijrah Puteri. Survei analitik merupakan rancangan penelitian ini dengan menggunakan pendekatan cross sectional sebagai desain penelitian. Populasi penelitian sebanyak 484 santriwati. Cluster random sampling yaitu teknik dimana digunakan dalam pengambilan sampel sehingga didapatkan 243 responden. Data dianalisis menggunakan uji Chi-Square. Instrumen penelitian ini menggunakan kuesioner. Hasil penelitian menunjukkan (p-value= 0,384 >0,05) bahwa tidak terdapat hubungan aktivitas fisik dengan kualitas tidur pada santriwati Pondok Pesantren Darul Hijrah Puteri Martapura. Terdapat beberapa faktor dimana bisa memengaruhi kualitas tidur, sehingga faktor aktivitas fisik tidak dapat menjadi faktor tunggal untuk penyebab permasalahan dalam kualitas tidur.
Ariany Dhesi Puspitasari, Endang Pertiwiwati, Ichsan Rizany
Dunia Keperawatan: Jurnal Keperawatan dan Kesehatan, Volume 8, pp 93-100; doi:10.20527/dk.v8i1.5869

Abstract:
Pelayanan keperawatan yang rendah akan menyebabkan ketidakpuasan pasien dan menimbulkan berbagai keluhan. Semakin banyak keluhan maka kepuasan pasien selama dirawat di suatu rumah sakit semakin menurun. Tujuan penelitian ini untuk menganalisis perbedaan kepuasan pasien umum dengan pasien BPJS terhadap pelayanan perawatan di instalasi rawat inap Ratu Zalecha Martapura. PeneIitian ini menggunakan deskriptif anaIitik dengan motede pendekatan cross sectionaI. Teknik pengambilan sampeI yang digunakan dalam peneIitian ini adalah quota sampIing. Dengan 60 sampel yang terdiri 30 pasien umum dan 30 pasien BPJS. Kuesioner yang digunakan kombinasi dari peneliti dan dari kuesioner NSNS Kemenkes-JICA. Analisis penelitian ini mengunakan uji mc nemar’s test. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada 90% pasien umum merasa kurang puas sedangkan 97% pasien BPJS merasa kurang puas. dengan hasil analisis di dapatkan p value>α (0,50>0,05), maka keputusannya adalah Ho diterima yang artinya tidak ada perbedaan yang signifikan antara kepuasan pasien umum dengan Pelayanan keperawatan yang masih kurang akan menyebabkan ketidakpuasan pasien dan menimbulkan berbagai keluhan. Semakin banyak keluhan maka kepuasan pasien selama dirawat di suatu rumah sakit semakin menurun. Tujuan penelitian ini untuk menganalisis perbedaan kepuasan pasien umum dengan pasien BPJS terhadap pelayanan perawatan di instalasi rawat inap Ratu Zalecha Martapura. PeneIitian ini menggunakan deskriptif anaIitik dengan metode pendekatan cross sectionaI. Teknik pengambilan sampeI yang digunakan dalam peneIitian ini adalah quota sampIing. Dengan 60 sampel yang terdiri 30 pasien umum dan 30 pasien BPJS. Kuesioner yang digunakan kombinasi dari peneliti dan dari kuesioner NSNS KemenkesJICA, yang telah diuji validitas dan reliabilitasnya dengan nilai validitas 0,443-0,098 dan reliabilitas r=0,650, dengan aspek tangible, reability, responsiveness, assurance, emphaty. Analisis penelitian ini mengunakan uji mc nemar’s test. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada 90% pasien umum merasa kurang puas sedangkan 97% pasien BPJS merasa kurang puas. dengan hasil analisis di dapatkan p value>α (0,50>0,05), maka tidak ada perbedaan yang signifikan antara kepuasan pasien umum dengan pasien BPJS berdasarkan mutu pelayanan keperawatan. Tingkat kepuasan pasien yang masih kurang dirasakan oleh pasien maka diharapkan untuk meningkatkan dalam pelayanan keperawatan yang baik agar dapat memberikan kualitas pelayanan yang optimal terhadap pasien. Kesimpulanya adalah tidak terdapat perbedaan kepuasan pasien umum dengan pasien BPJS di instalasi rawat inap RSUD Ratu Zalecha Martapura. Saran dari penelitian ini perawat perlu memperhatikan aspek-aspek mutu pelayanan keperawatan yang sudah ditentukan agar pasien yang ingin dirawat dengan perawat tertentu tetap merasa puas terhadap pelayanan yang diberikan. pasien BPJS berdasarkan mutu pelayanan keperawatan. Tingkat kepuasan pasien yang masih kurang dirasakan oleh pasien maka diharapkan untuk meningkatkan dalam pelayanan keperawatan yang baik agar dapat memberikan kualitas pelayanan yang optimal terhadap pasien.
Ririn Nasriati
Dunia Keperawatan: Jurnal Keperawatan dan Kesehatan, Volume 8, pp 1-8; doi:10.20527/dk.v8i1.5907

Abstract:
Diagnosa gangguan jiwa dan lamanya perawatan dapat menimbulkan ketegangan dan keputusasaansehingga timbul stres psikologis keluarga orang dengan ganguan jiwa. Stres psikologis keluarga orangdengan gangguan jiwa harus di managemen dengan baik sehingga tidak berdampak pada perawatan anggotakeluarganya yang mengalami gangguan jiwa. Tujuan penelitian adalah menganalisis hubungan tingkat stresdengan perilaku managemen stres keluarga orang dengan gangguan jiwa. Rancangan penelitian adalahkorelasi dengan pendekatan croossectional. Populasinya seluruh keluarga orang dengan gangguan jiwaberjumlah 40 yang diambil dengan total sampling dan dianalisis menggunakan Chi Square. Hasil penelitianmenunjukkan keluarga orang dengan gangguan jiwa tidak stres sebanyak 29 responden (72,5%) danperilaku positif sebanyak 22 responden (55%). Terdapat hubungan tingkat stres dengan perilakumanagemen stres keluarga orang dengan gangguan jiwa dengan p value < 0,05. Kesimpulannya tingkatstres berhubungan dengan perilaku managemen stres keluarga orang dengan gangguan jiwa. Edukasi dansosialisasi managemen stres perlu dilakukan sehingga beban psikologis keluarga bisa diminimalkan.
Ulva Oktaviani, Heni Purwaningsih
Dunia Keperawatan: Jurnal Keperawatan dan Kesehatan, Volume 8, pp 79-86; doi:10.20527/dk.v8i1.6241

Abstract:
Kanker serviks adalah penyakit dengan jumlah terbanyak setelah kanker payudara. Kanker membuat penderita mengalami penurunan dalam kondisi fisik dan kondisi psikologis. Dampak yang dialami oleh penderita kanker serviks membuat penderita memerlukan dukungan keluarga. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan dukungan keluarga terhadap kualitas hidup pasien kanker serviks di RSUD Dr. Moewardi Surakarta.Desain penelitian ini menggunakan metode kuantitatif deskriptif. Besar sampel pada penelitian ini sebanyak 88 sampel. Instrumen penelitian menggunakan kuesioner Kualitas Hidup EORTC QLQ C30, dan analisa data menggunakan uji Chi Square. Hasil penelitian diperoleh responden yang mendapatkan dukungan keluarga kurang, sebagian besar kualitas hidupnya kurang yaitu sebanyak 8 responden (47,1%). Responden yang dukungan keluarganya cukup, sebagian besar memiliki kualitas hidup yang kurang yaitu sebanyak 18 responden (58,1%). Sedangkan responden yang memperoleh dukungan keluarga yang baik, sebagian besar memiliki kualitas hidup baik sebanyak 22 responden (55,0%). Hasil uji Chi Square diperoleh p-value 0,000 < α (0,05), sehingga dapat disimpulkan bahwa ada hubungan secara signifikan dukungan keluarga dengan kualitas hidup pasien kanker serviks di RSUD Dr. Moewardi Surakarta. Saran bagi keluarga diharapkan lebih dalam memberikan motivasi, dukungan dan lebih memperhatikan kondisi pasien kanker serviks. Diharapkan bagi tenaga kesehatan lebih meningkatkan caring dan selalu memberikan motivasi kepada pasien untuk upaya meningkatkan kualitas hidup pasien kanker serviks.
Nuridayanti Nuridayanti, Narmawan Narmawan, Risnawati Risnawati
Dunia Keperawatan: Jurnal Keperawatan dan Kesehatan, Volume 8, pp 113-119; doi:10.20527/dk.v8i1.7246

Abstract:
Diare merupakan penyakit yang endemis menyebabkan kematian pada anak-anak balita.Pola asuh orang tua dan sosio cultural sangat berkaitan erat dengan kejadian diare dikarenakan orang tua yang menerapkan pola asuh dan sosio cultural yang kurang baik kepada balita dapat menjadi faktor predisposisi terhadap kejadian diare.Penelitian ini bertujuan mengetahui hubungan antara pola asuh orang tua dan sosio cultural dengan kejadian diare pada balita.Penelitian ini menggunanakan deskriptif analitik dengan pendekatan cross sectional. Sampel 71 balita mengunakan tehnik purposive sampling.Data diperoleh menggunakan kuesioner dan menggunakan analisis uji chi-square. Hasil analisis uji untuk pola asuh orang tua dengan kejadian diare nilai p value 0,000 dan sosio culturaldengan kejadian diare nilai p value 0,000 yang berarti ada hubungan pola asuh orang tua dan sosio culural dengan kejadian diare. Simpulan penelitianini bahwaterdapat hubungan yang bermakna antara pola asuh orDiare merupakan penyakit endemis menyebabkan kematian pada anak-anak balita.Pola asuh orang tua dan sosial kultural sangat berkaitan erat dengan kejadian diare.Penelitian ini bertujuan mengetahui hubungan antara pola asuh orang tua dan sosial kulturaldengan kejadian diare.Penelitian deskriptif analitik dengan pendekatan cross sectional. Sampel 71 balita mengunakan tehnik purposive samplingdengan kriteria ibu balita usia 0-5 tahun yang berkunjung ke UPTD dan bersedia menjadi responden.Data diperoleh menggunakan kuesioner pola asuh dan sosial kultural yang telah teruji validitas dan reliabilitasnya, data dianalisis menggunakan uji chi-square.Hasil analisis untuk pola asuh orang tua dengan kejadian diare nilai p(0,000) dan sosial kultural dengan kejadian diare nilai p (0,000) yang berarti ada hubungan pola asuh orang tua dan sosio culural dengan kejadian diare.Simpulan bahwaterdapat hubungan antara pola asuh orang tua dan sosial kultural dengan kejadian diare pada balita. Pola asuh dan budaya yang baik dari orang tua dapat mendukung kesehatan bagi anak balita. ang tua dan sosio culural dengan kejadian diare pada balita.
Chatarina Suryaningsih, Galuh Dyah Arum Pawesti, Rahmi Imelisa
Dunia Keperawatan: Jurnal Keperawatan dan Kesehatan, Volume 8, pp 72-78; doi:10.20527/dk.v8i1.6884

Abstract:
Anak usia pra sekolah memasuki perkembangan yang meliputi perkembangan motorik kasar, motorik halus, sosialisasi, kemandirian, bicara dan bahasa. Setiap tahap perkembangan memiliki potensi terjadinya gangguan perkembangan. Tidak terkecuali perkembangan kemandirian. Faktor yang dapat mempengaruhi kemandirian adalah gen, orang tua, apresiasi, kritikan, dan stimulasi. Stimulasi dapat dilakukan dengan bermain yaitu dengan bercerita. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh bercerita menggunakan boneka kertas terhadap kemandirian anak usia pra sekolah di TK Purnama Kota Cimahi Tahun 2018. Rancangan penelitian yang digunakan adalah quasi experiment dengan pendekatan one group pretestposttest. Populasi dari penelitian ini adalah anak usia pra sekolah dengan sampel penelitian diambil dari responden usia 36 bulan sampai 72 bulan sebanyak 22 anak. Sampel diambil dengan total sampling. Analisa data menggunakan Uji Wilcoxon. Teknik pengambilan data menggunakan lembar observasi Kemandirian digunakan untuk mengukur pretest dan posttest. Hasil analisa data menunjukan rata-rata skor kemandirian pretest adalah 7,05 sedangkan rata-rata posttest9.27hasil analisa bivariat p Value 0,001 dapat disimpulkan ada pengaruh bercerita menggunakan boneka kertas terhadap kemandirian anak usia pra sekolah di TK Purnama Kota Cimahi Tahun 2018. Disarankan bagi TK Purnama menjadikan bercerita menggunakan boneka kertas sebagai salah satu stimulus untuk meningkatkan kemandirian anak usia pra sekolah.
Mustika Rahmadanti, Noor Diani, Agianto Agianto
Dunia Keperawatan: Jurnal Keperawatan dan Kesehatan, Volume 8, pp 87-92; doi:10.20527/dk.v8i1.7359

Abstract:
Diabetes mellitus adalah penyakit menahun yang ditandai dengan peningkatan kadar glukosa darah melebihi normal. Diabetes mellitus membutuhkan perhatian dan perawatan medis dalam waktu lama baik untuk mencegah komplikasi maupun perawatan sakit. Risiko komplikasi dapat diturunkan dengan self management. Keberhasilan self management yang terdiri dari aspek nutrisi, farmakologi, latihan jasmani, monitoring gula darah dan perawatan kaki dipengaruhi oleh motivasi pasien diabetes mellitus. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran motivasi dan self management pasien diabetes mellitus tipe 2. Penelitian bertempat di Kelurahan Sungai Besar, dilakukan dari bulan Juni- Juli 2019. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif observasional menggunakan metode non-probability sampling dengan teknik consecutive sampling. Instrumen menggunakan kuesioner dengan jumlah responden 101 responden. Hasil penelitian menunjukkan motivasi responden mayoritas adalah baik (72,3%) dan self management juga dalam kategori baik (92,1%). Hal ini menunjukkan motivasi yang tinggi terlihat dari perilakunya. Motivasi yang dimiliki pasien diabetes mellitus tipe 2 memberikan dorongan yang kuat dalam melakukan self management diabetes mellitus. Motivasi dan self management yang dimiliki pasien diabetes mellitus tipe 2 di Kelurahan Sungai Besar dalam kategori baik. Namun, self management pada aspek perawatan kaki hanya 2,0% responden yang mengeringkan sela-sela jari kakinya usai dicuci dan dibersihkan. Hasil ini dapat dijadikan acuan bagi petugas kesehatan untuk dilaksanakannya pendidikan kesehatan terkait pentingnya perawatan kaki agar tidak terjadi masalah pada kaki. Pasien diabetes diharapkan agar tetap termotivasi dalam melakukan self management. Selanjutnya dapat diteliti kembali faktor apa saja yang memengaruhi kepatuhan pasien dalam diabetes dalam self management.
Yulia Octaviani, Kurnia Rachmawati, Eka Santi
Dunia Keperawatan: Jurnal Keperawatan dan Kesehatan, Volume 8, pp 101-112; doi:10.20527/dk.v8i1.7296

Abstract:
Di Indonesia masih tinggi masyarakat yang belum membiasakan sarapan, laporan Riskesdas 2010 menyatakan 16,9%- 50% anak usia sekolah di Indonesia belum terbiasa sarapan pada konsumsi makanan sebanyak 35.000 anak sekolah dasar 26,1% anak sarapan dengan minuman dan sebanyak 44,6% memperoleh asupan energi kurang dari 15% angka kecukupan gizi. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor-faktor yang berhubungan dengan kebiasaan sarapan siswa pada SDN Sungai Rangas Hambuku Martapura Barat. Penelitian ini menggunakan deskriptif korelasional dengan pendekatan cross sectional. Populasi penelitian ini adalah semua siswa kelas 4 dan 5 dengan sampel berjumlah 44 responden yang dipilih menggunakan teknik proportional stratified random sampling. Analisis data menggunakan uji korelasi spearman rho. Hasil penelitian ini menemukan tidak ada hubungan yang signifikan antar jenis kelamin (p=0,509), pendidikan ibu (p=0,117), pekerjaan ibu (p=0,954), dorongan keluarga (p=0,441), ketersediaan sarapan dirumah (p=0,614), teman sebaya (p=0,398), uang saku (p=0,979) dengan kebiasaan sarapan.
Rismia Agustina
Dunia Keperawatan: Jurnal Keperawatan dan Kesehatan, Volume 8, pp 44-47; doi:10.20527/dk.v8i1.7565

Abstract:
Purpose: The aim of this research was to identify the score of Harvard Step Test as indicator of cardiorespiratory endurance on college student smokers. Method: This was a descriptive cross-sectional study. There were 40 samples who met inclusion and exclusion criteria were selected using purposive sampling. The instruments of this study were questionnaire, metronome, stop watch, and 19 inches bench. Data were analyzed using descriptive statistics. Results: The results showed that 47,5% of subjects had poor level, 42,5% had average level, and 10% had good level of Harvard step test. On average, 65% of subjects were light smokers, 87,5% were filtered cigarette smokers, and 65% had been smoking for 2-5 years. Conclusion: It can be concluded nearly half of college student smokers had poor Harvard step test score as indicator of cardiorespiratory endurance.
Page of 3
Articles per Page
by
Show export options
  Select all
Back to Top Top