Refine Search

New Search

Results in Journal LUMBUNG: 38

(searched for: journal_id:(4175134))
Page of 1
Articles per Page
by
Show export options
  Select all
Sudarti Sudarti, Sherly Nur Laili
Published: 28 February 2021
LUMBUNG, Volume 20, pp 55-62; https://doi.org/10.32530/lumbung.v20i1.349

Abstract:
Keberadaan lahan kosong di Desa Wringin Putih tergolong cukup luas, namun belum ada upaya dari pemerintah maupun masyarakat untuk emberdayakannya. Semantara 40% jumlah kemiskinan di Desa tersebut. Sebagai solusi, penelitian ini bertujuan untuk mengkaji “Model pemberdayan lahan kosong untuk pengentasan kemiskinan di Desa Wringin Putih Kecamatan Muncar Kabupaten Banyuwangi”. Model pemberdayaan ini bertujuan untuk pengentaskan kemiskinan warga kurang mampu dengan sintakmatik: 1) Persiapan, 2) Perencanan, 3) Pelaksanaan, 4) Evaluasi. Hasil survey menunjukkan bahwa di Desa Wringinputih terdapat lahan kosong seluas 15 hektar. Hasil validasi model yang di lakukan oleh 3 orang perangkat Desa menyatakan bahwa model tersebut sangat sesuai untuk mengentaskan kemiskinan warganya. Hasil Uji coba model terhadap 50 warga kurang mampu di RT 01 membuktikan bahwa seluruh merasakan keuntungan dengan cara menanam tanaman jagung, ubi jalar, dan sayuran pada lahan kosong tanpa di bebani biaya sewa lahan. Kesimpulan: Model pemberdayaan lahan kosong sesuai untuk program pengentasan kemiskinan.
Ayu Kurnia Illahi, Yusniwati Yusniwati, Etti Swasti
Published: 28 February 2021
LUMBUNG, Volume 20, pp 1-13; https://doi.org/10.32530/lumbung.v20i1.245

Abstract:
Hanjeli (Coix lacryma –jobi L) adalah tanaman serealia yang dapat dimanfaatkan sebagai pangan dan pakan. Penelitian eksplorasi dan karakterisasi hanjeli bertujuan untuk mendapatkan informasi karakter fenotipik hanjeli di Kabupaten Limapuluh Kota sebagai data awal dan untuk pelestarian plasma nutfah hanjeli. Penelitian dilaksanakan pada bulan Februari sampai bulan April 2016, diawali dengan eksplorasi dan dilanjutkan dengan karakterisasi morfologi hanjeli. Data dari setiap sampel dianalisis secara statistik kemudian dibandingkan dengan sampel lainnya. Data morfologi ditampilkan secara deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan pada 74 aksesi yang diperoleh dari delapan kecamatan di Kabupaten Lima Puluh Kota memiliki bentuk batang bulat dengan permukaan licin dan arah tumbuh tegak, daun tanaman hanjeli merupakan daun lengkap, bunga hanjeli merupakan bunga sempurna tidak lengkap karena tidak memiliki bagian calix dan carolla.
Neni Trimedona, Rahzarni Rahzarni, Yenni Muchrida
Published: 28 February 2021
LUMBUNG, Volume 20, pp 44-54; https://doi.org/10.32530/lumbung.v20i1.335

Abstract:
Kulit buah naga merah kaya akan kandungan komponen aktif yang bermanfaat bagi kesehatan seperti vitamin, mineral, senyawa fenolik dan kandungan pigmen betasianin. Potensi ini dapat dikembangkan dengan mengolahnya menjadi produk pangan yang berkhasiat untuk kesehatan seperti minuman serbuk effervescent. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan persentase penambahan effervescent mix (campuran asam sitrat, asam tartarat dan natrium bikarbonat) yang menghasilkan minuman effervescent dengan karakteristik yang paling baik. Kulit buah naga merah diekstrak dengan pelarut air yang diasamkan, kemudian dijadikan serbuk instan dengan metode pengeringan busa. Serbuk instan yang diperoleh dikombinasikan dengan effervescent mix dengan penambahan sebanyak 40%, 50%, dan 60% dari berat serbuk instan kulit buah naga yang digunakan. Sifat fisikokimia yang diamati adalah pH, waktu larut, kadar air, kandungan total fenol dan kadar betasianin. Dari hasil penelitian diperoleh bahwa pH serbuk effervescent berkisar antara 4,98-5,03 dengan waktu larut serbuk berkisar antara 99 - 109 detik. Kadar air terendah diperoleh pada perlakuan penambahan 50% effervescent mix yaitu sebesar 9,02%, dan kandungan total fenol tertinggi adalah 95,57 mg GAE/100g serbuk untuk perlakuan yang sama. Kadar betasianin serbuk effervescent mengalami penurunan seiring peningkatan jumlah penambahan effervescent mix.
Eka Susila, Jonni Jonni
Published: 28 February 2021
LUMBUNG, Volume 20, pp 32-43; https://doi.org/10.32530/lumbung.v20i1.331

Abstract:
Bunga krisan merupakan salah satu jenis tanaman hias yang banyak diburu oleh para pecinta bunga. Perlu peningkatan kualitas bunga yang baik, sehingga keindahan dan kesegaran bunga potong krisan dapat dinikmati lebih lama dalam bentuk segar. Untuk kesegaran lebih lama digunakan tambahan zat penyegar diantaranya gula dan larutan elektrolit pada air rendaman. Tujuan penelitian untuk mengetahui tingkat kesegaran bunga krisan potong yang direndam dalam larutan gula dengan penambahan larutan elektrolit dengan konsentrasi berbeda dan mengetahui medium perendaman terbaik dalam mempertahankan tingkat kesegaran bunga krisan potong. Tempat pelaksanan di Laboratorium Hortikultura Politeknik Pertanian selama 6 bulan. Metode Rancangan Acak Lengkap (RAL), dengan 4 perlakuan dan 8 ulangan; A (air + gula 5 g) sebagai control, B ( air + gula 5 g + larutan elektrolit 5 ml), C ( air + gula 5 g + larutan elektrolit 10 ml), dan D (air + gula 5g + larutan elektrolit 15 ml). Variabel yang diamati lama kesegeran bunga, panjang tangkai bunga potong yang busuk, jumlah bunga yang masih mekar, layu, dan rontok. Data kuantitatif yang berbeda nyata diuji lanjut dengan LSD 5%. Terdapat perbedaan tingkat kesegaran bunga krisan potong yang direndam dalam larutan gula dengan penambahan larutan elektrolit pada konsentrasi yang berbeda terhadap parameter (lama kesegaran bunga, panjang tangkai bunga yang busuk, jumlah bunga yang masih mekar, layu, dan rontok. Semakin tinggi konsentrasi larutan elektrolit yang diberikan, semakin memberikan tingkat kesegaran bunga yang lebih lama. Larutan gula yang ditambahkan larutan elektrolit 15 ml merupakan konsentrasi terbaik dalam mempertahankan tingkat kesegaran bunga krisan potong.
Alfikri Alfikri, Darnetti Darnetti, Raeza Firsta Wisra
Published: 28 February 2021
LUMBUNG, Volume 20, pp 14-31; https://doi.org/10.32530/lumbung.v20i1.319

Abstract:
Perkembangan pasar moderen di Kota Payakumbuh tidak terlepas dari respon konsumen yang tinggi, walaupun demikian peran strategi retail mix yang di laksanakan oleh manajemen masing-masing pasar moderen dapat menentukan keberlangsungan usaha tersebut, maka penelitian ini akan menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi konsumen untuk berbelanja di pasar moderen dengan variabel bebas yaitu: location (X1), marcandise assortments (X2), pricing (X3), costomer service (X4), store design and display (X5), dan communication mix (X6). Uji instrumen penelitian menggunakan 30 responden, dari uji Validitas didapatkan 1 item tidak valid (LKS-2 pada variabel X1) maka dikeluarkan dan uji realibilitas didapatkan nilai cronbach's alpha sebesar 0,953, maka instrumen penelitian dianggap realib karena nilainya lebih besar dari 0,60. dari hasil uji instrumen ini maka penelitian ini dapat menggunakan instrumen ini pada kondisi yang sebenarnya sesuai dengan tujuan penelitian. Hasil analisis dari 118 responden didapatkan bahwa koefisien determinasi sebesar 51,4%, sedangkan uji hipotesis didapatkan 4 variabel tidak signifikasn yaitu location (X1), marcandise assortments (X2), pricing (X3), costomer service (X4). kemudian dua variabel signifikan yaitu store design and display (X5), dan communication mix (X6). signifikan. Rekomendasi responden untuk memilih minimarket juga terpengaruhi oleh bentuk dan layout minimatket yang memberikan kenyamanan dan tampilan beserta promisi yang dilakukan oleh minimarket berupa plang merek dan iklan-iklan yang dibuat minimarket.
Lora Yudistira, Tantri Swandari, Titin Setyorini
Published: 31 August 2020
LUMBUNG, Volume 19, pp 81-89; https://doi.org/10.32530/lumbung.v19i2.228

Abstract:
Anggrek merupakan tanaman hias yang memiliki nilai ekonomis tinggi dan banyak dibudidayakan dalam skala besar. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui fenologi bunga dan uji reseptivitas stigma serta morfologi polen anggrek Kalajengking (Arachnis flosaeris). Adapun yang menjadi latar belakang penelitian ini adalah sebagai salah satu upaya untuk mengetahui waktu persilangan atau penyerbukan yang tepat bagi tanaman anggrek Kalajengking. Penelitian ini dilakukan di KP2 Institut Pertanian STIPER Yogyakarta, Maguwoharjo, Kabupaten Sleman. Penelitian ini menggunakan metode percobaan yang disusun dalam rancangan acak lengkap (RAL) satu faktor yaitu fase stadium bunga dari mulai anthesis hingga gugur (hari) dengan unit percobaan sebanyak 20 tanaman. Data yang diperoleh selama pengamatan berupa data kualitatif dan kuantitatif. Data kualitatif disajikan dalam bentuk deskriptif komparatif dengan foto untuk menunjukkan hasil pengamatan fenologi bunga berdasarkan tingkat kesegaran bunga. Data kuantitatif dari parameter jumlah gelembung oksigen pada stigma reseptif dan jumlah morfologi polen dianalisis dengan menggunakan Microsoft Excel. Hasil penelitian menunjukkan bahwa bunga anggrek Kalajengking yang telah anthesis dapat bertahan selama rentang waktu 21 hari setelah itu apabila bunga tidak mengalami penyerbukan maka akan layu, mengering dan gugur. Waktu bertahannya bunga berlangsung cukup lama, sehingga tahap optimal reseptivitas stigma anggrek Kalajengking terjadi pada saat bunga di stadium H+12 setelah anthesis. Dari data hasil penelitian didapatkan unit morfologi polen amorf lebih banyak dibandingkan dengan unit morfologi polen tetramorf.
Putri Cahya Anggraeny, Murti Astiningrum, Adhi Surya Perdana
Published: 31 August 2020
LUMBUNG, Volume 19, pp 98-111; https://doi.org/10.32530/lumbung.v19i2.232

Abstract:
Budidaya tanaman mentimun (Cucumis sativus L.) di wilayah Kecamatan Bandongan, Kabupaten Magelang masih terbatas dan belum dibudidayakan secara intensif karena petani belum menggunakan pupuk organik. Pupuk organik dapat diberikan dalam bentuk cair dan perlu diperhatikan konsentrasi serta cara aplikasi yang tepat. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui konsentrasi pupuk organik cair dan teknik aplikasi yang memberikan hasil tertinggi pada tanaman mentimun serta menganalisis interaksi antara konsentrasi dan teknik aplikasi pupuk organik cair terhadap hasil tanaman mentimun. Penelitian dilaksanakan pada bulan Juni hingga Agustus 2019 di Desa Banyuwangi, Kecamatan Bandongan, Kabupaten Magelang, dengan ketinggian tempat 382 m dpl, jenis tanah Latosol dan pH 6,6. Penelitian dilakukan menggunakan percobaan faktorial (4 x 2) yang disusun dalam rancangan acak kelompok lengkap dengan tiga blok. Faktor pertama konsentrasi pupuk organik cair : 0, 2, 4, dan 6 ml/L. Faktor kedua teknik aplikasi pupuk : disemprot dan dikocor. Data yang diperoleh dianalisis dengan sidik ragam dan dilanjutkan dengan uji orthogonal polynomial dan uji BNT untuk faktor pertama dan uji – t untuk faktor kedua. Hasil analisis menunjukkan bahwa konsentrasi pupuk organik cair 2 ml/L memberikan hasil tertinggi pada parameter panjang tanaman, berat per buah, panjang buah dan volume buah. Perlakuan teknik aplikasi pupuk organik cair dan interaksi antara konsentrasi dan teknik aplikasi pupuk organik cair memberikan hasil yang berbeda tidak nyata pada semua parameter.
Ghufriati Ghufriati
Published: 31 August 2020
LUMBUNG, Volume 19, pp 90-97; https://doi.org/10.32530/lumbung.v19i2.230

Abstract:
Tabur Biji Anggrek adalah salah satu materi praktikum yang diajarkan kepada mahasiswa Budidaya Tanaman Pangan dan Manajemen Pertanian. Masalah yang ditemukan yaitu rendahnya persentase biji yang berkecambah setelah dilakukan penaburan biji dalam media agar, sehingga media dan bahan lainnya terbuang. Penelitian ini bertujuan menemukan solusi untuk meningkatkan keberhasilan perkecambahan biji dan pertumbuhan bibit anggrek yang ditanam secara kultur jaringan dalam praktikum Tabur Biji Anggrek. Penelitian dilakukan di Laboratorium Politeknik Pertanian Negeri Payakumbuh pada bulan April 2017 sampai September 2019. Metode penelitian menggunakan Rancangan Acak Lengkap dengan 3 perlakuan dan 2 ulangan. Data diambil dari hasil praktikum mahasiswa. Perlakuan A tanaman induk tidak terpelihara baik, tidak ada pemeriksaan kualitas biji, perlakuan B tanaman induk terpelihara, tidak ada pemeriksaan kualitas biji, dan perlakuan C tanaman induk terpelihara baik, 1 bulan sebelum panen dipelihara dilaboratorium dan dilakukan pemeriksaan kualitas biji dengan mikroskop. Hasil terbaik didapat pada perlakuan C, dengan persentase perkecambahan biji sekitar 90%, setelah 9 bulan disimpan dalam botol kultur planletnya dapat disubkultur dan diaklimatisasi.
Mutia Elida, Gusmalini Gusmalini, Iza Ayu Saufani
Published: 31 August 2020
LUMBUNG, Volume 19, pp 136-144; https://doi.org/10.32530/lumbung.v19i2.277

Abstract:
Pemanfaatan produk probiotik sebagai produk kesehatan dan terapeutik semakin banyak diminati, tetapi yang menjadi masalah adalah terjadinya penurunan viabilitas sel probiotik selama proses pengolahan dan selama berada dalam saluran pencernaan. Metoda ekstrusi adalah salah satu metoda enkapsulasi untuk dapat melindungi sel probiotik dari kondisi lingkungan yang tidak menguntungkan. Enkapsulasi probiotik Lb paracasei ssp paracasei Ml3 menggunakan penyalut karagenan-susu skim bertujuan untuk melihat rendemen, sintasan probiotik atau ketahanan sel serta viabilitas setelah enkapsulasi. Penelitian dilakukan dengan tiga perbandingan yaitu 1:1; 2:1; dan 3:1, masing-masing perlakuan diulang 3 kali. Hasil penelitian menunjukkan bio-kapsul dengan perbandingan bahan penyalut 1 :1 dan 2:1 menunjukkan tidak ada perbedaan yang nyata antara ke dua perlakuan baik dari segi viabilitas dan sintasan probiotik. Perbandingan bahan pernyalut 1:1 memberikan rendemen tertinggi 84.6%, perbandingan bahan penyalut 2:1 dihasilkan rendemen 82.73% dan viabilitas tertinggi 1,97 x 109 CFU/g dan mengalami penurunan viabilitas sebesar 0,72 log CFU/g. Sintasan sel probiotik perbandingan bahan penyalut 2:1 adalah 93.3% dengan penurunan 0,66 Log CFU/gr lebih rendah jika dibandingkan perlakuan 3:1.
Sri Librayanis, Aflizar Alizar
Published: 31 August 2020
LUMBUNG, Volume 19, pp 145-156; https://doi.org/10.32530/lumbung.v19i2.278

Abstract:
Untuk membuat peta visual 3D Gunung Sago dari peta kontur dan merencanakan konservasi tanah dan air berdasarkan kelerengan maka dibuatlah penelitian ini untuk membantu mahasiswa, praktisi dan pengambil kebijakan dalam memahami peta visual 3D. Selama ini belum tersedia peta visual 3D Gunung Sago. Pengumpulan data dilakukan dengan cara mengunjungi langsung daerah disekitar Gunung Sago. Data diambil dengan GPS dan mengumpulkan data peta kontur. Melakukan digitasi peta kontur. Prosesing dan pemetaan data base dengan Perangkat lunak Surfer Tool. Hasil yang diperoleh yaitu dapat dibuat peta visual 3D Gunung Sago dari peta kontur dengan menggunakan Surfer tool sehingga mempermudah kita memahami teknik konservasi tanah dan air yang cocok untuk masing-masing daerah di sekeliling Gunung Sago. Luas total lokasi disekeliling gunung Sago yaitu 81606,23 ha. Dimana yang harus dikonservasi dengan teras bangku 789,75 ha, dengan teras kredit 28825,54 ha, teras datar 37983,62 ha, teras individu 1184,51 ha, hill side dicth 2162,14 ha
Syafrison Syafrison, Ardi Sardina Abdulah, Fardedi Fardedi
Published: 31 August 2020
LUMBUNG, Volume 19, pp 74-80; https://doi.org/10.32530/lumbung.v19i2.227

Abstract:
Lahan perkebunan kopi rakyat di Sumatera Barat sebagian telah terdegradasi baik secara fisik, kimia dan biologi sehingga terdapat beberapa faktor pembatas dalam pemanfaatannya seperti; pH rendah, Kapasitas Tukar Kation rendah, bahan organik rendah, kandungan P yang sangat rendah, dan kandungan Al cukup tinggi yang dapat meracuni pertumbuhan tanaman. Usaha perbaikan sifat fisik, dan kimia sudah banyak dilakukan, namun hasil yang diperoleh belum optimal. Oleh karenanya perlu perbaikan secara biologi dengan memanfaatkan bahan organik setempat dan Fungi Mikoriza Arbuskula indigenus. Pada lahan perkebunan kopi terdapat Fungi Mikoriza Arbuskula indigenus yang berpotensi dapat ditingkatkan efektifitasnya dan diproduksi dalam berbagai bentuk inokulan sehingga dapat digunakan sebagai pupuk hayati (biofertilizer). Potensi utama Fungi Mikoriza Arbuskular (FMA) dapat membantu penyerapan hara yang lebih baik oleh tanaman, meningkatkan resistensi tanaman terhadap kekeringan, hama penyakit, logam berat, bersifat sinergis dengan mikroba lain serta berperan aktif dalam siklus hara dan meningkatkan stabilitas ekosistem. Penelitian ini telah dilaksanakan di lahan perkebunan kopi rakyat di Dataran Tinggi, Kabupaten Tanah Datar. Penelitian menggunakan rancangan acak kelompok terdiri dari 6 perlakuan, dan satu perlakuan 4 tanaman. Setiap kombinasi perlakuan diulang 3 kali sehingga diperoleh 3 x 6 = 18 satuan percobaan. Data penelitian hasil pengamatan diuji dengan analisis ragam dan jika perlakuan penunjukkan pengaruh yang nyata, maka dilanjutkan dengan DNMRT pada taraf kepercayaan 95%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan bahan organik dan mikoriza Mycoper ( B1 M2 ) berpengaruh lebih baik dibandingkan dengan lainnya. Demikian juga pengaruh bahan organik, dengan kombinasi mikoriza menunjukkan pengaruh yang lebih baik, bila dibandingkan bahan organik tanpa pemberian mikoriza ( B1 M0 ).
Nelson Elita, Setya Dharma, Harmailis Harmailis
Published: 31 August 2020
LUMBUNG, Volume 19, pp 157-168; https://doi.org/10.32530/lumbung.v19i2.325

Abstract:
Bahan organik dan aktivitas biotik mikroba berfungsi menciptakan dan menstabilkan struktur tanah. Penggunaan pupuk organik yang mengandung mikroba pada tanah sawah meningkatkan pertumbuhan tanaman dan kualitas tanah dengan mempengaruhi aktivitas dan populasi mikroba. Tujuan penelitian adalah mengetahui jumlah koloni bakteri dari Biofertilizer setelah inkubasi 7 hari dan memperoleh media kompos organik dengan bahan subsitusi yang tepat bagi pupuk Biofertilizer mengandung bakteri Azotobacter dan Pseudomonas fluorescents dapat meningkatkan produksi padi metode SRI. Penelitian menggunakan Rancangan Acak Kelompok dengan 7 perlakuan dan 3 ulangan. Perlakuan yang digunakan yaitu: (1). B0 : Kompos, (2). B1 : Kompos + gula pasir + bakteri (Azotobacter dan P. flourescents), (3). B2 : Kompos + Molase + Bakteri (Azotobacter dan P flourescents). (4). B3 : Kompos + CMC + bakteri (Azotobacter dan P flourescents), (5). B4 : Kompos + Arginin + bakteri (Azotobacter dan P. flourescents). (6). B5 : Kompos + Gula pasir + CMC + bakteri (Azotobacter dan P. flourescents). (7). B6 : Kompos + Molasse + Arginin + bakteri (Azotobacter dan P. flourescents). Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada pengamatan jumlah koloni bakteri tertinggi setelah inkubai 7 hari terdapat pada media B2 (Kompos + Molase + Bakteri (Azotobacter dan P flourescents), aplikasi pada percobaan pot diperoleh perlakuan B3 (Kompos + CMC + bakteri (Azotobacter dan P flourescents) meningkatkan pertumbuhan vegetatif dan generatif tanaman padi metode SRI. Kesimpulan jumlah koloni bakteri tertinggi dari biofertizer pada perlakuan B2, setelah aplikasi pada percobaan pot tidak menjamin memberikan hasil terbaik. Hasil terbaik diperoleh perlakuan B3 meningkatkan pertumbuhan vegetatif dan generatif tanaman pada budiaya padi metode SRI.
Amrizal Amrizal, Fazlimi Fazlimi, Deswani Panggabean
Published: 31 August 2020
LUMBUNG, Volume 19, pp 129-135; https://doi.org/10.32530/lumbung.v19i2.276

Abstract:
Land management with an agroforestry system aims to maintain the amount and diversity of land production, so that it has the potential to provide social, economic and environmental benefits (Senoadji, 2012). In the concept of agroforestry spatial planning on campus land II Payakumbuh State Agricultural Polytechnic is quite possible to be implemented by collaborating between current agricultural activities with standing trees (forests) that are beneficial to ecology and sustainability, comforting the surrounding environment. From the results of the study obtained five plant and fisheries species composition in the land of Campus II Payakumbuh State Agricultural Polytechnic, namely estate crops (rubber, sugar cane), fruit trees (guava, matoa, mango, orange), food plants (lowland rice) ), fodder grass (elephant grass) and fisheries (tilapia, tilapia fish and carp). Two agroforestry systems that can be applied for soil and water conservation on the land of Campus II Payakumbuh State Agricultural Polytechnic, namely Agrisilvikultur and Agrosilvofishery, which are respectively: 62,770 M ^ 2 and 12,128 M ^ 2.
Moh. Yusuf Dawud
Published: 31 August 2020
LUMBUNG, Volume 19, pp 120-128; https://doi.org/10.32530/lumbung.v19i2.242

Abstract:
Penelitian ini membahas mengenai Pengendalian Kualitas Produk Beras Menggunakan Metode Six Sigma yang di lakukan di Home Industry UD. Mulyo Langgeng. Permasalahan yang dihadapi perusahaan adalah belum adanya metodepengendalian kualitas produk yang digunakan untuk mengurangi jumlah produk cacat selama proses produksi penggilingan Padi. merupakan sebuah metode perbaikankualitas berbasis statistik, dimana prinsip dari metode ini yaitu perbaikan secaraterus-menerus (Continuous Improvement) dengan menggunakan alat statistik dan problem solving tools. Pada penelitian ini, peneliti menerapkan metode six sigma yang dapat dipertimbangkan oleh perusahaan sebagai metode pengendalian kualitas produk. Berdasarkan pada permasalahan yang ada, 3 penyebab produk cacat tertinggi dapat didefinisikan yaitu penimbangan sebanyak 25%, penggilingan sebanyak 16% dan karung pembungkus beras bocor 18%, tujuan peningkatan kualitas Six Sigma berdasarkan hasil observasi: mengurangi atau menekan produk cacat dari 4.50% menjadi 0%. Terbukti dengan adanya total produk cacat tertinggi sebesar 5.10% dan terendah 4.00% berdasarkan persentase terendah sebenarnya Home Industry UD. Mulyo Langgeng dapat menekan produk cacat hingga 0%. jumlah beras yang dihasilkan selama bulan April sampai dengan Juli 2019 untuk beras adalah sebesar 8.500 kg, dan diketemukan produk cacat diduga produk cacat yang berasal dari tiga penyebab utama kecacatan adalah 425 kg.Setelah mengetahui penyebab kegagalan dari masing-masing jenis cacat, peneliti akan coba mengusulkan tindakan-tindakan yang dapat diambil untuk mengatasi kegagalan tersebut sehingga diharapkan perusahaan dapat mengatasinya agar kegagalan serupa tidak terjadi lagi di masa yang akan datang.
Mimi Harni, Sri Kembaryanti Putri, Gusmalini Gusmalini
Published: 31 August 2020
LUMBUNG, Volume 19, pp 67-73; https://doi.org/10.32530/lumbung.v19i2.208

Abstract:
Kwetiau adalah sejenis mi berwarna putih yang berasal dari Tionghoa namun dengan ukuran yang lebih lebar. Mi ini berbahan baku tepung beras, dengan karakteristik tidak kenyal seperti mi biasa dari terigu. Hal ini memungkinkan kita untuk mengganti pati dari tepung beras dengan pati dari ubi kayu. Walaupun demikian penggantian bahan ini diharapkan tidak mengurangi nilai gizi pada kwetiau yang dihasilkan. Oleh sebab itu penelitian ini bertujuan untuk melihat kandungan gizi yang terkandung pada kwetiau yang dihasilkan. Jumlah ubi kayu yang ditambahkan dimulai dari 0-40%. Penambahan ubi kayu akan mengurangi penggunaan tepung beras. Pada penelitian ini ada 5 perlakuan dengan 1 kontrol tanpa penambahan ubi kayu dan ulangan 3. Rancangan yang digunakan adalah RAL dengan uji lanjutan Duncan’s New Multiple Range Test (DNMRT) pada taraf nyata 5%. Pengamatan yang dilakukan adalah uji proksimat. Hasil penelitian yang telah dilakukan dapat diambil kesimpulan bahwa perlakuan terbaik adalah (D) penambahan ubi kayu 30%.
Fri Maulina, Muflihayati Muflihayati
Published: 31 August 2020
LUMBUNG, Volume 19, pp 58-66; https://doi.org/10.32530/lumbung.v19i2.206

Abstract:
Pemberdayaan musuh alami hama seperti parasitoid Ooencyrtus malayensis sebagai pengendali hayati walang sangit dapat meminimalisir penggunaan insektisida kimia dan memiliki nilai positif yaitu mengendalikan hama pada stadia awal perkembangannya. Tujuan penelitian adalah: menentukan distribusi populasi parasitoid pada topografi Sumatera Barat yang berbeda, dan menentukan tingkat parasitisasi, dominansi dan mortalitas parasitoid tersebut. Pengambilan sampel telur walang sangit terparasit di lokasi padi sawah dengan metode stratifield sampling pada tiga ketinggian tempat yaitu: Sungai Sapih Kota Padang, Rendah (20 m dpl ), Tanjung Pati Kabupaten Limapuluh Kota, Sedang (500 m dpl), dan Kubang Putih Kabupaten Agam, Tinggi (975 m dpl). Sampel telur diamati di laboratorium untuk mengetahui telur yang terparasit oleh O. malayensis dan selanjutnya data dianalisis. Hasil penelitian membuktikan bahwa distribusi parasitoid O. malayensis lebih dominan pada lokasi lokasi dataran rendah selanjutnya dataran sedang sedangkan pada dataran tinggi tidak ditemukan. Tingkat parasitisasi pada dataran rendah dan tinggi adalah 13% dan 6%. Sedangkan nilai mortalitas parasitoid O. malayensis pada dataran rendah dan tinggi adalah 17 % dan 33 %. Dari penemuan ini disimpulkan bahwa parasitoid O. malayensis menyukai lokasi dengan ketinggian rendah dri permukaan laut dan dapat memparasitisasi telur walang sangit dengan tingkat serangan yang cukup tinggi.
Isna Tustiyani, Triyani Nurhayati, Jenal Mutakin
Published: 31 August 2020
LUMBUNG, Volume 19, pp 112-119; https://doi.org/10.32530/lumbung.v19i2.240

Abstract:
Bunga matahari (Helianthus annuus L.) merupakan salah satu tanaman hias. Salah satu cara mengoptimalkan pertumbuhan tanaman hias adalah dengan penggunaan zat penghambat pertumbuhan (retardan) paclobutrazol. Benih bunga matahari yang digunakan yaitu benih IPB BM1. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui pengaruh pemberian paclobutrazol pada pertumbuhan tanaman bunga matahari serta mengetahui konsentrasi paclobutrazol terbaik pada pertumbuhan tanaman bunga matahari. Percobaan ini dilakukan di lahan sawah Kp. Sindang Sari Rt 001/Rw 006 dari bulan Maret sampai Juli 2019. Percobaan ini menggunakan Rancangan Acak Kelompok Pola Tunggal, dengan perlakuan paclobutrazol berbagai konsentrasi 0, 1 ml/L, 2 ml/L, 3 ml/L, 4 ml/, 5 ml/L. Variabel pengamatan yang diamati yaitu : tinggi tanaman, jumlah daun, luas daun, jumlah bunga, diameter bunga, dan umur muncul bunga. Hasil penelitian menunjukan bahwa paclobutrazol berpengaruh nyata terhadap tinggi tanaman dan luas daun.
Published: 29 February 2020
LUMBUNG, Volume 19, pp 40-47; https://doi.org/10.32530/lumbung.v19i1.205

Abstract:
Penelitian ini didasarkan pada sistem pertanian terpadu yang merupakan sistem pertanian yang didasarkan pada konsep daur ulang biologis antara tanaman, perikanan dan ternak. Implementasi sistem integrasi padi-sapi mampu memberikan manfaat bagi penggunaan pupuk kandang yang dapat meningkatkan produktivitas, mengurangi biaya produksi dan meningkatkan pendapatan petani. Jerami padi tidak digunakan secara optimal, mahal dan ketersediaan pupuk urea yang langka, limbah ternak belum dimanfaatkan dengan baik dan limbah kulit kakao belum digunakan sebagai pakan ternak. Tujuan dari penelitian ini adalah: 1) untuk mengetahui peningkatan keuntungan usaha tani dari adopsi sistem usaha tani terpadu dibandingkan dengan sistem konvensional dan 2) untuk menganalisis kelayakan usaha tani dengan penerapan sistem usaha tani terpadu dan sistem konvensional. Kesimpulan dari penelitian ini adalah sebagai berikut: 1) Penerimaan dan keuntungan dari usaha tani konvensional kepada usaha tani dengan sistem pertanian terpadu adalah meningkat. Peningkatan penerimaan selama 6 bulan dari Rp 675 juta menjadi Rp 792,12 juta yaitu meningkat sebesar Rp 117,12 juta atau sebesar 17,35%. Peningkatan keuntungan selama 6 bulan dari Rp 203,57 juta menjadi Rp 259,02 yaitu meningkat sebesar Rp 55,45 juta atau setara dengan 27,24%. 2) Nilai R/C ratio dan profitabilitas dari usaha tani sistem integrasi padi-sapi terintegrasi sebesar 1,49 dan 48,59%. Sedangkan nilai R/C ratio dan profitabilitas usaha tani sapi potong dengan pemeliharaan secara konvensional 25 ekor selama enam bulan adalah sebesar 1,43 dan 43,18%. Nilai R/C ratio dan profitabilitas menunjukkan bahwa bisnis ini layak.
, Alvino Muktila Zendy, Ahmad Husein Harahap, Wahyu Wahyu, Irwan A, Jamaluddin Jamaluddin, Yuni Ernita, Sandra Melly, Muhammad Riza Nurtam
Published: 29 February 2020
LUMBUNG, Volume 19, pp 1-12; https://doi.org/10.32530/lumbung.v19i1.198

Abstract:
Pengupasan kulit kopi sangat berpengaruh pada kualitas kopi yang dihasilkan. Kendala yang dihadapi dalam pengupasan kopi tradisional adalah waktu dan energi yang digunakan terlalu besar. Alat pengupas kopi berfungsi untuk mengupas atau memisahkan kulit kopi dari biji kopi dan diharapkan bisa membantu petani dalam mengupas hasil dengan maksimal dan efektif. Alat pengupas kopi berkapasitas 200 kg/jam. Hasil analisa ekonomi teknik alat pengupas kopi didapat biaya tetap Rp. 1.179.630/tahun, biaya tidak tetap Rp. 16.069/jam, biaya pokok Rp. 82/kg dan Break Event Point (BEP) 1.567 kg/tahun.
Yurni Sari Amir, Prima Silvia Noor, Muthia Dewi, Toni Malvin, Syofyan Syofyan
Published: 29 February 2020
LUMBUNG, Volume 19, pp 48-57; https://doi.org/10.32530/lumbung.v19i1.221

Abstract:
Penelitian pemberian ransum organik berbasis lamtoro dengan penambahan probiotik dilakukan untuk melihat pengaruhnya terhadap performa broiler. Penelitian dilakukan di Laboratorium Nutrisi dan Teknologi Pakan dan UPT Farm Politeknik Negeri Payakumbuh selama enam minggu, dengan menggunakan 100 ekor broiler yang dipelihara sejak DOC. Pakan yang diberikan berupa crumble yang berbasis lamtoro. Rancangan yang digunakan adalah RAL dengan 5 perlakuan dan 4 ulangan, yaitu ransum komersial sebagai kontrol (A), crumble lamtoro dengan penambahan starbio 0,1% (B), crumble lamtoro dengan penambahan starbio 0,2% (C), crumble lamtoro dengan penambahan EM4 0,1% (D), crumble lamtoro dengan penambahan EM4 0,2% (E). Variabel yang diukur adalah konsumsi ransum, pertambahan bobot badan dan konversi ransum. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian ransum organik berbasis lamtoro dengan penambahan probiotik memberikan pengaruh yang berbeda sangat nyata (P<0,01) terhadap konsumsi ransum, pertambahan bobot badan dan konversi ransum. Pemberian crumble lamtoro dengan penambahan 0,2% EM4 dalam air minum memberikan hasil performa broiler yang lebih baik dibandingkan dengan pemberian crumble lamtoro yang ditambahkan probiotik 0,1% starbio, 0,2% starbio dan 0,1% EM4. Namun lebih rendah performanya bila dibandingkan dengan pemberian ransum komersial.
Asrul Asrul, I Nyoman Pugeg Aryantha
Published: 29 February 2020
LUMBUNG, Volume 19, pp 30-39; https://doi.org/10.32530/lumbung.v19i1.204

Abstract:
Bakteri sebagai salah satu agent penyubur tanah, masih sangat minim diketahui petani. Kenyataannya bakteri mampu menyediakan unsur hara makro yang dibutuhkan oleh tanaman, contohnya fosfat. Fosfat di tanah umumnya dalam bentuk terikat, baik yang berbentuk anorganik (Ca-P, Fe-P dan Al-P) maupun organik (asam nukleat dan fosfolipida). Mengeksresikan asam organik, merupakan cara umum bakteri untuk melarutkan fosfat terikat khususnya yang anorganik. Isolasi bakteri pelarut fosfat dilakukan di tanah rhizosper Kelapa Sawit (Eleis guineensis) PT Astra Agro Lestari dengan menggunakan media pikovskaya yang di dalamnya terdapat kalsium fosfat (Ca-P). Hasilnya ada 6 bakteri yaitu A2, B5, C7, F1, F2, dan K1 yang mampu melarutkan kalsium fosfat (Ca-P). Uji kuantitatif dengan menggunakan spektrofotometer 410 nm, pada supernatant pikovskaya cair menunjukkan bakteri A2 mampu melarutkan fosfat 20,40 ppm paling baik jika dibandingkan dengan bakteri, C7= 7,69 ppm, F1= 5,77 ppm, F2= 5,53 ppm, B5= 1.19 ppm dan K1= 0,46 ppm. Identifikasi partial sequences 16s rRNA menunjukkan bakteri A2 putative Amycolatopsis albidoflavus.
Muhammad Adam, Sardino Sardino, Dio Winaldi, Suryadi Candra, Febri Yulsa Yunika, Riko Riko, Sri Aulia Novita, Fithra Herdian, Hendra Hendra, Indra Laksmana
Published: 29 February 2020
LUMBUNG, Volume 19, pp 13-29; https://doi.org/10.32530/lumbung.v19i1.199

Abstract:
Alat pencuci wortel dibuat untuk membantu meningkatkan kualitas hasil panen tanaman wortel. Hasil uji kinerja alat pencuci wortel tipe drum diperoleh kapasitas efektif alat sebesar 210 kg/jam. Hasil perhitungan analisa ekonomi didapat biaya tetap sebesar Rp.1.059.300/tahun, biaya tidak tetap Rp.16.644/jam, biaya pokok Rp.81/kg dan break event point (BEP) untuk pengoperasian alat ini adalah 3.302 kg/tahun.
Nelvia Iryani Iryani, Syaiful Anwar
Published: 31 August 2019
LUMBUNG, Volume 18, pp 74-86; https://doi.org/10.32530/lumbung.v18i2.99

Abstract:
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisis apakah ada pengaruh upah, modal, dan nilai produksi terhadap penyerapan tenaga kerja pada UKM yang memproduksi aneka kerupuk sanjai di Kabupaten 50 Kota, serta untuk menganalisis variabel manakah yang paling dominan pengaruhnya terhadap penyerapan tenaga kerja. Metode penelitian yang digunakan adalah metode survei, dimana pengumpulan informasi dilakukan pada sebagian populasi. Data yang digunakan adalah data primer yang didapatkan melalui wawancara langsung dengan memberikan kuesioner kepada responden yaitu pemilik UKM kerupuk sanjai di Kabupaten 50 Kota. Sedangkan data sekunder diperoleh dari instansi terkait seperti Badan Pusat statistik dan Dinas Perindustrian Perdagangan dan koperasi Kabupaten 50 Kota. Data dianalisis dengan menggunakan teknik analisis regresi meliputi uji normalitas, uji asumsi klasik, dan uji hipotesis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ketiga variabel bebas dalam penelitian ini berpengaruh signifikan terhadap variabel terikat (penyerapan tenaga kerja). Modal kerja merupakan variabel yang paling besar pengaruhnya dalam penyerapan tenaga kerja pada UKM kerupuk sanjai di Kabupaten 50 Kota.
Mamang Wahyudi, Ardi Sardina Abdullah
Published: 31 August 2019
LUMBUNG, Volume 18, pp 87-97; https://doi.org/10.32530/lumbung.v18i2.182

Abstract:
Kabupaten Lima Puluh Kota dan Kota Payakumbuh merupakan sentra tanaman tembakau di Sumatera Barat. Pertumbuhan tanaman tembakau yang baik dapat dilakukan dengan menambah unsur hara yang berupa pupuk. Pupuk SS (Superstikpos) merupakan pupuk Mono Amonium Phospat dengan rumus NH4(H2PO4) dimana kandungan Nitrogennya 16%, Phospor 20% dan Belerang 12%. Dosis pupuk yang diberikan pada tembakau Payakumbuh varietas Rudau Gadang dan Rudau Teleng) adalah 92 - 138 kg N/ha, 36 kgP2O5 /ha dan 46 kg K2O/ha dimana pemupukan ini dilakukan pada lahan yang sering ditanaman tembakau. Penelitian ini merupakan percobaan faktorial dua faktor 4 x 3 yang disusun menurut Rancangan Acak Kelompok (RAK) dengan 3 kali ulangan. Data hasil pengamatan dianalisis secara statistika dengan menggunakan sidik ragam (uji F) untuk Rancangan Acak Kelompok (RAK). Apabila berbeda nyata, dilanjutkan dengan DMRT pada taraf 5%. Sebagai data tambahan dilakukan pengujian kadar nikotin pada masing-masing perlakuan. (data diuji dengan atistika). Pemberian pupuk SS dengan dosis 100 kg/ha atau 200 kg/ha dan pemberian pupuk kandang dosis 30 ton/ha pengaruhnya paling tinggi terhadap Indeks Luas Daun. Pemberian pupuk SS dengan dosis 150 kg/ha dan pemberian pupuk kandang dosis 10 ton/ha pengaruhnya paling rendah terhadap Indeks Luas Daun. Pemberian pupuk SS dengan dosis 100 kg/ha dan pemberian pupuk kandang dosis 30 ton/ha pengaruhnya paling tinggi terhadap Berat Basah dan Berat Kering daun tembakau. Pemberian pupuk SS dengan dosis 150 kg/ha dan pemberian pupuk kandang dosis 10 ton/ha pengaruhnya paling rendah terhadap Berat Basah Daun. Pemberian pupuk SS dengan dosis 250 kg/ha dan pemberian pupuk kandang dosis 10 ton/ha pengaruhnya paling rendah terhadap Berat Kering Daun.
Yurni Sari Amir, Muthia Dewi, Prima Silvia Noor, Toni Malvin, Egip Putra
Published: 31 August 2019
LUMBUNG, Volume 18, pp 105-111; https://doi.org/10.32530/lumbung.v18i2.184

Abstract:
Penelitian dengan memanfaatkan tepung daun pegagan sebagai feed additive dalam ransum broiler dilakukan untuk melihat pengaruhnya terhadap konsumsi ransum dan berat organ fisologis. Penelitian dilakukan di Laboratorium dan UPT Farm Politeknik Negeri Payakumbuh selama empat minggu, dengan menggunakan 100 ekor broiler yang dipelihara sejak DOC. Pakan yang diberikan berupa ransum basal dengan penambahan tepung daun pegagan. Rancangan yang digunakan adalah RAL dengan 4 perlakuan dan 5 ulangan, yaitu ransum basal 100% (A), ransum basal dengan penambahan 1,5% tepung daun pegagan (B), ransum basal dengan penambahan 3% tepung daun pegagan (C), ransum basal dengan penambahan tepung daun pegagan 4,5% (D). Variabel yang diukur adalah konsumsi ransum, persentase bobot hati dan jantung. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pencampuran tepung daun pegagan dalam ransum sebagai feed additive tidak memberikan pengaruh yang berbeda nyata (P>0,5) terhadap konsumsi ransum, bobot hati dan jantung broiler.
Sukarman Hadi Jaya Putra, Maryani Jeclin
Published: 31 August 2019
LUMBUNG, Volume 18, pp 60-73; https://doi.org/10.32530/lumbung.v18i2.158

Abstract:
Penelitian tentang identifikasi gulma pada kebun singkong (Manihot esculenta Crantz) di Desa Nitakloang, Kecamatan Nita, Kabupaten Sikka bertujuan untuk mengetahui jenis-jenis gulma, kerapatan, indeks dominansi dan indeks keanekaragaman jenis. Penelitian ini telah dilaksanakan pada bulan Juli hingga Agustus 2018 dengan menggunakan metode transek garis. Jumlah stasiun yang digunakan adalah 4 stasiun yaitu dusun Baoponun, dusun Kojalaka, dusun Blatat, dusun Nitakloang. Masing-masing stasiun memiliki 3 transek garis. Setiap transek garis dibuat 10 plot pengambilan sampel. Hasil penelitian didapatkan 18 famili dan 31 spesies gulma. Nilai kerapatan gulma berkisar dari 0,008 ind/ m² - 9, 116 ind/ m². Nilai kerapatan gulma tertinggi yaitu 9,116 ind/ m² pada spesies Ageratum conyzoides dan nilai kerapatan gulma terendah yaitu 0,008 ind/ m² pada spesies Crotalaria pallida. Indeks dominansi gulma termasuk kategori dominansi rendah yaitu 0,12 dan indeks keanekaragaman jenis termasuk kategori keanekaragaman sedang yaitu H = 1,1187. Spesies gulma yang paling seringditemukan dalam setiap plot sampel adalah Ageratum conyzoides (babandotan), Euphorbia hirta (patikan), Alternanthera sessillis (rumput kremeh) dan yang paling sedikit muncul adalah Crotalaria pallida (rumput orok-orok).
Amrizal Amrizal, Fazlimi Fazlimi, Deswani Panggabean
Published: 31 August 2019
LUMBUNG, Volume 18, pp 54-59; https://doi.org/10.32530/lumbung.v18i2.145

Abstract:
Sumber air saat ini mengalami banyak penurunan, baik kuantitas maupun kualitas, karena ada banyak fungsi konversi lahan dari hutan ke pertanian, terutama di perbukitan dan daerah tangkapan. Agar pemanfaatan air dapat dilakukan secara berkelanjutan sambil tetap memperhatikan kemungkinan ketersediaan dan perubahan yang terjadi sebagai akibat dari pemanfaatannya, maka perlu perencanaan dasar untuk pengembangannya. Oleh karena itu, sebagai alat pendukung, panduan teknis diperlukan untuk mengevaluasi potensi air. Studi potensi mata air dilakukan oleh beberapa pendekatan, yaitu dengan lokasi geohidrology, debit musim semi, analisis tritium, analisis 18o, dan deuterium dan analisis kimia air yang menyediakan data dan informasi pelengkap (Purwitasari, 2006). Dalam penelitian ini kami melakukan lokasi geohidrologi dan pegas debit. Alat dan bahan yang digunakan adalah: Contour maps, GPS, Pharsall Flume. Sesuai dengan hasil penelitian, deskripsi dari diskusi dan tujuan dari sumber penelitian dapat digunakan sebagai berikut: 1. Di bidang pengambilan data diperoleh + 145 titik koordinat, dimana titik ini akan digunakan dalam penentuan dari batas-batas dan konstruksi garis kontur yang dipetakan, 2. Sumber air potensial dalam format Universal Transverse Mercator (UTM) X 0696719, Y 9969672. Dalam bentuk data Geografis (00 16 '27, 32'' dan 1000 46 '3.36' ') 3. Aliran perangkat flume pembuangan air adalah 0,36 cm3 / detik.
Ramond Siregar, Nelzi Fati, Yun Sondang
Published: 31 August 2019
LUMBUNG, Volume 18, pp 98-104; https://doi.org/10.32530/lumbung.v18i2.183

Abstract:
Tanaman bangun-bangun (Coleus amboinicus L.) mengandung kalium, karbohidrat, dan energi yang tinggi, serta minyak atsiri dengan kandungan carvakrol, isoprofil-o-kresol dan fenol. Secara farmakologi, tanaman ini mengandung beberapa bahan aktif yang bersifat menghilangkan sakit, penurun panas, dan antiseptik, penyegar, dan penambah semangat. Cara pengeringan berpengaruh terhadap tanaman, selain itu bahwa pengeringan bahan tanaman yang kurang tepat akan merusak komponen bahan aktif sehingga menurunkan mutunya. Penelitian ini dilakukan di Politeknik Pertanian Negeri Payakumbuh, bahan yang digunakan adalah daun bangun-bangun segar yang dikeringkan dengan 4 (empat) cara pengeringan yaitu: kipas angin, oven, udara dan matahari. Daun bangun-bangun yang telah dikeringkan selanjutnya dianalisa di laboratorium kimia. Percobaan dilakukan menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 4 perlakuan dan 5 ulangan. Hasil analisa laboratorium kimia menunjukkan bahwa perlakuan metode pengeringan daun bangun-bangun berpengaruh sangat nyata pada kandungan protein kasar, serat kasar dan fenol. Pengeringan kering matahari menunjukkan kadar protein tertinggi (20,48%) dan pengeringan kipas angin menunjukkan kadar protein terendah (12,65%). Pengeringan kering oven menunjukkan kadar serat kasar tertinggi (17,21%) dan kipas angin menunjukkan kadar serat kasar terendah (13,05%). Pengeringan kipas angin menunjukkan kadar total fenol tertinggi (8.400 ppm) dan oven menunjukkan terendah (2.100 ppm).
Ramond Siregar, Nelzi Fati, Sentot Wahono, Yun Sondang
Published: 31 January 2019
LUMBUNG, Volume 18, pp 33-44; https://doi.org/10.32530/lumbung.v18i1.180

Abstract:
Tujuan penelitian adalah mempelajari potensi daun bangun-bangun yang ditanam di beberapa daerah Sumatera Barat, kandungan gizinya dan untuk mengetahui formulasi pupuk yang tepat untuk meningkatkan produksi tanaman bangun-bangun. Penelitian dilaksanakan selama 6 bulan di Laboratorium Peternakan Unand Padang, Laboratorium Peternakan dan Kebun Percobaan Politani Negeri Payakumbuh. Metode penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap dengan lima perlakuan dan 4 ulangan. Adapun perlakuan pupuk kompos eceng gondoknya adalah A (Tanpa pupuk N (0%) + Kompos eceng gondok 100%), B (Pupuk N 25% + Kompos eceng gondok 75%), C (Pupuk N 50% + Kompos eceng gondok 50%), D (Pupuk N 75% + Kompos eceng gondok 25%) dan E (Pupuk N 100% + Tanpa Kompos (0%). Adapun parameter yang diukur adalah tinggi tanaman, jumlah cabang, bunga, laju tumbuh relatif, berat segar (gr/tanaman). Hasil penelitian yang didapatkan berupa data identifikasi tanaman bangun-bangun dan kandungan gizi daun bangun-bangun untuk daerah Padang, Padang Panjang dan Payakumbuh. Identifikasi tanaman daun bangun-bangun terdiri dari: keadaan lingkungan dan deskripsi tanaman. Kandungan gizi tanaman bangun-bangun protein kasar 19, 24 – 24, 98%; lemak kasar 4,21 – 5,98%, Serat kasar 9,08 -14,17%, Abu 11,34 -16,25%, Ca 1,992 – 2,133%, P 0,194 – 0,337 dan gross energi (GE) 3820 – 4070,01 kal/g. Dosis pupuk eceng gondok berpengaruh nyata (P0.05). Dari hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa penggunaan 100% kompos eceng gondok dapat meningkatkan laju pertumbuhan relatif, bobot berangkasan segar (gr/tanaman) dan bobot berangkasan kering (gr/tanaman), sedangkan perbandingan pupuk kompos tidak berpengaruh secara nyata (P>0.05) terhadap tinggi tanaman dan jumlah cabang.
Jonni Jonni, Rasdanelwati Rasdanelwati
Published: 31 January 2019
LUMBUNG, Volume 18, pp 1-9; https://doi.org/10.32530/lumbung.v18i1.177

Abstract:
Tanaman hias merupakan elemen lunak pada lanskap yang dipergunakan sebagai dekorasi dalam ruangan atau luar ruangan. Anggrek dikenal sebagai tanaman hias yang sangat indah dan variasinya hampir tidak terbatas dan dapat digunakan sebagai tanaman hias lanskap indoor maupun outdoor. Anggrek bulan (Phalaenopsis amabilis) tanaman yang tumbuh tegak, dapat dijumpai pada daerah hutan tropis basah, memiliki beragam keunikan, antara lain bunga yang indah dengan warna-warni yang menarik sehingga banyak dijadikan sebagai tanaman lanskap. Untuk mempercepat perbanyakan dan menghasilkan bibit yang sama dengan induknya dan dalam waktu yang cepat, jumlah yang banyak, dilakukan teknologi stek daun dengan cara mencacah daun. Tujuan dari penelitian ini adalah mendapatkan teknologi perbanyakan tanaman hias anggrek phaleonopsis, dan mendapatkan bagian daun yang terbaik untuk dijadikan bahan perbanyakan pada tanaman hias anggrek phaleonopsis sebagai tanaman lanskap. Penelitian ini dilaksanakan dari bulan Maret sampai Agustus 2018 bertempat kebun percobaan Politeknik Pertanian Negeri Payakumbuh. Metode penelitian yang digunakan adalah Rancangan Acak Lengkap (RAL) yang terdiri atas 4 perlakukan dan 4 ulangan, dengan variabel yang diamati dan diukur adalah waktu muncul kalus, jumlah cacahan berkalus, jumlah berkecambah, dan persentasi cacahan. Hasil perbanyakan tanaman anggrek dengan cacahan daun tidak berpengaruh terhadap waktu muncul kalus, jumlah kalus, jumlah berkecambah, namun berpengaruh nyata terhadap persentase hidup cacahan. Cacahan pada pangkal daun anggrek merupakan yang terbaik dari pada daun utuh, cacahan tengah, dan cacahan ujung daun anggrek sebagai tanaman lanskap. Disarankan dalam penelitian selanjutnya dilakukan cacahan pada ujung daun anggrek dengan berbagai media tanam tanaman lanskap.
Siti Asmidar Pulungan, Yufrijal Away
Published: 31 January 2019
LUMBUNG, Volume 18, pp 10-19; https://doi.org/10.32530/lumbung.v18i1.178

Abstract:
Air merupakan kebutuhan pokok bagi kehidupan manusia, tetapi air bersih yang layak minum semakin sulit. Oleh karena itu, masyarakat hanya mengandalkan air dari depot air minum isi ulang. Depot air minum merupakan usaha industri yang melakukan proses pengolahan air baku menjadi air minum dan menjual langsung pada konsumen. Proses pengolahan air pada depot air minum pada prinsipnya adalah filtrasi dan disinfektan. Air minum isi ulang belum bisa dikatakan sepenuhnya bebas dari bakteri, oleh karena itu diperlukan pengujian air minum yang bertujuan untuk mengetahui bakteri yang berbahaya yang terdapat pada air minum isi ulang. Bakteri Coliform dan E. coli merupakan suatu golongan bakteri yang digunakan sebagai indikator adanya polusi kotoran dan kondisi yang tidak baik di dalam air. Coliform adalah indikator kualitas air, makin sedikit kandungan coliform artinya kualitas air semakin baik. Untuk menguji adanya bakteri di dalam air dapat digunakan metode MPN yang terdiri dari tiga tahap, yaitu uji pendugaan, uji konfirmasi, dan uji pelengkap. Hasil uji laboratorium dari lima contoh sampel, semua sampel positif terdapat bakteri Coliform. Berdasarkan Permenkes RI No.492/Menkes/Per/IV/2010, pada semua sampel melebihi kadar maksimum Coliform yang diperbolehkan oleh Permenkes yaitu dengan kadar maksimum 0 mg/l. Hasil dari laboratorium pengujian beberapa parameter dari lima sampel didapatkan pH, TDS, Kekeruhan, Kesadahan memenuhi standar baku mutu yang telah ditetapkan Permenkes RI No.492/Menkes/Per/IV/2010.
Toni Malvin, Yurni Sari Amir, Muthia Dewi, Salvia Salvia, Hardiyansa Hardiyansa
Published: 31 January 2019
LUMBUNG, Volume 18, pp 45-53; https://doi.org/10.32530/lumbung.v18i1.181

Abstract:
Penelitian ini bertujuan untuk melihat pengaruh penambahan tepung daun singkong (Manihot esculente) ke dalam ransum terhadap berat telur dan tebal cangkang telur. Penelitian ini menggunakan ayam petelur jenis isabrown sebanyak 48 ekor. Perlakuan dalam penelitian ini adalah penambahan daun singkong yang dibuat menjadi tepung dan kemudian ditambahkan ke dalam ransum. R0 merupakan ransum basal tanpa penambahan tepung daun singkong, R1 adalah penambahan 5% tepung daun singkong ke ransum, R2 adalah penambahan 10% tepung daun singkong ke ransum dan R3 menambahkan tepung daun singkong 15% ke dalam ransum. Hasil penelitian memperlihatkan bahwa penambahan tepung daun singkong hingga tingkat 15% ke dalam ransum, tidak memberikan pengaruh berbeda nyata terhadap berat telur dan tebal kerabang.
Sanas Asrafia Pohan, Oktoyournal Oktoyournal
Published: 31 January 2019
LUMBUNG, Volume 18, pp 20-32; https://doi.org/10.32530/lumbung.v18i1.179

Abstract:
Nutrisi A-B Mix atau pupuk racikan adalah larutan yang dibuat dari bahan-bahan kimia yang diberikan melalui media tanam, yang berfungsi sebagai nutrisi tanaman agar tanaman dapat tumbuh dengan baik. Tujuan dari penelitian ini adalah memanfaatkan lahan yang sempit sebagai sarana berbudidaya tanaman caisim dengan mengaplikasikan pupuk A-B Mix dan teknologi hidroponik pada sistem drip sistem. Perlakuan atau konsentrasi EC pada nutrisi pupuk A-B Mix yaitu untuk konsentrasi 2 = 600 gr, konsentrasi 2,5 = 800 gr, konsentrasi 3 = 900 gr. Hasil perhitungan EU pada konsentrasi 2,5 adalah 80 % dengan klasifikasi bagus, dan perhitungan KS adalah 76 % dengan klasifikasi tidak dapat diterima. Pada konsentrasi EC 2 dengan rata-rata minggu ke- 4 35,22 cm, jumlah daun 9 helai dan berat produksi 430 gr, pada konsentrasi 2,5 dengan rata-rata minggu ke- 4 35,8 cm, jumlah daun 8 helai dan berat produksi 460 gr, pada konsentrasi 3 dengan rata rata minggu ke-4 35,5 cm, jumlah daun 8 helai dan berat produksi 400 gr. Kesimpulan hasil pengamatan diperoleh hasil EU adalah 80 % pada konsentrasi 2 dengan kelas bagus, perhitungan KS adalah 76 % dengan kelas tidak bagus. Dalam penggunaan nutrisi A-B Mix pada pelakuan EC 2,5 dan EC 2 dapat menghasilkan tinggi tanaman, jumlah daun total produksi yang sangat bagus.
Riva Hendriani, Sri Kembaryanti Putri, Latifa Hanum, Mukhlis Mukhlis
LUMBUNG, Volume 17, pp 75-82; https://doi.org/10.32530/lumbung.v17i2.37

Abstract:
Penelitian ini didasarkan pada: ketergantungan petani yang menggunakan pupuk anorganik dan meningkatkan harga pupuk anorganik yang berakibat pada peningkatan biaya produksi dan berkurangnya keuntungan usahatani padi, sehingga mempengaruhi kesejahteraan petani keluarga. Tujuan penelitian ini adalah: 1) Untuk mengetahui pendapatan petani padi, 2) Untuk mengetahui perbedaan pendapatan antara petani pupuk organik padi dan pupuk petani padi anorganik. Metode pencapaian tujuan dilakukan dengan: analisis usahatani menggunakan rumus pendapatan usahatani. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: 1) Pendapatan petani padi pupuk organik adalah Rp.657.838 menjadi 14.633.798; pendapatan rata-rata sebesar Rp. 5.464.104,03. Sedangkan pendapatan petani padi pupuk anorganik adalah Rp. 500.983 hingga Rp 14.189.743; pendapatan rata-rata sebesar Rp 5.901.806,24; 2) Pendapatan petani padi pupuk organik tidak berbeda nyata dengan pendapatan petani padi anorganik.
Amrizal Amrizal
LUMBUNG, Volume 17, pp 64-74; https://doi.org/10.32530/lumbung.v17i2.36

Abstract:
Open Journal System atau OJS adalah sebuah Content Management System berbasis web yang khusus dibuat untuk menangani keseluruhan prosesmanajemen publikasi ilmiah dari proses call for paper, peer review, hingga penerbitan dalam bentuk online. Politeknik Pertanian Negeri Payakumbuh memiliki satu jurnal yaitu LUMBUNG yang dikelola oleh Pusat Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (P3M). Jurnal Lumbung diterbitkan dalam edisi cetak karena belum memiliki system untuk publikasi secara online. Kelemahan dari sistem penerbitan yang masih manual ini bisa diatasi dengan mengimplemtasikan sistem penerbitan secara elektronik menggunakan Open Jurnal System (OJS) yang bisa dikelola dan diakses secara online. Penerbitan jurnal menggunakan OJS mesti mengacu kepada standar operasional prosedur (SOP) pada OJS yang sudah ditetapakan dimana beberapa aktor yang terlibat didalam penernbnitan jurnal pada system OJS diaantaranya adalah Manager Jurnal, Editor, Author dan Reviewer.
Imelfina Musthafa, Toni Malvin, Mukhlis Mukhlis
LUMBUNG, Volume 17, pp 57-63; https://doi.org/10.32530/lumbung.v17i2.35

Abstract:
Penelitian ini didasarkan pada peningkatan produksi jagung di Kecamatan Payakumbuh yang diperlukan untuk meningkatkan pendapatan petani jagung, kondisi ini sejalan dengan meningkatnya kebutuhan komoditas jagung khususnya untuk pakan ayam petelur. Meningkatnya kebutuhan jagung untuk ayam petelur disebabkan oleh meningkatnya populasi dalam usaha perunggasan, khususnya ternak ayam petelur di Kecamatan Payakumbuh yang begitu cepat. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pendapatan usahatani jagung. Untuk menganalisis pendapatan usahatani jagung dilakukan dengan analisis menggunakan rumus pendapatan usahatani. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: Total pendapatan petani jagung adalah Rp.28.984 - 18.294.429; dengan penghasilan rata-rata Rp 5.089.795,35.
Darmansyah Darmansyah, Yefriwati Yefriwati
LUMBUNG, Volume 17, pp 83-88; https://doi.org/10.32530/lumbung.v17i2.38

Abstract:
Pisang (Musa sp) merupakan salah satu jenis buah tropika yang mempunyai potensi cukup tinggi untuk dikelola secara intensif dengan berorientasi agribisnis, karena pisang telah menjadi usaha dagang ekspor dan impor di pasar Internasional. Akhir-akhir ini tanaman pisang banyak terserang penyakit layu bakteri, untuk mengatasi permasalahan ini maka digunakan teknologi Fungi Mikoriza Arbuskular (FMA). FMA merupakan suatu bentuk hubungan simbiosis mutualisme dengan akar tanaman yang dapat mengendalikan serangan penyakit. Tujuan penelitian ini adalah mengidentifikasi sifat morfologi dan fisiologi isolat bakteri Blood Disease Bacteria (BDB) Pada Bibit Pisang. Penelitian ini telah dilaksanakan di laboratorium Biologi Politeknik Pertanian Negeri Payakumbuh, mulai dari bulan Mei sampai Juli 2017. Parameter yang diamati adalah (1) sifat morfologi koloni bakteri BDB (ukuran, bentuk, permukaan), (2) sifat fisiologi bakteri BDB (uji gram, uji pektinase). Berdasarkan hasil identifikasi sifat morfologi bakteri BDB di laboratorium terlihat bentuk koloni bulat, bentuk sel batang, warna koloni putih dengan formasi kuning dan ukuran koloni 0,5 – 4,5 um. Sedangkan sifat fisiologi dari bakteri BDB ini adalah gram positif dan enzim pektinase.
Synthia Ona Guserike Afner, Andrik Marta, Fanny Yuliana Batubara
LUMBUNG, Volume 17, pp 89-94; https://doi.org/10.32530/lumbung.v17i2.39

Abstract:
Gambir (Uncaria gambir Roxb) merupakan salah satu komoditas ekspor tradisional dari Provinsi Sumatera Barat dan Riau. Tanaman gambir termasuk dalam famili Rubiaceae. Dalam proses budidayanya, tanaman gambir masih dibudidayakan secara tradisional, dan untuk membuka lahan petani masih memakai metode pembakaran. Petani dalam melakukan budidaya gambir lebih mengandalkan kesuburan lahan tanpa melakukan pemupukan, sehingga umur produktifnya hanya 5-6 tahun, karena tanaman sudah tidak subur. Pembakaran lahan memberikan dampak yang sangat besar terhadap ekosistem, salah satunya terhadap kandungan unsur hara. Jenis analisis kimia tanah yang dilakukan meliputi : Analisis sifat kimia: (1) penetapan pH H2O, (2) penetapan P tersedia,(3) Analisis sifat fisika dibatasi hanya Tekstur saja.Pembakaran dapat menghilangkan komponen air dan organik dari bahan tumbuhan (serasah, tegakan) dan meninggalkan sisa berupa bahan endapan yang disebut abu. abu dikatakan mengandung konsentrat hara yang kaya Ca, Mg, K, dan P yang bersifat mobile. Dalam keadaan normal, unsur-unsur hara dalam tumbuhan yang semula berasal dari tanah dibebaskan secara berangsur-angsur oleh proses dekomposisi biologi dan masuk kembali ke dalam tanah. Dengan metode tebang-bakar lahan yang memiliki kandungan unsur hara terbaik berada pada lahan yang baru dibuka. Hal ini disebabkan oleh variasi vegetasi yang menjadi sumbangan abu yang masuk ke dalam tanah lebih banyak dibandingkan dengan usia penggunaan lahan lain. Dari keseluruhan pengamatan, unsur P menunjukkan nilai tertinggi yaitu sebesar 111,54 ppm sedangkan lahan hutan disekitarnya hanya memiliki nilai P sebesar 4,87 ppm dan 8,97 ppm. Hal ini membuktikan bahwa pembakaran meningkatkan kapasitas sorpsi P pada permukaan abu.
Page of 1
Articles per Page
by
Show export options
  Select all
Back to Top Top