Refine Search

New Search

Results in Journal ZOOTEC: 478

(searched for: journal_id:(4263295))
Page of 10
Articles per Page
by
Show export options
  Select all
G D Lenzun, A K Rintjap, E Wantasen
Published: 9 July 2021
ZOOTEC, Volume 41, pp 348-354; https://doi.org/10.35792/zot.41.2.2021.35230

Abstract:
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis sikap dan pengetahuan masyarakat peternak babi dalam menerima materi penyuluhan di Kelurahan Sendangan dan Kelurahan Sendangan Selatan Kecamatan Kawangkoan. Penelitian menggunakan teknik survey dengan bantuan daftar pertanyaan yang diberikan kepada responden. Penentuan lokasi menggunakan metode purposive sampling sedangkan sampel responden peternak di tentukan secara quota sampling sebanyak 44 responden. Data yang diperoleh di analisis dengan menggunakan analisis korelasi rank spearman. Hasil analisis menunjukan bahwa sikap dan pengetahuan peternak dalam menerima materi penyuluhan di kelurahan Sendangan dan kelurahan Sendangan Selatan kecamatan Kawangkoan sudah baik. Berdasarkan hasil analisis rank spearman ada hubungan yang signifikan (P<0.01) antara sikap dan pengetahuan peternak terhadap materi penyuluhan dengan nilai korelasi 0,873 yang berarti ada hubungan yang sangat kuat dan positif dan searah.
C J Masengie, T. F.D Lumy, I D.R Lumenta
Published: 11 January 2022
ZOOTEC, Volume 42, pp 59-67; https://doi.org/10.35792/zot.42.1.2022.40515

Abstract:
BENEFITS ANALYSIS OF BAT TRADERS IN TOMOHON CITY TRADITIONAL FAITH MARKETS. This study aims to determine how much profit bat traders get at the Tomohon Traditional Faith Market. This research was conducted at the Tomohon City Faith Traditional Market in December 2020 – March 2021 with a total of 10 bat traders as respondents. This study uses the Total Sampling method using primary and secondary data. This study is to analyze the profits of bat traders and find out what factors affect the profits of bat traders by using profit analysis and panel data regression analysis. Based on the results of this study indicate that the profit of bat traders for 6 months from a total of 10 respondents is Rp.134.929.333 with an average profit per month of Rp.2.248.822 for each respondent while for the factors that influence the the advantages of bat traders in the Tomohon City Faith Traditional Market are the number of bats sold and the selling price of the bats.
A S Mokoagow, S O. B Lombogia, J Lainawa
Published: 9 July 2021
ZOOTEC, Volume 41, pp 317-325; https://doi.org/10.35792/zot.41.2.2021.34783

Abstract:
Penelitian ini dilaksanakan di Kecamatan Ranowulu, Kelurahan Karondoran, Kota Bitung pada bulan Februari 2020. Penelitian ini bertujuan untuk untuk mengetahui hubungan antara peran penyuluh dengan proses adopsi inovasi pengembangan usaha ternak sapi potong pada kelompok peternak ‘Cinta Damai” dan kelompok ‘Jempol’ di Kelurahan Karondoran. Penelitian ini berbentuk survey dengan menggunakan kuesioner. Penentuan sampel secara total sampling sebanyak 20 responden yang tergabung dalam kelompok ternak. Analisis data yang digunakan adalah analisis korelasi Rank Spearman (rs). Hasil penelitian menunjukkan terdapat hubungan antara peran penyuluh dengan persepsi peternak terhadap adopsi inovasi yang meliputi kesadaran, minat, menilai, mencoba dan tahap adopsi. Terdapat hubungan antara peran penyuluh dengan adopsi inovasi pengembangan produksi usaha peternakan sapi potong di kelompok peternak “Jempol” dan “Cinta Damai” di Kelurahan Karondoran, Kecamatan Ranowulu, kota Bitung.Kata kunci : Penyuluh, adopsi inovasi, sapi potong, kelompok peternak.
W. Utiah, U. Paputungan, L.M.S. Tangkau
Published: 9 July 2021
ZOOTEC, Volume 41, pp 525-533; https://doi.org/10.35792/zot.41.2.2021.36928

Abstract:
Pada masa ini banyak tersedia berbagai jenis ransum komersial (konsentrat) untuk ayam petelur yang diproduksi oleh perusahaan pakan ternak, dimana komposisi zat-zat makanannya telah tercantum sehingga nilai nutrisi pakan yang disusun dapat dihitung kadarnya. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui apakah ada pengaruh pemberian jenis konsentrat komersil yang berbeda terhadap konsumsi ransum, rasio efisensi penggunaan ransum, Hen Day Egg Production (HDEP) dan Berat Telur. Penelitian ini dilaksanakan pada peternakan ayam ras petelur yeng terletak di Kelurahan Matali Kecamatan Kotamobagu Timur Kota Kotamobagu. Ayam petelur yang digunakan adalah Strain Silver sebanyak 240 ekor berumur 78 minggu. Penelitian ini menggunakan Rancangan acak Lengkap (RAL) yang terdiri dari 3 perlakuan dan 8 ulangan. Rancangan ini digunakan untuk menganalisis pengaruh perlakuan tiga jenis konsentrat komersil terhadap konsumsi ransum, rasio efisensi penggunaan ransum, Hend Day Ggg Production (HDEP) dan Berat telur, yaitu Konsentrat komersil A (RA), Konsentrat komersil B (RB) dan Konsentrat komersil C (RC). Hasil penelitian menunjukkan bahwa untuk konsumsi ransum, rasio efisiensi ransum, Hen Day Egg Production dan berat telur untuk Konsentrat komersil A (RA), Konsentrat komersil B (RB) dan Konsentrat komersil C (RC) menunjukkan berbeda tidak nyata. Hal ini disebabkan karena komposisi zat-zat makanan dan asam-asam amino dalam ransum sesuai dengan kebutuhan ayam petelur. Dengan pengertian bahwa konsentrat komersil yang digunakan dalam penelitian ini (RA, RB dan RC) mempunyai kualitas yang hampir sama. Dari penelitian ini dapat disimpulkan bahwa Konsentrat komersil walaupun dari produsen yang berbeda memiliki kandungan zat-zat makanan yang lengkap dan seimbang. Kata Kunci: Konsentrat komersil, ayam ras petelur, konsumsi ransum, berat telur
G. Dawit, U. Paputungan, A. Podung
Published: 9 July 2021
ZOOTEC, Volume 41, pp 515-524; https://doi.org/10.35792/zot.41.2.2021.36884

Abstract:
Salah satu aspek pemicu rendahnya populasi ternak sapi adalah manajemen reproduksi yang kurang tepat seperti manajemen perkawinan hingga pengetahuan peternak tentang teknologi inseminasi buatan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui sejauh mana peternak sapi di Kecamatan Pinolosian Kabupaten Bolaang Mongondow Selatan Sulawesi Utara memahami keterkaitan gejala birahi dengan inseminasi buatan (IB) pada sapi. Responden penelitian ini adalah peternak sapi di Kecamatan Pinolosian dan bersedia diwawancarai. Penelitian ini dilakukan dalam bentuk survei lapangan. Pengumpulan data dilakukan dengan mewawancarai peternak sapi menggunakan formulir dengan kuisioner terstruktur. Pengambilan data terdiri atas data primer dan sekunder. Data sekunder di ambil dari Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kabupaten Bolaang Mongondow Selatan. Data dianalisis menggunakan metode deskriptif untuk keseluruhan data, uji linear berganda untuk variabel pendidikan, pekerjaan, kedudukan beternak, jumlah ternak, pengalaman beternak, sumber pengetahuan dan cara pemeliharaan dengan variabel pengetahuan tentang kaitan gejala birahi dengan keberhasilan IB. Berdasarkan hasil penelitian tingkat pengetahuan peternak tentang pemahaman keterkaitan gejala birahi dengan keberhasilan IB pada sapi dengan kriteria sangat baik adalah 0%, peternak baik 9,23%, peternak cukup baik 66,15% dan peternak kurang baik 24,61%. Sebesar 43,8% pengetahuan tentang birahi dan keberhasilan IB dipengaruhi oleh faktor pendidikan, pekerjaan, kedudukan beternak, jumlah ternak, pengalaman beternak, sumber pengetahuan dan cara pemeliharaan ternak. Kata kunci: Tingkat pengetahuan peternak, inseminasi buatan, gelaja birahi, sapi lokal
Ch L. Kaunang, E Pudjihastuti
Published: 9 July 2021
ZOOTEC, Volume 41, pp 424-432; https://doi.org/10.35792/zot.41.2.2021.35812

Abstract:
Tujuan penelitian ini adalah untuk melihat pengaruh pemberian pellet pakan hijauan lokal (B.mutica)teramoniasi dan suplementasi UGB terhadap produktivitivitas ternak. Penelitian ini dilaksanakan selama 8 bulan. Ternak yang digunakan terdiri dari 30 ekor kambing jantan lokal, berumur 9 bulan dengan berat badan berkisar 20-25 kg. Ransum perlakuan terdiri dari: R0 = Konsentrat (1% dari bobot badan) + rumput B.mutica teramoniasi (100%) + 300 gram UGB (kontrol), R1= Pellet dari campuran konsentrat (1% dari bobot badan) dan rumput B.mutica teramoniasi (100%)+300 g UGB. Data yang diperoleh dianalisis dengan menggunakan t-test. Parameter yang diamati adalah konsumsi bahan kering, pertambahan bobot badan harian, dan status metabolis darah. Rataan konsumsi bahan kering pakan dalam penelitian ini berkisar 405 – 650 g/ekor/hari. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa menunjukkan bahwa perlakuan R1 sangat nyata lebih tinggi dari perlakuan R0. Rataan PBBH dalam penelitian ini berkisar 90,20-110,40 g/ekor/hari. Hasil penelitian menunjukkan bahwa menunjukkan bahwa perlakuan R1 sangat nyata lebih tinggi dari perlakuan R0. Rataan kadar Ca darah dalam penelitian ini berkisar 9,9-10,1 mg/dL rataan kandungan P darah dalam penelitian ini berkisar 6,3-8,1 mg/dL, rataan kandungan Na dalam darah pada penelitian ini berkisar 102-149 149 mmol/L, rataan kandungan Mg dalam darah pada penelitian ini berkisar 4.4 mg/dL-5.9 mg/dL dan rataan kandungan Cl darah dalam penelitian ini berkisar 100 mmol/L -121 mmol/L. Hasil analisis statistik menunjukkan bahwa perlakuan tidak memberikan pengaruh yang nyata terhadap kandungan Ca, P, Na, Ca, Mg, dan Cl dalam darah. Namun demikian semua nilai parameter status metabolis darah dalam penelitian ini menunjukkan kecenderungan meningkat akibat perlakuan. Dari penelitian ini dapat disimpulkan bahwa pemberian pakan pellet campuran konsentrat (1% dari bobot badan) dan rumput B.mutica teramoniasi (100%) + 300 g UGB memberikan respons yang optimal terhadap konsumsi bahan kering, pertambahan bobot badan harian dan status metabolis darah ternak kambing. Kata kunci : Pellet, B.mutica, Amoniasi, UGB, Kambing.
M P Utiah, J. K.J Kalangi, F. N.S Oroh
Published: 9 July 2021
ZOOTEC, Volume 41, pp 479-488; https://doi.org/10.35792/zot.41.2.2021.36809

Abstract:
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis perbedaan perilaku konsumen yang membeli daging ayam ras pada Pasar tradisional dan pasar modern di kota Manado. Penelitian ini dilakukan menggunakan metode survey dengan berpedoman pada kuesioner. Lokasi penelitian di tentukan secara purposive pada pasar bersehati dan Jumbo swalayan masing masing mewakili pasar tradisional dan pasar modern. Penentuan sampel menggunakan teknik Accidental Sampling. Hasil penelitian menunjukkan bahwa faktor-faktor yang mempengaruhi perilaku konsumen dalam pembelian daging ayam ras adalah faktor Karakteristik konsumen yang meliputi variabel umur, pendidikan, pekerjaan, dan pendapatan, faktor produk yang meliputi variabel lokasi, promosi, dan kualitas, serta faktor harga yang meliputi variabel harga. Hasil penelitian menunjukkan terdapat perbedaan yang signifikan antara perilaku konsumen yang berbelanja daging ayam ras di Pasar tradisional dan Pasar modern di Kota Manado (P<0,05).
A.J. Tiwa, A.J. Podung, E. Pudjihastuti, G.V.J. Assa, J.F. Paath
Published: 9 July 2021
ZOOTEC, Volume 41, pp 472-478; https://doi.org/10.35792/zot.41.2.2021.36804

Abstract:
Penelitian ini bertujuan mengukur prevalensi infeksi parasit cacing pada usus halus ternak babi di lokasi penampungan dan pemotongan Desa Motoling, Minahasa Selatan. Penelitian ini menggunakan sampel 50 ekor ternak babi yang dipotong dan diambil usus halusnya dan diamati parasit cacing serta diukur prevalensinya berdasarkan ras ternak, jenis kelamin dan umur ternak. Metode penelitian yang digunakan yaitu ekplorasi deskriptif. Ternak babi yang ditampung dan dipotong selain berasal dari daerah sekitar tempat penampungan, juga berasal dari luar daerah, seperti Minahasa, Kotamobagu dan Palu. Berdasarkan hasil identifikasi parasit cacing dan pengamatan yang diperoleh pada penelitian ini, didapatkan cacing Ascaris suum. Prevalensi parasit Ascaris suum ditemukan dari sampel sebesar 12%, Infeksi parasit Ascaris suum hanya didapatkan pada babi ras jenis Landrace dengan prevalensi 16,2%. Berdasarkan jenis kelamin ternak, prevalensi parasit cacing lebih tinggi pada ternak jantan 21,1%, sedangkan ternak betina prevalensi 6,5%. Berdasarkan umur, didapati tingkat infeksi tertinggi pada kelompok umur ternak 6-7 bulan dengan prevalensi 19,2%, umur 7 – 8 bulan prevalensi sebesar 5,0%. Kesimpulannya teridentifikasi cacing dewasa Ascaris suum menginfeksi usus halus ternak babi di tempat penampungan babi siap potong di Desa Motoling. Prevalensi infeksi lebih tinggi pada kelompok babi ras landrace dibandingkan Duroc dan babi lokal. Berdasarkan jenis kelamin ternak, prevalensi infeksi A. suum lebih tinggi pada babi jantan dibandingkan betina. Berdasarkan umur babi, prevalensi infeksi A. suum lebih tinggi pada babi umur 6-7 bulan dibandingkan babi diatas umur 7 dan 8 bulan. Kata Kunci : , Ternak babi , usus halus , Ascaris suum
E.S. Umboh, C.I.J. Sumolang, M.M. Telleng
Published: 11 January 2022
Abstract:
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui keragaan agronomi sorgum varietas Pahat fase soft doughyang ditanam dengan kepadatan tanam benih dalam lubang berbeda. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) yang terdiri dari 4 perlakuan dan 5 ulangan sehingga diperoleh 20 satuan percobaan. Perlakuan yang diberikan yaitu tingkat kepadatan tanam yang terdiri dari KT1 = 1 benih/lubang, KT2 = 2 benih/lubang, KT3 = 3 benih/lubang, dan KT4 = 4 benih/lubang. Variabel yang diukur terdiri dari tinggi tanaman, diameter batang, jumlah daun, lebar daun, dan panjang daun. Hasil analisis keragaman menunjukkan bahwa perlakuan memberikan pengaruh berbeda sangat nyata (P<0,01) terhadap tinggi tanaman, diameter batang, jumlah daun, lebar daun, dan panjang daun. Uji lanjut BNJ menunjukkan bahwa tingkat kerapatan tanam KT2 memiliki tinggi tanaman, diameter batang, jumlah daun, lebar daun, dan panjang daun yang sangat nyata (P0,05) dengan KT3. Dari hasil penelitian ini disimpulkan bahwa tingkat kerapatan tanam KT2 (2 benih/lubang) memberikan hasil terbaik pada karakter agronomi sorgum varietas Pahat fase soft dough.Kata Kunci : karakter agronomi, sorgum Pahat, Kerapatan tanam, 
C M Danupoyo, B Rorimpandey, F H Elly
Published: 11 January 2022
ZOOTEC, Volume 42, pp 15-24; https://doi.org/10.35792/zot.42.1.2022.38914

Abstract:
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis besar pendapatan peternak sapi dan pengaruh variabel-variabel (jumlah kepemilikan ternak, biaya pakan, biaya tenaga kerja dan pengalaman beternak) terhadap pendapatan peternak sapi di Desa Saleo Kecamatan Bolangitang Timur Kabupaten Bolaang Mongondow Utara. Penelitian ini dilaksanakan di Desa Saleo dengan waktu penelitian selama satu bulan yaitu dari bulan Januari – Februari 2021. Pengumpulan data menggunakan teknik wawancara pada responden peternak sapi dengan menggunakan kuisioner yang telah disiapkan. Penentuan sampel adalah purposive sampling yaitu teknik penentuan sampel dengan pertimbangan tertentu sesuai dengan tujuan penelitian, atas dasar pertimbangan bahwa petani peternak memiliki minimal 2 ekor ternak sapi dan minimal sudah 3 tahun beternak. Jumlah pendapatan petani peternak sapi di Desa Saleo Kecamatan Bolangitang Timur Kabupaten Bolaang Mongondow Utara rata-rata dalam setahun sebesar Rp. 23.573.167. Secara simultan variabel jumlah ternak sapi, variabel biaya pakan, variabel biaya tenaga kerja serta variabel pengalaman beternak berpengaruh nyata terhadap pendapatan peternak sapi sedangkan secara parsial variabel biaya pakan dan pengalaman beternak tidak nyata berpengaruh terhadap pendapatan.  
Y D Sipayung, E Wantasen, L S Kalangi
Published: 11 January 2022
ZOOTEC, Volume 42, pp 40-51; https://doi.org/10.35792/zot.42.1.2022.39121

Abstract:
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi pendapatan pedagang daging babi di Pasar Tradisional Kota Pematangsiantar pada masa pandemi Covid-19. Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data primer dan data sekunder. Penentuan lokasi sampel di Pasar Horas dan Pasar Parluasan menggunakan metode Purposive Sampling. Jumlah pedagang di kedua pasar yaitu 40 pedagang, dimana 17 pedagang dari Pasar Horas dan 23 pedagang dari Pasar Parluasan. Seluruh pedagang daging babi di kedua pasar ini dipilih menjadi responden (Total Sampling). Analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis deskriptif kualitatif serta menggunakan analisis regresi data panel. Pendapatan pedagang daging babi mengalami penurunan sebesar 36 % pada saat pandemi Covid-19. Berdasarkan hasil analisis regresi dapat disimpulkan bahwa biaya pemasaran, jumlah pembeli dan dummy covid-19 berpengaruh signifikan terhadap pendapatan pedagang sedangkan curahan waktu kerja tidak memberikan pengaruh yang singnifikan terhadap pendapatan pedagang daging babi di Pasar Tradisional Kota Pematangsiantar.  
L.C. Dotulong, Ch.L. Kaunang, R.A.V. Tuturoong, M.R. Waani
Published: 9 July 2021
ZOOTEC, Volume 41, pp 398-404; https://doi.org/10.35792/zot.41.2.2021.35574

Abstract:
Tujuan dari penelitian ini yaitu untuk mengetahui daya dukung dan indeks daya dukung hijauan alami di bawah perkebunan kelapa sebagai pakan ternak sapi juga untuk mengetahui komposisi botanis hijauan pakan ternak di area perkebunan kelapa yang ada di Kecamatan Airmadidi. Penelitian ini menggunakan metode purposive sampling. Data yang digunakan dalam penelitian ini berdasarkan data sekunder dan data primer. Variabel yang diukur yaitu komposisi botanis, daya dukung hijauan pakan, dan indeks daya dukung hijauan pakan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa hasil komposisi botanis hijauan sebesar 42% untuk rumput, 5% untuk rumbah yang dikonsumsi, dan 53% untuk rumbah yang tidak dikonsumsi. Berdasarkan hasil penelitian ini, dapat disimpulkan bahwa daya dukung hijauan alami di bawah perkebunan kelapa Kecamatan Airmadidi sebanyak 4.131 ekor sapi untuk hijauan segar dan 2.604 ekor sapi untuk bahan kering. Indeks daya dukung hijauan alami menunjukkan tingkat keamanan yang rawan yakni 1,62 namun demikian ketersediaan hijauan pakan masih dapat memenuhi kebutuhan pakan ternak sapi yang ada di Kecamatan Airmadidi. Kata Kunci: Daya dukung, indeks daya dukung, hijauan alami, pakan sapi.
Ch.I.J Pilat, J.R. Leke, C.L.K. Sarajar
Published: 9 July 2021
ZOOTEC, Volume 41, pp 534-542; https://doi.org/10.35792/zot.41.2.2021.36994

Abstract:
Penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui level penggunaan tepung daun pandan wangi (Pandanus amarylifolius Roxb) dalam ransum terhadap kualitas internal telur. Penelitian ini menggunakan 100 ekor ayam petelur MB 402 umur 83 minggu. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 5 perlakuan dan 5 ulangan, jika terdapat perbedaan dilanjutkan dengan uji jarak berganda Duncan’s. Perlakuan yakni R0 = Ransum Basal 100 %, R1 = Ransum Basal 99 % + 1 % TDP, R2 = Ransum Basal 98 % + 2 % TDP, R3 = Ransum Basal 97% + 3% TDP, dan R4 = Ransum Basal 96% + 4% TDP. Variabel yang diamati yakni berat kuning telur, indeks kuning telur dan warna kuning telur. Hasil analisis menunjukkan bahwa penggunaan tepung daun pandan wangi pada ransum ayam petelur memberikan pengaruh berbeda tidak nyata (P > 0,05) terhadap berat kuning dan indeks kuning telur, tetapi berbeda nyata (P <0,01) terhadap warna kuning telur. Berdasarkan hasil dan pembahasan untuk semua variabel penelitian maka dapat disimpulkan bahwa penggunaan tepung daun pandan wangi sampai dengan taraf 4% pada ransum ayam petelur dapat meningkatkan kualitas warna kuning telur dan memberikan hasil yang sama pada berat kuning telur dan indeks kuning telur. Kata Kunci: Ayam petelur, Daun pandan wangi, Kualitas internal telur
T.A. Ransaleleh, F.A. Kristi, M.M.H. Kawatu, M.J. Nangoy
Published: 11 January 2022
ZOOTEC, Volume 42, pp 52-58; https://doi.org/10.35792/zot.42.1.2022.39303

Abstract:
Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari serta mengetahui preferensi pakan yang dikonsumsi Pteropus alecto di penangkaran/ex-situ. Pakan yang diberikan selama penelitian adalah buah pepaya, pisang dan mangga yang sudah matang, Materi penelitian yang digunakan yaitu sembilan ekor kelelawar Pteropus alecto yang terdiri dari empat ekor jantan dan lima ekor betina yang dipelihara dalam kandang dengan menggunakan metode observasi. Hasil penelitian diperoleh: a. total konsumsi pakan sebanyak 7530 g/hari, b. persentase konsumsi buah pisang (26,07 %), buah pepaya (22,36 %) dan buah mangga (18,47%), c. preferensi buah pisang (0.782), buah pepaya (0.670) dan buah mangga (0.554), d. buah yang pertama kali dipilih kelelawar Pteropus alecto untuk di konsumsi pada minggu pertama yaitu buah pepaya, minggu kedua sampai ke empat terjadi perubahan dimana kelelawar Pteropus alecto lebih memilih buah pisang untuk dikonsumsi pertama kali. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa preferensi pakan kelelawar pemakan buah (Pteropus alecto) di penangkaran/ex-situ secara berurutan adalah buah pisang, pepaya dan mangga. Kata kunci : Preferensi pakan, Pteropus alecto, Penangkaran/ex-situ
G.V.E. Pelealu, M.J. Nangoy, D. Tarore
Published: 11 January 2022
ZOOTEC, Volume 42, pp 25-32; https://doi.org/10.35792/zot.42.1.2022.39008

Abstract:
Capung merupakan kelompok serangga yang termasuk dalam filum arthropoda dan tergolong dalam ordo odonata. Keanekaragaman capung dalam ekosistem memiliki peranan yang besar seperti: sebagai salah satu komponen keanekaragaman hayati yang memegang peranan penting dalam rantai makanan, sebagai musuh alami, dan sebagai indikator kualitas lingkungan perairan. Sungai Rayow merupakan salah satu habitat capung. Sungai ini terletak di desa Kembes, Kabupaten minahasa, Provinsi Sulawesi Utara. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi dan menganalisis keanekaragaman jenis capung di sungai Rayow, Kembes, Minahasa. Prosedur penelitian yang digunakan meliputi survey lokasi penelitian, menentukan titik pengambilan sampel, pengambilan sampel, dan identifikasi di laboratorium dengan menggunakan buku identifikasi. Penelitian dilapangan menggunakan metode purposive random sampling. Analisis data meliputi kelimpahan (N), indeks kekayaan jenis (R), indeks Keanekaragaman jenis (H’), dan indeks kemerataan (E). indeks keanekaragaman jenis menggunakan indeks Shanon-wienner. Hasil penelitian ditemukan kelimpahan capung yang ditemukan di sungai Rayow sebanyak 1002 individu, yang terdiri dari 2 sub ordo, 6 familli, 13 genus, dan 21 jenis capung. Indeks keanekaragaman jenis capung tertinggi ditemukan di sungai Kawasan hutan sekunder sebesar 2,67 selanjutnya diikuti sungai area perkebunan 2,57, dan indeks keanekaragaman terendah ditemukan disungai Kawasan pemukiman 2,28. Kesimpulan berdasarkan penelitian capung yang ditemukan di sungai Rayow, Kembes, Minahasa terdiri dari 21 jenis capung. Indeks keanekaragaman capung tertinggi ditemukan pada stasiun 1 yaitu di sungai ekosistem hutan sekunder 2,67 kemudian diikuti oleh sungai Kawasan perkebunan 2,57 dan yang terendah ditemukan di sungai area pemukiman 2,28. Indeks keanekaragaman jenis capung di sungai Rayow, Kembes, Minahasa dikategorikan keanekaragaman sedang. Kata kunci: Capung, Indeks keanekaragaman, Sungai Rayow
D.B.J. Rumondor, R.M. Tinangon
Published: 9 July 2021
ZOOTEC, Volume 41, pp 506-514; https://doi.org/10.35792/zot.41.2.2021.36882

Abstract:
Tujuan penelitian ini untuk mengetahui pengaruh penambahan bubuk cengkeh (Syzgium aromaticum) pada burger daging sapi terhadap karakteristik fisikokimia dan evaluasi sensorik burger daging sapi.Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap dengan 4 perlakuan dan 4 ulanga.Perlakuannya adalah: R0 = burger sapi saja (kontrol), R1= 0,50% bubuk cengkeh (CP), R2= 0,75% CP, dan R3=1% CP untuk burger sapi. Bahan-bahan yang digunakan dalam pembuatan burger adalah bawang merah, bawang putih, bawang merah, pala, gula pasir, garam, tepung tapioka, susu bubuk skim, mentega, kuning telur, dan bubuk cengkeh. Variabel yang diamati dalam penelitian ini adalah karakteristik fisikokimia (pH, daya ikat air, dan susut masak) dan penilaian sensoris (rasa, warna, aroma, rasa) burger daging sapi. Analisis sensori dilakukan oleh 20 orang panelis tidak terlatih dari Fakultas Peternakan. Analisis varian satu arah (ANOVA) dan uji jarak berganda Duncan dilakukan untuk menganalisis pengaruh perlakuan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penambahan serbuk cengkeh tidak memberikan pengaruh yang nyata (P>0,05) terhadap nilai pH, kadar air, daya ikat air, dan susut masak. Selain itu, penambahan bubuk cengkeh meningkatkan rasa burger, tetapi mengurangi warna burger. Dapat disimpulkan bahwa penambahan bubuk cengkeh 1% memberikan perlakuan terbaik pada penilaian karakteristik fisikokimia dan sensoris terhadap kualitas burger. Kata kunci: Bubuk cengkeh , burger daging sapi, karakteristik fisikokimia, evaluasi sensori
A Asmawati, R.S.H. Wungow, M.J. Nangoy, T.A. Ransaleleh
Published: 9 July 2021
ZOOTEC, Volume 41, pp 371-378; https://doi.org/10.35792/zot.41.2.2021.35423

Abstract:
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui deskripsi, frekuensi dan lama serta interval tingkah laku agonistik kelelawar Pteropus alecto di penangkaran/Ex Situ. Materi penelitian menggunakan satu ekor kelelawar jantan dan satu ekor kelelawar betina yang dipelihara dalam satu kelompok yang terdiri dari tujuh ekor kelelawar. Teknik pengambilan data yaitu mengamati dan mencatat tingkah laku agonistik pada lembar kerja yang disajikan dalam ethogram. Metode yang digunakan observasi. Variabel yang diukur yaitu deskripsi, frekuensi, lama dan interval waktu tingkah laku agonistik kelelawar Pteropus alecto. Data yang diperoleh dianalisis dan dibahas secara deskriptif. Hasil pengamatan menunjukkan bahwa tingkah laku agonistik yang terjadi pada kelelawar Pteropus alecto yaitu mendekati, menyerang, melawan, dan menghindar. Rataan frekuensi dan lama tingkah laku agonistik yang dilakukan oleh jantan kepada betina sebesar 2,52 kali selama 19,51 detik. Interval waktu kelelawar jantan aktif melakukan agonistik kepada betina pada pukul 22.00-24.00.
C.J.J. Alexander, L.R. Ngangi, M.J. Hendrik, S.H. Turangan, E.H.B. Sondakh
Published: 9 July 2021
ZOOTEC, Volume 41, pp 500-505; https://doi.org/10.35792/zot.41.2.2021.36880

Abstract:
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui performa reproduksi sapi perah Peranakan Friesien Holstein yang ada di Balai Pengembangan Bibit dan Pakan Ternak Tampusu. Penelitian ini menggunakan ternak berjumlah 19 ekor ternak sapi perah peranakan Frisien Holstein yang berumur antara 3-9 tahun. Ternak-ternak tersebut sudah pernah dilakukan inseminasi buatan (IB) dan beranak (partus). Pakan yang diberikan terdiri dari 80% hijauan dan 20% konsentrat. Teknik pengumpulan data dilakukan wawancara langsung kepada beberapa pengawas kendang dengan menggunakan kuisioner. Informasi yang diperoleh berkaitan dengan data-data reproduksi yang terdiri dari service per conception (S/C), calving interval (CI) dan days open (DO). Sampel sebanyak 19 ekor ternak, diperoleh hasil data reproduksinya sebagai hasil penelitian terdiri dari service per conception sebanyak 1,7±0,71 kali, lamanya calving interval yaitu 13,2±0,65 bulan dan days open selama 86±6,38 hari. Dari hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa sapi perah betina Peranakan Friesien Holstein (PFH) yang ada di Balai Pengembangan Bibit dan Pakan Ternak Tampusu mempunyai service per conception pendek, calving interval sedikit panjang dan days open pendek. Kata Kunci : performa reproduksi, sapi Peranakan Fries Holstein, peternakan sapi perah Tampusu  
L.A. David, B. Bagau, M.M. Telleng
Published: 9 July 2021
ZOOTEC, Volume 41, pp 464-471; https://doi.org/10.35792/zot.41.2.2021.36739

Abstract:
Salah satu cara untuk mengatasi keterbatasan penyediaan hijauan pakan dapat dilakukan upaya pengawetan hijauan pakan diantaranya penerapan teknologi fermentasi melalui proses ensilase untuk menghasilkan silase. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh lama pemeraman yang berbeda terhadap kualitas fisik dan pH silase sorgum. Menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 5 perlakuan dan 4 ulangan. Perlakuan yaitu lama pemeraman terdiri atas, P1: 7 hari, P2: 14 hari, P3: 21 hari, P4: 28 hari, dan P5: 35 hari. Variabel yang diukur yaitu: kandungan bahan kering, pH dan kualitas fisik dilihat dari warna, tekstur, bau/aroma. Hasil analisis keragaman menunjukkan bahwa perlakuan lama pemeraman memberikan pengaruh yang berbeda sangat nyata (P<0,01) terhadap kandungan bahan kering, warna, tekstur, bau dan pH silase. Hasil uji BNJ menunjukkan bahwa lama pemeraman 28 hari menghasilkan kandungan bahan kering yang sangat nyata (P0,05) dengan lama pemeraman 21 hari dan 35 hari. Uji BNJ menunjukkan bahwa lama pemeraman 7 hari (P1) menghasilkan warna, bau, tekstur dan pH yang sangat nyata (P0,05) dengan lama pemeraman 14 hari, 21 hari dan 28 hari. Berdasarkan hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa lama pemeraman 28 hari silase sorgum varietas samurai 2 ratun ke 1 menghasilkan silase yang berkualitas baik berdasarkan kandungan bahan kering, pH dan kualitas fisik (warna, bau, tekstur). Kata Kunci : sorgum, lama pemeraman, bahan kering, kualitas fisik
M F Darimin, M A.V Manese, E Wantasen
Published: 11 January 2022
ZOOTEC, Volume 42, pp 33-39; https://doi.org/10.35792/zot.42.1.2022.39120

Abstract:
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi permintaan daging babi pada rumah makan di Kota Tomohon. Penelitian ini dilaksankan di kota Tomohon pada bulan Juni 2021 sampai dengan bulan Juli 2021. Pengumpulan data menggunakan teknik wawancara pada responden pemilik rumah makan dengan menggunakan kuisioner yang telah disiapkan. Data yang digunakan dalam penelitian ini yaitu data primer dan data sekunder. Penentuan sampel menggunakan metode purposive sampling berdasarkan pertimbangan bahwa Kota Tomohon merupakan salah satu daerah yang memiliki usaha rumah makan yang menjual daging babi, jumlah rumah makan yang menjual menu daging babi di Kota Tomohon sebesar 32 unit. Model analisis yang digunakan adalah analisis linier berganda yaitu untuk mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi jumlah permintaan daging babi. Hasil analisis regresi linier berganda yang berpengaruh sangat nyata terhadap permintaan daging babi pada rumah makan yaitu alokasi pengeluaran untuk membeli daging babi dengan koefisien regresi 0,957 dan berpengaruh nyata yaitu jumlah menu daging babi dengan koefisien regresi 0,075, jumlah pelanggan dengan koefisien regresi 0,085 dan dummy menjual sate dan menjual selain sate dengan koefisien regresi 0,035.
S. M. Sembor, H. Liwe, N.N. Lontaan, M.R. Imbar
Published: 9 July 2021
ZOOTEC, Volume 41, pp 379-388; https://doi.org/10.35792/zot.41.2.2021.35545

Abstract:
Tujuan penelitian ini untuk mengetahui kualitas fisik dan kimia produk salami ayam petelur afkir menggunakan tepung sorgum (Sorghum bicolor L.) sebagai bahan pengisi dalam pengolahan salami. Penelitian dilaksanakan menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 5 perlakuan P0 (0%), P1(2,5%), P2 (5%), P3 (7,5%) dan P4 (10%) setiap perlakuan diulang 4 kali. Parameter yang diukur sifat fisik meliputi daya mengikat air, susut masak dan keempukan; pengujian kimia/proksimat yang terdiri dari kadar air, kadar protein, kadar lemak, dan karbohidrat. Data hasil penelitian diolah menggunakan analisis sidik ragam dan dilanjutkan dengan Uji Tukey. Berdasarkan hasil penelitian diperoleh bahwa mutu kimia seperti kadar air 46,56%, protein 16,08%, lemak 22,03% dan karbohidrat 13,89%; mutu fisik seperti susut masak menurun dari 24,77% - 19,63%; DIA meningkat dari 26,03 % - 36,44%; keempukan meningkat dari 136,75% - 181,75%. Kesimpulan dari penelitian ini adalah penggunaan tepung sorgum (Sorghum bicolor L.) sebagai bahan pengisi pembuatan salami ayam petelur afkir sebanyak 10%, bakteri asam laktat 2% dan yeast 2%. Kata kunci: Tepung sorgum, ayam petelur afkir, salami
J. R.M. Keintjem, A. M. Fuah, C Sumantri, B. Masy’Ud
Published: 9 July 2021
ZOOTEC, Volume 41, pp 326-339; https://doi.org/10.35792/zot.41.2.2021.34786

Abstract:
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi Karakteristik morfologidan determinasi seks nuri talaud jantan dan betina dari Nuri Talaud (eos histrio talautensis) di penangkaran. Penelitian dilakukan pada bulan September 2016 hingga Maret 2017 di Badan Konservasi Alam di Manado, Sulawesi Utara. Objek yang diamati adalah sepasang burung Nuri Talaud yang telah mencapai tubuh dewasa (2,5 - 3 tahun). Jantan dan betina ditimbang setelah pengamatan bentuk tubuh, kepala dan ekor yang dipuasakan terlebih dahulu. Metode yang digunakan untuk karakteristik morfologi Nuri Talaud melihat bentuk secara visual bentuk kepala bulat, tubuh langsing dan memanjang serta bulu ekor runcing untuk jantan dan bentuk tubuh kepala tidak bulat, badan tidak langsing dan lebar dan ekor yang tidak runcing untuk betina. Karakteristik morfologi Nuri Talaud yang ditemukan dalam pemiliharaan ex situ ada empat bentuk yaitu: bentuk tubuh, bobot badan, bentuk kepala, bentuk ekor. Terdapat perbedaan bentuk antara burung Nuri Talaud jantan dan betina. Analisis morfometri terdapat delapan ukuran yaitu : panjang kepala, lebar kepala, panjang dada, lebar dada, panjang paruh atas, lebar paruh atas, tinggi paruh atas dan panjang ekor. Hasil analisis ke delapan ukuran antara jantan dan betina Nuri Talaud. Aktivitas harian yang ditemukan jantan dan betina Nuri Talaud yaitu: lokomotif, ingesti, istirahat dan perawatan tubuh dimana jantan lebih aktif dari pada betina. Kata kunci: Nuri talaud, karakteristik morfologi, penangkaran
H.J. Kiroh, E.H.B. Sondakh, S.C. Rimbing
Published: 9 July 2021
ZOOTEC, Volume 41, pp 550-560; https://doi.org/10.35792/zot.41.2.2021.37224

Abstract:
REFLECTION OF INTEREST OF THE TUMINTING VILLAGE COMMUNITY TOWARDS THE DEVELOPMENT OF QUAIL BUSINESS AS A SOLUTION TO SUPPORT THE FAMILY ECONOMY IN THE NEW NORMAL. The purpose of the study was to explore the level of interest of the Tuminting Village community towards the development of quail business as a solution to support the family economy and to find an overview of the basic understandings that the Tuminting Village community had known if their quail farming business would be developed with simple technology. The variables measured in the community were: level of education, community work and income, community interest in quail business, understanding of village officials on quail farming. The data or information collected was analyzed simply by calculating the percentage and then presented in the form of a bar chart, while the results of other observations would be described descriptively, including describing things that were seen and received directly from the community as the object under study. The results of the research on public interest in quail business showed that there were around 32.02% interested in developing quail cultivation in the New Normal Covid-19 period. The level of basic understanding of the Tuminting Village community towards quail development efforts from the results of the study was shown to be 51.09%. Meanwhile, the understanding of village officials in supporting quail farming by the community illustrated that more than 56.25% did not understand, but they strongly support the development of quail cultivation and the value was around 84.75%. The conclusion was that although the number of people who did not understand was still very high, they still have a high interest in participating and in developing the quail farming business as a support for the family economy during the New Normal Covid-19 period. Keywords: Community interest, village officials, quail, new normal covid-19
F R Sigarlaki, M L Rundengan, J Pandey
Published: 9 July 2021
ZOOTEC, Volume 41, pp 433-443; https://doi.org/10.35792/zot.41.2.2021.35973

Abstract:
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh atribut kemasan (warna, gambar, huruf/tipografi, bentuk dan ukuran) terhadap minat beli konsumen susu cair Ultra Milk di Freshmart Express Airmadidi Superstore dan untuk mengetahui atribut kemasan yang paling mempengaruhi minat beli konsumen susu cair Ultra Milk di Freshmart Express Airmadidi Superstore. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Februari 2021 di Freshmart Express Airmadidi Superstore, Kecamatan Airmadidi, Kabupaten Minahasa Utara. Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini yaitu menggunakan kuesioner. Pengambilan sampel menggunakan metode purposive sampling dengan jumlah sampel sebanyak 60 responden, dimana sampel dipilih berdasarkan kriteria yaitu pengunjung Freshmart Express Airmadidi Superstore dan konsumen susu cair Ultra Milk yang ditemui saat berbelanja. Model analisis data yang digunakan antara lain analisis regresi linier berganda (skala Likert), uji F, dan uji t. Data dianalisis dengan bantuan program SPSS versi 25 for windows. Atribut-atribut kemasan yang mempengaruhi minat beli (Y) yaitu warna (X1), gambar (X2), huruf/tipografi (X3), bentuk (X4), dan ukuran (X5). Atribut kemasan yang paling mempengaruhi minat beli konsumen adalah warna (X1)
P. Poliyama, I. Wahyuni, E.H.B. Sondakh, F.S. Ratulangi
Published: 9 July 2021
ZOOTEC, Volume 41, pp 405-413; https://doi.org/10.35792/zot.41.2.2021.35614

Abstract:
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui sifat fisik dan organoleptik produk makanan Ilabulo dengan menggunakan bentuk dan ukuran daging ayam broiler. Bahan yang digunakan dalam penelitian ini terdiri dari daging ayam broiler, sagu dan bumbu lainnya. Perlakuan pada penelitian ini yaitu bentuk dan ukuran daging yakni P1 = daging dipotong kecil-kecil, P2 = daging digiling, dan P3 = daging dicincang. Penelitian ini menggunakan rancangan acak lengkap (RAL) yang terdiri dari 3 perlakuan dan 6 ulangan. Variabel pengukuran meliputi pengujian sifat fisik dan pengujian organoleptic. Data yang diperoleh dari setiap pengukuran variabel dianalisa dengan analisis varian pada tingkat kepercayaan 95% dan dilanjutkan dengan uji BNT untuk setiap perbedaan rataan pada semua variabel penelitian. Hasil penelitian menunjukan bahwa potongan daging pada produk Ilabulo tidak memberikan pengaruh yang nyata terhadap kadar sifat fisik daging. Namun pada uji organoleptik bentuk potongan daging memberikan pengaruh yang berbeda nyata terhadap terhadap citarasa, warna, tekstur, aroma. Warna produk ilabulo, panelis lebih menyukai daging yang dicincang, sementara untuk aroma ilabulo daging yang giling dan dicincang lebih disukai oleh panelis, demikian pula cita rasa ilabulo masih panelis lebih menyukai daging yang dicincang. Untuk variabel tekstur daging yang dicincang lebih disukai dibanding dengan daging yang dipotong kecil-kecil. Kesimpulan bahwa produk ilabulo yang berasal dari daging broiler yang dipotong kecil-kecil, digiling dan dicincang tidak memberikan perbedaan dilihat dari aspek pH, daya mengikat air dan kadar air. Namun daya akseptabilitas lebih diminati produk ilabulo yang berasal dari daging broiler yang dicincang Kata kunci : makanan ilabulo, daging broiler, bentuk dan potongan daging
T. Akhdiat, N. Widjaya, H. Permana, R. F. Christi, A. Suherna
Published: 9 July 2021
ZOOTEC, Volume 41, pp 355-363; https://doi.org/10.35792/zot.41.2.2021.35377

Abstract:
Ransum yang diberikan ditambahkan premix yang bermanfaat untuk pertumbuhan serta produksi susu sapi perah. Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui produksi susu dan kualitas susu sapi perah yang ditambahkan premix dalam ransum. Metode yang digunakan dalam penelitian adalah rancangan acak kelompok (RAK) dengan tiga macam perlakuan pemberian premix sebanyak 90 gram, pemberian premix sebanyak 70 gram, pemberian premix sebanyak 50 gram masing-masing diulang sebanyak 6 ulangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian 50 gram premix berpengaruh nyata terhadap produksi susu sapi Friesien Holstein dengan jumlah 19,41 liter/ekor/hari sedangkan terhadap kualitas susu (berat jenis, kadar lemak, protein) memberikan pengaruh tidak nyata. Pemberian premix sebanyak 50 gram dapat meningkatkan jumlah produksi susu tetapi tidak mampu meningkatkan kualitas susunya. Kata kunci: premix, produksi susu, kualitas susu, sapi FH
R Ramlah, T.A. Ransaleleh, M.J. Nangoy
Published: 9 July 2021
ZOOTEC, Volume 41, pp 389-397; https://doi.org/10.35792/zot.41.2.2021.35548

Abstract:
Grooming merupakan salah satu tingkah laku pada hewan untuk merawat dirinya dari ektoparasit yang melekat pada rambut di permukaan tubuhnya. Grooming yang dilakukan hewan pada dirinya sendiri disebut autogrooming, dan grooming yang dilakukan secara perpasangan disebutallogrooming. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui deskripsi, frekuensi, dan lama autogrooming dan allogrooming. Materi penelitian ini menggunakan tujuh ekor kelelawar, diantaranya ada dua ekor kelelawar yang difokuskan, terdiri dari satu ekor jantan dan satu ekor betina. Teknik pengambilan data yaitu melihat, mengawasi dan mencatat. Metode yang digunakan yaitu observasi. Variabel dalam penelitian ini terdiri atas deskripsi tingkah laku autogrooming dan allogrooming berdasarkan frekuensi dan lama. Data yang diperoleh dianalisis dan dibahas secara deskriptif. Hasil yang diperoleh yaitu frekuensi dan lama autogrooming dilakukan oleh betina sebanyak 10,72 kali selama 407,76 detik, jantan 9,84 kali selama 397,32 detik. Sedangkan frekuensi allogrooming yang dilakukan oleh betina ke betina sebanyak 0,58 kali selama 4,86 detik, jantan ke betina sebanyak 0,29 kali selama 12,29 detik. Interval waktu grooming paling tinggi dilakukan pada pukul 22.00-24.00. Kata kunci: Grooming,Ex Situ, Pteropus alecto
H.F.N. Lapian
Published: 9 July 2021
ZOOTEC, Volume 41, pp 569-575; https://doi.org/10.35792/zot.41.2.2021.37378

Abstract:
The diversity of farm animals is the result of the domestication of species through a long process of migration, selection, adaptation, and other natural events. This species diversity of farm animals needs to be conserved through demographic characteristics, recording of the production environment, and effective data management. In this process, the data presented based on molecular biology tracing becomes very important because of the discovery of so many breedslivestock found today, especially horses and chickens. Data based on production records or morphological characteristics becomes difficult to use in an effort to determine the species hierarchy of horses and chickens, especially in population studies that are mostly carried out in livestock studies. Through molecular studies, variations in the genetic diversity of horses and chickens will be easier to understand. The domestication of chickens is believed to be the result of several domestication events, most notably the red junglefowl (Gallus gallus) and may also involve Gallus sonneratii and possibly Gallus lafayettii. Horses were domesticated in broad areas of Eurasia steppe. It is thought that mares underwent the domestication process many times, but few stallions contributed to the genetic formation of domesticated horses. Keywords: Genetic Diversity, Horses, Chickens, Domestication, Livestock genetic database
F. Datuela, A H.S Salendu, L S Kalangi, E Wantasen
Published: 9 July 2021
ZOOTEC, Volume 41, pp 489-499; https://doi.org/10.35792/zot.41.2.2021.36810

Abstract:
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor yang mempengaruhi produksi dan keuntungan peternakan sapi potong di Desa Sidodadi Kecamatan Sangkub Kabupaten Bolaang Mongondow Utara. Penelitian ini dilaksanakan di Kelompok Ternak “Beringin Jaya” dengan waktu penelitian selama satu bulan, yaitu dari bulan Januari – Februari 2020. Pengumpulan data mengunakan teknik wawancara pada responden peternak sapi potong dengan menggunakan kuisioner yang telah disiapkan. Penentuan sampel adalah total sampling yaitu seluruh peternak di kelompok beringin jaya melakukan usaha ternak sapi potong. Kelompok beringin jaya telah berdiri sejak 2015 dengan beranggotakan 13 orang. Jumlah keuntungan peternakan ternak sapi potong yang dipelihara secara semi intensif di kelompok ternak “Beringin Jaya” Desa Sidodadi rata - rata dalam satu periode sebesar Rp. 344.034.559. Faktor yang mempengaruhi produksi peternakan sapi potong di kelompok ternak “Beringin Jaya” Desa Sidodadi yaitu variabel pakan dan tenaga kerja sedangkan faktor yang mempengaruhi keuntungan peternakan sapi potong di kelompok “Beringin Jaya” Desa Sidodadi yaitu variabel biaya pakan dan biaya sapi bakalan
A.G. Rumansi, Meity Sompie, J.H.W. Pontoh, S.C. Rimbing
Published: 9 July 2021
ZOOTEC, Volume 41, pp 364-370; https://doi.org/10.35792/zot.41.2.2021.35400

Abstract:
Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji pengaruh penambahan berbagai konsentrasi gelatin terhadap sifat fisikokimia dari sosis daging ayam. Bahan utama yang digunakan dalam penelitian ini adalah daging ayam broiler segar, gelatin kulit sapi. Penelitian ini menggunakan rancangan acak lengkap (RAL) dengan perlakuan penambahan berbagai konsentrasi gelatin (0%, 5%, 10% dan 15%) masing – masing perlakuan diulang sebanyak empat kali. Variabel yang dianalisis yaitu nilai pH, susut masak, daya mengikat air dan keempukan. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa penambahan berbagai konsentrasi gelatin pada perlakuan R0, R1, R2 dan R3 memberikan pengaruh berbeda yang sangat nyata (P<0,01) terhadap nilai susut masak dan berbeda nyata (P<0,05) terhadap nilai pH, daya mengikat air dan keempukan sosis. Berdasarkan hasil dan pembahasan dapat disimpulkan bahwa penambahan konsentrasi gelatin kulit sapi sebanyak 10% menghasilkan fisikokimia sosis ayam yang baik (nilai pH 7,0, susut masak 2,30%, daya mengikat air 54,62% dan keempukan 5,25 mm/menit).
S. Mandjurungi, D.B.J. Rumondor, M.R. Tinangon, E.H.B. Sondakh
Published: 11 January 2022
ZOOTEC, Volume 42, pp 9-14; https://doi.org/10.35792/zot.42.1.2022.38517

Abstract:
Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui level penggunaan santan terhadap sifat kimia dari produk abon berbahan baku daging ayam pelur afkir. Materi penelitian terdiri dari daging ayam petelur afkir, santan kelapa, bumbu pembuatan abon. Penelitian ini menggunakan rancangan acak lengkap (RAL) dengan perakuan penambahan santan kelapa yang terdiri dari p1 150 mL, p2 200 ml, p3 250 mL, dan p4 300 mL dengan komposisi daging untuk setiap perlakuan sebanyak 300 g. Setiap perlakuan masing-masing diulang sebanyak 4 kali. Variabel yang diamati adalah kadar air, protein, lemak dan kolestrol. Hasil penelitian menunjukan bahwa penambahan santan kelapa memberikan pengaruh yang berbeda tidak nyata (P>0,05) terhadap nilai kadar air, protein dan kolestrol, tetapi terhadap nilai lemak menunjukan pengaruh yang berbeda nyata (P<0,05). Berdasarkan hasil analisis data dan pembahasan dapat disimpulkan bahwa penggunaan santan kelapa sampai pada 150 - 300 mL dengan komposis daging 300 g sudah dapat mempertahankan kandungan nutrien terdiri dari kadar air, protein, lemak dan kolestrol produk ayam petelur afkir. Kata Kunci : abon, daging ayam afkir, santan kelapa.
T. Lenzun, M. Sompie, S.E. Siswosubroto
Published: 9 July 2021
ZOOTEC, Volume 41, pp 340-347; https://doi.org/10.35792/zot.41.2.2021.34788

Abstract:
Penelitian ini telah dilaksanakan dengan tujuan untuk mengkaji bagaimana pengaruh penambahan gelatin terhadap susut masak, daya mengikat air, keempukan dan nilai pH sosis daging sapi. Bahan utama yang digunakan dalam penelitian ini adalah daging sapi segar dan gelatin kulit sapi. Penelitian ini menggunakan rancangan acak lengkap (RAL) 4 x 4 dengan perlakuan penambahan bubuk gelatin (0%, 5%, 10%, dan 15%) masing-masing perlakuan diulang sebanyak 4 kali. Variabel yang dianalisis yaitu susut masak, daya mengikat air, keempukan dan nilai pH. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penambahan gelatin pada perlakuan R0, R1, R2 dan R3 memberikan pengaruh yang sangat nyata (P<0,01) terhadap susut masak dan keempukan, dan berpengaruh nyata (P<0,05) terhadap daya mengikat air dan nilai pH. Berdasarkan hasil analisis data dan pembahasan dapat disimpulkan bahwa penambahan bubuk gelatin kulit sapi dengan level 15% pada adonan sosis sapi menghasilkan susut masak, daya mengikat air keempukan dan nilai pH yang baik. Kata kunci : Gelatin, Kulit sapi, Sosis daging sapi
L.A.Y. Tumober, A. Yelnetty, R. Hadju, G.D.G. Rembet
Published: 9 July 2021
ZOOTEC, Volume 41, pp 561-568; https://doi.org/10.35792/zot.41.2.2021.37225

Abstract:
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh persentase carboxy methyl cellulose (CMC) terhadap waktu leleh, pH, dan sifat sensoris es krim probiotik. Es krim probiotik menggunakan bakteri probiotik yakni Lactobacillus acidophilus, Lactobacillus bulcariccus, dan Streptococcus thermophiles sebagai starter. Bahan-bahan lain yang digunakan adalah: CMC, susu UHT, telur, agar-agar, whipped cream dan susu bubuk serta gula. Penelitian ini menggunakan rancangan acak lengkap (RAL) dengan 6 perlakuan dan 5 ulangan untuk pengujian waktu leleh, dan pH, sedangkan untuk pengujian sensoris (warna, aroma, tekstur, dan cita rasa) es krim probiotik dengan menggunakan uji Skala Hedonik terhadap 45 panelis tidak terlatih. Perlakuan yang di gunakan pada penelitian ini antara lain : tanpa perlakuan P0 : Es Krim Probiotik + 0% CMC, P1 : Es Krim Probiotik + CMC 0,4% , P2 : Es Krim Probiotik + CMC 0,8%, P3 : Es Krim Probiotik + CMC 1,2%, P4 : Es Krim Probiotik + CMC 1,6%, P5 : Es Krim Probiotik + CMC 2,0%. Hasil analisis keragaman menunjukkan bahwa penggunaan carboxy methyl cellulose (CMC) memberikan respon berbeda tidak nyata terhadap sifat sensoris warna, tekstur dan aroma es krim probiotik, tetapi berbeda nyata terhadap waktu leleh, pH, dan sensoris (citarasa) es krim probiotik.Untuk variable yang berbeda nyata dilanjutkan dengan uji BNJ. Berdasarkan hasil pada penelitian yang dilakukan disimpulkan bahwa es krim probiotik penggunaan persentase CMC 1,2% merupakan perlakuan terbaik terhadap uji waktu leleh, pH dan sensoris (citarasa) es krim probiotik. Kata Kunci : CMC, es krim probiotik, waktu leleh, pH, dan cita rasa
M.A. Ratulangi, L.R. Ngangi, Z. Poli
Published: 9 July 2021
ZOOTEC, Volume 41, pp 444-450; https://doi.org/10.35792/zot.41.2.2021.36525

Abstract:
Tujuan penelitian ini untuk mengetahui kinerja reproduksi sapi betina peranakan ongole sebagai akseptor inseminasi buatan di Kecamatan Ratahan Kabupaten Minahasa Tenggara. Metode penelitian yang dilakukan dalam penelitian ini adalah metode survey dengan menggunakan kuesioner sebagai alat pengumpul data. Dari hasil wawancara dengan peternak didapatkan 30 ekor sapi betina yang menjadi akseptor inseminasi buatan dan telah mengalami lebih dari 2 kali beranak. Variabel yang diukur yaitu umur awal sapi dijadikan akseptor, tanda-tanda estrus yang terdeksi, Service per Conception, Calving Interval. Data dari setiap variabel dihitung secara deskriptif melalui ukuran pemusatan dan standar deviasi dan ditampilkan dalam bentuk tabel. Hasil penelitian di peroleh bahwa kinerja reproduksi sapi betina peranankan ongole sebagai akseptor inseminasi buatan di kecamatan ratahan kabupaten minahasa tenggara adalah dengan service per conception 1,5 ± 0,73; calving interval 442 ± 13,49. Kesimpulannya adalah kinerja reproduksi sapi betina Peranakan Ongole sebagai akseptor inseminasi buatan di Kecamatan Ratahan sudah tergolong baik. Kata kunci:Akseptor Inseminasi Buatan, Kinerja reproduksi, Sapi Peranakan Ongole
R.F. Mamonto, D.B.J. Rumondor, G.D.G. Rembet, M.D. Rotinsulu
Published: 9 July 2021
ZOOTEC, Volume 41, pp 457-463; https://doi.org/10.35792/zot.41.2.2021.36591

Abstract:
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pencincangan, penggilingan dan pengirisan daging ayam petelur afkir terhadap daya mengikat air (DMA), kadar air, pH dan organoleptik ilabulo. Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan. Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 3 (tiga) perlakuan (P1) pencincangan, (P2) penggilingan, dan (P3) pengirisan dan 6 (enam) ulangan. Hasil ANOVA (analysis of variance) menunjukan bahwa perlakuan pencincangan, penggilingan dan pengirisan memberikan pengaruh yang tidak nyata (P>0,05) terhadap DMA, kadar air, pH dan sifat organoleptik ilabulo. Nilai rataan pada perlakuan P1 (Pencincangan) untuk DMA (30,20), Kadar air (42,06), pH (5,25) Organoleptik (warna 5,1, aroma 4,8, tekstur 4,6, cita rasa 5,1), P2 (Penggilingan) DMA(32,75), Kadar air (43,67), pH (5,21), Organoleptik (warna 5,2, aroma 5,3, tekstur 4,6, cita rasa 5,2), P3 (Pengirisan) DMA (31,35), Kadar air (42,46), pH (5,20), Organoleptik (warna 4,7, aroma 5,3, tekstur 4,5, cita rasa 4,9) tidak berbeda nyata pada (P>0,05). Berdasarkan hasil analisis data dan pembahasan untuk semua variable maka disimpulkan bahwa perlakuan pencincangn, penggilingan dan pengirisan daging ayam petelur afkir memberikan pengaruh yang sama terhadap kadar air, daya mengikat air, pH dan organoleptik ilabulo Kata Kunci : Daging ayam afkir, pencincangan, penggilingan, pengirisan, ilabulo.
V A Jacob, Z M Warouw, S O.B Lombogia
Published: 9 July 2021
ZOOTEC, Volume 41, pp 414-423; https://doi.org/10.35792/zot.41.2.2021.35650

Abstract:
Penelitian ini dilaksanakan di Kecamatan Kawangkoan Utara di Desa Kiawa Dua Timur Kabupaten Minahasa pada bulan Februari sampai Maret 2021. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisis tentang bagaiamana kinerja penyuluh dalam meningkatkan adopsi inovasi usaha peternakan babi pada peternak di Kecamatan Kawangkoan Utara di Desa Kiawa Dua Timur.Penelitian ini berbentuk survey dan merupakan penelitian kualitatif dengan menggunakan kuesioner yang dibagikan kepada peternak babi. Dalam penentuan sampel digunakan metode Purpossive Sampling dengan jumlah sampel responden yang terpilih yaitu 30 orang peternak babi. Analisis yang dipakai dalam penelitian adalah metode analisis Chi-Square, serta variabel yang diukur dalam penelitian ini adalah kinerja penyuluh yaitu cara seorang penyuluh melaksanakan tugas dan perannya yang meliputi aktifitas dan prestasi kerjanya dalam kegitan penyuluhan diwilayah kerjanya. Untuk menguji variabel kinerja penyuluh terhadap peningkatan adopsi inovasi maka variabel kinerja penyuluh diukur menggunakan skala ordinal. Kemudian variabel adopsi inovasi mengacu pada melihat perubahan perilaku peternak babi yakni pengetahuan, sikap dan keterampilan. Proses penerimaan inovasi dalam adopsi ialah perubahan perilaku pada seseorang yang berupa pengetahuan maupun keterampilan dan sikap dalam menerima inovasi yang disampaikan penyuluh kepada masyarakat. Kemudian diukur menggunakan skala ordinal. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa kinerja penyuluh dalam melaksanakan tugas dan perannya, mampu memberikan perubahan terhadap adopsi inovasi sehingga terdapat peningkatan dibidang penegtahuan, sikap, keterampilan dari peternak babi.
M.N. Regar, Y.H.S. Kowel
Published: 31 January 2021
ZOOTEC, Volume 41, pp 311-316; https://doi.org/10.35792/zot.41.1.2021.33862

Abstract:
DIGESTIBILITY OF BROILER RATIONS CONTAINING THE COMBINATION TURMERIC, GARLIC WITH THE ZINC MINERALS. This study aims to determine the digestibility value of protein and energy rations containing a combination of turmeric, garlic and zinc minerals. A total of 20 broilers aged 5 weeks were used in this study. The experiment used a completely randomized design (CRD) with 4 treatments and 5 replications. The treatment ration formula consisted of: R1 = basal ration, R2 = basal ration + turmeric powder 1.5% + ZnO 180 ppm, R3 = basal ration + 2.5% garlic powder + ZnO 180 ppm, R4 = basal ration + antibiotics. Digestibility measurement was done by total collection method with adjustment period for 5 days and data collection for 3 days. The variables observed were protein consumption, protein digestibility and ration energy. The results showed that the combination treatment of turmeric with zinc minerals, the combination of garlic and zinc mineral, and the combination of basal ration with antibiotics significantly affected protein digestibility but did not affect protein consumption and energy digestibility. It can be concluded that the combination of turmeric, garlic with the mineral zinc results in good protein digestibility and energy.Keywords: broiler chicken, turmeric, garlic, zinc minerals, digestibility
J.R. Leke, F.N. Sompie, F.J. Nangoy, B. Haedar, E.H.B. Sondakh
Published: 31 January 2021
ZOOTEC, Volume 41, pp 303-310; https://doi.org/10.35792/zot.41.1.2021.33860

Abstract:
INTERNAL QUALITY OF MB 402 CHICKEN EGG FED GARLIC FLOUR (Allium sativum L) AS FEED ADDITIVE IN THE RATION. This study aims to determine the internal quality of chicken eggs of MB 402 fed garlic flour (Allium sativum l) as a feed additive in the ration. Eggs are one of the livestock products that have high nutritional value and are complete, at a relatively cheap price. Garlic contains active compounds making it a potential feed additive. The goals of feed additives are the health of livestock, increase production and productivity, reduce mortality, fulfill chicken nutrition, and increase growth acceleration (growth promoter). This research has been carried out at the CV Gunawan Farm for 6 weeks. The research material used 100 laying hens with 5 treatments and 5 replications and each replication was occupied by 4 laying hens. The design used was a completely randomized design, if there are differences, continue with Duncan's Multiple Range Test. The treatment arrangements used were as follows: R0 = 100% basal ration (RB); R1 = RB + 1% TBP flour; R2 = RB + 2% TBP flour; R3 = RB + 3% TBP flour; R4 = RB + 4% TBP flour. Based on the results of data analysis and discussion for all variables, that the treatment of garlic flour up to 4% in the ration of laying hens had no significant effect (P> 0.05) on the egg white index and egg yolk index, but had a very significant effect (P <0.01) on the yolk color. Based on the results of data analysis and discussion of all variables, it is concluded that giving garlic flour up to 4 percent can improve egg quality.Keywords: internal quality of eggs, garlic (Allium sativum l)
H.J. Kiroh, M.J. Hendrik, F.S. Ratulangi, S.C. Rimbing
Published: 31 January 2021
ZOOTEC, Volume 41, pp 291-302; https://doi.org/10.35792/zot.41.1.2021.33525

Abstract:
STUDY OF SPREADING POPULATION AND HABITAT CARRYING CAPACITY OF THE SULAWESI BEAR CUSCUS (Ailurops ursinus) AT MANADO TUA ISLAND OF NORTH SULAWESI. Manado Tua Island is still keeping the endemic Sulawesi bear cuscus (Ailurops ursinus), dwarf cuscus (Strigocuscus celebensis), black macaque (Macaca nigra), tarsius (Tarsius spectrum) as well as some kinds of plant biodiversity including forest galangal (Alpina sp.) and forest pandanus (Pandanus sp.), all should be protected intensively. Objective of this study was to evaluate spreading population and habitat carrying capacity of bear cuscus (Ailurops ursinus) at the Island of Manado Tua I and II, to be used for recommendation package of conservation model on the base of administrative condition of Manado governmental areas. The Variables observed in this study were population density of bear cuscus and dwarf cuscus as well as their habitat carrying capacity of plant vegetation including categories of try, bush, thicket and seedling levels. Data of wild animals were found by Line Transect Method. Plant vegetations were calculated based on the important index values of each category level. Result showed that Manado Tua I Island was inhabited by dwarf cuscus (Strigocuscus celebensis) of about 295 heads and bear cuscus (Ailurops Ursinus) of about 49 heads. Manado Tua II Island was inhabited by dwarf cuscus (Strigocuscus celebensis) of about 305 heads and bear cuscus (Ailurops Ursinus) of about 57 heads. Habitat carrying capacity of try vegetation level of the important index values was about 298,65% and seedling vegetation level of about 300,68%. These mean that carrying capacity was supporting the conservation for both kinds of cuscus in Manado Tua Island. These population of the endemic wild animals in Manado Tua I dan II Islands should be protected as their habitat area was degrading due to uncontrol illegal logging and hunting by local community.Keywords: habitat carrying capacity, dwarf cuscus, bear cuscus
M.D Tooy, N.N. Lontaan, L.C.M. Karisoh, I. Wahyuni
Published: 31 January 2021
ZOOTEC, Volume 41, pp 283-290; https://doi.org/10.35792/zot.41.1.2021.33524

Abstract:
PHYSICAL QUALITY OF EGGS DIPPED IN A COMMERCIAL GREEN TEA (Camellia sinensis) SOLUTION. Studies conducted to determine and understand the physical quality of broiler eggs soaked in commercial green tea solution. The variables observed were the decrease in egg weight, protein index, egg yolk index and Haugh unit. This study used a fully randomized design (CRD) with 5 treatments as follows: P0 = no immersion, P1 = green tea solution concentration 40%, P2 = green tea solution concentration 50%, P3 = green tea solution concentration 60% , P4 = concentration of the green tea solution 70% with 4 repetitions. The results showed that the immersion of the commercial green tea solution was not significant (P> 0.05) from the egg yolk index and Haugh Unit index, but significant (P <0.05) from the decrease in egg weight and protein index. The average reduction in egg weight had the lowest value at a concentration of 50% with a value of 3.91% and the highest value at no immersion with a value of 5.40%. The protein index had the highest value at a concentration of 40%, namely 0.13 compared to the concentration of other solutions and without immersion. The egg yolk index has the highest average value at a solution concentration of 40% with a value of 0.16 compared to the concentration of other solutions or without immersion. Haugh Unit has the highest average value at a solution concentration of 40% with a value of 51.64 and compared to the concentration of other solutions and without immersion. Eggs soaked in a commercial green tea solution can suppress the physical quality of chicken eggs at a concentration of 40% and are more effective than other commercial green tea solutions.Keywords: eggs, green tea, physical quality.
C. Singal, L.R. Ngangi, H.F.N. Lapian, S.C. Rimbing
Published: 31 January 2021
ZOOTEC, Volume 41, pp 277-282; https://doi.org/10.35792/zot.41.1.2021.33477

Abstract:
RACE HORSE TRAINING PATTERNS IN PINABETENGAN VILLAGE AND SOUTH PINABETENGAN, WEST TOMPASO DISTRICT. This study aims to look at the training patterns of racehorses in Pinabetengan and South Pinabetengan villages, West Tompaso sub-district. The research material used in this study was race horse livestock in Pinabetengan and South Pinabetengan villages. Horses that were sampled were racehorses that were still active. The number of samples taken in South Pinabetengan village was 11 trains, while in Pinabetengan village there were 14 tails. There were differences in the number of exercises and the duration of the exercises using the trot, canter and gallop patterns in Pinabetengan and South Pinabetengan villages while the walking patterns were exactly the same. In the implementation of patterns and exercises between Pinabetengan and South Pinabetengan villages, Pinabetengan tends to apply more daily training with trot, canter and gallop patterns, while South Pinabetengan villages apply more trot, canter and gallop pattern precursors. Keywords: Race horse, exercise pattern, Pinabetengan dan South Pinabetengan village
C Posumah, E Wantasen, M A. V Manese, L S Kalangi
Published: 8 January 2021
ZOOTEC, Volume 41, pp 265-276; https://doi.org/10.35792/zot.41.1.2021.33211

Abstract:
FACTORS INFLUENCING GOAT LIVESTOCK BUSINESS INCOME IN PUSOMAEN SUBDISTRICT SOUTHEAST MINAHASA REGENCY This study aims to determine the income of goat livestock as well as factors that affect the income of goat farms in Pusomaen Subdistrict. This research was conducted in Pusomaen Subdistrict, Southeast Minahasa Regency with a research period of one month, from January – February 2020. This study uses survey method. Data collection using interview techniques on goat breeder respondents using questionnaires that have been prepared. The method of determining the location of farmer samples was by purposive sampling on six villages that currently has biggest population of goat in this research site. Samples of breeders then were selected by total sampling sampling of all goat breeders in Pusomaen Subdistrict which amounts to 58 breeders. The average income gained by goat breeders in Pusomaen sub-district was IDR 2,518,017.24/year by ownership of 5 cattles, with the average revenue from the sale of goats as much as IDR. 3,635,344.82/year, production costs incurred by farmers amounted to IDR. 1,117,327.58/year Factors that have very significant effect on the income of goat livestock business was the selling price and feed costs whereas the number of livestock sold had significant effect on farmers income from goat business
A K Rintjap, G D Lenzun, E Wantasen
Published: 14 January 2021
ZOOTEC, Volume 41, pp 256-264; https://doi.org/10.35792/zot.41.1.2021.33201

Abstract:
THE PERCEPTION OF PIG FARMERS ON THE PERFORMANCE OF FIELD AGRICULTURAL EXTENDERS IN SONDER DISTRICT, MINAHASA DISTRICT. This study aims to determine the perception of pig breeders on the performance of field agricultural extension officers (PPL) in Sonder District, Minahasa Regency. This research was conducted using survey methods, direct observation and interviews using a questionnaire. The sample was determined by purposive sampling with the criteria that the largest number of pig breeders received counseling from field agricultural extension workers (PPL). Types of data are primary data and secondary data and use the Slovin formula and Likert scale. Farmers 'perceptions of extension workers' performance were reviewed from the aspect of service quality is agree, from the aspect of responsiveness is not the same, and from the aspect responsibility is doubtful.
A I. Z Radjab, J Lainawa, G D Lenzun
Published: 7 January 2021
ZOOTEC, Volume 41, pp 246-255; https://doi.org/10.35792/zot.41.1.2021.33091

Abstract:
THE ROLE OF COUNSELING IN INSCREASING ADOPTION INOVATION OF FEED TECHNOLOGY ON BEEF CATTLE IN DISTRICT OF TOTIKUM BANGGAI ISLANDS. The aim of this study was to determine the role of guidance in introducing innovations in the use of feed technology in increasing the cattle population.The respondents in this qualitative study were determined by means of "targeted sampling", with 22 breeders being selected as respondents, based on the criteria of having more than 3 cattle with experience over 3 years. The results showed that the advice given to respondents did not relate to specific feed technology material, although farmers really need this knowledge for the development of livestock businesses. In addition, the perception of farmers is that due to their formal educational background, the existing cultivation workers fall under the competence of animal husbandry experts and were not in the animal husbandry field. In general, cattle farming in Totikum Subdistrict, Banggai Islands Regency was still aimed at meeting family food needs, not for commercial purposes, but when in an emergency situation farmers sell cattle through intermediaries in the village at a price that was not affordable for farmers. Therefore, it was concluded that the expansion activities carried out in Totikum District, Banggai Islands Regency played no role in the introduction of innovations in cattle feed technology.
P Paat, F N. S Oroh, R M. F Osak, I D. R Lumenta
Published: 3 January 2021
ZOOTEC, Volume 41, pp 240-245; https://doi.org/10.35792/zot.41.1.2021.32953

Abstract:
THE RELATIONSHIP AMONG PERCEPTIONS, ATTITUDES, AND THE NUMBER OF FAMILY MEMBERS WITH THE CONSUMPTION OF PYTON SNAKE MEAT BY COSTUMERS IN “BERIMAN” MARKET OF TOMOHON CITY This research was conducted at the Extreme Market (Pasar Beriman), Tomohon City. The purpose of this study was to see the effect of perceptions, attitudes and the number of household members on the consumption of python meat in Tomohon City. This study used a survey method with purposive sampling sampling. Analysis of the data model using Pearson Correlation analysis. The results showed that the variable perception and consumption of python meat had a negative and insignificant relationship. The relationship between attitude variables and the variable consumption of python meat has a negative and insignificant relationship. Furthermore, the relationship variable between the number of family members and the variable consumption of python meat has a negative and insignificant relationship. The results of this study indicate that the perception variable has a negative and insignificant relationship with the total consumption of python meat; Attitude variable has a negative and insignificant relationship with the total consumption of python meat; and the relationship variable the number of family members has a negative and insignificant relationship with the variable consumption of python meat.
F.S. Ratulangi, S.C. Rimbing
Published: 31 January 2021
ZOOTEC, Volume 41, pp 230-239; https://doi.org/10.35792/zot.41.1.2021.32865

Abstract:
SENSORICAL QUALITY AND PHYSICAL PROPERTIES OF CHICKEN NUGGETS WHICH IS ADDED PURPLE ROAD UBI FLOUR (Ipomoea batatas L). This study aims to determine the benefits of using purple sweet potato flour (Ipomoea batatas L) on the sensory quality and physical properties of chicken nuggets. The research was carried out in 3 stages, namely (1) making purple sweet potato flour, (2) making chicken nugets with the addition of purple sweet potato flour, (3) testing chicken nuggets including sensory quality testing using 35 untrained panelists to measure the level of acceptance of aroma, color, texture and taste, physical properties test to determine water binding power and cooking losses. This research was conducted experimentally using a completely randomized design with 4 additional treatments of purple sweet potato flour, namely P1 = 10 g, P2 = 20 g, P3 = 30 g and P4 = 40 g, each treatment was repeated as many as 35 (panelists) for the test. sensory quality and 5 replications for physical characteristics test. Data from the observation of sensory quality test, physical properties were tabulated and analyzed by analysis of variance (Ansira) and if there were significant differences between treatments, it was continued with Duncan's multiple test (DMRT). The results of the research with analysis of variance showed that the addition of 10, 20, 30 and 40 grams of purple sweet potato had a very significant effect (P 0.05) on aroma and taste. The results of Duncan's multiple further test showed that the P4 treatment of 40 g of purple sweet potato gave the best results on color, texture, water binding power and cooking loss. Based on the results and discussion, it can be concluded that the addition of 40 g of purple sweet potato flour in the manufacture of chicken nuggets provides good sensory quality and physical properties.Keywords: Chicken nuggets, purple sweet potato flour, sensory quality, physical properties
A.P. Ariman, M.J. Nangoy, Y.L.R. Tulung, G.V.J. Assa
Published: 31 January 2021
ZOOTEC, Volume 41, pp 223-229; https://doi.org/10.35792/zot.41.1.2021.32846

Abstract:
This study aims to identify the types of ticks, calculate the prevalence of tick infestations, preferences for body part infestations and preferences for sex infestations in horses in Pinabetengan Raya Village, West Tompaso District, Minahasa Regency, North Sulawesi Province. This research was carried out for one month (thirty days) on 50 horses. Ticks are collected manually using tweezers in sequence starting from the head, neck, back, abdomen, groin, tail and legs. The samples were put in bottles containing 70% alcohol. The results of this study found that the type of tick that infested horse livestock was Boophilus microplus. The prevalence of infestation is 60.78%. The preference based on body part was found to be highest in the neck with an average of 2.82 individual ticks / horses. The average head was 1.75, the back was 0.25, the abdomen was 0.72, the groin was 1.27, the legs were 0.25 and the tail was 0.74 of the individual ticks/horse. Infestation preference based on sex was found to be higher for females (average 10.48 individual ticks / horse) when compared to males (mean 2.64 individual ticks/horse). The type identification found was Boophilus microplus with an infestation prevalence of 62%, with the highest preference on the neck with an average of 2.82% and higher mares with an average of 10.48% individual ticks/horse livestock.Keywords : Ticks Infestation, Prevalence, Preference, Horse
F.B. Lilir, C.K.M. Palar, N.N. Lontaan
Published: 31 January 2021
ZOOTEC, Volume 41, pp 214-222; https://doi.org/10.35792/zot.41.1.2021.32667

Abstract:
EFFECT OF TIME DRYING ON THE PROCESSING OF COW SKIN CRACKERSThis study aims to determine the effect of drying time in the processing of cowhide into crackers. The main material used is cow skin obtained from stomach. This research was conducted through an experiment using a completely randomized design (CRD) consisting of 3 treatments and 5 replications. The research variables observed included moisture content, development volume, color, aroma, crunchy, and taste. Analysis of variance showed that the effect of drying time on the process of making cowhide crackers had a significant effect (P <0.05) on moisture content. While the effect of drying time on the process of making cowhide crackers on the volume of development, color, aroma, crispness, and taste had a very significant effect (P <0.01). The average value of moisture 2.84-2.31%, development volume 177.22 -1801.65% and the average value of cowhide crackers consisting of colors 3.87 - 5.05, aroma 3.80 - 4,92, crunchy 3.00 - 5.25 and taste 3.25 - 5.05. The conclusion of this study is that the processing of cowhide crackers with a drying time of 36 hours at 60 ° C can produce good quality and preferred cowhide crackers.Keywords: Cowhide, Drying time, Cowhide crackers
S J Hutabarat, A A Sajow, S O. B Lombogia, Z M Warouw
Published: 17 February 2021
ZOOTEC, Volume 41, pp 205-213; https://doi.org/10.35792/zot.41.1.2021.32658

Abstract:
THE EXTENSION EFFECT ON THE INCOME OF PIG FARMERS IN KIAWA DUA TIMUR VILLAGE, KAWANGKOAN UTARA SUB-DISTRICT. The research was conducted in Kiawa Dua Timur village, Kawangkoan district, Minahasa district for one month from June to July 2020. This study aims to determine the effect of counseling on increasing the income of pig farmer groups in Minahasa Regency by taking the case in Kiawa Dua Timur village, Kawangkoan Utara district. This research applies survey research in the form of descriptive tabular. Descriptive analysis is used to explain general things then tabular is used to explain the relationship between variables in tabular form. The survey was conducted by interview method with a questionnaire guide. Interviews were conducted using structured interview methods and questionnaire data collection methods which were distributed to thirty respondents of farmers. The results of study showed that extension services have a very big influence on increasing the income of the members of the pig farmers in the village of Kiawa Dua Timur. The income of farmers before counseling was Rp. 5.833 / month. Meanwhile, the farmer's income after the counseling was Rp.880.333/ month. The pig farming business carried out by the farmer group in Kiawa Dua Timur Village, North Kawangkoan District is economically profitable and feasible to develop.
J. Lahiwu, J.E.G. Rompis, S.E. Surtijono, M.R. Tinangon
Published: 17 February 2021
ZOOTEC, Volume 41, pp 197-204; https://doi.org/10.35792/zot.41.1.2021.32640

Abstract:
THE EFFECT OF THE DURATION OF COOKING DOG MEAT ON ORGANOLEPTIC QUALITY PROPERTIES. The purpose of this study was to determine the effect of cooking time on dog meat on its organoleptic qualities. The ingredients used were male dog meat aged 14 months, The meat dog was taken from the thigh as much as 3 kg and spices, four treatments were tested in this study, namely, P1: 60 minutes of cooking, P2: 80 minutes of cooking, P3: 100 minutes of cooking, P4: 120 minutes of cooking. This experiment used a completely randomized design (CRD) and was assessed by 40 panelists to determine the organoleptic properties of the cooking time dog meat. Measurement of organoleptic data using a hedonic scale consisting of variables of color, aroma, tenderness, texture, teste, to determine differences in treatment was carried out by the DMRT test. The results of this study indicated that the treatment had a very significant effect (P<0,01) on the color, aroma, tenderness, texture, and taste of dog meat- the condusion is based on the organoleptic quality characteristics, overall cooking time of dog meat is acceptable, but cooking time of 120 minutes is preferred and accepted by the panelists.Keywords: Cooking time, Dog meat, Organoleptic
Page of 10
Articles per Page
by
Show export options
  Select all
Back to Top Top