Refine Search

New Search

Results in Journal Jurnal Hortikultura Indonesia: 181

(searched for: journal_id:(473050))
Page of 4
Articles per Page
by
Show export options
  Select all
Duta Berlintina, Agus Karyanto, Rugayah, Kuswanta Futas Hidayat
Jurnal Hortikultura Indonesia, Volume 11, pp 110-119; doi:10.29244/jhi.11.2.110-119

Abstract:
Manggis (Garcinia mangostana L.) merupakan salah satu buah yang memiliki potensi cukup tinggi di pasaran dibandingkan dengan buah tropis lainnya, namun produksi manggis masih sangat rendah. Kendala utama dalam budidaya tanaman manggis yaitu lambatnya pertumbuhan tanaman manggis akibat minimnya akar–akar lateral, khususnya tanaman manggis asal biji, oleh karena itu perlu dilakukan upaya untuk mempercepat pertumbuhan seedling manggis. Penelitian ini bertujuan untuk mengoptimalkan pertumbuhan seedling manggis dengan penggunaan zat pengatur tumbuh alami ekstrak bawang merah dan ekstrak kecambah dengan frekuensi pemberian yang berbeda. Penelitian ini dilaksanakan di Rumah Kaca Fakultas Pertanian, Universitas Lampung dari bulan Oktober 2018 hingga Maret 2019. Perlakuan disusun secara faktorial (2x3) dalam rancangan acak kelompok (RAK) yang diulang sebanyak tiga kali. Faktor pertama adalah jenis ekstrak bawang merah dan kecambah, sedangkan faktor kedua adalah frekuensi pemberian 1, 2, dan 3 kali. Data yang diperoleh dianalisis dengan analisis ragam dan dilakukan pemisahan nilai tengah dengan uji orthogonal kontras pada taraf nyata 5%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian bahan organik sumber ZPT frekuensi satu kali lebih baik dalam meningkatkan bobot basah seedling manggis dibandingkan frekuensi dua atau tiga kali dengan selisih bobot 0.47 g (12.71%). Perkembangan akar seedling manggis akan meningkat apabila diberi perlakuan ekstrak kecambah dengan frekuensi satu kali, tetapi apabila yang digunakan ekstrak bawang merah maka frekuensi pemberian dua atau tiga kali.
Ira Mulyawanti, Nurdi Setyawan, Dondy Anggono Setyabudi
Jurnal Hortikultura Indonesia, Volume 11, pp 101-109; doi:10.29244/jhi.11.2.101-109

Abstract:
Serangan penyakit yang disebabkan oleh cendawan ataupun serangga menjadi salah satu permasalahan dalam penyimpanan buah mangga. Teknik untuk menekan perkembangan penyakit pascapanen yang sudah ada diantaranya dengan perendaman buah dalam air panas, pelilinan, atau penggunaan bahan kimia seperti fungisida dan insektisida. Perlakuan tersebut dapat menekan perkembangan penyakit pascapanen buah mangga, namun disisi lain penggunaan suhu tinggi dan bahan kimia mempengaruhi aktivitas fisiologi dan juga sensori buah setelah disimpan. Penelitian bertujuan untuk mengetahui pengaruh perlakuan pendahuluan yang digunakan pada penyimpanan buah mangga terhadap karakteristik buah mangga setelah disimpan. Perlakuan yang diuji meliputi perendaman air panas, pelilinan, dan pencelupan dalam ekstrak lengkuas. Buah mangga kemudian dikemas, dan disimpan pada suhu dingin (9 °C) selama 28 hari di dalam kontainer berpendingin panjang 609.6 cm. Karakteristik buah mangga yang diamati meliputi tekstur, warna, kandungan padatan terlarut total, vitamin C, waktu pematangan dan peragaan, serta jenis kerusakan yang terjadi pada setiap perlakuan. Hasil percobaan menunjukkan bahwa perlakuan pencelupan ekstrak lengkuas menunjukkan hasil terbaik dalam meningkatkan umur simpan buah mangga cv. Gedong dan menjaga kualitas fisiologi buah.
Nurul Afifah, Eny Widajati, Endah Retno Palupi
Jurnal Hortikultura Indonesia, Volume 11, pp 120-130; doi:10.29244/jhi.11.2.120-130

Abstract:
Uji tetrazolium (TZ) merupakan salah satu metode untuk mengestimasi viabilitas dan vigor benih. Penelitian ini bertujuan untuk memperbaiki metode analisis vigor pada benih botani bawang merah. Pada penelitian ini digunakan dua varietas benih bawang merah, yaitu Trisula dan Tuk-tuk. Pre-treatment dalam uji tetrazolium benih bawang merah dilakukan dengan perendaman benih dalam air selama 18 jam. Sebelum pewarnaan benih disiapkan dengan menggores sisi lurus secara longitudinal sebagai satu-satunya irisan tipis, dan sisi cembung benih ditusuk dengan scalpel. Benih diwarnai selama 18 jam dalam larutan tetrazolium pada suhu 1% suhu 30 oC dalam kondisi gelap. Pola pewarnaan benih diklasifikasikan dalam empat kategori yaitu empat pola normal kuat sebagai kriteria benih vigor, lima pola normal lemah, tujuh pola abnormal, dan empat pola benih mati. Parameter fisiologis viabilitas dan vigor berkorelasi erat dengan hasil pola vigor/ normal kuat. Pola normal kuat memiliki koefisien korelasi (r) yang tinggi dengan parameter uji fisiologis di laboratorium termasuk indeks vigor (r= 0.882), bobot kering kecambah normal (r= 0.899), dan kecepatan tumbuh (r= 0.875). Hal ini mengindikasikan pola pewarnaan vigor dapat memprediksi vigor benih.
Ridho Kurniati, Fauziah Khairatunnisa, Reni Indrayanti
Jurnal Hortikultura Indonesia, Volume 11, pp 140-148; doi:10.29244/jhi.11.2.140-148

Abstract:
Lily was usually propagated using MS (Murashige and Skoog) medium supplemented with plant growth regulator and hormone. The important concerns in mass propagation and seed production of lily for industries are cheap, easy and low cost medium. This study’s objective was to find out of generic media to substitute MS medium and to decrease the cost of mass propagation of lily in vitro. Three substitutions medium were Vitagrow, Growmore, Gibril, and G-60. Bulbs of lily Arumsari varieties were used as materials. Complete Random Design with a single factor was used in the experimental design. The treatments were type of generic in vitro medium (Vitagrow, Growmore, Gibril, and G-60), consisting of three replication and 20 units per repetition and five bulbs per unit of repetition. The parameter observed was the total number of leaves and roots, length of leaves and roots, and bulb growth percentage. Growmore medium showed a better result than others in total number of leaves (50,67), length of leaves (1,6 cm), length of roots (0,312 cm) and percentage of bulb growth (100%). The highest total number of roots was achieved in G-60 medium.
Ni Wayan Deswiniyanti, Ni Kadek Dwipayani Lestari, Ida Ayu Astarini, Yunita Hardini
Jurnal Hortikultura Indonesia, Volume 11, pp 131-139; doi:10.29244/jhi.11.2.131-139

Abstract:
Tanaman lili (Lilium longiflorum Thunb.) merupakan tanaman hias dan bunga potong. Permintaan bunga potong lili sangat menjanjikan tetapi ketersediaan bibit masih terbatas. Penelitian ini terdiri dari perkecambahan biji lili secara in vitro pada media ½ Murashige & Skoog (MS), multiplikasi bagian eksplan pangkal dan ujung tunas pada berbagai perlakuan media MS kombinasi ZPT BAP dan NAA. Tujuannya untuk mendapatkan kombinasi media yang tepat dan mengetahui persentase tertinggi bagian eksplan yang mampu tumbuh tunas, akar dan kalus. Kombinasi media MS dengan BAP dan NAA yaitu (a) kontrol 0:0 mg L-1, (b) 0:0.1 mg L-1, (c) 0:1 mg L-1, (d) 0.1:0 mg L-1, (e) 0.1:0.1 mg L-1, (f) 0.1:1 mg L-1, (g) 1:0 mg L-1, (h) 0.1:1 mg L-1, (i) 1;1 mg L-1. Penelitian ini disusun dalam RAL faktorial dua faktor yaitu kombinasi pemberian BAP dan NAA, multiplikasi eksplan bagian pangkal dan ujung tunas. Biji lili mampu berkecambah sebanyak 58%. Media c dan i yang mampu menginduksi eksplan untuk tumbuh tunas, akar dan kalus. Media c mampu menginduksi tunas, akar dan kalus, media i mampu menginduksi akar dan kalus. Persentase respon pertumbuhan eksplan bagian pangkal tunas yaitu pertumbuhan tunas 11.1% dan akar 13.3%, sedangkan eksplan bagian ujung tunas menunjukkan pertumbuhan akar 6.7% tanpa pertumbuhan tunas. Pertumbuhan kalus menunjukkan hasil yang sama pada eksplan pangkal dan ujung tunas yaitu 4.4%.
Devinawati Rachmi, Samanhudi, Djoko Purnomo
Jurnal Hortikultura Indonesia, Volume 11, pp 91-100; doi:10.29244/jhi.11.2.91-100

Abstract:
Pisang kepok (Musa balbisiana) mengandung genom B dengan potensi pencoklatan tinggi dan tingkat proliferasi rendah dalam kultur in vitro. Salah satu cara mengurangi pencoklatan dan meningkatkan kandungan vitamin serta hormon dalam media, yaitu dengan penambahan suplemen sintetik maupun ekstrak bahan organik alami. Penelitian ini bertujuan mengetahui proliferasi eksplan pisang kepok Unti Sayang dengan media diperkaya ekstrak buah dan kemampuan aklimatisasi planletnya. Penelitian ini terdiri atas 2 percobaan, pertama tahap in vitro menggunakan Rancangan Acak Lengkap split plot dengan 2 faktor, yaitu main plot (3 taraf suhu ruang kultur) dan subplot (5 taraf ekstrak buah). Kedua, tahap aklimatisasi menggunakan Rancangan Acak Lengkap split plot dengan 2 faktor, yaitu main plot (4 taraf media aklimatisasi) dan subplot (4 taraf vigor planlet). Hasil percobaan menunjukkan penambahan ekstrak buah pada media MS berpengaruh, sedangkan perbedaan suhu inkubasi tidak berpengaruh terhadap proliferasi eksplan pisang kepok Unti Sayang. Media MS dengan penambahan ekstrak buah pepaya (150 g L-1) dan air kelapa (100 ml L-1) memberikan hasil yang tidak berbeda nyata dengan penambahan vitamin sintetik terhadap proliferasi dan morfogenesis eksplan pisang kepok Unti Sayang. Vigor planlet pada berbagai media aklimatisasi tidak berbeda nyata dengan kemampuan hidup mencapai 92%.
Resa Sri Rahayu, Roedhy Poerwanto, Darda Efendi, Winarso Drajad Widodo
Jurnal Hortikultura Indonesia, Volume 11, pp 82-90; doi:10.29244/jhi.11.2.82-90

Abstract:
Cekaman kekeringan merupakan salah satu teknik yang dilakukan untuk menginduksi bunga jeruk keprok di luar musim dalam upaya memenuhi ketersediaan buah jeruk keprok sepanjang tahun. Durasi cekaman kekeringan yang tepat penting dipelajari untuk menghindari cekaman berat dan mendapatkan hasil bunga yang optimum. Penelitian ini bertujuan menentukan durasi cekaman kekeringan yang tepat untuk menginduksi bunga jeruk keprok dataran rendah varietas Madura. Penelitian dilaksanakan di Kebun Percobaan PKHT-IPB dengan ketinggian ± 300 mdpl dari bulan April-Mei 2019. Percobaan dirancang dengan RAK (Rancangan Acak Kelompok) dengan satu faktor perlakuan yaitu durasi cekaman kekeringan dengan lima taraf: tanpa cekaman kekeringan sebagai kontrol, durasi cekaman kekeringan satu minggu, durasi cekaman kekeringan dua minggu, durasi cekaman kekeringan tiga minggu dan durasi cekaman kekeringan empat minggu. Hasil penelitian menunjukkan bahwa durasi cekaman kekeringan mempengaruhi keberhasilan induksi bunga jeruk keprok Madura. Durasi cekaman kekeringan selama 2, 3 dan 4 minggu dengan nilai kadar air secara berturut-turut 81.81%, 65.21% dan 55.39% dari kapasitas lapang berhasil menginduksi bunga. Bunga muncul pada 3, 2 dan 1 minggu setelah rewatering dan pengairan rutin secara berturut-turut pada perlakuan durasi cekaman 2, 3 dan 4 minggu. Tiga minggu tanpa irigasi merupakan durasi cekaman kekeringan optimum untuk induksi bunga jeruk keprok Madura.
Dhika Prita Hapsari, Roedhy Poerwanto, Didy Sopandie, Edi Santosa, Deden Derajat Matra
Jurnal Hortikultura Indonesia, Volume 11, pp 1-12; doi:10.29244/jhi.11.1.1-12

The publisher has not yet granted permission to display this abstract.
Turi Handayani, Winarso Drajad Widodo, Ani Kurniawati, Ketty Suketi
Jurnal Hortikultura Indonesia, Volume 11, pp 24-31; doi:10.29244/jhi.11.1.24-31

The publisher has not yet granted permission to display this abstract.
Resa Sri Rahayu, Roedhy Poerwanto, Darda Efendi, Winarso Drajad Widodo
Jurnal Hortikultura Indonesia, Volume 11, pp 13-23; doi:10.29244/jhi.11.1.13-23

The publisher has not yet granted permission to display this abstract.
Erviana Eka Pratiwi, Awang Maharijaya, Diny Dinarti
Jurnal Hortikultura Indonesia, Volume 11, pp 51-60; doi:10.29244/jhi.11.1.51-60

The publisher has not yet granted permission to display this abstract.
Pipit Werdhiwati, Surjono Hadi Sutjahjo, Desta Wirnas
Jurnal Hortikultura Indonesia, Volume 11, pp 72-81; doi:10.29244/jhi.11.1.72-81

The publisher has not yet granted permission to display this abstract.
Ita Aprilia, Awang Maharijaya, Suryo Wiyono
Jurnal Hortikultura Indonesia, Volume 11, pp 32-40; doi:10.29244/jhi.11.1.32-40

The publisher has not yet granted permission to display this abstract.
Indarti Puji Lestari, Anas D. Susila, Atang Sutandi, Dedi Nursyamsi
Jurnal Hortikultura Indonesia, Volume 11, pp 41-50; doi:10.29244/jhi.11.1.41-50

The publisher has not yet granted permission to display this abstract.
Catur Herison, Rustikawati, Ria Meita, Hasanudin
Jurnal Hortikultura Indonesia, Volume 11, pp 61-71; doi:10.29244/jhi.11.1.61-71

The publisher has not yet granted permission to display this abstract.
Ria Rif’Atunidaudina, , Awang Maharijaya
Jurnal Hortikultura Indonesia, Volume 10, pp 161-172; doi:10.29244/jhi.10.3.161-172

Abstract:
Cowpea (Vigna unguiculata ssp unguiculata), yardlong bean (Vigna unguiculata ssp sesquipedalis), Bambara groundnut (V.subterranea), lima bean (Phaseolus lunatus), bush bean (P. vulgaris), jack bean (Canavalia ensiformis), velvet bean (Mucuna pruriens) and winged bean (Psophocarpus tetragonolobus) are the important pod vegetable of the legume crop in Indonesia. These crops have a high economic and nutritional value. Its dry seeds are rich in proteins just like soybeans that can support human health and future food supply. The genetic diversity among different pod vegetables is not very well known. The objectives of this research were to determine the genetic relationships among different pod vegetable species based on ISSR markers. 32 accessions were analyzed by 11 ISSR primers. The result showed that the ISSR marker generated 80 DNA band with the polymorphism rate of 100% and the informative primers were PKBT 3 and PKBT 6. The result of cluster analysis and PCA analysis grouped all 32 accessions of the vegetable pod into eight clusters, indicating that the majority of the accession of a given species tend to group. Gower's similarity coefficient among all accessions varied from 0.425 to 0.988, and from 0.444 to 0.700 at the species level. The ISSR markers revealed the close relatedness between V. subterranea - C. ensiformis species, while the greatest distance was found between the P. vulgaris - M. pruriens species. Such a determination of relatedness is useful for a better understanding of the relationships among different pod vegetable species, which are generally considered to be a complex group with high phenotypic variability. Keywords: clustering, genetic distance, polymorphism, pulses, similarity coefficient
Endang Gunawan, Anas D. Susila, Atang Sutandi, Edi Santosa
Jurnal Hortikultura Indonesia, Volume 10, pp 173-181; doi:10.29244/jhi.10.3.173-181

Abstract:
Penetapan rekomendasi dosis kalium (K) berdasarkan uji tanah untuk tanaman tomat pada tanah Andisol belum banyak dikaji di Indonesia. Penelitian diawali dengan pembuatan status hara K tanah di Kebun Percobaan IPB Pasirsarongge Cianjur dilanjutkan dengan uji korelasi di rumah plastik PKHT IPB Tajur Bogor pada Desember 2015 sampai Mei 2016. Tujuan penelitian adalah menetapkan metode ekstraksi K terbaik bagi tanaman tomat di tanah Andisol. Status K tanah dibuat dengan larutan kalium sulfat (K2SO4) sebesar 0, ¼X, ½X, ¾X, dan X dimana X adalah 413.4 kg K ha-1 sebagai dosis K maksimum yang ditambahkan untuk mencapai kadar K maksimum dalam larutan tanah. Larutan K2SO4 disiram merata pada bedengan tanah dan diinkubasi selama 4 bulan. Ekstraksi K tanah menggunakan 5 metode yaitu: Bray 1 (HCl 5N), HCl 25%, Morgan Wolf (NaC2H3O2.3H2O), Mechlich (HCl 0.05N + H2SO4 0.025N) dan NH4OAc (NH4OAc, pH 7). Hasil penelitian menunjukkan adanya perbedaan respon tinggi tanaman, bobot kering biomas, kandungan K tanaman terhadap tingkat status hara K tanah. Pola respon kuadratik ditunjukkan pada tinggi tanaman umur 6 dan 7 minggu setelah tanam, dan bobot kering total. Metode ekstraksi K Andisols terbaik untuk tomat adalah NH4OAc dengan nilai koefisien korelasi (r): 0.75. Kata kunci: biomas, K2SO4, metode ekstraksi, NH4Oac, status K
, Wiwin Sumiya Dwi Yamika, Luqman Qurata Aini, Nur Azizah, Elok Sukmarani
Jurnal Hortikultura Indonesia, Volume 10, pp 182-189; doi:10.29244/jhi.10.3.182-189

Abstract:
Tujuan penelitian ini untuk menentukan pengaruh rhizobakteri pada pertumbuhan, klorofil dan kandungan allicin tanaman bawang merah (Allium ascalonicum L.) dalam kondisi salin. Penelitian ini dilakukan di Rumah Kaca di Agrotechnopark Universitas Brawijaya, Desa Jatikerto, Malang-Indonesia yang dilaksanakan mulai bulan Februari hingga Juni 2018. Strain rhizobakteri yang digunakan terdiri dari isolat-isolat bakteri toleran salin berasal dari tanah salin di pesisir Lamongan, Jawa Timur, Indonesia dengan kode isolat SN13 (Streptomyces sp.), SN22 (Bacillus sp.) and SN23 (Corynebacterium sp.). Rancangan percobaan yang digunakan dalam penelitian ini adalah rancangan petak terbagi (split plot), terdiri dari kondisi salin sebagai petak utama dan konsentrasi bakteri toleran salin sebagai anak petak. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tanaman yang diinokulasi bakteri mempunyai bobot kering akar yang sangat nyata lebih tinggi (22.10 - 30%), jumlah klorofil (mencapai 26.03%) lebih tinggi dibandingkan tanpa inokulasi, tetapi memiliki allicin pada umbinya lebih rendah. Aplikasi bakteri toleran salin dapat memperbaiki pertumbuhan tanaman dalam kondisi salin. Kondisi salin menurunkan baik pertumbuhan dan hasil tanaman bawang merah, namun meningkatkan kandungan prolin. Peningkatan konsentrasi prolin pada daun merupakan respon fisiologis dari tanaman bawang merah pada kondisi salin. Kata kunci: allisin, klorofil, prolin, salinitas, umbi
, Desi Nadalia, Siti Lathifah Husnul Khuluq
Jurnal Hortikultura Indonesia, Volume 10, pp 190-199; doi:10.29244/jhi.10.3.190-199

Abstract:
One of the efforts that can be done so that the fertilization of phosphorus (P) accommodate the P needs of big red chili is by conducting soil analysis and determine the critical level of P in the soil related to the yield. The objective of this research was to determine the critical level of P for big red chili in Java Island. Soil samples were collected from 19 locations in Java Island. The soil P before planting of 19 locations was determined by three methods of P extraction namely Bray 1, Olsen, and Mehlich III. After soil P analyses, big red chili was planted in a pot containing 500 g of soil (oven-dry weight) from 19 locations where each location had 4 rates of P fertilization. The rates of P fertilization applied were 0, 55, 110, and 220 kg ha-1 P2O5. Urea and KCl were applied with the rate of 110 kg ha-1 and 180 kg ha-1 respectively as basal fertilizers. Plant biomass was harvested after the age of 4 weeks after planting. The effect of P fertilizer on growth parameters was evaluated using analysis of variance. The critical level of soil P was determined by the Cate and Nelson method. The results showed that P fertilization had a significant effect on plant height, fresh weight and dry weight of plants. Fertilization treatment of 220 kg ha-1 P2O5 resulted in the highest responses to plant growth parameters. The correlation test results showed that Bray 1, Olsen and Mehlich III extraction methods significantly and positively correlated with plant dry weight. The Olsen extraction method showed the highest correlation with plant dry weight (r=0.665). The critical levels of P in the soil for big red chili in Java determined by Bray 1, Olsen, and Mehlich III extraction methods, were 15 ppm, 40 ppm, and 50 ppm, respectively. Keywords: Bray 1, Cate and Nelson, extraction method, Mehlich, Olsen, soil analysis
, Deddy Erfandi
Jurnal Hortikultura Indonesia, Volume 10, pp 200-213; doi:10.29244/jhi.10.3.200-213

Abstract:
Tanah di lahan kering merupakan lahan yang terdegradasi. Oleh karena itu diperlukan perbaikan kualitas tanah tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh penggunaan mulsa dan bahan pembenah tanah dalam memperbaiki sifat fisik dan kimi tanah serta kaitannya dalam meningkatkan produksi bawang merah. Penelitian aplikasi mulsa dan pembenah tanah pada pertanaman bawang merah dilaksanakan pada bulan Maret sampai Juni musim tanam (MT) 2016 di Desa Bayongbong, Kecamatan Bayongbong, Kabupaten Garut, Provinsi Jawa Barat. Rancangan percobaan yang digunakan adalah petak terpisah (Split Plot Design) dengan 3 ulangan. Main plot adalah jenis mulsa yaitu: Tanpa mulsa (M-0), Mulsa plastik (M-1), dan Mulsa jerami (M-2) sedangkan sub-plot adalah: 1) Teknologi petani (B-1), 2) B-1+ NPK rekomendasi (B-2), 3) B-1 + 5 t ha-1 Dolomit (B-3), 4) B-1 + 5.0 5 t ha-1 Biochar (B-4), 5) B-1 + 5 5 t ha-1 Dolomit + 5.0 5 t ha-1Biochar (B-5). Hasil penelitian menunjukkan bahwa mulsa dan pembenah tanah memperbaiki sifat fisika tanah (retensi air, porositas dan agregasi tanah). Selain itu memperbaiki sifat kimia tanah (pH, Ca2+, K+, Ca-dd, K-dd, KB). Ada interaksi antara musa dan pembenah tanah terhadap hasil umbi bawang merah. Hasil umbi 18.35 t ha-1 didapatkan pada perlakuan mulsa plastik dengan teknologi petani dtambah 5 t ha-1 dolomit yang meningkatkan hasil sampai 57.8% dibandingkan kontrol, tanpa mulsa dengan teknologi petani. Kata kunci : hasil umbi, sayuran tropis, sifat fisika tanah, sifat kimia tanah
Yusnita Sari, , Muhamad Syukur, Diny Dinarti
Jurnal Hortikultura Indonesia, Volume 10, pp 145-153; doi:10.29244/jhi.10.3.145-153

Abstract:
Peningkatan ukuran umbi bawang merah lokal dengan kolkisin dapat meningkatkan produktivitas dan preferensi konsumen terhadap bawang merah lokal Indonesia. Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh nilai LC50 benih bawang merah terhadap kolkisin serta menduga beberapa parameter genetik karakter agronomi populasi putatif mutan bawang merah generasi M1V2 hasil induksi poliploid dengan kolkisin. Penelitian ini terdiri atas dua percobaan terpisah. Percobaan pertama yaitu induksi poliploid TSS bawang merah dengan 5 konsentrasi kolkisin (0%, 0.25%, 0.5%, 0.75% dan 1%) bertujuan untuk memperoleh nilai LC50 dan mutan putatif bawang merah. Percobaan kedua yaitu pendugaan parameter genetik beberapa karakter agronomi populasi (28 galur) mutan putatif bawang merah Trisulagenerasi M1V2 hasil induksi poliploid dengan kolkisin untuk menduga berbagai parameter genetik. Rancangan augmented digunakan baik pada penanaman percobaan pertama maupun percobaan kedua. Nilai LC50 TSS bawang merah varietas Trisula terhadap kolkisin sebesar 0.65%. Nilai heritabilitas berbagai karakter agronomi pada mutan putatif generasi M1V2 berkisar antara rendah sampai tinggi (11.13 – 83.39%). Tingkat ploidi seluruh populasi M1V1 bersifat mixoploid dan pengelompokkan pada mutan putatif generasi M1V2 dengan analisis kluster bersifat acak. Hal ini mengindikasikan bahwa induksi poliploid dengan kolkisin pada TSS bawang merah bersifat acak. Kata kunci: heritabilitas, kolkisin, LC50, mixoploid, poliploid
Alfa Sada Saputra, Suprihati, Endang Pudjihartati
Jurnal Hortikultura Indonesia, Volume 10, pp 214-221; doi:10.29244/jhi.10.3.214-221

Abstract:
Phosphate and or potassium nutrients are limiting factors for the formation of flowers and seeds of viola (Viola cornuta L). The purpose of this study was to determine the effect of limiting nutrients on the number of flowers and yield by viola female plants. Research was carried out in June to August 2018 in farm of PT. Selektani Horticulture, Magelang. This research was approach using Minus One Elements Technique with 5 treatments, that is Tropical Sub Standard, Tropical Modification, -P, -K, -PK repeated 5 times therefore 25 units of experiment were tested. The results were analyzed of variance at 95% accuracy. DMRT at 5% level of probability was used to know the difference between treatments. The observed parameters includes number of flowers, number of pods, pod weight, pod dry weight, net dry seed, number of seeds per pod. In terms of quality of seed includes germination rate (DB), speed of germination (KCT) and simultaneity of germination (KST). This study showed that P and K nutrients were the limiting factors for flower and seed production of viola. Without P and K nutrients, plants only produce the number of flowers, number of pods, productivity and germination respectively 76.62%, 73%, 57.95% and 53% compared to Standard Sub Tropical treatments. Keywords: minus one element technique, ornamental plant, P and K elements, seed production
, Darini Sri Utami, Begananda
Jurnal Hortikultura Indonesia, Volume 10, pp 154-160; doi:10.29244/jhi.10.3.154-160

Abstract:
Tujuan penelitian adalah menentukan dosis optimal pupuk mikotricho dan pengurangan dosis pupuk sintetis terhadap pertumbuhan dan hasil cabai merah di lahan marjinal. Penelitian dilaksanakan pada bulan Maret sampai September 2018. Penelitian merupakan percobaan lapang di desa Kaliori, Kecamatan Kalibagor, Kabupaten Banyumas, dengan jenis tanah ultisol menggunakan Rancangan Acak Kelompok Lengkap Teracak (RAKLT) dengan 3 ulangan. Faktor pertama perlakuan adalah dosis pupuk mikotricho yaitu tanpa pupuk mikotricho, dosis 10 g mikoriza+10 g Trichoderma, 20 g mikoriza + 20 g Trichoderma. Faktor kedua adalah pengurangan dosis rekomendasi pupuk sintetis yaitu 0% (dosis rekomendasi = SP-36 480 kg ha-1 dikonversi menjadi pupuk SP-27 640 kg ha-1, dan pupuk susulan berupa pupuk ZA 320 kg ha-1, pupuk urea 240 kg ha-1, pupuk KCl 320 kg ha-1), pengurangan 25% dan 50%. Analisis data menggunakan analisis ragam dan uji lanjut Duncan’s Multiple Range Test 5%. Hasil penelitian menunjukkan (1) pemberian pupuk hayati mikotricho hingga 40 g (20 g mikoriza + 20 g Trichoderma) tanaman-1 dapat meningkatkan pertumbuhan dan hasil cabai merah, (2) pengurangan dosis pupuk sintetik urea, ZA, SP27 dan KCl hingga 25% dari dosis rekomendasi menunjukkan pertumbuhan dan hasil cabai merah lebih baik dibandingkan dosis rekomendasi, (3) pemberian pupuk mikotricho dosis 40 g (20 g mikoriza + 20 g Trichoderma) dengan pengurangan 25% pupuk sintetik memberikan pertumbuhan jumlah daun, luas daun, dan jumlah cabang yang optimal serta peningkatan hasil cabai (15.4 t ha-1) sebesar 22.2% dibandingkan tanpa pupuk mikotricho dengan dosis rekomendasi (12.6 t ha-1). Pemberian pupuk mikotricho 20 g (10 g mikoriza dan 10 g Trichoderma) dan pengurangan dosis pupuk sintetik 25%, peningkatan hasil 15.8% (14.6 t ha-1) dibandingkan tanpa pupuk mikotricho dan dosis rekomendasi pupuk sintetik. Kata kunci: biopestisida, budidaya, cabai merah, pupuk hayati
, Mohamad Rahmad Suhartanto, Endah Retno Palupi
Jurnal Hortikultura Indonesia, Volume 10, pp 75-84; doi:10.29244/jhi.10.2.75-84

Abstract:
Metode pembibitan nanas yang dapat dikembangkan untuk meningkatkan jumlah bibit yangdapat dihasilkan adalah setek basal daun mahkota. Tingkat kematangan buah diduga berpengaruhterhadap tingkat keberhasilan setek basal daun. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan informasimengenai pengaruh tingkat kematangan buah pada saat pengambilan bahan setek untuk produksi bibitasal setek basal daun mahkota pada nanas cv. Smooth Cayenne. Percobaan menggunakan RKLT satufaktor, yaitu tingkat kematangan dengan empat taraf perlakuan: tingkat kematangan 1 (K1) : semuamata berwarna hijau; kematangan 2 (K2) : mata buah yang berwarna kuning < 20%; kematangan 3(K3) : mata buah yang berwarna kuning 40-55%; kematangan 4 (K4): mata buah yang berwarnakuning >90%; tetapi yang berwarna jingga kemerahan 90%, tetapi yangberwarna jingga kemerahan
Etik Wukir Tini, Prasmaji Sulistyanto, G. H. Sumartono
Jurnal Hortikultura Indonesia, Volume 10, pp 119-127; doi:10.29244/jhi.10.2.119-127

Abstract:
Penelitian bertujuan mendapatkan media tanam dan konsentrasi pupuk daun yang paling tepatuntuk aklimatisasi anggrek Phalaepnopsis agar meningkatkan pertumbuhan tanaman. Penelitiandilaksanakan November 2017 sampai Juni 2018 di rumah kasa. Rancangan percobaan yang digunakanRancangan Kelompok Lengkap Teracak dengan dua factor perlakuan, faktor pertama adalah mediatanam (pakis, sabut kelapa, dan akar kadaka), dan faktor yang kedua adalah konsentrasi pupuk daun (tanpa diberi pupuk daun, pupuk daun dengan konsentrasi 1 g L-1, 2 g L-1, 3 g L-1). Hasil penelitianmenunjukkan bahwa akar kadaka dapat meningkatkan pertambahan luas daun sebesar 19.2%dibandingkan pakis dan 26.67% dibandingkan sabut kelapa. Konsentrasi pupuk daun Greener 2 g L-1merupakan konsentrasi paling baik yang dapat meningkatkan pertambahan luas daun sebesar 78.31%dan pertambahan jumlah klorofil 25.58%. Kombinasi jenis media tanam dan konsentrasi pupuk belummeningkatkan pertumbuhan tanaman anggrek Phalaenopsis pada fase aklimatisasi.Kata kunci: akar kadaka, konsentrasi, pakis, pertumbuhan tanaman, sabut kelapa
Nugrahaeni Widiawati
Jurnal Hortikultura Indonesia, Volume 10, pp 128-134; doi:10.29244/jhi.10.2.128-134

Abstract:
Kajian pengaruh perlakuan retardant dan pemangkasan pucuk terhadap penampilan tanamankrisan pot (Dendranthema grandiflora) dilakukan menggunakan Rancangan Acak Kelompok yangterdiri atas tujuh perlakuan dengan empat ulangan, yaitu: P1) Kontrol tanpa retardan dan pemangkasanpucuk; P2) Penyemprotan retardan saat pindah tanam bibit; P3) Penyemprotan retardan 1 minggusetelah pindah tanam bibit; P4) Penyemprotan retardan 2 minggu setelah pindah tanam bibit; P5)Pemangkasan pucuk saat pindah tanam bibit; P6). Pemangkasan pucuk 1 minggu setelah pindah tanambibit; P7) Pemangkasan pucuk 2 minggu setelah pindah tanam bibit. Data hasil penelitian dianalisismenggunakan ANOVA dan BNJ 5%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa retardan meningkatkankandungan klorofil daun, tanaman menjadi lebih pendek, diameter tajuk lebih kecil, jumlah bunga perpot lebih sedikit dan diameter bunga lebih kecil. Pemangkasan pucuk menurunkan tinggi tanaman,meningkatkan jumlah bunga per tanaman dan jumlah bunga per pot. Perlakuan retardan danpemangkasan pucuk menyebabkan mekarnya bunga kurang serentak. Penampilan krisan pot denganperlakuan retardan lebih ideal dibandingkan kontrol dan pemangkasan pucuk.Kata kunci : pembungaan, pertumbuhan, krisan pot, paclobutrazol, pemangkasan pucuk
Arya Widura Ritonga, Muhamad Achmad Chozin, Muhamad Syukur, Awang Maharijaya, Sobir
Jurnal Hortikultura Indonesia, Volume 10, pp 85-93; doi:10.29244/jhi.10.2.85-93

Abstract:
Informasi tentang karakter seleksi sangat diperlukan dalam suatu program pemuliaan. Genotipetomat SSH3 (suka naungan), genotipe 4974 (peka naungan) dan populasi F2 turunan hasil persilangangenotipe SSH3 x 4974 digunakan untuk menduga nilai heritabilitas, pengaruh langsung dan pengaruhtidak langsung terhadap karakter hasil tomat pada kondisi naungan paranet 50% dan tanpa naungan.Penanaman dilakukan di Kebun Percobaan PKHT-IPB Pasir Kuda pada Juli-Oktober 2016. Nilaiheritabilitas tinggi (>50%) dihasilkan oleh tinggi tanaman, panjang daun, lebar daun, luas daun, bobotdaun, bobot daun spesifik, bobot buah, fruit set, jumlah dan bobot buah per tanaman tomat padakondisi tanpa naungan. Nilai heritabilitas tinggi (>50%) pada naungan paranet 50%, dihasilkan olehtinggi tanaman, fruit set, jumlah dan bobot buah per tanaman. Karakter bobot buah dan jumlah buahper tanaman memiliki pengaruh langsung yang tinggi dan positif terhadap bobot buah per tanamantomat pada kondisi tanpa naungan dan naungan paranet 50%, sementara lebar dan luas daun memilikipengaruh langsung yang tinggi dan positif terhadap bobot buah per tanaman tomat hanya pada naunganparanet 50%. Karakter panjang buah, diameter buah, dan fruit set memiliki pengaruh tidak langsungyang tinggi dan positif terhadap bobot buah per tanaman pada kondisi tanpa naungan dan naunganparanet 50%, sementara tinggi tanaman memiliki pengaruh tidak langsung yang tinggi dan positifterhadap bobot buah per tanaman tomat hanya pada naungan paranet 50%. Karakter fruit set, bobot buah, dan jumlah buah per tanaman potensial dijadikan karakter seleksi untuk produktivitas tomatpada kondisi tanpa naungan. Karakter tinggi tanaman, fruit set dan jumlah buah per tanaman potensialdijadikan karakter seleksi untuk produktivitas tomat pada naungan paranet 50%.Kata kunci: fruit set, pengaruh langsung, pengaruh tidak langsung, toleran naungan
Eni Maftuah, Afiah Hayati
Jurnal Hortikultura Indonesia, Volume 10, pp 102-111; doi:10.29244/jhi.10.2.102-111

The publisher has not yet granted permission to display this abstract.
Gusti Eman Ayu Sasmita Jati, , Maya Melati
Jurnal Hortikultura Indonesia, Volume 10, pp 135-144; doi:10.29244/jhi.10.2.135-144

Abstract:
Pemanenan kemuning (Murraya paniculata (L.) Jack.), dengan cara pangkas di ketinggian yangsama terus-menerus dapat menyebabkan penurunan produksi. Penerapan pangkas berat terhadaptanaman kemuning belum pernah dilaporkan sebelumnya. Penelitian ini bertujuan untuk menentukanketinggian pangkas dan dosis pupuk yang sesuai untuk mempertahankan atau meningkatkan produksidaun kemuning dan flavonoid. Penelitian dilakukan dari bulan Juli 2015 sampai Juli 2016. Percobaandilakukan di Kebun Percobaan Organik Institut Pertanian Bogor di Cikarawang, Bogor. Percobaanmenggunakan rancangan acak kelompok dengan dua faktor dan empat ulangan. Faktor pertama adalahtinggi pemangkasan yang terdiri atas 45, 60 dan 75 cm di atas permukaan tanah. Ketinggian 75 cmdidesain sebagai kontrol. Faktor kedua adalah kombinasi dosis pupuk kandang ayam (PA) dan abu sekam(AS), yaitu: tanpa pupuk (kontrol), 7 kg PA + 3 kg AS, dan 14 kg PA + 6 kg AS per tanaman per tahun.Panen dilakukan dua kali dengan interval empat bulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ketinggianpangkas 60 cm di atas permukaan tanah merupakan pemangkasan berat terbaik untuk pertumbuhan,produksi, dan produksi total flavonoid daun tanaman kemuning yang berusia 45-57 bulan setelah tanam(BST) setelah 4-6 kali panen, sementara perlakuan pemupukan tidak memberikan hasil yang berbedanyata.Kata kunci: abu sekam, kandungan pigmen, pupuk kandang ayam, tinggi pangkasan
, Dwi Wahyuni Ganefianti, Umi Salamah, Yenny Sariasih, Nico Dwi Ardiansyah
Jurnal Hortikultura Indonesia, Volume 10, pp 112-118; doi:10.29244/jhi.10.2.112-118

Abstract:
Persilangan merupakan salah satu teknik untuk memperluas keragaman genetik. Tujuanpenelitian adalah untuk mengestimasi keragaman genetik, heritabilitas dan jumlah kelompok genpengendali karakter hasil dan komponen hasil tomat pada populasi F2 persilangan TMU-1 x TMU-2di dataran rendah. Penelitian dilaksanakan di Kelurahan Kandang Limun, Kota Bengkulu denganketinggian 10 m dpl (dataran rendah) dari bulan April sampai Oktober 2016. Estimasi keragamangenetik, heritabilitas dan jumlah kelompok gen pengendali karakter ditentukan berdasarkan nilaitengah dan ragam pada populasi. Hasil penelitian menunjukkan semua karakter yang diuji memilikijumlah kelompok gen pengendali sebanyak satu gen. Karakter yang dikendalikan oleh satu gendiharapkan fiksasi gen-gen akan cepat tercapai pada beberapa siklus awal seleksi. Delapan karaktermemiliki heritabilitas tinggi. Masing-masing karakter dan heritabilitasnya adalah umur berbunga(52.90%), jumlah buah per tanaman (92.99%), panjang buah (77.10%), diameter buah (71.76%),jumlah rongga buah (85.68%), tebal daging buah (73.05%), padatan total terlarut (89.77%) dan bobotbuah per tanaman (65.19%).Kata kunci: dataran rendah, heritabilitas, jumlah kelompok gen, keragaman, komponen hasil
, Casdi, Warid
Jurnal Hortikultura Indonesia, Volume 10, pp 94-101; doi:10.29244/jhi.10.2.94-101

Abstract:
Salah satu isu dalam pertanian perkotaan adalah pengelolaan limbah. Banyaknya limbah diperkotaan belum banyak dikelola secara baik. Salah satu limbah yang dapat dikelola dan dimanfaatkanadalah limbah perikanan sebagai bahan baku pupuk organik. Tujuan dari penelitian ini mengetahuirespon pertumbuhan dan hasil panen pakcoy terhadap pemberian pupuk organik cair limbah perikanan.Metode penelitian menggunakan RAKL secara faktorial diulang empat kali. Faktor pertama adalahdosis pupuk urea dengan lima taraf (0, 25%, 50%, 75%, dan 100% dari dosis rekomendasi 250 kg ha-1), dan Faktor kedua adalah konsentrasi pupuk cair organik dari limbah perikanan dengan lima taraf(0, 2, 4, 6, dan 8 ml L-1). Terdapat 25 kombinasi perlakuan dengan 6 tanaman per satuan percobaan,sehingga ada 600 sampel tanaman yang diteliti. Penelitian ini dilakasanakan di Kebun Bergizi, danLaboratorium Agroekoteknologi, Universitas Trilogi, pada bulan September sampai Oktober 2018.Hasil penelitian menunjukkan kombinasi perlakuan 50% pupuk urea dan 2 ml L-1 pupuk cair organikmemberikan hasil yang lebih baik dibandingkan dengan kontrol perlakuan lainnya pada indikatorpertumbuhan. Pada peubah jumlah daun layak konsumsi dan berat segar tanaman pada kombinasiperlakuan 50% pupuk urea dan 2 ml L-1 yaitu 19.11 helai, dan 220.77 g lebih berat dari perlakuan100% dosis urea yang digunakan.Kata kunci: Limbah organik, nitrogen, pemupukan, pertanian perkotaan, sayuran
Awang Maharijaya, Agus Purwito
Jurnal Hortikultura Indonesia, Volume 9, pp 197-205; doi:10.29244/jhi.9.3.197-205

Abstract:
Flowering initiation is regulated by the internal and external condition of plant. Vernalization is considered to induce flower initiation on shallots (Allium cepa var. aggregatum). This research objective was to analyze the flowering quantitatif characters and metabolomic profile of shallot duringvernalization on bulb development. Vernalization was carried out at 8 0C for 6 weeks treatment were four bulb growth stage i.e non-vernalized bulbs (S0), vernalization on embryonic stage (S1), vernalized bulbs on 1 cm of shoot stage (S2) and vernalized bulbs on 2 cm of shoot stage (S3). Vernalization treatment in early stage increased the number of tillers, number of umbel, diameter of umbel and percentage of flowering compared to another stage. The early stage of bulbs growth was the effective stage in receiving vernalization treatment. The bigger number and diameter of umbel lead to the higher percentage of flowering in shallot plant. The number and diameter of umbel can be used as character of selection for the percentage flowering character in shallot. Metabolomic analysis has identified of 104 specific metabolites from different vernalization treatments and clustered shallot into three groups. The early stadium of bulbs development (embryo stadia and stadia 1 cm buds) contains specific metabolomes (phytol and 2-propanone) as the indicator of reproductive phase.Keywords: correlation, flower induction, hierarchical cluster analysis, metabolomicABSTRAKProses pembungaan pada bawang merah (Allium cepa var. aggregatum) sangat dipengaruhi faktor internal dan eksternal tanaman. Induksi pembungaan dengan perlakuan vernalisasi dilakukan untuk mendorong inisiasi pembentukan bunga bawang merah. Penelitian bertujuan untukmenganalisis karakter kuantitatif pembungaan dan profil metabolomik bawang merah yang diberikan perlakuan vernalisasi pada stadia perkembangan umbi. Vernalisasi dilakukan pada suhu 8 0C selama6 minggu terdiri atas empat taraf, yaitu umbi tanpa vernalisasi (S0), vernalisasi pada stadia embrio (S1), vernalisasi pada stadia tumbuh tunas 1 cm (S2), dan vernalisasi pada stadia tumbuh tunas 2 cm (S3). Perlakuan vernalisasi pada stadia awal pertumbuhan umbi mampu meningkatkan karakter jumlah anakan, jumlah umbel, diameter umbel, dan persen berbunga bawang merah dibandingkan vernalisasi pada stadia lainnya. Stadia awal pertumbuhan umbi merupakan stadia terbaik dalam menerima perlakuan vernalisasi. Semakin besar jumlah umbel dan diameter umbel semakin meningkatkan persen berbunga bawang merah. Karakter jumlah umbel dan diameter umbel dapat digunakan sebagaikarakter seleksi untuk peubah persen berbunga bawang merah. Analisis metabolomik berhasil mengidentifikasi 104 metabolit spesifik dan mengelompokkan bawang merah menjadi 3 kelompok stadia. Vernalisasi pada stadia awal perkembangan umbi (stadia embrio dan tunas 1 cm) menunjukkan adanya perubahan fase reproduktif, yang dicirikan dengan adanya senyawa phytol dan 2-propanone.Kata kunci: metabolomik, analisis pengelompokan hierarkis, induksi pembungaan, korelasi
Siti Rahmania Fajri,
Jurnal Hortikultura Indonesia, Volume 9, pp 188-196; doi:10.29244/jhi.9.3.188-196

Abstract:
Pojanan Village of Pamekasan District is wellknown as central producer for Manjung Variety of shallot. This variety has advantages such as high productivity, drought-resistant, pests and diseases resistant, fragrant aroma, and savory taste. However, there is low productivity problem that doesnot meet maximum potential expectation. Therefore, this study aimed to analyze the level of technical efficiency, farmers risk behavior, and interrelations between both issues. There were 42 respondents and the study involved analysis methods such us Cobb Douglass function by Stochastic Frontier approach, descriptive quantitative by Likert Scale, and Pearson Correlation. The result showed that average level of technical efficiency was about 77% with 40.5% neutral farmers risk behaviour andno significant relationship between technical efficiency and farmers risk behavior.Keywords: risk behavior, shallot production, technical efficiencyABSTRAKDesa Pojanan Barat Kabupaten Pamekasan dikenal sebagai sentra produksi bawang merah, Varietas Manjung. Bawang merah ini dikenal sebagai produk yang memiliki sifat-sifat unggul seperti: memiliki produktivitas yang tinggi, mampu bertahan pada kondisi lahan yang kering, memiliki ketahanan terhadap hama dan penyakit, serta memiliki aroma yang harum dan sangat gurih. Permasalahan di desa tersebut adalah produktivitasnya tidak sesuai dengan potensi maksimal yangseharusnya bisa dihasilkan. Tujuan penelitian ialah menganalisis tingkat efisiensi teknis, mengetahui perilaku petani dalam menghadapi risiko, dan menganalisis keterkaitan efisiensi teknis dan perilaku risiko petani. Jumlah sampel sebanyak 42 petani. Metode analisis yang digunakan adalah fungsi produksi Cobb Douglas dengan pendekatan Stochastic Frontier, diskriptif kuantitatif dengan menggunakan skala Likert, dan uji korelasi Pearson. Hasil yang diperoleh menunjukkan bahwa petani hanya mampu mencapai tingkat efisiensi teknis rata-rata sebesar 77%, sementara itu 40.5% petani berperilaku netral terhadap risiko, dan tidak terdapat hubungan yang signifikan antara efisiensi teknis dan perilaku risiko petani.Kata kunci: efisiensi teknis, perilaku risiko, produksi bawang merah
Jurnal Hortikultura Indonesia, Volume 9, pp 174-187; doi:10.29244/jhi.9.3.174-187

Abstract:
Spraying technique of pesticides that are commonly carried out by cucumber farmers in Indonesia is very diverse, so it is needed to be evaluated to find out the right way to spray. This experiment aimed to determine the effect of nozzle swing on the level of coverage and distribution of droplets. In addition, it is also to find out the effectiveness of pesticides used in pests and diseases control in cucumber cultivation. The experiment was carried out at Margahayu Experimental Garden(± 1 250 m asl.), Indonesian Vegetable Research Institute in Lembang, West Java, from July to October 2015. The experiment was arranged using paired comparisons and each treatment was repeated four times. The treatment tested is how to swing the nozzle with the position: (A) above the plant canopy facing down and moving forward and (B) below and swinging towards the plant at an angle of 45o. Results showed that the second nozzle swinging method (B) gave a higher level of coverage anddistribution of droplets than that produced by the first nozzle swinging method, so the pesticide efficacy in treatment B was also higher.Keywords: efficacy, financial analysis, pesticide, spray volumeABSTRAKCara penyemprotan pestisida yang umum dilakukan oleh petani mentimun di Indonesia sangat beragam, sehingga perlu dievaluasi untuk mengetahui cara penyemprotan yang tepat. Percobaan ini bertujuan mengetahui pengaruh ayunan nozzle terhadap tingkat tingkat penutupan dan sebaran droplet. Selain itu juga untuk mengetahui keefektipan pestisida yang digunakan terhadap hama dan penyakit pada tanaman mentimun. Percobaan dilaksanakan di Kebun Percobaan Margahayu (± 1 250 m dpl), Balai Penelitian Tanaman Sayuran di Lembang, Jawa Barat, mulai bulan Juli sampai dengan Oktober 2015. Percobaan disusun menggunakan petak berpasangan (paired comparison) dan tiap pasanganperlakuan diulang empat kali. Perlakuan yang diuji ialah cara mengayunkan nozzle dengan posisi: (A) di atas tajuk tanaman menghadap ke bawah dan digerakkan ke depan dan (B) dari bawah dandiayunkan ke arah tanaman dengan sudut 450. Hasil percobaan menunjukkan bahwa cara mengayunkan nozzle yang ke-2 (B) menghasilkan tingkat penutupan daun oleh larutan semprot dansebaran droplet yang lebih tinggi daripada yang dihasilkan oleh cara mengayunkan nozzle yang ke-1 (A), sehingga keefektipan pestisida pada perlakuan B juga lebih tinggi.Kata kunci: analisis finansial, keefektipan, pestisida, volume semprot
, Moch. Dawam Maghfoer, Nurul Aini, Wiwin Sumiya Dwi Yamika
Jurnal Hortikultura Indonesia, Volume 9, pp 158-166; doi:10.29244/jhi.9.3.158-166

Abstract:
Indigenous vegetable production is a primary source of revenue for micro-scale vegetable farmers in East Java Province. Despite the, information about consumer preference on the quality attribute of the indigenous vegetables is still lack. Thus, the study purposed to determine consumerpreferences on the quality attribute of leafy greens basil, kenikir and watercress to improve the quality on the farm level. The research conducted through consumer survey in seven sites, namely Surabaya,Malang, Kediri, Madiun, Jember, Bojonegoro, Pamekasan, East Java Indonesia from July to August 2017. The site selection based on sociocultural and the composition of diverse communities. Fromseven sites, a total of 210 female respondents interviewed randomly. Consumer preferences on the quality attributes concluded by the method based on rank orders and analyzed with Chi-square. The experimental results showed that consumer preference for quality attributes depend on the vegetable. For basil: leaf color was light green, a large number of leaves, without a flower, medium leaf size (3.5 cm diameter), number of branches/stalk, no spicy taste, and smells stung. For kenikir: leaf color waslight green, a large number of leaves, without a flower, medium smell, a large number of branches/stem, the texture of stem not fibrous, and no bitter taste. For watercress: leaf color was green, a large number of leaves, medium stem size, soft leaf, and slightly sweet flavor.Keywords: basil, consumer preference, kenikir, vegetable quality, watercressABSTRAKProduksi sayuran indigenous merupakan sumber pendapatan penting bagi petani sayuran skala kecil di Provinsi Jawa Timur. Namun demikian, kriteria kualitas yang diinginkan oleh konsumen masih belum seluruhnya dipetakan, oleh sebab itu, pengkajian dilakukan agar dapat di identifikasipreferensi konsumen terhadap kualitas sayuran kemangi, kenikir dan selada air dalam rangka perbaikan kualitas di tingkat petani. Survei konsumen dilakukan di tujuh wilayah di Jawa Timur, yaitu Surabaya, Malang, Kediri, Madiun, Jember, Bojonegoro, dan Pamekasan pada bulan Juli sampai Agustus 2017. Pemilihan wilayah didasarkan pada sosiokultur dan komposisi masyarakat yang beraneka ragam. Dari 7 wilayah tersebut, wawancara dilakukan dengan total 210 responden wanita yang ditentukan secara acak. Preferensi pengguna terhadap sifat kualitas sayur-sayuran dianalisis menggunakan Chi-square. Hasil analisis menunjukkan bahwa, preferensi pengguna terhadap sifat kualitas tergantung pada jenis sayurannya. Sayur kemangi yang disukai adalah memiliki warna daunmuda, jumlah daun banyak, ukuran daun medium (garis tengah 3.5 cm), tidak terdapat bunga, total cabang/tangkai lebat, rasa tidak pedas, dan berbau menyengat. Sayur kenikir yang disukai adalah warna daun muda, jumlah daun banyak, tidak terdapat bunga, berbau sedang, jumlah cabang/tangkai banyak, tekstur batang tidak berserat, dan rasa tidak getir. Sayur selada air yang disukai adalah warna daun muda, jumlah daun banyak, ukuran batang sedang, berdaun lunak, dan rasa agak manis.Kata kunci: kemangi, kenikir, kualitas sayuran, preferansi konsumen, selada air
, Marlin Sefrila
Jurnal Hortikultura Indonesia, Volume 9, pp 167-173; doi:10.29244/jhi.9.3.167-173

Abstract:
Shallot is one of the important vegetables and spices in Indonesia. Shallot require porous soil structure with medium to coarse texture, have good aeration and drainage, containing organic matter, with an optimum soil pH of 5.6 - 6.5. This research aimed to examine growth characteristics of shallot on various planting media compositions. An experimental field and laboratory of plant physiology, Department of Agronomy, Sriwijaya University. The research was conducted at from August to November 2017. The experiment was arranged in a randomized block design with 11 treatments and 3 replications. Each unit treatment consisted of 5 plants, resulting in a total of 165 plants. The treatments was media composition, consisted of P0 : Soil; P1 : Soil : chicken manure (2:1); P2 : Soil : cow manure (2:1); P3 : Soil : Palm Bunches fertilizer (2:1); P4 : Soil : chicken manure (3:1); P5 : Soil : cow manure (3:1); P6 : Soil : Pupuk Palm Bunches fertilizer (3:1); P7 : Soil : chicken manure: Palm Bunches fertilizer (2:1:1); P8 : Soil : cow manure: Palm Bunches fertilizer (2:1:1); P9 : Soil : cow manure : Palm Bunches fertilizer (3:1:1); P10: Soil : chicken manure: Palm Bunches fertilizer (3:1:1) by volumes. The result showed that the planting media consisting of soil and chicken manure with ratio of 3 : 1 increased plant height, number of leaf per panicle, number of tillers per hill.Keyword: compositions of media planting, organic materials, shallot, manureABSTRAKBawang merah termasuk salah satu produk hortikultura unggulan nasional dan termasuk kelompok sayuran rempah tidak bersubstitusi. Budidaya tanaman bawang merah membutuhkan tanah yang memiliki struktur remah, dengan tekstur sedang sampai liat, mengandung bahan organik tinggi, memiliki drainase dan aerasi yang baik serta memiliki pH 5.6 - 6.5. Penelitian ini dilakukan dengan tujuan melihat karakter pertumbuhan tanaman bawang merah pada berbagai komposisi media tanam. Penelitian dilaksanakan di Kebun Percobaan dan Laboratorium Fisiologi Tumbuhan Jurusan Budidaya Pertanian Fakultas Pertanian Universitas Sriwijaya Indralaya. Penelitian dilaksanakan pada bulan Agustus sampai November 2017. Penelitian menggunakan rancangan acak kelompok (RAK), dengan 11 perlakuan yang diulang sebanyak tiga kali. Setiap unit perlakuan berjumlah lima tanaman, sehingga terdapat 11 x 3 x 5 = 165 tanaman. Dengan perlakuan sebagai berikut: P0 : tanah top soil; P1 : tanah : pupuk kandang ayam (2:1); P2 : tanah : pupuk kandang sapi (2:1); P3 : tanah : TKKS (2:1); P4 : tanah : pupuk kandang ayam (3:1); P5 : tanah : pupuk kandang sapi (3:1); P6 : tanah : pupuk TKKS (3:1); P7 : tanah : pupuk kandang ayam : TKKS (2:1:1); P8 : tanah : pupuk kandang sapi : TKKS (2:1:1); P9 : tanah : pupuk kandang sapi : TKKS (3:1:1); P10: tanah : pupuk kandang : ayam : TKKS (3:1:1). Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan media tanam tanah dan pupuk kandang ayam dengan perbandingan (3:1) dapat meningkatkan tinggi tanaman, jumlah daun dan jumlah anakan per rumpun.Kata kunci: bahan organik, bawang merah, komposisi media tanam, pupuk kandang
Heri Harti, Suryo Wiyono, Sri Hendrastuti Hidayat
Jurnal Hortikultura Indonesia, Volume 9, pp 149-157; doi:10.29244/jhi.9.3.149-157

Abstract:
High infestation of viruses on shallot’s bulb has been reported, although little is known on the effect of virus infection on shallot productivity. The use of virus-free bulbs is assumed to be the key factor to improve productivity. Hot water treatment of bulbs before planting is one of methodologies to eliminate virus from shallot bulbs. Therefore, research was conducted to study the effectiveness of hot water treatment methods of shallots bulbs to reduce virus infections in the field. Field experimentwas conducted using split plot randomized block design with two factors. The first factor was the use of netting, i.e. growing shallot in netting house and in open field. The second factor was hot water treatment of shallot bulb at 45 0C for 15, 30, and 45 min and without treatment. Observations were conducted on the incidence of virus infections, plant growth (number of tillers and plant height) and shallots productivity. Virus infection was confirmed using specific antibodies. Observation of disease symptom indicated that the use of netting house did not significantly suppress the incidence of virus diseases, while hot water treatment significantly reduced the incidence of virus diseases. Hot water treatment for 15, 30 and 45 minutes at 45 0C was able to suppress virus incidence in the field up to54.98%, 56.77% and 64.35%, respectively.Key words: netting house, soaking time, viruses elimination, virus incidenceABSTRAKInfestasi virus pada umbi bawang merah dilaporkan sangat tinggi, meskipun efek infeksi virus terhadap produktivitas bawang merah masih sedikit diketahui. Penggunaan umbi bebas virus diasumsikan menjadi salah satu faktor utama untuk meningkatkan produktivitas. Perlakuan air panas pada umbi sebelum tanam merupakan metode pilihan untuk mengeliminasi virus. Penelitian dilakukan dengan tujuan mempelajari keefektifan metode perlakuan air panas pada umbi bibit bawang merahterhadap infeksi virus di lapangan. Penelitian disusun menggunakan rancangan acak lengkap petak terbagi dengan dua faktor. Faktor pertama adalah perlakuan rumah kasa dengan dua taraf, yaitu penanaman dalam rumah kasa dan penanaman di lahan terbuka. Faktor kedua adalah perlakuan air panas suhu 45 0C dengan 4 taraf waktu perendaman, yaitu 15 menit, 30 menit, 45 menit dan kontrol (tanpa perlakuan). Pengamatan dilakukan terhadap insidensi penyakit, parameter pertumbuhan tanaman (jumlah anakan dan tinggi tanaman), dan produktivitas tanaman. Insidensi virus dikonfirmasi dengan deteksi menggunakan antibodi spesifik. Hasil pengamatan gejala menunjukkan bahwa perlakuan rumah kasa tidak berpengaruh nyata terhadap penekanan insidensi penyakit, sementara perlakuan pemanasan berpengaruh nyata terhadap penekanan insidensi penyakit. Waktu perendaman umbi selama 15, 30 dan 45 menit pada suhu 45 0C dapat menekan insidensi penyakit virus dilapanganberturut-turut sebesar 54.98%, 56.77% dan 64.35%.Kata kunci: eliminasi virus, insidensi penyakit, rumah kasa, waktu perendaman
Jurnal Hortikultura Indonesia, Volume 9, pp 216-223; doi:10.29244/jhi.9.3.216-223

Abstract:
Waterleaf (Talinum triangulare (Jacq.)Willd) is one of functional vegetable. T. triangulare contains flavonoid and anthocyanin that have function as antioxidant and cardioprotective. This research was aimed to study and provide information about the effect of shading stress on shoot production and flavonoid content of T. triangulare shoot. This experiment was conducted at Teaching Farm Polytechnic of LPP Yogyakarta, from March until September 2016. The experiment was laid out in randomized block design with single factor. There were two treatments that used in thisexperiment (without shading and shading). Each treatment was repeated three times. The result showed that shading 82.51% decrease shoot production of T. triangulare. Shading gave b chlorophyll content and chlorophyll b/a ratio higher than without shading. Shading increase flavonoid total content.Keywords: anthocyanin, fenilpropanoid, low light intensity, secondary metabolite, TalinumtriangulareABSTRAKKolesom (Talinum triangulare (Jacq.) Willd.) merupakan salah satu jenis sayuran fungsional. Tanaman kolesom megandung senyawa flavonoid dan antosianin yang berperan sebagai antioksidan dan cardioprotective. Penelitian ini bertujuan untuk menerangkan respon produksi pucuk dankandungan flavonoid tanaman kolesom pada pemberian naungan. Percobaan ini dilakukan di Politeknik LPP Yogyakarta, dari bulan Maret sampai September 2016. Percobaan ini menggunakan rancangan acak kelompok faktor tunggal yang terdiri dari dua taraf perlakuan, yaitu tanpa naungan dan naungan paranet. Setiap perlakuan diulang tiga kali sehingga total terdapat enam satuan percobaan. Pemberian naungan paranet 82.51% menurunkan produksi pucuk kolesom. Kandungan klorofil b dan nisbah klorofil b/a pucuk kolesom yang ternaungi lebih tinggi dibandingkan dengan tanpa naungan. Naungan meningkatkan kandungan total flavonoid.Kata kunci: antosianin, fenilpropanoid, intensitas cahaya rendah, metabolit sekunder, Talinum triangulare
Shalati Febjislami, Maya Melati, , Yudiwanti Wahyu
Jurnal Hortikultura Indonesia, Volume 9, pp 206-215; doi:10.29244/jhi.9.3.206-215

Abstract:
Java’s tea plants have efficacy to treat diabetes. Sinensetin is a chemical compound in Java’s tea that acts as diabetes medicine. The experiment objective was to study diversity of agronomy characters and sinensetin content of ex situ collections of Java’s tea from West, Central, and EastJava regions. Java’s tea was harvested when population has flowering about 70% and tested sinensetin content on leaf part. The experiment was conducted with a completely randomized block design with 18 accessions and one control (purple flower accession). The result of study showed thatthere were significant differences in the accumulation of height plant increase while 8 weeks after planting, secondary branches and secondary branches internode number; leaf length, width and area index; average stems and leaf dry weight per 4.41 m2 and sinensetin levels among some accessions. Banyumas 1, Sumbersari and Kraksaan accessions have agronomy and production characters except for sinensetin levels were better than control (Leaf sinensetin levels based on leaf dry weight increased from low to medium but decreased in high category) Based on comparison between accession and leaf dry weight category, purple flower accession has higher sinensetin levels (0.043%) than another accession, but only reaches 43% of Indonesian Herbal Pharmacopoeia minimum standard (There were no significant differences in sinensetin accession production tested either by comparison of accession or accession categories).Keywords: ex situ, flower, Java’s tea, Orthosiphon aristatus, sinensetinABSTRAKTanaman kumis kucing berkhasiat untuk mengobati penyakit diabetes. Sinensetin merupakan senyawa kimia pada kumis kucing yang berperan sebagai obat diabetes. Tujuan penelitian adalah untuk mempelajari keragaman karakter agronomi dan kandungan sinensetin tanaman kumis kucing hasil koleksi ex situ dari daerah Jawa Barat, Jawa Tengah dan Jawa Timur. Tanaman kumis kucing dipanen saat populasi berbunga sekitar 70% dan diuji kandungan sinensetin pada daunnya. Rancangan percobaan yang digunakan adalah rancangan kelompok lengkap teracak dengan perlakuan 18 aksesi dan satu pembanding (koleksi ungu). Hasil penelitian menunjukkan terdapat perbedaan yang signifikan pada akumulasi pertambahan tinggi selama 8 MST, jumlah cabang sekunder dan ruascabang sekunder; panjang, lebar dan indeks luas daun; rata-rata bobot kering batang dan daun per 4.41 m2 serta kadar sinensetin antar aksesi yang diuji. Aksesi Banyumas 1, Sumbersari dan Kraksaan memiliki karakter agronomi dan produksi yang lebih baik daripada kontrol kecuali kadar sinensetinnya. Kadar sinensetin daun berdasarkan kategori bobot kering daun mengalami peningkatan dari kategori rendah ke menengah namun menurun pada kategori tinggi. Berdasarkan perbandingan antar aksesi maupun kategori bobot kering daun, kontrol memiliki kadar sinensetin (0.043%) yang lebih baik, namun hanya mencapai 43% dari standar minimum kandungan kimia simplisia (kadar sinensetin)...
Abdul Hakim, , Yudiwanti Wahyu
Jurnal Hortikultura Indonesia, Volume 10, pp 36-45; doi:10.29244/jhi.10.1.36-45

Abstract:
Assembling plant variety requires genetic information about the concerned traits. One way to obtain genetic information is through estimating genetic component and heritability. This experiment aims to obtain information varians component variety and heritability in 2 populations of bird pepper.Each population P1, P2, and F1 was planted with 40 plants, BCP1 and BCP 2 was planted with 100 plants and F2 was planted with 300 plants. Results in IPB C285 x IPB C290 population show the heritability broad sense with height category for all characters except fruit diameter. The numberfruits per plant and fruit thickness has the highest category for heritability narrow sense. Results in IPB C321 x IPB C290 population heretability broad sense with hight category for all characters except weight per fruit. Fruit length was included in the high category for narrow sense heritability.The ratio of additive varians was greater than non additive varians in IPB C285 x IPB C290 population for number fruit per plant, weight per fruit, fruit length, fruit diameter, fruit thickness and harvest time while in IPB C321 x IPB C290 population number fruit per plant, fruit length, fruitthickness and fruit diameter. The selection method that can be used in both populations was the pedigree method so that selection activities can be carried out in early generation. The population IPB C285 x IPB C290 pedigree selection method was carried out on number fruits per plant andweight per fruit whereas in IPB C321 x IPB C290 population, pedigree selection method was carried out on fruit length.Keywords: additive, bird pepper, character, diversity, genetic, heritability,ABSTRAKPerakitan suatu varietas tanaman memerlukan informasi genetik mengenai sifat yang diinginkan. Salah satu cara untuk memperoleh informasi genetik yaitu melalui pendugaan komponen genetik dan nilai heritabilitas. Percobaan ini yang bertujuan memperoleh informasi komponen ragam dan nilai heritabilitasnya pada 2 populasi tanaman cabai rawit. Masing-masing populasi P1, P2, dan F1 ditanam dengan jumlah 40 tanaman, BCP1 dan BCP 2 sebanyak 100 tanaman dan F2 sebanyak300 tanaman. Hasil pada populasi IPB C285 x IPB C290 menunjukkan nilai heritabilitas arti luas kategori tinggi untuk semua karakter kecuali pada karakter diameter buah. Jumlah buah per tanaman dan tebal daging buah memiliki nilai heritabilitas arti sempit kategori tinggi. Hasil pada populasi IPB C321 x IPB C290 menunjukkan heritabilitas arti luas kategori tinggi untuk semua karakter kecuali karakter bobot per buah. Karakter panjang buah termasuk dalam kategori tinggi untuk heritabilitas artisempit. Rasio ragam aditif lebih besar daripada ragam non aditif pada populasi IPB C285 x IPB C290 untuk karakter jumlah buah per tanaman, bobot per buah, panjang buah, diameter buah, tebal daging buah dan umur panen sedangkan pada populasi IPB C321 x IPB C290 yaitu karakter jumlah buah per tanaman, panjang buah, tebal daging buah dan diameter buah. Metode seleksi yang bisa digunakan pada kedua populasi ini yaitu metode pedigree sehingga kegiatan seleksi bisa dilakukan pada generasiawal. Populasi IPB C285 x IPB C290 metode seleksi pedigree dilakukan pada karakter jumlah buahper tanaman dan bobot per buah sedangkan pada populasi IPB C321 x C290 metode seleksi pedigree dilakukan pada karakter panjang buahKata kunci: aditif, cabai rawit, genetik, heritabilitas, karakter, keragaman
Viola Rachma Safitri,
Jurnal Hortikultura Indonesia, Volume 10, pp 63-73; doi:10.29244/jhi.10.1.63-73

Abstract:
This study aims to determine the general picture of pineapple production and export in Indonesia, analyze the competitiveness of Indonesian pineapple in seven main export destination countries, and analyze the factors that affect Indonesian pineapple exports in the main exportdestination of pineapple in 2001-2014. The methods used in this study are Revealed Comparative Advantage (RCA), Trade Specialization Index (ISP), Intra-Industry Trade (IIT), and panel data regression. The results of this study indicate that the high production of Indonesian pineapple has notbeen matched by an increase in the volume of pineapple exports. The RCA index shows that Indonesia is superior to the Philippines in several countries such as the Netherlands, Germany, Singapore, Spain and Argentina for pineapple commodities. The ISP and IIT indices show that Indonesia has a tendency as an exporting country. The variable competitiveness index, the real exchange rate of the rupiah against the destination country currency, the income per capita of the destination country, and the amount of Indonesian pineapple production have a positive influence on the growth of the volume of pineapple exports in the seven main export destination countries while the price of pineapple realexports has a negative influence on the volume of pineapple exports in the seven main export destination countries.Keywords: competitiveness, panel data, pineapple exports, RCAABSTRAKPenelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran umum produksi dan ekspor nanas di Indonesia, menganalisis daya saing nanas Indonesia di tujuh negara tujuan ekspor utama, dan menganalisis faktor-faktor yang mepengaruhi ekspor nanas Indonesia di negara tujuan ekspor utamananas tahun 2001-2014. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah Revealed Comparative Advantage (RCA), Indeks Spesialisasi Perdagangan (ISP), Intra Industry Trade (IIT), dan regresi data panel. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa tingginya produksi nanas Indonesia belum diimbangi dengan peningkatan volume ekspor nanas. Indeks RCA menunjukkan bahwa Indonesia lebih unggul dibandingkan Filipina di beberapa negara seperti Belanda, Jerman, Singapura, Spanyol, dan Argentina untuk komoditi nanas. Indeks ISP dan IIT menunjukkan bahwa Indonesia memiliki kecenderungan sebagai negara eksportir. Variabel indeks daya saing, nilai tukar riil rupiah terhadap mata uang negara tujuan, pendapatan per kapita negara tujuan, serta jumlah produksi nanas Indonesia memiliki pengaruh positif terhadap pertumbuhan volume ekspor nanas di ketujuh negara tujuan ekspor utama sedangkan harga ekspor riil nanas memiliki pengaruh yang negatif terhadap volume ekspor nanas di ketujuh negara tujuan ekspor utama.Kata Kunci: data panel, daya saing, ekspor nanas, RCA
Rahmansyah Dermawan, Muh. Farid B. D. R., Ifayanti Ridwan Saleh, Reni Syarifuddin
Jurnal Hortikultura Indonesia, Volume 10, pp 1-9; doi:10.29244/jhi.10.1.1-9

Abstract:
A study was conducted to determine the response of several varieties of large chilli (Capsicum annuum L.) to Trichoderma enrichment on planting media and Boron fertilizer applications. The study was conducted from June to September 2017 at the Experimental Garden of the Faculty of Agriculture, Hasanuddin University, Makassar in the form of factorial Split Plot Design with 2 factors. Experiments were set with large chili varieties as the main plot consisting of var. Karina, var. Tombak,and var. Panex 100 F1, while the combination of Trichoderma enrichment and Boron fertilizer was set as subplots consist of 6 treatment combinations. The results show that there was a significant interaction between the treatment of varieties and Trichoderma-Boron on plant height parameter and there was a significant effect of the varieties treatment on the number of productive branches and the number of fruits per plant. In addition, significant effect of the Trichoderma-Boron treatment was shown in the parameters of fruit length per plant 100 HST. The interaction that gave the best results was in the treatment of Trichoderma asperellum 4 g plant-1 and Panex 100 F1 varieties on plant height of 47.77 cm. The treatment of varieties that gave the best results was Karina variety and the combination treatment of Trichoderma-Boron that gave the best results was the treatment of Trichoderma asperellum 4 g plant-1 + Boron 1 mg L-1.Keywords: Capsicum annuum L., microbe, boron fertilizer, varietiesABSTRAKPenelitian dilaksanakan untuk mengetahui respon beberapa varietas cabai besar (Capsicum annuum L.) terhadap pengayaan Trichoderma pada media tanam dan aplikasi pupuk Boron. Penelitian berlangsung dari bulan Juni-September 2017 di Kebun Percobaan Fakultas Pertanian Universitas Hasanuddin, Makassar dan dilaksanakan dalam bentuk percobaan Rancangan Petak Terpisah dalam rancangan acak kelompok faktorial dengan 2 faktor. Percobaan diatur dengan varietas cabai besar sebagai petak utama yaitu varietas Karina (V1), varietas Tombak (V2), dan varietas Panex 100 F1(V3) sedangkan kombinasi cendawan Trichoderma dan pemupukan Boron sebagai anak petak terdiri atas 6 kombinasi perlakuan. Penelitian menunjukkan interaksi yang nyata antara perlakuan varietas dan Trichoderma-Boron pada parameter tinggi tanaman dan terdapat pengaruh nyata dari perlakuan varietas terhadap jumlah cabang produktif dan jumlah buah per tanaman. Pengaruh nyata dariperlakuan Trichoderma-Boron ditunjukkan pada parameter panjang buah per tanaman umur 100 HST. Interaksi yang memberikan hasil terbaik yaitu pada perlakuan Trichoderma asperellum 4 g tan-1 dan varietas Panex 100 F1 pada tinggi tanaman yaitu 47.77 cm. Perlakuan varietas memberikan hasil terbaik pada varietas Karina dan perlakuan kombinasi Trichoderma-Boron memberikan hasil terbaik pada perlakuan Trichoderma asperellum 4 g tan-1 + Boron 1 mg L-1.Kata kunci: Capsicum annuum L., mikroba, pupuk boron, varietas
Zulfa Leyna, Hapsoh, Murniati
Jurnal Hortikultura Indonesia, Volume 10, pp 20-26; doi:10.29244/jhi.10.1.20-26

Abstract:
This study aims to determine the effect of compost and NPK fertilizer on the growth andproduction of chili pepper and get the best combination of treatments. This research was conducted at the University of Experimental Riau Agriculture Faculty of Garden from September 2017 to February 2018. This study used a randomized block design (RBD). The first factor was compost consisting of 3 levels: without compost, compost TKKS and rice straw compost. The second factor is NPK 16:16:16 fertilizer consisting of 3 levels: 0 kg ha-1, 125 kg ha-1 and 250 kg ha-1. Parameters observed were initial soil analysis, plant height, dichotomous height, crown width, flowering age, harvest age, fruit length, number of fruits per plant, fruit weight per plant and fruit weight per plot.Based on the results of the study it was found that the best treatment was application of rice straw compost 5 ton ha-1 and 125 kg ha-1 NPK fertilizer (½ recommended dosage).Keywords: C-organic, Dichotomous height, Fruit weight, InceptisolABSTRAKPercobaan ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh kompos dan pupuk NPK terhadappertumbuhan dan produksi tanaman cabai dan mendapatkan kombinasi perlakuan yang terbaik. Percobaan ini dilaksanakan di Kebun Percobaan Fakultas Pertanian Universitas Riau pada bulan September 2017 sampai Februari 2018. Percobaan ini menggunakan rancangan acak kelompok (RAK). Faktor pertama adalah kompos terdiri dari 3 taraf: tanpa kompos, kompos dari Tanda Kosong Kelapa Sawit (TKKS) dan kompos dari jerami padi. Faktor kedua adalah pupuk NPK 16:16:16 terdiri dari 3 taraf: 0 kg ha-1, 125 kg ha-1 dan 250 kg ha-1. Parameter yang diamati yaitu analisis tanah awal, tinggi tanaman, tinggi dikotomus, lebar tajuk, umur berbunga, umur panen, panjang buah, jumlah buah per tanaman, bobot buah per tanaman dan bobot buah per plot. Berdasarkan hasil penelitian didapatkan perlakuan terbaik yaitu pemberian kompos jerami padi 5 ton ha-1 dan pupuk NPK 125 kg ha-1 (½ dosis anjuran).Kata kunci: Bobot buah, C-organik, Inseptisol, Tinggi dikotomus
Zulfa Ulinnuha, Muhammad Ahmad Chozin, Edi Santosa
Jurnal Hortikultura Indonesia, Volume 10, pp 10-19; doi:10.29244/jhi.10.1.10-19

Abstract:
Tomato becomes important as under-storey crop in agroforestry in Indonesia. However,farmers claim that there is yield reduction under such system. Hence, six tomato genotypes were planted under 50% reduced sunshine and full sunshine as control using randomized block nested design with genotype as main plot. The study was carried out in December 2016 to March 2017 at Cikarawang Experimental Farm, IPB Bogor. Research aimed to evaluate the production stability of tomato genotypes under shading treatment. Results showed that 50% shading affected tomato production and disease incident. Number of collected-fruit was 15-60% higher under 50% shading except for Apel Belgia and Tora genotypes that tended to decrease. Incident of gemini virus decreased by 80% and its severity decreased by 70% under 50% shading. However, 50% shading reduced tomato yield at rate 24.1% in each harvesting cycle due to a tendency on reduction on individual fruit size, irrespective genotypes. Present study demonstrated that genotype and disease incident determined tomato yield under shading. It needs further evaluation on the cause of low disease infection under 50% shading.Keywords: agroforestry, anthocyanin, disease incident, gemini virus, Solanum lycopersicumABSTRAKTomat sering ditanam sebagai sayuran pada sistem agroforestri, namun ada keluhan petani terkait fluktuasi produksi buah yang dihasilkan pada sistem tersebut. Oleh karena itu, produksi enam genotipe tomat dibandingkan antara naungan 0% dan 50% menggunakan rancangan acak kelompok tersarang dengan tingkat naungan sebagai petak utama pada Desember 2016 sampai Maret 2017 di Kebun Percobaan Cikarawang IPB, Bogor. Penelitian bertujuan untuk mengkaji stabilitas produksi beberapa genotipe tomat dan mengetahui faktor yang mempengaruhinya pada kondisi naungan. Hasilpenelitian menunjukkan bahwa naungan mempengaruhi hasil dan insiden penyakit pada tanaman tomat. Siklus panen tidak berbeda antara kontrol dengan naungan 50%. Rata-rata jumlah buah 15-60% lebih tinggi di bawah naungan 50% kecuali genotipe Apel Belgia dan Tora yang cenderung menurun. Insiden penyakit virus gemini berkurang 80% dan tingkat keparahannya menurun sebesar 70% pada naungan 50%. Namun demikian, bobot hasil per panen seluruh genotipe tomat pada naungan 50% menurun sebesar 24.1% yang disebabkan oleh kecenderungan penurunan ukuran buah. Penelitianmenunjukkan bahwa stabilitas produksi tomat di bawah naungan dipengaruhi oleh genotipe dan kejadian penyakit. Perlu evaluasi lanjut mengapa kejadian penyakit lebih rendah pada naungan 50%.Kata kunci: agroforestri, anthosianin, serangan penyakit, Solanum lycopersicum, virus gemini
Hetty Manurung, Wawan Kustiawan, Irawan Wijaya Kusuma
Jurnal Hortikultura Indonesia, Volume 10, pp 55-62; doi:10.29244/jhi.10.1.55-62

Abstract:
This research aimed to evaluate the effects of drought stress on growth and the total flavonoid content of tabat barito plant (Ficus deltoidea Jack). The experiment was conducted in the greenhouse Faculty of Mathematics and Natural Sciences, Mulawarman University, using a completely randomized design consisted of 4 levels drought stress including 100%, 80%, 60%, and 40% field capacity. The F. deltoidea maintained for 9 months old and investigated for the growth parameter (plant height, leaf number, leaf area, the number of branches, stem diameter, andbiomass), phytochemical screening, and the total flavonoid content. Drought stress has a significant effect on plant height, the number of branches, stem diameter and biomass. Based on the phytochemical screening, leaf extract of F. deltoidea contained alkaloids, phenolics, flavonoids, steroids, and coumarins. The highest total flavonoid content observed under 40% field capacity (430.77 μg CE mg-1 extract) and the lowest total flavonoid content observed under 100% field capacity (282.05 μg CE mg-1 extract). In general, this results showed that the drought stress motivated a significantly decreased of growth and significantly increased of total flavonoid content of leaves extract.Keywords: cultivation, drought stress, flavonoid, tabat barito (Ficus deltoidea)ABSTRAKPenelitian ini bertujuan mengetahui pengaruh perlakuan cekaman kekeringan terhadap pertumbuhan dan kadar flavonoid total tumbuhan tabat barito. Penelitian dilakukan di rumah kaca Laboratorium Fisiologi Tumbuhan, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, UniversitasMulawarman, menggunakan rancangan acak lengkap yang terdiri dari 4 perlakuan kapasitas lapang air (KL) yaitu: KL 100%, KL 80%, KL 60% dan KL 40%. Setelah tanaman berumur 9 bulan dilakukan pengamatan terhadap peubah pertumbuhan (tinggi tanaman, jumlah daun, luas daun, jumlah cabang, diameter batang, biomassa). Perlakuan cekaman kekeringan berpengaruh nyata terhadap tinggi tanaman, jumlah cabang, diameter batang dan biomassa tanaman. Berdasarkan hasil uji fitokimia ekstrak daun tabat barito mengandung alkaloid, fenolik, flavonoid, steroid dan kumarin. Kadar total flavonoid ekstrak daun tertinggi dihasilkan pada perlakuan KL 40% sebesar 430.77 μg Catechin Equivalen (CE) mg-1 ekstrak daun dan berbeda nyata dengan perlakuan KL 100%, 80%dan 60%. Kadar flavonoid total terendah terdapat pada perlakuan KL 100% sebesar 282.05 μg CE mg-1 ekstrak. Secara umum, hasil penelitian ini menunjukkan bahwa perlakuan cekaman kekeringan secara nyata menghambat pertumbuhan dan meningkatkan kadar total flavonoid ekstrak daun tabat barito.Kata kunci: budidaya, cekaman kekeringan, flavonoid, tabat barito (Ficus deltoidea)
Harlina Kusuma Tuti, Endang Sri Ratna
Jurnal Hortikultura Indonesia, Volume 10, pp 46-54; doi:10.29244/jhi.10.1.46-54

Abstract:
Crocidolomia pavonana (F.) (Lepidoptera: Crambidae) is one of the important insect pests that can reduce production of cruciferous plants. Generally farmers control this insect pest by using synthetic insecticides. However, the intensive and excessive use of synthetic insecticides may cause negative impact to the insect and environment, such as the occurence of resistance and resurgence of pests and chemical residues in agricultural products. One of alternative strategies that can be adoptedto reduce the negative impact of synthetic insecticide use is by utilization of botanical insecticide. The aim of this research was to study the activities of extract Averrhoa bilimbi leaves, Annona squamosa seeds, and Tithonia diversifolia flowers on mortality and growth inhibition of C. pavonana larvae. The mortality activity was assessed by single and extract mixture using leaf residual method. The larval growth inhibition activity was also tested by using leaf residual method. A. squamosa extract atconcentration of 0.015% could kill 100% of larvae at 72 hours after treatment (HAT). Meanwhile, T. diversifolia extract at 5% could kill 88% of larvae at 144 HAT. Extract mixtures of T. diversifolia and A. squamosa at ratios 1:1, 1:2 and 2:1 (w/w) gave low mortality activity. These three extract showed growth inhibition activity against the larvae of C. pavonana.Keywords: Botanical insecticides, cabbage pest, extract mixture, toxicityABSTRAKCrocidolomia pavonana (F.) (Lepidoptera: Crambidae) merupakan salah satu hama penting yang dapat menurunkan produksi tanaman kubis-kubisan. Petani umumnya mengendalikan serangan hama ini dengan menggunakan insektisida sintetik. Namun, penggunaan insektisida sintetik yang terus-menerus dan berlebihan dapat menyebabkan dampak negatif pada serangga dan lingkungan seperti terjadinya resistensi dan resurjensi hama serta residu pada produk pertanian. Salah satu strategialternatif yang dapat dilakukan untuk mengurangi dampak negatif penggunaan insektisida sintetik adalah dengan memanfaatkan insektisida nabati. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui aktivitas ekstrak daun Averrhoa bilimbi, biji Annona squamosa, dan bunga Tithonia diversifolia terhadap mortalitas dan penghambatan pertumbuhan larva C. pavonana. Aktivitas mortalitas diuji dengan ekstrak tunggal dan campuran menggunakan metode residu pada daun. Aktivitas penghambatan pertumbuhan larva C. pavonana juga diuji dengan metode residu pada daun. Ekstrak A. squamosa pada konsentrasi 0.015% dapat mematikan larva C. pavonana sebesar 100% pada pengamatan 72 jam setelah perlakuan (JSP). Sementara itu, ekstrak T. diversifolia pada konsentrasi 5% mampu mematikan 88% larva pada pengamatan 144 JSP. Ekstrak campuran T. diversifolia dan A. squamosa pada rasio 1:1, 1:2, dan 2:1 (w/w) memberikan aktivitas mortalitas rendah. Ketiga ekstrak ini menunjukkan aktivitas penghambatan pertumbuhan terhadap larva C. pavonana.Kata kunci: Ekstrak campuran, hama kubis, insektisida nabati, toksisitas
Andi Azhari,
Jurnal Hortikultura Indonesia, Volume 10, pp 27-35; doi:10.29244/jhi.10.1.27-35

Abstract:
Potato (Solanum tuberosum L.) seed production by using tubers and cuttings from two local varieties have been conducted to determine their performance and production in the field. Currently in Indonesia, the use of potato cuttings is limited to the production of G0 and G1 tuber seeds incontrolled conditions (greenhouse or screenhouse). This research used a factorial Randomized Complete Block Design with varieties (RGH01 and Medians) and seed sources (tubers (G0) and cuttings) as the factor and five replication. The data were analyzed using analysis of variance followedby Duncan's multiple range tests. The result showed that the plants derived from cuttings on both varieties produced more leaves and branches. Otherwise plant height were not significantly different. The production of tubers was not significantly different with 5.2 to 5.9 tubers per plant. Tuber yield of plants derived from tubers on both cultivars was higher than the plants derived from cuttings. However small size tuber (< 40 g) percentage of plants derived from cuttings was higher with 82.0% (Medians) and 94.1% (RGH01) per plant.Keywords: cuttings, potato propagation, seed propagation, Solanum tuberosum L., tuberABSTRAKProduksi benih G2 kentang (Solanum tuberosum L.) menggunakan umbi dan setek dari dua varietas lokal dilakukan untuk mengetahui keragaan dan produksinya di Lapangan. Saat ini di Indonesia, setek kentang digunakan secara terbatas untuk produksi umbi G0 dan G1 pada kondisi terkontrol (rumah kaca atau rumah kasa). Rancangan Kelompok Lengkap Teracak (RKLT) faktorial digunakan pada penelitian ini dengan varietas (RGH01 dan Medians) dan sumber benih (umbi (G0) dan setek) sebagai faktor dan lima ulangan. Data dianalisis dengan sidik ragam yang kemudian dilanjutkan dengan uji Duncan. Tanaman kentang yang ditanam dengan sumber benih setek menghasilkan jumlah daun dan cabang yang lebih banyak pada kedua varietas. Namun, tidak berbeda nyata pada peubah tinggi tanaman. Jumlah umbi per tanaman menunjukkan hasil tidak berbeda nyata pada seluruh kombinasi perlakuan dengan 5.2 hingga 5.9 umbi per tanaman. Produktivitas umbi yang lebih besar dihasilkan oleh tanaman kentang dengan sumber benih umbi pada kedua varietas.Persentase umbi kelas S (<40 g) yang lebih besar diperoleh dari tanaman kentang dengan sumber benih setek sebesar 82.0% (Medians) dan 94.1% (RGH01).Kata kunci: perbanyakan benih, perbanyakan kentang, setek, Solanum tuberosum L., umbi
Susan Helmi, , Miftahudin
Jurnal Hortikultura Indonesia, Volume 9, pp 131-138; doi:10.29244/jhi.9.2.131-138

Abstract:
Cultivation of eggplant (Solanum melongena L.) needs fertile soils to optimize the yield,however since the fertile land become limited, cultivation of eggplant needs to utilize sub optimal landssuch as salin soils. The objective of the research was to analyze morphological and physiologicalresponses of six eggplant genotypes (collection of the Center for Tropical Horticulture Studies), todetermine the tolerance of genotypes to salinity stress to be used as tolerant parents in eggplantbreeding program. The research was a factorial experiment. It was designed as randomized blockdesign with two factors, which were genotype factor (6 genotypes) and salinity factor (0, 2-4, 5-7, 8-10 mS cm-1) with 5 replications. The research was conducted in greenhouse using pot. Themorphological evaluation included shoot length, number of leaves, fruit weight, number of branches,shoot biomass, root biomass, and the physiological characters included photosynthesis rate,transpiration rate, stomatal conductance, CO2 intercelluler, leaf relative water contents, and prolineaccumulation. The results showed that salinity stress decreased all morphological as well asphysiological characters in all genotypes, except for proline accumulation that showed increase asthe salinity increase. Based on the stress susceptivility index (SSI), there was no eggplant genotypesclassified as tolerant to salinity. However, there were two eggplant genotypes, i.e., number 061 and072, classified as moderat genotypes to salinity stress.Keywords: proline, sensitive, stress susceptibility index, tolerantABSTRAKBudidaya terung (Solanum melongena L.) membutuhkan tanah yang subur untukmengoptimalkan hasil panen, namun karena lahan subur menjadi terbatas, maka dalam budidayaterung memerlukan pemanfaatan lahan suboptimal seperti tanah yang bersifat salin. Tujuan penelitianini ialah untuk menganalisis respon morfologi dan fisiologi enam genotipe terung, yang merupakanterung hasil koleksi Pusat Kajian Hortikultura Tropika, untuk menentukan toleransi genotipe terhadapcekaman salinitas yang akan digunakan sebagai tetua toleran pada program pemuliaan tanaman terung.Penelitian ini merupakan percobaan faktorial yang dirancang menggunakan rancangan acak kelompokyang terdiri dari dua faktor yaitu faktor genotipe dengan 6 genotipe dan faktor perlakuan salinitas(NaCl) yang terdiri atas 4 taraf yaitu 0-1, 2-4, 5-7, 8-10 mS cm-1) dan diulang sebanyak 5 kali.Penelitian dilakukan di rumah kaca sebagai percobaan pot. Karakter morfologi yang diamati adalahtinggi tanaman, jumlah daun, bobot buah, jumlah cabang, bobot basah tajuk, bobot basah akar,sedangkan karakter fisiologis adalah laju fotosintesis, laju transpirasi, konduktansi stomata, CO2interselular, kandungan air relatif daun, dan akumulasi prolin. Hasil penelitian menunjukkan bahwacekaman salinitas menurunkan semua karakter morfologi dan fisiologis pada semua genotipe, kecualiakumulasi prolin yang menunjukkan peningkatan seiring meningkatnya cekaman...
, Imam Wahyudi
Jurnal Hortikultura Indonesia, Volume 9, pp 103-110; doi:10.29244/jhi.9.2.103-110

Abstract:
Most upland soils are poor in organic matter and have high temperature. The utilization ofmulch and organic manure with appropriate dosage are expected to enhance the physical andchemical conditions of the soil and the production of shallot. This study aimed to determine the effectof applying various types of mulch and cow urine bioculture on the growth and yield of shallot. Theresearch was conducted in March to June 2017 in Oloboju Village, Sigi Biromaru District, SigiRegency, Central Sulawesi Province. A randomized block design factorial with two factors was usedin this study. The first factor was the various types of mulch, namely: Gliricidia sepium leaves, ricestraw, and plastic mulch. The second factor was the frequency of bioculture, namely: without cowurine bioculture, two times and four times application. Thus, there are nine in the combination oftreatments and repeated three times and therefore there were 27 experimental units. The resultsshowed that interaction of rice straw mulch and four times cow urine bioculture application have avery significant effect on the growth and production of shallot. The use of 3 ton ha-1 rice straw andfour times cow urine bioculture application frequency produced 11.25 ton ha-1 shallot bulb.Keywords: chemical properties, gliricidia leaf, organic matter, rice straw, soil physicalABSTRAKLahan kering umumnya memiliki kandungan bahan organik yang rendah dengan suhu yangtinggi. Penggunaan mulsa dan pupuk organik pada lahan kering dengan dosis yang cukup diharapkandapat memperbaiki sifat fisik, sifat kimia tanah dan sifat biologi tanah serta meningkatkan hasilbawang merah. Penelitian bertujuan mengetahui pengaruh jenis mulsa dan frekuensi pemberianbiokultur urin sapi terhadap pertumbuhan dan hasil bawang merah. Penelitian dilaksanakan pada bulanMaret sampai Juni 2017 di Desa Oloboju, Kecamatan Sigi Biromaru, Kabupaten Sigi, ProvinsiSulawesi Tengah. Penelitian menggunakan rancangan acak kelompok dengan pola faktorial yangterdiri atas dua faktor. Faktor pertama adalah jenis mulsa yang terdiri atas: mulsa daun tanaman gamal(Gliricidia sepium), mulsa jerami padi dan mulsa plastik hitam perak. Faktor kedua yaitu frekuensipemberian biokultur urin sapi yang terdiri atas: tanpa biokultur, dua kali pemberian biokultur danempat kali pemberian biokultur selama satu musim tanam. Hasil penelitian menunjukkan bahwa mulsajerami padi memberikan hasil lebih baik dibandingkan dengan mulsa plastik hitam perak dan mulsadaun tanaman gamal, sedangkan frekuensi pemberian biokultur empat kali memberikan hasil lebihbaik dibandingkan frekuensi biokultur dua kali dan tanpa biokultur. Interaksi keduanya berpengaruhterhadap komponen pertumbuhan dan hasil tanaman bawang merah. Penggunaan mulsa jerami padi 3ton ha-1 dan frekuensi biokultur urin sapi sebanyak empat kali menghasilkan umbi bawang merah11.25 ton ha-1.Kata kunci: bahan organik, daun tanaman gamal, jerami padi, sifat fisik tunas, sifat kimia tanah
Wenny Amaliah, , Herry Suhardiyanto
Jurnal Hortikultura Indonesia, Volume 9, pp 139-147; doi:10.29244/jhi.9.2.139-147

Abstract:
Cultivation of chili plants in the tropical greenhouse requires cooling as a solution of high temperature inside the greenhouse. One of the cooling system can be applied is root zone cooling. The aim of this research is to apply root zone cooling system to cultivation of chili plant in tropical greenhouse with substrate system, and to know the influence root zone cooling system on growth and productivity of chili plant. Plants are cultivated with a hydroponics substrate system using a drip irrigation system where the cooling pipe is buried inside the substrate medium. First treatment is cooling the root zone with cooled water and the substrate temperature of root zone cooling was 14.1-26.9 0C (CH treatment). Second treatment is cooling the root zone with no cooled water (ambient temperature), and the substrate temperature was 24.8-34.2 0C (NC treatment). The air temperature inside greenhouse was 29.4 0C and 24.7 0C, day and night. Due to lack of intensity of sunlight into the greenhouse, the plants sustain etiolating. However CH treatment produced higher fruit weight per plant compared with NC treatment. The weight of fruit per plant is 873.60 g and 546.00 g, for CH and NC respectively. The fruit size in the CH treatment also produced longer and heavier fruits than the NC treatment.Keywords: hydroponics of pepper, productivity, root temperatureABSTRAKBudidaya tanaman cabai di dalam rumah tanaman daerah beriklim tropis membutuhkan pendinginan sebagai solusi tingginya suhu udara di dalam rumah tanaman. Pendinginan yang dapat diterapkan salah satunya yaitu dengan pendinginan terbatas di daerah perakaran. Penelitian ini bertujuan untuk menerapkan teknik pendinginan daerah perakaran pada budidaya tanaman cabai di dalam rumah tanaman iklim tropika basah dengan sistem substrat, serta untuk mengetahui pengaruh pendinginan daerah perakaran pada pertumbuhan dan produktivitas tanaman cabai. Tanaman dibudidayakan dengan sistem hidroponik substrat dan sistem irigasi tetes yang di dalam media tanam dibenamkan pipa pendingin. Perlakuan pertama adalah pendinginan daerah perakaran dengan air yang didinginkan dan suhu media tanam yang didinginkan berkisar antara 14.1-26.9 0C (perlakuan CH). Perlakuan kedua adalah pendinginan daerah perakaran dengan air yang tidak didinginkan (suhu lingkungan) dengan kisaran suhu media tanam sebesar 24.8-34.2 0C (perlakuan NC), dengan suhu udara rata-rata 29.4 0C pada siang hari dan 24.7 0C pada malam hari. Tanaman mengalami etiolasi akibat kurangnya intensitas cahaya matahari yang masuk ke dalam rumah tanaman. Perlakuan CH menghasilkan bobot buah per tanaman yang lebih tinggi dibandingkan dengan perlakuan NC. Bobot buah per tanaman sebesar 873.60 g dan 546.00 g, untuk CH dan NC berturut-turut. Ukuran buah pun pada perlakuan CH menghasilkan buah yang lebih panjang dan lebih berat dari pada perlakuan NC.Kata kunci: hidroponik cabai, produktivitas, suhu zona perakaran
Page of 4
Articles per Page
by
Show export options
  Select all
Back to Top Top