Refine Search

New Search

Advanced search

Results in Journal JURNAL SAINTIS: 49

(searched for: journal_id:(4186980))
Page of 5
Articles per Page
by
Show export options
  Select all
Siti Khozidah, Muhmmad Zaenal Muttaqien
Published: 31 October 2020
JURNAL SAINTIS, Volume 20, pp 93-100; doi:10.25299/saintis.2020.vol20(02).5542

Abstract:
[ID] Kinerja lebar efektif trotoar jalan sudirman kawasan Plaza Sukaramai-Mall Pekanbaru terganggu akibat hambatan pedagang kaki lima dan parkir dari pengunjung pertokoan. Apalagi kawasan tersebut merupakan kawasan pertokoan yang menjadi salah satu tempat rutinitas pejalan kaki cukup aktif. Seharusnya trotoar pada kawasan Plaza Sukaramai-Mall Pekanbaru memiliki jalur pejalan kaki dengan kondisi yang baik dan dilengkapi dengan fasilitas yang memadai. Namun dilihat dari kondisi eksisting jalur pejalan kaki kawasan Plaza Sukaramai-Mall Pekanbaru belum memadai. Maka dari itu perlu di evaluasi bagaimana pengembangan jalur pejalan kaki dengan konsep walkable city. Penelitian ini menggunakan pedoman Peraturan Menteri Pekerjaan Umum No.03/PRT/M/2014 untuk mengetahui lebar efektif kawasan yang telah memenuhi standart, dan walkability indeks untuk mengetahui penilaian kawasan berdasarkan pedoman dari walkability, serta tingkat pelayanan pejalan kaki yang mengacu pada pedoman HCM 2000 dan Peraturan Menteri Pekerjaan Umum No. 03/PRT/M/2014. Jenis penelitian ini adalah deskriptif kuantitatif dalam pengukuran/penilaian terhadap kualitas fasilitas pejalan kaki. Hasil penelitian menunjukkan 5 dari 9 segmen pada kawasan Plaza Sukaramai-Mall Pekanbaru masih memiliki lebar efektif yang belum memadai untuk pejalan kaki pada jam puncak. Trotoar pada kawasaan Plaza Sukaramai-Mall Pekanbaru memiliki walkability score sebesar 54,94 dimana dari nilai itu termasuk kedalam klasifikasi 50-70 yang merupakan katagori cukup baik untuk berjalan. Kawasan Plaza Sukaramai-Mall Pekanbaru khususnya di depan Plaza Sukaramai memiliki tingkat pelayanan yang rendah yaitu C untuk Plaza Sukaramai 1 dan D untuk Plaza Sukaramai 2. [EN] The effective wide performance of the sidewalks of the Sudirman street in the Plaza Sukaramai-Mall Pekanbaru area is disrupted due to obstacles to street vendors and parking from shop visitors. Moreover, this area is a shopping area which is one of the places where pedestrians routinely are quite active. The sidewalks in the Plaza Sukaramai-Mall Pekanbaru area should have pedestrian paths in good condition and equipped with adequate facilities. However, seen from the existing condition of the pedestrian pathway in the Plaza Sukaramai-Mall Pekanbaru area, it is not sufficient. Therefore, it is necessary to evaluate how to develop pedestrian paths with the concept of a walkable city. This study uses the guidelines of the Minister of Public Works Regulation No. 03 / PRT / M / 2014 to find out the effective width of the area that has met standards, and the walkability index to determine the area assessment based on guidelines from walkability, as well as the level of pedestrian service which refers to the HCM 2000 guidelines and the Minister of Public Works Regulation No. 03 / PRT / M / 2014. This type of research is quantitative descriptive in measuring / assessing the quality of pedestrian facilities.The results showed that 5 of the 9 segments in the Plaza Sukaramai-Mall Pekanbaru area still have an inadequate effective width for pedestrians during peak hours. The sidewalks in the area of Plaza Sukaramai-Mall Pekanbaru have a walkability score of 54.94 which of this value is included in the 50-70 classification which is a fairly good category for walking. The Plaza Sukaramai-Mall Pekanbaru area, especially in front of Plaza Sukaramai, has a low level of service, namely C for Plaza Sukaramai 1 and D for Plaza Sukaramai 2.
Rona Muliana, Puji Astuti, Akmal Fadli
Published: 25 April 2018
JURNAL SAINTIS, Volume 18, pp 59-72; doi:10.25299/saintis.2018.vol18(1).2846

Abstract:
[ID] Pusat-pusat pelayanan merupakan suatu aglomerasi dari berbagai kegiatan atau aktivitas serta aglomerasi dari berbagai prasarana dan sarana yang dapat menunjang pertumbuhan dan perkembangan wilayah. Pembangunan pusat-pusat pelayanan selain untuk memenuhi kebutuhan masyarakat juga diharapkan mampu mendukung pengembangan wilayah. Adapun tujuan penelitian ini adalah: (1) mengidentifikasi struktur pusat-pusat pelayanan di Kabupaten Kampar berdasarkan RTRW Kabupaten Kampar; (2) mengidentifikasi struktur pusat-pusat pelayanan di Kabupaten Kampar berdasarkan analisis skalogram dan indeks sentralitas; (3) menyusun rekomendasi struktur pusat-pusat pelayanan di Kabupaten Kampar. Metode penelitian adalah deduktif kuantitatif dengan menggunakan analisis skalogram dan indeks sentralitas. Hasil penelitian menunjukkan Dari draft RTRW Kabupaten Kampar dengan hasil analisis skalogram dan indeks sentralitas terdapat perbedaan struktur pusat-pusat pelayanan. Dari analisis skalogram dan indeks sentralitas tidak terdapat hirarki II dan hirarki III sehingga terjadi pemusatan fasilitas pada hirarki 1 yakni Kota Bangkinang sebagai ibukota Kabupaten. Setelah dibandingkan struktur pusat-pusat pelayanan di Kabupaten Kampar berdasarkan draft RTRW dengan analisis skalogram dan indeks sentralitas, maka direkomendasikan struktur pusat-pusat pelayanan di Kabupaten Kampar terdiri dari 5 hirarki yaitu hirarki I berada di Kecamatan Bangkinang Kota, hirarki II berada di Kecamatan Tapung, Kampar Kiri, Siak Hulu, dan Tapung Hulu, hirarki III berada di Kecamatan Tapung Hilir, Kampar Kiri Hilir, dan XIII Koto Kampar, hirarki IV berada di Kecamatan Bangkinang, Gunung Sahilan, Perhentian Raja, Salo, dan Kampar, hirarki V berada di Kecamatan Kampar Kiri Tengah, Rumbio Jaya, Kuok, Kampar Timur, Koto Kampar Hulu, Tambang, Kampar Utara, dan Kampar Kiri Hulu. [EN] Service centers are an agglomeration of various activities or activities as well as agglomeration of various infrastructure and facilities that can support the growth and development of the region. The development of service centers in addition to meeting the needs of the community is also expected to be able to support regional development. The objectives of this study are: (1) to identify the structure of service centers in Kampar Regency based on the Kampar Regency RTRW; (2) identifying the structure of service centers in Kampar District based on a scalogram analysis and centrality index; (3) prepare recommendations for the structure of service centers in Kampar District. The research method is quantitative deductive using scalogram analysis and centrality index. The results showed that from the draft of the Kampar District RTRW with the results of the scalogram analysis and the centrality index there were differences in the structure of the service centers. From the scalogram analysis and the centrality index there is no hierarchy II and hierarchy III so that there is a centralization of facilities in hierarchy 1 namely the City of Bangkinang as the capital of the Regency. After comparing the structure of the service centers in Kampar Regency based on the draft RTRW with a scalogram analysis and centrality index, it is recommended that the structure of the service centers in Kampar Regency consist of 5 hierarchies namely hierarchy I is in Bangkinang Kota District, hierarchy II is in Tapung District, Kampar Kiri, Siak Hulu, and Tapung Hulu, hierarchy III is in Tapung Hilir District, Kampar Kiri Hilir, and XIII Koto Kampar, hierarchy IV is in Bangkinang District, Mount Sahilan, Perhentian Raja, Salo, and Kampar, hierarchy V is in Kecamatan Subdistrict Kampar Kiri Tengah, Rumbio Jaya, Kuok, Kampar Timur, Koto Kampar Hulu, Tambang, Kampar Utara, and Kampar Kiri Hulu.
Firdaus Firdaus, Febby Asteriani, Anissa Ramadhani
Published: 30 October 2018
JURNAL SAINTIS, Volume 18, pp 89-108; doi:10.25299/saintis.2018.vol18(2).3191

Abstract:
[ID] Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui karakteristik, tipologi, dan tingkat urban sprawl yang terjadi di Kota Pekanbaru. Sampel penelitian sejumlah 99 dari 7.646 jumlah bangunan yang terdigitasi. Mengetahui karakteristik dan tipe urban sprawl digunakan analisis deskriptif dengan pendekatan spasial dan untuk tingkat urban sprawl dilakukan dengan pemberian scoring pada variable urban sprawl. Hasil penelitian menunujukkan bahwa karakteristik urban sprawl dicirikan dengan penggunaan lahan terpisah yang terletak jauh dari pusat-pusat permukiman, kepadatan penduduk rendah sekitar 4.499 jiwa/km2, penggunaan mobil pribadi yang tinggi pada jam sibuk yakni sebesar 5.945 unit setiap hari. Tipe urban sprawl yang dominan adalah perembetan memanjang dan perembetan meloncat terjadi pada jalan arteri maupun kolektor, sedangkan perembetan meloncat terjadi di beberapa kelurahan. Kelurahan Delima dan Kelurahan Tuah Karya termasuk pada tipologi ke-1 dengan tingkat urban sprawl rendah, dan tipologi ke-2 dengan tingkat urban sprawl sedang terjadi di Kelurahan Sidomulyo Barat, sedangkan Kelurahan Simpang Baru termasuk pada tipologi ke-3 dengan tingkat urban sprawl tinggi. [EN] This study aims to determine the characteristics, typology, and levels of urban sprawl that occur in the city of Pekanbaru. The study sample numbered 99 out of 7,646 numbers of digitalized buildings. Knowing the characteristics and types of urban sprawl used descriptive analysis with a spatial approach and for the level of urban sprawl carried out by giving scoring to urban sprawl variables. The results of the study show that the characteristics of urban sprawl are characterized by separate land uses located far from residential centers, low population density of around 4,499 people / km2, high private car use during peak hours which is 5,945 units per day. The dominant type of urban sprawl is longitudinal infiltration and jumping leaks that occur on arterial roads and collectors, while leachates jump in several villages. The Delima and Tuah Karya Villages included in the 1st typology with a low level of urban sprawl, and the second typology with the level of urban sprawl was occurring in Sidomulyo Barat Village, while the Simpang Baru Village was included in the 3rd typology with high urban sprawl.
Anggi Suryani, Sri Hartati Dewi, Harmiyati Harmiyati
Published: 25 September 2018
JURNAL SAINTIS, Volume 18, pp 43-54; doi:10.25299/saintis.2018.vol18(2).3150

Abstract:
[ID] Penggunaan konstruksi beton diminati karena beton memiliki sifat-sifat yang menguntungkan seperti ketahanannya terhadap api, awet, kuat tekan yang tinggi dan dalam pelaksanaannya mudah untuk dibentuk sesuai dengan bentuk yang dikehendaki. Tetapi konstruksi beton juga mempunyai kelemahan-kelemahan antara lain kemampuan menahan kuat lentur yang rendah sehingga konstruksinya mudah retak jika mendapatkan regangan lentur. Hal ini menjadikan pengujian kuat lentur beton sebagai persyaratan dalam penerimaan hasil pekerjaan. Namun disisi lain dalam hal pembuatan campuran beton yang selama ini mengacu pada kuat tekan, menjadi tantangan bagi pelaksana yang harus melakukan perencanaan beton (mix design) dan trial mix terlebih dahulu, sehingga perlu dilakukan pengkoreksian. Sehingga penelitian ini bermaksud untuk memperoleh hasil kuat lentur dan kuat tekan beton dengan menghasilkan nilai korelasi kuat lentur beton terhadap kuat tekan beton sesuai kuat lentur dan kuat tekan yang direncanakan maupun disyaratkan. Penelitian ini menggunakan metode Departemen of Environment (DoE) dalam SNI 03-2834-2000 untuk mix design beton. Perencanaan mutu beton K-500 dan kuat lentur rencana fs = 45 kg/ (4,4 MPa) dengan penggunaan bahan tambah superplaticizer 0,5% merk TanCem 20 RA dengan benda uji balok, silinder, dan kubus, dengan slump rencana 30-60 mm. hasil penelitian bahwa pada perawatan 14 dan 28 hari diperoleh hasil pengaruh terhadap beton tanpa superplaticizer 0,5% dengan beton penggunaan bahan tambahan superplaticizer 0,5% terjadi peningkatan pada perawatan 14 hari dengan benda uji balok sebesar 3,26% dan kubus sebesar 22,25%. Peningkatan pada perawatan 28 hari benda uji balok sebesar 3,36%, silinder sebesar 8,09% dan kubus sebesar 7,56%. Terjadi penurunan pada perawatan 14 hari dengan benda uji silinder sebesar 3,21%. Hasil korelasi kuat lentur dengan kuat tekan beton benda uji balok dan silinder, dari hasil mendapatkan nilai korelasi pada perawatan 14 hari tanpa dan dengan tambahan zat addiktif superplaticizer 0,5% didapat persamaan bahwa fs = K√f'c : nilai K sebesar 0,96 dan 0,87, sedangkan pada perawatan 28 hari tanpa dan dengan tambahan zat addiktif superplaticizer 0,5% didapat persamaan bahwa fs = K√f'c : nilai K sebesar 0,86 dan 0,99, maka dapat disimpulkan dari hasil penelitian ini nilai korelasi kuat lentur beton dengan kuat tekan beton bahwa berhubungan sangat kuat yang mana nilai koefisien korelasi di antara 0,80 sampai 1,00. [EN] The use of concrete construction is desirable because concrete has beneficial properties such as resistance to fire, durability, high compressive strength and in its implementation it is easy to be formed in accordance with the desired shape. But concrete construction also has weaknesses such as the ability to hold low flexural strength so that the construction is easily cracked if it gets a flexible strain. This makes testing the flexural strength of concrete as a requirement in receiving work results. But on the other hand in terms of making concrete mixes which have been referring to compressive strength, it is a challenge for implementers who have to do concrete planning (mix design) and trial mix first, so correction is necessary. So that this study intends to obtain the results of flexural strength and compressive strength of concrete by producing a correlation value of the flexural strength of the concrete to the compressive strength of the concrete according to the flexural strength and compressive strength planned or required. This study uses the Department of Environment (DoE) method in SNI 03-2834-2000 for concrete mix design. Planning the quality of K-500 concrete and planned flexural strength fs = 45 kg / cm ^ 2 (4.4 MPa) with the use of added ingredients 0.5% superplaticizer TanCem 20 RA brands with beam specimens, cylinders and cubes, with slump plans 30-60 mm. The results of the study showed that the treatment of 14 and 28 days obtained the effect of concrete without a 0.5% superplaticizer with concrete using 0.5% superplaticizer was increased in 14 days treatment with beam specimens of 3.26% and cube of 22, 25%. The increase in the 28-day treatment of beam specimens was 3.36%, cylinders were 8.09% and cubes were 7.56%. There was a decrease in 14-day treatment with cylindrical specimens of 3.21%. The results of the correlation of flexural strength with concrete compressive strength of beam and cylinder specimens, from the results of obtaining a correlation value on treatment 14 days without and with additional additives 0.5% superplaticizer obtained the equation that fs = K√f'c: K value of 0 96 and 0.87, while the 28-day treatment without and with additional additives of 0.5% superplaticizer obtained the equation that fs = K√f'c: K value of 0.86 and 0.99, it can be concluded from the results of the study This correlation value of concrete flexural strength with concrete compressive strength is very strongly related where the correlation coefficient value is between 0.80 to 1.00.
Muhammad Ilham Maulana
Published: 28 November 2019
JURNAL SAINTIS, Volume 19, pp 89-94; doi:10.25299/saintis.2019.vol19(2).3185

Abstract:
[ID] Ketergantungan manusia terhadap teknologi memasuki Revolusi Industri 4.0 sangat tinggi. Contoh penerapan inovasi di bidang teknologi informasi salah satunya adalah superkomputer dari material superkonduktor. Material superkonduktor identik dengan material non ferromagnetik karena sifatnya diamagnetis sempurna. Namun, sejak ditemukannya material superkonduktor berbasis logam ferromagnetik, penelitian terus dikembangkan, salah satunya material FeSe. Beberapa parameter yang perlu diperhatikan pada pembuatan material FeSe untuk memperoleh sifat superkonduktor terbaiknya diantaranya komposisi stoikiometri, penambahan doping, dan proses pembuatan material FeSe seperti proses pemaduan dan sintering. Dalam penelitian ini, pengaruh variasi doping Mg akan dianalisis terhadap sifat superkonduktor, morfologi, dan fasa yang terbentuk pada material superkonduktor FeSe. Material FeSe dibuat dengan metode reaksi padatan dalam tabung tertutup (Powder in Sealed Tube) secara insitu. Temperatur sintering yang digunakan 845⁰C yang ditahan selama 6 jam, dengan kenaikan temperatur 7⁰C/menit dari temperatur kamar, dan laju pendinginan normalizing. Kandidat material superkonduktor terbaik terdapat pada sampel Mg0.01Fe0.99Se. Didapatkan Temperatur kritis (Tc)onset = 15.42 K dan Tczero = 5.4 K. Morfologi sampel menunjukkan kristalisasi besar. Lalu, persentase fraksi volume fasa superkonduktornya juga merupakan yang terbesar yaitu 81.99%. [EN] Human dependence on technology into the Industrial Revolution 4.0 is very high. Example, the application of innovations in information technology is supercomputer from superconducting materials. Superconducting materials are identical from non-ferromagnetic materials because tend perfectly diamagnetic. However, since ferromagnetic-metal-based superconducting material discovered, research continues to be developed, like FeSe material. Some parameters that need to be considered in making FeSe material to obtain the best superconductor properties include stoichiometric composition, doping addition, and process of making FeSe materials like synthesis and sintering treatment. In this study, the effect of Mg-doped variations will be analyzed towards properties of superconductors, morphology, and phases formed in FeSe superconducting materials. MgxFe1-xSe made by solid-state reaction method in sealed tube (Powder in Sealed Tube) “insituely”. The sintering temperature used 845⁰C which held for 6 hours, with 7⁰C/minute temperature rise from room-temperature and normalizing cooling rate used. The best candidate superconducting material came from Mg0.01Fe0.99Se, obtained critical temperature (Tc)onset = 15.42 K, and Tczero = 5.4 K. Sample morphology shows a large crystallization. Then, the percentage fraction of the superconducting phase was also the largest, which is 81.99%.
Alamsyah Alam, Bebeto Fandi Birana
Published: 28 November 2019
JURNAL SAINTIS, Volume 19, pp 41-50; doi:10.25299/saintis.2019.vol19(2).3455

Abstract:
[ID] Banyak wisatawan yang berkunjung di Kepulauan Derawan, sebagian besar melakukan kegiatan penyelaman. Namun, jumlah kunjungan ini tidak diimbangi dengan sarana transportasi laut yang layak teknis dan layak laut. Tujuan penelitian ini yakni menemukan data-data berupa ukuran utama, rencana garis, dan rencana umum desain kapal katamaran. Metodelogi yang digunakan dalam penelitian ini yakni dengan Trend Curve Approach dan optimasi desain dengan software Maxurf Modeler Advanced. Hasil penelitian yang didapat adalah ukuran utama kapal dengan rincian sebagai berikut; L = 21m, B =10m, B1 =2.4m, H = 5m, T = 2m, Vs = 10 knot, Cb = 0.33, Daya Mesin = 86 HP (Untuk 1 Mesin), Jumlah Penumpang dan Kru = 87 Orang. [EN] Many tourists visiting the Derawan Islands, most do diving. However, the number of visits is not balanced with the means of sea transportation that is technically feasible and seaworthy. The purpose of this study was to find data in the form of main dimention, lines plan, and general arragement for the design of glass bottom catamaran vessels. The methodology used in this study is the Trend Curve Approach and design optimization with Maxurf Modeler Advanced software. The results of the research obtained are the main size of the ship obtained as follows; L = 21m, B = 10m, B1 = 2.4m, H = 5m, T = 2m, Vs = 10 knots, Cb = 0.33, Engine Power = 86 HP (For 1 Machine), Number of Passengers and Crew = 87 Persons.
Astuti Boer
Published: 28 November 2019
JURNAL SAINTIS, Volume 19, pp 51-60; doi:10.25299/saintis.2019.vol19(2).3917

Abstract:
[ID] Pembangunan Menara Bank Rakyat Indonesia Pekanbaru didukung dengan core wall yang merupakan struktur beton bertulang vertikal berbentuk dinding dirancang untuk menahan gaya geser, gaya lateral. Keterlambatan penyelesaian pekerjaan core wall akan mempengaruhi siklus floor to floor pembangunan bangunan yang akan berdampak pada biaya proyek, maka dibutuhkan suatu metode bekisting yang dapat memberikan dampak yang signifikan dinilai dalam hal efektif dan efisiennya dalam pekerjaan core wall. Oleh karena itu dilakukan penelitian tentang tingkat efisiensi biaya pekerjaan bekisting core wall. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui biaya yang dibutuhkan pada pekerjaan bekisting core wall dengan menggunakan metode konvensional, semi sistem dan climbing system dan menentukan tingkat efisiensi biaya pada pekerjaan bekisting struktur core wall menggunakan semi sistem dan climbing system dibanding konvensional. Metode pada penelitian ini adalah analisa biaya pekerjaan bekisting struktur core wall menggunakan konvensional, semi sistem dan climbing system, untuk pengerjaan struktur bangunan menggunakan sistem zona untuk waktu penyelesaian pekerjaan struktur setiap lantai selama 5 hari, dengan analisa yang terdiri dari analisa kebutuhan material dan alat bekisting, analisa kebutuhan pekerja, analisa upah harian pekerjaan, analisa upah borongan pekerjaan, analisa parameter pendukung harga satuan, analisa harga satuan bekisting, perhitungan biaya total pekerjaan bekisting. Berdasarkan hasil analisa perhitungan diperolehlah total biaya pekerjaan bekisting core wall untuk metode konvensional dengan upah harian sebesar Rp160.981.400,00 dan dengan upah borongan sebesar Rp91.522.980,00 dan untuk metode semi sistem dengan upah harian sebesar Rp125.592.380,00 dan dengan upah borongan sebesar Rp67.751.640,00 sedangkan untuk metode climbing system dengan upah harian sebesar Rp126.062.350,00 dan dengan upah borongan sebesar Rp90.485.000,00 dan tingkat efisiensi biaya pekerjaan bekisting struktur core wall untuk perbandingan menggunakan konvensional dengan semi sistem sebesar 25,97 % dan untuk perbandingan menggunakan konvensional dengan climbing system sebesar 1,13 %.
Sapitri Ap, Firdaus Firdaus
Published: 30 October 2019
JURNAL SAINTIS, Volume 19, pp 79-88; doi:10.25299/saintis.2019.vol19(02).3904

Abstract:
[ID] Waste merupakan salah satu penyebab rendahnya produktivitas. Besarnya potensi waste tentu saja akan merugikan owner ataupun kontraktor. Waste pada industri perumahan dapat mempengaruhi nilai jual rumah itu sendiri. Potensi waste material yang muncul pada proses pembangunan, penting untuk diidentifikasi dan dicari penyebabnya. Tujuan dari penelitian ini adalah mengidentifikasikan waste pada industri konstruksi (proyek perumahan) beserta sumber penyebab waste tersebut. Penelitian bersifat kuantitative dan data primer dikumpulkan dengan bantuan instrument kuesioner. Responden yang terlibat seluruhnya adalah pengawas lapangan/penanggung jawab lapangan proyek perumahan. The Statistical Package for Social Sciences (SPSS) dan fishbone diagram digunakan sebagai alat analisis variable dan indikator penyebab waste. Secara keseluruhan, hasil identifikasi penelitian menunjukkan bahwa material yang berpotensi ditemui pada proyek pembangunan perumahan di Pekanbaru yaitu material kayu dan batu bata (berpotensi sedang), material keramik, genteng, besi beton, cat, tanah, batu, pasir dan plesteran (berpotensi rendah) dan, cardboard packaging, plastic, kaca, metal, aspal dan plafond (berpotensi sangat rendah). Terdapat beberapa variable penyebab waste. Variabel-variabel tersebut terkait dengan sumber daya yang dibutuhkan selama proses pengerjaan proyek. Sumber penyebab waste yang berkonstribusi selama proses produksi secara signifikan dipengaruhi oleh variable: alat/mesin sebesar 0.885, metode kerja sebesar 0.873, material sebesar 0.866, manpower sebesar 0.821, dan lingkungan sebesar 0.808. Satu sumber variable dapat mempengaruhi variable yang lain, sehingga sangat penting untuk memperhatikan penyebab waste agar produktivitas pekerjaan dilapangan tidak terganggu. [EN] Waste is one of the causes of low productivity. The potential of waste will certainly harm the owner or contractor. Waste in housing industry can affect the sale price of the house. The potential of material waste in construction process is important to identify and need to find its cause. The purpose of this study is to identify waste in the construction industry (housing project) along with the source of the cause of the waste. Quantitative research is conducted and primary data were collected with questionnaire as the instrument. All respondents involved were supervisor. The Statistical Package for Social Sciences (SPSS) and fishbone diagrams are used as a tool for analyzing variables and indicators of the causes of waste. Overall, the result of research identification shows that the potential material in housing construction projects in Pekanbaru, namely wood and brick material (medium potential), ceramic, roof tile, steel, paint, soil, stone, sand and plastering (low potential) and, cardboard packaging, plastic, glass, metal, asphalt and ceiling (very low potential). There are several variables that cause waste. These variables are related to the resources that needed during the...
Alamsyah Alam, Bebeto Fandi Birana
Published: 30 October 2019
JURNAL SAINTIS, Volume 19, pp 41-50; doi:10.25299/saintis.2019.vol19(02).3455

Abstract:
[ID] Banyak wisatawan yang berkunjung di Kepulauan Derawan, sebagian besar melakukan kegiatan penyelaman. Namun, jumlah kunjungan ini tidak diimbangi dengan sarana transportasi laut yang layak teknis dan layak laut. Tujuan penelitian ini yakni menemukan data-data berupa ukuran utama, rencana garis, dan rencana umum desain kapal katamaran. Metodelogi yang digunakan dalam penelitian ini yakni dengan Trend Curve Approach dan optimasi desain dengan software Maxurf Modeler Advanced. Hasil penelitian yang didapat adalah ukuran utama kapal dengan rincian sebagai berikut; L = 21m, B =10m, B1 =2.4m, H = 5m, T = 2m, Vs = 10 knot, Cb = 0.33, Daya Mesin = 86 HP (Untuk 1 Mesin), Jumlah Penumpang dan Kru = 87 Orang. [EN] Many tourists visiting the Derawan Islands, most do diving. However, the number of visits is not balanced with the means of sea transportation that is technically feasible and seaworthy. The purpose of this study was to find data in the form of main dimention, lines plan, and general arragement for the design of glass bottom catamaran vessels. The methodology used in this study is the Trend Curve Approach and design optimization with Maxurf Modeler Advanced software. The results of the research obtained are the main size of the ship obtained as follows; L = 21m, B = 10m, B1 = 2.4m, H = 5m, T = 2m, Vs = 10 knots, Cb = 0.33, Engine Power = 86 HP (For 1 Machine), Number of Passengers and Crew = 87 Persons.
Fiqri Fansyuri Saragih, Ari Sandhyavitri, Hendra Taufik
Published: 26 April 2020
JURNAL SAINTIS, Volume 20, pp 53-60; doi:10.25299/saintis.2020.vol20(01).4494

Abstract:
[EN] It was acknowledged that, the Hang Nadim International Airport’s aircraft movements increased significantly at recent 10 years period. The shift in aircraft dimensions and weights have raised questions whether or not the existing apron pavement dimensions are sufficient for accommodating the increase aircraft parking demands and to bear aircraft load changes. The purpose of this research is to evaluate and analyze the apron dimensions and pavement thickness at Hang Nadim Airport. This research was used two relevant methods as guidelines for calculating this apron dimension and thickness; ICAO (International Civil Aviation Organization) Anex 14 2013 and FAA (Federal Aviation Administration) 150/5320-6d. It was calculated that the apron dimension need to be expanded to 1600 m x 150 m for accommodating 31 aircraft parking in 2025 (11 units B747- 300 + 16 units B737-900 + 4 units F27). The apron thickness would be 46.2 cm of base course and 10 cm of subbase course.
Page of 5
Articles per Page
by
Show export options
  Select all
Back to Top Top