Refine Search

New Search

Results in Journal JURNAL GIZI DAN KESEHATAN: 87

(searched for: journal_id:(4325408))
Page of 2
Articles per Page
by
Show export options
  Select all
Marsuki Syam, Fitri Wahyuni, Icha Dian Nurcahyani
JURNAL GIZI DAN KESEHATAN, Volume 13, pp 86-97; https://doi.org/10.35473/jgk.v13i2.212

Abstract:
Moringa is a type of functional food that contains many nutrients both macro nutrients and micronutrients that have been widely used in combating malnutrition in children and efforts to improve the immune system in many developing countries. Ice cream is the most popular food in the world and is very popular by all circles of society because of its good taste, soft texture and high nutrient content and can be one of the media in nutritional improvement. To know the acceptability and analysis of the protein content of ice cream with the addition of moringa leaf flour. This type of research is experimental research with posttest design one shot group design that is done adding moringa leaf flour to the manufacture of ice cream with some concentration.Research shows that panelists' acceptability to color aspects, aroma, texture, and aspects of taste and weighting value, the best formulation of ice cream with the addition of moringa leaf flour is F1 compared to F2, F3, and F4, ie with a value of F1 52.86, F2 42.86, F3 42.01, F4 33.29, although when compared to F0 (ice cream krontrol) the value is lower ie , 54,65. The results of protein analysis Ice cream with the addition of moringa leaf flour increased from 3.3% to 4.1% this occurred after the addition of moringa leaf flour 5%. from the results of the study of acceptability to aspects of color, aroma, texture, and taste obtained the best formulation of ice cream with the addition of moringa leaf flour that is F1 compared to F2, F3, and F4, namely with a value of F1 52.86, F2 42.86, F3 42.01, F4 33.29, although when compared to F0 (ice cream control) the value is lower that is, 54.65. There is an increase in the protein content of ice cream with the addition of moringa leaf flour 10 g which is 0.0888 g, compared to without the addition of moringa leaf flour or 0 g of 0.0686g. ABSTRAK Kelor merupakan jenis pangan fungsional yang mengandung banyak zat gizi baik zat gizi makro maupun zat gizi mikro yang telah banyak digunakan dalam memerangi kekurangan gizi pada anak-anak dan upaya untuk meningkatkan sistem kekebalan tubuh dibanyak negara berkembang. Es krim merupakan makanan yang paling populer di dunia dan sangat digemari oleh semua kalangan masyarakat dikarenakan rasanya yang enak, teksturnya yang lembut dan mengandung zat gizi yang tinggi dan dapat menjadi salah satu media dalam perbaikan gizi. Untuk mengetahui daya terima dan analisis kandungan protein es krim dengan penambahan tepung daun kelor. Jenis penelitian ini adalah penelitian eksperimental dengan desain posttest one shot group desain yakni dilakukan menambahkan tepung daun kelor pada pembuatan es krim dengan beberapa konsentrasi. Penelitian menunjukkan bahwa daya terima panelis terhadap aspek warna, aroma, tekstur, dan aspek rasa dan hasil pembobotan nilai, formulasi terbaik es krim dengan penambahan tepung daun kelor yaitu F1 dibandingkan dengan F2, F3, dan F4, yakni dengan nilai F1 52,86, F2 42,86, F3 42,01, F4 33,29, meskipun jika dibandingkan dengan F0 (es krim krontrol) nilainya lebih rendah yakni, 54,65. Hasil analisis protein Es krim dengan penambahan tepung daun kelor meningkat dari 3,3% menjadi 4,1% hal ini terjadi setelah penambahan tepung daun kelor 5%. dari hasil penelitian daya terima terhadap aspek warna, aroma, tekstur, dan rasa diperoleh hasil formulasi terbaik es krim dengan penambahan tepung daun kelor yaitu F1 dibandingkan dengan F2, F3, dan F4, yakni dengan nilai F1 52,86, F2 42,86, F3 42,01, F4 33,29, meskipun jika dibandingkan dengan F0 (es krim kontrol) nilainya lebih rendah yakni, 54,65. Terdapat peningkatan kandungan protein es krim dengan penambahan tepung daun kelor 10 g yaitu 0,0888 g, dibandingkan dengan tanpa penambahan tepung daun kelor atau 0 g yaitu 0,0686 g.
Cicik Lestari, Sugeng Maryanto, Riva Mustika Anugrah
JURNAL GIZI DAN KESEHATAN, Volume 13, pp 161-167; https://doi.org/10.35473/jgk.v13i2.237

Abstract:
Cowpea is a type of legume in Indonesia but utilization not optimal. Cowpea can be used as a basic of making tempeh. The purpose of the study is to know the effect of fermentation on the nutrients of processed cowpea. The design of the study was Pra Eks/imen Design with Completely Randomized Design in laboratory to test nutrients which were repeated 3 times. Data analysis used SPSS (Statistical Product Service Solution) application. The measurement of carbohydrate used anthron method, crude fiber used refluks method, total protein used kjeldhal method, and fat used soxhlet method. Nutrients of boiled cowpea is carbohydrate content of 31,21%; crude fiber content of 13,94%; total protein content of 26,71% and fat content of 7,35%. Nutrients of cowpea tempeh is carbohydrate content of 26,71%; crude fiber content 17,21%; total protein content of 15,38% and fat content of 1,44%. There are not statistical different nutrients of boiled cowpea and tempeh cowpea, but different values
Suherman Rate, Kurnia Yusuf, Fitri Wahyuni
JURNAL GIZI DAN KESEHATAN, Volume 13, pp 146-154; https://doi.org/10.35473/jgk.v13i2.107

Abstract:
Overweight is a condition where the body experiences a buildup of fat in the body so that the body weight is outside the ideal limit. This study aims to determine whether the habit of snacking, fast food, physical activity is related to the incidence of overweight in elementary school children at SDN 18 Tumampua 1, Pangkep Regency. This type of research is an observational study using a cross sectional design. The results showed that there was a relationship between eating habits and the incidence of overweight with a p-value of 0.000, there was a relationship between fast food and overweight with a p value of 0.000, there was a relationship between physical activity and the incidence of overweight with a p-value of 0.000. The conclusion is based on the results of the study, namely the existence of snack habits, fast food, physical activity related to the incidence of overweight in elementary school children at SDN 18 Tumampua 1 Kab.Pangkep Abstrak Overweight merupakan kondisi dimana tubuh mengalami penumpukan lemak di dalam tubuh sehingga membuat berat badan berada di luar batas ideal. Penelitian ini bertujuan mengetahui apakah kebiasaan jajan, fast food, aktivitas fisik berhubungan dengan kejadian overweight pada anak sekolah dasar di SDN 18 Tumampua 1 Kab.Pangkep. Jenis penelitian ini adalah penelitian observasional dengan menggunakan desain cross sectional. Hasil penelitian menunjukkan adanya hubungan kebiasaan jajan dengan kejadian overweight dengan hasil nilai p 0.000, adanya hubungan makanan fast food dengan kejadian overweight dengan hasil nilai p 0.000, adanya hubungan aktivitas fisik dengan kejadian overweight dengan hasil nilai p 0.000. Kesimpulan berdasarkan hasil penelitian yaitu adanya kebiasaan jajan, fast food, aktivitas fisik berhubungan dengan kejadian overweight pada anak sekolah dasar di SDN 18 Tumampua 1 Kab.Pangkep
Fabiola Shania Alicia Rustiarini, Ibnu Malkan Bakhrul Ilmi, Sintha Fransiske Simanungkalit, Nanang Nasrullah
JURNAL GIZI DAN KESEHATAN, Volume 13, pp 66-85; https://doi.org/10.35473/jgk.v13i2.124

Abstract:
COVID-19 is currently a major health problem worldwide. Indonesia is one of the countries affected and is in the 21st position with the most positive cases of Covid in the world. Children who are exposed to the Covid-19 virus usually only cause mild symptoms or even cause no symptoms. This makes children a source of spreading the virus without realizing it. Therefore, education on how to prevent the transmission of Covid-19 (Clean and Healthy Living Behavior) is important to prevent children from being exposed to the Covid-19 virus and becoming a source of infection without realizing it. To determine the effect of comic education and leaflets on increasing the knowledge of parents of elementary school students about PHBS for preventing the transmission of the Covid-19 virus. This study used a quasy experimental design with a desaign pre-post test group design involving 68 parents of grade V students who were selected by cluster random sampling. Knowledge data collection is carried out online. There were differences in respondents' knowledge of the effect of comics education media use (p = 0,) and leaflets (p = 0,). There is an effect of nutrition education through comics and leaflets on knowledge about Clean and Healthy Living Behaviors in parents of elementary school students as an effort to prevent the transmission of the Covid-19 virus. ABSTRAK COVID-19 saat ini menjadi masalah kesehatan paling utama di seluruh dunia. Indonesia menjadi salah satu negara yang terdampak dan menduduki posisi ke-21 dengan kasus positif Covid terbanyak di dunia. Anak yang terpapar virus Covid-19 biasanya hanya menimbulkan gejala ringan atau bahkan tidak menimbulkan gejala. Hal ini membuat anak menjadi sumber penyebaran virus tanpa disadari. Oleh sebab itu, edukasi mengenai cara pencegahan penularan Covid-19 (Perilaku Hidup Bersih dan Sehat) penting dilakukan untuk mencegah anak terpapar virus Covid-19 dan menjadi sumber penularan tanpa disadari. Mengetahui efektivitas edukasi komik dan leaflet terhadap peningkatan pengetahuan orangtua siswa sekolah dasar mengenai PHBS untuk pencegahan penularan virus Covid-19. Penelitian ini menggunakan desain quasy experimental dengan rancangan pre-post test group desaign dengan melibatkan 68 orangtua siswa kelas V yang dipilih dengan cluster random sampling. Pengambilan data pengetahuan dilakukan secara daring. Ada perbedaan pengetahuan responden terhadap efektivitas penggunaan media edukasi komik (p=0,) dan leaflet (p=0,). Media komik dan leaflet dapat meningkatkan pengetahuan mengenai Perilaku Hidup Bersih dan Sehat pada orangtua siswa sekolah dasar sebagai upaya pencegahan penularan virus Covid-19. Media leaflet dianggap lebih efektif karena peningkatan rata-rata skornya lebih besar daripada kelompok media komik.
Stephanie Victoria Ester, Ratih Kurniasari
JURNAL GIZI DAN KESEHATAN, Volume 13, pp 97-106; https://doi.org/10.35473/jgk.v13i2.215

Abstract:
Anemia is a disease caused by the body's lack of iron nutrients, particularly in the formation of hemoglobin. The National Institute of Health, a 2011 case in which teenage girls are suffering from anemia (10 to 19 years old). In the case of anemia where HB does not reach the baseline, it can cause stress and persistent fatigue in the body's organs and can be inhibited activities and decreased of academic achievement. The purpose of this study is to find out the impact of nutrition education for students by providing printed media and audio-visual media relating with anemia, such as impact to knowledge, attitudes and behaviors. The method used by author in this study is some literatures related subject of this study. The result of the study will help the readers and health workers to know and able to make nutrition education plan about anemia for teenage girls by using printed media and audio-visual media. ABSTRAK Anemia adalah penyakit yang disebabkan oleh kekurangan asupan zat gizi besi didalam tubuh, di mana hal ini sangat berperan dalam membentuk hemoglobin. Remaja putri (10-19 tahun) merupakan salah satu kelompok yang sangat rawan mengalami anemia (National Institute of Health, 2011). Dalam kasus anemia, apabila kandungan Hb tidak mencapai batas normal dapat menyebabkan komplikasi seperti stres dan kelelahan yang berkelanjutan sehingga dapat menimbulkan rasa lelah, letih dan lesu pada organ tubuh dan mengganggu aktifitas serta mengakibatkan penurunan prestasi belajar. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh pemberian pendidikan gizi dengan menggunakan media cetak dan media audio-visual pada siswa terkait pengetahuan, sikap dan perilaku mengenai anemia. Metode yang digunakan penulis dalam kajian ini yaitu dengan menggunakan beberapa literatur yang berkaitan dengan judul kajian ini. Hasil dan pembahasan kajian ini akan membantu pembaca serta tenaga kesehatan dalam membuat perencanaan edukasi gizi kepada remaja putri mengenai anemia menggunakan media cetak dan media audio-visual.
Villda Nuraini Ade Saputri, Musdalifah, Nur Nikmah Siradjuddin, Suherman, H. Syafruddin
JURNAL GIZI DAN KESEHATAN, Volume 13, pp 122 127-122 127; https://doi.org/10.35473/jgk.v13i2.220

Abstract:
In nutrition science known five kinds of nutrients, namely carbohydrates, fats, proteins, minerals, and vitamins. The purpose of this research aims to know the influence of balanced nutrition counseling on knowledge and attitudes in the community during the new normal in the village temmappaduae District Marussu Maros district. This type of research using Quasi Experimental design of this study using Pretest Group Design Posttest observations were conducted at the beginning (pretest) and end of activity (posstest). The rate of change in respondents was seen by comparing the pretest results with the posstest. The population in this study was the community in Sinar Griya Cendana Housing, as many as 250 families and sampling techniques using purposive sampling techniques. Measurements are performed using questionnaire sheets. The results showed that there was an increase in knowledge and attitude of balanced nutrition counseling before and after being given balanced nutrition counseling. Wilcoxon Signed Ranks Test statistical test results show that balanced nutrition counseling has a significant influence on the knowledge and attitude of balanced nutrition counseling in the community of sandalwood rays aimed at results (p<0.05). Based on these results, it can be concluded that there is an influence of balanced nutrition counseling on the knowledge and attitudes of the community during the new normal in dessa temmappaduae Marussu Subdistrict Maros. ABSTRAK Dalam ilmu gizi dikenal lima macam zat gizi, yaitu karbohidrat, lemak, protein, mineral, dan vitamin. Tujuan Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh penyuluhan gizi seimbang terhadap pengetahuan dan sikap pada masyarakat selama new normal di desa temmappaduae kecamatan Marussu kabupaten Maros. Jenis penelitian ini menggunakan Quasi Eksperiment desain penelitian ini menggunakan Desain Grup Pretest Posttest observasi dilakukan pada awal (pretest) dan akhir kegiata (posstest). Tingkat perubahan responden dilihat dengan membandingkan antara hasil pretest dengan posstest. Populasi pada penelitian ini adalah masyarakat di Perumahan Sinar Griya Cendana, sebanyak 250 kk dan teknik pengambilan sampel menggunakan teknik purposive sampling. Pengukuran dilakukan menggunakan lembar kuesioner. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terjadi peningkatan pengetahuan dan sikap penyuluhan gizi seimbang sebelum dan sesudah diberikan penyuluhan gizi seimbang. Hasil uji statistik Wilcoxon Signed Ranks Test menunjukkan bahwa penyuluhan gizi seimbang memiliki pengaruh yang signifikan terhadap pengetahuan dan sikap penyuluhan gizi seimbang pada masyarakat sinar griya cendana yang ditujukan dengan hasil (p<0,05). Berdasarkan hasil tersebut, dapat disimpulkan bahwa terdapat pengaruh penyuluhan gizi seimbang terhadap pengetahuan dan sikap masyarakat selama new normal di dessa temmappaduae Kecamatan Marussu Kabupaten Maros.
Sarah Grasya Elisabeth Pasaribu, Ratih Kurniasari
JURNAL GIZI DAN KESEHATAN, Volume 13, pp 107-112; https://doi.org/10.35473/jgk.v13i2.216

Abstract:
Diabetes Mellitus Type 2 is a chronic non-communicable disease characterized by an increase in blood sugar levels. Typical symptoms of Type 2 Diabetes Mellitus consist of polyuria, polydipsia, polyphagia and weight loss for no apparent reason. Diabetes Mellitus cannot be cured but its severity can be controlled by adopting a good lifestyle such as taking medication regularly, doing physical activity and adhering to a recommended diet such as the 3J diet. One way to increase the compliance of the 3J diet in people with Diabetes Mellitus Type 2 can be done by providing education through both print and audio-visual media. The aim was to determine the level of adherence of the 3J diet to the adherence of the 3J diet. The author collects data or sources related to a particular topic that can be obtained from various sources such as journals, books, the internet, and other libraries. Based on 4 reviewed journals, it was found that people with Type 2 Diabetes Mellitus have the potential to increase knowledge and compliance of patients with Diabetes Mellitus Type 2 to the 3J diet. The use of media, either print media or through applications that can increase the knowledge of Type 2 Diabetes Mellitus sufferers, is very well given and educated to patients with Type 2 Diabetes Mellitus. ABSTRAK Diabetes Mellitus Type 2 merupakan salah satu Penyakit Tidak Menular yang bersifat kronik ditandai dengan peningkatan kadar gula dalam darah. Gejala khas Diabetes Mellitus Tipe 2 terdiri dari poliuria, polidipsia, polifagia dan berat badan menurun tanpa sebab yang jelas. Diabetes Mellitus tidak dapat disembuhkan tetapi tingkat keparahannya dapat dikendalikan dengan menerapkan pola hidup yang baik seperti mengonsumsi obat – obatan secara teratur, melakukan aktifitas fisik dan mematuhi pola diet yang disarankan seperti diet 3J. Salah satu cara untuk meningkatkan kepatuhan diet 3J pada penderita Diabetes Mellitus Type 2 dapat dilakukan dengan memberikan edukasi melalui media baik media cetak maupun melalui media aplikasi. Adapun tujuannya untuk mengetahui tingkat kepatuhan diet 3J terhadap kepatuhan diet 3J. Penulis mengumpulkan data atau sumber yang berhubunga pada sebuah topik tertentu yang bisa didapat dari berbagai sumber seperti jurnal, buku, internet, dan pustaka lain. Berdasarkan 4 jurnal yang di review, didapatkan hasil bahwa penderita Diabetes Mellitus type 2 memiliki potensi untuk meningkatkan pengetahuan dan kepatuhan pasien penderita Diabetes Mellitus Type 2 terhadap diet 3J. Penggunaan media baik itu media cetak atau melalui aplikasi yang dapat menambah pengetahuan penderita Diabetes Mellitus Type 2 sangat baik diberikan dan diedukasi kepada pasien penderita Diabetes Mellitus Tipe 2.
Sisca Ulivia, Sugeng Maryanto, Indri Mulyasari
JURNAL GIZI DAN KESEHATAN, Volume 13, pp 168-176; https://doi.org/10.35473/jgk.v13i2.238

Abstract:
Petai (Parkia speciosa Hassk.) is a plant commonly grown and consumed in Indonesia. Indonesian people usually consume Petai in fresh or processed form such as boiled and fried which can be used as an alternative sources of energy and potassium. This research aim to analyze protein, fat, carbohydrate and potassium content in Petai with various food processing methods This study used descriptive analytic design. The objects of this research used Petai were obtained from Kedung District, Jepara Regency, Central Java Province. This treatment used on this research were are fresh Petai, boiled Petai and fried Petai. Processing techniques performed were boiling and frying Petai with the skin until the processing was complete, stripping the skin of Petai seeds, next step is the Petai seeds were tested for nutritional content, analysis of nutrient protein content by kjeldahl method, fat content by soxhlet method, carbohydrate content by difference method and potassium content by Atomic Absorption Spectrometry method. Analysis of nutrient content was conducted at Chemistry Laboratory, Satya Wacana Cristian University, Salatiga.The highest protein content was found in boiled Petai (11.59g / 100g), and the lowest was found in fried Petai (4.96g / 100g). The highest fat content was found in fried Petai (0.75g / 100g), and the lowest was found in fresh Petai (0.15g / 100g). The highest carbohydrate content was found in fried Petai (80g / 100g), and the lowest was found in boiled Petai (63.7g / 100g). The highest potassium content was found in boiled Petai (143mg / 100g), and the lowest was found in fried Petai (106mg / 100g) he highest protein and potassium content was found in boiled Petai, while the highest fat and carbohydrate content was found in fried Petai
Heni Pranoto, Masruroh
JURNAL GIZI DAN KESEHATAN, Volume 13, pp 113-121; https://doi.org/10.35473/jgk.v13i2.219

Abstract:
Dating violence is one of the crucial issues at a global level facing adolescents and young adults. Dating violence includes physical, emotional, verbal, social, and sexual aggression behaviors aimed at controlling and hurting a partner. The cause of the high rate of dating violence is that many women do not understand the forms of physical, psychological and sexual violence in love.This study aims to find the description of dating violence on youth. This was a qualitative study with phenomenological approach. Respondents were 5 youth aged 18-21 years and had been dating. The data sampling used snowball sampling technique, and data analysis used the kualitatif method. The results of this study indicate that the types of dating violence include jealousy, interrogation, threats, being called by unwelcome term, promised to call, forced kissing, touching, sexual intercourse, slapped and pinched. From these results, it can be concluded that violence in dating is still common, whether it is emotional violence, sexual violence, or physical violence. The youth are expected to have good communication with their partners and have more assertiveness in taking attitudes, dare to refuse and ask for help if they experience acts of violence.
Nastitie Cinintya Nurzihan, Oktavina Permatasari, Aryanti Setyaningsih
JURNAL GIZI DAN KESEHATAN, Volume 13, pp 128-135; https://doi.org/10.35473/jgk.v13i2.221

Abstract:
The Exploring the potential of local food ingredients is carried out as an effort to achieve national food security. The high use of flour as a raw material in the food industry requires the import of wheat-based flour that does not grow in tropical climates such as Indonesia. Efforts to reduce dependence on wheat flour need a source of flour from local food ingredients. One of the tubers that can be used in making flour is red beet which is commonly used as a natural dye. Lack of utilization of red beet which resulted in the abundance of red beet. Sweet bread is one type of food that is very popular with various levels of society by modifying the substitution of wheat flour with red beet flour. The research was conducted with an experimental type of research using a randomized design with 3 treatment groups. The results showed that there was a significant difference in the substitution of red beet flour with concentrations of 0%, 15% and 30% and the results of the proximate test showed that there was no significant difference in the nutritional value of protein, while there was a significant difference in the total carotene content in sweet bread with substitution. red beet flour. Based on the results of the study, it was found that the optimization of the use of red beet as flour can be done as a potential local food alternative. ABSTRAK Penggalian potensi bahan pangan lokal dilakukan sebagai upaya dalam pencapaian ketahanan pangan nasional. Tingginya penggunaan tepung sebagai bahan baku dalam industri pangan mengharuskan adanya import tepung terigu yang berbasis gandum yang tidak tmbuh di wilayah iklim tropis seperti halnya Indonesia. Upaya dalam mengurangi ketergantungan dengan tepung terigu perlu adanya sumber tepung dari bahan pangan lokal. Salah satu umbi yang dapat digunakan dalam pembuatan tepung adalah bit merah yang biasa digunakan sebagai pewarna alami. Kurangnya pemanfaatan bit merah yang mengakibatkan melimpahnya bit merah. Roti manis menjadi salah satu jenis makanan yang sangat digemari berbagai lapisan masyarakat dengan melakukan modifikasi pada substitusi tepung terigu dengan tepung bit merah. Penelitian dilakukan dengan jenis penelitian eksperimental menggunakan rancangan acak kelompok 3 perlakuan. Hasil menunjukkan bahwa adanya perbedaan nyata pada substitusi tepung bit merah dengan konsentrasi 0%, 15% dan 30% serta hasil uji proksimat diketahui bahwa tidak ada perbedaan secara signifikan nilai gizi protein, sedangkan ada perbedaan secara signifkan pada kandungan total karoten pada roti manis dengan substitusi tepung bit merah. Berdasarkan hasil penelitian didapatkan bahwa optimalisasi penggunaan bit merah sebagai tepung dapat dilakukan sebagai alternatif pangan lokal yang berpotensi.
Nur Wulan, Sugeng Maryanto, Indri Mulyasari
JURNAL GIZI DAN KESEHATAN, Volume 13, pp 155-160; https://doi.org/10.35473/jgk.v13i2.236

Abstract:
Red beans is one of the local foods that is included in the type of legume and has a high nutrition content of vegetable protein and low fat. Red beans can be processed into red beans tempeh, with a fermentation time treatment that can affect protein and fat levels. This research aims to describes the protein and fat content in fermented red beans tempeh for 3 days. This study uses Experimental Design research using a one-shot case study design, which is to provide treatment time of red beans tempeh for 3 days, each 3 pieces of tempeh / day with each treatment using 100 grams of red beans mixed with 0.1 gram of yeast tempeh Rhizopus sp. Tempeh that has been formed will be analyzed for the nutritional content of protein and fat.The result showed that the protein content in red beans tempeh on day 2 contained as much protein (13.64 grams), on day 3 (13.64 grams) and on day 4 (9.64 grams). While the fat content in red beans tempeh on day 2 is (0.62 grams), day 3 (1.11 grams) and day 4 (1.14 grams). The protein and fat content in red beans tempeh, the longer the fermentation, the more it will affect the nutrients.
Arwin Muhlishoh, Aryanti Setyaningsih, Zuhria Ismawanti
JURNAL GIZI DAN KESEHATAN, Volume 13, pp 136-145; https://doi.org/10.35473/jgk.v13i2.231

Abstract:
Breadfruit flour is a local food ingredient that can be used as a substitute for flour with a low glycemic index content, as well as high levels of starch, amylose and resistant starch. While stevia is a source of natural sweeteners with a sweetness level of 200-300 times sweeter than cane sugar. Both ingredients are safe for patients with diabetes mellitus. This study was conducted to evaluate the nutritional and organoleptic content of biscuits substituted with breadfruit and stevia flour. Nutritional content was carried out by proximate test. Meanwhile, the organeleptic test was carried out by the hedonic test. The study was conducted using a completely randomized design with four proportion factors adding 15-50% breadfruit flour, while 8 grams of stevia was added. There was a significant difference in the average organoleptic test for each treatment of breadfruit flour and stevia biscuit formulations (p 0.05). There was no significant difference in the average chemical quality test (moisture, ash, protein, fat, carbohydrate, and crude fiber content) in each treatment group of breadfruit flour and stevia biscuit formulations (p>0.05). Biscuit F1 is the product of choice in the manufacture of biscuits substituted with breadfruit flour and stevia with nutritional and organoleptic content close to the control. ABSTRAK Tepung sukun merupakan bahan pangan lokal yang dapat digunakan sebagai pengganti terigu dengan kandungan indeks glikemik rendah, serta kadar pati, amilosa dan pati resisten yang tinggi. Sedangkan stevia adalah sumber bahan pemanis alami dengan tingkat kemanisan 200-300 kali lebih manis dari pada gula tebu. Kedua bahan tersebut aman untuk pasien diabetes mellitus. Penelitian ini dilakukan untuk mengevaluasi kandungan gizi dan organoleptik pada biskuit yang disubtitusi tepung sukun dan stevia. Kandungan gizi dilakukan dengan uji proksimat. Sedangkan uji organeleptik dilakukan dengan uji hedonik. Penelitian dilakukan menggunakan Rancangan Acak Lengkap dengan empat faktor proposi penambahan tepung sukunsebanyak 15 – 50%, sedangkan stevia ditambahkan sebesar 8 gram. Terdapat perbedaan yang signifikan rata-rata uji organoleptik pada tiap perlakuan formulasi biskuit tepung sukun dan stevia (p0,05). Tidak terdapat perbedaan yang signifikan rata-rata uji mutu kimia (kadar air, abu, protein, lemak, karbohidrat, dan serat kasar) pada tiap kelompok perlakuan formulasi biskuit tepung sukun dan stevia (p>0,05). Biskuit F1 merupakan produk terpilih pada pembuatan biskuit subtitusi tepung sukun dan stevia dengan kandungan gizi dan organoleptik mendekati kontrol.
Mutiah Setiawati, Mitro Subroto
JURNAL GIZI DAN KESEHATAN, Volume 13, pp 1-11; https://doi.org/10.35473/jgk.v13i2.108

Abstract:
Nutritional Adequacy Rate (RDA) is the level of consumption of various essential nutrients with a value content that is used to meet the nutritional needs of an average healthy person living in a country. The AKG determination in Indonesia is based on the provisions regarding body weight for each gender, age and periodic physical activity according to the population survey. Where nutrition is a factor in child development. Children in prison have the right to obtain nutrition in accordance with the nutritional adequacy standard of 2,240 kcal / day. This has been regulated in Permenkumham No. 40 of 2017 concerning Food Administration for Prisoners, Children and Prisoners. The fulfillment of nutritional value is based on the use of food ingredients for 10 days / child. This juridical normative research focuses on literature study with three legal materials, namely primary legal materials using regulations regarding AKG standards, secondary legal materials with journals, books, research results, and documents and tertiary legal materials in the form of legal dictionaries, encyclopedias. The results showed that prisons have provided children's rights in the form of fulfillment of proper food, but it is still necessary to provide nutritional needs based on differences in children's nutritional status in order to obtain balanced nutrition according to the AKG standards that have been set so that they do not experience errors due to excess nutrition (overnutrition) and malnutrition (undernutrition). Abstrak Angka Kecukupan Gizi (AKG) merupakan tingkatan konsumsi berbagai zat gizi esensial dengan kandungan nilai yang digunakan sebagai pemenuhan kebutuhan gizi rata-rata orang sehat yang hidup disuatu negara. Penetapan AKG di Indonesia berdasarkan pada ketentuan mengenai berat badan untuk setiap gender, umur dan aktifitas fisik secara berkala sesuai dengan survei penduduk. Dimana gizi menjadi faktor dalam tumbuh kembang anak. Anak di dalam lapas berhak memperoleh gizi sesuai dengan standar kecukupan gizi sebesar 2.240 kkal/hari. Hal ini telah diatur dalam Permenkumham No 40 Tahun 2017 tentang Penyelenggaraan Makanan bagi Tahanan, Anak dan Narapidana. Pemenuhan nilai gizi didasarkan pada penggunaan bahan makanan untuk 10 hari/anak. Penelitian ini bersifat yuridis normatif yang memfokuskan pada studi kepustakaan dengan tiga bahan hukum yaitu bahan hukum primer menggunakan peraturan-peraturan mengenai standar AKG, bahan hukum sekunder dengan jurnal, buku, hasil penelitian, dan dokumen serta bahan hukum tersier berupa kamus hukum, ensiklopedia. Hasil penelitian menunjukkan bahwa lapas sudah memberikan hak anak berupa pemenuhan makanan yang layak, namun masih perlunya pemberian kebutuhan gizi berdasarkan perbedaan status gizi anak yang agar diperoleh gizi yang seimbang sesuai dengan standar AKG yang telah ditetapkan sehingga tidak mengalami kesalahan akibat kelebihan gizi (overnutrition) dan kekurangan gizi (undernutrition).
, Icha Dian Nurcahyani, Kurnia Yusuf, Fitri Wahyuni, St Mashitah
JURNAL GIZI DAN KESEHATAN, Volume 13, pp 22-30; https://doi.org/10.35473/jgk.v13i2.122

Abstract:
Anemia suppresses a condition where hemoglobin rates in the blood is lower than its normal value which is commonly caused by a lack of some gizi nutrients in foods that our body desperately needs. According to world Health Organization (WHO) data, anaemia in putri teenagers is still high enough, the world's anemic crossings range from 40-88%. The purpose of this scrutiny to verify whether there is a video media complimentary influence on the knowledge and attitude of anaemia in teenage daughter SMPN 1 Turikale. The type of scrutiny used is quasi Experimental ruin scrutiny using the normal reinsuance plan design also we mentioned with the term "One Group Pre and Posttest". The population on this scrutiny is the SMPN 1 Turikale siswi, a sample intake on this scrutiny using Purposive Sampling techniques with a total of 40 siswis. This review shows the increased knowledge and attitude of the graduates after completion using video media. Wilcoxon Signed Rank Test test shows that compilation using video media has meaningful influence on the knowledge and attitude of graduates about anemia with the knowledge results of p=0,000 (p<0,05) and attitudes of 0,001 (p<0,05). There is a influence on the influence of compilation using video media against knowledge and attitudes about anaemia on the teenage daughter of SMPN 1 Turikale 2020. ABSTRAK Anemia merupkan suatu keadaan dimana kadar hemoglobin didalam darah lebih rendah dari nilai normalnya yang biasa diakibatkan oleh kurangnya beberapa zat gizi pada makanan yang sangat diperlukan oleh tubuh kita. Menurut data World Health Organization (WHO), anemia pada remaja putri masih cukup tinggi, persentase anemia di dunia berkisar antara 40-88%. Tujuan penelitian ini untuk menetahui apakah ada pengaruh penyuluhan menggunakan media video terhadap pengetahuan dan sikap tentang anemia pada remaja putri SMPN 1 Turikale. Jenis penelitian yang digunakan adalah Quasi Eksperimen desain penelitian ini menggunakan desain rancangan perlakuan ulang biasa juga kita sebut dengan istilah “One Group Pre and Posttest”. Populasi pada penelitian ini adalah siswi SMPN 1 Turikale, Pengambilan sampel pada penelitian ini menggunakan teknik Purposive Sampling dengan total samel 40 siswi. Penelitian ini menunjukkan peningkatan pengetahuan dan sikap siswi setelah dilakukan penyuluhan menggunakan media video. Hasil uji Wilcoxon Signed Rank Test menunjukkan bahwa penyuluhan menggunakan media video memiliki pengaruh yang bermakna terhadap pengetahuan dan sikap siswi tentang anemia dengan hasil pengetahuan p=0,000 (p<0,05) dan sikap 0,001 (p<0,05). Ada pengaruh penyuluhan menggunakan media video terhadap pengetahuan dan sikap tentang anemia pada remaja putri SMPN 1 Turikale tahun 2020.
Oktavina Permatasari, Nastitie Cinintya Nurzihan, Arwin Muhlishoh
JURNAL GIZI DAN KESEHATAN, Volume 13, pp 12-21; https://doi.org/10.35473/jgk.v13i2.121

Abstract:
This research is an experimental study that aims to make a cookies formulation of tempeh flour substituted with red bit flour. The experimental design used was a completely randomized design with subtitution of red bit flour to tempeh flour cookies with different concentrations. The process of making cookies includes mixing flour, mixing margarine, egg, refined sugar then process to mixer, molding, and baking using the oven. The organoleptic test (preference) involved 30 semi-trained panelists. Tempe flour cookies with substitution of red bit flour with 4 formulations, formulation 1 with 0% concentration (control), formulation 2 with 12% substitution of red bit flour, formulation 3 with 15% red bit flour substitution, and formulation 4 with 18% red bit flour substitution. %. The results of the organoleptic assessment scores by panelists were analyzed using Excel 2010 and SPSS with descriptive tests. Based on the results of the analysis, it was found that cookies formulation 2 was the most preferred by panelists in terms of taste, color, smell, and texture. Based on the test of antioxidant activity of cookies formulation 2 30690 µg/mL, its means that it still potential as an antioxidant substance weak as classified. ABSTRAK Penelitian ini merupakan penelitian eksperimen yang bertujuan untuk membuat formulasi cookies tepung tempe yang disubstitusi dengan tepung bit merah. Rancangan percobaan yang digunakan adalah rancangan acak lengkap dengan perlakuan penambahan tepung bit merah pada cookies tepung tempe dengan konsentrasi yang berbeda. Proses pembuatan cookies meliputi pencampuran tepung, pengocokan margarin, telur, gula halus dengan mixer, pencetakan, dan pemanggangan menggunakan oven. Uji organoleptik (kesukaan) melibatkan 30 panelis semi terlatih. Cookies tepung tempe dengan substitusi tepung bit merah dengan 4 formulasi yaitu formulasi 1 konsentrasi 0% (kontrol), formulasi 2 dengan 12% substitusi tepung bit merah, formulasi 3 dengan substitusi tepung bit merah 15%, dan formulasi 4 dengan susbtitusi tepung bit merah 18%. Hasil skor penilaian organoleptik oleh panelis dianalisis menggunakan Excel 2010 dan SPSS dengan uji deskriptif. Berdasarkan hasil analisis didapatkan cookies formulasi 2 adalah yang paling disukai oleh panelis dari segi rasa, warna, aroma, dan tekstur. Berdasarkan hasil uji aktivitas antioksidan cookies formulasi 2 yaitu 30690 µg/mL yang artinya masih berpotensi sebagai zat antioksidan namun tergolong sangat lemah.
A.Mumba'Ul Mukhniyati Mumba, Kurnia Yusuf, St.Masithah, Musdalifah, Musliha Mustary
JURNAL GIZI DAN KESEHATAN, Volume 13, pp 57-65; https://doi.org/10.35473/jgk.v13i2.210

Abstract:
Vegetables and fruits are some useful food source for health, development, and growth. So those are very important to be consumed especially for children. One of the causes the lack consumption of vegetables and fruit is the lack children knowledge that will have an impact on their behavior. One of the efforts can be made is through nutrition education, because changes in one's knowledge can be started by providing information. This research aims to find out the influence of edutainment-based nutrition education on the knowledge and behavior of vegetables and fruits consumption in sdn 5 Barandasi students. This type of research is the Quasi Experiment,designed using a one group pretest-posttest design. The population in this study was all grade VI students at SD Negeri 5 Barandasi, as many as 73 students and sampling techniques using Purposive Sampling technique. Measurements are made using questionnaire sheets. The statistical test used is the wilcoxon signed rank test because the data is not distributed normally. The results showed that there was an increase in the average knowledge and behavior of vegetables and fruits consumption before and after being given edutainment-based nutrition education. Wilcoxon Signed Ranks Test statistical test results show that edutainment-based nutrition education has a significant influence on vegetables and fruits consumption knowledge in SDN 5 Barandasi students aimed at results (p value 0,003<0,05) and vegetables and fruits consumption behavior in SDN 5 Barandasi students aimed at results (p value 0,004<0,05).There is an influence of edutainment-based nutrition education on the knowledge and behavior of vegetables and fruits consumption in SDN 5 Barandasi students. Abstrak Sayur dan buah merupakan sumber pangan yang bermanfaat bagi kesehatan, perkembangan, dan pertumbuhan maka dari itu sangat penting dikonsumsi terutama bagi anak-anak. Salah satu penyebab kurangnya konsumsi sayur dan buah adalah kurangnya pengetahuan anak yang akan berdampak pada perilaku anak. Salah satu upaya dapat dilakukan yaitu melalui edukasi gizi, karena perubahan pengetahuan sesorang dapat dimulai dengan memberikan informasi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh edukasi gizi berbasis edutainment terhadap pengetahuan dan perilaku konsumsi sayur dan buah pada siswa SDN 5 Barandasi. Jenis penelitian ini adalah Quasi Experiment, dengan rancangan menggunakan desain one group pretest-posttest. Populasi pada penelitian ini adalah semua siswa(i) kelas VI di SD Negeri 5 Barandasi, sebanyak 73 siswa dan teknik pengambilan sampel menggunakan teknik Purposive Sampling. Pengukuran dilakukan menggunakan lembar kuesioner. Uji statistik yang digunakan adalah uji wilcoxon signed rank test karena data tidak terdistribusi normal. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terjadi peningkatan rerata pengetahuan dan perilaku konsumsi sayur dan buah sebelum dan sesudah diberikan edukasi gizi berbasis edutainment. Hasil uji statistik wilcoxon signed ranks test menunjukkan bahwa edukasi gizi berbasis edutainment memiliki pengaruh yang signifikan terhadap pengetahuan konsumsi sayur dan buah pada siswa SDN 5 Barandasi yang ditujukan dengan hasil (p value 0,003<0,05) dan perilaku konsumsi sayur dan buah pada siswa SDN 5 Barandasi yang ditujukan dengan hasil (p value 0,004<0,05). Terdapat pengaruh edukasi gizi berbasis edutainment terhadap pengetahuan dan perilaku konsumsi sayur dan buah pada siswa SDN 5 Barandasi.
Aulya Marthadina Suciana Suciana, Nazhif Gifari, Laras Sitoayu, Rachmanida Nuzrina, Dudung Angkasa
JURNAL GIZI DAN KESEHATAN, Volume 13, pp 31-42; https://doi.org/10.35473/jgk.v13i2.125

Abstract:
An athlete is required to always maintain his physical fitness. Fitness is one indicator in determining a person's health, especially for an athlete. The fitter a person is, the healthier that person will be. This study aims to analyze the relationship between the level of macro nutrient adequacy, nutritional status and physical activity on the badminton athletes in PB Jaya Raya club. This study used a quantitative research design with a cross sectional study design and a sample of 32 athletes. Data obtained through online google form, namely data on carbohydrate, protein, fat intake with a 3x24 hour food record, nutritional status with BMI/U and Physical activity using the IPAQ questionnaire sheet. Data analysis used the Spearman Rank Correlation Test. As many as 28 (87.5%) of respondents had insufficient levels of carbohydrate adequacy, and as many as 31 (96.9%) of respondents had a higher level of protein sufficiency as well as an adequate level of fat 31 (96.9%) of respondents had sufficient levels of sufficiency of excess fat. It is known that 19 (59.4%) respondents have a moderate level of physical activity. And it is known that as many as 25 (78.1%) respondents are fit. There was no significant relationship between all research variables (p≥0,05). The conclusion of this study shows that there is no relationship between the level of carbohydrate adequacy, protein adequacy level, fat adequacy level, nutritional status and physical activity on athletes fitness (p≥0,05). There is no significant relationship between the adequacy level of macro nutrients, nutritional status and physical activity on the fitness of badminton athletes. Abstrak Seorang atlet dituntut untuk selalu menjaga kebugaran jasmaninya. Kebugaran adalah salah satu indikator untuk menentukan derajat kesehatan seseorang, terutama untuk seorang atlet. Semakin bugar seseorang maka semakin sehat juga orang tersebut. Penelitian ini bertujuan menganalisis hubungan tingkat kecukupan zat gizi makro, status gizi dan aktivitas fisik terhadap kebugaran pada atlet bulutangkis yang berada di klub PB Jaya Raya. Penelitian ini menggunakan jenis penelitian kuantitatif dengan desain penelitian cross sectional dan sampel berjumlah 32 atlet. Data diperoleh melalui online google form yaitu data asupan karbohidrat, protein, lemak dengan food record 3x24 jam, status gizi dengan IMT/U dan aktivitas fisik dengan lembar kuesioner IPAQ. Analisis data menggunakan uji Korelasi Rank Spearman. Sebanyak 28 (87,5%) responden memiliki tingkat kecukupan karbohidrat yang kurang, serta sebanyak 31 (96,9%) responden memiliki tingkat kecukupan protein yang lebih begitu pun dengan tingkat kecukupan lemak 31 (96,9%) responden memiliki tingkat kecukupan lemak yang berlebih. Diketahui sebanyak 19 (59,4%) responden memiliki tingkat aktivitas fisik sedang. Serta diketahui bahwa sebanyak 25 (78,1%) responden bugar. Tidak ada hubungan yang signifikan pada seluruh variabel penelitian (p≥0,05). Kesimpulan dari penelitian ini menunjukkan bahwa tidak adanya hubungan antara tingkat kecukupan karbohidrat, tingkat kecukupan protein, tingkat kecukupan lemak, status gizi dan aktivitas fisik terhadap kebugaran atlet (p ≥ 0,05). Tidak ada hubungan yang bermakna antara tingkat kecukupan zat gizi makro, status gizi dan aktivitas fisik terhadap kebugaran atlet bulutangkis.
Arie Dwi Alristina, Rossa Kurnia Ethasari, Dewinta Hayudanti
JURNAL GIZI DAN KESEHATAN, Volume 13, pp 43-56; https://doi.org/10.35473/jgk.v13i2.126

Abstract:
Various kinds of health problems that commonly occur in restaurants include food poisoning and diarrhea outbreaks caused by negligence in the process of organizing food. Therefore, the fulfillment of food hygiene and sanitation is needed in testing the feasibility of organizing food according to the provisions stipulated based on Permenkes RI No. 1096 / Menkes / PER / VI / 2011 concerning Jasaboga Sanitation Hygiene. This research was conducted to assess the feasibility of serving food in a restaurant. The study was conducted descriptively through an experimental and observational design. The instrument used was a physical test by interview and observation as well as laboratory test of food samples and tableware. Physical test includes requirements for food hygiene and sanitation consisting of building elements, sanitation facilities, personnel / handlers, equipment and food. The results of the feasibility assessment at the Jibsteak Restaurant were 70.08%, where the eligibility standard for the A3 class restaurants was 74%. This means that the restaurant has not met the feasibility of physically organizing food. Likewise, the results of laboratory tests on eating utensils and food were still found to be contaminated with E. coli bacteria. This means that the restaurant also has not met the eligibility standards by laboratory tests which require the E. coli germ count 0 / gr of food samples. ABSTRAK Berbagai macam masalah kesehatan yang biasa terjadi di rumah makan diantaranya adalah keracunan makanan dan wabah penyakit diare yang diakibatkan karena kelalaian dalam proses penyelenggaraan makanan. Oleh karena itu terpenuhinya higiene dan sanitasi makanan sangat diperlukan dalam uji kelaikan penyelenggaraan makanan sesuai ketentuan yang diatur dalam Permenkes RI No. 1096/Menkes/PER/VI/2011 tentang Higiene Sanitasi Jasaboga. Penelitian ini bertujuan menilai kelaikan penyelenggaraan makanan di rumah makan. Metode: Penelitian dilakukan secara deskriptif melalui pendekatan analisa kualitatif. Instrumen yang digunakan adalah pemeriksaan fisik dengan wawancara dan observasi serta pemeriksaan laboratorium terhadap sampel makanan dan peralatan makan. Hasil: Pemeriksaan fisik meliputi persyaratan higiene dan sanitasi makanan yang terdiri atas unsur bangunan, fasilitas sanitasi, ketenagaan/penjamah, peralatan dan makanan. Hasil penilaian kelaikan pada Rumah Makan Jibsteak sebesar 70,08% dimana standar kelaikan untuk rumah makan golongan A3 sebesar 74%. Hal ini berarti rumah makan tersebut belum memenuhi kelaikan penyelenggaraan makanan secara fisik. Begitu pula hasil pemeriksaan laboratorium pada peralatan makan dan makanan masih ditemukan kontaminasi bakteri E. coli. Hal ini berarti rumah makan tersebut juga belum memenuhi standar kelaikan secara pemeriksaan laboratorium yang mensyaratkan angka kuman E. coli 0/gr sampel makanan.
Erwin Indayanti, Sugeng Maryanto, Purbowati
JURNAL GIZI DAN KESEHATAN, Volume 13, pp 104-110; https://doi.org/10.35473/jgk.v13i1.105

Abstract:
Red bean tempeh is a processed product from nuts which is formed by the help of Rhizopus sp, mold through a fermentation process. One of the uses of red bean production through the boiling and fermentation process is an effort to increase the variety of red bean processing to increase the nutritional value of kidney beans. Purpose To determine the nutritional content and analysis of nutritional content in boiled red beans and red bean tempeh. This study was a pre experimental design. With a completely randomized design approach. The research carried out is by making preparations in the form of boiled red beans and red bean tempeh and then tested for nutritional content. The analysis test for protein content used the kjedahl method, the fat content used the Soxhlet method, the carbohydrate content used the anthrone method, and the fiber content used the reflux method. Statistical analysis of different tests was performed using the independent t test, with data distribution normally distributed. The average yield of nutrient content in boiled red beans was 18.77% protein, 4.03% fat, 27.40% carbohydrates, and 18.25% fiber. The nutritional content of red bean tempeh is 12.26% protein, 3.96% fat, 34.75% highest carbohydrate, and 22.10% fiber. The most significant test results were the carbohydrate content (p = 0.001) and the protein content (p = 0.021). Fat (p = 0.965) and fiber (p = 0.399) content showed no significant difference. There are differences in the nutritional content of boiled red beans and red bean tempeh, namely in the carbohydrate content and protein content, which shows a significant difference (p
Nazhif Gifari, Desiani Rizki Purwaningtyas
JURNAL GIZI DAN KESEHATAN, Volume 13, pp 124-142; https://doi.org/10.35473/jgk.v13i1.101

Abstract:
Hockey is known to be a game that requires a lot of energy, where hockey players are required to have a level of good physical condition undergirded by meeting energy needs and opticians capable of performing during the game. The purpose of this study is to assess the nutritional status and intake of energy and nutrients and analyze the correlation with the speed and agility of the district's extracurricular hockey field. Cross-sectional research on all hockey players amounted to 70 people. Measurements made in this study include weight, height, BMI, energy and nutrient intake as well as speed and agility. The results showed that the nutritional status of BMI/U didn’t have a significant correlation with speed (p=0,842; r= -0,02) and nutritional status of BMI/U didn’t have a significant correlation with agility (p=0,271; r= -0,133). The average energy intake, protein intake and carbohydrate intake didn’t significantly correlate with speed (p=0,071; r=0,560, p=0,457; r=0,090, p=0,858; r= 0,022). Meanwhile, fat intake and calcium intake didn’t have a significant correlation with agility (p=0,874; r= -0,019, p=743; r= 0,040). The conclusion of this study is the nutritional status of BMI/U, energy intake, protein and carbohydrate intake aren’t related to speed and nutritional status of BMI/U, fat intake and calcium intake aren’t related to agility Abstrak Permainan hoki diketahui merupakan permainan yang membutuhkan banyak energi, dimana para pemain hoki dituntut untuk memiliki tingkat kondisi fisik yang baik yang ditunjang dengan pemenuhan kebutuhan energi dan zat gizi yang optimal agar mampu mencapai prestasi selama pertandingan. Tujuan dari penelitian ini untuk mengkaji tentang gambaran status gizi serta asupan energi dan zat gizi serta menganalisis korelasinya dengan kecepatan dan kelincahan pemain ekstrakurikuler hoki SMAN Kabupaten Tangerang. Penelitian cross-sectional pada semua pemain hoki berjumlah 70 orang. Data dianalisis menggunakan uji korelasi Pearson dan Spearman. Hasil penelitian menunjukkan bahwa status gizi IMT/U tidak berkorelasi secara signifikan terhadap kecepatan (p=0,842; r= -0,02) dan status gizi IMT/U tidak berkorelasi signifikan terhadap kelincahan (p=0,271; r= -0,133). Asupan energi, asupan protein dan asupan karbohidrat tidak berkorelasi secara signifikan terhadap kecepatan (p=0,071; r=0,560, p=0,457; r=0,090, p=0,858; r= 0,022). Sedangkan asupan lemak dan asupan kalsium tidak berkorelasi secara signifikan terhadap kelincahan (p=0,874; r= -0,019, p=743; r= 0,040). Kesimpulan dari penelitian ini adalah status gizi IMT/U, asupan energi, asupan protein dan asupan karbohidrat tidak berhubungan dengan kecepatan serta status gizi IMT/U, asupan lemak dan asupan kalsium tidak berhubungan dengan kelincahan.
Wiwin Efrizal
JURNAL GIZI DAN KESEHATAN, Volume 13, pp 70-84; https://doi.org/10.35473/jgk.v13i1.100

Abstract:
Mastitis is an infection of the breast that generally occurs in conjunction with lactation which often occurs in nursing mothers. Blockage of the milk ducts and infection can cause mastitis. Mastitis will result in an increase in the nutritional needs of nursing mothers and disruption of the breastfeeding process so that it has an impact on the nutritional status of the baby. The purpose of writing is to provide a comprehensive description of nutritional care for mastitis mothers using the literature review method. From the study, it is known the importance of proper nutritional care for mothers with mastitis in the form of assessment, nutritional diagnosis, intervention, monitoring and evaluation as a continuous cycle to overcome mastitis problems in collaboration with the nutrition care team. The conclusion is that collaboration with other health professionals has started since the nutritional assessment was carried out, so that the management of mastitis cases can be more optimal. Abstrak Mastitis adalah infeksi pada payudara yang umumnya terjadi bersamaan dengan laktasi. Penyumbatan pada saluran ASI dan adanya infeksi dapat menimbulkan mastitis. Mastitis akan mengakibatkan meningkatkan kebutuhan gizi pada ibu menyusui dan terganggunya proses menyusui sehingga berdampak pada status gizi bayi. Asuhan gizi yang tepat pada ibu dengan mastitis dalam bentuk pengkajian, diagnosis gizi, intervensi, monitoring dan evaluasi sebagai siklus yang terus menerus dapat mengatasi masalah mastitis dengan kolaborasi bersama tim asuhan gizi. Kolaborasi dengan profesi kesehatan lainnya telah dimulai sejak pengkajian gizi dilakukan, sehingga penatalaksanaan kasus mastitis dapat lebih komprehensif.
Elisabeth Usfal, Sugeng Maryanto, Indri Mulyasari
JURNAL GIZI DAN KESEHATAN, Volume 13, pp 111-123; https://doi.org/10.35473/jgk.v13i1.106

Abstract:
Malnutrition problems in children under five can be influenced by energy intake, protein intake and the incidence of diarrhea. The purpose of the study was a factors associated with the incident of malnutrition in children aged 37-59 months at The Center Of Public Health Kaubele Moenleu Biboki District North Central Timor Regency.This study was a correlation descriptive study with a cross sectional approach. The sample consisted of 78 toddlers at the Kaubele The Center Of Public Health, Biboki Moenleu District, North Central Timor Regency, taken by proportional random sampling technique. Data collection instrument using secondary data from weighing results, kueisoner, form SFFQ. Data analysis using chi-square (α = 0.05). The result of this study indicated that there were intake energy good 8 toddlers ( 10.3 % ) , energy less 70 toddlers ( 89.7 % ); protein intake more 2 toddlers ( 2.6 % ) , protein good 32 toddlers ( 41.0 % ) , less 44 toddlers ( 56.4 % ); toddlers who do not diarrhea 36 toddlers ( 46.2 % ) , diarrhea 42 toddlers ( 53.8 % ); toddlers normal weight of 30 toddlers ( 38.5 % ) , toddlers weight less 48 toddlers ( 61.5 % ); There is correlation between intake energy , protein intake and the chain diarrhea with the genesis malnutrition in toddlers ( p = 0.025, p = 0.002 and p = 0.000 ). There is correlation between intake energy , protein intake and the chain diarrhea with the genesis malnutrition in toddlers 37-59 months in The Center Of Public Health Kaubele Biboki Moenleu District North Central Timor Regency.
Nurhafza Zaenab, Icha Dian Nurcahyani, Suherman, Nur Nikmah Sirajuddin, Musdalifah
JURNAL GIZI DAN KESEHATAN, Volume 13, pp 33-39; https://doi.org/10.35473/jgk.v13i1.96

Abstract:
The influence of counseling with comic media to on the knowledge Sehat of healthy breakfast instudents in Pa'batangang Village of Takalar District year 2020(in Guided by Mrs. Icha dian Nurcahyani And Mr. Suherman).). Healthy breakfast is an activity of eating and drinking which is carried out between 06.00 and 09.00 to meet daily nutritional needs. Based on the results of interviews conducted by researchers, the factors that cause these PPA students to not eat breakfast are: feeling very limited time because school is quite far, late early risers, and no appetite for breakfast. This research aims to analyze the influence of counseling with comic media on knowledge about healthy breakfast instudentsin Pa'batangang Village of Takalar Regency. In thisstudy researchers used quasy experiments with pre-test and post-test designs,, Asample of 34 students and a drop out of 4 students, using questionnaires before and after intervention. There are differences before and after intervention with sig values. (2-tailed) = 0.000 < 0.05. based on the results of the research that can be concluded that there is an influence of counseling with comic media komik on the knowledge of PPA students in Pa'batangang Village.. Abstrak Sarapan sehat merupakan kegiatan makan dan minum yang dilakukan antara pukul 06.00 sampai 09.00 untuk memenuhi kebutuhan gizi harian, Berdasarkan hasil wawancara yang dilakukan peneliti faktor yang menyebabkan siswa-siswa PPA tersebut tidak mau sarapan pagi yaitu : merasa waktunya sangat terbatas karena sekolah cukup jauh, terlambat bangun pagi, dan tidak ada selera untuk sarapan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis Pengaruh Penyuluhan Dengan Media Komik Terhadap Pengetahuan Tentang Sarapan Sehat Pada Siswa/Siswi Ppa Di Desa Pa’batangang Kabupaten Takalar . Pada penelitian ini peneliti menggunakan quasy experiment dengan rancangan pre-test dan post-test, Jumlah sampel sebanyak 34 siswa-siswi dan drop out sebanyak 4 siswa/siswi, dengan menggunakan kuesioner sebelum dan sesudah intervensi. uji statistik yang dilakukan menggunakan Uji independent Sample T-Test menunjukkan bahwa Perubahan pengetahuan siswa-siswi pada saat sebelum intervensi dan setelah intervensi tersebut signifikan. Terdapat perbedaan sebelum dan setelah intervensi dengan nilai sig. (2-tailed) = 0.000 < 0.05. berdasarkan hasil penelitian yang dilakakun dapat disimpulkan bahwa ada pengaruh penyuluhan dengan media komik terhadap pengetahuan siswa-siswi PPA di Desa Pa’batangang.
Nathasa Sihite
JURNAL GIZI DAN KESEHATAN, Volume 13, pp 10-22; https://doi.org/10.35473/jgk.v13i1.92

Abstract:
Sausage is a popular food for both children and adults. The main problem in sausage processing is their short shelf life. Synthetic preservatives such as nitrites are often added to sausage dough to extend the shelf life of sausages. Preservatives such as nitrites, if consumed too often can have harmful effects on health. The content of active compounds found in jasmine flowers is expected to be used as a source of natural preservatives in the processing of tempeh sausage in this study. This study aims to determine the acceptability of sausage formulations with the addition of natural preservatives. This study consisted of 3 treatments, namely tempeh sausage with extract variations of 0%, 0.1%, and 0.25%. This study used a completely randomized design (CRD). The concentration of jasmine flower extract had a significantly different effect on the taste of tempeh (p
Annisa Ayuningtyas
JURNAL GIZI DAN KESEHATAN, Volume 13, pp 23-32; https://doi.org/10.35473/jgk.v13i1.98

Abstract:
The incidence of type 2 diabetes mellitus (T2DM) increase significantly. Lifestyle changes, including patterns and types of food, have an effect on the occurrence of T2DM. Changes in the composition and type of gut microbiota have a significant impact on the incidence of metabolic diseases, including T2DM. Ketogenic diet, which consist of high fat, moderate protein, and very low carbohydrates, is currently a common diet for weight-loose program in obese people, where obesity is a risk factor for T2DM. However, the use of this diet as management in T2DM subject is still a controversy. It is proven that ketogenic diet can alter the composition of Bacteriodetes to Firmicutes in T2DM subject and may improve the metabolic profile of this subject. The ketogenic diet can be recommended as a diet for T2DM subject with attention to the special conditions of the subject. Abstrak Angka kejadian diabetes mellitus tipe 2 (DMT2) meningkat secara signifikan. Perubahan gaya hidup termasuk pola dan jenis makanan berpengaruh terhadap terjadinya penyakit DMT2. Perubahan komposisi dan jenis mikrobiota usus berdampak signifikan terhadap kejadian penyakit metabolik, termasuk DMT2. Diet ketogenik dengan komposisi tinggi lemak, cukup protein, dan karbohidrat sangat rendah, saat ini menjadi tren diet yang banyak dipilih untuk menurunkan berat badan pada orang obesitas, dimana obesitas menjadi salah satu faktor risiko DMT2. Meskipun demikian, penggunaan diet ini sebagai manajemen diet pada individu dengan DMT2 masih menjadi kontroversi. Pemberian diet ketogenik pada individu dengan DMT2 mampu mengubah komposisi Bacteriodetes terhadap Firmicutes dan berdampak terhadap perbaikan profil metabolik. Diet ketogenik dapat direkomendasikan sebagai diet bagi individu dengan DMT2 dengan memperhatikan kondisi khusus.
Rifatul Ridlo, Sugeng Maryanto, Riva Mustika Anugrah
JURNAL GIZI DAN KESEHATAN, Volume 13, pp 85-93; https://doi.org/10.35473/jgk.v13i1.103

Abstract:
Nugget and crackers are fast foods that are widely consumed and favored by the public, usually used as dishes or snacks. Banana tubers is a local food commodities which contains of high fiber can be processed as an ingredients nuggets and crackers. The purpose ofthis reseach was to determine the fiber content of nuggets and crackers with the basic ingredients of kepok banana hump (Musa paradisiaca Var. Balbisina Colla). This study was experimental design. The nugget formulation consisted of 3 comparisons, the ratio of banana hump : wheat flour (25%: 75%) (F1), (50%: 50%) (F2), and (75%: 25%) (F3). The cracker formulation consists of 3 comparisons, the ratios of banana hump: tapioca flour (25%: 75%) (F1), (50%: 50%) (F2), and (75%: 25%) (F3). Test the fiber containt by the gravimatry method which is then described. The results in this study was analyzed of the fiber value of nuggets and crackers kepok banana hump every (100g). The highest fiber content of nuggets was F3: 0.514g, F2: 0.322g and F1: 0.186g. The highest fiber content of Kepok banana hump crackers is F3: 0.861g, F2: 0.747g and F1: 0.727g. The fiber value of the kepok banana hump crackers is higher than the kepok banana hump nugget.
Herdara Hannanti, Ibnu Malkan Bakhrul Ilmi, Muh. Nur Hasan Syah
JURNAL GIZI DAN KESEHATAN, Volume 13, pp 40-53; https://doi.org/10.35473/jgk.v13i1.85

Abstract:
AbstrakBackground : Anemia is still a major public health problem in the world. Indonesia become one of the countries experiencing triple burden of malnutrition and one of them is anemia. The current situation of covid-19 pandemic considered worsen the challenge. Education especially about anemia problem on adolescents girl play an important role in the emergency response covid-19 pandemic. Purpose : To determine the effect of nutrition education using comic and leaflet on the improvement of anemia knowledge in adolescents girl in SMA Negeri 14 Jakarta . Method : Design of this study is quasy experimental with pre-post test group design involving 126 female students in class X and XI which choosed by cluster random sampling. Knowledge data collected with online method. Result : The result was there were differences in respondents knowledge on the effect of nutrition education using comic (p=0,000) and leaflet (p=0,000) media with alpha 0,05. Conclusion : There is an effect of nutrition education using comic and leaflet on anemia knowledge in adolescents girl in SMA Negeri 14 Jakarta Latar Belakang : Anemia hingga saat ini masih menjadi masalah utama dalam kesehatan yang terjadi di seluruh dunia. Indonesia menjadi salah satu negara yang mengalami tiga beban malnutrisi, salah satunya diantaranya adalah anemia. Kondisi pandemi covid-19 saat ini dinilai dapat memperburuk tantangan tersebut. Edukasi terutama mengenai masalah anemia pada remaja putri berperan penting dalam masa tanggap darurat pandemi covid-19. Tujauan : Mengetahui pengaruh edukasi gizi melalui komik dan leaflet terhadap peningkatan pengetahuan terkait anemia pada remaja putri di SMA Negeri 14 Jakarta. Metode : Desain penelitian yang digunakan, yaitu quasy experimental dengan rancangan pre-post test group design melibatkan 126 siswi kelas X dan XI yang dipilih dengan cluster random sampling. Pengambilan data pengetahuan dilakukan secara daring. Hasil : Ada perbedaan pengetahuan responden terhadap pengaruh penggunaan media edukasi gizi melalui komik (p=0,000) dan leaflet (p=0,000) dengan alpha 0,05. Kesimpulan : Ada pengaruh edukasi gizi melalui komik dan leaflet terhadap peningkatan pengetahuan anemia pada remaja putri di SMA Negeri 14 Jakarta.
Juli Risgian Putra, Urip Rahayu, Iwan Shalahuddin
JURNAL GIZI DAN KESEHATAN, Volume 13, pp 54-69; https://doi.org/10.35473/jgk.v13i1.99

Abstract:
Tingginya angka diabetes melitus dipengaruhi oleh aktivitas self care yang buruk. Aktivitas self care yang buruk dapat menyebabkan penyakit penyerta lainnya pada penderita diabetes melitus, salah satunya hipertensi. Masalah tersebut dapat semakin mempengaruhi perawatan diri yang dilakukan dalam proses penyembuhan diabetes melitus. Tujuan penelitian ini yaitu untuk mengetahui gambaran self care pada penderita diabetes melitus dengan penyakit penyerta hipertensi Di Puskesmas Bayongbong Kabupaten Garut. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kuantitatif. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh penderita diabetes melitus yang memiliki penyakit penyerta hipertensi Di Puskesmas Bayongbong Kabupaten Garut yaitu berjumlah 39 orang. Sampel pada penelitian ini menggunakan teknik total sampling. Instrumen dalam penelitian ini menggunakan kuisoner Summary of Diabetes Self-Care Activities (SDSCA) yang berjumlah 17 item. Analisa data pada penelitian ini menggunakan analisis data univariat. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa sebagian besar memiliki perilaku self care kurang sebesar 70,0% dan sisanya sebesar 30,0% memiliki perilaku self care baik. Sebagian besar komponen self care diabetes melitus berada pada kategori kurang diantaranya yaitu pola makan 83,3%, perawatan kaki 76,7%, minum obat 70,0% dan monitoring tekanan darah 70,0%. Sementara itu komponen self care diabetes melitus yang memiliki kategori baik yaitu latihan fisik sebesar 66,7%. Perilaku self care yang perlu ditingkatkan adalah mengatur pola makan, perawatan kaki, minum obat secara teratur dan memonitoring tekanan darah sesuai anjuran tenaga medis. Penderita diabetes melitus dengan penyakit penyerta hipertensi diharapkan dapat meningkatkan perilaku self care dalam upaya meningkatkan status kesehatan dan kualitas hidup penderitanya.
Maria Magdalena Meilina Rahmawati, Sugeng Maryanto, Purbowati
JURNAL GIZI DAN KESEHATAN, Volume 13, pp 94-103; https://doi.org/10.35473/jgk.v13i1.104

Abstract:
Dysmenorrhea is pain in the stomach that comes from uterine cramps and occurs during menstruation. Menstrual pain or dysmenorrhea can have an impact on learning activities in adolescents. The incidence of dysmenorrhea in Central Java reaches 56%. Calcium and iron intake are factors that can affect the incidence of dysmenorrhea. The research objective was to determine the correlation between calcium and iron intake and the incidence of dysmenorrhea in female adolescents at SMA Negeri 1 Ambarawa. This study is a descriptive correlation study with a cross sectional approach. The population was 501 students of SMA Negeri 1 Ambarawa. There were 87 subjects taken by proportional random sampling. Collecting data using UPAT (Universal Pain Assessment Tool) and FFQ (Food Frequency Questionnaire). The data were analyzed using kendals’tau control test (α = 0.05). Research results female adolescent calcium intake is 92.0% less, 6.9% good, and 1.1% more. The iron intake of female adolescent was 96.6% less, 2.3% good, and 1.1% more. The incidence of dysmenorrhea in female adolescent was 44.8% mild pain, 28.7% moderate pain, 8.0% severe pain, 5.7% very severe pain, and 12.6% no pain. There is a correlation between calcium intake and the incidence of dysmenorrhea (p = 0.008). There is a correlation between iron intake and the incidence of dysmenorrhea (p = 0.005).
Ghina Nur Afra, Laras Sitoayu, Vitria Melani
JURNAL GIZI DAN KESEHATAN, Volume 13, pp 1-9; https://doi.org/10.35473/jgk.v13i1.82

Abstract:
Multiple nutrition problems become a major problem for most Indonesians, including school-aged children. This nutritional problem will certainly impact on the declining quality of human resources (HR) of Indonesia in the present and future. Lacks of nutrition knowledge or lacks applying nutritional knowledge in daily life can lead to nutritional problems. One way that can be done to improve knowledge about balanced nutrition of school children, namely through the process of nutrition education. Media is one component of the process of nutrition education, media is not only serves as a complement as information giver, but the media has the function of attention that has the power to attract attention. The purpose of this research is to examine the effect of giving flash card media to change the knowledge and attitude of balanced nutrition on 5th grade students in Tanjung Duren Selatan 01 Pagi Elementary School. Total sample in this research are 86 people with Quasy Experiment design. Statistical test using t-test dependent, t-test independent and Mann-Whitney. The result of the research showed the change of knowledge and attitude of the students to the balanced nutrition after giving the flash card media intervention (p≤0,05). Flash card media has an effect on the knowledge and attitude of balanced nutrition on Tanjung Duren Selatan 01 Pagi Elementary School students. Development of nutrition education materials using flash card are needed such as the clean and healthy behaviour and food safety. Abstrak Masalah gizi ganda masih menjadi permasalahan utama bagi sebagian besar penduduk Indonesia, termasuk anak usia sekolah. Masalah gizi ini tentunya akan berdampak pada semakin menurunnya kualitas sumber daya manusia (SDM) Indonesia di masa sekarang dan mendatang. Pengetahuan gizi yang kurang atau kurangnya menerapkan pengetahuan gizi dalam kehidupan sehari-hari dapat menimbulkan masalah gizi. Salah satu cara yang dapat dilakukan untuk meningkatkan pengetahuan mengenai gizi seimbang anak sekolah, yaitu melalui proses pendidikan gizi. Media merupakan salah satu komponen dari proses pendidikan gizi, media tidak hanya berfungsi sebagai pelengkap yaitu pemberi informasi, namun media mempunyai fungsi atensi yaitu memiliki kekuatan untuk menarik perhatian. Tujuan penelitian untuk mengetahui pengaruh pemberian media kartu bergambar terhadap perubahan pengetahuan dan sikap gizi seimbang pada siswa kelas V SDN Tanjung Duren Selatan 01 Pagi. Sampel 86 orang dengan desain Quasy Experiment. Uji statistik menggunakan t-test dependent, t-test independent dan Mann-Whitney. Hasil penelitian menunjukkan adanya perubahan pengetahuan dan sikap siswa terhadap gizi seimbang setelah diberikan intervensi media kartu bergambar (p≤0,05). Pemberian media kartu bergambar berpengaruh terhadap pengetahuan dan sikap gizi seimbang anak sekolah pada siswa SDN Tanjung Duren Selatan 01 Pagi. Perlu diadakan pengembangan materi pendidikan gizi menggunakan media kartu bergambar seperti materi PHBS dan keamanan pangan
Itsna Khoirunnisa, Mona Saparwati
JURNAL GIZI DAN KESEHATAN, Volume 12, pp 19-25; https://doi.org/10.35473/jgk.v12i1.67

Abstract:
Gastritis is a health problem in the community. Factors influencing this problem among others are diet, smoking, NSAIDS and coffee. This research aims to know the description of the food patterns in patients with Gastritis at Puskesmas Gunung Pati Working Area, Semarang . Methods in the research was descriptive with retrospective approach, with a population of patients with Gastritis diagnosis in September 2017-January 2018 as many as 62 people. The subjects of this research were Gastritis patients at Puskesmas by using purposive sampling techniques. The instrument used a dietary questionnaire. The results of this research describes food patterns in patients at Puskesmas Gunung Pati Working Area Semarang from the eating frequency is mostly in goodcategory 90.3% and sufficient category 9,7%, the amount of food is mostly in good category 71% and 29% in sufficient category, types of food is mostly in sufficient category 58.1% and 41.9% in good category. Based on the results of this research, it is suggested to patients with Gastritis can improve Gastritis prevention behavior by having regular eating habits to avoid further complications. Abtrak: Latar Belakang: Gastritis merupakan masalah kesehatan yang masih banyak ditemukan di masyarakat sekitar kita. Faktor yang mempengaruhi antara lain oleh pola makan, merokok, NSAID dan kopi. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran pola makan pada penderita Gastritis di wilayah kerja Puskesmas Gunung Pati Kota Semarang. Metode: Metode dalam penelitian adalah deskriptif dengan pendekatan retrospective, Pengambilan sampel dengan menggunakan kuesioner pola makan. dengan populasi pasien yang terdiagnosa Gastritis di puskesmas pada bulan September 2017- Januari 2018 jumlah populasi 162 dan jumlah sampel 62 orang. Hasil : Hasil penelitian ini menggambarkan pola makan pada pasien Gastritis di wilayah kerja Puskesmas Gunung Pati Kota Semarang dilihat dari frekuensi makan lebih banyak pada kategori baik yaitu 90,3% dan 9,7% cukup, jumlah makanan lebih banyak kategori baik yaitu 71% dan 29% cukup, jenis makanan lebih banyak pada kategori cukup yaitu 58,1% dan 41,9% baik. Kesimpulan :Berdasarkan hasil penelitian ini, disarankan kepada penderita Gastritis dapat meningkatkan perilaku pencegahan Gastritis dengan cara memiliki kebiasaan pola makan teratur khususnya pada jenis makanan yang banyak menjadi penyabab Gastritis agar menghindari komplikasi yang lebih lanjut.
Umi Novianingtyas, Sugeng Maryanto, Indri Mulyasari
JURNAL GIZI DAN KESEHATAN, Volume 12, pp 26-35; https://doi.org/10.35473/jgk.v12i1.77

Abstract:
Nasi jagung contains water soluble fiber in the form of gum and pectin which affects of gastric emptying and metabolic effects. Nasi Jagung is one source of fiber that can control blood glucose levels. This research aims to knowing the relationship between nasi jagung consumption habits and blood glucose profile in women 31-45 years old at Dawung, Candirejo village Pringapus district Semarang Regency. This study was cross sectional. Population was women aged 31-45 years old at Dawung, Candirejo Village Pringapus Subdistrict Semarang Regency as many as 78 people. Determined by purposive sampling technique. The habit of corn rice consumption was measured by the Semi Quantitative FFQ interview. Blood glucose profiles were measured using a glucometer. Data analysis was using Kendall tau correlation test (α = 0.05). Most of the respondents (77,2%) eat nasi jagung in occasionally category, (19,3%) in constantly category, and (3,5%) never eat nasi jagung in previous month. Most of the respondent’s blood glucose profiles were normal (93,0%). (5,2%) prediabets and (1,8%) hypoglycemia. There was no correlation between the habits of nasi jagung consumption and blood glucose profile in women 31-45 years old at Dawung, Candirejo Village Pringapus District Semarang Regency (p = 0.847). There was no correlation between the habits of nasi jagung consumption and blood glucose profile in women 31-45 years old at Dawung, Candirejo Village Pringapus District Semarang Regency. Abstrak : Nasi Jagung memiliki kandungan serat larut air berupa gum dan pektin yang berpengaruh pada waktu pengosongan lambung dan efek metabolik. Sehingga nasi jagung menjadi salah satu sumber serat yang dapat mengendalikan kadar glukosa darah. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan kebiasaan konsumsi nasi jagung dan profil glukosa darah pada wanita usia 31-45 tahun di Dusun Dawung Desa Candirejo Kecamatan Pringapus Kabupaten Semarang. Pendekatan dalam penelitian ini adalah cross sectional. Populasi adalah seluruh wanita usia 31 – 45 tahun di Dusun Dawung Desa Candirejo Kecamatan Pringapus Kabupaten Semarang sebanyak 78 orang. Sampel penelitian ini ditentukan dengan teknik Purposive Sampling. Kebiasaan konsumsi nasi jagung diukur dengan wawancara FFQ Semi Quantitative. Profil glukosa darah diukur menggunakan alat glukometer. Analisis data menggunakan uji korelasi kendall tau (α = 0.05). Sebagian besar responden memiliki kebiasaan konsumsi nasi jagung kategori kadang-kadang yaitu sebesar (77,2%), sisanya kategori selalu/sering sebesar (19,3%), dan tidak pernah sebesar (3,5%). Profil glukosa darah responden sebagian besar kategori normal yaitu (93,0%). (5,2%) prediabetes dan (1,8%) hipoglikemia. Tidak ada hubungan kebiasaan konsumsi nasi jagung dan profil glukosa darah pada wanita usia 31-45 tahun di Dusun Dawung Desa Candirejo Kecamatan Pringapus Kabupaten Semarang (p=0.847). Tidak ada hubungan kebiasaan konsumsi nasi jagung dan profil glukosa darah pada wanita usia 31-45 tahun di Dusun Dawung Desa Candirejo Kecamatan Pringapus Kabupaten Semarang.
Laeli Nur Hasanah, Katrin Roosita, Rimbawan
JURNAL GIZI DAN KESEHATAN, Volume 12, pp 1-10; https://doi.org/10.35473/jgk.v12i1.75

Abstract:
The aim of this research was to analyze the effect of drinks and cookies contained Galohgor extract on Blood Urea Nitrogen (BUN) and creatinine plasma in type 2 diabetic subjects. This study used single blind Randomized Control Trial (RCT) with cross-over design applied on 11 type 2 diabetic subjects in Cikarawang, Babakan and Balumbang Jaya Village-Dramaga, Bogor District, West Java. Each subject received powdered drinks and cookies contained Galohgor extract 2 grams/day (1 gram of Galohgor extract in the form of drink 8 grams and 1 gram of Galohgor extract in the form of cookies 24 grams) and without Galohgor extract (control) for 38 days treatment with four wash-out period between treatment periods. BUN and creatinine levels were conducted by plasma blood sample at pre and post intervention. The result showed that the different levels of BUN between post and pre intervention for Galohgor group compared to control group were -4,9±11,2 mg/dL and -9,6±12,5 mg/dL (p>0,05). The different levels of creatinine between post and pre intervention for Galohgor group compared to control group were -0,1±0,2 mg/dL and -0,1±0,2 mg/dL (p>0,05). Therefore, drinks and cookies contained Galohgor extract 2 gram/day does not affect the BUN and creatinine level of type 2 diabetic subjects. Abstrak : Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh minuman dan cookies Galohgor terhadap kadar Blood Urea Nitrogen (BUN) dan kadar kreatinin plasma penderita DM tipe 2. Jenis penelitian ini adalah single blind Randomized Control Trial (RCT) dengan desain cross-over pada 11 subjek DM tipe 2 yang dilakukan di desa Cikarawang, Babakan dan Balumbang Jaya, Kecamatan Dramaga, Kabupaten Bogor, Jawa Barat. Masing-masing subjek mendapatkan minuman dan cookies yang mengandung ekstrak Galohgor sebesar 2 gram/hari (1 gram ekstrak Galohgor dalam bentuk 8 gram minuman serbuk dan 1 gram ekstrak Galohgor dalam bentuk 24 gram cookies) dan minuman serbuk dan cookies tanpa ekstrak Galohgor (kontrol) selama 38 hari dengan empat bulan periode wash-out antar perlakuan. Kadar BUN dan kreatinin dikumpulkan dari sampel plasma darah pada sebelum dan setelah intervensi. Hasil penelitian menunjukkan rata-rata selisih kadar BUN pada kelompok Galohgor dibandingkan dengan kelompok kontrol yaitu -4,9±11,2 mg/dL dan -9,6±12,5 mg/dL (p>0,05). Kadar kreatinin pada kelompok Galohgor dibandingkan dengan kelompok Galohgor yaitu -0,1±0,2 mg/dL dan -0,1±0,2 mg/dL (p>0,05). Oleh karena itu, pemberian minuman dan cookies yang mengandung ekstrak Galohgor 2 gram/hari tidak berpengaruh terhadap kadar ureum dan kreatinin penderita DM tipe 2.
, Satria Yosi Hernawan, Ni Nyoman M Adinata
JURNAL GIZI DAN KESEHATAN, Volume 12, pp 52-57; https://doi.org/10.35473/jgk.v12i1.80

Abstract:
Pemberian Insentif dan Motivasi Kerja Dengan Mutu Pelayanan Perawat Di PUSKESMAS Bangetayu Semarang Achmad Syaifudin*, Satria Yosi Hernawan**, Ni Nyoman M Adhinata*** *)**)***) Stikes Karya Husada, Jl. R Soekanto No 46, (024) 6724581 Email: [email protected] ABSTRAK Mutu pelayanan kesehatan di puskesmas dan rumah sakit adalah produk akhir dari interaksi dan ketergantungan yang rumit antara berbagai komponen atau aspek pelayanan. Mutu pelayanan keperawatan merupakan keadaan yang dapat menggambarkan tingkat kesempurnaan suatu tampilan dari produk pelayanan keperawatan yang diberikan secara bio-psiko-sosial-spiritual pada individu yang sakit maupun yang sehat yang dilakukan berdasarkan standar asuhan keperawatan yang telah ditetapkan guna menyesuaikan dengan keinginan pelanggan, tujuan akhirnya adalah terciptanya kepuasan pasien atau masyarakat. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisa hubungan pemberian insentif dan motivasi kerja dengan mutu pelayanan perawat di Puskesmas Bangetayu Semarang. Jenis penelitian ini adalah penelitian kuantitatif dengan metode pendekatan yang digunakan adalah cross sectional. Pengambilan sampel dengan teknik random sampling, didapatkan 41 responden. Pengumpulan data menggunakan instrument kuesioner insentif, motivasi dan mutu pelayanan keperawatan. Data penelitian dianalisis menggunakan uji chi square. Hasil penelitian menunjukkan pemberian insentif sebagaian besar memuaskan (61%), Motivasi kerja Perawat sebagian besar positif (51,2%), dan mutu pelayanan keperawatan sebagian besar baik (43,9%). Kesimpulan dari penelitian ini menunjukkan ada hubungan antara pemberian insentif dengan mutu pelayanan perawat di Puskesmas Bangetayu Semarang p value (0,003) dan ada hubungan antara motivasi kerja dengan mutu pelayanan perawat di Puskesmas Bangetayu Semarang p value (0,008). Disarankan kepada Puskesmas Bangetayu memperhatikan pemberian insentif dan meningkatkan motivasi kerja Perawat di Puskesmas Bangetayu. Kata Kunci: insentif; motivasi kerja; mutu pelayanan perawat ABSTRACT The quality of health services in Puskesmas and hospitals is the final product of complex interactions and dependencies between various components or aspects of service. Nursing service quality is a condition that can describe the level of perfection of a display of nursing service products that are provided bio-psycho-social-spiritual to sick and healthy individuals which are carried out based on established nursing care standards to suit customer desires.The Purpose of this study to analyze the relationship between incentives and work motivation with the quality of nurse services at the Bangetayu Public Health Center in Semarang.Type of this research is a quantitative study with the approach method used is cross sectional. Sampling by random sampling technique, obtained 41 respondents. Data collection using questionnaire instruments incentives, motivation and quality of nursing services. Research data were analyzed using chi square test.The results showed that the provision of incentives was largely satisfying (61%), the motivation of nurses was mostly positive (51.2%), and the quality of nursing services was mostly good (43.9%).The conclusion from this study shows that there is a relationship between providing incentives with the quality of nurse services at the Puskesmas Bangetayu Semarang p value (0.003) and there is a relationship between work motivation and the quality of nurse services at the Puskesmas Bangetayu Semarang p value (0.008).It is recommended that the Bangetayu Community Health Center pay attention to the provision of incentives and increase the motivation of Nurses to work at the Health Community Center of Bangetayu. Keywords: incentives; work motivation; quality of nurse services
Hasna Nur Afina, Sugeng Maryanto
JURNAL GIZI DAN KESEHATAN, Volume 12, pp 11-18; https://doi.org/10.35473/jgk.v12i1.76

Abstract:
PEM is a condition where a person experiences a lack of long-term energy and protein intake. PEM is characterized by hypoalbuminemia and indigestion. Efforts to treat hypoalbuminemia sufferers by giving PMT in the form of soy formula. Before being given, it is necessary to test PER soybean modisco to see the quality of protein as well as digestibility of soy protein containing 40% vegetable protein and albumin of 2.25%. Some studies explain that soy can increase serum albumin levels in PEM infants with hypoalbuminemia. This research aims to determine the effect of modisco III supplementation with soybean on albumin content in PEM rats. This study used a randomized pretest posttest control group design. The research sample of 24 male Wistar rats. Data analysis using univariate analysis (description) and paired T-test. The average PER value of the four rations was relatively low PER
Winarti, Purbowati, Galeh Septiar Pontang
JURNAL GIZI DAN KESEHATAN, Volume 12, pp 36-44; https://doi.org/10.35473/jgk.v12i1.78

Abstract:
Stunting is a linear growth disorder that has an impact on physical growth, a contributing factor is insufficient chronic nutrient intake or chronic or recurrent infectious diseases.These nutrients are protein, vitamin A, zinc, while infectious diseases commonly experienced by toddlers are ARI (acute respiratory infections). The study aims to investigate the correlation between protein intake, vitamin A, zinc, and history of ARI with the incidence of stunting in infants aged 2 - 5 years in Wonorejo village, Pringapus district, Semarang regency. The study was cross sectional approach. The population was all mothers of toddlers aged 2-5 years old. With the Proportional Random Sampling method. The data analysis used univariate analysis with frequency distribution, and bivariate analysis used Kendall Tau (p < 0,05). The percentage of protein intake categories in toddlers aged 2-5 years in Wonorejo Village is the most in the less category, which is 46%. The percentage of the category of vitamin A intake in toddlers aged 2-5 years in Wonorejo Village is the most in the less category, which is 48.3%. Percentage of zinc intake category in toddlers aged 2-5 years in Wonorejo Village is the most in the less category, which is 65.5%. Percentage of ARI history category in toddlers aged 2-5 years in Wonorejo Village is the highest in the rare category, 63.2%. There is a significant correlation between protein intake, vitamin A, zinc, and history of ARI with the incidence of stunting in children aged 2-5 years in Wonorejo Village, Pringapus District, Semarang Regency (p = 0.031; p = 0.004; p = 0,000; p = 0.016). There is a significant correlation between protein intake, vitamin A, zinc, history of ARI with the incidence of stunting in toddlers aged 2-5 years in Wonorejo Village, Pringapus District, Semarang Regency Abtrak : Stunting merupakan gangguan pertumbuhan linier yang berdampak pada pertumbuhan fisik, faktor penyebabnya adalah ketidakcukupan asupan zat gizi kronis atau penyakit infeksi kronis maupun berulang. Protein, vitamin A, zink, dan ISPA (infeksi saluran pernafasan akut) mempengaruhi stunting. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara asupan protein, vitamin A, zink, dan riwayat ISPA dengan kejadian stunting pada balita usia 2 - 5 tahun di Desa Wonorejo Kecamatan Pringapus Kabupaten Semarang. Penelitian ini menggunakan pendekatan cross sectional. Populasi pada penelitian ini adalah seluruh ibu dan balita usia 2-5 tahun. Dengan metode proportional random sampling. Analisis data menggunakan analisis univariat menggunakan distribusi frekuensi dan bivariat menggunakan uji Kendall Tau (p < 0,05). Persentasi kategori asupan protein pada balita usia 2-5 tahun di Desa Wonorejo paling banyak dalam kategori kurang yaitu 46%. Persentasi kategori asupan vitamin A pada balita usia 2-5 tahun di Desa Wonorejo paling banyak dalam kategori kurang yaitu 48,3%. Persentasi kategori asupan zink pada balita usia 2-5 tahun di Desa Wonorejo paling banyak dalam kategori kurang yaitu 65,5%. Persentasi kategori riwayat ISPA pada balita usia 2-5 tahun di Desa Wonorejo paling banyak dalam kategori jarang yaitu 63,2%. Persentasi kejadian stunting di Desa Wonorejo yaitu sebanyak 51,7%. Terdapat hubungan yang bermakna antara asupan protein, vitamin A, zink, dan riwayat ISPA dengan kejadian stunting pada balita usia 2-5 tahun di Desa Wonorejo, Kecamatan Pringapus, Kabupaten Semarang (p= 0,031; p= 0,004; p= 0,000; p= 0,016). Terdapat hubugan yang bermakna antara asupan protein, vitamin A, zink, riwayat ISPA dengan kejadian stunting pada balita usia 2-5 tahun di Desa Wonorejo Kecamatan Pringapus Kabupaten Semarang
Windha Pratama, Riva Mustika Anugrah, Galeh Septiar Pontang
JURNAL GIZI DAN KESEHATAN, Volume 12, pp 45-51; https://doi.org/10.35473/jgk.v12i1.79

Abstract:
Snack bar a rod-shaped snacks. Snack bar is mostly made from wheat flour and soy flour. Mocaf flour and red bean flour is Local food commodities sources high in fiber so can be processed into the snack bar as a snack low-energy and high in fiber are preferred in the community. This study aims to knowing acceptance and analysis of energy and fiber content snack bars mocaf flour and red bean flour. This study was pre experimental design. Sampling using purposive sampling that as many as 25 panelists somewhat trained. Research was made by mixing varying the addition of a mixture of flour (mocaf flour and red bean flour) and oats on sanck bar then tested for acceptance and test nutrient content. Statistical analysis of the level of acceptance test Kruskal-Wallis (α = 0.05) with a further test mann-whitney. Highest level of acceptance that the snack bar formula 3. The results of the most significant real difference test at the snack bar flavors (p = 0.01) and colors (p = 0.01). The content of the snack bar formula 3 of energy as much 123.48 kcal and 5.78 gram fiber. Acceptance the most preferred snack bar was in Formula 3. Formula 3 Snack bar content has a low energy and high fiber. Abtrak : Snack bar merupakan makanan ringan yang berbentuk batangan. Snack bar sebagian besar terbuat dari tepung terigu dan tepung kedelai. Tepung mocaf dan tepung kacang merah merupakan komoditas pangan lokal sumber pangan tinggi serat sehingga dapat diolah menjadi snack bar sebagai makanan selingan rendah energi dan tinggi serat yang di sukai di masyarakat. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui daya terima dan analisis kandungan energi dan serat snack bars tepung mocaf dan tepung kacang merah. Penelitian ini merupakan penelitian pre experimental design. Pengambilan sampel menggunakan teknik purposive sampling yaitu sebanyak 25 panelis agak terlatih. Penelitian yang dilakukan yaitu dengan membuat variasi pencampuran penambahan tepung campuran (tepung mocaf dan tepung kacang merah) dan oat pada sanck bar untuk kemudian diuji daya terima dan uji kandungan zat gizi. Analisis statistik tingkat penerimaan menggunakan uji Kruskal-Wallis (α = 0,05) dengan uji lanjut Mann-Whitney. Tingkat penerimaan paling tinggi yaitu snack bar formula 3. Hasil uji beda nyata paling signifikan pada snack bar rasa (p=0,01) dan warna (p=0,01). Kandungan snack bar formula 3 energi sebanyak 123,48 kkal dan serat 5,78 gram. Daya terima snack bar paling disukai adalah pada Formula 3. Snack bar Formula 3 memiliki kandungan energi yang rendah dan serat yang tinggi.
Anggun Novita Sari, Sugeng Maryanto, Purbowati
JURNAL GIZI DAN KESEHATAN, Volume 12, pp 11-20; https://doi.org/10.35473/jgk.v12i27.56

Abstract:
Latar Belakang: Kecukupan asupan zink, zat besi, dan vitamin C berpengaruh terhadap terjadinya infeksi. Penyakit infeksi dapat meningkatkan resiko terjadinya gizi kurang. Tujuan: Untuk mengetahui hubungan asupan zink, zat besi, dan vitamin C dengan kejadian gizi kurang pada anak usia 6-24 bulan di Desa Leyangan, Kecamatan Ungaran Timur, Kabupaten Semarang. Metode Penelitian: Penelitian ini menggunakan desain deskriptif korelasi dengan pendekatan cross sectional. Populasi yaitu anak usia 6-24 bulan. Sampel penelitian ini ditentukan dengan metode proportional random sampling sejumlah 78 responden. Pengumpulan data menggunakan kuesioner, FFSQ, dan babyscale atau timbangan injak digital. Analisis data menggunakan uji Kendall Tau (α = 0,05). Hasil: Persentase kategori asupan zink kategori kurang yaitu 47,4%, baik 37,2%, dan lebih 23,1%. Persentase kategori asupan zat besi dengan kategori kurang yaitu 46,2%, baik 34,6%, dan lebih 19,2%. Persentase kategori asupan vitamin C dengan kategori kurang yaitu 43,6%, baik 33,3%, dan lebih 23,1%. Ada hubungan yang bermakna antara asupan zink, zat besi, dan vitamin C dengan kejadian gizi kurang pada anak usia 6-24 bulan di Desa Leyangan, Kecamatan Ungaran Timur, Kabupaten Semarang ( p= 0,03; p= 0,002; p= 0,045). Simpulan: Ada hubungan yang bermakna antara asupan zink, zat besi, dan vitamin C dengan kejadian gizi kurang pada anak usia 6-24 bulan di Desa Leyangan, Kecamatan Ungaran Timur, Kabupaten Semarang
, Galeh Septiar Pontang, Indri Mulyasari
JURNAL GIZI DAN KESEHATAN, Volume 12, pp 1-10; https://doi.org/10.35473/jgk.v12i27.55

Abstract:
Latar Belakang : Tempe merupakan salah satu makanan tradisional khas Indonesia memiliki kandungan protein asam amino dan nilai biologis yang tinggi sehingga dapat menjadi alternaltif MP-ASI untuk bayi. Bubur instan merupakan salah satu MP-ASI yang dapat diberikan karena praktis dalam penyajian. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui daya terima dan analisis kandungan zat gizi pada bubur instan tempe kedelai Metode Penelitian: Penelitian ini menggunakan desain penelitian pre experimental design. Populasi adalah ibu yang memiliki bayi usia 6-12 bulan sebanyak 40 subjek. Teknik pengambilan sampel menggunakan total sampling. Pengambilan data dengan uji tingkat kesukaan dan analisis kandungan zat gizi. Analisis data disajikan dalam tabel distribusi frekuensi Hasil: Tingkat kesukaan tertinggi terhadap rasa (45%), aroma (70%) dan tekstur (70%) pada bubur instan tempe kedelai pada Formula 6 dan untuk tingkat kesukaan warna tertinggi pada bubur instan tempe kedelai pada Formula 5 (57,5%). Daya terima bubur instan tempe kedelai tertinggi pada Formula 6 (42,5%). Hasil analisis kandungan gizi Formula 6 yaitu energi 312,55 Kkal, protein 7,5 gram lemak 30 gram, karbohidrat 24,58 gram Simpulan : Formula 6 lebih disukai dan diterima oleh subjek . Formula 6 memiliki kandungan energi, lemak dan karbohidrat sudah sesuai SNI MP-ASI bubur instan, namun kandungan protein belum sesuai SNI MP-ASI bubur instan.
, Sugeng Maryanto, Riva Mustika Anugrah
JURNAL GIZI DAN KESEHATAN, Volume 12, pp 29-39; https://doi.org/10.35473/jgk.v12i27.58

Abstract:
Latar Belakang: Stunting merupakan masalah kurang gizi kronis yang disebabkan asupan gizi yang rendah. Beberapa penyebab stunting adalah pemberian MP ASI dan usia pertama pemberian MP-ASI yang tidak sesuai. Tujuan: Untuk mengetahui hubungan pemberian MP-ASI dan usia pertama pemberian MP-ASI dengan kejadian stunting pada anak usia 6-24 bulan Metode Penelitian: Desain penelitian ini menggunakan pendekatan cross sectional. Sampel pada penelitian ini ditentukan dengan proportional random sampling sejumlah 78 responden. Data yang diambil adalah wawancara dengan kuisioner dan pengukuran antropometri menggunakan length board. Analisis data univariat menggunakan distribusi frekuensi dan analisis data bivariat menggunakan uji chi square dan risk estimate. Hasil : Frekuensi pemberian MP ASI, tekstur MP ASI yang diberikan, jumlah pemberian MP ASI dan usia pertama pemberian MP ASI sesuai masing-masing 60,3%, 65,4%, 33,3% dan 53,8%.Terdapat hubungan frekuensi pemberian MP ASI (p value=0,002;OR=4,531), tekstur MP-ASI yang diberikan (p value=0,015; OR=3,304), jumlah pemberian MPASI (p value=0,020;OR=3,6), usia pertama pemberian MP-ASI (p value=0,002;OR=4,583) dengan stunting pada usia 6-24 bulan di Desa Leyangan Kecamatan Ungaran Timur Kabupaten Semarang. Simpulan : Terdapat hubungan pemberian MP-ASI dan usia pertama pemberian MP-ASI dengan kejadian stunting pada anak usia 6-24 bulan di Desa Leyangan Kecamatan Ungaran Timur Kabupaten Semarang
, Indri Mulyasari
JURNAL GIZI DAN KESEHATAN, Volume 12, pp 40-48; https://doi.org/10.35473/jgk.v12i27.59

Abstract:
Latar Belakang: Pengukuran tinggi badan lansia sangat sulit dilakukan mengingat adanya masalah postur tubuh. Pengukuran demispan dapat dijadikan sebagai salah satu alternatif pengukuran tinggi badan pada lansia. Tujuan: Menganalisis perbedaan estimasi tinggi badan menggunakan demispan MUST Equation dengan tinggi badan aktual pada lansia. Metode Penelitian: Desain penelitian menggunakan analitik dengan pendekatan cross sectional. Penelitian dilakukan di Posbindu wilayah kerja Puskesmas Ungaran pada bulan April dan Juni 2019 dengan sampel yang ditentukan menggunakan teknik incidental sampling sejumlah 50 responden. Data yang diambil meliputi tinggi badan dan demispan. Demispan diukur di lengan kanan. Data demispan kemudian digunakan untuk memperkirakan tinggi badan menggunakan 4 rumus (A,B,C,D) dari MUST Equation. Analisis data menggunakan uji Bland-Altman untuk mengetahui kesepakatan yang baik antara 2 metode pengukuran. Hasil: Rerata tinggi badan responden 149,07±7,1 cm. Rerata demispan responden 72,40±3,6 cm. Hasil dari perhitungan menggunakan 4 rumus MUST Equation, estimasi tinggi badan (A) yaitu laki-laki, Tinggi Badan (cm) = 71 + (1,2 x demispan) dan perempuan, Tinggi Badan (cm) = 67 + (1,2 x demispan) memiliki selisih paling kecil dari tinggi badan aktual dengan mean difference 5,76±3,1 cm. Limit Of Agreement dari rumus estimasi tinggi badan (A) yaitu -0,39 sampai dengan 11,91, estimasi tinggi badan (B) yaitu -0,44 sampai dengan 14,01, estimasi tinggi badan (C) yaitu 1,08 sampai dengan 13,19 dan estimasi tinggi badan (D) yaitu 1,41 sampai dengan 15,46. Simpulan: Ada perbedaan estimasi tinggi badan menggunakan demispan MUST Equation dengan tinggi badan aktual pada lansia.
Marliana Eka Nurina, Sugeng Maryanto, Galeh Septiar Pontang
JURNAL GIZI DAN KESEHATAN, Volume 12, pp 59-64; https://doi.org/10.35473/jgk.v12i27.61

Abstract:
Latar Belakang: Kekurangan Energi Protein (KEP) merupakan salah satu masalah gizi utama di Indonesia. Kedelai merupakan komoditas pangan yang kaya akan protein dan asam amino untuk pertumbuhan dan perkembangan anak. Modisco merupakan formula WHO yang digunakan untuk terapi diet balita dengan KEP, sehingga dilakukannya modifikasi modisco dengan penambahan kedelai untuk menambah atau memaksimalkan kandungan protein yang disesuaikan dengan kebutuhan anak gizi buruk. Tujuan: Untuk mengetahui adakah pengaruh pemberian Modisco Kedelai terhadap pertumbuhan berat badan dan panjang badan tikus wistar KEP. Metode Penelitian: Desain penelitian ini menggunakan True experimental dengan rancangan randomized pretest and posttest controlled group design. Populasi adalah tikus putih jantan strain wistar berumur 3 minggu. Sampel penelitian ini ditentukan berdasarkan rumus Frederer sejumlah 6 ekor per kelompok sehingga total sampel adalah 24 ekor tikus. Analisis data menggunakan Paired t-test dan One Way Anova (p < 0,05). Hasil: Rata-rata peningkatan berat badan tikus KEP setelah diberi modisco kedelai selama 14 hari sebanyak 55,33 gram (54,9%) sedangkan rata-rata panjang tikus meningkat sebanyak 1,083 cm (9,44%). Terdapat pengaruh pemberian modisco kedelai terhadap pertumbuhan tikus wistar KEP (p = 0,0001). Simpulan: Terdapat pengaruh pemberian modisco kedelai terhadap pertumbuhan berat dan panjang badan tikus wistar KEP.
Dwifa Novita Asriasih, Purbowati, Riva Mustika Anugrah
JURNAL GIZI DAN KESEHATAN, Volume 12, pp 21-28; https://doi.org/10.35473/jgk.v12i27.57

Abstract:
Latar Belakang :Snack bar merupakan makanan ringan yang berbentuk batangan berbahan dasar campuran dari berbagai bahan seperti sereal, kacang-kacangan. Tepung mocaf dan tepung kacang merah merupakan hasil pangan lokal yang dapat digunakan menjadi produk snack bar. Tujuan :Mengetahuigambaran nilai gizi snack bar tepung campuran (tepung mocaf & tepung kacang merah) dan snack bar komersial. Metode Penelitian :Desain penelitian deskriptif analitik. Sampel penelitian ini adalah snack bar komersial. Jenis-jenis snack bar komersial didapatkan dari swalayan yang ada di Ungaran. Analisis data menggunakan microsoft office excel dan disajikan dalam bentuk tabel. Hasil : Snack bar tepung campuran (tepung mocaf dengan tepung kacang merah) mengandung energi 128 kkal, protein 4,5 gram, lemak 3 gram, karbohidrat 20,5 gram, dan serat 5,7 gram. Kandungan gizi dari 11 merk snack bar komersial yaitu energi 80-160 kkal, protein 1-6 gram, lemak 2,5-10 gram, karbohidrat 10-19 gram, dan serat 1-4 gram. Simpulan :Kandungan gizi snack bar tepung campuran (tepung mocaf & tepung kacang merah) mengandung serat lebih tinggi daripada snack bar komersial.
Dian Ratnasari, Galeh Septiar Pontang, Purbowati
JURNAL GIZI DAN KESEHATAN, Volume 11, pp 89-95; https://doi.org/10.35473/jgk.v11i25.18

Abstract:
Latar Belakang: Pengukuran antropometri seperti tinggi badan penting dilakukan untuk menentukan kebutuhan energi. Pada kondisi tertentu, seseorang tidak dapat diukur tinggi badan secara aktual sehingga diperlukan pengukuran alternatif lain. Demi span (setengah rentang lengan) merupakan salah satu tulang panjang yang paling mendekati untuk memperkirakan tinggi badan. Tujuan: Untuk mengetahui hubungan antara demi span dengan tinggi badan pada dewasa muda. Metode: Jenis penelitian ini adalah deskriptif korelasi dengan pendekatan cross sectional. Sampel adalah mahasiswa Fakultas Ilmu Kesehatan dan Fakultas Keperawatan Universitas Ngudi Waluyo. Jumlah sampel penelitian ini yaitu 303 responden diambil dengan metode disproportionate random sampling. Demi span diukur menggunakan metline dengan ketelitian 0,1 cm dan tinggi badan diukur menggunakan microtoise dengan ketelitian 0,1 cm. Analisis bivariat menggunakan uji korelasi Spearman Rank (α=0,05). Hasil: Rerata panjang demi span laki-laki 79,1 ± 3,34 cm dan perempuan 72,2 ± 3 cm. Rerata tinggi badan laki-laki 166,1 ± 5,7 cm dan perempuan 154,2 ± 4,9 cm. Terdapat hubungan antara demi span dengan tinggi dengan tinggi badan pada dewasa muda (p=0,0001) dengan keeratan hubungan kuat (r=0,793) Simpulan: Terdapat hubungan antara demi span dengan tinggi badan
Ni Luh Gede Trisna Pratiwi, Sugeng Maryanto, Purbowati
JURNAL GIZI DAN KESEHATAN, Volume 11, pp 46-53; https://doi.org/10.35473/jgk.v11i25.14

Abstract:
LatarBelakang: Obesitas pada remaja dapat menjadi risiko terjadinya hipertensi. Persen lemak tubuh dapat mencerminkan komposisi tubuh seseorang.Lingkar pinggang dapat menjadi parameter pilihan untuk memprediksi sindrom metabolik.Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara persen lemak tubuh dan lingkar pinggang dengan hipertensi pada siswa di SMK Hidayah Semarang. Metode: Rancangan penelitian ini adalah cross sectional. Populasi penelitian adalah seluruh siswa kelas XI dan XII SMK Hidayah Semarang dengan jumlah sampel 85 orang diambil dengan teknik purposive random sampling. Persen lemak tubuh diukur dengan menggunakan BIA hand to foot, lingkar pinggang dengan metline dan tekanan darah diukur dengan membandingkan hasil dengan persentil tekanan darah menurut usia, jenis kelamin dan tinggi badan. Analisis data menggunakan program SPSS. Analisis bivariat menggunakan uji chisquare (α = 0,05). Hasil: Tidak ada hubungan antara persen lemak tubuh dengan hipertensi pada siswa di SMK Hidayah Semarang (p = 0,505) dan tidak ada hubungan antara lingkar pinggang dengan hipertensi pada siswa di SMK Hidayah Semarang (p=0,108). Simpulan: Tidak terdapat hubungan persen lemak tubuh dan lingkar pinggang dengan hipertensi pada siswa di SMK Hidayah Semarang.
JURNAL GIZI DAN KESEHATAN, Volume 11, pp 96-102; https://doi.org/10.35473/jgk.v11i25.10

Abstract:
Latar Belakang : Asupan tinggi energi dari lemak jenuh meningkatkan risiko CHD khususnya pada wanita. Kelainan profil lipid ini erat hubungannya dengan proses perkembangan atherosklerosis. Penelitian epidemiologi, laboratorium dan klinik menunjukkan hubungan peningkatan kejadian penyakit kardiovaskular dan penyakit degeneratif lainnya dengan kadar kolesterol yang tinggi. Metode : Rancangan Penelitian adalah crossecional. Subyek penelitian adalah 30 karyawati RSUD Kendal umur 35 – 50 tahun.Pemeriksaan kadar kolesterol total, kadar kolesterol LDL diukur dengan vitros system chemistry analyser 300 di laboratorium patologi klinik RSUD Kendal. Asupan gizi diukur dengan metode food recall 24 dihitung dengan program Nutrisurvey. Analisis data menggunakan uji Shapiro Wilk dan uji korelasi Spearman. Hasil dan Pembahasan : Hasil analisa data adalah ada hubungan asupan energi dengan kadar kolesterol total (p=0,016, r=0,434), ada hubungan kuat asupan lemak dengan kadar kolesterol total (p=0,01, r=0,593), ada hubungan asupan lemak dengan kadar LDL (p=0,011, r=0,456) dan tidak ada hubungan asupan energi dengan kadar LDL (p=0,1119, r=0,291), Asupan tinggi energi mengakibatkan penimbunan lemak terutama trigliserida. Hal ini akan meningkatkan VLDL dan IDL darah yang akan berujung dengan peningkatan kolesterol total. Semakin tinggi seseorang mengkonsumsi makanan berlemak, maka timbunan kadar lemak dan trigliserida di dalam tubuh akan meningkat. Hal ini akan meningkatkan VLDL dan IDL darah. Simpulan : Ada hubungan asupan energi dengan kadar kolesterol total (p=0,016, r=0,434), ada hubungan kuat asupan lemak dengan kadar kolesterol total (p=0,01, r=0,593) dan kadar LDL (p=0,011, r=0,456).
, Indri Mulyasari, Riva Mustika Anugrah
JURNAL GIZI DAN KESEHATAN, Volume 11, pp 60-69; https://doi.org/10.35473/jgk.v11i25.12

Abstract:
Latar Belakang : Salah satu penyebab meningkatnya kadar trigliserida adalah asupan tinggi karbohidrat sederhana dan lemak jenuh. Hipertrigliseridemia pada pekerja merupakan masalah kesehatan yang harus diperhatikan dan berdampak pada produktivitas karyawan dan perkembangan perusahaan. Tujuan: Mengetahui hubungan asupan karbohidrat sederhana dan lemak jenuh dengan kadar trigliserida di CV. Laksana Karoseri. Metode: Jenis penelitian ini adalah cross sectional. Subjek 96 orang laki-laki berusia 25-56 tahun. Diambil menggunakan Random Sampling. Asupan karbohidrat sederhana dan lemak jenuh di ukur dengan menggunakan metode Recall 3x24 jam. Uji normalitas menggunakan Spearman Rho. (α = 0,05) Hasil: Rerata kadar trigliserida subjek yaitu 180 mg/dl± 81.4 mg/dl, rerata asupan karbohidrat sederhana yaitu 27.18gr ± 9.9, rerata asupan lemak jenuh 38 gr± 18.2. ada hubungan antara asupan karbohidrat sederhana dengan kadar trigliserida (p= 0.040). Ada hubungan lemak jenuh dengan kadar trigliserida (p=0,014). Kesimpulan: Ada hubungan karbohidrat sederhana dengan kadar trigliserida. Ada hubungan lemak jenuh dengan kadar trigliserida
Nikita Arum Sari, Sugeng Maryanto, Riva Mustika Anugrah
JURNAL GIZI DAN KESEHATAN, Volume 11, pp 54-59; https://doi.org/10.35473/jgk.v11i25.13

Abstract:
Latar Belakang: Milkshake merupakan minuman yang disukai oleh anak sekolah saat ini. Ubi jalar ungu merupakan pangan lokal yang bisa dijadikan bahan untuk pembuatan milkshake. Milkshake Ubi Jalar Ungu mudah dibuat dengan tampilan produk menarik yang nantinya dapat dijadikan sebagai salah satu jajanan sehat dan aman untuk dikonsumsi bermanfaat untuk membantu menunjang proses pertumbuhan pada anak sekolah. Tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui daya terima dan menganalisis zat gizi pada Milkshake Ubi Jalar Ungu. Metode: Rancangan penelitian ini adalah Pre Experimental Design. Populasi penelitian adalah seluruh siswa kelas II, III dan IV SD Negeri Munding dengan jumlah sampel 68 orang dengan total sampling. Daya terima diperoleh dengan kuesioner. Nilai Gizi diperoleh melalui uji proksimalt dan titrasi. Analisis data menggunakan program SPSS. Analisis bivariat menggunakan uji oneway annova (α = 0.05). Hasil: Nilai signifikan 0,0001 berati < 0,05 artinya terdapat perbedaan daya terima yang antara ketiga sampel formula. Kandungan energi pada 200 ml Milkshake ubi jalar ungu sebanyak 173,082 kkal dengan kandungan protein sebanyak 6,34 gram, lemak 0,458 gram, karbohidrat 35,9 gram (serta kalsium 158,36 mg. Simpulan: Formula (80 % : 20 %) paling diterima oleh anak sekolah dengan zat gizi energi 173,082 kkal.
, Sugeng Maryanto, Purbowati
JURNAL GIZI DAN KESEHATAN, Volume 11, pp 78-86; https://doi.org/10.35473/jgk.v11i25.9

Abstract:
Latar Belakang: Anak yang lahir dengan berat badan lahir rendah (BBLR) memiliki pertumbuhan dan perkembangan cenderung lebih lambat dibandingkan anak yang lahir dengan berat badan normal. Rendahnya mutu MP ASI dan tidak sesuainya frekuensi yang diberikan sehingga beberapa zat gizi tidak dapat mencukupi kebutuhannya, sehingga berdampak terhadap status gizi salah satunya stunting. Tujuan penelitian ini adalah Mengetahui hubungan berat badan lahir dan pemberian MP ASI dengan kejadian stunting pada anak usia 6–24 bulan di Kelurahan Langensari Kecamatan Ungaran Kabupaten Semarang. Metode: penelitian ini merupakan penelitian deskriptif korelasi, dengan pendekatan cross sectional. Sampel terdiri dari 76 anak di Kelurahan Langensari yang diambil dengan teknik purposive sampling. Pengumpulan data menggunakan Kuesioner, baby scale, timbangan digital, length board dan form recall 24 jam. Analisis data menggunakan chi square (α = 0,05). Hasil: Ada hubungan antara berat badan lahir dan pemberian MP ASI dengan kejadian stunting (α = 0,001 dan α = 0,013). Simpulan: Ada hubungan antara berat badan lahir dan pemberian MP ASI dengan kejadian stunting pada anak usia 6-24 bulan di Kelurahan Langensari Kecamatan Ungaran Kabupaten Semarang.
Ovyka Riagustin, Purbowati, Galeh Septiar Pontang
JURNAL GIZI DAN KESEHATAN, Volume 11, pp 70-77; https://doi.org/10.35473/jgk.v11i25.11

Abstract:
Latar Belakang :Persen lemak tubuh sebagai indikator status gizi. Prevalensi gizi lebih pada remaja cenderung meningkat setiap tahunnya. Kelebihan energi disimpan tubuh sebagai cadangan energi dalam bentuk glikogen sebagai cadangan energi jangka pendek dan dalam bentuk lemak sebagai cadangan jangka panjang. Konsumsi air putih dapat dikaitkan dengan penurunan persen lemak tubuh Tujuan :Untuk mengetahui hubungan asupan air putih dan asupan energi dengan persen lemak tubuh pada remaja di SMK Hidayah Semarang. Metode : Jenis penelitian ini merupakan studi korelasi menggunakan pendekatan cross sectional dengan populasi siswa SMK Hidayah Semarang. Sampel sebanyak 85 responden diambil menggunakan metode proporsional random sampling. Asupan energi dan asupan air putih responden diukur menggunakan FFQ semi kuantitatif. Persen lemak tubuh responden diukur menggunakan BIA (Bioelectricallmpedance Analysis). Analisis bivariat menggunakan uji pearson (α=0,0001). Hasil : Kategori tingkat kecukupan energi terbanyak dengan kategori normal dan defisit ringan sebanyak 27 siswa (31,8%) dan persentase terkecil dengan kategori defisit berat sebanyak 2 siswa (2,4%). Kategori asupan air putih terbanyak dengan kategori cukup sebanyak 56 siswa (64,7%) dan persentase terkecil dengan kategori kurang sebanyak 30 siswa (35,3%). Kategori persen lemak tubuh terbanyak dengan kategori normal sebanyak 39 siswa (45,9%) dan persentase terkecil dengan kategori unnderfat sebanyak 0 siswa (0%). Terdapat hubungan yang bermakna antara asupan energi dan asupan air putih dengan persen lemak tubuh (p=0,0001, p=0,0001) Simpulan : Terdapat hubungan antara asupan energi dan asupan air putih dengan persen lemak tubuh.
Page of 2
Articles per Page
by
Show export options
  Select all
Back to Top Top