Refine Search

New Search

Results in Journal Voice of Wesley: Jurnal Ilmiah Musik dan Agama: 36

(searched for: journal_id:(4328715))
Page of 1
Articles per Page
by
Show export options
  Select all
Ibelala Gea
Voice of Wesley: Jurnal Ilmiah Musik dan Agama, Volume 3, pp 29-40; doi:10.36972/jvow.v3i2.52

Abstract:
Artikel ini bertujuan mendeskripsikan kepemimpinan manusia dengan kepemimpinan Yesus dan mengapa kepemimpinan Yesus direkomendasikan sebagai teladan pemimpin masa kini. Metode penelitian menggunakan studi literatur dengan menganalisis, membandingkan dan menyimpulkan pendapat dari sebanyak 31 referensi, yaitu 18 jurnal ilmiah, 11 buku, 1 prosiding dan 1 Alkitab LAI. Hasil penelitian menyimpulkan kepemimpinan manusia cenderung mengutamakan kemampuan lahiriah seperti: kompentensi sumber daya manusia, strategi marketing komunikasi, metoda, materi yang dikemas dalam kesalehan, kesantunan yang bersifat drama dengan motif self interest. Kepemimpinan manusia cenderung menjadi sumber masalah di mana para pemimpin kurang mengaklimatisasi diri, bersahabat dengan orang–orang tertentu. Sehingga terbentuk kelompok pro-kontra dalam satu institusi, angkuh, senang dilayani dari pada melayani. Sedangkan kepemimpinan Yesus tidak mengabaikan kemampuan lahiriah, tetapi lebih mengutamakan kepemimpinan dari hati berdasarkan kasih yang tulus ikhlas, tidak membedakan siapapun, musuh dikasihi dan dituntun-Nya kepada kebenaran. Yesus sebagai hamba, melayani dan bukan dilayani, bukan pencitraan. Dia bertindak sebagai gembala, tidak membiarkan seorang pun binasa, hadir di tengah-tengah mereka yang menderita dan termarjinalkan. Seluruh kepemimpinan-Nya dan keputusan-Nya berdasarkan kehendak Allah, tidak mengorbankan siapapun. Kepemimpinan manusia cenderung tidak berintegritas, sedangkan Yesus mengutamakan integritas, hidup dalam kejujuran yang sempurna. Yesus mengajarkan bahwa “Jika ya, hendaklah kamu katakan: ya, jika tidak, hendaklah kamu katakan tidak. Apa yang lebih dari pada itu berasal dari si jahat” (Mat.5:37). Kepemimpinan Yesus relevan sebagai teladan bagi pemimpin masa kini.
Alberth Darwono Sarimin
Voice of Wesley: Jurnal Ilmiah Musik dan Agama, Volume 3, pp 1-14; doi:10.36972/jvow.v3i2.47

Abstract:
The existensi of the church in this world because of mandate mission of Jesus Christ. To know how the church can serve community well, in this paper the Colossians become a focus of research and the reason to choose this letter was the collosians consist of plural community.The purpose of this paper is to look at how religion sociology influences social life and theology can drive social change system. While the research method that was used is library researchSocial structure that is formed in Colossian community provides an opportunity for the growth of false teaching and seeing this social structure strongly built in Colossian Paul raised a theology of fullness of God in Christ and belivers are fulfilled in Christ. In other words that the supremacy of Christ in everything and over everythingThe existence of the church has a role to drive social system and to apply that system Christ should be supremed, supremacy of Christ is above the mission and the church has a strategy to carry out its mission. In other words, to be able to serve community, the church should place Christ over everything and have a strategy in carrying out its mission so that the church which is a sub system in the community able to move a larger system Keywords: Fulllness, fulfilled, supremacy, Christ
Harun Y. Natonis
Voice of Wesley: Jurnal Ilmiah Musik dan Agama, Volume 3, pp 15-27; doi:10.36972/jvow.v3i2.48

Abstract:
Juan dari penelitian ini adalah untuk beberapa hal. Pertama, apa sesungguhnya kepemimpinan transformatif dari perspektif Pendidikan Agama Kristen. Kedua, bagaimana karakteristik kepemimpinan transformatif dalam perspektif Pendidikan Agama Kristen. Ketiga, bagaimana strategi dalam mengimplementasikan kepemimpinan transformatif dalam perspektif Pendidikan Agama Kristen?. Metode dalam penelitian ini adalah kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dalam perspektif Pendidikan Agama Kristen, kepemimpinan transformatif dilihat dalam karakter kepemimpinan Yesus. Kepemimpinan transformatif Yesus menunjukkan bahwa dalam kepemimpinan, seorang pemimpin harus berwibawa. Dengan kewibawaan, maka pemimpin menjalankan kepemimpinan dengan perencanaan dan strategi yang matang. Strategi yang matang menolong pemimpin dan masyarakatnya menyelesaikan masalah. Pemimpin ini memiliki kompetensi mengetahui karakter setiap individu yang dipimpinnya. Pemimpin juga mampu memandang masa depan masyarakatnya dan menghendaki masyarakatnya dapat berkembang secara mandiri. Dan yang paling utama pemimpin ini adalah pemimpin yang mampu menjadi teladan bagi masyarakatnya.
Voice of Wesley: Jurnal Ilmiah Musik dan Agama, Volume 3, pp 41-53; doi:10.36972/jvow.v3i2.46

Abstract:
Banyak paham tentang keselamatan yang berkembang di kalangan kekristenan yang pada umumnya betumpu pada Tuhan Yesus sebagai jalan keselamatan. Namun, paham universalisme adalah menyimpang dari Alkitab dan menyesatkan banyak orang. Karena itu, penulis tergerak untuk menulis Keselamatan Universalisme Versus Soteriologi Kristen Dalam Persfektif Alkitab. Melalui tulisan ini, penulis ingin mengkritisasi paham universalisme berdasarkan Alkitab sehingga dapat menemukan pemahaman yang sejati tentang keselamatan berdasarkan Alkitab. Berdasarkan hasil penelitian didapat bahwa paham universlisme bertentangan dengan Alkitab karena meyakini bahwa pada akhirnya semua manusia akan selamat. Namun berdasarkan Alkitab dikethui bahwa ada manusia yang beroleh selamat dan ada juga yang binasa atau dihukum ; Paham univeraslisme juga meyakini bahwa karena kasih karunia Allah maka semua manusia akan diselamatkan. Namun berdasarkan Alkitab dapat diketahui bahwa kasih Allah akan manusia di dunia ini sehingga telah mangaruniakan Anak-Nya yang tunggal. Begitu Tuhan Yesus mati di atas kayu salib, maka ada titik peralihan – hanya orang yang percaya yang beroleh selamat, sementara yang tidak percaya Tuhan Yesus akan binasa selama-lamanya ; Selain itu, paham universlisme juga meyakini bahwa manusia dapat menyelamatkan dirinya melalui perbuatan baik. Tetapi Alkitab mengajarkan bahwa manusia diselamatkan karena kasih karunia Allah dan karena iman kepad Tuhan Yesus. Perbuatan baik manusia tidak ampu untuik menyelamatkan manusia.
Bone Pandu Wiguna
Voice of Wesley: Jurnal Ilmiah Musik dan Agama, Volume 3, pp 54-64; doi:10.36972/jvow.v3i2.55

Abstract:
Beribadah sering hanya diartikan sebagai kegiatan umat untuk mendapatkan berkat dari Tuhan. Ibadah di gereja akan mengangkat kerohanian mereka dan memberi harapan yang lebih menyenangkan dalam kehidupan mereka.Ibadah yang berasal dari kata abodah, berarti melayani, memberikan sesuatu kepada Tuan (Tuhan) yang sudah lebih dulu bertindak. Jadi ibadah merupakan jawab manusia atas tindakan Allah yang terlebih dulu berfirman, bertindak, dan memberi kepada manusia.Ibadah harus peka terhadap perubahan yang terjadi tentang kenyataan hidup dan perubahan pandangan-pandangan manusia. Ibadah haruslah bersangkut-paut dengan keadaan nyata dalam hidup ini. Ibadah dapat menjadi sumber untuk pembaharuan gereja. Pengalaman beribadah dapat merupakan saat untuk mengkomunikasikan isi dari pengajaran Alkitab kepada kenyataan keseharian kita.Ibadah yang diperkenalkan Wesley mendukung dan merangsang pembaharuan.Ia tidak mencoba untuk mengubah secara besar-besaran ibadah Inggris, namun ia mendukung perubahan-perubahan yang timbul yang mengubah baik bentuk maupun maksud dari ibadah.John Wesley menghargai liturgi dan Ekaristi dalam tradisi gereja Anglikan. Tetapi dia, walaupun pada mulanya agak terpaksa, akhirnya mengakui nilai-nilai praktis kotbah spontan, doa bebas dan nyanyian pujian. Inilah sumbangasih Wesley yang terpenting dalam sejarah keKristenan di Inggris pada abad 18 tentang liturgy gereja.Kotbah spontan dilakukan dikarenakan John tidak punya cukup waktu untuk menuliskan semua kotbahnya, dimana dia harus berkotbah sehari kadang lebih dari satu kali.Kotbahnya bersifat doctrinal, etis, tetapi selalu bersemangat.Hampir semua “Pengajaran atau doktrin Wesleyan” itu terdapat dalam kotbah-kotbahnya.Doa bebas dilakukan sebagai tambahan dari doa2 yang sudah ada dalam liturgy Anglikan.Nyanyian2 digubah (olah Charles Wesley) untuk situasi/ibadah2 tertentu.Wesley menggunakan nyanyian pujian menjadi alat mengajar dan alat untuk mengubahkan seseorang. Nyanyian pujian merupakan suatu penyataan theologia dan sebagai suatu sarana dalam menjalankan pengajaran Alkitabnya.John Wesley bukan saja mempengaruhi isi dan cara dari ibadah-ibadah di Inggris, ia juga memperkenalkan bentuk-bentuk baru dalam beribadah. Kebaktian Larut Malam (Watch Night Service).Perjamuan Kasih (Love Feast Service) dan Kebaktian Perjanjian dan Kebaktian Perjanjian (Covenant Renewal Service).Wesley agak segan untuk menyimpang dari ibadah Anglikan, tapi ia bersedia untuk memberikan tambahan-tambahan bentuk baru dan beberapa penghapusan. Ada dua kriteria: (1)apakah mereka sejalan dengan kebiasaan-kebiasaan dari gereja kuno? Dan (2)apakah ini memiliki kuasa untuk membawa keselamatan?Apakah tradisi ini masih penting untuk masa kini? Tradisi dapat dan harus digunakan. Tradisi harus digunakan secara cermat dengan mengambil daripadanya hal-hal yang dapat bermanfaat bagi Ibadah didalam suatu jemaat modern. Ibadah harusnya “diubah menurut keragaman dari Negara, waktu, tingkah laku orang-orangnya sehingga tidak ada yang ditetapkan yang melawan perintah Allah”.Fokus dalam Gereja Methodist adalah hasil dari ibadah itu sendiri dan bukan pada peristiwa atau tindakan ibadah itu saja. Itu sebabnya pada akhir khotbah hampir selalu dilakukan “Altar Calling” (“Panggilan Kemuridan”).Hubungan Ibadah dengan pengabaran Injil janganlah diabaikanIbadah harus terjadi diluar dinding-dinding bangunan Gereja. Karena pekabaran Injil tidak selalu harus berarti mengumpulkan orang kedalam Gereja. Situasi di Indonesia sekarang dengan wabah pandemi Covid-19 membuktikan, bahwa Gereja harus inovatif dalam beribadah. Tidak ada lagi ibadah dalam gedung gereja. Gereja melakukan inovasi dalam ibadah on line. Kotbah2 yang di up load di media massa, FB, twiter, instagram dll memungkinkan didengar oleh banyak orang. Dalam situasi Wabah korona ibadah bukan hanya pada kesaksian melalui kata, melainkan dengan tindakan nyata. Ibadah tradisionil harus ditinggalkan dan diganti dengan ibadah inovatif, sesuai dengan tehnologi yang dimiliki.
Voice of Wesley: Jurnal Ilmiah Musik dan Agama, Volume 3, pp 54-72; doi:10.36972/jvow.v3i1.40

Abstract:
As God's people, the church needs to realize that diversity is an essential nature of the Unitary State of the Republic of Indonesia. Efforts to homogenize nations that are diverse in race, ethnicity, culture, and religion must be seen as efforts to divide the nation. Therefore religions in Indonesia, especially the Church of God must really be a motivator and encourage their citizens to be truly aware of the diversity of the nation and take part in fostering a lifeof life that respects diversity and tolerates life with fellow human beings with everything attached to himself, including his religion and culture. In connection with the above, the church leaders and theologians must really try to find an understanding of faith that encourages people to accept differences and be able to build a tolerant life together. Efforts in that direction can be built through the perspectives of all fields of theological studies. This paper contains efforts to build a tolerant shared life from a systematic perspective. Theology of Religions and the Biblical (Old Testament). The dogmaticperspective sees two basic needs, namely to nurture and increasingly take root in the faith of church members, and the need to determine attitudes towards the presence of other religious life together. Without forgetting the universal nature of religion as an expression of religious awareness. From an ethical perspective feel the need to develop global ethics that are universal. From the perspective of the science of religions, it is necessary to highlight the verses of the Scriptures possessed by each religion that is universal. While the Biblical perspective sees the importance of Christians understanding their holy books diachronically and holistically. Because improper ways of understanding the Bible make possible the birth of exclusive fundamentalists. Central themes, such as love, justice, truth, peace, redemption, goodness, and life are believed to be from God, all of which are universal. All biblical texts, if understood, diachronically, then the text messages are the central themes already mentioned.
Horbanus Josua Simanjuntak
Voice of Wesley: Jurnal Ilmiah Musik dan Agama, Volume 3, pp 43-53; doi:10.36972/jvow.v3i1.38

Abstract:
“Siapakah sesamaku manusia?” Pertanyaan seorang ahli Taurat ini dilatarbelakangi oleh adanya pemahamannya tentang “sesamanya manusia” yang hanya terbatas pada orang Yahudi saja. Pemahaman seperti ini akan cenderung membatasi perilaku untuk mengasihi orang lain di luar satu ikatan hubungan tertentu. Bahkan praktek hidup primordial seperti ini dapat merusak kesKata kunci kurang atuan dan persatuan bangsa. Karena itu, diperlukan suatu kajian eksegetis tentang konsep “sesamaku manusia” dalam Lukas 10: 25-37, supaya mendapatkan konsep yang benar tentang sesama manusia. Penulis injil Lukas menunjukkan, konsep “sesama manusia” yang harus dikasihi tidak dibatasi oleh ikatan apapun, bahkan musuh atau yang memusuhipun harus dikasihi, seperti mengasihi diri sendiri. Dengan demikian, diharapkan setiap orang untuk mengasihi sesamanya manusia, seperti dirinya sendiri. Hal ini akan berdampak terhadap harmonisasi hubungan dengan siapa saja, sehingga dapat menjaga keutuhan, kesatuan dan persatuan, seperti satu bangsa.
Voice of Wesley: Jurnal Ilmiah Musik dan Agama, Volume 3, pp 1-15; doi:10.36972/jvow.v3i1.30

Abstract:
Some Christian education experts have expressed their views on how the church should develop a curriculum to educate church members to achieve maturity in the Christian faith. This article purpose to develop a curriculum for Christian education in Church ministry. The method used is a literature study on the opinions of D. CampbellWyckoff and Maria Harris. The characteristics of Wyckoff and Harris's opinions and various responses in "imaginative dialogue", as well as modifications of the Christian education Foundations, Principles andPractices schemes of Robert W. Pazmino became a model to develop a Christian education curriculum in church life. The development of the Christian education curriculum begins with setting the goal of implementing Christian education for a group in the Christian community. Furthermore, curriculum development requires thecontribution of various development foundations, including biblical, theological, philosophical, educational, scientific and technological, historical, socio-cultural, ecclesiological and psychological.
Voice of Wesley: Jurnal Ilmiah Musik dan Agama, Volume 3, pp 27-42; doi:10.36972/jvow.v3i1.35

Abstract:
Pemerintah Indonesia mencanangkan pembangunan SDM Unggul sebagai program kerja Kabinet Indonesia Maju. Human Capital 0,53 dan Global Competitiveness Index 50/141—yang rendah memberikan indikator kemampuan bertahan bangsa Indonesia di panggung dunia. Artikel ini memakai tiga faktor dalam memeta realita dan tantangan bagi Indonesia: Revolusi Industri Jilid 4 dan Globalisasi, Pergeseran Budaya Generasi, dan Bonus Demografi.Bagaimana gereja-gereja dapat turut berperan-serta dalam pembangunan manusia Indonesia yang seutuhnya. Tulisan ini menelusuri respon John Wesley terhadap kelesuan iman, kehidupan ekonomi dan sosial politik di Inggris pada abad 18 untuk dapat menjadi pembelajaran gereja di Indonesia dalam menghadapi tantangan yang tidak jauh berbeda. Misi dan spirit Wesleyan (kegerakan Methodist) memperhatikan seluruh aspek kehidupan—membangun iman dan kapasitas para anggota melalui pertemuan-pertemuan Methodist (Society, Class Meeting, Band) dan dalamseluruh aspek kehidupan bermasyarakat.
Nurasyah Dewi Napitupulu
Voice of Wesley: Jurnal Ilmiah Musik dan Agama, Volume 3, pp 16-26; doi:10.36972/jvow.v3i1.39

Abstract:
Many studies assume that the professionalism of teachers is influenced by his personality. Personality is a psychological characteristic that contributes to learning outcomes and academic achievement. However, research that proves this assumption is limited in the domain of Christian teachers as part of teachers inIndonesia. This study aims to analyze the correlation between teachers’ personality and professionalism obtained through questionnaires and interviews. The analysis was carried out on 16 Christian teachers participated who were attending the Postgraduate Program in "Educational Professional Development" instruction. The results of the correlation test using the SPSS Version 21 program showed that Sig. (2-tailed) = 0.042
Binsar Jonathan Pakpahan
Voice of Wesley: Jurnal Ilmiah Musik dan Agama, Volume 1; doi:10.36972/jvow.v1i1.2

Abstract:
Harapan atau ketakutan akan masa depan membuat orang melakukan berbagai hal di masa kini, yang positif maupun negatif. Bayangan masa depan sering kali menghantui sikap dan identitas seseorang di masa kini. Politik identitas yang terjadi akibat perkembangan filsafat postmodern membawa politik ketakutan yang melawan kemajemukan. Bagaimana kita bisa memiliki landasan teologis yang kuat dalam ekspektasi masa depan, dengan tetap memelihara perilaku positif akan masa kini? Bagaimana kita bisa membangun harapan bersama di tengah masyarakat majemuk? Makalah ini akan membahas bagaimana kita bisa membangun harapan masa depan dimulai dari mengingat masa lalu dan mengaktualisasikannya dalam identitas masa kini. Dalam teologi Kristen, identitas dan proses mengingat tidak pernah dapat dipisahkan, seperti yang ditunjukkan oleh Israel. Pusat dari perayaan ingatan ada dalam Ekaristi, di mana kita mengingat Kristus dan kehidupannya di masa lalu, sambil berharap akan pertolongan Allah di masa depan. Dengan ingatan sekaligus harapan ini, komunitas orang percaya dapat membangun masa depannya tanpa ketakutan akan ketidakpastian masa depan atau trauma yang dialami di masa lalu.
Diany Rita P. Saragih
Voice of Wesley: Jurnal Ilmiah Musik dan Agama, Volume 2; doi:10.36972/jvow.v2i2.27

Abstract:
Kepemimpinan Kristen adalah kepemimpinan pelayan dari Yesus Kristus sedangkan kepemimpinan sekuler duniawi. Meskipun kepemimpinan Kristen meliputi banyak prinsip sama seperti kepemimpinan umum, tetapi kepemimpinan Kristen punya sifat-sifat berbeda yang khusus yang harus dipahami dan dipraktekan.Dalam pelaksanaan hal ini menjadi tantangan bagi kepemimpinan Kristen. Tidak sulit menemukan cerita para pemimpin Kristen jatuh dalam dosa. Moralitas dan etika dalam pelaksanaan tugas sebagai pemimpin menjadi fondasi yang kokoh agar tidak terjerumus pada penyalahgunaan wewenang kekuasaan tersebut.Kepemimpinan Kristen memerlukan arah dan prinsip-prinsip dasar Kristen. Seorang pemimpin Kristen berbeda dengan kepemimpinan sekuler. Karakteristik kepemimpinan Kristen harus memiliki integritas sebagai seorang pelayan. Sadar akan kelemahan dan kekurangan, efektif dan delegasi tugas, menghargai teladan , kerja keras, sebagai pelayan, mendengar suara Tuhan serta hubungan dengan pengikutnya dalam pelaksaananya merupakan hal yang perlu diperhatikan.Oleh karena itu, melalui tulisan ini penulis akan menyampaikan pandangan mengenai kepemimpinan Kristen ditengah-tengah kehidupan sekuler. Tulisan ini berisi Pendahuluan mendeskripsikan tentang latar belakang permasalahan perlunya memahami kepemimpinan Kristen, Pembahasan tentang kepemimpinan Kristen dan kepemimpinan sekuler serta kesimpulan
Oditha R. Hutabarat
Voice of Wesley: Jurnal Ilmiah Musik dan Agama, Volume 2; doi:10.36972/jvow.v2i1.19

Abstract:
Artikel ini berisi kajian tentang pedagogi hati ( istilah ini yang dikemukakan tokoh pendidikan Amerika latin secara khusus Paulo Freire berbicara tentang Brazil)1 dan relevansinya sebagai salah satu model Pendidikan Agama kristen (PAK) bagi warga gereja di Indonesia. Pedagogi hati adalah sebuah model pendidikan politik yang berpusat pada hati nurani. Relevansinya karena suasana dan kondisi pada saat itu ketika Freire menemukan pendapatnya tentang pedagogi hati menurut penulis ada kemiripan dengan suasana dan kondisi perpolitikan di Indonesia sekarang yang disebut sebagai tahun politik.Isu-isu kemiskinan, ketidakadilan, ekonomi yang tidak bertumbuh,multi partai, perkembangan teknologi, arus globalisasi menjadi ciri kondisi Brazil menjadi pergumulan Freire, sehingga kemudiani melahirkan pedagogi hati. Kondisi yang dialami Freire ada kemiripan dengan Indonesia sekarang bahakan dengan kondisi dunia. Freire berpendapat bahwa masyarakat Amerika Latin dan Tengah khususnya brazil memerlukan proses konsientisasi (penyadaran) akan realitanya sehingga kemudian dapat mengubah keadaannya melalui pedagogi hati, kemudian dapat berpartisipasi aktif secara demokratis membangun masyarakat dan bangsanya dalam berbagai sektor kehidupan.PAK sebagai bagian tugas Gereja menjadi media berteologi agar mendidik warga Gereja dalam kondisi dan situasi apapun termasuk kondisi Indonesia dalam tahun politik. Pengembangan pedagogi hati atau dalam istilah PAK pengembangan seutuhnya manusia khususnya ranah afektifnya sangat penting karena PAK berdasar pada Alkitab yang berisi tentang kesaksian dan pengenalan serta pertumbuhan iman warga Gereja pada Tuhan Yesus Kristus.
Desi Sianipar
Voice of Wesley: Jurnal Ilmiah Musik dan Agama, Volume 1; doi:10.36972/jvow.v1i1.4

Abstract:
Penulisan makalah ini dilatarbelakangi oleh pengamatan penulis mengenai kurangnya keterlibatan kaum Injili dalam dialog antar umat beragama, yang justru banyak dilakukan oleh kalangan Kristen lainnya. Hal ini disebabkan kaum Injili memiliki pemahaman teologis yang berbeda mengenai perjumpaan dengan agama-agama lain, dan kekuatiran mengenai akibat dari perjumpaan tersebut.Berdasarkan pembahasan teoritis, tampak bahwa ada beberapa penyebab kaum Injili kurang terlibat dalam dialog antar umat beragama, yaitu: kekuatiran terjadinya sinkretisme melalui dialog; kekuatiran akan disalahmengerti mengenai keterlibatan dalam dialog; dialog tidak dibutuhkan dalam penginjilan, yang dibutuhkan adalah pendampingan pastoral Kristen; kekuatiran akan terjadinya kemunduran dalam penginjilan; dan sikap eksklusivisme dalammemandang agama-agama lain. Meski dalam posisi demikian, menurut penulis, sebenarnya keterlibatan kaum Injili dalam dialog antar umat beragama masih bisa dimungkinkan kalau mereka memahami dan menghayati keteladan Kristus dalam hal mengosongkan diri (kenosis) untuk mampu membuka diri terhadap orang lain. Metode yang digunakan dalam penulisan makalah ini adalah metode kepustakaan di mana penulis menggunakan sejumlah literatur berbahasa Indonesia dan Inggris, yang membahas tentang dialog antar umat beragama dan keterlibatan kaum Injili dalam dialog antar umat beragama. Selanjutnya, pembahasan dilakukan menurut tinjauan secara teologis pedagogis.Orang Kristen semestinya mampu terlibat dalam dialog antar umat beragama. Penulis mengusulkan suatu metode dialog “melintas batas” atau “passing over”, yang kalau menerapkan prinsip kenosis, kaum Injili dapat melakukannya. Metode ini akan memampukan setiap orang mengalami pengenalan yang mendalam mengenai para penganut agama lain dimana orang tidak pindah agama atau keyakinan, dan bukan sedang dalam pencarian jati diri,juga bukan sedang mencoba-coba mencicipi rasa keagamaan yang lain. Dia melakukan dialog ini untuk memiliki pemahaman yang lebih dalam lagi tentang keyakinan orang-orang dalam agama lain, dan dengan itu justru akan memperkuat keyakinannya sendiri.
D.Th Dr.Heryanto M.Th.
Voice of Wesley: Jurnal Ilmiah Musik dan Agama, Volume 1; doi:10.36972/jvow.v1i2.10

Abstract:
Manusia adalah makhluk sosial yang tidak dapat hidup sendiri. Dalam hidup, manusia selalau berinteraksi dengan sesama serta dengan lingkungan. Manusia hidup berkelompok baik dalam kelompok besar maupun dalam kelompok kecil. Hidup dalam kelompok tentulah tidak mudah. Untuk menciptakan kondisi kehidupan yang harmonis anggota kelompok haruslah saling menghormati dan menghargai. Keteraturan hidup perlu selalu dijaga. Hidup yang teratur adalah impian setiap insan. Menciptakan dan menjaga kehidupan yang harmonis adalah tugas manusia. Manusia adalah makhluk Tuhan yang paling tinggi dibanding makhluk Tuhan lainnya. Manusia di anugerahi kemampuan untuk berpikir, kemampuan untuk memilah dan memilih mana yang baik dan mana yang buruk. Dengan kelebihan itulah manusia seharusnya mampu mengelola lingkungan dengan baik. Namun terkadang tidak terelakkan dengan timbulnya masalah kekerasan selalu menarik dan menuntut perhatian yang sungguh serius dari waktu ke waktu. Terlebih lagi, berdasarkan asumsi umum serta beberapa hasil pengamatan dan penelitian berbagai pihak terdapat kecenderungan perkembangan peningkatan dari bentuk dan jenis tindak kekerasan tertentu baik secara kualitas maupun kuantitasnya khususnya terhadap pelayanan ibadah dalam gereja. Untuk itu, perlu dibangun satu persepsi yang holistik prihal kekerasan secara umum beserta faktor dan penyebab timbulnya kekerasan untuk memberikan sebuah worldview bagi pemimpin gereja masa kini dalam mengambil langkah-langkah strategis yang menguntungkan semua pihak dalam mengwujudkan kedamaian dan kesejahteraan. Selanjutnya, berbicara tentang konsep dan pengertian tindak kekerasan itu sendiri, masih terdapat kesulitan dalam memberikan definisi yang tegas karena masih terdapat keterbatasan pengertian yang disetujui secara umum sebab kekerasan juga memiliki arti yang berbeda-beda berdasarkan pendapat para ahli dan para sarjana yang berbeda
Adolf Bastian Simamora
Voice of Wesley: Jurnal Ilmiah Musik dan Agama, Volume 2; doi:10.36972/jvow.v2i2.26

Abstract:
Pesta demokrasi pada Pemilu April 2019 sudah semakin mendekat. Fokus dan topik dalam pemilu bukan saja bagaimana agar sukses terlaksana, namun yang sangat penting adalah apakah dan bagaimana rakyat mengetahui dan memahami siapa calon pemimpin yang akan mereka pilih. Tulisan ini mendeskripsikan kristalisasi kepemimpinan Barnabas dalam konteks rakyat Indonesia akan memilih pemimpin pada Pemilu April 2019 ini. Pemilu ini akan dilaksanakan secara serentak di seluruh negeri Indonesia. Momen ini sangat penting sebab akan menentukan bagaimana masa depan bangsa Indonesia. Sebab rakyat akan memilih siapa yang menjadi presiden dan wakil presiden untuk lima tahun ke depan. Selain itu, rakyat juga akan memilih para anggota DPR, anggota DPD, anggota DPRD untuk masa periode lima tahun mendatang. Pemilu 2019 ini dilakasanakan secara serempak di seluruh negeri Indonesia. Oleh karena itu, melalui tulisan ini penulis akan mendeskripsikan suatu solusi terhadap persoalan tentang bagaimana kriteria pemimpin yang berkualitas. Pada Bab 1, Pendahuluan mendeskripsikan Pemilu, dan masalah kepemimpinan serta harapan masyarakat terhadap pemimpin mereka yaitu presiden dan wakil presiden, anggota DPR, DPD, dan DPRD . Bab 2, Pembahasan tentang kristalisasi kepemimpinan Barnabas bersumber dari kajian eksegesis teks Kisah Para Rasul 4 : 36-37 ;11:19-30. Bab 3, relevansi dalam konteks rakyat Indonesia memilih pemimpin pada pemilu 2019. Apa dan bagaimana rakyat Indonesia memilih atau mencari pemimpin yang baik, amanah, taqwa yang memiliki integritas dan kompetensi yang dapat dipercaya dan diandalkan oleh rakyat Indonesia. Bab 4, penutup yang mendeskripsikan kesimpulan dan saran, dimana penulis menyimpulkan bahwa kepemimpinan Barnabas patut menjadi model dan pendekatan kepemimpinan dalam konteks rakyat Indonesia memilih pemimpinnya untuk masa lima tahun ke depan pada Pemilu 2019 ini.
Oditha R. Hutabarat
Voice of Wesley: Jurnal Ilmiah Musik dan Agama, Volume 1; doi:10.36972/jvow.v1i2.12

Abstract:
Artikel ini berjudul: Mendidik anak Berkarakter Kristen Mengatasi Kekerasandalam Tema Agama dan Kekerasan.Data yang terus meningkat tentang peristiwa kekerasan atas nama agama di Indonesia dari Wahid Institut dan sata hasil penelitian dari UIN Jakarta bahwa peristiwa kekerasan jika diurai dari hulu adalah terletak pada pendidikan agama yang intoleran yang diterima anak-anak di sekolah, sehingga Sistem Pendidikan Nasional harus melakukan kontrol dan perbaikan.Penulis meneliti dari sudt Pendidikan Agama Kristen (PAK), apakah peran PAK keluarga sudah juga dibenahi?, keluarga sebagai sel masyarakat demikian juga Gereja tentu patut berperan serta meminimalisir terjadinya kasuskekerasan yang berkaitan dengan agama. PAK Keluarga bukan hanya mengajarkan pengetahuan agama Kristen, tetapi keluarga menanamkan keteladanan dan praktek hidup toleran yang dasarnya Cinta Kasih Yesus Kristus yang sudah rela berkorban di salib untuk menebus dosa manusia.PAK Keluarga adalah upaya-upaya keluarga membentuk karakter Kristen pada diri anak-anaksejak dini dengan menanamlkan nilai-nilai Kristen dalam kehidupan sehari-hari.Kerjasma keluarga dengan gereja dan pendidik PAK di sekolah menjadi penting agar pertumbuhan karakter Kristen pada diri anak semakin kuat berakar.PAK Keluarga yang baik menjadi solusi mengatasi kekerasan yang dapat saja dialami anak-anak dalam kontek kemajemukan dan multikultural di Indonesia. Tokoh Gereja dan PAK dalam sejarah melihat pentingnya asuhan keluarga bagi pembentukan karakter Kristen.Sehingga perlu ada cara berteologi dan melakukan Pekabaran Injil yang baru dan kontekstual sehingga dapat terjalin dialog yang intens dari berbagai pihak.
Robert Patannang Borrong
Voice of Wesley: Jurnal Ilmiah Musik dan Agama, Volume 1; doi:10.36972/jvow.v1i1.3

Abstract:
Meninjau persoalan perkawinan campur beda agama yang diistilahkan perkawinan lintas iman, dalam konteks Negara majemuk, terutama dari sudut pandang etika/moral yang dikaitkan dengan sudut pandang hukum dan teologi. Dengan sengaja menggunakan istilah perkawinan lintas iman karena iman adalah sesuatu yang mencerminkan hubungan seseorang dengan Tuhan, apapun agamanya, sedangkan agama adalah institusi yang memfasilitasi iman. Orang yang mau menikah dengan orang yang berbeda agama tetapi suka mempertahankan agama masing-masing seharusnya dilandaskan pada keyakinan iman dan bukan sekedar agama
Djoys Anneke Rantung
Voice of Wesley: Jurnal Ilmiah Musik dan Agama, Volume 2; doi:10.36972/jvow.v2i1.21

Abstract:
Dalam konteks situasi kontemporer gereja hadir dan bergumul dengan tantangan-tantangannya. Ada tiga tantangan sekaligus yang didapati oleh penulis, yakni pertama, gereja berada di tengah situasi menguatnya politik identitas yang muncul pasca orde baru. Kedua, gereja bergumul dengan dirinya sendiri yang juga dibayang-bayangi oleh para politisi dari kalangan umatnya. Ketiga, gereja bergumul dengan idealisme Injil Yesus Kristus dalam menghadirkan keadilan sosial dan perdamaian bagi dunia.Penulisan ini mengangkat pergumulan-pergumulan tersebut dan meletakkan teologi politik sebagai praksis gereja untuk proklamasi Injil Yesus Kristus dalam upaya memahami secara teologis cita-cita Indonesia merdeka, yaitu keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Tulisan ini kemudian berkembang hingga pada pemahaman, bahwa masalah politik identitas yang berorientasi pada kekuasaan hanya untuk kelompok identitas tertentu direspon oleh gereja dengan teologi politik yang berorientasi pada keadilan sosial bagi semua demi perdamaian dan kesejahteraan.Model penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah kualitatif, berdasarkan hasil studi pustaka berbagai sumber dalam meneliti teologi politik untuk keadilan sebagai respon gereja di tengah menguatnya politik identitas. Maksud dan tujuan penelitian ini untuk mengetahui tantangan-tantangan yang dihadapi gereja dengan menguatnya politik identitas yang muncul pasca orde baru, pergumulan gereja yang dibayang-bayangi oleh para politisi dari kalangan umatnya dan gereja yang bergumul dengan idealisme injil Yesus Kristus dalam menghadirkan keadilan sosial bagi perdamaian dunia. Metode pengumpulan data yang digunakan adalah kualitatif deskriptif. Hasil penelitian ini adalah teologi politik untuk keadilan sosial untuk tujuan keadilan sosial. Memperjuangkan hak-hak hidup orang lemah, miskin, tertindas dan mendatangkan keadilan dan kesejahteraan sebagaimana tujuan injil Yesus Kristus dalam menghadirkan keadilan sosial dan menghadirkan perdamaian bagi semua orang.
Adolf Bastian Simamora
Voice of Wesley: Jurnal Ilmiah Musik dan Agama, Volume 2; doi:10.36972/jvow.v2i1.16

Abstract:
Saat ini warga Indonesia disibukkan dengan kegiatan politik yakni berhubungan dengan Pemilihan Legislatif ditingkat dua, satu dan pusat secara serempak dan juga pemilihan Presiden dan wakil Presiden pada tahun 2019. Berita ini dimuat dalam media sosial, surat kabar maupun televisi tentang gereja-gereja atau perkumpulan pendeta dari aras tertentu yang mendeklarasikan dukungan kepada pasangan Pilpres tertentu. Bagaimana pandangan gereja terhadap berita ini? Apakah yang menjadi dasar pedoman peran gereja dalam menjalankan hak dan kewajiban berpolitik di negara kita?Tulisan ini mengulas masalah penelitian tEntang pandangan politik Alkitab khususnya pandangan Kitab Injil dan Kitab Roma dan implikasinya bagi peran gereja dalam pusaran politik di Indonesia. Makalah ini membahas dasar teologis tentang pandangan yang setuju dan tidak setuju bahwa gereja harus terlibat dalam politik di tanah air ini. Tujuan penelitian dari makalah ini adalah menjelaskan pemahaman politik Alkitab dan implikasinya bagi peran gereja dalam pusaran politik di Indonesia. Prosedur Penelitian dari makalah ini menggunakan metode kajian kepustakaan khususnya pandangan politik Alkitab yang terdapat dalam kitab Injil dan kitab Roma dan implikasinya bagi peran gereja dalam pusaran politik di Indonesia.Kesimpulan makalah ini mengacu kepada pandangan politik Alkitab bahwa Gereja harus menjalankan hak dan kewajiban sebagai warga negara menurut pandangan politik kitab Injil dan kitab Roma. Gereja bukan anti pluralistik dan mendukung kebebasan warganya berpolitik. Implikasi peran gereja secara nyata bahwa gereja secara individual dapat menjadi politikus, sedangkan gereja secara institusional tidak berpolitik praktis. Namun gereja tetap aktif menjalankan fungsi sosial kontrol melakukan “suara kenabian” di tengah-tengah bangsa dan negara Indonesia.
Gunaryo Sudarmanto
Voice of Wesley: Jurnal Ilmiah Musik dan Agama, Volume 1; doi:10.36972/jvow.v1i1.6

Abstract:
Hubungan budaya dan teologi dipahami secara beragam. Deskripsi budaya secara sempit telah membedakan dan memisahkannya dari teologi. Sebaliknya deskripsi teologi yang sempit juga mengesampingkan budaya. Tulisan ini bermaksud mendeskripsikan budaya dan teologi secara proporsional baik secara umum maupun alkitabiah. Kemudian mendeskripsikan korelasi antara budaya dan teologi serta menetapkan apa peran teologi terhadap budaya. Khususnya dalam konteks paradigma ’multikultur’ yang sarat dengan konflik antar etnis dan religi di dunia pada umumnya dan Indonesia pada khususnya, bagaimana teologi berperan memberi alternatif solusi. Untuk itu diusulkan terbentuknya rancang bangun ’Teologi Multikultur’ yaitu suatu teologi yang didisain berbasis prinsipprinsip alkitab yang menjadi pedoman bagi orang kristen dalam membangun hubungan dengan orang lain yang berbeda etnis dan religi. Prinisp-prinsip tersebut bermaksud untukmempertemukan segala perbedaan dalam masyarakat pada tataran etis, yang didasarkan pada prinsip teologis.
S.Pd Dr. Harun Y. Natonis
Voice of Wesley: Jurnal Ilmiah Musik dan Agama, Volume 2; doi:10.36972/jvow.v2i1.17

Abstract:
The church and politics in Indonesia are two opposing institutions, but live side by side. On the one hand, the church is prohibited from engaging in various political contexts. But on the other hand, the church also has an obligation to voice the truth in a political context. The church is not involved in the political world, it does not mean that the church turns a blind eye to the political conditions that occur in Indonesia. The church have to give voice its prophethood, so that the political conditions in Indonesia continue to provide a temperature of comfort and justice for all the interests of society.The church is like a small candle which despite its small flame, gives enough light in dark conditions. The Church through its leaders can provide encouragement in actualizing services that are more real amid the development of the nation in competition in the global world.What kind of leader does the church need to survive amid the current political turmoil in Indonesia? This question is the core goal of writing this article in order to address the extent of the role of the church in the midst of a political vortex.The church needs servant leaders, not leaders who are enslaved. Church leaders who are servants are church leaders who want to serve with love, humility and sincere sacrifice. While church leaders who are worshiped are church leaders who are only concerned with personal interests and self-comfort. Church leaders who are able to survive in the midst of political turmoil are church leaders who are servants, not non-worshiped church leaders.Keywords: Church leader who slaves, Jesus Prototype Leader who slaves
Viktor K Pamusu
Voice of Wesley: Jurnal Ilmiah Musik dan Agama, Volume 1; doi:10.36972/jvow.v1i1.5

Abstract:
Tulisan ini bertujuan untuk mengkaji signifikansi gagasan Kristen Anonimus dari Karl Rahner, terhadap konteks keberagamaan yang majemuk di Indonesia. Kajiannya sendiri dibagun diatas dasar keyakinan bahwa pergumulan Karl Rahner tatkala merumuskan pemikirannya, relevan dengan fakta kemajemukan di Indonesia. Atas dasar keyakinan itu, peninjauan atas gagasan Karl Rahner di lakukan dalam pendekatan tafsir terhadap konteks Indonesia itu sendiri. Hal ini tentunya menarik untuk dilakukan, mengingat pentingnya suatu acuan kerangka berpikir teologis yang merefleksikan pergumulan kontekstual dalam menjawab kebutuhan mendasar dari konteks dimana pemikiran tersebut akan diterapkan. Dalam arti inilah, peninjaun atas gagasan “Anonimous Christian” Karl Rahner dilakukan. Daripadanya akan ditarik prinsip prinsip yang diyakini akan menjawab kebutuhan masyarakat Kristen terhadap acuan dalam pengembangan sikap di tengah konteksnya yang majemuk. Dengan begitu, gereja Tuhan terhindar dari tuduhan akan ketidak pedulian terhadap konteksnya yang mejemuk. Dalam hal ini, tafsiran yang baik, antara lain, terhadap pemikiran Karl Rahner, akan mempunkan gereja menegaskan sikapnya yang tidak anti kemajemukan.
Adolf Bastian Simamora
Voice of Wesley: Jurnal Ilmiah Musik dan Agama, Volume 1; doi:10.36972/jvow.v1i2.11

Abstract:
Artikel ini membahas tentang bagaimana perspektif biblikal tentang agama dan kekerasan dalam peristiwa penyaliban Yesus. Analisis dari bagaimana narasi yang berhubungan dengan masalah Yudaisme yang berhubungan dengan kehidupan dan pelayanan Yesus dalam catatan biblikal Injil. Diceritakan bahwa karena khotbat-khotbah Yesus yang juga mengecam para pemimpin agama Yahudi, ahli –ahli Taurat, Farisi , Saduki, dan Herodian berakibat konflik. Sehingga pemimpin agama merancang suatu strategi untuk menyingkirkan Yesus dengan dalih agama (Yudaime). Konflik berkembang dan klimaksnya terjadi penganiyaan dan penyaliban Yesus. Konflik ini melibatkan kelompok penganut Yudaisme dan sekte-sektenya. Lantas pertanyaan berikutnya adalah apakah faktor-faktor utama pemicu munculnya kekerasan (penganiayaan, penyiksaan) terhadap Yesus? Untuk menjawab pertanyaan tersebut, tulisan ini dibagi ke dalam empat. Pertama, perspektif Yudaisme tentang agama dan kekerasan. Kedua, konflik Yesus dengan pemimpin agama Yahudi. Ketiga, “penganiayaan dan “penyaliban“ Yesus dianggap jalan keluar terhadap konflik antara Yesus dengan para pemimpin agama Yahudi. Dan keempat, “ucapan bahagia” dari khotbah Yesus di Bukit menjadi solusi teologis menghadapi persoalan agama dan kekerasan.
Samuel Benyamin Hakh
Voice of Wesley: Jurnal Ilmiah Musik dan Agama, Volume 2; doi:10.36972/jvow.v2i1.15

Abstract:
This paper is prepared to explain that the struggle for Indonesian independence was carried out for centuries by all people in Indonesia, including Christians, with sweat and tears, even with bloodshed. Therefore, Indonesian independence is not a gift or effort from a particular group, but it is a gift from God which is expressed through the struggle of all groups and tribes throughout Indonesia from Sabang to Merauke and from Sangir to Rote. So, as a nation that is dignified, and who upholds justice and truth, we must be honest with the history of our own nation. With that, the independence of Indonesia as a gift from God, we should be accepted with thanksgiving while we are together to build a just, prosperous, peaceful of Indonesia in the future.
Nurasyah Dewi Napitupulu, Achmad Munandar, Sri Redjeki, Bayong Tjasyono
Voice of Wesley: Jurnal Ilmiah Musik dan Agama, Volume 1; doi:10.36972/jvow.v1i2.9

Abstract:
Eksploitasi lingkungan hidup merupakan bentuk kekerasan terhadap alam semesta yang berkontribusi pada fenomena ekologis yang terjadi dewasa ini secara lokal dan global. Kerusakan lingkungan yang terjadi merupakan isu “sekuler” dan isu “religius” atau “teologis” terintegrasi yang memerlukan perspektif ecotheology dan ecopedagogy dalam mitigasinya. Tujuan penelitian ini adalah untuk menggambarkan sikap etis-teologis mahasiwa terhadap berbagai fenomena ekologis seperti pemanasan global, deforestasi, dan penggunaan sumber-sumber energi yang dieksplorasi melalui angket sebagai instrumen penelitian. Dengan sampel berjumlah 60 orang mahasiswa dengan latar belakang agama yang berbeda, hasil penelitian menunjukkan bahwa persentase rata-rata sikap mahasiswa adalah 61,2% dengan kategori kurang. Tidak ada perbedaan yang signifikan rata-rata sikap mahasiswa terhadap fenomena lingkungan berdasarkan agama. Disimpulkan bahwa latar belakang agama tidak berkontribusi membentuk sikap mahasiswa terhadap fenomena ekologis. Untuk meningkatkan dan memperbaharui sikap mahasiwa terhadap fenomena lingkungan perlu dipertimbangkan integrasi ecotheology dan ecopedagogy untuk mengkonstruksi pemahaman konsep mahasiswa terhadap fenomena ekologi
Togardo Siburian
Voice of Wesley: Jurnal Ilmiah Musik dan Agama, Volume 1; doi:10.36972/jvow.v1i2.13

Abstract:
Tulisan ini adalah refleksi kontemporer atas doktrin ketuhanan Yesus pada situasiperbudakan gaya baru dewasa ini. Studi doktrinal Injili selama ini mengalamikemandegan dogmatisme, karena hanya pengulangan tema-tema abstrak tanpaterkait dengan kehidupan riil. Khususnya dalam pengaplikasian kristologi ketuhanan Yesus pada konteks segar, di mana kekristenan berada. Refleksi Injili sekarang terlalu menekankan kristologi “from above”dalam tema keilahian-Nya seperti: supremasi, keunikan, dan finalitas Kristus, tetapi melalaikan perspektif “from afore” pada dampak penebusan Kristus dalam kehidupan Kristen secara aktual. Kecenderungan hasilnya adalah pemisahan kejuruselamatan dari ketuhanan-Nya sampai pada pemisahan pengakuan dan praktik ketuhanan Yesus. Pada kondisi ini, tulisan aplikatif kontekstual Kristologi Injili hanya konsep superiorisme Kristus di atas oknum dan melawan isu-isu ideologis di sekitar kegerejaan masa kini. Di sini pentingnya reformulasi Kristologi Injili yang seimbang antara tematema keilahian dan isu kemanusiaan yang berfokus pada ketuhanan dan kejuruselamatan-Nya, keprihatinan apologetis dengan etis, kepercayaan konseptual dengan praktika, juga implementasi kristologis Injili yang parenialisme dalam kontekstualisme. Lalu mereartikulasikan ketuhanan Yesus yang teraplikasi dalam isu-isu kemanusiaan sekarang, berdasarkan hubungan hubungan komprehensif tema ketuhanan-Nya. Pada konteks ini ada kesempatan bagi kaum Injili untuk mengkontekstualisasikan doktrin Kristus (Kristologi) pada soal khusus, seperti perbudakan masa kini yang muncul lagi dalam gaya baru.
Voice of Wesley: Jurnal Ilmiah Musik dan Agama, Volume 2; doi:10.36972/jvow.v2i1.20

Abstract:
Pendidikan Agama Kristen (PAK) memiliki peran penting membimbing peserta didik memahami hubungan iman Kristen dengan beragam aspek kehidupan, termasuk politik. Paparan di bawah ini menerangkan bagaimana materi ajar PAK terkait politik untuk membekali mahasiswa. Telaah terhadap materi PAK di tingkat perguruan tinggi dari empat sumber dipilih, mengajak pendidik Kristen baik dalam konteks sekolah maupun dalam konteks gereja untuk mengembangkan materi kurikulum pembelajaran yang lebih relevan dan kreatif
Daniel Stefanus
Voice of Wesley: Jurnal Ilmiah Musik dan Agama, Volume 1; doi:10.36972/jvow.v1i1.7

Abstract:
Artikel ini merupakan ulasan salah satu peranan orang Kristen dalam masyarakat majemuk Indonesia. Salah satu peranan orang Kristen dalam masyarakat majemuk Indonesia adalah menjadi murid Kristus yang menjadikan orang lain menjadi murid Kristus yang toleran, pembawa damai, menjunjung tinggi perbedaan sebagai anugerah Tuhan yang terindah, serta memperlakukan orang lain yang berbeda agama, suku dan bahasanya sebagai sesama.
Yacob T. Tomala
Voice of Wesley: Jurnal Ilmiah Musik dan Agama, Volume 2; doi:10.36972/jvow.v2i2.23

Abstract:
Pokok pikiran Leading by Serving atau “Memimpin dengan Melayani,” adalah kebenaran tentang kepemimpinan yang bersumber dari Kitab Suci Alkitab. Gagasan “Leading by Serving” ini dibangun berlandaskan ajaran dan praktik kepemimpinan Yesus Kristus. Dalam penelitian, ditemukan bahwa memimpin dengan melayani merupakan pola atau model kepemimpinan yang unik Alkitab, yang menjelaskan bahwa model kepemimpinan pelayan atau servant leadership ini adalah otentik Alkitab dan Kristen, karena diarsiteki oleh Yesus Kristus. Model atau pola kepemimpinan pelayan ini terbukti relevan, pas untuk segala situasi serta semua organisasi, karena sesungguhnya “memimpin sejatinya adalah melayani”. Sebagai upaya mengembangkan gagasan penelitian ini, maka pokok-pokok yang akan dikembangkan adalah antara lain: Pertama, Dasar-dasar Memimpin dengan Melayani; Kedua, Pola Memimpin dengan Melayani; yang diakhiri dengan suatu kesimpulan.
Robert P. Borrong
Voice of Wesley: Jurnal Ilmiah Musik dan Agama, Volume 2; doi:10.36972/jvow.v2i2.29

Abstract:
Kepemimpinan dalam gereja bukanlah pelaksanaan kekuasaan atau otoritas manusia melainkan suatu kegiatan pelayanan. Pelayanan yang ditujukan kepada Yesus Kristus, Pemilik dan Kepala Gereja. Gereja ada karena panggilan untuk mewartakan Kerajaan Allah di dunia. Oleh sebab itu kepemimpinan tidak terutama berkenaan dengan penataan organisasi gereja tetapi berkenaan dengan penataan pelayanan gereja kepada Tuhan dan bagi dunia. Kepemimpinan gereja tidak bertujuan membuat organisasi gereja dengan baik, tetapi menata organisasi gereja dengan baik supaya pelayanan dan kesaksian kepada dunia berjalan dengan baik.Pemimpin-pemimpin dalam gereja adalah pelayan-pelayan yang bekerja dengan sukacita dan sukarela karena adanya panggilan dari Tuhan bagi mereka untuk mengambil bagian dalam karya Yesus Kristus di dunia yaitu memberitakan keeselamatan yang telah diberikan kepada dunia oleh dan melalui pengorbanan Yesus Kristus di atas kayu salib. Oleh sebab kepemimpinan adalah panggilan, maka kepemimpinan dijalankan dengan sukarela dan sukacita. Itulah hakekat kepemimpinan sebagai pelayanan gereja. Menjadi pemimpin yang melayani berarti menjadi pemimpin yang memberikan dirinya untuk mengabdi kepada Tuhan, bukan kepada manusia
Binsar A Hutabarat
Voice of Wesley: Jurnal Ilmiah Musik dan Agama, Volume 1; doi:10.36972/jvow.v1i2.14

Abstract:
Artikel yang berjudul “Kebijakan Diskriminatif dan Kekerasan Agama” ini fokus memaparkan bagaimana kekerasan agama yang terjadi dalam relasi dengan pemerintah, dan bangkitnya agama-agama yang secara bersamaan diikuti bangkitnya radikalisme agama. Kemudian memaparkan mengenai rumusan kebijakan publik terkait agama di Indonesia serta relasinya dengan kekerasan yang dilakukan negara terhadap agama. Setelah itu mengukur kualitas kebijakan publik terkait agama di Indonesia berdasarkan kriteria kebebesan beragama. Temuan penelitian ini adalah bahwa kebijakan diskriminatif agama di Indonesia masih tetap dilestarikan, dan secara langsung dapat dikatakan, pemerintah terbukti melakukan kekerasan agama
Ni Nyoman Fransiska M.Th
Voice of Wesley: Jurnal Ilmiah Musik dan Agama, Volume 2; doi:10.36972/jvow.v2i1.18

Abstract:
This paper discusses the political attitudes of Christians towards politics in Indonesia. Christians have been actively involved in the resistance movement against the Dutch colonialists, participated in establishing the country, formulated ideology and ratified the 1945 Constitution, participated in maintaining Indonesia's independence through the war of independence and played an active role in building the Indonesian nation. The state was created by God to carry out its function of creating justice, protecting and serving society. Therefore Christians are also called to participate in the creation of Peace (Welfare) in the country, because in a prosperous and peaceful country, the church can live better (Jer.29: 7).
Stevri Indra Lumintang
Voice of Wesley: Jurnal Ilmiah Musik dan Agama, Volume 2; doi:10.36972/jvow.v2i2.24

Abstract:
The objective of this research was to analize deeply and objectively the contemporary management quality of some leaders and their leadership at religiousity higher educations in Indonesia for finding a model of quality improvement the higher education. This research was based upon the naturalistic paradigm with qualitative approach, and the said methodology was a phenomenologic method, by using Ishikawa Fishbone Diagram as a technical tool to improve the quality. The datas were colleted through participant observation using interview, and document study. The data analysis and interpretation indicate that: (1) The real problem is the weak management quality; (2) The weak management quality is caused by the weak leaders and leadership. This main factor influences other factors, just as all influence one and another; (3) The root of weak management quality is caused by the weak leader and leadership. The findings lead to the recommendation to practice quality improvement, and to apply the model of quality improvement, in order for it be one of the quality religiousity higher education in this 21st century.
Jonathan Tanujaya
Voice of Wesley: Jurnal Ilmiah Musik dan Agama, Volume 2; doi:10.36972/jvow.v2i2.28

Abstract:
Beberapa tahun terakhir ini, pertumbuhan jemaat gereja-gereja ( khususnya gereja Injili ) semakin hari semakin lambat dan bahkan merasa tidak dapat bertumbuh baik secara kuantitas maupun kualitas. Sehingga pemimpin-peminpin gereja mulai mencari penyebab dari lambatnya pertumbuhan jemaat mereka. Disaat yang bersamaan, ada gereja-gereja yang tiba-tiba bertumbuh dengan pesat dalam jumlah jemaat yang banyak dalam kurun waktu yang singkat. Sehingga banyak gereja lainnya ingin meniru dan belajar dari gereja tersebut, salah satunya yaitu melalui corak-corak ibadah khusus didalam musik dan lagunya.Apa yang terjadi didalam ibadah mereka? Ternyata mereka beribadah dengan puji-pujian yang diiringi dengan alat-alat musik ( guitar elektrik, keyboard, drum set dan bass ). Sehingga membangkitkan suasana dan semangat ibadah mereka. Hal ini sangat menarik perhatian pemuda dan pemudi gereja-gereja yang masih bersifat konservatif ( Injili ). Sehingga mulai meniru dan menghilangkan tata ibadah tradisi yang ada. Apa kah ini benar dan pasti berhasil?Penulis tidak menyangkal dan menolak cara ibadah mereka, tetapi penulis ingin bertanya kepada Hamba Tuhan, majelis, penatua serta tim ibadah yang ada saat ini, apakah kita sudah memiliki Pemimpin Musik Gereja yang Handal yang benar-benar mengerti musik gerejawi yang dapat membangun kerohanian jemaat. Dan membimbing pelayan-pelayan musik dalam ibadah dengan baik dan benar. Penulis menulis tema ini karena penulis sejak kecil sudah dipimpin dan dibina oleh pembimbing kami dengan belajar musik gereja yang baik dan benar, mengerti setiap lagu yang dinyanyikan bahkan menceritakan tokoh-tokoh penulis lagu tersebut.Berharap tulisan ini dapat dipelajari oleh pemimpin-peminpin gereja baik pendeta ( Hamba Tuhan) , majelis, penatua maupun tim musik ibadah. Sehingga kita dapat menbina dan mendidik jemaat dengan musik gereja yang benar melalui seorang Pemimpin Musik Gereja yang handal.
Page of 1
Articles per Page
by
Show export options
  Select all
Back to Top Top