Refine Search

New Search

Results in Journal Jurnal Ilmiah Farmasi Farmasyifa: 57

(searched for: journal_id:(4266913))
Page of 2
Articles per Page
by
Show export options
  Select all
Ummul Khair Salma
Jurnal Ilmiah Farmasi Farmasyifa, Volume 4, pp 6-16; doi:10.29313/jiff.v4i1.6768

Abstract:
Atorvastatin merupakan antihiperlipidemia golongan statin dan termasuk BCS (Biopharmaceutical Class System) kelas II yang memiliki permeabilitas tinggi dan kelarutan yang rendah. Kelarutan zat aktif dalam air yang rendah menghasilkan laju disolusi dan bioavailabilitas yang rendah sehingga berpengaruh pada efektifitas terapinya. Oleh karena itu, kelarutan merupakan parameter yang penting bagi industri farmasi dalam mendesain sediaan yang bermutu, aman, dan berefikasi. Metode dispersi padat telah digunakan secara luas untuk meningkatkan karakteristik kelarutan dan disolusi obat atorvastatin, dapat ditingkatkan kelarutan dan laju disolusinya dengan berbagai metode pembuatan dispersi padat seperti Solvent Evaporation, Fusion Method, Kneading, Lyophilization Technique, Spray Drying Co-grinding, Dropping Method. Berbagai polimer pembawa yang dapat digunakan dalam pembuatan dispersi padat juga direview dalam artikel ini. Hasil review artikel menunjukkan bahwa atorvastatin dapat ditingkatkan kelarutan dan laju disolusinya dengan metode dispersi padat dibandingkan dengan atorvastatin murni.
Kinasih Cahyono, Sumardi Sumardi, Bambang Irawan, Sri Wahyuningsih, Endang Nurcahyani
Jurnal Ilmiah Farmasi Farmasyifa, Volume 4, pp 33-40; doi:10.29313/jiff.v4i1.6372

Abstract:
Lactobacillus sp merupakan salah satu spesies yang sering digunakan sebagai probiotik, namun kelemahan dari bakteri tersebut adalah tidak toleran terhadap pH rendah (asam), di cairan empedu, serta pada suhu yang tinggi. Bakteri probiotik harus tetap hidup sejak mereka dikonsumsi hingga menetap di usus. Hal ini sulit karena bakteri harus melewati pH asam ekstrim di saluran pencernaan. Tujuan dalam penelitian ini adalah meningkatkan viabilitas BAL dalam kondisi simulasi asam lambung (pH=2) dan garam empedu (ox bile 0,5%) yang diimobiliasi dengan zeolite-natrium alginat. Enkapsulasi bakteri probiotik adalah alternatif yang memberikan perlindungan bagi sel-sel hidup yang berada pada kondisi yang merugikan. Berdasarkan hasil uraian di atas maka bertujuan untuk meningkatkan jumlah kelangsungan hidup bakteri Lactobacillus sp dalam kondisi simulasi asam lambung dan garam empedu bakteri probiotik dengan menggunakan imobilisasi natrium alginat-zeolit serta mengetahui gen penghasil antibiotik pada bakteri asam laktat. Metode yang digunakan dalam imobilisasi bakteri adalah ekstrusi. Berdasarkan hasil penelitian maka dapat disimpulkan bahwan Imobilisasi dengan penyalut natrium alginate-zeolit mampu meningkatkan viabilitas bakteri asam laktat. Dalam kondisi simulasi lambung dan garam empedu. Bakteri asam laktat (BAL) menghasilkan bakteriosin yang dapat berfungsi untuk menghambat bakteri Gram positif dan Gram negatif berasal dari gen penghasil antimikroba yaitu terdapat gen plantaricin, casseicin, acidocin, lactacin B, helviticin Kata Kunci : Imobilisasi, Natrium Alginat, Bakteri Asam Laktat, Zeolit, Gen Antimikroba
Jurnal Ilmiah Farmasi Farmasyifa, Volume 4, pp 76-86; doi:10.29313/jiff.v4i1.6679

Abstract:
Kerontokan rambut yang sering diakhiri dengan kebotakan merupakan problema estetis yang sangat dikhawatirkan setiap orang. Rambut sehat mempunyai siklus pertumbuhan rambut yang panjang dan kelembaban yang cukup dimana pertumbuhan rambut terjadi karena sel-sel daerah matriks atau umbi rambut secara terus menerus membelah. Bahan alam yang diperkirakan berpotensi dalam pertumbuhan rambut adalah daun kecombrang (Etlingera elatior (Jack) R.M.Sm). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui aktivitas ekstrak etanol daun kecombrang (Etlingera elatior (Jack) R.M. Sm) terhadap pertumbuhan rambut kelinci putih jantan dan konsentrasi mana yang memiliki aktivitas paling baik. Dalam penelitian ini dilakukan 6 perlakuan yaitu kontrol normal, kontrol negatif, kontrol positif, ekstrak etanol daun kecombrang konsentrasi 2,5%, konsentrasi 5% dan konsentrasi 10%. Perlakuan dilakukan setiap hari dengan volume pengolesan 1 ml setiap konsentrasi selama 28 hari. Pengukuran panjang rambut dilakukan pada hari ke 7, 14, 21 dan 28 menggunakan jangka sorong dan pengukuran bobot rambut dilakukan pada hari ke 28 dengan cara mencukur rambut yang tumbuh kemudian ditimbang. Data yang diperoleh diolah secara statistik dengan metode Anova. Hasil penelitian menunjukkan ekstrak etanol daun kecombrang memiliki aktivitas sebagai penyubur rambut pada konsentrasi 10% serta konsentrasi yang paling baik adalah konsentrasi 10% yaitu 1,40 cm sebagai pertumbuhan rambut dalam 28 hari. Dan konsentrasi 10% memiliki bobot rambut terbesar yaitu 0,11 gram dalam 28 hari.
Mulyadi Tanjung
Jurnal Ilmiah Farmasi Farmasyifa, Volume 4, pp 25-32; doi:10.29313/jiff.v4i1.6246

Abstract:
Melicope incana is one of the plant species that belongs to family Rutaceae. Melicope produces phenolic compounds, including alkaloids, acylphloroglucinol, flavonoids, and coumarins. This study aims to isolate the acyl phloroglucinol derivatives found in M. incana seeds. Extraction of acylphloroglucinol derivatives with methanol using the maceration method at room temperature. Separation and purification using a combination of gravity column chromatography, and radial chromatography. Two acylphloroglucinol compounds have been isolated, namely 3'-geranyl-2',4',6'-trihydroxy acetophenone (1) and 3'-isoprenyl-2',4',6'-trihydroxy acetophenone (2). The structure of the two compounds was determined based on UV, IR, 1D, and 2D NMR spectroscopic analysis. Anticancer activity of compounds 1-2 against breast cancer cells MCF-7 showed IC50 values of 48.98 and 4.30 µg /mL, respectively.
Khurin In Wahyuni
Jurnal Ilmiah Farmasi Farmasyifa, Volume 4, pp 87-97; doi:10.29313/jiff.v4i1.6794

Abstract:
Kesadaran dan Pengetahuan tentang penyakit hipertensi masih sangat rendah, padahal angka kejadian hipertensi cukup tinggi. Kepatuhan dan ketidak patuhan dapat digunakan sebagai parameter tingkat pengetahuan pasien hipertensi. Kepatuhan minum obat sangatlah penting karena dengan patuh tekanan darah dapat dikontrol. Ketidak patuhan diakibatkan adanya ketidak pahaman dalam menjalankan terapi merupakan salah satu penyebab kegagalan terapi. Hal ini sering disebabkan kurangnya pengetahuan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan tingkat pengetahuan dengan kepatuhan pasien hipertensi di Rumah Sakit Anwar Medika. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif cross-sectional. Jumlah sampel pada penelitian ini yaitu 106 dengan menggunakan Teknik pengambilan sampel yaitu teknik purposive sampling. Pengumpulan data dilakukan pada bulan februari sampai maret 2020 dengan menggunakan kuisioner. Penelitian ini mendapatkan hasil persentase tingkat pengetahuan yaitu pengetahuan rendah 24%, pengetahuan sedang 46% dan pengetahuan tinggi 30%. Hasil persentase tingkat kepatuhan yaitu kepatuhan rendah 8%, kepatuhan sedang 63%, dan kepatuhan tinggi 28%. Berdasarkan analisis Chi Square antara pendidikan dengan pengetahuan didapatkan p value = 0,000 (
Anjar Hermadi Saputro
Jurnal Ilmiah Farmasi Farmasyifa, Volume 4, pp 67-75; doi:10.29313/jiff.v4i1.7067

Abstract:
Bakso dan mi basah merupakan makanan yang mudah ditemui di Indonesia. Tak heran apabila hampir disetiap pusat keramaian dan sepanjang jalan utama disetiap daerah terdapat warung makan yang menyajikan bakso dan makanan berbahan dasar mi basah. Boraks merupakan zat aditif berbahaya yang sering digunakan sebagai pengawet dan memperbaiki tekstur bakso, akan tetapi penggunaan boraks sebagai pengawet makanan dilarang di Indonesia karena dapat menyebabkan berbagai macam penyakit seperti gangguan syaraf pusat hingga gangguan pada hati. Kota Bandar Lampung merupakan Ibukota Provinsi Lampung, berdasakan Badan Pusat Statistik Kota Bandar Lampung Kecamatan Sukarame, Sukabumi dan Wayhalim menjadi 3 dari 5 besar kecamatan dengan jumlah penduduk tertinggi tahun 2020 di Kota Bandar Lampung. Penilitian ini bertujuan untuk menganalisis ada tidak nya kandungan boraks pada bakso dan mi basah yang dijual di Kecamatan Sukarame, Sukabumi dan Wayhalim di Kota Bandar Lampung. Metode pengambilan sampel pada penelitian ini adalah random sample dimana terdapat total 30 sampel bakso dan 30 sampel mi basah yang diuji. Hasil uji kualitatif kandungan boraks pada seluruh sampel menunjukkan tidak ada kandungan boraks pada bakso dan mi basah yang dianalisis (100% negatif boraks).
Ratih Aryani, Aulia Fikri Hidayat, Atika Zulfa Karimah
Jurnal Ilmiah Farmasi Farmasyifa, Volume 4, pp 41-48; doi:10.29313/jiff.v4i1.7151

Abstract:
Daun teh hijau (Camellia sinensis) mengandung senyawa polifenol katekin yang mempunyai aktivitas antioksidan. Senyawa turunan katekin terbesar di dalam teh hijau adalah EGCG (epigallocatechin gallate). Sistem penghantaran NLC (Nanostructured Lipid Carriers) dapat memperbaiki stabilitas dan ketersediaan hayati EGCG. Tujuan penelitian ini adalah untuk memperoleh formula NLC ekstrak etanol daun teh hijau berdasarkan karakteristik ukuran partikel, indeks polidispersitas dan potensial zeta. Desain dan optimasi formula dibuat dengan variasi lipid, terdiri atas lipid padat (gliseril monostearat, setil alkohol, setil palmitat, precirol ATO5, dan gelucire), lipid cair (labrafac), serta surfaktan (poloxamer 188 dan tegocare) menggunakan metode homogenisasi kecepatan tinggi dan ultrasonikasi. Formula terbaik terdiri atas 0,1% ekstrak etanol daun teh hijau, 4% lipid, dengan perbandingan lipid padat (precirol ATO 5: gelucire (4:1)) dan lipid cair (labrafac) 9:1, serta 1% poloxamer 188. Karakteristik formula NLC yang diperoleh memiliki tampilan visual koloid kehijauan, ukuran partikel 359,6 nm, indeks polidispersitas 0,296, dan zeta potensial -0,17 mV.
Retty Handayani
Jurnal Ilmiah Farmasi Farmasyifa, Volume 4, pp 105-111; doi:10.29313/jiff.v4i1.6497

Abstract:
Lipbalm preparations are a decorative cosmetic dosage form for moisturizing lips. One of the most important components of lipbalm preparations is an emollient. Emollients work by covering the damaged skin with beads of fat so that the skin of the lips becomes softer and moisturized. Arabica coffee beans (Coffea arabica L.) java preanger contain linoleic acid which functions as an emollient. This study aims to make a lipbalm formulation containing extracts of Arabica coffee beans (Coffea Arabica L). Lipbalm preparations made with variations in the concentration of coffee extract 3%, 6% and 9%. The resulting formula is then evaluated for its physical stability. The irritation test is carried out using the patch test method, testing the effectiveness of emollients using a skin analyzer. The results showed that variations in the extract of coffee used (3%, 6% and 9%) showed that the concentration of 9% was more stable. The irritation test results show that all three formulas are safe to use. Based on the results of the effectiveness test shows that the formula with a concentration of 9% gives a good emollient effect after use based on statistical tests the paired samples T-test method.Keywords : emollients, coffee bean extracts, formulation, lipbalm.
Muhammad Agus Ulil Albab
Jurnal Ilmiah Farmasi Farmasyifa, Volume 4, pp 49-56; doi:10.29313/jiff.v4i1.6542

Abstract:
Antibiotik adalah salah satu terapi yang digunakan dalam menangani infeksi, akan tetapi penggunaan antibiotik sudah menjadi resistensi akibat penggunaan yang tidak tepat. Oleh karena itu, diperlukan adanya terapi alternatif dari tumbuhan yang berpotensi tinggi sebagai antibakteri. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui aktivitas antibakteri gel ekstrak batang pepaya terhadap Staphylococcus aureus ATCC 25923 menggunakan metode difusi agar. Metode penelitian yang digunakan adalah eksperimental. Sampel batang papaya diekstraksi menggunakan metode maserasi dengan etanol 70%. Kontrol positif yang digunakan adalah gel klindamisin dan kontrol negatif adalah basis gel tanpa ekstrak. Ekstrak batang pepaya dibuat menjadi sediaan gel dengan konsentrasi 5%, 10%, dan 20%. Sediaan gel dilakukan evaluasi mencakup uji organoleptis, pH, homogenitas, daya sebar, daya lekat, dan daya proteksi selama 10 hari. Analisa statistik dilakukan dengan uji Normalitas data, Kruskal-Wallis, dan Mann-Whitney. Hasil pengujian aktivitas antibakteri gel ekstrak batang pepaya menunjukkan gel ekstrak batang pepaya mempunyai aktivitas antibakteri terhadap Staphylococcus aureus ATCC 25923. Gel ekstrak batang pepaya dengan konsentrasi 5%; 10%; dan 20% secara berurutan memiliki rata-rata zona hambat sebesar 19,7±0,721 mm; 21,9±1,625 mm; dan 23,6±1,629 mm. Aktivitas antibakteri diduga berasal dari aktivitas senyawa flavonoid, tanin dan saponin dalam ekstrak batang pepaya. Gel ekstrak batang pepaya memiliki daya hambat lebih kecil dibanding dengan gel klindamisin yang memiliki rata-rata zona hambat sebesar 28±0,577 mm. Gel esktrak batang pepaya memenuhi syarat uji organoleptis, homogentis, pH, daya sebar, daya lekat, dan daya proteksi serta stabil dalam masa penyimpanan.
Risa Apriani Hilyah, Fetri Lestari, Lanny Mulqie
Jurnal Ilmiah Farmasi Farmasyifa, Volume 4, pp 1-5; doi:10.29313/jiff.v4i1.6649

Abstract:
ABSTRAKKebiasaan merokok merupakan salah satu gaya hidup yang dapat menimbulkan masalah kesehatan terutama penyakit kardiovaskular karena rokok mengandung bahan kimia beracun, salah satu diantaranya adalah gas CO. CO yang terhirup akan berikatan dengan hemoglobin sehingga kemampuan darah dalam mensuplai O2 ke jaringan menjadi berkurang. Pengukuran kadar CO menggunakan smokerlyzer menjadi metode alternatif untuk pendeteksian dini gangguan kesehatan akibat rokok. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara kebiasaan merokok dengan kadar CO perokok di wilayah Puskesmas Antapani Kota Bandung. Penelitian bersifat observasional dengan desain case control study yang dilakukan di wilayah Puskesmas Antapani Kota Bandung. Sampel penelitian berjumlah 10 orang perokok yang diambil secara convenience sampling. Pengukuran kadar CO dilakukan dengan menggunakan smokerlyzer. Hasil penelitian menunjukan bahwa terdapat hubungan antara kebiasaan merokok dengan kadar CO perokok di wilayah Puskesmas Antapani Kota Bandung. Jumlah rokok perhari dan lama merokok memiliki korelasi bermakna dengan kadar CO dengan nilai r=0.698) dan (r=0.755). ABSTRACTSmoking is one of habits that can cause much more health problems than cardiovascular disease because in every cigarette contain toxic chemicals, one of them CO. The inhaled carbon monoxide will be bound to the haemoglobin in blood reducing its ability to transport O2 to body tissues. CO measurement using smokerlyzer is an alternative method for early detection of a health disorder caused by smoking. This study aims to find out the correlation between smoking habits and CO levels of in a district in the city of Bandung. The study is a observasional research in design of case control study in Antapani Public Health Centre Bandung City. The samples were taken from 10 people using convenience sampling technique. The measurement of CO levels was done using smokerlyzer. The result shows that there is a correlation beetwen smoking habits and CO levels of smokers study in Antapani Public Health Centre Bandung City. The number of cigarettes a day and along time smoking is correlated with a meaningful CO levels r=0.698) and (r=0.755).
Taufik Muhammad Fakih, Nurfadillah Hazar, Mentari Luthfika Dewi, Tanisa Maghfira Syarza, Anggi Arumsari
Jurnal Ilmiah Farmasi Farmasyifa, Volume 4, pp 57-66; doi:10.29313/jiff.v4i1.6784

Abstract:
Sindrom pernapasan akut parah coronavirus-2 (SARS-CoV-2) yang menyebabkan pandemi penyakit infeksi COVID-19 menggunakan protein spike untuk dapat berikatan dengan reseptor angiotensin-converting enzyme 2 (ACE2) dalam sel inang. Beberapa kandidat obat yang diprediksi dapat digunakan dalam terapi COVID-19 seperti, tegobuvir, sonidegib, siramesine, antrafenine, bemcentinib, itacitinib, dan ftalosianina secara farmakologis mampu menghambat penempelan SARS-CoV-2 pada reseptor ACE2. Akan tetapi menariknya terapi fotodinamika dengan memanfaatkan senyawa ftalosianina berlabel logam saat ini dapat menjadi pilihan alternatif untuk terapi COVID-19 karena lebih efektif dan spesifik terhadap target.Melalui penelitian ini akan dilakukan identifikasi, evaluasi, dan eksplorasi afinitas serta interaksi molekular yang mampu menggambarkan mekanisme aksi dari struktur senyawa turunan ftalosianina berlabel logam secara in silico. Simulasi penambatan molekular ligan-protein antara besi ftalosianina (Fe-Pc) dan galium ftalosianina (Ga-Pc) terhadap protein spike SARS-CoV-2 dilakukan dengan menggunakan perangkat lunak PatchDock. Berdasarkan simulasi penambatan molekular ligan-protein diperoleh hasil bahwa senyawa galium ftalosianina (Ga-Pc) memiliki afinitas yang lebih baik dibandingkan besi ftalosianina (Fe-Pc) terhadap protein spike SARS-CoV-2, dengan nilai masing-masing sebesar −2366,68 kJ/mol dan −2225,55 kJ/mol. Dari hasil tersebut dapat diprediksi perbedaan struktur molekul senyawa turunan ftalosianina berlabel logam terbukti mampu mempengaruhi mekanisme aksi terhadap protein target. Dengan demikian, hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi referensi dalam mendesain struktur senyawa turunan ftalosianina berlabel logam sebagai kandidat fotosensitizer dalam terapi fotodinamika untuk penyakit infeksi COVID-19.
Widyastuti Widyastuti, Najmi Hilaliyati
Jurnal Ilmiah Farmasi Farmasyifa, Volume 4, pp 112-119; doi:10.29313/jiff.v4i1.6716

Abstract:
AbstrakPenggunaan herbal saat ini semakin berkembang sebagai nutrifood, obat-obatan dan kosmetik. Syzigium cumini atau jambu jamblang mengandung senyawa yang mempunyai aktivitas sebagai antioksidan. Disamping itu adanya senyawa fenol didalam buah jambu jamblang diduga memiliki aktivitas tabir surya. Peelitian ini bertujuan untuk mengetahui aktivitas antioksidan dan tabir surya pada buah jambu jamblang (Syzigium cumini (L.) Skeel) dengan menggunakan pelarut yang berbeda, sehingga dapat dilihat potensi ekstrak sebagai antioksidan dan tabir surya.Ekstraksi buah jambu jamblang secara maserasi menggunakan pelarut etanol, etil asetat dan n-heksan. Ekstrak yang didapat dilakukan pemeriksaan kandungan senyawa metabolit sekunder. Pengujian aktivitas antioksidan menggunakan metode DPPH. Aktivitas tabir surya dilakukan secara metode spektrofotometri. Dari penelitian yag dilakukan didapatkan hasil ekstrak etanol mengandung senyawa alkaloid, flavonoid, fenolik,dan terpenoid. Ekstrak etil asetat mengandung senyawa alkaloid dan terpenoid. Ekstrak n-heksan mengandung senyawa alkaloid. Nilai IC50 ekstrak etanol, etil asetat dan n-heksan masing-masing 4441,6 ppm, 1754,2 ppm dan 16964,6 ppm. Nilai Sun Protecting Factor (SPF) dari ekstrak etanol, etil asetat dan n-heksan pada kadar 1000 ppm masing-masing 6,324; 38,018 dan 3,872. Ekstrak etil asetat memiliki potensi sebagai antioksidan dan tabir surya yang lebih baik dibanding ekstrak etanol dan n-heksan.Abstract The use of herbs is now growing as nutrifood, medicine and cosmetics. Syzigium cumini or guava contains compounds that have antioxidant activity. In addition, the presence of phenolic compounds in guava fruit is thought to have sunscreen activity. This study aims to determine the antioxidant and sunscreen activity of jamblang guava (Syzigium cumini (L.) Skeel) using different solvents, so that it can be seen the potential of the extract as an antioxidant and sunscreen. Maceration of guava fruit extraction using ethanol solvent, ethyl acetate and n-hexane. The extract obtained was examined for the content of secondary metabolite compounds. Antioxidant activity testing used the DPPH method. Sunscreen activity was carried out using the spectrophotometric method. From the research conducted, it was found that the ethanol extract contained alkaloid, flavonoid, phenolic, and terpenoid compounds. Ethyl acetate extract contains alkaloid and terpenoid compounds. N-hexane extract contains alkaloid compounds. The IC50 values of ethanol, ethyl acetate and n-hexane extract were respectively 4441.6 ppm, 1754.2 ppm and 16964.6 ppm. Sun Protecting Factor (SPF) values of ethanol, ethyl acetate and n-hexane extract at levels of 1000 ppm were 6.324 each; 38,018 and 3,872. Ethyl acetate extract has better potential as an antioxidant and sunscreen than ethanol and n-hexane extracts.
Sani Ega Priani, Taufik Muhammad Fakih
Jurnal Ilmiah Farmasi Farmasyifa, Volume 4, pp 17-24; doi:10.29313/jiff.v4i1.6788

Abstract:
Kulit buah jeruk merupakan salah satu limbah yang belum banyak dimanfaatkan. Kulit buah jeruk diketahui mengandung banyak senyawa berkhasiat diantaranya adalah nobiletin dan hesperidin. Senyawa tersebut termasuk golongan senyawa flavonoid yang diketahui berpotensi menginhibisi enzim tyrosinase, suatu enzim yang mengkatalisis sintesis melanin. Penelitian ini bertujuan untuk menganalis secara in silico, interaksi molekular antara senyawa flavonoid utama dari kulit buah jeruk yakni hesperidin dan nobiletin dengan enzim tirosinase dilihat dari parameter energi ikatan dan jenis ikatan yang terjadi. Penelitian ini dilakukan secara in silico dengan diawali preparasi makromolekul enzim tyrosinase dan penetapan sisi aktifnya menggunakan tirosin sebagai substrat atau ligan alaminya. Selanjutnya dilakukan studi interaksi molekular antara senyawa nobiletin dan hesperidin terhadap sisi aktif enzim tirosinase dengan metode molecular docking. Hasil uji menunjukkan bahwa nobiletin dan hesperidin memiliki kemampuan untuk berikatan dengan sisi aktif enzim tirosinase dengan besar energi ikatan berturut-turut -6,24 dan -6,73 kkal/mol. Energi ikatan tersebut lebih kuat dibandingkan dengan energi ikatan antara substrat alami (tirosin) dengan sisi aktif enzim, yaitu sebesar -4,91 kkal/mol. Hesperidin dan nobiletin beinteraksi dengan sisi aktif enzim dengan ikatan hidrogen dan intearaksi hidrofobik. Nobiletin juga mampu berikatan dengan logam Cu yang ada pada sisi aktif enzim. Dari hasil tersebut dapat disimpulkan bahwa senyawa nobiletin dan hesperidin berpotensi menjadi inhibitor kompetitif enzim tirosinase berdasarkan studi in silico.
Lanny Mulqie
Jurnal Ilmiah Farmasi Farmasyifa, Volume 4, pp 98-104; doi:10.29313/jiff.v4i1.6818

Abstract:
Penyakit infeksi memiliki peranan yang cukup besar untuk terjadinya morbiditas dan mortalitas baik di negara berkembang maupun di negara maju. Penerimaan masyarakat terhadap penggunaan obat tradisional untuk menangani penyakit mencapai 58%. Salah satu tanaman yang dapat digunakan sebagai bahan obat tradisional yaitu daun jambu air. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui aktivitas antibakteri daun jambu air terhadap Staphylococcus aureus dan Escherichia coli melalui penetapan konsentrasi hambat minimum (KHM) dan tipe kerja fraksi air daun jambu air. Fraksinasi dilakukan dengan cara ekstraksi cair-cair menggunakan pelarut n-heksana, etil asetat, dan air. Penetapan KHM dilakukan dengan metode difusi agar menggunakan teknik sumur. Penentuan tipe kerja dilakukan dengan metode turbidimetri. Hasil pengujian menunjukkan bahwa fraksi air daun jambu air memiliki aktivitas antibakteri dengan nilai KHM 0,78%. Tipe kerja fraksi air daun jambu air adalah bakterisid primer.
Indra Topik Maulana, Rizka Wulan Sari, Rinda Sri Partina, Isnaeni Nur Azizah
Jurnal Ilmiah Farmasi Farmasyifa, Volume 3, pp 92-101; doi:10.29313/jiff.v3i2.5977

Abstract:
Penelitian terkait telaah kandungan asam lemak esensial dari empat jenis minyak ikan konsumsi di Jawa Barat telah selesai dilakukan. Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh data ilmiah terkait kandungan asam lemak esensial didalam empat jenis ikan konsumsi. Bahan ikan yang digunakan adalah ikan mujair (Oreochromis mossambicus), ikan nila (Oreochromis niloticus), ikan gurami (Osphronemus goramy), dan ikan Bandeng (Chanos chanos). Minyak dari setiap jenis ikan diekstraksi dengan metode ekstraksi sinambung. Selanjutnya minyak ditransesterifikasi menjadi FAME kemudian dianalisis dengan menggunakan Kromatografi Gas-Spektroskopi Massa. Data hasil penelitian menunjukkan ikan mujair memiliki rendemen paling tinggi yaitu 8,57 + 0,06 % dari total bahan kering tanpa kepala dan ekor. Ikan nila mengandung minyak paling rendah yaitu 0,28 + 0,09 %. Berdasarkan penggolongan asam lemak, Minyak ikan mujaer mengandung SFA 35,36 + 4,86 %, MUFA 31,55 + 1,79 %, PUFA 19,15 + 2,05 %. Minyak ikan bandeng mengandung SFA 38,12 + 4,86 %, MUFA 36,64 + 2,21 % dan PUFA 18,4 + 2,02 %. Minyak Ikan gurami mengandung SFA 41,65 + 2,35 %, MUFA 40,29 + 1,13 %. Minyak Ikan Nila mengandung SFA 34,11 + 1,73%, MUFA 27,47 + 2,11 %, dan PUFA 38,43 + 2,81 %. Asam lemak esensial utama yang ditemukan pada penelitian ini diantaranya adalah ARA(ω-6), EPA(ω-3), dan DHA(ω-6).
Taufik Muhammad Fakih, Mentari Luthfika Dewi
Jurnal Ilmiah Farmasi Farmasyifa, Volume 3, pp 84-91; doi:10.29313/jiff.v3i2.5913

Abstract:
Protease utama (Mpro) merupakan bagian utama pembentuk karakteristik coronavirus (SARS-CoV dan SARS-CoV-2). Kemajuan teknologi telah membuka peluang untuk menemukan kandidat senyawa inhibitor baru yang mampu mencegah dan mengendalikan infeksi COVID-19 melalui penghambatan Mpro SARS-CoV-2. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi, mengevaluasi, dan mengeksplorasi struktur makromolekul Mpro dari kedua coronavirus tersebut secara in silico. Makromolekul Mpro terlebih dahulu dilakukan preparasi dengan menggunakan perangkat lunak BIOVIA Discovery Studio 2020. Konformasi tiga dimensi dan sekuensing dari struktur makromolekul yang telah dipreparasi kemudian diamati dan dibandingkan dengan menggunakan perangkat lunak Chimera 1.14 dan Notepad ++. Bagian sisi aktif dari makromolekul Mpro kemudian diidentifikasi dengan menggunakan perangkat lunak BIOVIA Discovery Studio 2020. Prediksi molekul inhibitor makromolekul Mpro dilakukan dengan menggunakan perangkat lunak MGLTools 1.5.6 yang dilengkapi dengan AutoDock 4.2. Berdasarkan hasil identifikasi terhadap makromolekul Mpro diperoleh hasil bahwa terdapat kemiripan struktur dan situs aktif pengikatan dari kedua makromolekul tersebut. Diprediksi bentuk molekul inhibitor dari kedua makromolekul Mpro juga identik. Dengan demikian, beberapa referensi tersebut dapat digunakan sebagai acuan dalam pengembangan kandidat inhibitor kompetitif Mpro SARS-CoV-2 untuk pengobatan penyakit infeksi COVID-19.
Keni Idacahyati
Jurnal Ilmiah Farmasi Farmasyifa, Volume 3, pp 113-120; doi:10.29313/jiff.v3i2.5797

Abstract:
Stroke merupakan penyebab kematian dan penyebab kecacatan diseluruh dunia. Dalam waktu dekat penyakit serebrovaskular akan meningkat karena penuaan dan perubahan gaya hidup yang merugikan di seluruh dunia. Pengobatan antiplatelet dapat mengurangi volume otak yang rusak oleh iskemia dan mengurangi risiko awal kematian. Penyakit stroke mewakili beban keuangan yang besar pada sistem perawatan kesehatan, serta pada pasien, keluarga, dan masyarakat. Analisis minimisasi biaya adalah metode penghitungan biaya obat untuk melihat obat yang paling murah atau modalitas terapeutik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Pasien dengan aspirin memiliki rata-rata total biaya antiplatelet yang lebih kecil (Rp2.168.900,57) dibandingkan dengan clopidogrel (Rp.2.618.655,00) (p = 0,052) dan aspirin lebih cost effectif dibandingkan clopidogrel sebagai antiplatelet pada pasien stroke.
Fitrianti Darusman
Jurnal Ilmiah Farmasi Farmasyifa, Volume 3, pp 64-73; doi:10.29313/jiff.v3i2.5812

Abstract:
Ibuprofen merupakan turunan asam propionat bersifat analgetik yang mempunyai daya antiinflamasi dan termasuk ke dalam Biopharmaceutic Classification Systems (BCS) kelas II yang mempunyai kelarutan praktis tidak larut dalam air dimana laju pelepasan ibuprofen menjadi penentu absorbsi obat. Salah satu upaya untuk meningkatkan kelarutan ibuprofen yaitu dengan pembentukan kompleks inklusi menggunakan β-siklodekstrin. β-siklodekstrin merupakan turunan siklodekstrin yang paling ekonomis dan non toksik saat diberikan secara oral serta ukuran rongganya sesuai untuk banyak obat. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan parameter termodinamika (ΔH, ΔG dan ΔS) dan pengaruh konsentrasi β-siklodekstrin terhadap kelarutan ibuprofen berdasarkan harga tetapan stabilitas kompleks pada proses pembentukan kompleks inklusi ibuprofen-β-siklodekstrin. Pembentukan kompleks inklusi antara ibuprofen dengan β-siklodekstrin dilakukan pada 2 kondisi pH yaitu dapar sitrat pH 5,2 dan dapar fosfat pH 7,2 serta 3 kondisi suhu yaitu 32°, 37°, dan 42°C. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ibuprofen dapat berinteraksi dengan β-siklodekstrin membentuk kompleks inklusi. Interaksi yang terjadi pada pH 5,2 dan 7,2 berlangsung secara eksotermik (ΔH<0), proses terjadi secara spontan (ΔG negatif) dan terjadi penurunan ketidakteraturan sistem (ΔS negatif) serta kelarutan ibuprofen meningkat dengan meningkatnya kadar β-siklodekstrin dimana harga tetapan stabilitas kompleks pada pH 5,2 sebesar 297,012 M-1 lebih besar dari pada pH 7,2 sebesar 50,137 M-1.Kata kunci :
Muhammad Dzakwan
Jurnal Ilmiah Farmasi Farmasyifa, Volume 3, pp 121-131; doi:10.29313/jiff.v3i2.6062

Abstract:
Pendahuluan : Morin (3,5,7, 2,4’- pentahidroksiflavone) adalah senyawa flavonoid golongan flavonol yang poten sebagai antioksidan, antikanker, antiinflamasi dan sebagai antidiabetes. Morin bersifat lipofil, tidak larut dalam air sehingga ketersediaan hayati dan aplikasi klinis menjadi terbatas. Nanosuspensi adalah sistem dispersi koloidal, 100% mengandung bahan obat dengan ukuran 10-1000 nm, tidak mengandung bahan pembawa apapun kecuali sebagai bahan penstabil. Tujuan : Penelitian ini bertujuan membuat nanosuspensi morin yang stabil dengan metode sonopresipitasi. Karakterisasi nanosuspensi meliputi ukuran partikel, indeks polidispersitas, zeta potensial, morfologi nanosuspensi dan aktivitas antioksidan. Metode : Nanosuspensi morin dibuat dengan metode sonopresipitasi dengan frekuensi 50 kHz selama 8 menit dengan variasi bahan penstabil jenis surfaktan, polimer dan kombinasi keduanya. Karakterisasi nanosuspensi meliputi ukuran partikel, indeks polidispersitas, zeta potensial, morfologi partikel (TEM), stabilitas fisik dan aktivitas antioksidan. Kesimpulan : Morin berhasil dikembangkan menjadi nanosuspensi dengan metode sonopresipitasi. Formula 7 dengan stabilizer SLS-Pluronic F68 (0,5:1) merupakan formula terpilih dengan ukuran partikel terkecil sebesar 182,7 nm, ukuran partikel seragam (PI : 0,210), stabil setelah penyimpanan 8 minggu dengan nilai zeta potensial -37,8 mV. Aktivitas antioksidan nanosuspensi morin meningkat sebesar 2-3 kali
Hajar Sugihantoro
Jurnal Ilmiah Farmasi Farmasyifa, Volume 3, pp 102-112; doi:10.29313/jiff.v3i2.5655

Abstract:
ABSTRAKKetidaktepatan penggunaan antibiotik banyak ditemukan di masyarakat luas. Hal ini dapat menjadi penyebab terjadinya resiko buruk seperti resistensi antibiotik. Studi awal yang dilakukan pada 15 warga Kecamatan Glagah menunjukkan sebanyak 73% menggunakan antibiotik untuk penyakit non infeksi atau membelinya tanpa resep dokter. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui tingkat pengetahuan dan perilaku penggunaan antibiotik serta meneliti hubungan antara pengetahuan dan perilaku penggunaan antibiotik. Penelitian ini merupakan penelitian dalam bentuk survey dengan pendekatan cross sectional. Pengambilan sampel dilakukan dengan metode purposive sampling. Alat ukur yang digunakan berupa kuesioner tertutup. Analisis data dilakukan dengan analisis Spearman. Penelitian dilakukan pada 96 konsumen Apotek-apotek di Kecamatan Glagah Kabupaten Lamongan. Hasil yang didapat yakni mayoritas responden berjenis kelamin perempuan (64%), berusia antara 18-40 tahun (75%). Pendidikan terakhir mayoritas responden adalah SMA (55%). Mayoritas responden adalah ibu rumah tangga (32%). Antibiotik yang banyak digunakan oleh responden adalah amoxicillin (63%). Tingkat pengetahuan responden dengan kategori pengetahuan baik sebanyak 8%, kategori cukup sebanyak 35%, dan kategori kurang sebanyak 57%. Adapun kategori perilaku baik sebanyak 22%, kategori cukup sebanyak 66%, dan kategori kurang sebanyak 12%. Hasil uji spearman didapatkan nilai sig. 0,000, nilai koefisien korelasi sebesar 0,431, dan arah korelasi positif (+). Penelitian ini menunjukkan adanya hubungan yang bermakna antara pengetahuan dan perilaku penggunaan antibiotik pada konsumen Apotek-apotek Kecamatan Glagah Kabupaten Lamongan.
Febri Hidayat, Ekadipta Ekadipta, Adinda Riskia Indriani Putri
Jurnal Ilmiah Farmasi Farmasyifa, Volume 3, pp 74-83; doi:10.29313/jiff.v3i2.5894

Abstract:
Penelitian ini bertujuan untuk menemukan mikroba potensial penghasil enzim glukoamilase. Enzim glukoamilase bekerja menghidrolisis amilum atau pati menjadi glukosa. Dalam industri glukoamilase dipakai pada proses produksi sirup glukosa dan sirup fruktosa. Dengan demikian, pengolahan hasil alam indonesia yang mengandung amilum atau pati misalnya beras, singkong, dll dapat dilakukan secara optimal. Adapun cara penapisan mikroba, dilakukan dengan cara membiakan mikroba yang terdapat pada tanah tumpukan limbah pada media Nutrien Agar (NA)-Pati dan Potato Dextrose Agar (PDA)-Pati. Pada meda yang ditumbuhi koloni diberi larutan lugol. Adanya daerah bening disekitar koloni menandakan bahwa koloni mikroba tersebut menghasilkan enzim amilase. Koloni kemudian diisolasi dan dimurnikan dengan cara goresan. Adanya glukosa pada media menandakan bahwa mikroba menghasilkan enzim glukoamilase. identifikasi glukosa pada media dilakukan dengan uji fehling dan metode Kromatografi lapis tipis. Hasil menunjukkan bahwa Pada tanah limbah penggilinggan padi didaerah Jati Mauk Tangerang dengan menggunakan metode ini tidak ditemukan bakteri yang positif dapat menjadi mikroba penghasil enzim glukoamilase. Namun ditemukan dua jenis jamur yang potensial penghasil enzim glukoamilase.
Marita - Kaniawati
Jurnal Ilmiah Farmasi Farmasyifa, Volume 3, pp 35-43; doi:10.29313/jiff.v3i1.5118

Abstract:
Obesitas dapat diartikan sebagai jumlah lemak yang berlebih dalam tubuh. Obesitas merupakan salah satu faktor bagi timbulnya penyakit lain seperti dislipidemia, stroke, penyakit jantung koroner dan lain-lain. Salah satu prediktor yang spesifik untuk menilai risiko terjadinya Penyakit Jantung Koroner (PJK) adalah Indeks Aterogenik Plasma (IAP). IAP dihitung dengan menggunakan rumus Log(TG/HDL). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara obesitas dengan profil High Density Lipoprotein (HDL), trigliserida (TG) dan IAP serta melihat risiko terjadinya PJK berdasarkan Indeks Aterogenik Plasma. Penelitian ini merupakan penelitian observasional dengan desain cross sectional. Subjek penelitian adalah wanita dewasa muda yang obes dan non obes dengan teknik pengambilan subjek menggunakan teknik purposive sampling. Hasil penelitian menunjukkan adanya hubungan antara lingkar perut dengan kadar TG, HDL dan IAP (p<0,05). Pada subjek obes terjadi peningkatan kadar TG, penurunan kadar HDL dan peningkatan nilai IAP. Dari hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa berdasarkan nilai IAP subjek obes memiliki risiko PJK 4,472 kali lebih besar dibandingkan dengan subjek non obes.
Sani Ega Priani, Shelma Azhari Abdilla, Anan Suparnan
Jurnal Ilmiah Farmasi Farmasyifa, Volume 3, pp 9-17; doi:10.29313/jiff.v3i1.5464

Abstract:
Jerawat adalah suatu kondisi kulit dimana terjadi peradangan pada kelenjar pilosebasea. Infeksi bakteri Propionibacterium acnes menjadi salah satu penyebab utama dari proses peradangan tersebut. Minyak kulit batang kayu manis diketahui mengandung senyawa antibakteri sehingga potensial untuk dikembangkan sebagai antijerawat. Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan sediaan mikroemulsi gel mengandung minyak kulit batang kayu manis dan menguji aktivitas antibakterinya terhadap bakteri penyebab jerawat (P. acnes). Sediaan mikroemulsi gel dibuat dengan variasi konsentrasi surfaktan dan kosurfaktan. Sediaan yang dihasilkan dievaluasi karateristik dan stabilitas fisiknya. Uji aktivitas antibakteri sediaan dilakukan dengan metode difusi agar. Uji iritasi dilakukan dengan metode 4 hours patch test. Formula mikroemulsi gel optimum mengandung minyak kulit batang kayu manis 5%, Tween 80 30%, PEG 400 20%, dan Gel Viscolam 1,6%. Sediaan tersebut memiliki karakteristik dan stabilitas fisik yang baik dengan ukuran globul rata-rata 119 nm. Sediaan mikroemulsion gel memiliki aktivitas antibakteri yang sangat kuat terhadap P. acnes dengan diameter hambat 37,40 ± 0,426 mm. Hasil uji iritasi menunjukkan bila sediaan bersifat sedikit mengiritasi dengan nilai indeks iritasi 0,876 ±0,607 (skor maksimal 4).
Patihul Husni, Muchamad Luthfi Fadhiilah, Uswatul Hasanah
Jurnal Ilmiah Farmasi Farmasyifa, Volume 3, pp 1-8; doi:10.29313/jiff.v3i1.5163

Abstract:
Serat dibutuhkan dalam pencernaan adalah agar proses pencernaan dapat bekerja secara maksimal. Genjer (Limnocharis flava (L.) Buchenau.) merupakan tanaman yang bagian tangkainya banyak mengandung serat. Kandungan serat yang tinggi pada genjer terutama pada bagian tangkainya berpotensi untuk dikembangkan sebagai suplemen makanan penambah serat berupa granul instan. Tujuan penelitian ini adalah untuk mendapatkan formula terbaik granul instan secara fisik. Granul instan dibuat dengan metode granulasi basah menggunakan variasi konsentrasi PVP sebagai pengikat. Uji stabilitas fisik granul instan dilakukan pada suhu kamar selama satu bulan meliputi uji waktu alir, sudut diam, indeks kompresibilitas, kandungan lembab dan waktu larut. Hasil penelitian menunjukkan bahwa waktu alir granul 8-14 detik untuk 100 gram granul, sudut diam sekitar 40o, indeks kompresibilitas 11-15%, kandungan lembab sekitar 2% dan waktu larut 1-2 menit. Berdasarkan hasil uji stabilitas fisik, formula terbaik granul instan serbuk kering tangkai genjer adalah F2 dengan komposisi serbuk kering tangkai genjer 100 mg, laktosa 70%, PVP 3%, aspartam 1,5%, manitol 20%, Natrium Benzoat 0,5%, Green tea flavor 5% b/b dan etanol qs dengan total bobot granul 1000 mg.
Nur Azizah Suhara, Elsya Nurul Mauludiyah, Lu'Lu Ulul Albab, Indra Topik Maulana
Jurnal Ilmiah Farmasi Farmasyifa, Volume 3, pp 18-25; doi:10.29313/jiff.v3i1.4889

Abstract:
Infeksi kulit dapat disebabkan oleh patogen yang bervariasi, salah satunya adalah bakteri. Infeksi kulit yang diakibatkan oleh bakteri tidak hanya berupa infeksi primer tetapi bisa juga menyebabkan infeksi sekunder. Mikroalga hijau (Chlorella vulgaris B) merupakan bahan alam yang mengandung senyawa yang memiliki potensi sebagai senyawa antibakteri, khususnya bakteri penyebab infeksi kulit. Penelitian ini bertujuan menguji aktivitas antibakteri Staphylococcus epidermidis dari ekstrak dan fraksi dari mikroalga hijau (Chlorella vulgaris B) penyebab infeksi kulit. Untuk mengetahui kandungan senyawa di dalam mikroalga hijau (Chlorella vulgaris B) dilakukan penapisan fikokimia, yang menunjukkan adanya kandungan senyawa alkaloid, flavonoid, monoterpen/seskuiterpen, polifenolat, steroid, tannin, dan antrakuinon. Ekstraksi dilakukan dengan metode maserasi dengan pelarut etanol 96%. Ekstrak yang dihasilkan sebesar 119,3145 gram. Fraksinasi dilakukan dengan metode ekstraksi cair-cair, menghasilkan fraksi n-heksana sebesar 4,7885 gram, fraksi etil sebesar 0,7852 gram, dan fraksi air sebesar 16,675 gram. Hasil pengujian aktivitas antibakteri penyebab infeksi kulit dari fraksi dengan menggunakan metode difusi agar menghasilkan zona hambat.
Deny Puriyani Azhary
Jurnal Ilmiah Farmasi Farmasyifa, Volume 3, pp 44-50; doi:10.29313/jiff.v3i1.5049

Abstract:
Atorvastatin suatu obat antihiperlipidemia golongan statin termasuk kedalam BCS kelas II yang ditandai dengan kelarutan rendah dan permeabilitas tinggi. Kelarutan yang rendah dalam air menyebabkan laju disolusi obat tersebut rendah dan dapat mempengaruhi bioavailabilitasnya. Salah satu cara untuk meningkatkan laju disolusi obat yaitu dengan sistem dispersi padat. Tujuan penelitian ini untuk meningkatan laju disolusi atorvastatin dengan dispersi padat. Sistem dispersi padat dibuat dengan metode kneading menggunakan karagenan sebagai pembawa. Dispersi padat dibuat dengan variasi perbandingan atorvastatin : karagenan 1:1; 1:3 dan 1:5 b/b. Sifat padatan serbuk dispersi padat dievaluasi dengan metode analisa difraksi sinar-X, mikroskopik SEM, termal DSC, spektrokopik FTIR. Profil disolusi dilakukan dalam medium dapar phospat pH 6,8 dengan alat uji disolusi tipe I USP. Hasil analisa difraksi sinar-X, mikroskopik SEM, termal DSC dan spektrokopik FTIR menunjukkan fase kristalin atorvastatin mengalami penurunan derajat kristalinitas dan pembentukan fase amorf. Profil disolusi menunjukan bahwa dispersi padat atorvastatin memiliki nilai laju disolusi yang lebih tinggi dibandingkan dengan atorvastatin murni. Penelitian ini menunjukkan bahwa pembentukan dispersi padat atorvastatin dengan karagenan sebagai pembawa dapat meningkatkan laju disolusi atorvastatin.
Lia Kusmita
Jurnal Ilmiah Farmasi Farmasyifa, Volume 3, pp 26-34; doi:10.29313/jiff.v3i1.4595

Abstract:
Mycobacterium tuberculosis telah menginfeksi sepertiga penduduk dunia. Diperkirakan terdapat 8 juta penduduk dunia diserang tuberkulosis dengan kematian 3 juta orang pertahun. .Pengobatan tuberkulosis saat ini ternyata tidak memberikan efektivitas yang tinggi karena munculnya strain MDR Mycobacterium tuberculosis. Oleh karenanya, diperlukan bahan aktif baru guna mengatasi masalah tersebut. Bakteri simbion karang lunak merupakan salah satu sumber yang menjanjikan. Hal ini karena bakteri simbion karang lunak memiliki senyawa bioaktif yang sama dengan inangnya. Bakteri simbion diisolasi dari karang lunak yang diisolasi dari Pulau Panjang. Pada penelitian ini dilakukan pengujian bakteri simbion karang lunak terhadap pertumbuhan Multi drug resistant Mycobacterium tuberculosis (strain rifampicin dan SIRE). Dari 25 bakteri simbion yang diisolasi, ada 4 bakteri yang memiliki aktivitas dalam menghambat pertumbuhan bakteri MDR TB strain SIRE dan Rifampicin. Hasil identifikasi molekuler dilakukan dengan menggunakan PCR 16S DNA, dimana bakteri P.S2 1, P.Sa 1, P.Lo 2, dan P.Lo 3 memiliki kekerabatan terdekat dengan Ponticoccus gilvus, Janibacter indicus, Virgibacillus marismortui dan Brachybacterium canglomeratum
Syafika Alaydrus
Jurnal Ilmiah Farmasi Farmasyifa, Volume 3, pp 51-61; doi:10.29313/jiff.v3i1.4540

Abstract:
Penyakit paru obstruksi kronik menduduki peringkat ke empat setelah penyakit jantung, kanker, dan penyakit serebro vaskuler sebagai penyebab kematian, biaya yang dikeluarkan untuk penyakit ini mencapai $24 milyar pertahunnya. INA-CBG merupakan paket pembiayaan kesehatan berbaris kasus dengan mengelompokkan berbagai jenis pelayanan menjadi satu kesatuan. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui pola pengobatan PPOK, biaya rata-rata pengobatan, kesesuaian biaya riil dengan biaya paket INA-CBG, serta factor-faktor yang berpengaruh terhadap biaya total pengobatan PPOK di RSUD Sukoharjo. Jenis penelitian ini adalah observasional dengan rancangan penelitian cross sectional menurut perspektif rumah sakit. Metode pengambilan data secara retrospektif. Subyek penelitian adalah pasien rawat inap yang menderita PPOK dengan faktor risiko dan komplikasi. Variable penelitian meliputi karakteristik pasien meliputi umur dan jenis kelamin, faktor resiko dan komplikasi, dan biaya yang digunakan (medical cost dan non medical cost). Analisis data diuji menggunakan uji one sample T-Tes, Anova, Kruskal-wallis tes dan korelasi bivariat. Hasil penelitian menunjukkan usia > 60 tahun dengan jenis kelamin laki-laki paling banyak menderita PPOK (76,2%). Faktor resiko dan komplikasi terbanyak adalah cor pulmonale (42,8%) dan lama rawat inap paling banyak adalah < 4 hari (58,8%). Pola pengobatan kurang sesuai dengan alogaritma terapi menurut GOLD. Factor yang berhubungan dengan total biaya adalah lama rawat inap dan tingkat keparahan. Rata-rata biaya PPOK untuk tingkat keparahan berat sebesar Rp. 1.349.671 untuk ketiga jenis pembiayaan, untuk tingkat keparahan sangat berat dengan jenis pembiayaan umum, jamkesmas dan jamkesda berturut-turut adalah Rp. 1.051.955,5, Rp. 1.815.859 dan Rp. 1.589.706,5. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rata-rata biaya pengobatan riil PPOK lebih rendah dan berbeda bermakna dengan biaya paket INA-CBG dengan nilai P 0,000.
Patihul Husni, Alika Nuansa Pratiwi, Ardian Baitariza
Jurnal Ilmiah Farmasi Farmasyifa, Volume 2, pp 101-110; doi:10.29313/jiff.v2i2.4796

Aptika Oktaviana Trisna Dewi
Jurnal Ilmiah Farmasi Farmasyifa, Volume 2, pp 71-76; doi:10.29313/jiff.v2i2.4389

Suwendar Suwendar
Jurnal Ilmiah Farmasi Farmasyifa, Volume 2, pp 111-117; doi:10.29313/jiff.v2i2.4538

Abstract:
ABSTRAK Pendahuluan: Kanker serviks adalah salah satu jenis kanker dengan tingkat prevalensi yang tinggi. Kualitas hidup pasien kanker serviks akan menurun disebabkan penyakitnya maupun terapi yang diberikan. Adanya komorbid, komplikasi penyakit dan efek samping dari kemoterapi yang menyertai akan mempengaruhi kualitas hidup pasien. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh jumlah komorbid, komplikasi dan efek samping kemoterapi terhadap kualitas hidup pasien kanker serviks. Metode Penelitian: Penelitian dilakukan dengan rancangan cross sectional prospektif. Subyek penelitian adalah pasien kanker serviks rawat inap yang memenuhi kriteria inklusi. Data yang diambil adalah kualitas hidup pasien kanker berdasarkan jumlah komorbid, komplikasi dan efek samping kemoterapi yang diderita. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan kuesioner EQ-5D-3L. Data dianalisis dengan uji statistik ANOVA dengan uji lanjut LSD (p < 0,05). Hasil : Pada pasien tanpa komorbid, dengan satu komorbid dan dua komorbid : rata-rata nilai utility masing-masing adalah 0,67±0,13, 0,55±0,15 dan 0,46 ±0,16; rata-rata nilai EQ-5D VAS masing-masing adalah 57,50±24,75; 45,45±9,34 dan 40,00±8,16. Komplikasi yang paling sering dijumpai adalah anemia. Anemia berat cenderung lebih menurunkan kualitas hidup dibandingkan anemia ringan meskipun tidak signifikan. Untuk pasien dengan anemia ringan dan berat, nilai utility masing-masing adalah : 0,64±0,14 dan 0,48±0,15, sedangkan nilai EQ-5D VAS masing-masing adalah : 46,67±14,15 dan 42,50±15,12. Efek samping kemoterapi yang paling sering dialami adalah emesis dan trombositopenia. Kualitas hidup penderita dengan trombositopenia cenderung lebih rendah dibandingkan dengan pasien yang hanya mengalami emesis, meskipun tidak signifikan. Pada pasien yang mengalami emesis, rata-rata nilai utility adalah 0,65±4,28 dan nilai EQ-5D VAS adalah 49,54±15,43. Pada pasien dengan trombositopenia, rata-rata nilai utility adalah 0,43±0,38 dan nilai EQ-5D VAS adalah 35,00±13,23. Kesimpulan : Jika jumlah komorbid yang diderita pasien kanker serviks semakin banyak serta komplikasi penyakit dan efek samping kemoterapi makin berat maka kualitas hidup pasien akan semakin menurun. Kata kunci : kanker serviks, kualitas hidup, EQ-5D-3L ABSTRACT Background: Cervical cancer is one type of cancer with a high prevalence. The quality of life of patients with cervical cancer will decrease due to the disease or the therapy given. The presence of comorbidities, complications of disease and side effects of chemotherapy that accompany will affect the quality of life of patients. Aims: This study aimed to determine the effect of comorbid amount, complications and side effects of chemotherapy on the quality of life of patients with cervical cancer. Methods: The study was conducted in a prospective cross-sectional design. The subjects of the study were hospitalized cervical cancer patients who met the inclusion criteria. The data taken were the quality of life of cancer patients based on the number of comorbidities, complications and side effects of chemotherapy suffered. Data collection was carried out using the EQ-5D-3L questionnaire. Data were analyzed by ANOVA statistical test with LSD (p <0.05). Results: In patients without comorbidities, with one comorbid and two comorbid: the average utility value was 0.67 ± 0.13, 0.55 ± 0.15 and 0.46 ± 0.16; the average EQ-5D VAS values were 57.50 ± 24.75; 45.45 ± 9.34 and 40.00 ± 8.16 respectively. The most common complication was anemia. Severe anemia tended to further reduce quality of life compared to mild anemia, although not significant. For patients with mild and severe anemia, the utility values were: 0.64 ± 0.14 and 0.48 ± 0.15, while the EQ-5D VAS values were: 46.67 ± 14.15 and 42.50 ± 15.12 respectively. The most common side effects of chemotherapy were emesis and thrombocytopenia. The quality of life of patients with thrombocytopenia tended to be lower compared to patients who only experience emesis, although not significantly. In patients who experience emesis, the average utility value was 0.65 ± 4.28 and the EQ-5D VAS value was 49.54 ± 15.43. In patients with thrombocytopenia, the average utility value was 0.43 ± 0.38 and the EQ-5D VAS value was 35.00 ± 13.23. Conclusion: If the number of comorbidities suffered by patients with cervical cancer is increasing, the complications of the disease and the side effects of chemotherapy are getting heavier than the patient's quality of life will decrease.Keyword: cervical cancer, quality of life, EQ-5D-3L
Muhammad Dzakwan
Jurnal Ilmiah Farmasi Farmasyifa, Volume 2, pp 84-92; doi:10.29313/jiff.v2i2.4660

Abstract:
Minyak biji kelor merupakan golongan edible oil berasal dari biji tanaman kelor yang memiliki aktivitas sebagai antioksidan, antiaging, emolient, perawatan rambut dan pencerah kulit. Nanoenkapsulasi adalah proses melapisi suatu zat sebagai bahan inti dalam suatu membran polimer yang berukuran 1-1000 nm. Penelitian ini bertujuan mengembangkan nanokapsul minyak biji kelor dan mendapatkan formula terbaik berdasarkan derajat ukuran partikel dan stabilitas sistem nanokapsul. Nanoenkapsulasi minyak biji kelor dilakukan dengan metode emulsifikasi-evaporasi menggunakan polimer polivinil alkohol (PVA), asam polilaktat (PLA) dan Na alginat dan surfaktan polisorbat 80. Karakterisasi nanokapsul meliputi kejernihan, ukuran partikel, zeta potensial, morfologi partikel dan stabilitas nanokapsul. Selanjutnya dipilih formula dengan ukuran partikel nanometer dan yang paling stabil. Formula I dengan polimer PVA-polisorbat 80 merupakan formula terpilih dengan ukuran partikel 187 nm ± 13,05, polidispersitas indeks 0,210 ± 0.11 dan zeta potensial -36,7 ± 4,99 mV, homogen dan stabil secara fisik. Minyak biji kelor berhasil dikembangkan menjadi nanokapsul dengan metode emulsi- evaporasi. Nanokapsul minyak biji kelor dengan jenis polimer PVA dan surfaktan 80 menghasilkan sistem nanokapsul paling stabil selama penyimpanan pada suhu kamar selama 8 minggu.
Esti Rachmawati Sadiyah
Jurnal Ilmiah Farmasi Farmasyifa, Volume 2, pp 62-70; doi:10.29313/jiff.v2i1.4225

Abstract:
Sugar palm leaf stalk (petioles) ashes traditionally used as a daily cosmetic by Sundanese women to keep their skin smooth. Sugar palm leaf stalk ashes also used to treat acne, smallpox, and burns. The study was aimed to test the sunscreen activity of ashes extracts from sugar palm leaf stalk. The ashes were extracted using soxhlet and 96% ethanol as solvent. The sunscreen activity test was performed on the extract using UV-Vis spectrophotometer. Determination of Sun Protection Factor (SPF) value was done at 290-320 nm (UV-B wavelength) with 5 nm interval. The ashes extract of sugar palm leaf stalk showed the effectiveness of sunscreen activity at 10,000 ppm (SPF value = 9) as maximum protection. The SPF value was determined using Mansur mathematical equation. The determination of pigmentation transmittant was done at 322.5 – 372.5 nm, with 2.5 nm interval. Based on the result of pigmentation transmittance percentages, the sunscreen profile of sugar palm leaf stalk ashes extract (2000-10.000 ppm) showed the category of extra protection up to sunblock, according to classification from Balsam & Sagarin (1972). To be concluded, the ashes extract of sugar palm leaf stalk was a potential sunscreen. Further in vivo analysis should be done to confirm this potency.
Ratu Choesrina, Suwendar Suwendar, Lanny Mulqie, Dieni Mardliyani
Jurnal Ilmiah Farmasi Farmasyifa, Volume 2, pp 33-39; doi:10.29313/jiff.v2i1.4230

Alifia Putri Febriyanti, Siti Jazimah Iswarin, Susanti Susanti
Jurnal Ilmiah Farmasi Farmasyifa, Volume 1, pp 69-79; doi:10.29313/jiff.v1i2.3160

Abstract:
The utilization of medicinal plants have started growing rapidly in the world, including in Indonesia, along with the thinking back to nature, one of the plants that are often used as a medicine is black pepper fruit (Piper nigrum Linn.). Piperine is a major compound and potent substances contained in black pepper fruit as antidiarrheal activity. The aim of this study was to determine levels of piperine in 96% ethanol extract of black pepper fruit. The extraction method used Soxhlet in 96% ethanol as solvent. Analysis of piperine using qualitative analysis by thin layer chromatography (TLC) produces yellow stain after being sprayed by dragendorf and dark blue on observation Uv-Vis 365 nm with Rf extract value 0.49 and Rf piperine value 0.5. Quantitative analysis using LC – MS produces piperine levels at 26%. Before quantitative analysis, validation method needs to be done with the parameters, among others: linearity have regression equation y = has 1,981,691.1333x + 561,445.0000 and correlation coefficient (R2) of 0.9973, LOD and LOQ at 0.14 and 0.44 ppm, accuracy value (% recovery) between 95.90 – 100.77%, precision value (% KV) between 0.02 – 1.84%, and selectivity (RT) between 2.47 – 2.49. The results of the validation parameters are eligible so that piperine levels were obtained by LC – MS declared accurate, specific, and precise.
Feresta Riferty
Jurnal Ilmiah Farmasi Farmasyifa, Volume 1, pp 119-125; doi:10.29313/jiff.v1i2.3139

Abstract:
Bitter gourd (Momordica charantia L.) seeds is known to have efficacy in treating skin diseases, one of which is acne. This study aimed to determine the potency of antibacterial activity, minimum inhibitory concentration (MIC) and equality with comparator. The extraction process was carried out by maceration method using ethanol 96%, then fractionation was performed by using liquid-liquid extraction. The antibacterial activity of extract and fractions of bitter gourd seed against Propionibacterium acnes were done by agar diffusion method. The results showed that the extract and other fractions of bitter gourd seeds gave antibacterial activity against Propionibacterium acnes. The extract and three fractions of bitter gourd seeds inhibited the growth of Propionibacterium acnes at concentrations of 40%, 50% and 60%. The value of MIC of the extract was 30% with an 8,9 mm inhibit zone. At concentration of 40%, the fraction of ethyl acetate of bitter gourd seeds gave the highest activity in inhibiting Propionibacterium acnes compared to extract and other fractions. When it is compared with clindamycin as comparison, 1 mg of bitter gourd seed extract is equivalent to 0,80 μg clindamycin. Keywords: Bitter gourd seed, Momordica charantia L., Antibacterial, Propionibacterium acnesABSTRAK Biji pare (Momordica charantia L.) diketahui memiliki khasiat dalam mengobati penyakit kulit, salah satunya jerawat. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan potensi aktivitas antibakteri, konsentrasi hambat minimum (KHM) dan kesetaraan dengan pembanding. Proses ekstraksi dilakukan dengan cara maserasi menggunakan pelarut etanol 96%, dilanjutkan dengan fraksinasi menggunakan ekstraksi cair-cair. Aktivitas antibakteri ekstrak dan fraksi biji pare terhadap Propionibacterium acnes dilakukan dengan metode difusi agar. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ekstrak dan fraksi biji pare memiliki aktivitas antibakteri terhadap Propionibacterium acnes. Ekstrak dan ketiga fraksi biji pare menghambat pertumbuhan Propionibacterium acnes pada konsentrasi 40%, 50% dan 60%. Nilai KHM dari ekstrak diperoleh 30% dengan zona hambat 8,9 mm. Pada konsentrasi 40%, fraksi etil asetat biji pare memberikan aktivitas paling tinggi dalam menghambat Propionibacterium acnes dibandingkan ekstrak serta fraksi lainnya. Dibandingkan dengan klindamisin, 1mg ekstrak biji pare setara dengan 0,80 µg klindamisin. Kata Kunci: Biji pare, Momordica charantia L., antibakteri, Propionibacterium acnes
Zainab Zahira Azzahra, Sani Ega Priani, Amila Gadri
Jurnal Ilmiah Farmasi Farmasyifa, Volume 1, pp 133-140; doi:10.29313/jiff.v1i2.3778

Ayik Rosita Puspaningtyas
Jurnal Ilmiah Farmasi Farmasyifa, Volume 1, pp 104-118; doi:10.29313/jiff.v1i2.3340

Abstract:
Meru Betiri forest in Jember contains a lot of medicinal plants. Irvingia malayana (Pauh Kijang), which is one of the medicinal plants found, has been proven as an antimalarial. However, phytochemical and antimalarial studies of Irvingia malayana have never been carried out. This study was conducted for an antimalarial Drug Discovery through phytochemical study by isolating the roots, stems, and leaves of Irvingia malayana. From the analysis using FTIR, H-NMR, and GC-MS, it was concluded that the compound in the ethyl acetate extract of Irvingia malayana stem was terpenoids that was included in silymarin group as well as other plants in the genus Irvingia. The melting point of Irvingia malayana isolate was 120-121oC with white crystals. Statistical result of in vivo study showed that each group was significantly different. On day 4 after administration, IC50 showed was 11,827 mg/kgBW and day 3 was 6,927 mg/kgBW. Therefore, 3 days is the maximum duration of administration in reducing plasmodium and shows the most excellent activity as antimalarial. In in vitro study, IC50 of Irvingia malayana (62.855 ug/ml) has weak activity of antiplasmodium compared to chloroquine positive controls containing IC50 (1,114x10-3 ug/ml). Based on the data of in vivo and in vitro antimalarial activities, the compound had no antimalarial activity because the extract consisted of many components that possessed many possible synergetic mechanisms of antimalarial if compared to single compound.Keywords:
Suwendar Suwendar
Jurnal Ilmiah Farmasi Farmasyifa, Volume 1, pp 80-87; doi:10.29313/jiff.v1i2.3254

Abstract:
Pengamatan gambaran klinik pada pada penderita kanker serviks merupakan hal yang sangat penting karena dapat mengevaluasi efektivitas kemoterapi. Tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini adalah untuk mengetahui gambaran klinik pada penderita kanker serviks berdasarkan stadium setelah mendapatkan kemoterapi selama tiga siklus. Dengan demikian dapat dievaluasi lebih lanjut mengenai efektivitas kemoterapi untuk setiap stadium. Penelitian ini merupakan jenis penelitian non eksperimental yang bersifat deskriptif dengan melakukan observasi lapangan untuk memperoleh data gambaran klinik. Evaluasi gambaran klinik dilakukan dengan mengamati gejala klinik dan kondisi pasca kemoterapi setelah pasien mendapatkan kemoterapi siklus pertama sampai ketiga. Hasil menunjukkan bahwa setelah kemoterapi selama tiga siklus, pada gejala klinik, persen hilang gejala pada pasien stadium I, II, III dan IV untuk keputihan masing-masing adalah 100%, 96%, 93,3% dan 25%; pada gejala pendarahan, masing-masing adalah 100%, 68%, 53,3% dan 0%; sedangkan rata-rata skor nyeri masing-masing adalah 0,9±0,9; 1,0±1,5; 1,4±,4 dan 3,5±1,9. Pada kondisi pasca kemoterapi, persentase pasien yang dinyatakan mengalami perbaikan pada pasien stadium I, II, III dan IV masing-masing adalah 100%, 96%, 93,9% dan 75%. Hasil di atas menunjukkan bahwa kemoterapi menunjukkan kecenderungan makin efektif pada pasien kanker serviks dengan stadium yang makin rendah.Kata kunci : kanker serviks, stadium, kemoterapi, gambaran klinikPengamatan gambaran klinik pada pada penderita kanker serviks merupakan hal yang sangat penting karena dapat mengevaluasi efektivitas kemoterapi. Tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini adalah untuk mengetahui gambaran klinik pada penderita kanker serviks berdasarkan stadium setelah mendapatkan kemoterapi selama tiga siklus. Dengan demikian dapat dievaluasi lebih lanjut mengenai efektivitas kemoterapi untuk setiap stadium. Penelitian ini merupakan jenis penelitian non eksperimental yang bersifat deskriptif dengan melakukan observasi lapangan untuk memperoleh data gambaran klinik. Evaluasi gambaran klinik dilakukan dengan mengamati gejala klinik dan kondisi pasca kemoterapi setelah pasien mendapatkan kemoterapi siklus pertama sampai ketiga. Hasil menunjukkan bahwa setelah kemoterapi selama tiga siklus, pada gejala klinik, persen hilang gejala pada pasien stadium I, II, III dan IV untuk keputihan masing-masing adalah 100%, 96%, 93,3% dan 25%; pada gejala pendarahan, masing-masing adalah 100%, 68%, 53,3% dan 0%; sedangkan rata-rata skor nyeri masing-masing adalah 0,9±0,9; 1,0±1,5; 1,4±,4 dan 3,5±1,9. Pada kondisi pasca kemoterapi, persentase pasien yang dinyatakan mengalami perbaikan pada pasien stadium I, II, III dan IV masing-masing adalah 100%, 96%, 93,9% dan 75%. Hasil di atas menunjukkan bahwa kemoterapi menunjukkan kecenderungan makin efektif pada pasien kanker serviks dengan stadium yang makin rendah.Kata kunci : kanker serviks, stadium, kemoterapi, gambaran klinik
Riesma Azhar Falahul Alam, Hilda Aprilia Wisnuwardhani, Rusnadi Rusnadi
Jurnal Ilmiah Farmasi Farmasyifa, Volume 1, pp 62-68; doi:10.29313/jiff.v1i1.3077

The publisher has not yet granted permission to display this abstract.
Page of 2
Articles per Page
by
Show export options
  Select all
Back to Top Top