Refine Search

New Search

Results in Journal Jurnal Biomedik:JBM: 475

(searched for: journal_id:(4264821))
Page of 10
Articles per Page
by
Show export options
  Select all
Yullyftyani Gunawan, Bachtiar Murtala, Sri Asriyani
Published: 31 March 2022
Jurnal Biomedik:JBM, Volume 14, pp 10-16; https://doi.org/10.35790/jbm.v14i1.34083

Abstract:
Absract: This research aims to investigate the congruity between the Shear Wave Elastography, Fibroscan and changes in the portal vein flow velocity in non-alcoholic fatty liver disease patients.The research used was a cross-sectional study method. The research was conducted in the Radiology Section of Dr. Wahidin Sudirohusodo, Makassar from July to December 2020. The research populations were all patients with the clinical non-alcoholic fatty liver and fulfilled the inclusive and exclusive criteria. On the research samples, the Shear Wave Elastography and hepatic hemodynamics were examined using transabdominal ultrasonography, continued by determining the fibrosis degree based on Transient Elastography. Data were analyzed statistically through the Spearman’s correlation test, it was stated congruent if the P value was <0.05.The research involved 32 people, with the gender of 19 males (59.4%) with the range of 46-55 years old (31.3%) of the non-alcoholic fatty liver patients. Based on bivariate analysis, the research result indicates that there is no correlation between mean portal vein velocity and degree of fibrosis with Fibroscan and Shear Wave Elastography. The fibrosis degree with Shear Wave Elastography has a strong correlation (p = 0.001, r = 0.672) with the fibrosis degree based on the Fibroscan. Key words: Non-alcoholic fatty liver; Shear Wave Elastography; Transient Elastography Abstrak: Penelitian ini bertujuan mengetahui kesesuaian antara Shear Wave Elastography, Fibroscan dan perubahan kecepatan aliran vena porta pada pasien non-alcoholic fatty liver disease. Metode penelitian yang digunakan adalah kajian potong lintang. Penelitian dilaksanakan di Bagian Radiologi RS Dr. Wahidin Sudirohusodo, Makassar pada Juli sampai dengan Desember 2020. Populasi penelitian ini adalah semua pasien dengan klinis non-alcoholic fatty liver dan memenuhi kriteria inklusi dan ekslusi. Pada sampel penelitian ini dilakukan pemeriksaan Shear Wave Elastography dan hemodinamik hepar dengan ultrasonografi transabdominal, dilanjutkan dengan penentuan derajat fibrosis berdasarkan Transient Elastography. Data dianalisis secara statistik melalui uji korelasi Spearman dikatakan sesuai jika nilai P<0,05. Penelitian ini melibatkan sebanyak 32 orang, dengan jenis kelamin laki-laki 19 (59,4%) orang dengan rentang usia terbanyak 46-55 (31,3%) tahun pada pasien non-alcoholic fatty liver. Hasil penelitian menunjukkan tidak didapatkan korelasi antara mean kecepatan vena porta dengan derajat fibrosis dengan Fibroscan dan Shear Wave Elastography. Pada derajat fibrosis dengan Shear Wave Elastography mempunyai korelasi kuat (p=0,001, r=0,672) dengan derajat fibrosis berdasarkan Fibroscan. Kata kunci: Non-alcoholic fatty liver; Shear Wave Elastography; Transient Elastography
Hans Kristian, Olivia C. P. Pelealu, Steward Keneddy Mengko
Published: 31 March 2022
Jurnal Biomedik:JBM, Volume 14, pp 46-54; https://doi.org/10.35790/jbm.v14i1.37562

Abstract:
: Allergic rhinitis is a chronic inflammatory disease that affects about 10-20% of the world’s population. The therapy of this disease is based on its pathophysiology. Some research said that exercise can affect the cytokines involved in allergic rhinitis pathophysiology. This study aims to explain the effect of exercise on allergic rhinitis symptoms improvement. The design of this study is literature review and PICOS framework as the selection criteria. Exercise improves allergic rhinitis symptoms by modulating cytokines, such as IL-2, IL-4, IL-13, and TNF-a. Furthermore, exercise can increase lung function, modulate the autonomic nervous system, decrease airway resistance, and increase VO2max. However, these effects can only be obtained from moderate-intensity exercise, such as yoga, aquatic exercise, winter exercise, and treadmill. Exercise can improve allergic rhinitis symptoms in some way that fits its pathophysiology. Keywords: allergic rhinitis; symptom; exercise Abstrak: Rinitis alergi merupakan penyakit inflamasi kronis yang diperkirakan diderita oleh 10-20% populasi dunia. Terapi penyakit ini disesuaikan dengan patofisiologinya. Beberapa penelitian menyebutkan bahwa olahraga dapat memengaruhi sitokin-sitokin yang berperan dalam patofisiologi rinitis alergi. Penelitian ini bertujuan untuk memaparkan efek olahraga terhadap perbaikan gejala rinitis alergi. Desain penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah literature review dengan menggunakan kriteria seleksi PICOS framework. Olahraga memperbaiki gejala rinitis alergi dengan memodulasi sitokin-sitokin, seperti IL-2, IL-4, IL-13, dan TNF-a. Selain itu, olahraga dapat meningkatkan fungsi paru, memodulasi sistem saraf otonom, menurunkan resistensi jalan napas, dan meningkatkan VO2max. Akan tetapi, efek-efek ini hanya didapatkan dari olahraga-olahraga intensitas sedang, seperti yoga, olahraga akuatik, olahraga musim dingin, dan treadmill. Olahraga dapat memperbaiki gejala rinitis alergi melalui beberapa cara yang sesuai dengan patofisiologinya. Kata kunci: rinitis alergi; gejala; olahraga
Charles Mengga, Taufiq Pasiak, Josef Tuda
Published: 31 March 2022
Jurnal Biomedik:JBM, Volume 14, pp 30-37; https://doi.org/10.35790/jbm.v14i1.37283

Abstract:
Abstrak: Smoking behavior is still a health problem in Indonesia. Nicotine dependence which stimulates the release of dopamine in the brain is the reason it is difficult to quit smoking. The awareness factor plays an important role in behavior change. Consciousness is the result of the work of the ascending reticular activating system of the brain. Neuroplasticity is the brain's ability to change and repair brain structures and tissues. Cognitive Transcendence Strategies (CTS) is a strategy that focuses on cognitive and spiritual abilities to optimize willpower, resilience and self-control. Mindfulness meditation aims to eliminate self-ego so that a conscious lifestyle is obtained. This study aims to determine the effect of mindfulness meditation with the CTS approach method on smoking behavior. This study is a quantitative experimental Quasi Experimental Nonequivalent Control Design Group of two groups and calculates the difference in the mean values in each group. The number of research subjects was 40 respondents. The results of this study indicate that Mindfulness Meditation with the CTS approach has an effect on smoking behavior. Keywords: Mindfulness Meditation; CTS; Smoking Behavior Abstrak: Perilaku merokok masih menjadi masalah kesehatan di Indonesia. Ketergantungan nikotin yang menstimulus pelepasan dopamin dalam otak menjadi alasan sulitnya berhenti merokok. Faktor kesadaran berperan penting dalam perubahan perilaku. Kesadaran merupakan hasil kerja bagian otak Ascending reticular activating system. Neuroplastisitas adalah kemampuan otak untuk mengubah dan memperbaiki struktur dan jaringan otak. Cognitive Transcendence Strategies (CTS) merupakan strategi yang berpusat pada kemampuan kognitif dan spiritual untuk mengoptimalkan willpower, resilience dan self control. Meditasi kesadaran bertujuan untuk menghilangkan ego diri sehingga didapatkan pola hidup yang penuh kesadaran. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh meditasi kesadaran dengan metode pendekatan CTS terhadap perilaku merokok. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif eksperimental Quasi Experimental Nonequivalent Control Desain Group dari dua kelompok dan menghitung perbedaan nilai mean pada masing-masing kelompok. Jumlah subjek penelitian 40 responden. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa Meditasi Kesadaran dengan metode pendekatan CTS berpengaruh terhadap perilaku merokok. Kata Kunci: Meditasi Kesadaran; CTS; Perilaku Merokok
Vera D. Tombokan, Maxi M. L. Moleong, Ageng I. Pratiwi
Published: 31 March 2022
Jurnal Biomedik:JBM, Volume 14, pp 1-9; https://doi.org/10.35790/jbm.v14i1.37321

Abstract:
Examination of urine albumin to creatinine ratio can be performed to detect early signs of diabetic nephropathy, and this examination is easier to perform. The reference value used is the ratio of albumin to creatinine > 30 mg/g. Researches related to propolis and its benefits have been carried out for a long time. HDI Propoelix is a type of propolis extract using the CMCE (Continuous Multi-stage Countercurrent Extraction) method produced by PT Harmoni Dinamik Indonesia. HDI Propoelix has 7 bioactive components: CAPE (Caffeic Acid Phenethyl Ester), Narigenin, Chrysin, Galangin, Cinnamic Acid, Pinocembrin, Apigenin. These bioactive components amplify the health benefits of HDI Propoelix because these bioactive components are high in antioxidants, as well as have antidiabetic and nephroprotective properties. This study is a laboratory experimental study with a pretest-posttest with control group design, with 60 respondents who met the inclusion criteria. This study aimed to examine the effect of giving Propolis Extract (Propoelix) on the Urine Albumin to Creatinine Ratio in type II DM patients who have shown signs of diabetic nephropathy. The results obtained are that there is a significant effect in the experimental group given HDI Propoelix at a dose of 2x 200 mg for 90 days where there is a decrease in the urine albumin to creatinine ratio which was not found in the control group who was not given Propoelix. Keywords: diabetic nephropathy; urine albumin to creatinin ratio; propoolis ekstrak (propoelix) Abstrak: Pemeriksaan rasio albumin kreatinin urine sewaktu dapat dilakukan untuk mendeteksi tanda awal nefropati diabetik, dan pemeriksaan ini lebih mudah dilakukan. Nilai rujukan yang dipakai adalah rasio albumin kreatinin > 30 mg/g. Penelitian-penelitian terkait propolis dan manfaatnya telah dilakukan sejak lama. HDI PropoelixTM adalah salah satu jenis propolis Ekstrak metode CMCE (Continouis Multi-stage Countercurrent Extaction) yang di produksi oleh PT Harmoni Dinamik Indonesia. HDI PropoelixTM memiliki komponen bioaktif: CAPE (Caffeic Acid Phenethyl Ester), Narigenin, Chrysin, Galangin, Cinnamic Acid, Pinocembrin, Apigenin. Komponen bioaktif ini memperkuat manfaat kesehatan HDI Propoelix karena komponen bioaktif ini memiliki antioksidan yang tinggi ,dan bersifat antidiabetik dan nefroprotektor. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental laboratorik dengan rancangan penelitian pretest-posttest dengan kelompok kontrol, terhadap 60 responden yang memenuhi kriteria inklusi Penelitian ini bertujuan untuk melihat pengaruh pemberian Propolis Ekstrak (Propoelix) terhadap Rasio Albumin Kreatinin Urin pada pasien DM tipe II yang sudah menunjukkan tanda nefropati diabetik. Hasil penelitian yang diperoleh yaitu terdapat pengaruh yang signifikan pada kelompok eksperimen yang diberikan HDI Propoelix dengan dosis 2x 200 mg selama 90 hari dimana terdapat penurunan rasio albumin kreatinin urin yang tidak didapatkan pada kelompok kontrol yang tidak di berikan Propoelix. Kata kunci: nefropati diabetik; rasio albumin kreatinin urine; propolis ekstrak (propoelix)
Utami S. Lestari, Elyana Asnar, Suhartati Suhartati
Published: 31 March 2022
Jurnal Biomedik:JBM, Volume 14, pp 17-22; https://doi.org/10.35790/jbm.v14i1.35337

Abstract:
Overweight can cause various degenerative diseases that must be controlled by doing physical activity. Resistance exercise is a type of physical activity that can increase the calories burned during fat burning so that it can affect Body Mass Index (BMI). The aim of this study is to analyze the effect of intensity of elastic band resistance exercise on BMI. This study was pretest-posttest control group design with 40 adult women. The subjects were divided into four treatments - low intensity, moderate intensity, high intensity, and control. Resistance exercise consists of three types of exercise for upper extremities and three types of exercise for lower extremities, each set consisting of three sets, 12 repetitions, and one minute of rest interval between exercises given three times every week for four weeks BMI calculation is done by dividing body weight in kilograms and height in meters squared before and after the intervention. Low intensity resistance exercise showed an increase in BMI (p=0.62), moderate intensity resistance exercise showed a decrease in BMI (p=0.24) and high intensity resistance exercise showed a decrease in BMI (p=0.04). Medium intensity and high intensity elastic band resistance exercises are effective in improving BMI in adult women. Keywords: Body Mass Index; Exercise Intensity; Resistance Exercise Abstrak: Overweight dapat menyebabkan berbagai penyakit degeneratif sehingga harus dikontrol dengan melakukan aktivitas fisik. Latihan resistance adalah jenis aktivitas fisik yang dapat meningkatkan kalori yang dibakar saat pembakaran lemak berlangsung sehingga dapat berpengaruh terhadap Indeks Massa Tubuh (IMT). Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis efek perbedaan intensitas latihan resistance elastic band terhadap IMT. Desain penelitian adalah pretest-posttest control group design dengan total 40 subjek wanita. Subjek dibagi ke dalam empat kelompok yaitu latihan resistance intensitas rendah, intensitas sedang, intensitas tinggi, dan kontrol. Latihan resistance terdiri dari tiga jenis latihan untuk ekstremitas atas dan tiga jenis latihan untuk ekstremitas bawah yang masing-masing terdiri dari tiga set, 12 repetisi dan satu menit interval istirahat yang diberikan sebanyak tiga kali setiap minggu selama empat minggu. Perhitungan IMT dilakukan dengan membagi berat badan dalam satuan kilogram dan tinggi badan dalam satuan meter kuadrat sebelum dan setelah intervensi. Latihan resistance intensitas rendah menunjukkan peningkatan IMT (p=0,62), latihan resistance intensitas sedang menunjukkan penurunan IMT (p=0,24) dan latihan resistance intensitas tinggi menunjukkan penurunan IMT (p=0,04). Latihan resistance elastic band intensitas sedang dan intensitas tinggi efektif memperbaiki IMT pada wanita. Kata Kunci: Indeks Massa Tubuh; Intensitas Latihan; Latihan Daya Tahan
Herdi Arnawan, Nikmatia Latief, Muhammad Ilyas
Published: 31 March 2022
Jurnal Biomedik:JBM, Volume 14, pp 23-29; https://doi.org/10.35790/jbm.v14i1.34137

Abstract:
The research aims at assessing the congruity CT scan-base scoring system according to Porcel and the pleural fluid cytology result in distinguishing the malignant from benign pleural effusions. The research used the diagnostic test by assessing the congruity CT scan-base scoring system according to Porcel with pleural fluid cytology result in distinguishing the malignant from benign pleural effusions through the Chi-square test and assessing the sensitivity and specificity of the pleural effusion score. The research result indicates that there are 71 samples with the pleural effusion undergoing the examinations of the chest MSCT scan and pleural fluid cytology in General Central Hospital dr. Wahidin Sudirohusodo, Makassar, from September 2019 to August 2020, in which there are 26 samples with the malignant pleural effusion and 45 samples with benign pleural effusion. There is significant correlation between CT scan-base scoring system according to Porcel and the pleural fluid cytology result, in which the score < 7 indicates the benign pleural effusion, while the score ≥ 7 indicates the malignant pleural effusion, with the sensitivity of 88.4% (73.1 – 88.5 %) and specificity of 75.5% (73.1 – 88.5 %). The positive predictive value 67.6%, negative predictive value is 91.8%. Keywords: pleural effusion; malignant pleural effusion; CT scan-base scoring system; pleural metastasis Abstrak: Penelitian ini bertujuan untuk menilai kesesuaian CT scan-base  scoring system menurut Porcel dengan hasil sitologi cairan pleura dalam membedakan efusi pleura maligna dan benigna. Penelitian ini merupakan uji diagnostic, dengan menilai kesesuaian CT scan base scoring system menurut Porcel dengan hasil sitology cairan pleura dalam membedakan EPM dan EPB melalui Chi Sqaretest serta menilai sensitivitas dan spesifisitas dari skor efusi pleura. Hasil penelitian menunjukan terdapat 71 sampel dengan efusi pleura yang menjalani pemeriksaan MSCT-scan thorax dan sitology cairan pleura di RSUP dr. Wahidin Sudirohusodo, Makassar, periode September 2019 sampai Agustus 2020 yang masuk dalam penelitian kami, dimana terdapat 26 sampel EPM dan 45 sampel EPB. Terdapat hubungan bermakna antara CT scan base scoring system menurut Porcel dengan hasil sitology cairan pleura, dengan skor < 7, yang menunjukan EPB, sedangkan skor ≥ 7 yang menunjukan EPM, dengan sensitivitas 88.4% (73.1 – 88.5 %) dan spesifisitas 75.5% (73.1 – 88.5 %); nilai prediksi positif 67.6%; nilai prediksi negatif 91.8%.Kata kunci: efusi pleura; efusi pleura maligna; CT scan base scoring system; metastasis pleura.
Velania R. O. Maniking, Elvin C. Angmalisang, Djon Wongkar
Published: 31 March 2022
Jurnal Biomedik:JBM, Volume 14, pp 38-45; https://doi.org/10.35790/jbm.v14i1.37490

Abstract:
: Obesity is excess fat in the body, which clinically has a relationship with body mass index (BMI) which is thought to be a risk factor for several musculoskeletal disorders such as rheumatoid arthritis (RA). The aim of this study is to determine obesity as a risk factor of RA. The study was conducted using a literature review method and the literature was taken from 1 database, Pubmed. The keywords used were Body Mass Index AND Obesity AND Rheumatoid Arthritis. The article search used the PICOS framework, and obtained 12 literatures. For the result, obesity as a significant risk factor for the development of RA. In Conclusion: In the study, it was found that obesity can be a risk of RA. Keywords: Body Mass Index; Obesity; Rheumatoid Arthritis Abstrak: Obesitas merupakan kelebihan lemak pada tubuh, yang secara klinis memiliki hubungan dengan indeks massa tubuh (IMT) yang diperkirakan dapat menjadi salah satu faktor risiko pada beberapa gangguan muskuloskeletal seperti rheumatoid arthritis (RA). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui obesitas sebagai salah satu faktor risiko RA. Penelitian ini menggunakan metode literature review yang diambil dari 1 database, Pubmed. Kata kunci yang digunakan adalah Body Mass Index AND Obesity AND Rheumatoid Arthritis. Pencarian artikel digunakan PICOS framework dan didapatkan 12 literatur. Hasil yang didapatkan obesitas merupakan salah satu faktor risiko yang signifikan terjadinya perkembangan RA. Sebagai simpulan, penelitian ini menunjukkan bahwa obesitas dapat menjadi salah satu faktor risiko RA. Kata kunci: Indeks Massa Tubuh; Obesitas; Rheumatoid Arthritis
Bianca I. J. J. Mandagi, Jimmy F. Rumampuk, Vennetia R. Danes
Published: 31 March 2022
Jurnal Biomedik:JBM, Volume 14, pp 55-60; https://doi.org/10.35790/jbm.v14i1.37585

Abstract:
During the implementation of online learning due to the COVID-19 pandemic, students are exposed to musculoskeletal disorders risk factors such as sitting duration, muscle tension, and uncomfortable positions that can trigger musculoskeletal disorders including complaints of neck pain which ends in Tension Neck Syndrome. This study aims to determine the relationship between sitting duration and the incidence of Tension Neck Syndrome in the course of online learning during the COVID-19 pandemic on students of the Faculty of Medicine, Sam Ratulangi University, Manado. This is a cross-sectional study with google form questionnaire research instrument. The sample of this study was 64 students who were selected using the Simple Random Sampling method which was processed using the chi-square statistical test. The results of this study indicate that most students feel neck pain complaints after 7-9 hours of attending online lectures in a day. The test results obtained p < 0.008 which means that there is a significant relationship between sitting duration and the incidence of Tension Neck Syndrome. There is a relationship between the duration of sitting and the incidence of Tension Neck Syndrome during the online learning period during the COVID-19 pandemic for students of the Faculty of Medicine, Sam Ratulangi University, Manado Keywords: sitting duration; tension neck syndrome; neck pain Abstrak: Ditengah pemberlakuan pembelajaran daring oleh karena pandemi COVID-19, mahasiswa terpapar dengan faktor – faktor risiko gangguan musculoskeletal seperti durasi duduk, ketegangan otot, serta posisi yang tidak nyaman sehingga dapat memicu terjadinya gangguan muskuloskeletal termasuk keluhan nyeri leher yang berakhir pada kejadian Tension Neck Syndrome. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara durasi duduk terhadap kejadian Tension Neck Syndrome dalam masa pembelajaran daring selama pandemi COVID-19 pada Mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Sam Ratulangi Manado. Penelitian ini menggunakan pendekatancross-sectionalstudy dengan instrumen penelitian kuesioner google formulir. Sampel penelitian ini yaitu 64 mahasiswa yang dipilih kemudian diolah menggunakan uji statistika chi square. Hasil penelitian ini menunjukan durasi duduk yang bervariasi dan sebagian besar mahasiswa merasakan keluhan nyeri leher setelah 7 – 9 jam mengikuti kuliah daring dalam sehari.  Hasil uji didapatkan p < 0,008 yang berarti terdapat hubungan bermakna antara durasi duduk dengan kejadian Tension Neck Syndrome.Terdapat hubungan antara durasi duduk terhadap kejadian Tension Neck Syndrome dalam masa pembelajaran daring selama pandemi COVID-19 pada Mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Sam Ratulangi Manado Kata Kunci: durasi duduk; tension neck syndrome; nyeri leher
Dewi D. L. Matialu, Erwin G. Kristanto, Johannis F. Mallo
Published: 31 March 2022
Jurnal Biomedik:JBM, Volume 14, pp 61-66; https://doi.org/10.35790/jbm.v14i1.37343

Abstract:
DNA analysis is the gold standard in forensic identification, however there are some circumstances in which DNA has been degraded or uninformative that make proteomics has the potential to be an alternative method of forensic identification. This study used a literature review method using four databases (Pubmed, ScienceDirect, Proquest, and SpringerLink). The keywords used in the data search are Proteomics OR Analysis Proteome OR Protein-based Identification AND Forensic Identification. The data selection process using inclusion and exclusion criteria, resulted in 10 literatures (research article). There were 10 literatures that examine the implementation of proteomics as a method of identification in forensic cases using various samples such as hair, bone, muscle, blood plasma, body fluids, stomach content, organ fragments, vomit traces, nail scrapings, and fingerprints with significant research results. The development & implementation of proteomics as a method of forensic identification is currently undergoing several developments using spectrometry (MS) technology. With various significant research results, proteomics has great potential not only in identifying individuals, but in many other ways in forensic medicine. Keywords: Proteomics; Analysis Proteome; Protein-based Identification; Forensic Identification Abstrak: Analisis DNA merupakan gold standard dalam identifikasi forensik, tetapi ada beberapa keadaan dimana DNA sudah terdegradasi atau tidak informatif yang menjadikan proteomics berpotensi menjadi sebuah metode alternatif dalam identifikasi forensik. Penelitian ini menggunakan metode literature review dengan pencarian data menggunakan empat database (Pubmed, ScienceDirect, Proquest, dan SpringerLink). Kata kunci yang digunakan dalam pencarian adalah Proteomics OR Analysis Proteome OR Protein-based Identification AND Forensic Identification. Proses seleksi data dengan menggunakan kriteria inklusi dan ekslusi mendapatkan 10 literature (research article). Terdapat 10 literature yang meneliti tentang implementasi proteomics dalam proses identifikasi pada kasus forensik dengan menggunakan berbagai sampel seperti rambut, tulang, otot, plasma darah, cairan tubuh, zat dalam perut, fragmen organ, jejak muntah, kerokan kuku, dan sidik jari dengan hasil penelitian yang signifikan. Perkembangan & implementasi proteomics sebagai metode identifikasi forensik saat ini sudah mengalami beberapa perkembangan dengan menggunakan teknologi mass spectrometry (MS). Dengan berbagai hasil penelitian yang signifikan, maka proteomics memiliki potensi yang besar tidak hanya dalam mengidentifikasi individu, tetapi dalam berbagai hal lain dalam ilmu kedokteran forensik. Kata Kunci: Proteomik; Analisis Proteom; Identifikasi Berbasis Protein; Identifikasi Forensik
Carissa V Tirajoh, Herdy Munayang, Bernabas H. R. Kairupan
Published: 27 January 2021
Jurnal Biomedik:JBM, Volume 13, pp 49-57; https://doi.org/10.35790/jbm.13.1.2021.31715

Abstract:
: The COVID-19 pandemic has resulted in all schools implementing distance learning. Distance learning suddenly makes parents and even children not prepare well as a result of problems such as the division of time between work and child supervision while learning takes place, the lack of availability of electronic devices and even family conflicts. This can trigger concern, especially in parents. This concern has an impact on mood swings and thoughts so that parents can issue verbal abuse to their children during lockdown. This study aims to determine the level of anxiety of parents regarding distance learning during the COVID-19 pandemic. This research was made in the form of a literature study which aims to summarize and present more comprehensive facts from various existing literature, in the form of journals and articles on the internet on Google Scholar, PubMed, ClinicalKey. Literature to be used in English and Indonesian, within the last 1 year (2020) and can be accessed in full. Based on the literature reviewed, it was found that distance learning disrupts the lives of parents and creates anxiety. Parents of elementary, middle and high school students felt greater anxiety than those who were already students. The SAS results also showed that 10.8% of parents of primary school children experienced increased anxiety. Keywords:anxiety, parents, online learning, pandemic. Abstrak: Pandemi COVID-19 ini mengakibatkan seluruh sekolah menerapkan pembelajaran jarak jauh. Pembelajaran jarak jauh yang secara tiba-tiba membuat orang tua bahkan anak-anak tidak mempersiapkan diri dengan baik akibatnya muncul masalah-masalah seperti pembagian waktu antara pekerjaan dan pengawasan anak saat pembelajaran berlangsung, kurangnya ketersediaan perangkat elektronik bahkan konflik keluarga. Hal tersebut bisa memicu kekhawatiran terutama pada orang tua. Kekhawatiran ini berdampak pada perubahan suasana hati dan pikiran sehingga orang tua bisa mengeluarkan kekerasan verbal pada anak-anaknya selama lockdown. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat kecemasan orang tua murid terhadap pembelajaran jarak jauh di masa pandemi COVID-19. Penelitian ini dibuat dalam bentuk studi kepustakaan yang bertujuan untuk merangkum dan menyajikan fakta yang lebih komperhensif dari berbagai literatur yang telah ada sebelumnya, dapat berupa jurnal dan artikel di internet pada Google Scholar, PubMed, ClinicalKey. Literature yang akan digunakan dalam Bahasa Inggris dan Bahasa Indonesia, dalam jangka waktu 1 tahun terakhir (2020) dan dapat diakses secara penuh. Berdasarkan literature-literature yang direview didapatkan pembelajaran jarak jauh mengganggu kehidupan orang tua dan menimbulkan rasa cemas. Rasa cemas yang dirasakan lebih besar pada orang tua siswa SD, SMP, SMA dibandingkan yang sudah mahasiswa. Hasil SAS juga didapatkan 10,8% orang tua anak sekolah dasar mengalami peningkatan kecemasan. Kata Kunci: kecemasan, orang tua, pembelajaran daring, pandemi
Anggi Angelia, Diana V. D. Doda, Aaltje E. Manampiring
Published: 24 October 2020
Jurnal Biomedik:JBM, Volume 12, pp 192-199; https://doi.org/10.35790/jbm.12.3.2020.31632

Abstract:
: Healthcare workers are vulnerable to Tuberculosis infection due to direct contact with Tuberculosis (TB) patients, therefore it is important to evaluate this problem. Quantitative research aimed to determine the prevalence of latent tuberculosis among healthcare workers, evaluate preventive measures, and compliance to use PPE among healthcare workers. The objective of the qualitative research was to evaluate management policies and barriers to the implementation of TB prevention programs. Mixed methods were used in this research. In Quantitative research, 12 healthcare workers served in isolation rooms who were willing to undertake the Interferon Gamma Release Assays (IGRA) test. In the Qualitative research, ten informants were involved, including the head of the Occupational Health and safety committee, the head of the isolation room, and the healthcare workers. The results of the quantitative research showed that the prevalence of latent TB was 75%. In contrast, they reported having good action of TB preventive control (100%) and good compliance of using PPE (83.3%). In qualitative research, it is revealed that the hospital management's policies and commitment to TB prevention in the hospital are under the 2017 RI ministry guidelines standards, but their implementation may ineffective. It is suggested for hospital management to gave standard treatment to Healthcare workers who were infected by latent TB and improve the implementation of the TB prevention policies. Keywords : TB Latent, Hospital Policy, Health Workers   Abstrak: Petugas kesehatan rentan terhadap kasus TB dikarenakan kontak langsung dengan pasien TB, oleh sebab itu penting untuk mengevaluasi masalah ini. Tujuan penelitian kuantitatif yaitu untuk mengevaluasi prevalensi TB Laten pada tenaga kesehatan, tindakan pencegahan, dan kepatuhan menggunakan APD pada tenaga kesehatan. Tujuan secara kualitatif yaitu untuk mengevaluasi kebijakan manajemen dan mengevaluasi hambatan terhadap program pencegahan TB. Penelitian ini menggunakan mixed methods. Penelitian kuantitatif sebanyak 12 responden yang bertugas di ruangan isolasi dan bersedia dilakukan pemeriksaan Interferon Gamma Release Assays (IGRA) test. Penelitian kualitatif 10 informan bersedia untuk ikut dalam penelitian antara lain, ketua komite K3, kepala ruangan isolasi, dan petugas kesehatan. Hasil penelitian kuantitatif diperoleh prevalensi TB laten sebesar 75%, namun tindakan pencegahan TB menunjukan tindakan baik (100%), dan kepatuhan menggunakan APD menunjukkan sebagian besar patuh (83,3%). Penelitian kualitatif diperoleh bahwa kebijakan dan komitmen manajemen Rumah Sakit terhadap pencegahan TB pada petugas kesehatan sudah sesuai standar pedoman Kementerian RI 2017, namun dalam pelaksanaannya masih belum efektif. Saran bagi manajemen rumah sakit untuk melakukan tindak lanjut kepada petugas yang terinfeksi dan meningkatkan kebijakan pencegahan TB laten. Kata kunci : TB Laten, Kebijakan Rumah Sakit, Tenaga Kesehatan
Frisbile T. Thiro, Jehosua S. V. Sinolungan, Cicilia Pali
Published: 10 April 2021
Jurnal Biomedik:JBM, Volume 13, pp 303-308; https://doi.org/10.35790/jbm.13.3.2021.31901

Abstract:
: The purpose of this study is to there was a correlation between self-esteem and Narcissism in Junior Highschool Students, Senior Highschool Students and College Students that use social media actively by collecting some of the literature that will be used for research literature review. Search data using two databases, Pubmed and Google Scholar. At the stage of selection of literature it was found that the ten literature that meets the inclusion and exclusion criteria. The number of samples research on the ten literature is 1.082 which consists of Junior Highschool Students, Senior Highschool Students and College Students who are actively using social media. The results of studies from ten literature review shows that there is a significant relationship between self-esteem and narcissism in junior highschool student, senior highschool student and college student that use social media. Of the ten journals, there were five journals that had a positive relationship between self-esteem and narcissism, with a total 737 samples while the other five journals had a negative relationship between self-esteem and narcissism with 345 samples. Keywords: The relationship between self esteem and narcissism, junior highschool students, senior highschool students and college students   Abstrak: Tujuan dari studi ini adalah untuk mengetahui mengetahui apakah memang ada hubungan antara Harga diri dan Narsisme pada siswa SMP, siswa SMA dan Mahasiswa yang menggunakan media sosial secara aktif dengan cara mengumpulkan beberapa literature-literature yang nantinya akan digunakan untuk penelitian literature review. Pencarian data menggunakan dua database yaitu Pubmed dan Google Scholar. Pada tahap seleksi literature maka ditemukan sepuluh literature yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi. Jumlah sampel penelitian pada sepuluh literature tersebut adalah 1.082 yang terdiri dari Siswa dan Mahasiswa yang aktif menggunakan media sosial. Hasil penelitian dari sepuluh literature review menunjukan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara harga diri dan narsisme. Dari kesepuluh jurnal didapatkan lima jurnal yang memiliki hasil hubungan yang positif antara harga diri dan narsisme dengan jumlah sampel dari kelima jurnal tersebut adalah 737 sampel, sedangkan kelima jurnal yang lain didapatkan hasil hubungan yang negatif antara harga diri dan narsisme dengan jumlah 345 sampel. Kata kunci: hubunganharga diri dan narsisme, Siswa SMP, Siswa SMA, Mahasiswa
Alpinia S. Pondagitan, Nelly Mayulu, Hesti Lestari
Published: 12 July 2020
Jurnal Biomedik:JBM, Volume 12, pp 94-101; https://doi.org/10.35790/jbm.12.2.2020.29429

Abstract:
: Intake behavior in students was influenced by a variety of complex factors that involve exposure to high stress, which can cause intake to increase or decrease that can result in a dependency on fast food that has a low nutritional value but is high in fat and sugar. The study aims to determine the correlation between fiber intake, fat intake, and nutritional status and its effect on Total Cholesterol (TC) levels in adolescents. This is an Analytical Observational study with Cross Sectional Approach conducted at FK Unsrat on February-April 2020, and using Total Population Sampling Technique. Data were analyzed using Pearson Correlation Test and Simple Linear Regression. There was a positive correlation between fiber intake and TC levels (p=0,020; R=0,199). There were no correlation between fat intake and nutritional status with TC levels (p=0,914, 0,522; R=0,009, -0,056) respectively. The simple linear regression equation was: Y=2,20+0,003 X. There was a positive correlation between fiber intake and TC levels, while fat intake and nutritional status have no correlation with TC levels. For every 1 gr of fiber intake elevation will be followed by 0,003 mg/dL elevation on TC levels. Keywords: fiber intake, fat intake, nutritional status, total cholesterol levels, adolescents Abstrak: Perilaku asupan pada mahasiswa dipengaruhi oleh berbagai faktor kompleks yang melibatkan paparan terhadap stress yang tinggi sehingga menyebabkan asupan yang meningkat atau menurun yang dapat berakibat terjadinya ketergantungan terhadap makanan cepat saji yang memiliki nilai gizi yang rendah tetapi tinggi akan lemak dan gula. Penelitian bertujuan untuk mengetahui korelasi antara asupan serat, asupan lemak, dan status gizi serta pengaruhnya terhadap kadar kolesterol total remaja. Jenis penelitian yaitu Observasional Analitik dengan pendekatan Cross Sectional yang dilakukan di FK Unsrat pada Februari-April 2020, dan teknik pengambilan sampel yaitu Total Sampling. Data dianalisis menggunakan Uji Korelasi Pearson dan Regresi Linier Sederhana. Terdapat korelasi positif antara asupan serat dengan kadar kolesterol total (p=0,020; R=0,199). Tidak terdapat korelasi antara asupan lemak dan status gizi dengan kadar kolesterol total (p=0,914, 0,522; R=0,009, -0,056) secara berurutan. Persamaan regresi linier sederhana mendapatkan rumus: Y=2,20+0,003 X. Terdapat korelasi positif antara asupan serat dengan kadar kolesterol total, sedangkan asupan lemak dan status gizi tidak memiliki korelasi dengan kadar kolesterol total. setiap peningkatan asupan serat 1 gr akan diikuti dengan peningkatan kadar kolesterol total sebesar 0,003 mg/dL. Kata kunci: asupan serat, asupan lemak, status gizi, kadar kolesterol total, remaja
Ribka Wowor, Frans Wantania
Published: 12 July 2020
Jurnal Biomedik:JBM, Volume 12, pp 83-87; https://doi.org/10.35790/jbm.12.2.2020.29162

Abstract:
Frailty Syndrome is a geriatric syndrome with characteristics of reduced functional ability and adaptation functions that caused by the decline in various body systems and also increased susceptibility to various stress, which decreases a person’s functional performance. The prevalence of frailty syndrome ranges from 7% at the age above 65 years and 30% at ages above 80 years. Research on Caucasian races, women suffer more frailty than men (7:5), while in the African American group found twice that of Caucasians (14:7). Generally, to determine a frailty syndrome we used the Fried’s clinical criteria when there are three or more of the weaknesses such as, reduced road speed, complaints of fatigue, decreased activity, and weight loss. The clinical picture of frailty syndrome is based on weakness, reduced walking speed, fatigue, low physical activity, and weight loss. The diagnosis is based on clinical signs and symptoms and their comorbidities. Keywords: frailty syndrome, weakness Abstrak: Sindroma frailty adalah suatu sindroma geriatri dengan karakteristik berkurangnya kemampuan fungsional dan gangguan fungsi adaptasi yang diakibatkan oleh merosotnya berbagai sistem tubuh, serta meningkatnya kerentanan terhadap berbagai macam stressor, yang menurunkan performa fungsional seseorang. Prevalensi sindroma frailty berkisar 7% pada usia diatas 65 tahun dan 30% pada usia diatas 80 tahun. Penelitian terhadap ras Kaukasia, perempuan lebih banyak menderita frailty dibandingkan laki-laki (7:5), sedangkan pada kelompok Afrika-Amerika didapatkan dua kali lipat dibandingkan ras Kaukasia (14:7). Umumnya, untuk menentukan suatu sindroma frailty dipergunakan kriteria klinis dari Fried yaitu bila terdapat tiga atau lebih dari kelemahan, berkurangnya kecepatan jalan, keluhan cepat lelah, menurunnya aktivitas, dan berkurangnya berat badan. Gambaran klinis sindroma frailty berdasarkan adanya kelemahan, berkurangnya kecepatan jalan, rasa cepat lelah, aktivitas fisik yang rendah, dan hilangnya berat badan. Diagnosis didasarkan atas tanda dan gejala klinis serta penyakit komorbidnya. Kata kunci: sindrom frailty, kelemahan
Mathilda W. Warouw, Tara S. Kairupan, Pieter L. Suling
Published: 29 March 2021
Jurnal Biomedik:JBM, Volume 13, pp 185-191; https://doi.org/10.35790/jbm.13.2.2021.31833

Abstract:
: Dermatophytosis or tinea is the most frequent fungal infection in the world caused by the dermatophyte fungi group. These dermatophytes infect the stratum corneum of the skin, hair shaft, and nails. Systemic antifungals are one of the treatment options for dermatophytosis, especially in cases of widespread infection or failure of topical therapy. This study aims to determine the effectiveness of various systemic antifungals (griseofulvin, terbinafine, and azole derivatives) against dermatophytosis. This study was in the form of a literature review by searching and collecting data using the PubMed and ClinicalKey databases, with the keywords antifungal sistemik, dermatofitosis, tinea (bahasa Indonesia), and systemic antifungal, dermatophytosis, tinea (English). Based on the results of the literature search, 10 articles were found that match the inclusion and exclusion criteria. From the article review, it is known that the effectiveness of systemic antifungal therapy against dermatophytosis varies according to the classification and duration of therapy. In conclusion, systemic antifungals in the treatment of dermatophytosis have been shown to be effective. Keywords: systemic antifungal, dermatophytosis, tinea  Abstrak: Dermatofitosis atau kata lainnya tinea merupakan infeksi jamur paling sering di dunia yang disebabkan oleh golongan jamur dermatofita. Dermatofita ini menginfeksi stratum korneum kulit, batang rambut, dan kuku. Antijamur sistemik merupakan salah satu pilihan terapi dermatofitosis terutama pada kasus infeksi luas atau kegagalan terapi topikal.Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektivitas dari berbagai antijamur sistemik (griseofulvin, terbinafin, dan turunan azole) terhadap dermatofitosis. Penelitian ini berbentuk literature review dengan pencarian dan pengumpulan data menggunakan database PubMed dan ClinicalKey, dengan kata kunci antijamur sistemik, dermatofitosis, tinea (Bahasa Indonesia), serta systemic antifungal, dermatophytosis, tinea (Bahasa Inggris).Berdasarkan hasil pencarian literatur didapatkan 10 artikel yang sesuai dengan kriteria inklusi dan eksklusi. Dari tinjauan artikel diketahuiefektivitas dari pemberian terapi antijamur sistemik terhadap dermatofitosis bervariasi sesuai klasifikasi dan durasi terapi. Sebagai simpulan, antijamur sistemik pada terapi dermatofitosis terbukti efektif. Kata kunci: antijamur sistemik, dermatofitosis, tinea.
Aurelia R. Onibala, Christi D. Mambo, Angelina S. R. Masengi
Published: 10 April 2021
Jurnal Biomedik:JBM, Volume 13, pp 322-333; https://doi.org/10.35790/jbm.13.3.2021.31956

Abstract:
Abstrak: Penyakit Parkinson atau Parkinson’s disease (PD) merupakan penyakit neurodegeneratif yang bersifat kronis, progresif, dan tidak dapat disembuhkan sehingga penyakit ini memiliki dampak sosial yang besar. Pengobatan yang digunakan saat ini tidak dapat menghentikan perjalanan PD dan memiliki efek samping yang merugikan. Oleh sebab itu diperlukan terapi tambahan dengan risiko efek samping yang lebih rendah seperti vitamin. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui vitamin apa saja yang berperan dan bagaimana mekanisme peran vitamin tersebut dalam membantu penanganan PD. Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan metode Literature Review. Berdasarkan artikel yang dianalisis, vitamin memiliki peran dalam penanganan PD. Vitamin A (9-cis-retinoic acid) bermanfaat melalui mekanisme neuroproteksi pada neuron dopaminergik. Vitamin B3 (niasin) berpotensi dalam mengurangi peradangan saraf. Vitamin B12 dalam penelitian in vitro berperan melalui mekanisme inhibisi terhadap agregasi α-synuclein, menghambat aktivitas kinase leucine-rich repeat kinase 2 (LRRK2), dan mencegah neurotoksisitas. Vitamin C (asam askorbat) efektif untuk menurunkan stres oksidatif. Vitamin E memiliki efek antiinflamasi dan antioksidan serta dapat meningkatkan kapasitas antioksidan total, dan meningkatkan GSH. Penggunaan vitamin A (9-cis-retinoic acid), vitamin B3, vitamin B12, vitamin C (dalam dosis dan jangka waktu tertentu), dan vitamin E bermanfaat untuk agen terapeutik PD. Vitamin B12, berdasarkan literature review perlu penelitian lebih lanjut namun tampaknya dapat menjadi terapi pendukung PD. Kata kunci: Vitamin, Penyakit Parkinson, Stres Oksidatif, Peradangan Saraf Abstract: Parkinson's disease (PD) is a chronic, progressive, and incurable neurodegenerative disease that has a major social impact. The medications currently used cannot stop the course of PD and have adverse side effects. Therefore additional therapy with a lower risk of side effects such as vitamins is needed. This study aims to determine which vitamins play a role and how the mechanism of the role of these vitamins in helping treat PD. This research was conducted using the Literature Review method. Based on the articles analyzed, vitamins have a role in the management of PD. Vitamin A (9-cis-retinoic acid) is beneficial through neuroprotection in dopaminergic neurons. Vitamin B3 (niacin) has the potential to reduce nerve inflammation. Vitamin B12 in in vitro studies plays a role through inhibitory mechanisms of α-synuclein aggregation, inhibits the activity of leucine-rich repeat kinase 2 (LRRK2), and prevents neurotoxicity. Vitamin C (ascorbic acid) is effective for reducing oxidative stress. Vitamin E has anti-inflammatory and antioxidant effects and can increase the total antioxidant capacity and increase GSH. The use of vitamin A (9-cis-retinoic acid), vitamin B3, vitamin B12, vitamin C (in certain doses and for a certain time), and vitamin E are beneficial for the therapeutic agent of PD. For vitamin B12, based on the literature review, further research is needed but seems to be a supportive therapy for PD.Keywords:Vitamins, Parkinson's Disease, Oxidative Stress, Neuroinflammation
Narita T Logor, Jeanette I. Ch. Manoppo, Suryadi N. N. Tatura
Published: 29 March 2021
Jurnal Biomedik:JBM, Volume 13, pp 207-217; https://doi.org/10.35790/jbm.13.2.2021.31782

Abstract:
: The gut microbiota affects the maturation of the immune system, absorption of nutrients and the avoidance of colonization of pathogens, and the stool consistency can reflect the tolerance of gastrointestinal tract and activity in the ecosystem of the colon. The intake of infants in early life affects the gut microbiota and stool consistency, there are differences in the description of the intestinal microbiota and the stool consistency in infants who are given breast milk and infant formula. This study aims to compare the description of gut microbiota and stool consistency in healthy infants aged 0-6 months who are breastfed and infant formula. This study was in the form of a literature review. The literature was taken from three databases, namely Pubmed, Google scholar and pediatric extract. The keywords used were gut microbiota, stool consistency, breast milk and infant formula. After being selected by exclusion inclusion criteria, it was obtained 13 literature. There are 13 literatures examining the description of the gut microbiota and stool consistency in infants who are breastfed, standard infan formula and supplemented infant formula; probiotics, prebiotics, synbiotics, sn-2 palmitate and protein. In conclusion, breastfed infants have a lower diversity of the gut microbiota in early life and will increase with age, a low diversity indicates a healthy gut characteristic if caused by breastfeeding. The stool consistency in breastfed infant is softer than in infants who receive standard infant formula and supplemental infant formulas. Key words: gut microbiota, stool consistency, breast milk, infant formula   Abstrak: Mikrobiota usus mempengaruhi pematangan system kekebalan, penyerapan nutrisi serta menghindari kolonisasi patogen, dan konsistensi tinja dapat menggambarkan toleransi dari gastrointestinal dan aktivitas di ekosistem usus besar. Asupan bayi diawal kehidupan mempengaruhi mikrobiota usus dan konsistensi tinja, terdapat perbedaan gambaran mikrobiota usus dan konsistensi tinja pada bayi yang diberi Air Susu Ibu (ASI) dan susu formula. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan gambaran mikrobiota usus dan konsistensi tinja pada bayi sehat usia 0-6 bulan yang mendapat ASI dan susu formula. Penelitian ini dalam bentuk literature review. Literature diambil dari tiga database yaitu Pubmed, Google scholar dan sari pediatric. Kata kunci yang digunakan yaitu gut microbiota, stool consistency, breast milk dan infant formula. Setelah diseleksi dengan kriteria inklusi eksklusi, didapatkan 13 literatur. Terdapat 13 literatur yang meneliti gambaran microbiota usus dan konsistensi tinja pada bayi yang mendapat ASI, susu formula standar dan susu formula dengan tambahan ; probiotik, prebiotik, sinbiotik, sn-2 palmitate dan protein. Sebagai simpulan, bayi yang mendapat ASI memiliki keragaman mikrobiota usus yang rendah diawal kehidupan dan kemudian akan meningkat seiring bertambahnya usia, keragaman yang rendah menunjukan ciri usus yang sehat jika dikarenakan pemberian ASI. Konsistensi tinja pada bayi dengan ASI lebih lunak dibandingkan dengan bayi yang mendapat susu formula standar dan susu formula dengan tambahan. Kata kunci: mikrobiota usus, konsistensi tinja, ASI, susu formula
Sharen E. Esau, Elvin C. Angmalisang, Djon Wongkar
Published: 24 October 2020
Jurnal Biomedik:JBM, Volume 12, pp 200-207; https://doi.org/10.35790/jbm.12.3.2020.31991

Abstract:
: Bone fracture healing process begins with an inflammatory stage, which leads to callus formation and tissue differentiation within the callus and is completed by callus resorption and bone remodeling. Previous studies have shown that nicotine users are more likely to experience prolonged wound healing, higher risk of wound infection, higher incidence of fractures, higher incidence of fracture nonunion, higher risk of malunion, longer time to fuse fractures, and increased risk of osteomyelitis after fracture. The purpose of this study is to determine the effect of nicotine exposure on fracture healing. This study took the form of a literature review with data searches using two databases, namely PubMed and ClinicalKey. The keywords used are nicotine and fracture healing. After being selected based on inclusion and exclusion criteria, 12 literature was obtained which will be reviewed. Research from 12 literature reviewed found that nicotine gave varying results on fracture healing, some of which were attributed to differences in nicotine doses or differences in the experimental animal species studied. In conclusion, nicotine has an effect on fracture healing. Key words: nicotine, fracture healing  Abstrak: Proses penyembuhan patah tulang dimulai dengan tahap peradangan, yang mengarah pada pembentukan kalus dan diferensiasi jaringan di dalam kalus dan diselesaikan dengan resorpsi kalus dan remodeling tulang. Penelitian sebelumnya telah menunjukkan bahwa pengguna nikotin lebih cenderung mengalami penyembuhan luka yang lama, risiko infeksi luka yang lebih tinggi, insiden patah tulang yang lebih tinggi, insiden fraktur nonunion yang lebih tinggi, risiko malunion yang lebih tinggi, waktu yang lama untuk penyatuan patah tulang, dan peningkatan risiko osteomielitis setelah fraktur. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh paparan nikotin terhadap penyembuhan fraktur. Penelitian ini berbentuk literature review dengan pencarian data menggunakan dua database yaitu PubMed dan ClinicalKey. Kata kunci yang digunakan yaitu nikotin and penyembuhan fraktur. Setelah diseleksi berdasarkan kriteria inklusi dan ekslusi, didapatkan 12 literatur yang akan direview. Penelitian dari 12 literatur yang direview didapatkan bahwa nikotin memberikan hasil yang bervariasi terhadap penyembuhan patah tulang, beberapa diantaranya dianggap berasal dari perbedaan dosis nikotin atau perbedaan spesies hewan percobaan yang diteliti. Sebagai simpulan, nikotin mempunyai pengaruh terhadap penyembuhan fraktur. Kata kunci: nikotin, penyembuhan fraktur
Nur A Abdul-Hamid, Greta J. P. Wahongan, Josef S. B. Tuda
Published: 27 January 2021
Jurnal Biomedik:JBM, Volume 13, pp 44-48; https://doi.org/10.35790/jbm.13.1.2021.31753

Abstract:
: COVID-19 is a disease caused by SARS-CoV-2 infection. Due to the increasing spread of COVID-19 infection in various countries, WHO declared the infection of COVID-19 as a pandemic situation. IgM and IgG antibodies test with the principle of immunochromatography is considered easier to perform than other test. The aims to detect anti SARS-CoV-2 IgM and IgG antibodies in North Sulawesi employees. This study is a descriptive study with cross sectional design. Antibody detection was carried out by dropping the serum of Balai Wilayah Sungai Sulawesi I's employees on the Clungene® COVID-19 IgG/IgM Rapid Test Cassette rapid diagnostic test based on antibody detected tool and interpreted based on the obtained result. As a result, tests which has been conducted on serum of 177 employees showed thirteen employees gave reactive results, where eight employees gave reactive IgM and IgG results, and five employees gave reactive IgG results. In conclusion,Immunoglobulin M and Immunoglobulin G were detected on some of Balai Wilayah Sungai Sulawesi I's employees. Keywords: COVID-19, SARS-CoV-2, IgM, IgG, immunochromatography   Abstrak: COVID-19 merupakan penyakit yang disebabkan oleh infeksi SARS-CoV-2. Oleh karena peningkatan penyebaran COVID-19 di berbagai negara, WHO mendeklarasikan infeksi COVID-19 sebagai situasi pandemi. Pemeriksaan antibodi IgM dan IgG dengan prinsip imunokromatografi dinilai lebih mudah dilakukan dibandingkan pemeriksaan lainnya. Penelitian ini bertujuan untuk mendeteksi antibodi IgM dan IgG anti SARS-CoV-2 pada karyawan kantoran Sulawesi Utara. Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian deskriptif dengan desain penelitian cross-sectional. Deteksi antibodi dilakukan dengan meneteskan serum karyawan Balai Wilayah Sungai Sulawesi I pada kit rapid diagnostic test berbasis deteksi antibodi Clungene® COVID-19 IgG/IgM Rapid Test Cassette dan diinterpretasikan sesuai hasil yang didapat. Hasil yang diperoleh dari pemeriksaan yang dilakukan pada 177 serum karyawan menunjukan tiga belas karyawan memberikan hasil pemeriksaan reaktif, dimana delapan karyawan dengan hasil IgM dan IgG reaktif, serta lima karyawan dengan hasil IgG reaktif. Sebagai simpulan, antibodi Imunoglobulin M dan Imunoglobulin G anti SARS-CoV-2 terdeteksi pada karyawan Balai Wilayah Sungai Sulawesi I. Kata Kunci: COVID-19, SARS-CoV-2, IgM, IgG, imunokromatografi
Hermie M.M. Tendean, Ariel W. Lumentut
Published: 24 October 2020
Jurnal Biomedik:JBM, Volume 12, pp 168-175; https://doi.org/10.35790/jbm.12.3.2020.31474

Abstract:
: This study aims to find out the succession number of intracervical foley catheter that used for cervical ripening in patients who has labor induction plan. Study involved 35 pregnant women with gestational age ³ 41 weeks, Bishop score < 6 that planned to undergo labor induction at Prof. Dr. R. D. Kandou General Hospital, Mana-do, in March to October 2020. Intracervical foley catheter applied to the patients for cervical ripening. Bishop score is performed before and after 24 hours uses of intracervical foley catheter or after experience foley catheter expulsion by itself. Succession of intracervical foley catheter assessed by Bishop score changes post expulsion of after 24 hours uses, with score ³ 6. Patients that never experience labor process post expulsion or foley catheter discharged performed labor induction with oxytocin drips. Average time of intracervical foley catheter installation is 12 hours. Average Bishop score before foley catheter installation 2,97 and Bishop score after expulsion or after 24 hours uses of intracervical foley catheter is 6,71. After t test has performed there is increasing of Bishop score after foley catheter installation (p < 0,001). In the amount of 82,86% patients that use intracervical foley catheter needed oxytocin drip for labor induction. In conclusion, intracervical foley catheter installation proves effectiveness for cervical ripening in case of Bishop score changes before application and after expulsion or 24 hours. Application with succession number of 77,14%. Key Words: intracervical foley catheter, cervical ripening, labor induction   Abstrak: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui angka keberhasilan kateter Foley intraservikal untuk mematangkan serviks pada pasien yang akan direncanakan induksi persalinan. Penelitian melibatkan 35 ibu hamil usia kehamilan ³ 41 minggu, skor Bishop < 6 yang akan direncanakan induksi persalinan di RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou, Manado, sejak Maret sampai Oktober 2020. Pasien dipasang kateter Foley intraservikal untuk pematangan serviks. Dilakukan penilaian skor Bishop sebelum dan setelah 24 jam pemasangan kateter Foley atau setelah kateter Foley mengalami ekspulsi dengan sendirinya. Keberhasilan kateter Foley intraservikal dinilai dari perubahan skor Bishop post ekspulsi atau setelah 24 jam pemasangan, dengan nilai ³ 6. Pasien yang belum mengalami proses inpartu post ekspulsi atau pelepasan kateter Foley dilakukan induksi persalinan dengan menggunakan oksitosin drips. Lama rata-rata pemasangan kateter Foley adalah 12 jam. Nilai rata-rata skor Bishop sebelum pemasangan kateter Foley adalah 2,97 dan skor Bishop setelah ekspulsi atau setelah 24 jam pemasangan kateter Foley adalah 6,71. Setelah dilakukan uji t terdapat peningkatan skor Bishop setelah pemasangan kateter Foley (P < 0,001). Sebesar 82,86% pasien yang dipasang kateter Foley intraservikal membutuhkan oksitosin drips untuk induksi persalinan. Sebagai simpulan,Penggunaan kateter Foley intraservikal efektif untuk pematangan serviks dalam hal perubahan skor Bishop sebelum pemasangan dan setelah ekspulsi atau 24 jam pemasangan dengan angka keberhasilan sebesar 77,14%. Kata Kunci: Kateter Foley intraservikal, pematangan serviks, induksi persalinan.
Melissa G. Tansil, Novie H. Rampengan, Rocky Wilar
Published: 27 January 2021
Jurnal Biomedik:JBM, Volume 13, pp 90-99; https://doi.org/10.35790/jbm.13.1.2021.31760

Abstract:
: Dengue hemorrhagic fever (DHF) is an acute infectious disease caused by dengue virus, this disease often occurs and even more dangerous if it’s found in children. Until now, There are no real specifications regarding to handling DHF, so efforts are needed to control risk factors that cause the occurrence of DHF in children to reduce morbidity and mortality. This literature review aims to determine the risk factors of DHF in children. The method that is being used is in the form of a literature study with the method of searching, combining the essence and analyzing facts from several scientific sources that are accurate and valid regarding to the risk factors for the occurrence of DHF in children. The results found that there was an association between nutritional status, age, presence of vector, domicile, environment, breeding place, resting place, habit of hanging clothes, temperature, using mosquito repellent, occupation, knowledge, attitudes, and 3M practice, while there is no relationship with gender, humidity, and sleeping habits in the morning and evening. This study concludes the importance of public knowledge about risk factors that cause the occurrence of DHF so families can avoid and reduce the incidence of DHF. Keywords: Child, Risk Factor, DHF, Dengue Fever,dan Dengue Hemorrhagic Fever Abstrak: Demam berdarah dengue (DBD) merupakan penyakit infeksi akut yang disebabkan oleh virus dengue, penyakit ini sering terjadi dan bahkan lebih berbahaya manifestasinya jika ditemukan pada anak. Sampai saat ini belum ada spesifikasi yang nyata mengenai penanganan untuk penyakit DBD maka sangat dibutuhkan upaya pengendalian faktor risiko penyebab terjadinya kejadian DBD pada anak untuk menurunkan morbiditas dan mortalitas. Literature review ini bertujuan untuk mengetahui apa saja faktor risiko terjadinya kejadian DBD pada anak. Metode yang digunakan berupa studi literatur dengan metode mencari, menggabungkan intisari serta menganalisis fakta dari beberapa sumber ilmiah yang akurat dan valid mengenai faktor risiko terjadinya kejadian demam berdarah dengue pada anak. Hasil menemukan bahwa terdapat hubungan antara status gizi, umur, keberadaan vektor, domisili, environment, breeding place, resting place, kebiasaan menggantung pakaian, suhu, penggunaan obat anti nyamuk, pekerjaan, pengetahuan dan sikap, dan praktik 3M, sedangkan tidak terdapat hubungan dengan faktor jenis kelamin, kelembaban dan kebiasaan tidur pagi dan sore. Penelitian ini menyimpulkan bahwa pentingnya pengetahuan masyarakat mengenai faktor risiko apa saja penyebab terjadinya kejadian DBD agar keluarga dapat terhindar dari penyakit DBD dan mengurangi angka kejadian DBD. Kata Kunci: DBD, Faktor Risiko terjadinya DBD, dan Anak
Nilawati, Adrian Umboh, Lydia Tendean
Published: 12 July 2020
Jurnal Biomedik:JBM, Volume 12, pp 117-124; https://doi.org/10.35790/jbm.12.2.2020.29513

Abstract:
: This study was aimed to Determinant Factors in the Use of Contraception in Women Age ASFR (Age Specific Fertility Rate) in the Province of North Sulawesi. The population is all women aged in ASFR in North Sulawesi. Sampling based on raw data SKAP adjusted to the inclusion and exclusion criteria. Analysis with Chi Square test and Logistic regression. The results of the study found a relationship between education, family planning counseling service and family planning service, while the number of children, residential areas and the mass media were not. Based on multivariate results, family planning counseling service have a large role which is obtained OR value of 25.078 (95% CI = 3.089-203.625). Conclusion, education, family planning services counseling and family planning services have a significant relationship, while the number of children, residential areas and the mass media were not. Keywords: determinants factors, education, children, residential area, mass media, family planning, counseling, service, women age ASFR   Abstrak: Tujuan penelitian ini adalah mengetahui faktor determinan penggunaan kontrasepsi pada wanita usia ASFR (Age Specific Fertility Rate) di Provinsi Sulawei Utara. Jenis penelitian analitik dengan desain cross-sectional. Populasi semua wanita usia ASFR di Provinsi Sulawesi Utara. Pengambilan sampel berdasarkan raw data SKAP yang disesuaikan dengan kriteria inklusi dan eksklusi. Analisis dengan uji Chi Square dan regresi Logistic. Hasil penelitian terdapat hubungan antara pendidikan, konseling pelayanan KB dan tempat pelayanan KB sedang jumlah anak, wilayah tempat tinggal dan media massa tidak. Berdasarkan hasil multivariate konseling pelayanan KB mempunyai peran yang besar dimana di peroleh nilai OR 25,078 (CI 95% = 3,089-203,625). Kesimpulan pendidikan, konseling pelayanan KB dan tempat pelayanan KB mempunyai hubungan yang signifikan, sedangkan jumlah anak, wilayah tempat tinggal dan media tidak. Kata kunci: faktor determinan, pendidikan, jumlah anak, daerah pemukiman, media massa, konseling, pelayanan, keluarga berencana, wanita usia ASFR.
Pingkan C. Maringka, Weny I. Wiyono, Irma Antasionasti
Published: 12 July 2020
Jurnal Biomedik:JBM, Volume 12, pp 139-143; https://doi.org/10.35790/jbm.12.2.2020.29286

Abstract:
Cancer is known as one of the diseases that has a serious physical and psychological impact on sufferers, the presence of cancer can affect the quality of life of patients. This study aims to determine the quality of life in cancer patients at irina delima room of RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou Manado. This study was a descriptive study with a cross-sectional approach and data collected using the EORTC QLQ C30 questionnaire to 56 cancer patients. The results of the research obtained quality of life on global health scale categorized as good with a score of 67,3, on the functional scale is categorized as good with the highest average value of emotional function of 78,2, and the scale of symptom is categorized as poor with the highest average value of fatigue of 48,6. Keywords : Quality of life, cancer, EORTC QLQ-C30.                                                                Abstrak: Kanker dikenal sebagai salah satu penyakit yang memiliki dampak serius terhadap fisik dan psikologis bagi penderitanya, keberadaan penyakit kanker dapat mempengaruhi kualitas hidup pasien kanker. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kualitas hidup pada pasien kanker di ruangan irina delima RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou Manado. Penelitian ini merupakan jenis penelitian deskriptif dengan pendekatan cross sectional dan pengumpulan data menggunakan kuesioner EORTC QLQ-C30 terhadap 56 pasien kanker. Hasil penelitian yang diperoleh yaitu kualitas hidup pada skala kesehatan global terkategori baik dengan diperoleh nilai sebesar 67,3, pada skala fungsional terkategori baik dengan nilai rata-rata tertinggi yaitu fungsi emosi sebesar 78,2, dan pada skala gejala terkategori buruk dengan nilai rata-rata tertinggi yaitu kelelahan sebesar 48,6. Kata Kunci : Kualitas hidup, kanker, kuesioner EORTC QLQ-C30
Axel P. Lumi, Victor F. F. Joseph, Natalia C. I. Polii
Published: 10 April 2021
Jurnal Biomedik:JBM, Volume 13, pp 309-316; https://doi.org/10.35790/jbm.v13i3.33448

Abstract:
: Heart failure is a major clinical and public health problem with a prevalence of more than 23 million worldwide. Treatment of Heart Failure consists of pharmacological and non-pharmacological measures including physical exercise or cardiac rehabilitation. Cardiac rehabilitation is a set of integrated efforts or programs carried out to control the underlying causes of cardiovascular disease, improve physical, mental condition and as a secondary preventive measure. Cardiac rehabilitation aims to increase the patient's functional capacity, psychological adaptation to the chronic disease process, the foundation for long-term behavior and lifestyle changes to favorably influence long-term prognosis, and maintain an independent lifestyle as long as possible. The method that was used in this research is literature review by comparing the secondary data from literatures that was published in medical journal database such as PubMed, ClinicalKey and Google Scholar by following the inclusion and exclusion criteria. Reviews had been done in ten literatures that fulfill the inclusion and exclusion criteria. Those ten literature states that cardiac rehabilitation has many benefits in patients with heart failure. In conclusion, cardiac rehabilitation programs in patients with heart failure have many benefits on a patient's fitness. Cardiac rehabilitation programs can improve the quality of life in patients. The cardiac rehabilitation program increases Vo2Max and the endurance capacity of the heart. Cardiac rehabilitation program as a preventive step because it can prevent worsening heart health. Keywords: Heart failure, chronic heart failure, rehabilitation  Abstrak: Gagal jantung adalah masalah klinis dan kesehatan masyarakat yang utama dengan prevalensi lebih dari 23 juta di seluruh dunia. Penananganan Gagal Jantung terdiri dari penanganganan farmakologis dan non farmakologis yang antara lain latihan fisik atau rehabilitasi jantung. Rehabilitasi jantung adalah sekumpulan upaya atau program yang terintegrasi yang dilakukan untuk mengontrol penyebab dasar penyakit kardiovaskular, memperbaiki kondisi fisik, mental dan sebagai langkah preventif sekunder. Rehabilitasi jantung bertujuan untuk meningkatan kapasitas fungsional pasien, adaptasi psikologis terhadap proses penyakit kronis, landasan bagi perubahan perilaku dan gaya hidup jangka panjang untuk mempengaruhi prognosis jangka panjang secara menguntungkan, dan mempertahankan gaya hidup mandiri selama mungkin. Metode penelitian yang digunakan adalah literature review (studi pustaka) dengan membandingkan data sekunder dari literatur-literatur yang dipublikasi dalam database jurnal kedokteran PubMed,ClinicalKey dan Google Scholar sesuai dengan kriteria inklusi dan eksklusi yang ada. Studi pustaka dilakukan pada sepuluh literatur yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi. Sepuluh literatur tersebut menyatakan bahwa rehablitasi jantung memiliki banyak manfaat pada kebugaran pasien dengan gagal jantung. Sebagai simpulan, program rehabilitasi jantung pada pasien dengan gagal jantung memiliki banyak maanfaat pada kebugaran pasien. Program rehabilitasi jantung dapat meningkatkan kualitas hidup pada pasien. Program rehabiltasi jantung meningkatkan Vo2Max dan kapasitas daya tahan jantung. Program rehabilitasi jantung sebagai langkah preventif karena dapat mencegah perburukan kesehatan jantung. Kata Kunci: Heart failure, chronic heart failure, rehabiltasi jantung
Renaldo B. Minggu, Janette M. Rumbajan, Grace L. A. Turalaki
Published: 29 March 2021
Jurnal Biomedik:JBM, Volume 13, pp 233-240; https://doi.org/10.35790/jbm.13.2.2021.31996

Abstract:
: The genome sequencing as well as the protein structure and function of severe acute respiratory syndrome coronavirus 2 (SARS-CoV-2) is known and helps in structurally characterizing viral proteins, determining evolutionary trajectories, identifying interactions with host proteins and providing biological insights. Knowledge of the structure of the SARS-CoV-2 genome is useful as a means of understanding the disease coronavirus disease 19 (COVID-19).This study aims to determine the genome structure of SARS-CoV-2. This study is a literature review, which was conducted on 23 literatures.This study showed that 23 literatures obtained, as many as in journals suggesting the structure of the genome, there are ORF (open reading frame) / NSP (non-structural protein) and structural protein, namely: S (spike, glycoprotein), E (Envelope), M (Membrane) and N (nucleocapsid) while the remaining 5 literatures do not discuss this structure.The result of this study showed that the genome structure of SARS-CoV-2 consisted of structural proteins, namely; glycoprotein (S), envelope protein (E), membrane protein (M), and nucleocapsid protein (N) and non-structural protein (NSP) encoded by ORF1a and ORF1b via two polyproteins pp1a and pp1b. Keywords: Genome, SARS-CoV-2 Abstrak: Urutan genom serta struktur dan fungsi protein dari severe acute respiratory syndrome coronavirus 2 (SARS-CoV-2) telah diketahui dan membantu dalam mengkarakterisasi protein virus secara struktural, menentukan lintasan evolusi, mengidentifikasi interaksi dengan protein inang dan memberikan wawasan biologi. Pengetahuan tentang struktur genom SARS-CoV-2 ini bermanfaat sebagai pengetahuan memahami penyakit coronavirus disease 19 (COVID-19).Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui struktur genom SARS-CoV-2. Penelitian ini merupakan penelitian yang bersifat literature review, yang dilakukan terhadap 23 literatur yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi dari penelitian ini. Penelitian ini menunjukkan bahwa 23 literatur yang didapat, sebanyak pada 18 jurnal mengemukakan tentang struktur genom terdapat ORF (open reading frame)/NSP (Non-Struktural Protein) dan protein struktural yaitu : S (lonjakan, glikoprotein), E (Envelope), M (Membran) dan N (Nukleocapsid) sedangkan sisanya terdapat 5 jurnal tidak membahas struktur tersebut.Hasil penelitian ini menunjukan bahwa struktur genom SARS-CoV-2 terdiri atas protein struktural yaitu; glikoprotein (S), protein amplop (E), protein membran (M), dan protein nuckleokapsid dan protein non-struktural (NSP) yang di kodekan oleh ORF1a dan ORF1b melalui dua poliprotein pp1a dan pp1b.Kata Kunci: Genome, SARS-CoV-2
Angelina C. Walangitan, Ora I. Palandeng, Joshua Runtuwene
Published: 29 March 2021
Jurnal Biomedik:JBM, Volume 13, pp 192-198; https://doi.org/10.35790/jbm.13.2.2021.31868

Abstract:
: Hearing loss is the inability to hear soundsin one or both ears. Being a diver carries a high risk of harm, which can lead to hearing loss. This study aimed todetermine the description of hearing loss in divers.The research method used is literature review (literature study) with data search using three databases, namely Pubmed, Google Scholar and Clinical Key.The results of the study literature review conducted on eleven literature indicated that divers were very susceptible to hearing loss. In conclusion, hearing loss can occur in divers. In addition, the hearing loss most often experienced by a divers is mild deafness and ear barotrauma. Keywords: hearing loss, divers  Abstrak: Gangguan Pendengaran merupakan ketidakmampuan mendengarkan suara pada salah satu atau kedua telinga. Menjadi seorang penyelam memiliki tingkat risiko bahaya yang tinggi, sehingga dapat menyebabkan gangguan pendengaran.Tujuan penelitian ini untukmengetahui gambaran gangguan pendengaran pada penyelam.Metode penelitian yang digunakan adalah literature review (studi pustaka) dengan pencarian data menggunakan tiga database yaitu Pubmed, Google Scholar dan Clinical Key.Hasil penelitian literature review yang dilakukan pada sebelas literatur menunjukkan bahwa penyelam sangat rentan terhadap terjadinya gangguan gangguan pendengaran. Sebagai simpulan, gangguan pendengaran dapat terjadi pada penyelam. Selain itu juga gangguan pendengaran yang paling sering dialami seorang penyelam yaitu tuli ringan dan barotrauma telinga. Kata Kunci: gangguan pendengaran, penyelam
Lydia Paat, Yovana P. M. Mamesah, Alfa G. E. Y. Rondo
Published: 27 January 2021
Jurnal Biomedik:JBM, Volume 13, pp 100-110; https://doi.org/10.35790/jbm.13.1.2021.31768

Abstract:
: World Health Organization has assigned COVID-19 as a pandemic. It has been reported that pulmonary abnormalities are found in asymptomatic cases. In addition, several studies have reported normal CT images in symptomatic patients. Currently, research that discusses the relationship of the image of chest CT scan and clinical manifestations of COVID-19 hasn’t been done much. The aim of the study was to know the relationship between the image of chest CT scan and clinical manifestations in COVID-19 patients. This research is a literature review by searching data using three databases namely PubMed, Science Direct and RSNA. The keywords used are COVID-19 AND chest CT AND clinical manifestations. After being selected based on inclusion and exclusion criteria, there were 11 literatures consisting of 10 retrospective studies and 1 retrospective case series report. Bilateral ground glass opacity, distributed peripherally, and distributed in peripheral, appearing in the lower lobe of the lungs are the common abnormalities images in COVID-19 patients. In severe-critical cases of COVID-19, consolidation, distributed centrally and peripherally, and occurred throughout the lung lobes were significantly more common than in moderate cases of COVID-19. In addition, the total severity score and the total lesion volume increased according to the clinical classification of COVID-19. There is a significant relationship between the image of chest CT scan and clinical manifestations based on the number of lobes, distribution, presence of consolidation, total severity score, and lesion volume. Keywords: coronavirus disease 2019, chest, computed tomography   Abstrak: World Health Organization (WHO) telah menetapkan COVID-19 sebagai suatu pandemi. Telah dilaporkan bahwa ditemukan suatu kelainan paru pada kasus asimptomatik. Selain itu, beberapa penelitian juga melaporkan adanya gambaran CT normal pada pasien bergejala. Saat ini, penelitian yang membahas hubungan gambaran CT scan toraks dan manifestasi klinis COVID-19 belum banyak dilakukan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan gambaran CT toraks dan manifestasi klinis pada pasien COVID-19. Penelitian ini berbentuk literature review dengan pencarian data menggunakan tiga database yaitu PubMed, Science Direct, dan RSNA. Kata kunci yang digunakan adalah COVID-19 AND chest CT AND clinical manifestations. Setelah diseleksi berdasarkan kriteria inklusi dan eksklusi, didapatkan 11 literatur terdiri dari 10 retrospective study dan 1 retrospective case series report. Ground glass opacity bilateral, multilobus, terdistribusi di perifer, dan terjadi di lobus bawah paru merupakan gambaran abnormal yang umum didapat pada pasien COVID-19. Pada kasus berat-kritis COVID-19, gambaran konsolidasi, lesi yang terdistribusi sentral dan perifer, dan terjadi di seluruh lobus paru secara signifikan lebih sering terjadi daripada kasus moderat COVID-19. Selain itu, total severity score dan total volume lesi meningkat seiring dengan meningkatnya keparahan suatu kasus COVID-19. Terdapat hubungan yang signifikan antara gambaran CT toraks dengan manifestasi klinis berdasarkan jumlah lobus, distribusi, adanya konsolidasi, total severity score, dan volume lesi. Kata Kunci: coronavirus disease 2019, toraks, computed tomography
Rustandy Natsir, Eko Prasetyo, Maximillian Ch. Oley, Fima L. F. G. Langi
Published: 27 January 2021
Jurnal Biomedik:JBM, Volume 13, pp 1-8; https://doi.org/10.35790/jbm.13.1.2021.32475

Abstract:
The elevated of serum interleukin-6 (IL-6) and interleukin-10 (IL-10) levels in patients with traumatic brain injury (TBI) have been documented. The correlation between levels of serum IL-6 and IL-10 in the early phase could provide an assessment of prognosis and outcome in patients with severe TBI. This study was aimed to obtain the correlation of levels of IL-6 and IL-10 serum in severe TBI patients. This was an observational and analytical study with a cross sectional design. Venous blood samples for serum IL-6 and IL-10 were taken less than 24 hours post injury. Age and sex were recorded and variable selection was carried out gradually. A proportional regression model was used to assess the correlation between IL-6 and IL-10 serum levels. The results showed that there were 20 patients with severe TBI admitted to the Emergency Room. The mean IL-6 serum level was 22.0 pg/mL (SD±4.6 pg/mL) and the mean IL-10 serum level was 105.7 pg/mL (SD±16.7 pg/mL). The levels of the two biomarkers were not significantly different among men and women in the population study. The Pearson correlation test resulted in an r value of 0.46 and a p value of 0.041. The results of the regression modelling presented that increased IL-6 serum level was followed by increased IL-10 serum level of nearly 2 pg/mL (p=0.041). After controlling variations in other variables, the regression coefficient value for this correlation increased up to nearly 3 pg/mL (p=0.001). In conclusion, there is a correlation between the serum level of IL- 6 and IL-10 in patients with severe TBI. Keywords: interleukin 6 (IL-6), interleukin 10 (IL-10), severe traumatic brain injury (TBI) Abstrak: Peningkatan kadar interleukin 6 (IL-6) dan interleukin (IL-10) serum pada pasien dengan cedera otak akibat trauma (COT) telah didokumentasikan. Namun, hubungan tingkat keparahan dan mortalitas antara IL-6 dan IL-10 pada fase awal trauma masih perlu diteliti untuk mendapatkan korelasi dan pemahaman lebih baik tentang peran IL-6 dan IL-10 agar dapat dijadikan sebagai penilaian prognosis dan luaran pada pasien dengan COT berat. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi hubungan kadar IL-6 dan IL-10 serum pada pasien dengan COT berat. Jenis penelitian ialah analitik observasional dengan desain potong lintang. Sampel darah vena untuk IL- 6 dan IL-10 serum diambil kurang dari 24 jam pasca trauma. Usia dan jenis kelamin dicatat dan seleksi variabel dilakukan secara bertahap. Digunakan model regresi proporsionaluntuk menilai hubungan kadar IL-6 dan IL-10 serum pada pasien COT berat. Hasil penelitian mendapatkan 20 pasien dengan COT berat yang masuk ke Instalasi Rawat Darurat Bedah (IRDB). Rerata kadar IL-6 serum 22,0 pg/mL (SD±4,6 pg/mL) dan rerata IL-10 serum 105,7 pg/mL (SD±16,7 pg/mL). Kadar serum kedua biomarker ini relatif tidak jauh berbeda pada laki-laki maupun perempuan. Hasil uji korelasi Pearson mendapatkan nilai r= 0,46 dengan p=0,041. Hasil pemodelan regresi mengindikasikan setiap pg/mL peningkatan IL-6 serum pasien COT berat dalam penelitian rata-rata diikuti oleh kenaikan kadar IL-10 serum hampir 2 pg/mL (p=0,041). Setelah pengontrolan variasi variabel lain, nilai koefisien regresi untuk hubungan tersebut naik menjadi hampir 3 pg/mL (p=0,001). Simpulan penelitian ini ialah terdapat hubungan peningkatan kadar IL 6 dan IL-10 serum pada pasien dengan COT berat. Kata kunci: interleukin 6 (IL-6), interleukin 10 (IL-10), cedera otak akibat trauma (COT) berat
Raldy A. Ratunuman, Lydia E. V. David, Hendri Opod
Published: 29 March 2021
Jurnal Biomedik:JBM, Volume 13, pp 227-232; https://doi.org/10.35790/jbm.13.2.2021.31836

Abstract:
: At the beginning of 2020 the world was surprised by the emergence of COVID-19 disease which was subsequently declared a pandemic by WHO in March 2020. This pandemic caused a global health crisis that impacted everyone. Campus life has also changed in response to the current pandemic, resulting in an impact on students' psychological condition. Aim: This study aims to find out what are the psychological impacts of the COVID-19 pandemic on students. This research was conducted in the form of review literature that is to explain and discuss it by taking materials from various available at ClinicalKey and PubMed based on inclusion and exclusion criteria. Eleven literatures were obtained, which from various countries. The age of the sample is 17-29 years. Female students with total 421,145 (55.7%) students. The psychological impacts found were anxiety, depression, stress, post-traumatic stress syndrome, and post-traumatic growth. Female students, volunteers, first year, residence, viral infection, and various other factors are associated with existing psychological symptoms. In conclusion, various psychological impacts experienced by students during the COVID-19 pandemic. The role of the government for the procurement and optimization of health programs is indispensable. Parents as expected can provide support. Keywords: psychological impact, COVID-19, university student   Abstrak: Pada awal tahun 2020 dunia dikejutkan dengan munculnya penyakit COVID-19 yang selanjutnya dideklarasikan sebagai pandemi oleh WHO pada bulan Maret 2020. Pandemi ini menyebabkan krisis kesehatan global yang berdampak pada semua orang. Kehidupan kampus turut berubah menanggapi pandemi yang sedang terjadi, mengakibatkan dampak pada kondisi psikologis mahasiswa. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apa saja dampak psikologis pandemi COVID-19 pada mahasiswa.Penelitian ini dilakukan dalam bentuk literatur review yaitu memaparkan dan membahasnya dengan mengambil bahan dari berbagai yang tersedia di pangkal data ClinicalKey dan PubMed berdasarkan kriteria inklusi dan eksklusi. Didapatkan sebanyak sebelas literatur yang sesuai, yang berasal dari berbagai negara. Usia sampel yaitu, 17-29 tahun. Mahasiswa perempuan sebanyak 421.145 (55.7%). Dampak psikologis yang ditemukan adalah kecemasan, depresi, stress, sindrom stress pasca trauma, dan pertumbuhan pasca trauma. Mahasiswa perempuan, relawan, tahun pertama, tempat tinggal, infeksi virus, dan berbagai faktor lain dikaitkan dengan gejala psikologis yang ada. Sebagai simpulan,Berbagai dampak psikologis yang dialami oleh mahasiswa yang dimasa pandemi COVID-19. Peran pemerintah untuk pengadaan dan optimalisasi program kesehatan sangat diperlukan. Orang tua sebagai diharapkan dapat memberikan dukungan. Kata kunci: dampak psikologis, COVID-19, mahasiswa
Megawati Kiay, Olivia C. P. Pelealu, Steward K. Mengko
Published: 29 March 2021
Jurnal Biomedik:JBM, Volume 13, pp 167-174; https://doi.org/10.35790/jbm.13.2.2021.31827

Abstract:
Abstrack: COVID-19 is a disease caused by Coronaviruses (CoVs). WHO has declared the prevalence of COVID-19 as a Public Health Emergency of International Concern (PHEIC). The World Health Organization (WHO) and the Centers for Disease Control and Prevention (CDC) have listed symptoms of anosmia or loss of smell as one of the symptoms of COVID-19 that worth watching out for. This study aims to determine whether there is a relationship between anosmia and the 2019 coronavirus disease (COVID-19). Using the Literature review method, which is carried out by identifying, evaluating and interpreting all the results of certain studies which are the focus of the research. Anosmia is one of the earliest signs of COVID-19 infection with an average onset of 7 days. Symptoms can appear just before, with or immediately after the onset of the usual symptoms, with an average recovery of 14 days. Most patients do not experience nasal congestion or rhinorrhea. There is a relationship between anosmia and coronavirus disease 2019 (COVID-19). Anosmia was found as an early sign of Coronavirus Disease (Covid-19) infection with the average duration of anosmia is 7 days and the results appear to be favorable in less than 28 days. The mechanism of the olfactory disturbance by COVID-19 is not explained. One hypothesis is that SARS-CoV-2 will cause a change of smell through direct access and damage to the CNS through its penetration by the cribriform plate. Another hypothesis is direct viral damage to olfactory cells and taste receptors. Key words: Anosmia, loss of smell, olfactory disorder, coronavirus disease 2019, COVID-19, SARS-Cov2.   Abstrak: COVID-19 adalah penyakit yang di sebabkan Coronaviruses (CoVs). WHO telah menyatakan prevalensi COVID-19 sebagai Public Health Emergency of International Concern (PHEIC).World Health Organization (WHO) dan Centers for Disease Control and Prevention(CDC) telah mencantumkan gejala anosmia atau kehilangan kemampuan penciuman sebagai salah satu gejala COVID-19 yang patut diwaspadai.Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah ada hubungan anosmia dengan coronavirus disease 2019 (COVID-19). Menggunakan metode Literature review yang di lakukan dengan cara identifikasi, evaluasi dan interpretasi terhadap semua hasil penelitian tertentu yang menjadi fokus penelitian. Anosmia adalah salah satu tanda awal infeksi COVID-19 dengan rata-rata onset 7 hari. Gejala dapat muncul tepat sebelum, bersamaan atau segera setelah timbulnya gejala yang biasa, dengan rata-rata pemulihan 14 hari. Kebanyakan pasien tidak mengalami hidung tersumbat atau rinorea. Ada hubungan antara anosmia dengan coronavirus disease 2019 (COVID-19). Dimana Anosmia di temukan sebagai tanda awal infeksi Coronavirus Disease (Covid-19) dengan durasi rata-rata anosmia adalah 7 hari dan hasilnya tampak menguntungkan dalam waktu kurang dari 28 hari. Mekanisme gangguan penciuman oleh COVID-19 tidak dijelaskan. Salah satu hipotesis adalah bahwa SARS-CoV-2 akan menyebabkan perubahan penciuman melalui akses langsung dan kerusakan pada SSP melalui penembusannya oleh pelat kribriform. Hipotesis lain adalah kerusakan virus langsung pada sel penciuman dan reseptor rasa. Kata Kunci : Anosmia, loss of smell, olfactory disorder, coronavirus disease 2019, COVID-19, SARS-Cov2.
Rio Andono, Nikmatia Latief, Nurlaily Idris
Published: 27 January 2021
Jurnal Biomedik:JBM, Volume 13, pp 24-33; https://doi.org/10.35790/jbm.13.1.2021.32183

Abstract:
Nasal septum deviation can affect the middle ear aeration-mastoid pneumatization system. The aim of this study was to analyze the correlation between the degree of nasal septum deviation with middle ear aeration and mastoid cavity using CT scan. Conducted retrospectively on nasal septum deviation patients who underwent a CT scan of paranasal sinuses at the central radiology department of UNHAS, Makassar for the period of January 2018 to September 2020. Samples were as many as 48 patients aged >18 years who had diagnosed nasal septum deviation. The degree of nasal septum deviation is divided into mild (15°). The statistical method used was the Spearman correlation test. There was significant correlation between the degree of nasal septum deviation with ipsilateral tympanic membrane retraction with a p value 0,001 and ipsilateral mastoid pneumatization with a p value of 0.03 (<0,05).The results of this study indicate that there is significant correlation between the degree of nasal septum deviation with ipsilateral tympanic membrane retraction and ipsilateral mastoid pneumatization. There is a correlation between moderate and severe nasal septum deviation with ipsilateral middle ear effusion, where the deviation degree of the nasal septum is getting increased, then there is a tendency for an increase in ipsilateral middle ear effusion compared to contralateral side. Keywords: Degree of nasal septum deviation, middle ear effusion, tympanic membrane retraction, mastoid pneumatization, CT Scan Abstrak: Deviasi septum nasi dapat mempengaruhi tekanan telinga tengah-sistem pneumatisasi mastoid. Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis korelasi antara derajat deviasi septum nasi dengan aerasi telinga tengah dan rongga mastoid menggunakan modalitas CT-scan. Dilakukan secara retrospektif pada penderita deviasi septum nasi yang menjalani pemeriksaan CT-scan sinus paranasalis di instalasi radiologi sentral RS UNHAS, Makassar periode Januari 2018 sampai September 2020. Sampel sebanyak 48 orang dengan usia >18 tahun yang didiagnosis deviasi septum nasi. Derajat deviasi septum nasi dibagi menjadi ringan (15°) Metode statistik yang digunakan uji korelasi Spearman. Terdapat korelasi yang bermakna antara derajat deviasi septum nasi dengan retraksi membran timpani ipsilateral 0,001 dan pneumatisasi mastoid ipsilateral 0,03 (<0,05). Hasil penelitian ini menunjukkan terdapat korelasi yang bermakna antara derajat deviasi septum nasi dengan retraksi membran timpani ipsilateral dan pneumatisasi mastoid ipsilateral. Terdapat korelasi antara deviasi septum nasi derajat sedang dan berat dengan efusi telinga tengah ipsilateral, dimana semakin bertambah derajat deviasi septum nasi maka ada kecenderungan peningkatan efusi telinga tengah ipsilateral dibandingkan kontralateral. Kata kunci: Derajat deviasi septum nasi, efusi telinga tengah, retraksi membran timpani, pneumatisasi mastoid, CT Scan
Brian Pinggian, Henry Opod, Lydia David
Published: 29 March 2021
Jurnal Biomedik:JBM, Volume 13, pp 144-151; https://doi.org/10.35790/jbm.13.2.2021.31806

Abstract:
: The Corona Virus Disease 2019 (COVID-19) outbreak that emerged in December 2019 in Wuhan, quickly spread outside of China, so the World Health Organization (WHO) declared an Emergency at the Public Health Emergency of International Concern (PHEIC), causing Psychological Stress on Health workers who handle COVID-19 patients, the purpose of this study is to determine the Psychological Disorders of Health Workers during the COVID-19 pandemic. This study is a literature review by comparing articles, journals or secondary data from previously published literature contained in the medical journal database Science Direct, PubMed and ClinicalKey. Result of the ten articles reviewed, there were 11,611 respondents consisting of 3,070 men, 8,534 women, 4 respondents who did not fill in gender and 1 Genderqueer respondent obtained data on increased psychological pressure from health workers during the COVID-19 pandemic. In conclusion, it found the prevalence of psychological impacts such as stress, anxiety and depression from mild to severe among health workers during the COVID-19 pandemic. These findings will help improve our understanding of the impact or impact of the COVID-19 pandemic on the Psychology of Health Workers. Keywords: Psychological Impacts, Health Workers, the COVID-19 Pandemic   Abstrak: Wabah Corona Virus Disease 2019 (COVID-19) yang muncul pada Desember 2019 di Wuhan, dengan cepat menyebar ke luar Tiongkok, sehingga World Health Organization (WHO) mengumumkan Darurat pada Public Health Emergency of International Concern (PHEIC), menyebabkan Tekanan Psikologis pada tenaga Kesehatan yang menangani Pasien COVID-19, tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui Gangguan Psikologis pada Tenaga Kesehatan selama Masa pandemi COVID-19. Metode penelitian berupa literature review dengan membandingkan artikel jurnal atau data sekunder dari literatur-literatur yang dipublikasi sebelumnya yang terdapat dalam database jurnal kedokteran Science direct,PubMed dan ClinicalKey. Hasilnya sebanyak sepuluh artikel yang direview terdapat 11.611 responden yang terdiri dari 3.070 laki-laki, 8.534 perempuan, 4 responden tidak mengisi gender dan 1 responden Genderqueer didapatkan data peningkatan tekanan Psikologis dari para tenaga Kesehatan selama masa pandemi COVID-19. Sebagai simpulan, ditemukan prevalensi dampak psikologis seperti stres, kecemasan dan depresi dari ringan hingga Berat pada Tenaga Kesehatan selama masa pandemi COVID-19. Temuan ini akan membantu meningkatkan pemahaman kita tentang pengaruh atau dampak pandemi COVID-19 pada Psikologis Tenaga Kesehatan. Kata Kunci: Dampak Psikologis,Tenaga Kesehatan, Pandemi COVID-19
Bonar Kurnia, Edward Nangoy, Jimmy Posangi
Published: 10 April 2021
Jurnal Biomedik:JBM, Volume 13, pp 282-292; https://doi.org/10.35790/jbm.13.3.2021.31946

Abstract:
: Epilepsy is estimated to affect 70 people worldwide. Anti-epileptic drugs (AED) as the main therapy for epilepsy can treat epilepsy in 70% of patients but 20-30% of patients experience Drug-Resistant Epilepsy (DRE). One therapy that can be given to patients who are not responsive to AED is ketogenic diet, a diet high in fat, low in carbohydrates and sufficient protein, which can help control seizures. The mechanism of action is still not known, but it may relate to AED. This study aims to determine the role or effect of ketogenic diet for DRE. This research is in the form of a literature review. In this study, the ketogenic diet was found to be effective in treating DRE especially in reducing seizure frequency. Ketogenic diet is particularly effective in treating focal seizures and West syndrome, and the correlation between ketogenic diet and AED can be found in a theory of the mechanism of action of the ketogenic diet with the mechanism of action of AED which is the actual therapy of this epilepsy. Ketogenic diet is effective as an alternative therapy for DRE in infants to adults. What needs to be considered is the type of ketogenic diet used must be suitable for the patient in order to achieve the best adherence, tolerability and effectiveness. Classification of the patient's epilepsy such as the type of seizure or the etiology of the epilepsy may also be a factor in starting a ketogenic diet therapy. Keywords: Epilepsy, Refractory Epilepsy, Drug Resistant Epilepsy, Ketogenic Diet   Abstrak: Epilepsi diperkirakan diderita oleh 70 orang di seluruh dunia. Obat anti epilepsi (OAE) sebagai terapi utama untuk epilepsi dapat menangani epilepsi pada 70% penderita namun 20-30% pasien mengalami Epilepsi Resisten Obat. Terapi yang dapat diberikan untuk pasien yang tidak responsif terhadap pemberian OAE adalah diet ketogenik, diet tinggi lemak, rendah karbohidrat dan cukup protein yang dapat membantu mengontrol bangkitan. Mekanisme kerja diet ketogenik masih belum diketahui namun kemungkinan ada kaitannya dengan OAE. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui peran atau efek diet ketogenik untuk penyakit epilepsi resisten obat.Penelitian ini berbentuk literature review. Dalam penelitian ini, diet ketogenik ditemukan efektif untuk menangani epilepsi resisten obat khususnya dalam menurunkan frekuensi bangkitan. Diet ketogenik secara khusus efektif dalam menangani bangkitan fokal dan sindrom west, dan korelasi antara diet ketogenik dengan OAE dapat ditemukan dalam teori mekanisme kerja diet ketogenik dengan mekanisme kerja OAE yang merupakan terapi sebenarnya epilepsi ini.Diet ketogenik efektif sebagai terapi alternatif untuk epilepsi resisten obat baik untuk pasien bayi hingga dewasa. Adapun yang perlu diperhatikan adalah jenis diet ketogenik yang digunakan harus sesuai dengan pasien guna mencapai ketaatan, tolerabilitas dan efektivitas yang terbaik. Klasifikasi epilepsi pasien seperti tipe bangkitan atau etiologi penyebab epilepsi dapat juga menjadi faktor pertimbangan untuk memulai terapi diet ketogenik. Kata Kunci: Epilepsi, Epilepsi Refrakter, Epilepsi Resisten Obat, Diet Ketogenik
Annastasya G. Ratulangi, Bernabas H. R. Kairupan, Anita E. Dundu
Published: 10 April 2021
Jurnal Biomedik:JBM, Volume 13, pp 251-258; https://doi.org/10.35790/jbm.13.3.2021.31957

Abstract:
: The Coronavirus Disease 2019 (COVID-19) pandemic causes a change in the learning process, in which schools must implement distance learning to prevent the spreading of the virus. In distance learning the use of internet will increase both for learning and for recreation. This situation could turn internet addiction as one of the negative impacts of distance learning during the COVID-19 pandemic. This study aims to determine internet addiction and internet use in students on distance learning during the COVID-19 pandemic.This research was made in the form of a literature review using three databases, namely Google Scholar, Pubmed, and ClinicalKey. The literatures should be in the form of English or Indonesian, created within this year (2020) and can be accessed in fulltext. Based on the result of 10 studies, it was found that there is an increase of internet use and internet addiction among student during the pandemic COVID-19. An increase of internet use has the potential to increase the internet addiction in the future.In conclusion, internet addiction is one of the negative impacts that can occur and increase on students during the COVID-19 pandemic. Keywords: internet addiction, student, distance learning, COVID-19 pandemic Abstrak: Pandemi Coronavirus Disease 2019 (COVID-19) memberi perubahan dalam proses pembelajaran, di mana sekolah harus menerapkan pembelajaran jarak jauh untuk mencegah penyebaran virus. Dalam pembelajaran jarak jauh penggunaan internet akan meningkat, baik untuk pembelajaran maupun untuk rekreasi. Situasi ini dapat menjadikan adiksi internet menjadi salah satu dampak negatif pada pembelajaran jarak jauh selama pandemi COVID-19. Tujuan penelitian ini bertujuan untuk mengetahui adiksi internet dan penggunaan internet pada pelajar selama pembelajaran jarak jauh di masa pandemi COVID-19.Penelitian ini dibuat dalam bentuk literature review dengan menggunakan tiga database, yaitu Google Scholar, PubMed, dan ClinicalKey. Literatur yang akan digunakan dapat berbentuk Bahasa Inggris dan atau Bahasa Indonesia, dalam jangka waktu 1 tahun terakhir (2020) dan dapat diakses secara penuh.Berdasarkan hasil dari 10 penelitian, ditemukan adanya peningkatan penggunaan internet dan adiksi internet pada pelajar selama pandemi COVID-19. Peningkatan penggunaan internet ini dapat berpotensi meningkatkan adiksi internet di masa mendatang.Sebagai simpulan, adiksi internet merupakan salah satu dampak negatif yang dapat terjadi dan meningkat pada pelajar selama pembelajaran jarak jauh di masa pandemi COVID-19. Kata Kunci: adiksi internet, pelajar, pembelajaran jarak jauh, pandemi COVID-19
Vikny W. K. Rondonuwu, Yanti M. Mewo, Herlina I. S. Wungow
Published: 27 January 2021
Jurnal Biomedik:JBM, Volume 13, pp 67-75; https://doi.org/10.35790/jbm.13.1.2021.31764

Abstract:
: The world is currently heralded with a new outbreak, namely Corona Virus Disease 2019 (Covid-19). In this situation, this online learning system is the right applied to be used in students of the Faculty of Medicine. This study aimed to find out what impacts have the students of the Faculty of Medicine Batch of 2017 Sam Ratulangi Manado University in the application of online learning methods during the Covid-19 pandemic. This research is a qualitative method using the design of observation research and in-depth interviews conducted on 10 students of the Faculty of Medicine, Sam Ratulangi University obtained through purposive sampling techniques. As a results, online learning is always dependent on internet connectivity, if there is problem with the internet connectivity it will have a considerable impact so that students can not attend lectures properly, in addition to the tools and supporting materials in the lab skill module is inadequate, and it is found that students do not have the readiness of psychology and devices in running online learning. In conclusion, online learning has a quite complex impact on the learning process that occurs in students of the Faculty of Medicine, Sam Ratulangi University. Keywords: medical education, Covid-19 pandemic, online learning.   Abstrak: Dunia saat ini digemparkan dengan wabah yang baru, yaitu Corona Virus Disease 2019 (Covid-19). Pada situasi ini, sistem pembelajaran daring merupakan terapan yang tepat digunakan termasuk pada mahasiswa Fakultas Kedokteran. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui apa saja dampak yang dimiliki Mahasiswa Fakultas Kedokteran Angkatan 2017 Universitas Sam Ratulangi Manado dalam penerapan metode pembelajaran daring di masa pandemi Covid-19. Penelitian ini merupakan suatu penelitian dengan menggunakan metode kualitatif dengan rancangan penelitian observasi dan wawancara mendalam yang dilakukan pada 10 mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Sam Ratulangi yang diperoleh melalui teknik purposive sampling. Hasil yang didapat, pembelajaran daring ini selalu bergantung pada konektivitas internet, jika konektivitas internet ini bermasalah maka akan memberikan dampak yang cukup besar sehingga mahasiswa tidak bisa mengikuti kuliah dengan baik, selain itu untuk alat dan bahan penunjang dalam modul skill lab tidak memadai, serta didapati mahasiswa tidak memiliki kesiapan psikologi dan device dalam hal mempersiapkan pembelajaran daring. Sebagai simpulan,pembelajaran daring memberikan dampak yang cukup kompleks dalam proses pembelajaran yang terjadi pada mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Sam Ratulangi. Kata Kunci: pendidikan kedokteran, pandemi Covid-19, pembelajaran daring
Graysela O. Batara, Diana V. D. Doda, Herlina I. S. Wungow
Published: 29 March 2021
Jurnal Biomedik:JBM, Volume 13, pp 152-160; https://doi.org/10.35790/jbm.13.2.2021.31767

Abstract:
: During the covid-19 pandemic, there was a change in the routine of daily activities, including the increasing use of smartphones. Based on previous research, the use of devices can cause musculoskeletal complaints. This study aims to determine the prevalence of musculoskeletal complaints due to the use of devices and to evaluate the relationship between musculoskeletal complaints and the use of smartphones in college students. This study is a cross-sectional study using a demographic questionnaire, modified Nordic Body Map, and Ovako Work Posture Analysis System. Statistical analysis using the Spearman correlation. There were 183 respondents (n=183). Most of the musculoskeletal complaints were in the neck (n=92; 50.3%), shoulders (n=76; 41.5%), upper back (n=63; 34.4%) and lower back (n=63; 34.4%). Most of the pain was categorized as mild pain. The Spearman correlation test showed significant correlations, as follows: between musculoskeletal complaints in the shoulder (p=0.000) and arm (p=0.045) with the duration of learning; between musculoskeletal complaints in the elbow and duration of social media (p=0.027); between musculoskeletal complaints in the upper back (p=0.042) dan low back (p=0.023) with the duration of learning. Most of the risk assessment of musculoskeletal complaints based on body posture when using a smartphone is a medium category that needs improvement. Keywords: musculoskeletal complaints, smartphone, duration, frequency, body posture   Abstrak: Selama masa pandemi covid-19, terjadi perubahan rutinitas aktivitas sehari-hari diantaranya penggunaan telepon cerdas yang meningkat. Berdasarkan penelitian sebelumnya penggunaan gawai dapat menyebabkan keluhan muskuloskseletal. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui prevalensi keluhan muskuloskeletal akibat penggunaan gawai dan mengevaluasi hubungan antara keluhan muskuloskeletal dengan penggunaan telepon cerdas pada mahasiswa. Penelitian ini merupakan penelitian potong lintang dengan menggunakan kuesioner demografi, modifikasi Nordic Body Map dan Ovako Work Posture Analysis System. Analisa statistik menggunakan korelasi Spearman. Hasilpenelitian menggunakan 183 responden (n=183). Keluhan muskuloskeletalyang sering dirasakan yaitu keluhan pada leher (n=92; 50.3%), bahu (n=76; 41.5%), punggung atas (n=63; 34.4%) dan punggung bawah (n=63; 34.4%). Karakteristik nyeri yang sering dialami yaitu nyeri ringan. Uji korelasi Spearman mendapatkan korelasi bermakna antara: keluhan muskuloskeletal pada bahu (p=0.000) dan lengan (p=0.045) dengan durasi pembelajaran; keluhan muskuloskeletal pada siku dengan durasi media sosial (p=0.027); serta keluhan muskuloskeletal pada punggung atas (p=0.042) dan punggung bawah (p=0.023) dengan durasi pembelajaran. Penilaian risiko keluhan muskuloskeletal berdasarkan postur tubuh saat menggunakan telepon cerdas paling sering di alami yaitu kategori medium yang perlu dilakukan perbaikan postur tubuh. Kata kunci: keluhan muskuloskeletal, telepon cerdas, durasi, frekuensi, postur tubuh
Pricillia J. Oroh, Herlina I. S. Wungow, Joice N. A. Engka
Published: 27 January 2021
Jurnal Biomedik:JBM, Volume 13, pp 34-43; https://doi.org/10.35790/jbm.13.1.2021.31773

Abstract:
: Increase in cases of obese patients in developed and developing countries is a problem that occurs from year to year. Prevalence rates of obesity cases has increased in the last 5 years. Prevalence rate of obesity in Indonesia is 21.8%. North Sulawesi is the province with the highest obesity in Indonesia. Obesity can cause many health problems, therefore it takes effort by doing regular physical exercise, in order to increase the body metabolism for obese patients. Purpose of this study is to determine the effect/benefit of physical exercise in obese patients. Material and method used is a literature review with five databases, namely, Clinical Key, PubMed, Science Direct, and Indonesian Scientific Repository. Keywords used are physical activity OR physical training OR exercise program OR exercise therapy OR obesity. Study selection stage obtained 20 literature consisting of 19 randomized controlled trials, and 1 experimental study. Results of the literature review study show that all physical exercise provides benefits to the body, but aerobic physical exercise is mostly done in obese patients. Conclusion: Physical exercise in the form of aerobic exercise, anaerobic exercise, and regular resistance training can provide weight loss, and reduce body fat in obese patients.Key words: physical exercise, physical activity, obesity.   Abstrak: Peningkatan kasus pasien obesitas di negara maju, dan negara berkembang merupakan suatu masalah yang terjadi dari tahun ke tahun. Prevalensi kasus obesitas meningkat pada 5 tahun terakhir. Tingkat prevalensi obesitas di Indonesia adalah 21,8%. Sulawesi Utara merupakan provinsi dengan obesitas tertinggi di Indonesia. Obesitas dapat menyebabkan banyak gangguan kesehatan bagi tubuh, maka diperlukan upaya dengan melakukan latihan fisik yang tepat, agar mampu meningkatkan metabolisme tubuh bagi pasien obesitas. Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui pengaruh atau manfaat latihan fisik pada pasien obesitas. Materi dan metode penelitian yang digunakan literature review dengan lima database yaitu Clinical Key, PubMed, Science Direct, dan Repositori Ilmiah Indonesia. Kata kunci yang digunakan yaitu physical activity OR physical training OR exercise program OR exercise therapy OR obesity. Tahap seleksi studi didapatkan 20 literatur terdiri dari 19 randomized controlled trial, dan 1 penelitian eksperimental. Hasil penelitian literature review menunjukkan semua latihan fisik memberikan manfaat bagi tubuh, tetapi latihan fisik aerobik paling banyak dilakukan pada pasien obesitas. Kesimpulan: Latihan fisik dalam bentuk latihan aerobik, latihan anaerobik, dan latihan daya tahan yang teratur dapat memberikan penurunan berat badan, dan mengurangi lemak tubuh pada pasien obesitas. Kata kunci: Latihan fisik, aktifitas fisik, obesitas
Yosafat F. Hutagalung, Harold Tambajong, Mordekhai L. Laihad
Published: 29 March 2021
Jurnal Biomedik:JBM, Volume 13, pp 199-206; https://doi.org/10.35790/jbm.13.2.2021.31801

Abstract:
: Postoperative pain is a pain experienced by a patient after undergoing a surgical procedure. Postoperative pain management is an important aspect of anesthetic care. One of the recommended drugs in the management of postoperative pain is ketamine. Ketamine is a non-competitive NMDA antagonist that has been used as an analgesic for the last 3 decades. The purpose of this study was to determine how postoperative pain management using low doses of ketamine. The research method used in this study is literature review by searching data using three databases, namely Pubmed, ClinicalKey and Google Scholar. The keywords used were postoperative pain AND low dose ketamine. The results of the literature review showed that the use of low-dose ketamine resulted in lower pain scores at 1-12 hours post surgery. Low doses of ketamine also significantly reduced the mean time to administer the first postoperative analgesic and did not cause serious side effects to patients. In conclusion, low-dose ketamine has been shown to be effective in the management of acute postoperative pain by recommending a one-time IV bolus dose with a subanesthetic dose (0.35 mg / kg). The usage of low doses of ketamine causes mild side effects and safe to use for post-surgical analgesics. Key words: postoperative pain, low dose ketamine, pain score, analgesic   Abstrak: Nyeri pascabedahmerupakan nyeri yang dialami seorang pasien setelah menjalani prosedur bedah. Penanganan nyeri pascabedah merupakan aspek yang penting dalam perawatan anestesi. Salah satu obat pilihan dalam penanganan nyeri pascabedah adalah ketamin. Ketamin merupakan antagonis NMDA non kompetitif yang telah digunakan sebagai analgesic selama 3 dekade terakhir. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui bagaimana penanganan nyeri pascabedah menggunakan ketamin dosis rendah. Metode penelitian yang digunakan pada penelitian ini adalah literature review dengan pencarian data menggunakan tiga database yaitu Pubmed, ClinicalKey dan Google Scholar. Kata kunci yang digunakan yaitu nyeri pascabedah AND ketamin dosis rendah. Hasil dari penelitian literature review menunjukkan penggunaan ketamin dosis rendah menghasilkan skor nyeri yang lebih rendah pada 1-12 jam pasca bedah. Ketamin dosis rendah juga menurunkan waktu rata-rata pemberian analgesik pasca operasi pertama secara signifikan dan tidak menimbulkan efek samping yang serius kepada pasien. Sebagai simpulan, ketamin dosis rendah terbukti efektif pada penanganan nyeri pascabedah akut dengan rekomendasi dosis bolus IV 1 kali dengan dosis subanestetik (0,35 mg / kg). Penggunaan ketamin dosis rendah menimbulkan efek samping yang ringan dan dapat menghemat pemakaian analgesik pasca bedah. Kata kunci: nyeri pascabedah, ketamin dosis rendah, skor nyeri, analgesik
Reynaldy A. S. Walukow, Jimmy Rumampuk, Fransiska Lintong
Published: 10 April 2021
Jurnal Biomedik:JBM, Volume 13, pp 298-302; https://doi.org/10.35790/jbm.13.3.2021.31727

Abstract:
: The human body consists of fat mass and fat-free mass. Most people assume that the higher the body mass index value, the higher the fat level is in a person's body. Sit-ups are movements that rely on the hips and buttocks with the knees raised and performed repeatedly. This study aims to determine whether sit-up exercise has effects on body fat percentage. This research was conducted in the form of a literature review, which is explaining and discussing the topic by taking the material from various literatures such as books, journals, papers and so on. The results of the research of Todingan et al and Meriawati et al on the fat percentage with the sit-up method, a significant decrease in the body fat percentage was found. Whereas in a research conducted by Tendean et al on exercise with Zumba, there was a decrease in the fat percentage from 39.300% to 39.031%. Similar to what Santika did to subjects with jogging and walking exercises, there was a decrease in the fat percentage by 3.8% in jogging exercise and 0.6% in walking exercise. In conclusion, doing sit-ups besides building muscles in the abdomen, doing sit-ups can also reduce the diameter of fat in the abdomen. Key Words: sit-up training, body fat percentage.   Abstrak:Tubuh manusia terdiri dari massa lemak dan massa bebas lemak. Sebagian besar orang berasumsi semakin tinggi nilai indeks massa tubuh semakin banyak kadar lemak di dalam tubuh seseorang. Sit-up adalah gerakan yang bertumpu pada pinggul dan bokong dengan lutut yang diangkat ke arah atas dan dilakukan secara berulang-ulang.Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah memiliki pengaruh latihan sit-up terhadap persentase lemak tubuh.Penelitian ini dilakukan dalam bentuk tinjauan pustaka yaitu memaparkan dan membahasnya dengan mengambil bahan dari berbagai kepustakaan seperti buku, jurnal, makalah dan sebagainya. Dari hasil penelitian todingan dkk dan meriawati dkk terhadap presentase lemak dengan metode sit-up, didapatkan penurunan presentase lemak tubuh yang cukup signifikan. Sedangkan pada penelitian yang dilakukan tendean dkk pada latihan dengan zumba, terdapat penurunan presentase lemak dari 39,300% ke 39,031%. Sama hal dengan yang dilakukan santika pada subjek dengan latihan jogging dan berjalan, terdapat penurunan persentase lemak sebanyak 3,8% pada latihan jogging dan 0,6% pada latihan berjalan Sebagai simpulan, melakukan latihan sit-up selain membentuk otot pada bagian perut, melakukan sit-up juga dapat mengurangi diameter lemak pada bagian perut. Kata Kunci: latihan sit-up, persentase lemak tubuh
Jessica N. Masikome, Mordekhai L. Laihad, Diana C. Lalenoh
Published: 27 January 2021
Jurnal Biomedik:JBM, Volume 13, pp 118-124; https://doi.org/10.35790/jbm.13.1.2021.31797

Abstract:
: Acute Respiratory Distress Syndrome (ARDS) is a non-cardiogenic pulmonary edema caused by several risk factors and is an emergency case. ARDS characterized by acute intervals, alveolar edema, acute hypoxemia, decreased pulmonary compliance and multi-organ dysfunction or decreased organ function. ARDS often treated in an intensive care unit along with underlying factors. Although many medical treatments ineffective in treating ARDS, corticosteroids can reduce fluid in the alveolar capillaries and the attachment of neutrophils to endothelial capillaries. Aim of this study was to look at indicators of ARDS with steroids looking at the mortality rate, ventilator-free days, and length of stay for ARDS with steroids. Search data using three databases, namely Pubmed, Sciencedirect, Google Scholar. Ten literatures met the inclusion and exclusion criteria. Consisted of one retrospective observational study, one analytical retrospective study, three randomized control trials and five cohort studies. Total sample in 10 literatures was 1633 people for the steroid therapy group and 1303 for the control group. Result of a literature review study showed that steroids had less impact on reducing mortality in ARDS patients, steroids had an effect on increasing the number of ventilator-free days and steroids did not have an impact on increasing length of stay. Keywords: Acute Respiratory Distress Syndrome, Steroid  Abstrak: Acute Respiratory Distress Syndrome (ARDS) merupakan edema pulmoner non-kardiogenik yang disebabkan beberapa faktor risiko dan merupakan kasus kegawatdaruratan. Karakteristik ARDS terjadi dalam selang waktu pendek atau akut, edema alveolar, hipoksemia akut, penurunan komplians paru serta multiple organ disfunction atau penurunan fungsi organ. ARDS sering dirawat dalam ruang rawat intensif beserta faktor-faktor yang mendasari. Meskipun banyak sekali pengobatan medikamentosa yang tidak efektif dalam pengobatan ARDS, namun kortikosteroid mampu mengurangi tembusnya cairan pada membran kapiler alveolar dan perlekatan neutrofil pada kapiler endotel. Tujuan dari studi ini adalah mengetahui tatalaksana ARDS dengan steroid dengan melihat angka mortalitas, ventilator free days, dan length of stay dari tatalaksana ARDS dengan steroid. Pencarian data menggunakan tiga database yaitu Pubmed, Sciencedirect, Google Scholar. Sepuluh literature yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi. Terdiri dari satu penelitian retrospective observational, satu penelitian retrospective analysis, tiga penelitian randomized control trial dan lima penelitian cohort study. Jumlah sampel penelitian pada 10 literature tersebut adalah 1633 orang untuk grup terapi steroid dan 1303 untuk grup kontrol. Hasil penelitian literature review menunjukkan steroid kurang memberi dampak dalam mengurangi angka mortalitas pada pasien ARDS, steroid memberi dampak dalam peningkatan angka ventilator free days dan steroid tidak memiliki dampak yang bermakna pada peningkatan length of stay. Kata Kunci: Acute Respiratory Distress Syndrome, Steroid.
Dina V. Rombot, Mokosuli Y. Semuel
Published: 24 October 2020
Jurnal Biomedik:JBM, Volume 12, pp 161-167; https://doi.org/10.35790/jbm.12.3.2020.30111

Abstract:
: Until now, Anopheles sp is a vector of Plasmodium sp as a parasite that causes malaria. Global climate change makes the development of the Anopheles mosquito unpredictable. Therefore, the use of plants as biological larvicides is an alternative to control the Anopheles population. A study aimed at obtaining the phytochemical content of the crude extract of Tagetes erecta L. and the toxicity of the extract against larvae of Anopheles sp. Tagetes erecta flowers are obtained from the city of Tomohon, North Sulawesi which is known as the city of flowers. Mosquito larvae were obtained by rearing method in the biology laboratory of FMIPA, Manado State University. This study applies a laboratory experimental method. Lethal concentration 50 was determined by probit analysis using SPSS IBM 20. The study consisted of the extraction of Tegetes erecta flowers using the maceration method, analysis of phytochemical content and toxicity tests of extracts on larvae of Anopheles sp. The results showed that the dominant phytochemical groups were alkaloids, flavonoids, saponins and tannins. The best LC 50 was obtained in ethanol extract, namely 43.073 mg / L. Keywords :Toxicity, Larvae, Anopheles, Tagetes erecta L.   Abstrak: Anopheles sp sampai saat ini merupakan vektor Plasmodium sp sebagai parasite yang menyebabkan penyakit malaria. Perubahan iklim global menyebabkan perkembangan nyamuk Anopheles sulit diprediksi. Oleh karena itu pemanfaatan tumbuhan sebagai larvasida hayati menjadi alternative penanggulangan populasi Anopheles. Telah dilakukan penelitian yang bertujuan mendapatkan kandungan golongan fitokimia ekstrak kasar Tagetes erecta L dan toksisitas ekstrak terhadap larva Anopheles sp. Bunga Tagetes erecta di peroleh dari Kota Tomohon Sulawesi Utara yang dikenal sebagai kota bunga. Larva nyamuk diperoleh dengan metode rearing di laboratorium Biologi FMIPA Universitas Negeri Manado. Penelitian ini menerapkan metode eksperimen laboratorium. Lethal concentration 50 ditentukan dengan analisis probit menggunakan SPSS IBM 20. Penelitian terdiri atas tahap ekstraksi bunga Tegetes erecta dengan metode maserasi, analisis kandungan golongan fitokimia dan uji toksisitas ekstrak pada larva Anopheles sp. Hasil penelitian menunjukkan bahwa golongan fitokimia yang dominan adalah alkaloid, flavonoid, saponin dan tannin. LC 50 terbaik diperoleh pada ekstrak etanol yaitu 43,073 mg/L. Kata kunci :Toksisitas, Larva, Anopheles, Tagetes erecta L.
Chrisshania M. Shianata, Joice N. A. Engka, Damajanty H. C. Pangemanan
Published: 27 January 2021
Jurnal Biomedik:JBM, Volume 13, pp 58-66; https://doi.org/10.35790/jbm.13.1.2021.31743

Abstract:
: COVID-19 is a multifaceted disease with respiratory failure as a common manifestation. SARS-CoV-2 primarily attacks respiratory epithelial cells via adhesion to Angiotensin-Converting Enzyme 2 (ACE-2), patients may develop a mild to severe inflammatory response and acute lung injury. Several reports suggest that many patients appear to show less respiratory effort and experience less dyspnea when exposed to acute respiratory failure and hypoxemia, a phenomenon called “happy hypoxia” or “silent hypoxemia”. This causes COVID-19 patients to be unaware of the hypoxemia in their bodies and fail to seek help which leads to death. The purpose of this study is to discover the process of Happy Hypoxia in COVID-19 patients. The materials and methods used are literature reviews with data from PubMed, ClinicalKey, and Google Scholar. The keywords were Happy Hypoxia OR Silent Hypoxemia AND COVID-19 OR Coronavirus Disease. This literature study addresses potential pathways that may be associated with this interesting clinical feature. The hypothesis is that SARS-CoV-2 can cause nerve damage to the cortico-limbic tissue and alter dyspnoea perception and respiratory control. Future research will bring opportunities and advances in the study of the mechanism of hypoxia induced by COVID-19 Key Words: Happy Hypoxia, Silent Hypoxemia, COVID-19, Coronavirus Disease.   Abstrak: COVID-19 merupakan penyakit multifaset dengan kegagalan pernafasan sebagai manisfestasi yang umum. SARS-CoV-2 terutama menyerang sel epitel pernafasan melalui adhesi ke Angiotensin-Converting Enzyme 2 (ACE-2), pasien mengembangkan respon inflamasi ringan hingga parah dan cedera paru akut. Beberapa laporan menunjukkan banyak pasien menunjukkan upaya pernapasan dan dispnea yang lebih sedikit saat terkena gagal pernapasan akut dan hipoksemia, sebuah fenomena yang disebut “happy hypoxia” atau “silent hypoxemia ". Hal ini menyebabkan pasien COVID-19 tidak sadar akan hipoksemia yang terjadi pada tubuh mereka sehingga mereka tidak mencari pertolongan dan dapat berakhir dengan kematian. Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui proses terjadinya Happy Hypoxia pada penderita COVID-19. Materi dan metode yang digunakan berbentuk literature review dengan pencarian data menggunakan databasePubMed, ClinicalKey, dan Google Scholar. Kata kunci yang digunakan yaitu Happy HypoxiaORSilent HypoxemiaAND COVID-19 ORCoronavirus Disease. Studi literatur ini membahas jalur potensial yang mungkin terkait dengan fitur klinis yang menarik ini. Hipotesis yang berkembang adalah bahwa SARS-CoV-2 dapat menyebabkan kerusakan saraf pada jaringan kortiko-limbik dan kemudian mengubah persepsi dispnea dan kontrol pernapasan. Penelitian lanjut di masa depan akan membuka peluang dan kemajuan dalam studi mengenai mekanisme sentral hipoksia yang diinduksi COVID-19.Kata kunci: Happy Hypoxia, Silent Hypoxemia, COVID-19, Coronavirus Disease.
Tracy L. D Apituley, Damajanty H. C. Pangemanan, Ivonny M. Sapulete
Published: 27 January 2021
Jurnal Biomedik:JBM, Volume 13, pp 111-117; https://doi.org/10.35790/jbm.13.1.2021.31752

Abstract:
: Coronavirus disease 2019 (COVID-19) is a disease that attacks the respiratory tract. COVID-19 is caused by severe acute respiratory syndrome coronavirus 2 (SARS-CoV-2). COVID-19 cases in the world and Indonesia continue to increase, and people are urged to do activities at home. COVID-19 caused a decrease in physical activity in society which can cause people to spend more time on cell phones, have irregular sleep patterns, and gain weight. Lack of physical activity has an impact on decreasing immune system, making it susceptible to infection with COVID-19. Research shows that exercise can reduce the risk of disease. This literature review aims to determine the effect of exercise on the 2019 coronavirus disease. The research method used is in the form of a literature review with data searches using three databases, which is Pubmed, Google Scholar, and ClinicalKey. The keywords used were Sport OR Physical Activity OR Exercise AND COVID-19 OR Coronavirus 2019. After being selected based on inclusion and exclusion criteria, there were 12 journal article reviews that would be reviewed. The results showed exercise can improve the immune system, metabolic health, mental health, muscle strength and cardiovascular function. The benefits of exercise are obtained if you do moderate intensity exercise regularly. In general, the recommended sports are aerobic and anaerobic exercises that can be done at home. In conclusion, exercise has a good effect on COVID-19. Keywords: Sports, Coronavirus disease 2019 (COVID-19)  Abstrak: Coronavirus disease 2019 (COVID-19) merupakan penyakit yang menyerang saluran pernapasan. COVID-19 disebabkan oleh severe acute respiratory syndrome coronavirus 2 (SARS-CoV-2). Kasus COVID-19 di dunia dan Indonesia terus meningkat sehingga dihimbaukan kepada masyarakat untuk melakukan aktivitas di rumah saja. COVID-19 mengakibatkan penurunan aktivitas fisik pada masyarakat yang dapat menyebabkan lebih banyak menghabiskan waktu di handphone, memiliki pola tidur tidak teratur, dan terjadi peningkatan berat badan. Kurang melakukan aktivitas fisik berdampak terhadap penurunan daya tahan tubuh sehingga rentan terinfeksi COVID-19. Penelitian-penelitian menunjukkan olahraga mampu menurunkan risiko penyakit. Tinjauan pustaka ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh olahraga terhadap coronavirus disease 2019. Metode penelitian yang digunakan dalam bentuk literature review dengan pencarian data menggunakan tiga database yaitu Pubmed, Google Scholar, dan ClinicalKey. Kata kunci yang digunakan yaitu Sport OR Physical Activity OR Exercise AND COVID-19 OR Coronavirus 2019. Setelah diseleksi berdasarkan kriteria inklusi dan eksklusi didapatkan 12 jurnal article review yang akan dilakukan review. Hasil dari literature review didapatkan olahraga mampu meningkatkan sistem imunitas, kesehatan metabolik, kesehatan mental, kekuatan otot dan fungsi kardiovaskular. Manfaat olahraga diperoleh jika melakukan olahraga intensitas sedang dengan teratur. Secara umum olahraga yang disarankan yaitu olahraga aerobik dan anaerobik yang dapat dilakukan dirumah. Sebagai simpulan, olahraga memberi pengaruh yang baik terhadap COVID-19. Kata Kunci: Olahraga, Coronavirus disease 2019 (COVID-19)
Dewi K. Soeratinoyo, Diana V. D. Doda, Finny Warouw
Published: 10 April 2021
Jurnal Biomedik:JBM, Volume 13, pp 317-321; https://doi.org/10.35790/jbm.13.3.2021.34512

Abstract:
: The Covid-19 pandemic constitutes a major impact not only on health but also onithe economy include those in Indonesia. Currently, the prevention of COVID-19 in the workplace needs attention, since worker's safety and health may influence companies' productivity. Information and infrastructure as a preventive measure of Covid-19 must be provided by the company so that employees could apply health protocols. This study was conducted with the aim of analyzing the relationship between knowledge and attitudes as well as preventive measures for the spread of COVID-19 among employees at a Bottled Drinking Water Producer Company. This research is a cross-sectional study design. Sixty-one employees were recruited randomly at the Packaged Drinking Water Industry in Airmadidi, North Sulawesi. Chi-square test was used to test the data. The results showed that 78.7% of employees had good knowledge, 65.6% of employees are in the category of good attitude,iand 88.5% of employees are in the category of good actions. The bivariate result showed that there was no significant relationship between knowledge with the practice of Covid-19 prevention measures (ρ i= i0.624). However, it revealed a significant relationship between attitudes (ρ= 0.002) and Covid-19 prevention measures (ρ= 0.002). In conclusion, the good attitudes toward the prevention of Covid-19 were important to the practice of preventive actions taken by employees at Packaged Drinking Water Industry in Airmadidi North Sulawesi. Keywords: knowledge, iattitude, iprevention imeasures, iCovid-19  Abstrak: Pandemi Covid-19 berdampak besar tidak hanyaibagiisektor ikesehatan tetapi juga terhadap perekonomian termasuk di Indonesia. Saat ini pencegahan COVID-19 di tempat kerja perlu mendapat perhatian, karena keselamatan dan kesehatan kerja dapat mempengaruhi produktivitas perusahaan. Informasi dan infrastruktur sebagai langkah pencegahan Covid-19 harus disediakan perusahaan agar karyawan dapat menerapkan protokol kesehatan. Penelitianiini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara pengetahuan dan sikap serta tindakan pencegahan penyebaran COVID-19 pada karyawan di Perusahaan Produsen Air Minum Dalam Kemasan. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan desain studi potong lintang. Sebanyak 61 karyawan diambil secara acak di Industri Air Minum Dalam Kemasan di Airmadidi, Sulawesi Utara. Uji Chi-square digunakan untuk menguji data tersebut. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 78,7% karyawan memiliki pengetahuan baik, 65,6% karyawan dalam kategori sikap baik, i88,5% karyawan dalam kategori tindakan baik. Hasil uji dua variabel menunjukkan tidak ada hubungan yang berarti antara pengetahuan dengan tindakan pencegahan Covid-19 (ρ= 0,624). Namun, terungkap adanya hubungan yang signifikan antara sikap (ρ=i0,002) dan tindakan pencegahan Covid-19 (ρ=i0,002). Sebagai simpulan, sikap yang baik terhadap pencegahan Covid-19 penting untuk praktik tindakan preventif yang dilakukan oleh karyawan di Industri Air Minum Dalam Kemasan Airmadidi Sulawesi Utara. Kata kunci: pengetahuan, sikap, tindakan, Covid-19
Irene Angelika, Eko Prasetyo
Published: 10 April 2021
Jurnal Biomedik:JBM, Volume 13, pp 259-265; https://doi.org/10.35790/jbm.13.3.2021.33050

Abstract:
Skull base fractures, namely fractures that extend through the base of the anterior, middle, or posterior cranial fossa that occur in about 7% to 16% of non-perforating head injuries, are caused by trauma with relatively high velocity, and are most frequently caused by a high-speed motor vehicle accident. Pedestrian injuries, falls and assault are other related causes. Penetrating trauma, especially gunshot wounds, is much rarer and accounts for less than 10% of cases. This research method is in the form of literature review. The literature was collected using several databases, such as ClinicalKey and Google Scholar with the keywords radiology and base skull fracture, this article was obtained according to keywords and was screened according to inclusion and exclusion criteria. There are 11 journals full text that will be reviewed according to the criteria consisting of one retrospective study, one clinical review, two literature reviews, three review articles, one prospective study, one case report, one descriptive study and one comparative study. This study shows that 11 literature reviews radiological evaluation in the case of cranii basis. In conclusion, radiology is the most important examination required in patients who are suspected of suffering from fracture of the base cranii is a non-contrast head CT scan.. Other radiological examinations that can be used are plain radiographs of the head, and angiography. Key words: Skull base fractures, basis cranii, radiology  Abstrak: Fraktur basis cranii, yaitu fraktur yang meluas melalui dasar fossa kranial anterior, tengah, atau posterior yang terjadi pada sekitar 7% hingga 16% dari cedera kepala non-perforans, disebabkan oleh trauma dengan kecepatan yang relatif tinggi, dan paling sering disebabkan oleh kecelakaan kendaraan bermotor berkecepatan tinggi. Cedera pejalan kaki, jatuh, dan penyerangan adalah penyebab terkait lainnya. Trauma tembus, terutama luka tembak jauh lebih jarang dan terhitung kurang dari 10% kasus.Metode penelitian ini dalam bentuk studi pustaka (lirerature review). Literature di kumpulkan menggunakan beberapa database, seperti ClinicalKey dan Google Scholar dengan kata kunci radiology dan base skull fracture, artikel ini didapatkan sesuai dengan kata kunci dan dilakukan skrining sesuai kriteria inklusi dan eksklusi. Terdapat 11 jurnal full text yang akan dilakukan review yang sesuai kriteria terdiri atas satu retrospective study, satu clinical review, dua literature review, tiga review article, satu prospective study, satu case report, satu descriptive study dan satu comparative study. Penelitian ini menunjukkan bahwa 11 literatur mengulas tentang evaluasi radiologi pada kasus basis cranii. Sebagai simpulan, radiologis merupakan pemeriksaan paling utama yang diperlukan pada pasien yang dicurigai menderita fraktur basis cranii adalah pemeriksaan CT-Scan non kontras kepala.. Pemeriksaan radiologi lain yang dapat digunakan adalah pemeriksaan foto polos kepala, dan angiografi. Kata kunci: Patah tulang dasar kepala, basis kranii, radiologi
Riski N. Sari, Diana Natalia, Joni T. Parinding
Published: 24 October 2020
Jurnal Biomedik:JBM, Volume 12, pp 153-160; https://doi.org/10.35790/jbm.12.3.2020.31186

Abstract:
Mortality due to dengue hemorrhagic fever (DHF) in West Kalimantan is still quite high. One of the reasons of that is diagnostic delay. Nonstructural 1 antigen (NS1 Ag) test has been developed and can detect dengue virus infection since the onset of fever. This study was aimed to determine the relationship between duration of fever and NS1 Ag dengue in DHF patients at Sultan Syarif Mohamad Alkadrie Hospital in 2018. This was an observational and analytical study with a cross-sectional design. Samples were selected using a total sampling technique with a total sample of 34 patients. Data were obtained from medical records and were analyzed by using the independent T test with the Mann-Whitney test as an alternative test. Statistical analysis of the relationship between duration of fever and NS1 Ag obtained a p value of 0.000). In conclusion, there was a significant relationship between duration of fever and NS1 Ag in DHF patients at Sultan Syarif Mohamad Alkadrie Hospital in 2018. Keywords: dengue hemorrhagic fever (DHF), duration of fever, NS1 Antigen Abstrak: Angka kematian akibat demam berdarah dengue (DBD) di Kalimantan Barat masih cukup tinggi; salah satu penyebabnya ialah keterlambatan diagnosis. Saat ini telah dikem-bangkan pemeriksaan antigen nonstruktural 1 (Ag NS1) yang dapat mendeteksi infeksi virus dengue sejak awal fase demam. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan lama demam dengan hasil pemeriksaan Ag NS1 dengue pada pasien DBD di RSUD Sultan Syarif Mohamad Alkadrie tahun 2018. Jenis penelitian ini ialah analitik observasional dengan desain potong-lintang. Sampel dipilih menggunakan teknik total sampling dan diperoleh jumlah sampel sebanyak 34 pasien. Pengumpulan data menggunakan rekam medis. Data dianalisis menggunakan uji T tidak berpasangan dengan uji alternatif Mann-Whitney. Hasil uji statistik terhadap hubungan antara lama demam dengan hasil pemeriksaan Ag NS1 mendapatkan nilai p=0,000. Simpulan penelitian ini ialah terdapat hubungan bermakna antara lama demam dengan Ag NS1 dengue pada pasien DBD di RSUD Sultan Syarif Mohamad Alkadrie tahun 2018. Kata kunci: demam berdarah dengue (DBD), lama demam, antigen NS1
Ricko Johanes Poluakan, Aaltje E. Manampiring, Fatimawali
Published: 12 July 2020
Jurnal Biomedik:JBM, Volume 12, pp 102-109; https://doi.org/10.35790/jbm.12.2.2020.29441

Abstract:
Abstract: The aims of this study to know the description and the relationship between sports activity, circadian rhythm, and stress. The method used is quantitative research. Sample were determine by the total sampling amounted to 60 in the interests of Occupational Health and Safety in the Faculty of Public Health Sam Ratulangi University class of 2017. Analysis of test data using spearman correlation coefficient. The results of the research is the activity of the sports category was 48.3%, low 20.7%, the category of circadian rhythm less 56.9%, and the category of bad 20.7%. Category of stress was 56.9%, lower 19.1%. Test spearman correlation coefficient found a significant relationship between sports activity with stress, is known to significant (2 tailed) i.e. 0.01 with the level of the strength of the relationship moderates as well as the direction of the relationship positive. Test spearman correlation coefficient between the circadian rhythm of stress found a significant relationship, it is known the value of significant (2 tailed) is 0.000 with the level of the strength of the relationship moderates as well as the direction of the relationship positive. Conclusion in this study is that there is a relationship between sports activity and circadian rhythm with the stress on the students evidenced significant. Keywords: sports activities, circadian rhythm, stress Abstrak: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran dan hubungan antara aktivitas olahraga, ritme sirkadian dan stres. Metode yang digunakan yaitu jenis penelitian kuantitatif. Sampel ditentukan secara total sampling berjumlah 60 pada peminatan Kesehatan dan Keselamatan Kerja (K3) di Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) Universitas Sam Ratulangi Angkatan 2017. Analisis data menggunakan uji koefisien korelasi spearman. Hasil penelitian ialah aktivitas olahraga kategori sedang 48.3%, rendah 20.7%, kategori ritme sirkadian kurang 56.9%, dan kategori buruk 20.7%. Kategori stres sedang 56.9%, rendah 19.1%. Uji koefisien korelasi spearman ditemukan adanya hubungan signifikan antara aktivitas olahraga dengan stres, diketahui nilai signifikan (2 tailed) yaitu 0.01 dengan tingkat kekuatan hubungan moderat serta arah hubungan positif. Uji koefisien korelasi spearman antara ritme sirkadian dengan stres ditemukan adanya hubungan yang signifikan, diketahui nilai signifikan (2 tailed) yaitu 0.000 dengan tingkat kekuatan hubungan moderat serta arah hubungan positif. Simpulan dalam penelitian ini ialah terdapat hubungan antara aktivitas olahraga dan ritme sirkadian dengan stres pada mahasiswa dibuktikan signifikan. Kata kunci: aktivitas olahraga, ritme sirkadian, stres
Nadya M. Owu, Fatimawali, Meilani Jayanti
Published: 24 October 2020
Jurnal Biomedik:JBM, Volume 12, pp 145-152; https://doi.org/10.35790/jbm.12.3.2020.29185

Abstract:
: Betel (Piper Betle L.) is one of the species of climbing plants belonging to the family Piperaceae, betel leaves contain tannin compound that are antimicrobial and can inhibit the growth of several types of bacteria. This study aims to identify tannin compounds from betel leaf extracts obtained from Southeast Minahasa and test the effectiveness of inhibition of Streptococcus mutans. Samples were extracted by maceration using ethanol as a solvent. Fractionation using n-hexane, ethyl acetate and ethanol. Antibacterial activity was tested on extracts with concentrations of 25%, 20%, 15%, 10% and 5% by the dilution method. The tannin test results showed that of the three n-hexane, ethyl acetate and ethanol fractions, only the ethanol fraction had a blackish green discoloration when FeCl3 reagent was added so that it positively contained tannin. The inhibitory test results obtained that the betel leaf ethanol extract with a concentration of 25%, 20% and 15% can inhibit the growth of Streptococcus mutans bacteria. From the results of the study it can be concluded that the ethanol extract of betel leaf contains tannin compounds and effectively inhibits the Streptococcus mutans bacteria with a MIC value at a concentration of 15%.Keywords: Betel leaf, Tannin, Antibacterial, Streptococcus mutans.   Abstrak: Sirih (Piper Betle L) merupakan salah satu jenis tumbuhan terna memanjat yang termasuk famili Piperaceae, daun sirih mengandung senyawa tannin yang bersifat antimikroba dan antijamur yang kuat dan dapat menghambat pertumbuhan beberapa jenis bakteri. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi senyawa tanin dari ekstrak daun sirih yang diperoleh dari Minahasa Tenggara dan menguji efektifitas penghambatannya terhadap Streptococcus mutans. Sampel diekstraksi dengan cara maserasi menggunakan pelarut etanol. Fraksinasi menggunakan pelarut n-Heksan, etil asetat dan etanol. Aktivitas antibakteri diuji terhadap ekstrak dengan konsentrasi 25%, 20%, 15%, 10% dan 5% dengan metode dilusi. Hasil uji tanin diperoleh bahwa dari ketiga fraksi n-Heksan, etil asetat dan etanol, hanya fraksi etanol yang ketika ditambahkan pereaksi FeCl3 terjadi perubahan warna hijau kehitaman sehingga positif mengandung tannin. Hasil uji daya hambat diperoleh bahwa ekstrak etanol daun sirih dengan konsentrasi 25%, 20% dan 15% dapat menghambat pertumbuhan bakteri Streptococcus mutans. Dari hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa ekstrak etanol daun sirih mengandung senyawa tannin dan efektif menghambat bakteri Streptococcus mutans dengan nilai KHM pada konsentrasi 15%. Kata kunci: Daun sirih, Tanin, Antibakteri , Streptococcus mutans.
Amanda G. M. Kiroh, Bernabas H. R. Kairupan, Herdy Munayang
Published: 10 April 2021
Jurnal Biomedik:JBM, Volume 13, pp 338-345; https://doi.org/10.35790/jbm.v13i3.35408

Abstract:
Coronavirus disease (COVID-19) pandemic was first found in Wuhan, China on December 2019. The government did restricts people's activities to prevent the spread of the virus, especially in elderly people due to higher risk and vulnerability, but mental health issues and bad influence can arise with such social restriction and social distancing. This study aims to provide an overview of the mental health condition especially in the elderly communities during the COVID-19 pandemic. This study was made in the form of a literature review using three databases, namely Google Scholar and Clinical Key. The research design used is literature review, using three databases, namely Google Scholar and Clinical Key. The literature that used is in English and Indonesian, within the last one year (year 2020) and fully-accessible.Based on the literature reviewed, it is found that there are activity restrictions have a negative impact on the mental health of the elderly, and not only affect the mental health, but also has an unfavorable influence on other aspects. Keywords: elderly mental health, COVID-19 Pandemic  Abstrak: Pandemi Covid-19 Coronavirus Disease 2019 (Covid-19) pertama kali didiagnosis pada Desember 2019 di Wuhan Cina. Pemerintah melakukan pembatasan aktivitas kepada masyarakat guna untuk mencegah terjadinya penyebaran virus terutama pada orang yang sudah lanjut usia karena mereka memiliki risiko yang lebih tinggi dan rentan untuk terkena Covid-19, tapi dengan adanya pembatasan jarak sosial ini dapat memberikan pengaruh yang kurang baik bagi lansia terutama pada kesehatan mental mereka. Tujuan penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran kesehatan mental pada lansia selama pandemi Covid-19. Penelitian ini dibuat dalam bentuk literature review dengan menggunakan tiga database, yaitu Google Scholar dan Clinical Key. Literatur yang akan digunakan dapat berbentuk Bahasa Inggris dan atau Bahasa Indonesia, dalam jangka waktu satu tahun terakhir (2020) dan dapat diakses secara penuh. Berdasarkan literature-literature yang di review didapatkan pembatasan aktivitas memberikan dampak yang negatif bagi kesehatan mental lansia, dan bukan hanya berpengaruh pada kesehatan mental saja tapi juga memberikan pengaruh yang kurang baik pada aspek-aspek lainnya. Kata Kunci: Kesehatan mental lansia, pandemi Covid-19
Ageng I. Pratiwi, Weny I. Wiyono, Imam Jayanto
Published: 24 October 2020
Jurnal Biomedik:JBM, Volume 12, pp 176-185; https://doi.org/10.35790/jbm.12.3.2020.31492

Abstract:
: Antibiotics are chemicals produced by microorganisms that have ability to inhibit the growth or kill other microorganisms. Used of antibiotics in a self-medication is influenced by user knowledge. So that if the user knowledge is incorrect can cause errors in use. This research aims to determinate the level of knowledge and use of antibiotics on the community of Tomohon City. This research was an descriptive study tend to observational, with a cross-sectional approach to 262 respondents who met the inclusion criteria. The results to showed the level of knowledge of antibiotics by community in Tomohon City which are categorized as good (31%), moderate (21%) and less (48%); for the level of used antibiotics by community in Tomohon City which are categorized as good (39%), moderate (44%) and less (17%) and there is a direct correlation between knowledge and the used of antibiotics with significant value of 0.000 and correlation coefficient value of 0.524 which means if the proper knowledge then was done in proper use. Keywords: Antibiotics, self-medication, knowledge, use   Abstrak: Antibiotik merupakan zat kimiawi yang dihasilkan oleh mikroorganisme yang mempunyai kemampuan untuk menghambat pertumbuhan atau membunuh mikroorganisme lainnya. Penggunaan antibiotik secara swamedikasi dipengaruhi oleh pengetahuan pengguna, sehingga apabila pengetahuan pengguna tidak tepat dapat menyebabkan kesalahan dalam penggunaan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat pengetahuan antibiotik dan penggunaan antibiotik pada masyarakat di kota Tomohon. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif yang bersifat observasional dengan pendekatan cross-sectional terhadap 262 responden yang memenuhi kriteria inklusi. Hasil penelitian yang diperoleh yaitu tingkat pengetahuan antibiotik pada masyarakat di Kota Tomohon yang termasuk kategori baik (31%), cukup (21%) dan kurang (48%); untuk tingkat penggunaan antibiotik pada masyarakat di Kota Tomohon yang termasuk kategori baik (39%), cukup (44%) dan kurang (17%) serta terdapat hubungan yang searah antara pengetahuan dan penggunaan antibiotik dengan nilai signifikansi sebesar 0,000 dan nilai koefisien korelasi sebesar 0,524 yang berarti apabila pengetahuan yang dimiliki tepat maka penggunaan pun dilakukan secara tepat. Kata kunci: Antibiotik, swamedikasi, pengetahuan, penggunaan.
Page of 10
Articles per Page
by
Show export options
  Select all
Back to Top Top