Refine Search

New Search

Results in Journal PASCA: Jurnal Teologi dan Pendidikan Agama Kristen: 30

(searched for: journal_id:(4398865))
Page of 1
Articles per Page
by
Show export options
  Select all
Halim Wiryadinata
PASCA: Jurnal Teologi dan Pendidikan Agama Kristen, Volume 16, pp 94-102; doi:10.46494/psc.v16i2.91

Abstract:
Many scholars and lay people try to figure out the reasons why the Lord JesusChrist uses the title of the son of man to designate Himself. He uses the title ofthe son of man throughout the Gospels, but there are some incidents only appear outside of the Gospels. This appearance is impressing to find out the reasons why the term occurrences in the Gospel. However, the term also appears in few passages outside the Gospels. Therefore, using the method of critical analysis through the library research as the qualitative methodology in order to seek the development of the argument from beginning up today and to see how the New Testament scholars clear up the message of Jesus in using that title. Few scholars comment that term has significant for the Christological development of the New Testament due to the messianic proclamation as thesaviour of the world. Furthermore, the idea of representative between man andGod apparently introduces the idea of the high priest in the New Testamentwriting for Jesus’ Christology. This idea will bring the consumption for BiblicalTheology when scholars seek this terminology in the New Testament writing.
Alfons Tampenawas
PASCA: Jurnal Teologi dan Pendidikan Agama Kristen, Volume 16, pp 103-120; doi:10.46494/psc.v16i2.96

Abstract:
Artikel ini menggunakan metode studi literatur yang membahas tentangproblematika moralitas seksual postmodern dalam perspektif 1 Korintus 6:12-20. Kebobrokan moralitas seksual dari kehidupan jemaat Korintus yang amoralitas dan sembarang, masih terjadi sampai era postmodern ini, seperti pelacuran, inses (hubungan seksual dengan saudara kandung), dan homoseksual. Artikel ini bertujuan untuk melihat sejauhmana moralitas menjadi acuan atau nilai dalam kehidupan masyarakat di era postmodern. Hermeneutik menjadi suatu metode dalam pengkajian 1 Korintus 6:12-20.Pemilihan teks 1 Korintus 6:12-20, dikarenakan teks tersebut membahassecara prinsip bagaimana moralitas seksual secara alkitabiah. Hasil daripenelitian ini memperlihatkan bahwa moralitas menjadi acuan atau nilaikehidupan bagi masyarkat tak terkecuali orang-orang percaya, maka kajian ini diharapkan menjadi sebuah landasan moralitas yang baru di erapostmodern.
Martina Novalina
PASCA: Jurnal Teologi dan Pendidikan Agama Kristen, Volume 16, pp 183-187; doi:10.46494/psc.v16i2.111

The publisher has not yet granted permission to display this abstract.
T. Haryono, Kezia Yemima
PASCA: Jurnal Teologi dan Pendidikan Agama Kristen, Volume 16, pp 152-163; doi:10.46494/psc.v16i2.80

Abstract:
Mahasiswa Kristen belum mengerti secara penuh soteriologi alkitabiah.Kondisi buruk ini diperparah dengan belum diketahuinya sumbanganpengajaran mata kuliah PAK terhadap pemahaman mahasiswa Kristen diperguruan tinggi tentang soteriologi alkitabiah. Penelitian ini memiliki tujuan mengetahui sumbangan pembelajaran mata kuliah PAK terhadap pemahaman mahasiswa Kristen, tentang soteriologi alkitabiah. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dan metode one group pretest postest. Populasipenelitian ini adalah 41 mahasiswa Kristen angkatan 2019 yang mengambil Mata Kuliah Pendidikan Agama Kristen di Fakultas Teknik, Universitas Sebelas Maret (UNS) program Sarjana (S1). Temuan penelitian: (1) Pengajaran mata kuliah PAK menyumbangkan 13,5% pemahaman mahasiswa Kristententang soteriokogi alkitabiah; (2) Pengajaran mata kuliah PAK sangatdiperngaruhi intensitas dan variasi metode penyampaian serta materi yang disampaikan.
Sensius Amon Karlau
PASCA: Jurnal Teologi dan Pendidikan Agama Kristen, Volume 16, pp 164-182; doi:10.46494/psc.v16i2.107

Abstract:
Pelaksanaan pendidikan yang merujuk pada landasan yuridis yang ditetapkan oleh pemerintah berdampak pada keberlangsungan perguruan tinggi teologi dan agama Kristen dalam komunitariannya karena pertimbangan kajian teologis sesuai learning outcome keilmuannya.Persoalan mendasar untuk diteliti yaitu bagaimana kisah penciptaan pada awal Kitab Suci memberikan perspektif mengenai sistem pendidikan yang dipahami sebagai kajian teologis. Penelitian ini bertujuan sebagai upaya memperkaya pemahaman mengenai sistem pendidikan berdasarkan kajian teologis dan yuridis sebagai acuan edukasi bagi realisasi mutual antarakeduanya. Penulis menggunakan metode analisis narasi dan strukturaldengan pendekatan observasi leksikal terhadap struktur dan narasi teksKejadian 1:1-31 untuk menyumpulkan bahwa kajian teologis dan yuridistidak saling bertentangan melainkan saling melengkapi dalam aktualisasipendidikan oleh manusia dengan sikap mengasihi dengan lev?vk? atau “hati”, n?fšek? atau “jiwa” dan me’?d?k? atau kekuatannya untuk mengasihi Pencipta-Nya.
Elkana Chrisna Wijaya
PASCA: Jurnal Teologi dan Pendidikan Agama Kristen, Volume 16, pp 140-151; doi:10.46494/psc.v16i2.108

Abstract:
Penelitian ini membahas mengenai landasan pemikiran munculnya teorilimitasi Kristus, disertai dengan argumentasi-argumentasi Alkitabiah, yang menolak keberadaan daripada teori tersebut dan mengkritisianya dari berbagai pendapat ahli. Teori limitasi Kristus adalah teori yang menyangkal keberadaan Kristus yang adalah Allah sejati dan manusia sejati. Sekalipun kedua sifat ilahi dan insani Kristus menjadi pokok permasalahan yang krusial dalam teori tersebut, namun skeptisisme terhadap keilahian-Nya lebih menonjol dan problematis. Paper ini dikerjakan dengan pendekatan kualitatif, dengan menggunakan sumber pustaka dari sejumlah literatur. Setelah diuji secarateoritis, penelitian ini menarik kesimpulan bahwa teori limitasi Kristus tidak memiliki landasan teologi dan biblika sehingga harus ditolak.
Grace Emilia
PASCA: Jurnal Teologi dan Pendidikan Agama Kristen, Volume 16, pp 81-93; doi:10.46494/psc.v16i2.112

The publisher has not yet granted permission to display this abstract.
Obet Nego
PASCA: Jurnal Teologi dan Pendidikan Agama Kristen, Volume 16, pp 121-139; doi:10.46494/psc.v16i2.109

The publisher has not yet granted permission to display this abstract.
Christar Arstilo Rumbay
PASCA: Jurnal Teologi dan Pendidikan Agama Kristen, Volume 16, pp 15-23; doi:10.46494/psc.v16i1.70

Abstract:
Theology, specifically speaking, Christology, owns exclusive position and tends react sentimentally toward secular disciplines out of its circle. Therefore, linking Christology and digital era falls to practical matter on how modern devices could be employed for religion advantages. This essay tries to evaluate reconciliation between them and see possibilities on how Christology could contribute to the sustainable smart society. However, divinity and technology are contrast square that offers less of space for dialogue, furthermore, it receives pessimistic tone concerning their health relationship. The expectation is, a socio-systematic sensitive approach of Christology may ground new perspective and results unexpected knowledge for the sustainable of smart society.
Nelly
PASCA: Jurnal Teologi dan Pendidikan Agama Kristen, Volume 16, pp 75-77; doi:10.46494/psc.v16i1.85

Abstract:
Istilah teologi multikultural memang sudah terlanjur digunakan dalam pengertian teologi yang didisain atau diramu (dikominasi) dari semua unsur nilai yang ada dalam setiap agama dan budaya. Karena itu teologi ini juga terlanjur dimengerti sebagai teologi yang pluralis, karena perpaduannya dari semua unsur nilai. Selain itu, juga sudah terlanjur bercorak kontekstual, karena didisain hanya untuk memenuhi kebutuhan konteks tertentu saja berdasarkan nilai-nilai konteksnya. Dalam buku ini, penulis menggarisbawahi bahwa teologi multikultural adalah: (1) bukan sebagai teologi pluralis; (2) bukan sebagai teologi kontekstual; (3) bukan sebagai teologi yang inklusif; (4) bukan sebagai teologi yang eksklusif.
Mariani Harmadi, Agung Jatmiko
PASCA: Jurnal Teologi dan Pendidikan Agama Kristen, Volume 16, pp 62-74; doi:10.46494/psc.v16i1.72

Abstract:
Potret pendidikan di Indonesia pada era revolusi industry 4.0 menuntut reformasi demi mengantar generasi milenial yang merupakan bonus demografi memasuki Indonesia Emas pada 2045 sehingga mereka menjadi anak bangsa yang siap bersaing di era globalisasi sekaligus sebagai manusia merdeka yang siap berkolaborasi untuk kebaikan bersama. Peserta didik sebagai generasi milenial tumbuh di lingkungan dengan tingkat kecanggihan sistem teknologi informasi yang massive sehingga menjadi tantangan bagi pendidik yang sebagian besar masih migrant-digital, sehingga pendidik perlu mengembangkan kompetensi dan profesionalitasnya dengan meningkatkan kemampuan dalam bidang teknologi komputerisasi demi efektivitas pembelajaran bagi peserta didik yang merupakan native-digital. Kajian model teologi praktis terhadap Pendidikan Agama Kristen penting mendasari pertimbangan dalam pemilihan strategi pembelajaran yang efektif dan relevan bagi peserta didik yang merupakan objek sekaligus subjek pendidikan baik di lingkungan lembaga pendidikan formal (sekolah), informal (keluarga) maupun nonformal (lembaga agama) sebagai pembekalan spiritualitas dan iman.
Bakhoh Jatmiko
PASCA: Jurnal Teologi dan Pendidikan Agama Kristen, Volume 16, pp 40-49; doi:10.46494/psc.v16i1.81

Abstract:
Alkitab memuat ribuan nama diri di dalamnya. Setiap nama yang dipresentasikan di dalam Alkitab hampir selalu melekat dengan pesan dan makna yang ada di baliknya. Kajian onomastika biblikal adalah penelitian linguistik dengan obyek nama-nama di dalam Alkitab. Metode yang digunakan di dalam penelitian ini adalah pendekatan linguistik historis komparatif terhadap nama-nama di dalam teks Perjanjian Baru. Kajian di dalam artikel ini menemukan berbagai pendekatan yang dilakukan penulis asli Perjanjian Baru dalam meredaksi nama-nama pribadi yang di dalamnya, yaitu : transliterasi, translasi, absorpsi – helenisasi, pemberian julukan atau kognomen, ekuivalensi dan penggunaan nama panggilan atau hipokoristik. Temuan di dalam artikel ini berguna sebagai referensi di dalam berbagai diskursus yang berkaitan dengan nama diri di dalam Alkitab khususnya bagi kelompok Sacred Name Movement dan berbagai variannya.
Otieli Harefa
PASCA: Jurnal Teologi dan Pendidikan Agama Kristen, Volume 16, pp 1-14; doi:10.46494/psc.v16i1.78

Abstract:
Tulisan ini merupakan analisis teologis terhadap baptisan air dan hubungan keterkaitanya dengan keselamatan. Sebagaimana kita saksikan bahwa semua pendeta atau hamba Tuhan mengajarkan dan mengharuskan setiap warga jemaat atau orang yang masuk dalam iman Kristen untuk mereka menyerahkan dirinya dalam baptisan air, dimana keharusan ini sering tidak disertai dengan penjelasan yang sesuai mengapa harus dilaksanakan jika tidak ada hubunganya dengan keselamatan, sehingga tidak sedikit mereka yang dibaptis tanpa memahami apa hubungan baptisan airnya dengan keselamatan yang ia peroleh. Adapun metode yang penulis gunakan dalam penelitian ini adalah menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif, dimana data data yang diperoleh dalam bentuk penjelasan konsep atau teks dan bukan angka. Lewat analisa berbagai teks Perjanjian Baru yang berkaitan tentang baptisan air, maka akhirnya penulis menyimpulkan bahwa baptisan air tidak mengakibatkan keselamatan secarang langsung, tetapi secara teologis dan makna spiritualnya baptisan air memiliki implikasi teologis terhadap keselamatan sebab baptisan air menuntun seseorang pada penerimaan janji Allah, kesatuan dengan Kristus dan perpalingan yang sungguh-sungguh kepada Kristus, dimana pada hakekatnya aspek ini merupakan kenyataan keselamatan seorang yang percaya atau beriman.
Febriaman Lalaziduhu Harefa
PASCA: Jurnal Teologi dan Pendidikan Agama Kristen, Volume 16, pp 50-61; doi:10.46494/psc.v16i1.75

Abstract:
The Indonesian nation is a nation that has differences in religion, ethnicity and race, which is exposed from Sabang to Merauke. Indonesia is also known as a maritime country because most of its territory is ocean and has thousands of islands, with various geographical conditions in it. It is this superiority that makes the Indonesian nation a great and authoritative nation and respected by the international community. This fact also makes the Indonesian nation known as a muticultural nation. Therefore the aim of this study is to find an appropriate evangelistic model to be applied in the context of a multicultural Indonesian nation. So that the Gospel of the Kingdom of God can be preached efficiently without causing conflicts between Evangelists and UPG (Unreached People Groups). So in this study used a qualitative method with a descriptive-theological approach. The results found three models of evangelism in the context of the Indonesian nation, namely the model of building family relationships with UPG (Unreached People Groups), the service model fighting for the values ??of equality-justice and freedom, and the service model of gospel dialogue-proclamation
Rubyantara Jalu Permana, Sonny Eli Zaluchu
PASCA: Jurnal Teologi dan Pendidikan Agama Kristen, Volume 16, pp 24-32; doi:10.46494/psc.v16i1.71

Abstract:
The literal differences found in the text of Exodus 34 verses 1 and 28 can trigger accusations of Bible inconsistency. In fact, in the Christian view, the Bible is a book that cannot be wrong or inner. Evangelical Christian beliefs assert that the Bible contains God's word and God's word itself. If there are differences and inconsistencies in the Bible, is that an indicator to deduce the low credibility of truth in the Christian scriptures? This study aims to answer that question through a hermeneutic and theological analysis of the differences in texts in Exodus 34 or 1 and verse 28, about who actually wrote the two new tablets. God as referred to verse 1 or Moses as read in verse 28. In addition to conducting text analysis, the author also uses the source approach and theological concepts. As a result, verse 28 actually legitimizes verse 1 that God himself wrote the law. This perspective also confirms that the search for the meaning of texts in context does not merely involve a grammatical approach.
Yonatan Arifianto
PASCA: Jurnal Teologi dan Pendidikan Agama Kristen, Volume 16, pp 33-39; doi:10.46494/psc.v16i1.73

Abstract:
The Jews and Samaria involved in claiming one another's descendants of Abraham so that the dispute from the background of multicultural interests had an impact on the harmony of the two nations. During the intertestamental situation the upheaval still occurred. Historical studies of the feud that occurred during the intertestamental period also brought the message of harmony to trigger all the descendants of Jews and Samaritans to continue to be in hatred. That is what happened in Indonesia, there were many tribal, religious and customs sentiments which were contested so that the harmony of the plural society was tarnished. But learning from Jesus that brought change changed paradigms and teachings to love one another and live in harmony.
Debora Nugrahenny Christimoty
PASCA: Jurnal Teologi dan Pendidikan Agama Kristen, Volume 15, pp 1-7; doi:10.46494/psc.v15i1.62

Abstract:
Orang-orang Kristen percaya bahwa ibadah kepada Allah adalah penting dan perlu bagi kehidupan bergereja. Namun Dalam kenyataannya ibadah seringkali dilaksanakan secara kurang serius, baik secara sadar ataupun tidak. Nilai dari ibadah Kristen yang telah diakui sangat penting, pada saat ini telah mengalami penurunan. Hal tersebut terlihat dari ketidakseriusan dalam perencanaan penyelenggaraan ibadah, misalnya tidak ada latihan sebelumnya, pelayan ibadah tidak serius mempersiapkan diri, tata ibadah tidak disiapkan sesuai tema. Kemungkinan besar hal ini terjadi karena jemaat atau pemimpin gereja tidak memahami tentang teologi ibadah dan kualitas penyelenggaraan ibadah. Teologi ibadah Kristen adalah refleksi sistematis dari ajaran Alkitab mengenai ibadah, tentang berbagai macam bentuk ibadah, motivasi dan tujuan beribadah. Sedangkan kualitas penyelenggaraan ibadah dapat dinilai dari perencanaan ibadah, persiapan ibadah, relevansi ibadah, serta berbagai aspek yang berkaitan dengan ibadah. Setiap pemimpin ibadah Kristen perlu memahami apa yang diajarkan oleh Alkitab tentang ibadah sehingga dapat menyelenggarakan ibadah yang berkualitas. Tujuan penelitian ini adalah untuk memberi gambaran tentang teologi ibadah dan kualitas penyelenggaraan ibadah. Penelitian ini adalah penelitian kualitatif menggunakan metode penelitian kepustakaan.
Eko Wahyu Suryaningsih
PASCA: Jurnal Teologi dan Pendidikan Agama Kristen, Volume 15, pp 16-22; doi:10.46494/psc.v15i1.64

Abstract:
Doktrin Allah Tritunggal merupakan doktrin dalam ajaran Kristen yang seringkali menjadi bahan polemik baik di dalam lingkungan Kristen maupun dari luar lingkungan Kristen, karena seringkali dianggap sebagai sesuatu yang tidak masuk akal. Berhubung dengan permasalahan di atas, maka penulis akan berusaha untuk memberikan pengajaran doktrin Allah Tritunggal berdasarkan Firman Allah sehingga dapat memberikan sumbangsih bagi pengajaran umat Kristen secara kusus dan para pembaca secara umum. Allah yang dapat kita kenal adalah sebatas apa yang dinyatakan dalam Alkitab. Allah yang menyatakan dalam Alkitab adalah Allah Tritunggal. Inilah yang harus dipahami oleh umat Kristiani. Ada hal-hal yang sepertinya kontradiksi tetapi sebenarnya bukan kontradiksi melainkan suatu misteri, yaitu misteri Allah yang tidak mungkin dipahami secara sempurna dengan kemampuan manusia yang terbatas. Bagian kita adalah memahami apa yang dinyatakan-Nya dalam Alkitab.
Mardiharto Mardiharto
PASCA: Jurnal Teologi dan Pendidikan Agama Kristen, Volume 15, pp 23-27; doi:10.46494/psc.v15i1.65

Abstract:
Anak-anak sangat perlu sekali mendapatkan pendidikan kerohanian sejak dini, hal ini yang sering kali terlewatkan oleh banyak orang tua untuk memberikannya. Karena banyak orang tua hanya berpikir untuk memberikan pendidikan kepada anak-anak di sekolah formal saja. Pendidikan kerohanian sangat perlu diberikan kepada anak-anak mulai sejak dini, dan dalam memberikan pendidikan tersebut ada banyak pola yang dapat digunakan dalam mengasuhnya. Dari sekian banyak itu diantaranya adalah dengan cara memberikan pengajaran yang terus menerus untuk diulang-ulang sampai anak dapat memahaminya. Dan juga dengan pola asuh pendisiplinan pada anak, karena tanpa pola pendisiplinan anak bisa menganggap pendidikan kerohanian tida perlu. Untuk itulah bahwa sangat penting sekali ada pola asuh yang diberikan kepada anak-anak dalam memberikan pendidikan kerohanian.
Jacky Latupeirissa
PASCA: Jurnal Teologi dan Pendidikan Agama Kristen, Volume 15, pp 8-15; doi:10.46494/psc.v15i1.63

Abstract:
Bisnis adalah sebuah dunia tersendiri yang terlepas dari nilai-nilai dan norma-norma kecuali peraturan yang berlaku saat itu, di tempat itu. Apa yang dilarang oleh peraturan, boleh jadi menjadi legal di waktu mendatang sehingga etika tidak lebih dari seperangkat peraturan yang dapat berubah tergantung situasi. Pertanyaannya adalah apa yang terjadi dengan etika bisnis sebagai standar untuk pengambilan keputusan etis dan bagaimana peranan agama sebagai keyakinan yang mengajarkan takut akan Tuhan? Berbisnis dimaksudkan untuk mengasihi sesama manusia.Artinya, mengasihi pekerjanya, mengasihi rekan kerjanya, dan mengasihi konsumen atau pelanggannya. Bagian Alkitab yang menjadi dasar interpretasi teologis dari bisnis Kristen, yaitu: Kegiatan Bisnis untuk Memenuhi Mandat Ilahi yaitu Menguasai dan Melestarikan Ciptaan (Kejadian 1:26-28; 2:5,15); , Kegiatan Bisnis sebagai Aktivitas Kerja dan Pelayanan (Kejadian 3:17-19; 2 Tesalonika 3:10); , Kegiatan Bisnis Digunakan untuk Memuliakan Tuhan (Mazmur 150; Roma 11:36); , Menjadi Garam dan Terang di Pilar Bisnis dan Ekonomi (Matius 5:13-14), Usaha Atau Bisnis Adalah Suatu Alat Bukan Tujuan.
Djoko Sukono
PASCA: Jurnal Teologi dan Pendidikan Agama Kristen, Volume 15, pp 28-34; doi:10.46494/psc.v15i1.66

Abstract:
Para teolog juga mempunyai pandangan yang berbeda mengenai Alkitab. Pandangan Liberal atau Neo-Liberal, tokohnya seperti Rudolf Bultmann. Pandangan ini berpegang pada konsep bahwa untuk mengerti secara tepat kebenaran Alkitab, sesorang harus melakukan demitologisasi Perjanjian Baru mengenai Kristus. Kristus dapat dilihat sebagi tokoh mitos daripada sebagai tokoh Historis dalam Alkitab. Bagi Bultmann, yang penting adalah berita tentang Kristus, tetapi bukan kesejarahan-Nya. Allah memipin para penulis sehingga mereka menuliskan pesan-Nya dalam Alkitab.
Sari Saptorini
PASCA: Jurnal Teologi dan Pendidikan Agama Kristen, Volume 15, pp 35-43; doi:10.46494/psc.v15i1.67

Abstract:
The Lord Jesus set an example as well as a command in the ministry of making disciples. He began His ministry in this world by calling out the disciples who would be with Him and He taught specifically so that finally they could carry out the command to make disciples of all nations. Through a study of the Gospels of Matthew, Mark and Luke regarding the calling of disciples, it was found that the Lord Jesus called people intentionally and offered invitations to become His disciples. Calling to be a disciple of Jesus means a call to repentance and forgiveness of sins and to follow Him according to His purpose. He did not call people aimlessly. Therefore, in calling His disciples, the Lord Jesus also gave a vision of calling. He communicated the vision clearly so that it could be fully understood by His disciples. That vision was in line with the Great Commission given by His disciples to His ascension to heaven. As such, calling the disciples intentionally is intended to be carried out continuously by anyone who welcomes the call to be a disciple of Christ.
Dixon Nixon Siathen
PASCA: Jurnal Teologi dan Pendidikan Agama Kristen, Volume 15, pp 44-48; doi:10.46494/psc.v15i1.69

The publisher has not yet granted permission to display this abstract.
Desti Samarenna
PASCA: Jurnal Teologi dan Pendidikan Agama Kristen, Volume 15, pp 15-21; doi:10.46494/psc.v15i2.53

Abstract:
Tulisan ini, menguraikan tentang tinjauan teologi dari Mazmur 46 dan menjelaskan tentang kondisi Israel pada zamannya dan jawaban Allah secara teologi dan secara praktis. Mazmur ini adalah suatu penghiburan, namun penghiburan yang realistis. Hal tersebut dikarenakan Mazmur ini menceritakan tentang bagaimana keadaan dunia beritikad menghancurkan. Mazmur ini memiliki suatu nada yang optimis namun realisits. Mazmur ini menggambarkan dua prinsip yang saling bertentangan namun satu kesatuan (paradoks), yaitu Allah sebagai tempat perlindungan.
Mardiharto Mardiharto
PASCA: Jurnal Teologi dan Pendidikan Agama Kristen, Volume 15, pp 28-32; doi:10.46494/psc.v15i2.56

Abstract:
Untuk membangun sebuah negara yang kuat maka masyarakatnya harus menjadi masyarakat yang terdidik, untuk itulah pemerintah melaksanakan salah satu program utamanya yaitu pembangunan sumber daya manusia. Sumer daya manusia perlu dibangun supaya masyarakatnya atau generasi penerus bangsa memiliki kemampuan secara kognitif, afektif dan psikomotor. Pendidikan Agama Kristen adalah salah satu bidang keilmuan yang diajarkan di sekoah-sekolah dan di perguran tinggi dengan dasar dari Firman Tuhan. Pendidikan Agama Kristen sebagai salah satu disiplin ilmu juga turut memberikan sumbangsih bagi negara dalam pembangunan sumber daya manusia.
Dwi Ariefin
PASCA: Jurnal Teologi dan Pendidikan Agama Kristen, Volume 15, pp 33-38; doi:10.46494/psc.v15i2.57

Abstract:
Kemajemukan adalah dasar dari Bhinneka Tunggal Ika yang harus dibina oleh berbagai pihak agar bangsa Indonesia tetap bersatu dan maju. Warga gereja yang juga majemuk, berada di tengah bangsa Indonesia. Gereja perlu mengatur diri pada posisi, peran dan peranan yang mendukung, dan berpengaruh baik dalam bagi bangsa. Bagaimana membina gereja dengan kemajemukan warganya agar turut serta membina kemajemukan bangsa? Penelitian ini berupaya menemukan gagasan pembinaan terhadap warga gereja yang majemuk untuk turut berperanan dalam membina kemajemukan bangsa Indonesia. Penelitian ini menggunakan studi pustaka dan pengamatan. Hasil penelitian menenemukan bahwa menghargai atau mengakui kemajemukan menjadi kuncinya. Penghargaan atas kemajemukan perlu dijunjung tinggi. Perbedaan (budaya) harus dipandang sebagai anugerah Allah, untuk melihat keterbatasan suatu budaya dan memperluas pemahaman dan kompleksitas ciptaan-TUHAN. Pembinaan secara optimal terhadap jemaat yang majemuk menjadi langkah sederhana dalam gereja lokal yang kecil, agar turut berperanan dalam pembinaan kemajemukan di tengah bangsa Indonesia yang besar.
Rahel Cynthia Hutagalung
PASCA: Jurnal Teologi dan Pendidikan Agama Kristen, Volume 15, pp 22-27; doi:10.46494/psc.v15i2.55

Abstract:
Kitab Hosea merupakan kitab dalam perjanjian lama yang ditulis oleh Hosea. Hosea adalah seorang nabi yang menjadi saksi sebuah kemakmuran di masa Yerobeam II (793 – 753 SM). Hal yang menarik dalam kitab Hosea ini adalah Hosea tidak hanya menyampaikan pesan Allah dengan nubuatan saja, tetapi ia melakukan sebuah tindakan simbolik yang bertujuan melengkapi pesan – pesan nubuatannya. Pernikahannya dengan wanita sundal bernama Gomer menjadi simbolik hubungan bangsa Israel saat itu dengan Allah.
Priyantoro Widodo, Karnawati Karnawati
PASCA: Jurnal Teologi dan Pendidikan Agama Kristen, Volume 15, pp 9-14; doi:10.46494/psc.v15i2.61

Djoko Sukono
PASCA: Jurnal Teologi dan Pendidikan Agama Kristen, Volume 15, pp 39-44; doi:10.46494/psc.v15i2.59

Abstract:
Pemahaman tentang manusia baru yang memiliki anugerah keselamatan dan pengampunan dosa sering disalah artikan sehingga muncul pandangan-pandangan yang keliru. Maraknya pegajaran Radikal Grace atau Hyper Grace juga mempengaruhi pemahaman yang benar tentang manusia baru yang memiliki anugerah. Sehingga muncul konfrontasi diberbagai kalangan. Bagaimanakah manusia baru itu menurut Alkitab masih relevankah diera Mileniaal. Metode penelitian dengan kajian kualitatif. Konsep manusia baru dalam Perjanjian baru yaitu manusia yang telah percaya akan Karya penebusan Kristus atau disebut dengan lahir baru. Lahir baru bukan sekedar saya cinta Yesus, kekristenan bukan sekedar identitas diri, Kekristenan bukan sekedar kita percaya Tuhan, tetapi bagaimana menjalani hidup sebagai orang Kristen. Manusia dalam Perjanjian Baru merupakan manusia yang telah ditebus, ketika percaya kepada Yesus maka Roh Allah ada dalam orang percaya dan Roh itu yang akan menolong agar manusia baik tubuh, jiwa dan rohani semakin diperbaharui. Sehinga kapan dan dimanapun manusia baru itu sangat penting.
Robinson Rimun
PASCA: Jurnal Teologi dan Pendidikan Agama Kristen, Volume 15, pp 1-8; doi:10.46494/psc.v15i2.60

Abstract:
Paul's historical aspects relating to his background in life and education since childhood have had a great impact on Paul's theological mindset and concepts before and after his conversion. Pauline scholars gave much attention to early education in Tarsus and in Jerusalem which later made Saul a respected rabbi Pharisee. The Apostle Paul, formerly known as Saul of Tarsus, grew up in a Hellenistic environment and used Greek, which was commonly used in the Roman empire. His Hellenistic and Jewish background of life and education became the main emphasis in this article. Saul was radically changed by God after his conversion on the road to Damascus (Acts 9:4); however, this article focuses on Paul’s childhood and education in detail in order to understand the Hellenistic and Judaic influence in his theology
Page of 1
Articles per Page
by
Show export options
  Select all
Back to Top Top