Refine Search

New Search

Advanced search

Results in Journal ASPIRATOR - Journal of Vector-borne Disease Studies: 84

(searched for: journal_id:(512950))
Page of 9
Articles per Page
by
Show export options
  Select all
Joni Hendri, Heni Prasetyowati, Dewi Nur Hodijah, Rizal Pratama Sulaeman
ASPIRATOR - Journal of Vector-borne Disease Studies, Volume 12, pp 55-64; doi:10.22435/asp.v12i1.2838

Abstract:
School is one of the potential sites for transmission of Dengue Haemorrhagic Fever (DHF). The level of education is thought to be a major knowledge determinant about the disease and its transmission, as well as attitudes and practices for controlling dengue fever. This study aims to describe dengue knowledge in a student at various levels of education to prevent dengue transmission. Three hundred students participated in this study, as many as 98 students were male, while 202 students were female. The average elementary school student is 10.7 years old, junior high school students are 14 years old, and senior high school students are 16.5 years old. Based on the interview results it can be seen the percentage of students with favorable knowledge about DHF for elementary school level 49.5%; Junior High 38.89%; Senior High 37.50%, while knowledge of DHF vector control at the elementary level is 3.4%; Junior High 3.7% and Senior High 2.5%. The percentage of students taking vector control measures for the elementary level is 0.49%, Junior High 9.26%, and high school 5%. Age and sex do not show a relationship with knowledge and actions towards DHF. Knowledge about DHF and the eradication of DHF vectors and the eradication of DHF vectors in students at various levels of education in the Pangandaran area is still low. The socialization of 3M Plus must be carried out thoroughly and continuously in schools to increase the knowledge and participation of students in controlling DHF. Keywords: Knowledge, Dengue, School, Pangandaran Abstrak. Sekolah merupakan salah satu tempat potensial dalam penyebaran dan penularan penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD). Level pendidikan diduga merupakan penentu utama pengetahuan tentang penyakit dan penularannya, serta sikap dan praktik untuk pengendalian demam berdarah. Tujuan dari penelitian kami adalah untuk menggambarkan pengetahuan yang dimiliki oleh siswa sekolah pada berbagai level pendidikan dalam kaitannya dengan upaya yang dilakukan untuk mencegah penularan penyakit DBD. Total sampel dalam penelitian ini adalah 300 siswa yang diambil berdasarkan teknik perhitungan sampel dari populasi siswa pada masing-masing tingkatan pendidikan. Pengumpulan data dilakukan dengan melakukan wawancara menggunakan kuesioner yang terstruktur. Siswa yang diwawancara merupakan siswa yang ditunjuk oleh sekolah sebagai anggota Unit Kesehatan Sekolah (UKS). Dari 300 siswa yang ikut serta dalam penelitian ini sebanyak 98 siswa berjenis kelamin laki-laki, sedangkan 202 siswa berjenis kelamin perempuan. Usia rata-rata siswa SD berkisar 10,7 tahun, siswa SLTP adalah 14 tahun sedangkan usia rata-rata anak SLTA adalah 16,5 tahun. Berdasarkan hasil wawancara terlihat persentase siswa dengan pengetahuan baik tentang DBD untuk level SD 49,5%; SLTP 38,89%; SLTA 37,50% sedangkan pengetahuan tentang pengendalian vektor DBD pada level SD 3,4%; SLTP 3,7% dan SLTA 2,5%. Persentase siswa yang melakukan tindakan pengendalian vektor untuk level SD 0,49%; SLTP 9,26%; dan SLTA 5%. Usia dan jenis kelamin tidak menunjukkan hubungan dengan pengetahuan dan tindakan terhadap DBD. Pengetahuan tentang DBD dan pemberantasan vektor DBD serta tindakan pemberantasan vektor DBD pada siswa di berbagai level pendidikan di wilayah Pangandaran masih rendah. Sosialisasi PSN 3M Plus perlu dilakukan di sekolah untuk meningkatkan pengetahuan dan peran serta siswa dalam pengendalian DBD. Kata Kunci: Pengetahuan, Demam Berdarah Dengue, Sekolah, Pangandaran
Rahman Irpan Pahlepi, Santoso Santoso, Vivin Mahdalena, Marini Marini
ASPIRATOR - Journal of Vector-borne Disease Studies, Volume 12, pp 1-10; doi:10.22435/asp.v12i1.3040

Abstract:
Kuantan Singingi District is one of the endemic areas of filariasis in Riau Province. Mass treatment activities have been done, but the results of TAS-1 in 2016 with Brugia Rapid Test still found 11 positive children, this condition indicates that there is still new transmission in Kuantan Singingi Regency. The purpose of this study was to determine the mosquito species which potentially become vector filariasis - and to determine the types of potential breeding habitats for mosquito larvae. This research was done in Pulau Panjang Cerenti Village, Cerenti District and Sukadamai Village, Singingi Hilir District in September and November 2017. Catching mosquitoes held for 12 hours starting at 18.00 -06.00 WIB, using the modification of human landing collection double net method. Mosquito catching was done twice, with an interval of one month, at three points/locations for two consecutive nights. There were 24 species of mosquito caught in the two villages. The most dominant species in Pulau Panjang Village was Culex vishnui (54.89%) with indoor and outdoor MHD were 4.5; 16.08 species/man/hour, Sukadamai Village was Culex quinquefasciatus (95.42%) with indoor and outdoor MHD were 23.58; 19.08 species/man/hour. PCR examination results on mosquitoes caught in Sukadamai Village was found microfilarian DNA B. malayi in Cx.vishnui, so potentially become filariasis vector. Breeding habitats that are found mostly was fish ponds that are no longer used, puddles, and swamps. Riverfront habitats was only found in Pulau Panjang Village. Keywords: filariasis, Culex vishnui, potential vector, habitats, Kuantan Singingi Abstrak. Kabupaten Kuantan Singingi merupakan satu diantara wilayah endemis filariasis di Provinsi Riau. Kegiatan pengobatan massal telah dilakukan, namun hasil TAS-1 tahun 2016 dengan Brugia Rapid Test masih ditemukan 11 anak positif. Kondisi ini menunjukan bahwa masih terjadi penularan baru di Kabupaten Kuantan Sengingi. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui spesies nyamuk yang berpotensi menjadi vektor filariasis dan mengetahui jenis-jenis habitat perkembangbiakan potensial bagi larva nyamuk. Pengumpulan data telah dilakukan di Desa Pulau Panjang Cerenti Kecamatan Cerenti dan Desa Sukadamai Kecamatan Singingi Hilir pada bulan September dan November 2017. Penangkapan nyamuk dilakukan selama 12 jam dimulai dari pukul 18.00 -06.00 WIB, menggunakan metode modifikasi human landing collection double net. Penangkapan nyamuk dilakukan sebanyak dua kali, dengan selang waktu satu bulan, pada tiga titik/lokasi selama dua malam berturut-turut. Spesies nyamuk yang tertangkap di dua desa sebanyak 24 spesies. Spesies yang paling dominan di Desa Pulau Panjang yaitu Culex vishnui (54,89%) dengan MHD di luar dan dalam rumah yaitu 4,5 dan 16,08 ekor/orang/jam, sedangkan di Desa Sukadamai yaitu Cx. quinquefasciatus (95,42%) dengan MHD di luar dan dalam rumah yaitu 23,58 dan 19,08 ekor/orang/jam. Hasil pemeriksaan PCR pada nyamuk yang tertangkap di Desa Sukadamai ditemukan DNA mikrofilaria B. malayi pada nyamuk Cx. vishnui sehingga berpotensi menjadi vektor filariasis. Habitat perkembangbiakan yang ditemukan sebagian besar adalah kolam ikan yang sudah tidak digunakan lagi, genangan air, dan rawa. Habitat tepi sungai hanya ditemukan di Desa Pulau Panjang. Kata Kunci: filariasis, Culex vishnui, vektor potensial, habitat, Kuantan Singingi
Nurul Hidayati Kusumastuti, Sciprofile linkPandji Dhewantara, Nova Pramestuti
ASPIRATOR - Journal of Vector-borne Disease Studies, Volume 12, pp 19-26; doi:10.22435/asp.v12i1.318

Abstract:
The unsafe and improper use of household insecticides represents a major hazard to the environment and human health. Most of people in Pangandaran Sub-District used household insecticides, even more than ten years. The aim of this study was to analyse factors that affect in safety practices of using household insecticide. The research was conducted from April to July 2014 in Pangandaran sub-district. A total of 374 household participated in this study through interviews. Data collected includes characteristics of respondents, educational status, knowledge, attitudes and practices regarding safe insecticide usage. Chi-square test (χ2) was used to measure the possible association between variables and continued with logistic regression. The majority of respondents were lack of safety practices of using household insecticide (60%). The levels of education (p=0.00) and knowledge (p=0.03) was associated with safe practices in insecticide use. However, according to logistic regression that education level had more influence towards safe insecticide use. Therefore, it is necessary to increase community knowledge through field demonstrations by health workers about the use of household insecticides safely and properly. Keywords: household insecticide, practice, safety, Pangandaran Abstrak. Penggunaan insektisida rumah tangga yang tidak aman dan tidak tepat dapat membahayakan lingkungan dan kesehatan manusia. Sebagian besar masyarakat di Kecamatan Pangandaran menggunakan insektisida rumah tangga, bahkan lebih dari sepuluh tahun. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi praktik menjaga keamanan dalam penggunaan insektisida rumah tangga. Penelitian ini dilakukan dari bulan April hingga Juli 2014 di Kecamatan Pangandaran. Sebanyak 374 rumah tangga berpartisipasi dalam penelitian ini melalui wawancara. Data yang dikumpulkan meliputi karakteristik responden, status pendidikan, pengetahuan, sikap dan praktik mengenai penggunaan insektisida yang aman. Uji Chi-square (χ2) digunakan untuk menganalisis hubungan antar variabel dan dilanjutkan dengan regresi logistik. Mayoritas responden mempunyai praktik yang kurang aman dalam menggunakan insektisida rumah tangga (60%). Tingkat pendidikan (p = 0,00) dan pengetahuan (p = 0,03) berhubungan dengan praktik menjaga keamanan ketika menggunakan insektisida rumah tangga. Namun, hasil dari regresi logistik menunjukkan tingkat pendidikan lebih berpengaruh terhadap penggunaan insektisida yang aman. Oleh karena itu, perlu untuk meningkatkan pengetahuan masyarakat melalui demonstrasi lapangan oleh petugas kesehatan tentang penggunaan insektisida rumah tangga secara aman dan tepat. Kata Kunci: insektisida rumah tangga, praktik, aman, Pangandaran
ASPIRATOR - Journal of Vector-borne Disease Studies, Volume 12; doi:10.22435/asp.v12i1.3387

ASPIRATOR - Journal of Vector-borne Disease Studies, Volume 12; doi:10.22435/asp.v12i1.3388

Sciprofile linkSogandi Sogandi, Fadhli Gunarto
ASPIRATOR - Journal of Vector-borne Disease Studies, Volume 12, pp 27-36; doi:10.22435/asp.v12i1.1288

Abstract:
Mosquitoes are insects that can transmit diseases to humans through their bites. Dengue haemorrhagic fever is one of the diseases that could be transmitted by Aedes aegypti mosquito. The use of insecticides to control the occurrence of dengue haemorrhagic fever builds resistance of the mosquito towards the chemical substance. Therefore, natural larvicide was used as an alternative to chemical insecticides. This research was conducted to study the effectiveness of larvicides from the ethyl acetate fraction of Bangun-bangun leaves (Plectranthus amboinicus) in killing the Aedes aegypti larvae and to identify the active larvicide compounds. This laboratory experiment research tested six extract concentrations (0.0; 1.0; 1.8; 3.2; 5.6; 10.0%) in three replications. Observations were administered for 48 hours to count the number of the dead Aedes aegypti instar III larvae obtained from the Entomology Laboratory of the Faculty of Veterinary, IPB. The results showed that the larvae mortality increased as the extract concentration increased. The percentage of Aedes aegypti killed reached 96% at an extract concentration of 10%. Meanwhile, the probit analysis showed that LC50 was found at a concentration of 5.56%. The identification of active compounds using GCMS revealed that the larvicidal compounds in ethyl acetate fraction were the ones from an organic acid group which were, stearic acid, and palmitic acid. Keywords: Aedes aegypti, identification, larvacidal, mortality Abstrak. Nyamuk merupakan serangga yang dapat menularkan penyakit melalui gigitannya. Salah satu penyakit yang ditularkan adalah demam berdarah dengue yang dibawa oleh nyamuk Aedes aegypti. Pengendalian demam berdarah dengue menggunakan insektisida berbahan kimia dapat menyebabkan resisten nyamuk terhadap insektisida meningkat, oleh karena itu larvasida alami diharapkan dapat menjadi alternatif pengganti insektisida kimia. Tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui afektifitas larvasida dari fraksi etil asetat daun Bangun-bangun (Plectranthus amboinicus) terhadap mortalitas larva Aedes aegypti dan mengidentifikasi jenis senyawa aktif yang berperan sebagai larvasida. Penelitian ini merupakan eksperimen laboratorium dengan enam konsentrasi ekstrak (0,0; 1,0; 1,8; 3,2; 5,6; 10,0%) dan tiga kali ulangan. Pengamatan dilakukan selama 48 jam terhadap jumlah kematian larva Aedes aegypti instar III yang diperoleh dari Laboratorium Entomologi Fakultas Kedokteran Hewan, IPB. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kematian larva meningkat seiring dengan meningkatnya konsentrasi ekstrak. Kematian Aedes aegypti mencapai 96% pada konsentrasi ekstrak 10% dan hasil analisa probit menunjukkan LC50 terdapat pada konsentrasi 5,56%. Identifikasi senyawa aktif menggunakan GCMS menunjukkan bahwa senyawa yang bersifat larvasida dalam fraksi etil asetat ini adalah senyawa dari golongan asam organik yaitu, asam stearate, dan asam palmitat. Kata Kunci: Aedes aegypti, identifikasi, larvasida, mortalitas
Lisa Hidayati, Seli Suprihatini
ASPIRATOR - Journal of Vector-borne Disease Studies, Volume 12, pp 45-52; doi:10.22435/asp.v12i1.2171

Abstract:
Mahogany seed extract (Swietenia mahagoni) is a natural larvacidal material which contains limonoid, flavonoid, saponins and alkoloid. Mahogany seed extract can kill Culex sp larvae, which known as filariasis vectors. There are several mosquitoes control are used to pressing Culex sp larvae growth, such as using larvacidal and fogging but have bad impact on the circumtances The study observed effect of mahogany seed extract on Culex sp. larvae mortality. This study utilized an experimental method with ANOVA and probit analysis to determined LC50 and LT50. Extraction method were used in this study was maceration method. This research used some variation of mahogany seed extract concentration, consist of 8%, 10%, 20%, 50%, with negative control (-) used distilled water. Research repetition was carried out 3 times with a total sample of 325 larvae. Observations were made at 15, 60, 120, 240, 420 and 720 minutes (12 hours). This study found that there was a significant effect between the concentration of mahogany seed extract on larval mortality with Fcount > Ftable (0.05 ≥ 0.01). The concentration that effectively kills 50% of Culex sp (LC50) larvae was 10%. the time which was needed to kill 50% of Culex sp (LT50) larvae was 204,230 minutes. The higher the concentration level of mahogany seed extract were used, so that more larval mortality rates. The morphology or larvae body structure after administration of mahogany seed extract was damaging in the abdomen and thorax, allegedly inhibited growth hormone due to the mechanism of action of mahogany seed extract as an antifeedant This reaserch can be using mahogany seed extract with different methods and larvae. Mahogany seed extracts are expected to be applied in society as a vector control and this research can be developed using mahogany seed extract with different methods and larvae. Keywords: Mahogany seeds, Extract, Culex sp, larvacidal, Maceration, Abstrak. Ekstrak biji mahoni (Swietenia mahagoni) merupakan bahan larvasida alami yang mengandung limonoid, flavonoid, saponin dan alkoloid. Ekstrak biji mahoni diduga bisa membunuh larva Culex sp, yang berperan sebagai vektor filariasis. Ada beberapa cara penanggulangan nyamuk yang digunakan untuk menekan pertumbuhan larva Culex sp, seperti penggunaan larvasida dan fogging tetapi memiliki dampak yang buruk untuk lingkungan. Tujuan dari penelitian ini untuk melihat pengaruh ekstrak biji mahoni terhadap kematian larva Culex sp. Penelitian ini menggunakan metode eksperimental dengan analisis ANOVA dan analisis probit untuk menentukan LC50 dan LT50 . Metode ekstraksi yang digunakan dalam penelitian ini adalah modifikasi maserasi. Konsentrasi ekstrak biji mahoni yang diujikan yaitu 8%, 10%, 20%, 50%, dengan kontrol (-) menggunakan aquadest. Pengulangan dilakukan sebanyak 3 kali dengan total sampel 325 larva. Pengamatan dilakukan pada menit ke 15, 60, 120, 240, 420 dan 720 menit (12 jam). Penelitian ini memperoleh hasil bahwa adanya pengaruh yang signifikan antara konsentrasi ekstrak biji mahoni terhadap kematian larva dengan Fhitung > Ftabel (0,05 ≥ 0.01). Konsentrasi yang efektif membunuh 50% larva Culex sp (LC50) adalah 10%. waktu yang dibutuhkan untuk membunuh 50% larva Culex sp(LT50 ) adalah 204,230 menit. Semakin tinggi tingkat konsentrasi ekstrak biji mahoni semakin tinggi pula tingkat kematian larva. Morfologi atau struktur tubuh larva setelah pemberian ekstrak biji mahoni mengalami kerusakan di bagian abdomen dan toraks, diduga mengalami penghambatan hormonpertumbuhan karena mekanisme kerja ekstrak biji mahoni sebagai antifeedant. Ekstrak biji mahoni diharapkan dapat diaplikasikan di dalam masyarakat sebagai pengendalian vector dan Penelitian ini bisa dikembangkan dengan menggunakan ekstrak biji mahoni dengan metode dan larva yang berbeda. Kata Kunci: Biji mahoni, Ekstrak, Culex sp, Larvasida, Maserasi
Acivrida Mega Charisma, Elis Anita Farida, Farida Anwari
ASPIRATOR - Journal of Vector-borne Disease Studies, Volume 12, pp 11-18; doi:10.22435/asp.v12i1.2366

Abstract:
Dengue is a disease caused by dengue virus infection. Diagnosis of the disease is often difficult to be upheld just by the symptoms. Therefore, laboratory diagnostics is required. The general objective of this study was to detect dengue IgG in serum samples with rapid tests and in urine samples of suspected dengue patients using ELISA. The procedure of this study consisted of three stages. First, collecting urine samples from healthy individuals and collecting blood and urine samples from suspected dengue patients; second, examining dengue IgG in serum samples of suspected dengue patients with rapid tests; and third, examining dengue-specific IgG in urine samples from suspected dengue patients and from healthy individuals with ELISA technique. Data analyzed using experimental analytics to determine the cut off point used to interpret laboratory diagnostic results. The results showed that patients with positive serum dengue IgG test at the same time also showed positive results on the examination of dengue-specific IgG in their urine samples while patients with negative serum at the same time showed negative results on the examination of dengue-specific IgG in urine samples. Dengue-specific IgG examination in urine samples with ELISA technique can be used as an alternative examination in establishing the diagnosis of dengue, in which urine samples are taken from patients with more than 4 days fever. Keywords: Dengue, IgG, Urine, ELISA Abstrak. Dengue merupakan penyakit yang disebabkan virus dengue. Diagnosis penyakit ini sering sulit ditegakkan jika hanya melihat dari gejala. Oleh karena itu, diperlukan pemeriksaan laboratorium untuk penegakkan diagnosis. Tujuan umum penelitian ini adalah untuk mendeteksi IgG dengue dalam sampel serum dengan rapid tes dan pada sampel urine pasien terduga dengue dengan menggunakan metode ELISA. Prosedur penelitian ini terdiri dari tiga tahap. Pertama, pengumpulan sampel urine individu sehat dan pngumpulan sampel darah dan urine pada pasien terduga dengue; kedua, pemeriksaan IgG dengue dalam sampel darah pasien terduga infeksi dengue dengan rapid tes; dan ketiga, pemeriksaan IgG spesifik dengue pada sampel urine pasien terduga dengue dengan teknik ELISA, yang sebelumnya sudah dikelompokkan sesuai dengan hasil pemeriksaan IgG dengue pada sampel serum dengan rapid tes, dan pemeriksaan IgG spesifik dengue sampel urine individu sehat dengan teknik ELISA. Analitik eksperimental digunakan untuk menentukan cut off dari data yang kemudian digunakan untuk menafsirkan hasil diagnostik laboratorium. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada pasien dengan hasil pemeriksaan IgG dengue serum positif menunjukkan hasil positif juga pada pemeriksaan IgG spesifik dengue pada sampel urinnya, sedangkan pada hasil pemeriksaan serum yang negatif menunjukkan hasil negatif pula pada pemeriksaan IgG spesifik dengue di sampel urinnya. Pemeriksaan IgG spesifik dengue pada sampel urine dengan teknik ELISA dapat digunakan sebagai pemeriksaan alternatif dalam penegakan diagnosis dengue, di mana sampel urine diambil dari pasien dengan demam lebih dari 4 hari. Kata Kunci: Dengue, IgG, Urine, ELISA
Muhammad Umar Riandi, Tri Wahono, Mara Ipa, Joni Hendri, Subangkit Subangkit
ASPIRATOR - Journal of Vector-borne Disease Studies, Volume 12, pp 37-44; doi:10.22435/asp.v12i1.2765

Abstract:
Japanese encephalitis is a mosquito-borne zoonotic disease that has pigs as the amplifying host. It is important to study the diversity of mosquito species around pig populations to determine the potential of Japanese encephalitis vectors in the region. This study is a cross-sectional study with a single sampling method for adult mosquitoes around pigpen in Tangerang Regency. The capture of adult mosquitoes is carried out by the outdoor resting mosquitoes collection at 18:00 - 24:00 using aspirators and light traps. Female mosquitoes were identified and subsequently tested RT-PCR for JEV. Catching results obtained 223 mosquitoes from the genus Culex, Armigeres, Aedes, Anopheles, and Mansonia with a total of 10 species. Species diversity in the pigpen area is classified as moderate (H = 1.0875 – 1.292) with Culex vishnui and Culex quinquefasciatus as the most abundant species. RT-PCR test found there’s no mosquito’s samples with positive JE RNA virus. Several species of mosquitoes found around pigpens in Tangerang District have the potential to become JEV vectors, so that control to the mosquito abundance and health of pigs is needed as a preventative measure. Keywords: Diversity, Japanese encephalitis, pig, vector Abstrak. Japanese encephalitis merupakan penyakit zoonosis yang ditularkan oleh nyamuk dan babi sebagai inang penguat. Studi keanekaragaman jenis nyamuk di sekitar populasi babi penting dilakukan untuk mengetahui potensi vektor Japanese encephalitis pada wilayah tersebut. Desain penelitian ini adalah potong lintang dengan metode sampling tunggal terhadap nyamuk dewasa sekitar kandang babi di Kabupaten Tangerang. Penangkapan nyamuk dewasa dilakukan dengan metode koleksi outdoor resting pada malam hari pukul 18.00 – 24.00 menggunakan aspirator dan perangkap cahaya. Nyamuk betina diidentifikasi dan selanjutnya diuji RT-PCR virus JE. Hasil penangkapan didapatkan 700 ekor nyamuk dari genus Culex, Armigeres, Aedes, Anopheles, dan Mansonia dengan total 10 spesies. Keanekaragaman spesies pada seluruh wilayah penelitian tergolong sedang (H=1,0875 – 1,292) dengan Culex vishnui dan Culex quinquefasciatus sebagai spesies paling melimpah. Uji RT-PCR tidak menemukan adanya sampel nyamuk positif RNA virus JE. Beberapa spesies nyamuk yang ditemukan di sekitar kandang babi di Kecamatan Panongan memiliki potensi sebagai vektor JEV sehingga diperlukan pengendalian kepadatan nyamuk dan kesehatan ternak babi terhadap JEV sebagai upaya pencegahan. Kata Kunci: Keanekaragaman, Japanese encephalitis, babi, vektor
Sciprofile linkEndang Srimurni Kusmintarsih, Medina Fadli Latus Syaadah, Edy Riwidiharso, R Tedjo Sasmono
ASPIRATOR - Journal of Vector-borne Disease Studies, Volume 11, pp 91-98; doi:10.22435/asp.v11i2.460

Abstract:
Artificial blood-feeding using the parafilm-M membrane can be used as an alternative solution andsubstitute live animals as a source of blood. This method is not only be used for blood-feeding but also to infectthe dengue virus (DENV) to mosquitoes. This study was aimed to determine the effectiveness artificial bloodfeeding using parafilm-M membrane in Aedes mosquitoes originated in Indonesia and determine the positivityof mosquitoes infected by Indonesia DENV-1. DENV-1 was isolated from patient and propagated in Vero cellculture. The feeding was done in cardboard cups after mosquitos have been starved for 4-17 hours before beingfed with human blood. A conical 50ml tube was prepared, and a hole was created in the tube lid. The tubeopening was covered with parafilm. Glycerol was added into conical tube and heated in water bath for an hourat 55oC. A mixture of blood and DENV-1 was made with concentration of 10%. Detection of DENV in bloodfedmosquitos was carried out by using Simplexa Dengue Real-Time RT-PCR assay. The results showed thatthe prevalence of blood-fed mosquitoes reached 66.67% with fasting period for 17 hours. Blood feedingmosquitoes are affected by duration of fasting period, blood-feeding time, and attractants from human skinrubbed into parafilm-M membrane. The prevalence of blood-fed Ae. aegypti infected by DENV was 20.83%.This study provides information on the effectiveness of artificial parafilm membrane blood-feeding in alaboratory setting that will be useful for vector control study in Indonesia.
Page of 9
Articles per Page
by
Show export options
  Select all
Back to Top Top