Refine Search

New Search

Results in Journal JURNAL YAQZHAN: Analisis Filsafat, Agama dan Kemanusiaan: 71

(searched for: journal_id:(4259375))
Page of 2
Articles per Page
by
Show export options
  Select all
Naila Farah, Rifqi Ulinnuha
JURNAL YAQZHAN: Analisis Filsafat, Agama dan Kemanusiaan, Volume 6, pp 232-246; https://doi.org/10.24235/jy.v6i2.7255

Nur Aeny Juliatiningsih
JURNAL YAQZHAN: Analisis Filsafat, Agama dan Kemanusiaan, Volume 6, pp 96-110; https://doi.org/10.24235/jy.v6i1.5541

Abstract:
Perkembangan ilmu sains dan agama menimbulkan isu-isu pemberitaan yang menarik untuk terus dikaji dan ditelaah. Isu-isu tentang pertentangan antara agama dan sains memberi semangat baru bagi beberapa ilmuwan dan agamawan, seperti Ian G. Barbour dan Ismail Raji Al-Faruqi. Perspektif mereka dalam mengkaji fenomena sains dalam Al-Quran memberikan satu paradigma baru. Barbour dengan teori empat tipologi sains dan agama antara lain konflik, independensi, dialog dan integrasi sedangkan Ismail Raji Al-Faruqi dalam bukunya yang berjudul Islamization of Knowladge mengemukakan bahwa islamisasi harus ditujukan secara langsung terhadap bidang-bidang ilmu pengetahuan yang bersangkutan. Diharapkan dengan membandingkan dua pemikiran tokoh tersebut dapat menemukan titik temu antara sains dan agama sehingga kami merumuskan masalah berupa fenomena sains dalam Al-Qur’an menurut perspektif Ian G. Barbour dan Ismail Raji Al-Faruqi. Metode yang digunakan yaitu metode telaah pustaka pada jurnal-jurnal penelitian yang berkaitan dengan perspektif Ian G. Barbour dan Ismail Raji Al-Faruqi tentang fenomena sains dalam Al-Qur’an.Kata Kunci : perspektif, relasi, agama dan sains
Hanung Sito Rohmawati
JURNAL YAQZHAN: Analisis Filsafat, Agama dan Kemanusiaan, Volume 6, pp 67-81; https://doi.org/10.24235/jy.v6i1.6156

Abstract:
Kerokhanian Sapta Darma merupakan salah satu aliran kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa. Berdasarkan Penetapan Presiden RI Nomor 1/PNPS Tahun 1965 Aliran kepercayaan berbeda dengan agama. Adanya pembedaan ini berimplikasi pada perbedaan kebijakan Negara untuk penganut agama dan penghayat kepercayaan sehingga menimbulkan permasalahan hak-hak sipil penghayat kepercayaan di Indonesia. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif, penulis menggunakan metode wawancara dan observasi untuk pengumpulan data penelitian. Fokus penelitian ini yaitu penghayat Kerokhanian Sapta Darma di Sanggar Candi Sapta Rengga. Dari penelitian ini penulis menemukan bahwa terdapat beberapa permasalahan hak-hak sipil penghayat Kerokhanian Sapta Darma, terutama sebelum adanya UU No. 23/2006. Permasalah hak-hak sipil antara lain hak atas pencantuman identitas di kolom agama dalam KTP; hak atas pencatatan dan registrasi perkawinan antar penghayat di Kantor Catatan Sipil; hak atas pendidikan, dalam hal ini hak anak-anak penghayat untuk mendapatkan pendidikan agama sesuai dengan kepercayaannya; hak atas sumpah jabatan sesuai dengan kepercayaannya bagi PNS; hak atas lahan pemakaman dan penguburan sesuai dengan kepercayannya; hak untuk berkumpul dan membangun rumah ibadah.
Bani Syarif Maula
JURNAL YAQZHAN: Analisis Filsafat, Agama dan Kemanusiaan, Volume 6, pp 147-162; https://doi.org/10.24235/jy.v6i1.6772

Abstract:
Sudah sejak lama Islam Indonesia dikenal dunia sebagai Islam yang ramah dan damai serta toleran dan akomodatif. Namun demikian, runtuhnya rezim otoriter Soeharto menjadi masa transisi yang telah membuka pintu kebebasan seluas-luasnya sehingga ideologi yang berasal dari luar dapat masuk dengan leluasa. Masa transisi tersebut pada akhirnya menjadi tantangan bangsa Indonesia tersendiri. Tantangan tersebut bersumber dari tiga masalah besar, yaitu: pertama adalah adanya kelompok masyarakat yang ingin mengubah konsensus nasional, yaitu Pancasila, UUD 1945, NKRI, dan Bhinneka Tunggal Ika; kedua adalah klaim kebenaran Islam sepihak yang marak di tengah-tengah muslim perkotaan karena pengaruh faham salafi/wahabi; dan ketiga adalah kelompok Islam mayoritas yang cenderung diam (silent majority) atas tantangan tersebut. Dua isu pertama dipengaruhi oleh ideologi Islam transnasional dengan pandangan radikal yang memaksakan keyakinannya kepada semua muslim di Indonesia. Sedangkan isu terakhir berasal dari umat Islam mayoritas yang cenderung menikmati alam demokrasi selepas pemerintahan Soeharto. Karena itulah ideologi Islam radikal dapat berkembang di Indonesia. Untuk mengatasi hal tersebut perlu upaya untuk melawan radikalisme Islam tersebut, yaitu dengan bersuara menyampaikan gagasan Islam yang toleran dan inklusif, melakukan reinterpretasi ajaran Islam dengan tajdid dan ijtihad, juga melalui dunia pendidikan yang menekankan aspek-aspek kesadaran multikultural dan kesadaran umat Islam sebagai bagian dari world citizenship.Kata kunci: radikalisme1, fundamentalisme2, ideologi Islamisme3, Indonesia4
Humar Sidik
JURNAL YAQZHAN: Analisis Filsafat, Agama dan Kemanusiaan, Volume 6, pp 52-66; https://doi.org/10.24235/jy.v6i1.6075

Abstract:
ABSTRAK: Masuknya Islam ke Tanah Jawa melalui jalur budaya secara tidak langsung menanamkan doktrin bahwa Islam merupakan agama yang damai dan toleran akan budaya serta kepercayaan lain. Namun dibalik itu semua di beberapa wilayah terdapat ajaran Islam yang mengalami perpaduan budaya sehingga melunturkan nilai dan makna yang terkandung dalam ajaran Islam hingga berujung pada bid’ah dan khurafat. Maka dari itu penelitian ini ditulis dengan tujuan untuk mengkritik jalan masuknya Islam melalui adaptasi budaya di Tanah Jawa. Penulisan ini menggunakan metode kualitatif-deskriptif analisis dengan pendekatan historis serta instrumen utama berupa studi literatur. Hasil penelitian dalam penulisan ini terdiri dari, pertama, transformasi budaya menjadi jalan masuk utama karena pembawa Islam pertama di Nusantara adalah kaum sufi, yang memiliki toleransi kuat dalam berbudaya. Kedua, wujud dari adaptasi Islam terhadap budaya dan kepercayaan lokal, baik dalam akulturasi, asimilasi ataupun sinkretisme. Ketiga, kritik terhadap jalan masuknya Islam di Jawa serta timbulnya gerakan Islam modern yang bertujuan untuk mengembalikan Islam sesuai ajaran Al-Qur’an dan As-Sunnah. Kata Kunci: Budaya1, Islam2, Tanah Jawa3.
Irvan Tasnur, Ajat Sudrajat
JURNAL YAQZHAN: Analisis Filsafat, Agama dan Kemanusiaan, Volume 6, pp 33-51; https://doi.org/10.24235/jy.v6i1.5894

Abstract:
Perkembangan teknologi yang sangat masif di era disrupsi bukan hanya menimbulkan berbagai dampak positif bagi kehidupan, namun juga membuka jalan bagi berbagai permasalahan-permasalahan baru dalam kehidupan bermasyarakat. Penelitian ini bertujuan guna meninjau latar belakang lahir dan berkembangnya teori kritis, serta relevansinya apabila diterapkan pada masyarakat industri 4.0. Penelitian ini menggunakan metode hermeneutik dalam menjelaskan realitas yang terjadi. Hasil analisis didapatkan bahwa lahirnya teori kritis disebabkan oleh adanya dominasi ilmu pengetahuan, manusia, serta budaya yang diakibatkan oleh berkembangnya positivisme, liberalisme dan kapitalisme pada masyarakat sehingga melahirkan cara pandang yang hanya dilandaskan pada pemikiran pragmatis dan kacamata sains, bahkan untuk mengamati suatu fenomena sosial yang tidak dapat dijelaskan dengan metode tersebut, hal ini juga sering disebut sebagai perspektif one dimensional man. Teori kritis sebagai counter discourse terhadap dominasi dan cara pandang one dimensional man bertujuan untuk menciptakan masyarakat kritis dan emansipatoris yang bukan hanya terpaku pada usaha memenuhi kebutuhan jasmani atau materil akan tetetapi juga rohani. Teori ini berkembang dalam tiga fase utama di mana pada tiap masing-masing fase tersebut, terdapat sejumlah tokoh yang berusaha menjelaskan teori kritis dari berbagai paradigma yang berbeda, serta berusaha saling mengkritisi guna mendapatkan formulasi teori kritis yang tepat. Namun, walaupun terdapat berbagai perbedaan, inti keseluruhan dari pemikiran tersebut bermuara pada kesimpulan di mana teori kritis diarahkan untuk pembentukan masyarakat kritis guna menangkal adanya perspektif one dimensional man yang jauh dari sifat emansipatoris. Hasil analisis juga didapatkan bahwa teori kritis masih sangat relevan diterapkan pada masyarakat dominasi industri 4.0, di mana teknologi dan kapitalisasi mengarah kepada dehumanisasi yang sangat ditentang oleh pemikiran ini, namun hal yang harus diperhatikan dalam menerapakannya agar dapat menciptakan masyarakat kritis dan emansipatoris yaitu penggunaan metode yang matang dalam proses aplikasinya, agar teori tersebut tidak mengarahkan pada suatu kerangka berpikir tertentu, sehingga membawa pada lahirnya dominasi baru.
Risladiba -
JURNAL YAQZHAN: Analisis Filsafat, Agama dan Kemanusiaan, Volume 6, pp 82-95; https://doi.org/10.24235/jy.v6i1.6161

Abstract:
Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan nilai-nilai yang terkandung dalam tradisi yang menjadi ciri khas dari masyarakat Dayak Hindu Budha Bumi Segandu. Masyarakat Dayak Hindu Budha Bumi Segandu adalah suatu komunitas Dayak yang berada di Kecamatan Losarang, Kabupaten Indramayu, sehingga disebut juga Dayak Losarang. Masyarakat Dayak Losarang tersebut memiliki tradisi yang menjadi ciri khas dari komunitasnya. Di dalam tradisi mereka, terkandung nilai-nilai yang diamalkannya dalam kehidupan sehari-hari. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi kasus. Hasil penelitian menunjukkan, bahwa nilai-nilai yang terkandung dalam tradisi masyarakat Dayak Losarang antara lain: Ajaran Sejarah Alam Ngaji Rasa, yakni merupakan ajaran etika yang menjadi sumber segala kebaikan, Memuliakan Wanita (Istri) dan Anak, Kesabaran, Bener, Jujur, Nerima, Lakonana Barang Kang Lima (melaksanakan Perkara yang lima), Toleransi, Menjaga Keharmonisan dengan Sesama Makhluk.
Bisri Bisri
JURNAL YAQZHAN: Analisis Filsafat, Agama dan Kemanusiaan, Volume 6, pp 16-32; https://doi.org/10.24235/jy.v6i1.6404

Abstract:
Kajian tasawuf selalu menarik untuk didiskusikan, bahkan di era pasca modern dimana kita merasakan tiba-tiba begitu ramai orang mencari dan menempuh jalan-jalan spiritual. Seolah mencari kesegaran kembali, makna dan nilai kemanusiaan dari dahaga akibat amukan modernisme yang cenderung positivistik, dan gaya hidup yang pragmatis. Islam sendiri datang ke Nusantara sudah dalam corak tasawuf, baik yang dibawa oleh para Walisongo maupun guru-guru sufi lain di Nusantara termasuk di Aceh. Di Jawa, ajaran ini terus berkembang bahkan dalam banyak kitab atau tulisan sastra Jawa, baik dalam kitab serat Wedatama, Serat Dewaruci maupun dalam Serat Wirid Hidayat jati. Ajaran Martabat tujuh dalam Wirid Hidayat jati, merupakan pengembangan dari Ibnu Arabi dan Muhammad Ibnu Fadlullah dalam kitab Al-Tuhfatu Mursalah ila Ruhin Nabi serta ajaran Tasawuf Aceh. Walaupun coraknya panteisme-monisme, teori tingkatan tujuh martabat dalam penciptaan masih serupa dengan teori emanasi. Untuk itu menarik ketika menggunakan perspektif emanasi untuk melihat ajaran ini. Metodelogi dalam penelitian ini menggunakan library research (pustaka). Dalam penelitian ada tiga hal yang dijadikan perspektif dalam analisis tentang ajaran ini, yaitu; Sumber dan ajaran (antara emanasi dan martabat tujuh) yang terpaut zaman yang cukup jauh, metodologi yang berbeda dimana emanasi lebih diskursif filosofis sementara ajaran martabat tujuh bercorak intuitif mistis, serta beberapa perbedaan dan titik temu dari keduanya.
Fahrul Rozi
JURNAL YAQZHAN: Analisis Filsafat, Agama dan Kemanusiaan, Volume 6, pp 111-127; https://doi.org/10.24235/jy.v6i1.6157

Abstract:
AbstrakDewasa ini, kita seringkali menyaksikan realitas, dimana agama hadir bukan lagi sebagai alat pemersatu umat, namun agama justru menimbulkan skisma . Dampaknya terdapat keistimewaan terhadap kaum mayoritas dan diskriminasi terhadap kaum minoritas. Hal ini disebabkan karena mindset common sense (masyarakat umum) bersifat eksklusif dan bukan inklusif. Okeh karena itu, Nurcholis Madjid lahir sebagai pemikir dan sekaligus cendekiawan muslim yang membuka pikiran umat agar dapat menerima perbedaan. Apa yang disebut sebagai “teologi inklusif” lahir sebagai solusi atas masalah pluralisme di Indonesia. Ia menyatakan jika semua agama adalah Islam secara hakikat, karena semua agama berintikan ajaran “pasrah kepada Tuhan.” Nurcholis Madjid mengajak kita untuk membuka mata kita dan melihat perbedaan sebagai suatu anugerah Tuhan. Sehingga dengan perbedaan itu, justru kita harus bersatu dalam prespektif Bhinneka Tunggal Ika.Kata kunci : skisma, eksklusif, inklusif, Nurcholis Madjid, pluralisme, Bhinneka Tunggal IkaAbstractAt last, we frequency see any reality, where the religion present not as tool who integrat society, but religion exactly make a result of schism. The impact of it are the society majority have a privilege and discrimination for minority society. This phenomenon resulted by mindset of common sense who exclusive abd not inclusive. So that, Nurchlolis Madjid born as thinker and also as a Moslem scientist who open the think of society suppose can accept differences. What who mentioned as “inclusive theology” born as solve upon the pluralism problem. He said that all of religion are same according to the reality, because all of religion are had basic though to “ surrender to God.” Nurchlolis Madjid let us to open our eyes snd see the differences as a gift from God. So that, with that differences, exactly we must integrate in the Bhinneka Tunggal Ika perspectiveKeywords : schism, exclusive, inclusive, Nurchlolis Madjid, pluralism, Bhinneka Tunggal Ika
R.F Bhanu Viktorahadi
JURNAL YAQZHAN: Analisis Filsafat, Agama dan Kemanusiaan, Volume 6, pp 128-146; https://doi.org/10.24235/jy.v6i1.6774

Abstract:
Saint Mary’s figure is so exclusive to the people of Larantuka City which appear in the Semana Santa ritual. In Lera Wulan Tanah Ekan’s Lamaholot ethnic pre-Catholic religious system which views female figures as representations of the universe, it brings forth an allegation that there is a correlation with the cultural dominance of the Virgin Mary figure. This paper analyzes Semana Santa’s, especially Tuan Ma procession phenomenon as the main indicator of Larantuka society’s exclusive appreciation and perception background toward the Virgin Mary and try to seek, Larantuka people as Lamaholot ethnic have a local wisdom called Lewotana covering all the values they embrace and implement, including the value in their religious system. The phenomenon of the cultural system religion of Larantuka society alteration from Lera Wulan Tanah Ekan and Lewotana into Catholic culture only occurs at the level of social behavior and artifacts, the idea of the value of the sacred women figure who is considered as a representation of the universe still exist in the cognitive nature of Larantuka society with the figure of the Virgin Mary as a substitution process media of feminist value along with symbol as ‘place’ meaning to the admiration and respect to woman figure, especially mother.Keyword: Tuan Ma, Semana Santa, Akulturasi, Kearifan Lokal, Feminisme.
Andi Andi, Sugeng Riadi, Nur Fajar Absor
JURNAL YAQZHAN: Analisis Filsafat, Agama dan Kemanusiaan, Volume 6, pp 1-15; https://doi.org/10.24235/jy.v6i1.6196

Abstract:
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dua hal, yaitu: pertama representasi perilaku altruistik dan eklektik dalam filsafat pendidikan Kiai Ahmad Dahlan dan apa yang melatari Kiai Ahmad Dahlan melakukan kedua perilaku tersebut. Maka dari itu, penelitian ini perlu dilakukan sebagai upaya untuk menggali filsafat pendidikan yang digagas oleh Kiai Ahmad Dahlan agar watak dasar dari filsafat pendidikan yang dikembangkannya dapat dilestarikan sesuai dengan semangat zaman. Metode penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan ancangan analisis isi. Penelitian ini memanfaatkan teknik baca dan teknik catat dalam pengumpulan data, sedangkan analisis yang digunakan adalah model hermeneutika. Sumber data penelitian adalah buku “Jejak Pembaruan Sosial dan Kemanusiaan Kiai Ahmad Dahlan” karya Abdul Munir Mulkhan, hal ini dikarenakan Kiai Ahmad Dahlan sendiri jarang meninggalkan karya tulis. Buku tersebut diterbitkan dalam tahun 2010 oleh Penerbit Kompas. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perilaku altruis dan eklektik banyak memberi kontribusi dalam filsafat pendidikan yang diselenggarakan oleh Kiai Ahmad Dahlan. Hasil lainnya menunjukkan bahwa dua perilaku tersebut dilatari oleh nilai-nilai etika welas asih dan pandangan liberal yang dimiliki Kiai Ahmad Dahlan. Kata Kunci: Altruis, Eklektik, Filsafat Pendidikan, Filsafat Pendidikan, Ahmad Dahlan.
JURNAL YAQZHAN: Analisis Filsafat, Agama dan Kemanusiaan, Volume 5, pp 31-46; https://doi.org/10.24235/jy.v5i2.5670

Abstract:
Saat ini banyak perbedaan antara umat Islam khususnya di Indonesia umumnya di dunia. Ada golongan yang menganut nilai-niali tradisionalitas dan modernitas. Satu sama lain menganggap golongan yang paling menunjukan pada kebenaran. Sehingga cenderung menyalahkan umat Islam lain yang tidak satu golongan dengannya. Padalah semua umat berasal dari sumber yang Rahmatan Li’alamin . Penulisan ini menggunakan metode studi pustaka dengan analisis deskriptif yang digunakan untuk menilai karakteristik dari sumber data. Hasil dari penulisan ini ditemukan bahwa kelompok tradisionalis dan modern memiliki perbedaan tentang persoalan metodologis dalam mempelajari ajaran Islam, sehingga sempat menimbulkan konfik yang tajam.
Wakhit Hasim
JURNAL YAQZHAN: Analisis Filsafat, Agama dan Kemanusiaan, Volume 5, pp 1-15; https://doi.org/10.24235/jy.v5i2.5662

Abstract:
Pesantren merupakan lembaga pendidikan Islam tertua di Indonesia yang memiliki berbagai macam budaya dan tradisi. Selain tradisi keilmuan dan sufistik, pesantren juga memiliki kultur yang khas. Salah satu ciri khas tradisi pesantren yang dianggap sakral dan dilaksanakan dalam rangkaian tahlil, pengajian dan sedekah adalah haul. Seiring dengan perkembangan zaman, haul di Buntet Pesantren mengalami perubahan dan perkembangan baik dalam tata cara maupun konsep yang mendasarinya. Permasalahan yang dikaji dalam penelitian ini bertujuan untuk mengungkapkan perubahan praktik haul di Pesantren Buntet Cirebon dari waktu ke waktu dan bagaimana konsep yang mendasari perubahan praktik haul itu terjadi. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif yang merupakan sebuah metode yang menjelaskan dan mengungkap makna konsep dan pengalaman, terutama yang berkaitan dengan perubahan-perubahan praktik haul yang terjadi di Buntet Pesantren dan konsep apa yang mendasarinya. Sementara itu, landasan teori yang digunakan dalam penelitian ini adalah sosiologi pengetahuan Emile Durkheim yang hasilnya menunjukkan bahwa praktikpraktik haul yang terjadi dari tahun ke tahun semakin berkembang dalam hal cara pelaksanaannya. Dimana sebelumnya, haul dianggap sebagai sesuatu yang sakral dan bersifat ukhrawi. Akan tetapi seiring perkembangan zaman dan globalisasi, sakralitas haul menjadi tergeser dan bersifat biasa saja bahkan cenderung bersifat duniawi.
Ikfal Al Fazri
JURNAL YAQZHAN: Analisis Filsafat, Agama dan Kemanusiaan, Volume 5, pp 103-112; https://doi.org/10.24235/jy.v5i2.5709

Abstract:
Kesenian Brai adalah seni tradisional yang tumbuh di daerah Cirebon dan Indramayu, Jawa Barat, sejenis solawatan atau tembangan yang terdapat pada masyarakat Muslim di banyak daerah di Nusantara. Meskipun kesenian Brai memiliki nilai tatanan budaya serta pesan moral yang tinggi, tapi keberadaan dan perkembangannya kurang begitu mendapat perhatian dari pihak-pihak terkait dan pemerintah. Oleh sebab itu, tujuan penulisan ini adalah untuk mengangkat kesenian Brai ditinjau dari segi filosofi dan maknanya. Penulis berharap hasil tulisan ini dapat merangsang peneliti lainnya untuk mengkaji lebih dalam makna dan simbol filosofis yang terdapat dalam syair kesenian Brai, atau dalam bahasa Brai adalah raka’at yang dimana lirik dan lagunya memiliki tingkatan untuk memuji dan mendekatkan diri kepada Allah Swt serta gerakan yang memiliki banyak arti dan makna.
JURNAL YAQZHAN: Analisis Filsafat, Agama dan Kemanusiaan, Volume 5, pp 76-86; https://doi.org/10.24235/jy.v5i2.5677

Abstract:
Pesantren adalah lembaga pendidikan agama Islam tertua di Indonesia. Belakangan Pesantren mendapat stigma buruk terutama dari media Barat yang menuduh Pesantren sebagai sarang radikalisme dan terorisme. Hal ini sangat bertentangan dengan misi Pesantren, membawa misi untuk mengembangkan Islam moderat, Islam yang menjadi berkah bagi semua alam. Dalam artikel ini, penulis ingin membuktikan bahwa pemikiran Pesantren masih sama dengan sejak didirikan dan juga ingin membuktikan bahwa tuduhan dari media Barat tidak benar. Pada artikel ini, penulis menggunakan metode tinjauan pustaka. Dari hasil penelitian ini, penulis menemukan bahwa pesantren sejak dulu hingga saat ini masih mengajarkan Islam yang inklusif, terbuka, dan moderat. Oleh karena itu, hasil ini juga menolak tuduhan Barat terhadap pesantren.
Fathul Mufid
JURNAL YAQZHAN: Analisis Filsafat, Agama dan Kemanusiaan, Volume 5, pp 47-60; https://doi.org/10.24235/jy.v5i2.5671

Abstract:
Merupakan law of nature (hukum alam), orang yang hidup pada suatu zaman pasti terpengaruh dan berguru dengan para pendahulunya, demikian pula para filosof muslim Juga dapat dipastikan pemikiran mereka terpengaruh para ahli pikir di dunia yang hidup sebelum zaman tersebut. Kita misalnya yang hidup pada abad 20 ini, tidak mungkin terlepas sama sekali dari pengaruh nenek moyang kita baik dari segi pemikiran, tradisi, etiket, bahasa dan aspek-aspek kehidupan lainnya. Maka wajarlah apabila filsafat Islam terpengaruh oleh filsafat Yunani, sebab orang-orang Yunani telah lebih dahulu menekuni bidang filsafat dibanding orang Islam. Merekalah yang merupakan nenek moyang dunia filsafat. Para filosof muslim sebagian besar mengambil pandangan Aristoteles dan dalam beberapa aspek mengagumi Plato. Akan tetapi, tidak benar jika berguru dan terpengaruh itu berarti meniru atau membebek semata-mata.
JURNAL YAQZHAN: Analisis Filsafat, Agama dan Kemanusiaan, Volume 5, pp 61-75; https://doi.org/10.24235/jy.v5i2.5676

Abstract:
Menurut al-Razi, ada tiga sumber pengetahuan, yaitu; logika, tradisi para pendahulu dan naluri yang membimbing manusia tanpa perlu banyak berpikir. Berdasarkan ketiga sumber pengetahuan ini, maka ukuran kebenaran yang dipegang oleh al-Razi lebih dekat dengan apa yang dipegang dalam pandangan modern sebagai seorang yang positif. Karena, kecenderungannya pada hal-hal mengenai eksperimen seperti yang dijelaskan dalam buku alHawi. Dia mengakui bahwa nubuat adalah karunia dari Tuhan, tetapi potensi untuk setiap pikiran manusia adalah sama. Jadi, tidak ada yang bisa mengklaim bahwa ia diberkati dengan kecerdasan tinggi sejak lahir termasuk seorang Nabi. Untuk alasan ini, itu tidak benar dan dapat dibenarkan pandangan yang menyatakan bahwa al-Razi adalah ateis atau mulhid (bidat), karena sebenarnya dia adalah seorang pemikir bebas.
Rif’At Husnul Ma’Afi,
JURNAL YAQZHAN: Analisis Filsafat, Agama dan Kemanusiaan, Volume 5, pp 87-102; https://doi.org/10.24235/jy.v5i2.5708

Abstract:
Pluralisme Agama adalah paham yang menyakini tidak ada agama yang yang paling benar, semuanya sama karena setiap Agama menuju Tuhan yang Maha Esa. Permasalahan dalam kemajemukan Agama terkadang menjadi konflik pertumpahan darah. Agama dituduh sebagai penyebab utama dalam konflik. Dikarenakan Agama mempunyai konsep yang berbeda-beda. Kemudian didukung dengan situasi kehidupan di Indonesia sangat majemuk. Maka diusunglah gagasan tersebut menjadi proyek besar dalam gerakan Postmodernisme. Dalam pandangan Islam paham Pluralisme Agama adalah paham merusak Aqidah, Syariah dan Akhlak Islam. Berangkat dari masalah ini, Peneliti bertujuan untuk mengetahui Inti dari paham Pluralisme Agama dalam konteks Indonesia. Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan pendekatan Teologis, Filosofis dari kedua pendekatan merupakan bagian dari kajian pustaka. Kemudian peneliti menggunakan Metode Deskriptif untuk mengetahui tentang Pluralisme, makna Agama, sejarah perkembangannya dan pengaruhnya dalam masyarakat Indonesia. Dan penelitian menggunakan metode analisis dan kritik untuk menganalisa paham tersebut pandangan para tokoh Islam.Dari pembahasan ini, peneliti memfokuskan pada pemikiran Djohan Effendi tentang Pluralisme Agama. Dalam pemikiranya ia mengusung ide Teologi Kerukunan yang didalamnya pertemuan titik-titk temu Agama, memaknai Agama hanyalah hasil dari lingkungan dan bersifat nisbi, meyakini manusia tidak akan pernah mencapai pengertian Agama sesunguhnya, menafsirkan ayat-ayat Alquran sebagai landasan Pluralisme Agama seperti kebebasan beragama.
Uyunul Ilmi, Wakhit Hasim
JURNAL YAQZHAN: Analisis Filsafat, Agama dan Kemanusiaan, Volume 5, pp 16-30; https://doi.org/10.24235/jy.v5i2.5669

Abstract:
Penelitian ini berkaitan dengan isi dan implementasi kurikulum pendidikan di Pesantren Buntet Kebon Jambu Babakan Ciwaringin Cirebon. Jenis penelitian ini adalah penelitian kualitatif (penelitian lapangan) dengan pendekatan fenomenologis. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah observasi, wawancara dan studi dokumentasi. Teknik analisis data yang digunakan adalah analisis kualitatif yang meliputi reduksi, penyajian data (penyajian data), dan verifikasi (penarikan kesimpulan). Dasar teoretis yang digunakan oleh penulis adalah teori ketidakadilan gender Mansour Fakih, yaitu subordinasi, marginalisasi, stereotip, kekerasan, dan beban ganda. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa ada bias gender, ini dapat dilihat dari komponen kurikulum yang memiliki empat jenis, yaitu tujuan, isi, strategi, dan evaluasi. Penulis menemukan tiga aspek bias gender dalam implementasi kurikulum pendidikan di pesantren Buntet dan Kebon Jambu.
JURNAL YAQZHAN: Analisis Filsafat, Agama dan Kemanusiaan, Volume 5, pp 113-127; https://doi.org/10.24235/jy.v5i2.5710

Abstract:
Seperti iklan lainnya, versi iklan sarung Mangga mencari calon menantu, menyimpan ideologi tertentu yang digunakan untuk menarik konsumen. Di mana dalam iklan ini ada tanda, petanda dan penanda yang sangat menarik untuk dipelajari. Penelitian ini menggunakan penelitian kepustakaan karena mengacu pada sumber perpustakaan. Studi ini menggunakan teori analisis mitos semiotik Roland Barthes dan analisis ideologis Louis Althusser. Penelitian ini menjelaskan bahwa versi Sarung Mangga Mencari Calon Menantu memasukkan mitos yang sudah ada di masyarakat, yaitu mitos agama yang ditanamkan dalam produk komoditas, yaitu sarung. Mitos agama yang terkandung dalam iklan terdiri dari banyak tanda dalam iklan yang saling berkelanjutan, yaitu stereotip dalam lajang, dominasi patriarki dan religiusitas dalam sebuah sarung. Ideologi ini direpresentasikan dalam mitos yang melekat pada tanda-tanda dalam iklan dalam bentuk verbal dan nonverbal.
JURNAL YAQZHAN: Analisis Filsafat, Agama dan Kemanusiaan, Volume 5, pp 128-138; https://doi.org/10.24235/jy.v5i2.5711

Abstract:
Perkembangan ilmu pengetahuan modern yang menakjubkan telah membawa dampak yang kurang baik terhadap peradaban manusia modern. Pengaruh yang paling fenomenal adalah sekulerisasi ilmu yang dilakukan oleh saintis barat. Paradigma ilmu yang dikembangkan oleh barat jauh berbeda dengan paradigm ilmu yang dikembangkan oleh saintis Islam. Bila barat menjadikan manusia sebagai pusat kebenaran dengan pemikirannya dan menafikan sisi metafisik, maka Islam, sebaliknya mengakui keduanya sebagai sumber ilmu yang valid. Dalam kajian ini penulis mencoba untuk menganalisis pemikiran Al-Ghozali tentang epistemologinya dan juga klasifikasi ilmu yang dibuatnya kaitannya dengan integrasi ilmu. Dari kajian ini menemukan bahwa pada prinsipnya ilmu menurut al-Ghazali adalah satu yakni ilmu itu semata-mata merupakan milik Allah SWT. Singkatnya, Al-Ghozali tidak membedakan antara ilmu agama dan ilmu umum karena pada dasarnya sumber ilmu itu adalah Allah dan objek dari semua ilmu adalah ma’rifat kepada Allah.
Rif'At Husnul Ma'Afi, Muhammad Fiqih Cholidi
JURNAL YAQZHAN: Analisis Filsafat, Agama dan Kemanusiaan, Volume 5; https://doi.org/10.24235/jy.v5i1.4522

Bisri Bisri
JURNAL YAQZHAN: Analisis Filsafat, Agama dan Kemanusiaan, Volume 4; https://doi.org/10.24235/jy.v4i2.3550

Abstract:
Santo Augustinus seorang filosof abad pertengahan yang sekaligus juga seorang teolog. Ia mencari sintesis antara rasionalitas Yunani dan iman Kristiani. Meskipun iman Kristiani dan refleksi filosofis menyatu secara tak terpisahkan dalam Santo Augustinus, apa yang ditulisnya bukan hanya penting bagi teologi Kristiani, melainkan juga merupakan sumbangan besar kepada pemikiran murni filosofis, melampaui umat seimannya. Santo Augustinus tidak menulis buku khusus tentang etika – meskipun bernapaskan imannya yang kristiani – dalam struktur teoritis etika Santo Augustinus betul-betul filosofis yang tidak mengandaikan iman keprcayaan agama tertentu. Etika Santo Augustinus yang mengangkat kembali intuisi dasar Plato amat menentukan seluruh pemikiran teologi moral di Barat selanjutnya. Dalam pemikirannya tentang etika, Santo Augustinus sama sekali tidak menyinggung tentang filsafat perennial. Namun pemikiran etikanya yang yang mendasarkan pada perintah ilahi dan penyatuan manusia dengan Tuhan melalui cinta membawa pada visi filsafat perenial. Dimana ada tiga konsepsi filsafat perenial/filsafat keabadian yaitu metafisika (berorientasi pada ketuhanan), psikologi (manusia sebagai mikrokosmos) dan etika (sebagai keselarasan). Kata kunci: Perenialisme, Etika, Teolog, dan filsafat.
A. Syatori
JURNAL YAQZHAN: Analisis Filsafat, Agama dan Kemanusiaan, Volume 4; https://doi.org/10.24235/jy.v4i2.3552

Abstract:
Keterlibatan pesantren dan kyai dalam hal politik selalu menarik untuk diperbincangkan dan menimbulkan pro dan kontra. Apalagi perbincangan itu muncul dari masyarakat sekitar pesantren sendiri, baik penduduk sekitar pesantren, alumni pesantren maupun walisantri. Penelitian ini bertujuan untuk memaparkan tafsir dan ijtihad politik pesantren dengan mengambil lokasi di pesantren Buntet yang merupakan salah satu pesantren tertua di Jawa. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan cara pengambilan data wawancara terhadap sumber yang terkait. Hasil dari penelitian ini menunjukan bahwa Pondok pesantren sebagai lembaga dakwah yang berhubungan secara langsung dengan masyarakat sangat menarik perhatian para politisi sebagai bidikan untuk mengangkat suara partai politiknya. Atas dasar itu pula, maka kemudian muncul pandangan masyarakat yang pro dan kontra mengenai keterlibatan pesantren dan kyai dalam persoalan politik praktis. Kata Kunci: Ijtihad Politik, Pesantren Buntet, Kyai
Irzum Farihah
JURNAL YAQZHAN: Analisis Filsafat, Agama dan Kemanusiaan, Volume 4; https://doi.org/10.24235/jy.v4i2.4373

Abstract:
Abstrak: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dakwah masyarakat jawa melalui budaya buka luwur makam sunan kudus yang dilaksanakan setiap tahun dan untuk mengetahui dakwah Islam melalui upacara buka luwur dengan pendekatan teori sosiologis. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah observasi dan indept interview, sedangkan pada analisis data akan digunakan proses analisis reduksi data. Hasil penelitian bahwa rentetan acara buka luwur selain untuk memperingati haul kanjeng Sunan Kudus, juga menjadi bagian dakwah Islam masyarakat jawa. Dakwah yang dilakukan dari bi al-qaul dan bi al-af’al. Fungsi Syiar inilah yang kemudian dipercaya oleh masyarakat Kudus untuk tetap melestarikan tradisi demi keberlangsungan nuansa religiusitas masyarakat kota Kudus. Dalam buka luwur juga terdapat hubungan sosial manusia di mana acara buka luwur merupakan berkumpulnya masyarakat Islam dari berbagai daerah dengan semua keahlian untuk memenuhi kebutuhan- kebutuhan hidup. Hal ini menunjukkan bahwa manusia memiliki kemampuan terbatas sehingga dalam memenuhi kebutuhannya manusia membutuhkan kemampuan dari bantuan dari orang lain. Kata Kunci: Dakwah masyarakat jawa, ritual buka luwur, analisis sosiologis
Fakhruddin Fakhruddin
JURNAL YAQZHAN: Analisis Filsafat, Agama dan Kemanusiaan, Volume 4; https://doi.org/10.24235/jy.v4i2.3547

Abstract:
Setiap manusia yang mengaku dirinya sebagai seorang muslim tentu dimulai dengan pengakuan terhadap adanya Allah swt sebagai Tuhan dan Muhammad saw sebagai utusan Allah atau yang dikenal dengan istilah syahadat. Dalam jamaah tarekat asy-Syahadatain pun dikenal adanya syahadat sebagaimana syahadat yang ada pada tarekat-tarekat lainnya dalam Islam. Namun demikian, dalam jamaah tarekat asy-Syahadatain terdapat perbedaan dalam hal pembacaan shalawat terhadap nabi Muhammad saw. Perbedaan dimaksud adalah perbedaan dimana Shalawat yang dibaca As-Syahadatain versi pimpinan Abah Ahmad Yahya adalah: Allahumma shalli ‘ala sayyidina Muhammad. Menurut kelompok Abah Ahmad Yahya mengapa mereka dalam membaca shalawat kepada Nabi Muhammad hanya membaca Allahumma shalli ‘ala Muhammad, tanpa ditambahi dengan bacaan wa ‘ala ali sayyidina Muhammad, tiada lain karena mereka mengikuti apa yang telah diajarkan oleh Abah Umar bin Ismail Yahya yang merupakan pendiri jama’ah As-Syahadatain dan guru mereka yang dikenal sebagai guru Syahadat bagi mereka. Kelompok Abah Ahmad bin Isma’il dalam membaca shalawat kepada Nabi Muhammad saw dengan bacaan Allahumma shalli ‘ala Muhammad, dan ditambahi dengan bacaan wa ‘ala ali sayyidina Muhammad, Kata Kunci: Syahadat, Shalawat, Tarekat, Tarekat Asy-Syahadatain
Robby Habiba Abror
JURNAL YAQZHAN: Analisis Filsafat, Agama dan Kemanusiaan, Volume 4; https://doi.org/10.24235/jy.v4i2.3534

Abstract:
Tulisan ini mencoba mengeksplorasi pemikiran Immanuel Kant tentang Pencerahan. Pencerahan bagi Kant adalah pembebasan manusia dari ketidakdewasaan yang disebabkan oleh kesalahannya sendiri, karena tidak mampu menggunakan akal tanpa tuntunan orang lain. Konsepsi Kant tentang Pencerahan menjadi ciri khas filsafat Jerman membebaskan rasio manusia untuk berani berpikir dan melakukan perubahan yang signifikan bagi masyarakatnya. Pesan Kant yang tajam secara metafisik sesungguhnya dapat dimaknai lebih dalam tidak hanya mengukuhkan prinsip-prinsip dasar kebebasan rasio dan keberanian berpikir bagi manusia, tetapi juga secara tersirat menggugat otoritas keagamaan yang seringkali dalam sejarah berselingkuh dengan kekuasaan despotik dalam rangka memuluskan proyek-proyek pembangunan dan penindasan. Masyarakat harus didorong agar berani menggunakan rasionya sendiri dengan sepenuhnya, sebab dari sana bermuara kebebasan dan terbitnya kemandirian. Kata Kunci: Pencerahan, Filsafat, Jerman, Kebebasan, Rasio
Ibnu Farhan
JURNAL YAQZHAN: Analisis Filsafat, Agama dan Kemanusiaan, Volume 4; https://doi.org/10.24235/jy.v4i2.3549

Abstract:
Kemiskinan merupakan satu persoalan yang sampai hari dapat dengan mudah di temukan di beberapa belahan dunia, khususnya pada negara berkembang. Agama sebagai suatu yang diyakini manusia mampu menjadi solusi untuk mencapai kebahagiaan di dunia tentu saja mempunyai pandangan dan solusi akan hal ini. Tulisan ini akan mengkaji salah satu tokoh muslim, yaitu Muhammad Yunus yang telah berhasil mengembangkan satu sistem keuangan dalam bentuk Bank dengan nama Grameen Bank. Penelitian ini adalah studi pustaka dengan mengambil data dari karya-karya Muhammad Yunus. Kesimpulan dari penelitian ini menyatakan bahwa Grameen Bank yang didirikan Yunus telah mampu meningkatkan perekonomian masyarakat Bangladesh. Tidak seperti Bank pada umumnya bahwa Bank yang didirikan Muhammad Yunus adalah Bank yang mempunyai keberpihakan kepada masyarakat kecil yang lemah. Keberpihakan kepada yang lemah ini yang tentu saja merupakan salah satu nilai ajaran Islam yang diaplikasikan oleh Muhammad Yunus. Kata Kunci: Kemiskinan, Sosial-Ekonomi, Grameen Bank
Muh. Panji Maulana
JURNAL YAQZHAN: Analisis Filsafat, Agama dan Kemanusiaan, Volume 4; https://doi.org/10.24235/jy.v4i2.3551

Abstract:
Ibnu Arabi merupakan sufi yang cukup fenomenal sekalius kontroversial. Ia dikenal sebagai sosok yang memiliki kedalaman intelektual maupun spiritual yang sangat mumpuni sekaligus memiliki pemikiran agak berbeda dengan pemikiran mainstream pada masanya. Beberapa pemikirannya yang sering ia bahas ialah berkaitan dengan ketuhanan, yang cukup familiar ialah berkaitan dengan konsep wahdat al wujud. Konsep tersebut ia maksudkan sebagai peng-esaan atas wujud Tuhan. Berbagai doktrin tentang ketuhanan tersebut ia tuangkan dalam berbagai kitabnya, yang salah satunya ialah pada kitab Hill al-Rumuz wa Mafatih al-Kunuz. Kitab yang satu ini merupakan kitab yang unik karena disamping kemunculanya dalam dunia akademik masih cukup baru juga karena naskahnya merupakan satu-satunya yang ada di Nusantara. Kitab ini berasal dari Keraton Kacirebonan-Cirebon. Tulisan ini sendiri dimaksudkan untuk menggali pemikiran Ibn Arabi tentang ketuhanan yang ada pada kitab tersebut, untuk itu dalam menggalih data-data dari kitab tersebut dalam penelitian ini dipakai metode pembacaan hermeneutika. Data yang diperoleh kemudian dipaparkan secara analitis deskriptif. Dalam kitab tersebut Ibn Arabi membahas mengenai, ke-esaan Tuhan, dzat dan sifat-Nya, serta kemungkinan dan ketidakmungkinan dalam memakrifati-Nya. Dalam kitab ini juga dipaparkan secara gamblang mengenai metode-metode dalam mencapai kedekatan bersama-Nya melalui cinta-Nya yang pada akhirnya dari pendekatan tersebut justru menegaskan tujuan dari penciptaan manusia dan kesempurnaan dari manusia itu sendiri. Kata Kunci : Wahdat al Wujud, Ibn Arabi, Filsafat Ketuhanan
A. R. Idham Kholid
JURNAL YAQZHAN: Analisis Filsafat, Agama dan Kemanusiaan, Volume 4; https://doi.org/10.24235/jy.v4i2.3548

Abstract:
Firasat, makrifat dan mukasyafah merupakan hal yang selalu ada dalam setiap pembahasan tasawuf. Hal ini menjadi salah satu bukti bahwa ketiga hal tersebut menjadi bagian penting dalam kehidupan para salik. Ketiga hal tersebut menurut sebagian pendapat merupakan sesuatu yang harus diusahakan oleh para salik, sedangkan menurut sebagian lain berpendapat bahwa ketiga hal tersebut merupakan pemberian yang Maha Kuasa kepada hamba-hamba-Nya yang dikehendaki-Nya. Makrifat dalam prespektif kaum Mu'tazilah bersifat intelektual dan hanya orang yang berakal ('aqil) yang dapat memilikinya. Kata Junci: Tasawuf, Tarekat, dan Tuhan.
Mustopa Mustopa
JURNAL YAQZHAN: Analisis Filsafat, Agama dan Kemanusiaan, Volume 4; https://doi.org/10.24235/jy.v4i2.3553

Abstract:
Setiap manusia ingin memperolah kehidupan yang baik bahkan yang terbaik. Setiap manusia memiliki sikap dan perangai sendiri-sendiri. Apabila seseorang memiliki sikap atau perangai yang baik, maka orang yang demikian dianggap memiliki akhlak yang baik, Sebaliknya jika ada orang yang memiliki sikap dan perangai yang jelek maka orang tersebut dianggap memiliki akhlak yang jelek.Baik buruk tentu memiliki ukuran yang tidak sama, halini terbukti dengan adanya sesuatu yang baik menurut seseorang/kelompok tapidianggaptidak baikoleh kelompoklainnya.Untuk kepentingan memahami baik dan buruk tentu diperlukan adanya standar yang dapat dijadikan ukuran untuk menentukan baik buruk. Kata Kunci : Akhlak, Baik dan Buruk.
A. Syatori
JURNAL YAQZHAN: Analisis Filsafat, Agama dan Kemanusiaan, Volume 4; https://doi.org/10.24235/jy.v4i1.3190

Abstract:
Abstrak: Cirebon merupakan salah satu daerah yang terletak di pesisir pantai utara jawa, dimana sebagian masyarakatnya berprofesi sebagai nelayan. Profesi ini tentu saja bergantung pada sekali pada sumber daya alam, dalam hal ini adalah laut yang meruopakan open access. Karakteristik sumber daya seperti ini menyebabkan nelayan mesti berpindah-pindah untuk memperoleh hasil maksimal, yang dengan demikian elemen resiko menjadi sangat tinggi. Kondisi sumber daya yang beresiko tersebut menyebabkan nelayan memiliki karakter keras, tegas dan terbuka. Dan bagi nelayan, kondisi lingkungan wilayah pesisir dan laut sangat menentukan keberlanjutan kondisi sosial ekonomi dan kesejahteraan hidup mereka. Tulisan ini bertujuan untuk menggambarkan ekologi politik masyarakat Cirebon, dengan mengambil lokasi penelitian di desa Citemu kecamatan Mundu Cirebon. Kata Kunci: Ekologi Politik, Masyarakat Pesisir
Muh. Panji Maulana
JURNAL YAQZHAN: Analisis Filsafat, Agama dan Kemanusiaan, Volume 4; https://doi.org/10.24235/jy.v4i1.3191

Abstract:
Abstrak: Wacana Islam Nusantara mulai marak diperbincangkan kembali terutama pada saat istilah tersebut diusung oleh PBNU sebagai tema Muktamarnya yang ke-33 pada tanggal 1-5 Agustus 2015 di Jombang Jawa Timur. Islam Nusantara sendiri mengungkapkan dirinya sebagai Islam yang akomodatif terhadap budaya lokal. Adanya klaim tersebut memunculkan anggapan bahwa munculnya wacana Islam Nusantara dipandang sebagai peneguhan terhadap Islam yang bercorak sinkretis. Tulisan ini berusaha mengkaji mengenai relasi antara Islam dan budaya dalam wacana Islam Nusantara. Dari data yang diperoleh, relasi antara Islam dan budaya dalam wacana Islam Nusantara diidentifikasi sebagai penerapan Islam yang berpijak pada pribumisasi. Pola tersebut dapat dilihat misalnya dari penerapan Islamnya yang kontekstual, akomodatif terhadap budaya dengan mengembangkan aplikasi nash yang disesuaikan dengan kondisi sosial. Penerapan Islam model ini dilakukan juga hanya sebatas dalam tataran muamalah sehingga membedakanya dengan pola negosiasi atau sinkretisasi. Kata Kunci: Islam Nusantara, Islam,Budaya, dan Pribumisasi.
Page of 2
Articles per Page
by
Show export options
  Select all
Back to Top Top