Refine Search

New Search

Results in Journal WIDYANATYA: 43

(searched for: journal_id:(4409018))
Page of 1
Articles per Page
by
Show export options
  Select all
I Wayan Sukadana, I Gusti Ngurah Padang
Published: 28 October 2020
WIDYANATYA, Volume 2, pp 49-59; doi:10.32795/widyanatya.v2i02.1046

The publisher has not yet granted permission to display this abstract.
A.A Dwi Dirgantini, I Made Sudarsana
Published: 28 October 2020
WIDYANATYA, Volume 2, pp 11-17; doi:10.32795/widyanatya.v2i02.1042

The publisher has not yet granted permission to display this abstract.
Dewa Kadek Sudyana, I Kadek Satria, I Ketut Winantra
Published: 28 October 2020
WIDYANATYA, Volume 2, pp 79-85; doi:10.32795/widyanatya.v2i02.1049

The publisher has not yet granted permission to display this abstract.
I Ketut Winantra, I Nengah Artawan
Published: 28 October 2020
WIDYANATYA, Volume 2, pp 25-35; doi:10.32795/widyanatya.v2i02.1044

The publisher has not yet granted permission to display this abstract.
Ni Nyoman Kurnia Wati
Published: 28 October 2020
WIDYANATYA, Volume 2, pp 100-108; doi:10.32795/widyanatya.v2i02.904

Abstract:
This study aims to determine how much influence the (effect size) Teams Game Tournament (TGT) Learning Model has on the learning interest of elementary school students. This type of research is a meta-analysis research using data collection techniques in the form of literature analysis on previous research. The data obtained were analyzed using quantitative descriptive data analysis. This analysis is used to analyze the effect size calculation data obtained from comparing the mean and standard deviation of previous studies. Based on the results of the analysis, it can be concluded that the Teams Game Tournament (TGT) learning model in elementary school learning can be carried out on variables and on subjects and is supported by appropriate learning media. Testing the magnitude of the influence of the Teams Game Tournament (TGT) learning model in learning in elementary schools has a high category, is very feasible and supports to be carried out in learning, especially in elementary schools.
I Gusti Ketut Widana, Ni Made Sriartini
Published: 28 October 2020
WIDYANATYA, Volume 2, pp 1-10; doi:10.32795/widyanatya.v2i02.1041

The publisher has not yet granted permission to display this abstract.
Ida Ayu Gde Yadnyawati, I Nyoman Winyana
Published: 28 October 2020
WIDYANATYA, Volume 2, pp 18-24; doi:10.32795/widyanatya.v2i02.1043

The publisher has not yet granted permission to display this abstract.
Ni Rai Vivien Pitriani
Published: 28 October 2020
WIDYANATYA, Volume 2, pp 86-99; doi:10.32795/widyanatya.v2i02.1050

The publisher has not yet granted permission to display this abstract.
Ni Putu Sinta, I Ketut Sukrawa, W.A. Sindhu Gitananda
Published: 28 October 2020
WIDYANATYA, Volume 2, pp 68-78; doi:10.32795/widyanatya.v2i02.1048

The publisher has not yet granted permission to display this abstract.
I Made Sugiarta, I Putu Arthayana Galih
Published: 28 October 2020
WIDYANATYA, Volume 2, pp 60-67; doi:10.32795/widyanatya.v2i02.1047

The publisher has not yet granted permission to display this abstract.
I Made Yudabakti
Published: 28 October 2020
WIDYANATYA, Volume 2, pp 36-48; doi:10.32795/widyanatya.v2i02.1045

The publisher has not yet granted permission to display this abstract.
Published: 1 April 2020
WIDYANATYA, Volume 2, pp 89-99; doi:10.32795/widyanatya.v2i01.631

Abstract:
Salah satu karya seni rupa keagamaan Hindu yang digunakan dalam bangunan suci umat Hindu adalah ornamen. Ornamen dalam perkembangannya mendapat pengaruh globalisasi dari luar Bali. Ornamen Karang Bhoma yang terdapat di bangunan Kori Agung di Kota Denpasar mempunyai keunikan yang spesifik khas yaitu berbentuk ukiran madya berdasarkan sastra Hindu. Berdasarkan kepercayaan yang berkembang di Kota Denpasar, pakemnya menggunakan perhitungan hari astawara, tepatnya pada hari kala raksa. Perhitungan ini dilakukan agar undagi (pembuat bangunan) bersama pemilik bangunan agar dapat memulai (ngendag) penempatan. Pahatan Karang Bhoma dengan ciri bentuk ornamen ukiran madya dipercaya membawa kesejahteraan keluarga.
, , I Nyoman Surianta
Published: 1 April 2020
WIDYANATYA, Volume 2, pp 8-12; doi:10.32795/widyanatya.v2i01.620

Abstract:
Gamelan merupakan salah satu kebudayaan asli Indonesia yang telah berkembang sebagai musik sejak jaman prasejarah hingga saat ini. Perkembangan gamelan di Bali sangat pesat terutama yang dapat kita amati sejak abad XX ini. Gamelan Bali berbentuk seni karawitan instrumental yang memiliki laras pelog dan selendro. Gamelan Jawa, Bali, Sunda sering sekali mewakili Indonesia di pentas dunia sehingga dianggap sebagai musik tradisi Bangsa Indonesia. Kata gambel atau gembel berarti ‘pukul’, jadi digembel sama dengan dipukul. Instrumen musik yang cara memainkannya digembel, namanya gembelan, lalu menjadi gamelan. Gamelan Gong Kebyar merupakan gamelan golongan baru yang lahir dan berkembang pada abad ke XX di Bali utara. Gamelan Gong Kebyar (selanjutnya disebut Gong Kebyar) adalah ansambel perkusi yang diturunkan dari gamelan Gong Kuna terdiri dari berjenis-jenis instrumen. Tak dapat dipungkiri lagi bahwa kini gamelan Gong Kebyar sudah menunjukkan perkembangan yang sangat pesat dan dahsyat. Gamelan Gong Kebyar yang baru muncul pada permulaan abad ke XX pada dewasa ini sudah mampu mengalahkan perkembangan gamelan Bali lainnya yang sudah ada sebelumnya. Sebagai suatu bentuk seni pertunjukan Bali yang paling popular hingga saat ini dan salah satu gamelan yang tergolong sedikit unik ini yaitu Gong Kebyar dengan sembilan bilah nada di Desa Kelecung yang akan di bahas dalam penelitian ini.
, Ida Ayu Putu Sari
Published: 1 April 2020
WIDYANATYA, Volume 2, pp 47-56; doi:10.32795/widyanatya.v2i01.626

Abstract:
Tradisi Tajen Pangangon merupakan tradisi unik yang terdapat di Subak Teba Desa Adat Tangeb, Mengwi, Badung. Tradisi ini dilaksanakan oleh krama ‘masyarakat anggota’ Subak Teba di Desa Adat Tangeb setiap satu tahun sekali, tepatnya menjelang panen padi masa ‘padi yang berumur 105 hari’. Pelaksanaanya dilakukan di tiga tempat yaitu di Pura Ulun Carik, Pura Bedugul, dan Pura Bale Agung. Sarana utama yang digunakan dalam pelaksanaan tradisi Tajen Pangangon adalag ketupat dan bantal ‘ketupat berbentuk lonjong panjang’ yang merupakan simbol purusa dan pradhana. Ketupat dan bantal tersebut digunakan sebagai alat untuk saling lempar-melempar (matetimpugan) oleh krama subak yang dibagi menjadi dua kelompok. Dalam pelaksanaannya, konsep Tri Hita Karana digunakan sebagai landasan filosofis pelestarian tradisi Tajen Pangangon yang diperlihatkan melalui tahap persiapan hingga penutup, terutama dicerminkan dengan pola pikir pengelolaan air irigasi yang dilakukan dengan landasan harmoni dan kebersamaan antar karma dan hubungan dengan pencipta dan alam.
I Putu Gede Padma Sumardiana, Ni Luh Putu Trisdyani
Published: 1 April 2020
WIDYANATYA, Volume 2, pp 32-38; doi:10.32795/widyanatya.v2i01.624

Abstract:
Era globalisasi saat ini telah melahirkan industri baru yaitu berupa industri pariwisata yang telah menggeser nilai-nilai tradisional budaya agraris masyarakat menjadi sekedar hasil produksi berupa jasa dan barang. Dengan merebaknya industri pariwisata ini, oleh-oleh memiliki prospek tinggi dalam memberikan keuntungan berupa materi bagi masyarakat pariwisata dan menjadikan industri ini sebagai pendapatan terfavorit, karena kedatangan setiap wisatawan yang berkunjung ke sebuah tempat wisata, tentu menginginkan kenang-kenangan untuk dibawa ke Negara mereka masing-masing dan di sinilah peranan penting dari keberadaan souvenir sebagai salah satu komoditi pariwisata selain pertunjukan dan alam.
, I Made Sugiarta
Published: 1 April 2020
WIDYANATYA, Volume 2, pp 72-79; doi:10.32795/widyanatya.v2i01.629

Abstract:
Pelaksanaan yadnya bagi umat Hindu, tidak hanya dalam bentuk upacara saja, akan tetapi melalui karya seni salah satunya seni Tari. Hampir tidak ada upacara ritual agama Hindu di Bali yang tidak dilengkapi dengan sajian tari-tarian, baik yang merupakan bagian dari upacara adat atau agama, sebagai sajian penunjang untuk melengkapi pelaksanaan upacara, maupun sebagai hiburan yang bersifat sekuler. Tari Rejang Pamendak sebagai bagian dari pelaksanaan upacara agama dimana kata ”Pamendak” mengandung makna memendak para Dewa yang berstana di Pura Batukau dari payogan dihadirkan pada saat upacara penyineban serangkaian Pujawali atau Piodalan di pura Luhur Batukau, Desa Wongaya Gede, Kecamatan Penebel, Kabupaten Tabanan yang diselenggarakan setiap enam bulan sekali bertepatan dengan Umanis Galungan. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan menggungkap dua hal yaitu bagaimana bentuk tari Rejang Pamendak dan nilai pendidikan apa saja yang terkandung dalam tari Rejang Pamendak. Maka diperoleh kesimpulan bahwa tari Rejang Pamendak ditarikan oleh 10 orang atau lebih para wanita yang sudah menikah dengan membawa sarana dupa. Gerakan serta kostum sangat sederhana dan menggunakan gamelan Gong Kebyar dengan bilah daun sembilan. Nilai pendidikan yang terkandung pada Rejang Pamendak adalah Nilai Pendidikan Religi, Nilai Pendidikan Estetika, Nilai Pendidikan Etika,dan Nilai Pendidikan Tattwa.
Published: 1 April 2020
WIDYANATYA, Volume 2, pp 62-71; doi:10.32795/widyanatya.v2i01.628

Abstract:
Secara konseptual pelaksanaan upacara yadnya yang dilaksanakan umat Hindu itu memang tampak ideal. Namun jika ditinjau secara kontekstual, aktivitasnya terlalu menitikberatkan kepada unsur ritual dibandingkan pemahaman Tattwa (filosofi) dan aktualisasi Susila atau prilaku sesuai kode etik. Realita di atas, antara lain disebabkan oleh pengaruh modernisasi di era globalisasi, yang secara simultan turut mendistorsi segala tatanan mapan yang di waktu lalu sudah berjalan secara ideal-konseptual, namun kini bergerak cepat dan cenderung berkembang ke arah situasional-kontekstual. Kondisi ini akhirnya menampakkan wujudnya, ketika umat Hindu melaksanakan kewajiban beragama (bhakti), tak dapat dihindari telah disusupi pengaruh gaya hidup kontemporer yang lebih mementingkan penampilan fisikal/personal dan sajian material, daripada peningkatan rohani guna mencapai kesadaran spiritual.
I Gusti Ayu Nilawati,
Published: 1 April 2020
WIDYANATYA, Volume 2, pp 22-31; doi:10.32795/widyanatya.v2i01.623

Abstract:
Berlakunya KBK yang dikembangkan menjadi KTSP menuntut perubahan paradigma dalam pendidikan yaitu orientasi pembelajaran yang semula berpusat pada guru beralih berpusat pada murid. Model Pembelajaran Two Stay Two Stray menjadi salah satu inovasi yang diterapkan guru pendidikan agama Hindu dalam pembelajaran pendidikan agama Hindu pada siswa kelas VII di SMP Negeri 2 Mendoyo, Jembrana. Teori konstruktivistik dan behavioristik menjadi relevan disandingkan dalam memahami berbagai fenomena yang hadir dalam penerapan model pembelajaran dimaksud. Berdasarkan analisis diperoleh hasil penelitian sebagai berikut: (1) pembelajaran pendidikan agama Hindu dilakukan dengan cara pembagian kelompok secara heterogen dan melaksanakan setiap tahapan-tahapan dari model pembelajaran Two Stay Two Stray, (2) guru dapat melatih siswa menjadi lebih aktif lagi dalam menerima proses pembelajaran pendidikan agama Hindu, (3) kendala-kendala yang dihadapi guru agama Hindu dalam penerapan model pembelajaran Two Stay Two Stray yaitu ada beberapa siswa yang kurang mengerti dengan tujuan bertamu ke kelompok lain dan siswa yang aktif di dalam model pembelajaran ini hanya beberapa saja, sehingga pembelajaran kurang efektif karena waktu yang diperlukan juga cukup panjang. Dengan demikian guru harus benar-benar menjelaskan kepada siswa tujuan dari bertamu dan mengatur waktu agar tidak kekurangan waktu.
I Gusti Made Bagus Supartama, I Wayan Sukadana
Published: 1 April 2020
WIDYANATYA, Volume 2, pp 57-61; doi:10.32795/widyanatya.v2i01.627

Abstract:
Globalisasi dibangun dengan karakteristik ekonomi untuk mengintegrasikan bebagai elemen kehidupan kedalam system tunggal yang breskala dunia. Dengan demikian, maka akan terjadi eksploitas budaya local yang dikemas secara sistematis dalam bentuk komoditi kapitalis. Sesungguhnya hal ini merupakan ancaman terhadap keutuhan dan keaslian budaya lokal beserta pilar-pilar identitas yang membangunnya. Hal ini sangat nampak pada kesenian khususnya seni tari sebagai identitas budaya Bali, sehingga memerlukan revitalisasi terhadap tari Bali melalui konsensus bersama antara intelektual, seniman, tokoh-tokoh agama, beserta para pengusaha untuk merumuskan kembali kesenian dalam menghadapi era globalisasi.
Published: 1 April 2020
WIDYANATYA, Volume 2, pp 80-88; doi:10.32795/widyanatya.v2i01.630

Abstract:
Merefleksikan unsur-unsur kesenian, khususnya seni pertunjukan, dalam ritual keagamaan, seni tari wali atau tari sakral merupakan salah satu unsur yang menunjang rangkaian segala upacara keagamaan yang ada di Bali. Artikel ini membahas salah satu tari sakral atau wali bernama Tari Baris Kekupu yang berada di Banjar Lebah Desa Adat Sumerta Kaja, Denpasar. Berdasarkan hasil penelitian, tarian ini merupakan bagian integral dari kehidupan masyarakat setempat yang selalu terikat dengan peristiwa ritual atau upacara Mamukur. Bentuk Tari Baris Kekupu, ditarikan oleh penari anak-anak perempuan karena didalam Tari Baris Kekupu ini terdapat unsur-unsur Tari Legong, Idenya terinspirasi dari hiasan kupu-kupu pada damar kurung yang dipasang saat upacara Mamukur. Selain itu, secara fungsional tarian ini dapat dipahami memiliki fungsi religius dan fungsi pelestarian budaya.
Published: 1 April 2020
WIDYANATYA, Volume 2, pp 13-21; doi:10.32795/widyanatya.v2i01.622

Abstract:
Siswa sebagai individu yang melaksanakan proses pembelajaran di sekolah dituntut untuk berperilaku yang baik walaupun terdapat perbedaan dengan individu lainnya.Perilaku sosial Behavioristik menyatakan bahwa tingkah laku manusia dapat diubah atau dimanipulasi, dengan cara mengendalikan tingkah laku manusia, yaitu dengan mengontrol perangsang-perangsang yang ada di lingkungan. Berdasarkan hal tersebut, maka perilaku sosialpun dapat dikembangkan dengan jalan memanipulasinya menggunakan konseling behavioral. Konseling behavioral menekankan pada penguatan perilaku positif. Melalui penerapan bimbingan konseling behavioral akan dapat dibentuk perilaku sosial yang lebih baik
, I Kadek Satria
Published: 1 April 2020
WIDYANATYA, Volume 2, pp 39-46; doi:10.32795/widyanatya.v2i01.625

Abstract:
Salah satu konsep keagamaan Hindu yang relevan dengan Teknik Tari Bali adalah konsep Tri Angga, dimana konsep ini merupakan konsep yang ada dalam pembagian tubuh manusia dengan istilah utama angga, madya angga, dan nista angga. Ketika konsep ini masuk di dalam Teknik Tari Bali, maka dapat dipahami bahwa konsep ini mampu memberikan pemahaman yang lebih terhadap pembagian tubuh saat mempelajari perbendaharaan gerak yang ada dalam teknik tari Bali. Pembagian tubuh ini mampu memudahkan pembelajaran dengan mengklasifikasikan gerak-gerak sesuai dengan pembagian tubuh (angga) penari. Utamaning angga merupakan bagian utama dalam tubuh yang dalam estetika Hindu dikaitkan dengan bagian yang paling disucikan adalah bagian kepala. Madyaning Angga merupakan bagian kedua dalam pembagian tubuh di antaranya bagian torso atau badan, dari bahu hingga pinggul. Dalam bagian ini terdapat banyak perbendaharaan gerak yang ada, beberapa contohnya adalah gerakan ngejat pala, ngeseh, ngelo, nyeleog, dan lainnya. Nistaning angga adalah bagian terakhir dari pembagian ini yang terdapat pada bagian bawah pinggul dan kaki.
Anak Agung Ketut Raka, I Wayan Butuantara
Published: 1 April 2020
WIDYANATYA, Volume 2, pp 1-7; doi:10.32795/widyanatya.v2i01.618

The publisher has not yet granted permission to display this abstract.
, Dewa Kadek Sudyana
Published: 31 October 2019
WIDYANATYA, Volume 1, pp 44-55; doi:10.32795/widyanatya.v1i2.496

Abstract:
Higher Order Thinking Skills (HOTS) is a way of thinking that puts forward the values ​​of critical and creative thinking so that it is considered capable of providing solutions in facing the challenges of the times. To have high-level thinking skills (HOTS), teachers must be able to design HOTS-based learning to help students develop higher-order thinking skills. The ability in question is related to the ability to think critically, reflective, metacognitive, and creative thinking. This is consistent with the objectives in the 2013 curriculum in PP No. 17 of 2010, to prepare Indonesian people to have the ability to live as individuals and citizens who are faithful, productive, creative, innovative, and affective and able to contribute to the life of society, nation, state and world civilization
Ni Wayan Yuniastuti, Ida Bagus Putu Eka Suadnyana
Published: 31 October 2019
WIDYANATYA, Volume 1, pp 32-43; doi:10.32795/widyanatya.v1i2.495

Abstract:
Karangasem Extraordinary School (SLBN) is an extraordinary school located in the Regency of Karangasem, under the auspices of the Bali Provincial Government Education Office, providing proper education to students who have special needs. The responsibility for the success of the education of children with special needs in Karangasem SLBN lies in the hands of educators, namely Karangasem SLBN teachers. Special Education Teachers in Karangasem SLBN besides teaching, they also play a role in helping the development of their students. The education service model is an interesting study to study in an effort to meet the educational needs of Hinduism and Human Rights in children with special needs (ABK) in Karangasem SLBN amid the eruption of Mount Agung. Theories used to solve this research problem are behaviorism theory and humanistic learning theory.
Ni Nyoman Wahyu Adi Gotama,
Published: 31 October 2019
WIDYANATYA, Volume 1, pp 128-138; doi:10.32795/widyanatya.v1i2.502

Abstract:
Disability is an inability of the body to carry out certain activities or activities as normal people in general are caused by a condition of disability in terms of physiological, psychological and structural abnormalities or anatomic functions. Disability was formerly better known by people as people with disabilities. then the Sekar Dewata dance studio in Serongga village, gianyar district took an action to restore the social function of children with disabilities in this study examines three things, namely 1) why an important strategy in dance learning is violated by sekar dewata village, Serongga village, Serongga district, Kab.gianyar2) dance learning strategies for children with disabilities violated by sekar dewata? 3) what are the implications of implementing the senitari learning strategy at Sanggara Sekar Deawata? This study uses qualitative research methods where data collected in the form of words. Theories used in this study are 1) Phenomenology theory 2) Structural functional theory 3) Behaviorism theory. The results of this study are 1) the importance of the role of strategy in learning dance in Sanggar Sekar Dewata are a. Cultural reasons see that dance art is an activity that is very closely related to Balinese life both in social and religious life. B. human social reasons are challenged as social creatures so to restore the social function is needed a plan (strategy) c. economic reasons where the skills possessed by children with disabilities can be an economic bridge. 2 How is the application of dance learning that is divided into several sub. A. the process of introducing various types of dance b. determining the type of dance to be given. C. basic training in a dance. D. dance learning in its entirety. The process is also supported by internal and external factors. 3. The method used is a method. demonstration method, 2. Driil method. 3. Is the method of imitation.
I Gusti Ketut Widana, I Gusti Ayu Suasthi
Published: 31 October 2019
WIDYANATYA, Volume 1, pp 56-67; doi:10.32795/widyanatya.v1i2.497

Abstract:
Basically, ritual activities are a series of sacred (sacred / sacred) actions carried out by Hindus using certain tools, places, and certain ways. Its main function is as a medium to surrender by worshiping God along with His manifestations accompanied by various offerings while accompanied by prayers (mantras) in order to obtain a gift of salvation. The rituals that are often encountered and experienced and carried out in daily life are generally life cycle rituals such as the rituals of birth, marriage, until death that are religiously believed by followers. Hinduism itself as a religion constructed by three basic frameworks positions "ritual" (event) as a supplement of material (skin / packaging) to support the element of "ethics" (moral) as part of an essence that is strengthened as well as to strengthen the foundation of "philosophy" (tattwa) as substance.
Published: 31 October 2019
WIDYANATYA, Volume 1, pp 18-31; doi:10.32795/widyanatya.v1i2.494

Abstract:
Pakraman Bakbakan Village is one of the areas in the Balinese customary law area which also has regulations governing the lives of its people which are basically poured into awig-awig forms that are generally owned by all Pakraman Villages in Bali. In awig-awig, Pakraman Bakbakan Village, there is one adat sanction, namely Kanorayang adat sanction which is still preserved. The application of Kanorayang customary sanctions is based on awig-awig Desa Pakraman Bakbakan Palet Kaping XX (Indik Pamidanda). The imposition of Kanorayang adat sanctions is applied as an act of expulsion from Pakraman village customary activities so that those who are subject to the kanorayang adat sanctions lose their rights and obligations within the Pakraman Village organization. For those who are subject to customary sanctions in the village of Pakraman Bakbakan will not be able to use traditional facilities such as the temple of heaven, setra or grave, infrastructure owned by the Pakraman village (wantilan, village bale, aykul kulkul, etc.). This study uses a qualitative research design through an ethnographic case study approach with an emphasis on critical and interpretive studies without ignoring the study of empirical elements. By collecting data through sampling techniques, where in this study is purposive sampling through people who are considered key (key person) and understand about the application of customary sanctions in the village of Pakraman Bakbakan Pakraman. This research can be used as a critique and suggestion so that in the process of implementing customary sanctions the canor does not deviate from the objectives of customary law itself. And with the existence of customary sanctions in the village of Pakraman Bakbakan is expected to maintain harmony and in an atmosphere of "paras-paros, gilik-saguluk, salunglung-sabayantaka".
Ida Ayu Putu Sari, I Ketut Gede Rudita
Published: 31 October 2019
WIDYANATYA, Volume 1, pp 112-127; doi:10.32795/widyanatya.v1i2.501

Abstract:
Dharmagita in the mental spiritual development of religion and increasing understanding of the values of religious teachings. To explore, appreciate and practice the dharmagita teachings within the Hindu University of Indonesia, it is necessary to the role of lecturers and religious leaders by providing direction, guidance, so that students become the next generation of the nation with the mental ideology of Pancasila who have a firm belief (sraddha). and diligently carrying out religious teachings. Mental guidance is needed for students in forming, maintaining and improving the mental condition of religion to foster devotion to God.
I Made Sudarsana, Ida Ayu Gede Prayitna Dewi
Published: 31 October 2019
WIDYANATYA, Volume 1, pp 1-17; doi:10.32795/widyanatya.v1i2.493

Abstract:
The existence of traditional arts, has now become an image of regional culture and is able to have a dynamic impact on the community. The tradition that develops, and is grounded in an area certainly through a long journey process so that it becomes a system of habits that is carried out continuously. The formation of a similar perspective and associated with local mythology, is the initial foundation for an initiator and local genius to formulate his perspective in the traditional space. This shows that the role of tradition today, can be used as a barometer of wealth that has high investment in an area. The phenomenon of the emergence of tradition that has been marginalized for its existence, nowadays it is as if it will become a gem of high value and the emergence of the reconstruction of lost traditions. Particularly in the Adong Village of Kedonganan, Kuta District of Badung Regency, the Mebuug - buugan tradition has been reconstructed since 2014 ago. This tradition, which is left behind almost 60 years, is a game tradition using mud / buug in mangroves. The continuity of this tradition is able to elevate the local wisdom contained in it, especially in the Traditional Village of Kedonganan. Many philosophical contents and social values ​​can be implemented through this Mebuug buugan traditional media. The application of the Tri Hita Karana concept in the Mebuug Buugan tradition is very relevant to the efforts of the community to maintain a harmonious relationship or social interaction of the people and the ecology of the natural environment of the Mangrove.
Published: 31 October 2019
WIDYANATYA, Volume 1, pp 92-111; doi:10.32795/widyanatya.v1i2.500

Abstract:
In general, what is meant by percussion has to do with sounding the gamelan. Maybe by hitting, blowing, swiping and others. Tet Port or percussion is interpreted by the sound of gamelan music in a performance, as a supporter of a ceremony or accompaniment of a dance. Specifically in Balinese musical meaning, what is meant by percussion is the result of the artist's ability to achieve a balance of the game in realizing a repertoire (reportoar) to match the soul, taste and purpose of the composition. Beating does not mean the origin of hitting the gamelan following a melody, but hitting the gamelan with all the rules or procedures that have been determined so that the sound of the gamelan can be heard beautifully. The beauty arising from the sound of the gamelan, not only depends on one factor, for example, because the composition of the song is played well, but the beauty occurs due to a balance between the song composition factors, the sound of the gamelan itself including the barrel, the procedures or rules for voicing the gamelan, skills and the artist's ability to animate the song's play. The implementation of religious traditions in the Pupuan Sawah Village is always accompanied by percussion or gamelan to show an aesthetic or beauty and contain the full meaning of sacredness.
I Nyoman Putra Adnyana, I Kadek Sumadiyasa
Published: 31 October 2019
WIDYANATYA, Volume 1, pp 77-91; doi:10.32795/widyanatya.v1i2.499

Abstract:
Ornaments of Penataran Bujangga Sangging Prabangkara Temple Kebon Village Blahbatuh Gianyar, is one of the forms of Hindu religious fine art education which is very unique in its visual working process hereditary done incompletely as a means of religious belief, in its development become a phenomenon in its field. So it is interested to be examined under the title "Ornaments of Penataran Bujangga Sangging Prabangkara Temple Kebon Village, Blahbatuh District, Gianyar Perspective of Hindu Religious Fine Arts Education". With the formulation of the problems 1). Why Ornaments of Penataran Bujangga Sangging Prabangkara Temple are done incompletely/unfinished. 2). What is the shape of the ornaments of Penataran Bujangga Sangging Prabangkara Temple 3). What are the values ​​of Hindu Religious Fine Arts Education contained in the ornaments of Penataran Bujangga Sangging Prabangkara Temple. In the discussion, it was found that why Ornaments in Bujangga Sangging Prabanggkara Temple were done in incomplete/unfinished because of the Trust Systems to the ancestors, as a hereditary tradition. Unique Specific Ornament Forms, Imperfect Forms on; Gelung Kori Ornaments, Bale Kukul Ornaments, Masceti Pelinggih Ornaments, Monument Ornaments, 2 Pengadangan Monument Ornaments. Elements of fine art found in the ornamentation of Penataran Bujangga Sannging Prabangkara Temple; Curved Lines, Flat Lines, Slanted Lines, Straight Lines, Balance and Contrast. The values of fine art education and Hindu religious ornaments; Ethic education: Sangging attitude, aesthetic: Unity, Balance, Contrast, Accents. Social: community social, cooperation. Religious: forms of religious objects.
W.A. Sindhu Gitananda, I Made Yudabakti
Published: 31 October 2019
WIDYANATYA, Volume 1, pp 68-76; doi:10.32795/widyanatya.v1i2.498

Abstract:
The education system should be a common thread between socio-cultural natural life and new generations of Bali. In this connection a learning concept is needed that brings those individuals closer to socio-cultural natural experiences. In the Tattwa texts it is explained that the first in an effort to obtain true knowledge is the concept of ‘pratyakṣa’. Through pratyakṣa, the students are invited to always be directly connected in a process of experiencing hermeneutically with the socio-cultural life of Bali. Thus the tradition and new generation of Bali go hand in hand in a hermeneutical situation of understanding each other.
Anak Agung Ketut Raka, I Ketut Winantra
Published: 14 February 2019
WIDYANATYA, Volume 1, pp 1-9; doi:10.32795/widyanatya.v1i1.265

Abstract:
ABSTRAK Di Indonesia peningkatan mutu pendidikan merupakan sasaran pembangunan di bidang pendidikan nasional dan merupakan bagian integral dari upaya peningkatan kualitas manusia secara menyeluruh. Mengingat peran pendidikan sangat penting bagi kehidupan masyarakat, maka pemerintah berupaya untuk meningkatkan kwalitas semua komponen yang dapat menunjang peningkatan mutu pendidikan. Salah satu komponen yang dimaksud adalah peningkatan mutu profesionalisme guru khususnya guru pendidikan agama hindu. Ada beberapa komponen strategis yang perlu diperhatikan oleh guru pendidikan agama hindu yaitu permasalahan-permasalahan profesionalisme guru, prinsip-prinsip profesionalisme guru dan upaya peningkatan profesionalisme guru. Permasalahan-permasalahan profesionalisme guru meliputi profesionalisme profesi keguruan, otoritas profesioanal guru, kebebasan akademik dan tanggung jawab moral. Prinsip-prinsip profesionalisme guru meliputi memiliki bakat, minat, panggilan jiwa dan idealisme, memiliki komitmen, kualifikasi akademik, kompetensi, tanggung jawab, penghasilan, kesempatan, jaminan perlindungan hukum dan organisasi profesi. Upaya-upaya profesionalisme guru meliputi terdidik secara baik, terlatih secara baik, dihargai secara baik, terlindungi secara baik dan dikelola secara baik. ABSTRACT Indonesia is improving the quality of education is a development target in the field of national education and is an integral part of efforts to improve the quality of society, the government seeks to improve the quality of all components that can support the improvement of the quality of education. one of the components in question is improving the quality of teacher professionalism, especially teachers of Hindu education. There are several strategic components that need to be considered by Hindu religious education teachers, namely problems - the problems of teacher professionalism, the principles of teacher professionalism and efforts to increase teacher professionalism. problems - the problems of teacher professionalism include professionalism of the teaching profession, teacher professional authority, academic breakdown and moral responsibility. the principles of teacher professionalism include having talent, interest, calling soul and idealism, having commitment, academic qualifications, competence, responsibilities, income, opportunities, legal protection guarantees and professional organizations.Efforts - the efforts of teacher professionalism include well-educated, well-trained, well-respected, well-protected and well-managed.
I Made Sudarsana
Published: 14 February 2019
WIDYANATYA, Volume 1, pp 108-117; doi:10.32795/widyanatya.v1i1.275

Abstract:
ABSTRAK Seni pertunjukan di Bali merupakan khasanah budaya yang sangat terikat dengan keanekaragaman bentuk maupun tujuan. Pulau Bali yang dijuluki sebagai Pulau Dewata, Pulau Khayangan ( Island of Paradise ) memiliki bermacam – macam tarian yang bervariasi bentuknya dan mempunyai hubungan yang erat dengan pelaksanaan upacara agama hindu yang merupakan agama yang paling besar jumlah penganutnya di Bali. Daya tarik Bali adalah kebudayaan yang unik, kehidupan masyarakat dan keindahan alamnya. Kehidupan kebudayaannya adalah menyatunya agama, kebudayaan, adat yang harmonis, cita rasa dan karsa sebagai unsur budi daya manusia yang menonjol mengambil bentuk keagamaan, estetika dan etika. Hal tersebut tercermin lewat seni budaya, solidaritas gotong – royong sebagai rasa kebersamaan. Sebagai sebuah tradisi keberadaan kesenian bali sejalan dengan seluruh aspek kehidupan. Secara terpadu akrab merefleksikan cita – cita masyarakat pendukungnya tidaklah berlebihan jika masyarakat bali menganggap jika kesenian ( seni tari, gamelan maupun wayang ) adalah bagian integral dari kehidupannya yang selalu terikat dengan peristiwa – peristiwa ritual. Agama hindu yang memiliki unsur rasional,ritual, emosional dan kepercayaan sering menjadikan kesenian tersebut sebagai drama ritual menjadi sarana untuk memperkuat kepercayaan serta memformulasikan konsepsi agama dalam kehidupan masyarakat. ABSTRACT Performing art in Bali is a cultural repertoire that is very tied to the diversity of forms and goals. The island of Bali, dubbed the Island of the Gods, Khayangan Island (Island of Paradise) has a variety of dances that vary in shape and have a close relationship with the implementation of Hindu religious ceremonies which are the largest in number in Bali. The attraction of Bali is its unique culture, community life and natural beauty. Its cultural life is the unification of religion, culture, harmonious customs, taste and intention as a prominent element of human cultivation taking the form of religion, aesthetics and ethics. This is reflected through cultural arts, solidarity of mutual cooperation as a sense of togetherness. As a tradition, the existence of Balinese art is in line with all aspects of life. In an integrated manner, reflecting on the ideals of the supporting community is not excessive if the Balinese people consider that art (dance, gamelan and wayang) is an integral part of their lives which is always bound by ritual events. Hinduism which has rational, ritual, emotional and belief elements often makes the art as a ritual drama a means to strengthen trust and formulate religious conceptions in people's lives.
I Nyoman Wahyu Adi Gotama, Ida Ayu Gede Prayitna Dewi
Published: 14 February 2019
WIDYANATYA, Volume 1, pp 82-90; doi:10.32795/widyanatya.v1i1.273

Abstract:
ABSTRAK Penelitian ini mengangkat topik tentang biografi I Gede Geruh serta kontribusinya terhadap kesenian gambuh di Desa Pedungan, Kecamatan Denpasar Selatan, Kota Denpasar. Keterlibatan I Gede Geruh dalam dramatari gambuh di Pedungan tidak hanya sebagai seorang penari, melainkan sebagai seorang guru atau pelatih dramatari gambuh dan juga sebagai pengurus dalam sekaa gambuh di Pedungan. Semua ini menunjukkan kebesaran peran dan totalnya keterlibatan I Gede Geruh dalam dramatari gambuh di Pedungan sebagai pengukuh dan pengokoh. Kata pengukuh digunakan untuk memposisikan I Gede Geruh sebagai seorang tokoh yang mempunyai peran penting agar nilai-nilai estetik Gambuh Pedungan tidak sampai berubah. Pengokoh digunakan untuk memposisikan Geruh sebagai seorang figur yang ibarat pilar yang mampu membuat kesenian Gambuh Pedungan tetap eksis ditengah-tengah perubahan nilai sosial dan budaya Bali. Kata pengokoh dimaknai sebagai seorang tokoh yang ibarat tiyang penyangga untuk menjaga “bangunan” sekaa gambuh ini jangan sampai roboh. Kehadiran seniman ini memiliki dampak yang cukup luas terhadap kehidupan kesenian, aktivitas upacara agama dan pembangunan sosial dan budaya di Desa Pedungan ABSTRACT This study raised the subject of the biography I Gede Geruh and its contribution to the gambuh arts in the Pedungan village. In Bali, only a few villages having gambuh art . One village is famous for its gambuh art is Pedungan Village, District of South Denpasar , Denpasar . Historically, Gambuh Pedungan a palace of art which is closely related to Puri and Puri Satria acceleration. It gets protection of the authorities in both the castle. The amount of attention to the gambuh art king at that time led to Gambuh Pedungan grows and flourishes and bears gambuh dancers reliable. One of the gambuh dancers is very famous I Gede Geruh (deceased), a very large contribution to the preservation, development and sustainability Gambuh Pedungan . In his youth he was able to portray all the characters in the pegambuhan art. This research uses qualitative and quantitative data that is widely used in research methods, social sciences and humanities. Source of data used mostly acquired through observation, interviews, literature data and documentation. As analysis, research using biographical theory as the main theory and motivation theory, semiotic theory and aesthetic theory as the supporting theory. This study was also accompanied by the application of some concepts, approaches and frameworks references.Through the application of the theory of biography can be concluded that involvement in Gede Geruh in Pedungan dance drama not only as a dancer, but as a teacher or coach of dance drama gambuh and also as a board member in sekaa gambuh in Pedungan . This shows the greatness of all roles and their total involvement in dance drama of Gede Geruh in Pedungan as people who staunchly and leader. The word is used to position peple who staunchly I Gede Geruh as a character who has an important role that aesthetic values ​​Gambuh Pedungan not to change. Leader used to position Geruh as a figure like a pillar that is able to make art Gambuh Pedungan still exist in the midst of changes in social values ​​and culture. Said leader interpreted as a figures like pillar buffer to keep “building " is not to sekaa gambuh collapsed. The presences of these artists have a wide impact on the lives of art, ritual activity and social and cultural development in the Pedungan Village
Published: 14 February 2019
WIDYANATYA, Volume 1, pp 36-50; doi:10.32795/widyanatya.v1i1.269

Abstract:
ABSTRAK Agama Hindu memiliki tiga kerangka dasar yaitu tattwa, etika dan upacara. Ketiganya tidak berdiri sendiri, tetapi suatu kesatuan yang dilaksanakan oleh umat Hindu. Jika hanya filsafat agama yang diketahui tanpa melaksanakan ajaran-ajaran susila dan upacara, tidaklah sempurna. Dalam melaksanakan yadnya umat Hindu tidak dapat lepas dari tiga kerangka dasar tersebut. Yadnya yang berarti memuja, menghormati,berkorban tulus iklas, mengabdi, berbuat baik berupa apa yang dimiliki demi kesejahteraan dan kesempurnaan hidup bersama dan kemahamuliaan Ida Sang Hyang Widhi Wasa. Dengan melaksanakan yadnya, umat Hindu di Bali percaya dapat mendekatkan diri dengan Ida Sang Hyang Widhi Wasa sebagai kepercayaan skala-niskala dan juga adanya hutang yaitu Rna. Ada tiga jenis hutang yaitu dewa rna yaitu hutang hidup kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa, pitra rna yaitu hutang jasa kepada leluhur dan rsi rna yaitu hutang suci kepada rsi. Dengan adanya rasa berhutang itulah sudah sewajarnya hutang tersebut dibayar, diwujudkan kedalam upacara yadnya. Dengan melaksanakan yadnya dapat menghubungkan diri dengan Ida Sang Hyang Widhi Wasa. Melalui sarana-sarana inilah dapat tertanam rasa terimakasih kehadapan Ida Sang Hyang Widhi Wasa. Upacara Aci Penaung Bayu termasuk dalam upacara Dewa Yadnya khususnya pemujaan kepada Tuhan Yang Maha Esa dalam manifestasi beliau sebagai Dewa Wisnu, Dewa pemelihara alam semesta beserta segala isinya. Penelitian ini dilaksanakan untuk menjawab permasalahan: (1) bagaimana proses pelaksanaan upacara aci penaung bayu?, (2) apakah fungsi upacara aci penaung bayu?, (3) nilai-nilai pendidikan apa saja yang terkandung dalam upacara aci penaung bayu?. Teori yang digunakan untuk memecahkan masalah penelitian ini adalah teori fungsional struktural , teori religi, dan teori nilai. Penelitian ini berbentuk rancangan kualitatif denga pendekatan fenomologis. Data dikumpulkan dengan menggunakan teknik observasi, tknik wawancara, teknik kepustakaan, dan teknik dokumentasi. Setenah data terkumpul, data dianalisis dengan pengecekan keabsahan data. Berdasarkan analisis tersebut, diperoleh simpulan sebagai hasil penelitian, sebagai berikut: (1) proses pelaksanaan upacara aci penaung bayu dimulai dengan upacara nedunang Ida Bhatara dari tempat penyimpanan (penataran agung), setelah itu puncak upacara aci penaung bayu, dan terakhir upacara nyineb Ida Bhatara (disimpan ke tempat penyimpanan kembali) (2) Fungsi dari pelaksanaan upacara Aci Penaung Bayu ini adalah fungsi religius, fungsi integrasi sosial, fungsi memberi tenaga. (3) Nilai-nilai pendidikan agama Hindu yang terkandung dalam upacara Aci Penaung Bayu adalah nilai pendidikan Tri Hita Karana. ABSTRACT Hinduism has three basic frameworks, namely tattwa, ethics and ceremonies. All three do not stand alone, but a unity carried out by Hindus. If only the philosophy of religion is known without carrying out moral teachings and ceremonies, it is not perfect. In implementing the yadnya Hindus cannot escape the three basic frameworks. Yadnya which means worshiping, respecting, sacrificing sincerely, serving, doing good in the form of what is owned for the welfare and perfection of living together and the glory of Ida Sang Hyang Widhi Wasa. By implementing yadnya, Hindus in Bali believe that they can get closer to Ida Sang Hyang Widhi Wasa as a belief in scales and also the existence of debt, namely Rna. There are three types of debts, namely the God of Rna, namely the debt of life to Ida Sang Hyang Widhi Wasa, the pitra rna, which is service debt to the ancestors and the rna, namely the sacred debt to rsi. With this feeling of debt, it is only natural that the debt be paid, manifested in the yad ceremony. By implementing yad it can connect itself with Ida Sang Hyang Widhi Wasa. Through these facilities can be embedded a sense of gratitude to Ida Sang Hyang Widhi Wasa. The ceremony of Aci Penaung Bayu is included in the ceremony of Dewa Yadnya, especially the worship of the Almighty God in his manifestation as Lord Vishnu, the god who cares for the universe and all its contents. This research was conducted to answer the following problems: (1) how is the process of carrying out the ceremony of acu pening bayu ?, (2) what is the function of the ceremony of acu pening bayu ?, (3) what educational values ​​are contained in the aci penung bayu ceremony ?. The theories used to solve this research problem are structural functional theory, religious theory, and value theory. This research is in the form of a qualitative design with a phenomological approach. Data was collected using observation techniques, interview techniques, library techniques, and documentation techniques. After the data is collected, the data is analyzed by checking the validity of the data. Based on the analysis, conclusions were obtained as a result of the study, as follows: (1) the process of carrying out the aci penung bayu ceremony began with the nedunang ceremony of Ida Bhatara from the storage area (penataran agung), after which the ceremony of aci penung bayu, and finally the nyineb ceremony Ida Bhatara (stored to return storage) (2) Function of carrying out the Bayu Aci Penaung ceremony is a religious function, social integration function, energizing function. (3) The values ​​of Hinduism education contained in the ceremony of Aci Penaung Bayu are the educational value of Tri Hita Karana.
Published: 14 February 2019
WIDYANATYA, Volume 1, pp 91-107; doi:10.32795/widyanatya.v1i1.274

Abstract:
ABSTRAK Buku mewarnai untuk orang dewasa (adult coloring books), kini sedang mewabah di kalangan orang dewasa karena diyakini memberikan efek terapetik. Salah satu buku berjudul “Nirvana” karya I.B.G Wiraga merupakan buku mewarnai untuk dewasa (adult coloring books) dengan visualisasi ornamen yang memiliki fungsi lebih dari sekedar estetik namun memiliki makna simbolik dan nilai-nilai filosofis yang penting didalam kehidupan masyarakat Bali. Visualisasi cili, bajra, kalarau, butakala, karang daun, gebogan, penjor, pelinggih, brahman, canang dan lainnya yang memiliki keindahan garis, detail abstraksi dan stililasi objek, ditambah dengan nilai filosofis yang tinggi merupakan representasi pengalaman batin, pemikiran, ketajaman perasaan dan ekspresi sang illustrator yang dipengaruhi oleh lingkungan alam, sosial dan budaya sangat erat kaitannya dengan kosmologi, mitologi, ideologi dan teologi Hindu Bali sehingga menjadi sangat menarik untuk dikaji lebih dalam melalui pendekatan esetetika dan semiotika. ABSTRACT Now a days Adult colouring books are mushrooming among adulthood because it gives teraupetic effect. One of the book entitled “Nirvana” by I.B.G wiraga is an adult coloring book with ornamental visualization that has functioned more than estetical view but also has symbolical value as well as philosophical value which are very important for balinesse society. Visualization of cili, bajra, kalarau, butakala, karang daun, gebogan, penjor, pelinggih, brahman, canang and the others has their own beautiful lines, detail of the abstract and object stililation in additional with high philosophical value which represents phsycological experiences, thoughts, emotional sharpness and the illustrator experessions which are influenced by the nature, social, and traditions in connection with the cosmology, mythology, ideology and theology of Hindu in bali so that it becoming an interesting thing to be looked in deeper aspect through estethical approach and semiotica
I Made Rudita, Ni Luh Putu Wiwin Astari
Published: 14 February 2019
WIDYANATYA, Volume 1, pp 51-59; doi:10.32795/widyanatya.v1i1.270

Abstract:
ABSTRAK Pada dasarnya nilai pendidikan karakter mempunyai tiga bagian yang saling bekaitan, yaitu pengetahuan moral, penghayatan moral dan perilaku moral. Oleh karena itu seseorang dengan karakter yang baik, mengetahui, menginginkan, dan melakukan yang baik. Ketiganya merupakan syarat untuk menuntun hidup yang bermoral dan membangun kematangan moral. Dalam melakukan pendidikan karakter tidak harus dengan menambah program tersendiri, melainkan bisa melalui transformasi budaya, salah satunya nilai-nilai pendidikan karakter bisa disampaikan melalui seni pertunjukan drama, khususnya pertunjukan drama klasik. Untuk menjawab masalah di atas, dalam hal mengetahui nilai pendidikan karakter melalui transformasi budaya Bali berupa pertunjukan drama klasik Sanggar Teater Mini, perlu dibuat suatu penelitian mengenai nilai pendidikan karakter dalam pertunjukan drama klasik Sanggar Teater Mini dengan lakon Dewa Ruci. Penelitian ini berjudul “Struktur Dramatik Pada Pertunjukan Drama Klasik Sanggar Teater Mini lakon Dewa Ruci”.Kajian (Bentuk dan Fungsi)” adalah hasil studi yang mendalam struktur dramatik pada pertunjukan drama klasik. Penelitian ini mengangkat dua pokok masalah yaitu : 1) untuk mengetahui dan menganalisis bentuk struktur dramatik pertunjukan drama klasik Sanggar Teater Mini lakon Dewa Ruci ; 2) untuk mengetahui dan menganalisis fungsi pertunjukan drama klasik Sanggar Teater Mini lakon Dewa Ruci. Secara umum, penelitian ini bertujuan untuk mengetahui keberadaan dan peranan penting dari nilai-nilai pendidikan karakter dalam pertunjukan pertunjukan drama klasik Sanggar Teater Mini lakon Dewa Ruci . Secara khusus, penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan bentuk struktur dramatik dan fungsi pertunjukan drama klasik Sanggar Teater Mini lakon Dewa Ruci. Penelitian ini dirancang sebagai penelitian kualitatif dengan menggunakan dua teori : teori estetika dan teori fungsional struktural. Metode-metode pengumpulan data yang digunakan meliputi observasi, wawancara, dokumentasi dan kepustakaan.Seluruh data diolah menggunakan tehnik deskriptif interpretatif. Hasil dari penelitian ini adalah sebagai berikut ; Bentuk struktur dramatik pertunjukan drama klasik Sanggar Teater Mini lakon Dewa Ruci adalah sebagai berikut : (1) tema, (2) alur, (3) latar, (4) penokohan, (5) insiden dan (6) amanat. Sedangkan fungsi drama klasik Sanggar Teater Mini lakon Dewa Ruci adalah sebagai berikut : (1) fungsi ekonomi, (2) fungsi hiburan, (3) fungsi promosi dan (4) fungsi komunikasi. ABSTRACT Basically, the value of character education has three interrelated parts, namely moral knowledge, moral appreciation and moral behavior. Therefore someone with good character, knows, wants, and does good. All three are conditions for guiding a moral life and building moral maturity. In doing character education does not have to add a separate program, but it can be through cultural transformation, one of which is the values ​​of character education can be conveyed through drama performing arts, especially classical drama performances. To answer the above problem, in terms of knowing the value of character education through the transformation of Balinese culture in the form of a classic Mini Theater studio performance, it is necessary to make a study of the value of character education in the performance of the Sanggar Teater Mini classic drama with Dewa Ruci play. This research entitled "Dramatic Structure of the Classical Drama Performance of Teater Mini lakon Dewa Ruci". Studies (Forms and Functions) "are the results of an in-depth study of the dramatic structure of classical drama performances. This research raises two main issues, namely: 1) to find out and analyze the dramatic structural forms of the Sanggar Teater Mini classical drama performance Dewa Ruci play; 2) to find out and analyze the function of the Sanggar Teater Mini lakon Dewa Ruci performance. In general, this study aims to find out the existence and important role of character education values ​​in the performance of the classic Sanggar Teater Mini lakon Dewa Ruci performance. Specifically, this study aims to explain the dramatic structure and function of the classical drama performances of Sanggar Teater Mini Dewa Ruci play. This research was designed as qualitative research using two theories: aesthetic theory and structural functional theory. Data collection methods used include observation, interviews, documentation and literature. All data are processed using interpretive descriptive techniques. The results of this study are as follows; The form of the dramatic structure of the Sanggar Teater Mini classical drama performances by Dewa Ruci are as follows: (1) theme, (2) plot, (3) background, (4) characterization, (5) incident and (6) mandate. While the function of the classical drama Sanggar Teater Mini lakon Dewa Ruci is as follows: (1) economic function, (2) entertainment function, (3) promotion function and (4) communication function.
, I Gusti Ayu Suasthi
Published: 14 February 2019
WIDYANATYA, Volume 1, pp 21-35; doi:10.32795/widyanatya.v1i1.268

Abstract:
ABSTRAK Pendidikan karakter sudah selayaknya diutamakan dan dibudayakan di dalam dunia pendidikan. Penguatan Pendidikan Karakter (PPK) bukanlah suatu kebijakan baru karena telah menjadi gerakan nasional sejak tahun 2010. Proses pembelajaran pendidikan agama hindu dan budhi pekerti di sekolah dasar diawali dengan membuat perencanaan. Mulai dari menyusun silabus sampai pada tahap penyusunan RPP yang terintegrasi penguatan Pendidikan Karakter (PPK) di setiap pokok materi ajar. ABSTRACT Character in education should be prioritized and cultivated in the world of education. Character Education Strengthening (KDP) is not a new policy because it has become a national movement since 2010. The learning process of Hindu religion and culture in elementary schools begins with planning. Starting from compiling syllabus to the preparation stage of the RPP which is integrated in the strengthening of Character Education (PPK) in each subject matter of the teaching material.
Published: 14 February 2019
WIDYANATYA, Volume 1, pp 69-81; doi:10.32795/widyanatya.v1i1.272

Abstract:
ABSTRAK Konsep Aja Wera telah sejak dulu dikenal masyarakat Bali dan dianggap sebagai bentuk “larangan” mempelajari, mendalami atau menguasai pengetahuan/ajaran agama Hindu. Itulah sebabnya mengapa umat Hindu untuk urusan belajar agama, dengan segala konsep ajaran, atau kandungan makna tattwanya nyaris tidak begitu dipedulikan. Berbeda dengan urusan aktivitas ritual yadnya, umat Hindu begitu semangat dan bergairah menjalankannya, meski tidak ditunjang pengetahuan yang melandasi pelaksanaan ritual yadnya tersebut. Pegangannya adalah adagium gugon tuwon bin anak mulo keto, dengan prinsip melaksanakan kewajiban ritual yadnya dengan patuh tanpa perlu tahu apa makna tattwa dibaliknya. ABSTRACT The concept of Aja Wera has long been known to the people of Bali and is considered as a form of "prohibition" to learn, explore or master the knowledge / teachings of Hinduism. That is why Hindus for religious learning affairs, with all the concepts of teaching, or the content of the meaning of tattwa are hardly cared for. In contrast to the affairs of the yad ritual activities, Hindus are so passionate and passionate about carrying out them, even though they are not supported by the knowledge underlying the yadnya ritual. The handle is adagium gugon tuwon bin anak mulo keto, with the principle of carrying out the ritual obligations of the yad in obedience without needing to know what the tattwa means behind it.
I Wayan Butuantara
Published: 14 February 2019
WIDYANATYA, Volume 1, pp 10-20; doi:10.32795/widyanatya.v1i1.267

Abstract:
ABSTRAK Gaya hidup remaja saat ini lebih banyak dipengaruhi oleh gaya hidup modern. Yang tercermin dari prilaku dan aktivitas remaja saat ini seperti tata cara berpakaian, dan bahkan seks di luar nikah. Seks Pra nikah sebagai salah satu akibat dari pergaulan remaja saat ini menjadi sebuah momok yang mengerikan bagi orang tua sebab Seks pranikah tentu saja berkorelasi dengan Kehamilan yang tidak di inginkan dan tindakan criminal seperti aborsi. Remaja sekarang lebih banyak terhanyut pada kehidupan modern. Ingin bebas dalam artian tidak terbatas, seperti perilaku seksual yang cenderung bebas dilakukan tanpa ada ikatan perkawinan yang sah. Faktor terjadinya hamil pranikah di desa Abiansemal Dauh Yeh Cani, Kecamatan Abiansemal, Kabupaten Badung yaitu (1) Faktor Internal (dalam diri), yaitu : psikologis, kurangnya pemahaman pendidikan agama Hindu; (2) Faktor Eksternal (luar diri), yaitu : kurangnya kontrol dan perhatian dari orang tua, lingkungan sosial (masyarakat) dan kemajuan IPTEK, pengaruh buruk lingkungan Berdasarkan permasalahan dalam penelitian ini maka peneliti mengkaji penelitian ini berdasarkan? (1) Mengapakah terjadi hamil pranikah di desa Abiansemal Dauh Yeh Cani, Kecamatan Abiansemal, Kabupaten Badung? (2) Implementasi nilai pendidikan agama Hindu apa saja yang dilakukan dalam mengantisipasi kasus hamil pranikah di desa Abiansemal, Kecamatan Abiansemal, Kabupaten Badung?. penelitian ini bertujuan untuk memberikan pemahaman tentang pendidikan agama Hindu bagi remaja dalam mengantisipasi kasus hamil pranikah pada umumnya sehingga dengan demikian pada gilirannya akan tercapai pemahaman yang lebih jelas dikalangan masyarakat khususnya para remaja mengenai hal itu, sedangkan manfaat lain dari penelitian ini adalah dapat menambah khasanah keilmuan khususnya agama Hindu terhadap masalah-masalah yang erat hubungannya dengan implementasi nilai pendidikan agama Hindu bagi remaja dalam mengantisipasi kasus hamil pranikah agar terhindar dari hal-hal yang tidak diinginkan. ABSTRACT Today's lifestyle is more influenced by modern lifestyles. Which is reflected in the behavior and activities of today's teenagers such as the procedure for dressing, and even extramarital sex. Pre-marital sex as a result of adolescent association is now a terrible scourge for parents because premarital sex certainly correlates with unwanted pregnancies and criminal acts such as abortion. Teenagers are now more absorbed in modern life. Want to be free in an unlimited sense, such as sexual behavior that tends to be free is done without a legitimate marriage bond. Factors in the occurrence of premarital pregnancy in the village of Abiansemal Dauh Yeh Cani, District of Abiansemal, Badung Regency are (1) Internal (internal) factors, namely: psychological, lack of understanding of Hindu religious education; (2) External factors (outside self), namely: lack of control and attention from parents, social environment (community) and the progress of science and technology, bad influence of the environment Based on the problems in this study, the researcher reviews this research based on? (1) Why is there premarital pregnancy in the village of Abiansemal Dauh Yeh Cani, Abiansemal District, Badung Regency? (2) What is the implementation of the value of Hindu religious education in anticipating premarital pregnancy cases in Abiansemal village, Abiansemal District, Badung Regency ?. this study aims to provide understanding of Hinduism education for adolescents in anticipating premarital pregnancy cases in general so that in turn this will result in a clearer understanding among the community, especially teenagers about it, while other benefits of this research are to be able to add scientific knowledge especially Hinduism on problems that are closely related to the implementation of the value of Hindu religious education for adolescents in anticipating premarital pregnancy cases to avoid undesirable things.
Published: 14 February 2019
WIDYANATYA, Volume 1, pp 60-68; doi:10.32795/widyanatya.v1i1.271

Abstract:
ABSTRAK Salah satu penyebab keberadaan kesenian Genggong menjadi tidak populer dalam kehidupan masyarakat masa Global adalah peran pendidikan yang diduga tidak berpihak pada seni Genggong seperti di Desa Batuan. Seni pertunjukan Genggong Batuan di era tahun 1973 sempat menjadi karya seni pertunjukan yang mengundang perhatian khususnya pada pertunjukan seni hiburan. Kekhasan dan keunikan bentuk karya ternyata tidak cukup mampu mempertahankan populeritasnya di panggung hiburan. Kajian tulisan ini berangkat dari metode kualitatif yang dirancang guna memperoleh jawaban secara lebih mendalam. Analisis data dilakukan dengan memperhatikan keabsahan data langsung di lapangan selain dokumentasi tersimpan. Teori yang dipakai membedah persoalan kuasa adalah diambil dari teori kuasa yang menekankan pada ranah kuasa dan juga habitus yang terjadi di masyarakat. Hasil akhir kajian ini adalah temuan yang berhubungan dengan proses pendidikan seni tradisional Genggong nyatanya tidak terkait dengan aktivitas kegiatan yang hiburan. Keterlantaran yang diakibatnya oleh perubahan gaya hidup dan struktur yang kurang berpihak pada seni Genggong Desa Batuan. ABSTRACT One of the causes of the existence of Genggong art became unpopular in the lives of the people of the Global period was the role of education which was allegedly not in favor of Genggong art such as in the Village of Batuan. The performance of Genggong Batuan in the 1973 era had become a performance art work that drew attention especially to entertainment art performances. The peculiarity and uniqueness of the form of work turned out to be not enough to maintain its popularity on the entertainment stage. The study of this paper departs from qualitative methods designed to obtain answers in more depth. Data analysis is done by paying attention to the validity of direct data in the field besides the stored documentation. The theory used to dissect the issue of power is taken from the theory of power which emphasizes the realm of power and also habitus that occurs in society. The final result of this study is that findings related to the process of traditional Genggong art education are in fact not related to entertainment activities. The negligence that was caused by changes in lifestyle and structure was not in favor of Genggong Desa Batuan art.
Page of 1
Articles per Page
by
Show export options
  Select all
Back to Top Top