Refine Search

New Search

Results in Journal Rekayasa: 118

(searched for: journal_id:(4192681))
Page of 3
Articles per Page
by
Show export options
  Select all
Rifki Abi Setiawan, Syaiful Alam, Umi Murdika, Sumadi Sumadi
Published: 13 December 2020
Rekayasa, Volume 13, pp 277-283; doi:10.21107/rekayasa.v13i3.8926

Zainul Hidayah, Apri Arisandi, Maulinna Kusumo Wardhani
Published: 13 December 2020
Rekayasa, Volume 13, pp 307-316; doi:10.21107/rekayasa.v13i3.9858

Abstract:
Pemilihan lokasi merupakan langkah awal untuk penentuan kegiatan perikanan budidaya laut yang berkelanjutan. Dokumen Rencana Zonasi Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil (RZWP3K) Provinsi Jawa Timur menyebutkan bahwa kawasan pesisir dan laut yang berada di perairan Selat Madura dan Selat Bali, terutama pesisir Kabupaten Situbondo dan Banyuwangi dialokasikan sebagai wilayah pengembangan budidaya laut. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisa karakteristik kondisi perairan Kabupaten Situbondo dan Banyuwangi, khususnya mengenai kelayakan sebagai lokasi budidaya laut. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Juni sampai dengan Juli tahun 2020. Pengambilan data sample air laut dilakukan di titik pengamatan yang tersebar di 15 kecamatan pesisir di Kabupaten Situbondo (Selat Madura) dan Banyuwangi (Selat Bali dan Samudera Hindia). Metode yang digunakan adalah dengan menganalisis parameter kualitas perairan dan menghitung nilai indeks kesesuaian. Selain itu dilakukan pula pendugaan besarnya beban limbah dan analisis komponen utama. Hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa lokasi yang sesuai untuk pengembangan budidaya laut di Kabupaten Situbondo terletak di Kecamatan Suboh, Kendit, Arjasa dan Jangkar dengan nilai indeks kesesuaian berkisar antara 63,5-67,5. Sementara untuk Kabupaten Banyuwangi, kawasan yang sesuai untuk pengembangan budidaya laut terletak di Kecamatan Wongsorejo dan Muncar dengan nilai indeks antara 64 – 68.5. Estimasi beban limbah menunjukkan bahwa potensi limbah yang terjadi akibat budidaya laut dengan KJA adalah sekitar 0,24 ton N/10 unit karamba. Hasil perhitungan analisis komponen utama menunjukkan stasiun pengamatan memiliki karakteristik nilai parameter kualitas air yang beragam.
Noor Ifada, Nur Fitriani Dwi Putri, Mochammad Kautsar Sophan
Published: 13 December 2020
Rekayasa, Volume 13, pp 234-239; doi:10.21107/rekayasa.v13i3.8545

Abstract:
A multi-criteria collaborative filtering recommendation system allows its users to rate items based on several criteria. Users instinctively have different tendencies in rating items that some of them are quite generous while others tend to be pretty stingy. Given the diverse rating patterns, implementing a normalization technique in the system is beneficial to reveal the latent relationship within the multi-criteria rating data. This paper analyses and compares the performances of two methods that implement the normalization based multi-criteria collaborative filtering approach. The framework of the method development consists of three main processes, i.e.: multi-criteria rating representation, multi-criteria rating normalization, and rating prediction using a multi-criteria collaborative filtering approach. The developed methods are labelled based on the implemented normalization technique and multi-criteria collaborative filtering approaches, i.e., Decoupling normalization and Multi-Criteria User-based approach (DMCUser) and Decoupling normalization and Multi-Criteria User-based approach (DMCItem). Experiment results using the real-world Yelp Dataset show that DMCItem outperforms DMCUser at most in terms of Precision and Normalized Discounted Cumulative Gain (NDCG). Though DMCUser can perform better than DMCItem at large , it is still more practical to implement DMCItem rather than DMCUser in a multi-criteria recommendation system since users tend to show more interest to items at the top list.
Mohammad Fuad Fauzul Mu'Tamar, Raden Faridz, Aris Nurrahym
Published: 13 December 2020
Rekayasa, Volume 13, pp 291-298; doi:10.21107/rekayasa.v13i3.7606

Andi Kurniawan, Riski Agung Lestariadi, Rika Kurniaty, Tri Budi Prayodo, Citra Satrya Utama Dewi, Abd Aziz Amin, Adi Tiya Yanuar, Lutfi Ni'Matus Salamah
Published: 13 December 2020
Rekayasa, Volume 13, pp 225-233; doi:10.21107/rekayasa.v13i3.9130

Dhimas Wildan Humami, Puput Anggie Widhiarti Sujono, Iska Desmawati
Published: 13 December 2020
Rekayasa, Volume 13, pp 240-245; doi:10.21107/rekayasa.v13i3.7869

Ahmad Faisol, Joseph Dedy Irawan, Hirarki Ardi Pratama
Published: 13 December 2020
Rekayasa, Volume 13, pp 284-290; doi:10.21107/rekayasa.v13i3.9011

Firman Farid Muhsoni
Published: 13 December 2020
Rekayasa, Volume 13, pp 236-269; doi:10.21107/rekayasa.v13i3.9146

Febrianti Nurul Hidayah, Johan Boss
Published: 13 December 2020
Rekayasa, Volume 13, pp 219-224; doi:10.21107/rekayasa.v13i3.8703

Abstract:
The use of steel in building or construction manufacture continues to decrease, owing in part to the sustainability and mechanical properties of fibers which have higher strength in minimum weight than steel. This preliminary study was defined to evaluate the mechanical properties of high-performance fibers, especially ultrahigh molecular weight polyethylene (UHMWPE), in terms of the composite to be the main material of windmill turbines. It was UHMWPE as reinforcement and high-density polyethylene (HDPE) as a matrix in this composite system. The composites were processed in a variety of pressure and duration (50 to 165 bar and 10 minutes to 48 hours). The mechanical strength was tested by 3-point bending tests to measure the interlaminar shear strength, shear modulus, and bending strength. The result showed a significant difference in properties of the composite which is higher pressure and longer duration obtained a higher value of mechanical strength.
Ulfa Yulistiana, Ayu Adhita Damayanti, Nunik Cokrowati
Published: 13 December 2020
Rekayasa, Volume 13, pp 212-218; doi:10.21107/rekayasa.v13i3.9013

Darma Darma, Arif Faisol, Asti Sangaji Dahlia
Published: 13 December 2020
Rekayasa, Volume 13, pp 254-262; doi:10.21107/rekayasa.v13i3.7071

Eko Prasetyo, Rudi Hermawan, Muhammad Naufal Ibnu Ridho, Istihara Ibnu Hajar, Hasan Hariri, Erlanda Augupta Pane
Published: 13 December 2020
Rekayasa, Volume 13, pp 299-306; doi:10.21107/rekayasa.v13i3.8872

, Mohammad Bisri, Mohammad Taufiq, Vanadani Pranantya
Published: 13 December 2020
Rekayasa, Volume 13, pp 246-253; doi:10.21107/rekayasa.v13i3.7213

Muhammad Arifan Lizamanihi, Ii Munadhif, Mohammad Abu Jami'In
Published: 13 December 2020
Rekayasa, Volume 13, pp 270-276; doi:10.21107/rekayasa.v13i3.6614

Published: 1 August 2020
Rekayasa, Volume 13; doi:10.21107/rekayasa.v13i2.8058

Yuza Zakariya, Muhammad Fuad Fauzul Mu’Tamar, Khoirul Hidayat
Published: 1 August 2020
Rekayasa, Volume 13, pp 97-102; doi:10.21107/rekayasa.v13i2.5453

Abstract:
Pengendalian mutu merupakan kegiatan pemantauan dan evaluasi serta menindaklanjuti suatu proses agar persyaratan mutu yang telah ditetapkan dapat tercapai. Peningkatan kualitas mutu suatu industry harus melalui proses pengendalian mutu terhadap produksinya. Tujuan dari penelitian ini adalah mendapatkan proses perbaikan kualitas mutu melalui penerapan new seven tools. Metode new seven tools meliputi beberapa tahapan yaitu diagram afinitas, diagram pohon, process decision program chart (PDPC) dan activity network diagram. Hasil penelitian menunjukkan terdapat tiga macam cacat produk yaitu isi tidak penuh, lid cup miring dan kekuatan lid cup kurang rapat dengan tingkat kecacatan terbesar pada lid cup miring. Hasil analisis didapatkan ada tiga faktor penyebab timbulnya cacat produk air minum dalam kemasan cup 240ml yaitu mesin dan peralatan, sumber daya manusia (SDM) dan metode. Beberapa usulan alternatif perbaikan yaitu melakukan perbaikan kondisi mesin dan peralatan, meningkatkan sumber daya manusia (SDM) dan penggunaan metode sesuai dalam produksi. Berdasarkan diagram jaringan kerja, proses pengendalian kecacatan produk di PT. DEA membutuhkan waktu rata rata selama 27 hari.Analysis of Quality Control of Drinking Water Products in Cup Using New Seven Tools Method (Case Study in PT. DEA)Quality control is an activity to monitor, evaluate, and also follow up so that the quality requirements that have been set can be achieved. To improve quality, an industry must apply quality control to its production. The purpose of this research is to get a description of the process of making drinking water products in 240ml cup packaging and get, knowing the quality improvement process, especially in applying the new seven tools. The new seven tools method used includes several stages, namely affinity diagrams, tree diagrams, decision program chart (PDPC) processes, and network diagram activities. The results of the study found three types of product defects which are not full contents, sloping cup lid, and cup lid strength less tight. However, from the three defects, it is known that the sloping cup lid has the greatest disability rate. The results of the analysis show that there are three factors that cause the defect of drinking water products in 240ml cup packaging, namely machinery and equipment, human resources (HR), and methods. Some proposed improvements that can be given are related to defects in drinking water products in 240ml cup packaging, namely improving the condition of machines and equipment, improving human resources (HR), and using appropriate methods in production. Based on the working network diagram that the processor stages for controlling product defects at PT. DEA requires an average of 27 days.
Andojo Wurjanto, Harman Ajiwibowo
Published: 1 August 2020
Rekayasa, Volume 13, pp 154-163; doi:10.21107/rekayasa.v13i2.6480

Abstract:
Pantai Lemong merupakan bagian dari Kawasan Pantai Pesisir Barat, Provinsi Lampung yang berpotensi terkena abrasi akibat gelombang dari Samudera Hindia. Rencana pengamanan pantai diperlukan untuk mencegah abrasi. Studi ini dilakukan untuk mengidentifikasi karakteristik pasang surut dan arus di perairan Lemong sebagai parameter untuk perencanaan pengaman pantai. Analisis pasang surut dan arus dilakukan dengan pemodelan numerik pada modul RMA2 dari perangkat lunak Surface-Water Modeling System (SMS). Data yang digunakan pada pemodelan adalah batimetri dan elevasi pasang surut setempat yang didapatkan dari hasil survei. Pemodelan dilakukan dengan metode online nesting dengan empat tingkat resolusi grid dengan resolusi tertinggi pada 1 x 1 km2 saat mendekat ke Perairan Pantai Lemong. Hasil pemodelan divalidasi dengan data lapangan berupa elevasi pasang surut pada dua titik di perairan dangkal dan tiga titik di perairan dalam. Hasil pemodelan menunjukkan bahwa tunggang pasang surut di wilayah Pantai Lemong mencapai 1,4 m dengan tipe mixed – dominan semi diurnal. Hasil pemodelan juga menunjukkan pola arus di Perairan Lemong yang memiliki arah dominan menuju Tenggara saat pasang dan menuju Barat Laut saat surut. Untuk pengembangan model berikutnya, disarankan agar menyertakan data kecepatan arus hasil survei lapangan dalam proses validasi sehingga kesesuaian hasil pemodelan dengan lapangan dapat lebih ditingkatkan.Hydrodynamic Analysis Using Surface-water Modeling System in Lemong Waters, West Lampung Regency, Lampung ProvinceLemong Beach is part of the western coast of Lampung Province which is prone to abrasion caused by the Indian Ocean waves. This study aims to identify the tidal and current characteristics in Lemong waters as a part of coastal protection planning. The tidal analysis is performed by using the RMA2 module from Surface-Water Modeling System (SMS). Data utilized in the model including bathymetry and local tidal elevations from field surveys. Modeling is conducted using an online nesting method utilizing four stages of grid resolution with 1 x 1 km2 as the highest used around the Lemong Beach Waters. The model is validated with the tidal elevations measured in two points in shallow water and three points in deep water areas. The modeling result shows that the tidal range of Lemong Beach Waters is approximately 1.4 meters as a mixed tide, dominantly in semi-diurnal. The model also shows that the current pattern in Lemong Beach Waters is dominantly moving towards southeast during flows and towards northwest during ebbs. Modeling can be further improved by including current speed from field measurement in the validation process.
, Samsul Hidayat, Nugroho Adi Pramono, Ulfa Nadirah
Published: 1 August 2020
Rekayasa, Volume 13, pp 181-186; doi:10.21107/rekayasa.v13i2.6737

Abstract:
Penggunaan gas di berbagai sendi kehidupan manusia sekarang ini tidak dapat terhindarkan, mulai dari kebutuhan skala rumah tangga hingga industri. Dalam upaya meningkatkan pencegahan terjadinya kecelakaan kerja akibat kebocoran gas, kontrol terhadap kebocoran gas merupakan sebuah tindakan yang vital. Oleh karena itu, makalah ini membahas respon sensor gas MQ2, MQ3, dan MQ5 terhadap gas dan asap. Ketiga sensor gas tersebut dijalankan oleh mikrokontroler ATMega328 dengan modul Arduino Uno. Sebagai aktuator, buzzer digunakan sebagai pengirim sinyal audio dan LED sebagai basis informasi visual terkait pengingat adanya gas berlebih yang terdeteksi oleh MQ2, MQ3, dan MQ5. Secara mekanisme fisis, ketika sensor gas mendeteksi adanya gas berlebih, maka sinyal suara dari buzzer akan aktif sedemikian rupa sehingga dapat digunakan sebagai indikasi dini terhadap keberadaan atau kebocoran gas. Secara umum, sensor gas MQ2, MQ3, dan MQ5 memiliki respon yang sedikit berbeda pada jenis asap dan gas yang berbeda. Pada gilirannya nanti, hasil dari penelitian ini dirancang sebagai informasi penting dalam pemilihan jenis sensor gas sesuai kebutuhan. Simple Gas Leakage Detection System Based on Arduino UnoAbstractThe use of gas in various aspects of human life nowadays is inevitable, ranging from the needs of household scales to industries. As an effort to increase the prevention of occupational accidents due to gas leakage, control of gas leakage becomes a vital action. Therefore, this paper discusses the response of MQ2, MQ3, and MQ5 gas sensors to gases and smokes. The ATMega328 microcontroller ran the three gas sensors with the Arduino Uno module. As an actuator, buzzers were used as audio signal senders and LEDs as a basis for visual information related to reminders of excess gas detected by MQ2, MQ3, and MQ5. The physical mechanism, when the gas sensor detects the presence of excess gas, then the sound signal from the buzzer could be activated in such a way that it can be used as an early indication of the presence of leakage of gas. Generally, MQ2, MQ3, and MQ5 gas sensors performed slightly differently in responding to the presence of gases and smokes. In turn, the results of this study are designed as relevant information in selecting the type of gas sensor as needed.Keywords: Gas sensor, Microcontroller, MQ2, MQ3, MQ5, Simple instrumentation.
Lila Setiyani, Abdorrakhman Gintings, Abin Syamsudin, Daeng Arifin
Published: 1 August 2020
Rekayasa, Volume 13, pp 144-153; doi:10.21107/rekayasa.v13i2.5909

Abstract:
Management thesis in high education have some lackness in knowledge management. Every busines process that happen in management thesis don’t have efective approach to integrate data workflow and to acuisition the knowledge. Therefore, knowledge management system for management thesis that suit with high education are needed. This paper gives suggestions about new architecture software that offer service for management thesis in high education to make business process more efective and efficien. Methodology that is used for development new software uses model process software development life cycle(SDLC) with web platform , that will increase collaboration in business process management thesis. The result of this implementation can increased efective and eficiency business process management thesis significantly.
Published: 1 August 2020
Rekayasa, Volume 13; doi:10.21107/rekayasa.v13i2.8059

Marudut Sirait
Published: 1 August 2020
Rekayasa, Volume 13, pp 197-204; doi:10.21107/rekayasa.v13i2.5915

Abstract:
Tujuan dari makalah ini adalah untuk mengidentifikasi potensi dampak lingkungan selama proses produksi gula tebu di Jawa Timur Indonesia. Studi ini menggunakan pendekatan Life Cycle Assesment (LCA) untuk mengevaluasi dampak lingkungan selama proses produksi gula dari tebu. Analisis LCA fokus pada pengolahan tebu menjadi gula, yang terdiri dari proses persiapan, proses miling, centrifugal separation, proses clarification, proses evaporation, dan proses crystalization. Hasil Life Cycle Impact Assessment (LCIA) diekpresikan dengan metode EDIB 2003, menunjukkan bahwa dampak lingkungan yang paling signifikan terhadap penurunan kualitas lingkungan adalah global warming, acidification, eutrofikasi, human toxicity air, dan ozone depletion. Selanjutnya, proses produksi gula yang paling besar kontribusnya pada dampak lingkungan adalah proses penggilingan/miling, diikuti oleh proses centrifugal seperation,proses clarification, proses crystallization,proses evaporation, dan proses preperation untuk semua kategori dampak lingkungan.Life Cycle Assessment Study of Sugarcane: The case of East JavaABSTRACTThe purpose of this paper is to identify potential environmental impacts during the process of sugarcane production in East Java, Indonesia. This study utilized Life Cycle Assessment (LCA) approach to evaluate the environmental impact during the manufacturing of sugar cane. LCA analysis focuses on processing sugarcane, which consists of the preparation process, the milling process, centrifugal separation, the clarification process, the evaporation process, and the crystalization process. The Life Cycle Impact Assessment (LCIA) was expressed by the EDIB 2003 method. The result showed that the most significant environmental impacts on environmental degradation were global warming, acidification, eutrophication, human toxicity of water, and ozone depletion. Furthermore, the production process with the greatest contribution to environmental impact were the miling process, followed by centrifugal seperation process, clarification process, crystallization process, evaporation process, and preperation process for all categories of environmental impacts.Keywords: Environmental Impact, Energy, Sugarcane, Global Warming, Life Cycle Assessment
Kiki Marina Murdiani, Sri Sangkawati, Kresno Wikan Sadono
Published: 1 August 2020
Rekayasa, Volume 13, pp 205-211; doi:10.21107/rekayasa.v13i2.6872

Abstract:
Pembangunan bendungan memberikan manfaat untuk masyarakat sekitar waduk, namun juga menyimpan bahaya jika mengalami keruntuhan bendungan. Salah satu syarat yang harus dipenuhi sebelum mendapatkan sertifikat ijin operasi adalah RTD (Rencana Tindak Darurat). Manfaat dari disusunnya rencana tindak darurat adalah untuk pedoman para pengelola bendungan maupun pemerintah yang berada pada daerah yang terkena resiko apabila terjadi kondisi darurat pada Bendungan. Makalah ini mencakup daerah yang terdampak jika terjadi kegagalan bendungan. Pemanfaatan Software menggunakan HEC-RAS dengan studi kasus Bendungan Gondang yang berlokasi di Kabupaten Karanganyar. Lokasi terdampak menurut hasil analisis adalah Desa Gempolan, Desa Ganten, Desa Kwadungan, Desa Kutho, Kecamatan Kerjo, Kabupaten Karanganyar, Provinsi Jawa Tengah. Bendungan ini mempunyai tampungan total 9,15 juta meter kubik dengan tinggi bendungan 71 meter. Pemodelan keruntuhan bendungan dengan 2D pada kondisi unsteady flow, simulasi keruntuhan akibat piping tengah pada elevasi +495 m. Hasil pemodelan keruntuhan Bendungan Gondang yang akan menimbulkan dampak paling besar jika terjadi piping tengah akibat banjir PMF dengan puncak debit Qoutflow= 902,40m3/det. Kecepatan banjir akibat keruntuhan bendungan tercepat yang sampai ke pemukiman adalah 24 menit yaitu sampai di Desa Gempolan yang berjarak 0,6 km dari lokasi bendungan.AbstractThe construction of a dam provides benefits to the community around the reservoir, but also saves danger if it experiences dam collapse. One of the requirements that must be met before obtaining an operating permit certificate is the RTD (Emergency Action Plan). The benefit of formulating an emergency action plan is to guide the dam managers and the government who are in the area at risk if an emergency condition occurs at the Dam. This paper covers the area affected in the event of dam failure. Utilization of Software uses HEC-RAS with a Gondang Dam case study located in Karanganyar Regency. The affected locations, according to the results of the analysis are Gempolan Village, Ganten Village, Kwadungan Village, Kutho Village, Kerjo District, Karanganyar Regency, Central Java Province. This Dam has a total reservoir of 9.15 million cubic meters with a dam height of 71 meters. Dam failure modeling with 2D under unsteady flow conditions, simulation of collapse due to middle piping at +495 m elevation. The results of the Gondang Dam collapse modeling, which will have the most significant impact if there is middle piping due to PMF flooding with peak discharge Qoutflow = 902.40m3 / sec. The speed of flooding due to the collapse of the Dam that reached the fastest settlement was 24 minutes, namely to the village of Gempolan, which is 0.6 km from the location of the Dam.Keywords: Gondang Dam, dam break, affected area Karanganyar.
Doni Abdul Fatah
Published: 1 August 2020
Rekayasa, Volume 13, pp 130-143; doi:10.21107/rekayasa.v13i2.6584

Abstract:
Aplikasi mobile Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) merupakan aplikasi yang memberikan peringatan dini cuaca. Informasi peringatan dini tersebut skalanya tidak hanya sebatas provinsi, tetapi hingga tingkat kecamatan. Namun ketika informasi yang ditampilkan dalam aplikasi masih kurang jelas untuk dipahami pengguna serta kemudahan dan kenyaman pengguna belum sesuai tujuan pembuatan aplikasi maka perlu dilakukan redesign pada aplikasi mobile BMKG tersebut dengan mengacu pada 8 rule panduan (Eight Golden Rules) untuk desain interaksi, serta pengujian menggunakan Kuesioner Usability SUS (System Usability Scale) yang berisi 10 pertanyaan terkait aplikasi dengan melakukan wawancara kepada responden terhadap apikasi tersebut, dari hasil yang didapatkan pada pengujian menggunakan prinsip Eight Golden Rules terdapat tiga point yang belum maksimal mulai dari Design dialogue to yield closure, Support internal locus of control, dan Support internal locus of control, kemudian pengujian menggunakan SUS yang dilakukan secara 2 kali, untuk yang pertama terhadap desain asli dari aplikasi mobile BMKG dengan skor rata-rata 60 menunjukan tingkat penerimaan pengguna Marginal Low, sedangkan grade skala masuk kategori D dan Adjective rating kategori OK, dari hasil dilakukan usulan desain perbaikan sesuai dengan masukan yang telah didapatkan dari para responden kemudian pengujian yang ke dua dengan metode Perhitungan SUS mendapatkan skor rata-rata 80,25 dapat disimpulkan tingkat penerimaan pengguna kategori Acceptable, pada Tingkat grade skala kategori B, serta untuk Adjective rating kategori Excellent, sehingga usulan desain aplikasi mobile BMKG dapat digunakan dengan mudah dan pengguna tidak merasa kebingungan terhadap desain hasil perbaikan untuk mendapatkan layanan informasi cuaca yang diberikan. Usability Evaluation and Improvement of Mobile Application Design Using Usability Testing with a Human-Centered Design (HCD) ApproachMeteorology, Climatology, and Geophysics (BMKG) mobile application is an application that provides weather early warning. The early warning information is not only limited to the province, but also to the sub-district level. But when the information displayed in the application is still not clear enough to be understood by the user and the ease and comfort of the user is not in accordance with the purpose of making the application, it is necessary to redesign the BMKG mobile application by referring to the 8 rule guidelines (Eight Golden Rules) for interaction design, as well as testing using SUS Usability Questionnaire (System Usability Scale) which contains 10 questions related to the application by conducting interviews with respondents of the application, from the results obtained in testing using the principles of the Eight Golden Rules there are three points that have not been maximal starting from Design dialogue to yield closure, Internal Support locus of control, and internal support locus of control, then testing using SUS is done twice, for the first to the original design of the BMKG mobile application with an average score of 60 shows the level of acceptance of Marginal Low users, while the grade scale is in the D category d an Adjective rating category OK, from the results of the proposed improvement design in accordance with the input that has been obtained from respondents then the second test with the SUS Calculation method to get an average score of 80.25 can be concluded on the acceptability ranges included in Acceptable, on the grade scale get a value of B, and for Adjective Rating included in Excellent, so that the proposed BMKG mobile application design can be used easily and users do not feel confused about the design of the results of improvements to get weather information services provided.
Published: 1 August 2020
Rekayasa, Volume 13; doi:10.21107/rekayasa.v13i2.8060

Suhartono Suhartono, Diana Nurus Sholehah, Rohmad Suci Murdianto
Published: 1 August 2020
Rekayasa, Volume 13, pp 164-171; doi:10.21107/rekayasa.v13i2.6905

Abstract:
Tanaman sambiloto (Andrographis paniculata Nees.) merupakan salah satu tanaman obat unggulan Indonesia selain temulawak, mengkudu, pegagan, lidah buaya, lada, dan kunyit. Peningkatan produktivitas sambiloto dapat dilakukan dengan perbaikan teknik budidaya melalui sistem pemupukan. Kajian aplikasi pupuk guano terhadap pertumbuhan, produksi dan kandungan andgrographolida pada tanaman sambiloto terbatas, sehingga perlu dilakukan untuk mengetahui pengaruh pupuk guano terhadap pertumbuhan dan kandungan andrographolida pada tanaman sambiloto. Penelitian ini dilaksanakan di kebun percobaan Program Studi Agroteknologi Fakultas Pertanian Universitas Trunojoyo Madura pada bulan Januari - April 2016. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) non faktorial dengan perlakuan 6 taraf dosis pupuk guano dengan 4 ulangan. Perlakuan dosis pupuk guano per hektar meliputi G0 (control/tanpa pupuk guano), G1 (5 ton), G2 (7.5 ton), G3 (10 ton), G4 (12.5 ton), dan G5 (15 ton). Pada setiap percobaan terdapat 6 tanaman dengan rincian 3 tanaman sebagai sampel. Hasil penelitian menunjukan bahwa pemupukan guano pada dosis 15 ton/ha (G5) memberikan hasil terbaik untuk parameter tinggi tanaman, jumlah daun, luas daun, berat basah total dan berat kering total tanaman. Kandungan andrographolida (%) tertinggi diperoleh pada dosis pupuk guano 7.5 ton/ha (G2), sedangkan produksi andrograpolida (mg) tertinggi ditunjukkan oleh perlakuan G4 (dosis pupuk guano 12.5 ton/ha).Response of Growth and Production of Srographic Andrographolida Plants (Andrographis paniculata Nees) Due to Differences in Guano Fertilizer Doses Bitter plant (Andrographis paniculata Nees.) including one featured Indonesian medicinal plants in addition to ginger, noni, gotu kola, aloe vera, pepper, and turmeric. Increased productivity is bitter to do with the improvement of farming techniques through a system of fertilization. Study of guano fertilizer application on the growth, production, and content andrographolide the bitter plant is limited, so it is necessary to know the effect of guano fertilizer on the growth and content of the plant andrographolide bitter. This research was conducted at the experiment station Agrotechnology, Faculty of Agriculture, University Trunojoyo Madura at January-April 2016 by using a completely randomized design (RAL) non-factorial with 4 replications consisting of G0 (control/without guano fertilizer), G1 ( fertilizer guano 5 tons/ha) G2 (7.5 tons/ha), G3 (10 tons/ha), G4 (12.5 tons/ha) and G5 (15 tons/ha) on each trial there are 6 plants with details of 3 plants in the sample. The results showed that the guano fertilizer at a dose of 15 tons/ha (G5) can be increased plant height, leaf number, leaf area, total wet weight, and total dry weight. The highest content of andrographolide obtained at doses of 7.5 tons/ha (G2) of guano fertilizer, while the highest yield of andrographolide obtained at doses 12.5 tons/ha of guano fertilizer (G4).
Mojiono Mojiono, Diana Nurus Sholehah
Published: 1 August 2020
Rekayasa, Volume 13, pp 118-124; doi:10.21107/rekayasa.v13i2.6429

Abstract:
Produksi jagung di Madura memberikan andil besar terhadap total produksi jagung di Jawa Timur. Di tingkat nasional, BPS menunjukkan bahwa produksi jagung di Jawa Timur mencapai 6 juta ton, berkontribusi sebesar 31.3%, atau hampir sepertiga dari total produksi jagung nasional. Produksi jagung yang besar seharusnya didukung dengan kesiapan teknologi produksi untuk mengolahnya menjadi aneka produk turunan, seperti pati. Pati jagung adalah bahan strategis karena digunakan di berbagai sektor, khususnya pangan. Studi ini dilakukan untuk optimasi proses ekstraksi pati jagung Madura-3. Teknik optimasi dilakukan menggunakan desain rancangan d-optimal pada Response Surface Methodology (RSM). Kondisi optimasi meliputi lama perendaman (X1) dan konsentrasi NaOH (X2), dengan rentang sebagai berikut: X1 (12 jam – 36 jam) dan X2 (0.05 – 0.5%). Hasil uji statistik memperlihatkan bahwa model yang berhasil dikonstruksi dinyatakan signifikan, ditunjukkan dengan F value sebesar 7.30, dan Prob lebih dari F sebesar 0.0075 (P kurang dari 0.05). Selain itu, lack of fit adalah 0.45, memperlihatkan bahwa parameter ini tidak signifikan. Lack of fit yang tidak signifikan memang diinginkan. Selain itu, nilai adequate precision dari model mencapai 7.469 (diinginkan lebih dari 4.0) Hasil optimasi menunjukkan bahwa kondisi optimum dapat dicapai pada kondisi X1 = 36 jam dan X2 = 0.05%. Kondisi optimum ini diprediksi mampu menghasilkan nilai rendemen 5.29%, dengan nilai desirability 0.719. Extraction of Madura-3 corn starch by optimizing soaking time and NaOH concentrationCorn production in Madura showed a tremendous contribution to total production in the Province of East Java. Noticeably, the province was recorded to yield 6 million tons of corn, responsible for approximately 31.3% of domestic production in 2018, as reported by BPS-Statistics. For this reason, there is a need for developing technology that enables to convert the corn into other valuable products, such as starch. Corn starch is essential material since it is applied in copious sectors mainly including food and pharmacy. This present work aimed at optimizing conditions for isolating starch of Madura-3 corn carried out using d-optimal design in Response Surface Methodology (RSM). The variables included soaking time (X1) and concentration of NaOH (X2), arranged as follows: X1 (12 – 36 h) and X2 (0.05 – 0.5%) according to preliminary research. The results demonstrated that the model constructed from data was significant, resulting in an F value of 7.30 and Prob more than F of 0.0075 (P less than 0.05). Furthermore, the statistical analysis showed a lack of fit at 0.45, which means that it was insignificance, which is favorable for this experiment. In addition, adequate precision of the constructed model was achieved at 7.469 (more than 4.0). Based on the statistical evaluation, the optimum condition for starch isolation was found at X1 = 36 h and X2 = 0.05%, which was predicted to yield starch at 5.29% with the desirability value of 0.719.
Dicky Aprilian Nugraha, Rika Dwi Hidayatul Qoryah, Mahros Darsin
Published: 1 August 2020
Rekayasa, Volume 13, pp 125-129; doi:10.21107/rekayasa.v13i2.6259

Abstract:
Sebuah alat kendali semprotan cutting fluid pada minimum quantity lubrication (MQL) telah berhasil dibuat. Alat yang bekerja dengan sistem Arduino ini dihubungkan dengan sensor suhu yang diletakkan pada sisi pahat dan berhasil mengendalikan kapan cutting fluid harus disemprotkan dan kapan harus berhenti. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mempelajari efek penggunaan alat kendali ini terhadap kekasaran permukaan pada pembubutan baja AISI 4340. Metode Taguchi L9 digunakan untuk menyusun desain eksperimen dengan variasi parameter: metode pemberian cutting fluid, kedalaman permukaan dan komposisi campuran cutting fluid. Pahat sisipan berbahan karbida digunakan untuk memesin lurus dan roughness tester digunakan untuk mengukur kekesaran permukaan hasil pembubutan. Analisis S/N ratio dilanjutkan dengan analisis varians (ANAVA) membuktikan bahwa metode MQL yang dilengkapi sistem kendali ini mampu menghasilkan rata-rata permukaan paling halus dibandingkan metode lain. Nilai kekasaran optimum sebesar 1,941 µm diperoleh pada kombinasi permesinan dengan MQL dengan sistem kendali, depth of cut 2,0 mm, dan komposisi air terhadap minyak pada cutting fluid 7:3Effect of Minimum Quantity Lubrication (MQL) Method on Surface RoughnessA device to control the spraying of cutting fluid in minimum quantity lubrication (MQL) has been initiated. This device was programmed with Ardunio and connected to a thermal sensor which is stick on the flank face of the tool. It succeeded in controlling when the cutting fluid should be sprayed and stopped. This research aim is to investigate the effect of using this device to the machined surface roughness. The Taguchi method L9 was used for designing the experiments. Variations were made on the method of applying cutting flood, depth of cut, and cutting fluid composition. Carbide insert tools were used and roughness tester was employed to measure the machined surface roughness. Analysis of S/N ratio following with analysis of variance (ANOVA) revealed that the controlled MQL cooling application results in the minimum surface roughness. The optimum surface roughness would be achieved when using MQL with temperature controller, depth of cut of 2.0 mm, and composition between water and oil for cutting fluid of 7:3.
Dwi Nurtanto, Muhammad Fahad Kustantiyo, Nanin Meyfa Utami, Hernu Suyoso
Published: 1 August 2020
Rekayasa, Volume 13, pp 112-117; doi:10.21107/rekayasa.v13i2.6246

Abstract:
Study ini membandingkan kuat hancur, berat volume antara beton ringan dengan beton dengan mengganti sebagian semen (PC) dengan limbah pertanian. Limbah pertanian yang dimaksud adalah sekam padi dan ampas tebu. Penggunaan limbah pertanian tersebut sebaga material pengganti semen dikarenakan mempunyai sifat pozzolan yang cukup tinggi. Pemakaian limbah pertanian ini dengan membakar ampas tebu dan sekam padi dengan suhu tertentu sehingga menjadi abu. Limbah tebu diambil dari Pabrik Gula Prajekan Bondowoso, dibakar dengan suhu 8000C selama 8 jam. Limbah Padi diambil dari limbah Pabrik Padi di Kalisat Jember, dibakar dengan suhu 8500C selama 45 menit. Kandungan silika dari hasil pembakaran tersebut masing-masing sebesar 59,5% dan 79,5% . Prosentase pengganti sebagian PC sebesar 5%, 10%, 15% dan 20%, dengan perbandingan campuran abu ampas tebu (AAT) dan abu sekam padi (ASP) adalah 1:1. Pengujian dilakukan pada umur 28 hari dengan bentuk benda uji silender berukuran 10x20 cm. Hasil kuat hancur tertinggi pada benda uji dengan subsitusi PC sebesar 5% dan berat volume yang terendah pada benda uji dengan pengantian semen sebesar 20%. Effect of Cement Substitution with Agricultural Waste on Lightweight Structural ConcreteThis study compares the shattering strength, volume weight between lightweight concrete and concrete by replacing part of the Portland cement (PC) with agricultural waste. The agricultural waste in question is rice husk and sugarcane bagasse. The use of agricultural waste is as a substitute for cement because it has quite high pozzolanic properties. Use of this agricultural waste by burning sugarcane bagasse and rice husk with a certain temperature so that it becomes ash. Sugarcane waste is taken from Bondowoso Prajekan Sugar Mill, burned at 8000C for 8 hours. Rice waste is taken from the rice factory waste in Kalisat Jember, burned at 8500C for 45 minutes. The silica content of the combustion products was 59.5% and 79.5%, respectively. The percentage of partial PC replacement is 5%, 10%, 15%, and 20%, with a ratio of bagasse ash (BA) to rice husk ash (RHA) is 1: 1. The test was carried out at 28 days in the form of a 10 x 20 cm slender test object. The highest yield of crushing strength in specimens with PC substitution of 5% and the lowest volume weight in specimens with cement replacement of 20%.
Asri Widiatsih, Ratih Wulandari, Syamsul Muarif
Published: 1 August 2020
Rekayasa, Volume 13, pp 187-196; doi:10.21107/rekayasa.v13i2.5904

Abstract:
Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan pemanfaatan Google Classroom dalam penilaian autentik di kelas VI SD Negeri Sidomulyo 05 Silo Kabupaten Jember. Adapun fokus penelitian ini adalah bagaimana pemanfaatan Google Classroom dalam penilaian autentik di kelas VI SD Negeri Sidomulyo 05 Silo Kabupaten Jember yang dibagi menjadi sub focus sebagai berikut: 1) Membuka Google Classroom 3) Pelaksanaan Penilaian menggunakan Google Classroom, 3) Kendala yang dihadapi dalam pemanfaatan google Classroom. Pendekatan dalam penelitian ini adalah penelitian kualitatif, dengan metode deskriptif. Sedangkan yang menjadi obyek penelitian adalah SD Negeri Sidomulyo 05 Silo Kabupaten Jember. Adapun teknik pengumpulan datanya menggunakan teknik observasi, wawancara, dan dokumentasi dengan analisis data menggunakan prosedur analisis data kualitatif yang terdiri dari: kondensasi data, penyajian data, dan penyimpulan/verifikasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penilaian autentik pembelajaran tematik Bahasa Indonesia dan IPA dapat menggunakan Google Classroom. Penilaian meliputi penilaian sikap dengan observasi dan penilaian antara teman, penilaian pengetahuan menggunakan tes tulis, lisan dan penugasan serta penilaian ketrampilan dengan melakukan penilaian terhadap kinerja, proyek, produk, fortofolio dan ketrampilan diskusi. Kendalanya antara lain siswa kesulitan dalam mengaplikasikan google classroom karena belum terbiasa dan orang tua siswa harus diberi pemahaman terlebih dahulu.Using of Google Classroom in Authentic AssessmentCase Study at SD Sidomulyo 05 Silo, JemberABSTRACTThis study aims to describe the use of Google Classroom in authentic assessment in class VI of Sidomulyo 05 Silo Public Elementary School, Jember Regency. The focus of this research is how the use of Google Classroom in authentic assessment in class VI SD Negeri Sidomulyo 05 Silo, Jember Regency which is divided into sub-focus as follows: 1) Opening Google Classroom 3) Implementation of Assessment using Google Classroom, 3) Constraints faced in utilization Google Classroom. The approach in this research is qualitative research, with descriptive methods. In comparison, the object of research is Sidomulyo Public Elementary School 05 Silo, Jember Regency. The data collection techniques using observation, interviews, and documentation techniques with data analysis using qualitative data analysis procedures are consisting of: data condensation, data presentation, and conclusion/verification. The results showed that the authentic assessment of Indonesian thematic learning and science could use Google Classroom. Assessment includes attitude assessment by observation and assessment between friends, assessment of knowledge using written, oral, and assignment tests as well as an assessment of skills by evaluating performance, projects, products, portfolio, and discussion skills. The obstacles include the difficulty of students in applying Google classroom because they are not familiar, and the parents of students are given an understanding first.
Eka Dalas Pangestu, Yunita Fauzia Achmad
Published: 1 August 2020
Rekayasa, Volume 13, pp 103-111; doi:10.21107/rekayasa.v13i2.5860

Abstract:
Sistem pakar secara umum adalah sistem yang mengadopsi kemampuan seorang pakar atau ahli untuk dimasukkan ke dalam komputer sehingga mampu menyelesaikan masalah seperti yang dilakukan oleh pakar. Sistem pakar saat ini banyak digunakan pada beberapa bidang salah satunya bidang kesehatan. Jerawat merupakan penyakit radang yang dapat terjadi pada bagian wajah, leher, dada dan punggung. Pengetahuan mengenai jenis jerawat pada masyarakat masih kurang sehingga dalam pengobatannya dilakukan dengan penangan yang tidak sesuai. Diperlukan pengetahuan pakar yang dapat membantu dalam melakukan diagnosis jenis penyakit jerawat. Web merupakan sebuah sistem yang disajikan dalam bentuk teks, gambar dan suara yang tersimpan dalam sebuah server web. Sistem pakar berbasis web dapat menjadi sebuah alternatif diagnosis awal penyakit jerawat. Pada penelitian ini metode pengembangan sistem pakar berbasis web menggunakan exrime programming. Berdasarkan hasil dari pengujian kuesioner terhadap sistem pakar diagnosis web jerawat berbasis web yang dilakukan sebanyak 61% setuju bahwa sistem pakar ini dapat membantu dalam melakukan diagnosis jerawat.The Application of a Web-Based Expert Acne Diagnosis System (Case Study: Navagreen Citra Raya)The expert system is a system that adopts the ability of an expert or expert to be entered into a computer so that it is able to solve problems as is done by experts. The expert system is currently widely used in several fields one of which is the health sector. Acne is an inflammatory disease that can occur on the face, neck, chest, and back. Knowledge about the types of acne in the community is still lacking so that the treatment is done with inappropriate handling. Expert knowledge is needed that can help in diagnosing the type of acne. The web is a system that is presented in the form of text, images, and sounds stored in a web server. A web-based expert system can be an alternative for early diagnosis of acne. In this research, the method of developing a web-based acne expert system uses extreme programming. Based on the results of the questionnaire testing of the expert system of web-based acne diagnosis conducted as many as 61% agree that this expert system can help in making a diagnosis of acne.
Ana Tsalitsatun Ni'Mah, Agus Zainal Arifin
Published: 1 August 2020
Rekayasa, Volume 13, pp 172-180; doi:10.21107/rekayasa.v13i2.6412

Abstract:
Hadis adalah sumber rujukan agama Islam kedua setelah Al-Qur’an. Teks Hadis saat ini diteliti dalam bidang teknologi untuk dapat ditangkap nilai-nilai yang terkandung di dalamnya secara pegetahuan teknologi. Dengan adanya penelitian terhadap Kitab Hadis, pengambilan informasi dari Hadis tentunya membutuhkan representasi teks ke dalam vektor untuk mengoptimalkan klasifikasi otomatis. Klasifikasi Hadis diperlukan untuk dapat mengelompokkan isi Hadis menjadi beberapa kategori. Ada beberapa kategori dalam Kitab Hadis tertentu yang sama dengan Kitab Hadis lainnya. Ini menunjukkan bahwa ada beberapa dokumen Kitab Hadis tertentu yang memiliki topik yang sama dengan Kitab Hadis lain. Oleh karena itu, diperlukan metode term weighting yang dapat memilih kata mana yang harus memiliki bobot tinggi atau rendah dalam ruang Kitab Hadis untuk optimalisasi hasil klasifikasi dalam Kitab-kitab Hadis. Penelitian ini mengusulkan sebuah perbandingan beberapa metode term weighting, yaitu: Term Frequency Inverse Document Frequency (TF-IDF), Term Frequency Inverse Document Frequency Inverse Class Frequency (TF-IDF-ICF), Term Frequency Inverse Document Frequency Inverse Class Space Density Frequency (TF-IDF-ICSδF), dan Term Frequency Inverse Document Frequency Inverse Class Space Density Frequency Inverse Hadith Space Density Frequency (TF-IDF-ICSδF-IHSδF). Penelitian ini melakukan perbandingan hasil term weighting terhadap dataset Terjemahan 9 Kitab Hadis yang diterapkan pada mesin klasifikasi Naive Bayes dan SVM. 9 Kitab Hadis yang digunakan, yaitu: Sahih Bukhari, Sahih Muslim, Abu Dawud, at-Turmudzi, an-Nasa'i, Ibnu Majah, Ahmad, Malik, dan Darimi. Hasil uji coba menunjukkan bahwa hasil klasifikasi menggunakan metode term weighting TF-IDF-ICSδF-IHSδF mengungguli term weighting lainnya, yaitu mendapatkan Precission sebesar 90%, Recall sebesar 93%, F1-Score sebesar 92%, dan Accuracy sebesar 83%.Comparison of a term weighting method for the text classification in Indonesian hadithHadith is the second source of reference for Islam after the Qur’an. Currently, hadith text is researched in the field of technology for capturing the values of technology knowledge. With the research of the Book of Hadith, retrieval of information from the hadith certainly requires the representation of text into vectors to optimize automatic classification. The classification of the hadith is needed to be able to group the contents of the hadith into several categories. There are several categories in certain Hadiths that are the same as other Hadiths. Shows that there are certain documents of the hadith that have the same topic as other Hadiths. Therefore, a term weighting method is needed that can choose which words should have high or low weights in the Hadith Book space to optimize the classification results in the Hadith Books. This study proposes a comparison of several term weighting methods, namely: Term Frequency Inverse Document Frequency (TF-IDF), Term Frequency Inverse Document Frequency Inverse Class Frequency (TF-IDF-ICF), Term Frequency Inverse Document Frequency Inverse Class Space Density Frequency (TF-IDF-ICSδF) and Term Frequency Inverse Document Frequency Inverse Class Space Density Frequency Inverse Hadith Space Density Frequency (TF-IDF-ICSδF-IHSδF). This research compares the term weighting results to the 9 Hadith Book Translation dataset applied to the Naive Bayes classification engine and SVM. 9 Books of Hadith are used, namely: Sahih Bukhari, Sahih Muslim, Abu Dawud, at-Turmudzi, an-Nasa’i, Ibn Majah, Ahmad, Malik, and Darimi. The trial results show that the classification results using the TF-IDF-ICSδF-IHSδF term weighting method outperformed another term weighting, namely getting a Precession of 90%, Recall of 93%, F1-Score of 92%, and Accuracy of 83%.
Published: 20 January 2020
Rekayasa, Volume 13, pp 61-66; doi:10.21107/rekayasa.v13i1.5918

Abstract:
Perairan darat merupakan salah satu ekosistem yang memunculkan interaksi antara organisme didalamnya dengan kualitas perairan itu sendiri. Baik buruknya parameter kualitas air sangat mempengaruhi keanekaragaman dan struktur komunitas. Plankton merupakan organisme perairan yang keberadaannya dapat menjadi indikator perubahan kualitas biologi perairan dan produktivitas primer perairan sungai. Tujuan dari penelitian ini yaitu untuk mengetahui kelimpahan plankton di perairan darat yang di wakili oleh sungai di dataran rendah Surabaya dan dataran tinggi di sungai Pujon dan Waduk Selorejo. Hasil penelitian identifikasi plankton yang diambil pada 3 tempat yang berbeda, spesies fitoplankton yang melimpah yaitu spesies Melosira sp, Oscillatoria sp, Tabellaria sp, Nitzshia sp dan Spirogyra sp. Sedangkan, untuk spesies zooplankton sendiri yang paling melimpah dari ketiga tempat tersebut yaitu spesies Cyclopoida sp, Mysit sp dan Brachionus sp. Data tersebut dapat di haraokan daoat menjadi data pendahuluan mengenai studi plankton di perairan darat baik di dataran rendah maupun di dataran tinggi.
, Subaidillah Fansuri
Published: 20 January 2020
Rekayasa, Volume 13, pp 55-60; doi:10.21107/rekayasa.v13i1.5886

Abstract:
Sampah plastik merupakan salah satu jenis sampah non organik yang tidak mudah terurai, sehingga keberadaannya sangat mengganggu lingkungan. Atas dasar ini dibutuhkan alternatif dalam pemanfaatannya. Material lainnya yang dapat di substitusi sebagai bahan campuran paving blok adalah fly ash. Fly ash merupakan hasil pembakaran batu bara pada tungku pembangkit listrik tenaga uap. Berdasarkan latarbelakang diatas rumusan penelitian ini “bagaimana pengaruh penambahan limbah botol plastik dan variasi penambahan abu terbang (fly ash) terhadap penyerapan paving blok ramah lingkungan”. Penelitian ini menggunakan perbandingan 1Pc : 4 Ps dengan variasi fly ash 10%, 20%, 30%, 40%, 50% dari berat semen dan limbah plastik sebesar 0,5% dari total campuran. Hasil pengujian di laboratorium menunjukan bahwa ada pengaruh secara simultan penambahan variasi fly ash terhadap penyerapan paving block. Secara berurutan hasil penyerapan yaitu 8.62%, 9.46%, 7.26%, 10.33%, 11.86%, dan 11.66%. Model persamaan regresi yang diperoleh Y = 8,047 + 0,073 X. Dengan demikian mutu paving block dalam penelitian ini masuk ke dalam mutu D diperuntukan untuk taman kota.
Published: 20 January 2020
Rekayasa, Volume 13, pp 15-21; doi:10.21107/rekayasa.v13i1.6180

Abstract:
Batang kelapa sawit (BKS) hasil dari kegiatan replanting merupakan limbah bagi lingkungan apabila dibiarkan begitu saja di areal perkebunan. Padahal limbah ini mengandung selulosa cukup tinggi yang senyawa turunannya dapat diolah lebih lanjut, salah satunya menjadi bahan baku bioplastik yaitu selulosa asetat. Selulosa dapat diisolasi melalui tahapan proses chemis (ekstraksi) dan mekanis (misalnya blending dan ultrasonikasi). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh masing-masing tahapan proses tersebut, terutama proses blending dan ultrasonikasi terhadap perubahan sifat morfologi serat limbah BKS. Proses ekstraksi menggunakan NaOH dan H2O2 5%, proses blending menggunakan PHILIPS HR2096 kecepatan 21.000 rpm dan proses sonikasi menggunakan ultrasonic cell crusher. Hasil analisa FTIR setelah proses ekstraksi menunjukkan bahwa terdapat adanya ikatan O-H, C-H dan C-O pada puncak gelombang 3410,15; 2908,65 dan 1033,85 cm-1 yang merupakan ikatan penyusun gugus utama senyawa selulosa. Hasil XRD memperlihatkan terjadi penurunan derajat kristalin sebelum dan setelah proses blending yaitu sebesar 18,26%. Namun setelah proses ultrasonikasi terjadi kenaikan kembali nilai derajat kristalin dari 21,09% menjadi 30%. Karakterisasi morfologi menunjukkan bahwa proses blending dapat memisahkan struktur amorf dari serat selulosa dan proses ultrasonikasi dapat memecah serat selulosa menjadi lebih kecil. Dari penelitian ini dapat disimpulkan bahwa proses blending dan ultrasonikasi mempengaruhi perubahan struktur dan morfologi serat selulosa hasil ekstrak limbah BKS, namun penelitian ini masih perlu dikembangkan untuk mengetahui kondisi proses yang tepat untuk menghasilkan serat nanoselulosa yang lebih banyak. Kondisi proses tersebut terutama yang berkaitan dengan kecepatan putar dan waktu tinggal selama proses.The Effect of Blending and Ultrasonication Processes on The Morphological Structure of Palm Oil Trunk Extracts for Raw Material of Bioplastic (Cellulose Acetate)Oil Palm Trunks (OPT) is waste generated from replanting activities that if left in the environment can pollute the plantation area. However, this waste has high cellulose content including its derivative compounds which can be further processed into new products, one of which is a bioplastic raw material, cellulose acetate. Cellulose can be isolated through two processes, which consist of chemical (by extraction) and mechanical (by blending and ultrasonication) processes. This research studies the effects of each stage process, especially the main effects of the blending and ultrasonication processes on the morphological characteristics of palm oil trunk wastes. The extraction process uses NaOH 5% and H2O2 5%, the blending uses PHILIPS HR 2096 with a speed of 21,000 rpm and the sonication process uses an ultrasonic cell crusher. The results of FTIR analysis after the extraction process showed O-H, C-H and C-O bonds at the wave peak of 3410.15; 2908.65 and 1033.85 cm-1, which are the main constituent groups of cellulose compounds. The results of XRD analysis showed a decrease in the degree of crystalline of 18.26% after the blending process. However, after the ultrasonication process, the degree of crystalline increased from 21.09% to 30%. Morphological characterization shows that blending can separate the amorphous structure of cellulose fibers and the ultrasonication process can break down cellulose fibers into smaller sizes. This research still needs to be developed in determining the exact operating conditions to produce nanocellulose fibers, especially those related to rotational speed and residence time during the process.Keywords: The degree of crystalline, extraction, nanocellulose, cellulose
Millatul Ulya, Nadiyah Ferah Aronika, Khoirul Hidayat
Published: 20 January 2020
Rekayasa, Volume 13, pp 77-81; doi:10.21107/rekayasa.v13i1.5385

Abstract:
Minuman herbal cabe jamu cair merupakan inovasi produk baru yang masih perlu dikaji tentang metode pengawetannya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh penambahan konsentrasi natrium benzoat dan suhu penyimpanan terhadap mutu minuman herbal cabe jamu cair. Rancangan yang digunakan dalam penelitian ini adalah Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 2 faktor yaitu pengaruh konsentrasi natrium benzoat (0 ppm, 200 ppm, 300 ppm) dan suhu penyimpanan (35 dan 45 °C). Hasil analysis of variance menunjukkan konsentrasi natrium benzoat berpengaruh nyata (P kurang dari 0,05) terhadap total padatan terlarut (TPT), warna dan total mikroba. Suhu penyimpanan berpengaruh nyata (Pkurang dari 0,05) terhadap total padatan terlarut (TPT), warna, dan total mikroba. Interaksi antara konsentrasi natrium benzoat dan suhu penyimpanan berpengaruh nyata (P kurang dari 0,05) terhadap total padatan terlarut (TPT).Kata Kunci: Cabe jamu, natrium benzoat, suhu penyimpanan, mutuEffect of Sodium Benzonate Addition and Storage Temperature on Quality of Piper Retrofractum Vahl Liquid Herbal DrinkABSTRACTPiper retrofractum vahl liquid herbal drink is an innovation of new products need to research about the method. This research aims to determine the effect of sodium benzoate addition and storage temperature on quality of piper retrofractum vahl liquid herbal drink. The design used in this study was a completely randomized design (CRD) with 2 factors, namely the effect of sodium benzoate concentration (0 ppm, 200 ppm, 300 ppm) and storage temperature (35°C and 45°C). The results analysis of variance shows that the concentration of sodium benzoate has a significant effect (P less than 0.05) on total dissolved solids (TDS), color and total microbes. Storage temperature has a significant effect (P less than 0.05) on total dissolved solids (TDS), color and total microbes. The interaction between sodium benzoate concentration and storage temperature was a significant effect (P less than 0.05) to total dissolved solids (TDS).Keywords: piper retrofractum vahl, sodium benzoate, storage temperature, quality .
Published: 20 January 2020
Rekayasa, Volume 13, pp 71-76; doi:10.21107/rekayasa.v13i1.5912

Abstract:
Tiroid adalah merupakan salah satu bagian tubuh yang sangat penting bagi manusia, tiroid berbentuk kelenjar dan letaknya di bawah jakun pada leher. Penyakit gondok disebabkan oleh gangguan pada kelenjar tiroid. Berdasarkan data histori penderita yang disebabkan oleh kelenjar tiroid dapat dibuat rekomendasi prediksi penyakit tiroid yang membantu tenaga kesehatan. Klasifikasi merupakansalah satu teknik dari data mining yang dapat digunakan untuk membuat prediksi. Klasifikasi dapat dilakukan dengan decision tree salah satunya dengan algoritma C4.5. Penelitian ini bertujuan membuat klasifikasi data penyakait yang disebabkan oleh gejala kelenjar tiroid dan menerapkannya dalam pembangunan sistem. Implementasi sistem menggunakan bahasa pemrograman Visual Basic 2010 dan metode penelitian yang digunakan pada penelitian ini adalah metode waterfall.metode waterfall mampu melakukan analisa kebutuhan yang digunakan untuk mengetahui dari kelemahan sistem yang lama, kemudian membuat desain dari rancangan tersebut dan dilanjutkan dengan pembuatan rancangan sistem baru. Hasil dari penelitian adalah menghasilkan rule yang dapat membantu tenaga kesehatan di RSUD Hasanuddin Damrah Manna dalam mendiagnosa penyakit yang disebabkan oleh kelenjar tiroid.
, Asfan Asfan, Vina Istianah
Published: 20 January 2020
Rekayasa, Volume 13, pp 67-70; doi:10.21107/rekayasa.v13i1.5745

Abstract:
Beras ketan putih disebut dengan (Oryza sativa glutinosa) merupakan salah satu varietas padi yang termasuk dalam family Graminae. Rengginang merupakan makan ringan yang berbahan baku beras ketan namun memiliki bermacam-macm bahan tambahan contohnya rengginang ikan teri, rengginang kerang dan rengginang lorjuk Dengan adanya bahan tambahan tersebut juga akan memberikan nilai tambah terhadap produk olahan beras ketan menjadi rengginang tersebut. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui nilai tambah dari pengolahan beras ketan menjadi rengginang menggunakan Metode Hayami. Penelitian ini menggunakan metode Hayami. Penelitian ini menghitung nilai tambah dari rengginang ketan, rengginang teri, rengginang kerang dan rengginang lorjuk. Hasil analisis nilai tambah dari produk di UD. Praktis memiliki nilai tambah pada produk rengginang ketan yaitu Rp 5.400, rengginang teri sebesar Rp 9.400, rengginang lorjuk yaitu Rp 30.600 dan rengginang kerang adalah Rp 15.200. Dan untuk rengginang ketan memiliki rasio nilai tambah yaitu 18,9% rengginang teri yaitu 24% , rengginang kerang adalah 38,75% ketiga rengginang tersebut termasuk kategori sedang karena berada diantara 15%-40% dan rengginang lorjuk yaitu 47% termasuk kategori tinggi karena memiliki rasio nilai tambah lebih besar sama dengan 40%.Added Value Analysis at Processing Of Glutinous Rice to be RengginangThe white glutinous rice (Oryza sativa glutinosa) is the one of rice variety which is included in the Graminae family. Rengginang is a kind of snack that is made from glutinous rice, but it has a variety of additional ingredients such as anchovy, scallop rengginang and rengginang lorjuk. By the existence of additional ingredients, it will give added value to the processed product of glutinous rice becomes rengginang. This research aims to find out the added value from the processing of glutinous rice becomes rengginang by using the Hayami method. This research uses a Hayami method. This research counts the added value from glutinous rengginang, anchovy rengginang, scallop rengginang, and rengginang lorjuk. The results of the added value from the product in UD, practically it has added values at the product of glutinous rengginang is Rp. 5.400, anchovy rengginang is the amount of Rp 9.400, lorjuk rengginang is Rp 30.600, and scallop rengginang is Rp 15.200. And also for glutinous rengginang has the ratio of added value 18,9% anchovy rengginang 24%, scallop rengginang 38,75%, these three rengginang are included in the moderate category because they are between 15%-40% and rengginang lorjuk is 47% including the high category because it has the ratio of added value amount of more than 40%
Published: 20 January 2020
Rekayasa, Volume 13, pp 82-87; doi:10.21107/rekayasa.v13i1.5893

Abstract:
The availability of a production item is still difficult to monitor by the company, because the system used still relies on manual calculations from employees of the company. Assisting the company in predicting the availability of production goods effectively then used the fuzzy logic calculations. During this time the availability of production goods in Salman Collection is seen from customer's request. This makes the company not get the maximum profit because there is no planning the amount of production of goods, if the number of products manufactured by the company is less than the number of requests then the company will lose the opportunity to Gain maximum profit. Conversely, if the number of products produced is much more than the number of requests then the company will suffer losses. Application of goods production optimization using Fuzzy logic Mamdani method is an application intended to solve the problem of goods production in Salman Collection is uncertain. Implementing Fuzzy logic on solving the problem of production goods can help the company to optimize the production of goods. The construction of this application the company can determine the amount of production that corresponds to consumer demand and by applying Fuzzy logic Mamdani methods Most of the demand in Salman Collection is fulfilled and more optimal than With the old system or the amount in production by the company.
Published: 20 January 2020
Rekayasa, Volume 13, pp 22-30; doi:10.21107/rekayasa.v13i1.5930

Abstract:
Pertumbuhan ekonomi Indonesia yang berada pada rata rata 5,8% per tahun tidak hanya berdampak pada peningkatan kesejahteraan masyarakat secara umum tetapi juga peningkatan kebutuhan tenaga listrik. PT PLN (Persero) telah mengantisipasi peningkatan permintaan tenaga listrik dengan membuat rencana pengembangan pembangkit listrik. Studi ini bertujuan untuk menentukan model transportasi terpadu angkutan gas alam cair (Liquid Natural Gas (LNG)) untuk pembangkit di Kawasan Timur Indonesia. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode optimasi untuk mendapatkan tipe kapal yang sesuai pada rute terpilih yang memberikan biaya satuan minimum. Hasil optimasi menunjukkan bahwa distribusi gas alam cair ke pembangkit listrik di Indonesia bagian timur adalah dengan suplai langsung dari Kilang Tangguh ke pembangkit listrik di Sorong dengan unit biaya sebesar Rp230.000/m³, 6 pembangkit listrik disuplai melalui Hub Ambon dengan biaya satuan sebesar Rp280.000/ m³, 7 pembangkit listrik disuplai melalui Hub Ternate dengan unit biaya satuan terendah adalah tujuan Tidore sebesar Rp230.000/ m³ dan 5 sisanya akan disuplai melalui Hub Manokwari dengan biaya satuan terendah adalah tujuan Biak sebesar Rp340.000/ m³.
, Aldo Guntara, Prasetya Perwira Putra Perdana
Published: 20 January 2020
Rekayasa, Volume 13, pp 88-96; doi:10.21107/rekayasa.v13i1.5414

Abstract:
Anak sekolah dasar kurang ingin memainkan sebuah permaianan yang menurutnya membosankan dan tertuju pada pemikiran yang menguras fikiran mereka, sebagai contohnya yaitu permainan hitung dan soal jawaban sebagai simulasi kecerdasan mereka, namun dari solusi tersebut ketertarikan mereka menurun, disebabkan karena belum adanya jawaban dari permasalahan yang membuat mereka tertarik akan permainan ilmu pengetahuan. Pada penelitian yang dilakukan oleh Samuel Gandang Gunanto seorang Mahasiswa Institut Seni Indonesia Yogyakarta, yang di terbitkan oleh Journal of animation and games studies pada Oktober 2016. Penciptaan karya ini dikembangkan segi imersif dari sebuah game yang nyata. Pembelajaran pendidikan karakter, secara khusus tentang sikap kepedulian terhadap kebersihan lingkungan. Dengan inovasi sebelumna, maka dapat dibandingkan dengan inovasi permaianan ular tangga, yang dikembangkan melalui permaianan manual berbasis digital. Cara kerjanya menggunakan RFID sebagai sarana pendeteksi jawaban jenis tanaman yang akan meningkatkan ilmu pengetahuan tentang tanaman. Penelitian dimulai dengan pendekatan Double Diamand yang diperkenalkan oleh British Design Council, yaitu memulai proses perancangan dengan social research yang di integrasikan dengan design thinking untuk dapat menghasilkan inovasi berbasis teknologi yang bermanfaat bagi masyarakat setempat. Setelah mendapatkan solusi utama, maka akan dilanjutkan dengan pembuatan sederhana yang akan dipergunakan untuk uji fungsi dan manfaat bersama calon pengguna.
, Herda Desmaiani, Marcelina Marcelina, Muhammad Khalid Syafrianto, Syahrul Khairi
Published: 12 January 2020
Rekayasa, Volume 13, pp 45-48; doi:10.21107/rekayasa.v13i1.5920

Abstract:
Keberadaan sungai sebagai air permukaan sangat diperlukan bagi kelangsungan kehidupan manusia, antara lain sebagai air baku minum, air baku irigasi pertanian, peternakan, pembangkit listrik, rekreasi, dan sebagainya. Diketahui juga bahwa PDAM Tirta Khatulistiwa Kota Pontianak belum melayani seluruh penduduk Kota Pontianak. Sehingga masih ada masyarakat yang memenuhi keperluan air bersih menggunakan air sungai/parit yang ada di Kota Pontianak. Di Sungai Putat yang termasuk kawasan gambut, masyarakat masih menggunakan air sungai tersebut sebagai sumber air bersih. Kualitas perairan sungai merupakan suatu cara yang dapat menduga dan mengevaluasi adanya perubahan lingkungan. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui status mutu air pada lahan gambut, tepatnya di Sungai Putat. Standar status mutu air yang digunakan adalah air kelas II berdasarkan PP 82 tahun 2001. Pengambilan sample air menggunakan purposive sampling di 3 titik pada Sungai Putat. Analisis status mutu menggunakan metode STORET. Diketahui bahwa status mutu Sungai Putat Kota Pontianak tercemar sedang. Sehingga dibutuhkan pengendalian pencemaran air terhadap Sungai Putat.
Didit Herdiawan, , Haryanto Wibowo
Published: 12 January 2020
Rekayasa, Volume 13, pp 1-14; doi:10.21107/rekayasa.v13i1.5872

Abstract:
TNI Angkatan Laut merupakan salah satu komponen pertahan Negara di laut. Dihadapkan dengan dinamika lingkungan strategis maka TNI AL harus mampu untuk meningkatkan kemampuan pertahanan untuk dapat mengatasi ancaman peperangan permukaan, peperangan amfibi, peperangan khusus (anti nubika, anti teror dan lawan sabotase bawah air), serta kemampuan Anglamil (Angkutan Laut Militer). Melihat kondisi geografis Indonesia yang merupakan Negara Kepulauan dengan beraneka ragam konfigurasi geografi yang dimiliki, maka TNI AL dapat menjadikan kondisi geografis ini sebagai strategi dalam pertempuran yaitu Peperangan Kepulauan. Berdasarkan latarbelakang tersebut maka perlu adanya penentuan kriteria yang secara objektif dapat mempengaruhi dari model strategi TNI AL dalam usaha untuk memenangkan Peperangan Kepulauan. Sehingga diperoleh pilihan strategi yang tepat untuk melaksanakan Peperangan Kepulauan. Untuk membahas permasalahan tersebut digunakan pendekatan DEMATEL (Decision Making Trial and Evaluation Laboratory) untuk melihat hubungan keterkaitan antar kriteria dan subkriteria. Kriteria utama yang diperoleh adalah Konstelasi Geografi, Taktik Peperangan Kepulauan, Postur Kekuatan TNI AL, Kekuatan Negara Ancaman dan Peran Dawilhanla. Kemudian dilakukan perancangan model dalam pemilihan strategi Peperangan Kepulauan dengan pendekatan ANP (Analytic Network Process). Hasil dari pengolahan data yang dilakukan diperoleh bobot prioritas alternatif yang terpilih yaitu Decisive Battle (0,06369), Blockade (0,06120) dan Fleet in Being (0,04800). Selain itu dilaksanakan analisis BOCR (Benefit, Opportunity, Cost and Risk) diperoleh hasil berdasarkan skenario standar Fleet in Being dengan bobot 0,56233, skenario pesimis terpilih alternatif Decisive Battle dengan bobot 0,09169 dan skenario realistis terpilih alternatif Decisive Battle dengan bobot 0,02237.Kata Kunci: DEMATEL, ANP, Peperangan Kepulauan, Analisis BOCR (Benefit, Opportunity, Cost and Risk).
Muhammad Nur Safrudin, Udisubakti Ciptomulyono, Ferdy Hendarto Susilo
Published: 12 January 2020
Rekayasa, Volume 13, pp 31-37; doi:10.21107/rekayasa.v13i1.5881

Abstract:
Kesiapan tempur kapal perang sangat dipengaruhi oleh komponen teknologi di dalamnya. Komponen teknologi terdiri dari technoware, humanware, infoware, dan orgaware. Kapal MM merupakan satu kapal perang TNI-AL yang sudah berusia di atas 40 tahun. Sebuah pengembangan teknologi perlu dilakukan untuk mengembalikan kemampuan tempurnya. Sebuah penelitian perlu dilakukan untuk memetakan kondisi komponen teknologi saat ini. Penelitian ini bertujuan untuk mengukur tingkat kecanggihan masing-masing komponen teknologi, kontribusi gabungan, dan menentukan prioritas pengembangannya.Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah kombinasi teknometrik dan Analytical Hierarchy Process (AHP). Teknomterik digunakan untuk mengukur kontribusi individual dan Technology Contribution Coefficient (TCC) berdasarkan komponen technoware, humanware, inforware dan orgaware. AHP digunakan untuk menentukan intensitas kontribusi dan bobot kriteria dan sub-kriteria komponen teknologi.Hasil pengukuran kontribusi individual adalah technoware 0,33, humanware 0,57, infoware 0,59, orgaware 0,64 dan TCC adalah 0,48. Nilai gap dari kontribusi adalah tecnoware 0,67, humanware 0,43, infoware 0,41, dan orgaware 0,36. Berdasarkan nilai TCC, kapal kelas MM masuk dalam tingkat teknologi semi modern dan klasifikasi cukup baik. Berdasarkan dari nilai gap komponen teknologi maka disarankan komponen technoware menjadi prioritas utama dalam pengembangan teknologi di kapal MM.
Published: 12 January 2020
Rekayasa, Volume 13, pp 49-54; doi:10.21107/rekayasa.v13i1.6778

Abstract:
Dalam kehidupan sehari-hari, seseorang senantiasa dihadapkan pada pilihan dari berbagai pilihan, terkait proses pengambilan keputusan diperlukan penentuan prioritas dan uji konsistensi terhadap pilihan-pilihan yang telah dilakukan. Dalam situasi yang kompleks, pengambilan keputusan tidak dipengaruhi oleh satu faktor saja melainkan multifaktor dan mencakup berbagai jenjang maupun kepentingan. Pengambilan keputusan oleh para pimpinan seringkali dihadapkan pada permasalahan yang sulit karena beragamnya kriteria pengambilan keputusan, bobot pertimbangan dan pilihan alternatif. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dan kuantitatif dengan metode pengambilan keputusan secara Analytic Hierarchy Process (AHP). Metode Analytical Hierrchy Process (AHP) digunakan untuk mencari rangking atau urutan prioritas dari berbagai alternatif dalam pemecahan suatu permasalahan. Metode ini membantu dalam memecahkan persoalan yang kompleks dengan menstruktur suatu hirarki kriteria, pihak yang berkepentingan, dan hasil dengan menarik berbagai pertimbangan guna mengembangkan bobot atau prioritas. KRI sebagai bagian dari alutsista TNI AL, seluruhnya menggunakan Radar (Radio Detection and Ranging) yang berfungsi sebagai peralatan deteksi sasaran, baik sasaran permukaan maupun sasaran udara. Radar bekerja dengan memancarkan dan menerima kembali gelombang elektromagnetik untuk selanjutnya diproses menjadi sinyal video yang kemudian ditampilkan sebagai echo pada layar display. (Skolnik, 2001) Penelitian ini didasari oleh permasalahan belum optimalnya cara kerja Radar 3D pada KRI Kelas Bung Tomo (MRLF-Multi Role Light Fregate). Permasalahan ini berdampak pada kemampuan operasional KRI, sehingga diperlukan kajian lebih lanjut dengan cara membandingkan karakteristik statik, keandalan dan kompleksitas Radar Udara 3D Smart S MK2, MW-08 dan AWS-09. Hasil akhir adalah Radar Udara 3D Smart S MK2 merupakan Radar Udara terbaik untuk KRI Kelas Bung Tomo karena memiliki keunggulan dalam jarak jangkau dan sensitivitas.
, Didit Herdiawan,
Published: 12 January 2020
Rekayasa, Volume 13, pp 38-44; doi:10.21107/rekayasa.v13i1.5873

Abstract:
Strategi pemberdayaan komponen maritim merupakan salah satu tugas pokok TNI AL, sebagai komponen perkuatan pertahanan dan keamanan di Laut. Salah satu case study yang bisa diangkat dalam pemberdayaan komponen maritim adalah pemberdayaan Selat Lombok. Selat Lombok merupakan salah satu pintu gerbang masuk jalur pelayaran Internasional yang mendapatkan prioritas keamanan maritim (maritime security) dan keselamatan maritim (maritime safety). Pemerintah Indonesia memberikan tugas untuk menjaga keamanan dan keselamatan maritim di Selat Lombok kepada komponen maritim antara lain TNI Angkatan Laut, Bakamla, Polairud, Dishubla, KSOP, Pemda serta institusi lain sebagainya. Untuk melaksanakan tugas tersebut, Pimpinan Angkatan Laut menginginkan agar Lanal di Selat Lombok dapat melaksanakan tugas dan fungsinya dengan optimal ditengah keterbatasan kemampuan yang dimiliki. Maka diperlukan strategi tentang pemberdayaan komponen maritim agar mendukung operasi keamanan laut di Selat Lombok. Penulisan paper ini bertujuan mengidentifikasi dan menentukan strategi pemberdayaan komponen maritim dalam mendukung operasi keamanan laut di Selat Lombok dengan metode pendekatan AHP-SWOT. Hasil analisa mengidentifikasi 26 kriteria dari 4 aspek yaitu Politik, Keamanan, Sosial-Ekonomi dan Teknis. Faktor pemenuhan informasi intelijen, peningkatan kekuatan kapal patroli, peningkatan fasilitas pelabuhan dan fasilitas dukungan administrasi menjadi faktor penentu keberhasilan operasi keamanan laut di Selat Lombok. Dengan segala keterbatasan Pangkalan Angkatan Laut maka strategi W-T (Defensif) menjadi strategi terbaik pada proses sinergitas komponen maritim. Meningkatkan kemampuan informasi intelijen (W-T4) menjadi prioritas rumusan strategi dengan bobot 21% dan skornya adalah 1,557. Secara keseluruhan sinergitas komponen maritim dalam mendukung operasi keamanan laut di Selat Lombok diharapkan dapat meningkatkan stabilitas keamanan maritim di wilayah teritorial Selat Lombok.Kata Kunci: Strategi Pemberdayaan, Komponen Maritim, SWOT.
Published: 31 October 2019
Rekayasa, Volume 12, pp 120-125; doi:10.21107/rekayasa.v12i2.5929

Abstract:
Demand of products oil continues to increase by increasing the mobilization in various areas in Indonesia. The government should rethink considering the uneven spread of demand and supply of products oil that can not be mixed in the cargo hold. Currently product oil deliveries to Nusa Tenggara Barat carried by tanker vessels. The issue is whether the vessel’s size not yet optimum. The purpose of this study is to optimize the distribution of product oil from Transit Terminal Product Oil to Unloading Ports. The most influenced variable are the size of the main vessel and the effect on the primary measure is the amount of goods transported. The main dimensions of tanker are LPP= 105 m; B= 18,01 m; H= 8.23 m T= 6.78 m ;DWT= 7,992 DWT ;Payload = 8,933 KL and Tankers’s unit cost is Rp. 203,587.70 per Kiloliter
Ummi Wasilah, Siti Rohimah, Mukhamad Su’Udi
Published: 31 October 2019
Rekayasa, Volume 12, pp 85-90; doi:10.21107/rekayasa.v12i2.5469

Abstract:
Bioteknologi telah berkembang di Indonesia sejak lama namun cenderung lambat dikarenakan oleh beberapa faktor. Faktor pertama adalah minimnya dana penelitian dalam bidang bioteknologi. Penelitian bioteknologi dibutuhkan untuk meningkatkan kuantitas dan kualitas produk serta pengetahuan tentang bioteknologi. Faktor lain yaitu rendahnya sumber daya manusia, fasilitas dan kebijakan pemerintah yang terkesan memperpanjang proses pemasaran produk rekayasa genetika. Bioteknologi memiliki peranan positif bagi dunia pertanian, kesehatan serta lingkungan. Dalam dunia pertanian, bioteknologi membantu untuk mengurangi krisis pangan, memperbaiki kualitas pangan dan meningkatkan jumlah produksi hasil pertanian. Di bidang kesehatan, bioteknologi dapat mendiagnosis suatu penyakit genetis maupun non genetis serta mengobati penyakit tertentu. Dalam bidang lingkungan, bioteknologi dapat meningkatkan kualitas lingkungan yang telah tercemar seperti remediasi, bioleaching, mengurangi sampah plastik dengan memproduksi bioplastik serta memproduksi pupuk hayati yang ramah lingkungan.Development of Biotechnology in IndonesiaABSTRACTBiotechnology has developed in Indonesia for a long time but tends to be slow due to several factors. The first factor is the lack of research funding in the field of biotechnology. Biotechnology research is needed to increase the quantity and quality of products and knowledge about biotechnology. Other factors are low human resources, facilities, and government policies that seem to extend the marketing process of genetic engineering products. Biotechnology has a positive role for the world of agriculture, health and the environment. In the world of agriculture, biotechnology helps to reduce the food crisis, improve food quality and increase the amount of agricultural production. In the health sector, biotechnology can diagnose a genetic and non-genetic disease and treat certain diseases. In the environmental field, biotechnology can improve the quality of polluted environments such as remediation, bioleaching, reducing plastic waste by producing bioplastics and producing environmentally friendly biological fertilizers.Keywords: biotechnology, factors, agriculture, health, environment
Published: 31 October 2019
Rekayasa, Volume 12, pp 157-162; doi:10.21107/rekayasa.v12i2.5911

Abstract:
Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis pendapatan, pengeluaran dan luas lahan minimum yang harus dimiliki petani padi sawah untuk dapat memenuhi kebutuhan hidupnya. Penelitian ini dilaksanakan di Kecamatan Jayapura Kabupaten OKU Timur pada bulan November sampai Desember 2018. Metode penelitian yang digunakan adalah metode survey dan penarikan contoh menggunakan acak berlapis tak berimbang. Hasil penelitian menunjukkan bahwa (1) pendapatan rata-rata petani dengan luas lahan 0,25 Ha sebesar Rp.3.852.750/mt, luas lahan 0,50 Ha, pendapatan rata-rata Rp.7.398.220/mt, luas lahan 0,75 Ha, pendapatan rata-rata Rp.13.037.100/mt, luas lahan 1 Ha, pendapatan rata-rata Rp.16.791.050/mt, luas lahan 1,25 Ha, pendapatan rata-rata Rp.21.247.000/mt, luas lahan 1,50 Ha, pendapatan rata-rata Rp.25.525.250/mt, luas lahan 1,75 Ha, pendapatan rata-rata sebesar Rp.29.366.800/mt, dan petani dengan luas lahan 2 Ha, pendapatan rata-rata Rp.32.385.000/mt. (2) pengeluaran petani dengan luas lahan 0,25 Ha sebesar Rp. 9.559.000/mt, luas lahan 0,50 Ha sebesar Rp.12.375.000/mt, luas lahan 0,75 Ha sebesar Rp.14.578.000/mt, luas lahan 1 Ha sebesar Rp.16.290.000/mt, luas lahan 1,25 Ha sebesar Rp.20.703.500/mt, luas lahan 1,50 Ha sebesar Rp.20.699.000/mt, luas lahan 1,75 Ha sebesar Rp.23.106.500/mt, dan pengeluaran petani yang memilki luas lahan 2 Ha sebesar Rp. 26.684.000/mt. (3) Luas lahan minimum yang harus diusahakan petani agar dapat memenuhi kebutuhannya adalah 1 Ha.Analysis of Minimum Land Area to Meet Living Needs Paddy Farmers in Jayapura District, East OKU RegencyABSTRACTThe purpose of this study is to analyze the income, expense, and minimum area of land that must be cultivated by rice farmers to be able to meet their daily needs. This research was carried out in Jayapura Sub-district of OKUT Regency from November to December 2018. The research method used was the survey method and sampling using unbalanced random sampling. The results showed that (1) the average income of farmers with a land area of 0.25 Ha is Rp.3,852,750/mt, land area of 0.50 Ha, Rp.7,398,220/mt, land area 0,75 Ha, Rp.13,037,100/mt, land area 1 Ha, Rp.16,791,050/mt, land area 1.25 Ha, Rp.21,247,000/mt, land area of 1.50 Ha, Rp.25,525,250/mt, land area of 1.75 Ha, Rp.29,366,800/mt, and land area of 2 Ha, the average income is Rp.32,385,000/mt (2) farmers' expenditure with land area of 0.25 Ha in the amount of Rp. 9,559,000/mt, land area of 0.50 Ha, Rp.12,375,000/mt, land area of 0.75 Ha, Rp.14,578,000/ mt, land area of 1 Ha, Rp.16,290,000/mt, area 1.25 Ha, Rp.20,703,500/mt, land area 1,5 Ha,Rp.20,699,000/mt, 1.75 Ha, Rp.23,106,500/mt, and expenditure of farmers who have 2 Ha land area, is Rp.26,684,000/mt (3) The minimum area of land that must be cultivated by farmers to be able to meet their needs is 1 Ha.Keywords: minimum land area, necessities of life
, , Bambang Haryadi
Published: 31 October 2019
Rekayasa, Volume 12, pp 141-150; doi:10.21107/rekayasa.v12i2.5907

Abstract:
Pemodelan kinerja perkerasan jalan sangat dibutuhkan dalam upaya mendapatkan gambaran informasi perubahan kondisi perkerasan jalan di masa mendatang. Penelitian ini fokus pada prediksi kondisi perkerasan jalan menggunakan metode rantai Markov dengan cara melakukan perkalian antara Matriks Probabilitas Transisi (MPT) dengan vektor kondisi awal. Data utama yang digunakan dalam pengembangan model ini adalah data kondisi perkerasan dan data histori penanganan jalan tahun 2016 – 2017. Aplikasi model rantai Markov pada jaringan jalan di Kabupaten Bangka Barat untuk periode lima tahun (2018 – 2022) dengan asumsi dilakukan penanganan untuk seluruh ruas jalan setiap tahun sesuai dengan jenis program penanganan (pemeliharaan rutin, pemeliharaan berkala, rehabilitasi dan rekonstruksi) berdasarkan batasan persentase kondisi kerusakan jalan. Gambaran perubahan kondisi jaringan jalan kabupaten yang dihasilkan dari penerapan model tersebut cukup optimal, dimana pada tingkat kondisi Baik (B) terus mengalami peningkatan. Sebaliknya, pada tingkat kondisi Rusak Berat (RB) terus mengalami penurunan setiap tahunnya. Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi acuan bagi pengelola jalan dalam rangka perencanaan pengelolaan jaringan jalan.Application of Markov Chain Model In Road Management in Bangka Barat RegencyABSTRACTRoad pavement performance modeling is needed to get an overview of information about changes in road pavement conditions in the future. This research focuses on the prediction of road pavement conditions using the Markov chain method by multiplying the Transition Probability Matrix (TPM) with the initial condition vector. The main data used in the development of this model are pavement condition data and road handling history data for 2016-2017. Application of the Markov chain model in the road network in West Bangka Regency for a period of five years (2018 - 2022) with the assumption that handling is done for all roads every year according to the type of treatment program (routine maintenance, periodic maintenance, rehabilitation, and reconstruction) based on the percentage limit of road damage conditions. The description of changes in district road network conditions resulting from the application of the model is quite optimal, were at the level of good condition (B) continues to increase. Conversely, the level of severely damaged (RB) condition continues to decline every year. The results of this study are expected to be a reference for road managers in the framework of road network management planning.Keywords : Road pavement performance; Markov chain; Road network management
, Syafrurrizal Naridho,
Published: 31 October 2019
Rekayasa, Volume 12, pp 78-84; doi:10.21107/rekayasa.v12i2.5913

Abstract:
This paper comprehensively investigates and compares the performance of various multi-criteria based item recommendation methods. The development of the methods consists of three main phases: predicting rating per criterion; aggregating rating prediction of all criteria; and generating the top- item recommendations. The multi-criteria based item recommendation methods are varied and labelled based on what approach is implemented to predict the rating per criterion, i.e., Collaborative Filtering (CF), Content-based (CB), and Hybrid. For the experiments, we generate two variations of datasets to represent the normal and cold-start conditions on the multi-criteria item recommendation system. The empirical analysis suggests that Hybrid and CF are best implemented on the normal and cold-start item conditions, respectively. On the other hand, CB should never be (solely) implemented in a multi-criteria based item recommendation system on any conditions.
Page of 3
Articles per Page
by
Show export options
  Select all
Back to Top Top