Refine Search

New Search

Results in Journal Jurnal Planoearth: 45

(searched for: journal_id:(4183335))
Page of 1
Articles per Page
by
Show export options
  Select all
Zulfan Asri Ramdani
Jurnal Planoearth, Volume 5, pp 1-6; doi:10.31764/jpe.v5i1.1639

Abstract:
Pariwisata saat ini menjelma menjadi suatu industri yang secara aktif dipromosikan menjadi mesin penggerak ekonomi. Kawasan ekonomi khusus (KEK) merupakan salah satu pengembangan pariwisata yang dilakukan pemerintah untuk menggerakkan ekonomi masyarakat Salah satu kawasan ekonomi khusus yang berkaitan dengan pengembangan pariwisata adalah kawasan ekonomi khusus Mandalika yang berlokasi di kabupaten Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji mengenai institutional setting pengembangan Kawasan Ekonomi Khusus Mandalika untuk melihat cakupannya dan dampaknya untuk kawasan tersebut. Kategori yang akan dibahas pada penelitian ini adalah spasial dan pariwisata. Pendekatan yang dilakukan dalam penelitian ini adalah pendekatan kualitatif dengan teknik pengumpulan data dilakukan melalui wawancara dan observasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemerintah kabupaten Lombok Tengah sebagai aktor pengembangan Kawasan Ekonomi Khusus Mandalika yang berperan paling besar dibandingkan level pemerintah yang lainnya. Hal ini bisa terlihat pada institutional setting aspek spasial. Rencana Induk Pengembangan Pariwisata Daerah Kabupaten Lombok Tengah memberikan penjelasan secara detail mengenai pembagian kawasan pariwisata menjadi kawasan pengembangan utara, kawasan pengembangan tengah, dan kawasan pengembangan selatan. Sedangkan peraturan lain yang menyangkut Kawasan Ekonomi Khusus Mandalika hanya membahas mengenai delineasi dan batas-batasnya saja. Tourism is currently transformed into an industry that is actively promoted to be an economic engine. Special economic zones (KEK) is one of the tourism development carried out by the government to drive the community's economy. One of the special economic zones related to tourism development is the Mandalika special economic zone located in Central Lombok regency, West Nusa Tenggara. This study aims to examine the institutional setting for developing the Mandalika Special Economic Zone to see its scope and impact on the region. The categories that will be discussed in this study are spatial and tourism. The approach taken in this research is a qualitative approach with data collection techniques carried out through interviews and observations. The results showed that the Central Lombok district government as an actor in the development of the Mandalika Special Economic Zone played the most role compared to other levels of government. This can be seen in the institutional setting of spatial aspects. Central Lombok Regional Tourism Development Master Plan provides a detailed explanation of the division of tourism areas into northern development areas, central development areas, and southern development areas. While other regulations concerning the Mandalika Special Economic Zone only discuss delineation and its boundaries.
Ardiyanto Maksimilianus Gai
Jurnal Planoearth, Volume 5, pp 45-51; doi:10.31764/jpe.v5i1.2153

Abstract:
Permasalahan sosial, ekonomi dan ekologi pada kawasan pesisir merupakan permasalahan penting yang terikat satu sama lain. Profil perikanan pada Dinas Pertanian Kota Surabaya menunjukkan bahwa tingkat kesejahteraan nelayan dan akses sumber daya manusia di kawasan pesisir rendah.Selain itu, kondisi pesisir semakin menurun akibat adanya perubahan iklim.Konsep pendekatan mengenai penghidupan yang berkelanjutan (sustainable livelihood) merupakan salah satu bentuk metode yang dapat mengatasi permasalahan di wilayah pesisir. Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif, dengan subjek penelitian masyarakat nelayan pesisir di Kota Surabaya.Variabel yang digunakan adalah modal sosial, modal alam, modal fisik, modal manusia dan modal finansial. Hasil penelitian menunjukkan bahwa faktor modal manusia memiliki peranan paling penting dalam rangka meningkatkan kesejahteraan masyarakat nelayan. Sehingga diperlukan konsep dan langkah pemberdayaan sesuai dengan masing-masing variabel terkait penghidupan berkelanjutan (sustainable livelihood). Social, economic, and ecological problems in coastal areas are important issues that are bound to one another. The Fisheries profile at Dinas Pertanian Kota Surabaya shows that the level of fishermen's welfare and access to human resources in the coastal area are low. Besides, coastal conditions are declining due to climate change. The concept of an approach to sustainable livelihood is one method that can overcome problems in coastal areas. This study uses a qualitative descriptive approach with coastal fishing communities in Surabaya City as research subjects. The variables used are social capital, natural capital, physical capital, human capital, and financial capital. The results show that the human capital factor has the most important role to improve the welfare of the fishing community. Therefore, the empowerment concepts and steps are needed in accordance with each variable related to a sustainable livelihood.
Fatirahma Mustafa, Agam Marsoyo
Jurnal Planoearth, Volume 5, pp 35-44; doi:10.31764/jpe.v5i1.1653

Abstract:
Reforestasi merupakan upaya yang dilakukan untuk memperbaiki kondisi tutupan hutan. Tahun 2000, tutupan hutan di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) hanya 17,42% dari luas wilayah DIY yang mencakup tutupan hutan negara dan hutan hak. Tahun 2016, tutupan hutan DIY telah mencapai 31,63% dari luas wilayah DIY. Keberhasilan reforestasi terjadi dalam waktu 16 tahun. Stakeholder yang terlibat memiliki peranan atas keberhasilan reforestasi. Penelitian ini bertujuan untuk merumuskan tipologi peran stakeholder. Metode penelitian yang digunakan adalah metode penelitian induktif kualitatif dengan strategi studi kasus. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat 5 (lima) tipologi peran stakeholder yaitu sebagai pembuat kebijakan, perencana, fasilitator, pelaksana, dan peneliti. Reforestation is a kind of method in order to improve the condition of forest cover. In 2000, the total forest cover area in Yogyakarta Province is 17,42% of the total area of Yogyakarta Province which includes state forest cover and private forest. In 2016, the total of forest cover area in Yogyakarta Province is 31,63% of the total area of Yogyakarta Province. Stakeholders involved in various forms of involvement have a role in the success of reforestation. This study aims to find out the typology of the stakeholder role. The research method was using an inductive qualitative research method with a case study strategy. The results showed that typology roles of stakeholders areas policy creator, planner, facilitator, implementer, and researcher.
Andito Sidiq Swastomo, Doddy Aditya Iskandar
Jurnal Planoearth, Volume 5, pp 7-13; doi:10.31764/jpe.v5i1.1631

Abstract:
Pencapaian target SDG's penyediaan akses air minum bagi seluruh masyarakat membutuhkan usaha dan kerja keras dari pemerintah. Beberapa program pembangunan infrastruktur air minum telah diluncurkan oleh pemerintah guna memenuhi kebutuhan layanan dasar bagi masyarakat khususnya pada wilayah perdesaan. Namun dalam perkembangan pasa konstruksi, SPAM Desa terbangun mengalami perkembangan yang berbeda-beda. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui keberlanjutan sistem penyediaan air minum pedesaan berbasis masyarakat dan faktor-faktor yang mempengaruhi keberlanjutan sistem tersebut. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi kasus. Desain penelitian yang digunakan adalah multikasus olistik dengan dua desa penelitian yaitu Desa Piji dan Desa Gintungan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sistem penyediaan air minum pedesaan dengan pendekatan berbasis masyarakat mempunyai keberlanjutan yang berbeda-beda. Desa dengan keberlanjutan pada aspek sosial, keuangan, lingkungan dan kelembagaan mempunyai tingkat keberlanjutan yang sangat baik sedangkan desa dengan keberlanjutan hanya pada salah satu aspek saja mempunyai tingkat keberlanjutan yang rendah. Hal ini terlihat pada sistem penyediaan air minum di Desa Piji yang mengalami keberlanjutan sebaliknya pada Desa Gintungan tidak terjadi keberlanjutan. Keberlanjutan SPAM Desa sangat dipengaruhi oleh modal sosial dan modal manusia yang dimiliki. Pada kedua desa penelitian, faktor modal sosial yang mempengaruhi berupa jaringan hubungan sosial yang kuat, kepercayaan, dan norma aturan, sedangkan faktor modal manusia yang berpengaruh berupa motivasi, komitmen, efektivitas tim kerja dan kepemimpinan. Achieving the SDG's target of providing access to water for all communities requires effort and hard work from the government. Several water supply infrastructure development programs have been launched by the government to meet basic service needs for the community, especially in rural areas. However, in the development phase of construction, the SPAM Desa was developed experiencing different developments. This study aims to determine the sustainability of the community-based rural water supply system and the factors that influence the sustainability of the system. This research uses a qualitative approach with a case study method. The research design used was an olistic multicase with two research villages namely Piji Village and Gintungan Village. The results showed that the rural water supply system with a community-based approach has a different sustainability. Villages with sustainability in social, financial, environmental and institutional aspects have a very good level of sustainability while villages with sustainability in only one aspect have a low level of sustainability. This can be seen in the water supply system in Piji Village which experiences sustainability whereas in Gintungan Village there is no sustainability. Sustainability of SPAM Desa is strongly influenced by social capital and human capital they have. In the two research villages, social capital influencing factors are in the form of a strong social relations network, trust and rule norms, while influential human capital factors are motivation, commitment, work team effectiveness and leadership.
Baiq Siti Noer Azima, Ardi Yuniarman, Sri Apriani Puji Lestari
Jurnal Planoearth, Volume 5, pp 14-19; doi:10.31764/jpe.v5i1.1873

Abstract:
Koridor Jalan Pejanggik sebagai salah satu koridor utama di Kota Mataram, aktifitas utamanya sangat dipengaruhi oleh kegiatan komersial baik perdagangan formal maupun informal. Sektor perdagangan informal selain memberi dampak secara positif dan dampak negatif bagi kawasan tersebut. Pedagang Kaki Lima menempati pedestrian hingga bahu jalan yang mengakibatkan peralihan ruang aktifitas pejalan kaki ke bahu jalan ditambah kurangnya lahan parkir yang memadai, memberikan dampak berupa kurangnya sirkulasi pada kendaraan yang melewatinya. Tujuan penelitian ini yaitu untuk mengetahui pola aktivitas dan pola penyebaran pedagang kaki lima serta strategi penataan pedagang kaki lima berdasarkan pola aktivitas dan pola penyebarannya. Metode analisis yang digunakan berupa deskriptif kualitatif berdasarkan hasil wawancara, observasi, studi pustaka dan dokumentasi serta menggunakan rumus SWOT dalam menentukan strategi penataannya. Hasil analisa menunjukkan bahwa setiap aktivitas pedagang kaki lima dipengaruhi oleh hubungan langsung atau tidak langsung dengan aktivitas formal di koridor jalan tersebut serta aktivitas ini dipengaruhi oleh waktu berdagangnya. Adapun pola penyebarannya cenderung linier mengikuti pola jalan. Strategi penataan koridor dilakukan dengan mengatur pola parkir, jenis, waktu dan desain sarana usaha pedagang kaki lima. Dalam perencanaan tata ruang Kota Mataram, perlu mengakomodir ruang aktivitas PKL nya, tidak hanya merencanakan lokasi penempatan PKL. Pejanggik Road Corridor as one of the main corridors in Mataram City, Its main activities are heavily influenced by formal such as informal commercial and trade activities. The informal trade sector in addition to positively impacts and negative impacts on the region.Street vendors occupy a pedestrian walk to the shoulder leading to a pedestrian space shifting to the street plus a lack of adequate parking space, impacting the lack of circulation in vehicles passing through them. The purpose of this research is to know the patterns of activity and patterns of spread of street vendors and the arrangement strategies of street vendors based on activity patterns and spread patterns. The method of analysis used is a qualitative descriptive based on the results of interviews, observations, library studies and documentation as well as using the SWOT formula in determining the strategy of the arrangement. The results of the analysis show that every street merchant activity is influenced by a direct or indirect relationship with formal activity in the corridor and this activity is influenced by its trading time. As for the spread pattern it tends to linear following the road pattern. The corridor Setup strategy is done by arranging the parking pattern, type, time and design of the street Hawker Business. In the spatial planning of the City of Mataram, it is necessary to accommodate the space of its street vendors activities, not only to plan the location of the street vendors placement.
Kama Suta, Ekky Irawanto, Holifia Vania Rahmawati, Baiq Harly Widayanti
Jurnal Planoearth, Volume 5, pp 20-24; doi:10.31764/jpe.v5i1.2178

Abstract:
Bencana gempa bumi yang terjadi di berbagai macam kerusakan dan salah satu wilayah yang paling memiliki dampak besar adalah Kabupaten Lombok Utara. Kecamatan Tanjung merupakan salah satu kecampatan yang paling terdampak di Lombok Utara dimana 85% ba Pemerintah daerah dan pusat beserta beberapa lembaga sosial lainnya saling bekerjasama untuk menyelesaikan permasalahan tempat tinggal masyarakat agar mereka cepat kembali memiliki hunian tempat tinggal yang layak. Sehingga tujuan penelitian ini adalah untuk melihat tingkat efektivitas dari model bangunan rumah yang direkomendasikan oleh pemerintah yaitu Rumah Instan Sehat Sederhana Kayu (RIKA). Metode penel menggunakan 6 variabel dan 14 pertanyaan. Hasil dari penelitian tersebut adalah Risha memiliki nilai efektifitas 3,16, Rika memiliki nilai efektifitas 2,97 dan Riko memiliki nilai 2,99. Dari ketiga model rumah ters masyarakat model Risha memiliki tingkat efektifitas yang paling baik diantara ketiga model rumah yang dibiayai oleh pemerintah namun masih masuk dalam kategori cukup efektif. Sama halnya dengan Rika dan Riko masuk dalam kategori nilai cukup efektif menurut pendapat masyarakat. The earthquake that occurred on the island of Lombok has caused various types of damage and one of the areas that has the greatest impact is North Lombok Regency. Tanjung Subdistrict is one of the most affected sub-districts in North Lombok Regency where 85% of its residential buildings are leveled with land.Regional and central governments along with several other social institutions work together to solve community housing problems so that they quickly return to having decent dwellings. So the purpose of this study is to look at the effectiveness of the house building models recommended by the government, namely Simple Healthy Instant Houses (RISHA), Convetional Instant Houses (RIKO) and Wood Instant Houses (RIKA). The research method uses linkert analysis using 6 variables and 14 questions. The results of the study are that Risha has an effectiveness value of 3.16, Rika has an effectiveness alue of 2.97 and Rico has a value of 2.99. Of the three house models, the community opinion of the Risha model shows the best level of effectiveness among the three models of houses that are funded by the government but still fall into the fairly effective category. Similarly, Rika and Riko fall into the value category quite effectively in the opinion of the community.
Adhitya Pratama, Sany Roychansyah, Yori Hergawati
Jurnal Planoearth, Volume 5, pp 25-34; doi:10.31764/jpe.v5i1.1652

Abstract:
Meningkatnya kebutuhan akan tempat tinggal dan terbatasnya lahan pusat kota menggeser pembangunan perumahan ke pinggiran kota. Wilayah pinggiran kota Kendari yakni Kecamatan Baruga, mengalami perkembangan perumahan yang begitu signifikan dan sporadis. Perkembangan perumahan memicu dampak dari segi sosial, konomi, dan lingkungan terhadap masyarakat lokal di sekitar perumahan yang sudah bermukim sebelum adanya perumahan. Penelitian bertujuan untuk mengambarkan proses perkembangan perumahan pada Kecamatan Baruga, sekaligus mengkaji dampak perkembangan perumahan tersebut terhadap masyarakat di sekitar perumahan. Metode yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan pendekatan penelitian campuran (mix method) yaitu penelitian yang menggambungkan antara pedekatan kualitatif dan kuantitatif. Temuan penelitian ini adalah perkembangan perumahan pada Kecamatan Baruga dari aspek ekonomi dan lingkungan tidak memberik dampak positif terhadap masyarakat di sekitar perumahan. Namun dalam aspek sosial perkembangan perumahan berdampak positif terhadap masyarakat di sekitar perumahan. Dari sebelas indikator yang diteliti terkait dampak perkembangan perumahan terhadap kondisi sosial, ekonomi dan lingkungan masyarakat sekitar perumahan. Hanya terdapat empat indikator yang berdampak positif terhadap masyarakat sekitar perumahan, yakni peningkatan kegiatan sosial, peningkatan hubungan sosial, peningkatan kualitas hidup sosial, peningkatan ketersediaan lampu jalan dan peningkatan pelayanan persampahan. Sedangkan enam indikator lainnya tidak berdampak signifikan lebih baik terhadap masyarakat sekitar perumahan yakni peningkatan pendapatan, peningkatan peluang pekerjaan, perubahan mata pencaharian, peningkatan pemamfaatan perumahan sebagai tempat usaha, peningkatan kondisi jalan, dan peningkatan kondisi drainse. The increasing need for housing and limited land in urban center shifts housing development to the suburbs. The suburb of Kendari, Baruga District, experienced significant and sporadic housing developments. The development of housing triggers social, economic, and environmental impacts on local communities around housing that had settled before housing developed there. This research aims to describe the process of housing development in the Baruga District, as well as assess the impact of housing development on the community around the housing. The method used in this study uses a mixed method research approach, which is a research that combines qualitative and quantitative approaches. The findings of this study are the development of housing in Baruga Subdistrict from the economic and environmental aspects does not have a positive impact on the community around housing development. But in the social aspects of housing evelopment has a positive impact on the community around housing development. Eleven indicators examined related to the impact of housing development on social, economic and environmental conditions of the community around housing. There are only four indicators that have a positive impact on the community around housing development, which are increasing social activities, improving social relations, improving the quality of social life, increasing the availability of street lights and improving waste services. While the other six indicators did not significantly impact the community around housing development, which are increased income, increased employment opportunities, changes in livelihoods, increased use of housing as a place of business, improved road conditions, and improved drainage conditions.
Linda Dwi Rohmadiani
Jurnal Planoearth, Volume 5, pp 52-56; doi:10.31764/jpe.v5i1.1267

Abstract:
Daerah rentan banjir adalah daerah yang berpotensi tinggi untuk terlanda banjir. Tingkat kerentanan banjir dapat ditentukan berdasarkan curah hujan, kelerengan lahan, struktur tanah dan penggunaan atau tutupan lahan. Wilayah Gresik Selatan merupakan daerah periphery Kota Surabaya tertutama untuk bidang perumahan. Tujuan penelitian ini adalah menganalisis tingkat kerentanan banjir berdasarkan tingkat urban sprawl dengan menggunakan metode skoring, overlay dan crastabulation. Metode pengumpulan data dilakukan melalui survei instansi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa wilayah Gresik Selatan 56,6% sangat rentan terhadap banjir yang terdiri atas 3,3% urban sprawl rendah, 36,1% urban sprawl sedang dan 17,2% urban sprawl tinggi. Urban sprawl di wilayah Gresik Selatan tidak bisa dicegah tetapi pemerintah perlu antisipasi dampaknya terhadap lingkungan, lalu lintas, sosial dan ekonomi. Flood prone areas are areas with high potential for flooding. Flood susceptibility can be determined based on rainfall, slope, soil structure and land use or cover. South Gresik Region is the periphery of Surabaya City especially in the housing sector. The purpose of this study is to analyze the level of flood vulnerability based on the level of urban sprawl by using scoring, overlay and crastabulation methods. The method of data collection is done through agency surveys. The results showed that 56.6% of South Gresik area was very vulnerable to flooding which consisted of 3.3% low urban sprawl, 36.1% medium urban sprawl and 17.2% high urban sprawl. Urban sprawl in the South Gresik region cannot be prevented but the government needs to anticipate its impact on the environment, traffic, social and economy.
, Nur Syam As, Fadhil Surur
Published: 28 November 2019
Jurnal Planoearth, Volume 4, pp 81-88; doi:10.31764/jpe.v4i2.1025

Abstract:
Peningkatan jumlah penduduk Kota Makassar dari tahun 2014-2016 berbanding lurus dengan peningkatan jumlah kematian sehingga kebutuhan lahan untuk pemakaman tiap tahunnya. Tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui besar ambang batas lahan pemakaman umum Islam di Kota Makassar dan menyusun arahan perencanaan dalam pengembangan pemenuhan kebutuhan lahan pemakaman ditinjau dari aspek tata ruang. Metode yang digunakan adalah analisis deskriptif, proyeksi penduduk dan daya tampung sebagai ambang batas lahan pemakaman. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa ambang batas lahan pemakaman umum Islam di Kota Makassar masih mampu menampung jumlah kematian hingga tahun 2023 dengan sistem normal sedangkan untuk sistem tumpuk mampu menampung hingga tahun 2029. Arahan perencanaan dalam pengembangan pemenuhan kebutuhan lahan pemakaman ditinjau dari aspek tata ruang dengan pengoptimalisasian lahan pemakaman, sistem penumpukan makam, hutang lindung sebagai tempat pemakaman umum, pemakaman berdiri, pemindahan makam, pembuangan abu kremasi, pemakaman terpadu dan ideal.
Published: 28 November 2019
Jurnal Planoearth, Volume 4, pp 58-67; doi:10.31764/jpe.v4i2.947

Abstract:
Di Kota Malang terdapat kampung tematik di TPU Kasin yaitu kampung Kramat.Kampung ini telah ada sejak 50 tahun lalu dan dulu dikenal sebagai kampung pelarian. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mencari tahu tentang pola kehidupan social masyarakat Kampung Kramat, dengan mendalami hal-hal terkait cara masyarakat kampung Kramat bertahan hidup ditengah-tengah lingkungan pemakaman, pola hubungan antara masyarakat yang satu dengan yang lain di Kampung Kramat, proses transformasi Kampung Kramat dari Kampung pelarian menjadi Kampung tematik dan basis keberadaan dan keberlanjutan Kampung Kramat. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah deksriptif-induktif-kualitatif dengan pendekatan fenomenologi. Pendekatan ini digunakan untuk menggali konsep warga Kampung Kramat bertahan hidup dan cara mereka mempertahankan kampungnya hingga sekarang menjadi kampung tematik. Hasilnya, kampung dapat bertahan keberadaannya karena memiliki konsep meruang-berkehidupan yang kontekstual-kompleks. Konsep-konsep ini menjadi pilar-pilar penyokong keberadaan dan keberlanjutan Kampung Kramat. Adanya studi ini diharapkan dapat menjadi pertimbangan khusus mengenai arahan pemberdayaan kampung kota melalui konsep tematik agar dapat lebih mengena dan berdaya guna. Khususnya bagi kampung yang terletak di area pemakaman. In Malang regency, there is a thematic village in TPU Kasin namely Kramat Village. This village has existed since 50 years ago and was once known as an escape village. The purpose of this research is to find out about the social life pattern of the people of Kampung Kramat, by exploring the things related to the way the village of Kramat survive amid the funeral environment, the pattern of relationship between Community that is one with the other in Kampung Kramat, the transformation process of Kampung Kramat from the runaway village becomes the thematic village and base of the existence and sustainability of Kampung Kramat. The method used in this research is a-inductive-qualitative dexsriptif with a phenomenological approach. This approach is used to excavate the concept of villagers survive and the way they defend their village is now a thematic village. As a result, the village can survive its existence because it has a contextual-complex living concept. These concepts are the pillars of the existence and sustainability of Kampung Kramat. The existence of this study is expected to be a specific consideration of the direction of empowerment of village city through thematic concept to be more effective and effective. Especially for the village located in the burial area.
Musfira Musfira, Harina H.Ohee
Published: 28 November 2019
Jurnal Planoearth, Volume 4, pp 89-94; doi:10.31764/jpe.v4i2.692

Abstract:
Land problems in urban areas are very complex land issues, high rates of population growth, accompanied by the construction of residential areas, industrial estates and shopping areas which have led to increasing demands for land supply. In line with land use and urban land development, it causes frequent conflicts or land problems. The Nontrol Village of East Sentani District is one of the villages that has a Sago Forest Land which is protected by the Sago Forest Protection Act, and due to water infiltration, the community around the project area is very disturbed by the existence of the project and the income from Sagu begins to decrease , fish catches start to decrease, and pollute clean water. The purpose of this study is to identify the factors related to regulation and the issuance of permits for the construction of Residence Residence in Nindung City in the Sago Forest Protected Area. Analyzing the impact of the construction of the Recidence Nendali City housing on the Environment and Social Conditions of the Nontrol Village Community. The analytical method used to answer the research objectives is the descriptive method, where the descriptive method covers repetitive approaches to the object description at the study location. Research is not only limited to the stages of data collection but also includes analysis and processing of data. Whereas in this study began with collective data collection which was carried out through surveys and direct observations on the study sites which previously carried out literature studies as theoretical basic material.
Vincentius Paulinus Baru, Achmad Djunaedi, Yori Herwangi
Published: 28 November 2019
Jurnal Planoearth, Volume 4, pp 68-80; doi:10.31764/jpe.v4i2.1000

Abstract:
Smart village merupakan sebuah konsep yang baru berkembang di dunia dan menjadi fenomena baru digunakan untuk menyelesaikan berbagai permasalahan di desa. Desa Ketapang merupakan salah satu desa di kabupaten Banyuwangi yang telah berhasil mengadopsi konsep ini untuk dikembangkan di wilayah mereka. Dalam penerapannya berhasil digunakan untuk mengatasi berbagai permasalahan yang terjadi di desa. Untuk itu perlu dilakukan penelitian untuk menjelasakan tahapan pengembangan dan faktor-faktor apa saja yang berpengaruh dalam pengembangan konsep ini sehingga berhasil. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi kasus eksploratif berbekal sedikit teori dan mengeksplorasi kasus dilapangan. Hasil dari penelitian ini, tahapan perkembangan smart village terdiri dari empat tahap yaitu tahapan persiapan (2011-2015), tahapan pelaksanaan (Akhir 2015-2016), tahap pengembangan (2017-2018) dan tahap monitoring dan evaluasi. Program kegiatan yang dilakukan dalam tahap persiapan terdiri dari pembangunan infrastruktur TIK dan pengembangan aplikasi layanan, penyiapan sumber daya aparatur pemerintah dan pengembangan komunitas masyarakat.Faktor-faktor yang berpengaruh dalam tahapan pengembangan smart kampung antara lain faktor kepemimpinan, teknologi, dukungan warga dan alokasi anggaran. Smart village is a concept that has just developed in the world and has become a new phenomenon used to solve various problems in the village. Ketapang Village is one of the villages in Banyuwangi district that has successfully adopted this concept to be developed in their area. In its implementation, it was successfully used to overcome various problems that occurred in the village. For this reason, research is needed to explain the stages of development and what factors are influential in developing this concept so that it works. This study uses a qualitative approach with explorative case study methods armed with little theory and explores cases in the field. The results of this study, the stages of development of smart village consist of four stages, namely the preparation stage (2011-2015), the implementation stage (End of 2015-2016), the development stage (2017-2018) and the monitoring and evaluation stages. Factors that influence the stages of smart village development include leadership, technology, citizen support, and budget allocations.The phases of the village smart development of Ketapang consist of the preparation stage (2011- 2015), the stage of implementation (2015-2016), the development stage (2017-2018), and the Monitoring and evaluation stage (in each year). The Program activities conducted in the preparatory phase consist of ICT infrastructure development and Service application development, government apparatus resource preparation and community development.
, Eddy Imam Santoso
Published: 28 November 2019
Jurnal Planoearth, Volume 4, pp 102-110; doi:10.31764/jpe.v4i2.1118

Abstract:
Gresik Regency is an industrial area which is also one of the famous tourist destinations in East Java with a variety of tourism potentials, namely natural tourism, cultural tourism and religious tourism. Religious tourism is spread across several regions in Gresik and is developed to increase regional income. These religious tourism objects include guardian tourism and some Islamic religious tourism. Tourism Sunan Giri and Maulana Malik Ibrahim are two religious tourism objects that are visited by many tourists and become an icon of Gresik City as the Tourism City of Wali. Surowiti Hill Tourism is one of the attractions in Gresik which consists of religious tourism objects consisting of Islamic tombs and religious leaders, and cave-shaped nature tourism. However, in its development, Bukit Surowiti Tourism, which is in contact with Bukit Jamur Tourism and Dalegan Beach Tourism, has not been optimally managed and promoted. This study aims to determine the potential of Surowiti Hill Tourism and then formulate a strategy for developing religious tourism.This research uses exploratory research methods with SWOT analysis techniques. Explorative research is carried out by searching and gathering information to formulate a hypothesis. Research factors and factors that are related to other factors are natural potential and ancestral heritage are Islamic leaders and tombs, as well as the emergence of well-known religious tourism such as Wali Sunan Giri and Maulana Malik Ibrahim Tourism, nature tourism such as Bukit Jamur Tourism and Dalegan Beach Tourism in Gresik , factors of weakness from weather demands, water supply and inadequate accessibility, and safety factors, the lack of community and government support, as well as the increasing industrial development in Gresik. Furthermore, the factors that are expected to be a reference and contribution to local governments in formulating strategies for developing religious tourism in Surowiti Hill.
Ida Soewarni, Novia Sari, Endratno Budi Santosa, Ardiyanto Maksimilianus Gai
Published: 28 November 2019
Jurnal Planoearth, Volume 4, pp 52-57; doi:10.31764/jpe.v4i2.874

Abstract:
Abstrak: Pariwisata merupakan sektor yang mampu meningkatkan pertumbuhan ekonomi masyarakat dengan cepat dalam penyediaan lapangan kerja dan peningkatan penghasilan. Desa Tulungrejo di Kota Wisata Batu, yang merupakan salah satu desa dengan beberapa destinasi wisata yang potensial meningkatkan pertumbuhan ekonomi masyarakat.. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dampak perkembangan pariwisata terhadap ekonomi masyarakat di Desa Tulungrejo. Metode analisa menggunakan deskriptif kuantitatif, yaitu dengan analisis distribusi frekuensi dan analisis regresi linear berganda untuk mengetahui perkembangan pariwisata, kondisi ekonomi, dan dampak perkembangan pariwisata terhadap kondisi ekonomi masyarakat. Berdasarkan hasil penelitian menunjukan bahwa perkembangan pariwisata di Desa Tulungrejo semakin tahunnya meningkat. Hal ini mempengaruhi pendapatan masyarakat, memiliki pengaruh yang sangat signifikan 95,5% terhadap perekonomi masyarakat di Desa Tulungrejo, hal ini menyatakan bahwa semakin tinggi tingkat wisatawan yang datang ke tempat wisata, maka semakin meningkat pula pendapatan masyarakat, yang dihitung menggunakan metode regresi linier berganda. Tourism is a sector which is able to rapidly increase the community economic growth in providing employment and increasing income. Desa Tulungrejo in Kota Wisata Batu (Batu Tourism City), which is one of the villages with several potential tourism destination to increase the community economic growth. This research aims to determine the impact of tourism development on the community economic condition in Desa Tulungrejo. Descriptive quantitative method was employed to analyze the data using frequency distribution analysis and multiple linear regression analysis to determine the development of tourism, economic conditions, and the impact of the tourism development on the community economic condition. Based on the research results, it was shown that the tourism development in Desa Tulungrejo is increasing annually. This affects the community income which has a very significant influence of 95.5% on the community economic condition in Desa Tulungrejo. In addition, the results of multiple linear regression calculation show that the higher the number of tourists coming to tourist destinations, the higher the income of the community.
Agung Hidayat, , Danang Sri Hadmoko
Published: 28 November 2019
Jurnal Planoearth, Volume 4, pp 95-101; doi:10.31764/jpe.v4i2.1145

Abstract:
Indonesia merupakan salah satu negara yang dilalui oleh Cincin Api Pasifik. Lebih dari 400 gunungapi berada pada jalur tersebut dan 130 diantaranya masih aktif hingga sekarang. Erupsi gunungapi menghasikan material dari ukuran kecil (abu, pasir, kerikil) hingga ukuran besar (bongkah). Material –material yang keluar dari vent,sebagian akan diendapkan di dekat ventdan perlahan akan membentuk kerucut gunungapi. Penelitian ini bertujuan untuk memetakan pulau vulkanik kecil di Indonesia yang memiliki gunungapi aktif sejak era Holosen. Selain itu juga untuk menganalisis jumlah pendudukyang berada di pulau vulkanik dan sekitarnya untuk melihat jumlah orang yang potensial terdampak erupsi. Identifikasi pulau vulkanik dilakukan dengan interpretasi visualcitra satelit yang diverifikasi dengan database gunungapipada pulau vulkanik yang dipetakan. Hasil identifikasimenunjukkan ada 22 pulau vulkanik dengan catatan erupsi sejak era Holosen. Sebanyak 16 pulau teridentifikasi masih terdapat gunungapi aktif dan sebanyak 6 pulau teridentifikasi terdapat gunungapi dalam masa istirahat. Potensi penduduk terpapar bahaya erupsi pada radius 5kilometer dari pusat eruspi sebanyak 180.434 orang, radius 10 kilometer dari pusat erupsi sebanyak 373.286 orang, dan radius 30 kilometer dari pusat erupsi sebanyak 1.471.995 orang. Ada kebutuhan yang nyata untuk melakukan kajian tentang bahaya erupsi di pulau vulkanik di Indonesia, dimana penduduk dan kegiatan ekonominya terus mengalami perkembangan, sehingga berpotensi tinggi terpapar bahayaerupsi. Untuk menyusun strategi pengurangan risiko bencana di pulau vulkanik diperlukan pemahaman tentang wilayah bahaya dan kejadian –kejadian erupsi sertadampaknya pada pulau vulkanik Indonesia dimasa lalu.
, Osy Insyan, Nurafifah Nurafifah, Fariz Primadi Hirsan
Published: 28 November 2019
Jurnal Planoearth, Volume 4, pp 111-116; doi:10.31764/jpe.v4i2.970

Abstract:
Pengembangan desa wisata berdasarkan budaya dan potensi alam berkembang pesat di Indonesiadan memberikan pemasukan besar bagi pembangunan. Salah satudesa yang berpotensi dikembangkan sebagai desa wisata adalah Desa Sangiang, Kecamatan Wera, Kabupaten Bima, Provinsi Nusa Tenggara Barat. Penelitian ini bertujuan untuk mencari tahu mengenai permasalahan mendasar terkait pengembangan desa wisata alam dan budaya di Desa Sangiang serta upaya mengatasi permasalahan tersebut, mencari tahu sejauh mana peranan dari masyarakat Desa Sangiang dalam mendukung pengembangan desa wisata Sangiang dan pada akhirnya dari penelitian ini diharapkan dapat menemukan strategi pengembangan desa wisata berbasis wisata alam dan budaya sebagai media promosi Desa Sangiang.Adapun metode yangdigunakan dalam analisis adalah deskriptif kualitatif dan analisis SWOT. Dari penelitian ini ditemukan bahwapermasalahan dasar yang menghambat pengembangan wisata di Desa Sangiang berupa pelayanan sarana dan prasarana yang belum maksimal. Di sisi lain kekuatan yang dimiliki Desa ini dalam mengembangkan wisata adalahmasyarakat setempat sudah ikut berperan dalam pengembangan desa wisata. Setelah dilakukan analisis, strategi yang dapat dilakukan dalam mengembangkan Desa Wisata Sangiang yaitu peningkatan kualitas pelayanan sarana prasarana, menjaga dan melestarikan potensi wisata, meningkatkan promosi wisata, dan mengemas seluruh potensi wisata menjadi kesatuan paket wisata
Elin Diyah Syafitri
Jurnal Planoearth, Volume 4; doi:10.31764/jpe.v4i1.683

Abstract:
Tujuan penelitian mengidentifikasi instrumen kebijakan yang paling dapat diterima oleh stakeholder dan merekomendasikan pendekatan manajemen stakeholder untuk meminimalkan potensi konflik. Penelitian dilakukan di Kota Balikpapan. Dua pilihan kebijakan, road pricing dan parkir progresif dievaluasi melalui pengukuran preferensi dan analisis pemangku kepentingan. Stakeholder dibagi menjadi 3 kelompok yaitu beneficiaries, decision maker, dan influence group. Respon stakeholder dihitung menggunakan borda count method dan analisis preference. Studi ini menemukan kebijakan parkir progresif lebih diterima oleh stakeholder daripada kebijakan jalan berbayar, baik di wilayah urban dan sub urban. Disimpulkan bahwa kebijakan parkir progresif lebih diterima ketika harus diterapkan di Kota yang sedang berkembang daripada kebijakan jalan berbayar.
Rasyid Ridha, Agus Kurniawan, Febrita Susanti, Sri Apriani Puji Lestari
Jurnal Planoearth, Volume 4; doi:10.31764/jpe.v4i1.877

Abstract:
Riwayat Artikel:Diterima: …-…-…Disetujui: …-…-… Abstrak: Faktor pemerataan merupakan alasan kebutuhan adanya pemekaraan wilayah desa, tidak sedikit dari pemekaran wilayah desa memicu terjadinya sengketa batas desa apabila pemufakatan batas desa tidak bisa di selesaikan dengan musyawarah. Desa UPT Tambak Sari merupakan salah satu desa pemekaran di Kecamatan Poto Tano yang memiliki permasalahan terhadap sengketa batas desa dengan desa sekitarnya sehingga menghambat proses penetapan batas desa menjadi definitif, oleh karena itu perlu adanya metode penyelesaian sengketa dalam penetapan batas desa UPT Tambak Sari. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui proses pelaksanaan penetapan dan penyelesaian sengketa batas Desa UPT Tambak Sari. Metode yang digunakan adalah deskripsi kualitatif melalui pendekatan pemetaan partisipatif serta mengacu pada Peraturan Menteri Dalam Negeri Republik Indonesia Nomor 45 Tahun 2016 Tentang Pedoman Penetapan Dan Penegasan Batas Desa. Hasil yang diperoleh dari penelitian ini yaitu pelaksanaan penetapan batas desa yang dilakukan secara kartometris internal desa, selanjutnya dilakukan musyawarah pemufakatan batas antar desa dengan pemaparan toponimi serta segmen batas desa, namun lemahnya regulasi dan sumber informasi terkait batas desa secara indikatif memicu terjadinya sengketa batas antar desa. dalam proses penetapan batas desa juga telah di sepakati mekanisme penyelasian sengketa batas desa, mekanisme yang di sepakati yaitu adanya laporan terhadap sengketa batas desa kepada tim penyelesaian perbedaan pendapat kemudian dilakukan mediasi dan musyawarah, apabila tidak menemui kesepakatan maka selanjutnya akan di proses secara ajudikasi, dalam proses ini penyelesaian sengketa batas desa UPT Tambah Sari dapat terselesaikan pada tahap mediasi berdasarkan keputusan bersama Bupati Kabupaten Sumbawa Barat dengan menimbang sejarah pembentukan desa serta regulasi yang ada.
Nahrul Hayat Imansyah, Ardi Yuniarman, Yusril Izha Mahendra
Jurnal Planoearth, Volume 4; doi:10.31764/jpe.v4i1.693

Abstract:
Sebagian besar negara telah memberikan perhatian yang cukup besar untuk memantau keadaan banjir di negaranya, tidak terkecuali Kab. Lombok Barat. Karena banjir merupakan salah satu permasalahan serius bahkan dapat dikatakan sebagai ancaman besar bagi kehidupan manusia. Oleh karena itu penelitian ini mengambil judul Identifkasi Tingkat Kerawanan Bencana Banjir di Daerah Aliran Sungai (DAS) Dodokan Kabupaten Lombok Barat dengan tujuan utama mengidentifikasi daerah yang rawan akan bencana banjir. Dengan harapan bahwa penelitian ini dapat menjadi salah satu bentuk dasar dalam merumuskan tindakan preventif untuk meminimalisasi dampak negatif bencana banjir yang akan terjadi dan juga merupakan investasi jangka panjang bagi kesejahteraan masyarakat. Metode analisis data dalam penelitian ini menggunakan Pendekatan deskriptif kuantitatif dengan menggunakan alat analisis spasial dan teknik skoring. Temuan dalam penelitian ini diperoleh bahwa tingkat Tingkat Kerawanan Bencana Banjir di Daerah Aliran Sungan (DAS) Dodokan Kab. Lombok Barat, dapat diklasifikasikan menjadi 3 (tiga) tingkatan kerawanan, antara lain tingkta kerawanan rendah, tingkat kerawanan sedang dan tingkat kerawanan tinggi. Kawasan DAS Dodokan masih dominan berada dalam klasifikasi kerawanan Sedang yaitu sekitar 8344.26 ha atau 78.37% dari total luas kawasan. Klasifikasi kerawanan rendah terdapat sekitar 1946.9 ha atau 18.29% dari total luas wilayah. Sedangkan klasifikasi kerawanan tinggi memiliki luasan paling kecil yaitu sekitar 356.29 ha atau 3.35% dari total luas wilayah.
Hanny Maria Caesarina, Dienny Redha Rahmani
Jurnal Planoearth, Volume 4; doi:10.31764/jpe.v4i1.712

Abstract:
Seiring meningkatnya urbanisasi, meningkat pula berbagai permasalahan yang dihadapi perkotaan terutama penurunan kualitas lingkungan. Konversi lahan dari ruang terbuka hijau menjadi lahan terbangun memunculkan efek urban heat island. Konsep kota hijau dengan penyediaan ruang terbuka hijau publik yang memadai merupakan salah satu upaya untuk mengantisipasi efek tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi dan memetakan penyediaan ruang terbuka hijau publik pada perkotaan Martapura. Metode yang digunakan adalah deskriptif kuantitatif dengan pendekatan kota hijau. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kawasan perkotaan Martapura memerlukan penambahan ruang terbuka hijau dalam bentuk rth aktif dan rth pasif.
Fariz Primadi Hirsan, Ima Rahmawati Sushanti, Baiq Harly Widayanti
Jurnal Planoearth, Volume 4; doi:10.31764/jpe.v4i1.875

Abstract:
Abstrak: Kawasan strategis cepat tumbuh merupakan kawasan yang ditandai dengan pertumbuhan disektor ekonomi yang relatif berkembang, terbangun infrastruktur pendukung yang memadai serta tingkat kesejahteraan masyarakat yang cenderung berkembang dan meningkat. Seiring perkembangan dan pertumbuhan wilayah, Kabupaten Bima merupakan kabupaten yang menunjukkan fenomena terjadinya pemanfaatan ruang yang tidak terkendali sehingga terbentuk pusat-pusat pertumbuhan baru yang tersebar diberbagai wilayah kabupaten. Dalam rangka mendorong percepatan pengembangan kawasan tersebut, mengurangi kesenjangan pembangunan antar wilayah, dan mendorong pertumbuhan daerah yang masih tertinggal dan perbatasan di Kabupaten Bima, sehingga diperlukan identifikasi Kawasan Strategis Cepat Tumbuh di Kabupaten Bima. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui Kawasan Strategis Cepat Tumbuh (KSCT) Kabupaten Bima, merumuskan rencana pusat-pusat pelayanan kawasan dalam wilayah Kabupaten Bima, dan merumuskan rencana pengembangan Kawasan Strategis Cepat Tumbuh Kabupaten Bima. Metode analisis yang digunakan adalah AHP (Analysis Hierarchy Process), analisis isu strategis, dan analisis tipologi klassen. Berdasarkan hasil analisis, terdapat 15 kecamatan di Kabupaten Bima termasuk kawasan strategis cepat tumbuh yang dibagi ke dalam 1 embrio dan 6 klaster. Dalam rangka mendorong percepatan pengembangan kawasan tersebut, mengurangi kesenjangan pembangunan antar wilayah, dan mendorong pertumbuhan daerah yang masih tertinggal dan perbatasan di Kabupaten Bima, sehingga diperlukan tindakan lebih lanjut setelah Kawasan Strategis Cepat Tumbuh di Kabupaten Bima yaitu, penyusunan Rencana Induk, Rencana Pengusahaan, dan Rencana Tindak sebagai upaya mendorong percepatan pengembangan kawasan yang berpotensi sebagai pusat pertumbuhan wilayah. The rapidly growing strategic area is characterized by relatively growing economic sector growth, developing adequate supporting infrastructure and the level of Community welfare that tends to grow and increase. As the development and growth of the region, Bima District is a regency that shows the phenomenon of the use of uncontrolled space so that the new growth centers that are scattered in various regions of the district. In order to promote the accelerating development of the area, reducing the gap between regional development, and encouraging the growth of the areas still left and borders in Bima district, so the identification of the area Strategic fast growing in Bima district. The purpose of this research is to know the fast growing strategic area (KSCT) of Bima Regency, formulating the plan of regional service centers in Bima District, and formulating the development plan of fast growing strategic area Regency of Bima. The methods of analysis used were the AHP (Analysis Hierarchy Process), strategic issue analysis, and classical typology analysis. Based on the results of the analysis, there are 15 sub-districts in Bima district including a...
Tisa Angelia, Eko Budi Santoso
Jurnal Planoearth, Volume 4; doi:10.31764/jpe.v4i1.719

Abstract:
Changes in land use have resulted in decreasing green open space as part of green infrastructure. Identification of areas that have potential to develop green open space as rain water absorbers aims to reduce flooding/puddle in Rungkut Distric. The type of research used is quantitative, with overlay analysis techniques. Based on the results of the overlay analysis, there are some areas had the highest weight for developing rainwater absorbent green open space, namely Tulus Harapan Housing (11,7%) and Rungkut Harapan Housing (11,7%). The results of this research were the Kalirungkut Subdistrict as the smallest administrative area that would facilitate goverment policy making related to the development of rainwater absorbing green open space.
I Putu Windhu Sanjaya, Agam Marsoyo
Jurnal Planoearth, Volume 4; doi:10.31764/jpe.v4i1.727

Abstract:
Kuta Utara district is a suburb of Denpasar City which is currently experiencing rapid development, especially in its use of space. Since 2011, North Kuta District has been designated as part of the development area of the Sarbagita urban area which is a national strategic area. This study is related to changes in spatial use to describe changes in spatial use that occurred before and after the determination of the Sarbagita urban area. The analysis carried out was overlaying a map of land use change in 2003, 2011 and 2017. The results of this study indicate a rapid change in spatial use from the period 2011 to 2017 indicated by changes in land not built into built-up land.
Ima Rahmawati Sushanti, Agung Panji Utomo
Jurnal Planoearth, Volume 2; doi:10.31764/jpe.v2i1.830

Abstract:
Penelitian ini bertujuan untuk memntukan konsep teknologi yang sesuai untuk mengatasi persoalan – persoalan persampahan yang terjadi di wilayah tersebut. Metode yang digunakan dalm penelitian ini adalah deskriptif kualitatif dengan pengumpulan data primer, melalui observasi langsung dan kuesioner. Hasil penelitian menunjukan bahwa Berdasarkandari berbagai alternatif teknologi yang tersedia, teknologi yang terpilih yang akan diimplementasikan di Kelurahan Karang Pule Kecamatan Sekarbela untuk mengatasi volume sampah yang berlebihan adalah teknik 3P dan teknologi anaerobik yang menghasilkan biogas yang dapat dimanfaatkan untuk keperluan bahan bakar genset ataupun penggerak turbin pembangkit listrik tenaga uap. Selain itu gas yang dihasilkan dapat digunakan sebagai keperluan memasak dan pembuatan kompos dengan mutu yang tinggi
Nur Hidayah, Baiq Harly Widayanti
Jurnal Planoearth, Volume 2; doi:10.31764/jpe.v2i1.838

Abstract:
Tujuan dari penelitian ini antara lain adalah untuk mengidentifiksi pengaruh komoditas jagung di Kecamata Manggelewa Kabupaten Dompu terhadap pengembangan wilayah Kecamatan Manggelewa serta memberikan arahan untuk pengembangan wilayah. Metode yang digunakan dalam penelitian ini yaitu Deskriptif – Kuantitatif, dengan menggunakan analisis regresi dan analisis SWOT (Efas-Ifas) sebagai acuan dalam menetapkan strategi pengembangan wilayah berbasis komoditas jagung di Kecamatan Manggelewa. Berdasarkan hasil analisis menunjukan bahwa benefit yang diperoleh petani jagung berdampak positif terhadap pengembangan wilayah di Kecamatan Manggelewa serta Kabupaten Dompu. Upaya pengembangan yang dapat dilakukan yaitu memperbaiki jaringan jalan, meningkatkan hasil produksi jagung dalam jangka 5 tahun berikutnya meningkat di atas 5,113%, meingkatkan sarana transportasi, meningkatkan sarana penunjang kegiatan perekonomian rakyat, meningkatkan hubungan kerja sama antara masyarakat, pemerintah dan swasta, meningkatkan kesiapan kemampuan tenaga kerja, meningkatkan pengelolaan lahan pertanian dengan baik
Febrita Susanti, Agus Kurniawan
Jurnal Planoearth, Volume 2; doi:10.31764/jpe.v2i1.839

Abstract:
Penelitian daya dukung lahan ini diilakukan bertujuan untuk mengetahui kemampuan daya dukung pertanian terhadap lingkungannya. Jenis penelitina ini adalah penelitian deskriptif kuntitatif dengan menggunakan analisis carrying capacity ratio. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa sector pertanian mampu mendukung pertumbuhan daerah serta memenuhi kebutuhan pokok penduduk di Kabupaten Dompu. Empat kecamatan mempunyai nilai CCR mendekati anggka = 1, yaitu Kecamatan Woja, Kecamatan Kilo, Kecamaan Kempo dan Kecamatan Pekat yang artinnya bahwa lahan pertanian yang ada di setiap kecamatan tersebut memiliki daya dukung yang cukup tinggi terhadap aktifitas pembangunan seperti Kecamaan dengan nilai rasio daya dukung 1,7 yang berarti bahwa di setiap rumah tangga biasa memiliki lahan seluas 1,7 ha, artinya lebih besar 0,83 ha dari luas lahan rata-rata yang dimiliki oleh setiap rumah tangga petani. Kecamatan manggelewa memiliki rasio daya dukung sama dengan 1 (=1), yang berarti kecamatan tersebut masih memiliki keseimbangan antara kemampuan lahan dari jumlah penduduknya
Sri Apriani Puji Lestari, Baiq Harly Widayanti
Jurnal Planoearth, Volume 2; doi:10.31764/jpe.v2i1.837

Abstract:
Evaluasi tingkat kesesuain lahan untuk tanaman jagung diperlukan untuk meningkatkan produksi pertanian dan mengoptimalkan penggunaan lahan secara bekesinambungan. Tujuan penelitian ini adalah menyajikan data dan informasi terkait wilayah mana yang cocok untuk pengembanagan tanaman jagung berbasis sistem informasi geografis sehingga bisa dijadikan sebagai bahan pertimbangan dalam perencanaan dan pengembangan wilayah di Kabupaten Dompu. Variabel pengukuran yang digunakan terdiri dari:temperature, ketersediaan air,(curah hujan), ketersediaan oksigen (kondisi drainase tanah), media perakaran(tekstur tanah), bahaya erosi (kelerengan), bahaya banjir (genangan), dan penggunaan lahan. Dari tujuh variabel tersebut menghasilkan tujuh peta yang kemudian di-overlay. Berdasarkan hasil analisa kesesuain lahan tanaman jagung di kabupaten dompu sebesar 30,40% lahan sangat sesuai, 34,51% cukup sesuai, 2,15% sesuai marginal dan 31,94% tidak sesuai untuk ditanami jagung. Pengembangan budidaya jagung di wilayah Dompu yang paling baik adalah pada wilayah dengan kelas sangat sesuai
Fariz Primadi Hirsan, Ima Rahmawati Sushanti
Jurnal Planoearth, Volume 2; doi:10.31764/jpe.v2i1.825

Abstract:
Tujuan dari penelitian ini diharapkan dapat menentukan sesuatu penentuan penanganan kebakaran berdasarkan wilayah manajmen kebakaran yang didasarkan dalam waktu tanggap (response time) Instansi Pemadam Kebakaran (IPK). Oleh karana itu perlu disususn sebuah pendekatan proteksi kebakaran yang memanfaatkan suatu pengelolaan dengan bassis wilayah, sehingga kejadian kebakaran dapat di tanggulangi dan meminimalisir kerugian yang di timbulkan. Metode penelitian yang dipergunakan dengan menggunakan metode deskriptif kualitatif, dengan analisis fisik spatial dan analisis regulasi terkait proyeksi kebakaran. Hasil dalam penelitian ini menentapkan 8 wilayah manajmen kebakaran di kabupaten lombok timur berdasarkan indikator kewilayahannya sehingga diharapkan penanganan kebakaran dikabupaten lombok timur dapat ditangani dengan optimal
Agus Partono, Titik Wahyuningsih
Jurnal Planoearth, Volume 2; doi:10.31764/jpe.v2i1.829

Abstract:
Pembangunan infakstruktur Jalan Gajahmada Mataram yang baru saja selesai dilaksanakan, telah dirasakan manfaantnya, namun juga menimbulkan pro dan kontra karena kebijakan yang menetapkan desain elevasi permukaan jalan dan jembatan menjadi lebih tinggi mulai 50 CM sampai 3 meter dari kondisi semula.Dengan metode analytic hierarchy proses penentuan kebijakan tersebut dianalisis dan dinialai dari 8 kriteria yang lazim dipergunakan yaitu kriteria teknis (3), non teknis (4) dan biaya biaya (1). Penilaian melalui kuisioner oleh responden yang berasal dari tokoh masyarakat sekitar, pimpinan dari dinas PU (Bina Marga), para dosen pengampu bidang jalan raya, pimpinan asosiasi HPJI dan tenaga ahli konsultan yang sering merencanakan jalan.Hasil analisis perbandingan seluruh kriteria yang ditinjau diperoleh bahwa desain elevasi permukaan jalan tinggi lebih unggul dibanding dengan desain elevasi permukaan jalan rendah, hal ini ditunjukan dari hasil pembobotan untuk desain elevasi tinggi mencapai bobot sebesar (0,574), sementara bobot untuk desain elevasi rendah sebesar (0,426).
Kusyadin Kusyadin, Ardi Yuniarman
Jurnal Planoearth, Volume 2; doi:10.31764/jpe.v2i1.840

Abstract:
Tujuan dari penelitian ini adalah merumuskan konsep revitalisasi bangunan tua ampenan sebagai kawasan heritage di Kelurahan Ampenan Tengah Kecamatan Ampenan. Pendekatan yang digunakan pada penelitian ini adalah pendekatan emperik rasional,artinya data dikumpulkan sesuai dengan tujuan dan secara rasional dan disusun kesimpulan-kesimpulan yang dapat ditarik dari data-data yang terkumpul. Berdasarkan hasil analisis data yang telah dilakukan, maka dirumuskanlah konsep penataan tata bangunan dan lingkungan dengan memperhatikan Struktur Peruntukan Lahan yang tetap mempertahankan keregaman tata guna yang seimbang dan terintegrasi, mengendalikan jenis peruntukan lahan, mengatur kepadatan pengembangan kawasan dengan mempertimbangkan daya dukung dan karakter kawasan serta menata ruang yang manusiawi dan beriontasi pada penjalan kaki dan aktivitas yang diwadahi. Selain itu tetap mengatur Koefisien Dasar Bangunan(KDB), Koefisien Lantai Bangunan (KLB), Koefisien Daerah Hijau (KDH), Sistem Sirkulasi, dan Tata kualitas lingkungan. Penataan yang dilakukan diharapkan mendapatkan nilai tambah yang optimal terhadap priduktivitas ekonomi, sosial dan budaya kawasan perkotaan
Riswandha Risang Aji, Retno Widodo Dwi Pramono, Dwita Hadi Rahmi
Published: 28 December 2018
Jurnal Planoearth, Volume 3, pp 57-62; doi:10.31764/jpe.v3i2.600

Abstract:
Kontribusi sektor pariwisata dalam ekonomi wilayah makin diakui. Sebagai sebuah sektor yang dinamis, pariwisata berkembang melalui fase perkembangan komoditas, pemasaran, hingga produk yang dinikmati oleh wisatawan. Potensi perkembangan pariwisata secara dinamis dipengaruhi oleh forward linkage dan backward linkage terutama di era digital seperti saat ini. Penelitian ini bertujuan untuk melihat kontribusi sektor pariwisata terhadap ekomomi wilayah di provinsi Jawa Timur. Kontribusi sektor pariwisata dilihat dari jalur kontribusi sektor-sektor pembentuk sektor pariwisata melalui forward linkage dan backward linkage. Melalui analisis jalur, forward linkage tertinggi adalah sektor informasi dan komunikasi, backward linkage tertinggi memiliki hasil yang sama yakni sektor informasi dan komunikasi.
Ima Rahmawati Sushanti, Nahrul Hayat Imansyah, Febrita Susanti, Yusril Ihza Mahendra, Rasyid Ridha
Published: 28 December 2018
Jurnal Planoearth, Volume 3, pp 44-48; doi:10.31764/jpe.v3i2.609

Abstract:
Penelitian ini bertujuan mengetahui sejauh mana perubahan fisik yang terjadi akibat adanya perkembangan Kota Mataram dari tahun 2010 sampai tahun 2017 dan mengevaluasi implementasi RTRW Kota Mataram terhadap perubahan fisik spasial Kawasan Urban Fringe Kota Mataram khususnya di Kecamatan Ampenan. Metode penelitian menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif- kuantitatif dengan menggunakan analisis matriks konsistensi dan dikombinasikan dengan analisis spasial untuk membantu dalam analisa pemetaan. Hasil dari kajian luasan perubahan fisik spasial Kecamatan Ampenan dari tahun 2010 sampai tahun 2017 adalah +80,49 Ha atau 8,59% dari total luas wilayahnya, dimana konversi lahan yang dominan terjadi yaitu berupa lahan pertanian (sawah) berubah fungsi menjadi lahan terbangun perkotaan (permukiman dan terbangun non permukiman). Sedangkan hasil evaluasi konflik ruang antara RTRW dengan Penggunaan Lahan pada tahun 2010 dan 2017, diperloleh bahwa pada tahun 2010 terdapat 47.61 Ha (5.04 %) yang bersifat bertentangan/inkonsisten, 123.38 Ha (13.06 %) yang bersifat nertal, dan 773.93 Ha (81.90 %) yang bersifat sesuai/konsisten. Sedangkan pada tahun 2017 terdapat 75.41 Ha (7.98 %) yang bersifat bertentangan/inkonsisten, 75.70 Ha (8.01 %) yang bersifat netral dan 793.81 Ha (19.88 %) yang bersifat sesuai/konsisten. Sehingga dapat disimpulkan bahwa, secara umum implementasi kegiatan pemanfaatan serta pengendalian ruang di Kecamatan Ampenan masih dikategorikan dalam kondisi aman dan berjalan dengan cukup baik
, Syahri R. Achmad, Ummu Rahayu
Published: 28 December 2018
Jurnal Planoearth, Volume 3, pp 49-56; doi:10.31764/jpe.v3i2.606

Abstract:
Tujuan penelitian ini adalah mengidentifikasi tingkat prioritas rumah nelayan sebagai rumah khusus di Kabupaten Banjar. Metode yang digunakan adalah deskriptif eksplorasi serta pembobotan dengan kriteria. Hasil analisa menunjukan rumah nelayan di Kecamatan Aluh-Aluh dapat diprioritaskan sebagai rumah khusus berdasarkan dukungan kebijakan tingkat nasional dan regional, kemampuan lahan yang sesuai, ketersediaan lahan yang masih luas, isu kebutuhan dukungan kegiatan maritim yang strategis, target pengguna yang jelas yaitu nelayan yang masih bergantung pada kegiatan penangkapan ikan, serta aksesibilitas yang baik. Rumah nelayan dapat dibuat sederhana dengan ruang untuk memenuhi aktivitas nelayan
, Ardi Yuniarman
Published: 28 December 2018
Jurnal Planoearth, Volume 3, pp 67-71; doi:10.31764/jpe.v3i2.620

Abstract:
Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi pola permukiman tradisional Di Wilayah Masyarakat Hukum Adat Wet Semokan Kecamatan Bayan Kabupaten Lombok Utara. Pada penelitian ini metoda yang dipergunakan adalah pendekatan rasionalistik dengan paradigma kualitatif. Dimana metodologi penelitian kualitatif rasionalitik ini berangkat dari pendekatan holistik berupa grand concepts (s) yang dijabarkan menjadi teori substantif. Temuan dari penelitian ini diperoleh bahwa Wilayah Wet Semokan terdapat wilayah sentral yang menjadi pusat pemerintahan adat yang ditandai dengan bangunan masjid kuno dan tiga rumah adat bagi pemangku adat utama dalam menjalankan tugasnya, serta terdapat delapan kawasan permukiman tradisional yang berada dalam wilayah teritori wilayah adat yaitu permukiman tradisional: 1. Segenter, 2. Lendang Jeliti, 3. Dasan Gelumpang, 4. Telaga Longkak, 5. Semokan Ruak, 6. Baban Kuta, 7. Kebon Patu, dan 8. Tereng Tebus. Didalam kawasan permukiman tradisional terdapat beberapa pola-pola permukiman dengan orientasi masa bangunan menghadap arah dalam. Kesimpulan dari penelitian ini adalah terdapat empat pola permukiman tradisional dalam wet semokan yaitu: 1. Pola Sejajar atau memanjang dua sisi 2. Pola Sejajar satu sisi terhadap berugak, 3.Pola mengelompok atau terkumpul. 4. Pola tersebar.
Fariz Primadi Hirsan, Baiq Harly Widayanti, Agus Kurniawan, Ardi Yuniarman, Sri Apriani Puji Lestari
Published: 28 December 2018
Jurnal Planoearth, Volume 3, pp 63-66; doi:10.31764/jpe.v3i2.617

Abstract:
Penelitian bertujuan mengidentifikasi kondisi eksisting pos induk pemadam kebakaran, tingkat kerawanan kebakaran dan penentuan alternatif solusi pemecahan masalah. Penelitian menggunakan metode deskriptif serta analisis deskriptif dan analisis jaringan. Hasil penelitian menunjukan kondisi Pos Induk Pemadam Kebakaran cukup memadai, baik dari aspek kelayakan fisik bangunan maupun kemampuan pelayanan. Frekuensi kejadian kebakaran tahun 2016, rata-rata terjadi 2 kasus setiap bulannya. Daerah rawan kebakaran secara umum didominasi oleh daerah yang memiliki tingkat resiko kebakaran sedang. Alternatif solusi masalah lokasi pos induk pemadam kebakaran yaitu penambahan jumlah infrastruktur pemadam kebakaran, seperti hidran, Alat Pemadam Api Ringan (APAR), Smoke Detector, Automatic Gurgoyle
Musfira Musfira
Published: 28 December 2018
Jurnal Planoearth, Volume 3, pp 78-82; doi:10.31764/jpe.v3i2.623

Abstract:
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui penaatan kawasan permukiman yang tepat untuk permukiman kumuh di Kelurahan Bhayangkara. Tujuan dari penelitian adalah mengetahui tingkat kekumuhan di kawasan permukiman Kelurahan Bhayangkara sehingga dapat ditentukan langkah penanganannya. Metode penelitian yang digunakan berupa metode kuantitatif dengan teknik analsis deskriptif dan pembobotan untuk menganalisis data yang dikumpulkan secara primer dan sekunder. Output yang dihasilkan pada penelitian ini adalah tingkat kekumuhan di kawasan permukiman Kelurahan Bhayangkara Distrik Jayapura Utara Kota Jayapura.
Muchlis Husin, Yori Herwangi
Published: 28 December 2018
Jurnal Planoearth, Volume 3, pp 72-77; doi:10.31764/jpe.v3i2.621

Abstract:
Kawasan perdesaan Cemara Jaya dan Batu Raja merupakan salah satu kawasan perdesaan eks transmigrasi di Kabupaten Halmahera Timur, Provinsi Maluku Utara yang saat ini telah berkembang pesat, baik dari aspek sosial ekonomi maupun perkembangan fisik. Berbagai perkembangan tersebut menyebabkan meningkatnya perubahan penggunaan lahan, terutama perubahan dari lahan non produktif menjadi lahan produktif. Untuk itu diperlukan analisis terkait penggunaan lahan untuk menggambarkan dinamika perubahan yang terjadi. Analisis yang digunakan adalah analisis overlay yang dilakukan secara multi periode yakni tahun 1982, 1990, 2000, 2010, dan 2017. Hasil penelitian ini menunjukkan adanya perubahan penggunaan lahan di kawasan perdesaan Cemara Jaya dan Batu Raja dari penggunaan lahan yang didominasi hutan menjadi penggunaan lahan yang didominasi sawah.
, Sudaryono Sudaryono, Muhammad Sani Roychansyah
Jurnal Planoearth, Volume 3, pp 83-90; doi:10.31764/jpe.v3i2.634

Abstract:
Paper ini menjabarkan pelapisan-pelapisan ruang yang terbentuk di Dongkelan Kauman, sebagai salah satu Kawasan Pathok Negara Yogyakarta. Pelapisan ruang tersebut terbentuk karena adanya nilai ruang yang tertanam kuat dalam pikiran masyarakat lokal Dongkelan Kauman. Pelapisan ruang Dongkelan Kauman terbentuk dalam dua level, yaitu: a) level kampung dan b) level padukuhan. Pada level kampung terdapat tiga lapisan ruang, yaitu: a) teritori ruang; b) radius keunikan; dan c) ruang periferi; sementara pada tingkat padukuhan, lapisan ruang terdiri dari: a) ruang inti dan b) ruang periferi
Arief Setijawan
Published: 28 February 2018
Jurnal Planoearth, Volume 3, pp 7-11; doi:10.31764/jpe.v3i1.213

Abstract:
Kegiatan kepariwisataan dapat menjadi solusi untuk mengeluarkan masyarakat dari jurang kemiskinan. Beberapa daerah kota/kabupaten telah berhasil menggunakan pariwisata untuk mengembangkan daerahnya. Namun pemanfaatan sumber daya pariwisata juga mestiselaras dengan pembangunan berkelanjutan diantaranya pariwisata berlandaskan budaya lokal dan pemberdayaan kelompok masyarakat. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan pendekatan yang digunakan berdasarkan studi literature. Dari penelitian ini diperoleh kesimpulan bahwa pembangunan pariwisata berkelanjutan membutuhkanketerlibatan masyarakat secara menyeluruh dari keseluruhan tahapan pembangunan, dari tahap perencanaan hingga pelaksanaan pembangunan.
Andi Syamsul Fajri, Baiq Harly Widayanti
Published: 28 February 2018
Jurnal Planoearth, Volume 3, pp 36-43; doi:10.31764/jpe.v3i1.218

Abstract:
Pada dasarnya Indonesia adalah negara yang memiliki 2 musim yakni musim hujan dan musim kemarau. Musim kemarau yang terjadi antara bulan Maret hingga Bulan Agustus sedangkan musim hujan yang terjadi September sampai bulan Februari. Akibatnya dengan jumlah bulan hujan yang relatif lebih banyak dari musim kemarau menjadikan beberapa wilayah di Indonesia banyak mengalami bencana banjir. Berdasarkan data BPBD Kota Mataram tahun 2011-2015 Kota Mataram memiliki daerah langganan banjir tiap tahunnya yaitu salah satunya Kecamatan Sekarbela. Dengan kondisi fisik wilayah perkotaan yang datar serta kondisi drainase yang saat ini tidak berfungsi optimal. sejumlah ruas jalan dan kawasan perumahan yang ada di Kecamatan Sekarbela tergenang dan terjadi banjir. Sebagai salah satu upaya dalam mengatasi banjir yaitu memetakan kerentanan daerah rawan banjir melalui pemetaan kawasan yang terindikasi rawan bencana banjir melalui Pemetaan Digital Berbasis Sistem Informasi Geografis. pemetaan daerah rawan banjir merupakan salah satu cara pengendalian secara non-struktural. Analisis Daerah Rawan Banjir pada penelitian ini menggunakan 3 varaibel penelitian yakni Kemiringan Lereng, Penggunaan Lahan, dan Infiltrasi Tanah dengan menggunakan 2 metode analisis yakni Analytic Hierarchy Process (AHP) Pairwise Comparison dan Overlay Intersection. Hasil analisa semua parameter dibandingkan dan diberi bobot menggunakan metode AHP matriks Pairwise Comparison. Diperoleh nilai bobot untuk Kemiringan Lereng adalah 0,89, Penggunaan Lahan 0,22 dan Infiltrasi Tanah 0,10. Seluruh hasil analisa digabung menggunakan metode Overlay Intersection pada ArcGIS10.3 untuk menghasilkan peta daerah rawan banjir. Diperoleh 95,11 % daerah di Kecamatan Sekarbela adalah Rentan Banjir, 4,89 daerah paling Sangat Rentan.
Agustinus Haryanto Pattiraja
Published: 28 February 2018
Jurnal Planoearth, Volume 3, pp 1-6; doi:10.31764/jpe.v3i1.212

Abstract:
Kota Kepanjen adalah Kota yang dipersiapkan menjadi Ibu Kota Kabupaten Malang, yang pemanfaatan lahan terus berkembangan dan dengan intensitas hujan yang cukup tinggi berdampak timbulnya genangan dan banjir. Penelitian ini bertujuan menganalisis potensi kawasan rawan banjir di Kota Kepanjen. Metode yang digunakan yaitu Sistem Informasi Geografis. Berdasarkan konsep analisis debit aliran Metode Rasional maka parameter penentu kawasan rawan banjir yang digunakan dalam kajian ini adalah intensitas hujan, kemiringan lereng, jenis tanah, dan tutupan lahan. Hasil analisis menunjukan bahwa kawasan yang berstatus sangat rawan pada kondisi eksisting dengan luasan sebesar 3,421 Km2 mengalami peningkatan seiring perubahan yang akan dilakukan terhadap Kota Kepanjen menjadi 4,54 Km2 , kawasan yang berstatus rawan pada kondisi eksisting dengan luasan sebesar 40,17 Km2 mengalami peningkatan seiring perubahan yang akan dilakukan terhadap Kota Kepanjen menjadi 42,01 Km2, kawasan yang berstatus aman pada kondisi eksisting dengan luasan sebesar 2,92 Km2 mengalami penurunan seiring perubahan yang akan dilakukan terhadap Kota Kepanjen menjadi 0,22 Km2.
, Agus Kurniawan
Published: 28 February 2018
Jurnal Planoearth, Volume 3, pp 23-29; doi:10.31764/jpe.v3i1.216

Abstract:
Keberadaan klaster industri di Kota Mataram memberikan pengaruh sosial, ekonomi dan lingkungan terhadap kawasan permukiman sekitarnya (Sushanti, Ima R, 2015). Sesuai Rencana Tata Ruang Wilayah Kota Mataram tahun 2011 – 2031 klaster industri MEP di Kelurahan Karang Pule, Kecamatan Sekarbela ditetapkan sebagai kawasan pariwisata belanja. Tujuan penelitian adalah menentukan konsep kampung wisata belanja dalam rangka penataan klaster industri dan kawasan permukiman sekitarnya yang terpadu, secara fisik, ekonomi dan sosial berdasarkan komponen perancangan. Hasil penelitian adalah konsep kampung wisata belanja berkelanjutan yang layak, produktif dan partisipatif mengintegrasikan potensi klaster industri dan kawasan permukiman sekitarnya di Kelurahan Karang Pule, Kecamatan Sekarbela, Kota Mataram.
Widiyanto Hari Subagyo Widodo, Annisaa Hamidah Imaduddina
Published: 28 February 2018
Jurnal Planoearth, Volume 3, pp 12-16; doi:10.31764/jpe.v3i1.214

Abstract:
Kecamatan Asemrowo memiliki perkembangan yang stagnan karena adanyapengaruh dari genang pasang air laut yang mengakibatkan penurunan nilai lahan (RDTRK UP Tambak Osowilangun, 2007). Kondisi struktur dan mofologi kota yang stagnan berpotensi untuk berubah karena adanya pembangunan pusat pertumbuhan baru yaitu Pelabuhan Teluk Lamong (Pelindo III). Penelitian ini bertujuan untuk memprediksi penggunaan lahan ke depan dengan mengakomodasikan faktor penghambat berupagenang pasang air laut dan faktor pendorong (Pelabuhan Pelindo III) menggunakan metode Markov – cellular automata.Markov- cellular automata adalah salah satu jenis kecerdasan buatan dengan dasar perhitungan iterasi pada data raster. Iterasi tersebut dilakukan pada data raster probabilitasperubahan penggunaan lahan yang diformulasikan dari multi-faktor pendorong perubahan penggunaan lahan dan penghambat perubahan penggunaan lahan. Jumlah piksel yangmenjadi acuan dalam proses iterasi dianalisis dengan menggunaan analisis Markov. Dalam merumuskan peta probabilitas perubahan penggunaan lahan digunakan metode regresi logistik dan jaringan saraf tiruan. Tahun akhir prediksi penggunan lahan adalah 2030.Hasil penelitian menunjukkan genang pasang air laut memiliki korelasi positif terhadap perubahan penggunaan lahan menjadi industri pergudangan, permukiman desa, dan tambakyaitu sebesar 21%, 20% dan 22%
, Fariz Primadi Hirsan
Published: 28 February 2018
Jurnal Planoearth, Volume 3, pp 30-35; doi:10.31764/jpe.v3i1.217

Abstract:
Pengendalian pemanfaatan ruang pada kawasan pariwisata pesisir pantai Amahami dan Ni’u perlu dilakukan mengingat daerah tersebut merupakan salah satu kawasan strategis pariwisata dan kawasan strategis perekonomian yang adaS di Kota Bima, dengan dilakukannya suatu pengendalian diharapkan pemanfaatan ruang yang ada pada kawasan tersebut dapat berjalan sesuai dengan rencana pola ruang Rasanae Barat, salah satu instrumen yang tepat untuk digunakan selain peraturan zonasi adalah instrumen insentif dan disinsentif, dimana instrumen insentif diberikan kepada pemerintah ataupun masyarakat yang taat dan tertib terhadap tata ruang, sedangkan disinsentif diberikan kepada pemerintah ataupun masyarakat yang tidak tertib atau melanggar tata ruang.
Stelah Kharina Hairunnisa, Ardiyanto Maksimilianus Gai, Ida Soewarni
Published: 28 February 2018
Jurnal Planoearth, Volume 3, pp 17-22; doi:10.31764/jpe.v3i1.215

Abstract:
Ekosistem hutan mangrove merupakan salah satu sumberdaya alam wilayah pesisir yang mempunyai fungsi dan manfaat sangat besar, antara lain secara fisik, biologis, dan ekonomi, dengan fungsi utama sebagai penyeimbang ekosistem dan penyedia berbagai kebutuhan hidup bagi manusia dan mahluk hidup lainnya. Kabupaten Bolaang Mongondow Utara merupakan salah satu wilayah pesisir yang memiliki ekosistem mangrove di mana ekosistem hutan mangrove yang ada memiliki luas 1.670,81 Ha luas keseluruhan, di mana Desa Boroko merupakan salah satu desa potensi hutan mangrove dengan jumlah luas persebaran sebesar 101 Ha, yang mengalami degradasi antara lain di beberapa titik telah dialih fungsikan untuk kegiatan perkebunan cengkeh, penebangan yang dijadikan kayu bakar, pembukaan jalan, tambak, dan permukiman dengan luas indikatif kerusakan sebesar 4 Ha. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui nilai ekonomi total hutan mangrove setelah dipetakan tingkat kerusakan dan memperhitungkan nilai pemulihannya. Dengan metode analisis yang digunakan antara lain analisis tingkat kerusakan menggunakan metode NDVI (Normalized Difference Vegetation Index), dan analisis nilai ekonomi total kawasan menggunakan metode analisis kuantitatif dengan pendekatan valuasi ekonomi. Hasil penelitian menunujukan nilai manfaat total hutan mangrove di Desa Boroko sebesar Rp.261.210.638.132.-/Tahun.
Page of 1
Articles per Page
by
Show export options
  Select all
Back to Top Top