Refine Search

New Search

Results in Journal JURNAL ILMIAH SAINS: 277

(searched for: journal_id:(4261590))
Page of 6
Articles per Page
by
Show export options
  Select all
Laras Puput Insanni, Sucahyo Sucahyo, Desti Christian Cahyaningrum
JURNAL ILMIAH SAINS, Volume 22, pp 87-95; https://doi.org/10.35799/jis.v22i2.39785

Abstract:
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh konsentrasi probiotik terhadap kepadatan dan komposisi infusoria yang ditumbuhkan pada subtrat daun pisang (Musa paradisiaca). Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental Rancangan Acak Lengkap (RAL) satu faktor dengan lima taraf perlakuan yaitu konsentrasi probiotik 0 ml/l, 0,5 ml/l, 1 ml/l, 2 ml/l, dan 4 ml/l dengan pengulangan sebanyak 4 kali untuk setiap perlakuan. Pengamatan dilakukan pada hari ke 2, 4, 6, 8, 10, 12, dan 14 untuk memperoleh data berupa kepadatan infusoria, keanekeragaman spesies infusoria beserta jumlah individu per spesies. Data tersebut digunakan untuk mengetahui kepadatan, indeks keanekaragaman (H’), indeks dominansi, serta komposisi spesies infusoria pada setiap perlakuan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa konsentrasi probiotik berpengaruh signifikan terhadap kepadatan insufosia (sig 0,010) berdasarkan analisis One Way ANOVA. Indeks keanekaragaman infusoria termasuk dalam kategori rendah pada semua perlakuan. Sejalan dengan hasil tersebut, indeks dominansi pada semua perlakuan berada dalam kategori tinggi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Paramecium sp mendominasi komposisi infusoria pada semua konsentrasi probiotik. Konsentrasi probiotik sebesar 0,5 ml/l, 1 ml/l memicu pertumbuhan Chlorococcum dan digantikan populasi Trichocerca tenuior pada konsentrasi 2 ml/l dan 4 ml/l.Kata kunci: dominansi, infusoria, keanekaragaman, probiotik Probiotic Concentrations Effecton Density and Compotition of Infusoria Grown on Banana Leaf Substrate ABSTRACT This study aims to determine the effect of probiotic concentration on the density and composition of infusoria grown on banana leaf substrate (Musa paradisiaca). This research is an experimental study in a one-factor Completely Randomized Design (CRD) with five levels of treatment, namely the probiotic concentration 0 ml/l, 0,5 ml/l, 1 ml/l, 2 ml/l and 4 ml/l with 4 repetitions for each treatment. Observations were made on days 2, 4, 6, 8, 10, 12, and 14 to obtain data in the form of infusoria density, infusoria species diversity and the number of individuals per species. These data were used to determine the density, diversity index (H'), dominance index, and the composition of infusoria species in each treatment. The results showed that the concentration of probiotics had a significant effect on the density of insuffocia (sig 0.010) based on One Way ANOVA analysis. The infusoria diversity index was included in the low category in all treatments. In line with these results, the dominance index in all treatments was in the high category. The results showed that Paramecium sp dominated the composition of the infusoria at all concentrations. The probiotic concentration was 0,5ml/l; 1ml/l; stimulated the growth of Chlorococcum and was replaced by Trichocerca tenuior populations at concentrations of 2 ml/l and 4 ml/l. Keywords: dominance, infusoria, diversity, probiotic
Gading Wilda Aniriani, Marsha Savira Agatha Putri, Trisnawati Nengseh
Published: 5 December 2021
JURNAL ILMIAH SAINS, Volume 22, pp 67-74; https://doi.org/10.35799/jis.v22i1.35562

Abstract:
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh penambahan MBBR terhadap kualitas air limbah domestik Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) komunal di Pondok Pesantren Mahasiswa Universitas Islam Lamongan (Ponpesma Unisla). Sejak dibangunnya IPAL komunal belum pernah dilakukan pengujian kualitas air hasil olahan IPAL. Air hasil olahan IPAL tersebut dialirkan lansung pada irigasi pertanian, sehingga kualitas air limbah harus memenuhi standar baku mutu PermenLHK No.P68 Tahun 2016 agar aman dibuang pada lingkungan. Diharapkan penambahan MBBR dapat menurunkan kadar polutan yang ada pada air limbah sehingga aman ketika dibuang pada lingkungan. Data yang dihasilkan pada penelitian ini dideskripsikan menggunakan metode deskriptif analitik dan eksperimental dengan mendesain alat reaktor uji untuk MBBR bekerja untuk menurunkan kadar polutan yang ada pada air hasil olahan IPAL Pondok Pesantren Mahasiswa Universitas Islam Lamongan. Hasil yang diperoleh dalam pengujian parameter fisika, kimia dan biologi, MBBR dapat menurunkan kadar TSS, COD, BOD dan amonia berturut-turut sebesar 73.57%, 35.50%, 61.75% dan 29.10%. Sedangkan parameter yang mengalami kenaikan yaitu parameter pH kemudian minyak dan lemak sebesar 10.44%, 19.14%. Indeks MPN pada pengujian total coliform berjumlah 8/100 mL. Penelitian ini menyimpulkan bahwa MBBR hanya dapat menurunkan kadar TSS, COD, BOD dan amonia. persentase penurunan yang paling tinggi terdapat pada parameter BOD dan yang paling rendah amonia. Kata kunci: Instalasi pengolahan air limbah; moving bed biofilm reactor; kualitas air The Addition Efectivity of MBBR on Wastewater Treatment Plant Water Quality Islamic Boarding School Students of Lamongan UniversityABSTRACTThis study aims to determine the effect of the addition of MBBR on the quality of communal Wastewater Treatment Plant(WWTP) domestic wastewater at the Lamongan Islamic Student Islamic Boarding School, the treated water from the WWTP is channeled directly to agricultural irrigation, so that the quality of wastewater must meet the quality standards of the Minister of Environment and Forestry Regulation No. P68 of 2016 in order to be safely disposed of. on the environment. is expected that the addition of MBBR can reduce the levels of pollutants in wastewater so that it is safe when disposed of in the environment. The data generated in this study were described using descriptive analytical and experimental methods by designing a test reactor. The results obtained in physical, chemical and biological tests based on the parameters tested by MBBR can reduce the levels of TSS, COD, BOD, Ammonia by 73.57%, 35.50%, 61.75%, 29.10%. While the parameters that have increased are the pH parameters then oil and fat by 10.44%, 19.14%. MPN index in total coliform testing is 8/100 mL. MBBR can only reduce levels of TSS, COD, BOD and ammonia. Keywords: Moving bed biofilm reactor; wastewater treatment plant; water quality
Meriam Gratia Gabriel Wowor, Josua Tampara, Edy Suryanto, Lidya Irma Momuat
Published: 5 December 2021
JURNAL ILMIAH SAINS, Volume 22, pp 75-86; https://doi.org/10.35799/jis.v22i1.38954

Abstract:
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kandungan metabolit sekunder yang terdapat pada ekstrak etanol daun kalu burung, membuat masker peel-off berbahan aktif ekstrak etanol daun kalu burung dan menguji aktivitas antibakteri dari ekstrak etanol dan sediaan masker peel-off. Metode yang digunakan adalah preparasi sampel, ekstraksi, uji senyawa fitokimia, pembuatan masker peel-off, uji sifat fisik dan kimia masker meliputi uji organoleptik, stabilitas fisik, lama mengering dan pH, serta uji antibakteri. Hasil penelitian menunjukkan bahwa serbuk daun kalu burung memiliki kadar air sebesar 6.13% dan rendemen ekstrak etanol sebesar 10.34%. Ekstrak etanol daun kalu burung mengandung senyawa metabolit sekunder flavonoid, saponin, tanin, steroid dan alkaloid pada uji Dragendorff. Sediaan masker peel-off memiliki karakteristik fisik dan kimia yang aman digunakan pada kulit. Masker peel-off memiliki kisaran pH antara 5-6 dan lama mengering dengan kisaran antara 23-29 menit. Zona hambat pertumbuhan bakteri untuk ekstrak etanol daun kalu burung sebesar 12.33 mm dan masker peel-off mengandung daun kalu burung sebesar 9.67 mm. Penelitian ini menyimpulkan bahwa daun kalu burung mengandung metabolit sekunder yang memiliki aktivitas antibakteri baik dalam ekstrak etanolnya maupun dalam sediaan masker peel-off ekstrak dan mempunyai sifat fisik dan kimia yang aman. Kata kunci: antibakteri; fitokimia; kalu burung; masker peel-off Phytochemical Screening and Antibacterial Test of Peel-Off Mask with Ethanol Extracts of Kalu Burung Leaves (Barleria prionitis L.). ABSTRACT This research aims to determine the content of secondary metabolites contained in the ethanol extract of Kalu Burung leaves, to make peel-off masks from ethanol extract of Kalu Burung leaves and to test the antibacterial activity of ethanol extracts and peel-off masks. The methods used were sample preparation, extraction, testing of phytochemical compounds, making peel-off masks, testing the physical and chemical properties of masks such as organoleptic tests, physical stability, drying time and pH, as well as antibacterial tests. The results showed that the Kalu Burung leaf powder had a moisture content of 6.13% and an ethanol extract yield of 10.34%. The ethanol extract of Kalu Burung leaves contains secondary metabolites of flavonoids, saponins, tannins, steroids and alkaloids in the Dragendorff test. The peel-off mask has physical and chemical characteristics which are safe to use. Peel-off masks have a pH range of 5-6 and drying time of 23-29 minutes. The inhibition zone of bacterial growth for ethanol extract was 12.33 mm and the peel-off mask containing Kalu Burung leaves was 9.67 mm. In conclusion, Kalu Burung leaves contain secondary metabolites that have antibacterial activity both in the ethanol extract and in the peel-off extract mask with safe physical and chemical properties. Keywords: antibacterial; kalu burung leaves; peel-off mask; phytochemistry
Vistarani Arini Tiwow, Meytij Jeanne Rampe, Sulistiawaty Sulistiawaty
Published: 5 December 2021
JURNAL ILMIAH SAINS, Volume 22, pp 60-66; https://doi.org/10.35799/jis.v22i1.38681

Abstract:
Keberadaan Sungai Tallo sangat penting bagi industri dan masyarakat yang berada di daerah aliran sungai. Namun, aktivitas sosial-ekonomi tidak dibarengi dengan pengelolaan sampah yang bertanggung jawab. Dengan demikian, secara umum sungai tercemar oleh polutan seperti logam berat. Oleh karena itu, perlu dilakukan monitoring sebagai langkah pengendalian kualitas Sungai Tallo untuk menghindari kondisi yang semakin buruk. Tujuan penelitian ini yaitu untuk meningkatkan pemahaman tentang hubungan antara parameter magnetik dan kandungan logam berat pada sedimen Sungai Tallo. Metode yang digunakan adalah metode magnetik lingkungan menggunakan parameter suseptibilitas magnetik. Selanjutnya, dilakukan pengujian X-Ray Fluorescence (XRF) untuk mengetahui konsentrasi unsur logam berat. Hasil menunjukkan Suseptibilitas magnetic sedimen Sungai Tallo berkisar 47,7 sampai 968,7 × 10-8 m3/kg. Suseptibilitas magnetik berhasil mengidentifikasi kelimpahan logam berat pada Sungai Tallo. Fe memiliki konsentrasi yang lebih tinggi dibandingkan Cr, Mn, dan Zn. Korelasi antara unsur logam berat Fe, Mn, dan Zn dengan suseptibilitas magnetik diperoleh korelasi positif kuat dimana unsur logam berat berkontribusi terhadap suseptibilitas magnetik. Studi ini mendukung parameter magnetic seperti suseptibilitas magnetik dapat berpotensial digunakan sebagai indikator polusi logam berat pada Sungai Tallo. Kata kunci: Logam berat; magnetik lingkungan; suseptibilitas magnetik Magnetic Susceptibility and Heavy Metal Concentration of Tallo River Sediments in Makassar ABSTRACT The existence of the Tallo River is very important for industry and people living in the watershed. However, socio-economic activities are not accompanied by responsible waste management. Thus, rivers are generally polluted by pollutants such as heavy metals. Therefore, monitoring is necessary as a measure to control the quality of the Tallo River to avoid worsening conditions. The purpose of this study was to improve understanding of the relationship between magnetic parameters and heavy metal content in Tallo River sediments. The method used was the environmental magnetic method using magnetic susceptibility parameters. Furthermore, X-Ray Fluorescence (XRF) was tested to determine the concentration of heavy metal elements. The results showed that the magnetic susceptibility of the Tallo River sediments ranged from 47.7 to 968.7 × 10-8 m3/kg. Magnetic susceptibility identified the abundance of heavy metals in the Tallo River. Fe has a higher concentration than Cr, Mn, and Zn. The correlation between heavy metal elements Fe, Mn, and Zn with magnetic susceptibility showed a strong positive correlation where heavy metal elements contribute to magnetic susceptibility. This study supports magnetic parameters such as magnetic susceptibility that can potentially be used as an indicator of heavy metal pollution in the Tallo River. Keywords: Environmental magnetic; heavy metal; magnetic susceptibility
Hajrul Nurtami Dinata, Henri Henri, Wahyu Adi
Published: 5 December 2021
JURNAL ILMIAH SAINS, Volume 22, pp 49-59; https://doi.org/10.35799/jis.v22i1.37694

Abstract:
Lamun merupakan tumbuhan berbunga (Angiospermae) yang memiliki rhizoma daun dan akar sejati yang dapat hidup terendam di dalam air laut. Gastropoda merupakan anggota moluska, dimana sebagian besar memiliki tubuh yang dilindungi oleh cangkang. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kelimpahan dan pola sebaran gastropoda pada ekosistem padang lamun pesisir Pulau Semujur Kabupaten Bangka Tengah, Bangka Belitung. Penelitian ini dilaksanakan pada perairan Pulau Semujur Kabupaten Bangka Tengah dengan empat titik arah mata angin sekitar Pulau Semujur. Penelitian ini menggunakan metode transek kuadrat. Berdasarkan hasil penelitian gastropoda yang ditemukan sbanyak 9 famili dengan 19 spesies dan total seluruh individu sebanyak 1183 individu. Jenis gastropoda yang memiliki jumlah individu terbanyak adalah Cerithium traillii yang berjumlah 137 individu. Indeks keanekaragaman gastropoda di Pulau Semujur termasuk dalam kategori sedang. Pola sebaran gastropoda secara keseluruhan dengan kategori mengelompok. Jumlah spesies dan jumlah individu makroalga dipengaruhi oleh parameter fisik-kimia perairan yang meliputi kecepatan arus, suhu air dan salinitas. Hasil penelitian ini membuktikan bahwa keanekaragaman gastropoda dengan padang lamun saling berhubungan dan dapat dipengaruhi oleh faktor fisika kimia lingkungan tersebut. Kata kunci: Gastropoda; keanekaragaman; lamun; pola sebaran; Pulau Semujur Analysis of Gastropod Habitat in Seagrass Ecosystems in the Waters of Semujur Island, Bangka Belitung ABSTRACT Seagrass are flowering plants (Angiospermae) which has rhizoma leaves and true roots that can live submerged in sea water. Gastropods are members of mollusks, which the most body parts are protected by shell. This study aim is to analyze the abundance and distribution patterns of gastropods in the seagrass ecosystem of the coast of Semujur Island, Central Bangka Regency, Bangka Belitung. This research was conducted located in Semujur Island, Central Bangka Regency, four winds points of compass around the island. Quadratic transect method is used for this research. Based on the results of research found 9 families with 19 species and a total of 1183 individuals gastropods. Cerithium traillii (Sowerby II, 1855) is the highest number individuals founded which amount up to 137 individuals. Gastropod diversity index in Semujur Island is included to the medium category. Overall distribution pattern of gastropods with clustered categories The number of species and individual macroalgae are affected by the physical-chemical parameters of waters which include stream speed, temperature and pH. The results of this study prove that the diversity of gastropods with seagrass beds is interconncted and can be related by physical and chemical environmental factors. Keywords: Distribution pattern; diversity; gastropods; seagrass; Semujur Island
Dhimas Adhityasmara, Dewi Ramonah
Published: 5 December 2021
JURNAL ILMIAH SAINS, Volume 22, pp 40-48; https://doi.org/10.35799/jis.v22i1.36293

Abstract:
Tujuan penelitian ini yaitu untuk mengetahui pengaruh pemberian dan dosis efektif ekstrak etanol batang bajakah terhadap penurunan SGOT & SGPT tikus putih jantan galur Wistar yang diinduksi isoniazid. Penelitian ini merupakan jenis penelitian eksperimental, dengan obyek penelitian penurunan kadar SGPT & SGOT setelah diberikan senyawa uji selama 14 hari. Dosis sediaan ekstrak etanol batang bajakah yang digunakan adalah dosis 200, 300 dan 400 mg/kgBB. Kontrol positif digunakan silymarin dosis 5 mg/200gBB. Sebagai penginduksi digunakan isoniazid dosis 350 mg/KgBB yang diberikan 14 hari sebelum perlakuan senyawa uji. Kelompok normal tanpa diberi perlakuan untuk mengetahui pengaruh lingkungan terhadap hewan uji. Hasil penelitian menunjukan ekstrak etanol batang bajakah tampala memiliki efek hepatoprotektor pada tikus jantan yang dinduksi isoniazid 350mg/kgBB selama 14 hari. Dosis efektif ekstrak etanol batang bajakah sebagai hepatoprotektor adalah 200 mg/kgBB. Kata kunci: Bajakah tampala; hepatoprotektor; isoniazid Hepatoprotector Effects of Bajakah Tampala Stem Ethanol Extract (Spatholobus Littoralis Hassk) on Isoniazid Induced RatsABSTRACT The purpose of this study was to determine the effect of administration and effective dose of ethanol extract of bajakah stems on the reduction of SGOT & SGPT of isoniazid-induced male white rats of Wistar strain. This research is an experimental type of research, with the object of research decreasing levels of SGPT & SGOT after being given the test compound for 14 days. The dosages of the ethanol extract of the bajakah stem used were doses of 200, 300 and 400 mg/kgBW. The positive control used silymarin at a dose of 5 mg/200gBW. As an inducer, isoniazid at a dose of 350 mg/KgBW was used 14 days before the treatment of the test compound. The normal group without treatment was to determine the effect of the environment on the test animals. The results showed that the ethanol extract of Bajakah tampala rods had a hepatoprotective effect on male rats induced by isoniazid 350mg/kgBW for 14 days. The effective dose of ethanol extract of bajakah stem as a hepatoprotector was 200 mg/kgBW. Keywords: Bajakah tampala; hepatoprotector; isoniazid
Moh. Awaludin Adam, Ach Khumaidi, Ramli Ramli, Yenny Risjani, Agoes Soegianto
Published: 5 December 2021
JURNAL ILMIAH SAINS, Volume 22, pp 31-39; https://doi.org/10.35799/jis.v22i1.36791

Abstract:
Banyaknya limbah cair yang terbuang ke aliran Sungai Wangi memberikan potensi pencemaran. Pencemaran berasal dari limbah pabrik yang sudah berlangsung sejak tahun 2015. Tujuan dari penelitian yaitu untuk melakukan analisis kualitas lingkungan Sungai Wangi dan menentukan indeks pencemarannya. Metode penelitian dilakukan dengan metode survey dan Pengambilan sampel air sungai dilakukan di sekitar aliran sungai Wangi, Desa Beujeng, Kecamatan Beji, Kabupaten Pasuruan. Pengambilan sampel dilakukan pada 3 (tiga) area yaitu area industri, area pemukimam dan area pertanian. Penelitian dilakukan pada bulan Juni 2020 sampai dengan bulan Juli 2021. Hasil penelelitian menunjukkan adanya kontaminasi logam berat pada Sungai Wangi yang mengandung Pb, Cd dan Hg. Kadar Pb, Cd dan Hg pada perairan rata-rata sebesar 0,031 ppm, 0,019 dan 0,009 ppm. Nilai tersebut sudah melampaui standar baku mutu PP 22/2021 kelas 3 yang diperbolehkan untuk aliran sungai. Sedangkan beberapa data parameter kualitas air lainnya dianalisis dengan menggunakan metode pollution index (PI). Metode ini digunakan untuk menentukan indeks pencemaran. Jumlah indeks pencemaran rata-rata (PIrata-rata) pada Sungai Wangi secara umum (area industri, pemukiman dan pertanian) adalah = 5,503. Indeks pencemaran ini menunjukkan kondisi Sungai Wangi termasuk pada klasifikasi “cemar sedang”. Kata kunci: Indeks pencemaran; logam berat; sungai wangi Environmental Pollution Index of the Wangi River, Beujeng Village, Beji District, Pasuruan Regency, East Java  ABSTRACT The amount of liquid waste that is wasted into the Wangi River stream provides the potential for pollution. Pollution comes from factory waste that has been going on since 2015. The purpose of this research is to analyze the environmental quality of the Wangi River and determine its pollution index. The research method was carried out by survey methods and river water sampling was carried out around the Wangi river flow, Beujeng Village, Beji District, Pasuruan Regency. Sampling was carried out in 3 (three) areas, namely industrial areas, residential areas and agricultural areas. The study was conducted from June 2020 to July 2021. The results showed heavy metal contamination in the Wangi River containing Pb, Cd and Hg. The average levels of Pb, Cd and Hg in the waters were 0.031 ppm, 0.019 and 0.009 ppm. This value has exceeded the PP 22/2021 class 3 quality standard which is allowed for river flow. Meanwhile, several other water quality parameter data were analyzed using the pollution index (PI) method. This method is used to determine the pollution index. The number of the average pollution index (PI average) on the Wangi River in general (industrial, residential and agricultural areas) is = 5.503. This pollution index shows the condition of the Wangi River is included in the "medium polluted" classification. Keywords: Heavy metals; pollution index; wangi river
Eka Susanti Hanhadyanaputri, Yuliana Purwaningsih, Erwin Indriyanti
Published: 5 December 2021
JURNAL ILMIAH SAINS, Volume 22, pp 23-30; https://doi.org/10.35799/jis.v22i1.37492

Abstract:
Tujuan penelitian ini yaitu untuk mengetahui reaksi amidasi asam sinamat dengan N, N-dietil amina menggunakan katalisator asam borat dan mengetahui aktivitas antikolesterol dari produk senyawa hasil amidasi. Reaksi amidasi asam sinamat dengan N, N-dietil amina menggunakan variasi konsentrasi (% mol) asam borat sebagai katalis yaitu 5, 10, 15, 20 dan 25%. Hasil reaksi amidasi dikarakteristik menggunakan FT-IR, 1H-NMR dan 13C-NMR. Aktivitas antikolesterol dianalisis menggunakan metode Liebermann-Burchard. Hasil penelitian menunjukkan bahwa produk amidasi asam sinamat yaitu 20,47%, 22,99%; 23,37%; 26,77% dan 30,28% untuk variasi mol asam borat secara berturut-turut 5%, 10, 15, 20 dan 25%. Hasil karakterisasi dengan FT-IR, 1H-NMR dan 13C-NMR menunjukkan bahwa produk hasil amidasi berupa senyawa N, N-dietil sinamamida. Senyawa hasil amidasi mampu menurunkan kadar kolesterol sebesar 5,24%; 27,18% dan 13,22% dengan konsentrasi senyawa berturut-turut sebesar 50, 100, dan 150 ppm. Semakin besar persen mol katalisator asam borat yang digunakan, semakin besar senyawa hasil amidasi yang diperoleh. Produk hasil amidasi yang diperoleh yaitu senyawa N, N-dietil sinamamida yang berpotensi sebagai antikolesterol dengan aktivitas optimum pada konsentrasi 100 ppm. Kata kunci: Amidasi; antikolesterol; asam borat; asam sinamat; sinamamida Mole Variation of Concentration Boric Acid in The Amidation Reaction of Cinnamic Acid and Its Potential as Anticholesterol  ABSTRACT The aims of this study to determine the amidation reaction of cinnamic acid with N, N-diethylamine using a boric acid catalyst and to determine the anticholesterol activity of the amidation product. The amidation reaction of cinnamic acid with N, N-diethyl amine using various concentration (% mole) of boric acid as a catalyst, namely 5, 10, 15, 20, and 25%. The amidation reaction results were characterized using FT-IR, 1H-NMR, and 13C-NMR. The anticholesterol activity was analyzed using the Liebermann-Burchard method. The results showed that the amidation products of cinnamic acid were 20.47%, 22.99%; 23.37%; 26.77%, and 30.28% for variations in moles of boric acid 5%, 10, 15, 20, and 25%, respectively. The results of characterization using FT-IR, 1H-NMR and 13C-NMR showed that the amidation product was N, N-diethyl cinnamamide. The compound resulting from the amidation was able to reduce cholesterol levels by 5.24%; 27.18%, and 13.22% with compound concentrations of 50, 100, and 150 ppm, respectively. The greater the mole percent of boric acid catalyst used, the greater the amidation product obtained. The amidation product formed is N, N-diethyl cinnamamide which has the potential as an anticholesterol with optimum activity at a concentration of 100 ppm. Keywords: Amidation; anticholesterol; boric acid; cinnamic acid; cinnamamide
Jhon Kevin Purba, Rama R Sitinjak, Nur Ariyani Agustina, Julaili Irni
Published: 5 December 2021
JURNAL ILMIAH SAINS, Volume 22, pp 17-22; https://doi.org/10.35799/jis.v22i1.35703

Abstract:
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kepadatan populasi cacing tanah di perkebunan kelapa sawit dengan perbedaannya pada strata umur kelapa sawit di Desa Salang Tungir Kecamatan Namorambe.Metode yang digunakan adalah metode survey dengan teknik pengambilan sampel cacing tanah secara hand sorting pada stasiun I (TBM) dan stasiun II (TM). Analisis data untuk kepadatan hingga indeks nilai penting cacing tanah digunakan rumus tertentu, dan untuk perbedaan kepadatan digunakan uji T. Hasil penelitian menunjukkan bahwa cacing tanah di perkebunan kelapa sawit TBM terdapat 3 jenis: Pontoscolex corethrurus, Pheretina sp., dan Lumbricus. Kepadatan relatif dan indeks nilai penting yang tertinggi ditemukan pada Pheretina sp. yaitu 36,09% dan 69,42%. Sedangkan pada TMterdapat 4 jenis: Pontoscolex corethrurus, Pheretina sp., Lumbricus, dan Microscolex. Kepadatan relatif dan indeks nilai pentingnya ditemukan pada Pontoscolex corethrurusyaitu secara berurut 30,56% dan 55,63%. Nilai kepadatan cacing tanah ditemukan lebih tinggi pada perkebunan kelapa sawit yang berumur 4 tahun. Kata kunci: Cacing tanah; Elaeis quineensis Jacq; kepadatan Earthworm Population Density in Oil Palm Plantation inSalang Tungir Village, Namorambe DistrictABSTRACT This study aims to analyze the population density of earthworms in oil palm plantations with the differences in the age strata of oil palm in Salang Tungir Village, Namorambe District. The method used is survey method with earthworm sampling technique by hand sorting at station I (TBM) and station II (TM). Analysis of data for density to index of significance of earthworms used a certain formula, and for differences in density used the T test. The results showed that there are 3 types of earthworms in TBM oil palm plantations: Pontoscolex corethrurus, Pheretina sp., and Lumbricus. The highest relative density and significant value index were found in Pheretina sp, namely 36.09% and 69.42%, respectively. While in TM there are 4 types: Pontoscolex corethrurus, Pheretina sp., Lumbricus, and Microscolex. The relative density and significance index found in Pontoscolex corethrurus were 30.56% and 55.63%, respectively. Earthworm density values were found to be higher in oil palm plantations aged 4 years. Keywords: Earthworm; Elaeis quineensis Jacq; density
Khoirul Anwar, Mardiyono Mardiyono, Nuraini Harmastuti
Published: 5 December 2021
JURNAL ILMIAH SAINS, Volume 22, pp 8-16; https://doi.org/10.35799/jis.v22i1.35537

Abstract:
Uji karakteristik pektin kulit buah sukun (Artocarpus altilis (Park.) Fosberg) dan uji kemampuan adsorpsi logam berat pada limbah laboratorium stifera Semarang. Tujuan penelitian ini yaitu menentukan kondisi optimum pektin kulit buah sukun dalam menyerap ion Pb2+ dan Cd2+ terhadap parameter variasi berat, lama waktu kontak, pH dan ukuran partikel serta menentukan persentase penurunan kadar ion Pb2+ dan Cd2+ pada limbah cair laboratorium farmasi. Metode isolasi pektin dilakukan dengan menggunakan metode konvensional dan dilakukan pengujian karakteristik pektin yaitu uji kadar air, kadar abu, berat ekivalen, kadar metoksil, kadar galakturonat, derajat esterifikasi, identifikasi FTIR dan GC-MS. Uji kemampuan adsorpsi logam berat dengan 4 variasi optimasi yaitu berat pektin yaitu 100, 300 dan 500 mg; lama waktu kontak 30, 60, 90 dan 120 menit; pH 4, 5, 6 dan 7; variasi ukuran partikel 80, 100 dan 120 mesh, metode analisis menggunakan alat spektrofotometri serapan atom. Hasil penelitian menunjukkan bahwa berat optimum terjadi pada 500 mg, lama waktu kontak 90 menit, pH 5 dan ukuran partikel 120 mesh baik ion Pb2+ dan Cd2+. Hasil tersebut diaplikasikan pada limbah laboratorium farmasi dan didapatkan rata-rata persentase penurunan ion logam Pb2+90,53% dan ion Cd2+ 91,51%. Kata kunci: Adsorpsi; kulit buah sukun; pektin Characteristics of Breadfruit Peel Pectin (Artocarpus altilis (Park.) Fosberg) and Ability Test of Heavy Metal Adsorption in Waste Stifera Laboratory SemarangABSTRACT Characteristic test of pectin of breadfruit peel (Artocarpus altilis (Park.) Fosberg) and test of heavy metal adsorption ability in laboratory waste Stifera Semarang. The aim of this study was to determine the optimum conditions for pectin to absorb Pb2+ and Cd2+ ions on the parameters of weight variation, contact time, pH and particle size and to determine the percentage decrease in Pb2+ and Cd2+ ion levels in pharmaceutical laboratory wastewater. Pectin isolation method was carried out using conventional methods and the characteristics of pectin were tested, namely water content, ash content, equivalent weight, methoxyl content, galacturonic content, esterification degree, FTIR identification, GC-MS. Heavy metal adsorption ability test with optimization variations, namely the weight of pectin is 100, 300, 500 mg; length of contact time 30, 60, 90, 120 minutes; pH 4, 5, 6, 7; variation of particle size 80, 100, 120, analytical method using atomic absorption spectrophotometry. The results showed that the optimum weight occurred at 500 mg, contact time of 90 minutes, pH 5 and particle size of 120 both Pb2+ and Cd2+ ions. These results were applied to pharmaceutical laboratory waste and the average percentage reduction of metal ions Pb2+ was 90.53% and Cd2+ ions were 91.51%. Keywords: Adsorption; breadfruit peel; pectin
Dewa G Katja, Sisilia A Mantiri, Max R.J Runtuwene, Unang Supratman, Erina Hilmayanti
JURNAL ILMIAH SAINS, Volume 21, pp 161-165; https://doi.org/10.35799/jis.v21i2.35777

Abstract:
Senyawa katekin (flavonoid) dengan rumus molekul C15H14O6 telah diisolasi dari kulit batang chisocheton balancae C.DC(Meliacea). Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan senyawa katekin (flavonoid). Sampel dimaserasi dengan metanol dan dipartisi dengan pelarut etil asetat. Hasil partisi etil asetat dipisahkan dengan teknik kromatografi dan dihasilkan isolat murni berupa kristal berwarna putih (5,5 mg) dengan titik leleh 175-1770C dengan serapan maksimum pada panjang gelombang 280,30 nm. Struktur kimia senyawa katekin diidentifikasi dari data-data spektroskopi meliputi 1H-NMR, 13C-NMR dan DEPT 1350, serta perbandingan dengan data spektroskopi yang diperoleh dari literatur. Hasilnya menunjukkan bahwa kulit batang Chisocheton balancae C.DC (Meliaceae) merupakan senyawa katekin (flavonoid).Kata kunci:Chisocheton balancae C.DC; katekin ; meliaceae Catechin Compound(Flavonoid) from Chisocheton balancae C.DC (Meliaceae) BarkABSTRACT A catechin compound (flavonoid) with the molecular formula C15H14O6 has been isolated from Chisocheton balancae C.DC (Meliacee) bark. This study aims to determine the chemical structure of catechins (flavonoids). The sample is macerated with methanol and partitioned with ehtyl acetate as solvent. The results of the partitioning of ethyl acetate were separated by chromatographic techniques and pure isolates were produced in the form of white crystals (as much as 5,5 mg) with a melting point of 175-1770C and maximum absorption at a wavelength of 280,30 nm. The chemical structure of catechin compound was identified on the basis of spectroscopic data including 1H-NMR, 13C-NMR and DEFT 1350 as well as comparison with spectroscopic data obtained from the literature. The results shows that the bark of  Chisocheton balancae C.DC (Meliaceae) contained catechin compound. Keywords: Catechin; meliaceae; Chisocheton balancae C.DC
Febiyanti Alfiah, Almadayani Almadayani, Danial Al Farizi, Edy Widodo
Published: 5 December 2021
JURNAL ILMIAH SAINS, Volume 22, pp 1-7; https://doi.org/10.35799/jis.v22i1.35911

Abstract:
Keberadaan pandemi COVID-19 di Indonesia, mengakibatkan kemiskinan di Indonesia semakin tinggi terutama di Jawa Timur yang menjadi satu diantara provinsi lain dengan kasus COVID-19 tinggi di Indonesia. Tujuan penelitian ini yaitu mengetahui pengelompokan kabupaten/kota di Jawa Timur yang mempunyai kesamaan karakteristik berdasarkan indikator kemiskinan tahun 2020. Penelitian ini menggunakan data yang didapatkan dari Badan Pusat Statistik. Metode yang digunakan ialah metode k-medoids clustering yang merupakan metode partisi clustering guna pengelompokan n objek ke dalam k cluster. Berdasarkan hasil penelitian, diperoleh pengelompokan karakteristik masing-masing cluster yang dibentuk berdasarkan nilai indikator kemiskinan di Jawa Timur tahun 2020 sebanyak 2 cluster. Dimana 30 kabupaten/kota pada cluster 1 dan dan 8 kabupaten/kota pada cluster 2. Cluster 1 memiliki karakteristik Persentase Rumah Tangga yang Mempunyai Sanitasi Layak, Angka Harapan Hidup, dan Persentase Angka Melek Huruf Umur 15-55 Th tinggi. Sedangkan cluster 2 memiliki karakteristik Persentase Rumah Tangga Miskin Penerima Raskin, Persentase Penduduk Miskin, dan Persentase Pengeluaran Perkapita untuk Makanan dengan Status Miskin tinggi. Kata kunci: Clustering; Jawa Timur; K-medoids; kemiskinan K-Medoids Clustering Analysis Based on Poverty Indicators in East Java in 2020 ABSTRACT The existence of the pandemic COVID-19 in Indonesia has resulted in higher poverty in Indonesia, especially in East Java, which is one of the other provinces with high cases in Indonesia. The purpose of this study is to find out the grouping of regencies/cities in East Java that have similar characteristics based on the poverty indicators in 2020. This study uses data obtained from the Badan Pusat Statistik. The method used is k-medoids clustering method which is a clustering partition method for grouping n objects into k clusters. Based on the results of the study, it was found that the grouping of the characteristics of each cluster formed based on the value of the poverty indicator in East Java in 2020 was 2 clusters. Where 30 regencies/cities in cluster 1 and and 8 regencies/cities in cluster 2. Cluster 1 has the characteristics of the percentage of households that have proper sanitation, life expectancy, and a high percentage of literacy rates aged 15-55 years. While cluster 2 has the characteristics of the percentage of poor households receiving Raskin, the percentage of poor people, and the percentage of per capita expenditure on food with high poor status. Keywords: Clustering; East Java; K-Medoids; poverty
, Lidya Irma Momuat, Julius Pontoh
JURNAL ILMIAH SAINS, Volume 21, pp 182-192; https://doi.org/10.35799/jis.v21i2.32555

Abstract:
Telah dilakukan penelitian untuk menganalisis kandungan metabolit sekunder dan efektivitas antioksidan dari ektrak etanol bunga kasumba turate (Carthamus tinctorius L.), serta potensinya sebagai antihiperkolesterolemia. Bunga kasumba turate yang telah dikeringanginkan, dihaluskan dan dimaserasi dengan pelarut etanol 70%, lalu dievaporasi pelarutnya. Ekstrak etanol (EE) yang diperoleh dipartisi berturut-turut dengan pelarut n-heksana, etil asetat dan air, sehingga diperoleh ekstrak fraksi n-heksana (FH), etil asetat (FEA) dan air (FA). Selanjutnya, EE, FH, FEA, dan FA diuji kandungan metabolit sekundernya (metode Harborne) dan efektivitas antioksidannya (metode DPPH). Hasil penelitian menunjukkan bahwa EE dan FEA mengandung alkaloid, fenolik, flavonoid, saponin, tanin dan triterpenoid. FA mengandung fenolik, flavonoid, saponin, tanin dan triterpenoid. FH mengandung alkaloid, flavonoid dan triterpenoid. Efektivitas antioksidan bunga kasumba turate (dinyatakan dalam IC50) yang tertinggi pada FEA, diikuti FH, FA dan EE, dengan nilai IC50 53,59, 75,45, 77,43, dan 89.,9 µg/mL. Hasil kajian menunjukkan bahwa bunga kasumba turate dapat menghambat oksidasi LDL dan menurunkan kadar kolesterol darah. Penelitian ini menyimpulkan bahwa ekstrak bunga kasumba turate memiliki efektivitas antioksidan yang kuat dan efek antihiperkolesterolemia.Kata kunci: Antihiperkolesterolemia; antioksidan; Carthamus tinctorius L.; etanolAntioxidant Effectiveness of Kasumba Turate Flower Extract (Carthamus tinctorius L.) and Its potential as an AntihypercholesterolemiaABSTRACTResearch has been carried out to analyze the secondary metabolite content and antioxidant effectiveness of the ethanol extract of kasumba turate flower (Carthamus tinctorius L.), as well as its potential as antihypercholesterolemia. Kasumba turate flowers that have been dried and mashed, macerated with 70% ethanol solvent, then evaporated the solvent. The ethanol extract (EE) obtained was partitioned successively with n-hexane, ethyl acetate and water as solvents, so that the extracts of the n-hexane (FH), ethyl acetate (FEA) and water (FA) fractions were obtained. Furthermore, EE, FH, FEA, and FA were tested for their phytochemical content (Harbourne method) and antioxidant effectiveness (DPPH method). The results showed that EE and FEA contained alkaloids, phenolics, flavonoids, saponins, tannins and triterpenoids. FA contains phenolics, flavonoids, saponins, tannins and triterpenoids. FH contains alkaloids, flavonoids and triterpenoids. The antioxidant effectiveness of casumba turate flower (expressed in IC50) was highest in FEA, followed by FH, FA and EE, with IC50 values of 53,59, 75,45, 77,43, and 89,19 g/mL, respectively. The results of the literature review show that kasumba turate flowers can inhibit LDL oxidation and reduce blood cholesterol levels. This study concluded that kasumba turate flower extract has a strong antioxidant effectiveness and antihypercholesterolemic effect.Keywords: Antihypercholesterolemia; antioxidant; Carthamus tinctorius L.; ethanol
Therechia A.F. Soares, Chriestie E.J.C. Montolalu, Tohap Manurung
JURNAL ILMIAH SAINS, Volume 21, pp 170-175; https://doi.org/10.35799/jis.v21i2.30013

Abstract:
Karton merupakan salah satu bahan baku pembantu yang digunakan dalam produksi Air Mineral dalam Kemasan. Menurut beberapa penelitian Metode EOQ digunakan untuk menganalisa persediaan. Tujuan penelitian ini yaitu untuk menentukan jumlah pemesanan ekonomis menggunakan metode Economic Order Quantity (EOQ) dan pengoptimalan biaya yang dapat dilakukan dengan metode EOQ. Penelitian ini dilakukan pada bulan November 2019 hingga Januari 2020 di perusahaan PT. Asegar Murni Jaya. Variabel yang digunakan yaitu frekuensi kebutuhan karton, biaya pemesanan bahan baku dan biaya penyimpanan bahan baku. Hasilnya menunjukkan bahwa pemesanan ekonomis menurut metode EOQ untuk karton dengan biaya optimal sebesar unit untuk periode November 2017 – Oktober 2018 dan unit untuk periode November 2018 – Oktober 2019. Terjadi penghematan dalam biaya persediaan untuk periode November 2017 – Oktober 2018 sebesar dan untuk periode November 2018 – Oktober 2019 sebesar .Kata kunci: Economic Order Quantity; karton; persediaan Carton Inventory Analysis Using the Economic Order Quantity (EOQ) Method (Case Study: PT. Asegar Murni Jaya, Minahasa Utara)ABSTRACTCarton is one of the supporting raw materials used in the production of bottled or glass mineral water. Based on some research, for analyzed inventory will be used Economic Order Quantity (EOQ) Method. The purpose of this research was to determine the amount of economic order using Economic Order Quantity (EOQ). This research was conducted in November 2019 until January 2020 at PT. Asegar Murni Jaya. Variables used i.e the frequency of carton demand, ordering cost and holding cost. The results show that it can be seen that economical order according to EOQ method cartons is pcs for November 2017 – October 2018 periode and for November 2018 – October 2019 periode. There were savings in inventory costs for the period November 2017 - October 2018 amounting to and for the period November 2018 - October 2019 amounting to .Keywords : Carton; Economic Order Quantity; inventory
Livana Dethris Rawung, Jacson Saruan, Debby J.J. Rayer, Emma Mauren Moko
JURNAL ILMIAH SAINS, Volume 21, pp 176-181; https://doi.org/10.35799/jis.v21i2.35338

Abstract:
Perkembangan awal larva sangat dipengaruhi oleh ketersediaan makanan yang berasal dari kantung telurnya. Tidak terpenuhi nutrisi pada masa awal perkembangan dapat mempengaruhi perkembangan larva. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengukur diameter telur hasil pemijahan dan panjang badan pada awal perkembangan larva ikan mas dari induk yang diberi pakan dengan penambahan kurkumin. Penelitian ini menggunakan induk betina ikan mas yang diberikan suplementasi kurkumin pada beberapa dosis yaitu 0%; 0,25%; 0,5%; 1%; dan 2%. Ikan yang telah matang gonad kemudian dipijahkan. Telur yang telah terbuahi kemudian diambil untuk ditetaskan dan diamati perkembangan larvanya selama 2 hari setelah penetasan (hsp). Hasil pengamatan menunjukkan bahwa perlakuan suplementasi kurkumin dengan dosis 0,5% yang diberikan dalam pakan induk betina ikan mas memberikan nilai yang optimal terhadap diameter telur hasil pemijahan (p<0,05) dan panjang badan larva sampai pada umur 2 hsp (p0,5). Berdasarkan hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa suplementasi kurkumin dengan konsentrasi 0,5% pada induk betina ikan mas dapat mengoptimalkan pertumbuhan larva pada awal kehidupannya.Kata kunci : Cyprinus carpio, kurkumin, larva Early Development of Common Carp Larva from Broodstock Fed Diet Supplemented with CurcuminABSTRACTThe early growth of the larva is greatly influenced by the availability of food from the egg yolk. Insufficiency of nutrition in the early stages of development can affect the development of larva. The purpose of this study was to know the early growth of larva from broodstock supplemented with curcumin. This study used the female broodstock of common carp that supplemented with curcumin at several doses; 0%; 0,25%; 0,5%; 1%; and 2%. The fishes that had been mature were spawned, and the fertilized eggs were taken to be hatched. The larva was observed for 2 days after hatching (dah). The results showed that the treatment of curcumin supplementation with a dose of 0,5% given in the common carp feed gave an optimal value for egg diameter (p <0,05) and body length of the larva until the age of 2 dah (p 0,05).Key words: Cyprinus carpio, curcumin, larva
Aden Dhana Rizkita, Sintia Ayu Dewi, Emas Agus Prastyo Wibowo, Iham Maulana
JURNAL ILMIAH SAINS, Volume 21, pp 166-169; https://doi.org/10.35799/jis.v21i2.34635

Abstract:
Penelitian ini dilakukan untuk mengisolasi dan mengidentifikasi senyawa saponin dengan maserasi menggunakan etanol 95% sampai mendapat ekstrak kering sebanyak 20 gram dengan dipanaskan menggunakan evaporator. Ekstraksi kedua dilakukan menggunakan corong pisah dengan pelarut dietil eter dan n-butanol. Identifikasi saponin dilakukan dengan tiga parameter uji diantaranya uji busa, uji warna dan gugus fungsi menggunakan Spektrofotometer Infra Merah. Hasil pengukuran Spektrofotometri Infra Merah menunjukkan Ekstrak Daun Launca mengandung beberapa gugus fungsi sebagai berikut : gugus –OH (puncak yang lebar pada bilangan gelombang 3444,87 cm-1), regang –CH alifatik simetri (bilangan gelombang 2926,01 cm-1 dan2854,65 cm-1, regang C=C tidak terkonjugasi pada bilangan gelombang 1606,7 cm-1, adanya regang C-H (bilangan gelombang 1074,35 cm-1 dan 1045,42 cm-1), dan adanya vibrasi bengkokan simetris C-O pada bilangan gelombang 1386,82 cm-1.Kata kunci: Daun leunca; spektrofotometer infra merah; saponin Isolation and Identification of Saponin from Leunca (Solanium ningrum L) Extract by Infrared SpectrophotometryABSTRACTThis research was conducted to isolate and identify saponin compounds by maceration using 95% ethanol to obtain 20 grams of dry extract by heating using an evaporator. The second extraction was carried out using a separating funnel with diethyl ether and n-butanol as solvents. Saponin identification was carried out with three test parameters including foam test, color test and functional group using Infrared Spectrophotometer. Infrared Spectrophotometry measurement results show that the Launca Leaf Extract contains the following functional groups: -OH group (wide peak at wave number 3444.87 cm-1), aliphatic symmetrical -CH stretch (wave number 2926.01 cm-1 and 2854 ,65 cm-1, unconjugated C=C stretch at wave number 1606.7 cm-1, presence of CH stretch (wave number 1074.35 cm-1 and 1045.42 cm-1), and the presence of symmetrical bending vibration of CO at wave number 1386.82 cm-1.Keywords: Infrared spectrophotometer; leunca leaf; saponin
Ahmad Fuad Masduqi, Erwin Indriyanti, Rahmawati Salsa Dinurrosifa
JURNAL ILMIAH SAINS, Volume 21, pp 155-160; https://doi.org/10.35799/jis.v21i2.35684

Abstract:
This study aims to determine whether the compound APMS (p-methoxy cinnamic acid) has the antibacterial activity of Escherichia coli and to determine the effective concentration of the compound APMS (p-methoxy cinnamic acid) in inhibiting the growth of Escherichia coli bacteria. This research begins with the synthesis of APMS obtained through the knoevenagel condensation reaction with the sonochemical method. The synthesized compounds were tested organoleptically and their melting points were measured. The structure of the results was elucidated using FT-IR and GC-MS, then tested the antibacterial activity of APMS compounds against Escherichia coli. Data analysis with SPSS, 99% confidence level (p<0.01) and continued with ANOVA test. The compound synthesized by APMS is in the form of fine crystals with a glossy white color, has a characteristic odor, and produces a % yield of 92.71%. The level of p-methoxy cinnamic acid (APMS) produced from this study was 95% using the GC-MS Instrument. APMS compounds have antibacterial activity against Escherichia coli. The average inhibition zone formed at a concentration of 5%; 10%; and 15% respectively are 0.695 cm; 0.727 cm; and 0.855 cm The optimal concentration of this study was at a concentration of 15% which gave the greatest inhibitionKeywords: Antibacterial; Escherichia coli; p-Methoxy cinnamic acidUji Aktivitas Antibakteri Senyawa APMS (Asam p_Metoksi Sinamat) Terhadap Bakteri Escherichia coli ABSTRAKPenelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah senyawa APMS (Asam p-metoksisinamat) memiliki aktivitas antibakteri Escherichia coli dan mengetahui konsentrasi efektif dari senyawa APMS (Asam p-metoksisinamat) dalam menghambat pertumbuhan bakteri Escherichia coli. Penelitian ini diawali dengan sintesis APMS ini didapatkan melalui reaksi kondensasi knoevenagel dengan metode sonokimia. Senyawa hasil sintesis diuji organoleptis dan diukur titik leburnya. Struktur hasil dielusidasi menggunakan FT-IR dan GC-MS, kemudian uji aktivitas antibakteri senyawa APMS terhadap Escherichia coli. Analisis data dengan SPSS, tingkat kepercayaan 99% (p<0,01) dan dilanjutkan uji ANOVA. Senyawa hasil sintesis APMS berupa kristal halus berwarna putih mengkilap, memiliki bau khas, dan menghasilkan % yield sebesar 92,71%. Kadar Asam Para Metoksisinamat (APMS) yang dihasilkan dari penelitian ini sebesar 95% menggunakan Instrumen GC-MS. Senyawa APMS memiliki aktivitas antibakteri terhadap Escherichia coli. Rataan zona hambat yang terbentuk pada konsentrasi 5%; 10%; dan 15% secara berturut adalah 0,695 cm; 0,727 cm; dan 0,855 cm Konsentrasi yang optimal dari penelitian ini adalah pada konsentrasi 15% yang memberikan daya hambat yang paling besar.Kata kunci: Antibakteri; Asam p-metoksi sinamat; Escherichia coli
Novi Elisa, Aloysius Barry Anggoro, Erwin Indriyanti
JURNAL ILMIAH SAINS, Volume 21, pp 145-154; https://doi.org/10.35799/jis.v21i2.35625

Abstract:
Penyakit kardiovaskuler yang terjadi di Indonesia berawal dari penyakit menular kemudian beralih menjadi tidak menular, salah satunya hipertensi. Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui skrining fitokimia dan hasil uji KLT ekstrak dan fraksi-farksi daun avokad pada tikus jantan yang dibuat model hipertensi dengan induksi NaCl dan prednison. Pengujian ini dilakukan selama 28 hari menggunakan alat Blood Presure Analizer Tail Caff dengan kelompok perlakuan kontrol normal, positif, negatif, ekstrak dosis 75mg/kgbb, 150mg/kgbb, 250mg/kgbb dan fraksi air, etil asetat, n-heksana masing-masing kelompok berisi 5 ekor tikus. Pengukuran tekanan darah dilakukan pada T0 (belum diberi perlakuan), T1, T2, T3 (induksi NaCl dan Prednison), T4 (diberikan dosis ekstrak dan dosis fraksi). Hasil uji skrinning fitokimia positif flavonoid dan uji KLT dimana nilai Rf yang dihasilkan setelah percobaan KLT dengan metode penyinaran UV 254, ekstrak daun alpukat dengan menggunakan baku kuersetin yang dihasilkan Rf 0,75, fraksi air 0,82, n-heksana 0,93, etil asetat 0,82 dari hasil tersebut dapat dibuktikan terjadi penurunan aktivitas tekanan darah. Hasil persentasi penurunan ekstrak dan fraksi-fraksi daun alpukat menunjukkan dosis efektif ekstrak 250mg/kgbb yaitu 5,87/10,96% sig > 0,05 berbeda makna dengan kelompok negatif dan fraksi etil asetat 5.71/14.53%. sig > 0,05 berbeda makna dengan kelompok negatif.Kata kunci: Antihipertensi; daun avokad; diastolik; sistolik; tikus Anti-Hypertension Activity of Avocado (Persea americana Mill) Leaves Extracts and Fractions in Male Rats with Systolic and Diastolic ParametersABSTRACTOne of cardiovascular diseases that occur in Indonesia that start from infectious diseases and then turn into non-infectious diseases is hypertension. This study aimed to determine the phytochemical screening and TLC test results of avocado leaves extract and fractions in hypertension-modeled male rats through induction of NaCl and prednisone. This test was done in 28 days used Blood Pressure Analyzer Tail Caff with normal, positive, negative control treatment groups, extract doses of 75mg/kgbb, 150mg/kgbb, 250mg/kgbb and water, ethyl acetate, n-hexane fractions for each group. Each group contains 5 rats. Blood pressure measurement was done at T0 (untreated), T1, T2, T3 (induction of NaCl and Prednisone), T4 (given extract dose and fraction dose). The results of phytochemical screening test were positive for flavonoids and the TLC test, where the Rf value produced for avocado leaves extract after TLC test with UV 254 irradiation method, using quercetin standard produced was 0.75, water fraction was 0.82, n-hexane was 0.93, ethyl acetate was 0.82. These results then proved with decrease in blood pressure activity. The results of decreases in percentage of avocado leaves extract and fractions showed that the effective dose of extract 250mg/kgBW was 5.87/10,96% sig > 0.05, which was significantly different from negative group and ethyl acetate fraction was 5.71/14.53%. sig > 0.05 significantly different with negative group.Keywords: Antihypertensive; avocado leaves; diastolic; rat; systolic
Siti Susanti, Valentinus Priyo Bintoro, Danur Restu Amanullah
JURNAL ILMIAH SAINS, Volume 21, pp 137-144; https://doi.org/10.35799/jis.v21i2.33861

Abstract:
Velva nangka (VN) merupakan ekstensifikasi usaha pengolahan nangka sebagai hidangan pencuci mulut beku yang disukai. VN yang berkualitas menggunakan bahan penstabil yaitu kombinasi Carboxyl Methil Celullose (CMC) dan Gum Arab (GA). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh penambahan GA sebagai bahan penstabil tunggal terhadap karakteristik fisik (overrun dan waktu pelelehan), total padatan dan hedonik VN. GA dengan variasi konsentrasi 0; 0,25; 0,5; 0,75; dan 1% terhadap total adonan digunakan sebagai penstabil pada pembuatan VN. Penambahan GA berpengaruh nyata pada karakteristik fisik dan total padatan serta hedonik tekstur namun tidak mempengaruhi rasa dan aroma VN. VN dengan penstabil GA 1% mempunyai overrun terendah (P0,25-1% menghasilkan VN dengan waktu pelelehan lebih lama dan total padatan lebih tinggi (P0,5-1% menghasilkan VN dengan tekstur yang makin disukai (P<0,05). Penambahan penstabil GA lebih dari 0,25% dalam adonan mampu menghasilkan VN berkualitas baik ditinjau dari karakteristik fisik dan total padatan dengan tekstur yang disukai.Kata kunci: Gum arab; nangka; penstabil; velva Characteristic of Physicals, Total Solids and Hedonik of Jackfruit Velva with Addition of Arabic Gum as StabilizerABSTRACTJackfruit velva (JV) is a business extensification of the jackfruit processing as a preferred frozen dessert. Good quality JV used a stabilizer such as combination of Carboxyl Methyl Cellullose (CMC) and Arabic Gum (AG). This study aimed to get more insight the effect of AG addition as a single stabilizer to the physical characteristics (overrun and melting time), total solids and hedonic JV. AG in various concentration of 0; 0.25; 0.5; 0.75; and 1% of the total dough was used as a stabilizer in the JV manufacture. The addition of AG significantly affected the physical characteristic, total solids and texture hedonic without any effect on the flavor and aroma of JV. JV with 1% AG stabilizer had the lowest overrun (P0.25-1% AG resulted in JV with longer melting time and higher total solids (P0.5-1% AG resulted JV more favorable texture (P<0.05). The addition of more than 0.25% AG stabilizer in the dough was able to produce good quality JV in the aspects of physical characteristics and total solids with a preferred texture.Keywords: Arabic gum; jackfruit; stabilizer; velva
Sangkertadi Sangkertadi, Ronald Manganguwi
JURNAL ILMIAH SAINS, Volume 21, pp 130-136; https://doi.org/10.35799/jis.v21i2.35630

Abstract:
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kontribusi dinding dan arsitektur ruang serta jarak gedung ke jalan terhadap reduksi bising dari luar kedalam bangunan, dan distribusi bunyi yang terjadi. Studi kasus pada 2 gereja yaitu gereja GMIM Kampus Unsrat dan gereja GMIM Bethesda Ranotana di Kota Manado. Sebuah sumber bunyi di letakkan di luar ruang dekat pagar pada jarak 12 m terhadap gedung, dengan kuat bunyi konstan namun bervariasi antara 60 sampai dengan 100 dB dengan tahapan setiap 10 dB. Kuat bunyi dihitung dan diukur pada setiap jarak 2 m diruang luar dan dalam Gereja. Pengukuran menggunakan alat sound level meter. Perhitungan menggunakan teori akustik ruang dan software I_Simpa. Hasilnya menunjukkan bahwa konfigurasi arsitektur selubung dan ruang bangunan kedua gereja tersebut dalam keadaan kosong hanya mampu mereduksi bising sebesar 2.2 dan 3.7 dB, dengan jendela terbuka. Dengan sumber suara 100 dB di ruang luar, hasil pengukuran di ruang dalam pada kedua gereja mencapai 69.3 dB(A) dan 56.4 dB(A). Rentang bunyi tersebut masih tergolong bising dan belum memenuhi syarat kenyamanan bunyi untuk jenis bangunan ibadah menurut SNI. Visualisasi distribusi bunyi dengan menggunakan software I_Simpa, menunjukkan peran bukaan pintu dan jendela yang menyebabkan kebocoran bunyi kedalam ruangan.Kata kunci: Akustika; bising; dinding; gereja Noise Level and Sound Propagation Due to Outside Sound at GMIM Church Unsrat Campus and GMIM Bethesda Manado ABSTRACTThis research aims to determine the contribution of walls and architectural interior, and the distance of the building to the road to the reduction of noise from outside into the building as well as the distribution of sound that occurs. Case studies on 2 churches: the GMIM Church of Unsrat Campus and the GMIM Bethesda Ranotana Church, both in Manado City. A sound source was placed outside the room near the fence at 12 m from the building. The sound source was constant but varied from 60 to 100 dB with steps every 10 dB. Sound reception was calculated and measured every 2 m distance at outside and inside. Measurements were carried out using sound level meter. Calculations by acoustic theory and I_Simpa software. The results show that the churches when room is empty, had only able to reduce the noise by 2.2 and 3.7 dB, with opened windows. When a 100 dB sound source was applied, the measurement results in the indoor of the two buildings reached 69.3 dB(A) and 56.4 dB(A). Graphical visualizations of sound distribution by using I_Simpa software, showed the role of door and opened window that cause sound leakage into the room.Keywords: Acoustic; church; noise; wall
Christina L Salaki, Herlina Wungouw, Henny V Makal
JURNAL ILMIAH SAINS, Volume 21, pp 124-129; https://doi.org/10.35799/jis.v21i2.35616

Abstract:
Penelitian ini menguji efektivitas kombinasi biolarvasida minyak atsiri serai wangi (Cymbopogon nardus) dengan daun cengkeh (Syzygium aromaticum l.) Terhadap larva nyamuk Ae. aegypti. Penelitian ini bertujuan untuk: (a) menganalisis pengaruh pemberian kombinasi biolarvasida minyak atsiri serai wangi dan daun cengkeh terhadap perkembangan larva Ae. aegypti, (b) menganalisis uji daya bunuh kombinasi biolarvasida serai wangi (sw) dan daun cengkeh (dc) terhadap larva Ae. aegypti, (c) menganalisis uji patogenisitas dari kombinasi biolarvasida serai wangi dan daun cengkeh terhadap larva Ae. aegypti. Uji kombinasi biolarvasida ini dilakukan terhadap larva nyamuk Ae. aegypti instar III dengan perlakuan variasi kombinasi konsentrasi “SW 2% (P)”, “ SW 0,75% ” + “DC1,25% (P1)”, “SW 1%” + “DC 1% (P2)”, “SW 1,25 %” + “DC 0,75% (P3)” , “DC 2% (P4)”. dan Kontrol air (P-). Themepos (P+). Parameter yang diamati meliputi gejala, persentase mortalitas dan waktu kematian. Mortalitas larva diamati pada jam ke-6,12,18,24 setelah aplikasi. Perbedaan proporsi mortalitas antar tingkat konsentrasi dengan control diuji dengan metode chi-kuadrat sedangkan lT50 dengan analisis probit. Hasil penelitian menunjukkan masing-masing kombinasi bahan uji (P,P1,P2,P3 dan P4) tidak memiliki perbedaan pengaruh yang sginifikan sebagai biolarvasida dengan taraf signifikansi sebesar 0,05.. Kesimpulan hasil penelitian ini bahwa kelima konsentrasi bahan uji tersebut tidak memberikan perbedaan pengaruh yang signifikan sebagai biolarvasida. Hal ini menunjukkan bahwa minyak atsiri serai wangi dan daun cengkeh baik diaplikasi secara tunggal maupun dikombinasi memiliki efektifitas larvasida yang sama dengan temephos dalam membunuh larva nyamuk Ae. aegypti. Waktu kematian (LT50) ekstrak serai wangi 12,72 jam, daun cengkeh 6,71 jam dan kombinasi 6,38 jam.Kata kunci: Biolarvasida; efektifitas; konsentrasi; patogenisitas The Effectiveness of Biolarvacide Essential Oil of Vitronella (Cymbopogon nardus) with Clove Leaves (Syzygium aromaticum.L.) on Ae. aegypti Mosquito Larvae ABSTRACTThis study tested the effectiveness of the biolarvicide combination of citronella essential oil (cymbopogon nardus) and clove leaf (syzygium aromaticum L.) against the larvae of Ae. aegypti. This study aims to: (a) analyze the effect of giving a combination of biolarvicides of citronella essential oil and clove leaves on the development of Ae. aegypti, (b) analyzing the killing power of the combination of citronella (sw) and clove leaf (dc) biolarvicides against Ae. aegypti, (c) analyzing the pathogenicity test of the combination of citronella and clove leaf biolarvicides against the larvae of Ae. Agypti. This biolarvicide combination test was carried out on the larvae of Ae. aegypti instar iii with treatment variations in the concentration combination “SW 2% (P)”, “SW 0.75%” + “DC1.25% (P1)”, “SW 1%” + “DC 1% (P2)”, “SW 1.25%” + “DC 0.75% (P3)” , “DC 2% (P4)”. and Water control (P-). Themepos (P+). Parameters observed included symptoms of mortality percentage and time of death. Larval mortality was observed at 6, 12, 18, 24 hours after application. The difference in the proportion of mortality between concentration levels and control was tested by the chi-square method while the lt50 method was tested by probit analysis. The results showed that each combination of test materials did not have a significant difference in effect as a biolarvicide with a significance level of 0.05. The conclusion of this study was that the five concentrations of the test material did not give a significant difference in effect as a biolarvicide. This indicates that the essential oils of citronella and clove leaves, either applied singly or in combination, have the same larvicidal effectiveness as temephos in killing the larvae of Ae. aegypti. Time of death (lt50) citronella extract 12.72 hours, clove leaf 6.71 hours and the combination 6.38 hours.Keywords: Biolarvicides; effectiveness; concentration; pathogenicity
Sri Mulyani, Kusuma Melati Faizun Sunarko, Bhakti Etza Setiani
JURNAL ILMIAH SAINS, Volume 21, pp 113-118; https://doi.org/10.35799/jis.21.2.2021.31416

Abstract:
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh lama fermentasi terhadap total asam, total bakteri asam laktat dan warna L*a*b* dari water kefir buah belimbing manis. Rancangan penelitian yang digunakan adalah rancangan acak lengkap (RAL), dengan 4 perlakuan dan 5 kali ulangan. Perlakuan yang diteliti adalah variasi lama fermentasi yaitu 12 jam (t1), 24 jam (t2), 36 jam (t3), dan 48 jam (t4). Water kefir dibuat dari belimbing manis dengan menggunakan grain water kefir sebanyak 5%, sukrosa sebanyak 8%(b/v). Hasil penelitian menunjukkan bahwa lama fermentasi yang berbeda memberikan pengaruh nyata terhadap total asam, total bakteri asam laktat, nilai L* warna dan nilai a* warna serta tidak berpengaruh secara nyata (p>0,05) pada nilai b* warna. Semakin lama fermentasi dapat meningkatkan total asam, total bakteri asam laktat, nilai L* warna serta menurunkan nilai a* warna.Kata kunci: Bakteri asam laktat; belimbing manis; water kefirFermentation Time Effect on Total Acid, Total Lactic acid Bacteria Color of Star Fruit Water KefirABSTRACTThis study aims to determine the effect of fermentation time on total acid, total lactic acid bacteria and color lab of sweet star fruit water kefir. The research design used was a completely randomized design (CRD), with 4 treatments and 5 replications. The experimental treatments were variation of fermentation time of 12 hours (t1), 24 hours (t2),36 hours (t3), and 48 hours (t4). Water kefir is made from sweet starfruit using 5% water kefir grains and 8% sucrose. The results showed that different fermentation time had a significant effect on total acid, total lactic acid bacteria, color L* value and color a* value and had no significant effect (p.0,05) on color b* values. The longer the fermentation will increase the total acid, the total lactic acid bacteria, the L* color value and decrease the a* color value.Keywords: Lactic acid bacteria; star fruit; water kefir
Janet Graciela Paruntu, Djoni Hatidja, Yohanes A.R Langi
JURNAL ILMIAH SAINS, Volume 21, pp 119-123; https://doi.org/10.35799/jis.v21i2.28868

Abstract:
Tujuan penelitian ini yaitu mengetahui faktor yang menjadi keputusan mahasiswa Program Studi Matematika Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Sam Ratulangi (FMIPA UNSRAT) dalam memlilih indekos. Penelitian dilakukan dengan membagikan kuesioner kepada 60 responden mahasiswa aktif Program Studi Matematika FMIPA UNSRAT angkatan 2016-2019. Data dianalisis dengan menggunakan analisis faktor. Hasil penelitian menunjukkan ada empat faktor yang terbentuk dan bisa menjelaskan variabel-variabel yang ada dengan baik. Faktor paling dominan yang mempengaruhi keputusan mahasiswa dalam memilih Indekos adalah faktor lokasi dan harga dengan nilai eigen 4.130 dengan keragaman varian sebesar 31.769%.Kata kunci: Analisis faktor; fasilitas; indekos;Decision Students in Choosing Indekos with Factor AnalysisABSTRACTThe objective of this research was conducted to determine what factors are the student of mathematics study program Sam Ratulangi University decision in choosing boarding house. The study was conducted by distributing questionnaires to 60 respondents, namely, active students of the Mathematics Study Program Elemental School of 2016-2019. By using factor analysis, the results of the study showed that there explain the variables correctly. The most dominant factor affecting students’ decision to select indexes is the location factor and price of 4.130 with a varied varan of 31.769%.Keywords : Factor analysis, facility; indekos
Apriyanto Apriyanto
JURNAL ILMIAH SAINS, Volume 20, pp 100-105; https://doi.org/10.35799/jis.20.2.2020.28631

Abstract:
Fokus utama penelitian ini adalah menghitung harga premium asuransi menggunakan Copula FGM. Adapun tujuan utama dari penelitian ini yaitu menentukan harga premium asuransi yang ideal untuk tanaman Sagu di Kabupaten Luwu. Penelitian ini merupakan penelitian terapan (applied approach) dengan menggunakan data kuantitatif untuk luas lahan dan hasil produksi Sagu di Kabupaten Luwu yang bersumber dari data Badan Pusat Statistik (BPS). Tahapan-tahapan yang dilakukan dalam penelitian ini dimulai dengan melakukan studi kepustakaan untuk mengkaji konsep dasar Copula dan konsep Copula FGM beserta sifat-sifatnya; mengumpulkan data kuantitatif luas lahan (X) dan hasil produksi Sagu (Y); mengukur dependensi antara luas lahan dan hasil produksi Sagu menggunakan Copula FGM; dan terakhir menentukan harga premium asuransi pertanian (crop insurance) yang ideal. Hasil yang diperoleh dari penelitian ini yaitu: (1) Harga premium yang ideal berada pada kisaran harga Rp. 24.000 - Rp. 60.000 per Ha; (2) Harga premium asuransi yang ideal untuk tanaman Sagu di Kabupaten Luwu sangat bergantung pada besarnya deductible; dan (3) Harga premium untuk deductible dengan range kecil menghasilkan harga yang relatif lebih murah dibandingkan range deductible yang besar.Kata kunci: Copula FGM; Crop Insurance; Premium Asuransi; Sagu. Determination of Insurance Premium Price for Sago Plant in Luwu Regency Using FGM CopulasABSTRACTThe main focus of this study is to calculate the price of insurance premiums using FGM Copulas. The main objective of this research is to determine the ideal prices of insurance premium for Sago plants in Luwu Regency. This research is an applied approach using quantitative data for land area and Sago production in Luwu Regency sourced from the Central Statistics Agency Data. The stages carried out in this study began by conducting a literature study to examine the basic concepts of Copulas, the concept of FGM Copulas and their properties; collect quantitative data on land area (X) and Sago Production (Y); measure dependencies between land area and Sago production using the FGM Copulas; and finally determine the ideal price of insurance premium for Sago plants. The results of this study are: (1) The ideal premium is in the range of IDR 24,000 to IDR 60,000 per Ha; (2) The ideal premium for Sago plant in Luwu Regency is very dependent on amount of the deductible; (3) The premium for deductibles with small range relatively lower than large range.Keywords: FGM Copulas; Crop Insurance; Insurance Premiums; Sago.
Paulus L. Leu, Orbanus Naharia, Emma Mauren Moko, Aser Yalindua, Jantje Ngangi
Published: 8 November 2020
JURNAL ILMIAH SAINS, Volume 21, pp 96-112; https://doi.org/10.35799/jis.21.1.2021.32737

Abstract:
Tanaman dalugha (Cyrtosperma merkusii (Hassk.) Schott) merupakan tanaman endemik di Propinsi Sulawesi Utara yang perlu dilindungi dari serangan organisme pengganggu tumbuhan. Karakter morfologi dan Identifikasi hama sangat perlu untuk kajian ilmiah tentang budidaya tanaman endemik dalugha sebagai sumber pangan lokal di Sulawesi Utara. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui karakter morfologi dan identifikasi hama pada tanaman dalugha. Lokasi penelitian di desa Moronge, Kecamatan Moronge, Kabupaten Kepulauan Talaud. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif, pengambilan sampel hama ditentukan dengan teknik purposive sampling. Karakter morfologi dan identifikasi hama dilakukan dengan menggunakan buku kunci determinasi serangga hama dan aplikasi google lens dengan tingkat akurasi pengenalan spesies hewan yang tepat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa adanya keragaman hama pada tanaman dalugha yang terbagi dalam tiga kelas: Kelas Gastropoda yaitu Bekicot (Achatina fulica), Keong semak (Bradybaena similaris), Siput hijau (Rhinocochlis nasuta), Siput pita (Caracolus marginella), Siput kebun (Cornu aspersum), dan Sumpil (Subulina octona); Kelas Insekta yaitu Belalang hijau (Oxya servile), Jangkrik semak (Tettigonia caudate), Kumbang daun (Asphaera lustrans), Kepik kaki daun tumbuhan (Leptoglossus australis), Kutu kebul (Bemisia tabaci), Semut kebun hitam (Lasius niger), Ulat tanduk talas (Theretra oldenlandiae), Kecoa (Periplaneta americana L.), dan Kecoa surinam (Pycnoscelus surinamensis); serta Kelas Oligochaeta yaitu Cacing tanah (Lumbricus rubellus).Kata kunci: dalugha; hama; identifikasi; morfologi; Sulawesi Utara Morphological Characteristics and Pest Identification on Dalugha Plants (Cyrtosperma merkusii (Hassk.) Schott) in Talaud Islands District, North Sulawesi Province ABSTRACTDalugha plants (Cyrtosperma merkusii (Hassk.) Schott) are endemic plants in North Sulawesi Province which need to be protected from attack by plant-disturbing organisms. Morphological characters and identification of pests are very necessary for scientific studies on the cultivation of endemic plants of dalugha as a local food source in North Sulawesi. This study aims to determine the morphological characters and identification of pests in dalugha plants. The research location is in Moronge Village, Moronge District, Talaud Islands Regency. This study used a qualitative descriptive method, the sampling of pests was determined by purposive sampling technique. Morphological characters and identification of pests were carried out using the key book for insect pest determination and the Google Lens application with an accurate level of recognition of animal species. The results showed that there was a diversity of pests in Dalugha plants which were divided into three classes: Gastropod class namely Bekicot (Achatina fulica), Keong semak (Bradybaena similaris), Siput hijau (Rhinocochlis nasuta), Siput pita (Caracolus marginella), Siput kebun (Cornu aspersum), and Sumpil (Subulina octona); Class Insects are Belalang hijau (Oxya servile), Jangkrik semak (Tettigonia caudate), Kumbang daun (Asphaera lustrans), Kepik kaki daun tumbuhan (Leptoglossus australis), Kutu kebul (Bemisia tabaci), Semut kebun hitam (Lasius niger), Ulat tanduk (Theretra oldenlandiae), Kecoa (Periplaneta americana L.), and Kecoa surinam (Pycnoscelus surinamensis) and Oligochaeta class namely Cacing tanah (Lumbricus rubellus).Keywords: dalugha; identification; morphology; North Sulawesi; pest
Defrikson Ba'U, Dewa G Katja, Vanda S Kamu, Paulina V.Y Yamlean, Max R.J Runtuwene
JURNAL ILMIAH SAINS, Volume 20, pp 122-127; https://doi.org/10.35799/jis.20.2.2020.30069

Abstract:
Penelitian ini bertujuan untuk menentukan total phenolic content (TPC), total flavonoid content (TFC), condensed tannin content (CTC) dan nilai toksisitas dari daun leleng merah. Daun leleng merah diekstraksi dengan metode maserasi dan dipartisi menggunakan pelarut n-heksana, etil asetat, dan air. Penentuan nilai TPC menggunakan metode Folin-Ciocalteu. Penentuan nilai TFC menggunakan metode AlCl3. Penentuan nilai CTC menggunakan metode vanillin-HCl. Penentuan nilai toksisitas menggunakan metode BSLT. Nilai TPC yang diperoleh pada fraksi n-heksana (FH), fraksi air (FA), dan fraksi etil asetat (FEA) daun Leleng Merah berturut-turut, adalah: 20,48; 31,7; dan 37,57 (mg/g). Nilai TFC diperoleh pada FH, FA, dan FEA berturut-turut, adalah: 0,64; 0,99; dan 1,27 (mg/g). Nilai CTC diperoleh pada FH, FA, dan FEA berturut-turut, adalah: 0,56; 2,17; dan 6,52 (mg/g). Nilai toksisitas diperoleh pada FEA, FA, FH berturut-turut, adalah: 21,93; 100,7; dan 117,22 (mg/L). FEA memiliki nilai toksisitas dan kandungan fitokimia tertinggi. Daun leleng merah bersifat toksik.Kata Kunci : Brine shrimp lethality test, leleng merah, fitokimia, Phytochemical Analysis and Toxicity Test of Leleng Merah Leaves (Graptophyllum pictum (L.) Griffith) Using the Brine Shrimp Lethality Test ABSTRACTThis study aims to determine the total phenolic content (TPC), flavonoids (TFC), condensed tannins (CTC) and toxicity value of Leleng Merah leaves. Leleng merah leaves were extracted by maceration method and partitioned using n-hexane, ethyl acetate, and water solvent. TPC values were determined using the Folin-Ciocalteu method. TFC values were determined using the AlCl3 method. CTC values were determined using the vanillin-HCl method. Toxicity values were determined using the BSLT method. TPC values obtained in the n-hexane (FH), water (FA), and ethyl acetate (FEA) fraction of the Leleng Merah leaves, were: 20.48; 31.7; 37.57 (mg / g) respectively. TFC values obtained in FH, FA, and FEA, were : 0.64; 0.99; 1.27 (mg / g) respectively. CTC values obtained at FH, FA, FEA, were: 0.56; 2.17; 6.52 (mg/g) respectively. Toxicity values obtained at FEA, FA, FH, were: 21.93; 100.7; 117.22 (mg/L) respectively. FEA has the highest toxicity and phytochemical content. Leleng Merah Leaf is toxic.Keywords : Brine Shrimp Lethality Test, leleng merah, phytochemistry
Nur Alam, I Made Budiarsa, Dewi Tureni
JURNAL ILMIAH SAINS, Volume 20, pp 106-112; https://doi.org/10.35799/jis.20.2.2020.28857

Abstract:
Protein β-NGF berperan dalam kelangsungan hidup sel neuron dan diferensiasi embrio aves yang diekspresikan oleh gen NGF. Informasi protein β-NGF telah diidentifikasi pada ayam dan masih terbatas dilaporkan pada merpati. Tujuan penelitian adalah memprediksi struktur tiga dimensi protein β-NGF merpati untuk menambah informasi karakter proteinnya. Protein target diperoleh dari server UniProt dengan kode akses B4ZE95. Prediksi struktur tiga dimensi dan karakterisasi protein β-NGF menggunakan server SWISS-MODEL dan program Chimera. Hasil analisis menunjukkan bahwa protein β-NGF merpati dan template memiliki nilai identity sebesar 89,91%, QMEAN 0,51 serta GMQE sebesar 0,44. Struktur tiga dimensi protein B4ZE95 memiliki asam amino hidrofobik (Ile, Leu, Trp, Phe, Val, Ala, Gly, Met, Cys); karboksil (Glu, Ser, Asp); amina (Lys, Thr) dengan 83 ikatan hidrogen.Kata kunci: columba livia, chimera, protein β-NGF, swiss-model Three Dimensional Protein Structure Prediction of β-NGF(Nerve Growth Factor) on Pigeon (Columba livia)ABSTRACTThe β-NGF protein plays a role in the survival of neuron cells and differentiation of avian embryo which is expressed by NGF gene. Information of β -NGF protein was identified in chicken and it is still limited reported in pigeon. The purpose of this study is to predict the three-dimensional structure of pigeon β-NGF protein to add information about its protein character. The target protein is obtained from UniProt server with access code B4ZE95. The prediction of three-dimensional structure and characterization of β-NGF protein were carried out using SWISS-MODEL server and Chimera program. The analysis showed that pigeon β-NGF protein and template had identity of 89,91%, QMEAN 0,51 and GMQE of 0,44. The three-dimensional structure of the B4ZE95 protein has hydrophobic amino acids namely (Ile, Leu, Trp, Phe, Val, Ala, Gly, Met, Cys); carboxyl namely (Glu, Ser, Asp); amine namely (Lys, Thr) with 83 hydrogen bonds.Keywords: columba livia, chimera, protein β-NGF, swiss model
Siti Susanti, Valentinus Priyo Bintoro, Antonius Hintono, Neti Zuniati, Fahmi Arifan
JURNAL ILMIAH SAINS, Volume 20, pp 134-140; https://doi.org/10.35799/jis.20.2.2020.30261

Abstract:
Ekstrak buah semu jambu monyet (EBSJM) sebagai bumbu marinasi menjadi salah satu aplikasi pemanfaatan jambu monyet di bidang pangan. Tujuan penelitian ini adalah menentukan level optimum EBSJM sebagai pensubstitusi saus tomat dalam formula bumbu marinasi ditinjau dari karakteristik fisikomikia dan hedoniknya. Empat level konsentrasi EBSJM dengan lima kali perulangan (0, 5, 10, dan 15%) dari proporsi saus tomat (v/v) ditetapkan dalam formula bumbu marinasi untuk menu steak. Produk bumbu steak untuk masing-masing formula selanjutnya dikarakterisasi fisikokimianya. Uji hedonik dilakukan dengan mengaplikasikan bumbu pada daging ayam yang diolah sebagai steak. Substitusi EBSJM pada saus tomat mempengaruhi karakteristik fisikokimia (viskositas, pH, kadar air, dan total padatan) bumbu marinasi dan karakteristik hedonik (rasa dan tekstur) pada steak sebagai hasil aplikasi dari bumbu tersebut. Viskositas dan total padatan makin meningkat sedangkan kadar air makin menurun pada substitusi lebih dari 5% (p<0,05). Penurunan pH bumbu makin bertambah seiring dengan penambahan substitusi hingga 10% (p<0,05). Uji hedonik menunjukkan substitusi 5% menghasilkan steak ayam yang paling disukai dari segi tekstur dan rasa (p<0,05). Substitusi saos tomat dengan EBSJM 5% menghasilkan produk bumbu marinasi untuk steak yang kental, asam, pekat dan paling disukai. Kata kunci : Ekstrak; bumbu; jambu monyet; marinasi Optimation on the Substitution of Tomato Sauce with Cashew Apple Extract in Formulation of Steak Marinade Seasoning ABSTRACTExtracts of cashew apple (EBSJM) as marinade seasoning is one of the applications of cashew apple utilization in the food sector. Study was aimed to determine the optimum level of EBSJM as a substitute for sauce in the marination seasoning formula reviewed from its physical and hedonic characteristics. Four levels of EBSJM concentration with five iterations (0, 5, 10, and 15%) of the sauce proportion (v/v) was defined in the marinade seasoning for steak. Steak seasoning products for each formula were further characterised by physicalochemistry. EBSJM substitution to tomato sauce affected the viscosity, pH, moisture content, and total solids of marinade seasoning and hedonic characteristics (taste and texture) in the steak as a result of the application of the seasoning. Viscosity and total solids increased while water levels decreased at substitutions by more than 5% (p<0.05). The decrease in seasoning pH increased in line with the addition of substitutions up to 10% (p<0.05). Hedonic tests showed a 5% substitution resulting in the most preferred chicken steak in terms of texture and taste (p<0.05). The substitution of tomato sauce with EBSJM 5% obtained the marinade products for steaks that were dense, sour, concentrated, and most preferred. Keywords: Cashew apple; extracts; margination; seasonings
Ebta Narasukma Anggraeny, Endang Sri Sunarsih, Patricia Sanggita Listyoputri Wibowo, Novi Elisa
Published: 8 November 2020
JURNAL ILMIAH SAINS, Volume 21, pp 17-25; https://doi.org/10.35799/jis.21.1.2021.30337

Abstract:
ABSTRAKIsoniazid adalah obat anti tuberkulosis yang digunakan baik sebagai monoterapi atau kombinasi. Penggunaan isoniazid dalam waktu lama dapat menyebabkan hepatotoksik. Hepatotoksik disebabkan oleh hasil metabolisme isoniazid di hepar berupa hidrazin dan asetilhidrazin. Radikal bebas tersebut yang menyebabkan tingginya reactive oxygen species (ROS) didalam tubuh. Tingginya radikal bebas menyebabkan peningkatan kadar SGPT dan SGOT yang merupakan indikator adanya kerusakan hepar. Tingginya radikal bebas dalam tubuh dapat dilihat dari paramter MDA. Hal tersebut dapat diatasi dengan pemberian antioksidan eksogen seperti jus stroberi (Fragaria ananassa Duchessne). Tujuan penelitian ini untuk mengetahui skrinning fitokimia jus stroberi dan pengaruh pemberian jus stroberi terhadap kadar SGPT, SGOT dan MDA pada tikus yang diinduksi Isoniazid. Perlakuan diberikan selama 14 hari dengan pembagian kelompok yaitu kontrol normal, kontrol negatif, kontrol positif, dosis 3g/kgBB, 6g/kgBB, dan 9g/kgBB. Pengambilan data dilakukan pada hari 1, hari 15, dan hari 29. Hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa jus stroberi dapat menurunkan kadar SGPT, SGOT dan MDA pada tikus yang diinduksi isoniazid dengan dosis efektif sebesar 3g/kgBB tikus.Kata kunci: Isoniazid; jus stroberi; MDA; SGPT; SGOT;Effect of Strawberry Juice (Fragraria ananassa Duchessne) against SGPT, SGOT and MDA levels in Isoniazide-Induced Wistar Male Rats ABSTRACTIsoniazid is an anti-tuberculosis drug that is used either as monotherapy or in combination. Prolonged use of isoniazid can cause hepatotoxicity. Hepatotoxicity is caused by the hepatic isoniazid metabolism in the form of hydrazine and acetylhydrazine. These free radicals cause high reactive oxygen species (ROS) in the body. The high level of free radicals causes an increase in SGPT and SGOT levels, which are indicators of liver damage. The high level of free radicals in the body can be seen from the MDA parameter. This can be overcome by giving exogenous antioxidants such as strawberry juice (Fragaria ananassa Duchessne). The purpose of this study was to determine the phytochemical screening of strawberry juice and the effect of giving strawberry juice on the levels of SGPT, SGOT and MDA in rats induced by Isoniazid. The treatment was given for 14 days divided into groups, namely normal control, negative control, positive control, dose of 3g / kg, 6g / kg, and 9g / kg of body weight. Data were collected on day 1, day 15, and day 29. The results of this study concluded that strawberry juice can reduce levels of SGPT, SGOT and MDA in isoniazid-induced rats with an effective dose of 3 g/kgBW rats.Keywords: Isoniazid; Strawberry juice; MDA; SGPT; SGOT
Gilbert A. Bejec, Lilibeth A. Bucol, Tomas D. Reyes, Reizl P. Jose, Agustin B. Angcog, Albert C. Pagente, Josie M. Rodriguez, Anna Lee N. Bejec, Neri Fretz P. Paglinawan
Published: 8 November 2020
JURNAL ILMIAH SAINS, Volume 21, pp 73-84; https://doi.org/10.35799/jis.21.1.2021.31238

Abstract:
This study assessed the abundance and species richness of bats (Order Chiroptera) inhabiting caves in three KBAs (Key Biodiversity Areas) of Central Visayas: Mt. Bandilaan in Siquijor (13 caves), Mabinay, Negros Oriental (11 caves), and Rajah Sikatuna Protected Landscape(RSPL) in Bohol (31 caves). The study was conducted between February 14 to September 20, 2019. Of the 55 caves surveyed, 35 caves were inhabited by bats. Field survey methods included mist-netting at the cave entrances and direct observations of roosting sites in each cave. This study captured 754 individuals of bats belonging to 16 species, majority of which are insectivorous species (13 species) and only three species are fruitbats (Pteropodidae). Mabinay caves had the highest number of species (11) and captured bats (271 individuals) while RSPL had 9 species (221 individuals) while Mt. Bandilaan only had five species but relatively high captured bats (262 individuals). Five species are Philippine endemics (Hipposideros obscurus, Hipposideros pygmaeus, Ptenochirus jagori, Rhinolophus inops, and R. rufus) and three Near-threatened species (H. lekaguli, M. schreibersii, and R. rufus). The rare bat species (Dobsonia chapmani) may be locally extirpated in Mabinay, where it last documented at Mambajo cave in the 1960s. The survey also noted the absence of fruit bats (observed in 2011 study) in all of the caves in Mt. Bandilaan, probably due to on-going anthropogenic activities (treasure hunting, bat hunting, guano extraction, land conversion, locals illegal entry, graffiti, etc) in caves surveyed. Large colonies of fruitbats and insect bats in RSPL may have been affected by anthropogenic activities inside the caves. Most of the caves surveyed have been promoted for ecotourism activities.Keywords: cave; chiropteran; extraction; karst; limestone
Sri Fatmawati, Nur Inayah Syar, Suhartono Suhartono, Dara Maulina, Ridwan Ariyadi
Published: 8 November 2020
JURNAL ILMIAH SAINS, Volume 21, pp 63-72; https://doi.org/10.35799/jis.21.1.2021.32908

Abstract:
Penelitian ini bertujuan menguji filter arang aktif gambut dalam menyerap logam berat mercury (Hg) pada air sungai Kahayan yang tercemar. Proses pembuatan arang aktif melalui beberapa tahap yaitu: tahap karbonisasi, tahap penghalusan, dan tahap pengaktifan secara fisika. Mutu arang aktif mengacu pada persyaratan SNI 06-3730-1995 meliputi kadar air dan kadar abu. Hasil uji mercury analyzer menunjukkan bahwa arang aktif gambut mampu menyerap logam berat mercury (Hg) dalam air. Kadar logam berat mercury (Hg) berkurang setelah dilakukan proses adsorbsi yaitu sebagai berikut: ukuran serbuk gambut 40 mesh mampu menyerap logam berat mercury (Hg) sebesar 50 % ; ukuran serbuk gambut 60 mesh d mampu menyerap logam berat mercury (Hg) sebesar 75%.Kata kunci: arang aktif; gambut; logam berat; mercuryPeat Activated Charcoal as a Heavy Metal Mercury (Hg) Filter ABSTRACTThis study aims to test the activated peat charcoal filter to absorb heavy metal mercury (Hg) in polluted Kahayan river water. The process of making activated charcoal goes through several stages, namely: the carbonization stage, the refining stage, and the physical activation stage. The quality of activated charcoal refers to the requirements of SNI 06-3730-1995 including moisture content and ash content. The results of the mercury analyzer test showed that peat-activated charcoal was able to absorb heavy metal mercury (Hg) in water. The heavy metal mercury (Hg) content was reduced after the adsorption process was carried out, namely as follows: the size of 40 mesh peat powder can absorb heavy metal mercury (Hg) by 50%; Peat powder size of 60 mesh can absorb 75% of the heavy metal mercury (Hg).Keywords: activated carbon; peat; heavy metals; mercury
I Made Saka Wijaya, Gede Surya Indrawan, Putu Angga Wiradana, I Made Sara Wijana, Abd. Rahman As-Syakur, Adi Ariyanto Wibisono, Viryanando Evan Rahardja
Published: 8 November 2020
JURNAL ILMIAH SAINS, Volume 21, pp 34-48; https://doi.org/10.35799/jis.21.1.2021.31744

Abstract:
Letusan Gunung Agung pada tahun 1963 memberikan dampak ekologis di sekitar muara Sungai Unda, Kabupaten Klungkung, Bali. Lahar yang mengalir melalui sungai tersebut menyebabkan terjadinya suksesi primer akibat tutupan pasir dan batu. Selama 57 tahun, muara Sungai Unda tidak hanya mengalami suksesi alam, tetapi juga mengalami suksesi antropogenik melalui pemanfaatan sebagai tambang pasir, lahan pastura, dan permukiman sementara. Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari struktur dan komposisi vegetasi pada suksesi di muara Sungai Unda. Penentuan struktur vegetasi dilakukan pada 8 stasiun penelitian dengan menggunakan metode plot dengan jumlah 24 plot pohon (20 x 20 m) dan 48 plot vegetasi lantai (1 x 1 m). Data dianalisis menggunakan parameter ekologis seperti densitas, densitas relatif, frekuensi, frekuensi relatif, dominansi, dominansi relatif, dan nilai penting, serta dilengkapi dengan indeks keragaman Shannon-Weiner (H’), indeks dominansi (C), dan indeks keseragaman (E). Hasil penelitian menunjukkan bahwa semak dan rumput merupakan bentuk hidup yang paling menentukan struktur vegetasi di Muara Sungai Unda. Beberapa spesies penyusun vegetasi tersebut merupakan tumbuhan invasif seperti yang harus dikontrol populasinya adalah Typha angustifolia, Ipomoea carnea, Chromolaena odorata, Lantana camara, dan Vachellia farnesiana. Berdasarkan indeks yang digunakan, keanekaragaman vegetasi termasuk dalam kategori tinggi, tanpa ada jenis yang mendominasi, dengan persebaran yang merata.Kata kunci: Gunung Agung; spesies invasive; suksesi antropogenik; vegetasi suksesiStructure and Composition of Successional Vegetation in Unda River, Klungkung Regency, BaliABSTRACTMount Agung eruption in 1963 caused major ecological impact around Unda River, Klungkung Regency, Bali. The volcanic mudflow that surpass the Unda River watershed initiate the primary succession in those areas. This research aimed to study the structure and composition of successional vegetation in Unda River. Twenty-four tree plots (20 x 20 m) and 48 understorey plots (1 x 1 m) derived from 8 research stations were used to determine the structure of vegetation. The data analyzed by ecological parameters, such as density, relative density, frequency, relative frequency, dominancy, relative dominancy, and importance value, then completed with Shannon-Weiner diversity index (H’), dominancy index (C), and evenness index (E). The results shown that the vegetation structure in Unda River determined by two major growth form: shrubs and grasses. Some notable invasive species that should be controlled are Typha angustifolia, Ipomoea carnea, Chromolaena odorata, Lantana camara, and Vachellia farnesiana. Based on the three indexes, the vegetation diversity was categorized as high diversity, without any species domination, and the distribution of the species are uniformKeywords: Anthropogenic succession; invasive species; Mount Agung; successional vegetation
Heni Rizqiati, Dhea Luthfia Ramadhanti, Mohammad Ihsan Yahya Prayoga
Published: 8 November 2020
JURNAL ILMIAH SAINS, Volume 21, pp 54-62; https://doi.org/10.35799/jis.21.1.2021.31160

Abstract:
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh penambahan sukrosa dengan beberapa konsentrasi yang berbeda terhadap total bakteri asam laktat, nilai pH, kadar alkohol, dan uji hedonik water kefir belimbing manis. Desain percobaan yang digunakan adalah Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 5 perlakuan dan 4 kali ulangan, dengan perlakuan penambahan beberapa konsentrasi sukrosa (0%, 3%, 6%, 9%, dan 12%). Belimbing yang digunakan adalah jenis belimbing manis dengan menggunakan grain water kefir sebanyak 5% dan difermentasi selama 24 jam. Kualitas water kefir belimbing yang dianalisis yakni total bakteri asam laktat, nilai pH, kadar alkohol dan kesukaan produk. Data parametrik yang diperoleh kemudian dianalisis dengan aplikasi SPSS 22.0 menggunakan Analysis of Variance (ANOVA) yang dilanjutkan dengan Duncan Multiple Range Test (DMRT), sedangkan data non parametrik dianalisis dengan uji Mann-Whitney yang dilanjutkan dengan uji Kruskall-Wallis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penambahan sukrosa dengan beberapa konsentrasi yang berbeda memberikan pengaruh nyata terhadap total bakteri asam laktat, kadar alkohol, nilai pH dan uji hedonik. Semakin tinggi konsentrasi sukrosa yang ditambahkan maka semakin tinggi total bakteri asam laktat, alkohol, dan hedonik serta menurunkan nilai pH pada produk, perlakuan terbaik terdapat pada perlakuan T3 dengan penambahan sukrosa sebanyak 9% yang menghasilkan total bakteri asam laktat sebesar 8,746, nilai pH sebesar 4,32, kadar alkohol sebesar 1,05%, dan memiliki skor kesukaan sebesar 3,76.Kata kunci : Alkohol; belimbing; pH; water kefir The Effect of Variation Sucrose Concentration on Total Lactic Acid Bacteria, pH, Alcohol Content and Hedonic in Water Kefir from Starfruit (Averrhoa carambola) ABSTRACTThis research was to determine the effect of sucrose addition on total lactic acid bacteria, pH value, alcohol content, and hedonic test in water kefir from starfruit. The experimental design used was Completely Randomized Design (CRD) with 5 treatments and 4 replications, with treatment addition some concentration sucrose (0%, 3%, 6%, 9%, and 12%). Starfruit used is a type of sweet starfruit with a kefir water grain of 5% and fermented for 24 hours. Starfruit water kefir quality analyzed are total lactic acid bacteria, pH value, alcohol content and hedonic properties of the product. The resulted parametric data is then analyzed using Analysis of Variance (ANOVA) followed by Duncan Multiple Range Test (DMRT), while the non parametric data were analyzed using the Mann-whitney test followed by the Kruskall-wallis test. The results showed that the addition of sucrose with several different concentrations had a significant effect on total lactic acid bacteria, alcohol content, pH value and hedonic test. The higher sucrose concentration added the higher the resulted level on the total lactic acid bacteria, alcoholc and hedonic level also lower the pH value of the product, the best treatment is T3 with the addition of 9% sucrose which produces a total of 8,746 lactic acid bacteria, pH value of 4,32, alcohol content of 1,05%, and has a favorite score of 3,76.Keywords : Alcohol; starfruit; pH; water kefir
Parluhutan Siahaan, Jusak Wongkar, Susan Wowiling, Rowland Mangais
Published: 8 November 2020
JURNAL ILMIAH SAINS, Volume 21, pp 26-33; https://doi.org/10.35799/jis.21.1.2021.31172

Abstract:
Kepik Hijau (Nezara viridula L.) merupakan hama penting bagi beberapa tanaman pangan seperti kedelai, padi dan jagung. Salah satu upaya untuk mengendalikan hama adalah dengan pemanfaatan entomopatogen, seperti virus, bakteri maupun jamur. Salah satu jamur entomopatogen yang berpotensi untuk dieksploitasi adalah Beauveria bassiana yang mempunyai berbagai jenis inang. Belum diketahui patogenesitas B. bassiana yang diisolasi dari beberapa jenis inang terhadap hama kepik hijau (N. viridula), untuk itulah penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui patogenesitas B. bassiana yang diisolasi dari inang yang berbeda terhadap hama kepik hijau (N. viridula). Penelitian ini dilakukan di Laboratorium Agens Hayati (LAH) Kalasey, Balai Perlindungan dan Pengujian Mutu Tanaman Pangan dan Hortikultura (BPPMTPH), Dinas Pertanian dan Peternakan Daerah Provinsi Sulawesi Utara. Penelitian dilakukan secara in- vitro dengan menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 6 perlakuan yaitu (Kontrol negatif , N1: suspensi B. bassiana isolat WBC (wereng batang coklat), N2: suspensi B. bassiana isolat Jati Sari sebagai kontrol positif (rekomendasi Kementan), N3: suspensi B. bassiana isolat Paraeucosmetus pallicornis (kepik hitam), N4: suspensi B. bassiana isolat Leptocorisa acuta (walang sangit) dan N5: suspensi B. bassiana isolat Scotinopara coarctata (kepinding tanah). Perlakuan menggunakan konsentrasi atau kerapatan konidia 109/ml air, dengan 5 ulangan. Data dianalisis dengan Uji Anava 95% dan analisis probit untuk menentukan LT50 (Lethal Time 50). Hasil penelitian menunjukkan bahwa jamur B. bassiana isolat Jati Sari memiliki patogenisitas tertinggi dengan membunuh kepik hijau (N. viridula) sampai 100% pada hari ke-5 HSP (hari setelah perlakuan), sedangkan isolat lain semuanya pada hari ke-6 HSP. Nilai LT50 (waktu yang dibutuhkan untuk membunuh 50% serangga uji) terdapat pada isolat P. pallicornis yaitu 2,1 hari. Persentasi mortalitas pada hari ke-3 HSP tertinggi terdapat pada perlakuan isolat P. pallicornis dengan rata-rata mortalitas sebesar 78% diikuti isolat L. acuta dan S. coarctata masing-masing sebesar 68% dan isolat Jati sari sebesar 58%, sedangkan mortalitas terendah terdapat pada perlakuan isolat WBC yaitu sebesar 32%. Tidak ada perbedaan patogenisitas yang signifikan diantara isolat Jati Sari, P. pallicornis, L. acuta maupun S. coarctata kecuali isolat WBC.Kata kunci: Beauveria bassiana; Entomopatogen; Nezara viridula Pathogenicity of Beauveria bassiana (Bals.) Viull. Isolated from Several Host Species Against Green Ladybug, Nezara viridula L. (Hemiptera: Pentatomidae) ABSTRACTGreen Ladybugs (Nezara viridula L.) are important pests for several food crops such as soybeans, rice and corn. One of the efforts to control this pest is the use of entomopathogens, such as viruses, bacteria and fungi. One of the entomopathogenic fungi that has the potential to be exploited is the fungus Beauveria bassiana. The fungi B. bassiana has various of hosts. There are no data on the pathogenicity of B. bassiana isolated from several host species against green ladybugs (Nviridula), for that reason this study was conducted with the aim of knowing the pathogenicity of B. bassiana isolated from different hosts against green ladybugs (N. viridula).. This research was conducted at Laboratory of Biological Control Agents, the Center for the Protection and Quality Testing of Food Crops and Horticulture, the Regional Agriculture and Livestock Service Office of North Sulawesi Province. The research was conducted in-vitro using a completely randomized design (CRD) with 6 treatments, namely (Negative control, N1: suspension B. bassiana, WBC isolate (brown planthopper), N2: B. bassiana suspension, Jati Sari isolate as a positive control (Ministry of Agriculture Recommendation), N3 : B. bassiana suspension isolate Paraeucosmetus pallicornis (black ladybug), N4: suspension B. bassiana isolate Leptocorisa acuta (Rice ear bug) and N5: suspension B. bassiana isolate Scotinopara coarctata (rice black bug) Treatment using conidia concentration or density 109 / ml water, with 5 replications. Data were analyzed with Anava test 95% and probit analysis to determine LT50 (Lethal Time 50). The results showed that the fungus B. bassiana Jati Sari isolate had the highest pathogenicity, because this isolate was able to kill green ladybugs (N viridula) to 100% on the 5th day of DAT (the day after treatment), while the other isolates were all on the 6th DAT. While the value of LT50 (time needed to kill 50% of the insect test) was found in P. pallicornis isolates which were 2,1 days of DAT. Because LT50 in all isolate treatments was between the 2nd and 3rd day of DAT, the Anava test for mortality was carried out on the 3rd day of DAT. The highest percentage of mortality on the 3rd day of DAT was found in the treatment of P. pallicornis isolates with an average mortality of 78% followed by L. acuta and S. coarctata isolates each at 68% and Jati sari isolates at 58%, while the lowest mortality was found in the treatment of WBC isolates, namely 32%. There was no significant difference in pathogenicity between Jati Sari, P. pallicornis, L. acuta and S. coarctata isolates except for WBC isolates.Keywords: Beauveria bassiana; Entomopatogen; Nezara viridula
Tamariska Ega Tabitha Mandagi, Djoni Hatidja, Mans Mananohas
Published: 8 November 2020
JURNAL ILMIAH SAINS, Volume 21, pp 85-90; https://doi.org/10.35799/jis.21.1.2021.29040

Abstract:
Tujuan Penelitian ini, yaitu memetakan kelebihan dan kekurangan kecamatan-kecamatan di Kota Manado serta menggelompokan karakteristik usaha pariwisata yang ada di Kota Manado dengan menggunakan metode biplot. Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data sekunder yakni data jumlah usaha pariwisata tahun 2019 yang diperoleh dari Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kota Manado. Hasilnya menunjukkan bahwa objek dalam hal ini kecamatan-kecamatan yang dapat dikelompokkan memiliki karakteristik usaha pariwisata yang relatif sama adalah 1). Malalayang, Wanea, dan Sario 2). Bunaken, Singkil, Tuminting, Tikala, Paal Dua, dan Mapanget 3). Bunaken Kepulauan 4). Wenang. Kelompok pertama memiliki jumlah usaha pariwisata yang cukup pada hampir keseluruhan usaha pariwisata yang ada, tapi masih perlu diperhatikan untuk usaha pariwisata Kawasan Pariwisata, Penyediaan Akomodasi, dan Wisata Tirta. Kelompok kedua, merupakan kelompok kecamatan yang butuh banyak perhatian untuk dikembangkan lagi dikarenakan masih banyak kecamatan yang jumlah usaha pariwisatanya masih kurang bahkan tidak ada di kecamatan-kecamatan ini. Kelompok ketiga, kecamatan Bunaken Kepulauan memiliki jumlah usaha pariwisata yang paling unggul untuk usaha pariwisata Wisata Tirta, tapi untuk usaha pariwisata lainnya masih perlu dikembangkan lagi. Kelompok keempat, kecamatan Wenang memiliki jumlah usaha pariwisata yang unggul pada keseluruhan usaha pariwisata yang ada. Kata kunci: Analisis biplot; pengelompokan; usaha pariwisata; Manado Mapping and Grouping the Characteristics of Tourism Enterprises in Manado City Using Biplot Analysis ABSTRACT The aims of this research was mapping the advantages and disadvantages of sub-districts in Manado City and grouping the characteristics of tourism enterprises in Manado City using the biplot analysis. The data used in this research are secondary data which is tourism enterprises data in 2019 that obtained from the Department of Tourism and Culture of Manado City. The results show that the object or sub-districts can be grouped having relatively similar tourism enterprises characteristics, are 1). Malalayang, Wanea, and Sario 2). Bunaken, Singkil, Tuminting, Tikala, Paal Dua, and Mapanget 3). Bunaken Kepulauan 4). Wenang. The first group has a sufficient number of tourism enterprises, but still needs to be considered for tourism businesses in the Tourism Area, Provision of Accommodation, and Water Tourism. The second group, is sub-district group that needs a lot of attention to be developed again. The third group, Bunaken Kepulauan has the most superior number for Water Tourism, but for other tourism enterprises it still needs to be developed further. The fourth group, Wenang has a number of tourism enterprises that excel in all existing tourism enterprises. Keywords: Biplot analysis; grouping; tourism enterprises; Manado
Maria D. Bobanto, Ferdy Ferdy, Guntur Pasau, D.D Tampemawas, A. Saefuloh, Dolfie P Pandara
Published: 8 November 2020
JURNAL ILMIAH SAINS, Volume 21, pp 49-53; https://doi.org/10.35799/jis.21.1.2021.31296

Abstract:
Gunung Soputan adalah gunung basaltik dengan tipe erupsi eksplosif. Tipikal eksplosif berkaitan dengan karakter magma. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji kristalinitas abu vulkanik Gunung Soputan tahun 2016 dan 2018 dan implikasinya terhadap perilaku eksplosifnya. Kristalinitas abu vulkanik dikarakterisasi menggunakan peralatan difraktometer sinar X. Indeks kristalinitas dikalkulasi menggunakan persamaan Soltys dan ukuran kristal dikomputasi dengan persamaan Debye-Scherrer. Morfologi partikel abu dikarakterisasi menggunakan SEM. Hasil karakterisasi menunjukkan bahwa abu Soputan tahun 2016 dan 2018 memiliki indeks kristalinitas yang tinggi dan mengandung sejumlah kristal berukuran kecil serta memiliki dua bentuk morfologi yaitu bentuk padat dan blok bervesikular untuk abu hasil erupsi 4 Januari 2016, dan bentuk padat dan blok untuk abu hasil erupsi 6 Februari 2016 dan 3 Oktober 2018. Kristalinitas yang tinggi menyebabkan magma Soputan memiliki viskositas yang memadai untuk terjadinya erupsi yang eksplosif. Karakter eksplosif Gunung Soputan terekam dalam morfologi abu vulkaniknya.Kata kunci: Abu vulkanik; erupsi eksplosif; fragmentasi getas; indeks kristalinitasCristallinity of Volcanic Ash of Mount Soputan and Its Implication to Explosive Behaviour on Eruption of 2016 and 2018ABSTRACTMount Soputan is a basaltic mountain with an explosive eruption type. Typical explosives relate to the character of the magma. This study aims to examine the crystallinity of Mount Soputan's volcanic ash in 2016 and 2018 and its implications for its explosive behavior. The crystallinity of volcanic ash was characterized using an X-ray diffractometer. The crystallinity index was calculated using the Soltys equation and the crystal size computed using the Debye-Scherrer equation. The morphology of the ash particles was characterized using SEM. The characterization results show that the 2016 and 2018 Soputan ash has a high crystallinity index and contains a number of small crystals and has two morphological forms, namely solid form and vesicular block for ash from the eruption on January 4, 2016, and solid and block form for eruption ash 6 February 2016 and October 3 2018. High crystallinity causes the Soputan magma to have sufficient viscosity for explosive eruptions. The explosive character of Mount Soputan is recorded in the morphology of its volcanic ash.Keywords: Brittle fragmentation; crystallinity index; explosive eruption; volcanic ash
Sefren Geiner Tumilaar, Jainer Pasca Siampa, Trina Ekawati Tallei
Published: 8 November 2020
JURNAL ILMIAH SAINS, Volume 21, pp 6-16; https://doi.org/10.35799/jis.21.1.2021.30282

Abstract:
ABSTRAKHuman Immunodeficiency Virus (HIV) merupakan virus yang menyerang sistem kekebalan tubuh, dan pada akhirnya dapat menyebabkan Acquired Immune Deficiency Syndrome (AIDS). Daun Pangi (Pangium edule) yang sering digunakan sebagai sayuran oleh masyarakat di Sulawesi Utara, telah diteliti memiliki efek penghambatan pada enzim protease HIV-1. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi potensi senyawa bioaktif yang terkandung dalam daun Pangi dalam menghambat protease HIV-1 secara in silico. Senyawa ini diekstraksi menggunakan etanol dan ditentukan menggunakan Gas Chromatography-Mass Spectrometer (GC-MS). Penambatan molekul dilakukan menggunakan program Autodock Vina dengan menambatkan senyawa yang telah ditentukan pada situs aktif reseptor protease HIV-1 (PDB ID: 3NU3). Hasil GC-MS dari ekstrak etanol daun Pangi menunjukkan 12 komponen senyawa. Senyawa-senyawa ini digunakan sebagai ligan untuk ditambatkan pada protease HIV-1. Hasil penambatan senyawa-senyawa tersebut dibandingkan dengan hasil penambatan amprenavir yang digunakan sebagai ligan kontrol. Studi penambatan molekuler menunjukkan bahwa Phytol merupakan ligan dengan nilai afinitas pengikatan terendah (-8,8 kkal / mol).Kata kunci: Pangi; penambatan molekuler; protease HIV-1Molecular Docking of Bioactive Compounds from Pangi (Pangium edule) Leaves Ethanol Extract Against HIV-1 Protease ABSTRACTHuman Immunodeficiency Virus (HIV) is a virus that attacks the immune system and can eventually cause Acquired Immune Deficiency Syndrome (AIDS). The leaf of Pangi (Pangium edule), which is often used as a vegetable by people in North Sulawesi, has been investigated to have an inhibitory effect on the HIV-1 protease enzyme. This study aimed to evaluate the potential of bioactive compounds contained in Pangi leaves in inhibiting HIV-1 protease by using in silico analysis. These compounds were extracted using ethanol and determined using a Gas Chromatography-Mass Spectrometer (GC-MS). The evaluation was carried out using the Autodock Vina program by docking the determined compounds on the active site of the HIV-1 protease receptor (PDB ID: 3NU3). There were 12 compounds detected in the ethanol extract of Pangi leaves, which were then used as ligands, and the results were compared with amprenavir as a control ligand. Molecular docking study showed that Phytol was the ligand with the lowest binding affinity value ( -8.8 kcal/mol).Keywords: Pangi; molecular docking; HIV-1 protease
Elisa Almeyda, Elok Widayanti
Published: 8 November 2020
JURNAL ILMIAH SAINS, Volume 21, pp 1-5; https://doi.org/10.35799/jis.21.1.2021.30211

Abstract:
Jamu kunir asem merupakan jamu yang bermanfaat untuk meredakan nyeri pada saat menstruasi karena mengandung kurkuminoid yang bersifat analgetika, antipiretika dan antiinflamasi. Tujuan dari penelitian ini yaitu menganalisis perbedaan kadar kurkuminoid pada filtrat, residu dan campuran filtrat-residu jamu kunir asem. Sebanyak 2 gram sampel diekstraksi dengan 40 ml kloroform kemudian diuapkan hingga didapatkan ekstrak dan dilarutkan dengan etanol p.a. Penetapan kadar kurkuminoid pada sampel menggunakan metode Spektrofotometri Uv-Visible pada panjang gelombang 462 nm. Kadar kurkuminoid terendah pada filtrat sebesar 11,346 ppm dan tertinggi pada residu sebesar 49,047 ppm sedangkan campuran filtrat-residu sebesar 22,549 nm. Hasil analisis One Way Anova menunjukkan bahwa rata-rata konsentrasi kurkuminoid pada campuran filtrat-residu, filtrate dan residu jamu kunir asem berbeda secara signifikan.Kata kunci: Filtrat; jamu kunir asem; kurkuminoid; residu Analysis of Curcumin Levels in Filtrat, Residuesand Mixed in Herb of Turmeric Tamarind ABSTRACTTurmeric tamarind is a useful herb to relieve pain during menstruation because it contains analgesic, antipyretic and anti-inflammatory curcuminoids. The purpose of this study was to analyze differences in levels of curcuminoids in filtrate, residues and mixture of filtrate residues of tamarind turmeric. A total of 2 grams of sample was extracted with 40 ml of chloroform and then evaporated until an extract was obtained and dissolved with ethanol p.a. Determination of curcuminoid levels in samples using the Uv-Visible Spectrophotometry method at a wavelength of 462 nm. The lowest curcuminoid content in the filtrate was 11.346 ppm and the highest in the residue was 49.047 ppm while the mixture of the filtrate-residue was 22.549 nm. The results of the One Way Anova analysis showed that the mean curcuminoid concentration in the mixture of filtrate-residue, filtrate and residues of tamarind turmeric was significantly different.Keywords: curcuminoids, turmeric tamarind, filtrate, residue
Lena Jeane Damongilala, Fitje Losung, Verly Dotulong
Published: 8 November 2020
JURNAL ILMIAH SAINS, Volume 21, pp 91-95; https://doi.org/10.35799/jis.21.1.2021.33881

Abstract:
Penelitian terhadap ekstrak metanol, fraksi etil asetat, dan fraksi butanol dari rumput laut Eucheuma spinosum menggunakan metode Disc Diffusion Test dilakukan untuk mengetahui peranannya sebagai antibakteri Escherichia coli ATCC 25922, dan Staphylococcus aureus ATCC 6538. Sebagai kontrol digunakan ekstrak (negatif) pelarut metanol, dan Amoxicilin. Konsentrasi sampel uji ditetapkan 10.000 ppm. Hasil pengujian menunjukkan adanya aktivitas antibakteri yang ditandai dengan terbentuknya zona hambat terhadap bakteri Escherichia coli ATCC 25922. Besarnya zona hambat secara berurutan untuk ekstrak metanol, fraksi butanol, dan fraksi etil asetat, ialah : 6,98 mm, 7,85 mm, dan 7,88 mm. Nilai zona hambat tersebut, relatif sama untuk setiap sampel uji. Sampel uji juga menunjukkan terdapat aktivitas antibakteri, ditandai dengan terbentuknya zona hambat terhadap bakteri Staphylococcus aureus ATCC 6538. Besarnya zona hambat secara berurutan untuk ekstrak metanol, fraksi butanol, fraksi etil asetat, dan kontrol negatif pelarut metanol, ialah : 7,42 mm, 14.40 mm, 7,90 mm, dan 6,75 mm. Zona hambat fraksi butanol lebih tinggi dibanding yang lain, ini menunjukkan bahwa aktivitas antibakteri Staphylococcus aureus pada fraksi butanol lebih tinggi dibanding fraksi lainnya.Kata kunci: Antibakteri; Eucheuma spinosum; Escherichia coli; Staphylococcus aureus Antibacteria Activities of Extract Sea Algae Eucheuma spinosum Fresh from Nain Island Waters North Sulawesi ABSTRACTA research on antibacterial activity of methanol extract, ethyl acetate, and butanol fraction from Eucheuma spinosum seaweed using the disc diffusion method to know the role as antibacterial activity was tested against Escherichia coli ATCC 25922 and Staphylococcus aureus ATCC 6538. Methanol was used as negative control while amoxicillin was used as positive control. The concentration of the test sample was set at 10,000 ppm. The antibacterial activity was indicated by the formation of an inhibition zone against the tested microorganisms. The inhibition zones against E.coli for methanol extract, butanol fraction, and ethyl acetate fraction were 6.98 mm, 7.85 mm, and 7.88 mm, respectively. The value of the zone of inhibition is relatively the same for each sample. In addition, the inhibition zones of methanol extract, butanol and ethyl acetate fraction against Staphylococcus aureus were 7.42 mm, 14.40 mm, 7.90 mm, and 6.75 mm, respectively. The inhibition zone of the butanol fraction is higher than the others, this indicated that the antibacterial activity for butanol fraction is higher than other fractions. Keywords: Antibacterial activity; Eucheuma spinosum; Escherichia coli; Staphylococcus aureus
Faranika Deysi G Maneking, Deiby Tineke Salaki, Djoni Hatidja
JURNAL ILMIAH SAINS, Volume 20, pp 141-146; https://doi.org/10.35799/jis.20.2.2020.29133

Abstract:
Salah satu masalah kesehatan yang sering terjadi di Indonesia adalah gizi buruk. Seorang anak yang mengalami gizi buruk akan rentan terhadap berbagai penyakit karena sistem kekebalan tubuhnya mudah terinfeksi virus. Jumlah kasus anak gizi buruk merupakan data diskrit y­­ang dapat dimodelkan dengan regresi poisson. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan model regresi poisson tergeneralisasi dalam mengatasi overdispersi pada model regresi poisson dari jumlah kasus gizi buruk dan menentukan faktor-faktor yang mempengaruhi jumlah kasus gizi buruk di Sulawesi Utara tahun 2018. Data yang digunakan berupa jumlah kasus gizi buruk sebagai variabel respon dan sejumlah variabel prediktor dengan unit pengamatannya adalah kota dan kabupaten di Sulawesi Utara. Hasil penelitian menunjukkan bahwa variabel yang mempengaruhi jumlah anak gizi buruk di Sulawesi Utara adalah persentase bayi dengan berat badan lahir rendah (BBLR) dan variabel yang tidak berpengaruh signifikan adalah jumlah posyandu, persentase keluarga yang memiliki sanitasi layak pakai, jumlah penduduk miskin, persentase bayi yang menggunakan ASI ekslusif dengan model regresi poisson tergeneralisasi.Kata kunci: Keluarga eksponensial; multikolinearitas; overdispersi; Sulawesi UtaraGeneralized Poisson Regression Model For Malnourished Children in North SulawesiABSTRACTOne of the health problems that often occurs in Indonesia is malnutrition. A child who is suffering from malnutrition will be vulnerable to various diseases because his immune system is easily infected by a virus. The number of cases of malnutrition children is discrete data that can be modeled by Poisson regression. This study aimed to determine the Generalized Poisson Regression (GPR) model for handling the overdispersion occurred in the Poisson regression model of the number of malnutrished children case and also to determine the factors that influence the number of malnutrished children case in North Sulawesi in 2018. This study utilizes the number of cases of malnutrition as a response variable and a number of predictor variables with the observation unit was cities and districts in North Sulawesi. The results of this study indicate that the variables that significantly affect the number of malnourished children in North Sulawesi include the percentage of child with low weight birth (LWB) and variables that have no significant effect are the number of posyandu, the percentage of families who have decent sanitation, the number of poor people, the percentage of babies who use exclusive breast milk with the generalized poisson regression model Keywords: Exponential family; multicolinearity; overdispersion; North SulawesiSalah satu masalah kesehatan yang sering terjadi di Indonesia adalah gizi buruk. Seorang anak yang mengalami gizi buruk akan rentan terhadap berbagai penyakit karena sistem kekebalan tubuhnya mudah terinfeksi virus. Jumlah kasus anak gizi buruk merupakan data diskrit y­­ang dapat dimodelkan dengan regresi poisson. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan model regresi poisson tergeneralisasi dalam mengatasi overdispersi pada model regresi poisson dari jumlah kasus gizi buruk dan menentukan faktor-faktor yang mempengaruhi jumlah kasus gizi buruk di Sulawesi Utara tahun 2018. Data yang digunakan berupa jumlah kasus gizi buruk sebagai variabel respon dan sejumlah variabel prediktor dengan unit pengamatannya adalah kota dan kabupaten di Sulawesi Utara. Hasil penelitian menunjukkan bahwa variabel yang mempengaruhi jumlah anak gizi buruk di Sulawesi Utara adalah persentase bayi dengan berat badan lahir rendah (BBLR) dan variabel yang tidak berpengaruh signifikan adalah jumlah posyandu, persentase keluarga yang memiliki sanitasi layak pakai, jumlah penduduk miskin, persentase bayi yang menggunakan ASI ekslusif dengan model regresi poisson tergeneralisasi .Kata kunci: Keluarga eksponensial; multikolinearitas; overdispersi; Sulawesi UtaraGeneralized Poisson Regression Model For Malnourished Children in North Sulawesi ABSTRACTOne of the health problems that often occurs in Indonesia is malnutrition. A child who is suffering from malnutrition will be vulnerable to various diseases because his immune system is easily infected by a virus. The number of cases of malnutrition children is discrete data that can be modeled by Poisson regression. This study aimed to determine the Generalized Poisson Regression (GPR) model for handling the overdispersion occurred in the Poisson regression model of the number of malnutrished children case and also to determine the factors that influence the number of malnutrished children case in North Sulawesi in 2018. This study utilizes the number of cases of malnutrition as a response variable and a number of predictor variables with the observation unit was cities and districts in North Sulawesi. The results of this study indicate that the variables that significantly affect the number of malnourished children in North Sulawesi include the percentage of child with low weight birth (LWB) and variables that have no significant effect are the number of posyandu, the percentage of families who have decent sanitation, the number of poor people, the percentage of babies who use exclusive breast milk with the generalized poisson regression model Keywords: Exponential family; multicolinearity; overdispersion; North Sulawesi
Gloria R Kaindeh, Seni H Tongkukut, Gerald H Tamuntuan, R Telleng, Ferdy Ferdy, Mans Mananohas, Dolfie P Pandara
JURNAL ILMIAH SAINS, Volume 20, pp 128-133; https://doi.org/10.35799/jis.20.2.2020.30073

Abstract:
Penelitian ini berfokus pada upaya menginvestigasi anomali Total Electron Content (TEC) ionosfer berkaitan dengan gempa bumi Jailolo yang terjadi pada tanggal 15 November 2019 pukul 01:17 Waktu Indonesia Timur (WIT) dengan menggunakan metode Two Dimensional Principal Component Analysis (2DPCA). Anomali TEC yang teridentifikasi oleh metode 2DPCA digunakan untuk menentukan prekusor dari gempa bumi Jailolo. Citra Global Ionosphere Maps (GIM) TEC selang tanggal 9-15 Nopember 2019 dianalisis dan dikonversi menjadi citra nilai Eigen menggunakan program Matlab_2DPCA. Berdasarkan citra nilai Eigen ditemukan bahwa pada tanggal 13 Nopember 2019 pukul 22:15 – 22:35 WIT telah terjadi anomali TEC ionosfer di atas episenter gempa bumi Jailolo dengan durasi 20 menit. Selama aktivitas pra seismik, ionosfer memberikan respon berupa penurunan nilai TEC. Anomali kandungan elektron total ionosfer merupakan suatu prekursor yang berasosiasi dengan pelepasan gas radon selama aktivitas pra seismik sebelum gempa bumi. Kata Kunci: Anomali TEC; gempa bumi Jailolo; metode 2DPCA; nilai eigen, prekursor Investigation of Ionosphere TEC Anomalies Associated with the 15 November 2019 of Jailolo Earthquake Using the 2DPCA Method ABSTRACTThis research focuses on investigating of the ionospheric total electron content (TEC) anomaly associated with the Jailolo Earthquake earthquake that occurred on November 15, 2019 at 01:17 Eastern Indonesian Time (WIT) using the 2DPCA method. The TEC anomaly identified by the 2DPCA method was used to determine the precursor of the Jailolo earthquake. Global ionosphere maps (GIM) TEC images between November 9-15, 2019 were analyzed and converted into several images of the Eigen value using the Matlab_2DPCA program. Based on Eigen value images, it was found that on November 13, 2019 at 22:15 – 22:35 WIT, an ionosphere TEC anomaly occurred above the epicenter of the Jailolo Earthquake with a duration of 20 minutes. During pre-seismic activity, ionosphere given a responds by decreasing of TEC value. The total electron content anomaly of the ionosphere is a precursor associated with the release of radon gas during pre-seismic activity before an earthquake.Keywords: TEC anomaly; Jailolo earthquake; 2DPCA method; eigen value, precursor
Josepin P Konda, Jainer P Siampa, Trina E Tallei, Billy J Kepel, Fatimawali Fatimawali
JURNAL ILMIAH SAINS, Volume 20, pp 113-121; https://doi.org/10.35799/jis.20.2.2020.28835

Abstract:
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kandungan fitokimia dan aktivitas antioksidan ekstrak biji langsat dan duku dengan metode DPPH. Biji buah langsat dan buah duku diekstraksi menggunakan metode maserasi dengan pelarut metanol. Skrining fitokimia yang dilakukan meliputi uji alkaloid, flavonoid, tannin, triterpenoid, steroid dan saponin secara kualitatif dengan metode uji warna. Uji aktivitas antioksidan menggunakan metode DPPH dan vitamin C sebagai pembanding, serapan diukur menggunakan spektrofotometer UV-Vis pada panjang gelombang 517 nm. Skrining fitokimia pada ekstrak metanol biji langsat menunjukkan hasil positif terhadap alkaloid, triterpenoid dan saponin, sementara pada ekstrak metanol biji duku menunjukkan hasil positif terhadap alkaloid, flavonoid, tannin, triterpenoid, steroid dan saponin. Aktivitas antioksidan ekstrak biji langsat dianalisis menggunakan persamaan garis regresi y = 0,2922x + 33,143, diperoleh IC₅₀ 57,69 μg/mL. Sedangkan aktivitas antioksidan ekstrak biji duku dianalisis menggunakan persamaan garis regresi y = 0.6554x + 29.421, diperoleh IC₅₀ 31,40 μg/mL dan pembanding vitamin C diperoleh IC₅₀ 8,03 μg/mL. Hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa ekstrak metanol biji buah langsat memiliki kandungan alkaloid, triterpenoid dan saponin serta memiliki aktivitas antioksidan yang kuat sedangkan ekstrak metanol biji buah duku memiliki kandungan alkaloid, flavonoid, tannin, triterpenoid dan saponin serta memiliki aktivitas antioksidan yang sangat kuat.Kata Kunci: Antioksidan, biji duku, biji langsat Antioxidant Activity of Methanol Extract of Langsat Seeds (Lansium domesticum var. pubescens) and Duku Seeds (Lansium domesticum var. domesticum) by Using DPPH Method ABSTRACTThis study aimed to determine the phytochemical content and antioxidant activity of langsat seed extract and duku seed extract by using the DPPH method. Langsat seeds and duku seeds were extracted by using maceration method with methanol as the solvent. Phytochemical screening was carried out including a qualitative test of alkaloids, flavonoids, steroids/triterpenoids, saponins, and tannins by using the color test method. Antioxidant activity was tested by using the DPPH method and vitamin C used as comparison, the absorption was measured by using UV-Vis spectrophotometer at 517 nm wavelength. The result of phytocemical screening on methanol extract of langsat seeds showed positive results on alkaloids, triterpenoids, and saponins, meanwhile methanol extract of duku seeds showed positive results on alkaloids, flavonoids, triterpenoids, tannin and saponins. The antioxidant activity of methanol extract of langsat seeds was analyzed by using the equation of the regression line y = 0.2922x + 33.143, which obtained IC₅₀ value of 57.69 μg/mL. Meanwhile, the antioxidant activity of methanol extract of duku seeds was analyzed by using the equation of the regression line y = 0.6554x + 29.421, obtained IC₅₀ 31,40 μg/mL. Vitamin C obtained IC₅₀ 8.03 μg/mL. On the basis of all results, it can be concluded that the methanol extract of langsat seeds contained alkaloids, saponins and triterpenoid and has a strong antioxidant activity. Meanwhile, the methanol extract of duku seeds contained alkaloids, flavonoids, triterpenoids, tannin and saponins and has a very strong antioxidant activity.Keywords: Antioxidants, duku seeds, langsat seeds
A Sumarudin, A Suheryadi, A Puspaningrum, E Prasetyo, Y N Azis
JURNAL ILMIAH SAINS, Volume 20, pp 64-69; https://doi.org/10.35799/jis.20.2.2020.28261

Abstract:
According to data from the World Health Organization (WHO) per year around 1.35 million people die as a result of traffic accidents. Therefore, one solution is the development of Smart Transportation, namely the implementation of the Advanced Driver Assistant System (ADAS) on public transportation. The purpose of this study is to provide a level of safety in public transportation in the form of providing recommendations in driving. ADAS is implanted in an Odroid device and then installed on public transportation. The system can provide speed recommendations, predict vehicle conditions whether safe or dangerous, and detect traffic signs. In its implementation the system provides speed recommendations using Artificial Intelligence (AI) which is the fuzzy logic method and to predict the condition of the vehicle using machine learning that is the Support Vector Machine method. The system output in the form of speed recommendations, vehicle safety predictions and traffic signs detection will be directly accepted by the driver both visually and soundly. From the test results, the system has an accuracy rate of 95.25% in predicting vehicle conditions.Keywords: Assistance driver system; artificial intelligent; embedded device; machine learning; odroid Impelementasi Assistance Driver System untuk Transportasi Publik Berbasis Sistem EmbeddedABSTRAKMenurut data dari organisasi kesehatan dunia (WHO) per tahun sekitar 1,35 juta orang meninggal akibat kecelakaan lalu lintas. Salah satu solusinya adalah pengembangan smart transport, yaitu penerapan advanced driver assistant system (ADAS) pada angkutan umum. Tujuan penelitian ini memberikan tingkat keselamatan pada transportasi publik berupa pemberian rekomendasi dalam berkendaraan. ADAS ditanamkan dalam perangkat odroid dan kemudian dipasang pada transportasi umum. Sistem ini dapat memberikan rekomendasi kecepatan, memprediksi kondisi kendaraan apakah aman atau berbahaya, dan mendeteksi rambu-rambu lalu lintas. Dalam implementasinya sistem memberikan rekomendasi kecepatan menggunakan artificial intelligence (AI) yang merupakan metode logika fuzzy dan untuk memprediksi kondisi kendaraan menggunakan pembelajaran mesin yaitu metode support vector machine. Output sistem dalam bentuk rekomendasi kecepatan, prediksi keselamatan kendaraan dan deteksi rambu lalu lintas akan langsung diterima oleh pengemudi baik secara visual maupun suara. Dari hasil pengujian, sistem memiliki tingkat akurasi 95,25% dalam memprediksi kondisi kendaraan.Kata kunci: Assitance driver system; inteligensi buatan; perangkat tertanam; pembelajaran mesin; odroid
Jieni Trivalen Djangaopa, Susan M Mambu, Song Ai Nio
JURNAL ILMIAH SAINS, Volume 20, pp 78-87; https://doi.org/10.35799/jis.20.2.2020.28397

Abstract:
The leaf color of croton plants (Codiaeum variegatum L.) cv. Gelatik varies from green, yellow until red. This study aimed to evaluate the variations of leaf chlorophyll concentration in croton plants cv. Gelatik at a different leaf age. The branches of the stem with 9-10 leaves were three times sampled from croton trees grown in Kalasey Dua Village, Mandolang District, Minahasa Regency. All leaves of each branch were picked sequentially, from the oldest leaf in the lowest position to the youngest leaf in the terminal of the branch. Leaf colors were determined using a color grab program downloaded from the Google Play Store. Each leaf was extracted using 95% ethanol and the chlorophyll concentration was measured using the Nano Usage spectrophotometer-3000 at the wavelengths of 649 and 665 nm. The results of this study indicated that total chlorophyll concentration in croton leaves was 3.01-33.14 mg/L, chlorophyll a concentration was 0.03-3.90 mg/L, and chlorophyll b concentration was 18.77-31 25 mg/L. The chlorophyll concentrations in the old leaf with brown-red color was higher than other leaves with different color.Keywords: croton leaf; chlorophyll concentration; leaf ageKonsentrasi Klorofil Daun pada Tanaman Puring (Codiaeum variegatum L.) Varietas Gelatik dengan Umur Daun yang BerbedaABSTRAKTanaman puring (Codiaeum variegatum L.) varietas gelatik menunjukkan variasi warna daun, yaitu hijau, kuning, dan merah. Penelitian ini bertujuan untuk mengevalusi ada tidaknya variasi konsentrasi klorofil daun pada tanaman puring varietas gelatik dengan umur daun yang berbeda. Pengambilan sampel dilakukan sebanyak tiga kali, yaitu cabang tanaman puring varietas gelatik dengan 9-10 daun yang diambil dari pohon puring di Desa Kalasey Dua, Kecamatan Mandolang, Kabupaten Minahasa. Semua daun puring pada cabang pohon tersebut dipetik secara berurutan, dari daun tertua yang berada di posisi bawah sampai daun termuda di terminal cabang pohon tersebut. Warna daun ditentukan dengan menggunakan program color grab yang di- download dari Google Play Store. Setelah daun diekstrak dengan alkohol 95%, konsentrasi klorofil diukur dengan menggunakan spektrofotometer-3000 nano Usage pada panjang gelombang 649 dan 665 nm. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa konsentrasi klorofil total pada daun puring bervariasi antara 3,01-33,14 mg/L, konsentrasi klorofil a bervariasi antara 0,03-3,90 mg/L dan konsentrasi klorofil b bervariasi antara 18,77-31,25 mg/L. Konsentrasi klorofil pada daun tua yang berwarna coklat-merah cenderung lebih tinggi dibandingkan dengan pada daun dengan warna lain.Kata kunci: Daun puring; konsentrasi klorofil; umur daun
Nadya Verona Viani Kamasi, Tirsa Julianti Saruan
JURNAL ILMIAH SAINS, Volume 20, pp 70-77; https://doi.org/10.35799/jis.20.2.2020.27877

Abstract:
This study was designed to produce a learning design based on Mobile Learning (M-Learning) that is appropriate for elementary school students. In making this instructional media design, the Multimedia Development Life Cycle (MDLC) method consists of six stages: concept, design, obtaining material, assembly, testing, and distribution, but in this study only carried out two stages, concept and design. The results showed that the MDLC method privides the feasibility percentage of: media experts amounted to 89.44%; material experts amounted to 92,89%, and teachers amounted to 93.3%. This study produces a learning design based on Mobile Learning (M-Learning) that is feasible to be applied for elementary school students.Keywords: Learning media; mobile learning; multimedia development life cycle Desain Aplikasi Pembelajaran Berbasis Mobile Learning (M-Learning) Untuk Siswa Sekolah DasarABSTRAKPenelitian ini bertujuan untuk menghasilkan desain media pembelajaran berbasis Mobile Learning (M-Learning) yang layak untuk siswa sekolah dasar. Dalam membuat desain media pembelajaran ini digunakan metode Multimedia Development Life Cycle (MDLC) yang terdiri dari enam tahapan yaitu concept, design, obtaining content material, assembly, testing, dan distribution, namun pada penelitian ini hanya dilakukan dua tahapan saja yaitu tahap concept dan tahap design. Hasil penelitian menunjukkan bahwa metode MDLC memberikan hasil persetase kelayakan dari: ahli media sebesar 89,44%; ahli materi sebesar 92,89%; dan guru-guru sebesar 93,3%. Penelitian ini menghasilkan sebuah desain media pembelajaran berbasis Mobile Learning (M-Learning) yang layak diterapkan pada siswa sekolah dasar.Kata Kunci: Media pembelajaran; mobile learning; multimedia development life cycle
Risse Entikaria Rachmanita, Ayu Safitri
JURNAL ILMIAH SAINS, Volume 20, pp 88-99; https://doi.org/10.35799/jis.20.2.2020.28266

Abstract:
Biodiesel merupakan bahan bakar alternatif yang berasal dari bahan bakar nabati dan hewani yang tergolong dapat diperbarui. Bahan nabati yang dapat digunakan sebagai bahan baku contohnya seperti biji alpukat. Biji alpukat yang melalui proses pengepresan menghasilkan minyak dan getah (gum). Proses degumming dilakukan untuk memisahkan minyak dan getah dengan menggunakan asam phospat 0,5%v/v. Kandungan FFA dapat digunakan pada proses transesterifikasi untuk menghasilkan metil ester dengan perbandingan minyak dan metanol serta lama waktu transesterifikasi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh perbandingan minyak dan metanol serta pengaruh waktu terhadap rendemen biodiesel dan menentukan karakteristik biodiesel yang dihasilkan sesuai dengan standar SNI 04-7182-2015. Penelitian ini dirancang dengan menggunakan metode Rancang Acak Lengkap (RAL) dengan 2 faktorial yaitu perbandingan minyak dan metanol (1:4, 1:6, 1:8) dan lama waktu transesterifikasi yaitu (30 menit, 60 menit, 90 menit). Parameter karakteristik biodiesel yang dianalisis meliputi densitas, viskositas, bilangan asam, angka setana, nilai kalor, angka iodin dan kadar metil ester yang sesuai dengan SNI 04-7182-2015. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rendemen tertinggi terdapat pada sampel A3T1 (perbandingan 1:8 dengan lama waktu transesterifikasi 30 menit). Hasil pengujian mutu A3T1 yaitu densitas 968 kg/m3, viskositas 4,6037 mm2/s, bilangan asam 0,4 mgKOH/gr, angka setana 44,77, nilai kalor 48,81 MJ/kg, angka iodine 8,10 gram/100gram dan kadar metal ester 94,05%.Kata kunci: Biji alpukat; biodiesel; pemurnian Utilizing Avocado Seed Extraction (Persea americana Mill) as Bioidesel Raw Material by Purifying Water WashingABSTRACTBiodiesel is an alternative fuel derived from vegetable and animal fuels that is classified as renewable resource. Vegetable materials that can be used as raw materials for example are avocado seeds. Through the pressing process, avocado seeds will produce oil and gum. The degumming process is carried out to separate the oil and the gum using 0.5% v/v phosphoric acid. FFA content can be used in the transesterification process to produce methyl esters with a ratio of oil and methanol and the length of transesterification time. This research aims to determine the effect of the ratio of oil and methanol as well as the effect of time on the yield of biodiesel and to determine the characteristics of biodiesel in accordance with SNI 04-7182-2015 biodiesel standards.The research was designed using Complete Randomized Design (CRD) method with 2 factorial comparisons of oil and methanol (1:4, 1:6, 1:8) and the length of transesterification time (30 minutes, 60 minutes, 90 minutes). The analyzed parameters of biodiesel characteristics include density, viscosity, acid number, cetane number, calorific value, iodine number and metal ester content in accordance with the Indonesian National Standard number 04-7182-2015. The results showed that the highest yield was in the A3T1 sample (1:8 ratio with 30 minutes transesterification time). A3T1 quality test results showed the density of 968 kg/m3, 4.6037 mm2/s viscosity, 0.4 mgKOH/gr acid number, 44.77 cetane number, 48.81 MJ/kg calorific value, 8.10 gram/100gram iodine number and 94.05% of ester metal content.Keywords: Avocado seed; biodiesel; purification
Hanna Arini Parhusip
JURNAL ILMIAH SAINS, Volume 20, pp 49-57; https://doi.org/10.35799/jis.20.2.2020.28256

Abstract:
In this article, research on data of total cases COVID-19 in the world and Indonesia is presented. The purposes of this research is to predict the number of cases COVID-19 mainly in Indonesia in the near future. The used methods are regression of Support Vector Machine (SVM) and Bayessian Ridge predicting 10 days forward in several countries where Bayessian Ridge gives better result. Similarly, both methods are employed to study the total cases COVID-19 in Indonesia. To include social distancing in the study, an exponential model is applied for initialization and then Gaussian is used to predict future total cases. Using Gaussian model, one has 2 scenarios of future predictions. The number of total cases on 24th April 2020 is 14675 and considerable not realistic. This is updated i.e. the total number of cases in 24 April 2020 is 4242. Actually, the number of total positive cases COVID-19 on 24th April 2020 was 8211. Compared to the prediction with the real data, the approach of this research should be improved to give better prediction.Keywords: Bayesian Ridge; COVID-19; Gaussian; Social distancing; SVM (Support Vector Machine)Menelusuri COVID-19 di Dunia dan di Indonesia dengan Model Regresi SVM, Bayesian dan GaussianABSTRAKPada artikel ini ditunjukkan penelusuran data total kasus COVID-19 di dunia dan di Indonesia. Penelitian ini bertujuan memprediksi banyaknya kasus COVID-19 terutama di Indonesia pada waktu tertentu mendatang. Metode yang digunakan adalah metode SVM (Support Vector Machine) dan regresi Bayesian Ridge dimana kedua metode berhasil memprediksi untuk total kasus COVID-19 di beberapa negara di dunia dan hasil Bayesian Ridge lebih baik. Untuk itulah kedua metode ini digunakan untuk menelusuri data total kasus COVID-19 di Indonesia. Akan tetapi pengaruh social distancing belum ditunjukkan sehingga digunakan model eksponensial dan Gaussian. Model eksponensial digunakan sebagai nilai awal untuk prediksi pada model Gaussian. Pada model Gaussian diperoleh prediksi dalam bentuk 2 skenario yaitu skenario terburuk dan skenario realistis. Skenario terburuk memberikan total kasus pada 24 April 2020 sebanyak 14675. Hal ini tidak realistis karena data terakhir pada 31 Maret 2020 sebesar 1677. Oleh karena itu diusulkan skenario realistis dimana total kasus puncak berlaku pada 24 April 2020 dengan total kasus 4242. Akan tetapi ternyata data total kasus positif COVID-19 pada 24 April 2020 sebanyak 8211. Dengan memperhatikan hasil prediksi dan yang diperoleh dari data, pendekatan yang sudah dilakukan masih memerlukan perbaikan.Kata Kunci: Bayesian Ridge; COVID-19; Gaussian; Social distancing; SVM (Support Vector Machine)
, Sudrajat Sudrajat, E Lesmana
JURNAL ILMIAH SAINS, Volume 20, pp 58-63; https://doi.org/10.35799/jis.20.2.2020.27765

Abstract:
This paper discusses solving the problem of rental costs in a Flowshop scheduling with n-jobs and m-Machines in small and medium-sized companies to minimize rental costs to be paid. The proposed method is the development of an existing method using several proven propositions. The method used is applied in a sandals company that rents 11 machines used to produce 6 types of products. The proposed method yields a rental fee of IDR 1,071,121.5.Keywords: Flow shop; minimize rental cost; scheduling Minimisasi Biaya Sewa pada Penjadwalan FlowshopABSTRAKPaper ini membahas mengenai minimisasi biaya sewa yang harus dibayar oleh perusahaan berskala kecil-menengah yang menggunakan penjadwalan flowshop dengan n-buah pekerjaan yang dikerjakan oleh m-buah mesin pada proses produksinya. Metode yang dibuat adalah pengembangan dari metode sebelumnya yang dibuktikan dengan menggunakan beberapa proposisi pendukung. Metode ini telah diaplikasikan pada sebuah perusahaan sandal yang memproduksi 6 jenis sandal dengan menggunakan 11 mesin yang berbeda. Berdasarkan metode ini perusahaan harus membayar biaya sewa mesin sebesar Rp. 1,071,121.5.Kata Kunci: Flow shop; minimisasi biaya sewa; penjadwalan
Published: 27 December 2019
JURNAL ILMIAH SAINS, Volume 20, pp 37-48; https://doi.org/10.35799/jis.20.1.2020.27032

Abstract:
Aktivitas Sitotoksik dan Antiangiogenesis Ekstrak Fraksi Umbi Mentimun Papasan (Coccinia grandis (L.) Voigt) Terhadap Sel Kanker Payudara T47D Dan Chorio Allantoic Membrane (CAM) Embrio Ayam yang Diinduksi bFGFPenelitian ini bertujuan untuk mengetahui aktivitas sitotoksik dan antiangiogenesis ekstrak dan fraksi umbi mentimun papasan (Cocconia grandis (L.) Voigt) terhadap sel kanker payudara T47D dan Chorio Allantoic Membrane (CAM) embrio ayam yang diinduksi protein bFGF. Ekstrak diperoleh melalui metode maserasi dengan pelarut etanol 96%. Ekstrak etanol selanjutnya difraksinasi dengan metode partisi cair-cair. Fraksi yang diperoleh dilakukan analisis kualitatif dengan metode kromatografi lapis tipis (KLT). Dari analisis KLT menunjukan bahwa terdapat beberapa golongan senyawa aktif yaitu alkaloid, flavonoid, tanin, saponin dan terpen. Uji sitotoksik dilakukan menggunakan sel kanker payudara T47D dan sel VERO dengan metode MTT assay kemudian dibaca absorbansinya pada ELISA reader dengan parameter pengamatan nilai IC50. Uji antiangiogenesis dilakukan menggunakan metode Chorio Allantoic Membrane (CAM) embrio ayam yang diinduksi protein bFGF dengan parameter pengamatan jumlah pembuluh darah baru. Hasil penelitian menunjukan bahwa ekstrak, fraksi n-heksan, fraksi etil asetat, dan fraksi air memiliki nilai IC50 berturut-turut adalah 500,167; 353,131; 109,975; dan 303,990 µg/mL. Fraksi etil asetat memiliki nilai IC50 paling kecil sehingga dilanjutkan ke uji antiangiogenesis. Fraksi etil asetat memiliki aktivitas antiangiogenesis terhadap Chorio Allantoic Membrane(CAM) dengan konsentrasi efektif sebesar 219,95 µg/mL ditandai dengan persentase penghambatan angiogenesis sebesar 56,78%.Kata Kunci: Antiangiogenesis; Chorio Allantoic Membrane (CAM); mentimun papasan (Cocconia Grandis (L.) Voigt); Sitotoksik; T47D Cytotoxic Activity and Antiangiogenesis of Extract Fraction of Coccinia grandis (L.) Voigt) Base Towards T47D Breast Cancer Cells and Chorio Allantoic Membrane (CAM) of Chicken Embryo Induced by bFGF ABSTRACTThis study aims to identify the cytotoxic activity and antiangiogenesis of extract and fraction of (Coccinia Grandis (L.) Voigt) base towards T47D breast cancer cells and Chorio Allantoic Membrane (CAM) of chiken embryo induced by bFGF. The extract was extracted throught maceration method with ethanol 96% soluble. The ethanol extract was then fractionated by the liquid-liquid partition method. The fractions obtained were analyzed qualitatively by the thin layer chromatography (TLC) method. The TLC analysis shows that there are several classes of active compounds, namely alkaloids, flavonoids, tannins, saponons and terpenes. The ethanol extraction was then fractionated using the liquid-liquid extraction. The cytotoxic test was conducted using the T47D breast cancer cells and VERO cells with the MTT assay method which their absorbance were read on ELISA reader with the value of observation parameters IC50. The antiangiogenesis test was conducted using the Chorio Allantoic Membrane (CAM) method of chicken embryo induced with bFGF protein with the new blood vessels count as the observation parameters. The results showed that the extract, n-hexane fraction, ethyl acetate fraction, and water fraction had IC50 values of 500.167; 353.131; 109.975; and 303.990 µg/mL, respectively. Ethyl acetate fraction has the smallest IC50 value so it is continued to the antiangiogenesis test. Ethyl acetate fraction had an antiangiogenesis activity towards Chorio Allantoic Membrane (CAM) with the effective concentration 219,95 µg/mL marked by the angiogenesis inhibitors percentage of 56,78%.Keywords: Antiangiogenesis; Chorio Allantoic Membrane (CAM); Coccinia grandis (L.) Voigt); cytotoxic; T47D
Published: 27 December 2019
JURNAL ILMIAH SAINS, Volume 20, pp 26-30; https://doi.org/10.35799/jis.20.1.2020.27787

Abstract:
Mutations are changes in genetic material that can occur at the level of genes or chromosomes. Mutations at the gene level are structural changes in the genetic code. In this paper we will investigate the necessary and sufficient conditions for an endomorphism called autumorphism. The method used in this research paper is a review of literature conducted by collecting literature from previous studies in accordance with the study discussed. Mathematically, genetic mutations can be viewed with an endomorphism and automorphism f in the vector space which maps the standard genetic code sequence of wild-type genes into mutant genes. In the endomorphism there is a matrix called the endomorphism representation matrix.Keywords: authomorphism, endomophism, mutation Matriks Representasi Endomorfisma Dari Kode Genetik StandarABSTRAKMutasi merupakan perubahan pada materi genetik yang dapat terjadi pada tingkat gen maupun kromosom. Mutasi pada tingkat gen merupakan perubahan struktur dalam kode genetik. Pada penelitian ini akan dibahas syarat perlu dan syarat cukup sebuah endomorfisma disebut automorfisma. Metode yang digunakan dalam makalah penelitian ini adalah tinjauan literatur yang dilakukan dengan mengumpulkan literatur dari penelitian-penelitian sebelumnya sesuai dengan penelitian yang dibahas. Secara matematis, mutasi genetik dapat ditinjau dengan sebuah endomorfisma dan automorfisma pada ruang vektor yang memetakan barisan kode genetik standar gen wild-type ke dalam gen mutan. Pada endomorfisma tersebut terdapat sebuah matriks yang disebut matriks representasi endomorfisma.Kata kunci: Automorfisma, endomorfisma, mutasi GenetikMutations are changes in genetic material that can occur at the level of genes or chromosomes. Mutations at the gene level are structural changes in the genetic code. In this paper we will investigate the necessary and sufficient conditions for an endomorphism called autumorphism. The method used in this research paper is a review of literature conducted by collecting literature from previous studies in accordance with the study discussed. Mathematically, genetic mutations can be viewed with an endomorphism and automorphism f in the vector space which maps the standard genetic code sequence of wild-type genes into mutant genes. In the endomorphism there is a matrix called the endomorphism representation matrix.Keywords: authomorphism, endomophism, mutation Matriks Representasi Endomorfisma Dari Kode Genetik StandarABSTRAKMutasi merupakan perubahan pada materi genetik yang dapat terjadi pada tingkat gen maupun kromosom. Mutasi pada tingkat gen merupakan perubahan struktur dalam kode genetik. Pada penelitian ini akan dibahas syarat perlu dan syarat cukup sebuah endomorfisma disebut automorfisma. Metode yang digunakan dalam makalah penelitian ini adalah tinjauan literatur yang dilakukan dengan mengumpulkan literatur dari penelitian-penelitian sebelumnya sesuai dengan penelitian yang dibahas. Secara matematis, mutasi genetik dapat ditinjau dengan sebuah endomorfisma dan automorfisma pada ruang vektor yang memetakan barisan kode genetik standar gen wild-type ke dalam gen mutan. Pada endomorfisma tersebut terdapat sebuah matriks yang disebut matriks representasi endomorfisma.Kata kunci: Automorfisma, endomorfisma, mutasi Genetik
Page of 6
Articles per Page
by
Show export options
  Select all
Back to Top Top