Refine Search

New Search

Results in Journal Mosharafa: Jurnal Pendidikan Matematika: 157

(searched for: journal_id:(4224816))
Page of 4
Articles per Page
by
Show export options
  Select all
Nanda Sriretno Pangestu,
Mosharafa: Jurnal Pendidikan Matematika, Volume 8, pp 215-226; https://doi.org/10.31980/mosharafa.v8i2.472

Abstract:
AbstrakKemampuan berpikir kreatif penting bagi siswa dalam menyelesaikan masalah matematika dengan variasi cara. Mengenal kepribadian siswa juga berguna untuk memahami motivasi siswa. Tujuan penelitian kualitatif deskriptif ini mendeskripsikan proses berpikir kreatif siswa dengan tipe kepribadian extrovert dan introvert berdasarkan tahapan Wallas. Subjek penelitian yaitu 2 siswa introvert dan 2 siswa extrovert kelas VIII SMP Negeri 3 Salatiga berkemampuan matematika tinggi. Instrumen utama adalah peneliti. Instrumen bantu berupa soal tes, pedoman wawancara, dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukan pada tahap persiapan subjek extrovert lebih percaya diri bertanya kepada teman mengenai hal yang kurang dipahami, membaca soal dalam hati, sedangkan subjek extrovert selalu bertanya kepada peneliti dan membaca soal dengan bersuara. Pada tahap inkubasi subjek introvert tidak banyak melakukan aktifitas fisik hanya beristihat sejenak dengan merenung dan berdiam diri sedangkan subjek extrovert mununjukkan aktifitas fisik. Tahapan iluminasi subjek introvert dan exstrovert sama-sama mengembangkan ide dengan cara sebelumnya. Pada tahap verifikasi subjek introvert lebih teliti dibanding subjek extrovert namun sama-sama memiliki variasi cara. Secara umum siswa dengan tipe kepribadian extrovert dan introvert telah memenuhi seluruh tahap proses berpikir kreatif Wallas. Mathematical Creativity Thinking Process of Extrovert and Introvert Student at SMP Class VIII Based on Wallas Stages AbstractThe ability to think creatively is important for students in solving mathematical problems in various ways. Getting to know students' personalities is also useful for understanding student motivation. The purpose of this descriptive qualitative study describes the creative thinking process of students with extrovert and introverted personality types based on the stages of Wallas. The research subjects were 2 introverted students and 2 class VIII extroverted students of SMP Negeri 3 Salatiga with high mathematical abilities. The main instrument is the researchers. Auxiliary instruments in the form of test questions, interview guidelines, and documentation. The results of the study show that at the preparation stage the extrovert subject is more confident in asking friends about things that are less understood, reading questions in the heart, while extrovert subjects always ask the researcher and read the questions out loud. At the incubation stage, introverted subjects do not do much physical activity, only take a moment to reflect and remain silent while the subject of extroverts shows physical activity. The stages of illumination of an introvert and extrovert subjects are both developing ideas in a previous way. In the verification phase, the introverted subject is more thorough than the extrovert subject but both have various ways. In general, students with extrovert and introvert personality types have fulfilled all stages of Wallas's creative thinking process.
, Mulia Suryani, Lucky Heriyanti Jufri
Mosharafa: Jurnal Pendidikan Matematika, Volume 8, pp 331-340; https://doi.org/10.31980/mosharafa.v8i2.471

Abstract:
AbstrakPenelitian bertujuan untuk mengetahui bagaimana pengaruh penerapan model problem based learning terhadap kemampuan pemecahan masalah matematika siswa kelas VII SMP Negeri 3 Palembayan berdasarkan tingkat Kemampuan Awal Matematis (KAM) siswa. Dimana siswa dibagi menjadi 3 kategori yaitu KAM Tinggi, KAM Sedang dan KAM rendah. Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian pre-eksperimen, dengan rancangan penelitian one shot case study. Subjek pada penelitian ini siswa kelas VII.3 yang dipilih secara secara acak. Instrumen yang digunakan pada penelitian ini adalah tes akhir. Tes yang digunakan adalah berbentuk essay. Penelitian ini menggunakan teknik analisis data deksriptif kualitatif. Berdasarkan analisis data secara keseluruhan, model PBL dapat membuat kemampuan pemecahan masalah matematika siswa lebih baik. Terlebih lagi untuk siswa yang termasuk ke dalam kategori KAM tinggi. Ini terlihat dari ukuran pemusatan dimana rata-rata untuk siswa pada kategori sedang 52,86 dengan simpangan baku 11,31 sehingga disimpulkan bahwa model ini dapat memberikan pengaruh terhadap kemampuan pemecahan masalah siswa. The Effect of Application of the Problem Based Learning Model on Mathematical Problem Solving StudentsAbstractThis study aimed to determine how the effect of problem-based learning model implementation toward student mathematic problem-solving abilities at Class VII SMPN 3 Palembayan based on the basic level of Mathematical Ability. Students were divided into 3 categories such as the low, medium and high ability. It was pre-experimental research using one shot case research study design. The research subject was class VII.3 students who were randomly selected. The instrument was a final test in the form of an essay. It used a qualitative descriptive data analysis technique. Based on the data analysis, the Problem-solving learning model can make students' mathematics problem-solving abilities better. Moreover, those students are categorized into high ability. It is seen from the concentration measure for students in the medium category are 52.86 with a standard deviation i.e. 11.31. It is concluded that problem-solving model can affect the students' problem-solving abilities.
Sapilin Sapilin, ,
Mosharafa: Jurnal Pendidikan Matematika, Volume 8, pp 285-296; https://doi.org/10.31980/mosharafa.v8i2.476

Abstract:
AbstrakPenelitian ini dilatarbelakangi rendahnya pemahaman konsep peserta didik. Tujuan penelitian ini untuk mendeskripsikan langkah-langkah model discovery learning dan besarnya peningkatan pemahaman konsep peserta didik tentang materi fungsi invers. Metode pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian tindakan kelas (PTK) ini meliputi tes tulis dan observasi. Instrumen penelitian yaitu lembar soal tes akhir siklus dan lembar observasi pelaksanaan pembelajaran. Subjek penelitian adalah peserta didik kelas X IPA 6 di SMA Negeri 9 Malang sebanyak 35 peserta didik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terjadi peningkatan pemahaman konsep peserta didik dengan model discovery learning pada materi fungsi invers. Kemampuan pemahaman konsep peserta didik mengalami peningkatan sebesar 20,41%, sedangkan ketuntasan klasikal meningkat sebesar 17,15%. Pembelajaran dengan model discovery learning yang dapat meningkatkan pemahaman konsep dilaksanakan dengan langkah-langkah yaitu stimulation (memberi stimulus), problem statement (mengidentifikasi masalah), data collecting (mengumpulkan data), data processing (mengolah data), verification (memverifikasi), dan generalization (menyimpulkan). Improved Understanding of the Concept of Learners with The Discovery Learning Model on Inverse Function MaterialsAbstractThis research is motivated by the low understanding of the concepts of students. The purpose of this study is to describe the steps of the discovery learning model and the magnitude of the increase in students' understanding of the concept of inverse function material. Data collection methods used in classroom action research (CAR) include written tests and observations. The research instruments were the final cycle test questions sheet and the observation sheet of learning implementation. The research subjects were 35th-grade science students 6 in Malang State Senior High School as many as 35 students. The results of the study showed that there was an increase in understanding of students' concepts with discovery learning models in inverse function material. The ability to understand students' concepts has increased by 20.41%, while classical completeness has increased by 17.15%. Learning with discovery learning models that can improve understanding of concepts are carried out by steps namely stimulation (giving stimulus), problem statement (identifying problems), collecting data (collecting data), data processing (processing data), verification (verifying), and generalization (conclude).
Casmi Fitri Yani, Maimunah Maimunah, Yenita Roza, Atma Murni, Zuhri Daim
Mosharafa: Jurnal Pendidikan Matematika, Volume 8, pp 203-214; https://doi.org/10.31980/mosharafa.v8i2.481

Abstract:
AbstrakSebagian besar guru tidak memperhatikan kemampuan pemahaman matematis tetapi hanya terfokus pada hasil belajar siswa. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dan menganalisis kemampuan pemahaman matematis siswa. Penelitian ini adalah penelitian kualitatif. Subjek penelitian adalah 25 siswa kelas IX2 SMP Negeri 1 Kampar Timur. Teknik pengumpulan data yaitu tes dan wawancara. Hasil analisis menunjukkan bahwa kemampuan pemahaman matematis siswa berkemampuan sedang dan rendah masih kurang, sedangkan siswa berkemampuan tinggi sudah cukup baik. Hasil wawancara menunjukkan bahwa siswa mengalami kesulitan dalam memberikan contoh dan bukan contoh dari konsep serta kesulitan dalam mengaitkan berbagai konsep karena tidak memahami konsep dan hanya menghapal rumusnya. Untuk meningkatkan kemampuan pemahaman matematis siswa berkemampuan sedang dan rendah, dalam menyampaikan konsep guru sebaiknya menyertakan contoh dan bukan contoh dari konsep serta memberikan latihan soal-soal tentang mengaitkan berbagai konsep. Analysis of Students’ Ability Mathematical Understanding on the Topic of Curved Side SpaceAbstractMost teachers do not pay attention to the ability of mathematical understanding but only focus on student learning outcomes. This study aims to determine and analyze students' mathematical understanding abilities. This research is qualitative research. The research subjects were 25 IX2 students from East Kampar 1 Middle School. Data collection techniques are tests and interviews. The results of the analysis show that the ability of mathematical understanding of students with moderate and low abilities is still lacking, while high-ability students are good enough. The results of the interview indicate that students have difficulty in giving examples and not examples of concepts and difficulties in relating various concepts because they do not understand the concept and only memorize the formula. To improve the ability of mathematical understanding of students with moderate and low ability, in conveying the concept the teacher should include examples and not examples of concepts and provide training questions about linking various concepts.
Mosharafa: Jurnal Pendidikan Matematika, Volume 8, pp 297-306; https://doi.org/10.31980/mosharafa.v8i2.384

Abstract:
AbstrakBanyak siswa yang kesulitan dalam memahami konsep matematika. Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui kemampuan pemahaman konsep siswa dalam menyelesaikan soal-soal pada pokok bahasan Lingkaran. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif dengan penelitian kasus. Materi tentang Lingkaran merupakan materi yang terdapat di SMP kelas VIII pada semester genap dan materi ini merupakan salah satu materi yang berhubungan dengan kehidupan sehari hari. Kelas VIII F SMPN 3 Karawang Barat dipilih sebagai subjek penelitian. Pengumpulan data dilakukan dengan pemberian tes tertulis kemampuan pemahaman konsep. Soal berbentuk uraian yang sebelum digunakan sudah di uji validasi. Hasil penelitian ini menunjukan rata-rata nilai kemampuan pemahaman konsep matematis siswa adalah 10,06 termasuk dalam kriteria sedang. Hasil analisis konsep per indikator, diketahui siswa sangat kurang pada indikator menerapkan hubungan antar konsep dan prosedur, kemudian dalam menerapkan konsep secara algoritma. Masih terdapat banyak siswa yang memiliki pemahaman konsep yang kurang. Understanding of Mathematical Concepts Class VIII Students in Circle MaterialsAbstractMany students have difficulty understanding mathematical concepts. The purpose of this study is to determine the ability to understand students' concepts in solving questions on the subject of the Circle. The method used in this research is descriptive method with case research. The material about Circles is the material found in class VIII SMP in the even semester and this material is one of the materials related to daily life. Class VIII F of SMP 3 Karawang Barat was chosen as the research subject. Data collection is done by giving written tests the ability to understand concepts. Questions in the form of descriptions that have been validated before being used. The results of this study show the average value of the ability to understand students' mathematical concepts is 10.06 which is included in the criteria of being. The results of concept analysis per indicator, it is known that students are very lacking in indicators applying relationships between concepts and procedures, then in applying the concept algorithmically. There are still many students who lack an understanding of concepts.
Mosharafa: Jurnal Pendidikan Matematika, Volume 8, pp 191-202; https://doi.org/10.31980/mosharafa.v8i2.454

Abstract:
AbstrakPemahaman konsep matematika masih rendah di kalangan pelajar baik pada tingkat dasar maupun menengah. Penggunaan pendekatan pembelajaran harus menjadi perhatian utama untuk memperoleh pemahaman konsep yang baik. Pendekatan Matematika Realistik (PMR) dapat dijadikan sebagai solusi dalam pembelajaran matematika. Penelitian ini untuk mengetahui apakah pemahaman konsep matematika siswa yang diajarkan dengan menggunakan PMR lebih baik dibandingkan dengan pemahaman konsep matematika yang diajarkan dengan menggunakan pendekatan konvensional. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimen semu dengan desain penelitian Posttest-Only Group Control Design. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh siswa kelas VIII SMP Widya Bhakti Ruteng yang berjumlah 95 orang. Pengambilan sampel kelas dilakukan menggunakan teknik random sampling yang diawali dengan pengujian kesetaraan kelas. Data dikumpulkan dengan menggunakan instrumen yang berbentuk uraian dan menggunakan teknik tes. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemahaman konsep matematika siswa yang diajarkan dengan menggunakan pendekatan matematika realistik lebih baik dari siswa yang menggunakan pendekatan konvensional. Penggunaan pendekatan matematika realistik pada pembelajaran matematika berpengaruh terhadap pemahaman konsep siswa. Effect of Realistic Mathematical Approaches on Understanding Students' Mathematical ConceptsAbstractUnderstanding the concept of mathematics is still low among students both at the elementary and secondary levels. The use of a learning approach must be a major concern to obtain a good understanding of concepts. Realistic Mathematics Approach (PMR) can be used as a solution to teaching mathematics. This study is to find out whether understanding the mathematical concepts of students taught by using PMR is better than understanding mathematical concepts taught using the conventional approach. This research is a quasi-experimental study with research design Posttest-Only group Control Design. The population in this study were all eighth-grade students of Widya Bhakti Ruteng Middle School, totaling 95 people. Class sampling is done using a random sampling technique that begins with class equality testing. Data was collected using instruments in the form of descriptions and using test techniques. The results of the study indicate that understanding students' mathematical concepts taught using realistic mathematical approaches is better than students who use conventional approaches. The use of realistic mathematical approaches to learning mathematics influences the understanding of students' concepts.
, Wahyu Hidayat, Wahyu Setiawan
Mosharafa: Jurnal Pendidikan Matematika, Volume 8, pp 227-238; https://doi.org/10.31980/mosharafa.v8i2.437

Abstract:
AbstrakPemecahan masalah merupakan suatu kemampuan yang sangat kompleks di mata siswa. Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui dan menganalisis kemampuan pemecahan masalah matematik siswa SMA kelas X dan respon peralihan matematika SMP ke SMA terhadap materi SPLTV. Penelitian ini berbentuk deskriptif kualitatif dengan objek penelitian siswa kelas X di salah satu SMA di Bandung Barat. Instrumen dalam penelitian ini adalah uji soal kemampuan pemecahan masalah dan angket kemampuan matematika siswa apabila ditinjau dari peralihan SMP ke SMA terhadap materi SPLTV. Jumlah soal yang digunakan dalam penelitian ini adalah sebanyak empat dari enam butir soal yang disediakan dengan angket yang berisikan sepuluh pertanyaan, yang terdiri dari empat pertanyaan tertutup dan enam pertanyaan terbuka. Penelitian ini dilaksanakan pada tanggal 10 September 2018 dan 8 Oktober 2018. Kemampuan pemecahan masalah matematik siswa kelas X di Bandung Barat terhadap materi SPLTV tergolong tinggi, dengan persentase sebesar 79,868%. Siswa yang memiliki latar belakang pemahaman SPLDV yang baik cenderung mudah memahami SPLTV dengan baik pula. Analysis of Problem Solving Ability and Respons of Transition from Junior to Senior High School in SPLTV MaterialAbstractProblem-solving is problem-solving in the eyes of students. The purpose of this study was to study and analyze the mathematical problem solving of high school students in class X and the response of the transition of junior high school to high school to SPLTV material. This research is in the form of qualitative descriptive research with class X objects in one of the high schools in West Bandung. The instruments in this study were problem-solving questions and mathematical ability questionnaires which were reviewed from the transition of junior high school to high school to SPLTV material. The number of questions used in this study amounted to four of the six items provided with a questionnaire containing questions, which consisted of four closed questions and six open questions. This research was conducted on September 10, 2018, and October 8, 2018. The ability to solve the problems of grade X students in West Bandung on SPLTV material was high, with a contribution of 79.868%. Students who have a background in understanding SPLDV can easily consider SPLTV well too.
Mosharafa: Jurnal Pendidikan Matematika, Volume 8, pp 307-318; https://doi.org/10.31980/mosharafa.v8i2.460

Abstract:
AbstrakKemampuan representasi matematis berkontribusi terhadap prestasi belajar matematika. Di lapangan kemampuan representasi matematis masih rendah. Penelitian ini dilakukan untuk mengembangkan bahan ajar berupa modul dengan pendekatan induktif pada materi persamaan linear satu variabel untuk siswa kelas VII SMP/MTs, mengetahui learning obstacle (hambatan belajar) pada materi persamaan linear satu variabel, mengetahui kevalidan dari modul dan pedoman pembelajaran guru, serta apakah terdapat peningkatan sesudah menggunakan modul ini. Penelitian ini menggunakan model pengembangan ADDIE (Analysis, Design, Development, Implementation, and Evaluation), tetapi dibatasi hanya sampai tahap ADD dan diujicobakan secara terbatas pada kelas VII SMP Negeri 1 Tengahtani. Instrumennya adalah soal tes kemampuan representasi matematis, lembar pedoman wawancara, lembar validasi modul dan lembar validasi pedoman pembelajaran guru. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat learning obstacle saat dilakukan uji coba soal. Kemampuan representasi matematis siswa mengalami peningkatan dengan rata-rata sebesar 0,37 yang berarti nilai tersebut memiliki interpretasi sedang. Development of Teaching Materials with an Inductive Approach to Enhance the Capability of Mathematical Representation of Middle School StudentsAbstractThe ability of mathematical representation contributes to mathematics learning achievement. In the field, the ability of mathematical representation is still low. This research was conducted to develop teaching materials in the form of modules with an inductive approach to one variable linear equation material for class VII SMP / MTs students, to know the learning obstacle in one variable linear equation material, to know the validity of teacher learning modules and guidelines, and is there an increase after using this module. This study uses the ADDIE development model (Analysis, Design, Development, Implementation, and Evaluation), but is limited only to the ADD stage and is tested on a limited basis in class VII Tengahtani 1 Public Middle School. The instruments are test questions of mathematical representation abilities, interview guideline sheets, module validation sheets, and teacher learning guideline validation sheets. The results showed that there was a learning obstacle when testing the problem. The ability of mathematical representation of students has increased with an average of 0.37 which means that the value has a moderate interpretation.
Asurya Octaviyunas,
Mosharafa: Jurnal Pendidikan Matematika, Volume 8, pp 341-352; https://doi.org/10.31980/mosharafa.v8i2.453

Abstract:
AbstrakPenelitian ini didasari atas permasalahan pentingnya kemampuan penalaran matematis dan pencapaiannya yang masih rendah. Tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui pengaruh model pembelajaran Giving Question Getting Answer dan Think Pair Share terhadap kemampuan penalaran matematika siswa, dan efektifitasnya dalam meningkatkan kemampuan tersebut. Populasi Penelitian eksperimen semu ini mencakup seluruh siswa kelas VII SMPN 1 Balong. Kelas VIIA diberi pembelajaran dengan model TPS sedangkan kelas VIIB dengan model GQGA. Instrumen pengumpulan data berbentuk tes, meliputi soal pretest dan posttest. Hasil penelitian menunjukkan bahwa model pembelajaran GQGA berpengaruh terhadap kemampuan penalaran siswa kelas VIIB dengan peningkatan yang terjadi dari nilai pretest ke posttest. Begitu juga dengan model pembelajaran TPS berpengaruh terhadap kemampuan penalaran matematika siswa kelas VIIA dengan peningkatan nilai pretest ke posttest. Model pembelajaran GQGA tidak lebih efektif daripada model pembelajaran TPS dalam meningkatkan kemampuan penalaran matematika siswa. The Effect of Learning Model Giving Question Getting Answer and Think Pair Share Toward Reasoning Mathematics Ability Student’s Grade VII AbstractThis research is based on the problem of the importance of mathematical reasoning abilities and their low achievement. The purpose of this study was to determine the effect of Giving Question Getting Answer and Think Pair Share learning models on students' mathematical reasoning abilities and their effectiveness in enhancing these abilities. Population This quasi-experimental study included all seventh-grade students of Balong 1 Junior High School. The VIIA class is given learning with the TPS model while the VIIB class is with the GQGA model. The instruments of data collection are in the form of tests, including the questions of the pretest and posttest. The results showed that the GQGA learning model had an effect on the reasoning ability of students in class VIIB with an increase that occurred from the pretest to the posttest. Likewise, the TPS learning model influences the mathematical reasoning abilities of VIIA students with an increase in the value of the pretest to posttest. The GQGA learning model is no more effective than the TPS learning model in improving students' mathematical reasoning abilities.
Mosharafa: Jurnal Pendidikan Matematika, Volume 8, pp 179-190; https://doi.org/10.31980/mosharafa.v8i2.449

Abstract:
AbstrakPenalaran siswa secara statistika belum begitu baik, kebanyakan siswa menggunakan terminologi yang tidak sesuai dengan maksud dari terminologi yang seharusnya. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan gambaran mengenai penalaran statistis melalui permasalahan case study. Jenis penelitian ini adalah deskriptif kualitatif dan melibatkan 9 orang mahasiswa Program Studi Pendidikan Matematika, di mana 3 diantaranya berjenis kelamin laki-laki dan yang lainnya adalah perempuan. Instrumen yang digunakan berupa permasalahan case study yang relevan dengan permasalahan nyata di dunia dengan fokus materi pada hal-hal yang berhubungan dengan konsep dasar statistika dan bentuk penyajian data. Hasil penelitian menunjukkan bahwa hampir sebagian besar subjek memiliki kemampuan penalaran statistis pada level penalaran idiosinkratik dan penalaran verbal berkaitan dengan konsep tertentu sedangkan level prosedural dan pengintegrasian proses muncul pada permasalahan terkait bentuk penyajian data. Agar level penalaran statistis siswa dapat meningkat, maka diperlukan adanya rancangan permasalahan yang tepat. Students’ Statistical Reasoning in Solving Case Study Problem AbstractStudent reasoning is statistically not so good; most students use terminology that is not by following the intended meaning of the terminology. This study aims to get an overview of statistical reasoning through a case study problem. This type of research is descriptive qualitative and involves 9 students of the Mathematics Education Department, which 3 are male and the others are female. The instrument used is a case study problem that is relevant to real problems in the world with a focus on material on the basic concepts of statistics and forms of data presentation. The results showed that most subjects had statistical reasoning abilities at the level of idiosyncratic reasoning and verbal reasoning was related to certain concepts, while procedural levels and process integration appeared on problems related to the form of data presentation. So that the level of students' statistical reasoning can increase, it is necessary to design appropriate problems.
Mohammad Dadan Sundawan, ,
Mosharafa: Jurnal Pendidikan Matematika, Volume 8, pp 319-330; https://doi.org/10.31980/mosharafa.v8i2.438

Abstract:
AbstrakBagi calon guru matematika, kemampuan berpikir relasional abstrak sangat mutlak diperlukan untuk menunjang kompetensinya sebagai calon guru yang profesional di masa mendatang, sehingga untuk mengetahuinya dapat dilakukan uji dengan memberikan soal-soal non-rutin geometri non Euclid. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dan mendeteksi kemampuan berpikir relasional abstrak calon guru matematika dalam menyelesaikan soal-soal non-rutin. Metode kualitatif digunakan pada penelitian ini. Subjeknya ialah tiga orang mahasiswa tingkat akhir di Keguruan Universitas Swadaya Gunung Jati (UGJ) yang dipilih berdasarkan hasil dari nilai kemampuan akademik tinggi. Teknik untuk menganalisis suatu data dilakukan dengan cara mereduksi data terlebih dahulu, kemudian data disajikan, selanjutnya ditarik sebuah kesimpulan, dan tahap akhir yaitu dapat diverifikasi hasil penelitian tersebut. Penelitian ini dapat mengetahui bahwa subjek telah memenuhi kemampuan berpikir relasional abstrak dengan fungsi kognitifnya. Sehingga secara umum dapat disimpulkan bahwa kemampuan berpikir relasional abstrak bagi calon guru matematika program studi pendidikan matematika Universitas Swadaya Gunung Jati sudah beberapa yang memiliki dan terdeteksi sesuai dengan fungsi kognitif yang ada. Relational Abstract Thinking Ability of Prospective Mathematics Teacher Solved Non-Routine Problems on Non-Euclid Geometry Topic AbstractFor prospective mathematics teachers, abstract relational thinking skills are necessary to support their competencies as future professional teachers, so that they can be tested by giving non-Euclid geometry non-routine questions. This study aims to determine and detect the ability of relational thinking abstract of prospective mathematics teachers in solving non-routine questions. Qualitative methods are used in this study. The subjects were three final-level students at the Swadaya Gunung Jati University Teacher Training (UGJ) who were selected based on the results of high academic ability scores. The technique for analyzing a data is done by reducing the data first, then the data is presented, then a conclusion is drawn, and the final step is to verify the results of the research. This research can find out that the subject has fulfilled the ability of abstract relational thinking with cognitive functions. So, in general, it can be concluded that abstract relational thinking skills for prospective mathematics teachers of the mathematics education program at Swadaya Gunung Jati University have some that have and are detected according to existing cognitive functions.
Mosharafa: Jurnal Pendidikan Matematika, Volume 8, pp 261-272; https://doi.org/10.31980/mosharafa.v8i2.439

Abstract:
AbstrakRendahnya kemampuan pemahaman konsep matematis siswa di kelas VIII SMP Negeri 4 Langke Rembong tahun ajaran 2018/2019 menjadi latar belakang masalah penelitian ini. Tujuan dilakukannya penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh model pembelajaran kontekstual terhadap pemahaman konsep matematis siswa di sekolah ini. Jenis penelitian ini adalah penelitian eksperimen semu, dengan menggunakan desain Posttest Only Control Group Design. Populasi yang dipilih dalam penelitian ini adalah seluruh siswa kelas VIII SMP Negeri 4 Langke Rembong sebanyak 211 orang. Teknik pengambilan sampel menggunakan random sampling dan anggota sampel dalam penelitian ini adalah 60 orang. Data dikumpulkan dengan menggunakan instrumen tes pemahaman konsep matematika yang berbentuk tes uraian. Hasil penelitian menunjukan bahwa pemahaman konsep matematika siswa yang dibelajarkan dengan model pembelajaran kontekstual lebih baik dari pada pemahaman konsep matematika siswa yang dibelajarkan dengan model pembelajaran konvensional. Model pembelajaran kontekstual dinilai dapat menghubungkan materi yang dipelajari dengan situasi kehidupan nyata. Contextual Learning Model’s Effect on Mathematical Concept Understanding of Middle School StudentsAbstractThe low ability to understand the mathematical concepts of students in grade VIII Langke Rembong 4 Public Middle School 2018/2019 school year fits the background of the problem of this research. The goal of this study was to discover the effect of contextual learning models on understanding the mathematical concepts of students in this school. This type of research is quasi-experimental research, using the design of the Posttest-Only Control Group Design. The population chosen in this study were all eighth -grade students of Langke Rembong 4 SMP Negeri as many as 211 people. The sampling technique used random sampling and the sample members in this study were 60 people. Data was collected by using mathematical concept understanding test instruments in the form of description tests. The results of the study show that understanding the mathematical concepts of students who are taught by the contextual learning model is better than understanding the mathematical concepts of students who are taught with conventional learning models. The contextual learning model is assessed to be able to relate the material learned with real-life situations.
Maya Winarsih, Helti Lygia Mampouw
Mosharafa: Jurnal Pendidikan Matematika, Volume 8, pp 249-260; https://doi.org/10.31980/mosharafa.v8i2.506

Abstract:
AbstrakPenelitian yang dilakukan oleh PISA menunjukkan bahwa pemahaman konsep siswa masih tergolong rendah terutama pada materi himpunan yang merupakan ilmu dasar dari semua cabang ilmu matematika . Tujuan penelitian ini untuk mengungkap profil pemahaman materi himpunan oleh siswa berdasarkan perbedaan kemampuan matematika ditinjau dari teori APOS. Subjek terdiri dari 3 siswa kelas VIII MTs Negeri Ngablak Magelang dengan kemampuan matematika tinggi, sedang dan rendah. Peneliti sebagai instrumen utama dibantu soal tes mengenai himpunan dan pedoman wawancara. Hasil yang diperoleh adalah siswa berkemampuan matematika tinggi berada pada level skema trans karena mampu melakukan aksi, proses, objek dan skema. Siswa berkemampuan matematika sedang berada pada level skema inter karena mampu melakukan aksi dan proses namun belum mampu menghubungkan objek dengan skema. Siswa berkemampuan matematika rendah berada pada level skema intra karena mampu melakukan aksi namun mengalami kesulitan pada bagian proses sehingga tidak dapat membangun suatu objek. Perbedaan level kemampuan matematika siswa sebanding lurus dengan perbedaan kemampuan pemahaman himpunannya. Profile of Students’ Understanding about Set Based on Difference of Mathematical Ability Using APOS TheoryAbstractResearch conducted by PISA shows that understanding students' concepts is still low, especially in set material which is the basic science of all branches of mathematics. The purpose of this research is to describe the profile of understanding set by students based on the difference of mathematical abilities in terms of APOS theory. The subjects consisted of 3 eighth grade students of MTs Negeri Ngablak Magelang with high, medium, and low in mathematical ability. The researcher as the main instrument is assisted with test questions and interview guidelines. The results obtained a student with high mathematical abilities is at the trans’s scheme level, because she can carry out actions, processes, objects, and schemes. The Student with medium mathematical abilities is at the inter’s scheme level because he can carry out actions and processes but has not been able to connect objects with schemes. The student with low mathematical abilities is at an inter’s scheme level because he can take action but has difficulty in the process so that he cannot build an object. The difference in the level of students' mathematical abilities is equal to the difference in the understanding ability of the set.
Mosharafa: Jurnal Pendidikan Matematika, Volume 8, pp 273-284; https://doi.org/10.31980/mosharafa.v8i2.496

Abstract:
AbstrakKemampuan literasi statistis siswa sekolah menengah pertama masih rendah. Salah satu cara untuk meningkatkan kemampuan tersebut dengan melakukan inovasi terhadap model pembelajaran yang diterapkan. Berkaitan dengan peningkatan kemampuan literasi statistis tersebut diterapkan model pembelajaran berbasis proyek yang dimodifikasi. Metode dalam penelitian ini metode kuasi-eksperimen dengan instrumen penelitian soal tes berupa indikator kemampuan literasi statistis. Subjek penelitian siswa kelas VIII pada Madrasah Tsanawiyah berjumlah 36 orang siswa. Hasil dari penelitian ini adalah terdapat perbedaan kemampuan literasi statistis yang signifikan antara siswa yang mendapat model pembelajaran berbasis proyek yang dimodifikasi dengan model pembelajaran ekspositori. Model pembelajaran berbasis proyek yang dimodifikasi dapat digunakan sebagai alternatif model pembelajaran dalam meningkatkan kemampuan literasi statistis. Enhancing Statistical Literacy Abilities through Modified Project-Based LearningAbstractThe statistical literacy ability of junior high school students is still low. One way to improve this ability is by innovating the applied learning model. Regarding the increase in statistical literacy skills, a modified project-based learning model is applied. The method in this study is a quasi-experimental method with a research instrument about test questions in the form of indicators of statistical literacy. The research subjects of class VIII students at the Tsanawiyah Madrasah were 36 students. The results of the study are that there are significant differences in statistical literacy skills between students who receive a project-based learning model modified by the expository learning model. The modified project-based learning model can be used as an alternative learning model for improving statistical literacy skills.
Mosharafa: Jurnal Pendidikan Matematika, Volume 8, pp 239-248; https://doi.org/10.31980/mosharafa.v8i2.378

Abstract:
AbstrakLatar belakang penelitian ini yaitu fakta bahwa kemampuan komunikasi matematik terbukti berperan strategis dalam berbagai kegiatan pembelajaran, termasuk matematika. Tetapi, pencapaiannya belum optimal. Penelitian ini diantaranya bertujuan menemukan sulusi untuk pengembangan kemampuan komunikasi dalam matematika melalui pembelajaran berbasis Take and Give di kalangan mahasiswa agar mempunyai kompetensi untuk berkomunikasi matematika dengan baik sebagai persiapan untuk menjadi guru. Metode kuasi eksperimen digunakan dalam penelitian ini. Adapun populasi yang dipilih yaitu mahasiswa prodi pendidikan matematika pada institut pendidikan swasta di Garut, dengan mahasiswa tingkat IIA dan IIB sebagai sampel dengan jumlah 50 mahasiswa. Penelitian menggunakan instrumen berbentuk tes uraian untuk pretest dan posttest. Dari hasil penelitian secara garis besar diketahui bahwa mahasiswa dengan pembelajaran Take and Give mempunyai kemampuan komunikasi matematik yang lebih baik daripada pembandingnya yaitu mahasiswa dengan pembelajaran ceramah biasa. Pembelejaran Take and give terbukti signifikan dalam mengembangkan kemampuan komunikasi matematik. Development of Mathematical Communication Ability through Take and Give LearningAbstractBackground of this study is the fact that mathematical communication ability is proven to be a strategic role in various learning activities, including mathematics. But, the achievement is not optimal. This research included the aim of finding solutions to the development of communication skills in mathematics through Take and Give learning among college students in order to have the competence to communicate mathematics well in preparation for becoming a teacher. This research used The quasi-experimental method. The population chosen is college students of the mathematics department at private education institutes in Garut, with students of level IIA and IIB as a sample with 52 students. The study used a descriptive test instrument for pretest and posttest. Based on the results of this research in broad outline, it is known that students with Take and Give learning have mathematical communication skills that are better than the comparison, namely students with regular lecture learning. Take and give learning proved to be significant in developing mathematical communication skills.
Linda Herawati, Elis Nurhayati
Mosharafa: Jurnal Pendidikan Matematika, Volume 8, pp 131-142; https://doi.org/10.31980/mosharafa.v8i1.419

Abstract:
AbstrakPenelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan tentang tingkat kecakapan akademik siswa dengan menerapkan model Pembelajaran Cooperative Scrift dan melihat perbedaan tingkat kecakapan akademik siswa sebelum dan sesudah pembelajaran menggunakan model Cooperative Script. Metode penelitian yang digunakan adalah metode kuantitatif deskriptif karena untuk mendeskripsikan peningkatan siswa dalam kecakapan akademik siswa melalui model pembelajaran Cooperative Script. Sampel dalam penelitian ini adalah siswa kelas VIII.C SMP Negeri 12 Tasikmalaya yang berjumlah 34 orang. Pengumpulan data diambil melalui observasi dan tes. Berdasarkan hasil observasi data bahwa dalam kecakapan akademik siswa sebelum penerapan model pembelajaran Cooperative Script terdapat 15 siswa termasuk kategori kurang dan 19 siswa termasuk kategori sangan kurang, sedangkan setelah pembelajaran Cooperative Script terdapat 10 siswa termasuk kategori sangat tinggi, 21 siswa termasuk kategori tinggi dan 3 siswa termasuk kategori cukup. Dengan skor rata-rata kemampuan kecakapan akademik siswa setelah penerapan model pembelajaran Coopeartive Script adalah 86,73 dan termasuk dalam kategori sangat tinggi. Sehubungan dengan kesimpulan tersebut, maka hendaknya guru berani mencoba menerapkan metode mengajar bervariasi dalam pembalajaran dalam meningkatkan berbagai kemampuan akademik siswa. Experimentation of Cooperative Script Learning Models for Students Academic SkillsAbstractThis study aims to describe the level of students 'academic skills by applying the Cooperative Scrift Learning model and see the differences in the level of students' academic skills before and after learning using the Cooperative Scrift model. The research method used is descriptive quantitative method because to describe the increase in students in students' academic skills through Cooperative Script learning models. The sample in this study were students of class VIII.C SMP Negeri 12 Tasikmalaya which amounted to 34 people. Data collection is taken through observation and tests. Based on observations of data that in the academic skills of students before the application of the Cooperative Script learning model there were 15 students including the less category and 19 students including the poor category, while after Cooperative Script learning there were 10 students including very high categories, 21 students including the high category and 3 students including enough categories. With the average score of the ability of students' academic skills after the application of the Cooperative Script learning model is 86.73 and is included in the very high category. In connection with these conclusions, teachers should be brave enough to try to apply the varied teaching methods in learning to improve students' various academic abilities.
Lisnani Lisnani
Mosharafa: Jurnal Pendidikan Matematika, Volume 8, pp 61-70; https://doi.org/10.31980/mosharafa.v8i1.388

Abstract:
AbstrakTujuan dari penelitian ini adalah mengetahui gambaran proses pembelajaran pecahan menggunakan konteks puding dan bangun datar segitiga sama sisi dan mengetahui pemahaman konsep awal calon guru sekolah dasar tentang pecahan. Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian kualititatif-kuantitatif. Subjek dari penelitian ini adalah calon guru SD Program Studi PGSD Semester III berjumlah 19 orang tahun akademik 2018/2019. Teknik pengumpulan data menggunakan wawancara terkait dengan pemahaman calon guru SD tentang pecahan dan tes. Hasil dari penelitian ini adalah sebagai berikut: 1) gambaran proses pembelajaran pecahan menggunakan konteks puding dan bangun datar segitiga sama sisi menunjukkan perbedaan jawaban antara calon guru SD yang satu dengan yang lain; 2) pemahaman konsep calon guru SD terhadap materi pecahan masih tergolong rendah sebesar 33,82%; 3) hasil wawancara menunjukkan bahwa calon guru SD terbantu (sebanyak 60%) melalui penggunaan konteks di dalam pembelajaran pecahan. Understanding of the Basic Concept of the Basic School Teachers about FractionAbstractThe purpose of this study was to find out the description of the fraction learning process using the context of the pudding and to construct a flat equilateral triangle and to know the understanding of the initial concept of the elementary school teacher about fractions. The type of research used in this study is qualitative-quantitative research. The subjects of this study were 19th semester students of the PGSD Study Program in the 2018/2019 academic year. Data collection techniques used interviews related to the understanding of prospective elementary school teachers about fractions and tests. The results of this study are as follows: 1) description of the fraction learning process using the context of pudding and the flat build of equilateral triangles showing differences in answers between elementary school teacher candidates with one another; 2) the understanding of students' concepts of fraction material is still relatively low at 33.82%; 3) the results of interviews indicate that elementary school teacher candidates are helped (as much as 60%) through the use of context in fraction learning.
Annajmi Annajmi, Lusi Eka Afri
Mosharafa: Jurnal Pendidikan Matematika, Volume 8, pp 95-106; https://doi.org/10.31980/mosharafa.v8i1.410

Abstract:
AbstrakPenelitian ini bertujuan untuk mengetahui ada atau tidaknya pengaruh penggunaan Lembar Aktivitas Siswa (LAS) berbasis metode penemuan terbimbing terhadap kemampuan representasi matematis siswa SMP. Penelitian ini merupakan penelitian quasi eksperimen dengan Pretest Posttest Control Group Design. Penelitian ini dilakukan di SMPN 3 Rambah pada siswa kelas VII. Data yang dikumpulkan adalah data peningkatan kemampuan representasi matematis siswa. Instrumen yang digunakan adalah soal essay yang disusun berdasarkan indikator kemampuan representasi matematis. Hasil analisis data menggunakan uji Mann Whitney diperoleh nilai Zhitung yaitu 2,13 dan nilai Ztabel yaitu 1,96. Hal ini berarti Zhitung > Ztabel dengan demikian sesuai kriteria penguhian hipotesis, Ho ditolak. Oleh karena itu dapat disimpulkan bahwa ada pengaruh yang signifikan penggunaan LAS berbasis metode penemuan terbimbing terhadap peningkatan kemampuan representasi matematis siswa SMP. The Effect of Use of Student Activity Sheets Based on Guided Discovery Method on Increasing Students Mathematical Representation Ability AbstractThis study aims to determine whether or not the influence of the use of Student Activity Sheet (SAS) based on guided discovery methods on the mathematical representation ability of junior high school students. This research was a quasi-experimental study with Pretest Posttest Control Group Design. This research was conducted at SMPN 3 Rambah in class VII students. The data collected was data on improving students mathematical representation abilities. The instrument used was an essay test which was arranged based on indicators of mathematical representation ability. The results of data analysis using the Mann Whitney test obtained a calculated value of 2.13 and a Ztable value of 1.96. This means that Zhitung> Ztable is thus according to the criteria of hypothesis testing, Ho was rejected. Therefore, it can be concluded that there is a significant effect of the use of SAS based guided discovery method on improving the mathematical representation ability of junior high school students.
Tina Sri Sumartini
Mosharafa: Jurnal Pendidikan Matematika, Volume 8, pp 13-24; https://doi.org/10.31980/mosharafa.v8i1.366

Abstract:
AbstrakKemampuan berpikir kreatif merupakan aspek kognitif yang penting dalam pembelajaran matematika. Peningkatan kemampuan tersebut perlu didukung oleh model pembelajaran yang tepat yang salah satunya adalah model pembelajaran Mood, Understanding, Recall, Detect, Elaborate, and Review (MURDER). Tujuan penelitian ini yaitu untuk menganalisis pencapaian dan peningkatan kemampuan berpikir kreatif mahasiswa yang mendapatkan pembelajaran MURDER dengan konvensional, serta mengetahui interpretasi peningkatan kemampuan berpikir kreatif mahasiswa dari kedua kelas. Metode penelitian yang digunakan yaitu kuasi eksperimen. Teknik pengambilan sampel dilakukan dengan teknik Purposive Sampling dengan mengambil sampel sebanyak dua kelas di Institut Pendidikan Indonesia. Analisis data dilakukan secara kuantitatif dengan menggunakan uji gain ternormalisasi dan Mann Whitney. Adapun hasil penelitian yaitu Pencapaian dan peningkatan kemampuan berpikir kreatif mahasiswa yang mendapatkan model pembelajaran MURDER lebih baik dibandingkan dengan konvensional dengan interpretasi peningkatan pada kategori sedang. Students’ Creative Thinking Skill through Mood, Understanding, Recall, Detect, Elaborate, and Review LearningAbstractThe ability to think creatively is an important cognitive aspect in learning mathematics. This increase in ability needs to be supported by the right learning model, one of which is a learning model of Mood, Understanding, Recall, Detect, Elaborate, and Review (MURDER). The purpose of this study is to analyze the achievement and improvement of creative thinking skills of students who get MURDER learning conventionally, as well as knowing the interpretation of improving the creative thinking skills of students from both classes. The research method used is quasi-experimental. The sampling technique was carried out by purposive sampling technique by taking a sample of two classes at the Institut Pendidikan Indonesia. Data analysis was carried out quantitatively using normalized gain test and Mann Whitney test. The results of the study are the achievement and improvement of the creative thinking ability of students who get the MURDER learning model better than the conventional one with the interpretation of the increase in the medium category.
Mosharafa: Jurnal Pendidikan Matematika, Volume 8, pp 49-60; https://doi.org/10.31980/mosharafa.v8i1.385

Abstract:
AbstrakPenelitian ini bertujuan menghasilkan bahan ajar matematika berbasis scientific untuk siswa SMP yang memenuhi kriteria valid, praktis, dan efektif yang berorientasi pada kemampuan berpikir kritis matematis. Jenis penelitian ini adalah penelitian dan pengembangan (Research and Development, R&D) menurut Borg & Gall yang terdiri atas tiga langkah utama yaitu studi pendahuluan, desain produk serta pengembangan dan evaluasi. Subjek penelitian ini adalah siswa kelas VIII SMPN 1 Palasah dengan Instrumen berupa instrumen tes kemampuan berpikir kritis, lembar validasi para ahli, lembar penilaian kepraktisan dan angket respon siswa. Hasil penelitian menunjukkan bahwa bahan ajar matematika berbasis scientific yang dikembangkan telah memenuhi kriteria valid, praktis dan efektif ditinjau dari kemampuan berpikir kritis matematis. Uji perbedaan keefektifan ini menggunakan uji multivariat Hotteling’s Trace dan uji perbandingan keefektifan menggunakan uji statistik univariat between group yang menunjukkan bahwa bahan ajar berbasis scientific yang digunakan kelas uji coba lebih efektif dibandingkan bahan ajar buku paket biasa yang digunakan pada kelas kontrol. Development of Mathematic Teaching Material Based on Scientific Oriented to the Mathematical Critical Thinking Ability of StudentAbstractThis study aims to produce scientific-based mathematics worksheets for junior high school students that meet the criteria of valid, practical, and effective oriented mathematical critical thinking skills. This is a research and development (R & D) according to Borg & Gall which consists of three main steps, namely preliminary study, product design and development and evaluation. The subjects of this study were the eighth grade students of SMPN 1 Palasah with instruments in the form of critical thinking ability tests, expert validation sheets, practicality assessment sheets and student response questionnaires. The effectiveness of teaching materials is shown based on the percentage of the number of students who are at least in the good category at 95.8% and this effectivesness test uses multivariate Hotteling’s Trace test adn comparison of effectiveness test using univariate statistical test between groups and the result show that the teaching materials of scientific-based worksheets are more effective than teaching materials for general textbooks.
Nena Restiana, Heni Pujiastuti
Mosharafa: Jurnal Pendidikan Matematika, Volume 8, pp 83-94; https://doi.org/10.31980/mosharafa.v8i1.407

Abstract:
AbstrakTeknologi informasi dan komunikasi (TIK) telah berkembang begitu pesat dalam satu dekade terakhir ini. Perkembangan tersebut mengakibatkan banyak perubahan hampir di segala bidang, tak terkecuali bidang pendidikan. Pemanfaatan TIK dalam bidang pendidikan, salah satunya dibutuhkan sebagai upaya efisiensi dan efektifitas proses pembelajaran. Akan tetapi, ada banyak hambatan yang dihadapi dalam penerapannya, diantaranya kurangnya pemahaman guru terhadap teknologi. Penelitian ini berupaya mendeskripsikan pemahaman guru tersebut, ditinjau dari kerangka kerja TPACK (Technological, Pedagogical and Content Knowledge). Penelitian ini dilakukan terhadap 24 guru matematika SMA di daerah tertinggal di propinsi Banten. Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kuantitatif. Pengaruh usia, jenis kelamin, dan lama mengajar guru terhadap konstruksi TPACK dianalisis menggunakan analysis of variance (ANOVA). Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa: 1) Di antara komponen TPACK, hanya TK (Technological Knowledge) dan TCK (Technological Content Knowledge) yang berkorelasi signifikan terhadap pengetahuan TPACK guru; 2) Persepsi guru terhadap TPACK dipengaruhi secara signifikan oleh faktor usia, sedangkan jenis kelamin dan lama mengajar guru tidak berpengaruh signifikan. Measuring Technological Pedagogical Content Knowledge for Mathematic Teacher at Senior High School in Underdeveloped RegionAbstractInformation and Communication Technology (ICT) has growth for the last decade. Consequently, it influences on all areas include education. Education needs ICT to make learning process more effective and dynamic. However, there are many barriers to implement of ICT. One of barriers is about teachers’ perception on ICT. This research describes teachers’ perception on ICT teachers using TPACK framework. This research conducted at senior high school mathematics teachers in underdeveloped region of Banten. Furthermore, the relative impact of age, gender, duration of teaching on the TPACK is analysed using analysis of variance (ANOVA). The results of this research are: among the TPACK component, only TK (Technological Knowledge) and TCK (technological content knowledge) were significant correlation with teacher’s TPACK perception; 2) variable of age is significant influenced on teachers’ TPACK perceptions, while the gender and duration of teaching are not significant.
Vepi Apiati, Yeni Heryani, Siska Ryane Muslim
Mosharafa: Jurnal Pendidikan Matematika, Volume 8, pp 107-118; https://doi.org/10.31980/mosharafa.v8i1.417

Abstract:
AbstrakKampung naga merupakan kampung adat yang masih lestari, masyarakatnya memegang teguh tradisi nenek moyang mereka. Masyarakatnya menolak intervensi dari pihak luar jika hal itu mencampuri dan merusak kelestarian kampung tersebut. Disinilah peneliti mulai berpikir untuk mempelajari lebih dalam tentang kehidupan masyarakat Kampung Naga di Tasikmalaya. Mata pencaharian pokok masyarakat kampung naga adalah petani. Pendekatan penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan etnografi, yaitu pendekatan empiris dan teoretis yang bertujuan mendapatkan deskripsi dan analisis mendalam tentang kebudayaan berdasarkan penelitian lapangan yang intensif. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan menetapkan informan, melakukan wawancara, membuat catatan etnografis, melakukan analisis. Teknik analisis data diantaranya reduksi data, penyajian data, dan verifikasi. Simpulan dalam penelitian ini Etnomatematik dalam bercocok tanam padi pada masyarakat kampung naga diantaranya penghitungan ganjil genap untuk menentukan benih padi yang akan ditanam. Biasanya di semester satu mereka menanam padi dengan jenis pare alit dan di semester kedua mereka menanam padi dengan jenis pare ageung. Etnomatematik dalam kerajinan anyaman masyarakat kampung naga adalah adanya penggunaan prinsif teselasi pada pola anyamannya. Etnomatematik Implementation in Rice Farming and Craft Woven at Kampung Naga SocietyAbstractKampung Naga is a traditional village that is still sustainable, the community adheres to the traditions of their ancestors. The community refused intervention from outside parties if it interfered with and damaged the preservation of the village. This is where we began to think to learn more about the lives of the people of Kampung Naga in Tasikmalaya. The main livelihood of the Naga village community is farmers. The research approach used in this study is an ethnographic approach, namely an empirical and theoretical approach which aims to get a description and in-depth analysis of culture based on intensive field research. The technique of data collection is done by assigning informants, conducting interviews, making ethnographic notes, conducting analysis. Data analysis techniques include data reduction, data presentation, and verification. The conclusions in this research are ethnomatematics in matching rice farms in the Naga village community including an even-numbered odd calculation to determine the rice seeds to be planted. Usually in the first semester they plant rice with alit pare species and in the second semester they grow rice with pare ageung species. Ethnomatematics in woven crafts of the Naga village community is the use of principal tesellation on the woven pattern.
Bagus Dwi Wicaksono, Erlina Prihatnani
Mosharafa: Jurnal Pendidikan Matematika, Volume 8, pp 71-82; https://doi.org/10.31980/mosharafa.v8i1.406

Abstract:
AbstrakMemasuki era Masyarakat Ekonomi Asean (MEA) diperlukan calon guru yang berkualitas agar mampu menyiapkan generasi yang dapat bersaing secara global. Salah satu kemampuan yang harus dimiliki seorang calon guru adalah kemampuan berpikir kritis matematis. Sebuah penelitian menyimpulkan bahwa kemampuan berpikir kritis dipengaruhi oleh kepercayaan diri. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan kemampuan berpikir kritis matematis mahasiswa Pendidikan Metematika FKIP UKSW ditinjau dari tingkat kepercayaan diri. Jenis penelitian ini adalah deskriptif kualitatif. Subjek penelitian merupakan mahasiswa Pendidikan Matematika FKIP UKSW yang diambil berdasarkan 2 kategori yaitu mahasiswa dengan kepercayaan diri tinggi atau S1 dan mahasiswadengan kepercayaan diri rendah atau S2. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa terdapat perbedaan kemampuan berpikir kritis matematis antara subjek S1 dan subjek S2 dimana subjek S1 memenuhi semua aspek FRISCO (fokus, reason, inference, situasion, clarity, dan overview) sedangkan subjek S2 hanya memenuhi aspek focus, reason, inferencedanclarity. Profil of Student’s Mathematical Critical Thinking in Solving Trigonometry Question Viewed from Self-ConfidenceAbstractEntering the era of the Asean Economic Community (MEA) requires qualified teacher candidates to be able to prepare generations that can compete globally. One of the abilities that a prospective teacher must possess is mathematical critical thinking skills. A study concluded that critical thinking skills are influenced by self-confidence. This study aims to describe the mathematical critical thinking skills of the SWCU FKIP Mathematics Education students in terms of their level of confidence. This type of research is qualitative descriptive. The research subjects were SWCU FKIP Mathematics Education students taken based on 2 categories, namely students with high self-confidence or S1 and students with low self-confidence or S2. The results of this study indicate that there are differences in mathematical critical thinking skills between S1 subjects and S2 subjects where S1 subjects fulfill all aspects of FRISCO (focus, reason, inference, situation, clarity, and overview) while S2 subjects only fulfill focus, reason, inference, and clarity aspects.
Mega Nur Prabawati, Tatang Herman, Turmudi Turmudi
Mosharafa: Jurnal Pendidikan Matematika, Volume 8, pp 37-48; https://doi.org/10.31980/mosharafa.v8i1.383

Abstract:
AbstrakMemiliki kemampuan literasi matematis yang baik diharapkan dapat membantu siswa memecahkan masalah yang berkaitan dengan matematika. Fokus keterampilan literasi matematika pada siswa adalah kemampuan untuk menganalisis, membenarkan, dan mengkomunikasikan ide secara efektif, merumuskan, memecahkan dan menafsirkan masalah matematika dalam berbagai bentuk dan situasi. Tujuan dari penelitian ini adalah mengembangkan lembar kerja siswa berbasis masalah yang valid dan praktis untuk meningkatkan kemampuan literasi matematis siswa dalam materi sistem persamaan linear dua variabel. Jenis penelitian adalah penelitian pengembangan (Research and Development), yang terdiri dari tahap-tahap studi literatur, studi, observasi, wawancara, pengembangan lembar kerja siswa. Kesimpulan dalam penelitian ini adalah hasil ujicoba dalam skala kecil dan skala besar menunjukan angka 70,66% dan 75,08%, ini berarti LKS berbasis masalah untuk meningkatkan keterampilan literasi matematika dapat digunakan dan didistribusikan sebagai bahan pembelajaran dalam pembelajaran matematika untuk SMP. Development Problem Based Student Worksheet with Heuristic Strategy to Improve Mathematics Literacy SkillAbstractHaving good mathematical literacy skills is expected to help students solve problems related to mathematics. The focus of mathematics literacy skills on students is the ability to analyze, justify, and communicate ideas effectively, formulate, solve and interpret mathematical problems in various forms and situations The purpose of this study was to determine the development process based problems student worksheet to improve mathematical literacy skill valid and practical problems in the system linear equations of two variables material. The type of research was the development of research (Research and Development), which consists of stages are literature, study, observation, interviews, development of student worksheets. After Revised, the student worksheets were evaluated by a field test in a small and large scale. The scale from both are 70,66% and 75,08 % respectively. It is concluded that problem based student worksheet to improve mathematical literacy skill can be used and distributed as a learning material in mathematics learning for junior high school.
Warsito Warsito, Yeni Nuraini, Sukirwan Sukirwan
Mosharafa: Jurnal Pendidikan Matematika, Volume 8, pp 25-36; https://doi.org/10.31980/mosharafa.v8i1.381

Abstract:
AbstrakPecahan merupakan salah satu topik matematika yang hampir selalu menjadi masalah bagi siswa sekolah dasar (SD). Masalah tersebut muncul karena umumnya siswa tidak memahami konsep pecahan. Penelitian ini merupakan penelitian desain (design research) yang dirancang untuk memberikan suatu pertimbangan yang baik terhadap proses pembelajaran operasi pecahan melalui dugaan-dugaan yang dibangun dalam kerangka analisis hypotetical learning trajectory (HLT) yang kemudian diujicobakan dalam pembelajaran matematika realistik (PMR). PMR mendasari dari seluruh kegiatan penelitian desain riset. Hasil penelitian ini tergambar dari teori instruksional lokal (local instructional theory). Design research dilakukan dalam tiga tahap, yaitu desain pendahuluan, percobaan mengajar yang terdiri siklus 1 dan siklus 2, dan tahap ketiga analisis retrospektif. Penelitian melibatkan menggunakan sampel sebanyak 29 siswa kelas V di SDI Nurul Hasanah yang terdiri 4 orang siswa pada siklus satu dan 25 siswa pada siklus kedua. Hasil penelitian dapat menunjukan bahwa serangkaian kegiatan pembelajaran dengan PMR dapat membawa siswa dari situasi konkret menuju situasi yang lebih formal. Siswa mampu mengerjakan bilangan pecahan dari bentuk kontektual dengan disertai alasan. Learning Design Fractions through Realistic Approach in Class VAbstractFractions is one of the mathematics topic that are almost to be problem for elementary school (SD) . This problem arises because generally studenst do no understand about concept of fraction. This research is design research designed to provide a good consideration of learning process of fractional operations through allegations built in framework analysis hypotetical learning trajectory (HLT), which later tested in learning mathematics realistic (PMR). PMR underlies all research design research activities. The results of this study are drawn from local instructional theory. Design research is carried out in three stages, namely preliminary design, teaching experiment consisting of cycle 1 and cycle 2, and the third stage of retrospective analysis. The study involved using a sample of 29 grade V students at SDI Nurul Hasanah consisting of 4 students in cycle one and 25 students in the second cycle. The results of the study can show that a series of learning activities with PMR can bring students from concrete situations to a more formal situation. Students are able to work fractions of a contextual form with reason.
Rostina Sundayana
Mosharafa: Jurnal Pendidikan Matematika, Volume 8, pp 143-154; https://doi.org/10.31980/mosharafa.v8i1.420

Abstract:
AbstrakPenelitian ini bertujuan untuk mengkaji peningkatan kemampuan pemecahan masalah dan kemandirian belajar matematika siswa kelas VII dengan menggunakan desain pembelajaran ASSURE. Penelitian ini menggunakan metode kuasi eksperimen, dengan desain kelompok kontrol pretes-postes. Pada kelompok kontrol, digunakan desain pembelajaran yang sedang berjalan yaitu desain Prosedur Pengembangan Sistem Instruksional (PPSI).Populasi dalam penelitian ini adalah siswa kelas VII SMP Negeri di Kabupaten Garut yang mencakup sekolah level bawah, tengah, dan atas.Dari masing-masing level tersebut, diambil sampel sebanyak tiga kelompok yaitu kelompok eksperimen 1 (siswa yang mendapat desain pembelajaran ASSURE dengan model Problem Based Learning/A-PBL); kelompok eksperimen 2 (siswa yang mendapat desain pembelajaran ASSURE dengan model Discovery Learning/A-DL) dan kelompok kontrol (siswa yang mendapat desain PPSI dengan model pembelajaran PBL dan DL). Dengan menggunakan teknik analisis data ANOVA, Kruskal-Wallis, Uji Tukey HSD, dan uji Perbandingan Berganda diperoleh kesimpulan dari hasil penelitian ini, secara umum bahwa: peningkatan kemampuan pemecahan masalah dan kemandirian belajar matematika siswa yang mendapat desain pembelajaran ASSURE lebih baik dari siswa yang mendapat PPSI. The Comparison of ASSURE and PPSI Model as Instructional Design to Increase Mathematics Skills in Problem Solving and Self-Directed LearningAbstractThis study is aimed at reviewing the increase of Junior High School Students’ Mathematics skills in problem solving and Self-directed learning by using ASSURE design (Analyze learner characteristics; State standards and objectives; Select methods, media and materials; Utilize media and materials; Require learner participation; and Evaluate and revise). This study used experimental method with pretest-posttest control group design. The population in this study was grade VII students of State Junior High Schools located in Garut Regency consisting of schools with lower level, middle level, and top level. From the schools which had been randomly selected, three classes were also randomly selected to take as sample. The first two classes used ASSURE model as instructional design by applying Problem Based Learning (A-PBL) and Discovery Learning (A-DL) respectively. Meanwhile, the third class used conventional instructional design by applying Problem Based Learning and Discovery Learning (K-PBL/DL). By using ANOVA data analysis techniques, Kruskal-Wallis, Tukey HSD Test, and Multiple Comparison tests are concluded in general, the conclusion drawn based on the results of this study is that the increase of students' Mathematics skills in problem solving and Self-directed learning who were taught by using ASSURE model showed better results than those who were taught by using conventional model.
Puspitasari Puspitasari, Novisita Ratu
Mosharafa: Jurnal Pendidikan Matematika, Volume 8, pp 155-166; https://doi.org/10.31980/mosharafa.v8i1.431

Abstract:
AbstrakPemahaman konsep merupakan salah satu komponen penting yang harus dimiliki siswa di sekolah. Pemahaman konsep tersebut dapat diaplikasikan dalam menyelesaikan soal, terlebih pada soal non-rutin yang dapat diambil dari soal PISA. Kenyataannya siswa Indonesia tergolong rendah dalam menyelesaikan soal PISA. Salah satu cara untuk mengetahui rendahnya siswa dalam menyelesaikan soal yakni dengan mengujikan pemahaman konsep yang dimilikinya. Penelitian kualitatif ini bertujuan untuk mendeskripsikan pemahaman konsep siswa dalam menyelesaikan soal PISA pada konten space and shape. Subjek penelitian adalah 3 siswa kelas X MIPA 5 SMA Negeri 1 Ambarawa Tahun Ajaran 2017/2018 dengan pertimbangan usia 15 Tahun dan berkemampuan tinggi (LHK), sedang (ATN) dan rendah (DSS). Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan teknik tes, wawancara dan dokumentasi. Hasil tes dan wawancara menunjukkan bahwa: (1) Ketiga subjek memenuhi semua indikator pemahaman konsep ketika menyelesaikan soal PISA pada konten space and shape yang menggunakan komponen proses employ, konteks scientific serta komponen proses formulate, konteks personal. (2) Ketika menyelesaikan soal PISA pada konten space and shape yang menggunakan komponen proses formulate dan konteks scientific subjek ATN dan DSS tidak memenuhi indikator pemahaman konsep yang mengaplikasikan konsep atau algoritma pada pemecahan masalah. Description of Students’ Concept Understanding in Solving PISA Question on Space and ShapeAbstractConceptual understanding is an important component for students in school. It can be applied in solving problems, especially for non-routine questions from the PISA problems. The truth, Indonesian students belong to lower level in solving PISA problems. One way to find out the low level of students’ problems solving is by testing their conceptual understanding. This qualitative research aims to describe students' conceptual understanding in solving PISA problems on space and shape content. Subjects in this research were three students of class X MIPA 5 SMA Negeri 1 Ambarawa on academic year 2017/2018 by consideration of 15 years old with high (LHK), middle (ATN) and low (DSS) mathematical capabilities. Data collection techniques in this research use test, interviews and documentation. Test results and interviews show that: (1) The three subjects can achieve all indicators of conceptual understanding when solving PISA problems on space and shape content with “employ” process and “scientific” context along with “formulate” process and “personal” context. (2) Subjects ATN and DSS can’t achieve the conceptual understanding indicators when solving the PISA problems on space and shape content that uses “formulate” process and “scientific” context which apply concept or algorithms of problem solving.
Azhari Dewita, Abdul Mujib, Hasratuddin Siregar
Mosharafa: Jurnal Pendidikan Matematika, Volume 8, pp 1-12; https://doi.org/10.31980/mosharafa.v8i1.202

Abstract:
AbstrakTujuan penelitian ini untuk mengetahui konsep (ide-ide) matematika yang terdapat pada rumah adat Mandailing yaitu Bagas Godang. Mandailing adalah salah satu suku Batak yang terletak di Kabupaten Tapanuli Selatan Sumatera Utara. Salah satu unsur budaya Mandailing adalah rumah adat Bagas Godang Sumatera Utara yang seharusnya menjadi perhatian pemerintah daerah setempat. Bagas Godang merupakan unsur budaya Mandailing yang dapat di jadikan media pembelajaran matematika sekolah, sehingga pembelajaran matematika dapat dimulai dari memperkenalkan budaya lokal seperti rumah adat budaya Mandailing atau Bagas Godang. Tulisan ini mengeksplorasi konsep-konsep matematika pada struktur dan ornamen rumah adat Bagas Godang. Pembahasan yang bersifat deskriptif memberi gambaran tentang ornamen rumah adat Bagas Godang lebih terperinci. Hasil eksplorasi dan analisis ornamen-ornamen Bagas Godang ditemukan adanya konsep matematika berupa konsep grup, geometri dan trasformasi geometri dan komposisinya. Ethnomatematic Study of Bagas Godang as a Mandailing Culture Element in North SumateraAbstractThe purpose of this study was to find out the concepts (ideas) of mathematics in the traditional Mandailing house, Bagas Godang. Mandailing is one of the Batak tribes located in South Tapanuli Regency, North Sumatra. One element of Mandailing culture is the traditional house of Bagas Godang, North Sumatra, which should be the concern of the local government. Bagas Godang is an element of Mandailing culture that can be used as a medium for school mathematics learning, so that mathematics learning can be started from introducing local culture such as the traditional Mandailing or Bagas Godang cultural houses. This research explores mathematical concepts in the structure and ornaments of the traditional Bagas Godang house. Descriptive discussion gives an overview of the traditional Bagas Godang house ornaments in more detail. Exploration and analysis of Bagas Godang ornaments found mathematical concepts such as group concepts, geometric concepts, and geometric transformations and their compositions.
M. Rohman Galih Tri Mulyo, Anisa Fatwa Sari, Azhar Syarifuddin
Mosharafa: Jurnal Pendidikan Matematika, Volume 8, pp 167-178; https://doi.org/10.31980/mosharafa.v8i1.435

Abstract:
AbstrakSiswa bergaya kognitif visualizer cenderung mengolah informasi dalam bentuk visual. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui proses berpikir siswa bergaya kognitif visualizer dalam menyelesaikan masalah TIMSS non geometri. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif dengan pendekatan kualitatif. Subjek dalam penelitian ini yaitu 3 siswa bergaya kognitif visualizer kelas VIII SMP swasta di Surabaya. Ketiga subjek mempunyai tingkat kemampuan matematika Tinggi, Sedang, dan Rendah. Instrumen penelitian dalam penelitian ini adalah peneliti sendiri dan dibantu dengan instrumen pendukung yaitu angket gaya kognitif visualizer dan verbalizer, soal tes TIMSS non geometri, dan pedoman wawancara. Teknik pengumpulan data yang digunakan yaitu berupa tes gaya kognitif, tanya jawab dengan guru di kelas, tes soal TIMSS non geometri, dan wawancara. Teknik analisis data yang digunakan yaitu reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian siswa berkemampuan matematika tinggi pada tahap persiapan, inkubasi, dan iluminasi sangatlah baik, namun pada tahap verifikasi bisa dikatakan cukup dalam menyelesaikan soal TIMSS non geometri. Siswa yang berkemampuan matematika sedang dari empat tahap sudah cukup baik, namun masih belum mampu memahami soal yang abstrak seperti aljabar. Sedangkan siswa yang berkemampuan matematika rendah pada tahap persiapan dan tahap inkubasi cukup baik, namun pada tahap iluminasi dan tahap verifikasi masih kurang. Student’s of Cognitive Visualizer Thinking Process in Completing Non Geometry Timss ProblemsAbstractStudents with cognitive visualizer styles tend to process information in visual form. The purpose of this research was to determine the student’s thinking process. The purpose of this research is describe student’s of cognitive visualizer thinking process in completing non geometry TIMSS problems. The type of this research is desciptive qualitative research. The subjects in this research were three students of cognitive visualizer grade eight from private junior high school in Surabaya. The three subjects had high, medium, and low capability in mathematic. The research instrument in this study was the researchers themselves and assisted by some supporting instruments questionnaire cognitive visualizer and verbalizer, question of TIMSS non geometry, and interviews guidelines. The data collection technique used were a test of style cognitive, interview whit teacher, TIMSS non geometry test, and interview. The data analisis technique used were data reduction, presentation of data, and conclusion. The result of the research was the high-skilled at the stage of preparation, incubation, and illumination well, but in the vierification stage it can be said to be sufficient in solving non geometry TIMSS problems. Students medium-skilled mathematic from four stages are good enough, but still not able to understand abstract questions such as algebra. While students with low-skilled mathematical at...
Eva Mulyani, Setya Wahyuningsih, Ike Natalliasari
Mosharafa: Jurnal Pendidikan Matematika, Volume 8, pp 119-130; https://doi.org/10.31980/mosharafa.v8i1.418

Abstract:
AbstrakTujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui Adversity quotient mahasiswa pendidikan matematika angkatan 2015 dan mengetahui ada atau tidak adanya keterkaitan antara Adversity quotient dengan Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) mahasiswa pendidikan matematika angkatan 2015. Penelitian ini merupakan penelitian deskriftif korelatif. Menggunakan metode korelasional yang tujuannya untuk menyelidiki sejauh mana variasi pada satu variabel berkaitan dengan variabel yang lainnya. Berdasarkan hasil analsis data penelitian, bahwa tingkat Adversity quotient (AQ) mahasiswa jurusan pendidikan matematika FKIP Universitas Siliwangi angkatan 2015 secara umum berada pada kategori AQ sedang (camper). Sebesar 66% mahasiswa memiliki AQ sedang, dan umumnya memiliki IPK dengan predikat sangat memuaskan. 1 orang mahasiswa memiliki IPK dengan predikat pujian dan memiliki AQ tinggi (climber), 1 orang mahasiswa memiliki IPK dengan predikat pujian namun AQ nya berada pada kategori peralihan dari quitter ke camper, 14 orang mahasiswa memiliki IPK dengan tidak memiliki predikat namun AQ nya sedang (camper), dan 2 orang mahasiswa memiliki IPK dengan tidak memiliki predikat namun AQ nya berada pada kategori peralihan dari camper ke climber. Serta terdapat keterkaitan yang signifikan antara Adversity quotient dengan Indeks Prestasi Kumulatif. Adversity Quotient of Mathematics Education Students and Its Correlation with Their Grade Point AverageAbstractThe purpose of this research was to find out the 2015 adversity quotient of mathematics education students in academic year 2015 and find out whether there was link between Adversity quotient and the 2015 Grade Point Average (GPA) of this students or not. This research was descriptive correlative research. Using a correlational method which aims to investigate to what extent variations on one variable are related to the other variables. Based on the results of research data analysis, the level of Adversity quotient students majoring in mathematics education FKIP Siliwangi University class of 2015 in general is in the category of moderate AQ (camper). More precisely 66% of students have moderate AQ, and generally have a very satisfying GPA. One student has a GPA with a predicate of praise and has a high AQ (climber), one student has IPK with the title of praise but the AQ is in the transition category from quitter to camper, 14 students have GPA with no predicate but the AQ is camper, and two students have IPK with no predicate but the AQ is in the transition category from camper to climber. There is a significant relationship between Adversity quotient and Grade Point Average.
Deutelina Setiawati Lagur, Alberta Parinters Makur, Apolonia Hendrice Ramda
Mosharafa: Jurnal Pendidikan Matematika, Volume 7, pp 357-368; https://doi.org/10.31980/mosharafa.v7i3.160

Abstract:
AbstrakTujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui perbedaan kemampuan komunikasi matematis siswa kelas X SMK Santo Aloisius Ruteng tahun ajaran 2017/2018 yang diajarkan dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe NHT dibandingkan dengan yang diajarkan dengan model pembelajaran langsung. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimen dengan desain penelitian posttest only control group design. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh siswa kelas X jurusan Teknik Kendaraan Ringan (TKR) SMK Santo Aloisius Ruteng yang tersebar dalam tiga kelas. Dua kelas dipilih secara acak untuk dijadikan sampel penelitian. Kelas X TKR B terpilih sebagai kelas eksperimen yang diajarkan dengan menerapkan model pembelajaran kooperatif tipe NHT sedangkan kelas X TKR C diajarkan dengan model pembelajaran langsung. Data yang diperoleh dalam penelitian ini berupa skor kemampuan komunikasi matematis siswa yang dianalisis dengan uji t. Berdasarkan hasil analisis data diperoleh bahwa kemampuan komunikasi matematis siswa yang menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe NHT lebih tinggi dibandingkan dengan kemampuan komunikasi matematis siswa yang menggunakan model pembelajaran langsung.Abstract (Effect Of Cooperative Learning Model Of Numbered Head Together Type On Mathematical Communication Ability)This study was aimed to determine the effect of cooperative learning model NHT type towards students’ mathematical communication skill of grade X SMK Santo Aloisius Ruteng in academic year 2017/2018. This study was experimental research with post-test only control group design. The population of this study was all the tenth-grade students majoring in Teknik Kendaraan Ringan (TKR). X TKR B selected as an experimental class taught by applying cooperative learning type NHT while X TKR C taught by direct learning model. The data obtained was analyzed by t-test. Analysis data result obtained that students’ mathematical communication skill that using cooperative learning type NHT is higher than students’ mathematical communication skill that using direct learning model.
Iyam Maryati
Mosharafa: Jurnal Pendidikan Matematika, Volume 7, pp 467-476; https://doi.org/10.31980/mosharafa.v7i3.26

Abstract:
AbstrakArtikel ini merupakan studi literatur yang betujuan untuk mendeskripsikan Model Pembelajaran Berbasis Proyek yang diterapkan dalam materi statistika pada siswa kelas VIII Sekolah Menengah Pertama. Dalam artikel ini juga menyajikan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) sebagai alternatif dalam pelaksanaan pembelajaran. Berdasarkan telaah literatur dari penelitian yang relevan diperoleh kemampuan lierasi dan penalaran statistis baik siswa SMP maupun SMA masih dalam kategori rendah. Hal ini terjadi karena sangat dipengaruhi oleh model pembelajaran yang diterapkan. Dalam model pembelajaran berbasis proyek ini guru diberikan kesempatan untuk melakukan pembelajaran yang melibatkan kerja proyek. Hasil akhir dari kerja proyek tersebut dapat berupa laporan dan presestasi. Adapun penilaian tugas proyek diawali dari proses perencanaan, pelaksanaan, dan akhir tugas proyek. Oleh karena itu model pembelajaran berbasis proyek dapat dijadikan sebagai salah satu alternatif dalam pembelajaran. Abstract (Conducting Project Based Learning in Statistics of 8th Grade Junior High School Students)This article is a literature study which aims to describe the Project-Based Learning Model that is applied in statistical material for students of grade VIII of junior high school. In this article also presents a Learning Implementation Plan (RPP) as an alternative in the implementation of learning. Based on the review of literature from relevant research, it was found that the ability and statistical statistics of junior and senior high schools were still in the low category. This happens because very much the text by the learning model is applied. In the learning, project, development, development and development models. The end result of the work can be in the form of reports and presentations. Arrange the work done from the project planning, implementation and final project. Therefore, project-based learning models can be used as an alternative in learning.
Mosharafa: Jurnal Pendidikan Matematika, Volume 7, pp 381-388; https://doi.org/10.31980/mosharafa.v7i3.143

Abstract:
AbstrakPenelitian ini dilatarbelakangi oleh kemampuan pemahaman matematis mahasiswa yang masih belum maksimal dan juga mahasiswa belum bisa mengatur diri dalam belajar terutama ketika menghadapi tugas sehingga berpengaruh terhadap self-regulated learning mahasiswa. Tujuan dari penelitian yang dilakukan adalah untuk menelaah dan mendeskripsikan korelasi antara self-regulated learning dengan kemampuan pemahaman matematis mahasiswa. Penelitian dilaksanakan di Program Studi Pendidikan Matematika Universitas Galuh pada mahasiswa tingkat I Tahun Akademik 2017/2018. Data hasil penelitian diperoleh dari instrumen tes kemampuan pemahaman matematis dan angket skala self-regulated learning. Analisis data yang digunakan adalah analisis korelasi dengan menggunakan korelasi product moment. Berdasarkan hasil penelitian, pengolahan data, analisis data dan pengujian hipotesis diperoleh kesimpulan bahwa terdapat korelasi antara self-regulated learning dengan kemampuan pemahaman matematis mahasiswa. Abstract (Correlation between Self-Regulated Learning and Students’ Mathematical Understanding Ability)This research was conducted based on the consideration of low mathematical understanding ability and their awareness in accomplishing their assignments. These obstacles influence to their self-regualted learning. The aim of this study was to investigated and to decribed the correlation between self-regulated learning with mathematical understanding ability. This study was conducted in mathematics eduaction program in Galuh University. The population is the first year of students in academic year 2017/2018. The data was obtained from test and questionnaire deals with self-regulated learning. The research design was used correlation with the Pearson’s product moment analysis. The result was showed that there is positive correlation between self-regulated with mathematical understanding ability.
Navel Oktaviandy Mangelep, Derel Filandy Kaunang
Mosharafa: Jurnal Pendidikan Matematika, Volume 7, pp 455-466; https://doi.org/10.31980/mosharafa.v7i3.157

Abstract:
AbstrakPenelitian ini bertujuan untuk mengembangkan soal matematika realistik berdasarkan kerangka teori PISA yang valid, praktis, dan efektif. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode penelitian pengembangan dengan tipe penelitian formatif yang meliputi tahap preliminary (analisis dan pendesainan) serta tahap prototyping (evaluasi formatif). Teknik pengumpulan data berupa dokumentasi, walk through, tes, observasi, dan wawancara. Sedangkan teknik analisis data yang digunakan adalah analisis data deskriptif kualitatif. Kevalidan dipenuhi berdasarkan validasi pakar secara kualitatif dari aspek konten, konstruk, dan bahasa. Kriteria praktis dipenuhi apabila memenuhi dua hal yaitu; (1) para pakar menyatakan bahwa apa yang dikembangakan dapat diterapkan, dan (2) kenyataan menunjukkan bahwa apa yang dikembangkan tersebut dapat diterapkan. Hasil yang diperoleh adalah telah dihasilkan prototipe soal matematika realistik berdasarkan kerangka teori PISA yang valid dan praktis dan efektif. Selain itu, hasil tes menunjukkan bahwa kemampuan literasi matematika siswa kelas IX di SMP Negeri 3 Tondano masih tergolong rendah dengan rata-rata nilai 19,6. AbstractThis study aims to develop valid, practical and effective realistic mathematics problem based on PISA theoretical framework. The method is a developmental research with formative research type which includes the preliminary stage (analysis and design) and the prototyping stage (formative evaluation). Data collection techniques in the form of documentation, walk through, tests, observations, and interviews. While the data analysis technique used is qualitative descriptive data analysis. Validity is fulfilled based on qualitative expert validation from aspects of content, constructs, and language. Practical criteria are fulfilled when fulfilling two things, namely; (1) the experts state that what is developed can be applied, and (2) the fact shows that what is developed can be applied. The results obtained is a realistic mathematical problem prototype based on the PISA theoretical framework that is valid, practical, and effective. In addition, the test results show that the mathematics literacy skills of grade IX students at SMP Negeri 3 Tondano are still relatively low with an average score of 19.6.
Budianto Budianto
Mosharafa: Jurnal Pendidikan Matematika, Volume 7, pp 413-424; https://doi.org/10.31980/mosharafa.v7i3.151

Abstract:
AbstrakPenelitian ini dilatarbelakangi oleh rendahnya proses pembelajaran dan perolehan hasil belajar yang tidak seimbang antara aspek kognitif, afektif dan psikomotor di SD Negeri Cipedak 06 Pagi Kecamatan Jagakarsa Jakarta Selatan. Subjek penelitian dilakukan di kelas V SD dengan jumlah siswa 32. Perbaikan di titik beratkan pada pemilihan model pembelajaran, agar model yang dipilih lebih mengutamakan keterlibatan siswa secara efektif di dalam memahami dan menerapkan konsep yang dipelajarinya, model yang dimaksud adalah model penerapan matematika realistik. Metode penelitian yang digunakan adalah Penelitian Tindakan Kelas. Subjek penelitian ini adalah SD Negeri Cipedak 06 Pagi Kecamatan Jagakarsa Jakarta Selatan; dilaksanakan 2 siklus 4 pertemuan pada semester genap tahun ajaran 2017/2018. Aktivitas di luar jam pelajaran dari siklus I sampai siklus II semakin berkurang dan pembelajaran semakin efektif dan tentunya menyenangkan. Pada siklus I berhasil dengan baik ditandai dengan adanya peningkatan hasil tes dari hasil pre-test meningkat dalam post-test pada tindakan pertama dari 43,75% menjadi 71,88% terjadi peningkatan sebanyak 28,13 % dengan rata-rata sebesar 67,81. Sedangkan dalam tindakan kedua hasil Pre-Test dan Post-Test adalah 68,75% menjadi 75% dengan rata-rata 69,97. Hasil dari Siklus II tindakan pertama dalam pre-test dan post-test adalah dari 75% menjadi 81,75% dengan rata-rata 73,06. Hasil pre-test dan Post-test dari tindakan kedua adalah 84,38% menjadi 93,75% dengan rata-rata 77,94. Abstract (Enhancing Students’ Learning Outcomes through Realistic Mathematics Approach on Fractions)This research is motivated by the low learning process and audit of learning outcomes that are not balanced between cognitive, affective and psychomotor in aspects of Cipedak 06 Pagi Public Elementary School, Jagakarsa District, South Jakarta. The subject of the study was conducted in grade V elementary school with the number of students 32. Improvements in the selection of learning models, a model that prioritized students in understanding and applying the concepts they learned, a model that is a model of the application of realistic mathematics. The research method is a Design Activity. The subject of this research is SD Negeri Cipedak 06 Pagi, Jagakarsa District, South Jakarta; implemented 2 cycles of 4 meetings in the even semester of 2017/2018 school year. Activities in the Learning cycle from cycle I to cycle II are reduced and effective. In the first cycle it worked well with the results of the pre-test results increased in the post-test on the first action from 43.75% to 71.88% an increase of 28.13% with an average of 67.81. Whereas in the second action the results of Pre-Test and Post-Test were 68.75% to 75% with an average of 69.97. The results of Cycle II first action in the pre-test and post-test were from 75% to 81.75% with an average of 73.06. The results of the pre-test and Post-test from the second action were 84.38% to 93.75% with an...
Puji Lestari, Rina Rosdiana
Mosharafa: Jurnal Pendidikan Matematika, Volume 7, pp 425-432; https://doi.org/10.31980/mosharafa.v7i3.156

Abstract:
AbstrakKemampuan pemecahan masalah merupakan bagian dari kurikulum pendidikan matematika saat ini. Fakta di lapangan menunjukkan bahwa kemampuan pemecahan masalah matematis siswa masih belum optimal, salah satu penyebabnya adalah masih banyak siswa yang menemui kesulitan dalam hal pemahaman konsep dasar. Mengoptimalkan kemampuan pemecahan masalah diantaranya dapat ditempuh melalui pembelajaran yang berpusat pada siswa. Model pembelajaran Learning Cycle 7E dan Problem Based Learning merupakan dua dari beragam model pembelajaran yang berpusat pada siswa. Adapun tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui perbedaan pencapaian kemampuan pemecahan masalah matematis antara siswa yang mendapatkan model pembelajaran Learning Cycle 7E dan Problem Based Learning. Hasil dari penelitian menyimpulkan bahwa tidak terdapat perbedaan peningkatan kemampuan pemecahan masalah matematis antara siswa yang mendapatkan model pembelajaran Learning Cycle 7E dan Problem Based Learning. Sementara itu, untuk kualitas peningkatan kemampuan pemecahan masalah matematis siswa yang mendapatkan model pembelajaran Learning Cycle 7E dan Problem Based Learning masing-masing berinterpretasi sedang namun skor perolehan nya berbeda. Secara umum, sikap siswa terhadap pembelajaran matematika menggunakan model pembelajaran Learning Cycle 7E dan Problem Based Learning masing-masing berinterpretasi baik. Abstract (Students’ Problem Solving Ability through Learning Cycle 7E and Problem Based Learning)Currently mathematical problem solving ability was a part of mathematics curriculum. In fact, the mathematical problem solving ability of students was not optimized, one of the reasons is there are still many students who have problems in terms of understanding the basic concepts. To optimizing the mathematical problem solving ability of students, it, can be reached by implementing student-centered learning. Learning Cycle 7E and Problem Based Learning are two of a lot of student-centered learning models. The purpose of this study was to determine the difference of achievement mathematical problem solving ability between students who get Learning Cycle 7E and Problem Based Learning models. The results of this study are there is not a difference enhancement of mathematical problem solving ability between students who get Learning Cycle 7E and Problem Based Learning models. Meanwhile, the quality of enhancement mathematical problem solving ability students who get Learning Cycle 7E and Problem Based Learning models are in the middle interpretation. In general, students' attitudes toward learning mathematics using Learning Cycle 7E and Problem Based Learning models each in good interpretation.
Mosharafa: Jurnal Pendidikan Matematika, Volume 7, pp 369-380; https://doi.org/10.31980/mosharafa.v7i3.38

Abstract:
AbstrakPenelitian ini bertujuan untuk mengembangkan perangkat pembelajaran matematika berupa RPP dan LKS menggunakan pendekatan guided inquiry yang mengacu pada learning trajectory dan berorientasi pada kemampuan pemecahan masalah siswa. Jenis penelitian ini adalah penelitian pengembangan dengan model pengembangan ADDIE yang terdiri dari tahap Analysis, Design, Development, Implementation, dan Evaluation. Sampel data sebanyak satu kelas secara acak yaitu siswa kelas VII A SMP Negeri 2 Pleret sejumlah 32 siswa. Berdasarkan penilaian kevalidan, RPP memenuhi kriteria valid dengan skor 4,13, sedangkan LKS memenuhi kriteria sangat valid dengan skor 4,22. Berdasarkan penilaian kepraktisan, perangkat pembelajaran memenuhi kriteria praktis dengan skor angket respon siswa 3,38 dan persentase keterlaksanaan pembelajaran mencapai 97%. Berdasarkan penilaian keefektifan dari tes kemampuan pemecahan masalah, diperoleh nilai rata-rata ketercapaian kemampuan pemecahan masalah 78 dan siswa yang mencapai kemampuan pemecahan masalah minimal pada kategori baik sebesar 84,38%. One sample t-test menunjukkan bahwa nilai rata-rata ketercapaian kemampuan pemecahan masalah siswa lebih dari 60, sedangkan uji z menunjukkan bahwa persentase siswa yang mencapai kemampuan pemecahan masalah minimal pada kategori baik lebih dari 70%. Abstract (Developing Mathematics Learning Material based on Guided Inquiry And Learning Trajectory With An Orientation on Problem Solving Skill)The present research project aims to develop mathematics learning material that includes lesson plan and student worksheets based on guided inquiry approach and learning trajectory with an orientation on problem solving skill. Type of the research project was reseach and development with ADDIE model, consisting of Analysis, Design, Development, Implementation, and Evaluation. The sample of one person was directly conducted, consisting of 32 students of class VII A of Pleret State 2 Junior High School. Based on the result of validation assessment, the lesson plan is “valid” with a score of 4.13, while validation assessment of student worksheets is “very valid”, obtaining a score 4.22. Based on the result of practicality, the learning material is “practical” with a score 3.38 and learning implementation percentage is 97%. Based on the effectiveness assessment using problem solving skill test, the average score of the class was 78 and 84.38% of students have a minimum problem solving skill in the “good” category. One sample t-test show that the average score of the class was higher than 60, while z-test with show that more than 70% of students have a minimum problem solving skill in the “good” category.
Lisnani Lisnani, Sheilla Noveta Asmaruddin
Mosharafa: Jurnal Pendidikan Matematika, Volume 7, pp 345-356; https://doi.org/10.31980/mosharafa.v7i3.134

Abstract:
AbstrakPembelajaran matematika merupakan pembelajaran dari sesuatu yang bersifat konkret menuju abstrak. Hal ini sejalan dengan materi bangun datar yang cenderung abstrak. Namun, pada kenyataannya cara pemikiran siswa bersifat konkret. Maka dari itu, untuk menjembataninya diperlukan pendekatan yang mengutamakan pembelajaran yang bersifat konkret yaitu pendekatan PMRI (Pendidikan Matematika Realistik Indonesia). Pendekatan ini dilakukan dengan cara mendesain buku ajar bilingual berkonteks kebudayaan lokal melalui serangkaian aktivitas pembelajaran bangun datar menggunakan pendekatan PMRI. Penelitian ini merupakan penelitian design research yang terdiri dari tiga tahap yaitu preliminary design, the design experiment, dan retrospective analysis. Penelitian ini bertujuan menghasilkan lintasan belajar menggunakan buku ajar bilingual materi bangun datar. Pengumpulan data menggunakan lembar observasi, wawancara, dan lembar aktivitas siswa. Data dianalisis menggunakan lembar validasi dari ahli. Hasil analisis menunjukkan bahwa penggunaan buku ajar bilingual ini dapat meningkatkan pemahaman konsep siswa tentang bangun datar dari tahap informal ke tahap formal. Abstract (Bilingual Mathematics Textbook Design of Flat Building Topic Using Local Cultural Context PMRI Approach)Learning mathematics is a learning deriving from abstract towards concrete similarly to two-dimensional figure material. However, based on facts, the students’ thinking-process is concrete, which is Hence, to connect them, it is advisable to prioritize concrete learning. That is through Indonesia Realistic Mathematics Education (PMRI) approach by designing a bilingual Mathematics textbook based on local cultural context. This research is a design research consisting of three steps. There are preliminary design, the design experiment, and the retrospective analysis. The aim of the research produced a bilingual textbook in which the material focused on two-dimensional figure. Data collection by using observation sheet, interviews, and students’ worksheet. The data analysis by using validation sheet from the expert. The research is that the use of bilingual textbook using PMRI approach is able to improve the students’ concept understanding in two-dimensional figure from informal to formal step.
Erin Erin, Anggita Maharani
Mosharafa: Jurnal Pendidikan Matematika, Volume 7, pp 337-344; https://doi.org/10.31980/mosharafa.v7i3.39

Abstract:
AbstrakArtikel ini membahas mengenai hasil penelitian yang bertujuan untuk mengetahui persepsi mahasiswa pendidikan matematika terhadap pelaksanaan perkuliahan online menggunakan aplikasi Edmodo. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif. Penelitian deskriptif studi kasus ini melibatkan 80 subjek penelitian yang merupakan mahasiswa Pendidikan Matematika Tingkat 3 pada salah satu Perguruan Tinggi swasta di Cirebon Tahun Akademik 2015/2016. Hasil penelitian ini diperoleh melalui lembar angket, wawancara, dan observasi. Analisis data berfokus pada Seleksi, Interpretasi dan Reaksi mahasiswa. Hasil angket menunjukkan terdapat 85% mahasiswa cenderung pada pernyataan positif sedangkan yang cenderung pada pernyataan negatif hanya 25%. Hasil triangulasi data dari penyebaran angket, wawancara dan observasi dapat diketahui bahwa rata-rata dari mahasiswa menyukai perkuliahan online dan mahasiswa sudah mengetahui dan bisa menggunakan aplikasi yang mendukung perkuliahan online seperti Edmodo. Menurut mahasiswa, perkuliahan online sangat nyaman dan efektif ketika mahasiswa mendapatkan jaringan internet yang baik. Akan tetapi, mahasiswa merasa perlu mendapat perkuliahan konvensional (tatap muka) untuk meyakinkan pemahaman mereka. Abstract (Mathematical Education Students’ Perception on Online Course)This article discusses the results of research that aims to determine the perception of mathematics education students to the implementation of online lectures using Edmodo application. This research uses qualitative approach. This descriptive case study research involves 80 research subjects who are students of Mathematics Education Level 3 at one private university in Cirebon Academic Year 2015/2016. The results of this study were obtained through questionnaires, interviews, and observations. Data analysis focuses on Student Selection, Interpretation and Reaction. The questionnaire results show that 85% of students tend to be positive statements, while those that tend to negative statements are only 25%. Triangulation of data from questionnaires, interviews and observations can be seen that the average of the students liked the lectures online and students already know and can use applications that support online lectures such as Edmodo. According to students, online lectures are very convenient and effective when students get a good internet network. However, students feel the need to get a conventional lecture (face-to-face) to convince their understanding.
Dwi Putria Nasution, Marzuki Ahmad
Mosharafa: Jurnal Pendidikan Matematika, Volume 7, pp 389-400; https://doi.org/10.31980/mosharafa.v7i3.133

Abstract:
AbstrakPenelitian ini bertujuan untuk meningkatkan kemampuan komunikasi matematis siswa melalui pembelajaran matematika realistik. Metode penelitian yang digunakan adalah penelitian tidakan kelas yang meliputi tahap perencanaan, pelaksanaan, pengamatan dan refleksi. Subjek penelitian adalah siswa kelas VII-1 SMP Negeri 3 Padangsidimpuan dengan jumlah siswa 26 orang. Objek penelitian adalah kemampuan komunikasi matematis siswa yang diberi pembelajaran matematika realistik pada materi bilangan pecahan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan pembelajaran matematika realistik memberikan dampak positif terhadap peningkatan kemampuan komunikasi matematis siswa yang ditunjukkan dengan peningkatan pada: 1) Nilai rata-rata kemampuan komunikasi matematis siswa 79,79 pada siklus I dan 84,71 pada siklus II; 2) Aktivitas aktif siswa dalam pembelajaran dengan pembelajaran matematika realistik dikategorikan efektif yakni memperoleh persentase 80% pada siklus I dan 90% efektif pada siklus dua dengan kriteria keefektifan ≥ 80%; 3) Capaian ketuntasan kalasikal kemampuan komunikasi matematis siswa 73,08% pada siklus I dan 88,46% pada siklus II dengan nilai minimal ketuntasan klasikal 85%. Abstract (The Aplication of Realistic Mathematics Educations to Improve students’ mathematical communication Skills)This study aims to improve students' mathematical communication skills through realistic mathematics education. The research method used is classroom action research which includes the stages of planning, implementation, observation and reflection. The research subjects were students of class VII-1 of SMP Negeri 3 Padangsidimpuan with a total of 26 students. The object of research is the mathematical communication skills of students who are given realistic mathematics education on fraction material. The results showed that the application of realistic mathematics education had a positive impact on the improvement of students 'mathematical communication skills as indicated by an increase in: 1) The average value of students' mathematical communication skills was 79.79 in cycle I and 84.71 in cycle II; 2) The active activity of students in learning with realistic mathematics learning is categorized as effective, namely obtaining 80% percentage in the first cycle and 90% effective in the second cycle with the effectiveness criteria ≥ 80%; 3) Achievement of Kalasikal completeness of students' mathematical communication skills is 73.08% in cycle I and 88.46% in cycle II with a minimum grade of 85% classical completeness.
Suwarto Suwarto
Mosharafa: Jurnal Pendidikan Matematika, Volume 7, pp 327-336; https://doi.org/10.31980/mosharafa.v7i3.73

Abstract:
AbstrakDalam pembelajaran operasi bilangan pecahan masalah yang sering timbul yaitu kesulitan siswa dalam menyelesaikan operasi penjumlahan, pengurangan, perkalian dan pembagian. Tujuan dari penulisan makalah ini adalah; (1) memahami konsep pecahan menggunakan garis bilangan untuk, (2) memahami konsep operasi pecahan (penjumlahan pengurangan, perkalian dan pembagian menggunakan garis bilangan. Bilangan pecahan adalah bilangan yang berbentuk , untuk a, b merupakan bilangan bulat dan b ≠0. Metode yang digunakan adalah menyajikan bilangan pecahan dalan garis bilangan. Dengan pendekatan garis bilangan diharapkan dapat membantu para guru dalam merancang proses belajar mengajar pada materi pecahan. Abstract (Fraction Numbers Operation Concept through Number Line)In learning to operate fractions, the problem that often arises is the difficulty of students in completing the addition, subtraction, multiplication and division operations. The purpose of writing this paper is; (1) understand the concept of fractions using number lines to, (2) understand the concept of fraction operations (sum of subtraction, multiplication and division using number lines. Fraction numbers are shaped numbers , for a, b is an integer and b ≠ 0. used is to present fractions in the number line, with the number line approach expected to help teachers in designing the teaching and learning process in fraction material.
Guntur Maulana Muhammad, Ari Septian, Mastika Insani Sofa
Mosharafa: Jurnal Pendidikan Matematika, Volume 7, pp 315-326; https://doi.org/10.31980/mosharafa.v7i3.140

Abstract:
AbstrakTujuan dari penelitian ini adalah untuk mendapatkan bukti empirik peningkatan kemampuan pemecahan masalah matematis siswa yang menggunakan model pembelajaran Creative Problem Solving lebih baik daripada siswa yang menggunakan model pembelajaran biasa, untuk mengetahui bagaimana sikap siswa terhadap model pembelajaran Creative Problem Solving, dan untuk mengetahui ada tidaknya hubungan antara sikap siswa dengan peningkatan kemampuan pemecahan masalah matematis. Metode penelitian yang digunakan adalah Quasi Experimental. Desain penelitian ini menggunakan Nonequivalent Control Group Design. Populasi dalam penelitian ini adalah siswa kelas VIII di MTs At-tarbiyah dengan sampel kelas eksperimen 24 siswa dan kelas kontrol 20 siswa, dipilih dengan teknik purposive sampling. Kelas eksperimen menggunakan model pembelajaran Creative Problem Solving dan kelas kontrol menggunakan modell pembelajaran biasa. Berdasarkan hasil dan pembahasan, maka dapat disimpulkan bahwa peningkatan kemampuan pemecahan masalah matematis siswa yang menggunakan model pembelajaran Creative Problem Solving lebih baik daripada siswa yang menggunakan model pembelajaran biasa, sikap siswa terhadap model pembelajaran Creative Problem Solving positif, dan tidak terdapat hubungan antara sikap siswa dengan peningkatan kemampuan pemecahan masalah matematis. Abstract (Use of Creative Problem Solving Learning Model to Improve Students Mathematical Problem Solving bility)The aims of this research are to get empirical evidence of enhancement of mathematical problem solving ability which students use Creative Problem Solving learning model better than students use ordinary learning model, to know how students’ attitude toward Creative Problem Solving learning model, and to know the correlation between students’ attitude and enhancement of mathematical problem solving ability. The research method uses Quasi Experimental with Nonequivalent Control Group Design. The population in this research are grade VIII students at MTs At-tarbiyah, with a sample of, 24 students for the experimental class and 20 students for the control class are determined by purposive sampling. The experimental class uses the Creative Problem Solving learning model and the control class uses the ordinary learning model. Based on the results and discussions, it can be concluded that enhancement of mathematical problem solving ability of students that use Creative Problem Solving learning model better than students use ordinary learning model, students’ attitude toward Creative Problem Solving learning model is positive, and there is no correlation between students’ attitude and enhancement of mathematical problem solving ability.
Asiroha Sipayung
Mosharafa: Jurnal Pendidikan Matematika, Volume 7, pp 401-412; https://doi.org/10.31980/mosharafa.v7i3.153

Abstract:
AbstrakPenelitian ini bertujuan untuk mengetahui pemahaman siswa terhadap konsep matematika tentang sifat-sifat bangun ruang melalui penerapan pendekatan Contextual Teaching and Learning. Metode yang digunakan adalah Penelitian Tindakan Kelas dan subjeknya adalah siswa kelas IV yang berjumlah 30 siswa. Hasil penelitian pada siklus I pertemuan 1 nilai rata-rata mencapai 62,00 sedangkan pada siklus I pertemuan 2 nilai rata-rata meningkat menjadi 67,50, siklus II pertemuan 1 76,33 dan siklus II pertemuan 2 82,00. Kesimpulan dari penelitian adalah pembelajaran dengan menerapkan pendekatan CTL dapat meningkatkan pemahaman konsep siswa di kelas IV. Ketuntasan belajar siswa pada siklus I hanya mencapai 13 orang atau 43,33% dan yang belum tuntas belajarnya mencapai 17 orang atau 56,67 %. Namun, pada siklus I pertemuan 2 ketuntasan belajar mencapai 16 orang atau 53,33% dan yang belum tuntas belajarnya 14 orang atau 46,67%. Untuk siklus II pertemuan 1 yang tuntas 22 orang atau 73,33% sedangkan yang belum tuntas 8 orang atau 26,67% dan untuk siklus II pertemuan 2 siswa yang tuntas 26 orang 86,67% dan yang belum tuntas 4 orang atau 13,33%. Abstract (Enhancing Students’ Understanding Concept of Mathematical Space Building Properties through Contextual Teaching and Learning)This study aims to determine students' understanding of mathematical concepts about the nature of space building through the application of the Contextual Teaching and Learning approach. The method used is Class Action Research and the subject is 30 fourth-grade students. The results of this research in the first cycle of meeting 1 average score reached 62.00 while in the first cycle of meeting 2 average score increased to 67.50, cycle II meeting 1 76.33 and cycle II meeting 2 82.00. The conclusion of the study is that learning by applying the CTL approach can improve students' conceptual understanding in grade IV. Students' completeness of learning in the first cycle only reached 13 people or 43.33% and the unfinished study reached 17 people or 56.67%. However, in the first cycle, the second meeting of learning completeness reached 16 people or 53.33% and 14 people had not yet completed their study or 46.67%. For cycle II meeting 1 which was complete 22 people or 73.33% while the unfinished 8 people or 26.67% and for cycle II meeting 2 students who completed 26 people 86.67% and the unfinished 4 people or 13.33 %.
Sri Suwarsih
Mosharafa: Jurnal Pendidikan Matematika, Volume 7, pp 433-444; https://doi.org/10.31980/mosharafa.v7i3.155

Abstract:
AbstrakBerdasarkan pengalaman peneliti siswa kelas II, lemah dalam perkalian dan pembagian agar siswa kelas SD Negeri Cipedak 06 Pagi Kecamatan Jagakarsa Jakarta Selatan tidak mengalami kelemahan serupa maka perubahan pendekatan pembelajaran dengan menggunakan alat peraga. Hasil belajar digunakan guru untuk dijadikan ukuran atau criteria dalam mencapai suatu tujuan pembelajaran. Hal ini dapat tercapai apabila siswa sudah memahami belajar dengan diiringi oleh perubahan tingkah laku yang lebih baik lagi. Akan tetapi, hasil belajar matematika siswa pada umumnya belum menunjukkan hasil yang sesuai dengan yang diharapkan. Untuk itu, perlu ada kreativitas dari guru untuk menciptakan pembelajaran yang menyenangkan dan mudah dimengerti oleh siswa. Salah satunya pembelajaran dengan menggunakan alat peraga. Alat peraga merupakan salah satu media yang dapat digunakan untuk menyalurkan pesan dan dapat merangsang pikiran, perasaan, perhatian dan kemampuan siswa sehingga dapat mendorong terjadinya proses belajar pada diri siswa. Penelitian ini menggunakan metode Penelitian Tindakan Kelas yang pembelajaranya mengunakan alat peraga. Subyek dari penelitian ini adalah siswa kelas II SD Negeri Cipedak 06 Pagi Kecamatan Jagakarsa Jakarta Selatan. Jumlah siswa 29 orang. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah instrument pengumpulan data. Berdasarkan dari jurnal harian siswa, sebagin besar siswa memberikan respon yang positif terhadap pembelajaran dengan mengunakan alat peraga. Abstract (Enhancing Students’ Learning Outcomes on Multiplication and Division of Natural Numbers through Teaching Aids)Based on the experience of the researchers of class II students, weak in multiplication and division so that the students of Cipedak 06 Pagi Public Elementary School in Jagakarsa District, South Jakarta did not experience similar weaknesses, so the approach to learning by using props changed. Learning outcomes are used by teachers to be used as a measure or criterion in achieving an educational goal. This can be achieved if students have understood learning accompanied by better behavioral changes. However, students' mathematics learning outcomes in general have not shown results that are as expected. For that, there needs to be creativity from the teacher to create learning that is fun and easily understood by students. One of them is learning using teaching aids. Props are all things that can be used to channel messages and can stimulate students' thoughts, feelings, attention and abilities so as to encourage the learning process in students. This study uses a Classroom Action Research method that learners use teaching aids. The subjects of this study were second grade students of Cipedak 06 Pagi Elementary School, Jagakarsa District, South Jakarta. Number of students 29 people. The instrument used in this study is a data collection instrument. Based on students' daily journals, most students give a positive response to learning using teaching aids.
Mosharafa: Jurnal Pendidikan Matematika, Volume 7, pp 445-454; https://doi.org/10.31980/mosharafa.v7i3.127

Abstract:
AbstrakPenelitian ini dilatarbelakangi dari masalah rendahnya kemampuan proses kognitif siswa pada konsep perkalian. Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui pengaruh teknik takalintarterhadap kemampuan proses kognitif pada konsep perkalian di sekolah dasar. Penelitian dilakukan pada siswa kelas III semester 1 tahun akademik 2017-2018 di Sekolah Dasar Negeri Nangela sebagai kelompok eksperimen, dan di Sekolah Dasar Negeri Cipaku 03 sebagai kelompok kontrol. Sampel penelitian yaitu 20 siswa dari masing-masing kelompok. Selama proses penelitian, kelompok eksperimen diberikan teknik takalintar, sedangkan kelompok kontrol diberikan pembelajaran konvensional. Pendekatan penelitian yang digunakan yaitu pendekatan kuantitatif dengan metode eksperimen kuasi desain Two Group Randomized Subject Posttest Only. Analisis data dilakukan dengan uji-t. Tingkat signifikansi 0,05. Hasil penelitian menunjukkan perbedaan yang signifikan antara skor kemampuan proses kognitif siswa dari kelompok eksperimen dan kelompok kontrol. Hasil uji effect sizemenunjukkan nilai sebesar 0,892, dengan interpretasi termasuk pengaruh yang tinggi. Sehingga dapat disimpulkan bahwa teknik takalintar memberikan pengaruh tinggi terhadap kemampuan proses kognitif siswa pada konsep perkalian. Oleh karena itu, teknik takalintardapat menjadi alternatif pembelajaran yang dapat diterapkan dalam upaya meningkatkan kemampuan proses kognitif siswa sekolah dasar. Abstract (The Effect of Takalintar Technique on Cognitive Processes Ability of Elementary School Students)This research is motivated from the problem of the low ability of students' cognitive processes on multiplication concepts. The aim of the study was to determine the effect of intelligent techniques on the ability of cognitive processes on the concept of multiplication in elementary schools. The study was conducted on third grade students of semester 1 of the 2017-2018 academic year in Nangela State Elementary School as an experimental group, and in Cipaku State Elementary School 03 as a control group. Research samples were 20 students from each group. During the research process, the experimental group was given takalintar techniques, while the control group was given conventional learning. The research approach used is a quantitative approach with the Two Group Randomized Subject Posttest Only quasi design experimental method. Data analysis was carried out by t-test. 0.05 significance level. The results showed a significant difference between students' cognitive process ability scores from the experimental group and the control group. The effect size test results show a value of 0.892, with interpretation including high influence. So it can be concluded that the takalintar technique has a high influence on the ability of students' cognitive processes on multiplication concepts. Therefore, takalintar technique can be an alternative learning that can be applied in an effort to improve the cognitive processing abilities of...
Ade Irfan, Anzora Anzora, Tuti Marjan Fuadi
Mosharafa: Jurnal Pendidikan Matematika, Volume 7, pp 239-250; https://doi.org/10.31980/mosharafa.v7i2.25

Abstract:
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pedagogical content knowledge mahasiswa calon guru pada program studi pendidikan matematika Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Abulyatama Aceh. Untuk mencapai tujuan tersebut penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain triangulasi, dimana peneliti mengumpulkan data dari beberapa sumber dan metode yang berbeda, membandingkan hasilnya dan menggunakan hasil temuan untuk melihat apakah saling memvalidasi satu sama lainnya. Data tentang pedagogical content knowledge mahasiswa calon guru kemudian dipaparkan apa adanya sehingga jenis penelitian ini dikategorikan dengan penelitian deskriptif-kualitatif dengan desain triangulasi. Adapun subjek dalam penelitian ini adalah 3 (tiga) orang mahasiswa program studi pendidikan matematika FKIP Universitas Abulyatama yang telah menyelesaikan matakuliah micro teaching atau sedang praktek pengalaman lapangan. Instrumen penelitian ini adalah lembar tugas berbasis masalah, pedoman wawancara, dan lembar observasi. Analisis data yang digunakan dalam penelitian ini berdasarkan analisi data yang dikembangkan oleh Miles dan Huberman (1992), yaitu reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan/verifikasi. Berdasarkan penelitian diketahui bahwa content knowledge mahasiswa calon guru program studi pendidikan Matematika FKIP Universitas Abulyatama berada pada kategori rendah sampai sedang dengan skor 1 sampai dengan 2. Sementara itu, pedagogical knowledge mahasiswa calon guru program studi pendidikan matematika FKIP Universitas Abulyatama berada pada kategori rendah sampai sedang dengan skor 1 sampai dengan 2. This study aimed to determine pedagogical content knowledge of prospective students in mathematics education program Faculty of Teacher Training and Education University Abulyatama Aceh. To achieve this objective, this study used a qualitative approach with triangulation design, in which the researchers collected data from several different sources and methods, compared the results and used the findings to see if mutually validate each other. Data about pedagogical content knowledge of prospective teacher students were then presented as it is so that this type of research was categorized by descriptive-qualitative research with triangulation design. The subjects in this study were 3 (three) students of mathematics education program of FKIP University Abulyatama who had completed micro teaching courses or were practicing field experience. The instruments of this research were problem-based task sheets, interview guides, and observation sheets. Data analysis used in this study based on data analysis developed by Miles and Huberman (1992), namely data reduction, data presentation, and withdrawal of conclusions / verification. Based on the research, it is known that the content knowledge of the prospective teachers of the study program of Mathematics Education of FKIP Universitas Abulyatama was in the low to moderate category with the...
Linda Jasira, Rezky Ramadhona, Linda Rosmery Tambunan
Mosharafa: Jurnal Pendidikan Matematika, Volume 7, pp 229-238; https://doi.org/10.31980/mosharafa.v7i2.23

Abstract:
AbstrakPenelitian ini merupakan Penelitian Tindakan Kelas yang bertujuan untuk meningkatkan kecepatan siswa dalam menyelesaikan soal cerita sistem persamaan linear tiga variabel melalui model pembelajaran Problem Based Learningdi kelas X SMK Pembangunan Tanjungpinang. Subjek dalam penelitian ini adalah siswa kelas X di SMK Pembangunan Tanjungpinang yang berjumlah 27 siswa. Penelitian ini dilaksanakan dalam 2 siklus, yakni siklus pertama terdiri dari 3 kali pertemuan dan siklus kedua terdiri dari 3 kali pertemuan. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah tes untuk mengukur kecepatan keterampilan siswa dalam menyelesaikan soal cerita sistem persamaan linear tiga variabel, lembar observasi pelaksanaan pembelajaran, pencapaian alokasi waktu dan catatan lapangan. Data dari hasil tes, observasi dan catatan lapangan dari semua data yang diperoleh tersebut dianalisis secara deskriptif kualitatif.Hasil penelitian menunjukkan bahwa kecepatan siswa dalam menyelesaikan soal cerita sistem persamaan linear tiga variabel siswa kelas X SMK Pembangunan Tanjungpinang mengalami peningkatan dari siklus I ke siklus II setelah dilaksanakan pembelajaran melalui model pembelajaran Problem Based Learning. Hal ini ditunjukkan untuk skor setiap aspek menyelesaikan soal cerita sistem persamaan linear tiga variabel siswa menunjukkan bahwa sebanyak 62,96 % dari jumlah siswa mengalami peningkatan pada aspek penjelasan ditulis secara matematis serta tersusun secara logis dan sistematis, sebanyak 74,07 % dari jumlah siswa mengalami peningkatan pada aspek menggunakan metode secara lengkap serta mendapatkan solusi yang benar dan sebanyak 77,78 % dari jumlah siswa mengalami peningkatan pada aspek membuat model matematika dengan benar, kemudian melakukan perhitungan dengan tepat serta mendapatkan solusi yang benar dan lengkap. Rata-rata nilai tes pada siklus I adalah 6,37%pada kategori cukup dan pada siklus II meningkat menjadi 7,68%pada kategori baik. Dengan demikian, siswa mempunyai respon yang positif terhadap pembelajaran matematika melalui model Problem Based Learning dalam upaya meningkatkan kecepatan siswa dalam menyelesaikan soal cerita sistem persamaan linear tiga variabel. AbstractThis research is a Classroom Action Research that aims to improve the speed of students in solving the problem story system of linear equations of three variables through the model of Problem Based Learning in class X SMK Pembangunan Tanjungpinang. Subjects in this study were the students of class X in vocational development Tanjungpinang totaling 27 students. This research is conducted in 2 cycles, ie the first cycle consists of 3 meetings and the second cycle consists of 3 meetings. The instrument used in this study is a test to measure the speed of the students' skills in solving the story problem of linear equations system of three variables, observation sheet of learning implementation, achievement of time allocation and field notes. Data from the test results, observations...
Khoirudin Khoirudin, Ilham Rizkianto
Mosharafa: Jurnal Pendidikan Matematika, Volume 7, pp 207-218; https://doi.org/10.31980/mosharafa.v7i2.34

Abstract:
AbstrakPenelitian ini bertujuan untuk mengembangkan perangkat pembelajaran berupa RPP dan LKS dengan pendekatan problem based learning yang mengacu pada learning trajectory dan berorientasi kepada kemampuan penalaran matematis siswa. Jenis penelitian ini adalah penelitian pengembangan dengan model ADDIE yang terdiri dari Analysis, Design, Development, Implementation, dan Evaluation. Berdasarkan hasil penilaian kevalidan, RPP memenuhi kriteria sangat valid dengan perolehan skor 4,27 pada skala 5, sedangkan LKS memenuhi kriteria valid dengan perolehan skor 4,05 pada skala 5. Berdasarkan hasil penilaian kepraktisan, perangkat pembelajaran memenuhi kriteria sangat praktis dengan perolehan skor angket respon siswa 3,38 pada skala 4 dan angket respon guru 3,73 pada skala 4. Berdasarkan penilaian keefektifan dari tes kemampuan penalaran matematis diperoleh nilai rata-rata kelas yaitu 88 dan siswa yang memperoleh nilai minimal pada kategori “baik” sebesar 91%. Keefektifan perangkat pembelajaran pada kemampuan penalaran matematis didukung oleh one sample t-test dengan taraf signifikansi 0,05. AbstractThis research aims to develop mathematics learning material that includes lesson plan and student worksheets based on problem based learning approach and learning trajectory with an orientation on students’ mathematical reasoning skill. The present study is a development research using ADDIE model, consisting of Analysis, Design, Development, Implementation, and Evaluation. Based on the result of validation assessment, the lesson plan is “very valid” with a score of 4.27 on a scale 5, while validation assessment of student worksheets is “valid” with score 4.05 on scale 5. Based on the result of practicality, learning material is “very practical” with 3.38 on a scale 4 of student questionnaire and 3.73 on a scale 4 of teacher questionnaire. Based on the effectiveness assessment using mathematical reasoning student’s skill test, the average score of the class is 88 and 91% of students have minimum mathematical reasoning skill in the “good” category. The effectiveness of the learning material on mathematical reasoning student’s skill is also proved by one sample t-test with level of significant 0.05.
Kabita Camelia Putri,
Mosharafa: Jurnal Pendidikan Matematika, Volume 7, pp 295-306; https://doi.org/10.31980/mosharafa.v7i2.358

Abstract:
AbstrakPenelitian tindakan kelas (PTK) ini dilatar belakangi oleh kenyataan bahwa pembelajaran matematika yang diupayakan guru matematika SMP Negeri 3 Karanganyar belum menunjukkan hasil yang memuaskan. Akibatnya hasil belajar matematika pada siswa kelas VIII SMP Negeri 3 Karanganyar belum maksimal. Penelitian bertujuan meningkatkan pengaruh metode pembelajaran STAD pada pembelajaran matematika terhadap hasil belajar siswa kelas VIII pada materi persamaan linear dua variabel. Hasil penelitian dalam dua siklus adalah sebagai berikut: hasil belajar sebelum dilakukan tindakan adalah 18,75 % siswa tuntas belajar dan 81,25% belum tuntas belajar.Setelah dilakukan tindakan I diperoleh hasil belajar 68,75% siswa tuntas belajar dan 31,25% belum tuntas belajar. Hasil belajar pada siklus kedua tindakan adalah 93,75% siswa tuntas belajar dan 6,25 % siswa tidak tuntas belajar. Artinya pemberian tindakan dengan penerapan metode STAD memberikan dampak pada hasil belajar siswa. Kesimpulan penelitian adalah ada pengaruh metode STAD pada pembelajaran matematika terhadap hasil belajar siswa kelas VIII SMP Negeri 3 Karanganyar. AbstractThis classroom action research is based on the fact that mathematics learning by mathematics teacher of SMP Negeri 3 Karanganyar has not shown satisfactory result. As a consequnce the results of mathematics learning in grade VIII students SMP Negeri 3 Karanganyar not maximized. The study was aimed to improve the influence of STAD learning method on the learning of mathematics on the learning outcomes of students of class VIII on two linear equations. The results of the research in two cycles are as follows: learning outcomes before the action is 18.75% students had completed the learning and 81.25% students had not completed learning. After doing the action I was obtained the results of learning 68.75% students complete study and 31.25% did not complete learning. Learning outcomes in the second cycle of action is 93.75% of students succeed the learning and 6.25% of students did not complete learning. This means that the provision of action with the application of STAD method gives an impact on student learning outcomes. The conclusion of the research is thaf the effect of STAD method can be found on the learning of mathematics on the result of the students' learning in grade VIII SMP Negeri 3 Karanganyar.
, Eva Dwi Minarti
Mosharafa: Jurnal Pendidikan Matematika, Volume 7, pp 189-198; https://doi.org/10.31980/mosharafa.v7i2.37

Abstract:
AbstrakSecara umum penelitian ini bertujuan untuk mengetahui terdapat atau tidaknya hubungan antara self-confidence siswa dan kemampuan pemecahan masalah matematik siswa. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode survey dengan teknik korelasi. Populasi dalam penelitian ini adalah siswa SMP Negeri di Kota Bandung. Sedangkan sampel penelitiannya sebanyak 35 orang yang ditetapkan secara purposif pada salah satu SMP Negeri di Kota Bandung. Instrumen dalam penelitian ini berupa instrumen tes dan nontes, adapun instrumen tes sebanyak 6 soal untuk menganalisa kemampuan pemecahan masalah matematik siswa sedangkan instrumen nontes sebanyak 25 skala pernyataan yang digunakan untuk menganalisa self confidence siswa dalam pembelajaran matematik. Kesimpulan dari hasil penelitian ini adalah secara signifikan Self-confidence siswa tentang matematika dalam pembelajaran mempengaruhi kemampuan pemecahan masalah matematik siswa. AbstractIn general, the purpose of this research is to find out whether there is relationship between students’ self-confidence and students’ mathematic problem solving skill. The method of this research is survey method with corellation technique. The population of this research is students of a state junior high school in Bandung. While, the sample of this research is 35 students which is decided by purposif sampling in a state junior high school in Bandung. The instrument in this research is test and non-test instrument, in which test instrument consists of six questions to analyze students’ mathematic problem solving skill, while non-test instrument consists of twenty five scale statement which is used to analyze students’ self-confidence in mathematic learning. Conclusion of the result of this research is significantly , students’self-confidence in mathematic learning influence students’ mathematic problem solving.
Page of 4
Articles per Page
by
Show export options
  Select all
Back to Top Top