Refine Search

New Search

Results in Journal KELUWIH: Jurnal Sosial dan Humaniora: 19

(searched for: journal_id:(4397100))
Page of 1
Articles per Page
by
Show export options
  Select all
Rafinita Aditia
KELUWIH: Jurnal Sosial dan Humaniora, Volume 2, pp 8-14; https://doi.org/10.24123/soshum.v2i1.4034

Abstract:
—This study aims to find out about the phubbing phenomenon as a degradation of social relations as a result of social media. The term phubbing is an abbreviation of the words phone and snubbing, which are used to show the attitude of hurting the other person by using an excessive smartphone. This type of research used a qualitative approach with descriptive methods. The data needed in this study are qualitative data as primary data in the form of images, words and not numbers in a discourse regarding the phubbing phenomenon as a degradation of social relations as a result of social media. Based on the results of the research, it is found that phubbing behavior can threaten the disruption of ongoing communication relationships, causing social degradation. The social degradation that occurs is due to the impact of phubbing perpetrators' indifference to their environment because they are too busy using smartphones, especially in the use of social media. Therefore it is necessary to limit and control the use of social media properly so that the phubbing phenomenon can be resolved immediately and the degradation of social relations does not occur. Keywords: phubbing, degradation, social relation, social media Abstrak—Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tentang tentang fenomena phubbing sebagai suatu degradasi relasi sosial sebagai dampak dari media sosial. Jenis penelitian yang digunakan menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode deskriptif. Data yang dibutuhkan dalam penelitian ini merupakan data kualitatif sebagai data primer berupa gambar, kata-kata dan bukan angka-angka dalam sebuah wacana mengenai fenomena phubbing sebagai suatu degradasi relasi sosial sebagai dampak dari media sosial. Berdasarkan hasil penelitian diperoleh hasil bahwa perilaku phubbing mampu mengancam terganggunya hubungan komunikasi yang sedang berlangsung, sehingga menyebabkan degradasi sosial. Degradasi sosial yang terjadi ialah karena dampak dari keacuhan pelaku phubbing terhadap lingkungannya karena terlalu sibuk menggunakan smartphone, terlebih dalam penggunaan media sosial. Oleh karena itu penggunaan media sosial perlu dibatasi dan dikontrol dengan baik agar fenomena phubbing dapat segera teratasi dan degradasi relasi sosial tidak terjadi. Kata kunci : phubbing, degradasi, hubungan sosial, sosial media
Astrid Pratidina Susilo
KELUWIH: Jurnal Sosial dan Humaniora, Volume 2, pp 39-43; https://doi.org/10.24123/soshum.v2i1.3971

Abstract:
— Medical communication and professionalism are central issues in clinical practice. Both are highly influenced by context such as cultural and social aspects. In medical education, a lot of studies about communication and professionalism have been conducted in Western setting and may not be fully applicable for other cultural or social context. This article aims to introduce several evidence from non-Western context in the area of medical communication and professionalism and discuss their applicability. We will use the study from Hofstede et al. about cultural domains as a theoretical basis. We will also present different studies on communication and professionalism conducted in Asia, such as from Indonesia and Japan, highlight some differences, and discuss how they may influence the medical communication and professionalism. We will provide practical examples on how to use these body of evidence in communication skills training and other area of medical education. Finally, we will discuss some ideas to strengthen future research initiatives from our context. Keyword: Asia, communication, culture, education, professionalism Abstrak— Komunikasi medis dan profesionalisme adalah masalah sentral dalam praktik klinis. Keduanya sangat dipengaruhi oleh konteks seperti aspek budaya dan sosial. Dalam pendidikan kedokteran, banyak penelitian tentang komunikasi dan profesionalisme telah dilakukan di lingkungan Barat dan mungkin tidak sepenuhnya dapat diterapkan untuk konteks budaya atau sosial lainnya. Artikel ini bertujuan untuk memperkenalkan beberapa bukti dari konteks non-Barat di bidang komunikasi medis dan profesionalisme serta membahas penerapannya. Kami akan menggunakan karya Hofstede et al tentang ranah budaya sebagai dasar teoritis. Kami juga akan menyajikan berbagai studi tentang komunikasi dan profesionalisme yang dilakukan di Asia, seperti dari Indonesia dan Jepang, menyoroti beberapa perbedaan, dan membahas bagaimana pengaruhnya atas komunikasi medis dan profesionalisme. Kami akan memberikan contoh praktis tentang bagaimana menggunakan bukti-bukti ini dalam pelatihan keterampilan komunikasi dan bidang pendidikan kedokteran lainnya. Terakhir, kami akan membahas beberapa ide untuk memperkuat inisiatif penelitian di masa depan dari konteks Indonesia. Kata kunci: Asia, komunikasi, budaya, pendidikan, profesionalisme
Herdiana Candrika Maharani, Andrian Pramadi
KELUWIH: Jurnal Sosial dan Humaniora, Volume 2, pp 15-22; https://doi.org/10.24123/soshum.v2i1.3960

Abstract:
— Economic problems are certainly inseparable from various problems in life. The experience of a community in Surabaya, named RUMAH SINGGAH is a real example of the link between economic problems and health problems. The economic problems faced by members of the RUMAH SINGGAH community are recognized by mothers as a matter of daily thought and anxiety. Thoughts and anxieties related to economic problems experienced by samaritans caused most of them to have difficulty sleeping, poor sleep, and irregular diet. This has a negative impact on health for each individual. Relatedly, the counseling given to members of the RUMAH SINGGAH community is stress management through increased knowledge about stress protective factors, namely social support and the addition of muscle relaxation skills. The results showed that all participants experienced increased levels of relaxation after relaxing the muscles. However, there is no pattern of change in stress levels experienced by RUMAH SINGGAH members from before and after muscle relaxation. Keywords: anxiety, stress, stress management, relaxation, community Abstrak— Permasalahan terkait ekonomi tentu tidak dapat dipisahkan dari berbagai persoalan di kehidupan. Pengalaman sebuah komunitas di Surabaya, bernama Rumah Singgah merupakan contoh nyata tentang adanya kaitan antara masalah ekonomi dan masalah kesehatan. Masalah ekonomi yang dihadapi oleh ibu-ibu dalam komunitas Rumah Singgah diakui oleh para ibu sebagai hal yang selalu menjadi pikiran dan kecemasan setiap harinya. Pikiran dan kecemasan terkait masalah ekonomi yang dialami oleh para ibu Rumah Singgah menyebabkan kebanyakan dari mereka mengalami kesulitan tidur, tidur tidak nyenyak, dan pola makan yang tidak teratur. Hal ini memberi dampak negatif pada kesehatan bagi masing-masing individu. Terkait itu, maka penyuluhan yang diberikan pada para ibu komunitas Rumah Singgah adalah manajemen stres melalui peningkatan pengetahuan tentang faktor protektif stres, yaitu dukungan sosial dan penambahan keterampilan melakukan relaksasi otot. Hasil penyuluhan menunjukkan bahwa seluruh peserta mengalami peningkatan tingkat rileks setelah melakukan relaksasi otot. Meski demikian, tidak terdapat pola perubahan dari tingkat stres yang dialami oleh para ibu Rumah Singgah dari sebelum dan sesudah melakukan relaksasi otot. Kata kunci: kecemasan, stres, manajemen stres, relaksasi, komunitas
Nurwidya Kusma Wardhani
KELUWIH: Jurnal Sosial dan Humaniora, Volume 2, pp 34-38; https://doi.org/10.24123/soshum.v2i1.3990

Abstract:
– This paper aims to examine how the implementation of public policies in the form of Large-Scale Social Restrictions in Indonesia due to the corona virus pandemic which has become an epidemic worldwide. The implementation of the PSBB is carried out to prevent the spread of the red zone to other areas as well as restrictions such as learning, work, religion, socio-culture and so on. Social restrictions, of course, must not conflict with legal and human rights provisions that have been adhered to in the community so that there will not be conflicts in the future. The writing method is carried out by means of literacy studies. Based on the results of this study, it can be seen that the determination of the PSBB is the most appropriate policy for the time being if there is a synchronization with law and human rights. Keywords: corona virus, law, human rights Abstrak – Tulisan ini memiliki tujuan untuk mengkaji bagaimana penerapan kebijakan publik berupa Pembatasan Sosial Berskala Besar di Indonesia dikarenakan pandemic virus corona yang menjadi wabah diseluruh dunia. Penerapan PSBB dilakukan untuk mencegah penyebaran dari zona merah terhadap wilayah lainnya serta pembatasan-pembatasan seperti pembelajaran, pekerjaan, keagamaan, sosial budaya dan lain sebagainya. Pembatasan sosial tentunya tidak boleh bertentangan dengan ketentuan hukum dan HAM yang dianut selama ini dimasyarakat sehingga tidak akan memunculkan konflik di kemudian hari. Metode penulisan yang dilakukan dengan cara studi literasi. Berdasarkan hasil penelitian ini maka dapat diketahui bahwa penetapan PSBB merupakan kebijakan yang paling tepat sementara ini apabila terdapat singkronisasi dengan hukum dan HAM. Kata Kunci : virus corona, hukum, hak asasi manusia
Rizky Novian Hartono, Sriwati, Wafia Silvi Dhesinta Rini
KELUWIH: Jurnal Sosial dan Humaniora, Volume 2, pp 23-33; https://doi.org/10.24123/soshum.v2i1.4392

Abstract:
— State-Owned Enterprises that act as an agent of development and business entity for the country are the concrete forms to reach the welfare state goal. Persero, as the example of state-owned enterprises will surely experience advantages and disadvantages due to the dynamic condition of the business world. With the various regulations that regulate state-owned enterprises itself, created a disharmony form of liability to the directors about the business loss. This research aims to identify do the loss of the state-owned enterprises would classified as state financial losses in the perspective of doctrine business judgment rule. This research using statute approach and conceptual approach shows that there is a dualism view about the position of separated-state wealth in the scope of state finances resulting in different interpretations of the meaning of state financial losses by the law enforcers. This dualism view caused a disharmony form of liability that asked to the Directors of Persero when that occur losses because according to the Section 2 and Section 3 Law Number 20 of 2001 jo Law Number 31 of 1999 concerning Eradication of Corruption, the directors would probably asked the liability for the alleged of corruption because causing state financial losses, on the other side according to the Section 97 verse 5 Law number 40 of 2007 concerning Company there is an exception to the directors so they would not be able to be charges. Furthermore, losses that happened in the state-owned enterprises can not only occur as a result of abuse of power but are result of business risks so the directors can be protected by the doctrine of business judgment rule from criminal charge. Keywords: persero state-owned enterprises, state financial losses, business risks, business judgment rule Abstrak—BUMN sebagai pelaku perekonomian nasional yang memiliki peran ganda yakni sebagai agent of development sekaligus sebagai business entity, merupakan salah satu bentuk konkret perpanjangan tangan negara dalam mewujudkan cita-cita bangsa dan negara yakni memajukan kesejahteraan umum. Layaknya sebuah perusahaan, BUMN Persero sebagai salah satu bentuk BUMN pasti akan mengalami keuntungan maupun kerugian akibat dinamisnya dunia bisnis. Menjadi sebuah problematika ketika kerugian yang dialami oleh BUMN Persero tersebut dihadapkan dengan berbagai peraturan perundang-undangan yang berlaku bagi BUMN, baik dalam ranah hukum publik maupun dalam ranah hukum privat. Penelitian ini bertujuan untuk menelaah apakah kerugian yang dialami oleh BUMN dapat diklasifikasikan sebagai kerugian keuangan negara dalam perspektif doktrin business judgment rule. Melalui penelitian yang dilakukan dengan menggunakan metode statute approach dan conceptual approach ditemukan bahwa adanya dualisme pandangan kedudukan kekayaan negara yang dipisahkan dalam lingkup keuangan negara sehingga menimbulkan perbedaan penafsiran makna kerugian keuangan negara oleh aparat penegak hukum. Dualisme pandangan ini berdampak pada ketidakharmonisan bentuk pertanggungjawaban yang dimintakan kepada Direksi BUMN Persero ketika terjadi kerugian pada tubuh BUMN sebab berdasarkan ketentuan Pasal 2 dan/atau Pasal 3 Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001 jo Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi, Direksi BUMN Persero dapat dimintakan pertanggungjawaban secara pidana atas dugaan tindak pidana korupsi karena menyebabkan kerugian keuangan negara namun berdasarkan Pasal 97 ayat (5) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas terdapat pengecualian agar Direksi BUMN tidak dimintakan pertanggungjawaban secara pribadi. Lebih jauh, kerugian pada BUMN tidak hanya dapat terjadi akibat dari adanya penyalahgunaan wewenang melainkan akibat dari adanya risiko bisnis sehingga doktrin business judgment rule dapat diterapkan untuk memberikan perlindungan bagi direksi dari tuntutan pidana.. Kata kunci : badan usaha milik negara, kerugian keuangan negara, risiko bisnis, business judgment rule
Niken Titi Pratitis, Suroso Suroso, Reni Oktaviana Cahyanti, Farra Lailatus Sa’Idah Sa’Idah
KELUWIH: Jurnal Sosial dan Humaniora, Volume 2, pp 1-7; https://doi.org/10.24123/soshum.v2i1.3953

Abstract:
— Student academic procastination is a tendency to procrastinate in completing assignments so that it results in not completing assignments and even hindering his studies in Higher Education One of the causes of internal factors is the lack of strategy and self-regulation or self-regulation, while external factors that are also predicted to cause procastination are social support. This quantitative study was aimed at examining the relationship between self-regulated learning and social support and academic procrastination during the pandemic. Research respondents were 266 students of all majors from various public and private universities whose data were obtained through the google form scale, which was distributed through social media applications. The data analysis technique used is the non-parametric Spearman Brown technique and the parametric Pearson correlation technique. The results of data analysis showed that there was a significant correlation between self-regulated learning and academic procastination (sig.0.029) but there was no significant correlation between social support and academic procastination (sig. 0.903). Keywords: self regulated learning, social support, academic procastination Abstrak— Prokastinasi akademik mahasiswa merupakan kecenderungan perilaku menunda-nunda menyelesaikan tugas hingga berakibat tidak terselesaikannya tugas bahkan terhambat studinya di Perguruan Tinggi. Salah satu faktor internal penyebabnya adalah kurangnya strategi dan pengaturan diri atau regulasi diri (self regulated) sementara faktor eksternal yang juga diprediksi dapat menyebabkan prokastinasi adalah, dukungan sosial. Penelitian kuatitatif iniditujukan untuk menguji hubungan antara self regulated learning dan dukungan sosial dengan prokrastinasi akademik dimasa pandemi. Responden penelitian adalah 266 orang mahasiswa semua jurusan dari berbagai universitas negeri maupun swasta yang datanya diperoleh melalui skala google form, yang disebarkan melalui aplikasi media sosial. Teknik analisis data yang digunakan yaitu teknik non parametric spearman brown dan teknik parametric pearson correlation. Hasil analisis data menunjukkan bahwa terdapat korelasi yang signifikan antara self regulated learning dengan prokastinasi akademik (p= 0,029) tetapi tidak ada korelasi yang signifikan antara dukungan sosial dengan prokastinasi akademik (p= 0,903). Kata kunci : self regulated learning, dukungan sosial, prokastinasi akademik
Ni Putu Adelia Kesumaningsari
KELUWIH: Jurnal Sosial dan Humaniora, Volume 1, pp 108-121; https://doi.org/10.24123/soshum.v1i2.3100

Abstract:
—The present study examined Empathizing-Systemizing Theory (E-S Theory) in Indonesian Children. E-S Theory has known as a theory that is attempted to explain the cluster of both the social and non-social features in autism spectrum conditions. Children’s version of the Empathy Quotient (EQ-C) and the Systemizing Quotient (SQ-C) were administered to 372 Indonesia parents who had typically developed children aged 4-11 years old (boys = 182, girls = 190). The results showed that the girls scored higher that boys on EQ-C . In the case of SQ-C, there were no differences between boys and girls. However, the proportion of cognitive style shows clear individual differences between boys and girls. The proportion of participants with empathizing dominant cognitive sytle was shown higher by girls than boys, which distributed to E and Extreme E brain types, while the proportion of systemizing dominant cognitive styles is higher in boys whom brain types spread across the Type S and Extreme S categories. This study explaining inherited biological factors of autism and underscore the vulnerability among boys to develop autism spectrum condition if compared to girls. Keywords: Empathizing Quotient (EQ), extreme male brain of autism, sex, Systemizing Quotient (SQ) Abstrak—Penelitian ini bertujuan untuk menguji teori Empathizing-Systemizing (E-S Theory) pada konteks anak Indonesia. E-S Theory dikenal sebagai sebuah teori yang digunakan untuk melihat gugus fitur sosial dan non-sosial kondisi spektrum autisme. Subjek penelitian ini adalah 372 orang tua Indonesia dengan anak berusia 4-11 tahun (anak laki-laki = 182, perempuan = 190), M usia = 7 Tahun, SD= 2.423 yang diminta untuk mengisi skala Empathizing Quotient (EQ) dan Systemizing Quotient (SQ). Hasil penelitian menunjukkan bahwa bahwa tingkat empati anak perempuan lebih tinggi daripada tingkat empati anak laki-laki. Dalam hal mensistemasi tidak ditemukan adanya perbedaan kemampuan antara anak laki-laki dan perempuan. Namun, proporsi gaya kognitif menunjukkan adanya perbedaan individual yang signifikan antara anak laki-laki dan perempuan. Gaya kognitif dominan berempati lebih tinggi pada anak perempuan, yang tersebar pada kategori tipe otak E dan Ekstrim E, sedangkan proporsi gaya kognitif mensistemasi lebih tinggi pada anak laki-laki dengan tipe otak yang tersebar pada kategori Tipe S dan Ekstrim S. Hasil penelitian ini memberikan bukti adanya faktor biologis bawaan dari autism ditinjau dari jenis kelamin dan menunjukkan kerentanan bawaan anak laki-laki terhadap kondisi autism jika dibandingkan dengan anak perempuan.Kata kunci: Empathizing Quotient (EQ), extreme male brain of autism, jenis kelamin, Systemizing Quotient (SQ)
Samuel Kharis Harianto, Suyanto Suyanto, Sugeng Hariadi
KELUWIH: Jurnal Sosial dan Humaniora, Volume 1, pp 85-92; https://doi.org/10.24123/soshum.v1i2.3337

Abstract:
—This study aims to analyze Foreign Investment which gives spillover impact on productivity growth of Indonesian manufacturing industry companies in 2007-2013. This study applies the application of quantitative analysis, using the data of the Annual Survey of Large and Medium Enterprises of the Central Statistics Agency of Indonesia (BPS). The data was processed by applying the method of panel data analysis and OLS regression. This research shows that PMA holistically gives a positive impact and gives different impacts to manufacturing industry sub-sector. With different findings, in each sector, different regulations related to PMA in Indonesian manufacturing industry are needed.Keywords: foreign investment, spillover, productivity, manufacturing industry. Abstrak—Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis Penanaman Modal Asing (PMA) yang memberikan dampak spillover pada pertumbuhan produktivitas perusahaan- perusahaan industri manufaktur Indonesia periode 2007-2013. Dalam penelitian ini diterapkan pengaplikasian analisis kuantitatif dengan menggunakan data Survey Tahunan Perusahaan Besar dan Menengah Badan Pusat Statistika Indonesia (BPS). Data diolah dengan menerapkan metode analisis panel data dan regresi OLS. Hasil penelitian dengan menggunakan analisis data panel menunjukkan bahwa PMA memberikan dampak positif secara menyeluruh dan memberikan dampak yang berbeda-beda terhadap subsektor industri manufaktur. Dengan hasil temuan yang berbeda di setiap sektornya, maka diperlukan adanya kebijakan yang berbeda pula terkait peraturan PMA di industri manufaktur Indonesia.Kata kunci: penanaman modal asing, spillover, produktivitas, industri manufaktur
Liviani Kristanti, Wisnu Aryo Dewanto, Suhariwanto Suhariwanto
KELUWIH: Jurnal Sosial dan Humaniora, Volume 1, pp 60-67; https://doi.org/10.24123/soshum.v1i2.3134

Abstract:
—This study discusses the strength of binding orders from the International Court of Justice for countries in dispute. Orders from the International Court of Justice are often violated, because they are considered to have no binding power and no harsh sanctions. The international court has issued an order to stop the execution of the death penalty for Karl LaGrand, a German citizen living in the United States. However, the United States still carried out the execution to Karl LaGrand. This study uses a juridical-normative method which is studied through a statute approach and a conceptual approach to achieve results. The results of the study show that orders from the International Court of Justice have binding power because the order is a decision of the International Court of Justice that must be implemented and obeyed by the disputing country. Keywords: order, bindingforce, internationalcourt of justice Abstrak—Penelitian ini membahas tentang kekuatan mengikat order dari Mahkamah Internasional bagi negara yang bersengketa. Order dari Mahkamah Internasional sering kali di langgar, karena dianggap tidak memiliki kekuatan mengikat dan tidak ada sanksi yang keras. Mahkamah internasioal telah mengeluarkan order untuk menghentikan eksekusi pidana mati bagi Karl LaGrand yang merupakan seorang warga negara Jerman yang tinggal di Amerika Serikat. Namun eksekusi mati tetap dilaksanakan oleh Amerika Serikat kepada Karl LaGrand. Penelitian ini menggunakan metode yuridis-normatif yang dikaji melalui statute approach dan conceptual approach untuk mencapai hasil. Hasil kajian menunjukan bahwa order dari Mahkamah Internasional memiliki kekuatan mengikat karena order merupakan putusan Mahkamah Internasional yang harus dilaksanakan dan dipatuhi oleh negara yang bersengketa. Kata kunci: order, kekuatan mengikat, mahkamah internasional
, Wisnu Aryo Dewanto, Suhariwanto Suhariwanto
KELUWIH: Jurnal Sosial dan Humaniora, Volume 1, pp 54-59; https://doi.org/10.24123/soshum.v1i2.3333

Abstract:
—Diplomatic immunity and privilege which is arranged in the Vienna Convention 1961 is very important in ensuring the enactment of diplomatic functions in doing the mission. The abuse of immunity and privilege owned by the diplomatic representative often happens. Diplomatic representative abuse their rights in the form of mild violation to heavy crime. There have been cases on the abuse of diplomatic immunity in commercial transaction related to the civil jurisdiction immunity of the country the diplomat assigned in. The landlord in the country who rent their property to the diplomatic representative have become the victim in the abuse of diplomatic immunity. There was a diplomatic representative who refused to pay the rent because of diplomatic immunity reason and eventually managed to escape from the obligation to pay for the commercial transaction due to the protection of the immunity and privilege Keywords: abuse, diplomatic immunity, commercial transaction Abstrak—Kekebalan dan keistimewaan diplomatik yang diatur di dalam Konvensi Wina 1961 merupakan hal yang sangat penting untuk menjamin pelaksanaan fungsi diplomat dalam menjalankan misinya. Penyalahgunaan kekebalan dan keistimewaan yang dimiliki perwakilan diplomatik masih sering terjadi. Perwakilan diplomatik menyalahgunakannya dalam bentuk pelanggaran ringan hingga kejahatan yang berat. Dalam perkembangannya, telah terjadi kasus penyalahgunaan kekebalan diplomatik dalam transaksi komersial yang berkaitan dengan kekebalan yurisdiksi sipil negara penerima. Para tuan tanah dari negara penerima yang menyewakan propertinya kepada perwakilan diplomatik menjadi korban dalam penyalahgunaan kekebalan diplomatik. Ada perwakilan diplomatik yang menolak membayar biaya sewa dengan alasan kekebalan diplomatik yang pada akhirnya lolos dari kewajibannya untuk membayar transaksi komersial karena berlindung pada kekebalan dan keistimewaan yang dimilikinya Kata kunci: penyalahgunaan, kekebalan diplomatik, transaksi komersial
Putri Purnamasari, Ananta Yudiarso, Marselius Sampe Tondok
KELUWIH: Jurnal Sosial dan Humaniora, Volume 1, pp 102-107; https://doi.org/10.24123/soshum.v1i2.3106

Abstract:
- The phenomenon of street beggars to be one of the problems in Surabaya city. Life in the city, will bring psychological burden such as dissatisfaction, loss of life spirit, inner problems and problems to others, etc. Consequences received as street beggars can also elicit other psychological problems. This study is a descriptive study that aims to know the picture of well- being and happiness on street beggars in Surabaya. Sampling was done by snowball sampling and obtained the number of samples of 80 subjects. Data were taken using a questionnaire from the adaptation scale of Ryff's Scale of Psychological Well-Being (PWB) and the adaptation scale of Oxford Happiness Questionnaire (OHQ). The results showed that the well-being of street beggars tends to be high as much as 34%, 60% tends to be moderate and 6% tends to be low.. Street beggars have a high well-being because most of them are able to realize the purpose of life according to their standard of living. The joy of street beggars is known amongst them; quite happy (31%), feeling happier or happier (34%), and feeling unhappy (35%).Keywords: well-being, happiness, street beggars. Abstrak - Fenomena pengemis jalanan menjadi salah satu permasalahan di kota Surabaya. Kehidupan di kota memunculkan beban psikologis seperti ketidakpuasan, kehilangan semangat hidup, masalah batin dan masalah terhadap orang lain. Konsekuensi yang diterima sebagai pengemis jalanan juga dapat memunculkan permasalahan psikologis lainnya. Penelitian ini merupakan studi deskriptif yang bertujuan untuk mengetahui gambaran well-being dan happiness pada pengemis jalanan yang ada di Kota Surabaya. Pengambilan sampel penelitian dilakukan dengan snowball sampling dan diperoleh jumlah sampel sebanyak 80 subjek. Data diambil menggunakan kuesioner dari skala adaptasi dari Ryff’s Scale of Psychological Well-Being (PWB) dan skala adaptasi dari Oxford Happiness Questionnaire (OHQ). Hasil penelitian diketahui well-being yang dimiliki pengemis jalanan cenderung tinggi sebanyak 34%, cenderung sedang 60% dan cenderung rendah 6%. Pengemis jalanan memiliki well-being yang tinggi dikarenakan kebanyakan dari mereka mampu merealisasikan tujuan hidup sesuai dengan standar hidup mereka masing- masing. Kebahagiaan pengemis jalanan diketahui diantaranya; cukup bahagia (31%), merasa lebih bahagia atau bahagia (34%), serta merasa tidak bahagia (35%).Kata kunci: kesejahteraan, kebahagiaan, pengemis jalanan
Wibisono Hardjopranoto
KELUWIH: Jurnal Sosial dan Humaniora, Volume 1, pp 68-84; https://doi.org/10.24123/soshum.v1i2.2866

Abstract:
—The ideal investment objective is to build an optimal investment portfolio. An investment portfolio that is able to provide maximum return at a certain level of risk. William Sharpe's (1963) Single Index Model (SIM) is a model with simple application, especially when compared to the Markowitz model (1952), mainly because of the consideration of the number of input variables. A simple SIM explains the relationship between market returns (rm) as an independent variable and returns on securities, ri with variations in the risk as the slope characteristic line, βi. The main limitation of MIS is that the risk in investing is represented only by changes in the index that are representative of the market. Using SIM, this study will describe the optimal portfolio construction by selecting LQ45 stocks on the Indonesia Stock Exchange (IDX) in 2019. The implementation of the SIM resulted in 19 LQ45 stocks selected from 45 stocks as optimal portfolio "members", along with the composition the weighting of the investment value starts from the highest weight to the lowest weight. Because using a single index in measuring risk, the application of SIM is aware of its various weaknesses and must be wise in choosing the index as the market. However, the application of SIM can provide valuable lessons for investment management.Keywords: Portfolio Analysis, Optimal Portfolio, Risk Characteristic Line, Single Index Model Abstrak—Tujuan investasi yang ideal adalah membangun portofolio investasi yang optimal. Portofolio investasi yang mampu memberikan imbal hasil (return) maksimal pada tingkat risiko tertentu. Single Index Model (SIM) William Sharpe (1963) merupakan model yang aplikasinya sederhana, terutama jika dibandingkan dengan model Markowitz (1952), terutama karena pertimbangan jumlah variabel masukannya. SIM secara sederhana menjelaskan hubungan antara imbal hasil pasar (market return, rm) sebagai variable bebas dengan imbal hasil sekuritas, ri dengan variasi perubahan risiko berupa slope characteristic line, Keterbatasan utama SIM adalah karena risiko berinvestasi hanya diwakili satu-satunya oleh perubahan-perubahan indeks tertentu mewakili pasar. Dengan menggunakan SIM, penelitian ini hendak menggambarkan bangunan portofolio optimal dengan memilih saham-saham LQ45 di Bursa Efek Indonesia (BEI) tahun 2019. Penerapan SIM dimaksud menghasilkan 19 saham LQ45 yang terpilih dari 45 saham sebagai “anggota” portofolio optimal, berikut komposisi pembobotan nilai investasinya mulai dari bobot yang tertinggi ke bobot terendah. Karena menggunakan indeks tunggal dalam mengukur risiko, penerapan SIM selain harus menyadari berbagai kelemahannya juga harus benar-benar bijak dalam memilih indeks sebagai pasarnya. Bagaimanapun, penerapan SIM mampu memberikan pelajaran yang sangat berharga bagi manajemen investasi.Kata kunci: Portfolio Analysis, Optimal Portfolio, Risk Characteristic Line, Single Index Model
Reny Firsty Oktasari, Elly Yuliandari
KELUWIH: Jurnal Sosial dan Humaniora, Volume 1, pp 93-101; https://doi.org/10.24123/soshum.v1i2.2965

Abstract:
— Perceptions of the siri marriage is purpose to a form of marriage that is secretly and undocumented, which is involving cognitive and affective aspects. The factors that affect the perception of the siri marriage is the experienced, motivation, individual thinking style also individuals believe about siri marriage itself. Widow in early adulthood is still in the developmental tasks that require them to choose a partner and have a family. So the task of these developments become social expectations. Widow automatically has consequences for the dissolution of biological, sexual and psychological needs which can make individuals may feel anxiety and loneliness. The purpose of this study was to determine the relationship between anxiety and loneliness to the perception of siri marriage to the widow. The number of subjects were 30 widows in the age range 20 to 40 years, both divorced and the spouse died, who working in Surabaya and Sidoarjo, and also have the desire to remarriage. The sampling technique used was snowball sampling. Correlation test results showed no association between anxiety and perception of marriage siri (r = 0569; p = 0108); there is no connection between loneliness and perception of marriage siri (r = 0.279; p = 0.204).Keywords: anxiety, loneliness, perception, siri marriage Abstrak— Persepsi terhadap perkawinan siri merupakan pemaknaan terhadap suatu bentuk perkawinan rahasia yang tidak tercatat dengan melibatkan aspek kognitif dan afektif. Faktor yang mempengaruhi persepsi terhadap perkawinan siri selain perasaan yang dialami, motivasi, pengalaman masa lalu, gaya berpikir individu, juga dipengaruhi oleh believe individu tentang perkawinan siri itu sendiri. Janda pada masa dewasa awal masih dalam tugas perkembangan yang menuntut mereka untuk memilih pasangan dan memiliki keluarga. Sehingga tugas perkembangan tersebut menjadi social expectations. Status janda secara otomatis membawa konsekwensi terputusnya pemenuhan kebutuhan biologis, seksual dan psikologis yang dapat membuat individu baik cerai hidup maupun cerai mati dapat merasakan kecemasan dan kesepian. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui adanya hubungan antara kecemasan dan kesepian dengan persepsi terhadap perkawinan siri pada janda. Jumlah subjek sebanyak 30 orang janda dalam rentang usia 20 hingga 40 tahun, baik cerai hidup maupun cerai mati yang bekerja di Surabaya dan Sidoarjo serta memiliki keinginan untuk melakukan perkawinan kembali pasca perceraian. Tehnik sampling yang digunakan adalah snowball sampling. Hasil uji korelasi menunjukkan tidak ada hubungan antara kecemasan dan persepsi terhadap perkawinan siri (r = 0.569 ; p = 0.108); tidak ada hubungan antara kesepian dan persepsi terhadap perkawinan siri (r = 0.279; p = 0.204).Kata kunci: kecemasan, kesepian, persepsi, perkawinan siri
, Endah Triwijati, Teguh Wijaya Mulya
KELUWIH: Jurnal Sosial dan Humaniora, Volume 1, pp 30-40; https://doi.org/10.24123/soshum.v1i1.2847

Abstract:
— In these past few years, issues regarding homosexuality are growingrapidly. These issues, of course, cannot be taken lightly nor be ignored anymore asthey are slowly but surely surrounding us all. Looking through religion’s shoes—as religion cannot be taken away from Indonesian’s lifestyle that ideally upholdingthe values ofPancasila, many condemning homosexuality, and Christian is one ofmany religions that also refuse and condemn the act of it. In popular Christiandoctrine, it is said that homosexuality is a form of sin and brings sorrow to the heart of Christ. However, is it really the only doctrine about homosexuality in Christian?The answer is no. There is another doctrine which is more accepting and welcominghomosexuals as a part of them, and people barely have their feet submerged in thisone. This doctrine is never really discussed. Therefore, this research exists. Thereare two participants of this research. Both of them are priests and come from twodifferent doctrines and perspectives; accepting and condemning homosexual. Thisresearch is using priest as the participant because of their knowledge are assumedas suffice to gain the title and they are the biggest agent to spread the gospel whichpeople usually listen and look up to. Keywords: homosexuality, christianity, condemning homosexual, accepting homosexual, christian theology Abstrak—Dalam beberapa tahun belakangan ini, isu homoseksual berkembangsangat pesat. Isu ini tentu tidak dapat dihindari lagi. Tidak mungkin untuk masyarakat terus-terusan menutup mata. Melihat dari sisi agama yang tidak dapat lepas dari kehidupan masyarakat Indonesia yang idealnya menjunjung tinggi Pancasila dalam kehidupan sehari-hari, banyak ajaran agama yang menolak homoseksual secara tegas—ajaran agama Kristen salah satunya. Dalam ajaran Kristen yang dominan diyakini umat, perilaku homoseksual adalah sebuah dosa dan benar-benar mendukakan hati Tuhan. Namun, apakah ajaran tersebut adalah satu- satunya ajaran mengenai homoseksual yang ada di dalam Kristen? Tidak. Ada ajaran lain yang mendukung kaum homoseksual dan tidak banyak yang tahu mengenai ajaran tersebut. Maka dari itu, penelitian ini ada untuk mengisi kekosongan ilmu tersebut. Ada dua pendeta yang akan diwawancarai. Dua pendeta tersebut berasal dari dua kubu yang berbeda, yaitu kubu yang menerima dan yang menolak homoseksual. Penelitian ini menggunakan pendeta sebagai narasumber karena dalam suatu praktik keagamaan, pendeta adalah agen terbesar dalam menyebarkan ajaran agama atau teologi. Mereka dijunjung tinggi sebagai seseorang yang memiliki dampak terbesar kepada umat-umat pemeluk agama Kristen. Hal- hal yang dikatakan oleh pemimpin agama sering kali langsung diamini oleh umat. Kata kunci: homoseksual, pendeta, penerimaan homoseksual, penolakan homoseksual, teologi kekristenan
Julian Ferry Hermanto, Putu Anom Mahadwartha
KELUWIH: Jurnal Sosial dan Humaniora, Volume 1, pp 11-20; https://doi.org/10.24123/soshum.v1i1.2704

Abstract:
Penelitian ini menginvestigasi anomaly intraday effect di saham winner dan loser yang terdaftar dalam Bursa Efek Indonesia. Menggunakan frekuensi transaksi harian dan cumulative actual return untuk memilih saham dalam kategori winner dan loser, penelitian ini menemukan bahwa saham yang merupakan saham winner di masa lalu cenderung menjadi saham loser di masa kini. Sebaliknya, saham yang merupakan saham loser di masa lalu cenderung menjadi saham winner di masa kini. Penelitian ini juga menemukan bahwa saham dalam kelompok winner dan loser cenderung menghasilkan abnormal return tertinggi pada 15 menit sebelum penutupan sesi pertama perdagangan sampai penutupan perdagangan sesi pertama dan saham dalam kelompok winner dan loser cenderung menghasilkan abnormal return terendah pada saat 15 menit sebelum penutupan perdagangan sampai penutupan perdagangan.
Mochamad Ardhi Ma’Arif, Wisnu Aryo Dewanto, Muhammad Insan Tarigan
KELUWIH: Jurnal Sosial dan Humaniora, Volume 1, pp 46-53; https://doi.org/10.24123/soshum.v1i1.2851

Abstract:
—This Study discussed the problem whether the secession of Catalonia from Spain is in accordance with the self-determination principle in the International Law. This study used a legal, concept and case approach and concluded as follows: Catalonia was able to separate them selves from the parent nation according to the self-determination principle by making a referendum. This act of making a referendum was a way for the Catalonia society to state their opinion. This condition was in accordance with the self-determination principle in the international law because the right for secession may occur in a certain condition other than the context of decolonization. When a country is retricted by the reigning government in savoring internal self-determination (in obtaining political, economic, social and cultural status), then the country may perform a secession from the parent nation. The requierements of self-determination in the Catalonia and Spain case were political, economic, social and cultural aspects. Afterwards, Catalonia needed full fill the requirements stated in Article 1 of the 1933 Montevideo Convention on the Rights and Duties of States, and they need to get a recognition from another country. Keywords : secession, referendum, self-determination principle, recognation Abstrak—Penelitian berjudul rencana pemisahan Catalonia dari Spanyol di tinjau dari prinsip self-determination, dengan membahas permasalahan apakah pemisahan diri Catalonia dari Spanyol sesuai dengan prinsip self-determination dalam hukum internasional. Penelitian ini menggunakan pendekatan undang-undang, konsep dan kasus, sehingga diperoleh suatu kesimpulan bahwa Catalonia bisa memisahkan diri dari Spanyol sesuai dengan prinsip self-determination dengan melakukan referendum. Referendum adalah suatu cara masyarakat Catalonia untuk menyampaikan pendapat. Hal ini sesuai dengan prinsip self-determination dalam hukum internasional, karena hak untuk memisahkan diri bisa muncul dalam keadaan khusus, selain dalam konteks dekolonisasi. Ketika suatu bangsa dihalangi haknya oleh pemerintah yang berkuasa dalam menikmati internal self-determination (untuk mendapatkan status politik, ekonomi, sosial dan budaya), maka sebagai jalan terakhir yang diperbolehkan dalam hukum internasional adalah upaya melepaskan diri dari negara tersebut. Syarat-syarat self-determination dalam kasus Catalonia dengan Spanyol yang ingin memisahkan diri adalah aspek politik, ekonomi, sosial dan budaya. Setelah itu Catalonia harus sesuai dengan Konvensi Montevideo Tentang Hak dan Tugas Negara Tahun 1933 Pada Pasal 1 yaitu syarat terbentuknya suatu negara, dan terakhir Catalonia harus mendapatkan pengakuan dari sebuah negara. Kata kunci : pemisahan diri, referendum, prinsip self-determination, pengakuan
Inggrid Oktavia, Sujoko Efferin,
KELUWIH: Jurnal Sosial dan Humaniora, Volume 1, pp 1-10; https://doi.org/10.24123/soshum.v1i1.2852

Abstract:
—This research is a basic research that discusses leadership style in family business and innovation. Family business as a phenomenon has been a strong topic of conversation in society since the late 1990s, especially in Indonesia. Family business is one of the factors affecting the current Indonesian economy. Family business is also one of the very big roles in creating employment. The research method used is a qualitative method by interviewing, observing, and analyzing documents to support the validity of the data. Family business is a business that is determined, managed, and regulated by one or more generations of families or family members, where the values, vision, and mission determined by the founder will be strictly guarded. Leadership style and type of company are factors that influence family business. In addition to leadership and innovation styles, how to manage and manage subordinates has an important role in the family business. Keywords : leadership style, innovation, family business Abstrak— Penelitian ini adalah penelitian dasar yang mengeksplorasi gaya kepemimpinan dalam bisnis keluarga dan inovasinya. Bisnis keluarga sebagai sebuah fenomena telah menjadi topik pembicaraan yang kuat di tingkat masyarakat sejak akhir 1990-an, terutama di Indonesia. Bisnis keluarga adalah salah satu faktor yang mempengaruhi perekonomian Indonesia saat ini. Bisnis keluarga juga menjadi salah satu peran yang sangat besar dalam menciptakan lapangan kerja. Metode penelitian yang digunakan adalah metode kualitatif dengan cara wawancara, observasi, dan analisis dokumen untuk mendukung validitas data. Bisnis keluarga adalah bisnis yang dimiliki, dikelola, dan diatur oleh satu atau lebih generasi keluarga atau anggota keluarga, di mana nilai-nilai, visi, dan misi yang ditetapkan oleh pendiri akan dijaga secara ketat. Gaya kepemimpinan dan jenis perusahaan merupakan faktor yang mempengaruhi inovasi bisnis keluarga. Selain gaya kepemimpinan dan inovasi, cara mengendalikan dan mengelola bawahan memiliki peran penting dalam bisnis keluarga. Kata kunci : gaya kepemimpinan, inovasi, bisnis keluarga
, Hartanti Hartanti, Mary Philia Elisabeth
KELUWIH: Jurnal Sosial dan Humaniora, Volume 1, pp 41-45; https://doi.org/10.24123/soshum.v1i1.2849

Abstract:
— The goal of this research was to find out the relation between authoritative parenting and the independence of down syndrome children in doing activity daily living. The participants in this study were 33 parents who had down syndrome children. The sampling technique in this study was conducted by purposive technique. Data collection techniques were carried out by distributing questionnaires for the Parenting Style Dimension Questionnare (PSDQ) and Functional Indpendence Measure for Children (WeeFIM). The results of hypothesis testing using Pearson correlation were found a significantly positive between authoritative parenting and the independence of down syndrome children in performing daily living activities (r = 0.498
, Auliya Delananda, Erna Andajani
KELUWIH: Jurnal Sosial dan Humaniora, Volume 1, pp 21-29; https://doi.org/10.24123/soshum.v1i1.2669

Abstract:
—The service industry sector has great potential for increasing economic growth, in which this sector can contribute to improving national GDP, job creation, and poverty reduction. This study aims to determine and analyze the effect of Logistics Service Quality on Customer Satisfaction and Customer Loyalty at Matahari Department Store. Data processing was done using a quantitative approach and this type of research is causal research. The variables used in this study were logistics service quality, customer satisfaction, and customer loyalty. The data analysis technique used was Multiple Linear Regression using the SPSS 18.0 for window program. This study used a sample of respondents who have shopped online at Matahari Department Store at least once a year with a total sample of 200 respondents. The results of this study indicate the influence of Logistics Service Quality on Customer Satisfaction and Customer Loyalty at Matahari Department Store. Keywords: Logistics service quality, customer satisfaction, customer loyalty Abstrak— Sektor industri jasa memiliki potensi besar untuk meningkatan pertumbuhan ekonomi dan dapat berkontribusi terhadap peningkatan PDB nasional, penciptaan lapangan kerja, dan pengurangan kemiskinan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dan menganalisis pengaruh Logistics Service Quality terhadap Customer Satisfaction dan Customer Loyalty pada Matahari Department Store. Pengolahan data dilakukan dengan menggunakan pendekatan kuantitatif dan jenis penelitian ini adalah penelitian kausal. Variabel yang digunakan dalam penelitian ini yaitu logistics service quality, customer satisfaction, dan customer loyalty. Teknis analisis data yang digunakan adalah Regresi Linear Berganda dengan menggunakan program SPSS 18.0 for window. Penelitian ini menggunakan sampel berupa responden yang pernah berbelanja online di Matahari Department Store minimal 1 kali dalam setahun dengan jumlah sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah 200 responden. Hasil penelitian ini menunjukkan adanya pengaruh Logistics Service Quality terhadap Customer Satisfaction dan Customer Loyalty pada Matahari Department Store. Kata kunci: Logistics service quality, customer satisfaction, customer loyalty
Page of 1
Articles per Page
by
Show export options
  Select all
Back to Top Top